PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI NAA
(NAPHTHALENEACETIC ACID) PADA TAHAP PERTUMBUHAN
TANAMAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
HASIL TANAMAN GANDUM (Triticum aestivum L)
DI SUKARAMI, SOLOK
Effect of Various Concentrations of NAA (Naphthaleneacetic
Acid) at Different Plant Growth Stage on the Growth and Yield
of Wheat (Triticum aestivum L) in Sukarami, Solok
Vivi Dharma, Irfan Suliansyah, dan WarnitaFakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang
Jl. Kampus Limau Manis, Kotak Pos 87 Padang 25163 Sumatera Barat E-mail:[email protected]
ABSTRACT
The purpose of this study was to obtain a growth regulator NAA interaction with different plant growth stages, get the best NAA concentrations for growth and yield of wheat, and to get the best crop growth stages for the provision of NAA on the growth and yield of wheat crop. The experiment was conducted in Solok district Sukarami, starting from September 2012 to January 2013. This research was carried out by using a randomized block design (RBD) 4 x 3 factorial pattern with three groups. Treatment is a complete combination of (12) two factors: the first factor of the concentration of NAA consists of 4 levels ie 0 ppm, 15 ppm, 20 ppm and 25 ppm, and the second factor giving NAA at growth stage 3 levels ie tillering stage (G1), stage panicle initiation (G2) and seed initiation stage (G3). The results showed there was an interaction between the concentration of growth regulator NAA at different stages of plant growth is the number of grains per panicle and yield per hectare. Giving concentrations of NAA 20 ppm give better value to the leaf area index, crop growth rate, number of productive tillers, number of grains per panicle, number of pithy per hill, weight of filled seeds per hill and yield of wheat per acre is the value of 0.87 tonnes per hectare. Timing of NAA which gives better results that the panicle initiation stage (G2) views of the leaf area index, crop growth rate of the number of grains per panicle, seed weight and number of grains pithy pithy per clump.
Keywords : growth regulator, naphthaleneacetic acid, wheat ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan interaksi zat pengatur tumbuh NAA dengan tahap pertumbuhan tanaman yang berbeda, mendapatkan konsentrasi NAA terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman gandum, dan untuk mendapatkan tahap pertumbuhan tanaman yang terbaik untuk pemberian NAA terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman gandum. Penelitian dilaksanakan di Sukarami Kabupaten Solok dimulai dari bulan September 2012 sampai Januari 2013. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola Faktorial 4 x 3 dengan tiga kelompok. Perlakuan merupakan kombinasi lengkap (12) dua faktor yaitu faktor pertama konsentrasi pemberian NAA terdiri dari 4 taraf yaitu 0 ppm, 15 ppm, 20 ppm dan 25 ppm
serta faktor kedua pemberian NAA pada tahap pertumbuhan 3 taraf yaitu tahap pembentukan anakan (G1), tahap pembentukan malai (G2) dan tahap inisiasi biji (G3). Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara konsentrasi pemberian zat pengatur tumbuh NAA pada tahap pertumbuhan tanaman yang berbeda yaitu pada jumlah bulir per rumpun dan hasil tanaman per hektar. Pemberian konsentrasi NAA 20 ppm memberikan nilai yang lebih baik terhadap indeks luas daun, laju tumbuh tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah bulir per rumpun, jumlah bernas per rumpun, berat biji bernas per rumpun dan hasil tanaman gandum per hektar yaitu dengan nilai 0,87 ton per hektar. Waktu pemberian NAA yang memberikan hasil lebih baik yaitu pada tahap pembentukan malai (G2) dilihat dari indeks luas daun, laju tumbuh tanaman jumlah bulir per rumpun, berat biji bernas dan jumlah bulir bernas per rumpun.
Kata kunci : zat pengatur tumbuh, naphthaleneacetic acid, gandum
PENDAHULUAN
Gandum sebagai bahan pangan telah memasuki segala aspek kehidupan lapisan masyarakat di Indonesia sekitar empat dekade terakhir. Seluruh kebutuhan gandum di Indonesia saat ini masih 100 persen impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2012, impor biji gandum mencapai 6,3 juta ton dengan nilai angka impor tersebut bisa terus meningkat jika Indonesia tidak segera melakukan terobosan baru untuk menghasilkan gandum sendiri, belum lagi konsumsi gandum terus bertambah dengan harga yang terus merangkak naik di pasar dunia, suatu saat nanti akan menyebabkan terjadi kelangkaan terigu di pasar dalam negeri.
Budidaya gandum di negeri sendiri berarti lebih menjamin pasokan gandum untuk kebutuhan domestik, sebab jika hanya bergantung pada impor kita tidak akan mengetahui bagaimana kepastian suplai pada masa yang akan datang. Pengembangan tanaman gandum di Indonesia memiliki berbagai macam kendala. Kendala yang nyata dan harus disikapi adalah faktor ekologi dari tanaman tersebut yang berasal dari daerah substropis. Upaya peningkatan produksi gandum perlu ditingkatkan, bukan hanya mengandalkan intensifikasi saja namun diperlukan juga upaya melalui ektensifikasi pada kondisi tanah dan iklim mikro yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman gandum. Pengembangan tanaman gandum dapat dilakukan dengan mengarahkan ke dataran yang mempunyai ketinggian berkisar diatas 800 m diatas permukaan laut, curah hujan 600 –825 mm/tahun, RH 80-90 persen, dan pH tanah antara 6,5-7,1. Tanaman gandum dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada beberapa lahan pertanian di Indonesia, khususnya pada daerah dataran tinggi yang bersuhu 12-26,50 C (DEPTAN, 1978). Salah satu daerah di Sumatra Barat yang sesuai dengan syarat kesesuaian lahan penanaman gandum adalah di Sukarami, Kabupaten Solok, mempunyai ketinggian 930 m diatas permukaan laut.
Mengingat pentingnya kegunaan gandum dan untuk mengatasi produksi gandum yang rendah, perlu diupayakan peningkatan produksi gandum dengan cara intensifikasi. Salah satu cara peningkatan produksi tanaman gandum adalah aplikasi zat pengatur tumbuh pada tanaman. Salah satu zat pengatur tumbuh
untuk tanaman gandum adalah NAA. NAA termasuk ke dalam kelompok hormon auksin yang membantu dalam proses mempercepat pertumbuhan, baik itu pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat perkecambahan, membantu dalam proses pembelahan sel, mempercepat pemasakan buah. Menurut Salisbury dan Ross (1995), NAA bekerja lebih efektif daripada IAA, karena tampaknya NAA tidak dirusak oleh IAA oksidase atau enzim lain sehingga bisa bertahan lebih lama. Dari penelitian di Pakistan oleh Alam et al. (2002) yang melakukan penelitian tentang respon beberapa kultivar tanaman gandum terhadap pemberian zat pengatur tumbuh NAA yang diuji dengan beberapa konsentrasi yaitu 0 ppm, 10 ppm, 20 ppm dan 30 ppm didapatkan pemberian konsentrasi NAA 20 ppm memberikan respon terbaik dalam pertumbuhan dan hasil tanaman gandum.
Tanaman gandum memiliki tiga tahap pertumbuhan yaitu tahap pembentukan anakan, pembentukan malai dan inisiasi biji (Acevedo et al., 2000). Pemberian zat pengatur tumbuh pada tanaman harus memperhatikan waktu pemberiannya. Respon zat pengatur tumbuh akan baik jika diberikan pada waktu yang tepat pada tahap pertumbuhan tanaman. Pemberian zat pengatur tumbuh NAA pada tahap pertumbuhan tanaman yang berbeda memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman seperti yang dilakukan oleh Bakhsh et al. (2011) yang melakukan penelitian di Pakistan tentang pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh NAA pada tahap pertumbuhan tanaman yang berbeda terhadap hasil tanaman padi yang diuji dengan 3 tahap pertumbuhan yaitu tahap anakan (S1), tahap pembentukan malai (S2) dan tahap inisiasi biji (S3) dan didapatkan hasilnya pada tahap pembentukan malai (S2) memberikan respon yang terbaik terhadap hasil produksi tanaman padi.
METODOLOGI PENELITIAN
Percobaan telah dilaksanakan di Sukarami Kabupaten Solok yaitu Kecamatan Gunung Talang dengan ketinggian 930 mdpl dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Universitas Andalas Padang. Kegiatan ini berlangsung dari September 2012 sampai Januari 2013. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih Gandum Genotipe SO-9, zat pengatur tumbuh NAA, pupuk urea ±250 kg ha-1 , pupuk SP36 250 kg ha -1 , KCL 100 kg ha-1 dan Furadan. Alat-alat yang digunakan adalah timbangan analitis, alat ukur luas daun (leaf area meter) oven untuk mengeringkan tanaman, alat semprot insektisida dan fungisida, cangkul, meteran, tali, camera digital, dan alat-alat tulis.
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 4 x 3 dengan tiga kelompok. Perlakuan merupakan kombinasi lengkap (12) dua faktor yaitu faktor pertama konsentrasi pemberian NAA terdiri dari 4 taraf dan faktor kedua pemberian NAA pada tahap pertumbuhan 3 taraf.
Adapun faktor perlakuan yang digunakan pada percobaan ini adalah Faktor 1 : Konsentrasi pemberian Zat pengatur tumbuh NAA yaitu K1 = 0 ppm, K2 = 15
ppm, K3 = 20 ppm, K4 = 25 ppm. Faktor II: Pemberian NAA pada tahap
pertumbuhan tanaman gandum yaitu G1 (tahap pembentukan anakan pada umur
30 HST (hari setelah tanam),G2 (tahap pembentukan malai/bunga pada umur 45
HST (hari setelah tanam), G3 (tahap inisiasi biji pada umur 60 HST (hari setelah
tanam).
Pengamatan parameter yang dilakukan adalah tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun (batang), jumlah anakan produktif per rumpun (batang), panjang malai (cm), jumlah spikelet per malai (buah), jumlah bulir bernas per rumpun (buah), bobot kering biji bernas per rumpun (gram), berat segar akar per rumpun (gram) dan hasil tanaman per hektar (ton).
Data hasil mingguan (periodik) ditampilkan dalam bentuk grafik, sementara data hasil pengamatan terakhir dianalisis secara sidik ragam dengan uji F, jika F hitung perlakuan lebih besar dari F tabel 5 persen dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5 persen. Semua data pengamatan terakhir ditampilkan dalam bentuk tabel.
HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa pemberian beberapa konsentrasi dan waktu NAA yang berbeda tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman gandum. tinggi tanaman gandum yang didapatkan berkisar antara 64,3 cm sampai 71,6 cm. Tinggi tanaman yang didapat termasuk tinggi tanaman yang rendah dari rata-rata tinggi tanaman gandum So9 yang bisa mencapai tinggi 80 cm. Hal ini terjadi karena pada saat masa awal penanaman curah hujan tinggi sehingga serapan unsur hara rendah karena banyak unsur hara yang tercuci waktu pemberian pupuk. Tapi tinggi tanaman yang didapatkan hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Nur et al. (2010) yang mendapatkan tinggi tanaman akhir (TTA) pada beberapa genotipe gandum yang diadaptasikan di dataran tinggi (>1000 m dpl) berkisar antara56,57 cm - 77,33 cm.
Tabel 1. Tinggi Tanaman Gandum pada Umur 9 Minggu setelah Tanam pada Beberapa Konsentrasi dan Waktu Pemberian NAA yang Berbeda
Konsentrasi NAA (ppm)
Tinggi tanaman gandum (cm) Waktu pemberian NAA G1 (tahap
anakan)
G2(pembentukan
malai) G3(inisiasi biji)
0 67,233 65,867 64,300
15 69,833 68,100 68,100
20 71,600 66,967 65,867
25 69,800 66,300 64,833
KK = 7,59 %
Jumlah Anakan per Rumpun
Dari tabel 2 dapat dilihat jumlah anakan total per rumpun berkisar antara 10,33 sampai 13,87 batang per rumpun. Pemberian konsentrasi 15 ppm memperlihatkan jumlah anakan total tanaman yang tertinggi yaitu antara 11,13 -13,87 batang per rumpun dan yang terendah dengan pemberian konsentrasi 0 ppm dengan jumlah anakan total antara 10, 98 – 11,60 batang per rumpun. Untuk waktu pemberian NAA dapat dilihat pemberian NAA pada tahap anakan memperlihatkan hasil jumlah anakan total per rumpun antara 10,33-13,87 batang per rumpun dan waktu pemberian pada inisiasi biji memberilkan hasil yang rendah yaitu antara 11,13-11,90 batang per rumpun. Hasil penelitian Sumardi (2008) didapatkan bahwa jumlah anakan total per rumpun pada tanaman padi sawah sangat dipengaruhi oleh ruang tumbuh, jumlahnya semakin menurun seiring dengan semakin sempitnya ruang tumbuh.
Tabel 2. Jumlah Anakan Total per Rumpun Tanaman Gandum pada Beberapa Konsentrasi dan Waktu Pemberian NAA yang Berbeda
Konsentrasi NAA (ppm)
Jumlah anakan total per rumpun (batang) Waktu pemberian NAA
G1 (tahap anakan) G2 (pembentukan malai) G3(inisiasi biji) 0 10,33 11,00 11,60 15 13,87 12,37 11,13 20 13,13 11,23 11,90 25 12,90 12,10 11,70 KK = 16,33 %
Angka-angka pada baris dan kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji F taraf 5%
Jumlah Anakan Produktif per Rumpun
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan yang terbaik dari pemberian beberapa konsentrasi NAA yang berbeda diperlihatkan dengan pemberian konsentrasi 20 ppm yaitu 10,78 batang per rumpun dan berbeda tidak nyata dengan konsentrasi 15 ppm dengan 10,49 batang per rumpun serta berbeda nyata konsentrasi 25 ppm dan konsentrasi 0 ppm dengan 9,74 batang per rumpun dan 8,71 batang per rumpun. Terlihat bahwa pemberian konsentrasi yang tepat memberikan jumlah anakan produktif per rumpun yang tinggi.
Tabel 3. Jumlah Anakan Produktif per Rumpun (Batang) Tanaman Gandum pada Beberapa Konsentrasi dan Waktu Pemberian NAA yang Berbeda
Konsentrasi NAA (ppm)
Jumlah anakan total per rumpun (batang)
Rata-Rata Waktu pemberian NAA
G1 (tahap
anakan)
G2 (pembentukan
malai) G3(inisiasi biji)
0 8,27 9,06 8,80 8,71b
15 9,83 11,97 9,67 10,49a 20 10,16 10,57 11,60 10,78a 25 9,43 10,32 9,47 9,74ab KK = 15,69 %
Angka-angka pada kolom yang diikuti huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 %
Panjang Malai
Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan beberapa konsentrasi dan waktu pemberian NAA yang berbeda tidak berpengaruh dalam meningkatkan panjang malai pada tanaman gandum, artinya semua perlakuan memberikan kemampuan yang hampir sama dalam meningkatkan panjang malai. Panjang malai yang didapatkan dalam percobaan berkisar antara 6,99 cm sampai 7,8 cm, sejalan dengan yang dikemukakan oleh Dahlan (2003) bahwa panjang malai gandum yang didapatkan berkisar antara 6,6 cm sampai 9,3 cm. Tidak berpengaruhnya jumlah bibit per lubang tanam terhadap panjang malai yang didapatkan dalam percobaan ini karena pada percobaan ini digunakan varietas gandum yang sama, yaitu varietas S09.
Tabel 4. Panjang Malai Tanaman Gandum pada Beberapa Konsentrasi dan Waktu Pemberian NAA yang Berbeda
Konsentrasi NAA (ppm)
Panjang malai (cm) Waktu pemberian NAA G1 (tahap
anakan)
G2(pembentukan
malai) G3(inisiasi biji)
0 6,99 7,28 7,17
15 7,88 7,52 7,64
20 7,05 7,72 7,58
25 7,15 7,63 7,73
KK = 6,28 %
Jumlah Spikelet per Malai
Dari Tabel 5 terlihat bahwa masing-masing faktor tidak berpengaruh nyata dalam meningkatkan jumlah spikelet per malai pada tanaman gandum, artinya semua perlakuan memberikan kemampuan yang hampir sama dalam meningkatkan jumlah spikelet. Perlakuan beberapa konsentrasi dan waktu pemberian NAA yang berbeda belum mampu memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah spikelet yang dihasilkan. Ini disebabkan karena pada percobaan ini digunakan varietas gandum yang sama, yaitu varietas S09. Dari hasil panjang
malai didapatkan hasil berbeda tidak nyata maka jumlah spikelet akan berbeda tidak nyata juga. Jumlah spikelet bergantung kepada panjang malai dari tanaman gandum semakin panjang malai maka jumlah spikelet semakin banyak.
Tabel 5. Jumlah Spikelet per Malai (Buah) Tanaman Gandum pada Beberapa Konsentrasi dan Waktu Pemberian NAA yang Berbeda
Konsentrasi NAA (ppm)
Jumlah spikelet per malai (buah) Waktu pemberian NAA G1 (tahap anakan)
G2(pembentukan
malai) G3(inisiasi biji)
0 14,24 14,13 14,20
15 14,22 14,72 14,62
20 14,07 14,98 14,34
25 14,07 14,53 14,43
KK = 4,03 %
Angka-angka pada baris dan kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji F taraf 5%
Jumlah Bulir Bernas per Rumpun
Dari Tabel 6 dapat terlihat bahwa waktu pemberian NAA juga berpengaruh signifikan terhadap hasil biji bernas per rumpun. Pemberian NAA pada tahap pembentukan malai memberikan hasil yang lebih baik yaitu antara 78,30-184,14 biji bernas per rumpun. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Bakhsh et al. (2011) yang pada tahap pembentukan malai memberikan hasil yang lebih baik terhadap jumlah biji bernas per rumpun. Pemberian NAA pada tahap pembentukan malai meningkatkan jumlah biji bernas karena daun tanaman diperlakukan tetap fungsional untuk jangka waktu yang lebih lama. Alasannya fungsi ikatan pembuluh yang panjang di berbagai bagian malai, yang telah mengakibatkan efisien translokasi fotosintesis (Awan et al., 1999).
Tabel 6. Jumlah Bulir Bernas per Rumpun Tanaman Gandum pada Beberapa Konsentrasi dan Waktu Pemberian NAA yang Berbeda
Konsentrasi NAA (ppm)
Jumlah bulir bernas per rumpun (biji) Waktu pemberian NAA
G1 (tahap anakan) G2(pembentukan malai) G3(inisiasi biji)
0 45,07a A 89,30 a B 49,13 a A 15 99,47b A 106,47 a A 97,25b A 20 91,80b A 184,14 b B 94,88 b A 25 80,93a A 78,30 a A 84,31 a A KK = 25,05 %
Angka-angka pada baris yang diikuti oleh huruf besar yang sama dan angka-angka pada kolom yang diikuti huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 %
Berat Biji Bernas per Rumpun
Dari Tabel 7 terlihat bahwa pemberian konsentrasi NAA berpengaruh nyata terhadap berat biji bernas per rumpun. Berat biji bernas per rumpun tanaman gandum yang terbaik didapatkan dari perlakuan konsentrasi NAA 20 ppm yaitu 3,37 gram per rumpun dan perlakuan terendah didapatkan dengan konsentrasi 0 ppm yang didapatkan berat biji bernas 2,40 gram. Hal ini sesuai dengan penelitian di Pakistan oleh Alam et al. (2002) didapatkan hasil bahwa auksin NAA memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman seperti, berat biji bernas. Tabel 7. Berat Biji Bernas per Rumpun pada Beberapa Konsentrasi dan Waktu
Pemberian NAA yang Berbeda
Konsentrasi NAA (ppm)
Berat biji bernas per rumpun (gram)
Rata-Rata Waktu pemberian NAA
G1 (tahap anakan) G2(pembentukan malai) G3(inisiasi biji) 0 1,36 2,64 1,35 1,79c 15 2,87 2,90 2,69 2,82ab 20 2,79 4,38 2,94 3,37a 25 2,26 2,64 2,31 2,40bc Rata-rata 2,32B 3,14A 2,32B KK = 26,80 %
Angka-angka pada baris yang diikuti oleh huruf besar yang sama dan angka-angka pada kolom yang diikuti huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 %
Berat Segar Akar per Rumpun
Dari Tabel 8 menunjukkan pemberian NAA dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan akar tanaman gandum. Pada tabel 13 terlihat bahwa berat segar akar tanaman gandum yang terbaik didapatkan dari perlakuan konsentrasi NAA 15 ppm yaitu dengan 14,87 gram per rumpun dan perlakuan terendah didapatkan dengan konsentrasi 0 ppm yang didapatkan berat segar akar 11,62 gram. Dari hasil yang didapat terlihat bahwa pemberian konsentrasi NAA yang terendah memberikan pengaruh terhadap berat segar akar. Menurut Hartman et al. (1997) pemberian auksin dapat meningkatkan jumlah dan kualitas akar yang terbentuk.
Tabel 8. Berat Segar Akar per Rumpun pada Beberapa Konsentrasi dan Waktu Pemberian NAA yang Berbeda
Konsentrasi NAA (ppm)
Berat segar akar per rumpun (gram)
Rata-Rata Waktu pemberian NAA
G1 (tahap anakan) G2(pembentukan malai) G3(inisiasi biji) 0 12,02 10,52 12,33 11,62b 15 13,33 16,29 15,01 14,87a 20 12,89 16,23 13,36 14,16a 25 13,12 14,40 14,28 13,93ab KK = 17,75 %
Angka-angka pada baris yang diikuti oleh huruf besar yang sama dan angka-angka pada kolom yang diikuti huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 %
Hasil Tanaman per Hektar
Interaksi antara pemberian konsentrasi dan waktu pemberian NAA didapatkan hasil yang terbaik yaitu pemberian konsentrasi NAA 20 ppm dengan waktu pemberian NAA pada tahap pembentukan malai dengan hasilnya 0,87 ton/ha. Hasil yang terendah didapatkan pada pemberian konsentrasi NAA 0 ppm dengan waktu pemberian pada tahap anakan yaitu 0,40 ton/ha.
Tabel 9. Hasil Tanaman per Hektar pada Beberapa Konsentrasi dan Waktu Pemberian NAA yang Berbeda
Konsentrasi NAA (ppm)
Hasil tanaman per hektar (ton) Waktu pemberian NAA
G1 (tahap anakan) G2(pembentukan malai) G3(inisiasi biji)
0 0,40a A 0,63 a B 0,50a A 15 0,73b A 0,60a A 0,60a A 20 0,70b A 0,87b B 0,70b A 25 0,47a A 0,57a A 0,77b B KK = 16.5 %
Angka-angka pada baris yang diikuti oleh huruf besar yang sama dan angka-angka pada kolom yang diikuti huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 %
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan Pengaruh Pemberian Berbagai Konsentrasi NAA (Naphthaleneacetic Acid) pada Tahap Pertumbuhan Tanaman Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Gandum (Triticum aestivum L) di Sukarami, Solok di dapatkan hasil sebagai berikut :
1. Terdapat interaksi antara konsentrasi pemberian zat pengatur tumbuh NAA pada tahap pertumbuhan tanaman yang berbeda yaitu pada jumlah bulir per rumpun dan hasil tanaman per hektar.
2. Pemberian konsentrasi NAA 20 ppm memberikan nilai yang lebih baik terhadap jumlah anakan produktif, jumlah bulir per rumpun, jumlah bernas per rumpun, berat biji bernas per rumpun dan hasil tanaman gandum per hektar yaitu dengan nilai 0,87 ton per hektar.
3. Waktu pemberian NAA yang memberikan hasil lebih baik yaitu pada tahap pembentukan malai (G2) dilihat dari jumlah bulir per rumpun, berat biji bernas, jumlah bulir bernas per rumpun dan hasil tanaman per hektar.
DAFTAR PUSTAKA
Acevedo, Edmundo. Silva, Paola and Silva, Herman. 2000 Growth And Wheat Physiology, Development. Laboratory of Soil-Plant-Water Relations. Faculty of Agronomy and Forestry Sciences. University of Chile. Casilla 1004. Santiago, Chile
Alam, S.M., Shareen and M. Khan. 2002. Growth Response Of Wheat Cultivars To Naphthaleneacetic Acid (NAA) And Ethrel. Pak. J. Bot 34 (2): 135-137,
Awan, I. U., M. S. Baloch, M. Z. Saddozai and M. Sulemani (1999). Stimulatory effects of GA3 and IAA on Ripening Process, Kernel Development and Quality of Rice. Pakistan J. Biol. Sci., 2(2): 410-412
Dahlan, M., Rudjianto, J. Murdianto dan M. Yusuf. 2003. Usulan Pelepasan Varietas Gandum Balai Penelitian Tanaman Serealia. Pusat Penelilitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
DEPTAN. 1978. Laporan Hasil Survei Potensi Tanaman Gandum. Bidang Potensi Tegakan gandum (konsep).
Hartman, H. T., D. E. Kester, F. T. Davies dan R. L. Genevw. 1997. Plant Propagation: Principles and Practices. Prentice-Hall International Inc., New Jersey.
Imam Bakhsh, et al .2011. Effect Of Plant Growth Regulator Application At Different Growth Stages On The Yield Potential Of Coarse Rice. Sarhad J. Agric. Vol.27, No.4
Salisburry, F.B & Roos C.W 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Terjemahan Lukman dan Sumaryono. ITB. Bandung.
Sumardi. 2007. Peningkatan Produktifitas Padi Sawah melalui Perbaikan Lingkungan Tumbuh dalam Meningkatkan Hubungan Source-sink Tanaman pada Metoda SRI. Bahan Disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Andalas Padang.