BUKU DALAM PERSPEKTIF KATOLIK:
PERJALANAN BUKU DAN SISI GELAPNYA
(PART 1)
Umat Katolik sering disebut Gereja yang Berziarah, karena kehidupan di dunia ini hanyalah sementara dan karenanya kita harus mengarahkan seluruh hidup kita untuk menggapai kebahagiaan kekal di Surga. Namun, kita juga merupakan Gereja Militan (Gereja yang Berjuang), karena dalam pendakian kita menuju bukit Allah, akan selalu ada kekuatan jahat, gaya gravitasi yang selalu berusaha menarik kita ke bawah, menjauhi Allah dan berusaha menawan kita dalam Neraka.
Proses pendakian menuju bukit Allah ini merupakan simbol yang menggambarkan panggilan setiap orang Katolik, yakni berusaha untuk menjadi kudus. Ada banyak hal yang dapat menjadi teman perjalanan kita menuju kekudusan, namun saat ini saya ingin membahas salah satu teman dekat kita yang mungkin sering dilupakan atau diabaikan, yakni buku. Secara khusus, yang saya maksud adalah buku-buku rohani yang bernafaskan iman Katolik.
Saya akan membagi tulisan ini menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, saya hendak memberikan sketsa historis tentang bagaimana terbentuknya sebuah buku sepanjang sejarah. Saya tidak bermaksud untuk membahas secara komprehensif (pembaca yang berminat mendalami topik tersebut akan diberikan referensi untuk mempelajarinya sendiri), namun hanya akan menjelaskannya secara umum dari perspektif Katolik.
Perkembangan Tradisi Lisan menjadi Tulisan
“Iman timbul dari pendengaran”, demikian perkataan St.
Paulus. Pada jaman umat Kristen perdana, mereka belum memiliki Kitab Suci seperti yang dimiliki oleh kita sekarang. Yesus tidak pernah menuliskan pengajarannya, bahkan tidak pernah meminta para murid untuk
menuliskannya. Yesus memberikan pengajarannya melalui perkataan dan perbuatan-Nya.
Begitu pula halnya dengan para rasul, yang mewartakan ajarannya secara lisan. Pewartaan mereka inilah yang
kemudian berperan sebagai “jala” yang menarik banyak
orang untuk bertobat dan mengikuti Kristus. Apa yang diwartakan secara lisan ini kemudian dituliskan pada
jemaat di wilayah tertentu saja. Misalnya, surat rasul Paulus kepada jemaat di Roma, hanya dibaca dan diwartakan bagi orang Kristen di Roma saja. Kitab Suci sendiri baru dikanonkan secara kolektif menjadi satu buku yang terdiri dari berbagai buku pada abad ke-4 oleh otoritas Gereja.
Penyalinan Manuskrip: Usaha Merawat Memori
Sekalipun sudah terlihat adanya upaya untuk menuliskan perkataan lisan menjadi tulisan, namun tidak semua orang memiliki akses terhadap tulisan-tulisan tersebut. Praktek menyalin manuskrip untuk disimpan dalam perpustakaan dapat dilacak sampai ke tradisi di biara-biara monastik di Timur (Mesir, Yunani) maupun di Barat. Contohnya ialah aturan St. Benediktus (Rule of St. Benedict), yang secara eksplisit
mengatakan bahwa para rahibnya harus memiliki akses terhadap buku-buku selama dua jam setiap harinya untuk membaca buku.
yang kita gunakan sekarang.
Proses penulisan atau penyalinan ini dikerjakan oleh para rahib monastik di biara mereka. Mereka bekerja dalam ruang khusus yang disebut skriptorium (secara harafiah berarti tempat untuk menulis), yang lokasinya dekat dengan perpustakaan biara tersebut. Berbagai manuskrip yang disalin biasanya terdiri dari Kitab Suci, tulisan Bapa Gereja, komentar terhadap ayat-ayat Kitab Suci, riwayat hidup orang kudus, sejarah gereja, buku-buku liturgi dst termasuk juga buku-buku-buku-buku yang ditulis oleh kaum pagan dan filsuf.
Meskipun demikian, keberadaan perpustakaan yang menyimpan banyak manuskrip sempat dihancurkan oleh invasi kaum Barbar, namun tidak semua perpustakaan berhasil dilenyapkan. Melalui kerja keras para rahiblah, maka teks-teks kuno warisan masa lalu masih terpelihara dan dapat diselamatkan.
Para rahib tidak sekedar menyalin sebuah teks atau naskah, namun mereka juga memberikan hiasan berwarna-warni berupa gambar visual yang membuat sebuah manuskrip menjadi sangat indah. Biasanya hiasan tersebut dapat berupa tanaman, bunga, atau adegan suatu peristiwa, yang ditempatkan di awal suatu tulisan, di tepi halaman, atau pada satu huruf di awal paragraf.
Menjelang abad 12-13, proses penyalinan buku juga dilakukan di universitas yang dikerjakan oleh orang awam (yang juga berprofesi sebagai penjual buku) dan tidak lagi didominasi oleh para rahib monastik. Melalui pekerjaan menyalin manuskrip ini mereka juga dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.
penyalinan dan penyebaran buku pun menjadi mudah. Buku, yang pada awalnya hanya berjumlah sedikit dan disimpan dalam beberapa perpustakaan, kini dapat dicetak dalam jumlah besar serta dapat diakses oleh semakin banyak orang. Proses penyalinan atau penulisan buku pun tidak lagi terbatas pada pekerjaan rahib saja.
Penyensoran Buku: Kemunculan Indeks Buku Terlarang
Buku memang mengandung segudang informasi yang dapat membuka cakrawala pikiran dan memperkuat iman. Namun, ada juga buku-buku yang ternyata mengandung racun kesesatan dan karenanya membahayakan iman. Oleh karena itulah, Gereja Katolik pernah mengeluarkan
Daftar/Indeks Buku Terlarang (Index Librorum
Prohibitom), yang isinya memuat katalog buku-buku yang mengandung kesesatan, menghancurkan moral, menyerang ajaran Gereja dan Paus, memuat materi yang bersifat pornografi, dst. Buku-buku terlarang tersebut juga ada yang dihancurkan dengan cara dibakar.
Indeks Buku Terlarang ini pertama kali dipromulgasikan oleh Paus Paulus IV pada tahun 1559. Tujuan dari
dikeluarkannya Indeks tersebut ialah untuk melindungi iman dan moral umat Katolik dari berbagai kesesatan dengan mencegah mereka membaca buku-buku berbau bidaah dan imoral. Karena saat itu Gereja juga
berhadapan dengan Reformasi Protestan, maka terdapat berbagai terjemahan Kitab Suci yang tidak akurat dan karenanya dapat diartikan bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Selain itu, tulisan para pendiri
Protestan yang menyerang Gereja Katolik pun juga dengan mudah dapat disebarluaskan.
Hal tersebut dapat kita lihat sebagai sesuatu yang baru, padahal kalau kita melihat ke sejarah gereja yang awal, katakanlah saat Konsili Nicea tahun 325 yang menegaskan ajaran tentang Keallahan Yesus, perbuatan untuk menyatakan suatu tulisan atau pernyataan sebagai kesesatan dan membakar buku-buku yang membahayakan iman sebenarnya sudah dilakukan. Namun, penerbitan sebuah Daftar Buku Terlarang serta upaya untuk menyaring dan memeriksa buku secara sistematis baru dilakukan pada waktu itu.
Congregation of Index of Forbidden Books,yang terdiri dari para kardinal yang bertugas menjalankan fungsi
pemeriksaan dan pennyensoran konten buku-buku Katolik. Penyensoran dilakukan dalam dua cara, pertama penyensoran terjadi sebelum buku diterbitkan. Kedua, penyensoran dilakukan dengan cara melarang buku-buku yang sudah diterbitkan.
Gereja tidak semata-mata melarang dan menghukum penulis buku-buku yang bermasalah, namun ia juga memberikan kesempatan bagi para penulis tersebut untuk membela bukunya dan berdiskusi dengan anggotaSacred Congregation of Index. Terdapat kemungkinan untuk menerbitkan kembali buku yang didiskusikan dalam edisi baru, bila ternyata antara Kongregasi Suci dan penulis sepakat untuk memberikan koreksi atau tambahan pada edisi yang baru. Singkatnya, buku yang diterbitkan kembali haruslah buku yang
bebas dari kesalahan dan telah menjalani proses “pemurnian”. Tidak semua halaman pada buku yang terdapat
dalam Indeks mengandung kesesatan. Bisa jadi ada juga buku-buku yang secara umum tidak berbahaya, namun mengandung kekeliruan teologis yang perlu dikoreksi.
Edisi terakhir dari Indeks Buku Terlarang dikeluarkan pada tahun 1948. Kemudian, Paus Paulus VI
menghapuskan penggunaan Indeks Buku Terlarang ini pada tanggal 14 Juni 1966. Hal ini dapat kita mengerti, mengingat sekarang buku dapat dicetak dan diperjualbelikan dengan mudah, sehingga sangatlah tidak mungkin untuk mengawasi dengan cermat berbagai buku-buku Katolik yang beredar di seluruh dunia.
Penyensoran Buku di Jaman Modern.
Meskipun demikian, bukan berarti fungsi pengawasan doktrinal dan moral tersebut berhenti secara total. Ketika Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Emeritus Benediktus XVI) menjabat sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman, ia mengeluarkan notifikasi mengenai buku yang diterbitkan beberapa penulis oleh Rm. Anthony de Mello SJ, Leonardo Boff, John Sobrino SJ, dst, yang menjelaskan bahaya buku-buku ini bagi iman Katolik. Bahkan, Kongregasi Ajaran Iman pun tidak ragu untuk melarang para teolog mengajar teologi di universitas. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa dalam lingkup yang sangat terbatas, Gereja pun masih sangat peduli untuk melindungi iman umat Katolik.
Pada tingkat lokal, sebenarnya fungsi pengawasan tersebut tetap ada. Orang Katolik tentu cukup familiar dengan istilah nihil obstat dan imprimatur. Nihil obstat berarti bahwa dalam buku tersebut tidak terdapat hal-hal yang membahayakan iman dan moral, sedangkan imprimatur berarti bahwa sebuah buku memperoleh ijin untuk dicetak. Dengan demikian, bila sebuah buku Katolik sudah memperoleh kedua hal tersebut, maka buku tersebut layak dan aman untuk dibaca. Benarkah demikian?
Penutup: Buku yang Membunuh atau Menyelamatkan
Berdasarkan tur sejarah buku yang kita lakukan, maka kita dapat melihat betapa buku sungguh dapat
berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Secara khusus, kita belajar dari sejarah bahwa terdapat buku-buku yang membahayakan iman dan moral, dan karenanya Gereja harus bertindak dengan tegas menangani hal tersebut. Oleh karena itu, tepatlah bila St. Alphonsus Maria Liguori berkata demikian: Seperti buku-buku yang buruk bila dibaca dapat memenuhi pikiran dengan gagasan yang beracun dan
duniawi, maka membaca buku-buku yang saleh dapat memenuhi pikiran dengan keinginan yang baik dan pikiran yang suci.
Namun seperti apakah buku yang baik, yang mampu mengubah seseorang secara utuh dan karenanya menjadi sarana untuk menyelamatkan manusia? Tunggu bagian kedua dari tulisan ini untuk mendapatkan jawabannya!
Referensi
Catholic Encyclopedia: Cencorship of Books
Catholic Encyclopedia: Illuminated Manuscript
Catholic Encyclopedia: Index of Forbidden Books
Catholic Encyclopedia: Theological Censures
Apendiks: Beragam Kategori Sensor Teologis
Penyensoran secara teologis merupakan upaya Gereja untuk menyaring dan memberikan stigma atau menilai suatu tulisan atau pernyataan, apakah berbahaya bagi iman dan moral Katolik atau tidak. Hak untuk
melakukan sensor ini berasal dari perkataan St. Paulus, yang menyatakan anathema (yang berarti terkutuklah) bagi mereka yang mewartakan Injil Kristus secara berbeda atau bertentangan dengan yang diwartakan para rasul (bdk. Gal 1:8).
Berikut ini adalah beberapa kategori yang digunakan Gereja dalam member label suatu tulisan atau pernyataan (secara lengkap bisa dibaca di Ensiklopedia Katolik: Theological Censures). Terkadang, belum tentu sebuah buku selalu diberi kategori misalnya sesat atau keliru, bisa saja hanya beberapa pernyataan dalam buku tersebut yang diberikan kategori. Namun saya tidak akan membahas semuanya, hanya memberikan sedikit contohnya saja. Secara umum, suatu tulisan yang membahayakan iman dapat dibagi dalam tiga kategori berdasarkan tingkat yang paling berat hingga ringan:
(1) Hæretica (heresi atau bidaah atau sesat), erronea (keliru atau salah), hæresi proxima (mendekati bidaah atau heresi), errori proxima (mendekati keliru), dst.
Sebuah proposisi atau pernyataan diberi label haeretica bila ia menentang dogma Gereja yang infalibel secara langsung; kategori erronea diberikan pada sebuah proposisi yang bertentangan dengan suatu kesimpulan teologis yang ditarik dari artikel iman atau akal budi. Suatu pernyataan diberi katgori haeresi proxima bila oposisi pernyatan tersebut terhadap dogma tidaklah jelas atau kurang pasti, karena bisa saja terdapat suatu pernyataan yang secara jelas tidak dapat disebut sesat atau keliru; sedangkan kategori errori
proxima diberikan bila suatu pernyataan itu bertentangan dengan opini umum yang dianut oleh mayoritas
teolog.
(2) Ambigua (ambigu atau bermakna ganda), captiosa (bermakna luas), male sonans (terdengar jahat),piarum aurium (ofensif bila didengar orang-orang saleh – offensive to pious ears), dst.
Sebuah pernyataan diberi kategori ambigua bila penyusunan kata-katanya menimbulkan dua arti atau lebih, di mana salah satu artinya dapat bertentangan dengan ajaran iman; kategori captiosadiberikan pada pernyataan yang menggunakan kata-kata yang baik dan dapat diterima, dengan tujuan mengungkapkan sebuah keberatan terhadap ajaran iman. Kategori male sonans diberikan pada pernyataan yang kata-kata yang improper (kurang pantas) digunakan untuk mengungkapkan kebenaran iman yang diterima umat Katolik; sedangkan
kategori piarum aurium diberikan pada pernyataan yang walaupun maknanya secara terbuka tidak bertentangan dengan iman, namun tetap ada kesan bahwa ada sesuatu yang salah atau kurang layak dalam pernyataan tersebut.
(3) Subsannativa religionis (mengolok-olok agama), decolorativa canodris ecclesiae (memperburuk keindahan Gereja), subersiva hierarchiae (bersifat memberontak terhadap hirarki), eversiva regnorum(bersifat menghancurkan pemerintahan gerejawi), scandelosa, perniciosa, periculosa in
moribus(bersifat skandal, merusak secara terselubung, berbahaya bagi moral), blasphema, idolatra,
Kategori di atas diarahkan pada pernyataan yang menyerang agama, kekudusan gereja, kesatuan pemerintahan gerejawi dan hirarki, masyarakat sipil, moral secara umum, kebajikan agama, sikap lembut (meekness) secara Kristiani, dan secara khusus kerendahan hati.
Bila kita perhatikan, ada begitu banyak kategori yang sangat spesifik berbicara tentang hal yang