bertemu pada organ limfoid periferal yaitu pada lymph node, spleen, dan jaringan limfoid mukosa. Pada organ limfoid periferal inilah sebenarnya dimulainya imunitas adaptif. Pada organ limfoid periferal sel sel tertentu yang dikenal dengan nama (APC) seperti makrofag, sel dendritik, dan sel B akan mempresentasikan antigen dalam bentuk peptida. Peptida dipresentasikan pada permukaan APC dalam keadaan terikat oleh MHC. Limposit mengenali antigen yang terikat oleh MHC itu.
Gambar 12. Perkembangan Limfosit Pada Mencit Berumur 7 Minggu Dianalisis Dengan Flow Cytometry. A) Analisis pada organ timus dengan
menggunakan memakai antibodi anti CD4 yang dilabel dengan
FITC, dan antibodi anti CD8 yang dilabel dengan PE. Pada analisis ini diketahui bahwa pada tahap perkembangan di dalam timus limfosit
mengekspresikan protein CD4+CD8+ sehingga pada awal perkembangan ini
disebut sel T . B) Analisis pada organ limfa (spleen) dengan metode
yang sama dengan yang dilakukan pada timus. Pada tahap ini diketahui bahwa sel T telah terdiferensiasi menjadi CD4+ atau CD8+ sehingga pada tahap ini
disebut sel T (mature). Pada gambar ini setiap titik pada panel
menunjukkan satu sel yang terdeteksi oleh mesin Flow Cytometry. Analisis dilakukan dengan menggunakan software CELLQUEST.
menumpuk pada jaringan dan tidak segera memasuki pembuluh limfa, akan menimbulkan kebengkaan jaringan yang dikenal dengan istilah adema. Lymph akan dibawa masuk ke jaringan
melalui sistem limfa. Lymph masuk ke organ lymph node melalui pembuluh limfa afferent. Cairan lymph tersebut membawa antigen dari jaringan yang terinfeksi dan juga APC yang telah membawa berbagai macam antigen. Lymph juga berperan membawa kembali limfosit ke luar dari lymph node ke dalam sirkulasi darah. Di dalam organ lymph node sel B menempati daerah folikel, sedangkan sel T menempati terutama daerah parakortikal. Folikel sel B meliputi daerah yang disebut . Pada inilah sel B mengalami proliferasi setelah menerima signal dari sel T.
Gambar 13. Organisasi lymph node. Lymph node terdiri atas bagian kortek dan medula. Kortek terbagi dua bagian. Bagian pertama merupakan bagian luar yang banyak didiami oleh sel B yang menempati suatu folikel, dan kortek dalam
( ) banyak didiami oleh sel T dan
sel dendritik. Ketika terjadi respon imun oleh adanya antigen, beberapa folikel folikel limfoid sekunder
(dengan germinal center)
pembuluh limfa afferent
daerah paracortical (sebagian besar sel T)
germinal center
folikel limfoid primer (sebagian besar sel B)
medula cord (sebagian besar makrofag dan sel plasma)
medula sinus
arteri
vena
pembuluh limfa efferent
sinus marginal germinal center senescent
menunjukkan froliferasi sel B yang sangat cepat yang terjadi pada pusat germinal (germinal center) yang disebut folikel limfoid sekunder. Reaksi ini
sangat menyolok namun akhirnya terhenti sebagai .Cairan
ekstraselluler mengiring antigen yang dibawa sel dendritik maupun makrofag dari jaringan memasuki pembuluh limfa dan masuk menuju lymph node melalui pembuluh limfatik afferent. Cairan lymph meninggalkan lymph node melalui pembuluh limfatik efferent. Limfosit naive memasuki lymph node dari aliran
darah melalui venula yang khusus dan meninggalkannya melalui
pembuluh limfatik efferent (sumber: Janeway, 2001)
saluran limfa sumsum tulang
appendix
usus besar ginjal
Peyer’s patch pada usus kecil spleen / limfa
saluran thoracic jantung timus
vena subclavian kiri vena subclavian kanan
adenoid
tonsil
lymph node
tempat terjadinya aktivasi limfosit oleh antigen. Limfosit keluar masuk pembuluh darah dan organ ini sampai menemukan antigen. Pembuluh limfa menarik cairan ekstraselluler dari jaringan periferal melalui lymph node dan masuk pada thoracic duct (duktus thoracic), dan mencurahkan cairan yang dibawa itu masuk dalam vena subclavian kiri. Cairan yang berasal dari ekstraselluler itu disebut lymph, yang membawa antigen menuju lymph node dan membawa kembali limfosit dari lymph node menuju ke sirkulasi darah. Jaringan limfoid juga berasosiasi dengan mukosa contohnya yang terletak sepanjang saruran bronkus pada paru.
Spleen terletak di belakang lambung. Organ ini bertugas mengumpulkan antigen dari darah dan juga mengumpulkan dan menghancurkan darah merah yang telah kehilangan fungsi. Sebagian besar organ spleen terdiri dari daerah yang disebut pulpa merah. Pada pulpa merah, darah merah yang telah tua dihancurkan. Pada spleen terdapat daerah yang disebut pulpa putih. Pulpa putih adalah tempat berkumpulnya sel B yang berasal dari arteri di sekitarnya. Pada pulpa putih terdapat daerah tertentu tempat berkumpulnya sel T yaitu daerah yang disebut periarteriolar lymphoid sheath (PALS).
kapsula pulpa merah pulpa putih
trabekula vena
trabekula arteri
sinus venosus
zona marginal
corona sel B
germinal center PALS (sebagian besar sel T)
arteriola center
sinus marginal
pulpa merah
Gambar 15. Organisasi jaringan limfoid, spleen. Spleen (limfa) terdiri dari bagian yang disebut pulpa merah. Pada tempat ini terjadi penghancuran sel darah merah yang sudah tua. Pulpa merah berselang seling dengan pulpa putih. Limfosit dan sel dendritik yang membawa antigen datang bersama pada periarteriolar sheath. Pada setiap pulpa putih, darah yang membawa limfosit dan antigen mengalir dari arteri trabekula masuk ke arteri sentral. Sel dan antigen kemudian masuk ke dalam sinus dan berlanjut menuju vena trabekula. Sinus marginal dikelilingi oleh zona marginal limfosit. Di dalam sinus marginal dan di sekeliling arteri sentral terdapat periarteriolar lymphoid sheath (PALS), yang tersusun oleh sel T. Folikel didominasi oleh sel B, pada folikel sekunder germinal senter dikelilingi oleh korona sel B. Meskipun susunan spleen dan lymph node mempunyai persamaan, namun antigen yang masuk ke spleen lebih banyak berasal dari darah daripada dari cairan ekstraselluler (lymph).
seleksi positif seleksi negatif
aviditas keberhasilan
seleksi sel T regulator
terabaikan
Gambar 16. Seleksi penghapusan sel T autoreaktif terjadi saat awal perkembangan sel T pada organ timus melalui ikatan komplek self, MHC:self,antigen. Sel T yang mengenali self antigen dengan aviditas sangat
kuat akan mengalami seleksi negatif, . Sel yang mempunyai sifat
demikian ini akan membahayakan tubuh jika lolos dari seleksi negatif karena mempunyai daya serang terhadap komponen tubuh sendiri. Sel T yang sama
sekali tidak mengenali akan diabaikan dan tidak diperlukan dalam
tubuh. Sel tersebut akan mengalami seleksi negatif dengan istilah “neglect”. Sel yang sama sekali tidak mengenali self antigen jika dibiarkan hidup tidak mempunyai peran pada sistem imun karena sel tersebut tidak mampu berproliferasi pada tahap stimulasi. Hanya sel T yang mempunyai aviditas menengah yang dipertahankan tetap hidup dalam sistem imun. Sel inilah yang menjadi komponen utama pada sistem imun normal. Sel T yang lolos seleksi ini selanjutnya terdiferensiasi menjadi dua sub besar yaitu sel T CD4 dan sel T CD8. Sel T CD4 sering dikenal dengan istilah sel T helper, sedangkan sel T CD8 dikenal dengan istilah sel T killer (sitotoksik). Adapun sel T yang mengikat self antigen dengan aviditas yang sangat kuat namun tidak sampai pada tahap eliminasi (negative selection) akan menjadi sel T regulator (Treg) yang sangat
penting untuk menghambat terjadinya dari sel sel yang lolos dari
mempunyai kemampuan untuk melawan antigen. Ketika terjadi infeksi di daerah periferal, maka sel dendritik segera menangkap antigen tersebut dan membawanya dari tempat infeksi ke
melalui pembuluh limfatik afferent. Pada lymph node sel dendritik akan mempresentasikan antigen yang ditangkap dalam bentuk peptida ke sel T yang bersirkulasi di daerah tersebut. Sel dendritik juga memproduksi sitokin untuk membantu aktivasi sel T. Sel B yang berhasil menangkap antigen sebagaimana APC yang lain juga berhenti dan menjadi aktif dengan bantuan sel T. Sel sel limfosit yang telah mengalami aktivasi dan diferensiasi akibat adanya antigen, segera meninggalkan lymph node lewat pembuluh limfatik efferent dalam bentuk sel aktif yang disebut sel efektor. Jaringan limfoid periferal merupakan jaringan yang labil karena selalu terlibat dalam respon imunitas adaptif. Sebagai contoh, bentuk serta struktur lymph node selalu berubah sesuai dengan kepentingan. Pada saat ada infeksi akan terlihat bahwa folikel untuk produksi sel B semakin banyak, demikian juga bentuknya akan menjadi besar, mengalami pembengkakan karena terjadi proliferasi sel B yang berlebihan. Sebaliknya jika tidak ada infeksi maka lymph node akan kembali mengecil dalam bentuk normal.
Gambar 17. Struktur jaringan limfoid yang berasosiasi dengan usus. Sebagian besar folikel diisi oleh sel B, dan sel T mengisi sebagian kecil sisi folikel. Antigen masuk menembus epitelium yang tersusun dari sel M. Meskipun jaringan ini kelihatan berbeda dari organ limfoid yang lain namun susunan dasarnya sama. Sel M ditunjukkan dengan huruf ”M” dan secara khusus dengan anak panah (sumber: Murphy, 2008).
lumen usus epetelium
(sel M)
dome
germinal center
folikel (area sel B)
dinding usus
!
Molekul β2 mikroglobulin merupakan komponen dari MHC kelas I. Molekul β2 mikroglobulin diekspresikan oleh semua sel yang memiliki nukleus. Molekul β2 mikroglobulin terletak secara lateral dengan rantai α3 MHC kelas I. Tidak seperti rantai α3 MHC kelas I, β2 mikroglobulin tidak mempunyai bagian transmembran pada permukaan sel. Tepat di atas β2 mikroglobulin tedapat rantai α1. Rantai α1 terletak secara lateral terhadap rantai α2. Molekul β2 mikroglobulin tidak saja berasosiasi dengan rantai α MHC kelas I, tetapi juga dengan molekul lain yang mirip MHC kelas I seperti CD1 dan Qa. Pada mencit yang mengalami defisiensi β2 mikroglobulin akan kehilangan ekspresi MHC kelas I. Sebagai konsekuwensi dari hilangnya ekspresi molekul MHC kelas I, sel T CD8 tidak dapat berkembang karena CD8 memerlukan molekul MHC kelas I (Gambar 14).
β2 mikroglobulin
α2 α1
α3
membran sel
Suatu hal yang sangat menarik adalah adanya bukti bahwa perkembangan sel T CD8 sangat tergantung adanya molekul β2 mikroglobulin. CD8 sesungguhnya tidak mensyaratkan adanya gen yang menyandi β2 mikroglobulin pada sel yang sedang berkembang. Perkembangan sel T CD8 hanya mensyaratkan adanya molekul β2 mikroglobulin pada lingkungannya. Bukti ini sangat jelas ketika Rifa’i et.all, melakukan transfer sumsum tulang mencit β2/
pada mencit normal yang diradiasi pada dosis letal. Hasil transplantasi yang diamati setelah tiga bulan menunjukkan bahwa CD8 berkembang dari mencit β2/ sebagaimana mencit normal. Hal ini
menunjukkan bahwa prekursor sel T yang mengarah pada pematangan dapat memperoleh self antigen yang dipreresentasikan oleh sel epitel timus pada resipien. Dari fakta ini jelaslah sekarang bahwa β2 mikroglobulin bukanlah faktor survival untuk sel T dan sekaligus membantah pendapat yang meyakini gen penyandi β2 mikroglobulin terkait langsung pada keberhasilan proliferasi maupun perkembangan sel T CD8.
Sisa sel resipien sebanyak ~5% merupakan pangkal terjadinya masalah pada kasus transplantasi sumsum tulang alogenik, karena sekitar ~5% sel resipien yang kebal terhadap radiasi kebanyakan berupa limfosit T. Limfosit B secara keseluruhan telah tergantikan dari perkembangan sel donor sehingga dapat dikatakan bahwa sentral masalah pada kasus transplantasi sumsum tulang alogenik terletak pada sel T. Sel resipien yang mengenali sel donor pada akhirnya mengalami aktivasi dan secara kontinyu melakukan proliferasi sehingga pada umumnya pada akhirnya sel resipien terus meningkat jumlahnya dan melakukan penolakan pada donor. Ketika di dalam tubuh suatu individu terjadi persaingan antara sel donor dan sel resipien, aktivasi terjadi pada keduanya sehingga sel sel tersebut akan memproduksi sitokin yang berlebihan. Sitokin yang tidak terkontrol pada akhirnya mengganggu homeostasis dan menyebabkan kegagalan organ. Gagal organ yang terjadi tidak semata mata hanya disebabkan ledakan sitokin tetapi juga oleh serangan langsung dan kontak antar sel yang bertujuan saling mengeliminasi karena satu sama lain merupakan antigen. Sel T CD8 mempunyai kemampuan killing pada target yang dikenali sebagai antigen, demikian juga sel natural killer, NK. Sel T dari populasi CD4 juga mempunyai sumbangan yang besar pada setiap reaksi imunitas yang melibatkan antigen asing. Sel T CD4 mempunyai potensi menghasilkan sitokin yang mampu memacu aktivasi sel sel yang lain.
dan sekaligus mensekresikan molekul molekul efektor sehingga pada akhirnya akan terjadi kerusakan tingkat jaringan dan diikuti tingkat organ. Pada saat sel T CD8 melakukan penghancuran pada sasaran sasaran yang dianggap asing akan menyebabkan inflamasi sistemik. Inflamasi sistemik ini menambah kerusakan semakin luas termasuk menimbulkan aktivasi sel B nonspesifik. Makrofag yang berkembang dari donor pada awalnya merupakan sel toleran yang bekerja pada kisaran homeostasis. Adanya kerusakan level sel dan jaringan yang makin besar juga menimbulkan aktivasi sel sel makrofag karena sel sel tersebut menelan sisa sisa kerusakan sel. Fagositosis oleh makrofag menyebabkan makrofag mempresentasikan antigen asing yang dikenali oleh sel T populasi CD4. Aktivasi sel T CD4 menimbulkan respon imun semakin besar. Sel T populasi CD4 mempunyai potensi yang sangat besar memproduksi IL 2. IL 2 merupakan interleukin yang sangat berpengaruh pada peningkatan proliferasi. IL 2 tidak saja dimanfaatkan oleh sel T CD4 namun juga sel T CD8 dan sel B. Sel T CD8 mempunyai afinitas yang sangat tinggi terhadap IL 2 dan bahkan lebih tinggi dibandingkan afinitas CD4 dalam pemanfaatan IL 2, sehingga CD8 berkembang dengan sangat cepat dan terus menerus memproduksi sitokin termasuk faktor proinflamasi seperti TNFα dan INFγ. Ketika semua sel hematopoietik mengalami aktivasi, kerusakan organ nampak makin jelas sebanding dengan waktu. Pada awal transplantasi alogenik umumnya resipien nampak sehat karena sistem dikendalikan oleh donor, namun ketika minor MHC pada resipien mulai dikenali sel T donor, aktivasi sel T donor akan terjadi.
antigen itu. Respon sel T CD4 ini ditandai dengan adanya proliferasi dan pelepasan molekul molekul efektor.
Gambar 19. Sel T CD8 tidak berkembang pada individu yang mengalami gen knockout β2 mikroglobulin. Mencit berumur tujuh Minggu diisolasi spleennya dan dilakukan staining dengan antibodi monoklonal anti CD4 dan CD8. Antibodi anti CD4 berkonjugasi dengan FITC dan antibodi anti CD8 berkonjugasi dengan PE. Analisis dilakukan dengan menggunakan flow cytometry. Panel kiri adalah analisis sel T dari mencit normal sedang panel kanan dari mencit β mikroglobulin /. Pada gambar ini setiap titik pada panel menunjukkan satu sel yang terdeteksi oleh mesin Flow Cytometry. Analisis dilakukan dengan menggunakan software CELLQUEST.
kehilangan klon tertentu. Sering dikaitkan bahwa kejadian autoimun disebabkan klon sel T regulator tidak lengkap. Dengan kata lain bahwa sel T regulator mempunyai klon yang besar diversitasnya, manakala salah satu klon absen dari individu, maka jika terjadi reaktivitas suatu sel imun tidak ada yang kompeten untuk melakukan supresi. Supresi in vivo sebenarnya tidak mengharuskan satu klon sel regulator mensupresi sel reaktif tertentu secara spesifik, karena ketika sel regulator telah aktif akan memproduksi molekul efektor yang efeknya tidak spesifik, artinya molekul efektor itu dapat melakukan supresi ke seluruh sel yang mengalami aktivasi. Apabila klon sel T regulator tertentu absen dari suatu individu, individu tersebut tidak mempunyai sistem yang dapat mengawali kejadian supresi sehingga sel reaktif terus teraktivasi walaupun jumlah sel regulator cukup memadai.
Gambar 20. Transplantasi sumsum tulang dari mencit β2 mikroglobulin knockout (β2,/,) pada mencit normal membantu perkembangan sel T
CD8 mencit β2,/,. Sel sumsum tulang dari mencit β2 mikroglobulin knockout
menunjukkan keberhasilan transplantasi, dimana sekitar ~90% sel hematopoietik berasal dari donor β2 mikroglobulin knockout (β2/). Donor dan resipien dapat dibedakan dengan marker CD45.1. Pada eksperimen ini donor tidak mengekspresikan molekul CD45.1 sehingga disebut CD45.1 , sedangkan resipien mengekspresikan molekul CD45.1 sehingga disebut CD45.1+. Panel bawah sebelah kiri merupakan analisis sel T dari mencit β2 mikroglobulin knockout (CD45.1 ). Pada analisis sel T dari populasi CD4 dan CD8 terlihat bahwa profile sel T tampak normal seperti profile mencit alami tanpa manipulasi dan rekayasa. Pada panel bawah sebelah kanan merupakan analisis sel T dari resipien. Resipien berupa mencit normal C57BL/6 (CD45.1+). Pada gambar ini ditunjukkan bahwa resipien yang diradiasi masih menyisakan sel sel hematopoietik yang kebanyakan berupa sel T, sedangkan sel B menunjukkan minoritas dalam jumlah. Pada eksperimen ini dilakukan pelabelan antibodi monoklonal dengan tiga macam warna yakni CD4 FITC, CD8 PE, dan CD45.1 Biotin. Pada gambar ini setiap titik pada panel menunjukkan satu sel yang terdeteksi oleh mesin Flow Cytometry. Analisis dilakukan dengan menggunakan software CELLQUEST. Gambar ini mewakili lebih dari 10 kali eksperimen.
" #
Sel T yang teraktivasi akan kehilangan ekspresi CD62L. Sel T naive yaitu sel T yang belum pernah terpapar antigen mengekspresikan molekul CD62L, dan pada individu yang sehat umumnya lebih dari 80% sel T mengekspresikan molekul CD62L. CD62L merupakan molekul adhesi. Pada limfosit CD62L berfungsi untuk melakukan pelekatan dan rolling pada sel endotel sepanjang pembuluh darah. Pemeriksaan pada individu yang tua menunjukkan bukti adanya peningkatan ekspresi molekul CD44 dan penurunan molekul CD62L. Sel T yang kehilangan molekul CD62L dan mengekspresikan molekul CD44 diduga merupakan sel memori yang teraktivasi (CD44+CS62L ).
Tanda tanda sel teraktivasi khususnya pada limfosit T juga dapat diamati dengan melihat ekspresi CD69. Molekul CD69 merupakan protein yang disintesis sekitar dua jam setelah terjadi aktivasi sehingga menculnya molekul ini pada permukaan sel dianggap gejala awal terjadinya aktivasi.
Gambar 21. Sel T yang teraktivasi kehilangan ekspresi molekul CD62L dan sebaliknya mengekspresikan molekul CD44. Data pada panel kiri diperoleh dari sel spleen mencit normal berumur enam minggu distaining dengan tripel monoklonal antibodi yakni anti CD44 PE, anti CD62L FITC, dan anti CD4 biotin. Analisis dilakukan dengan flow cytometri. Prosentasi sel
yang mengekpresikan CD44+CD62L+ diperlihatkan pada panel. Pada panel
kanan sebagaimana yang dilakukan pada panel kiri namun diisolasi dari mencit
IL 2Rβ/. Gambar yang ditampilkan merupakat gate dari limfosit T CD4. Pada
gambar ini setiap titik pada panel menunjukkan satu sel yang terdeteksi oleh mesin Flow Cytometry. Analisis dilakukan dengan menggunakan software CELLQUEST. Data ini mewakili lebih dari sepuluh kali eksperimen.
/ aktivasi disebabkan oleh antigen yang belum diketahui. Aktivasi sel
sel hematopoietik pada mencit IL 2Rβ/ diduga karena hilangnya sel T regulator CD4+CD25+. IL 2Rβ adalah salah salah satu molekul
sebagai komponen penyusun reseptor IL 2 dan lebih dikenal dengan nama lain CD122. Knockout gen pada IL 2Rβ sesungguhnya ditujukan pada molekul CD122, namun efeknya berimbas pada perkembangan sel T regulator CD4+CD25+. Knockout gen pada IL
2Rβ menyebabkan mencit kehilangan sel T regulator. Secara teoritis CD25 seharusnya tidak hilang ketika dilakukan knockout gen CD122, namun kenyataannya hilangnya ekspresi CD122 karena rekayasa genetika menyebabkan CD25 hilang dari jaringan limfoid periferal. Satu hal yang bisa menerangkan hilangnya sel T regulator pada mencit IL 2Rβ/ adalah kenyataan bahwa mencit IL 2Rβ/ mempunyai
kesehatan yang sangat buruk sehingga timus tidak berkembang. Gangguan pada perkembangan timus ini diduga menjadi penyebab utama hilangnya ekspresi CD25 sebagai marker sel T regulator. Banyak percobaan yang berhasil membuktikan bahwa timus merupakan tempat terbentuknya sel T regulator CD4+CD25+ yang
sering disebut atau
Gangguan perkembangan timus pada mencit IL 2Rβ/ diduga
karena hilangnya homeostasis pada mencit tersebut. Gangguan homeostasis ini banyak disebabkan karena sel sel teraktivasi pada mencit IL 2Rβ/ terus terakumulasi karena kebal terhadap mekanisme
apoptosis. Pada umumnya sel sel efektor yang teraktivasi akan segera mengalami eliminasi dengan mekanisme apoptosis baik terjadi karena ikatan Fas:FasLigan maupun dengan bantuan sel T regulator dengan mekanisme starvasi yaitu membatasi ketersediaan triptofan pada lingkungan tempat homing sel efektor.
Satu hal yang sangat menarik ternyata knockout gen CD122 ternyata benar benar mempengaruhi ekspresi CD25 baik ada maupun tidaknya organ timus. Bukti ini dapat dilihat pada penelitian Rifa’i (tidak dipublikasikan) pada transplantasi singenik mencit IL 2Rβ/
terhadap mencit normal. Pada model transplantasi ini diharapkan sel T regulator dapat muncul dari prekursor yang berasal dari sumsum tulang mencit IL 2Rβ/ dan stabil selama hidup resipien. Namun
ternyata sel T regulator yang berasal dari IL 2Rβ/hanya bertahan
stabil padahal rekonstitusi BMT menunjukkan keberhasilan dimana lebih dari 95% sel hematopoietik berasal dari IL 2Rβ/. Pertanyaan lain yang tidak kalah pentingnya adalah: ”Mengapa sel T regulator muncul dari resipien padahal resipien telah diradiasi dengan dosis letal?”. Pada eksperimen ini ada beberapa kemungkinan yang dapat dikemukakan. Pertama, bahwa knockout gen CD122 secara langsung akan berpengaruh pada keberadaan gen penyandi CD25. Hal ini dimungkinkan karena lokus kedua gen tersebut berdekatan sehingga ada kemungkinan terjadinya interferensi dan saling mempengaruhi. Kedua, sel T regualtor yang diamati pada mencit hasil transplantasi dengan sumsum tulang mencit IL 2Rβ/ kemungkinan berasal dari sel
resipien yang kebal terhadap radiasi, meskipun tidak menutup kemungkinan sel T regulator itu berasal dari sumsum tulang resipien yang berkembang menuju timus. Namun nampaknya kemungkinan adanya sel sel dari sumsum tulang resipien berkembang sangat kecil, karena pada faktanya sel sel sumsum tulang dan sel sel epitel khususnya pada usus sangat rentan terhadap radiasi.
Gambar 22. Transplantasi sumsum tulang dari IL,2Rβ knockout (IL, 2Rβ,/,) pada mencit normal menghasilkan fenotipe normal. Sel sumsum
tulang dari mencit IL 2Rβ/ sebanyak 5 x 105 ditransplantasi pada mencit
dianalisis satu bulan setelah transplantasi dengan menggunakan flow cytometry. Panel paling atas menunjukkan keberhasilan transplantasi, dimana sekitar ~95% sel hematopoietik berasal dari donor IL 2Rβ knockout. Donor dan resipien dapat dibedakan dengan marker CD45.1. Pada eksperimen ini donor tidak mengekspresikan molekul CD45.1 sehingga disebut CD45.1 , sedangkan
resipien mengekspresikan molekul CD45.1 sehingga disebut CD45.1+. Panel
bawah sebelah kiri merupakan analisis sel T regulator dari mencit IL 2Rβ
knockout (CD45.1 ). Analisis sel T dari mencit IL 2Rβ/ menunjukkan
hilangnya ekspresi molekul CD25, meskipun hasil treansplantasi menunjukkan fenotip normal. Pada panel bawah sebelah kanan merupakan analisis sel T resipien yang memperlihatkan ekspresi molekul CD25 pada sel T CD4. Pada gambar ini ditunjukkan bahwa resipien yang diradiasi dengan dosis letal masih
menyisakan sel T regulator, CD4+CD25+. Pada eksperimen ini dilakukan
staining menggunakan antibodi monoklonal dengan tiga macam warna yakni CD4 PE, CD8 FITC, dan CD45.1 Biotin. Pada gambar ini setiap titik pada panel menunjukkan satu sel yang terdeteksi oleh mesin Flow Cytometry. Analisis dilakukan dengan menggunakan software CELLQUEST. Gambar ini mewakili lebih dari 10 kali eksperimen.
CD4
C
D
2
5
12% donor
host
22.3% 0.0%
donor host
Gambar 23. Transplantasi sumsum tulang dari IL,2Rβ knockout (IL, 2Rβ,/,) pada mencit normal menghasilkan fenotipe normal namun ada
donor. Sel sumsum tulang dari mencit IL 2Rβ/ sebanyak 5 x 105 ditransplantasi pada mencit normal yang diradiasi dengan 900 Rad. Perkembangan sel donor IL 2Rβ/ dianalisis tiga bulan setelah transplantasi dengan menggunakan flow cytometry. Panel paling atas menunjukkan keberhasilan transplantasi, dimana sekitar ~90% sel hematopoietik berasal dari donor IL 2Rβ knockout. Donor dan resipien dapat dibedakan dengan marker CD45.1. Pada eksperimen ini donor tidak mengekspresikan molekul CD45.1 sehingga disebut CD45.1 , sedangkan resipien mengekspresikan molekul
CD45.1 sehingga disebut CD45.1+. Panel bawah sebelah kiri merupakan
analisis sel T dari mencit IL 2Rβknockout (CD45.1 ). Pada analisis sel T dari
mencit IL 2Rβ/ menunjukkan hilangnya ekspresi molekul CD25, meskipun