• Tidak ada hasil yang ditemukan

Legal opinion Pertumbuhan Ekonomi Vs Huk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Legal opinion Pertumbuhan Ekonomi Vs Huk"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Pertumbuhan Ekonomi Vs Hukum Lingkungan : Sinergi yang Harus Dibangun

Oleh : A M Adzkiya’ Amiruddin

NIM : 8111416306

Mata Kuliah : Hukum Limgkungan Rombel : 05

Pendahuluan

Dalam berbagai literatur, akan banyak ditemui segala macam bentuk ketentuan dan perbuatan yang terbingkai dalam semangat das solen. Artinya, ada harapan terhadap suatu keadaan agar menjadi ideal. Termasuk dalam bidang hukum lingkungan. Hukum lingkungan adalah suatu ketentuan yang mengatur tentang tata cara pengelolaan, pemanfaatan, dan pelestarian lingkungan hidup. Keberadaan hukum lingkungan diharapkan mampu menjadi salah satu instrumen yang dijadikan dasar pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Pendasaran atas harapan terhadap hukum lingkungan tidak ada salahnya, karena salah satu instrumen rigid dan pasti yang mampu dijadikan sebagai patokan dalam bernegara, adalah hukum lingkungan. Salah satu pertimbangan dibuatnya Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPL) adalah untuk menunjang hak asasi warga negara. Sebagaimana diatur dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 salah satu hak asasi warga negara adalah mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dalam menjalankan strategi kenegaraannya, pemerintah harus mengadopsi semangat lingkungan yang baik dan sehat. Karena kedua aspek tersebut adalah hak yang dijamin oleh instrument hukum tertinggi di Indonesia, yaitu UUD 1945.

Namun ketentuan dan pengaturan hukum lingkungan tersebut tidak serta merta mampu berjalan mulus. Ada halangan dan hambatan yang silih berganti mengganggu perjalanan hukum lingkungan. Diakui atau tidak, pertumbuhan ekonomi adalah salah satu penyebab tidak tercapainya lingkungan hidup dengan baik. Pertumbuhan ekonomi merupakan semangat suatu pihak dalam mengembangkan ekonomi. Ekonomi dinilai suatu aspek kehidupan yang sangat penting. Dalam tataran negara, pertumbuhan ekonomi adalah aspek yang getol dikembangkan. Jika suatu negara ekonominya tidak mampu merangkak ke posisi 5 %, maka pemerintahannya dinilai gagal. Aspek ekonomi juga getol dikembangkan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Pemerintah tentu tidak mau apabila ada warga negaranya yang kelaparan, jatuh miskin, atau hidupnya tidak sejahtera. Belum lagi individual para pelaku ekonomi, bisnis yang mereka kembangkan cenderung ingin diperluas. Walaupun dia sudah kaya, semangat untuk mengembangkan bisnisnya masih tinggi. Wajar, itu adalah manusiawi. Namun, yang tidak manusiawi adalah apabila perluasan bisnisnya tersebut sudah mencapai taraf mengganggu kepentingan orang lain.

(2)

Laut yang membentang, direklamasi atas dasar pembangunan ekonomi. Pegunungan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat, digusur untuk kepentingan pendirian pabrik semen. Ekonomi yang seharusnya mampu menyejahterekan kehidupan rakyat malah dicapai dengan mengikis hak rakyat. Padahal sudah jelas disebutkan dalam pertimbangan UUPLH bahwa pembangunan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Segala bentuk eksploitasi dan pembangunan yang anti lingkungan adalah melawan hukum.

Contoh dampak lingkungan yang timbul dari kegiatan ekonomi adalah kasus reklamasi. Dalam aspek perekonomian, reklamasi dibutuhkan untuk memperluas lahan pemukiman. Semakin mahalnya daratan dan menipisnya daya dukung lingkungan di darat menjadikan reklamasi sebagai pilihan kota metropolitan dalam memperluas lahannya guna memenuhi kebutuhan akan pemukiman. Reklamasi juga difungsikan untuk mengurangi kepadatan yang menumpuk di kota dan menciptakan wilayah yang bebas dari penggusuran karena berada di wilayah yang sudah disediakan oleh pemerintah dan pengembang, tidak berada di bantaran sungai maupun sempadan sungai.

Itu diskursus ekonomi dalam permasalahan reklamasi. Kemudian dari diskursus lingkungan, masalah reklamasi memiliki sederet dampak negatif. Sebagai contoh reklamasi yang berada di Teluk Jakarta. Kegiatan tersebut mengakobatkan perairan yang berada di wilayah reklamasi jadi tercemar, akibatnya ikan tidak mau lagi hidup disana, mengakibatkan penurunan penghasilan masyarakat yang ada di sana. Selain itu, pembangunan reklamasi yang dilakukan, membuat perairan disana tercemar.1

Disini, ada kontradiksi diskursus. Disisi lain, dua kegiatan tersebut menimbulkan dampak positif. Namun di lain pihak, kegiatan tersebut menyisakan dampak buruk. Kemudian, sintesis seperti apa yang diperlukan?

Analisis Aturan Hukum

Suatu aturan hukum tidak hanya mengandung instrument hukum, tetapi juga memiliki arah dan konstruksi. Peraturan hukum mencerminkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Dalam suatu masyarakat pesisir atau masyarakat agraris misalnya, maka hukumnya harus sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat pesisir atau masyarakat agraris tersebut. Kenyataan itu dapat berupa kebutuhan-kebutuhan atau tuntutan atau masalah-masalah yang dihadapi seperti masalah perkapalan, pemanfaatan sumber daya laut, hubungan petani-pemilik tanah, dan lain sebagainya. Lebih lamjut, kenyataan yang hidup dalam masyarakat sebagai dasar sosiologis harus termasuk pula kecenderungan-kecenderungan dan harapan-harapan masyarakat. Tanpa memasukkan faktor-faktor kecenderungan dan harapan maka peraturan perundang-undangan hanya sekadar merekam keadaan seketika. Keadaan seperti itu akan menyebabkan kelumpuhan peranan hukum.2 Dalam pengertian ini, pembuatan peraturan

perundang-undangan harus pula memerhatikan situasi sosial ekonomi, 1

(3)

hubungan sosial, situasi dan perkembangan politik, serta perkembangan internasional. Karena faktor-faktor yang mempengaruhi isi peraturan begitu kompleks, maka dalam pembuatan peraturan diperlukan masukan dari berbagai disiplin keilmuan, yaitu dengan melibatkan ahli ekonomi, sejarawan, ahli politik, psikolog, dan sebagainya, disamping ahli hukum sendiri.3

Formatur seperti ini diharapkan mampu mengembangkan kaidah hukum menjadi instrument yang responsive dan berguna untuk mengembangkan kemajuan negara. Apabila hukum tidak terbuka dengan bidang ilmu lain, maka dikhawatirkan hukum yang seperti itu tidak mampu menyelesaikan permasalahan masyatrakat. Suatu aturan hukum tidak hanya mengandung instrument hukum, tetapi juga memiliki arah dan konstruksi. Peraturan hukum mencerminkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Dalam suatu masyarakat pesisir atau masyarakat agraris misalnya, maka hukumnya harus sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat pesisir atau masyarakat agraris tersebut. Kenyataan itu dapat berupa kebutuhan-kebutuhan atau tuntutan atau masalah-masalah yang dihadapi seperti masalah perkapalan, pemanfaatan sumber daya laut, hubungan petani-pemilik tanah, dan lain sebagainya. Lebih lamjut, kenyataan yang hidup dalam masyarakat sebagai dasar sosiologis harus termasuk pula kecenderungan-kecenderungan dan harapan-harapan masyarakat. Tanpa memasukkan faktor-faktor kecenderungan dan harapan maka peraturan perundang-undangan hanya sekadar merekam keadaan seketika. Keadaan seperti itu akan menyebabkan kelumpuhan peranan hukum.4

Dalam pengertian ini, pembuatan peraturan perundang-undangan harus pula memerhatikan situasi sosial ekonomi, hubungan sosial, situasi dan perkembangan politik, serta perkembangan internasional. Karena faktor-faktor yang mempengaruhi isi peraturan begitu kompleks, maka dalam pembuatan peraturan diperlukan masukan dari berbagai disiplin keilmuan, yaitu dengan melibatkan ahli ekonomi, sejarawan, ahli politik, psikolog, dan sebagainya, disamping ahli hukum sendiri.5 Formatur seperti ini diharapkan

mampu mengembangkan kaidah hukum menjadi instrument yang responsive dan berguna untuk mengembangkan kemajuan negara. Apabila hukum tidak terbuka dengan bidang ilmu lain, maka dikhawatirkan hukum yang seperti itu tidak mampu menyelesaikan permasalahan masyatrakat. salah satu masalah penting yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi adalah bagaimana mengahadapi trade-off antara pemenuhan kebutuhan pembangunan di satu sisi dan upaya mempertahankan lingkungan di sisi lain (Fauzi, 2004).

2 Bagir Manan, Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia, (Jakarata : Ind-Hill. Co, 1992), hlm 15-16

3 HR, Ridwan, Hukum Administrasi Negara, (Depok : RajaGrafindo Persada. 2006) hlm 58. 4 Bagir Manan, Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia, (Jakarata : Ind-Hill. Co, 1992), diambil pada buku HR, Ridwan, Hukum Administrasi Negara, (Depok : RajaGrafindo Persada. 2006) hlm 15-16

(4)

Dalam kajian pertumbuhan ekonomi, segala kekayaan yang potensial perlu untuk dikembangkan. Jangan sampai ada potensi yang tidak tergunakan secara maksimal. Dengan semangat seperti itu, kadang membuat pelaku ekonomi lupa bahwa kekayaan alam merupakan titipan cucu kita semua yang tidak boleh kita habiskan. Pengeleloaan sumber daya alam untuk kepentingan ekonomi harus diatur sedemikan rupa agar anak cucu kita tetap dapat menikmati. Kemudian, dalam pertimbangan UUPLH disebutkan bahwa pembangunan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undnag-undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Menurut Brundtland Report dari PBB, 1987 Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris

sustainabel development. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial

Menurut Fauzi (2004) setidaknya ada tiga alasan utama mengapa pembangunan ekonomi harus berkelanjutan. Pertama, menyangkut alasan moral. Generasi kini menikmati barang dan jasa yang dihasilkan dari sumber daya alam dan lingkungan sehingga secara moral perlu untuk memperhatikan ketersediaan sumber daya alam dan lingkungan sehingga secara moral perlu untuk memperhatikan ketersediaan sumber daya alam tersebut untuk generasi mendatang. Kewajiban moral tersebut mencakup tidak mengekstraksi sumber daya alam yang dapat merusak lingkungan, yang dapat menghilangkan kesempatan bagi generasi mendatang untuk menikmati layanan yang sama. Kedua, menyangkut ekologi, keanekaragaman hayati misalnya, memiliki nilai ekologi yang sangat tinggi, oleh karena itu aktivitas ekonomi semestinya tidak diarahkan pada kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan semata yang pada akhirnya dapat mengancam fungsi ekologi. Faktor ketiga, yang menjadi alasan perlunya memperhatikan aspek keberlanjutan adalah aspek ekonomi. Alasan dari sisi ekonomi memang masih terjadi perdebatan karena tidak diketahui apakah aktivitas ekonomi selama ini sudah atau belum memenuhi kriteria keberlanjutan, seperti kita ketahui, bahwa dimensi ekonomi berkelanjutan sendiri cukup kompleks, sehingga sering aspek keberlanjutan dari sisi ekonomi ini hanya dibatasi pada pengukuran kesejahteraan antargenerasi.

(5)

keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya. Adanya kebebasan untuk mengeksploitasi sumber daya alam akan membawa kehancuran bagi masyarakat. Keadaan ini yang disebut oleh Hardin sebagai “tragedy of the commons”.6

Salah satu masalah lingkungan di Indonesia adalah reklamasi. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Disebutkan dalam Undang-undang Republik Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil bahwan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berasaskan pada keberlanjutan, konsistensi, keterpaduan, kepastian hukum, kemitraan, pemerataan, peran serta masyarakat, keterbukaan, desentralisasi, akuntabilitas, dan keadilan. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilaksanakan dengan tujuan: melindungi, mengonservasi, merehabilitasi, memanfaatkan, dan memperkaya Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan.

Kawasan hasil reklamasi biasanya dimanfaatkan untuk kawasan pertanian, permukiman, perindustrian, pertokoan atau bisnis dan obyek wisata. Selain untuk tujuan diatas, kegiatan reklamasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan konservasi wilayah pantai. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup perlu diikiuti tindakan berupa pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup perlu diikuti tindakan berupa pelestarian sumber daya alam dalam rangka memajukan kesejahteraan umum seperti tercantum dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, mengamanatkan pasal 34 bahwa reklamasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dilakukan untuk meningkatkan manfaat dan nilai tambah dari aspek teknis, lingkungan dan sosial ekonomi. Sedangkan untuk menghindari dampak negative kegiatan reklamasi pantai, dalam Peraturan Presiden 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil telah mengatur ketentuan-ketentuan mulai dari aspek pertimbangan, ketentuan izin lokasi reklamasi, hingga ketentuan izin pelaksanaan reklamasi.7

Reklamasi pantai pada dasarnya akan menimbulkan dampak perubahan garis pantai dan lingkungan yang akan berpengaruh terhadap keselamatan lalu lintas kapal maupun kepentingan instansi terkait lainnya. Oleh karena itu, reklamasi pantai secara langsumg akan menimbulkan perubahan lingkungan, maka pemberian izin reklamasi pantai harus dilengkapi dengan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL) yang merupakan produk akhir dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

6 Rahmadi, Takdir, “Hukum Lingkungan di Indonesia”, (Jakarta Utara : RajaGrafindo Persada. 2011) Hlm 8-9

(6)

UUD 1945 pasal 25 A juga mengatur dengan tegas bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang. Identitas sebagai negara kepulauan jangan sampai ternodai dengan praktik yang tidak pro lingkungan. Banyak praktik-praktik yang tidak pro lingkungan namun bisa terealisasi dengan baik karena sistem dan rencananya matang. Entah dengan delik pembangunan penduduk, ataupun ekonomi, praktik tersebut bisa kita jumpai. Salah satu kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan dianggap sah secara hukum apabila memenuhi beberapa unsur salah satunya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Dan dalam dokumen Amdal, aspek yang harus dipenuhi salah satunya adalah harus sesuai dengan aspirasi rakyat. Apabila suatu proyek tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat setempat, berarti dokumen amdalnya tidak sah. Kemudian apabila dokumen amdal tidak terpenuhi, maka izin proyek tersebut tidak bisa diteruskan. Artinya, pembangunan seperti apapun harus tetap melihat kondisi lingkungan.

Di sisi lain, ekonomi merupakan aspek yang sangat bermanfaat dan penting bagi kehidupan. Ekonomi mampu mengatasi masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial. Ekonomi mampu memunculkan lapangan pekerjaan. Dengan adanya pembangunan ekonomi yang pesat dan berkembang, masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan karena pembangunan ekonomi mulai berkembang dan menciptakan lapangan pekerjaan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Karena pesatnya pembangunan ekonomi serta banyaknya sektor industry yang mulai tumbuh dan membutuhkan karyawan untuk berbagai posisi membutuhkan karyawan untuk berbagai posisi membyat pengangguran di suatu negara menjadi berkembang. Sektor industry itulah yang membuat jumlah pengangguran semakin berkurang jumlahnya. Karena pembangunan ekonomi yang tinggi, bisa membuat kesejahteraan masyarakat menjadi meningkat. Hal itu dikarenakan tingkat pendapatan masyarakat pun menjadi meningkat dan berkurangnya jumlah masyarakat yang menganggur. Sehingga masyarakat pun bisa sejahtera hidupnya dan ekonominya menjadi layak.

Uji Syarat

Dalam pertimbangan UUPLH bahwa pembangunan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan memiliki berbagai prinsip, antara lain :

1. Equity (pemerataan) : , energy, ekologi, engagement (peran serta). Pemerataan dalam pembangunan berkelanjutan menjadi tujuan utama. Pemerataan dianggap mampu meminimalisasi disparitas baik ekonomi dan sosial serta kesempatan yang seimbang bagi masyarakat.

(7)

Dalam pembangunan berkelanjutan, pendekatan pembangunan di aspek ekonomi menitikberatkan pada peningkatan keahlian untuk para pekerja agar mampu meningkatkan daya saing mereka dalam memperoleh pekerjaan yang layak, menonjolkan kerjasama ekonomi strategis, serta meningkatkan performa instruktur dasar seperti perumahan, air, jalan, bahkan infrastruktur informasi.

3. Energi :

Penerapan penghematan energy merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan. Contohnya yang diteerapkan adalah mengoptimalkan pembangunan bangunan dengan pencahayaan alami sebanyak mungkin, mengutamakan pengembangan sistem transportasi umum, massal, dan hemat energy dan bukan justru pro terhadap penggunaan kendaraan-kendaraan pribadi.

4. Ekologi :

Prinsip pelestarian ekologi dalam pembangunan berkelanjutan diterapkan melalui penggunaan lahan campuran semaksimal mungkin, sistem transportasi dan bangunan yang saling terintegrasu, memperhatikan keberadaan ruang terbuka, ruang hijau, dan membatasi pemekaran kota secara berlebihan.

5. Engagement (Peran Serta)

Bentuk pembangunan berkelanjutan dapat dilakukan melalui peningkatan dan optimalisasi peran serta masyarakat dalam proses pembangunan lingkungan. Dalam ini, pemerintah berperan sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat dan mampu menampung aspirasi atau masukan dari masyarakat.

Kemudian dalam prinsip ekonomi, terdapat semangat untuk meraup untuk sebesar-besarnya dan mengantisipasi rugi sekecil-kecilnya. Dampak ekonomi dalam kehidupan juga sudah disebutkan dalam analisis aturan hukum. Yang pada intinya, ekonomi merupakan aspek sentral dalam kehidupan. Karena dengan ekonomi, kompleksitas permasalahan negeri dapat teratasi.

Kemudian, disini perlu dicari titik temu antara keduanya. Manakah yang perlu dikembangkan dalam kehidupan. Apakah itu ekonomi, atau lingkungan. Mengacu analisis aturan hukum dan juga uji syarat. Sebenarnya keduanya tidak bertentangan. Ekonomi dapat maju tanpa harus merusak lingkungan. Pun lingkungan dapat terjaga tanpa menghambat laju ekonomi. Salah satu prinsip pembangunan berkelanjutan terdapat aspek ekonomi. Kemudian dalam aspek ekonomi juga terdapat aspek pembangunan berkelanjutan. Artinya apa? Kedua instrument tersebut dapat berjalan beriringan.

Kesimpulan

(8)

ekonominya stagnan. Disini, perlu adanya upaya dari pemerintah beserta seluruh lapisan masyarakat untuk bersinergi mewujudkan ekonomi yang berasas pembangunan berkelanjutan agar anak cucu kita dapat menikmati kekayaan alam Indonesia.

Pembangunan tidak boleh satu aspek. Pembangunan harus inklusif, mencakup semuanya. Membangun jangan sampai merusak. Mengembangkan ekonomi jangan sampai merusak lingkungan. Menjaga lingkungan tidak boleh menghambat pertumbuhan ekonomi. Artinya, kedua komponen tersebut berjalan beriringan, tidak timpang. Agar cita-cita ekonomi yang berprinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dapat terwujud dengan baik.

Daftar Pustaka

HR, Ridwan, Hukum Administrasi Negara, (Depok : RajaGrafindo Persada. 2006)

Rahmadi, Takdir, “Hukum Lingkungan di Indonesia”, (Jakarta Utara : RajaGrafindo Persada. 2011)

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang-undang Republik Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

Namuri Jaya Negara, Perlindungan Hukum Lingkungan Kawasan Reklamasi Pantai Teluk Lampung Kecamatan Bumi Waras, (Jurnal ; Fakultas Hukum Universitas Lampung. 2017)

Referensi

Dokumen terkait

SIMULASI PENJADWALAN PRODUKSI PADA INDUSTRI FURNITURE SEBAGAI SOLUSI ESTIMASI TOTAL WAKTU SELESAINYA ORDER..

KAJIAN STRUKTUR, NILAI MORAL, DAN REPRESENTASI BUDAYA JAMBI PADA KUMPULAN CERPEN NEGERI CINTA BATANGHARI SERTA PEMANFAATAN CERPEN SEBAGAI MODUL SISWA SMP..

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui proses tuturan ritual adat Mosooli, formula mantranya, serta fungsi ritual tersebut

Para informan orang tua siswa berprestasi SMP Muhammadiyah 1 Sentolo telah dapat dikatakan mampu memberikan contoh dalam hal emosional karena mereka telah mampu

Penelitian ini dilakukan untuk menentukan komposisi terbaik dari kombinasi polimer hidroksipropil metilselulosa (HPMC) dan Carbopol terhadap % moisture content (MC)

The average request size of Financial1 (4.5KB) is just a little larger than the page size of the simulated SSD (4KB); and we also find that 90% of its requests are 4KB or smaller.

melaksanakan tugas lain yang diberikan Kepala Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya; d?. memberi masukan yang perlu kepada Kepala

Kesepuluh puisi ini menggunakan beragam pencintraan yaitu citraan penglihatan (visual), pendengaran (audio), dan rabaan (taktil). Semua penggunaan citraan tersebut