• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I V FIX pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB I V FIX pdf"

Copied!
187
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara umum terdapat empat permasalahan ekonomi makro, yaitu: (1) tingkat harga agregat (inflasi); (2) tingkat output (PDB); (3) penyerapan tenaga kerja (employment); dan (4) neraca pembayaran atau balance of payment (BOP). Keempat permasalahan ekonomi makro tersebut dapat dipengaruhi oleh pemerintah melalui kebijakan fiskal dan moneter, yang umumnya dilaksanakan oleh dua institusi yang berbeda, yaitu institusi fiskal (Kementrian Keuangan) dan institusi moneter (Bank Indonesia).

Selanjutnya dalam aturan yang dikenal dengan Mundell’s Assignment Rule dijelaskan bahwa efektivitas setiap kebijakan tergantung pada kesesuaian pembagian tugas dengan keunggulan komparatif dari masing -masing kebijakan. Apabila kebijakan moneter diyakini lebih berpengaruh terhadap laju inflasi daripada kebijakan fiskal sedangkan kebijakan fiskal diyakini lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan produk si daripada mengendalikan laju inflasi maka sebaiknya kebijakan moneter hanya bertugas untuk mengendalikan laju inflasi sedangkan pengendalian produksi sepenuhnya menjadi tugas kebijakan fiskal.

(2)

sebaliknya, kebijakan moneter dapat mempengaruhi keberhasilan kebijakan fiskal melalui beberapa instrumen, seperti penawaran uang dan tingkat suku bunga.

Sejak masa transisi maupun ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia, proses perubahan struktural perekonomian serta kelembagaan masih terus berlangsung. Perubahan struktur perekonomian dapat dilihat dari tingginya fluktuasi berbagai indikator ekonomi makro, seperti inflasi, nilai output, tingkat suku bunga, serta kurs rupiah terhadap mata uang asing. Sedangkan dari sisi kelembagaan juga bisa dilihat perubahannya melalui perubahan struktur, baik pada lembaga pemerintah, non pemerintah, maupun lembaga ekonomi lainnya. Oleh karena itu, dinamika yang terjadi diyakini dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan perekonomian pada umumnya dan permasalahan dibidang fiskal maupun moneter pada khususnya.

Menurut Djojosubroto (2004), d i Indonesia dan juga di banyak negara lain, hubungan antara kebijakan fiskal dan kebijakan m oneter selalu menjadi masalah. Sumber-sumber dari permasalahan tersebut, diantaran ya:

1. Belum tersinerginya cara pandang dari pimpinan tertinggi Bank Sentral dan Kementrian Keuangan mengenai hubungan fiskal dan moneter yang harus dilakukan.

2. Progresspasar modal yang cenderung dapat membuat efek negatif dari kebijakan fiskal maupun moneter .

(3)

4. Fungsi dan peranan Bank Sentral dalam pemerintahan, ya kni sejauh mana Bank Sentral mempunyai kedudukan yang independen dari pemerintah.

5. Instrumen yang dipakai oleh Bank Sentral dalam operasi pasar, seperti penggunaan SBI sebagai instrumen operasi pasar terbuka yang dapat meningkatkan resiko membengkaknya neraca bank sentral serta berpotensi memberikan tekanan inflasi ke depan.

Selain itu, dalam dekade terakhir negara Indonesia mengadopsi kerangka kerja inflation targeting dalam sistem kebijakan moneter. Inflation targeting merupakan sebuah kerangka dalam sistem kebijakan moneter dengan sasaran tunggal menciptakan stabilisasi tingkat harga serta yang ditandai dengan pengumuman kepada publik mengenai target inflasi yang hendak dicapai dalam beberapa periode ke depan. Dalam hal ini bank sentral mempunyai kewenangan penuh didalam menetapkan/mengatur jumlah uang yang beredar dalam perekonomian, karena mempunyai objektif yang terpisah (inflation targeting). Sebuah konsensus dalam kerangka kerja inflation targeting adalah tercapainya tingkat inflasi yang rendah dan stabil dengan salah satu karakteristik yang harus dipenuhi adalah adanya independensi bank sentral.

(4)

Indonesia diberikan wewenang sebagai otoritas moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian dari sisi permintaan, yaitu mengendalikan harga (inflasi) sesuai dengan fungsi dan tujuannya sebagai seb uah lembaga yang independen.

Sebagai suatu penyempurnaan kebijakan, UU No. 23/1999 diharapkan dapat lebih memberikan landasan untuk merubah strategi kebijakan moneter ke arah yang lebih baik yaitu pada kerangka inflation targeting. Berkaitan dengan fungsi tersebut, Bank Indonesia bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter dan berwenang penuh dalam menentukan sasaran jangka pendek sehingga kredibilitasnya dapat terlihat sehingga selanjutnya akan berpengaruh pada independensi, transparansi, dan ak untabilitas. Semua proses ini terkoordinasikan dalam sebuah struktur organisasi sehingga jelas tujuan yang diinginkan tercapai (Bimantoro dan Bahroen, 2003).

Sejak disahkannya undang-undang tersebut, pemerintah tidak dimungkinkan lagi untuk meminjam uang dari Bank Indonesia untuk menutup defisit APBN, bahkan tidak dimungkinkan pula untuk meminjam uang dalam jangka pendek ketika pemerintah menghadapi masalah cash-flow. Oleh karena itu, Bank Indonesia mempunyai kek uasaan penuh dalam mengatur dan menetapkan jumlah uang yang beredar di Indonesia sebab memiliki objek yang terpisah (inflation targeting).

(5)

berubah dari masa ke masa tergantung pada perkembangan perekonomian dan pasar uang.

Keberhasilan kerangka kerja inflation targeting akan lebih efektif bila diawali dengan implementasi setelah berhasil mencapai disinflasi. Faktor lainnya adalah pentingnya koordinasi yang tinggi antara pihak yang mempengaruhi harga dan pengambil kebijakan moneter serta tidak adanya dominasi fiskal dalam kebijakan moneter.

Akan tetapi, independensi bank sentral belum cukup untuk meliha t efektifitas kebijakan moneter. Hal ini dikarenakan independensi bank sentral akan tercapai apabila kebijakan fiskal tidak mempengaruhi tingkat harga dan kesanggupan membayar h utang oleh pemerintah (government solvency) harus terpenuhi yang lebih dikenal dengan Fiscal Theory of Price Level (FTPL).

Hubungan antara variabel fiskal dan variabel moneter yang baik diharapkan dapat menciptakan pendapatan domestik bruto yang tinggi, tingkat pengangguran yang rendah, dan sta bilitas harga. Oleh karena itu, hubungan kebijakan fiskal dan moneter sanga t diperlukan untuk menetapkan besaran target moneter dan fiskal secara konsisten dan berkesinambungan dengan upaya pencapaian target yang ditetapkan.

1.2 Identifikasi dan Batasan Masalah

(6)

tahun terakhir pada per iode yang sama, sedangkan rata -rata pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang lainnya setahun hanya mencapai 2.4 persen pada periode yang sama. Investasi langsung luar negeri mencapai $6.5 juta pada tahun fiskal 1996/1997, cadangan devisa resmi pemerint ah mencapai $20 juta pada bulan Maret 1997, sementara tingkat depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika terpelihara pada kisaran 3 sampai dengan 5 persen (Bank Indonesia, 1997).

Apalagi ketika dekade 1990 -an dimana perekonomian Indonesia cenderung menurun menjelang krisis. Pada saat yang sama, upah juga turun dan pengangguran meningkat. Permasalahan tersebut salah satu penyebabnya ialah kurang sinerginya hubungan antara kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter dimana terjadi ketidakseimbangan ekonomi nasio nal, resiko fluktuasi nilai tukar, suku bunga, pengeluaran pemerintah yang konsumtif, serta hutang negara kepada lembaga donor seperti IMF yang semakin meningkat kian memperparah keadaan perekonomian nasional. Ketidakseimbangan makroekonomi domestik dapat dicerminkan oleh membengkaknya defisit fiskal dan nilai tukar mata uang yang over valuasi.

(7)

dollar USA sehingga berdampak pada kenaikan harga yang sangat tinggi (inflasi). Sejak saat itu perekonomian Indonesia mengalami guncangan hebat dan variabel-variabel makroekonomi terus be rfluktuasi.

Pada akhir periode 1997, depresiasi nilai rupiah terhadap dollar USA mencapai angka 68.7 persen yang secara otomatis menyebabkan tingkat inflasi meningkat dari 11.1 persen menjadi sekitar 77.6 persen dan pertumbuhan ekonomi terkontraksi dari ra ta-rata sekitar 7 persen sebelum krisis menjadi sebesar -13.13 persen. Kondisi ini telah memberikan guncangan terhadap kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia (Tabel 1).

Tabel 1. Perkembangan PDB, Inflasi di Indonesia Tahun 1995-2002 Tahun PDB ADHK (1993=100) Pertumbuhan Inflasi

(Riil, Milliar Rp)* PDB (%) (%)

1995 383792 8.22 8.60

1996 413798 7.82 6.50

1997 433246 4.70 11.10

1998 376375 -13.13 77.63

1999 379558 0.85 2.01

2000 397666 4.77 9.35

2001 411132 3.32 12.55

2002 108200 3.67 10.10

Sumber : Badan Pusat Statistik

(8)

perekonomian Indonesia menjadi sulit dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhdap US dollar. Untuk menga tasi tingginya angka inflasi dan memperkuat nilai tukar rupiah, pemerintah telah megambil kebijakan moneter yang ketat. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan jumlah uang beredar melalui operasi pasar terbuka dengan meningkatkan suku bunga SBI yang tercat at pada Agustus 1998 mencapai nilai tertinggi sebesar 69 .51 persen.

Krisis ekonomi menyebabkan terjadinya gangguan pada keseimbangan kebijakan fiskal dan moneter. Meningkatnya hubungan antara berbagai unsur ekonomi, menyebabkan struktur ekonomi tidak hanya semakin dinamis tetapi juga semakin kompleks. Kompleksnya struktur ekonomi telah mendorong berubahnya perilaku ekonomi yang diindikasikan oleh munculnya berbagai fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia, seperti melemahnya hubungan suku bunga dengan nilai tukar dan antara sektor keuangan dan sektor riil sehingga berdampak pada lemahnya kinerja kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia.

(9)

mengingat sektor swasta belum dapat diandalkan untuk menggerakkan perekonomian secara optimal. Krisis eko nomi tahun 1997 menunjukkan bahwa kondisi fiskal di Indonesia tidak dipersiapkan untuk menghadapi gejolak perekonomian yang dahsyat.

Bahkan dalam kerangka kerja Tinbergen menjelaskan bahwa salah satu syarat agar instrumen-instrumen kebijakan dapat mencapai sasaran akhir yang berbeda dalam waktu bersamaan adalah instrumen yang tersedia minimal harus sama dengan sejumlah sasaran akhir, dan setiap instrumen tersebut harus independen terhadap isntrumen lain. Hal ini dapat membuat sasaran akhir tidak menimbulkan sebab akibat seperti halnya inflasi dan output.

Aspek lain dari kerangka kerja Tinbergen mengenai ketidakefektifan pelaksanaan kebijakan moneter, yaitu ada atau tidaknya pembatasan ruang gerak kebijakan moneter, ada atau tidaknya hubungan sebab akibat ant ara berbagai sasaran akhir, dan keserasian antara policy mix denganpolicy setting. Selain itu, kebijakan moneter dirasa belum dapat mengendalikan secara ideal instrumen -instrumen yang ada.

(10)

Sementara asumsi lifting minyak 960.000 barrel per hari, inflasi sebesar 6,2% dan suku bunga SBI 3 bulan sebesar 7,5%. Rencananya perubahan APBN 2009 tersebut akan kembali dibahas dengan DPR pada akhir bulan Januari 2009.

Akibat perubahan beberapa asu msi makro tersebut penerimaan negara diperkirakan akan mengalami penurunan sebanyak Rp 128 triliun, sementara belanja negara tetap sebesar Rp Rp322,3 triliun sehingga defisit anggaran naik menjadi Rp80,8 triliun atau 2.5 persen terhadap PDB. Dalam kesempatan yang sama Pemerintah juga menjelaskan bahwa penurunan penerimaan itu disebabkan karena penerimaan pajak turun Rp54 triliun, PNBP turun menjadi Rp184,9 triliun. Lebih lanjut Pemerintah juga mengumandangkan rencana penguatan pada sektor usaha dan masyarakat yang terimbas dampak krisis melalui pemberian stimulus fiskal sebesar Rp15 triliun dan akan dialokasikan untuk memberikan subsidi dalam bentuk bea masuk maupun PPN DTP (pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah).

Dari sisi moneter, Bank Indonesia juga seirama dengan pemerintah didalam pemberian beberapa bantalan-bantalan penangkal dampak krisis keuangan global melalui beberapa paket kebijakan secara sepihak (moneter saja) ataupun kebijakan yang bersama-sama dengan pemerintah. Kebijakan yang paling dinantikan oleh sektor riil tentu saja kebijakan yang mampu menurunkan tingkat suku bunga kredit sebagai stimulus utama penggerak lajunya dunia usaha.

(11)

pemerintah didalam mengalokasikan anggaran yang tidak terus menerus defisit atau makin tergantung pada hutang luar negeri (memperbesar hutang) ditambah menutup defisit dengan menjua l kekayaan negara (aset negara). Di sisi lain juga hendaknya otoritas moneter memiliki kemampuan sebagai lembaga intermediasi, memupuk modal (simpanan masyarakat) untuk disalurkan sebagai kredit meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (perluasan kesempatan kerja artinya peningkatan pendapatan).

Kebijakan fiskal dan moneter merupakan bagian yang integralistik dari suatu kebijakan makroekonomi suatu negara yang lazimnya dilakukan dengan mempertimbangkan siklus kegiatan ekonomi, sifat perekonomian suatu negara ; apakah tertutup atau terbuka, serta faktor-faktor ekonomi lainnya. Namun, khusus dalam penelitian ini penulis membuat batasan masalah bahwa baik variabel fiskal maupun moneter yang digunakan menggunakan asumsi tidak ada pengaruh dari luar negeri.

(12)

menyebabkan kenaikan tingkat inflasi, begitu halnya perekonomian dengan tingkat inflasi yang tinggi juga memberikan dampak negatif bagi output nasional.

Dalam sistem ekonomi yang mengacu pada bekerjanya pasar, sasaran -sasaran tersebut di atas dicapai dengan pelaksanaan kegiatan ekonomi masyarakat, yang basis utamanya adalah dunia usaha swasta. Dalam sistem ini peran pemerintah dilakukan dengan pelaksanaan kebijakan ekonomi makro, yang bertumpu pada kebijakan fiskal dan moneter, dengan peran pada aspek -aspek lain dalam hal penyelenggaraan atau produksi yang menyangkut barang atau jasa publik (public goods and services).

Dalam keadaan seperti digambarkan tadi, kegiatan yang bertujuan untuk mencapai output, yang dalam aspek publiknya dilakukan oleh pemerin tah melalui kebijakan fiskal, perlu selalu di jaga agar tidak mengorbankan kestabilan (harga -harga atau inflasi dan nilai tukar mata uang). Penjagaan ini utamanya dilakukan melalui kebijakan moneter, yang merupakan salah satu fungsi p okok bank sentral. Dalam sistem di mana dikhawatirkan bahwa melalui anggarannya pemerintah dapat mendorong terjadinya inflasi atau melemahnya nilai tukar mata uang, maka kendali harus dapat dilakukan melalui kebijakan moneter. Mengingat bahwa kegiatan pemerintah itu mempunyai k ecenderungan untuk terus meluas (dikenal sebagai Wagner Law dalam Keuangan Negara), maka kebijakan moneter harus dapat mengimbangi agar sasaran kestabilan tidak terkorbankan.

(13)

yang memiliki target yang harus dicapai baik dala m jangka pendek dan jangka panjang. Pengelolaan kebijakan fiskal dan moneter melalui koordinasi dan hubungan yang baik akan memberikan signal positif bagi pasar dan menjaga stabilitas makroekonomi.

Dari penjelasan diatas, kemudian muncul pertanyaan bagaimana gambaran hubungan antara variabel-variabel kebijakan fiskal dan moneter yang menyebabkan berbagai fenomena perekonomian tersebut. Selain itu, diperlukan juga model keterkaitan antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter sebab analisis yang didasarkan pada model ekonomi makro yang tepat akan menghasilkan efisiensi dalam pencapaian target output serta dapat meningkatkan kredibilitas pembuat kebijakan. Selanjutnya, agen ekonomi1 di pelbagai sektor akan mengantisipasi setiap kebijakan fiskal dan ke bijakan moneter dengan tanggapan yang tepat pula. Namun, penentuan model ekonomi makro merupakan permasalahan yang sulit sebab karakteristik perekonomian yang mudah berubah dan rentan juga terhadap apa yang terjadi dengan perekonomian dunia menjadi salah satu persoalan dalam penyusunan model ekonomi makro di Indonesia.

Penulis pun menyadari betapa luasnya konteks penelitian ini sehingga diperlukan suatu batasan. Penulis memfokuskan penelitian terhadap kondisi stabilitas perekonomian Indonesia pada tahun 19 90 sampai dengan 2009 melalui indikator tingkat pertumbuhan ekonomi (output) dan tingkat stabilitas harga. Proses hubungan yang terjadi pun dibatasi pada variabel -variabel penelitian yang merupakan instrumen-instrumen penting dalam kebijakan fiskal dan moneter dan

(14)

mengasumsikan pengaruh dari variabel lain cateris paribus.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Variabel Kebijakan Fiskal dan Kebijakan Moneter Terhadap Tingkat Output dan Tingkat Harga di Indonesia Tahun 1990-2009” adalah menganalisis bagaimana gambaran perekonomian Indonesia tahun 1990-2009 serta menganalisis respon tingkat output dan tingkat harga ketika memperoleh gangguan (shock) dari berbagai variabel kebijakan fiskal dan variabel kebijakan moneter di Indonesia pada tahun 1990-2009. Selain itu, tujuan lain yang akan dicapai adalah untuk mendapatkan model keterkaitan yang bisa merepresentasikan hubungan antara tingkat output (PDB) dan tingkat harga (IHK) dengan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.

1.4 Sistematika Penulisan

Skripsi ini disajikan dalam lima bab yang secara garis besar dirinci sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang, identifikasi dan batasan masalah, tujuan serta sistematika dari penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini berisikan tinjauan pustaka, kajian teori, kerangka pikir, definisi peubah operasional dan hipotesis yang diajukan.

BAB III METODOLOGI

(15)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menyajikan hasil pengolahan data faktual baik berupa tabel, gambar, estimasi model dan pembahasannya untuk mencapai tujuan penelitian.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(16)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Kebijakan Makroekonomi

Kebijakan makroekonomi merupakan kebijakan yang bersifat agregat dalam suatu negara yang berkaitan dengan upaya -upaya pengendalian berbagai variabel-variabel ekonomi makro, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat pengangguran, neraca pe mbayaran. Secara umum ada dua kebijakan dalam makroekonomi, yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.

Kebijakan makroekonomi dianggap penting dalam suatu negara karena merupakan titik pusat kinerja (berhasil atau kegagalan) suatu negara yang menguasai hajat hidup manusia dan negara. Selain itu, kebijakan makroekonomi juga berperan besar terhadap prestasi ekonomi suatu negara yang dihasilkan melalui berbagai kebijakan ekonomi, seperti pengeluaran pemerintah, suku bunga, jumlah uang yang beredar, dan lai n sebagainya.

Ada beberapa hal yang menja di tujuan atau sasaran dari kebijakan makroekonomi, yaitu :

a. Output (GNP)

(17)

GNP meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.

Menurut Clark R.J (1990), perekonomian terdiri dari sejumlah rumah tangga keluarga dan perusahaan yang menghasilkan produksi secara terpisah, dimana masing-masing sektor tersebut menghasilkan barang dan jasa tertentu didalam aktivitasnya. Dari semua barang dan jasa yang dilakukan secara bersama -sama maka akan membentuk Produk Nasional Bruto atau dikenal dengan Gross National Bruto(GNP).

Adapun tujuan atau sasaran yang he ndak dicapai dari output ialah terciptanya GNP yang tinggi baik yang aktual maupun relatif terhadap tingkat potensialnya serta laju pertumbuhan yang cepat. Tujuan tersebut dapat diperoleh melalui instrumen kebijakan fiskal berupa pengeluaran pemerintah dan perpajakan.

b. Kesempatan Kerja

Kesempatan kerja merupakan peluang yang dimiliki oleh angkatan kerja untuk dapat mengaktualisasikan dirinya terhadap dunia kerja. Kesempatan kerja dapat menggambarkan seberapa besar tenaga kerja yang terserap dalam pasar tenaga kerja.

(18)

menggunakan instrumen pengen dalian jumlah uang yang beredar atau pengaturan perbankan.

c. Stabilitas harga

Stabilitas harga merupakan suatu keadaan dimana kecenderungan harga berada pada posisi relatif stabil dan normal terhadap keadaan ekonomi yang terjadi. Di Indonesia, lembaga yang berwenang untuk menjaga stabilitas harga ialah Bank Indonesia. Dalam hal makroekonomi, tujuan yang ingin dicapai ialah terciptanya stabilitas harga pada pasar bebas. Hal ini dapat diwujudkan diantaranya melalui kebijakan pendapatan.

d. Perdagangan luar negeri

Sasaran kebijakan makroekonomi yang hendak diperoleh terhadap perdagangan luar negeri diantaranya adalah ekspor dan impor yang relatif equilibrium serta stabilitas nilai kurs valas. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen kebijakan perdagan gan serta pengendalian terhadap nilai kurs.

Berdasarkan arah perubahan nilai variabel target yang menjadi tujuan utama, kebijakan makroekonomi diklasifikasikan menjadi dua, yakni kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Oleh karena itu, muncul istilah kebi jakan ekspansif dan kebijakan kontraktif. Kebijakan ekspansif merupakan kebijakan makroekonomi yang bertujuan untuk memperbesar kegiatan perekonomian. Sedangkan kebijakan kontraktif berlaku sebaliknya, yaitu bertujuan untuk menurunkan kegiatan perekonomian suatu negara.

(19)

belum termanfaatkan secara penuh. Sedangkan kebijakan kontraktif biasanya digunakan saat perekonomian bera da dalam keadaan overemployment, yaitu keadaan dimana permintaan agregat melampaui besarnya kapasitas produksi nasional yang ditandai juga oleh tingginya laju inflasi dan neraca pembayaran defisit secara kesinambungan (Sudiyono, 1985).

2.1.2 Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter merupakan bagian integral dari kegiatan makroekonomi yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Sentral dalam hal ini selaku otoritas moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapainya kesempatan kerja penuh, dan kelancaran distribusi barang.

(20)

Pengalaman menunjukkan bahwa jumlah uang beredar diluar kendali dapat menimbulkan konsekuensi atau pengaruh yang buruk bagi perekonomian secara keseluruhan. Pengaruh tersebut diantaranya dapat terlihat pada kurang terkendalinya perkembangan variabel -variabel ekonomi utama, yaitu tingkat output dan harga. Peningkatan jumlah uang beredar yang berlebihan dalam jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya apabila peningkatan jumlah uang beredar sangat rendah maka akan terjadi kelesuan ekonomi.

Dalam merespon guncangan terhadap perekonomian, terdapat dua alternatif kebijakan moneter yang dapat dilakukan , yaitu (1) kebijakan moneter berdasarkan pada pola rules (rule-based policy) dan (2) kebijakan moneter berdasarkan pola discretion (discretion-base policy). Polarulesdilakukan dengan merespon kondisi yang sedang terjadi berdasarkan formulasi penetapan i nstrumen kebijakan yang telah dilakukan sebelumnya dan sistematis, artinya berdasarkan pada metodologi dan perencanaan sehingga tidak berdasarkan pada langkah yang bersifat kausal dan acak. Dua jenis rulesyang dikembangkan saat ini adalah (1) pertumbuhan uang beredar yang dipelopori oleh McCallum (1998),yaitu mekanisme feedback (umpan balik) didalam melakukan koreksi secara bertahapkesalahan yang terjadi pada masa lalu dan (2) suku bunga, yang dipelopori oleh Taylor (1993). Rules ini menyertakan mekanisme feedback, yaitu bank sentral mengubah suku bunga berdasarkan pada revisi perkembangan inflasi dan output terhadap tingkat yang ditargetkan.

(21)

berdasarkan pada evaluasi dari waktu ke waktu yang memperhitungkan kondisi yang sedang berlangsung, dan menganggap bahwa perkembangan dari kebijakan sebelumnya sebagai suatu yang tid ak relevan. Bank sentral dapat melakukan ekspansi moneter, yaitu dengan meningkatkan jumlah uang yang beredar dan atau menurunkan tingkat bunga dengan tujuan untuk meningkatkan permintaan agregat ketika terjadi kelesuan dalam perekonomian ataupun kontraksi moneter (tight money policy) yaitu melalui pengurangan jumlah uang yang beredar dan atau peningkatan tingkat suku bunga dengan tujuan mengurangi kelebihan didalam perekonomian.

Kebijakan moneter memegang peranan penting dalam perekonomian karena kebijakan moneter dapat mempengaruhi stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, serta keseimbangan neraca pembayaran. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindak an stabilisasi). Hal inilah yang hendak digunakan sebagai sasaran akhir dari kebijakan moneter.

Akan tetapi, sasaran akhir tersebut seringkali didalam pencapaiannya mengandung unsur-unsur yang kontradiktif. Sebagai contoh usaha untuk mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja pada umumnya dapat berdampak negatif terhadap kestabilan harga dan keseimbangan neraca pembayaran.

(22)

Secara singkat, pengaruh tersebut dapat di ilustrasikan sebagai berikut :

Gambar 1. Peranan Kebijakan Moneter

Berdasarkan gambar 1, terlihat bahwa melalui instrumen moneter (operasi pasar terbuka, tingkat diskonto, cadangan minimum, himbauan, dll) serta indikator moneter (tingkat bunga, jumlah uang beredar), kebijakan di bidang moneter akan mempengar uhi perekonomian, yang terlihat dari perubahan pendapatan nasional (GDP), tingkat inflasi, jumlah pengangguran dan neraca pembayaran). Meskipun demikian, kebijakan pemerintah lainnya juga turut mempengaruhi beberapa indikator perekonomian Indonesia tersebu t.

Adapun kerangka kerja kebijakan moneter dapat diilustrasikan sebagai berikut :

(23)

Kebijakan moneter dilakukan melalui instrumen, seperti tingkat suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas. Dalam prakteknya, perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan ialah terjaganya stabilitas ekonomi makro yang tercermin melalui rendahnya laju inflasi, membaiknya perkembangan pertumbuhan ekonomi, serta tersedianya kesempatan kerja (Warjiyo, 2004).

Stabilitas ekonomi makro dapat tercermin melalui laju inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan sehingga mendorong peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat. Oleh karena itu, dalam merumuskan strategi kebijakan moneter, perlu mempertimbangkan variabel -variabel berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, mekanisme transmisi yang sesuai, siklus ekonomi (booming/resesi), sifat perekonomian (terbuka/tertutup), dan faktor-faktor fundamental ekonomi lainnya.

(24)

Berdasarkan gambar 3, terlihat bahwa kebijakan moneter memiliki siklus yang disesuaikan dengan keadaan ekonomi yang terjadi disuatu negara. Pada kondisi B sama dengan C, situasi perekonomian berada dalam resesi sehingga diperlukan kebijakan moneter ekspansif agar cepat terjadi recovery. Sedangkan pada kondisi C sama dengan D, ekonomi berada pada kondisi booming sehingga diperlukan kebijakan moneter kontaraktif agar menghindari overheating.

Adapun yang dimaksud dengan kebijakan ekspansif dalam kebijakan moneter adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang y ang beredar atau menurunkan suku bunga. Sedangkan kebijakan moneter kontraktif adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar (kebijakan uang ketat ; tight money policy).

Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain :

1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)

Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang yang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah.

(25)

2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)

Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.

3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)

Rasio cadangan wajib merupakan cara pengaturan uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah akan menurunkan rasio cadangan wajib. Sedangkan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar maka pemerintah akan menaikkan rasio cadangan wajib.

4. Himbauan Moral (Moral Persuasion)

(26)

Dalam pelaksanaannya, kebijakan moneter dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu:

1. Kebijakan uang ketat (1. Tight Money Policy)

Kebijakan uang ketat adalah kebijakan bank sentral untuk mengurangi jumlah uang yang beredar, yang dapat berupa:

a. Peningkatan suku bunga (politik diskonto)

b. Penjualan surat berharga/SBI (politik pasar terbuka) c. Peningkatan cadangan kas (politik cash ratio) d. Pengetatan pemberian kredit (politik kredit selektif) 2. Kebijakan uang longgar (Easy Money Policy)

Kebijakan uang longgar adalah kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral untuk menambah jumlah uang yang beredar, yang dapat berupa : a. Penurunan tingkat suku bunga (politik diskonto)

b. Pembelian surat-surat berharga: saham dan obligasi (politik pasar terbuka)

c. Penurunan cadangan kas (politik cash ratio) d. Pemberian kredit longgar

Dalam menentukan suatu kebijakan moneter tentunya akan dimulai dari gubernur Bank Indonesia yang meminta pertimbangan kepada Dewan Moneter yang beranggotakan Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Koordinator Ekonmi, Keuangan dan Industri.

(27)

didalam perekonomian sehingga terdapat beberapa jenis kerangka kebijakan moneter :

a. Monetery Targetting

Kebijakan ini mendasarkan pada pengendalian uang yang beredar (sebagai intermediate target). Selain itu, uang primer juga digunakan sebagai sasaran operasional untuk mencapai sasaran akhir dengan berdasarkan pada kestabilan perimntaan uang.

b. Exchange Rate Targetting

Kebijakan ini didasarkan pada pengendalian nilai tukar sebagai intermediate target untuk mencapai sasaran akhir (inflasi dan pertumbuhan ekonomi). Hal ini tergantung pula pada sistem nilai tukar Rupiah yang berlaku di Indonesia.

Beralihnya sistem nilai tukar rupiah dari sistem mengambang terkendali menjadi system yang mengambang penuh, member ikan beberapa implikasi terhadap pengendalian moneter di Indonesia, seperti berubahnya preferensi masyarakat dalam memegang uang serta terjadinya denominasi rupiah ke dollar yang akan banyak dipengaruhi oleh besarnya depresiasi dan volatilitas dari nilai tukar (Agung Daryo, 2004).

(28)

Nilai tukar rupiah juga dapat mempengaruhi inflasi. Transmisi perubahan nilai tukar Rupiah ke inflasi dapat melalui dua saluran. Pertama, melemahnya ni lai tukar Rupiah akan menaikkan biaya produksi yang memakai barang impor sehingga menaikkan harga. Tekanan harga ini akan diperburuk bila para buruh melakukan desakan kenaikan upah nominal dalam rangka mempertahankan upah riilnya.

Kedua, harga non-tradable goods yang relatif lebih murah dibandingkan harga tradable goods akan mendorong permintaan non- tradable goods sehingga meningkatkan harga domestik. Ken aikan harga ini akan bertambah jika suku bunga relatif rendah. Sasaran akhir dari pengendal ian moneter dalam sistem nilai tukar fleksibel adalah inflasi.

c. Inflation Targetting

Inflasi merupakan indikator stabilitas perekonomian yang menjadi fokus perhatian dalam kebijakan makroekonomi sehingga laju perubahannya selalu diupayakan berada pada tin gkat yang rendah dan stabil. Untuk mewujudkan inflasi rendah, pengendaliannya di Indonesia dilakukan dengan menerapkan strategi pentargetan inflasi (inflation targeting).

(29)

semua channel transmisi moneter. Biasanya dikombinasikan dengan suku bunga untuk penentuan operating target.

Sebagai contoh, ketika bank sentral ment argetkan inflasi guna pengendalian terhadap harga -harga maka bank sentral melakukan kebijakan moneter yang kontraktif atau yang lebih dikenal dengan tight money policy dengan menggunakan isntrumen open market operation (OMO), yakni melalui tingkat suku bunga. Instrumen ini dilakukan dengan menerbitkan se

rtifikat bank Indonesia (SBI) seperti obligasi masyarakat dan mengurangi tingkat permintaan terhadap barang dan jasa sehingga perekonomian menjadi terkendali.

Sejak tahun 1990 sampai 2004 tercatat sebanyak 22 negara yang menggunakan inflasi sebagai single nominal anchor. Kestabilan harga ini menjadi tujuan penting bagi bank sentral mengingat bahwa: (1) dalam jangka panjang hanya inflasi yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter; (2) tingkat inflasi yang moderat/tinggi akan menghambat efisiensi perekonomian; (3) kerangka (framework) kebijakan yang diterapkan menjadikan kebijakan moneter lebih transparan dan akuntabel. Dengan mengumumkan target numerik secara eksplisit, bank sentral dapat mengkomunik asikan kebijakannya kepada publik. Selain itu publik akan mendapatkan informasi yang lebih baik dalam pembentukan ekspektasi inflasi ke depan sehingga keputusan untuk menabung atau meminjam, berinvestasi atau berkonsumsi, dan keputusan ekonomi lainnya dap at dilakukan dengan lebih rasional (Kementrian Keuangan dan Bank Indonesia, 2004).

(30)

diinginkan; perbedaan antara proyeksi dan sasaran yang telah ditetapkan tersebut menentukan seberapa besar perubahan atau penyesuaian yang diperlukan dari instrumen kebijakan moneter yang digunakan (Alamsya h & Masyuri, 2000). Dengan demikian inflasi tidak hanya menjadi sasaran akhir tapi sekaligus sebagai jangkar (nominal anchor) bagi kebijakan moneter. Agar kebijakan tersebut efektif maka pada setiap awal periode program moneter, bank harus menetapkan dan memberi komitmen secara eksplisit kepada masyarakat mengenai target inflasi yang akan dicapai dalam suatu periode tertentu.

Dalam inflation targeting framework besaran moneter seperti suku bunga dan nilai tukar hanya berfungsi sebagai variabel indikator. Sementara sasaran antara yang paling ideal digunakan adalah prediksi inflasi atau ekpektasi inflasi itu sendiri (Alamsyah & Masyuri, 2000). Prediksi inflasi tersebut akan membawa arah inflasi kedepan.

Beberapa alasan menguntungkan inflation targeting, sehingga menjadi preferensi bank-bank sentral dewasa ini adalah (Agung, 2002):

(31)

Dapat dikatakan dalam jangka panjang tidak ada trade-off antara inflasi dan produksi. Justru dalam jangka panjang inflasi yang rendah dan stabil akan mendukung pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang stabil dan rendah akan menurunkan premi resiko dalam berinvestasi. Investasi selanjutnya akan menjadi motor penggerak produksi. Sehingga kebijakan anti inflasi sebenarnya adalah justru kebijakan pro pertumbuhan.

2. Inflation targeting dapat menjadi alat untuk membangun dan mempertahankan kredibilitas bank sentral dalam mengendalikan inflasi. Publik akan menilai sejauh mana usaha bank sentral dalam mencapai target inflasi yang diumumkan. Hal ini memaksa bank sentral untuk lebih transparan dan bertanggungjawab dalam meraih respect publik dan selanjutnya mempertahankan reputasinya.

3. Penerapan Inflation targeting menyediakan suatu jangkar nominal bagi kebijakan moneter. Tanpa adanya suatu jangkar tertentu sebagai acuan, langkah-langkah kebijakan moneter yang ditempuh bisa dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek yang tidak konsisten dengan kepentingan jangka panjang.

(32)

Ketika likuiditas perekonomian berkurang, bank sentral melakukan kebijakan moneter yang ekspansif melalui peningkatan jumlah uang beredar dengan cara membeli surat berharga pasar uang antar bank (PUAB) sehingga suku bunga bank sentral menurun. Menurunnya suku bunga menarik investor menanamkan modalnya pada usaha -usaha sehingga produksi barang dan jasa meningkat dan sektor riil menjadi tumbuh. Hal ini akan mendorong permintaan akan barang dan jasa sehingga menguatkan kembali permintaan agregat dan terjadi pertumbuhan ekonomi yang kondusif.

Penetapan target inflasi tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah, karena proses pembentukan inflasi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan dan mencakup sejumlah besar barang dan jasa yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda -beda. Konsekuensinya, penetapan target inflasi membutuhkan kajian mendalam terhadap p erilaku inflasi secara disagregat dan identifikasi sumber penyebabnya dari sisi permintaan dan penawaran, serta prediksi arah perubahan ber bagai variabel makroekonomi.

Implementasi strategi pentargetan inflasi dilakukan bank sentral dengan memfokuskan pada pengendalian pertumbuhan uang beredar yang bersumber dari kebijakan moneter ekspansif. Ini berarti, inflation targeting relevan dengan inflasi inti (core inflation) yang lebih cocok dengan negara -negara yang kebijakan moneternya lebih terfokus pada pengendalian pertumbuhan uang beredar beserta efeknya terhadapoutput-inflation tradeoff.

(33)

Selain itu, berbagai masalah struktural di sisi suplai juga memiliki andil cukup besar dalam pembentukan inflasi. Apabila keseluruhan variabel di luar pertumbuhan uang beredar memiliki peran signifikan, maka inflation targeting yang dimaksudkan untuk memperkecil output-inflation tradeoff akan sulit mencapai sasarannya.

Untuk mencapai sasaran inflasi yang baik, maka perlu diketahui sasaran antara yang dekat hubungannya dengan inflasi. Sasaran antara ini dapat berupa suku bunga jangka panjang seperti suku bunga deposito 3 bulan atau lebih dan nilai tukar rupiah, baik secara nominal maupun riil, atau kombinasi keduanya yang disebutMonetery Condition Index (MCI).

Perlu tidaknya digunakan sasaran antara tergantung pada keeratan hubungan antara suku bunga jangka pendek dengan inflasi. Apabila suku bunga jangka pendek dapat langsung mempengar uhi laju inflasi dengan meyakinkan, tidak diperlukan sasaran antara seperti di beberapa negara yang menerapkan inflation targeting.

Target inflasi (inflation targeting) yang dibuat oleh Bank Indonesia akan menjadi sebuah hal yang tidak mungkin dicapai tanpa ada kerjasama yang baik dengan pihak pemerintah, dan berlaku pula sebaliknya dimana kebijakan fiskal yang menginginkan tingginya target perekonomian akan sulit dicapai bila tidak ada dukungan dari otoritas moneter.

d. Implicit Nominal Anchor (No Anchor)

(34)

Rezim mana yang tepat, tergantung pada kondisi ekonomi dan moneter negara yang bersangkutan. Bahkan untuk suatu negara rezim yang diterapkan dapat saja berubah sewaktu -waktu.

Paling tidak, implementasi kebijkan moneter melibatkan beberapa elemen, yakni (1) penguasa moneter (bank sentral); (2) sistem moneter (perbankan); (3) instrumen moneter (jenis -jenis kebijakan moneter) ; (4) target dan indikator moneter; dan (5) sasaran kebijakan moneter ( perekonomian Indonesia)

Secara sederhana, implementasi kebijakan moneter dapat dijelaskan dengan menggunakan gambar analogi sebagai berikut :

Gambar 4. Implementasi Kebijakan Moneter

2.1.3 Kebijakan Fiskal

(35)

makro dari pemerintah di mana pencapaian sasarannya difok uskan pada barang-barang di dalam negeri (domestic goods), rumah tangga, ataupun perusahaan/swasta/pengusaha.

Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah. Pada dasarnya yang dimaksud dengan pendapatan pemerintah ialah berbagai pajak dan pungutan pemerintah dari perekonomian dalam negeri yang menyebabkan kontraksi dalam perekonomian sehingga hibah dan pinjaman dari negara donor sert a pinjaman luar negeri tidak termasuk dalam pendapatan/penerimaan pemerintah.

Sedangkan yang termasuk pengeluaran negara ialah semua pengeluaran yang dilakukan pemerintah untuk mendukung berbagai kegiatan operasional pemerintahan dan pembiayaan berbagai p royek di sektor negara ataupun badan usaha milik negara. Dengan demikian pembayaran bunga dan cicilan utang luar negeri tidak termasuk dalam pengeluaran negara (Djojosubroto , 2004).

Secara teoritis, ada empat cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penerimaan, yaitu meningkatkan pajak dan harga sektor publi k, mengurangi pengeluaran pemerintah, mencetak uang, serta menambah utang baru pemerinah (Dornbusch, 1993). Tetapi perlu diketahui beberapa kendala dari keempat cara tersebut.

(36)

dapat meningkatkan penerimaan juga dapat mengurangi subsidi sehingga dapat mengurangi distorsi pasar.

Akan tetapi, kebijakan penurunan subsidi sering menuai kontroversi dan penolakan dari sebagian besar masyarakat sehingga akan menimbulk an inflasi. Pencetakan uang yang berlebih juga akan mengakibatkan hiperinflasi dan bertentangan juga dengan undang -undang yang mengatur Bank Indonesia bersifat independen dari intervensi pemerintah.

Melakukan penambahan utang pun merupakan pilihan kebijak an yang sulit. Pertama, karena utangluar negeri menjadi tidak mudah terutama setelaj Indonesia memilih untuk tidak memperpanjang kontrak kerjasama dengan IMF dan berarti bahwa utang ditumpukan pada sumber dalam negeri (Abimanyu, 2004). Kedua, karena pasar dalam negeri mungkin memilki keterbatasan untuk menyerap kebutuhan utang pemerintah.

Di sisi lain, manuver kebijakan untuk mengatur pengeluaran negara juga tidak mudah karena banyak pos APBN yang merupakan pos wajib, seperti UU OTDA yang mewajibkan Menter i Keuangan untuk menganggarkan minimal 26 persen dari penerimaan dalam negeri untuk DAU. Pos wajib tersebut mayoritas merupakan recurrent expenditures (pengeluaran berulang), bukan capital expenditures(pengeluaran modal).

(37)

faktor-faktor produksi yang disediakan (Martin, 1992). Fakta empiris dalam berbagai literatur memperlihatkan bahwa terdapat hubungan terbalik antara pengeluaran pemerintah dengan pert umbuhan.

Sebagai pelaku ekonomi, pemerintah juga memiliki andil dalam perkembangan perekonomian suatu negara. John Keynes dalam bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money (1936) menyarankan agar dilakukannya kebijakan pemerintah yang bersifat ekspansif untuk membantu mengurangi pengangguran akibat depresi ekonomi.

Perpajakan sebagai salah satu sumber penerimaan pemerintah lebih bersifat memperkecil pendapatan nasional dibanding dengan pinjaman negara, pinjaman negara lebih bersifat me mperkecil pendapatan dibanding dengan pencetakan uang baru sebagai sumber penerimaan negara. Kebijaksanaan fiskal pada umumnya bertujuan untuk mencapai kestabilan dalam perekonomian dengan meningkatkan secara terus -menerus pendapatan nasional riil pada laj u faktor-faktor produksi dengan tetap mempertahankan kestabilan harga -harga umum.

(38)

dalam jangka panjang akan menimbulkan pergeseran atau regenerasi beban utang luar negeri kepada anak cucu kita.

Menurut Hoogendorn (1996), terdapat dua kemungkinan solusi yang dapat diambil oleh pemerintah untuk keluar dari defisit fiskal. Pertama, melakukan pinjaman swasta. Hal ini sejalan dengan pemikiran neoklasik dimana s kenario ini akan melahirkan efek tekanan terhadap swasta dalam hal kesempatan berinvestasi. Kedua, menambah penerimaan pajak, seperti dengan intensifikasi pajak, ekstensifikasi, dan perbaikan administrasi ser ta sistem perpajakan.

Secara garis besar terdapat 3 pos utama pada sisi pengeluaran “anggaran”;

 Belanja barang dan jasa (G),

 Gaji pegawai (W),

Transfer payment/subsisi (Tr).

Sedangkan pada sisi penerimaan terdiri 4 pos yang penting, yaitu:

 Penerimaan pajak (Tx),

Kredit likuiditas bank sentral (U),Pinjaman/obligasi dalam negeri (B),  Pinjaman/hutang luar negeri (F)

(39)

Perubahan tingkat dan komposisi pajak serta pengeluaran pemerintah dapat mempengaruhi variabel -variabel berikut:

Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi  Pola persebaran sumber daya

 Distribusi pendapatan

Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada perekonomian. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum.

Kebijakan Anggaran / Politik Anggaran meliputi :

1. Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Umumnya sangat baik digunakan jika keaadaan ekonomi sedang resesif.

2. Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Baiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspa nsi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.

(40)

Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang ialah terjadinya kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin.

Kebijakan fiskal juga merupakan salah satu indikator dari kuatnya fundamental makroekonomi. Dalam rumus sederhana maka fundamental ekonomi makro kuat, digambarkan sbb:

 GNP/GDP = C + I + G + (X –M) didukung oleh bank sebagai lembaga intermediasi.

 C = f (Y), belanja konsumsi tergantung pada pendapatan (Y) sedang Y = f (N), pendapatan tergantung pada kesempatan kerja (N).

 N = f (I), kesempatan kerja tergantung pada besar tidaknya investasi.

 I = f (capital accumulation), akumulasi dana (simpanan) merupakan sumber utama untuk melakukan investasi.

 G = f (tax revenue), belanja pemerintah (melalui APBN) tergantung pada penerimaan pajak. Jika penerimaan pajak tidak mencukupi maka pemerintah terpaksa mencari dana utang luar negeri atau menjual obligasi (surat pernyataan utang pemerintah). Jika itu pun belum cukup, terpaksa menjual aset.

(41)

Kementrian keuangan se bagai pengelola fiskal harus transparan dalam memonitor seluruh asset dan kewajiban yang terjadi. Menurut Buiter (1997) menyatakan penolakannya akan adanya dana taktis diluar anggaran atau off-balanced sheet budget. Beliau menilai bahwa seluruh aktiva peme rintah harus diawasi dengan seksama. Aset yang berupa sumber daya alam juga perlu didata ulang berdasarkan harga pasarnya. Ditambahkan pula bahwa terdapat kelemahan kebijakan yang dapat muncul baik dari sisi moneter maupun fiskal.

Studi empiris juga mempe rlihatkan bahwa inflasi menjadi faktor yang mempengaruhi besarnya beban fiskal pemerintah. Buiter dan Juan (1993) memperlihatkan bahwa semakin tinggi tingkat inflasi akan menyebabkan semakin tinggi pula deficit primer pemerintah. Hal ini dapat disebabkan oleh inflasi yang mengurangi nilai riil penerimaan pajak. Oleh karena itu, kerjasama yang baik dan terencana secara sistematis mutlak diperlukan diantara instansi terkait (Santoso, 2004).

Penetapan kebijakan fiskal hendaknya tidak hanya mempertimbangkan kepentingan politik dan tantangan, ancaman, atau kondisi perekonomian nasional dan global, tetapi juga perlu mempertimbangkan kapasitas dan kesiapan institusi pelaksananya (Subiyantoro, 2004).

(42)

2.1.4 Hubungan Antara Kebijakan Fiskal dan Moneter

Keterkaitan antara kebijakan fiskal dan moneter tidak terlepas dari permasalahan keseimbangan perekonomian. Ketika perekonomian masih dalam kondisi awal, kegiatan ekonomi hanya terdiri dari kegiatan konsumsi, investasi dan pemerintah (C,I,G). Ketika muncul peran hubungan luar negeri, perekonomian kemudian berkembang menjadi kegiatan konsumsi, inevstasi, pemerintah dan luar negeri( C,I,G,(X-I) ). Perekonomian negara yang sudah memasukkan unsur hubungan luar negeri tentu membawa konsekuensi munculnya sistem aliran devisa negara serta sistem nilai tukar mata uang antar negara.

Menurut Mundell Flemming, dalam pemodelan keseimbangan ekonomi model IS-LM ditambahkan pula unsur Balanced of Payment (BOP). Dari hasil analisa IS-LM-BOP inilah nantinya dapat dijadikan dasar penentuan apakah kebijakan fiskal atau moneter yang lebih berperan bagi perekonomian suatu negara, berdasarkan sistem nilai tukar negara maupun sistem aliran devisa negara.

(43)

Gambar 5. Kebijakan Fiskal Fixed Exchange Rate

Berdasarkan gambar 5, terlihat bahwa perekonomian berada pada kondisi awal di titik A dengan tingkat suku bunga domestik (r) sama dengan tingkat suku bunga luar negeri (rf). Karena kondisinya sedang krisis, sektor swasta tidak tumbuh sebagaimana mestinya dan sektor pemerintah lah yang memegang peranan dalam bentuk peningkatan government spending nya(G). Kenaikan government spending (G) akan mengakibatkan kurva IS bergerak ke kanan menuju IS1 sehingga ada dorongan bagi perekonomian untuk bergeser menuju titik

(44)

bunga domestik lebih tinggi daripada tingkat suku bunga internasional sehingga orang tertarik untuk menabung di domestik. Naiknya demand terhadap Rupiah menyebabkan pemerintah harus menambah supply dari Rupiah (karena kurs tetap maka kurs tidak akan disesuaikan). Adanya kenaikan penawaran terhadap Rupiah inilah yang menyebabkan ekspor mengalami penurunan dan impor justru meningkat pesat.

Peningkatan dari supply rupiah menyebabkan kurva LM bergerak menuju LM1yang artinya kurva LM mengalami penurunan. Keseimbangan ekonomi kembali berpindah menuju titik C dengan tingkat pendatan naik dari Y menuju Y2. Kenaikan tingkat pendapatan inilah yang menjadi barometer kesuksesan kebijakan fiskal pada kondisifixed exchange rate.

Gambar 6. Kebijakan Moneter Fixed Exchange Rate

(45)

A dengan IS0-LM0. Perubahan yang terjadi pada fixed exchange ratejuga sama di sini hingga terjadinya kenaikan penawaran Rupiah. Adanya peningkatan penawaran Rupiah akan menyebabkan bergeraknya LM0 ke LM1 sehingga perekonomian berpindah dari titik A menuju B.

Perpindahan kondisi perekono mian dari A menuju B menyebabkan penurunan pada tingkat bunga dari r ke r1 sehingga terjadi aliran modal keluar (capital outflow) akibat rendahnya tingkat suku bunga domestik dibandingkan suku bunga internasional. Meningkatnya capital outflow ini akan menyebabkan terjadinya kenaikan permintaah valuta asing. Peningkatan permintaan valuta asing di satu sisi menyebabkan terjadinya penurunan penawaran rupiah sebagai substitusi valuta asing. Pengurangan penawaran rupiah sama saja artinya dengan penurunan kurva LM sehingga kurva LM kembali bergerak dari LM1ke LM0 dan keseimbangan kembali berpindah dari B menuju A. Keseimbangan ini biasanya tidak permanen dan hanya terjadi pada periode jangka pendek sehingga dapat disimpulkan pada negara dengan kebijakan fixed exchange rate, kebijakan moneter tidak efektif dibandingkan kebijakan fiskal.

(46)

Berdasarkan gambar 7, Adanya kebijakan fiskal dalam arti terjadinya kenaikan government spending (fiskal ekspansif) akan menggerakkan kurva IS ke kanan atau berpindah dari IS0 menuju IS1. Akibatnya suku bunga domestik mengalami kenaikan dan terjadi capital inflowdari dunia internasional. D engan kebijakan kurs yang flexible maka kenaikan permintaan terhadap rupiah akan memungkinkan perubahan kurs yang menyebabkan harga tukar Rupiah meningkat (apresiasi rupiah).

Efek dari apresiasi rupiah terhadap perdagangan Indonesia cukup merugikan, sebab secara relatif harga komoditi Indonesia lebih mahal dalam valuta asing sehingga mengurangi permintaan ekspor kita serta meningkatkan permintaan impor. Akibatnya apresiasi rupiah akan kembali menurunkan kurva IS ke kiri dan menurunkan keseimbangan ekonomi dari titik B kembali ke titik A dalam jangka panjang. Jadi dapat disimpulkan pada negara dengan kebijakan flexible exchange rate, kebijakan fiskal tidak efektif dibandingkan kebijakan moneter.

(47)

Berdasarkan gambar 8, diilustrasikan bahwa dalam kebijakan moneter yang ekspansif akan menyebabkan kenaikan kurva LM sehingga bergeser dari LM0 menuju LM1. Akibatnya tingkat suku bunga domestik turun dan terjadinya capital outflow ke luar negeri. Dalam kondisi flexible exchange rate maka capital outflow akan menaikkan permintaan valuta asing sehingga harga valuta asing naik atau dengan kata lain terjadi depresiasi rupiah. Depresiasi rupiah akan menaikkan neraca perdagangan Indonesia dan kurva IS bergeser ke kanan (IS0-IS1). Keseimbangan akhir berada pada titik C dengan tingkat pendapatan sebesar Y1. Karenanya dapat disimpulkan kebijakan moneter justru sangat efektif untuk diterapkan di suatu negara yang menganut sistem nilai tukar yangflexible.

(48)

ini terjadi maka hubungan antara fiskal dan moneter diterima sebagai praktek yang baik.

Hastiadi (2005) melihat tentang pentingnya hubungan antara Bank Indonesia selaku pelaksana otoritas moneter dan pemerintah selaku pelaksana otoritas fiskal melalui model regresi dengan variabel koordinasi sebagai salah satu variabel independen. Beliau menyatakan pula bahwa kebijakan yang dilakukan tanpa adanya saling koordinasi antar instansi terkait akan mengakibatkan pada tidak tercapainya tujuan dari masing -masing otoritas ekonomi tersebut.

2.2 Kajian teori

2.2.1 Makroekonomi

Merupakan ruang lingkup dalam ilmu ekonomi yang bersifat kontradiktif dengan mikroekonomi. Mikroekonomi merupakan ilmu ekonomi yang mempelajari tentang pilihan, keputusan dan hubungan antara pilihan dan keputusan agen-agen perekonomian. Sedangkan Makroekonomi merupakan ilmu ekonomi yang mempelajari perekonomian negara dan perekonomian global secara menyeluruh.

Untuk mengerti perekonomian suatu negara kita harus mengetahui peran dan target otoritas kebijakan fiskal dan moneter setiap negara. Sebagai contoh Negara Indonesia dimana pemerintah sebagai otoritas kebijakan fiskal bertu juan untuk mendapatkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan tingkat pengangguran yang rendah.

(49)

pasal 7 UU no. 3 tahun 2004. Dimana kestabilan nilai tukar rupiah ini tercermin dalam pada nilai inflasi dan nilai tukar (Rupiah).

Secara umum terdapat beberapa variabel yang menjadi isu utama dan indikator dalam menilai perekonomian suatu negara , yaitu :

2.2.1.1 Tingkat Output

Tingkat output adalah jumlah nilai seluruh output barang dan jasa yang diproduksi pada suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu. Output agregat memcerminkan kekayaan Negara dalam jangka waktu tertentu. Dengan menggunakan logika mode lcircular flow, output agregat atau jumlah barang yang diproduksi memiliki nilai yang sama dengan balas jasa yang diterima oleh pihak yang memproduksi atau pendapatan nasional.

Pendapatan Nasional merupakan salah satu indikator yang digunakan dalam pembanding tingkat kesejahteraan antar negara. Agar memiliki tingkat akurasi ukuran kesejahteraan yang baik biasanya Pendapatan Nasional ini dibagi dengan tingkat populasi sehingga nantinya didapatkan variabel pendapatan perkapita. Pendapatan nasional dapat dihitung dengan mencari nilai Gross Domestic Product(GDP) atau produk domestik bruto.

Terdapat tiga pendekatan dalam menghitung nilai GDP: a. Pendekatan Produksi

Pendekatan Produksi menghitung jumlah seluruh produksi barang dan jasa final oleh suatu negara selama satu tahun. Rumus matematis pendekatan ini:

t t x Jumlah oduksi a

H

(50)

Ternyata dalam pendekatan ini menyebabkan double counting karena dalam perhitungan ini memasukan unsur barang final dan barang intermediate. Sehingga terdapat pendekatan produksi baru untuk mengatasi masalah double counting ini yaitu dengan pendekatan nilai tambah (value added). Rumus pendekatan matematis nilai tambah:

VAi

Y

Dimana VA (value added) = Outputt–Biaya Antarat

Untuk menghindari tumpang tindih pada perhitungan dengan pendekatan nilai tambah, Perekonomian Indonesia dibagi menjadi 9 sektor, yakni (i) pertambangan dan penggalian, (ii) pertanian, (iii) industri manufaktur, (iv) listrik, gas, dan air minum, (v) k onstruksi, (vi) perdagangan, hotel, dan restoran, (vii) transportasi dan komunikasi, (viii) jasa keuangan, serta (ix) jasa lain.

b. Pendekatan Pendapatan

Pendekatan Pendapatan menghitung output berdasarkan jumlah seluruh pendapatan (balas jasa) yang dte rima seluruh faktor produksi dalam waktu satu tahun. Balas jasa yang diterima faktor produksi dapat berupa:

1. Upah, untuk tenaga kerja yang merupakan balas jasa yang dominan dalam perekonomian.

2. Bunga, merupakan balas jasa untuk modal

3. Sewa, merupakan balas jasa untuk sumber daya alam yang digunakan. 4. Profit, balas jasa untuk keterampilan pengusahaan .

(51)

memberitahukan jumlah pendapatan yang diterimanya, misalnya karena alasan penghindaran atau meminimumkan pungutan pajak, dll.

c. Pendekatan Pengeluaran

Pendekatan pengeluaran menghitung output berdasarkan jumlah pengeluaran seluruh sektor dalam perekonomian. Logika dari pendekatan ini berdasarkan analisa bahwa pengeluaran suatu pihak merupakan pendapatan bagi pihak lain. Rumus matematis pendekatan ini:

Y = C + I + G + (X-M) Dimana : Y = pendapatan nasional

C = konsumsi rumah tangga dan s wasta I = pengeluaran investasi

G = pengeluaran yang dilakukan pemerintah X = pendapatan ekspor ; M = Impor

Akan tetapi, terdapat beberapa kelemahan dalam perhitungan pendapatan nasional. Pertama, terdapat beberapa output yang tidak dimasukan dalam perhitungan, misalnya underground economy karena bersifat illegal, output industri kecil rumah tangga, dll. Kedua, eksternalitas negatif dari aktivitas ekonomi yang tidak dimasukan kedalam perhitungan. Green GDPmenjadi solusi atas masalah ini, dimana dalam green GDP telah memasukan unsur eksternalitas negatif dalam perhitungan GDP. Dan ketiga, perhitungan nilai tambah GDP tidak memperhitungkan penambahan kualitas. Misalnya komputer yang makin canggih makin murah dibandingkan produk komputer di masa lalu.

(52)

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ataupun investasi neto yaitu Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) yang didapatkan dari nilai investasi bruto dikurangi stok. Untuk itu, data investasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data PMTDB.

2.2.1.2 Pertumbuhan Ekonomi

Beberapa ahli ekonomi pembangunan berpend apat bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi apabila kecenderungan output per kapita untuk naik yang bersumber dari proses intern dari perekonomian tersebut. Indikator yang sering dipakai untuk menilai kinerja perekonomian suatu negara adalah Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan indikator untuk melihat kinerja ekonomi suatu wilayah dalam suatu negara tertentu digunakan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), yang merupakan keseluruhan nilai tambah yang timbul akibat adanya berbagai aktivitas ekonomi yang dilakuk an dalam suatu wilayah terutama yang dikaitkan dengan kemampuan wilayah tersebut dalam mengelola sumber daya yang dimiliki.

(53)

Pertumbuhan ekonomi berasal dari nilai laju pertumbuhan GDP . Pertumbuhan ekonomi yang positif menandakan perekonomian dalam keadaan ekspansif, sedangkan pertumbuhan ekonomi yang negatif menandakan perekonomian dalam keadaan resesi.

Terdapat beberapa teori yang menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan bagaimana proses pertumbuhan ekonomi itu terjadi. Dari beberapa teori pertumbuhan tersebut, Sukirno (2000) dalam bukunya “Pengantar Teori Makro Ekonomi” menyatakan bahwa terdapat 4 teori yang cukup penting dalam menjelaskan proses pertumbuhan ekonomi suatu negara yaitu teori pertumbuhan aliran Klasik, teori Schumpter, teori Harrod -Domar dan teori Neo-Klasik. Berikut penjelasan Sukirno (2000) tentang keempat teori pertumbuhan.

a. Teori Pertumbuhan Ahli-Ahli Ekonomi Klasik

Ahli-ahli ekonomi klasik lebih menekankan analisisnya pada pengaruh pertambahan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan mengasumsikan luas tanah, kekayaan alam, dan tingkat teknologi tidak mengalami perubahan. Aliran Klasik menggunakan teori law of the diminishing return (teori pertambahan hasil yang semakin menurun) dalam merumuskan hubungan antara jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

(54)

Keadaan seperti itu tidak akan terus menerus berlangsung. Apabila penduduk sudah terlalu banyak, pertambahannya akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi karena produktivitas marginal penduduk telah menjadi negatif.

Pada keadaan ini kemakmuran masyarakat akan menurun, dan tingkat pendapatan pekerja hanya bisa muncukupi kebutuhan hidup mereka (subsistence level). Kondisi inilah yang sering disebut perekonomian dalam kondisi steady

state3. Menurut teori klasik, suatu negara tidak akan mampu menghalangi terjadinya keadaan tidak berkembang tersebut, melainkan hanya mampu menundanya.

b. Teori Schumpter

Teori Schumpter menekankan tentang pentingnya peranan pengusaha dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Dalam mengemukakan teori pertumbuhannya, Schumpter memulai analisisnya dengan memisalkan bahwa perekonomian sedang dalam keadaan tidak berkemba ng.

Akan tetapi, keadaan ini tidak akan berlangsung lama, karena sejumlah pengusaha akan menyadari pentingnya melakukan inovasi untuk mendongkrak perekonomian. Didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan dari mengadakan pembaruan tersebut, mereka akan meminjam modal dan melakukan penanaman modal. Investasi yang baru ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yang berdampak pada meningkatnya pendapatan masyarakat dan konsumsi.

(55)

terbatasnya kemungkinan untuk mengadakan inovasi, sehingga pertum buhan ekonomi akan mencapai keadaan steady state2. Berbeda dengan pandangan klasik, Schumpter berpandangan bahwa keadaan steady state akan terjadi pada saat tingkat pembangunan yang tinggi.

c. Teori Harrod-Domar

Dalam menganalisis masalah pertumbuhan ekonomi, teori Harrod -Domar bertujuan untuk menerangkan syarat yang harus dipenuhi supaya suatu perekonomian dapat mencapai pertumbuhan yang teguh (steady growth) dalam jangka panjang.

Dalam teorinya, Harrod-Domar melihat persoalan pertumbuhan dari segi permintaan, yaitu menekankan pentingnya peranan akumulasi kapital dalam proses pertumbuhan. Apabila pada suatu waktu terdapat keseimbangan pendapatan pada tingkat full employment, maka untuk memelihara keseimbangan agar dapat bertahan dari tahun ke tahun dibutuhkan pengeluaran investasi untuk menghisap kenaikan output yang ditimbulkan. Jadi investasi harus ada supaya keseimbangan tidak terganggu.

Akan tetapi, apabila hasrat menabung marjinal (marginal propensity to save) telah tertentu maka akan lebih banyak kapital yang tersedia sehingga makin besar tabungan dan makin besar pula investasi. Oleh karena itu bila kondisi full employment terjadi hendaknya perlu dipertahankan tingkat investasi dan pendapatan nasional riil agar terus meningkat. Keadaan pertumbuhan ekonomi yang perlu dipertahankan/dijamin ini sering disebut warranted rate of growth.

(56)

Apabila pembentukan kapital tidak di ikuti dengan kenaikan pendapatan maka kapital dan tenaga kerja akan menganggur.

d. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik

Teori pertumbuhan Neo-Klasik yang dikembangkan oleh Abramovits dan Solow ini merumuskan teori pertumbuhan dari sudut pandang penawaran. Menurut Abramovits dan Solow dalam Sukirno (2000) pertumbuhan ekonomi bergantung pada perkemban gan faktor-faktor produksi.

)

dimana Y adalah tingkat pertumbuhan ekonomi, K adalah tingkat pertambahan barang modal, L adalah tingkat pertambahan tenaga kerja, dan

T

 adalah tingkat perkembangan teknologi.

2.2.1.3 Inflasi

Mishkin (2002) mendefinisikan inflasi sebagai kenaikan tingkat harga yang kontinyu dan terus menerus, memepengaruhi individu -individu, bisnis, dan pemerintah. Secara umum inflasi dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian. Pertama, inflasi inti (Core Inflation) adalah inflasi barang atau jasa yang perkembangan harganya dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi secara umum (faktor-faktor fundamental seperti ekspektasi inflasi, nilai tukar, dan keseimbangan permintaan dan penawaran agregat) yang akan berdampak pada perubahan harga-harga secara umum dan lebih bersifat permanen dan persisten.

(57)

perkembangan harganya sangat bergejolak, umumnya dipengaruhi oleh shocks yang bersifat temporer seperti musim panen, gangguan alam, gangguan penyakit, dan gangguan distribusi.

Terdapat dua alasan kenapa ekonom peduli terhadap inflasi , yakni karena inflasi dapat memicu distrosi yang lain , serta karena selama periode inflasi, tidak semua harga barang da n upah naik secara proposional sehingga inflasi mempengaruhi distribusi pendapatan.

Macam-macam Inflasi

Sehubungan dengan kompleksnya faktor yang menjadi sumber terjadinya inflasi atau banyaknya variabel yang berpengaruh terhadap inflasi, maka dapat pula dilakukan pengelompokan terhadap macam-macam inflasi berdasarkan sudut pandang sebagai berikut (Tajul Khalwaty, 2000). Inflasi dapat digolongkan dengan beberapa cara. Cara pertama, inflasi dapat digolongkan menurut besarnya. Boediono (2001) mengelompokkan inflasi menjadi empat, yaitu : Inflasi ringan (inflasi di bawah 10%), Inflasi sedang (antara 10% sampai 30%), Inflasi berat (antara 30% sampai 100%), dan Hiperinflasi (di atas 100%).

Samuelson dan Nordhaus (2005) mengkategorikan inflasi menjadi tiga, yaitu:

1. Low inflation, atau disebut juga inflasi satu d ijit (single digit inflation), yaitu inflasi di bawah 10%.

2. Galloping inflation, atau double digit bahkan triple digit inflation, yang didefinisikan antara 10% sampai 200% per tahun.

(58)

Namun penentuan parah tidaknya inflasi sanga t relatif, tidak hanya dilihat dari sudut laju inflasi saja. Siapa -siapa yang menanggung beban atau memperoleh keuntungan dari inflasi tersebut perlu diperhitungkan. Sebagai ilustrasi laju inflasi 20 persen dapat digolongkan inflasi yang parah apabila semuanya berasal dari kenaikan harga dari barang -barang yang dibeli oleh golongan yang berpenghasilan rendah.

Cara pengelompokan kedua adalah berdasarkan sumber inflasi, m enurut Boediono (2001) dapat dikategorikan menjadi dua, yakni inflasi karena dorongan permintaan dan inflasi karena dorongan biaya.

1. Inflasi karena tarikan permintaa n (demand pull inflation)

(59)

Gambar 10. Grafik Demand Pull Inflation

Kenaikanaggregat demand(AD) akan menggeser kurva AD dari AD1 ke AD2, akibatnya tingkat harga umum naik dari P1ke P2.

2. Inflasi dorongan biaya (cost push inflation)

(60)

Gambar 11. GrafikCost Push Inflation

Penurunanaggregate supply(AS) akan mendorong kurva AS dari AS1ke AS2, sehingga tingkat harga umum naik dari P1ke P2.

Asal Inflasi

Ditinjau dari asal terjadinya, maka inflasi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:

a. Domestic Inflation(Inflasi Domestik)

Adalah inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestik). Kenaikan harga disebabkan karena adanya kejutan (shock) dari dalam negeri, baik karena perilaku masyarakat maupun perilaku pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang secara psikologis berdampak inflatoar. Kenaikan harga-harga terjadi secara absolut. Akibatnya terjadilah inflasi atau semakin meningkatnya angka (laju) inflasi.

b. Imported Inflation

Gambar

Tabel 1. Perkembangan PDB, Inflasi di Indonesia Tahun 1995-2002
Gambar 2. Kerangka Kerja Kebijakan Moneter
Gambar 5. Kebijakan Fiskal Fixed Exchange Rate
Gambar 6. Kebijakan Moneter Fixed Exchange Rate
+7

Referensi

Dokumen terkait

Meneliti perbedaan kinerja pada jangka pendek dan jangka panjang mekanisme transmisi perubahan tingkat suku bunga pasar yang disesuaikan ke dalam perubahan tingkat suku

Untuk variabel perbedaan tingkat suku bunga (RX) hasil estimasi menunjukkan bahwa Variabel ini mampu menerangkan perubahan nilai tukar baik dalam jangka pendek dan jangka

Dari persamaan jangka pendek tersebut, terlihat nilai speed of adjustment (koefisien ̂ − ) sebesar – 1,057578 dan signifikan secara statistik (nilai p-value <

Dari hasil regresi jangka pendek variabel jumlah perusahaan cengkeh besar Indonesia (X1) memiliki koefisien sebesar 5.315973 nilai t-statistik sebesar 2.335301 Dengan nilai

Karena nilai koefisien dalam jangka panjang maupun jangka pendek ROA menunjukkan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa

Karena nilai koefisien Inflasi dalam jangka panjang maupun jangka pendek menunjukkan positif dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05, maka dapat

Probabiliti koefisien regresi ECT sebesar 0,016 menunjukkan hasil yang signifikan dan bernilai positif memperlihatkan bahwa hubungan teoritis jangka panjang antara

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jangka panjang dan jangka pendek antara variabel variabel makro ekonomi tingkat inflasi, jumlah uang beredar, nilai tukar, Produk