• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL BERPIKIR KRITIS SISWA SMP DALAM M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROFIL BERPIKIR KRITIS SISWA SMP DALAM M"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

27

PROFIL BERPIKIR KRITIS SISWA SMP DALAM MEMECAHKAN

MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK

SEBAGAI UPAYA DASAR MENENTUKAN STRATEGI PEMBELAJARAN

Dian Novita Rohmatin(1), Ana Rahmawati(2) Universitas Pesantren Tinggi Darul'Ulum Jombang [email protected] , [email protected]

ABSTRACT

This research is to describe student's critical thinking profile in solving problems based on multiple intelligence, therefore, included descriptive study with qualitative approachment. Critical thinking refers to criteria of critical thinking FRISCO. In this research, there are 7 subjects, one subject in each category linguistik, matematis, musical, kinestetis, spatial, interpersonal, intrapersonal. Collecting data by test and interviews. Based on the results revealed that subject linguistic intelligence and logical mathematical having similar profiles. They know focus, reason, situation, clarity and overview in every stage of Polya problem solving. Subject musical intelligence knows focus, reason, situation, clarity and overview when understanding problem and make a plan. When implementing the plan she describes six criteria of critical thinking, but the explanation is illogical and inconsistent. When looking back, subject just satisfy the focus, situation, clarity and overview. Subjects kinesthetic intelligence explain all criteria critical thinking at every step Polya problem solving, but focus when implementing the plan is unsuitable with context of the problems. While inference when understand and implement the plan also less obvious and illogical, clarity when implementing the plan is also only partially explained. Subjects visual-spatial intelligence when understand and implement the plan describes criteria focus, reason, situation, with clarity and overview logically. While making plans and looking back, she explain focus, reason, clarity, and situation logically. Subjects interpersonal intelligence didn't overview when understanding problem. When making and implementing a plan she describes criteria focus, reason, situation, and overview, but the explanation illogical, because the concepts are inconsistent. When looking back, subject explain each of the criteria, but the clarity which she gave illogical. Subject intrapersonal explain focus, reason, situation, clarity at every stage of problem solving. Inference isn't described at any stage. Overview don't when implementing the plan

Key Word: Critical Thinking, Problem Solving, and Multiple Intelligence

1. PENDAHULUAN

Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir tingkat tinggi sebagaimana diungkapkan oleh Krulik dan Rudnick (1999). Ennis (1992) mengatakan bahwa berpikir kritis merupakan berpikir logis dan masuk akal yang difokuskan pada pengambilan keputusan tentang apa yang dipercaya dan dilakukan. Dengan demikian berpikir kritis dapat membantu seseorang dalam pengambilan keputusan tentang apa yang dipercaya atau yang akan dilakukan secara logis berdasarkan fakta-fakta yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Sehingga berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis penting untuk dimiliki oleh setiap individu yang dapat dilatihkan melalui pembelajaran di sekolah, khususnya melalui pembelajaran matematika. Hal ini didukung oleh pendapat Lambertus (2009) bahwa berpikir kritis merupakan potensi yang dimiliki oleh setiap orang, dapat di ukur, dilatih, dan dikembangkan. Dengan melatih berpikir kritis secara terus menerus pada siswa melalui pembelajaran matematika, maka berpikir kritis dapat menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan siswa dalam kehidupannya. Selanjutnya untuk menilai berpikir kritis seseorang, Ennis (1995: 4-8) memperkenalkan enam kriteria berpikir kritis (yang disingkat FRISCO) meliputi: (1) focus, (2) reason, (3) inference, (4) situation, (5) clarity, dan (6) overview.

(2)

28

menerapkannya untuk menemukan solusi. Selain itu aktivitas terakhir dalam pemecahan masalah adalah memeriksa kembali hasil pemikiran dan solusi yang telah diperoleh. Hal ini sejalan dengan pendapat Polya (1973) yang membagi langkah pemecahan masalah menjadi empat tahap, yaitu (1) memahami masalah, (2) membuat rencana, (3) melaksanakan rencana, dan (4) memeriksa kembali. Syah (1997: 120) mengatakan bahwa berpikir rasional dan berpikir kritis merupakan perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah. Dengan demikian, berpikir kritis dan pemecahan masalah merupakan dua hal yang saling berkaitan.

Akan tetapi berdasarkan wawancara personal dengan beberapa guru matematika, pembelajaran matematika di kelas jarang yang ditujukan untuk melatihkan kemampuan berpikir kritis siswa. Pembelajaran matematika hanya dilakukan untuk mentransfer ilmu pengetahuan dari pendidik ke peserta didik tanpa memberikan kesempatan yang cukup bagi siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri.

Berkaitan dengan pendidikan, Suryabrata (2006) mengatakan bahwa dalam dunia pendidikan dan pengajaran, masalah intelegensi (kecerdasan) merupakan salah satu masalah pokok yang banyak dikupas dalam penelitian. Selanjutnya Suryabrata (2006), menyatakan tentang peranan kecerdasan dalam pendidikan. Adakalanya kecerdasan menentukan berhasil atau tidaknya belajar seseorang dan adalakanya juga tidak mempengaruhi hal tersebut, tetapi pada umumnya kecerdasan merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan berhasil atau gagalnya belajar seseorang. Selanjutnya, Karniasih (2010) mengatakan bahwa hadir sebuah teori baru tentang kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner. Terdapat sembilan kecerdasan yang diidentifikasi oleh Gardner yang disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Lebih lanjut Karniasih (2010) menyatakan bahwa kegiatan pendidikan anak hendaknya memperhatikan kecerdasan atau potensi dalam diri anak dan setiap kecerdasan dapat dirangsang menggunakan cara yang berbeda. Berdasarkan uraian tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berjudul "Profil Berpikir Kritis Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kecerdasan Majemuk Sebagai Upaya Dasar Menentukan Strategi Pembelajaran " . Dengan mengetahui profil berpikir kritis siswa, maka guru dapat merancang pembelajaran yang sesuai untuk melatihkan kemampuan berpikir kritis pada siswa.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek diambil dari tujuh jenis kecerdasan majemuk, masing-masing satu subjek pada kecerdasan linguistik, matematis, musical, gerak, ruang, interpersonal dan intrapersonal. Subjek yang dipilih harus dapat mengomunikasikan hasil pemikirannya. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan, dilakukan tes untuk menyelesaikan tugas pemecahan masalah (TPM) dan wawancara berkaitan dengan hasil pekerjaan subjek atas TPM. Sebelum dianalisis, perlu diperiksa keabsahan data dengan menggunakan triangulasi waktu. Data yang valid kemudian dianalisis dan disimpulkan. Dari simpulan tersebut diperoleh deskripsi profil berpikir kritis siswa dalam memecahkan masalah ditinjau dari kecerdasan majemuk. Proses analisis data berpedoman pada tabel berikut.

Tabel 1 Kriteria FRISCO pada setiap langkah pemecahan Polya

Memahami masalah Membuat Rencana Melaksanakan Rencana

Memeriksa Kembali F membangun makna tentang

masalah apa yang akan dipecahkan, dapat dilakukan dengan merumuskan kembali

memutuskan strategi apa yang akan dipakai untuk memecahkan masalah

langkah-langkah penerapar strategi yang telah dipilih

(3)

29

masalah dengan kalimat,

gambar, grafik, atau lainnya

R memberikan alasan terhadap hasil rumusan masalah yang

I proses penarikan kesimpulan yang masuk akal menurut telah dilakukan dari alasan, rangkaian alasan sampai pada telah dilakukan, dari alasan, rangkaian alasan sampai pada keputusan tentang langah-langkah penerapaT strategi yang tela! dilakukan, apakah masuk akal untuk

(4)

30

rencana dan memeriksa kembali menjelaskan fokos, reason, situation dan clarity dengan logis. Subjek dengan kecerdasan interpersonal tidak melaksanakan overview pada tahap emahami masalah. Pada tahap membuat dan melaksanakan rencana ia menjelaskan kriteria fokus, reason, situation, dan overview, namun penjelasannya kurang logis karena ia menggunakan konsep yang tidak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Sedangkan pada tahap memeriksa kembali subjek menjelaskan setiap kriteria namun clarity yang dia berikan tidak logis. Subjek dengan kecerdasan intrapersonal menjelaskan fokus, reason, situation, clarity pada setiap tahap pemecahan masalah. Sementara inferensi tidak dijelaskan oleh subjek pada setiap tahap pemecahan masalah. Sedangkan overview dilakukan oleh subjek kecuali pada tahap melaksanakan rencana.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan:

4.1 Ketujuh jenis kecerdasan majemuk muncul dari siswa-siswi SMPN 3 Peterongan, yaitu kecerdasan linguistik, matematis, musical, gerak, ruang, interpersonal dan intrapersonal.

4.2 Subjek dengan kecerdasan linguistik dan matematis-logis mempunyai profil yang mirip. Mereka mengetahui fokus, reason, situation, clarity dan overview pada setiap tahap pemecahan masalah Polya. Subjek dengan kecerdasan musik mengetahui fokus, reason, situation, clarity dan overview pada tahap memahami masalah dan membuat rencana. Sementara pada tahap melaksanakan rencana subjek menjelaskan keenam kriteria berpikir kritis, namun penjelasannya tidak logis dan tidak sesuai dengan konteks masalah yang dihadapi. Tahap memeriksa kembali, subjek hanya memenuhi fokus, situation, clarity dan overview. Subjek dengan kecerdasan kinestetik menjelaskan seluruh kriteria berpikir kritis pada setiap langkah pemecahan masalah Polya, namun fokus pada saat melaksanakan rencana kurang sesuai dengan konteks permasalahan yang dihadapi. Sementara inferensinya pada tahap memahami dan melaksanakan rencana juga kurang jelas dan kurang logis, selain itu clarity pada tahap melaksanakan rencana juga hanya dijelaskan sebagian. Subjek dengan kecerdasan ruang-visual pada tahap memahami dan melaksanakan rencana menjelaskan kriteria fokus, reason, situation, clarity dan overview dengan logis. Sementara pada tahap membuat rencana dan memeriksa kembali menjelaskan fokos, reason, situation dan clarity dengan logis. Subjek dengan kecerdasan interpersonal tidak melaksanakan overview pada tahap memahami masalah. Pada tahap membuat dan melaksanakan rencana ia menjelaskan kriteria fokus, reason, situation, dan overview, namun penjelasannya kurang logis karena ia menggunakan konsep yang tidak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Sedangkan pada tahap memeriksa kembali subjek menjelaskan setiap kriteria namun clarity yang dia berikan tidak logis. Subjek dengan kecerdasan intrapersonal menjelaskan fokus, reason, situation, clarity pada setiap tahap pemecahan masalah. Sementara inferensi tidak dijelaskan oleh subjek pada setiap tahap pemecahan masalah. Sedangkan overview dilakukan oleh subjek kecuali pada tahap melaksanakan rencana.

5. UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini tidak dapat terlaksana tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, M. A. selaku Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum Jombang. 2. Ir. Drs. Sumargono, M. Pd. selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

(5)

31

3. Dosen-dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum Jombang.

6. DAFTAR PUSTAKA

Ennis, Robert H. (1992). Critical Thinking: What Is It? http://www.ed.uiuc.edu/eps/PES-Yearbook/92 docs/ENNIS.HTM. Diakses tanggal 4 februari 2011. Ennis, Robert H. (1995). Critical Thinking. New Jersey: Prentice-Hall.

Karniasih, Imas. (2010). Mendidik SQ anak menurut Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta: Pustaka Marwa. Krulik, Stephen & Jesse A. Rudnick. 1999. Innovative Tasks to Improve Critical and Creative Thinking Skills.

P.138-145.from Developing Mathematical Reasoning in Grades K-12.1999 Year book. Stiff, Lee v. Curcio, Franses R. Reston. Virginia: the national Council of Teachers of mathematics, Inc.

Lambertus. (2009). Pentingnya Melatih Keterampilan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika di SD. Artikel jurnal Forum Kependidikan, Volume 28, Nomor 2.

Polya, G. (1973). How to Solve It. New Jersey: Princenton University Press.

Suryabrata, Sumadi. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Referensi

Dokumen terkait

melarang impor kaviar Sturgeon (Huso Huso) dan semua produk lain yang berasal dari ikan tersebut, karena ikan ini termasuk spesies yang dilindungi dalam daftar Appendix III di Bern

Untuk metode Indeks Sentralitas Marshall, pembentukan orde wilayah 28 administrasi kecamatan berdasarkan karakteristik kekotaan yang ditinjau dari 19 fasilitas

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan terhadap temuan di lapangan maka dapat disimpulkan bahwa persepsi pola asuh otoriter dan kemampuan

battery (accumulator) dapat digunakan sebagai sumber listrik untuk pemanas air.. mandi. Juga merancang rangkaian kontrol pemanas air, sehingga panas

[r]

RPJM Daerah Kota Balikpapan Tahun 2011-206 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Balikpapan Tahun

Skor kemampuan menulis siswa secara keseluruhan berdasarkan jenis pendekatan pembelajaran (eksperimen dan kontrol) adalah 0,57 dan 0,23; simpangan baku

“ Tinjauan Hukum Terhadap Perlindungan Pengungsi Anak Menurut Konvensi Hak-Hak Anak 20 Nopember 1989 Oleh UNHCR (United Nations High.. Commisioner For