BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap manusia mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Karena perbedaan itulah setiap kepribadian manusia terbilang unik. Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk menggambarkan identitas diri, jati diri seseorang, seperti “Saya seorang yang terbuka” atau “Saya seorang yang pendiam”, kesan umum sesorang tentang diri anda atau orang lain, seperti “Dia agresif” atau “Dia jujur” dan fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah, seprti “Dia baik” atau “Dia pendendam” (Syamsu & Juntika, 2011).
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, definisi sehat adalah baik seluruh badan serta bagian-bagiannya. Dahulu, sehat identik dengan kondisi badan atau tubuh. Tapi sekarang seiring kemajuan zaman, kata sehat tidak hanya berhubungan dengan badan, tetapi juga segala sesuatu yang dapat bekerja, jika berlangsung secara normal dan semestinya maka akan di sebut dengan sehat. Tetapi jika mengalami gangguan maka di sebut dengan istilah tidak sehat.
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki konsekuensi untuk terus-menerus melakukan interaksi dengan individu atau kelompok sosial lain di sekitarnya. Interaksi dengan individu lain disebut dengan hubungan interpersonal (interpersonal relationship). Dalam suatu relationship, individu tidaklah lepas dari harapan (expectancy) tertentu yang dipengaruhi oleh pengalaman-pengalamannya. Salah satu karakteristik individu dengan mental yang sehat adalah memiliki hubungan interpersonal yang sehat pula.
hari. Harapannya, dengan memahami berbagai model relationship dan makna yang terkandung di dalamnya, kita mampu membangun relationship yang sehat dan membantu individu lain menyelesaikan konflik interpersonalnya.
Konsep kepribadian yang sehat adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Dimana dari konsep tersebut menggambarkan topik yang berusaha mencakup kepribadian manusia. Selain itu banyak ahli mengemukakan suatu tingkat perkembangan kepribadian yang melampaui normalitas dan dengan demikian tetap berhubungan dengan semangat psikologi pertumbuhan.
Dari penjelasan di atas, penulis membuat makalah yang berjudul “Konsep Kepribadian Sehat”.
1.2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana kepribadian sehat dalam kehidupan sehari-hari?
b. Bagaimana konsep dan proses hubungan interpersonal dalam kesehatan mental?
c. Apa saja permasalahan seputar hubungan interpersonal? d. Bagaimana manajemen konflik interpersonal?
1.3. Tujuan Penulisan
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah kesehatan mental.
b. Untuk mengetahui kehidupan sehat dalam kehidupan sehari-hari. c. Untuk mengetahui konsep dan proses hubungan interpersonal dalam
kesehatan mental.
d. Untuk mengetahui permasalahan seputar hubungan interpersonal. e. Untuk mengetahui manajemen konflik interpersonal.
BAB II
PEMBAHASAN
Kepribadian (personality) merupakan salah satu kajian psikologi yang lahir berdasarkan pemikiran, kajian atau temuan-temuan (hasil praktik penanganan kasus) para ahli. Adapun kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris personality. Kata personality sendiri berasal dari bahasa Latin persona yang berarti topeng yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan. Di sini para aktor menyembunyikan kepribadiannya yang asli, dan menampilkan dirinya sesuai dengan topeng yang digunakan (Syamsu & Juntika, 2011).
Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk menggambarkan identitas diri, jati diri seseorang, seperti “Saya seorang yang terbuka” atau “Saya seorang yang pendiam”, kesan umum sesorang tentang diri anda atau orang lain, seperti “Dia agresif” atau “Dia jujur” dan fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah, seprti “Dia baik” atau “Dia pendendam” (Syamsu & Juntika, 2011).Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “ Personality “. Secara etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin “ persona “ yang berarti topeng.
Secara umum, kepribadian dipahami sebagai pola-pola yang jelas dari perilaku, pikiran, dan perasaan yang menjadi karakteristik individu dalam penyesuaiannya untuk memenuhi tuntutan kehidupan (Rathus dan Nevid, 2002). Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk menggambarkan:
a. Identitas diri, jati diri seseorang.
b. Kesan umum seseorang tentang diri sendiri atau orang lain. c. Fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah.
2.1.2. Faktor-Faktor Penentu Kepribadian Adapun faktor-faktor penentu kepribadian, yaitu:
Keturunan merujuk pada faktor genetika seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan dari individu.
Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir.Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi. Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari faktor keturunan. Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan. Temuan ini mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode genetis sama yang memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan dan warna rambut. Para peneliti telah mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak lahir dan dibesarkan secara terpisah. Ternyata peneliti menemukan kesamaan untuk hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di antara anak-anak kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini juga memberi kesan bahwa lingkungan pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan kepribadian atau dengan kata lain, kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.
Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain. Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus tertanam dalam diri mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan karier.
2.1.3. Definisi Sehat
Sehat adalah keadaan fisik yang lengkap, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan. Sehat adalah suatu kondisi di mana segala sesuatu berjalan normal dan bekerja sesuai fungsinya dan sebagaimana mestinya. Secara sederhana, sehat sinonim dengan kondisi tidak sakit. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, definisi sehat adalah baik seluruh badan serta bagian-bagiannya. Dahulu, sehat identik dengan kondisi badan atau tubuh. Tapi sekarang seiring kemajuan zaman, kata sehat tidak hanya berhubungan dengan badan, tetapi juga segala sesuatu yang dapat bekerja, jika berlangsung secara normal dan semestinya maka akan di sebut dengan sehat. Tetapi jika mengalami gangguan maka di sebut dengan istilah tidak sehat.
Pengertian sehat menurut WHO atau organisasi kesehatan dunia adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Definisi sehat menurut WHO ini adalah sehat secara keseluruhan, baik jasmani, rohani, lingkungan berikut faktor-faktor serta komponen-komponen yang berperan di dalamnya.
b. Pengertian sehat menurut UU No.23 / 1992
Pengertian sehat menurut UU No. 23/1992 adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Artinya seseorang di katakan sehat jika tubuh, jiwa dan kehidupan sosialnya berjalan dengan normal dan sebagaimana mestinya. Jika salah satu komponen tersebut terganggu, maka kehidupannya akan menjadi tidak sehat.
c. Pengertian sehat menurut MUI
MUI dalam MUNAS Ulama 1983 mendefinisikan sehat sebagai ketahanan “jasmaniah, ruhaniyah dan sosial” yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri, dijaga, di pelihara, di kembangkan serta diamalkan sesuai dengan tuntunan-Nya.
d. Pengertian sehat menurut Paune 1983
Menurut Paune (1983), sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakan perawatan diri ( self care actions). Sumber perawatan diri (Self care Resouces) mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sedangkan Self care Actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan yang diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual.
Menurut Undang-Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling baru. Sehat menurut WHO terdiri dari suatu kesatuan penting dari 4 komponen dasar yang membentuk ‘positif health’, yaitu:
1. Sehat Jasmani
Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
2. Sehat Mental
Kesehatan mental atau kesehatan jiwa mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, khawatir, sedih dan sebagainya.
3. Sehat Spiritual
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
4. Kesejahteraan sosial
serta saling toleran dan menghargai. Penelitian tentang Kepribadian sebagai Risiko dan Ketahanan di Kesehatan Fisik oleh Timothy W. Smith (2006), telah memaparkan bahwa kronis kemarahan / permusuhan dan neurotisisme / efektifitas negatif merupakan faktor resiko kepribadian yang buruk.
2.1.5. Definisi Kepribadian Sehat
Kepribadian Sehat adalah keadaan individu yang mengarah pada perkembangan yang adekuat dan kemampuan mental yang memiliki kesesuaian fungsi, sehingga individu mampu mengembangkan kemampuan-kemampuan mentalnya secara lebih baik. Sedangkan menurut Hahn dan Payne (2003), Kepribadian Sehat (psychological wellness) merupakan keadaan individu yang mengarah pada perkembangan yang adekuat dan kemampuan mental yang memiliki kesesuaian fungsi, sehingga individu mampu mengembangkan kemampuan-kemampuan mentalnya secara lebih baik.
Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Dewi sadiah (2010), Seseorang dengan kepribadian sehat dapat memberikan kebahagiaan sebagaimana yang diharapkannya melalui kebiasaan (pembiasaan) dengan norma lingkungan dan hati nuraninya, bertujuan membangun karakter siswaatau seseorang menjadi mandiri, harmonis, bahagia, sholeh, jujur, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
2.1.6. Karakteristik Kepribadian Sehat
Individu yang memiliki kepribadian sehat seringkali dikenali sebagai mereka yang:
a. Dapat terbebas dari gangguan psikologis dan gangguan mental berat. b. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa kehilangan identitas.
c. Mampu mengembangkan potensi dan bakat.
d. Memiliki keimanan pada Tuhan dan berupaya untuk hidup sesuai ajaran-ajaran agama yang dianutnya.
mengembangkan potensi, memiliki cinta kasih, imaginasi, serta kesadaran diri yang baik. Sedangkan menurut Allport, individu berkepribadian sehat diistilahkan dengan mature personality, yang memiliki kemampuan mengembangkan dirinya, memiliki hubungan interpersonal yang baik, realistis, memiliki filosofi hidup, serta bersikap berani dan objektif terhadap diri sendiri. Istilah lain dari kepribadian sehat adalah self-actualize person (Maslow), serta oleh Victor Frankl disebut sebagai The meaning of people.
2.1.7. Teori-Teori dalam Kepribadian Sehat
Kepribadian sehat merupakan proses yang berlangsung terus-mene-rus dalam kehidupan manusia, sehingga kualitasnya dapat menurun atau naik. Hal inilah yang akan mempengaruhi kondisi kesehatan mental individu tersebut. Berbagai pendekatan dalam Psikologi juga membahas konsep-konsep kepribadian sehat, antara lain:
1. Teori Psikodinamik
Teori Psikodinamik menjelaskan individu yang memiliki kepribadian sehat sebagai individu yang:
a. Mampu untuk mencintai & bekerja (lieben und arbeiten)
(Freud): individu mampu peduli pada orang lain secara mendalam, terikat dalam suatu hubungan yang intim dan mengarahkannya dalam kehidupan kerja yang produktif. Selain itu, impuls seksual dapat diekspresikan dalam relasi dengan orang dewasa yang berlainan gender, sedangkan impuls yang lain tersalurkan dalam kegiatan sosial produktif.
b. Memiliki ego strength
Ego dari individu yang berkepribadian sehat memiliki kekuatan mengendalikan dan mengatur id dan superego-nya, sehingga ekspresi primitif id berkurang dan ekspresi yang sesuai dengan situasi yang muncul tanpa adanya represi dari ego secara berlebihan.
(Jung & Adler): mengungkapkan bahwa individu yang berkepribadian sehat merupakan self yang memiliki kekuatan untuk mengarahkan perilakumengembangkan potensi yang dimilikinya.
d. Mampu melakukan kompensasi bagi perasaan inferiornya
(Adler): juga menambahkan bahwa individu haruslah menyadari ketidaksempurnaan dirinya dan mampu mengembangkan potensi yang ada untuk mengimbangi kekurangannya tersebut.
e. Memiliki hasil yang positif dalam setiap tahap interaksinya dengan lingkungan sosial (Erikson): Setiap keberhasilan dalam tiap tahap psikososial yang diungkap Erikson memberikan kontribusi pada individu yang sehat kepribadiannya. Misal: bayi akan sangat baik apabila memiliki kepercayaan dasar, sehingga akan dapat berkegiatan aktif ketika masa sekolah, dan mampu memahami dirinya ketika remaja, yang akan membantu mereka menjalin relasi yang intim dengan pasangan setelah dewasa.
2. Teori Pensifatan (Trait)
Teori Pensifatan memiliki asumsi bahwa faktor herediter mempengaruhi kepribadian seseorang. Hal tersebut membuat teori trait menjelaskan kepribadian sehat sebagai bentuk kompilasi antara sifat-sifat yang diturunkan ke individu dengan kemampuan individu menyesuaikan diri dengan sifat tersebut dan lingkungannya. Pribadi yang sehat adalah individu yang mampu menemukan potensi positif dalam sifat-sifat yang dimilikinya serta mengarahkan sifat-sifat yang ada untuk menjadi apa yang diinginkannya. Adapun bentuk-bentuk penyesuaian dalam perspektif teori trait, dicontohkan sebagai mereka yang mampu mencari jenis pekerjaan dan aktivitas sosial yang sesuai dengan sifat-sifat yang dimilikinya.
3. Teori Belajar
untuk berperilaku adaptif, yaitu perilaku individu yang tepat menurut lingkungan dalam proses belajarnya dan menghasilkan reinforcement.
4. Teori Sosial-Kognitif
Teori ini mengungkapkan inidvidu dengan kepribadian sehat adalah mereka yang memiliki variabel-variabel:
a. banyak melakukan proses belajar-pengamatan b. mempelajari kompetensi (keterampilan tertentu) c. akurat dalam melakukan pengkodean situasi tertentu
d. akurat dalam memiliki ekspetansi dan efikasi diri yang positif e. dapat mengekspresikan emosi dengan baik
f. memiliki sistem regulasi diri yang efisien. 5. Teori Eksistensi-Humanistik.
Fokus dalam pembahasan kepriba-dian sehat adalah fungsi dari individu yang sehat secara psikologis. Adapun karakteristiknya adalah:
a. Mengalami hidup saat ini dan masa datang b. Terbuka terhadap pengalaman baru
c. Mengekspresikan ide dan perasaannya
d. Terlibat dalam aktivitas yang bermakna, memiliki perasaan bermakna serta mengalami pengalaman puncak
e. Mampu membuat perubahan besar dalam hidupnya, sehingga memiliki cara dalam menginterpretasikan pengalaman, berjuang menuju tujuan baru, dan bertindak dengan bebas.
f. Saya adalah saya, yaitu memiliki nilai dan cara sendiri untuk membangun peristiwa, dan memahami konsekuensi atau Resiko. Sehingga dapat mengantisipasi dan mengendalikan situasi tersebut.
2.1.8. Ciri-ciri Kepribadian Sehat dalam Kehidupan Sehari-hari
2. Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
4. Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5. Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya. 6. Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat
menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak).
7. Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
9. Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
10. Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
11. Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang)
2.2. Konsep dan Proses Hubungan Interpersonal dalam Kesehatan Mental 2.2.1. Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan. Tetapi, juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan “Ketertarikan interpersonal (Interpersonal Attraction)”.
Menurut Baron dan Byrne (2006), ”Interpersonal Attraction” adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang lain. Dimana penilaian ini dapat diekspresikan melalui suatu dimensi dari strong liking sampai dengan strong dislike atau dari yang biasa menjadi luar biasa. Dari segi psikologi komunikasi kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya. Makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya. Sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.
2.2.2. Komunikasi dalam Hubungan Interpersonal (Relasi)
Model Sosial disebut juga sebagai bentuk relationship dengan pertukaran yang adil. Tujuannya adalah mencapai kepuasaan kebutuhan di antara individu-individu yang terlibat (mutual satisfaction of needs). Beberapa istilah mengenai Model Sosial antara lain Exchange Theory (Thibaut dan Kelley, 1959), Reciprocity Theory (Altman dan Taylor, 1973), Equity Theory (Walster dan Berscheid, 1973) atau Economic Theory. Tiga prinsip dasar komunikasi dalam Model Sosial, yaitu:
a. Reward
Penghargaan merupakan semua bentuk keuntungan dari suatu hubungan yang memiliki nilai positif. Macam penghargaan ada yang nyata (makanan, seks, uang) dan kompleks (pengakuan, restu). Kondisi yang ditemui terkait dengan penghargaan adalah bahwa seringkali penghargaan diartikan berbeda antar individu. Selain itu, nilai terhadap penghargaan dapat berubah setiap waktu dari respon yang diperoleh.
b. Cost
Cost adalah semua bentuk kehilangan yang didapat dari suatu hubungan dan memiliki nilai negatif. Sering diistilahkan dengan kerugian. Cost memiliki macam emosional, waktu, dan biaya. Kesemuanya muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap respon yang diberikan individu lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi cost, antara lain faktor individual, waktu, dan berbagai aspek dalam hubungan itu sendiri. Seringkali terjadi dalam suatu hubungan, akan menjadi buruk apabila harapan atau tuntutan di antara mereka membebani atau terlalu besar.
c. Fair-exchange
Untuk membentuk suatu hubungan yang adil, kedua individu yang terlibat harus saling mengakomodasikan keuntungan maksimal dan kerugian minimal bagi pasangannya. Hal tersebut dapat dicapai apabila keduanya saling mencari dan mengkomunikasikan hal-hal yang saling memuaskan keduanya.
2. Transactional analysis model.
Seringkali disebut dengan Teori Permainan yang mengkombinasikan antara ego states dan transaksi eksternal (Berne, 1964 dan Harris, 1967). Konsep dasar model ini adalah:
a. Ego states
Merupakan konsep yang menjelaskan sistem yang berhubungan antara perasaan dalam diri individu dengan persepsinya yang dimanifestasikan dalam pola-pola perilaku, seperti kata-kata yang diucapkan, perubahan suara, ekspresi wajah, gerak tubuh,dan posisi tubuh.
b. Transaction
Transaksi adalah pertukaran antara individu yang terlibat memberi stimulus dan individu yang merespon di antara masing-masing ego state mereka. perkembangan kita terutama dari orangtua. c. Stroke
Merupakan tanda perhatian atau sentuhan pada individu lain. Stroke positif bersifat menyenangkan bagi orang lain, misal: senyuman, pelukan, tepukan bahu, acungan ibu jari. Stroke negatif menunjukkan perasaan tidak menyenangkan ke orang lain, misal: omelan, wajah cemberut.
d. Life position
Menunjukkan empat tipe individu dalam posisi Ok atau tidak Ok dalam suatu hubungan dengan orang lain.
1. Depresif
2. Sia-sia (abuse victim)
karakteristiknya: “saya memang jelek tapi orang lain lebih jelek”, memusuhi orang lain, merendahkan orang lain, ingin menyakiti orang, waspada.
3. Sehat
karakteristiknya: “kita semua akan berhasil”, nyaman dengan diri sendiri, nyaman bersama orang lain, merasa tidak perlu merendahkan orang lain, tidak ingin menyakiti, tidak memasang benteng.
4. Paranoid
karakteristiknya: cenderung selalu usaha membuktikan siapa pemenang, suka kekuasaan, selalu ingin unggul, mengenyahkan orang lain yang ingin dekat, curiga akan disakiti.
3. Model peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Kemampuan memerankan peranan tertentu, serta mampu menghindari konflik peranan bila individu tidak sanggup mempertemukan berbagai peranan yang kontradiktif.
4. Model Permainan
kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
2.2.3. Memulai Suatu Hubungan.
Dalam memulai suatu relasi, individu satu dengan yang lain biasanya melalui proses berikut:
1. Ketertarikan interpersonal.
Individu mulai tertarik pada individu lain karena beberapa faktor berikut: a. Kedekatan fisik (physical proximity), misal: satu fakultas, tetangga
dekat.
b. Kesamaan diri, contoh: punya kesamaan prinsip, sikap, atau latar sosial budaya.
c. Saling menyukai (mutual liking). Penelitian Aronson (1980) yang terkait:
1) kita akan menyukai orang yang menyukai kita 2) orang akan menyukai kita apabila kita menyukainya
3) kita lebih menyukai seseorang yang rasa sukanya mulai muncul atau bertambah kepada kita, daripada dengan orang yang telah dari dulu menyukai kita.
4) Ketertarikan fisik, biasanya tergantung pada standar individu, jenis kelamin, dan budaya.
5) laki-laki menyukai perempuan karena daya tarik seksualnya. 6) perempuan menyukai laki-laki karena kepribadiannya atau
kecakapannya. 2. Pembentukan kesan.
kesan antara lain: jenis kelamin, usia, ras, daya tarik fisik, cara berpakaian. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kesan:
a. Terbatasnya informasi
b. Kesamaan (asumsi kesamaan), membandingkan objek dengan diri kita.
c. Isyarat yang keliru, seperti: perempuan yang ramah pasti mau diajak kencan.
d. Stereotipe, merupakan keyakinan umum, seperti: rambut gondrong pasti anak berandal; profesor biasanya berkepala botak.
e. Kesalahan logis, seperti: orang yang mudah menarik perhatian biasanya cerdas dan intelek atau orang sukses dan sebaliknya. Hallo effect dan devil effect, rasa suka atau tidak suka akan mempengaruhi penilaian kita terhadap perilaku orang lain.
3. Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah.Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan.
4. Pemutusan hubungan
Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang berjudul Conflict Among Humans, setidaknya ada lima sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu:
a. Kompetisi , dimana salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain. Misalnya, menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan orang lain.
b. Dominasi , dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang tersebut merasakan hak-haknya dilanggar.
d. Provokasi , dimana salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan yang lain.
e. Perbedaan nilai , dimana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
2.2.4. Peran dalam Suatu Hubungan
Hubungan antar individu dapat berkembang karena dipengaruhi oleh peran sosial dan perilaku yang diharapkan, tujuannya mencari kesesuaian antara satu dengan yang lain.
1. Model peran
Peran adalah perilaku yang diharapkan, biasanya dihubungkan dengan posisi yang diberikan atau status sosial yang dimiliki seseorang. Peran memudahkan individu dalam bersosialisasi, bahkan sebelum dirinya mampu memahami dan mengendalikan perilaku secara rasional. Peran seseorang dapat berubah seiring berjalannya waktu.
2. Kesesuaian dan konflik peran.
Kesesuaian dan konflik peran muncul sebagai akibat adanya beberapa peran yang dimiliki individu sekaligus. Fleksibilitas peran adalah kemampuan individu menyelaraskan satu sama lain peran yang dimilikinya atau memindahkan satu peran ke dalam peran yang lain. Seharusnya apabila antar peran berkonflik, maka salah satu ada yang harusnya dikalahkan dari yang lain.
3. Peran yang autentik.
Peran yang dimiliki seseorang dapat bersifat natural dan palsu. Yang perlu menjadi perhatian adalah adanya overidentifying dimana satu peran dominan dari peran yang lain, terkadang kita hanya sedikit mengenali diri dalam peran kita sendiri, dan kesadaran bahwa berperan adalah lain dengan harapan sosial.
1. Konsep keintiman.
Membicarakan suatu relasi yang intim, akan mengarahkan kita pada aspek emosional manusia yang biasanya dikaitkan dengan ikatan cinta. Termasuk di dalam relasi yang intim adalah kedekatan antara individu, saling berbagi, adanya komunikasi, dan usaha untuk saling mendukung. Keintiman memiliki arti kelekatan personal kepada individu lain, dimana pasangan tersebut saling berbagi pemikiran dan perasaan terdalamnya. Sedangkan hubungan personal (intim) merupakan hubungan yang memiliki kedekatan emosional antara dua orang atau lebih, seperti dengan teman, kekasih, sahabat, yang mungkin Atau tidak melibatkan keintiman baik secara fisik atau seksual. Berdasarkan pendekatan dalam Teori Hubungan Interpersonal, keintiman dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Fair-exchange model.
Keintiman merupakan hubungan satu sama lain tidak menghitung untung-rugi, antar pasangan saling memberi dan menerima secara spontan di mana satu sama lain merasa terpuaskan.
2. Transactional analysis model.
Keintiman melibatkan kasih sayang, game-free transaction antar pasangan, dengan sedikit manipulasi di antara keduanya.
3. Role model.
Keintiman diharapkan sebagai hubungan personal yang kaya, memiliki komunikasi yang terbuka antara pasangan, dan keterlibatan mendalam secara emosional melebihi peranperan lain yang diharapkan.
2. Kondisi-kondisi yang berhubungan dengan keintiman.
Keintiman bukanlah suatu relasi yang begitu saja terjadi. Suatu hubungan interpersonal dapat berkembang lebih mendalam menjadi intim, apabila kondisi-kondisi berikut ini berkembang ke arah positif. Adapun, kondisi tersebut adalah:
Mutual self-disclosure dapat diartikan sebagai kesadaran antara dua orang atau lebih untuk berbagi pemikiran dan perasaan terdalamnya. Pengungkapan diri berhubungan erat dengan kepercayaan (trust). 2. Kesesuaian pribadi (compatibility)
Kesesuaian pribadi merupakan faktor yang menghubungkan antara pengungkapan diri dengan keintiman pada individu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kesesuaian adalah kesamaan: budaya, sosial, latar pendidikan, minat, temperamen, pemikiran, serta keinginan saling melengkapi.
3. Saling membantu
Kondisi saling membantu dalam suatu relasi terdiri atas keinginan membantu pasangan serta keinginan mendapatkan bantuan dari pasangan (mutual). Tahapan dalam kondisi tersebut adalah memahami pasangan dengan arah berempati, unconditional giving, dan menyesuaikan diri dengan gaya
keintiman pasangan.
3. Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sebagai konsekuensi adanya daya tarik menyebabkan interaksi sosial antar individu menjadi spesifik atau terjalin hubungan intim. Orang-orang tertentu menjadi istimewa buat kita, sedangkan orang lain tidak. Orang-orang tertentu menjadi sangat dekat dengan kita, dibandingkan Orang-orang lain. Adapun bentik intim terdiri dari persaudaraan, persahabatan, dan percintaan. Lebi h jauh mengenai bentuk-bentuk hubungan intim tersebut daoat dijelaskan pada bagian berikut :
1. Persaudaraan
Hubungan intik ini didasarkan pada hubungan darah. Hunungan intim interpersonal dalam persaudaraan terdapat hubungan inti ssperti dalam keluarga kecil. Pada persaudaraan itu didlamnya terkandung proximitas dan keakraban.
Persahabatan biasanya terjadi pada dua individu yang didasarkan pada banyak persamaan. Utamanya persamaan usia. Hubungan dalam persahabatan tidak hanya sekedar teman, lebih dari itu diantara mereka terjalin interaksi yang sangat tinggi sehingga mempunyai kedekatan psikologis. Indikasi atau tanda-tanda bila dalam hubungan interpersonal terjadi persahabatan yaitu : sering bertemu, merasa bebas membuka diri, bebasmenyatakan emosi, dan saling tergantung diantara mereka.
3. Percintaan
Persabatan antar priab dan wanita bisa berubah mejadi cinta, jika dua individu itu merasa sebagai pasangan yang potensial seksual. Dalam suatu persahabatan, dapat melahirkan satu proses yang namanya jatuh cinta. Hal ini terjadi karena ada dua perbedaan mendasar antara persahabatan dan cinta.
4. Intimasi & Pertumbuhan
Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Kemudian, Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing- masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
teori ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa.
2.3. Permasalahan Seputar Hubungan Interpersonal
2.3.1. Contoh-Contoh Masalah Hubungan Interpersonal dan Cara Penyelesaiannya
1. Kasus Pertama dan Penyelesaiannya:
Contoh salah satu hubungan interpersonal antara teman SMA saya dengan temannya yang lain. Anggap saja teman SMA saya ini bernama Bani, dan temannya yang lain ini bernama Nana.Teman saya, Bani, sangat menyukai Nana. Walaupun sebenarnya Bani tahu bahwa Nana sudah mempunyai pacar.Tetapi Bani tetap mendekatiNana. Bani adalah anak yang cukup pintar di sekolah. Khususnya dalam pelajaran fisika. Kepintaran Bani dalam pelajaran ini dimanfaatkan Nana. Kebetulan mereka berada di satu kelas yang sama. Selain itu, Bani duduk di belakang Nana. Sehingga setiap kali ulangan, Nana selalu mencontek ulangan Bani. Hal ini tidak terjadi pada saat ulangan saja, tetapi juga ketika ada PR. Bani selalu mengerjakan di rumah, sedangkan paginya sebelum bel masuk, Nana mencontek PR Bani. Bani senang – senang saja karena dengan hal itu, dia bisa tetap dekat Nana, perempuanyang disukainya. Dan dalam hubungan interpersonal ini,tentu saja Nana menjadi orang yang paling diuntungkan. Karena dengan mencontek pekerjaan Bani, nilai – nilainya menjadi bagus.Dalam contoh hubungan interpersonal yang saya jelaskan diatas, merupakan contoh kasus nyata bagi teori hubungan interpersonal, yaituMetodePertukaran Sosial. Teori ini menganggap bahwa suatu hubungan interpersonal adalah sebuah transaksi dagang. Atau lebih mudahnya, seseorang berhubungan dengan orang lainnya karena mengharapkansuatu keuntungan. Dalam kasus diatas, motivasi utama Nana untuk tetap dekat dengan Bani adalah agar tetap dapat mencontek pekerjaan Bani, baik dalam bentuk PR maupun ulangan.
2. Kasus Kedua dan Penyelesaiannya
pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Solusinya adalah perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lainnya, tinjau kembali dan sesuaikan dengan hasil eksplorasi diri sendiri, atur dan rencanakan pertemuan antara individu-individu yang terlibat konflik, memantau sudut pandang dari semua individu yang terlibat
3. Kasus Ketiga dan Penyelesaiannya
vonis dokter bahwa kedua ginjalnya telah rusak, jika tidak segera mendapatkan donor ginjal maka nyawanya tidak terselamatkan. Di saat itu Mira menemaninya di rumah sakit dan ia bersedia mendonorkan satu ginjalnya untuk sahabatnya Ela. Persahabatn yang telah lama terjalin itu memiliki sedikit kerancuan, dimana Ela memiliki perasaan iri hati karena banyak teman-teman laki-laki yang menyukai Mira, akan tetapi Ela terus berusaha untuk menutupi perasaan itu dan mencoba intropeksi diri. Suatu ketika Mira mengenalkan pacarnya yang bernama Mad kepada Ela, dan dengan cepat mereka menjadi akrab. Mad dan Ela saling memberi semangat ketika salah satu dari merreka ada masalah, dan setelah berjalan beberapa tahun Ela pun memiliki perasaan kepada Mad yang lebih dari sekedar sahabat. Suatu hari ayah Ela di tugaskan ke Malaysia, sehingga ia juga di ajak ayahnya untuk ikut bersamanya dan kuliah di sana, sehingga ia harus berpisah jauh dengan sahabatnya Mira dan Mad. Meskipun di tempat yang jauh dan sibuk dengan aktifitas masing-masing, mereka masih menyyempatkan untuk berkomunmikasi lewat telfon dan sms satu hari dalam seminggu. Pada beberapa bulan kemudian Ela mengungkapkan perasaannya kepada Mad. Mad pada keadaan ini sangat bingung, ia juga memiliki perasaan itu kepadanya, akan tertapi ia juga sudah berkomitmen untuk tetap setia bersama Mira. Sehingga Ela dan Mad pun memutuskan untuk tetap menjalin persahabatan. Setelah beberapa bulan Ela pun mengungkapkan perasaannya lagi kepada Mad, dan Mad pun bertambah bingung dan masih memberikan jawaban yang sama, sehingga Ela bertambah perasaan iri dan pada saat itu pun ia berubah menjadi sangat benci terhadap Mira. Ia berpendapat bahwa Mira telah merebut apapun yang ia inginkan, sehingga pada saat itu pula hubungan persahabatan Ela dengan Mira dan Mad berahir. Di tempat yang baru Ela bertemu teman-teman baru sehingga Ela sudah tidak lagi seperti Ela ketika bersama Mira dan Mad, ia kini berubah menjadi seseorang yang tidak mementingkan agama, sehingga mereka semakin terpisah jauh.
dapat menyebabkan hubungan interpersonal berakhir. Namun sebaliknya, konflik dapat membuat kualitas sebuah hubungan interpersonal.
Menurut R.D Nye, ada lima sumber konflik, yaitu sebagai berikut :
a. Kompetisi, salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain.
b. Dominasi, salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu merasa hak-haknya dilanggar.
c. Kegagalan, masing-masing pihak menyalahkan yang lain jika tujuan bersama tidak tercapai.
d. Provokasi, salah satu pihak terus menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui dapat menyinggung perasaan orang lain.
e. Perbedaan nilai, kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
Dari sini maka terlihat dimana terdapat kemungkinan bahwa Ela mungin memiliki perasaan untuk berkompetisi dengan Mira, itu terlihat dari perasaan iri hatinya terhadap Mira dan hampir semua yang di sukai Mira juga di inginkannya. Pengorbanan membuat persahabatan mereka erat, akan tetapi karena konflik yang di sebabkan perbedaan nilai, kegagalan dan kompetisi membuat mereka berpisah. Bahkan ketika Ela jauh dengan Mira dan Mad kemungkinan ada teman yang memprovokasinya, karena saat bersama Mira ia masih bisa menerima situasi seperti itu, akan tetapi ketika ia jauh dari Mira ia tidak bisa menerima situasi penolakan atau kegagalan tersebut.
2.4. Manajemen Konflik Interpersonal 2.4.1. Definisi Konflik
kejadian, dimana konflik terjadi dari suatu ketidaksetujuan antara dua orang atau organisasi dimana seseorang tersebut menerima sesuatu yang akan mengancam kepentingannya. Jadi, konflik dikatakan sebagai sebagai proses, merupakan suatu rangkaian tindakan yang dilakukan oleh dua orang atau kelompok berusaha menghalangi atau mencegah kepuasan dari seseorang.
2.4.2. Kategori Konflik
Menurut Marquis & Huston (2010), mengemukakan bahwa konflik dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: konflik intrapersonal, konflik interpersonal, dan konflik interkelompok.
1. Konflik intrapersonal terjadi didalam diri orang tersebut.
Konflik intrapersonal meliputi upaya internal untuk mengklarifikasi nilai atau keinginan yang berlawanan. Bagi manajer, konflik intrapersonal dapat disebabkan oleh berbagai area tanggung jawab yang terkait dengan peran manajemen. Tanggung jawab manajer terhadap organisasi, pegawai, konsumen, profesi, serta diri sendiri kadang kala menimblkan konflik dan konflik tersebut diinternalisasi. Timbulnya kesadaran diri dan secara sadar bekerja untuk menyelesaikan konflik segera setelah pertama kali dirasakan adalah hal yang sangat penting bagi kesehatan mental dan fisik pemimpin tersebut.
2. Konflik interpersonal terjadi antara dua orang atau lebih
Konflik interpersonal terjadi antara dua orang atau lebih dengan nilai, tujuan, dan keyakinan yang berbeda. Orang yang mengalami konflik ini dapat mengalami pertentangan dalam komunikasi ke atas, ke bawah, horizontal, dan diagonal.
3. Konflik interkelompok terjadi antara dua orang atau lebih kelompok orang, departemen, atau organisasi.
Contoh konflik interkelompok adalah penggabungan dua partisipan dengan perbedaan keyakinan yang sangat besar.
Banyak faktor yang bertanggung jawab terhadap terjadinya konflik, terutama dalam suatu organisasi. Arwani & Supriyatno (2005) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor-faktor yang bertanggung jawab atas terjadinya konflik, yaitu:
1. Perilaku Menentang
Perilaku menentang, sebagai bentuk dari ancaman terhadap suatu dialog yang rasional, dapat menimbulkan gangguan penerimaan dan interaksi dengan orang lain. Perilaku ini dapat berupa verbal dan non verbal. Terdapat tiga macam perilaku menentang, yaitu a) competitive bomber yang bercirikan dengan perilaku yang mudah menolak, menggerutu dan menggumam, mudah untuk tidak masuk kerja, dan merusak secara agresif yang disengaja. b) Martyred accommodation merupakan suatu kepatuhan terhadap kerja sama dengan orang lain, tapi kepatuhannya itu palsu atau semu, sambil menghina dan mengejek. c) Avoider merupakan suatu penginderaan kesepakatan yang telah dibuat dan menolak untuk berpartisipasi.
2. Stress
Stres juga dapat mengakibatkan terjadinya konflik dalam suatu organisasi. Stres juga dapat disebabkan oleh banyaknya stressor yang muncul dalam lingkungan kerja seseorang. Contohnya, terlalu banyak atau terlalu sedikit beban yang menjadi tanggung jawab seseorang jika dibandingkan dengan orang lain yang ada dalam organisasi, misalnya di ruangan bangsal keperawatan.
3. Kondisi Ruangan
ruangan. Hal ini dapat memperparah kondisi ruangan yang mengakibatkan terjadinya konflik.
4. Nilai atau Keyakinan
Nilai atau keyakinan, adanya perbedaan nilai dan keyakinan antara satu orang dengan orang lain dapat menimbulkan terjadinya konflik. Misalnya, perawat begitu percaya dengan persepsinya sendiri tentang pendapat pasiennya, dan tidak yakin dengan pendapat yang diusulkan oleh profesi atau tim kesehatan lain. Jika hal ini terjadi, secara tidak sederhana konflik muncul karena telah mengikutsertakan banyak variabel di dalamnya.
5. Eksklusifisme
Eksklusifisme merupakan adanya suatu pemikiran bahwa kelompok tertentu memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan kelompok lain. Hal ini tidak jarang mengakibatkan terjadinya konflik antarkelompok dalam suatu tatanan organisasi. Misalnya, pada sebuah kelompok didalam tatanan organisasi seperti bangsal keperawatan bahwa kelompok diberikan tanggung jawab oleh manajer untuk suatu tugas tertentu atau area pelayanan tertentu, lantas kelompok tersebut memisahkan diri dari system atau kelompok lain yang ada di bangsal tersebut, karena merasa bahwa kelompoknyalebih mampu dibandingkan dengan kelompok lainnya.
6. Kekurangan Sumber Daya Manusia
Kekurangan sumber daya manusia merupakan suatu tatanan dalam organisasi yang dapat dianggap sebagai sumber absolute terjadinya konflik. Sedikit tidaknya sumber daya insani atau manusia sering memicu terjadinya persaingan yang tidak sehat dalam suatu tatanan organisasi. Contohnya, persaingan untuk memperoleh uang melalui pemikiran bahwa segala sesuatunya pasti dihubungkan dengan uang, persaingan untuk memperebutkan menangani pasien, dan sangat tidak jarang juga terjadi persaingan dalam memperebutkan jabatan atau kedudukan.
7. Proses Perubahan
Perubahan yang sering dilkukan tergesa-gesa atau cepat, atau perubahan yang dilkukan terlalu lambat, dapat menimbulkan konflik. Individu yang tidak siap mnerima perubahan yang cepat, memandang bahwa perubahan tersebut merupakan suatu ancaman. Sedangkan individu yang selalu menginginkan perubahan akan menjadi tidak nyaman bila terjadi perubahan, atau perubahan dilkukan terlalu lambat dalam tatanan organisasinya
8. Imbalan
Imbalan ini terkadang tidak cukup berpengaruh dengan motivasi seseorang. Namun, jika imbalan dikaitkan dengan pembagian yang tidak merata antara satu orang dan orang lain sering menyebabkan munculnya konflik. Pemberian imbalan yang tidak didasarkan atas pertimbangan professional, maka ini akan dapat menimbulkan konflik juga.
9. Masalah Komunikasi
Masalah komunikasi juga dapat menimbulkan konflik. Contohnya, penyampaian informasi yang tidak seimbang, hanya orang-orang tertentu yang diajak berbicara oleh atasan, penggunaan bahasa yang tidak efektif, dan juga penggunaan media yang sering tidak tepat.
2.4.4. Proses Konflik
Menurut Marquis & Huston (2010), mengemukakan bahwa ada lima tahapan pada proses konflik, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap pertama, dimana pada tahap ini terdapat kondisi-kondisi yang bersifat laten, yang menjadi pencetus terjadinya konflik, misalnya kurangnya tenaga perawat dan perubahan yang cepat. Dalam tahap ini, kondisi tersebut siap berkembang menjadi konflik, walaupun belum ada konflik yang benar-benar telah terjadi dan mungkin tidak akan pernah terjadi. Misalnya, perubahan Pemotongan anggaran selalu menciptakan konflik. Oleh karena itu, kejadian seperti itu harus benar-benar dipikirkan. Sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum konflik yang disebabkan kondisi tersebut menjadi lebih serius.
peran. Konflik ini dikenali secara logis dan tidak melibatkan perasaan orang yang terlibat konflik. Kadang konflik pada tahap ini dapat diatasi sebelum diinternalisasi atau dirasakan.
3. Tahap ketiga adalah konflik yang dirasakan, dimana konflik yang dirasakan pada individu atau kelompok dan dengan cepat memberikan tanggapan yang emosional pada pihak lain. Jika konflik sudah dirasakan akan dapat menghambat kegiatan. Bila konflik tidak diselesaikan akan dapat berkembang lebih besar.
4. Tahap keempat adalah konflik yang dimanifestasikan, juga disebut konflik yang jelas, dan diperlukan adanya tindakan. Tindakannya dapat berupa persaingan, debat, saling mengalahkan, atau penyelesaian konflik. Jika konflik mencapai tahap ini, akan sulit mencari penyelesaian konflik tanpa menggunakan sumber lain.
5. Tahap kelima adalah akibat konflik. Akibat yang ditimbulkan konflik mungkin lebih terlihat daripada konflik ittu sendiri jika konflik itu tidak ditangani secara konstruktif. Konflik akan selalu menimbulkan dampak positif dan dampak negatif. Jika konflik dapat diatasi secara baik, maka hasil konflik akan meningkatkan hubungan kerja secara adil. Tetapi bila tidak diatasi secara baik,akan memperburuk hubungan kerja dan dapat menyebabkan lebih banyak konflik lagi.
2.4.5. Proses Penyelesaian Konflik
Menurut Vestal (1994) dalam Nursalam (2002), mengemukakan bahwa langkah-langkah menyelesaikan suatu konflik meliputi:
1. Pengkajian
dijelaskan tentang masalah dan prioritas fenomena yang terjadi. Menetukan masalah yang memerlukan suatu penyelesaian dimulai dari masalah tersebut. Hindari penyelesaian semua masalah dalam satu waktu. Menyusun tujuan, dimana dalam menyusun tujuan harus dijelaskan tujuan yang spesifik yang akan dicapai.
2. Identifikasi
Identifikasi meliputi mengelola perasaan, dimana dalam mengelola perasaan harus menghindari suatu respon yang berbeda terhadap kata-kata, ekspresi, dan tindakan.
3. Intervensi
Intervensi meliputi, masuknya konflik yang diyakini dapat diselesaikan dengan baik. Dalam proses identifikasi ini, hasil yang positif akan terjadi. Pada waktu menyeleksi metode dalam menyelesaikan konflik, penyelesaian strateginya berbeda-beda. Seleksi metode yang paling sesuai untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.
2.4.6. Strategi Manajemen Konflik Interpersonal
Ada beberapa strategi dalam menghadapi konflik interpersonal. DeVito mengemukakan lima strategi untuk mengatasi konflik (2007, p.296-305): 1. Win-Lose and Win-Win Strategies
Di dalam menghadapi sebuah konflik, cara penyelesaian konflik yang banyak dipilih adalah win-win solution dibandingkan dengan win-lose solution. Alasan utama pemilihan win-win solution adalah adanya kepuasan bersama dan tidak menimbulkan kebencian yang sering ditimbulkan oleh win-lose solution. Dengan win-win solution dua pihak yang berkonflik dapat menyelamatkan masing-masing image tentang dirinya.
2. Avoidance Active Fighting Strategies.
argumen atau masalah yang dikemukakan. Cara menghindar belum tentu menjadi cara yang baik untuk menyelesaikan konflik. Terkadang semakin banyak menghindar, kualitas hubungan semakin menurun.
3. Force and talk strategies
Ada beberapa orang berpendapat bahwa kekerasan merusak hubungan mereka, namun ada pula yang mengatakan kekerasan fisik bahkan memperbaiki hubungan mereka. Satu-satunya alternatif nyata adalah bicara.Sebagai contoh, keterbukaan, sikap positif, dan empati adalah titik awal yang cocok untuk menyelesaikan konflik. Selain itu cara yang baik adalah mendengarkan secara aktif dan terbuka.
4. Face Detracting and Face Enhancing strategies
Pendekatan untuk face-detracting dan face-enhancing untuk konflik interpersonal meliputi memperlakukan orang lain sebagai orang yang tidak kompeten dan tidak dapat dipercaya, tidak memiliki kemampuan atau buruk (Donahue & Kolt, 1992). Face-detracting ditemukan dalam bentuk konflik karena adanya ketidakpercayaan, merendahkan pasangan, dan lain-lain. Hal tersebut dapat berupa mempermalukan orang lain hingga merusak reputasinya. 5. Verbal aggressiveness and argumentativeness strategies
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULANKepribadian Sehat adalah keadaan individu yang mengarah pada perkembangan yang adekuat dan kemampuan mental yang memiliki kesesuaian fungsi, sehingga individu mampu mengembangkan kemampuan-kemampuan mentalnya secara lebih baik. Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan. Tetapi, juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan “Ketertarikan interpersonal (Interpersonal Attraction)”.
kesan, peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan. Hubungan antar individu dapat berkembang karena dipengaruhi oleh peran sosial dan perilaku yang diharapkan, tujuannya mencari kesesuaian antara satu dengan yang lain. Banyak faktor yang bertanggung jawab terhadap terjadinya konflik, terutama dalam suatu organisasi. Namun, penyusun telah mengkaji beberapa strategi dalam menghadapi konflik interpersonal.
3.2. SARAN
Kepribadian sehat dengan hubungan interpersonal sangat berkaitan erat dengan interaksi individu dengan lingkungan sosialnya. Semoga dengan mengkaji makalah ini, pembaca dapat menambah ilmu serta wawasan mengenai kesehatan mental. Serta pada akhirnya penyusun maupun para pembaca bisa menerapkan pengetahuan tersebut dalam interaksi sosial dengan lingkungan sekitar.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi, Kartika Sari.2012. Kesehatan Mental. Semarang: UPT UNDIP Press Semarang.
Bonnefoy, X.2007. Inadequate housing and health: an overview. Journal Environment and Pollution, Vol. 30, Nos. 3/4
Jalaluddin, Rakhmat.1996. psikologi komunikasi. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya
Sadiah, Dewi.2010. Pengembangan Model Pendidikan Nilai-Nilai Keberagamaan Dalam Membina Kepribadian Sehat. Jurnal Pendidikan, Vol. 11, No. 2
Smith, Timothy W.2006. Personality as Risk and Resilience in Phicycal Health, Association for Psychological Science, Vol. 15, No. 5
Denpasar Menjelang Ujian Nasional Berdasarkan Strategi Coping Stres. Jurnal Psikologi Udayana, Vol. 1, No. 1, 138-150 ISSN: 2354-5607
Widyarini, Nilam.2009. Membangun Hubungan Antar Manusia. Jakarta : Elex Media
Winata, Santi Yulia.2013. Strategi Manajemen Konflik Interpersonal Pasangan Suami Istri (Pasutri) Yang Hamil Di Luar Nikah. Jurnal E-Komunikasi. vol 1. no.2
http://arsip.uii.ac.id/files/2012/08/05.2-bab-2137.pdf (Diakses pada tanggal 17 Oktober 2015 Pukul 14.00)
http://indonesiaindonesia.com/f/76872-ciri-ciri-kepribadian-sehat-sehat/ (Diakses pada tanggal 18 Oktober 2015 Pukul 08.06)
http://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/11/hubinterpersonal.pdf (Diakses pada tanggal 17 Oktober 2015 Pukul 11.00)
http://psikologi.or.id/psikologi-umum-pengantar/hubungan-interpersonal. htm (Diakses tanggal 17 Oktober 2015 Pukul 13.00)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40667/4/Chapter%20II.pdf (Diakses pada tanggal 18 Oktober 2015 Pukul 12.23)
http://www.kamusq.com/2013/08/sehat-adalah-pengertian-dan-definisi.html#sthash.hjD1sIs2.dpuf (Diakses pada tanggal 18 Oktober 2015 Pukul 06.03)
http://www.psychologymania.com/2013/04/teori-hubungan-interpersonal.html
(Diakses pada tanggal 17 Oktober 2015 Pukul15.00)