.
Oleh:
MAHASISWA DAN MAHASISWI SPI SEMESTER 2 B
JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
i Bismillaahirrahmaanirrohiim,
Puji syukur Kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk, rahmat, dan
hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas ini tanpa ada halangan apapun sesuai
dengan waktu yang telah di tentukan.
Penyuntingan serta analisis isi dari sebuah Naskah yang berjudul Wawacan
Bayawak ini di susun dalam rangka memenuhi tugas pada mata kuliah Filologi. Penyusun
menyadari bahwa penyuntingan naskah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan.
Akhir kata, semoga suntingan naskah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan
umumnya bagi para pembaca. Aamiin.
Bandung, 23 Mei 2015
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Naskah dan Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan Penelitian ... 3
D. Pentingnya penelitian ... 3
E. Metode Penelitian. ... 3
F. Sumber Data. ... 5
BAB II KAJIAN TEORI ... 6
A. Deskripsi Naskah ... 6
B. Kritik Teks ... 6
C. Transliterasi ... 7
D. Terjemahan. ... 8
BAB III URAIAN NASKAH DAN SUNTINGAN NASKAH ... 9
A. Deskripsi Naskah ... 9
B. Pengantar Suntingan ... 10
C. Edisi Teks ... 11
D. Terjemahan Teks ... 278
E. Kolofon. ... 507
BAB IV ANALISI ISI, TEMA DAN AMANAT ... 508
A. Analisis Isi. ... 508
B. Tema. ... 529
C. Amanat. ... 530
BAB V PENUTUP ... 531
A. Kesimpulan. ... 531
B. Saran ... 533
DAFTAR PUSTAKA GLOSARIUM
1
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Peradaban manusia yang semakin hari semakin berkembang membuat
setiap komponen yang terlibat di dalamnya memberikan peran tersendiri untuk
turut serta mempengaruhi peradaban yang sedang terjadi pada saat itu. Bentuk
dari peradaban yang tengah berlangsungpun begitu banyak macamnya, jika dilihat
dari realita yang terjadi pada saat ini bagaimana peradaban berkembang dengan
setiap komponen memberikan peran tersendiri melalui perkembangan teknologi
yang semakin hari semakin canggih.
Selain daripada bentuk nyata yang dapat diberikan terhadap peradaban itu
sendiri, ternyata bentuk-bentuk karya sastra yang mencakup sebagian tulisan yang
dibuat oleh manusia pada suatu peradaban itu, dapat memberikan kontribusi yang
cukup signifikan untuk turut serta memengaruhi peradaban yang tengah
berlangsung. Seperti telah menjadi pengetahuan umum, juga bahwa salah satu
contoh nyata dari tulisan ataupun karya sastra dapat memengaruhi sebuah
peradaban adalah buku Api Sejarah karya Ahmad Mansyur Surya Negara.
Dimana dalam bukunya pengarang mengungkapkan sejarah yang dapat mengubah
pemikiran pembaca terhadap sejarah yang selama ini beredar di masyarakat.
Dalam ilmu sejarah sendiri keberadaan naskah-naskah karya sastra yang
dibuat pada peradaban dahulu, ternyata dapat pula dijadikan sebagai sumber
sejarah. Karena ternyata banyak peristiwa sejarah yang ditulis dan diabadikan
dalam bentuk karya sastra berupa sebuah cerita dan banyak pula yang dibungkus
dalam bentuk pupuh.
Berbagai hal yang dapat kita temukan di dalam sebuah naskah yang berisi
sejarah, informasi-informasi mengenai sebuah tokoh seperti Ceritera Dipati Ukur
yang tidak hanya menceritakan seorang tokoh yang bernama Dipati Ukur, akan
tetapi juga menceritakan mengenai sebuah tempat, yakni daerah Ukur dan
Ini menunjukan begitu berpengaruhnya kajian naskah kuno terhadap
sejarah, dan menunjukan bahwa filologi sebagai ilmu bantu sejarah ternyata
sangat penting, untuk mencoba mengaplikasikan metode penelitian dalam
filologi, pada kesempatan kali ini kami mencoba untuk mengkaji sebuah naskah
yang cukup terkenal di tataran sunda. Mengingat bahwa sebuah naskah, apalagi
naskah salinan tidak luput dari kesalahan. Baik itu kesalahan yang berupa salah
tulis dari penyalin ataupun kesalahan yang di sebabkan oleh pengaruh dari naskah
yang sudah lapuk.
Maka dari itu, kami mencoba mengkaji naskah mengenai “Wawacan
Bayawak” dengan menyajikannya dalam bentuk suntingan teks yang telah
mengalami proses transliterasi, terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia, serta
menyajikan identitas dari naskah “Wawacan Bayawak”. Untuk mempermudah pembaca dalam hal memahami hasil suntingan teks yang telah kami sajikan,
mengingat bahwa pembaca tidak hanya yang berasal dari sunda yang notabenenya
dapat memahami isi naskah dengan lancar, namun pembaca pun bisa saja orang
yang kurang memahami bahasa tersebut. Untuk itu kami mencoba menyajikannya
dalam format yang terstruktur dan sistematis.
B. Identifikasi Naskah dan Rumusan Masalah
Naskah yang mempuNyai judul Wawacan Bayawak ini berisikan tentang
sosok Bayawak yang di perlakukan secara berbeda dengan saudarinya yang
memilki wujud manusia yang sempurna. Naskah ini diperoleh dari salah satu
katalog koleksi museum Sri Baduga bandung.
Teks pada naskah ini masih menggunakan bahasa sunda kuno dan
beraksara pegon yang membuat naskah ini sukar untuk dipahami dimasa
sekarang. Sehingga memerlukan penerjemahan kedalam bahasa yang memang
mudah dipahami oleh pembaca.
Oleh karena itu kami berusaha untuk menyajikan naskah ini kedalam
bentuk transliterasi dan terjemahannya. Maka di awal sampai akhir pernyataan
2. Bagaimana suntingan dari naskah tersebut?
3. Bagaimana kandungan atau informasi apa yang terdapat dalam teks
naskah tersebut?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui dekskripsi dari naskah Wawacan Bayawak
2. Menyajikan suntingan dari naskah tersebut
3. Mengetahui informasi yang terkandung dalam naskah
D. Pentingnya Penelitian
Teks-teks yang digunakan sebagai bahan informasi yang akurat tentunya
harus ilmiah. Begitupun dengan naskah yang menceritakan kisah perjalanan
seorang manusia yang berwujud Biyawak, yang kami kaji pada awalnya ini
hanyalah sebuah naskah kuno yang hanya sebagai warisan leluhur saja. Sehingga
belum bisa dijadikan sebagai teks rujukan bagi ilmu pengetahuan. Tetapi mungkin
setelah diadakan penelitian secara filologis, naskah tersebut bisa membantu dan
memberi manfaat meskipun hanya sedikit bagi para pembaca untuk mendapatkan
informasi dibidang sejarah. Oleh karena itu, penting diadakannya penelitian,
mungkin naskah yang memuat berbagai informasi tersebut akan habis dimakan
waktu.
E. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam meneliti naskah tentang Wawacan
Bayawak ini adalah dengan metode yang berlaku dalam filologi. Adalah sebagai
berikut:
Pengumpulan data naskah atau inventarisasi naskah bertujuan untuk
mendapatkan naskah yang akan diteliti dengan cara mencatat dan
mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan naskah tersebut melalui
museum.
2. Pengolahan Data (Deskripsi Naskah)
Tahap kedua adalah pengolahan data dengan menggunakan metode
dekskriptif metode ini bertujuan untuk memberikan petunjuk atau mengenal
naskah yang diteliti. Dalam naskah mengenai wawacan Bayawak ini, di
dekskripsikan dengan pola antara lain: judul naskah, nomor naskah, tempat
peNyimpanan naskah, asal naskah, keadaan naskah, ukuran naskah, ukuran
teks, tebal naskah, jumlah halaman, jumlah baris halaman, penomoran
halaman, jenis aksara, cara penulisan, bahan naskah, bahasa naskah, umur
teks, nama pengarang, kolofon, watermaks, garis besar isi.
3. Sunting Teks
Dalam naskah tentang kisah seekor Bayawak ini menggunakan metode
standar karena naskah ini merupakan naskah tunggal. Metode standar karena
ini menerbitkan naskah dengan membetulkan kesalahan-kesalahan kecil dan
ketidak ajegan sedang ejaannya yang disesuaikan dengan ketentuan yang
berlaku. Semua perubahan yang diadakan dan dicatat ditempat yang khusus
agar dapat selalu diperiksa dan diperbandingkan dengan bacaan naskah
sehingga masih memungkinkan penafsiran bagi pembaca. Dalam edisi
standard dilakukan hal-hal berikut: transliterasi teks, membentulkan
kesalahan teks, membuat catatan perbaikan, memberi komentar, membagi
teks dalam beberapa bagian.
4. Terjemahan Teks
Terjemah teks pada naskah diteliti, peneliti menggunakan metode
terjemah bebas, karena agar memudahkan pembaca dalam membaca hasil
terjemahan dalam memahami makna dari teks tersebut.
sastra struktural. Dimana karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom
dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur
pembangunnya yang saling berjalinan.
F. Sumber Data
Pengumpulan sumber-sumber data yang kami gunakan dalam penilitian
naskah ini, kebanyakan dengan cara studi pustaka, karena naskah yang kami
dapatkan yaitu naskah tunggal sehingga tidak melakukan penelusuran naskah dari
berbagai macam katalog. Kemudian karena naskah yang menjadi objek kajian
kami yang isinya mengungkap tentang wawacan Bayawak, maka kami tidak
6
BAB II KAJIAN TEORI
A. Deskripsi Naskah
Tahapan penilitian filologi setelah inventarisasi naskah adalah identifikasi
naskah. Pola pendeskrisian naskah tersebut meliputi: (1) Judul Naskah, (2) Nomor
Naskah. (3) Tempat PeNyimpanan Naskah, (4) Asal Naskah, (5) Keadaan Naskah,
(6) Ukuran Naskah, (7) Ukuran Naskah, (8) Tebal Naskah, (9) Jumlah Halaman,
(10) Jumlah Baris Perhalaman, (11) Penomoran Halaman, (12) Jenis Aksara, (13)
Cara Penulisan, (14) Bahan Naskah, (15) Bahasa Naskah, (16) Umur Naskah, (17)
Umur Teks, (18) Nama Pengarang, (19) Kolofon, (20) Watermark, (21) Garis
Besar Isi.
B. Kritik Teks
Objek kajian atau sasaran kerja filologi yang berbentuk ril yaitu naskah.
Naskah yang di dalamnya memuat teks-teks yang berupa tulisan tangan baik itu
pada daluwang, lontar, kertas eropa dan semacamnya yang meNyimpan informasi
atau berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya masa lalu.
Teks-teks tersebut mungkin saja mengalami berbagai macam kesalahan dalam
penulisan itu terjadi karena mungkin penulis sedikit keliru, kurang apik atau
kurang teliti dalam penyalinan teks tersebut. Oleh karena itu, kita sebagai
konsumen informasi pengetahuan salah satunya dari manuskrip-manuskrip
tersebut. Apabila hal tersebut tidak di lakukan, di khawatirkan kemungkinan besar
keutuhan atau kemurnian teks itu tidak dapat di buktikan secara ilmiah yang
berarti keaslian teks tersebut di ragukan dan informasi yang di dapatkan dari teks
naskah tersebut meNyimpang dari maksud dan tujuan aslinya. Oleh karena itu,
dalam penilitan filologi di lakukan kegitan kritik teks.
Kritik teks memberikan evaluasi terhadap teks, meniliti dan menempatkan
teks pada tempat yang tepat. Kegiatan kritiks teks bertujuan untuk menghasilkan
sangat diperlukan pengetahuan dan wawasan luas yang harus di miliki oleh
peneliti bukan hanya sekedar menguasai teori filologi tapi juga menguasai dalam
Linguistik, ejaan, dan sebagainya. Oleh karena itu filologi membutuhkan
ilmu-ilmu bantu filologi.
Kritik teks mempuNyai beberapa metode diantaranya metode intuitif,
metode objektif, metode gabungan, metode landasan, dan metode edisi naskah
tunggal. Dalam mengkaji naskah ini, kami menggunakan metode edisi naskah
karena naskah yang kami teliti adalah naskah tunggal sehingga tidak mungkin
dilakukan perbandingan. Dalam metode edisi naskah tunggal terdapat dua jalan
yang bisa di tempuh. Pertama edisi diplomatik, yaitu menerbitkan suatu naskah
yang seteliti-telitinya tanpa mengadakan perubahan. Kedua, metode edisi standar
yaitu mengadakan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang ada dalam
naskah dan ejaannya di sesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
C. Transliterasi
Naskah yang menceritakan tentang kisah seorang manusia yang berwujud
Bayawak ini masih tertulis dalam bahasa sunda lama serta masih tertuang dalam
aksara pegon. Bahasa dan aksara ini, mungkin saja sukar dibaca bagi para
pembaca yang tidak yang bahasa sunda serta aksaranya. Oleh karena itu kami
sebagai pengkaji naskah tersebut akan mencoba mengkaji naskah tersebut
kedalam bahasa dan aksara yang insyaalloh mudah dimengerti oleh para pembaca.
Yaitu dari bahasa sunda ke bahasa indonesia sebagai bahasa sasaran yang juga
dari aksara pegon ke aksara latin.
Dalam kamus bahasa indonesia translitrasi adalah penyalinan dari
penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Istilah translitrasi
dipakai sama dengan istilah transkripsi dengan penggantian yang sama yaitu
penggantian jenis tulisan naskah. Tetapi apabila istilah transkripsi dibedakan
dengan istilah translitrasi maka transkripsi diartikan sebagai salinan atau turunan,
Adapun tugas pokok penelitian filologi dalam transliterasi adalah menjaga
kemurnian bahasa lama dalam naskah, khususnya penulisan kata, dan menyajikan
teks sesuai dengan pedoman ejaan yang berlaku sekarang.
D. Terjemahan
Terjemahan teks dari naskah yang berjudul Wawacan Bayawak dengan
aksara pegon dan berbahasa sunda ini akan di terjemahkan kedalam bahasa
indonesia sebagai bahasa sasarannya, merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
peneliti dalam rangka memberikan kepada para pembaca dalam membaca dan
memahami teks naskah tersebut. Tetapi, dalam kegiatan proses penerjemahan teks
ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena pertama kami menyadari akan
keterbatasan dalam memahami serta pembendaharaan bahasa tersebut. Sehingga
banyak bahasa yang belum kami ketahui dan mengerti. Tetapi kami berusaha
semaksimal mungkin untuk melakukan terjemahan teks ini, dengan bantuan–
bantuan dari sumber referensi. Kedua dalam proses penerjemahan pemaknaan
suatu kalimat tidak selalu konsisten dari bahasa asal ke bahasa sasarannya.
Tugas seorang filolog adalah bukan saja menyajikan suatu edisi teks atau
suntingan teks, tetapi harus menyajikan terjemahannya, khususnya bagi pembaca
yang tidak tahu bahasa asli teks tersebut. Oleh karena itu, peneliti harus harus
memilah dan memilih bahasa sasaran secara hati–hati agar hasil terjemahan itu
mudah dimengerti oleh pembaca.
Menurut Worsley (1927:124) mengingatkan bahwa kesulitan utama yang
sering ditemukan dalam proses terjemahan atau memberikan kesan atas
9
URAIAN NASKAH DAN SUNTINGAN NASKAH
A. Deskripsi Naskah
1. Judul Naskah : Wawacan Bayawak
2. Nomor Naskah : 07.142
3. Tempat PeNyimpanan Naskah : Museum Negeri Sri Baduga Jln BKR
No.185 Bandung 40243
4. Asal Naskah : Bandung
5. Tahun Ditemukan : 2005
6. Keadaan Naskah : Pada umumnya keadaan naskah masih
dapat di baca karena karena masih cukup
jelas sekalipun lapuk dan mulai rapuh.
7. Ukuran Naskah : ± 21cm x 29,7cm (A4)
8. Jumlah Halaman : 216 (51 Halaman Hilang)
9. Jumlah Baris Perhalaman : 13 baris perhalaman
10.Penomoran Halaman : Aksara Latin
11.Jenis Aksara : Arab Pegon
12.Cara Penulisan : Handscript (Tulis Tangan)
13.Bahan Naskah : Kertas Dluwang
14.Bahasa Naskah : Sunda Kuna
15.Umur Naskah : 109 Tahun (1328 H / 1906M)
16.Nama Pengarang : Tjajah (Penyalin)
17.Kolofon : Ada (Halaman 217)
18.Watermark : Berlambang Dinas Pariwisata Provinsi
Jawa Barat (Reproduksi)
19. Garis Besar Isi : Dalam naskah ini mengisahkan tentang
perjalanan hidup seorang manusia jelmaan Biyawak (Bayawak) yang
subtansi isi dari naskah tersebut terkandung berbagai macam aspek. Mulai
kebudayaan, kisah cinta, politik dan perperangan. Yang dikemas dalam cerita
berbentuk pupuh beraksara arab pegon dan berbahasa sunda.
B. Pengantar Suntingan
Dalam Wawacan Bayawak ini ada sebagian halaman naskah yang hilang
dikarenakan banyaknya faktor dalam pengelolaan naskah tersebut, baik itu dari
upaya pengumpulan maupun naskah dan perawatan naskah. Yaitu pada halaman
131 s/d 182 (51 Halaman). Tetapi, itu semua tidak menjadi faktor penghalang bagi
kami dalam upaya penelitian mengenai isi cerita yang terkandung dalam naskah
ini.
Sebagaimana yang dikemukakan pihak Museum Sri Baduga yang
merupakan tempat peNyimpanan dan pelestarian naskah-naskah termasuk naskah
Wawacan Bayawak, bahwa naskah tersebut di dapatkan dari masyarakat di
wilayah Bandung dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Dalam upaya
pelestarian naskah tersebut maka pihak museum melakukan proses Reproduksi
yaitu menyunting naskah asli kepada media kertas modern sesuai aslinya (dialih
mediakan), dikarenakan naskah yang asli sudah mulai rusak karena di Indonesia
fasilitas untuk pelestarian naskah masih kurang efektif.
Dalam proses penyuntingan naskah Wawacan Bayawak, terdapat
beberapa simbol yang kami gunakan agar mempermudah dalam segi pemahaman
isi dari naskah tersebut. Di antaranya:
1. /……./ : Tanda ini di gunakan sebagai penanda halaman
2. ……… : Tanda ini di gunakan sebagai penanda bila ada kata atau kalimat
yang sulit di baca.
Selain itu, kami menyertakan pula catatan kaki dalam setiap penyuntingan
I. PUPUH ASMARANDA
1.1Sang ratu nyaur paraji
1.2Teu lami paraji datang
1.3Ngadeuheuna ka sang ka tong
1.4Sang ratu énggal ngandika
1.51 indung beurang ayeuna
1.6Ieu Nyai rék ngajuru
1.7Indung geuwat peta-peta
2.1Seug pepeta Nyi paraji
2.2Ku matana nu rék bebar
2.3Nyi putri seug nyabok baé
2.4Paraji gigireunana
2.5Bari ngungkil daharan2
2.6Sang ratu gé henteu jauh
2.7Aya di siraheunana
3.1Barang baré3 jabang bayi
3.2Paraji daék ngocéak
3.3Sang ratu olohok baé
3.44 kabéh ningali putrana
3.5Langgéyor euleupeutan
3.6Aya orok siga belut
3.7Saumur kakara mendak
1 Eh
4.1Seug ngaringkuk murangkalih
4.2Ku paraji teu di cagap
4.3Paraji seug ngomong baé
4.4Gusti abdimah kakara
4.5Mendak nu kieu rupa5
4.6Sato naon kaulanun
4.7éh rupana siga kadal /7/
5.1Tunda nu tiheula bijil
5.2Permaisuri téh ngandika
5.3éh indung nu ka hot
5.4Ieu dina beuteung kula
5.5 Aya deui 6 karasa
5.6Parajina7 gancang ngurut
5.7Bari ngungkil padaharan
6.1Henteu ku ... lamih deui
6.28brag istri murangkalihna
6.3Cahaya cékas moncorong
6.4Lajeng baé di siraman
6.5Ku9 adat biasana
6.6Neukteuk santen jang ngabarut
6.7Beresih kuma biasa
7.1Seug di timang murangkalih
7.2Bari tuluy di jenengna
5 Na
7.4Déwi rara wujutama
7.5Geulis10 kabina bina
7.6 Nyi paraji amit mundur
7.7Geus idin ti kanjeng raja
8.111 gancang lampah murangkalih
8.2Sapuluh taun yuswana
8.3Tambah geulis Nyi putri téh
8.4Bayawak gé ngagedéan
8.512 putri tambah capétang
8.6Jeung sadérék lulun runtut
8.7Teu aya cawadeunana
9.1Hiji mangsa Nyai putri
9.2Ngadeuheunan /8/ ka sang raja
9.3Nyi putri nyembah jeung mendo
9.4Sang raja enggal mariksa
9.513ka manaputra ama
9.6Nyi putri nyembah ngawangsul
9.7Pariksa dawuhan ama
10.1Kaulanun kanjeng gusti
10.2Mawi abdi ngadeuheuna
10.3Ka payun rama bupatos
10.4Abdi amit arék leumpang
10 Geulisna
10.5Nyuhunkeun idin14 raja
10.6Abdi badé Nyiar ilmu
10.7Guguru ka syékh pandita
11.1Pandita dul kamar sidik
11.2Di patapan ténjolaya
11.3Sang raja gancang ngawalon
11.4Nyai kahayang na15 mamah
11.516 tong teuing elis nyaba
11.6Karana patapan itu
11.7Sangetna kabina bina
12.1Taya jalma anu wani
12.2Siluman ejin barudal
12.3Panas watekna éta téh
12.4Geus puguh bangsa manusa
12.5Taya pisan 17 nu nyorang
12.6Cacakan manuk nu ngapung
12.7Hiber ngungkulan kadinya
13.1Manuk ragrag tuluy mati
13.2Sakitu éta sangetna
13.3Nyi putri nyembah ngawalon
13.4Ama abdi arék mak /9/ sa
13.5Moal beunang di pegat18
13.6Sang raja énggal ngadawuh
14 Sang
15 Nyai kahayang mamah 16 Montong
14.1Gancang amit Nyai putri
14.2Lungsur ti payuneun raja
14.3Sang raja olohok baé
14.4Hanteu pisan sasauran
14.519 putri parantos angkat
14.6Ti nagri parantos jauh
14.7Putri angkat mileuweungan
15.1Di jalan sumegruk nangis
15.2Welas ninggalkeun rakana
15.3Angkatna putri teu jongjon
15.4Urang gancangkeun carita
15.520putri gebah angkatna
15.6Ténjolaya nu di jugjug
15.7Kocapkeun baé geus dongkap
16.1Nyai putri hatur bakti
16.2Ka payuneun syékh pandita
16.3Pandita dul komar ka hot
16.4Gancangna énggal mariksa
16.5Haturan geulis 21 dongkap
16.6Naon elis nu di maksud
16.7Dongkap ka payuneun ama
17.1Nyembah ngawalon Nyi putri
19 Nyi
17.2Henteu kudu di pariksa
17.3Ama nu langkung waspaos
17.4Pan /10/ dita deui ngandika
17.5Ama Nyai 22uninga
17.6Nu geulis dék Nyiar elmu
17.7Nyai 23 guguru ka ama
18.1Ama syukur liwat saking
18.2Nyai kitu mamanahna
18.3Di antos ti babaréto
18.4Urang gancangkeun carita
18.5Tetep putri di patapan
18.6Geus guru sagala élmu
18.7Kabelasan kajayaan
19.1Tunda lampah Nyai putri
19.2Nu aya di ténjolaya
19.3Bayawak nu kacarios
19.4Sabarang putri teu aya
19.5 24raja tara mariksa
19.6Dahar leueut teu di urus
19.7Nyatu di kajeunkeun pisan
20.1Bayawak sok mindeng ceurik
20.2Barina jeung sasauran
20.3Naha ama ka aing téh
20.4Mana nganiyaya pisan
22 Geus
20.6Lain cara rarawuju
20.7Nyaaheunana ka awak
21.1Ceuk Bayawak perihatin
21.2Kurang saré kurang dahar
21.3Ku raja di antep baé
21.4Gancangna jaka Bayawak
21.5Nangis bari26 midangdam
21.6Aduh Nyai rarawuju
21.7Ayeunamah akang tiwas /11/
22.1Ari dina mangsa hiji
22.2Sang Bayawak tuluy minggat
22.3Tengah peuting minggatna téh
22.4Ka leuweung asruk asrukan
22.5Leumpang27 saparan paran
22.6Hanteu puguh nu di jugjug
22.7Kanti ku sabari tawakal
II. PUPUH KINANTI
1.1Turun gunung unggah gunung
1.2Nyorang lebak nyugang pasir
1.3Gunungna enggeus kaliwat
1.4Nyorang kana tegal eurih
1.5Teu lami lampah Bayawak
1.6Tidinya béh manggih cai
25 Kapan
2.1Caina jero sarta liyuh
2.2Bayawak didieu cicing
2.3Cicing di sisi walungan
2.4Bayawak barina ceurik
2.5Ingeteun ka sadérékna
2.6Ka rarawuju nu geulis
3.1Aduh elis rarawuju
3.2Akang ayeuna mah mati
3.3Nyai sing sabar tawakal
3.4Masing bisa mawa diri
3.5Jeung akang Nyai papisah
3.6Mobisa kapanggih deui
4.1Gancang na Bayawak turun
4.2Ancrug kana jero cai
4.3Malikeun manéh Bayawak
4.4Ngalayong palid ka hilir
4.5Sok /12/ tunda lampah Bayawak
4.6Nu aya di jero cai
5.1Koco déwi rarawuju
5.2Di patepan keur prihatin
5.3Nyai putri mendak warta
5.4Nyéta rakana geus leungit
5.5Di tundung ku kanjeng raja
5.6Geus kabur ti jero nagri
6.3Bari nangis ngalehanat
6.4Pandita énggal ngalahir
6.5Aduh elis anak bapa
6.6Kunaon elis teh nangis
7.1Jong nyembah Nyi déwi wuju
7.2Unjukeun ka maha resik
7.3Bapa kuring téh amitan
7.4Sareng kuring neda idin
7.5Kuring amit badé mulang
7.6Rék nyusul dulur simkuring
8.1Pandita énggal ngadawuh
8.2Elis ulah rusuh teuing
8.3Bapa rék ngawaris heula
8.4Bapa boga cupu hiji
8.5Cupu jimat nu baheula
8.6Bapa ngawaris ka Nyai
9.1 Di jerona iyeu cupu
9.2 Aya kembang tilu /13/ siki
9.3 Arahéng kembang campaka
9.4 Campaka bodas nu hiji
9.5 Siki mulaya ka dua
9.6 Jeung campaka dadu kuning
10.1 Campaka bodas di catur
10.2 Lamun dianggo ku elis
10.4 Matak loba anu asih
10.5 Geus puguh bangsa manusa
10.6 Najan siluman sétan jin
11.1 Ka elis tangtuna nurut
11.2 Médaékeun sedih ati
11.3 Jeung iyeu cempaka ulah
11.4 Upama mendak nu mati
11.5 Ku Nyai geura wungkulan
11.6 Nu geus hilang hirup deui
12.1 Katilu cempaka dadu
12.2 Usapkeun ka suku Nyai
12.3 Tangtu bisa ngawang-ngawang
12.4 Henteu maké jangjang deui
12.5 Méh elis iyeu tampanan
12.6 Bapa ngawaris ka Nyai
13.1 Nyi putri nampanan tungkul
13.2 Bari nyembah anu ...
13.3 Nu bapa kuring tarima
13.4 Dipaparin jimat matih
13.5 ... kebat ngandika
13.6 Geus sedeng mangkat nu geulis /14/
14.1 Nyi putri gancangna munjung
14.2 Amat tipayuneun resik
14.3 ... saurna pandita
14.4 Diduakeun anu geulis
15.1 Gancangna Nyi putri tuluy
15.2 Mundur tipayuneun resik
15.3 Jimat cepuna di candak
15.4 Kebat angkat Nyai putri
15.5 Kaluar tipang tepatan
15.6 Geus mungkur ti maha resik
III. PUPUH PUNGKUR
1.1 Gandéang putri nu angkat
1.2 Di jalana segrak segruk bari nangis
1.3 éling ka resikna kabur
1.4 Palang siang 28geus hilang
1.5 Atawana aya nu meugabah batur
1.6 Putri teu jongjon angkatna
1.7 Luak lieuk alak ilik
2.1 Manggih liang di asupan
2.2 Nyai putri unggah gunung nyugang pasir
2.3 Rakana welah teu timu
2.4 Nyorang ... bandawasa
2.5 Leuleuweungan Nyi putri seug kapidangdung
2.6 Nyi putri ngeureunan palay
2.7 Dina handapeun caringin /15/
3.1 Leumpang putri urang tunda
3.2 Mangké ogé tangtu di omongkeun deui
3.3 Nya deui a29nu di catur
3.4 Kocap 30 hiji pandita
3.5 Di patepan gunung jinggan nu geus mashur
3.6 Pandita jén kakasihna
3.7 Kagungan putra sahiji
4.1 Pameget putra pandita
4.2 Rupa kayo jangkung leutik andelemi
4.3 Hésé pisan pantar kitu
4.4 Nama 31dén sélamaya
4.5 Hiji mangsa radén ku rama di saur
4.6 Ngadeuheus dén sélamaya
4.7 Ka payuneun maha resik
5.1 Pandita jén seug ngandika
5.2 Ujang kasép sélamaya anak aing
5.3 Nu matak radén di saur
5.4 Radén téh kudu angkat
5.5 Ka nagara majapait kudu jugjug
5.6 Deumeusan sang ratu maja
5.7 Radén bakal meunang mukti
6.1 Radén jaga sélamaya
6.2 Cédok nyembah bari nyumungkeun ka bumi
6.3 Ama jisim abdi nuhun
6.4 Kénging dawuhan ama
6.5 Taya /16/ sanés siang wengi nu di tunggu
29 Nu
6.7 Ayeuna sim abdi amit
7.1 Nyembah radén sélamaya
7.2 Radén mundur ti payuneun maharesik
7.3 Bari dangdan gusat gisut
7.4 Nyungk32 lang duhungna ladrang
7.5 Dasar kasép cahaya munggah ngagebur
7.6 Raden na33 kebah angkatna
7.7 Sejana ka majapait
8.1 Angkat radén sélamaya
8.2 Gedag gidig radén bari maut kumis
8.3 Mireungeuhna ngalér ngidul
8.4 Geus jauh pisan angkat34
8.5 Radén putra nyukang pasir unggah gunung
8.6 Geus nepi ka leuweung roban
8.7 Rohadén taya ka risi
9.1 Henteu lila deui datang
9.2 Tinu bala buta gede liwat saking
9.3 Awak rubak jangkung luhur
9.4 Huntuna ge35dé pisan
9.5 Panon beureum tina irung babakaur
9.6 Kélékna bijilan lalay
9.7 Ceulina sagedé hihid /17/
32 Nyungkelang
10.1 Ragag rigig éta buta
10.2 Tinu bala megatan ka radén mantri
10.3 Sélamaya seug ngadawuh
10.4 Naha buta kitu peta
10.5 Bet megatan ka aing dék naon maksud
10.6 Sia ngan36 ngaléléwaan
10.7 Taya kapatutan teuing
11.1 Buta téh ngabarakatak
11.2 Ngabedé ka éta buta bari seuri
11.3 Sarta bari unggak ingguk
11.4 Megatan bae di jalan
11.5 éta buta ka dén sélamaya seru
11.6 Dén sélamaya ngandika
11.7 éh naha sia nya37 jurig
12.1 Beuki motah éta buta
12.2 Ngagodana buta téh ka radén mantri
12.3 Dén mantri téh tuluy tungkul
12.4 Tungkul 38 bari ngamanah
12.5 Sélamaya di tangtukeun aing tarung
12.6 Tatapi da wani pisan
12.7 Ngalawan buta sahiji
13.1 Ulah heureuy ulah megat
36Kata ga di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai de gan suku kata dalam
pupuh
13.3 Beuki angot buta nafsu
13.4 Sélamaya rada wegah
13.5 Bati susah hadé ngalawan wé39 kitu
13.6 Tatapi kumaha béhna
13.7 Kos baé40 lain lalaki /18/
14.1 Herang hereng sada macan
14.2 Tuluy baé nyampeurkeun ka radén mantri
14.3 Barina ngomong malayu
14.4 Kieu pokna éta buta
14.5 Orang bagus dari mana luh nya kampung
14.6 Dengen sapa punya nama
14.7 Jangan diem lekas buNyi
15.1 Dén sélamaya ngajawab
15.2 Sia buta bet nanya ngaran ka aing
15.3 Ngaran aing anu tangtu
15.4 Kasebut 41 sélamaya
15.5 Lembur aing di patepan luhur gunung
15.6 Nu katelah gunung jinggan
15.7 Sia buta geura Nyingkir
16.1 Radén putra deui nanya
16.2 Ari sia buta saha ngaran deui
16.3 Ka aing geura ngawangsul
39 Bati susah hade ngalawan bae kitu
16.4 Sang buta tuluy 42 jawab
16.5 Ngaran aing kalapaksa nu geus mashur
16.6 Imah aing jero guha
16.7 Tukang rampog reujeung maling
17.1 Ayeuna gé awak sia
17.2 Tangtu baé sia ku aing di peuncit
17.3 Radén ngagilirkeun duhung
17.4 Sarta tuluy ngandika
17.5 Asa gampang pati batur /19/ di hahangu
17.6 Rohadén taya kagila
17.7 Moal mundur aing wani
IV. PUPUH DURMA
1.1 Tuluy baé dangdan radén sélamaya
1.2 Tangginas radén43 singkil
1.3 Di balit44 sinjangna
1.4 Sarta bari ngandika
1.5 Geura rontok ieu aing
1.6 Sangkala paksa
1.7 Segrak segruk bau dahdir
2.1 Tuluy baé ngarontok sangkala paksa
2.2 Ra 45dén Nyingceut nampiling
2.3 Tangginas 46 maya
42 Nga
2.5 Buta di kaél ngaguling
2.6 Tuluy di sépak
2.7 Buta cengkat di tampiling
3.1 Kokoséhan buta téh teu bisa hudang
3.2 Merekpek 48 dén nampiling
3.3 Sangkala 49 téh cengkat
3.4 Inget kana ajian
3.5 Ngaji bedas semu kuning
3.6 Tuluy di wejang
3.7 Keukeuh radén50 nampiling
4.1 Tadi rasa nampilingna radén putra
4.2 Kalapaksa /20/ angger seuri
4.3 Sangkala paksa ngandika
4.4 Béak51 panamu sia
4.5 Radén putra nyabut keris
4.6 Bari susumbar
4.7 52tadah keris nu aing
5.1 Kalapaksa nyodorkeun gemberu beuteungna
5.2 53téwak beuteung nu54 aing
5.3 Ti hareup atawa tukang
47 Henteu
48 Raden 49 Paksa 50 Téh 51 Eun 52 Geura 53 Geura
5.4 55sia geura pilihan
5.5 Anu uduh kulit aing
5.6 Suganna aya
5.7 Gancang néwak 56dén mantri
6.1 Di téwak téh kalapaksa seuseurian
6.2 Bari ngomong cengar cengir
6.3 Keris sia mintul57
6.4 58sia deui néangan
6.5 Keris nu seukeut jeng matih
6.6 Sugan na teurak
6.7 Kana59 beuteung nu60 aing
7.1 Enggeus kitu kersaning anu kawasa
7.2 Ra61dén dongko ka jangji
7.3 Ku buta di téwak
7.4 Tuluy bet62 di beubeutkeun63
7.5 Ku buta di banting banting
7.6 Mastaka bejad
7.7 Ra64dén lastari mati
8.1 Tuluy baé di bawa ka jero guha
8.2 Kalapaksa suka /21/ seuri
55 Ku
56 Radén 57 pisan 58 Cing 59 Kulit
60Kata a di ta bahkan berdasarkan dugaan pada teks agar sesuai dengan suku kata dalam pupuh 61 Rahadén
62Kata bet di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai de ga suku kata dala pupuh 63 Pisan
8.4 Di pendem saheulaan
8.5 Supayana ulah haNyir
8.6 Ngarah bauna
8.7 Buta66 kaluar deui
9.1 Megat deui di jalan anu ngaliwat
9.2 Di67 batu buta cicing
9.3 Henteu68 lila datang
9.4 Ny69i putri lar ngaliwat
9.5 Nganggo campaka Nyi putri
9.6 Campaka bodas
9.7 Meleber campaka70
10.1Kalapaksa kagét nénjo putri angkat
10.2 Ngadak ngadak buta asih
10.3 bari megat di jalan
10.4 Nyi putri téh di pegat71
10.5 Nyi putri taya ka risi
10.6 Ka buta nanya
10.7 Buta sia geura Nyingkir
11.1 Eujeung naon karep sia téh megatan
11.2 Hiling sia geura Nyingkir
65 Ari
11.3 Aing 72rék ngaliwat73
11.4 Buta tuluyna74 seu75ri76
11.5 Bari ngomong cengar cengir
11.6 Elis ké heula
12.5 Nyi putri ngajawab wani
12.6 Ngaran aing mah
12.7 Nyi83 déwi uju84 aing
13.1 Buta téa beuki tambah seseurian
13.2 Ngagakgak85 bau dahdir
13.3 Duh86 anak siapa
13.4 Elis 87tong teuing nyaba
13.5 Naon kahayang nu geulis
13.7 anu maranis
V. PUPUH DANGDANGGULA
1.1 Seug ngajawab Nyai89 Roro Déwi
1.2 Aing Buta teu boga kahayang
1.3 Sia Buta geura mantog
1.4 Kapaksa90 eunggat unggut
1.5 Nyingsieunan ka Nyai Putri
1.6 Huntuna gEugeurékan
1.7 Gancangna Nyi Ayu
1.8 Ku Buta tuluy di téwak
1.9 Seug di bawa ka jero guha Nyi Putri
1.10 Pantona 91 di tulakan
2.1 Barang asup ka guha Nyi Putri
2.2 Nyi Putri92 émut ka ajianna93
2.3 Boga aji sirep modél /22/
88 Kueh kueh
2.4 Paparin ti bapa94 guru
2.5 Waktu di napatapan95 Putri
2.6 Sirepna matih kacida
2.7 Ngarana si jentul
2.8 Tuluy ku Putri di wejang
2.9 Jeung ngariring maké lagu dangdang genis
2.10 Putri96 kieu saurna
3.1 Deuleu iyeuh poek liwat saking
3.2 Kutan kieu ari jero guha
3.3 Leumpang aing talag tolog
3.4 Dewa Agung kuring tulung
3.5 Ulah di poék-poék teuing
3.6 Mugi paparin caang
3.7 Ku Buta karungu
3.8 Ngadak-ngadak guha caang
3.9 Barang beré 97 Buta kagét liwat saking
3.10 Tuluy baé sasarean
94 Pa
4.1 Buta hees tibra liwat saking
4.2 Kaucap seugrak-seugruk kerékna
4.3 Nyi Putri seug indit baé
4.4 Di jero guha ngalantung
4.5 Heunteu lami deui Nyi Putri98
4.6 Mendakan anu99 hilang
4.7 Cahayana mancur
4.8 Ku Nyi Putri di deukeutan
4.9 Sidik hilang hanteu obah hanteu usik
4.10 Déwi100 Uju ngaleunyap
5.1 Tuluy /23/ baé nuhilang ku Putri
5.2 Ku campaka mulya diunggulan
5.3 Nu hilang téh lilir baé
5.4 Siga pisan 101 lulungu
5.5 Gasak-gusuk bari102 jeung seuri
5.6 Rawon di pangimpian
98 Putri
99 nu
5.7 Mendak Putri alus
5.8 Di103 Selamaya ngandika
5.9 Aduh Nyai haturan bagea sumping
5.10 Nyai téh nu104 ti mana
6.1 Lewat Putri nur Engkang simkuring
6.2 Naros heula ka salira Engkang
6.3 Engkang téh keur dameul naon
6.4 Mawi105 Enggang téh pupus
6.5 Raden Putra ngawanon 106 Putri
6.6 Ari ceuk yayasan témah
6.7 Arda leupa enung
6.8 Engkang nu nanya di Tanya
6.9 Kieu asal purwana engkang téh mati
6.10 Di jalan panggih 107 Buta
7.1 Buta ngarana Kalapaksa sakti
7.2 Seug megatan di jalan ka Engkang
103 Dina
7.4 Ku akang Buta 108 tumbuk
7.5 Kalapaksa di tumbuk seuri
7.6 Jeung bari cicing kelak /24/
7.7 Ka engkang téh nubruk
7.8 Engkang di téwak seug beunang
7.9 Tuluy baé akang téh di banting-banting
7.10 Na batu gedé pisan
8.1 Nyai Putri Rara ucu seuri
8.2 Sarta nyaur duh eta pakarang
8.3 Keris téh gawena naon
8.4 Lamun tewekeun 109 musuh
8.5 Raden Putra ngalawon110 deui
8.6 Keris ge111 heunteu teurak
8.7 Kalapaksa weduk
8.8 Akang geus béak tarékah
8.9 Putri nyaur duh iyeu mah matak watir
108 DI
109 Ka
8.10 Mambang112 ci soca medal
VI. PUPUH MASKUMAMBANG
1.1 Nyandak jimat campak da du Nyi Putri
1.2 Barina ngandika
1.3 Kang kuring ngilikan keris
1.4 Hayang nyaho di rupana
2.1 Tuluy baé Den Putra ngahaturkeun keris
2.2 Ku Putri di candak
2.3 Keris di tampa ku Putri
2.4 Tuluy di usapan jimat
3.1 Tilu kali di usapan eta keris
3.2 Nyi Putri ngandika
3.3 Sumangga kang iyeu keris
3.4 Geura teuweukeun ka Buta
4.2 Iyeu113 sugan teurak
4.3 Den Putra gancangan indit
4.4 Sareng kerisna di candak
5.1 Kalapaksa hées tibra liwat saking
5.2 Sesegor kérékna
5.3 Teu lami Den Putra sumping
5.4 Kaget Raden Selamaya
6.1 Tuluy baé Buta téh di geuing-geuing
6.2 Den Putra iyatna
6.3 Kalapaksa barang lilir
6.4 Di teuweuk ku Raden Putra
7.1 Barang cos téh ngagero sangkala pekni
7.2 Peujitna téh mudal
7.3 Sakarat seug tuluy mati
7.4 Suka cida Selamaya
8.1 Tuluy Raden nyamperkeun ka Nyai Putri
8.2 Jeung imuh sumpingna
8.3 Nyi Putri gancang mariksa
8.4 Kang kumaha Buta téh
9.1 Masih hirup atawana enggeus mati
9.2 Den Putra ngajawab
9.3 Perkara Buta geus mati
9.4 Beuteung nagé wani bedah
10.1 Nyai Putri Roro Uju suka seuri
10.2 Barina ngandika
10.3 Iyeu saur Nyai /26/ Putri
10.4 Seja naros kuring Engkang
11.1 Engkang téh sahanya Tuang 114 kakasih
11.2 Timana nagara
11.3 Jeung kuring kakara panggih
11.4 Den Putra tuluy ngajawab
12.2 Imah tapa hipan
12.3 Gunung jinggan luhur pasir
12.4 Balik akang deui nanya
13.1 Nyai115 oneng sahanya tuang kakasih
13.2 Sareungna timana
13.3 Saha Ibu Rama Nyai
13.4 Nyi Putri imut ngajawab
14.1 Nama kuring Déwi Uju Putra Gusti
14.2 Ratu Dimadenda
14.3 Ari seja jisimkuring
14.4 Néangan akang Bayawak
15.1 Mindo nyaur Raden Selamaya manis
15.2 Duh oneng nu lénjang
15.3 Pun akang téh badé ngiring
15.4 Kamana anu di seja
16.1 Mangka elis ayeuna urang arindit
16.2 Nyusul jeung raka
16.3 Mugi sing énggal pinanggih
16.4 Nyi Putri énggal ngajawab
17.1 Mangga Engkang ayeuna urang arindit
17.2 Gancangna Den Putra
17.3 Geus angkat /27/ jeung Nyai Putri
17.4 Kaluar ti jero guha
18.1 Dijalana Raden Putra sareng Putri
18.2 Dameul gogonjakan
18.3 Naek gunung nyukang pasir
18.4 Nu didahar dangdaunan
19.1 Urang tunda caritana Nyai Putri
19.2 Sareng Raden Putra
19.3 Anu kocap116 ganti deui
19.4 Kinanti gentos kumambang
1.1 Ganti deui nu dicatur
1.2 Tinatur upama distrik
1.3 lembur gede saé pisan
1.4 Bawah nagri maja pahit
1.5 Dilember gebang tinatur
1.6 Aya hiji randa Miskin
2.1 Nyi Randa Miskin di catur
2.2 Pagawean nana Nyair
2.3 Taya deui pakasaban
2.4 Isuk soré gawé Nyair
2.5 Ari dina hiji mangsa
2.6 Ka cai Nyi Miskin Nyair
3.1 Indit Nyair subuh-subuh
3.2 Lauk teu menang sahiji
3.3 Munggah dek sapoe pisan
3.4 Geus nepi ka ashar akhir
3.6 Nyi Miskin ngahiung ceurik
4.1 Bari balik suak-siuk
4.2 Nyiukan /28/ di sisi-sisi
4.3 Nu ka siuk sang Bayawak
4.4 Abus kana jero lambit
4.5 Nyi Miskin reuwaseun pisan
4.6 Nenjo anu lurik-lurik
5.1 Nyi Miskin rengho ngarancug
5.2 Garo singsat birigidig
5.3 Tuluy baé dedengékan
5.4 Bari ceurik jeba-jebi
5.5 Nyi Miskin kieu omongna
5.6 Jurig sia geura balik
6.1 Lambit aing mereun lapur
6.2 Kadieu keun eta lambit
6.3 Ku sia ulah di bawa
6.6 Bibi ulah rusuh ceurik
7.1 Bibi ulah jauh-jauh
7.2 Sing deukeut baé jeung kuring
7.3 Iyeu lambit mangga candak
7.4 Kuring heunteu niat maling 7.5 Nyi Miskin eureun ceurikna 7.6 Ngareungeu anu weuweuling
8.1 Nyi Miskin téh gura-giru
8.2 Ngadeukeutan kana lambit
8.3 Semu nu sieun kacida
8.4 Culang-cileung arék balik
8.5 Bayawak tuluy nyarita
8.6 Ulah reuwas-reuwas bibi
9.1 Kula117 téh gaduh pihatur /29/
9.2 Manawi terang jeung bibi
9.3 Bibi téh saha jenengan
9.4 lemburna timana bibi
9.5 Nyi Miskin seug ngawalonan
9.6 Ti gebang tinatar bibi
10.1 Ngaran Embi nu geus mashur
10.2 Katelah ku anak hiji
10.3 Anak Embi geus teu aya
10.4 Ngaran kasian geus mati
10.5 Embi téh Ambu kasian
10.6 Randa teu boga salaki
11.1 Embi Miskin liwat langkung
11.2 Ari gawe Embi Nyair
11.3 Taya deui pakasaban
11.4 Isuk sore Embi Nyair
11.5 Beunangna tuluy di jual
11.6 Di paké meli papais
12.1 Sang Bayawak mindo nyaur
12.2 Embi kuring neda idin
12.5 Mukasiyan ngawalonan
12.6 Bari ngarontok jeung ceurik
13.1 Bayawak tuluy di pangku
13.2 Di enjrung-enjrung di ais
13.3 Tuluy balik gagancangan
13.4 Ka imahna enggeus nepi
13.5 Pada nanya Mukasiyan
13.6 Meunang lauk naon Embi /30/
14.1 Di gebang dinatar guyur
14.2 Awéwé reujeung lalaki
14.3 Pada nganjang ka Nyi Randa
14.4 Kabéh hayang naringali
14.5 Kolot budak pada datang
14.6 Bau nang gaya anu ngais
15.1 Randa Miskin jadi untung
15.2 Loba béas reujeung duit
15.4 Kuéh-kuéh nu aramis118
15.5 Ti barang meunang Bayawak
15.6 Sémah rabul ka Nyi Miskin
16.1 Heubeulna heuteu di catur
16.2 Bayawak di Embu Miskin
16.3 Bayawak tuluy haturan
16.4 Ema kuring neda idin
16.5 Amit kuring arék leumpang
16.6 Niat kuring arék kuli
17.1 Nangkoda sugih rék tuluy
17.2 Balayar ka pulau paris
17.3 Kuring dek milu balayar
17.4 Sugan pareung arék kuli
17.5 Randa Miskin ngawalonan
17.6 Muju manéhna Nyi Miskin
VIII. PUPUH PUCUNG
1.2 Aduh 119 anak Ema
1.3 Ceuk Ema mah montong baé
1.4 Teu perlu Ujang arék balang siang
2.1 Didieu ge Ema heunteu kurang nyatu /31/
2.2 Kahakanan loba
2.3 Weuteuh baju jeung karémbong
2.4 Sakieu ge Ema téh tarima pisan
3.1 Sang Bayawak tidinya tuluy ngawangsul
3.2 Mun teu idin Ema
3.3 Kuring mah rék balik baé
3.4 Kuring téa mo cicing di imah Ema
4.1 Mukasiyan ngarengkul bari ngawangsul
4.2 Aduh anak Ema
4.3 Ujang ulah balik manéh
4.4 Cicing baé Ujang di dieu jeung Ema
5.1 Heunteu Ujang rék milu kuli mah sukur
5.2 Ema rék bebeja
5.3 Ka Tuan Nangkoda
5.4 Sugan pareng Nangkoda daekeun mawa
6.1 Tunggu baé Ujang Ema rék kaditu
6.2 Gancangan Nyi Randa
6.3 Ti imahna indit baé
6.4 Nu di seja ka bumi Tuan Nangkoda
7.1 Mukasiyan di jalan heunteu di catur
7.2 Ka Nangkoda dongkap
7.3 Nangkoda mariksa baé
7.4 Embu Miskin manéh téh arék kamana
8.1 Mukasiyan nyembah ngawalon jeung tungkul
8.2 Nun Tuan Nangkoda
8.3 Aya piunjuk /32/ abdi téh
8.4 Manawina rempag jeung Tuan Nangkoda
9.3 Sejana rék kuli baé
9.4 Anak abdi sipatna sato Bayawak
10.1 Ki Nangkoda ka Nyi Miskin seug ngawangsul
10.2 Mu Miskin eta mah
10.3 Perkara anak manéh téh
10.4 Hade pisan rék kuli milu balayar
11.1 Seug bejakeun ka anak manéh kaditu
11.2 Yen kami balayar
11.3 Tangtuna poé pageto
11.4 Mukasiyan nyembah amitan rék mulang
12.1 Mukasiyan tuluy balik gura giru
12.2 Mukasiyan tunda
12.3 Ki Nangkoda ka carios
12.4 Harita ge tuluy baé dangdan-dangdan
13.1 Tuluy mangkat Nangkoda jeung batur
13.3 Kocap120 geus datang sakabeh
13.4 Tuluy baé harita ge bébér layar
14.1 Héran kabeh kapalna teu daék maju
14.2 Angin géde pisan
14.3 Kapal namah cicing baé
14.4 Ki Nangkoda geus kitu tuluy neneda /33/
15.1 Mugi-mugi iyeu kapal hayang maju
15.2 Ki Nangkoda hajat
15.3 Motong sapi sareng embé
15.4 Jeung ngaurkeun uang perak ka sagara
16.1 Kapalna mah jongjon baé henteu maju
16.2 Reuket jeung sagara
16.3 Kawas di legotan baé
16.4 Kapal cicing henteu ised-ised acan
17.1 Di kapal téh aya hiji Nujum mashur
17.2 Nangkoda nyarita
17.4 Iyeu kapal teu ised-ised acan
18.1 Ttuluy nyembah Ki Nujum bari ngawangsul
18.2 Nun iyeu gamparan
18.3 Mawi kapal teu maju téh
18.4 Wiréh aya kalepetan megat lampah
IX. PUPUH MAGATRU
1.1 Nun kapungkur Tuan Nangkoda téh sanggup
1.2 Rék nyandak anak Nyi Miskin
1.3 Bayawak arék buburuh
1.4 Ka gamparan bade ngiring
1.5 Bok silih gamparan poho
2.1 Ki Nangkoda nyaur barina jeung imut
2.2 Bener pisan Nujum sidik
2.3 Bayawak téh arék milu
2.4 Ka kami rék ngilu kuli
3.1 Sanggeus /34/ kitu Nangkoda téh tuluy ngutus
3.2 Nyaur anakna Nyi Miskin
3.3 Utusan parantos tuluy
3.4 Tunda utusan nu indit
3.5 Mukasiyan di carios
4.1 Barang datang Mukasiyan téh ka lembur
4.2 Ka Bayawak seug pupulih
4.3 Ujang kuli téh geus tangtu
4.4 Ku Nangkoda geus katampi
4.5 Ujang kuli téh pageto
5.1 Jang Bayawak geus kitu tuluy ngawangsul
5.2 Duh Ema karunya teuing
5.3 Ema leumpang hanteu puguh
5.4 Jauh-jauh henteu hasil
5.5 Nangkoda téh ngabobodo
6.1 Ema mulih harita Nangkoda tuluy
6.2 Mukasiyan tuluy ceurik
6.5 ‘Euh Nangkoda abong-abong
7.1 Sebut kitu utusan Nangkoda jebul
7.2 Ku Bayawak katingali
7.3 Bayawak gancangna nyaur
7.4 Iye paman nu ti mendi
7.5 Utusan tuluy ngawalon
8.1 Iyeu Ujang kuring utusan ti laut /35/
8.2 Ti Tuan Nangkoda sugih
8.3 Ujang ayeuna di saur
8.4 Kudu ka iring ku kuring
8.5 Nangkoda di kapal ngantos
9.1 Sang Bayawak ka utusan téh ngawangsul
9.2 Naha Emang nyaur kuring
9.3 Asana teu puguh-puguh
9.4 Tara-tara ti sasari
10.1 Ki utusan geus kitu tuluy ngawangsul
10.2 Mugi Ujang sing ka iring
10.3 Geus kitu Bayawak tuluy
10.4 Bareng jeung utusan indit
10.5 Di jalan teu di carios
11.1 Kana kapal Bayawak téh enggeus junduk
11.2 Ki Nangkoda suka seuri
11.3 Geus kitu kapalna maju
11.4 Barengna jeung angin tarik
11.5 Ka tengah laut nyoloyong
12.1 Barang nepi kapal katengahna laut
12.2 Bayawak nyarita deui
12.3 Tuan Nangkoda kudu laun
12.4 Kuring moka pulau paris
12.5 Sebab kuring sieun mabok
13.1 Ayeuna mah simkuring aya panuhun
13.2 Manawi gamparan idin
13.5 Kedah di anterkeun anjog
14.1 Sang Nangkoda mindo nyaur bari imut
14.2 Aduh Ujang anak aing
14.3 Jang montong teuing kaditu
14.4 Di kapal baé jang linggih
14.5 Masing wareg dahar nganggo
15.1 Sang Bayawak ngawalon barina tungkul
15.2 Mugi Tuan kedah idin
15.3 Kuring anteurkeun kaditu
15.4 Lamun Tuan henteu idin
15.5 Simkuring bade ngalolos
16.1 Ki Nangkoda geus kitu énggal ngadawuh
16.2 Ujang Bapa tangku idin
16.3 Ayeuna mah Ujang hayu
16.4 Ujang geura tunggang koji
17.1 Sang Bayawak geus numpak kana parahu
17.2 Nangkoda nyakitu deui
17.3 Kabeh ngajajap tuluy
17.4 Ka pulo pinangges nepi
17.5 Bayawak seug tuluy ngomong
18.1 Nun juragan simkuring gaduh pihatur
18.2 Upami gemparan mulih
18.3 Abdi sampeur kausanun
18.4 Ngawa /37/ lon Nangkoda sugih
18.5 Bapa oge moal poho
19.1 Geus barudal nu jajap tumpak parahu
19.2 Kana kapal kabeh nepi
19.3 Nangkoda balayar tuluy
19.4 Dagangna ka pulo paris
19.5 Ganti anu di carios
20.1 Kocap deui patapan di luhur gunung
20.2 Di pulau pinang mahresik
20.5 Kasmaran Pandita kahot
X. PUPUH ASMARANDANA
1.1 Sang Pandita eukeur calik
1.2 Uninga bakal aya semah
1.3 Seug ngamparkeun samak baé
1.4 Henteu lami jebul dongkap
1.5 Bayawak121 ngadeuheusan
1.6 Pandita jamus ngadawuh
1.7 Haturan nu karék dongkap
2.1 Bapa ngantos ti kamari
2.2 Naha Raden lami pisan
2.3 Jaka Bayawak ngawalon
2.4 Nun ama numawi elat
2.5 Ama langkung uninga
2.6 Pandita mindo ngadawuh
2.7 Raden bapak geus u /38/ ninga
3.1 Bapa seja naros deui
3.2 Raden téh bade kamana
3.3 Sareng naon nudi seja téh
3.4 Bayawak énggal ngajawab
3.5 Mereun Ema 122 uninga
3.6 Teu kudu kuring piunjuk
3.7 Pandita énggal ngandika
4.1 Bener Raden geus kaharti
4.2 Ama téh enggeus uninga
4.3 Kana pikareupen Raden
4.4 Saestuna Raden tea
4.5 123 neang elmu kusumah
4.6 Raden téh bade guguru
4.7 Jatining elmu kusumah
5.1 Nyembah Raden Jaka Pekik
5.2 Leres kitu pisan Ama
122 Geus
5.4 Sukur Raden mun kitu mah
5.5 Ama rék124 mapagahan
5.6 Seug Bayawak manjing guru
5.7 Geus paham elmu kusumah
6.1 Lami Raden guru ilmi
6.2 Geus tilu tahun lawasna
6.3 Raden di pulau pinang téh
6.4 Aya manah hoyong mulang
6.5 125 Pandita ka uninga
6.6 Jaka Bayawak di saur
6.7 Ngadeuheus Jaka Bayawak /39/
7.1 Cong nyembah mendo gék calik
7.2 Gancang Pandita ngandika
7.3 Eh anak Bapa nu kasep
7.4 Bapa téh arék nyarita
124 Arek
7.5 Wantu den126 hoyong mulang
7.6 Bapa mere dua waluh
7.7 Pusaka jimat nagara
8.1 Ieu waluh nu kahiji
8.2 Jagana jadi nagara
8.3 Nagara gede tur ramé
8.4 Pepek jeung eusi-eusina
8.5 Ari nu127 kaduana
8.6 Jadi parabot kabeh alus
8.7 Parebut emas-emasan
9.1 Tatapi Bapa téh jangji
9.2 Nama Raden ulah salah
9.3 Jagana ieu waluh téh
9.4 Kudu ku Raden sorangan
9.5 Sarta kudu kukusan128
9.6 Memeh ku Raden di gebug
9.7 Ulah salah ngagebugna
126 Raden
10.1 Kudu ku Raden pirbadi
10.2 Tangtu aya mujijatna
10.3 Bayawak nyembah ngawalon
10.4 Nyuhunkeun do’ana Ama
10.5 Mugi kuring ulah hilap
10.6 Kana piwuruk sakitu
10.7 Pandita kebat nyarita /40/
11.1 Jeung deui bapa pepeling
11.2 Wiréh Bapa boga anak
11.3 Anak Bapa keur masantren
11.4 Disisi langit keur tapa
11.5 Jaga upama pendak129
11.6 Poma Raden kudu akur
11.7 Nama Raden Danur Wenda
12.1 Bapa sakitu pepeling
12.2 Masing inget-inget pisan
12.3 Poma Raden ulah poho
12.4 Bayawak nyembah ngajawab
12.5 Abdi nyuhunkeun du’a130
12.6 Sebot keur misaur kitu
12.7 Rongheyap Nangkoda dongkap
13.1 Pandita jamus ngalahir
13.2 Iyeu tatamu timana
13.3 Nangkoda gancang ngawalon
13.4 Jisim kuring téh ti kapal
13.5 Bade nyampeur 131 Bayawak
13.6 Wiréh kuring bade bangsul
13.7 Kapengkeurna di jangjiyan
14.1 Pandita ngalahir deui
14.2 Nyaur ka Jaka Bayawak
14.3 Eh anak Bapa nu kasep
14.4 Iyeu anu nyampeur Ujang
14.5 Jang132 geuwat geura dandan
14.6 Jaka Bayawak ngawangsul
130 Duana
XI. PUPUH MIJIL
1.1 Seung Bayawak seug nyarita mani/41/
1.2 Ka nangkoda jago/42/
1.3 Nyaur133 Kieu saur Bayawak téh
1.4 Mantuan ki134 nangkoda téh135 sugih
1.5 Aya pa 136 nuhun sim137 kuring
1.6 Mugi tuan purun
2.1 Ieu waluh dua nu simkuring
2.2 Waluh kéngéng donto
2.3 Mugi hayang pang nyandakeun baé
2.4 Nangkoda ngalawan baé138 seuri
2.5 Ekeur139 waluh kuning
2.6 Dibawa gé ridu
3.1 Anggur140 ujang bapa méré duit
3.2 Uang pérak keton
3.3 Éta ujang waluh ingkeun waé
3.4 Ujang montong daék141 hayang deui
3.5 Gantian ku duit
3.6 Bayawak ngawangsul
133Kata yaur di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dala
pupuh
134Kata ka di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dala pupuh 135Kata teh di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai Dengan suku kata dalam pupuh 136 Nuhun
137 Aya nuhun kuring
138Kata bae di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dala pupuh 139 Naon
140 ieu
4.1 Aduh bapa kuring142 hayang duit
4.2 Duit téh keur naon
4.3 Kuring mah ngan hayang waluh baé
4.4 Duit teu hayang saeutik143
4.5 Lain 144 anu di pamri
4.6 Hayang sotéh waluh
5.1 Ki nangkoda seug nga walon deui
5.2 Waluh gé sawios
5.3 Ayenamah hayu bawa baé
5.4 Ku nangkoda téh meni145 di cangking
5.5 Niat rék di jingjing
5.6 Éta dua waluh
6.1 Barang jung téh waluh teka indit
6.2 Nangkoda olohok/43/
6.3 Pikirnatéh bari146 heran baé
6.4 Nyaur sajeuroning dina147 ati
6.5 148 waluh berat teuing
6.6 Kakara sa149 umur
142 Henteu
143Kata eutik di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dala
pupuh
144 Duit
145Kata e i di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dala
pupuh
146Kata bae di tambahkan berdasarkan dugaan pada teks agar sesuai Dengan suku kata dalam pupuh 147Kata bari di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dala pupuh 148 ieu
7.2 Nyaur tukang épog
7.3 Cing kadieu japlun masing téréh
7.4 Si japlun gancangna bari151 indit
7.5 Barina jeung seuri
7.6 Jeung nyemah gék diyuk
8.1 152 japlun waluh dua sing ka indit
8.2 Heyeh iyeu cokot
8.3 Mun kabawa manéh dipérésén
8.4 Masing bari153loba duit ringgit
8.5 Si japlun téh seuri
8.6 Seug tuluy pék nangtung
9.1 Dijungjungkeun waluh teu ka154 indit
9.2 Si japlun téh bengong
9.3 sok155 Bangkawarah ieu waluh téh
9.4 Ieu waluh meuni156 Beurat teuing
9.5 Tayoh namah ieu jurig
9.6 Beuratna kalangkung
10.1 Seug maksakeun waluh téh di jingjing
10.2 Barina molotot
10.3 Waluh tambah beuki beurat baé
150 sa
151 Si 152 ieu
153Kata bari di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai Dengan suku kata dalam pupuh 154 Dijungjungkeun waluh teu indit
10.4 Si japlun téh bari na157 wér kiih
10.5 Dut hitut rut ngising
10.6 Késang munggah ngucur/44/
11.1 Ceuk sijaplun abong158 ngarah duit
11.2 Kami sangka modol
11.3 Ki nangkoda éta seuri baé
11.4 Nyeungseurikeun baé159 japlun ngising
11.5 Ki nangkoda160 deui
11.6 Baturna sapuluh
12.1 Ieu waluh batur sing ka indit
12.2 Ku sapuluh gotong
12.3 Nu sapuluh tuluy dandan baé
12.4 Waluh téh seug bari161 maké tali
12.5 162 talina163 tambang putih
12.6 Seug tuluy di tanggung
13.1 Jongjon baé waluh teu ka indit
13.2 Ripuh nu nga gotong
13.3 Ki nangkoda beuki héran baé
13.4 Geus kitu nangkoda bari164 mikir
13.5 Seug tuluy ngalahir
157 Si japlun teh wer kiih
158 abong
159 Nyeungseurikeun japlun ngising 160 Nyaur
161 Waluh teh seug make tali 162 Di
163 Na
XII. PUNGKUR
1.1 Urang gancangkeun nyarita
1.2 165 nangkoda nyaur tungkul semu manis
1.3 Seug ujang Bayawak Agus
1.4 Bapa166 henteu ka duga
1.5 Mawa waluh mugi ujang ulah bendu
1.6 Ku manéheun atuh167 ujang
1.7 Wireuh waluh teu ka indit
2.1 Bayawak168 lawan ngandika
2.2 Mun ku tuan éta waluh teu 169 indit/45/
2.3 Kuring moal waka bangsul
2.4 mangga tuan170 mulih mah
2.5 kuring mangga pandeuri jeung iyeu waluh
2.6 sugan iyeu nu karasa
2.7 mang mawakeun waluh kuring
3.1 nangkoda deui ngandika
3.2 lamun kitu bapa engké moal balik
3.3 jaga baé rejeung agus
3.4 Bayawak tuluy nga jawab
3.5 saé pisan urang balik poé isuk
165 Ki
166 Mah
167Kata atuh di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dala
pupuh
3.6 rejeung éta waluh téa
3.7 ku tuan nangkoda cangking
4.1 tuluy waluh di nyangkahan
4.2 seug Bayawak nga léngkah171 tilu kali
4.3 seug Bayawak tuluy nyawur
4.4 172mangga tuan nangkoda
4.5 ieu waluh pecak pecak geura jug jug
4.6 ki nangkoda tuluy dangdan
4.7 pék waluh dua di jingjing
5.1 waluh dua hampang pisan
5.2 173 nangkoda ngomong barina jeung seuri
5.3 henteu nyana ieu waluh
5.4 174tadina berat pisan
5.5 ku sapuluh jelema henteu ka jung jung
5.6 nangkoda boga pikiran/46/
5.7 Bayawak tuluy di puji
6.1 kieu mujina nangkoda
6.2 kuatna 175 Bayawak téh leuwih sakti
6.3 palaksiyang nu di 176nyamut
6.4 Bayawak 177 sama nanya
6.5 jadi naha mun aing ngomong teu puguh
171 Na
172 Su 173 Ki 174 Sa 175 Ieu
6.7 geus kitu nagkoda indit
7.1 tuluy sujud ka Bayawak
7.2 kieu nangkoda178 nyémah tuluy calik
7.3 Bayawak gancangna nyaur
7.4 ulah kitu179 nahkoda
7.5 henteu saé ceuk simkuring kaulaneun
7.6 Nyieun adat anyar anyar
7.7 teu saé éta pamali
8.1 Tuan nangkoda ngajawab
8.2 Mangga baé ayeuna180 urang mulik
8.3 Gancangna tidinya tuluy
8.4 Budal ti181 patapana
8.5 Geus tarurun ka laut mapag pa rahu
8.6 Di jalanna 182 teu kojoan
8.7 Kana kapal enggeus nepi
9.1 Tuluy baé beubeur layar
9.2 Kapal maju gancang kabawa 183 angin
9.3 Kocapkeun baé bari 184 geus
9.4 185 nangkoda ka lemburna/47/
9.5 Tunda heula nangkoda anu geus cunduk
178 Cédok
179 Sang 180 Mah 181 Jero 182 hen 183 Ku
9.6 Kocapkeun ambu kasiyan
9.7 Gawéna kasiyan ceurik
10.1 Mu kasiyan tuluy dangdan
10.2 Haritatéh 186 kasiyan tuluy indit
10.3 Imah 187 nangkoda di jug-jug
10.4 Deug nanyakeun anakna
10.5 Barang 188 datang mu kasiyan celuk celuk
10.6 Kamana turun nangkoda
10.7 Leumpang téh beung lila teuing
11.1 Ki nangkoda téh kaluar
11.2 Seug nyampeurkeun nangkoda 189 ambu miskin
11.3 Barina nyaur jeung imut
11.4 Aturan190 bu kasiyan
11.5 Eunggeus heubeul jeung kula téh henteu tepung
11.6 Mu kasiyan ngawala 191na
11.7 Nuhun ceuk basa Nyi miskin
12.1 Kuring rék nanyakeun anak
12.2 Eunggeus heubeul kuring henteu papanggih
12.3 Tuan 192 di laut di hakan maung
12.4 Nyi miskin dengék ngoyak
186 Mu
12.6 Kieu embung deudeuh teuing ujang
12.7 Na ujang ninggalkeun pupus
13.1 Ema nangtung ka195 balaksak
13.2 Tuluy baé gugulingan ka196 lebu
13.3 Teu lila Bayawak datang
13.4 Nyampeur 197 ka ambu miskin
13.5 Bayawak meuni198 tuluy baé199 ngandika
13.6200 montong gugulingan teuing
13.7 Nyi miskin ngaranjuk meuni201
14.1 Bari sok202 molotot panon
14.2203teu ngomong mu kasiyan téh nga jentul
14.3 Rupana kawas nu soak
14.4 Bayawak anom 204 lahir
XIII. PUPUH SINOM
1.1 ema-ema ieu kula
1.2 mejeh ema ulah nangis
193Kata tu gkul di ta bahkan berdasarkan dugaan pada teks agar sesuai Dengan suku kata dalam
pupuh
194 Kasép anak aing
195Kata ka di tambahkan berdasarkan dugaan pada teks agar sesuai Dengan suku kata dalam pupuh 196 kana
197 nyamperkeun
198Kata e i di ta bahka berdasarka dugaan pada teks agar sesuai Dengan suku kata dalam
pupuh
199Kata baé di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dala pupuh 200 Meujeuh ema
201Kata e i di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dalam
pupuh
202Kata sok di ta bahka berdasarka dugaa pada teks agar sesuai De ga suku kata dala pupuh 203 henteu
1.3 Mu kasiyan seug nyarita
1.4 Geuning ieu anak aing
1.5 Ema 205teu nyana teuing
1.6 Kutan radén masih hirup
1.7 Pajah 206 radén geus hilang
1.8 Ki nangkoda nu pupulih
1.9 Pajah radén 207 di laut dihakan macan
2.1 Komo jeung jaka Bayawak
2.2 Ngadangu saur Nyi miskin
2.3 Jaka Bayawak ngandika
2.4 Ema kudu asak mikir
2.5 Ceuk simkuring 208 mustahil/49/
2.6 Di sagara aya maung
2.7 209 deukeut kuring ayeuna
2.8 Tibaheula tacan manggih
2.9 Aya sotéh di sagaramah buhaya
3.1 Nyi miskin tuluy nga jawab
3.2 ema gé kakara nguping
3.3 Jeung nyaah ka awak ujang
3.4 Geus sono sok210 liwat saking
3.5 211nu matak ema ceurik
3.6 Ema téh hayang pateupung
205 henteu
206 téh 207 radénna 208 mah 209 nga
3.8 Kitu purwa ema ceurik
3.9 Hayu ujang ayena urang marulang
4.1 Gancang mulih sang Bayawak
4.2 Mu kasiyan anu ngiring
4.3 Waluh nu dua di bawa
4.4 Komo kasiyan di ais
4.5 Urang gancang 212 nga jurit
4.6 Carita di gurung gusuh
4.7 Bayawak 213 eunggeus datang
4.8 Ka imahna ambu miskin
4.9 Urang tunda caritana sang Bayawak
5.1 Geunti anu di carita
5.2 Kojo aya bango sakti
5.3 Di jero goha wijaya
5.4 Bango beurang peuting mikir
5.5 Hayang boga 214 nak hiji
5.6 Lalaki sarta 215nu alus
5.7 Gancang 216 bango teu aya
5.8 Ti jero guha seug bijil
5.9 Sang bango téh tuluy hibeur ngawang-ngawang
6.1 Tunda nu keur ngawang-ngawang
6.2 Kojo aya hiji nagri
212 gancangkeun
213 téh 214 anak 215 anu