MEMAKNAI KEMBALI NEGARA DAN SOSIALISME
kawan Djohan teerhadap kediktatoran Pinochet dengan negara kapitalis nya tersebut yang beliau bilang bukan konsekuensi dari kapitalisme.
Tetapi sebelum itu saya ingin membedakan dahulu antara apa yang disebut sebagai totalitarianisme dengan otoritarianisme yang didalam tulisan kawan Djohan ini sangat membingungkan untuk saya karena menggunakan istilahnya tanpa definisi yang jelas. Otoritarianisme seperti yang dijelaskan oleh Richard Shorten[ CITATION Sho12 \l 1033 ] adalah sebuah sistem pemerintahan yang dimanifestasikan didalam bentuk kuatnya pemerintahan pusat dan kebebasan politik yang terbatas. Menurutnya terdapat beberapa karakteristik sistem politik otoriter tersebut yaitu pluralisme politik yang terbatas, legitimasi pemerintah berdasarkan emosi serta mobilisasi yang doktriner, mobilisasi sosial yang terbatas akibat adanya represi terhadap aktivitas didalam masyarakat sipil, dan kekuasaan eksekutif yang batasanya menjadi kabur serta dapat bergeser.
Komunis nya. Ini yang disebut oleh Lebowitz sebagai Orchestra Conductor Democracy[ CITATION Leb15 \l 1033 ].
Selanjutnya Totalitarianisme merupakan sebuah kasus dimana negara dengan symbol pemimpin yang kuat menguasai seluruh aspek kehidupan didalam masyarakat sipil. Tidak ada kebebasan politik dan sipil diluar dari apa yang telah digariskan oleh pemimpin yang menjadi representasi dari kekuasaanya. Totalitarianisme ini merupakan sebuah bentuk ekstrim dari otoritarianisme yang didalam sejarahnya rezim Nazi Hitler, Itali Mussolini, Uni Soviet Stalin dapat dikategorin menjadi rezim Totaliter. Totalitarianisme merupakan sebuah rezim dimana seluruh aspek kehidupan publik dan privat diatur oleh Negara beserta jajaran elit-elitnya dengan sebuah justifikasi ideologi yang kuat. Penggunaan istilah Totalitarianisme ini mungkin masih sangat diperdebatkan karena seperti karena penggunaan istilah ini sangat berbeda-beda mengikuti sejarahnya dimulai dari Perang dunia kedua merujuk kepada kekuatan fasisme, Perang Dingin penggunaan ini kadang merujuk kepada rezim-rezim di Eropa Timur dan Uni Soviet walaupun bentuknya berubah dan pada masa sekarang mungkin menarik untuk melihat konsep mengenai Demokrasi Totalitarian yang diperkenalkan oleh Talmon yang merupakan sebuah sistem pemerintahan dimana Negara itu berjalan sesuai dengan nilai-nilai demokrasi seperti adanya pemilu, perlindungan hak-hak sipil dengan partisipasi yang sedikit dan juga tidak ada tetapi dapat mencenderai nilai-nilai demokrasi itu[ CITATION Tal60 \l 1033 ]. Rezim yang dikategorikan ini melihat kebebasan baik positif maupun negatif ini sebuah jangka panjang yang nantinya harus diraih. Rezm ini bergerak atas dua landasan yaitu menggunakan diskursus kepentingan publik yang dapat merepresi individu demi tujuan yang dikatakan untuk publik tersebut. Contoh yang menarik diberikan oleh Slavoj Zizek tentang bagaimana Amerika Serikat yang menggunakan diskursus Perang Atas Teror untuk kepentingan keamanan nya yang mencederai kebebasan sipil disana[ CITATION Ziž02 \l 1033 ].
negara. Mungkin dari teori tentang asal mula kemunculan negara dari perspektif kawan Djohan dan saya akan pasti sangat berbeda karena saya menggunakan perspektif Marxis yang melihat perkembangan Negara sebagai sebuah bentuk yang tidak alamiah. Serta adanya negara karena ada kebutuhan untuk mengokohkan dominasi dan hierarki untuk kepentingan kelas yang dominan pada masanya. Tetapi disini bukan untuk pembahasan hal tersebut, saya melihat kemunculan Negara ini memang yang menjadi sumber dari permasalahan akan kebebasan manusia baik individu dan secara kolektif. Saya menggunakan istilah Negara disini merujuk kepada sebuah institusi yang tersentralisasi memiliki legitimasi untuk memonopoli alat kekerasaan, sebuah wilayah yang memiliki batas territorial yang jelas dimana aparatur kekerasaan itu dapat dilaksanakan dan sebuah administratif pemerintahan yang tersentral untuk menggunakan monopoli alat kekerasaan tersebut. Yang lebih penting, Negara memiliki logikanya sendiri didalam kegiatan serta aktivitas-aktivitasnya baik dalam artian menjamin hak istimewa yang ada didalam struktur negara dan menjaga kestabilan tatanan yang terbentuk sesuai dengan mode produksi yang ada.
“ We are not among those communist who are out to destroy personal liberty, who wish to turn the world into one huge barrack or into gigantic workhouse.There certainly are some communist who,with an easy conscience, refuse to countenance personal liberty and would like to shuffle it out the world because they consider that is a hindrance to complete harmony. But we have no desire to exchange freedom for equality. We are convinced that in no social order will personal freedom be so assured as in a society based upon communal ownership”
Sosialisme, membahas mengenai sosialisme disini kita harus dapat membedakan dua definisi yang berbeda didalam artian politik dan juga ekonomi. Kawan Djohan disni menyamakan Sosialisme dengan adanya nasionalisasi dan adanya gambaran sebuah birokrasi negara yang sangat besar dan tidak efektif serta sangat totaliter. Padahal hal tersebut sangat berbeda jika kita melihat perkembangan dari pemikiran Sosialisme di era revolusi Perancis dalam bentuk gerakan-gerakan yang mendukung Sans Cullotes(rakyat jelata), Babeuf, Saint Simonian dan Sosialisme utopis kita akan melihat bagaimana konsepsi yang dibangun akan Sosialisme/Komunisme akan sangat kasar, anti demokratis dan elitis [ CITATION Dra66 \l 1033 ]. Tetapi berbeda dengan konsepsi sosialisme yang dibangun oleh Marx yang saat ini lebih banyak distorsi baik itu dari gerakan kiri Marxis-Leninis atau ortodoksi Moskow maupun gerakan kanan. Saya berani mengatakan bahwa sosialisme yang dikonsepsikan Marx itu dapat dikatakan sangat libertarian dan humanis. Hal ini dapat terlihat didalam tulisanya bersama Engels Manifesto Komunis dimana menurutnya emansipasi kelas pekerja harus dilakukan oleh kelas pekerja itu sendiri dan juga didalam tulisan Marx Manuskrip Paris 1844 dimana Marx menentang bentuk masyarakat komunisme yang sangat primitif atau kasar dan menegaskan pentingnya kebebasan individu didalam artian realisasi potensi individu itu sendiri secara bebas[ CITATION Dra66 \l 1033 ]. Disini menurut Marx setiap individu yang hidup secara interdependensi dan kolektif tersebut terutama kelas pekerja yang menjadi agen yang diyakini Marx sebagai motor sejarah itu harus melaksanakan praktek revolusioner yaitu perubahan kondisi objektif sekitar sambil mereka merubah diri mereka sendiri selama perjuangan dan membangun sebuah bentuk politik yang ideal oleh mereka sendiri. Marx sangat menentang gerakan untuk membangun masyarakat sosialis dari atas yang elitis dan otoriter . Dia mendukung gerakan sosialisme untuk memenangkan pertempuran demokratis dan dibangun melalui gerakan massa rakyat dari bawah.
juga Bernstein. Lassale merupakan penganjur untuk membangun Sosialisme yang menurut dia dapat menggunakan institusi negara. Menurutnya Sosialisme sebagai bentuk politik yang baru didalam masyarakat itu dapat muncul dengan bantuan negara. Hal ini sangat ditentang Marx karena menurutnya Sosialisme hanya bisa dibangun dengan emansipasi kelas pekerja itu sendiri dan didalam perjuanganya harus menghancurkan fondasi negara itu sendiri. Ini membuktikan bahwa Marx tidak statis seperti yang dituduhkan kepadanya. Marx selalu menekankan kepada pembentukan sebuah masyarakat yang berbasis kepada komunal yang dibentuk secara independen oleh massa-rakyat dan bukan oleh negara itu sendiri[ CITATION Dra66 \l 1033 ]. Maka dari itu ketika dia merujuk kepada Komune Paris tahun 1871 dengan sebutan kediktatoran proletariat disitu bukan dalam artian kediktatoran proletarian dalam diskursus Marxis-Leninis ketika Partai menguasai negara dan menggunakan negara untuk membangun sosialisme/komunisme melainkan sebuah upaya untuk membentuk sistem politik komunal dengan pemerintahan swakelola dari massa-rakyat itu sendiri yang dia sebut sebagai Republik Sosial. Tujuan dari Sosialisme atau Komunisme menurut Marx seperti yang dijelaskan oleh Engels adalah “untuk mengorganisir masyarakat sedemikiran rupa sehingga setiap anggota masyarakat bisa mengembangkan diri dan mendayagunakan segenap kemampuan dan kekuatanya secara bebas sepenuhnya tanpa melanggar kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat tersebut” atau selanjutnya seperti yang dijelaskan Marx sendiri didalam Manifesto Komunisnya “ asosiasi, yang didalamnya perkembangan diri secara bebas dari setiap anggotanya menjadi syarat bagi perkembangan bebas seluruh anggotanya”[ CITATION Leb093 \t \l 1033 ].
produksi,distribusi dan konsumsi menjamin relasi dari suatu asosiasi produsen-produsen secara bebas dimana individu-individu yang berasosiasi ini akan memperlakukan produktivitas komunal dan kolektif mereka sebagai kekayaan bersama[ CITATION Leb093 \t \l 1033 ].
Jadi secara keseluruhan tulisan dari kawan Djohan ini terlalu mereduksi pemikiran mengenai Sosialisme yang bisa saya anggap dia mengkritik Sosialisme Marx dengan melihat praktiknya pada Kuba, Korut, Tiongkok dan lain-lain yang menggunakan perekonomian terencana dan mengkonotasikan secara garis lurus dengan perilaku otoriter serta totaliter dari yang menganutnya. Dengan mengatakan Nasionalisasi dan perekonomian terencana itu sebagai Sosialisme dia lupa bahwa di negara yang kapitalis pun nasionalisasi dan kordinasi secara terencana juga dilakukan. Yang pasti akan dibalas oleh dia itu bukanlah kapitalisme sejati melainkan kroni kapitalisme. Kapitalisme dan pasar secara fenomena memang dianggap telah memberikan kemajuan kepada kita dan standar hidup manusia menjadi tinggi. Hal ini juga diakui oleh Marx dengan peran progresif Kapitalisme merevolusionerkan alat produksi dan menghancurkan formasi sosial Feodal tetapi kita mengabaiakn realitas bahwa didalam Kapitalisme itu yang dikatakan kita dapat mendapatkan akses informasi yang sama atas pasar dan juga didalam pasar itu adalah sebuah kebebasan kita tidak melihat bagaiamana pasar yang terhubung dari kita merupakan sebuah koneksi sosial yang sangat hierarkis dengan beberapa korporasi-korporasi besar yang menentukan pilihan-pilihan kita. Marx mengajak kita untuk melihat struktur eksploitasi yang tak terlihat didalam analisanya atas Kapitalisme pada masanya didalam Das Kapitalnya. Kalau menurut anda adanya ekses negative seperti ketimpangan, kemiskinan yang sistemik, pengerusakan lingkungan karena kebutuhan akan ekspansi kapital itu hanya disebut sebagai ekses yang wajar maka menurut saya itu tidak wajar.
Referensi
Draper, H. (1966). Two Souls of Socialism. Retrieved December 14, 2016, from digital.library.pitt.edu/u/.../pdf/31735066229067.pdf
Duanyevskaya, C. J. (1950). Retrieved December 14, 2016, from Marxist.org: https://www.marxists.org/archive/james-clr/works/1950/08/state-capitalism.htm
Lebowitz, M. (2009). Sosialisme Sekarang Juga. Yogyakarta: Resist Book.
Maher, G. C. (2016). Building The Commune Radical Democracy in Venezuela . London: Verso .
Rady, D. (2016, December 13). Mengapa Negara Sosialis Cenderung Otoriter. Retrieved December 13, 2016, from Suara Kebebasan: https://suarakebebasan.org/id/opini/item/754-mengapa-negara-sosialis-cenderung-totaliter
Shorten, R. (2012). Modernism and Totalitarianism: Rethinking the Intellectual Sources of Nazism and Stalinism, 1945 to the Present. London: Palgrave Macmilan .
Talmon, J. (1960). Origins of Totalitarian Democracy. Secker & Warburg, .