TUGAS PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA ANALISIS KASUS DAN REVIEW JURNAL
SEX AND GENDER
Nama Anggota Kelompok: Yudha Mahardika 14320056 Evie Sofiyah 14320209 Muhamad Aziz Latif14320254 Kurniawati Abbas 14320334
PRODI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
PENDAHULUAN
Kajian etnografi mengenai seks dan gender sudah dilakukan sejak abad ke 19. Seks, menurut Carol dan Melvin (2003) adalah karakter biologis mutlak yang ada pada manusia. Sementara itu, gender adalah hal yang merujuk pada norma, nilai, dan tingkah laku yang secara kultural membagi perbedaan gender tersebut. Di dalam Women's Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. (Suhra, 2013).
Caplan dalam The Cultural Construction of Sexuality (dalam Suhra, 2013), menguraikan bahwa perbedaan prilaku antara laki-laki dan perempuan tidaklah sekedar biologi. Gender berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat bahkan dari kelas ke kelas, sedangkan jenis kelamin biologis (sex) tidak berubah. Berbeda dengan seks, menurut Oetomo (2010), gender diciptakan oleh konstruksi sosial. Maka dari itu, manusia seharusnya bisa menghancurkan konstruksi tersebut agar tidak ada lagi pengelompokan gender.
Penjelasan di atas mengenai gender menjadi landasan dalam penulisan mengenai kasus kesetaraan gender. Dilansir oleh BBC Indonesia (2015), meskipun kesenjangan kesetaraan gender di dunia mengecil pada tahun 2013 dengan peningkatan 93%, namun di Negara-negara seperti India, Nepal, Pakistan, Afghanistan, dan Negara-negara Timur Tengah menjadi beberapa Negara dengan kesetaraan gender yang amat rendah. Sementara itu, Indonesia sendiri menduduki peringkat ke 92 dari 145 Negara yang disurvei.
CULTURE SEX AND GENDER
I. Kasus
A. Malala Yousafzai, Kartini Era Modern di Perbatasan Pakistan dan Afghanistan
Malala Yousafzai adalah seorang anak perempuan yang berasal dari Pakistan. Malala dinobatkan sebagai penerima Nobel Perdamaian tahun 2014. Dunia mencatat bahwa ia adalah penerima Nobel perdamaian termuda saat ini, yaitu pada usia 17 tahun. Malala menjadi ikon global setelah ditembak oleh Taliban dan nyaris tewas pada Oktober 2012 lalu. Penembakan itu dipicu oleh kampanye gencarnya mengenai hak anak-anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan.
Malala mulai mengenal sekolah saat Taliban masih belum berkuasa di kampungnya di Lembah Swat, wilayah Pakistan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan. Namun, saat dia benar-benar menikmati pendidikannya, rezim Taliban muncul. Taliban ini merupakan para pelarian dari Afghanistan setelah mereka berhasil dipukul mundur oleh Amerika Serikat dalam perang yang terjadi di Afghanistan setelah peristiwa 11 September yang meruntuhkan menara kembar WTC di Amerika Serikat. Dengan kondisi dan kualitas pendidikan yang rendah dari penduduk lembah Swat, dengan mudah Taliban bisa menguasai lembah Swat. Dimulailah segala macam aturan-aturan pelarangan kepada penduduk Lembah Swat, salah satunya larangan bagi kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan. (Hening, 2014)
mereka menggunakan landasan Islam sebagai pembenaran atas apa yang mereka lakukan.
Kehidupan Malala setelah kemunculan Taliban di kampungnya mendadak berubah. Hal-hal yang dulu ia sering lakukan dengan bebas, menjadi terhalang setelah ketatnya berbagai macam aturan larangan yang diterapkan oleh Taliban. Sekolahnya tidak berjalan normal seperti sebelumnya. Guru-guru banyak yang ketakutan untuk mengajar anak-anak perempuan, dan anak-anak perempuan banyak dilarang bersekolah oleh orang tuanya. Berbeda dengan yang lain, Malala tetap melakukan aktivitas sekolahnya walau harus dengan berhati-hati. Di luar bangunan sekolah, ia menjadi orang yang patuh pada aturan Taliban, tetapi di dalam bangunan sekolah, ia menganggap bahwa pendidikan adalah haknya sebagai manusia.
Dilansir dari Hening (2014), semua bermula saat sekolah Malala mengadakan parade perdamaian dan ayahnya selaku kepala sekolah mendorong siswa perempuan untuk bisa bersuara menentang apa yang sedang terjadi. Di sana Malala memulai wawancara pertamanya dengan media. Semakin banyak wawancara yang ia berikan, ia merasa lebih kuat dan semakin banyak dukungan yang diterima.
Suatu hari, seorang koresponden radio BBC mencari seorang guru perempuan untuk menulis buku harian mengenai kehidupan di bawah Taliban, tapi tidak ada satu pun guru perempuan yang mau melakukannya berada di bawah rasa takut akan Taliban. Malala justru mengajukan diri untuk melakukannya dengan harapan orang-orang tahu apa yang terjadi pada kehidupan di bawah kekuasaan Taliban. Tulisan harian Malala muncul dalam web BBC berbahasa Urdu. Meskipun menggunakan nama samara, lambat laun orang-orang menyadari bahwa tulisan tersebut adalah tulisan Malala. Hal tersebut membawa Malala pada beberapa wawancara dan munculnya ia di dalam media massa, dengan berfokus pada satu hal, yaitu pendidikan yang juga berhak untuk diterima oleh perempuan.
korban sengaja dipertontonkan agar semua orang bisa melihat akibat dari pembangkangan tersebut.
Suatu ketika Malala menjadi korban atas kekejaman Taliban dan hampir merenggut nyawanya. Sebutir peluru yang ditembakkan dari jarak dekat menghantam pelipis mata kiri Malala hingga tembus melalui belakang tengkorak kepala. Malala dirujuk ke rumah sakit di Birmingham Inggris karena kurangnya fasilitas kedokteran di Pakistan. Malala dan keluarganya diterbangkan ke Inggris dan menetap di sana serta tidak pernah lagi kembali ke Pakistan demi alasan keamanan.
Dari Inggris, Malala mulai berkampanye tentang pendidikan kaum perempuan. Ia sekarang tidak hanya berbicara tentang pendidikan anak perempuan di Pakistan, tetapi anak perempuan di dunia. Simpati dan penghargaan di mana-mana didapatkannya, hingga ia mendapatkan kesempatan untuk berbicara di depan PBB. Prestasi-prestasi yang ditorehkannya ini tidak sepenuhnya mendapat dukungan. Banyak orang Pakistan menganggap bahwa Malala sudah lupa akan negerinya sendiri karena sejak kasus penembakan itu, ia tidak pernah lagi kembali ke Pakistan. Tetapi bagi dunia, Malala mungkin sudah menjadi simbol perjuangan anak perempuan.
Mashuri (dalam Republika, 2015) memberikan pendapatnya pada kasus Malala:
“Namanya Malala Yousafzai. Usianya baru 14 tahun. Tapi, pada usia ABG itu ia telah membuat galau bercampur marah para ulama di Lembah Swat, barat daya Pakistan, berbatasan dengan Afghanistan. Penyebabnya, ia sedang memperjuangkan hak anak-anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak laki-laki di negerinya.
Perjuangan Malala tadi tertuang rapi dalam buku harian yang ia tulis untuk BBC berbahasa Urdu. Ia mulai menulis pada 2009 ketika usianya baru 11 tahun. Tulisannya dikenal publik dengan nama samaran Gul Makai.
Dalam buku hariannya, ia menulis tentang kehidupan di Lembah Swat saat wilayah indah yang dijuluki "Swissnya Pakistan" itu dikendalikan rezim Taliban sejak 2007. Taliban ber kuasa di daerah itu selama dua tahun hingga didesak mundur militer Pakistan pada 2009. Selama berkuasa, rezim Taliban menutup semua sekolah untuk anak perempuan, termasuk sekolah yang dimiliki oleh ayahnya, Ziauddin Yousafzai.
Ketika Taliban keluar dari Swat, Malala pun kembali bersekolah. Tapi, dendam Taliban sepertinya belum hilang. Selasa (9/10) lalu mereka menembaki bus yang ditumpangi Malala dan teman-temannya dalam perjalanan pulang sekolah. Malala tertembak di kepalanya. Dua temannya juga terluka.
Sontak berita penembakan itu menggemparkan dunia. Agustus lalu, Malala dianugerahi Penghargaan Perdamaian Nasional atas kegigihannya memperjuangkan hak anak perempuan juga mendapatkan simpati dari berbagai penjuru dunia. Untunglah nyawa Malala masih selamat.”
II. Teori
A. Konsep Gender dan Seks
Menurut Cucchiari (dalam Apriani, 2013) gender memiliki dua kategori biologis yang berbeda namun saling mengisi, yaitu kategori laki-laki dan kategori perempuan. Setiap kategori, aktivitas, sikap, tata nilai, dan simbol akan diberi makna oleh masyarakat yang berbeda dari budaya yang satu ke budaya yang lain. Sementara itu, seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara bilogis kepada seseorang, yaitu jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan. Seks secara biologis memiliki fungsi organisme yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sebagai contoh, laki-laki berperan membuahi dan perempuan berperan hamil, sedangkan gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh faktor-faktor sosial maupun budaya, sehingga lahir anggapan tentang peran sosial dan budaya antara laki-laki dan perempuan.
Sebagai contoh, bentukan sosial atas laki-laki dan perempuan itu antara lain, di dalam budaya Indonesia, umumnya perempuan memiliki karakter yang lemah lembut, anggun, mudah mengungkapkan isi hati, emosional atau keibuan. Sementara itu laki-laki umumnya dianggap kuat, rasional, tidak cengeng, jantan, dan perkasa. Tidak hanya karakter, bahkan gender stereotip yang diberikan oleh budaya pun menentukan pekerjaan jenis kelamin tertentu. Sebagai contoh, laki-laki yang cocok dengan pekerjaan yang menggunakan tenaga, dan perempuan mengunakan ketelitian dan kerincian.
biologis atau kodrat, tetapi dibedakan atau dipilah-pilah menurut kedudukan, fungsi dan peranan masing-masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. B. Konsep Budaya pada Gender
Ann Oakley (dalam Sutihan 2004) mengatakan bahwa gender merupakan alat analisis yang baik untuk memahami persoalan diskriminasi terhadap kaum perempuan secara umum. Gender adalah pembagian laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya. Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang, yaitu proses sosialisasi, penguatan, konstruksi sosial budaya, bahkan melalui kekuasaan negara. Sedemikian panjang dan lamanya proses “genderisasi” secara sosial budaya tersebut, lambat laun perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan sebagai konstruksi sosial budaya menjadi seolah-olah merupakan ketentuan dari Tuhan, atau bersifat kodrati dan biologis yang tidak dapat diubah lagi, seperti halnya jenis kelamin. Artinya, ada anggapan sebagian besar masyarakat bahwa kodrat laki-laki dan perempuan adalah hasil konstruksi sosial dan budaya atau gender. Di dalam suatu budaya, stereotip gender mempengaruhi keyakinan manusia serta budaya masyarakat tentang bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berpikir dan bertindak sesuai dengan ketentuan sosial tersebut.
Masyarakat sebagai suatu kelompok, menciptakan perilaku pembagian gender untuk menentukan apa yang mereka anggap sebagai suatu keharusan, untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, urusan domestik seperti mencuci, memasak dan merawat anak seringkali dianggap sebagai kodrat wanita dan begitulah seharusnya, sedangkan bekerja di luar, memiliki jaringan yang banyak, dan menjadi seorang pemimpin adalah takdir dari laki-laki. Padahal peran gender semacam itu adalah hasil konstruksi sosial budaya dalam masyarakat. Peran-peran gender domestik bisa pula dilakukan oleh laki-laki, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, jenis pekerjaan bisa dipertukarkan dan tidak bersifat universal. Dari sinilah gender stereotip berasal dan menciptakan karakter-karakter feminism dan maskulin.
tradisidan keyakinan masyarakat bahwa perempuanlah yang bertugas dan memelihara kerapian rumah, serta tanggung jawab atas terlaksananya keseluruhan pekerjaan domestik.
Suhra (2013) mengungkapkan, konsep gender yang mengatakan sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural, misalnya perempuan dikenal lembut dan cantik, adalah interpretasi budaya terhadap perbedaan jenis kelamin. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa gender pada hakikatnya lebih menekankan aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek non biologis lainnya. Hal ini berarti bahwa gender lebih menekankan aspek maskulinitas atau feminitas seseorang dalam budaya tertentu. Dengan demikian, perbedaan gender pada dasarnya merupakan konstruksi yang dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dilegitimasi secara sosial dan budaya. Pada gilirannya, perbedaan gender dianggap kodrati hingga melahirkan ketidakseimbangan perlakuan jenis kelamin.
C. Peran dan Status Gender
Peran berdasarkan identitas gender telah ada jauh sebelum seseorang lahir. Hingga pada akhirnya, seseorang yang lahir dengan jenis kelamin tertentu pada suatu lingkungan yang memiliki serangkaian tuntutan peran gender, harus menerima identitas gender yang sudah disiapkan suatu budaya atau lingkungan kepadanya, agar ia dapat dikatakan sebagai seseorang yang normal, yang berperilaku sesuai dengan jenis kelaminnya. Akibatnya jika terjadi penyimpangan terhadap peran gender yang sudah menjadi landasan bagi suatu kultural tertentu, maka masyarakat akan memberikan penilaian negatif dan menganggap penyimpangan tersebut sebagai suatu penentangan pada budaya yang selama ini sudah dibangun. Ironisnya, peran dan status gender yang diberikan oleh lingkungan lebih banyak merugikan kaum perempuan. Masyarakat menggunakan peran gender pada budaya sebagai alasan yang legitimasi dalam memojokkan kaum perempuan. Akibatnya, perempuan pada budaya tertentu memiliki keterbatasan dalam berkreativitas dan memanfaatkan potensi otaknya, dengan mengatasnamakan mempertahankan adat dan budaya.
D. Gender pada Pandangan Islam
mendiskriminasikan perempuan. Nyatanya, Islam adalah agama yang meninggikan derajat perempuan. Rosulullah dalam sabdanya mengungkapkan bahwa seorang ibu memiliki tiga drajat lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Bahkan, Al-Qur’an memiliki surat yang secara menyeluruh dan bernama Surat An-Nisa, yang berarti wanita. Dilihat dari kitab suci dan bagaimana sejarah Rosulullah memperlakukan istrinya, sudah jelas bahwa Islam adalah agama yang memuliakan perempuan.
Menurut Miskahuddin (2014), di dalam bidang keadilan, Islam tidak memihak pada salah satu jenis kelamin saja. Islam juga merupakan agama yang membebaskan dari sstem perbudakan yang pernah ada. Contoh salah satu keadilan yang dimiliki islam adalah, pada pembagian harta warisan, orang pada umumnya akan beranggapan bahwa Islam mendiskriminasi wanita pada hal ini. Padahal, pada kenyataannya, harta waris untuk wanita akan bertambah setelah wanita menikah nanti, yaitu dari suaminya sedangkan laki-laki justru akan berkurang karena akan dibagi dengan anak dan istrinya. Islam memandang laki-laki dan perempuan dengan sama, satu-satunya yang membedakan keduanya adalah ketaqwaan di hadapan Allah SWT.
Perspektif gender dalam al-Qur’an tidak sekedar mengatur keserasian relasi gender, hubungan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, tetapi lebih dari itu al-Qur’an juga mengatur keserasian pola relasi antara manusia, alam, dan Tuhan. Secara umum tampaknya al-Qur’an mengakui adanya perbedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan tersebut bukanlah pembedaan (discrimination) yang menguntungkan satu pihak dan merugikan yang lainnya. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk mendukung obsesi al-Qur’an, yaitu terciptanya mawaddah wa rohmah antara keluarga yang dibangun oleh laki-laki dan perempuan, di mana mereka tercipta untuk melengkapi. Kesamaan gender antara laki-laki dan perempuan di dalam Islam antara lain yaitu, laki-laki dan perempuan sebagai sesama hamba Allah, sesama khalifah di bumi, dan sebagai sesame penerima perjanjian primodial sebelum manusia lahir.
Perbedaan Gender dan Seksualitas (Menurut Chisput, 2012)
No Karakteristik Gender Seks
1. Sumber pembeda Manusia (masyarakat) Tuhan
2. Visi, Misi Kebiasaan Kesetaraan
reproduksi) 6. Ke-berlaku-an Dapat berubah, musiman dan
berbeda anra kelas
Sepanjang masa dimana saja, tidak mengenal
pembedaan kelas.
Menurut Badan Pemberdayaan Masyarakat (dalam Chisput, 2012) Perbedaan antara Gender dan Jenis Kelamin adalah sebagai berikut:
Jenis Kelamin Gender dirumah, tetapi jika di restoran juru masak lebih banyak laki-laki.
Tidak dapat dipertukarkan, contohnya jakun pada laki-laki dan payudara pada perempuan
Dapat dipertukarkan
Berlaku sepanjang masa, contohnya status sebagai laki-laki atau perempuan
Tergantung budaya dan kebiasaan,
belanda kaum perempuan tidak
memperoleh hak pendidikan.Setelah Indo merdeka perempuan mempunyai
kebebasan mengikuti pendidikan Berlaku dimana saja, contohnya di rumah,
dikantor dan dimanapun berada, seorang contohnya pengaturan jumlah a nak dalam satu keluarga RT, RW, dan kepala desa bahkan presiden.
III. Analisis Kasus berdasarkan Teori
Kasus yang menimpa Lembah Swat, perbatasan Afghanistan dan Pakistan, khususnya kasus Malala tidak jauh dari budaya gender yang sudah terpatri pada pemikiran masyarakat. Bahkan, Taliban mengatasnamakan hukum Islam sebagai landasan atas larangan-larangan yang diberikan pada masyarakat Afghanistan dan Pakistan. Apa yang terjadi pada kasus Afghanistan adalah sesuai dengan teori konsep gender, dimana dari budaya dan pemikiran, kaum perempuan adalah feminis, yaitu berada di dalam rumah, tidak bekerja atau sekolah, lemah, dan menjadi objek yang cocok untuk ditindas; sedangkan laki-laki adalah maskulin, yaitu bersifat superior, berkuasa, dan mendominasi.
dan perempuan dibuat oleh kekuasaan rezim Taliban, seolah-olah itu adalah mutlak kodrat dari Tuhan. Perbedaan gender yang ditekankan oleh Taliban tersebut juga sesuai dengan ungkapan Mansour Fakih (dalam Suhra, 2013) bahwa perbedaan gender akan melahirkan manifestasi ketidakadilan. Ketidakadilan tersebut di antaranya yaitu terjadinya marginalisasi terhadap kaum perempuan seperti yang tertima Malala dan semua perempuan di Afghanistan-Pakistan, terjadinya subordinasi pada salah satu jenis kelamin, dan kekerasan (violence) yang pada umumnya menimpa perempuan.
Menurut peran dan statusnya, seseorang yang lahir dengan jenis kelamin tertentu pada suatu lingkungan yang memiliki serangkaian tuntutan peran gender, harus menerima identitas gender yang sudah disiapkan agar ia dapat dikatakan sebagai seseorang yang normal, yang berperilaku sesuai dengan jenis kelaminnya. Jika terjadi penyimpangan, maka masyarakat akan memberikan penilaian negatif dan menganggap penyimpangan tersebut sebagai suatu penentangan. Hal tersebut juga terjadi oleh Malala, dimana Malala pada akhirnya hampir mati karena ditembak oleh antek Taliban hanya karena menyerukan hak-hak perempuan dalam mengenyam pendidikan.
Umumnya, masyarakat menggunakan peran gender pada budaya sebagai alasan yang legitimasi dalam memojokkan kaum perempuan. Akibatnya, perempuan pada budaya tertentu memiliki keterbatasan dalam berkreativitas dan memanfaatkan potensi otaknya, dengan mengatasnamakan mempertahankan adat dan budaya. Di dalam kasus ini, Taliban mengatasnamakan hukum Islam dan kodrat Tuhan untuk memojokkan kaum perempuan di Afghanistan, sehingga perempuan yang melawan dianggap mengancam dan menyerukan budaya Barat—di mana represi terhadap kaum Hawa menjadi simbol identitas diri (Islam) yang membedakan mereka dengan pihak asing (Barat yang kafir) yang cenderung “membebaskan” wanitanya untuk berbuat apa saja layaknya kaum pria, atas nama emansipasi (darahseorangfilsuf, 2014).
memiliki hak yang sama dengan laki-laki adalah menyerupai budaya Barat, sehingga perempuan yang lemah dan dijadikan pekerja domestic harus dipertahankan.
KESIMPULAN
Seks dan gender adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Banyaknya pandangan sosial dan budaya yang diberikan kepada gender dan peran-peran yang ada di dalamnya memiliki sisi positif dan negatif. Gender diciptakan oleh suatu budaya dan digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan, dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Pada banyak budaya dan lingkungan, gender memiliki kesenjangan, sedangkan dalam agama Islam, laki-laki dan perempuan memiliki hak dan keadilan yang sama, meskipun memiliki perbedaan yang jelas di antara keduanya. Pada Kasus Malala, gender diciptakan oleh kekuasaan suatu pemerintahan dan menjadikannya seakan-akan kodrat dari Tuhan. Mereka menganggap bahwa perempuan adalah makhluk dengan lingkup domestik dimana ruang geraknya hanyalah sebatas di dalam rumah, sehingga perempuan tidak berhak mendapatkan pendidikan. Rezim Taliban menganggap jika memberikan hak yang setara antara laki-laki dan perempuan, maka sama saja dengan mengadopsi pemikiran Barat.
Daftar Pustaka
Apriani, F. 2013. Berbagai Pandangan Mengenai Gender dan Feminisme. Naskah Publikasi.
Diakses pada 6 Nopember 2016 dari
http://portal.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/06/GENDER_FEMINIS ME%20(06-10-13-07-50-50).pdf
BBC Indonesia. 2013. Kesetaraan gender di berbagai belahan dunia. Diakses pada 13
Nopember 2016 dari
http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2013/10/131025_perempuan_vj_pet Carol, R. E. dan Melvin, E. 2013. Encyclopedia of Sex and Gender: Men and Women in the
World’s Cultures Topics and Cultures. Volume 1. Springer Science and Business Media.
Darahseorangfilsuf. 2014. Analisa Historis-Filosofis Akar Kekerasan Perempuan dalam Rezim Taliban Afghanistan. Diakses pada 13 Nopember 2016 dari https://darahseorangfilsuf.wordpress.com/2014/03/27/analisa-historis-filosofis-akar-kekerasan-perempuan-dalam-rezim-taliban-afghanistan/
Hening. 2014. I am Malala. Menantang Maut di Perbatasan Pakistan Afghanistan. Diakses pada 13 Nopember 2016. Dari http://heningkara.blogspot.co.id/2014/11/i-am-malala-menantang-maut-di.html
Mashuri, I. K. 2015. Malala dan Nasib Perempuan. Diakses pada 13 Nopember dari http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/12/10/15/mbxajf-malala-dan-nasib-perempuan
Merahputih. 2015. Kesetaraan Gender: Indonesia Peringkat Ke-92 dari 145 Negara. Diakses
pada 13 Nopember 2016 dari
http://news.merahputih.com/peristiwa/2015/11/19/kesetaraan-gender-indonesia-peringkat-ke-92-dari-145-negara/33306/
Oetomo, D. 2013. Di luar Kotak? Di Antara kotak? Tanpa Kotak? Kotak Baru?: Refleksi tentang Keanekaragaman Gender dan Seksual. Jurnal Gandrung. Vol. 1. No. 2. Sindonews. 2016. Cerita Hancurnya Afghanistan di Era Rezim Taliban. Diakses pada 13
Nopember 2016 dari http://international.sindonews.com/read/1141547/40/cerita-hancurnya-afghanistan-di-era-rezim-taliban-1474567813 2016
Suhra, S. 2013. Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Hukum Islam. Jurnal Al-Ulum. Vol. 13, No. 2.
Sutinah, “Gender & Kajian Tentang Perempuan”, dalam Dwi Narwoko & Bagong Suyanto (ed) 2004. Sosiologi: Teks Pengantar & Terapan, Jakarta: Prenada Media, hal. 313-339.