• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dimensi Politik dan Sistem Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dimensi Politik dan Sistem Pendidikan "

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Politisasi Pendidikan

(Makalah Disusun Guna Memenuhi Salah satu Tugas Pendidikan Komparatif) Dosen : Dr. Ch. Ismaniarti, M.Pd

Oleh :

Mirza Bashiruddin Ahmad

KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN / TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan kasih-Nya, atas kemudahan dan kesehatan yang kami terima, serta petunjuk-Nya sehingga kami diberi kemampuan dan kemudahan dalam menyelesaikan makalah ini.

Dengan disusunya makalah ini kami berharap dapat memenuhi tugas yang telah diberikan kepada kami.

Di dalam makalah ini kami selaku penyusun hanya sebatas ilmu yang kami sajikan dengan judul “Politisasi Pendidikan”.

Kami menyadari dengan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan, menjadikan keterbatasan kami pula untuk menjabarkan yang lebih tentang masalah tersebut, oleh karena itu kami berharap dan siap menerima masukan berupa teguran, kritik, dan saran yang bersifat membangun.

Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah mendukung dan memberikan pengarahan sehingga terselesaikannya makalah ini.

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I : PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Permasalahan...2

BAB II : PEMBAHASAN...3

BAB III : PENUTUP...12

A. Kesimpulan...12

(4)

DAFTAR PUSTAKA

O’neil, William.2008. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Suseno, Franz.2010. Pemikiran Karl Marx. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. Siswoyo, Dwi. 2011. Ilmu Pendidikan.Yogyakarta:UNYPress.

Sartono, Kus. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta:UNYPress . Katsoff, Louis. 2004. Pengantar Filsafat. Yogyakarta:Tiara Wacana

Suprijanto. 2009. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta:Bumi Aksara

Foucault,M. 1980. The Archeology of Knowledge and the Discourse of Language. New York:Pantheon

Freire,Paulo.1986. Pedagogy of The Oppressed. New York:Praeger

Rifa’i, Muhammad.2011.Sejarah Pendidikan Nasional.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.

Gahral Adian, Donny. 2005.Percik Pemikiran Kontemporer .Yogyakarta: Jalasutra.

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sesungguhnya manusia itu adalah hewan yang berkepntingan,zoon politicon, begitu kata filsuf kenamaan asal Yunani, Aristoteles.Manusia dalam mempertahankan keberadaan dirinya, eksistensi diri selalu membuat kebijakan yang bisa melanggengkannya. Begitu juga dengan pendidikan, dalam dimensi politik, pendidikan berfungsi sebagai alat penyokong kepentingan penguasa atau kaum dominan dengan cara mendidik masyarakat untuk melanggengkan kepentingannya.

Bagi para praktisi pendidikan di lembaga formal, non formal ataupun

pendidikan rakyat (Popular Education), banyak yang tidak sadar bahwa ia tengah terlibat dalam suatu pergumulan pertikaian politik dan ideologi

melalui arena pendidikan. Umumnya orang mengira pendidikan sebagai kegiatan mulia yang selalu mengandung kebajikan dan senantiasa berwatak netral, ternyata pendidikan tidak bebas nilai.

(6)

Kritik demi kritik yang dilancarkan para pemerhati dunia pendidikan tentu berkontribusi besar, bagi dunia pendidikan kritik memang seharusnya menjadi refleksi atas aksi yang dilakukan sehingga mendewasakan pendidikan. Dunia pendidikan semakin memperkaya diri dengan berbagai upaya pencarian model pendidikan sehingga mampu menyongsong aksi kultural maupun transformasi sosial.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah dimensi politik dan fungsinya dalam negara? 2. Apakah dimensi pendidikan dan fungsinya dalam negara? 3. Apa keterkaitan antara politik dan pendidikan?

4. Bagaimana pendidikan legitimasi yang melanggengkan status quo? 5. Bagaimana pendidikan rekonstruksi yang merubah struktur tatanan sosial?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Dimensi Politik dan Fungsinya dalam Negara

Dalam Pendidikan Kewarganegaraan (2006:17) menjelaskan bahwa pengertian negara secara etimologis berasal dari kata nagari/nagara yang berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki arti kota, desa, daerah atau wilayah. Roger H. Soltau (dalam Pendidikan Kewarganaegaraan, 2006:17-19) menyatakan bahwa negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat. Negara mempunyai tujuan untuk memungkinkan rakyatnya mengembangkan daya ciptanya secara bebas. Sehubungan dengan hal itu, cara negara yang satu dan negara yang lain cara mewujudkannya tidak sama, tergantung dari ideologi yang dianutnya.

Zoon Politicon, begitu kata Aristoteles tentang persepsinya terhadap

(7)

merupakan suatu pemerintahan yang mengurus tata tertib dan keselamatan sekelompok/beberapa kelompok manusia yang hidup di dalamnya. Artinya, negara memiliki sebuah kepentingan untuk merawat dan memelihara apa yang ada didalam wilayahnya. Dalam mewujudkan kepentingan tersebut negara mempolitiki masyarakat dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan tertentu sehingga terbentuk suatu masyarakat yang sesuai dengan tujuan negara. Inilah negara, dialektika kepentingan didalamnya selalu mewacanakan antithesis-antithesis untuk mewujudkan sebuah sinthesis yaitu sebuah negara yang match dengan keinginan masyarakat dengan jalan politik.

Fungsi sebuah dimensi politik terhadap negara adalah melaksanakan setiap kepentingan negara dengan cara mengorganisasi kebijakan-kebijakan negara terhadap masyarakat sehingga tercapai tujuan negara yang berarti tercapai juga tujuan masyarakat, dengan catatan kebijakan yang diambil merupakan aspirasi masyarakat.

B. Dimensi Pendidikan dan Fungsinya dalam Negara

Pendidikan merupakan gejala semesta dan berlangsung sepanjang hayat manusia,dimanapun manusia berada. Dimana ada kehidupan manusia, disitu pasti ada pendidikan, begitulah pendapat yang diungkapkan Drikarya (dalam Siswoyo, 2011:1). Pendidikan sebagai usaha sadar bagi pengembangan manusia dan masyarakat, mendasarkan pada landasan pemikiran tertentu. Dengan kata lain, upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan, didasarkan atas pandangan hidup atau filsafat hidup, latar belakang sosio-kultural dan pemikiran psikologis tertentu. Dasar dari pendidikan adalah filsafat, pandangan hidup dalam suatu masyarakat tertentu sehingga filsafat sebagai dasar yang memberikan pandangan luas tentang realita menentukan model pendidikan manusianya.

(8)

pendidik dalam menuntut pertumbuhan dan perkembangan anak berkaitan tentang realita, maka filsafat akan mengembangkan dirinya dengan realita tersebut.

Pendidikan merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan negara, di dalam pendidikan tercermin juga tujuan negara dan spesifikasi manusia hasil pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan merupakan alat yang bergerak sebagai variabel bebas yang bisa dimanipulasi oleh subjeknya-dalam hal ini adalah tujuan negara-sehingga terbentuklah sebuah masyarakat yang terdidik dari pendidikan tersebut. Seringkali sebuah negara maju diukur dari kualitas dan kuantitas pendidikan negara tersebut, menurut hemat penulis hal ini adalah upaya yang konyol mengingat tujuan negara, ideologi yang mencerminkan gaya berpolitik, output hasil pendidikan yang telah dimanipulasi oleh tujuan negara pada setiap negara adalah berbeda. Upaya perankingan, penilaian terhadap kualitas pendidikan, standarisasi pendidikan, manajemen pendidikan pada hakikatnya adalah upaya penyeragaman pendidikan di dunia dengan kepentingan yang diatasnamakan globalisasi. Sebuah upaya pencapaian standar sejatinya adalah nonsens, karena hanya negara-negara-yang mengatasnamakan kepentingan global-yang membuat standar saja global-yang mampu mencapai standar. Jika negara lainnya mampu mencapai standar tersebut, maka bisa dipastikan seluruh komponen negara pencapai standar telah dijajah-dengan cara salin tempel pemikiran-oleh negara pembuat standar.

Bisa diambil kesimpulan bahwa pendidikan merupakan kepanjangan tangan negara dalam melahirkan masyarakat yang sesuai dengan tujuan negara, sehingga pendidikan tidaklah bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu dalam hal yang baik maupun buruk.

C. Politik dan Pendidikan

(9)

merupakan upaya pertama yang harus dilakukan institusi pendidikan. Upaya penyadaran yang dilakukan oleh institusi pendidikan bukanlah menyadarkan bahwa diri peserta didik bodoh dan perlu dicerdaskan, melainkan upaya penyadaran tentang eksistensi dirinya di dalam dirinya dan di dalam masyarakat dimana ia melakukan kegiatan sosial. Upaya menyadarkan eksistensi diri sendiri oleh pendidikan haruslah bersifat dasar pada diri individu tersebut, sedangkan upaya penyadaran eksistensi dirinya di dalam masyarakat adalah upaya yang dilakukan institusi pendidikan agar peserta didik mampu merefleksikan apa yang terjadi pada dirinya dengan masyarakat, permasalahan dirinya dengan masyarakat, permasalahan masyarakat dengan dirinya dan lebih luas lagi eksistensi dirinya sebagai seorang warga sebuah negara. Dengan demikian hanya frase ‘’upaya sadar’’ tidak bisa lepas dari sebuah kegiatan politis, yaitu kegiatan yang memiliki kepentingan menyadarkan diri tentang eksistensi dirinya dan masyarakatnya. Terlalu menjadi geguyonan rasanya jika pendidikan bebas nilai.

(10)

menghegemoni budaya kaum elit. Kaum elit seringkali dianggap lebih tinggi derajatnya dan dianggap lebih santun ketimbang tukang becak dan kaum proletariat.

Maka sudah jelas kiranya pendidikan tidak boleh bebas nilai, karena akan sangat menguntungkan kaum yang sedang berkuasa pada saat itu, sebagai contoh kita seringkali mendapati perubahan kurikulum di setiap perubahan rezim yang berkuasa. Pendidikan haruslah bermuatan nilai yang dapat mengayomi masyarakat, pendidikan haruslah menjadi solusi bagi masyarakat sehingga menghapus kesenjangan yang dibuat ideologi liberal yang memisahkan antara pendidikan dan masyarakat, dan Indonesia bukanlah berideologi liberal namun berideologi Pancasila, yang didalamnya telah mencanangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

D. Pendidikan Legitimasi

Pendidikan tak ubahnya sebuah alat pencapai tujuan di mata politik, sehingga apapun yang dilakukan oleh pendidikan berasal dari kepentingan tertentu. Foucault (dalam Hardiman, 2003) mengatakan bahwa pengetahuan menghasilkan kekuasaan dengan mengangkat orang lain menjadi subjek dan kemudian memerintah subjek dengan pengetahuan. Berasumsi pada pernyataan ini, maka kita tentu mampu menggambarkan bagaimana kepentingan dan pendidikan mengalami pergulatan. Kepentingan untuk menguasai subjek didik dengan cara mendidik melalui pengetahuan-pengetahuan yang diinginkan oleh pemangku kepentingan, jelas sudah pendidikan yang diselenggarakan hanya untuk melanggengkan pemangku kepentingan.

(11)

klasik, paradigma ini dibangun berdasarkan keyakinan bahwa pada awalnya masyarakat tidak bisa melakukan perubahan sosial, hanya Tuhan yang merencanakan dan yang Maha Mengetahui atas apa yang ada dibalik sesuatu. Paradigma pendidikan konservatif melahirkan suatu masyarakat yang naif, dimana mereka lebih menyalahkan kepada subjeknya. Orang yang menderita, bodoh, buta huruf, narapidana adalah karena kesalahan mereka sendiri. Toh, banyak orang bodoh yang pergi ke sekolah dan kini telah cerdas mampu mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga tidak dipenjara. Kaum miskin, proletar haruslah sabar dan belajar menunggu hingga tiba giliran mereka datang, karena pada akhirnya kelak semua orang akan mencapai kebahagiaan dan kebebasan. Kaum konservatif tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu korelasi antara realitas yang terjadi dengan sebuah sistem yang berlaku.

Paradigma liberal memiliki keyakinan bahwa memang ada masalah pada masyarakat, namun itu tidak ada kaitannya dengan pendidikan, dan pendidikan tidak ada kaitannya dengan permasalahan politik maupun ekonomi masyarakat. Pendidikan yang diselenggarakan berusaha untuk bebas nilai,obyektif dan netral sehingga mereka mempelajari ilmu pengetahuan untuk mengembangkan pengetahuan tersebut. Walaupun kaum liberal memiliki keyakinan demikian, mereka berusaha agar pendidikan menyesuaikan diri dengan keadaan politik dan ekonomi dengan jalan memecahkan berbagai masalah yang ada dalam pendidikan dengan usaha reformasi kosmetik. Umumnya yang dilakukan adalah pembangunan gedung, kelas, fasilitas baru, modernisasi peralatan sekolah, komputer dan laboratorium serta berbagai cara untuk menyehatkan rasio guru dan murid. Selain itu berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pembelajaran dan pelatihan yang lebih efisien dan partisipatif. Usaha peningkatan tersebut terisolasi dengan sistem dan struktur ketidakadilan kelas dan gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada dalam masyarakat.

(12)

struktural fungsionalis justru diperuntukkan sebagai sarana penstabilan norma dan nilai masyarakat. Pendidikan dimaksudkan sebagai media untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tat susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik. Pengaruh paradigma liberal terlihat dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui kompetisi antarmurid. Penilaian dan perankingan untuk menentukan murid terbaik adalah salah satu implikasinya.

Kuatnya pengaruh filsafat positivisme dalam pendidikan pada kenyataannya mempengaruhi pandangan pendidikan terhadap masyarakat. Metode yang dikembangkan pendidikan mewarisi positivisme seperti obyektivitas, empiris, tidak memihak, berjarak, rasional dan bebas nilai mempengaruhi pendidikan dan pelatihan. Positivisme memandang pendidikan dan pelatihan bersifat fabrikasi dan mekanisasi untuk memproduksi keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan pasar kerja. Pendidikan juga tidak toleran terhadap segala cara mengetahui yang dianggap tidak sah oleh positivisme terhadap sebuah pengetahuan, artinya setiap jalan sah-oleh positivisme-dalam memandang sebuah pengetahuan maka itulah yang harus disakralkan, sehingga terbentuk masyarakat yang ideologis. Pendidikan menjadi a-historis, yakni mengelaborasi model masyarakat dengan mengisolasi banyak variabel dalam model tersebut. Murid dididik untuk tunduk pada struktur yang ada mencari cara-cara dimana peran, norma dan nilai-nilai serta lembagayang dapat diintegrasikan dalam rangka melegitimasi sistem tersebut, asumsinya adalah bahwa tidak ada masalah dalam sistem, masalah hanya terletak pada mentalitas anak didik, kreativitas, motivasi, ketrampilan teknis serta kecerdasan anak didik.

E. Pendidikan Rekonstruksi

(13)

perubahan moderat, maka kaum kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Bagi mereka kelas dan diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin pula di dalam pendidikan.

Paradigma kritis menghendaki urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap ‘the dominant ideology’ ke arah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju tatanan sosial yang lebih adil. Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan tertindas untuk menciptakan sebuah sistem baru yang lebih mapan dan adil, dengan kata lain visi ini mencerminkan tugas utama pendidikan sebagai alat memanusiakan kembali manusia yang telah terasing-dehumanisasi-karena sistem dan struktur yang tidak adil dengan menggunakan kesadaran kritis sehingga menghindari ‘blame the victims’ .

Implikasi dari paradigma ini adalah pada pendekatan dan metodologi pendidikan, yaitu munculnya perbedaan pandangan proses belajar mengajar yang berpaham pedagogi dan andragogi. Perbedaan antara kedua pendekatan ini bukan hanya perbedaan pada objeknya namun juga cara mendidik, kedudukan pendidik, model komunikasi dan sebagainya.

(14)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

’Pengetahuan menghasilkan kekuasaan dengan mengangkat orang lain menjadi subjek dan kemudian memerintah subjek dengan pengetahuan”

Referensi

Dokumen terkait

Pembuatan GMJ di Indonesia dilakukan dengan memindahkan karakter sterilitas WA ke dalam varietas unggul nasional atau galur-galur yang telah teridentifikasi sebagai pelestari

Getah buah papaya diambil dan diisolasi enzim papain kemudian ditambahkan dalam proses pengolahan daging kerang darah baik dengan cara direbus maupun dikukus dan sebagai

Didapat hasil jenis penutup harian terpilih yaitu jenis plastik biodegradable, dengan biaya operasional penutupan harian sebesar Rp1.897.729,02, dan dapat dioperasikan tanpa

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran dengan kekuatan dua orang ( the power of two strategy ), merupakan pembelajaran kooperatif

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis, merancang dan menghasilkan suatu basisdata yang mendukung sistem CRM ( Customer Relationship Management ) yang berbasiskan website

Dari hasil penelitian tahun 2012 diketahui bahwa pengawasan keuangan yang dilakukan dewan perwakilan rakyat daerah kota Medan masih ada yang belum sesuai dengan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan didapatkan bahwa Store Layout berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian +DO LQL GLEXNWLNDQ OHZDW KDVLO DQDOLVLV

Metode analisis yang tervalidasi dapat diaplikasikan dalam sediaan sirup dan kadar rata-rata CTM dan GG pada ketigamerksirup memenuhi persyaratan kadar yang