• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hand out Sistem Sosial Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hand out Sistem Sosial Indonesia"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM SOSIAL INDONESIA

DIPERLUKAN UNTUK

(2)

Mengapa

demikian...??

Karena sistem sosial dan budaya

masyarakat Indonesia sangat

HETEROGEN secara VERTIKAL

maupun HORIZONTAL

Indonesia merupakan negara yang

(3)

PLURALITAS MENURUT QUR’AN

 Diakui oleh Al Quran - yaitu Surat Al Baqarah ayat 148

- bahwa masyarakat terdiri dari berbagai macam

komunitas yang memiliki orientasi kehidupan sendiri-sendiri.

 Manusia harus menerima kenyataan keragaman

budaya dan memberikan toleransi kepada masing-masing komunitas dalam menjalankan ibadahnya.

 Dengan keragaman dan perbedaan itu ditekankan

perlunya masing-masing berlomba menuju kebaikan. Mereka semua akan dikumpulkan oleh Allah SWT

(4)

AKIBAT HETEROGENITAS MASYARAKAT

INDONESIA

(5)

TERKAIT DENGAN INDONESIA SEBAGAI SUATU

STATE YANG TERINTEGRASI

Memunculkan 2 pertanyaan inti:

1.

faktor-faktor latent apakah yang

sesungguhnya telah menyebabkan

terjadinya konflik?.

2.

Faktor-faktor apakah yang

(6)

Untuk menjawab 2

pertanyaan tersebut

maka...

(7)

Apakah SISTEM…..?????

Konsep yang menjelaskan:

 Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan

antar bagian-bagian,komponen-komponen, dan proses-proses yang melingkupi aturan-aturan tata hubungan yang dapat dikenali.

 Suatu tipe serupa dari saling ketergantungan

(8)

Gambar SISTEM

SISTEM

HUBUNGAN SALING TERGANTUNG

(9)

PLURALITAS MASYARAKAT

PLURALITAS MASYARAKAT

INDONESIA DISEBABKAN OLEH:

INDONESIA DISEBABKAN OLEH:

KEADAAN GEOGRAFIS

LETAK INDONESIA ANTARA SAMODERA

INDONESIA DAN SAMODERA PASIFIK (pusat

lalu lintas perdagangan dan persebaran agama)

IKLIM YANG BERBEDA (berakibat plural secara

regional)

CURAH HUJAN DAN KESUBURAN TANAH YANG

BERBEDA (PLURALITAS LINGKUNGAN EKOLOGIS)

a) WETRICE CULTIVATION (pertanian sawah di Jawa dan

Bali)

(10)

Gambar SISTEM

SISTEM

HUBUNGAN SALING TERGANTUNG

(11)
(12)

UNTUK MEMAHAMI SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA INDONESIA DIPERLUKAN PENGUASAAN TEORI

(13)

DUA PENDEKATAN TEORITIS YANG

HARUS DIKUASAI:

STRUKTURAL FUNGSIONAL

(14)

STRUKTURAL FUNGSIONAL

Asumsi Dasar:

MASYARAKAT TERINTEGRASI ATAS

DASAR KATA SEPAKAT PARA

ANGGOTANYA TERHADAP NILAI

DASAR KEMASYARAKATAN YANG

(15)

KESEPAKATAN MASYARAKAT

tersebut

Menjadi GENERAL AGREEMENTS yang memiliki kemampuan mengatasi

PERBEDAAN-PERBEDAAN PENDAPAT dan KEPENTINGAN dari para anggotanya

MASYARAKAT SEBAGAI SUATU SISTEM

YANG SECARA FUNGSIONAL

(16)

Istilah lain pendekatan

STRUKTURAL FUNGSIONAL

INTEGRATION APPROACH

ORDER APPROACH

EQUILIBRIUM APPROACH

STRUCTURAL FUNGTIONAL

(17)

TOKOH

PLATO

AUGUSTE COMTE

HERBERT SPENCER

EMILE DURKHEIM

BRANISLAW

MALINOWSKI

REDCLIFFE BROWN

(18)

ANGGAPAN DASAR THEORI

STRUKTURAL FUNGSIONAL

STRUKTURAL FUNGSIONAL

 Masyarakat adalah suatu SISTEM dari

BAGIAN-BAGIAN yang saling BERHUBUNGAN

 Hubungan dalam masyarakat bersifat GANDA dan

TIMBAL BALIK (SALING MEMPENGARUHI)

 Secara FUNDAMENTAL, SISTEM SOSIAL

cenderung bergerak kearah EQUILIBRIUM dan bersifat DINAMIS

 DISFUNGSI/KETEGANGAN SOSIAL/

(19)

ANGGAPAN DASAR THEORI

STRUKTURAL FUNGSIONAL

STRUKTURAL FUNGSIONAL

(lanjutan)

(lanjutan)

 PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam SISTEM SOSIAL

bersifat GRADUAL melalui PENYESUAIAN. Bukan bersifat REVOLUSIONER

 PERUBAHAN terjadi melalui 3 macam kemungkinan: 1. PENYESUAIAN SIATEM SOSIAL terhadap

PERUBAHAN DARI LUAR (extra systemic change)

2. PERTUMBUHAN melalui PROSES DIFFERENSIASI

STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL

3. PENEMUAN BARU oleh ANGGOTA MASYARAKAT  Faktor terpenting dalam INTEGRASI adalah

(20)

Penilaian/kritik terhadap theori

STRUKTURAL FUNGSIONAL

Terlalu menekankan anggapan dasarnya

pada PERANAN UNSUR-UNSUR

NORMATIF dari TINGKAH LAKU SOSIAL

(pengaturan secara NORMATIF terhadap

HASRAT seseorang untuk menjamin

STABILITAS SOSIAL)

(21)

Menurut David Lockwood

Terdapat SUB STRATUM yang berupa

DISPOSISI-DISPOSISI yang mengakibatkan timbulnya PERBEDAAN LIFE CHANCES (kesempatan hidup) dan

KEPENTINGAN-KEPENTINGAN YANG TIDAK NORMATIF

DALAM SETIAP SITUASI SOSIAL terdapat 2 hal yaitu:

TATA TERTIB yang bersifat NORMATIF

(22)

GAMBARAN SITUASI SOSIAL MENURUT DAVID LOCKWOD

(23)

KENYATAAN YANG DIABAIKAN DALAM PENDEKATAN STRUKTURAL FUNGSIONAL

1. Setiap STRUKTUR SOSIAL mengandung KONFLIK

dan KONTRADIKSI yang bersifat internal dan menjadi PENYEBAB PERUBAHAN

2. REAKSI suatu SISTEM SOSIAL terhadap

PERUBAHAN yang datang dari luar (extra systemic change) tidak selalu bersifat Adjustive/tampak

3. Suatu SISTEM SOSIAL dalam waktu yang panjang dapat mengalami KONFLIK SOSIAL yang bersifat VISIOUS CIRCLE

4. Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi

(24)

TEORI KONFLIK DIALEKTIKA

MEMANDANG BAHWA PERUBAHAN SOSIAL TIDAK TERJADI MELALUI

PROSES PENYESUAIAN NILAI-NILAI YANG MEMBAWA PERUBAHAN,

TETAPI TERJADI AKIBAT ADANYA KONFLIK YANG MENGHASILKAN KOMPROMI-KOMPROMI YANG

BERBEDA DENGAN KONDISI SEMULA

(25)

ASUMSI DASAR TEORI KONFLIK

DIALEKTIKA

1. PERUBAHAN SOSIAL merupakan gejala yang

melekat di setiap masyarakat

2. KONFLIK dalah gejala yang melekat pada setiap

masyarakat

3. SETIAP UNSUR didalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya

DISINTEGRASI dan PERUBAHAN-PERUBAHAN SOSIAL

4. Setiap masyarakat terintegrasi diatas

(26)

UNSUR-UNSUR yang BERTENTANGAN dalam

MASYARAKAT atau

KONTRADIKSI INTERN akibat PEMBAGIAN

KEWENANGAN/OTORITAS yang TIDAK MERATA dapat

menyebabkan terjadinya PERUBAHAN SOSIAL

(27)

KONFLIK bersifat MELEKAT kepada

MASYARAKAT, namun dalam

kenyataannya SISTEM dalam masyarakat

tetap bisa berjalan

Karena kepentingan-kepentingan

anggota masyarakat sudah terwakili

melalui mekanisme yang “terlembaga”

(28)

Menurut DAHRENDORF

Karena adanya

ASSOSIASI

TERKOORDINASI secara IMPERATIV

(IMPETARATIVELY COORDINATED

ASSOCIATIONS/ICA) yang mewakili

ORGANISASI-ORGANISASI yang

berperan penting di dalam

(29)

ICA

 Terbentuk atas HUBUNGAN-HUBUNGAN

KEKUASAAN antara beberapa KELOMPOK PEMERAN KEKUASAAN YANG ADA DALAM masyarakat

 KEKUASAAN menunjukkan adanya faktor

“PAKSAAN” oleh suatu kelompok atas

(30)

 Dalam ICA terdapat RULING dan RULED

(pemeran yang berkuasa dan pemeran yang dikuasai)  yang berkuasa berusaha

mempertahankan STATUS QUO, yang

dikuasai berusaha mendapatkan STATUS QUO

 Terdapat DIKOTOMI antara DOMINATOR dan

(31)

Dalam pandangan teori KONFLIK

DIALEKTIKA:

KEKUASAAN (POWER) dan OTORITAS

(AUTHORITY) merupakan sumber yang

langka dan selalu DIPEREBUTKAN

dalam sebuah IMPERATIVELY

(32)

DOMINATED

SUBJUGATED SUBJUGATED SUBJUGATED SUBJUGATED SUBJUGATED

MENGUASAI

DIKUASAI

(33)

TEORI KONFLIK DIALEKTIKA LEBIH SESUAI DENGAN REALITAS SOSIAL

DAHRENDORF dengan teori KONFLIK

DIALEKTIKA berusaha

(34)

REALITAS SOSIAL

1. SISTEM SOSIAL selalu berada dalam

KONFLIK yang terus menerus (CONTINUAL STATE OF CONFLICT)

2. Konflik tercipta karena KEPENTINGAN yang

saling BERTENTANGAN dalam struktur sosial

3. Kepentingan yang saling bertentangan

merupakan refleksi dari perbedaan dalam DISTRIBUSI KEKUASAAN antar kelompok yang MENDOMINASI dan TERDOMINASI

4. Kepentingan cenderung mempolarisasi

(35)

REALITAS SOSIAL

(lanjutan)

5. Konflik bersifat DIALEKTIKA (suatu konflik

menciptakan suatu kepentingan yang baru, yang dibawah kondisi tertentu akan

menurunkan konflik yang berikutnya)

6. Perubahan sosial adalah ciri/karakter yang

selalu berada dimanapun (UBIQUITOUS FEATURE) dalam setiap sistem sosial dan akibat dari konflik.

7. Konflik dapat diatasi oleh kekuasaan yang

dihimpun di dalam ICA.  ICA yang

(36)

Dalam tinjauan KONFLIK DIALEKTIKA, suatu KEPENTINGAN bisa dinegoisasikan antar

kelompok dalam ICA jika sudah menjadi KELOMPOK KEPENTINGAN yang bersifat RIIL

Sehingga,

Bersatunya INDIVIDU yang memiliki

(37)

Kepentingan yang SAMA dari beberapa

INDIVIDU, jika tidak DIORGANISASI

secara FORMAL kedalam suatu

KELOMPOK, merupakan KEPENTINGAN

SEMU karena tidak ada yang bisa

(38)

PRASYARAT KELOMPOK SEMU TERORGANISIR

PRASYARAT KELOMPOK SEMU TERORGANISIR

MENJADI KELOMPOK KEPENTINGAN

MENJADI KELOMPOK KEPENTINGAN

1. KONDISI TEKNIS dari suatu organisasi/

TECHNICAL CONDITIONS OF ORGANIZATIONS

(sejumlah orang yang mampu

mengorganisasikan dan merumuskan LATENT INTEREST menjadi MANIFEST INTEREST)

2. KONDISI POLITIS dari suatu organisasi/

POLITICAL CONDITIONS OF ORGANIZATION

(adanya KEBEBASAN POLITIK untuk

berorganisasi yang diberikan oleh masyarakat)

3. KONDISI SOSIAL bagi suatu organisasi/SOCIAL

CONDITIONS OF ORGANIZATIONS (adanya

SISTEM KOMUNIKASI yang memungkinkan para anggota dari suatu kelompok semu

(39)

Skematis proses kelompok semu menjadi kelompok kepentingan

KONDISI TEKNIS

KONDISI SOSIAL

KONDISI POLITIS KELOMPOK

(40)

Menurut penganut teori KONFLIK:

KONFLIK TIDAK BISA DILENYAPKAN,

TETAPI HANYA BISA DI KENDALIKAN

AGAR KONFLIK LATENT TIDAK

(41)

BENTUK PENGENDALIAN KONFLIK

KONSILIASI (CONCILIATION)

MEDIASI (MEDIATION)

(42)

KONSILIASI

(CONCILIATION)

TERWUJUD MELALUI LEMBAGA-LEMBAGA

TERTENTU YANG MEMUNGKINKAN TUMBUHNYA POLA DISKUSI DAN

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DIANTARA FIHAK-FIHAK YANG BERKONFLIK

Dila

kuka

n de

ngan

cara

-car

(43)

LEMBAGA-LEMBAGA berfungsi EFFEKTIF jika:

 Bersifat OTONOM dengan WEWENANG untuk MENGAMBIL KEPUTUSAN tanpa CAMPUR TANGAN fihak lain

 Kedudukan lembaga tersebut dalam

masyarakt bersifat MONOPOLISTIS (hanya lembaga tersebut yang berfungsi demikian)

 Peran lembaga harus mampu MENGIKAT KELOMPOK KEPENTINGAN yang

BERLAWANAN. Termasuk KEPUTUSAN-KEPUTUSAN yang di HASILKAN

(44)

PRASYARAT KELOMPOK

KEPENTINGAN UNTUK KONSILIASI

Masing-masing kelompok SADAR

sedang BERKONFLIK

Kelompok-kelompok yang berkonflik

TERORGANISIR secara JELAS

Setiap kelompok yang berkonflik

(45)

MEDIASI

(MEDIATION)

Fihak yang berkonflik sepakat menunjuk fihak KETIGA untuk memberi

“nasehat-nasehat” penyelesaian konflik

(46)

PERWASITAN

(ARBITRATION)

Dilakukan/terjadi jika fihak yang

bersengketa bersepakat untuk menerima

atau “terpaksa” menerima hairnya fihak

ketiga yang akan memberikan

(47)

Jika pengendalian konflik efektif maka:

KONFLIK AKAN MENJADI KEKUATAN

PENDORONG TERJADINYA

(48)

STRUKTUR MAJEMUK

MASYARAKAT INDONESIA

MASYARAKAT MAJEMUK MEMILIKI SUB STRUKTUR DENGAN CIRI YANG SANGAT BERAGAM SEHINGGA DISEBUT MAJEMUK

MASING-MASING SUB STRUKTUR

(49)

Struktur Sosial:

Suatu susunan/konfigurasi dari beberapa

orang dengan kategori yang berbeda, tetapi terikat pada suatu tata hubungan kerja yang sama

Struktur sosial Hubungan kerja

(50)

Jadi:

Dalam struktur sosial terdapat sistem

sosial

Dalam sistem sosial terdapat seperangkat

kegiatan bersama yang memperlihatkan hubungan timbal balik yang disebut

struktur

(51)

STRUKTUR SOSIAL memperlihatkan suatu

HUBUNGAN yang KONSTAN sebagai suatu kerangka

SISTEM, memberikan SIFAT dan DINAMIKA pada

STRUKTUR secara KESELURUHAN

(52)

INDONESIA adalah MASYARAKAT

MAJEMUK yang ditandai oleh 2 ciri

unik:

 MAJEMUK secara HORIZONTAL

(53)

KONSEKWENSINYA adalah:

Dalam mengamati SISTEM SOSIAL

DAN BUDAYA serta REALITAS

MASYARAKAT INDONESIA diperlukan minimal penguasaan 2 teori, yaitu; KONFLIK DIALEKTIKA dan

STRUKTURAL FUNGSIONAL.

KONFLIK dan KONSENSUS adalah

(54)

MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA

adalah:

 SUATU MASYARAKAT MAJEMUK

(PLURAL SOCIETIES) yang

masyarakatnya terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup

(55)

CIRI MASY. MAJEMUK INDONESIA

Dalam KEHIDUPAN POLITIK,

tidak ada KEHENDAK BERSAMA

Dalam KEHIDUPAN EKONOMI,

tidak ada PERMINTAAN SOSIAL yang DIHAYATI BERSAMA oleh seluruh elemen MASYARAKAT

(56)

Tidak adanya PERMINTAAN SOSIAL yang dihayati bersama, menyebabkan

KARAKTER EKONOMI YANG BERBEDA.

EKONOMI MAJEMUK  MASY. MAJEMUK

(57)

Akibatnya:

Anggota masyarakat kurang

memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai

KESELURUHAN, kurang memiliki HOMOGENITAS KEBUDAYAAN

dan kurang memiliki

(58)

KARAKTERISTIK MASYARAKAT

MAJEMUK (Pierre L. Van Den Berghe)

 Terjadi SEGMENTASI kedalam bentuk

KELOMPOK-KELOMPOK yang memiliki kebudayaan yang berbeda

 Memiliki STRUKTUR SOSIAL yang terbagi-bagi

ke dalam LEMBAGA-LEMBAGA yang NON KOMPLEMENTER

 Kurang mengembangkan KONSENSUS antar para

anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar

(59)

KARAKTERISTIK MASYARAKAT

MAJEMUK

(lanjutan)

 Secara relatif, INTEGRASI SOSIAL tumbuh diatas

PAKSAAN dan saling SALING

KETERGANTUNGAN DALAM BIDANG EKONOMI

 Adanya DOMINASI POLITIK oleh SUATU

KELOMPOK atas KELOMPOK YANG LAIN

KARAKTERISTIK MASYARAKAT MAJEMUK INI TIDAK BISA DIGOLONGKAN KE DALAM DUA

(60)

Masyarakat majemuk tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang memiliki unit-unit kekerabatan

yang bersifat segmenter.

Masyarakat majemuk tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang memiliki differensiasi atau

spesialisasi yang tinggi

(61)

MASYARAKAT YANG MEMILIKI UNIT KEKERABATAN YANG BERSIFAT SEGMENTER

Adalah:

Suatu masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam berbagai kelompok berdasarkan garis

keturunan tunggal, tetapi memiliki struktur

(62)

MASYARAKAT YANG MEMILIKI

DIFERENSIASI/SPESIALISASI TINGGI

Adalah

Suatu masyarakat dengan tingkat differensiasi

(63)

Menurut Van den Berghe;

SOLIDARITAS MEKANIS DAN

SOLIDARITAS ORGANIS sulit di

tumbuhkan dalam MASYARAKAT

MAJEMUK

Karena

(64)

FAKTOR YANG MENGINTEGRASIKAN

MASYARAKAT MAJEMUK

Adanya KONSENSUS diantara sebagian

besar anggota masyarakat terhadap

NILAI-NILAI KEMASYARAKATAN yang bersifat

fundamental

Adanya berbagai masyarakat yang berasal

dari BERBAGAI KESATUAN SOSIAL

(65)

Cross cutting affiliations and cross

cutting loyalities

KESATUAN SOSIAL

(66)

KEMUNGKINAN YANG TERJADI

PADA MASYARAKAT MAJEMUK

minimal ada 2 (dua) tingkatan konflik yang

mungkin terjadi;

(67)

KONFLIK BERSIFAT IDEOLOGIS

Terwujud dalam bentuk konflik antara

SISTEM NILAI yang DIANUT OLEH serta

menjadi IDEOLOGI dari BERBAGAI

(68)

KONFLIK BERSIFAT POLITIS

Terjadi dalam bentuk PERTENTANGAN di

dalam PEMBAGIAN STATUS

(69)

Dalam situasi “KONFLIK”, masyarakat yang

berselisih berusaha MENGABAIKAN DIRI

dengan MEMPERKOKOH SOLIDARITAS

ANGGOTA, MEMBENTUK ORGANISASI

KEMASYARAKATAN untuk

(70)

Faktor tersebut DIPERKUAT oleh ADANYA

PAKSAAN dari SUATU KELOMPOK atau

KESATUAN SOSIAL yang DOMINAN atas

KELOMPOK yang LAIN

(71)

SUATU INTEGRASI SOSIAL YANG TANGGUH DAPAT BERKEMBANG APABILA

 SEBAGIAN BESAR ANGGOTA MASYARAKAT

BANGSA BERSEPAKAT TENTANG

BATAS-BATAS TERITORIAL DARI NEGARA SEBAGAI SUATU KEHIDUPAN POLITIK

 SEBAGIAN BESAR ANGGOTA MASYARAKAT

BERSEPAKAT MENGENAI STRUKTUR

PEMERINTAHAN DAN ATURAN-ATURAN DALAM PROSES POLITIK YANG BERLAKU BAGI SELURUH MASYARAKAT (William

(72)

KONSEP STATUS DAN PERANAN UNTUK MELIHAT HUBUNGAN INDIVIDU DENGAN

SISTEM SOSIAL

STATUS adalah suatu posisi dalam struktur

sosial yang menentukan dimana seseorang menempatkan dirinya dalam suatu komunitas dan bagaimana ia diharapkan bersikap dan berhubungan dengan orang lain.

PERANAN adalah pola perilaku yang

diharapka dari seseorang yang mempunyai status atau posisi tertentu dalam suatu

(73)

Dalam suatu SISTEM SOSIAL, individu menduduki suatu tempat (status) dan bertindak (berperan) sesuai dengan

(74)

DIFERENSIASI SOSIAL

Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita jumpai.

Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras,

etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin.  Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara

bertingkat/vertikal seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan lapisan rendah.

(75)

DIFERENSIASI SOSIAL

Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap

perbedaan-perbedaan yang biasanya sama.

Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan

atau klasifikasi masyarakat secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya.

Pengelompokan horisontal yang didasarkan pada

perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen dan agama disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan

(76)

DIFERENSIASI SOSIAL

Bagan:

Kemajemukan sosial, ras, etnis dan agama Heterogenitas sosial

profesi (pekerjaan), gender

(77)

Ciri-ciri yang Mendasari

Diferensiasi Sosial

Ciri Fisik. Diferensiasi ini terjadi karena

perbedaan ciri-ciri tertentu. Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.

Ciri Sosia. Muncul karena perbedaan pekerjaan

yang menimbulkan cara pandang dan pola

perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan. Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang

(78)

Ciri-ciri yang Mendasari

Diferensiasi Sosial

Ciri Budaya. Berhubungan erat dengan pandangan

hidup suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu

(79)

Bentuk­bentuk Diferensiasi 

Sosial

Diferensiasi Ras. Ras adalah suatu kelompok manusia yang

memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri- ciri fisiknya, bukan budayanya.

Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis). Menurut Hassan

Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan

rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras.

Namun suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang

(80)

Diferensiasi Klen (Clan)

Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau

keluarga besar. Klen merupakan kesatuan

keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen

adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral baik melalui garis ayah

(81)
(82)

Diferensiasi Agama

Diferensiasi agama merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya.

Komponen-komponen Agama:

Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur percaya.

Sistem keyakinan, terwujud dalam bentuk pikiran/gagasan manusia seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan

sebagainya.

Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, Dewa-dewa dan Roh Nenek Moyang.

(83)

Diferensiasi Agama (lanjutan)

Agama dan Masyarakat. Dalam perkembangannya

agama mempengaruhi masyarakat dan demikian juga masyarakat mempengaruhi agama atau terjadi interaksi yang dinamis. Di Indonesia, kita mengenal agama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Disamping itu

(84)

Diferensiasi Profesi (pekerjaan)

Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya.

Profesi biasanya berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi dosen memerlukan ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb.  Berdasarkan perbedaan profesi kita mengenal kelompok

masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.

Perbedaan profesi biasanya juga akan berpengaruh pada perilaku sosialnya. Contohnya, perilaku seorang guru akan berbeda dengan seorang dokter ketika keduanya

(85)

Diferensiasi Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan kategori dalam

masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis).

Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari

struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya.

Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat

(86)
(87)

Diferensiasi Partai

 Demi menampung aspirasi masyarakat untuk 

turut serta mengatur negara/ berkuasa, maka  bermunculan banyak sekali partai. 

 Diferensiasi partai adalah perbedaan 

(88)

Industrialisasi

Industrialisasi yang terjadi saat ini telah membawa

pengaruh dan dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Industri memberi mata pencaharian kepada berjuta-juta rakyat dalam bidang-bidang yang berbeda. Industri membuka peluang bagi banyak orang untuk mengembangkan kemampuannya.

Industri mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak

(89)

Revolusi Industri dan Munculnya

Kapitalisme Industri

Revolusi Industri adalah perubahan teknologi,

sosioekonomi, dan budaya pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang terjadi dengan penggantian

ekonomi yang berdasarkan pekerja menjadi yang didominasi oleh industri dan diproduksi mesin.

Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan

mesin uap (dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar) dan ditenagai oleh mesin (terutama

dalam produksi tekstil).

Perkembangan peralatan mesin logam-keseluruhan

(90)

Revolusi Industri dan Munculnya

Kapitalisme Industri

Awal mulai Revolusi Industri tidak jelas tetapi

T.S. Ashton menulisnya kira-kira 1760-1830.

Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi

Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi

mendapatkan momentum dengan

perkembangan kapal tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut

(91)

Dampak Revolusi Industri

Efek budayanya menyebar ke seluruh Eropa Barat

dan Amerika Utara, kemudian mempengaruhi seluruh dunia. Efek dari perubahan ini di masyarakat sangat besar dan seringkali dibandingkan dengan revolusi kebudayaan pada masa Neolitikum ketika pertanian mulai dilakukan dan membentuk peradaban,

menggantikan kehidupan nomadik.

Istilah "Revolusi Industri" diperkenalkan oleh

(92)
(93)

ERA INDUSTRIALISASI DI

INDONESIA

Era Industrialisasi di Indonesia: Periode Pendudukan Belanda

Perkembangan industrialisasi di Indonesia, terbagi dalam empat

periode, mulai dari tanam paksa hingga berakhirnya Pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang hingga akhir Perang Dunia II, proklamasi hingga berakhirnya Orde Lama, serta masa Orde Baru hingga berakhirnya pembangunan Jangka Panjang I.

(94)

Era Industrialisasi di Indonesia: Periode Pendudukan Jepang

Kebijakan industri pada masa pendudukan Jepang beralih ke

keperluan perang. Dalam masa ini dikembangkan satu kebijakan yaitu kebijakan Ekonomi Wilayah Selatan yang meliputi 2 wilayah, yaitu Hindia Belanda, Malaya, Baruto dan Filipina yang termasuk wilayah pertama, dan Indochina, dan Muangthai termasuk wilayah dua.

Pada masa ini pula terjadi perubahan struktur industri, dimana

(95)

Era Industrialisasi di Indonesia: Periode 20 Tahun Indonesia Merdeka

Perkembangan industri di Indonesia, penggal waktu ketiga ditandai

dengan trial dan error dalam pengembangan industri. Hal ini karena bangsa Indonesia memang belum memiliki pengalaman sendiri dalam mengelola industri.

Pada penggal waktu ini ditandai dengan silih bergantinya

pemerintahan, sehingga industri tidak berkembang kemudian dibuat Rencana Pembangunan Lima Tahun, yang disahkan DPR pada tahun 1958 dan berlaku surut hingga 1 Januari 1956.

Tahun 1957 terjadi nasionalisasi pengusaha asing yang secara tidak

(96)

Era Industrialisasi di Indonesia: Periode Orde Baru

Repelita sebagai ganti dari PNSB dimulai dengan target

ambisius yaitu meningkatkan hingga 50% produksi dalam waktu 5 tahun. Repelita menekankan pada industri pertanian.

Masa ini terjadi dalam tahap stabilisasi dan reformasi,

(97)

Repelita ini dibagi dalam Pembanguan Lima Tahun I hingga ke V.

Pelita I ditandai dengan probahan proyek pembinaan industri kecil

kerajinan rakyat.

Pelita II ditandai dengan pemberian fasilitas kredit.

Pelita III ditandai dengan keterkaitan industri kecil pada perekonomian

nasional.

Pelita IV ditandai dengan program bapak angkat dalam pemberian bahan

baku.

Gambar

Gambar SISTEM
Gambar SISTEM

Referensi

Dokumen terkait

kan terima Icas Ih , atas bantuan semua pihak dalam pcrvusun-.. an dan penyelesaian Laporan peneiitian yang

Hasil penelitian ini berbeda dengan yang ditemukan oleh Ong & Kim (2014) pada ethnis di Filipina yang menemukan bahwa Psidium guajava merupakan tumbuhan obat

Disamping itu, budaya organisasi juga merupakan hal yang penting dan perlu mendapatkan perhatian dari pemimpin perusahaan dikarenakan merupakan hal yang sangat berpengaruh

Minyak mentah yang diperoleh dari hasil pengilangan dapat langsung dipisahkan terhadap fraksi-fraksinya untuk menentukan berapa jumlah persen volum dari setiap fraksi

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah

Seperti terlihat pada Gambar 12, pada daerah bangunan yang rapat dan kecil atau kumuh sepertinya model tiga dimensi dari bangunan hasil pemodelan masih belum

Dari permasalahan tersebut pencipta menemukan suatu ide untuk Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur dalam mendukung media informasi dan sebagai

Menurut Penebar Swadaya, (1994) hasil ikutan dari pengolahan TBS selain minyak sawit yang dapat digunakan sebagai makanan ternak antara lain minyak sawit kasar,