SISTEM SOSIAL INDONESIA
DIPERLUKAN UNTUK
Mengapa
demikian...??
Karena sistem sosial dan budaya
masyarakat Indonesia sangat
HETEROGEN secara VERTIKAL
maupun HORIZONTAL
Indonesia merupakan negara yang
PLURALITAS MENURUT QUR’AN
Diakui oleh Al Quran - yaitu Surat Al Baqarah ayat 148
- bahwa masyarakat terdiri dari berbagai macam
komunitas yang memiliki orientasi kehidupan sendiri-sendiri.
Manusia harus menerima kenyataan keragaman
budaya dan memberikan toleransi kepada masing-masing komunitas dalam menjalankan ibadahnya.
Dengan keragaman dan perbedaan itu ditekankan
perlunya masing-masing berlomba menuju kebaikan. Mereka semua akan dikumpulkan oleh Allah SWT
AKIBAT HETEROGENITAS MASYARAKAT
INDONESIA
TERKAIT DENGAN INDONESIA SEBAGAI SUATU
STATE YANG TERINTEGRASI
Memunculkan 2 pertanyaan inti:
1.
faktor-faktor latent apakah yang
sesungguhnya telah menyebabkan
terjadinya konflik?.
2.
Faktor-faktor apakah yang
Untuk menjawab 2
pertanyaan tersebut
maka...
Apakah SISTEM…..?????
Konsep yang menjelaskan:
Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan
antar bagian-bagian,komponen-komponen, dan proses-proses yang melingkupi aturan-aturan tata hubungan yang dapat dikenali.
Suatu tipe serupa dari saling ketergantungan
Gambar SISTEM
SISTEM
HUBUNGAN SALING TERGANTUNG
PLURALITAS MASYARAKAT
PLURALITAS MASYARAKAT
INDONESIA DISEBABKAN OLEH:
INDONESIA DISEBABKAN OLEH:
KEADAAN GEOGRAFIS
LETAK INDONESIA ANTARA SAMODERA
INDONESIA DAN SAMODERA PASIFIK (pusat
lalu lintas perdagangan dan persebaran agama)
IKLIM YANG BERBEDA (berakibat plural secara
regional)
CURAH HUJAN DAN KESUBURAN TANAH YANG
BERBEDA (PLURALITAS LINGKUNGAN EKOLOGIS)
a) WETRICE CULTIVATION (pertanian sawah di Jawa dan
Bali)
Gambar SISTEM
SISTEM
HUBUNGAN SALING TERGANTUNG
UNTUK MEMAHAMI SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA INDONESIA DIPERLUKAN PENGUASAAN TEORI
DUA PENDEKATAN TEORITIS YANG
HARUS DIKUASAI:
STRUKTURAL FUNGSIONAL
STRUKTURAL FUNGSIONAL
Asumsi Dasar:
MASYARAKAT TERINTEGRASI ATAS
DASAR KATA SEPAKAT PARA
ANGGOTANYA TERHADAP NILAI
DASAR KEMASYARAKATAN YANG
KESEPAKATAN MASYARAKAT
tersebut
Menjadi GENERAL AGREEMENTS yang memiliki kemampuan mengatasi
PERBEDAAN-PERBEDAAN PENDAPAT dan KEPENTINGAN dari para anggotanya
MASYARAKAT SEBAGAI SUATU SISTEM
YANG SECARA FUNGSIONAL
Istilah lain pendekatan
STRUKTURAL FUNGSIONAL
INTEGRATION APPROACH
ORDER APPROACH
EQUILIBRIUM APPROACH
STRUCTURAL FUNGTIONAL
TOKOH
PLATO
AUGUSTE COMTE
HERBERT SPENCER
EMILE DURKHEIM
BRANISLAW
MALINOWSKI
REDCLIFFE BROWN
ANGGAPAN DASAR THEORI
STRUKTURAL FUNGSIONAL
STRUKTURAL FUNGSIONAL
Masyarakat adalah suatu SISTEM dari
BAGIAN-BAGIAN yang saling BERHUBUNGAN
Hubungan dalam masyarakat bersifat GANDA dan
TIMBAL BALIK (SALING MEMPENGARUHI)
Secara FUNDAMENTAL, SISTEM SOSIAL
cenderung bergerak kearah EQUILIBRIUM dan bersifat DINAMIS
DISFUNGSI/KETEGANGAN SOSIAL/
ANGGAPAN DASAR THEORI
STRUKTURAL FUNGSIONAL
STRUKTURAL FUNGSIONAL
(lanjutan)
(lanjutan)
PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam SISTEM SOSIAL
bersifat GRADUAL melalui PENYESUAIAN. Bukan bersifat REVOLUSIONER
PERUBAHAN terjadi melalui 3 macam kemungkinan: 1. PENYESUAIAN SIATEM SOSIAL terhadap
PERUBAHAN DARI LUAR (extra systemic change)
2. PERTUMBUHAN melalui PROSES DIFFERENSIASI
STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL
3. PENEMUAN BARU oleh ANGGOTA MASYARAKAT Faktor terpenting dalam INTEGRASI adalah
Penilaian/kritik terhadap theori
STRUKTURAL FUNGSIONAL
Terlalu menekankan anggapan dasarnya
pada PERANAN UNSUR-UNSUR
NORMATIF dari TINGKAH LAKU SOSIAL
(pengaturan secara NORMATIF terhadap
HASRAT seseorang untuk menjamin
STABILITAS SOSIAL)
Menurut David Lockwood
Terdapat SUB STRATUM yang berupa
DISPOSISI-DISPOSISI yang mengakibatkan timbulnya PERBEDAAN LIFE CHANCES (kesempatan hidup) dan
KEPENTINGAN-KEPENTINGAN YANG TIDAK NORMATIF
DALAM SETIAP SITUASI SOSIAL terdapat 2 hal yaitu:
TATA TERTIB yang bersifat NORMATIF
GAMBARAN SITUASI SOSIAL MENURUT DAVID LOCKWOD
KENYATAAN YANG DIABAIKAN DALAM PENDEKATAN STRUKTURAL FUNGSIONAL
1. Setiap STRUKTUR SOSIAL mengandung KONFLIK
dan KONTRADIKSI yang bersifat internal dan menjadi PENYEBAB PERUBAHAN
2. REAKSI suatu SISTEM SOSIAL terhadap
PERUBAHAN yang datang dari luar (extra systemic change) tidak selalu bersifat Adjustive/tampak
3. Suatu SISTEM SOSIAL dalam waktu yang panjang dapat mengalami KONFLIK SOSIAL yang bersifat VISIOUS CIRCLE
4. Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi
TEORI KONFLIK DIALEKTIKA
MEMANDANG BAHWA PERUBAHAN SOSIAL TIDAK TERJADI MELALUI
PROSES PENYESUAIAN NILAI-NILAI YANG MEMBAWA PERUBAHAN,
TETAPI TERJADI AKIBAT ADANYA KONFLIK YANG MENGHASILKAN KOMPROMI-KOMPROMI YANG
BERBEDA DENGAN KONDISI SEMULA
ASUMSI DASAR TEORI KONFLIK
DIALEKTIKA
1. PERUBAHAN SOSIAL merupakan gejala yang
melekat di setiap masyarakat
2. KONFLIK dalah gejala yang melekat pada setiap
masyarakat
3. SETIAP UNSUR didalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya
DISINTEGRASI dan PERUBAHAN-PERUBAHAN SOSIAL
4. Setiap masyarakat terintegrasi diatas
UNSUR-UNSUR yang BERTENTANGAN dalam
MASYARAKAT atau
KONTRADIKSI INTERN akibat PEMBAGIAN
KEWENANGAN/OTORITAS yang TIDAK MERATA dapat
menyebabkan terjadinya PERUBAHAN SOSIAL
KONFLIK bersifat MELEKAT kepada
MASYARAKAT, namun dalam
kenyataannya SISTEM dalam masyarakat
tetap bisa berjalan
Karena kepentingan-kepentingan
anggota masyarakat sudah terwakili
melalui mekanisme yang “terlembaga”
Menurut DAHRENDORF
Karena adanya
ASSOSIASI
TERKOORDINASI secara IMPERATIV
(IMPETARATIVELY COORDINATED
ASSOCIATIONS/ICA) yang mewakili
ORGANISASI-ORGANISASI yang
berperan penting di dalam
ICA
Terbentuk atas HUBUNGAN-HUBUNGAN
KEKUASAAN antara beberapa KELOMPOK PEMERAN KEKUASAAN YANG ADA DALAM masyarakat
KEKUASAAN menunjukkan adanya faktor
“PAKSAAN” oleh suatu kelompok atas
Dalam ICA terdapat RULING dan RULED
(pemeran yang berkuasa dan pemeran yang dikuasai) yang berkuasa berusaha
mempertahankan STATUS QUO, yang
dikuasai berusaha mendapatkan STATUS QUO
Terdapat DIKOTOMI antara DOMINATOR dan
Dalam pandangan teori KONFLIK
DIALEKTIKA:
KEKUASAAN (POWER) dan OTORITAS
(AUTHORITY) merupakan sumber yang
langka dan selalu DIPEREBUTKAN
dalam sebuah IMPERATIVELY
DOMINATED
SUBJUGATED SUBJUGATED SUBJUGATED SUBJUGATED SUBJUGATED
MENGUASAI
DIKUASAI
TEORI KONFLIK DIALEKTIKA LEBIH SESUAI DENGAN REALITAS SOSIAL
DAHRENDORF dengan teori KONFLIK
DIALEKTIKA berusaha
REALITAS SOSIAL
1. SISTEM SOSIAL selalu berada dalam
KONFLIK yang terus menerus (CONTINUAL STATE OF CONFLICT)
2. Konflik tercipta karena KEPENTINGAN yang
saling BERTENTANGAN dalam struktur sosial
3. Kepentingan yang saling bertentangan
merupakan refleksi dari perbedaan dalam DISTRIBUSI KEKUASAAN antar kelompok yang MENDOMINASI dan TERDOMINASI
4. Kepentingan cenderung mempolarisasi
REALITAS SOSIAL
(lanjutan)
5. Konflik bersifat DIALEKTIKA (suatu konflik
menciptakan suatu kepentingan yang baru, yang dibawah kondisi tertentu akan
menurunkan konflik yang berikutnya)
6. Perubahan sosial adalah ciri/karakter yang
selalu berada dimanapun (UBIQUITOUS FEATURE) dalam setiap sistem sosial dan akibat dari konflik.
7. Konflik dapat diatasi oleh kekuasaan yang
dihimpun di dalam ICA. ICA yang
Dalam tinjauan KONFLIK DIALEKTIKA, suatu KEPENTINGAN bisa dinegoisasikan antar
kelompok dalam ICA jika sudah menjadi KELOMPOK KEPENTINGAN yang bersifat RIIL
Sehingga,
Bersatunya INDIVIDU yang memiliki
Kepentingan yang SAMA dari beberapa
INDIVIDU, jika tidak DIORGANISASI
secara FORMAL kedalam suatu
KELOMPOK, merupakan KEPENTINGAN
SEMU karena tidak ada yang bisa
PRASYARAT KELOMPOK SEMU TERORGANISIR
PRASYARAT KELOMPOK SEMU TERORGANISIR
MENJADI KELOMPOK KEPENTINGAN
MENJADI KELOMPOK KEPENTINGAN
1. KONDISI TEKNIS dari suatu organisasi/
TECHNICAL CONDITIONS OF ORGANIZATIONS
(sejumlah orang yang mampu
mengorganisasikan dan merumuskan LATENT INTEREST menjadi MANIFEST INTEREST)
2. KONDISI POLITIS dari suatu organisasi/
POLITICAL CONDITIONS OF ORGANIZATION
(adanya KEBEBASAN POLITIK untuk
berorganisasi yang diberikan oleh masyarakat)
3. KONDISI SOSIAL bagi suatu organisasi/SOCIAL
CONDITIONS OF ORGANIZATIONS (adanya
SISTEM KOMUNIKASI yang memungkinkan para anggota dari suatu kelompok semu
Skematis proses kelompok semu menjadi kelompok kepentingan
KONDISI TEKNIS
KONDISI SOSIAL
KONDISI POLITIS KELOMPOK
Menurut penganut teori KONFLIK:
KONFLIK TIDAK BISA DILENYAPKAN,
TETAPI HANYA BISA DI KENDALIKAN
AGAR KONFLIK LATENT TIDAK
BENTUK PENGENDALIAN KONFLIK
KONSILIASI (CONCILIATION)
MEDIASI (MEDIATION)
KONSILIASI
(CONCILIATION)
TERWUJUD MELALUI LEMBAGA-LEMBAGA
TERTENTU YANG MEMUNGKINKAN TUMBUHNYA POLA DISKUSI DAN
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DIANTARA FIHAK-FIHAK YANG BERKONFLIK
Dila
kuka
n de
ngan
cara
-car
LEMBAGA-LEMBAGA berfungsi EFFEKTIF jika:
Bersifat OTONOM dengan WEWENANG untuk MENGAMBIL KEPUTUSAN tanpa CAMPUR TANGAN fihak lain
Kedudukan lembaga tersebut dalam
masyarakt bersifat MONOPOLISTIS (hanya lembaga tersebut yang berfungsi demikian)
Peran lembaga harus mampu MENGIKAT KELOMPOK KEPENTINGAN yang
BERLAWANAN. Termasuk KEPUTUSAN-KEPUTUSAN yang di HASILKAN
PRASYARAT KELOMPOK
KEPENTINGAN UNTUK KONSILIASI
Masing-masing kelompok SADAR
sedang BERKONFLIK
Kelompok-kelompok yang berkonflik
TERORGANISIR secara JELAS
Setiap kelompok yang berkonflik
MEDIASI
(MEDIATION)
Fihak yang berkonflik sepakat menunjuk fihak KETIGA untuk memberi
“nasehat-nasehat” penyelesaian konflik
PERWASITAN
(ARBITRATION)
Dilakukan/terjadi jika fihak yang
bersengketa bersepakat untuk menerima
atau “terpaksa” menerima hairnya fihak
ketiga yang akan memberikan
Jika pengendalian konflik efektif maka:
KONFLIK AKAN MENJADI KEKUATAN
PENDORONG TERJADINYA
STRUKTUR MAJEMUK
MASYARAKAT INDONESIA
MASYARAKAT MAJEMUK MEMILIKI SUB STRUKTUR DENGAN CIRI YANG SANGAT BERAGAM SEHINGGA DISEBUT MAJEMUK
MASING-MASING SUB STRUKTUR
Struktur Sosial:
Suatu susunan/konfigurasi dari beberapa
orang dengan kategori yang berbeda, tetapi terikat pada suatu tata hubungan kerja yang sama
Struktur sosial Hubungan kerja
Jadi:
Dalam struktur sosial terdapat sistem
sosial
Dalam sistem sosial terdapat seperangkat
kegiatan bersama yang memperlihatkan hubungan timbal balik yang disebut
struktur
STRUKTUR SOSIAL memperlihatkan suatu
HUBUNGAN yang KONSTAN sebagai suatu kerangka
SISTEM, memberikan SIFAT dan DINAMIKA pada
STRUKTUR secara KESELURUHAN
INDONESIA adalah MASYARAKAT
MAJEMUK yang ditandai oleh 2 ciri
unik:
MAJEMUK secara HORIZONTAL
KONSEKWENSINYA adalah:
Dalam mengamati SISTEM SOSIAL
DAN BUDAYA serta REALITAS
MASYARAKAT INDONESIA diperlukan minimal penguasaan 2 teori, yaitu; KONFLIK DIALEKTIKA dan
STRUKTURAL FUNGSIONAL.
KONFLIK dan KONSENSUS adalah
MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA
adalah:
SUATU MASYARAKAT MAJEMUK
(PLURAL SOCIETIES) yang
masyarakatnya terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup
CIRI MASY. MAJEMUK INDONESIA
Dalam KEHIDUPAN POLITIK,
tidak ada KEHENDAK BERSAMA
Dalam KEHIDUPAN EKONOMI,
tidak ada PERMINTAAN SOSIAL yang DIHAYATI BERSAMA oleh seluruh elemen MASYARAKAT
Tidak adanya PERMINTAAN SOSIAL yang dihayati bersama, menyebabkan
KARAKTER EKONOMI YANG BERBEDA.
EKONOMI MAJEMUK MASY. MAJEMUK
Akibatnya:
Anggota masyarakat kurang
memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai
KESELURUHAN, kurang memiliki HOMOGENITAS KEBUDAYAAN
dan kurang memiliki
KARAKTERISTIK MASYARAKAT
MAJEMUK (Pierre L. Van Den Berghe)
Terjadi SEGMENTASI kedalam bentuk
KELOMPOK-KELOMPOK yang memiliki kebudayaan yang berbeda
Memiliki STRUKTUR SOSIAL yang terbagi-bagi
ke dalam LEMBAGA-LEMBAGA yang NON KOMPLEMENTER
Kurang mengembangkan KONSENSUS antar para
anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar
KARAKTERISTIK MASYARAKAT
MAJEMUK
(lanjutan)
Secara relatif, INTEGRASI SOSIAL tumbuh diatas
PAKSAAN dan saling SALING
KETERGANTUNGAN DALAM BIDANG EKONOMI
Adanya DOMINASI POLITIK oleh SUATU
KELOMPOK atas KELOMPOK YANG LAIN
KARAKTERISTIK MASYARAKAT MAJEMUK INI TIDAK BISA DIGOLONGKAN KE DALAM DUA
Masyarakat majemuk tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang memiliki unit-unit kekerabatan
yang bersifat segmenter.
Masyarakat majemuk tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang memiliki differensiasi atau
spesialisasi yang tinggi
MASYARAKAT YANG MEMILIKI UNIT KEKERABATAN YANG BERSIFAT SEGMENTER
Adalah:
Suatu masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam berbagai kelompok berdasarkan garis
keturunan tunggal, tetapi memiliki struktur
MASYARAKAT YANG MEMILIKI
DIFERENSIASI/SPESIALISASI TINGGI
Adalah
Suatu masyarakat dengan tingkat differensiasi
Menurut Van den Berghe;
SOLIDARITAS MEKANIS DAN
SOLIDARITAS ORGANIS sulit di
tumbuhkan dalam MASYARAKAT
MAJEMUK
Karena
FAKTOR YANG MENGINTEGRASIKAN
MASYARAKAT MAJEMUK
Adanya KONSENSUS diantara sebagian
besar anggota masyarakat terhadap
NILAI-NILAI KEMASYARAKATAN yang bersifat
fundamental
Adanya berbagai masyarakat yang berasal
dari BERBAGAI KESATUAN SOSIAL
Cross cutting affiliations and cross
cutting loyalities
KESATUAN SOSIAL
KEMUNGKINAN YANG TERJADI
PADA MASYARAKAT MAJEMUK
minimal ada 2 (dua) tingkatan konflik yang
mungkin terjadi;
KONFLIK BERSIFAT IDEOLOGIS
Terwujud dalam bentuk konflik antara
SISTEM NILAI yang DIANUT OLEH serta
menjadi IDEOLOGI dari BERBAGAI
KONFLIK BERSIFAT POLITIS
Terjadi dalam bentuk PERTENTANGAN di
dalam PEMBAGIAN STATUS
Dalam situasi “KONFLIK”, masyarakat yang
berselisih berusaha MENGABAIKAN DIRI
dengan MEMPERKOKOH SOLIDARITAS
ANGGOTA, MEMBENTUK ORGANISASI
KEMASYARAKATAN untuk
Faktor tersebut DIPERKUAT oleh ADANYA
PAKSAAN dari SUATU KELOMPOK atau
KESATUAN SOSIAL yang DOMINAN atas
KELOMPOK yang LAIN
SUATU INTEGRASI SOSIAL YANG TANGGUH DAPAT BERKEMBANG APABILA
SEBAGIAN BESAR ANGGOTA MASYARAKAT
BANGSA BERSEPAKAT TENTANG
BATAS-BATAS TERITORIAL DARI NEGARA SEBAGAI SUATU KEHIDUPAN POLITIK
SEBAGIAN BESAR ANGGOTA MASYARAKAT
BERSEPAKAT MENGENAI STRUKTUR
PEMERINTAHAN DAN ATURAN-ATURAN DALAM PROSES POLITIK YANG BERLAKU BAGI SELURUH MASYARAKAT (William
KONSEP STATUS DAN PERANAN UNTUK MELIHAT HUBUNGAN INDIVIDU DENGAN
SISTEM SOSIAL
STATUS adalah suatu posisi dalam struktur
sosial yang menentukan dimana seseorang menempatkan dirinya dalam suatu komunitas dan bagaimana ia diharapkan bersikap dan berhubungan dengan orang lain.
PERANAN adalah pola perilaku yang
diharapka dari seseorang yang mempunyai status atau posisi tertentu dalam suatu
Dalam suatu SISTEM SOSIAL, individu menduduki suatu tempat (status) dan bertindak (berperan) sesuai dengan
DIFERENSIASI SOSIAL
Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita jumpai.
Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras,
etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin. Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara
bertingkat/vertikal seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan lapisan rendah.
DIFERENSIASI SOSIAL
Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap
perbedaan-perbedaan yang biasanya sama.
Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan
atau klasifikasi masyarakat secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya.
Pengelompokan horisontal yang didasarkan pada
perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen dan agama disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan
DIFERENSIASI SOSIAL
Bagan:
Kemajemukan sosial, ras, etnis dan agama Heterogenitas sosial
profesi (pekerjaan), gender
Ciri-ciri yang Mendasari
Diferensiasi Sosial
Ciri Fisik. Diferensiasi ini terjadi karena
perbedaan ciri-ciri tertentu. Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.
Ciri Sosia. Muncul karena perbedaan pekerjaan
yang menimbulkan cara pandang dan pola
perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan. Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang
Ciri-ciri yang Mendasari
Diferensiasi Sosial
Ciri Budaya. Berhubungan erat dengan pandangan
hidup suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu
Bentukbentuk Diferensiasi
Sosial
Diferensiasi Ras. Ras adalah suatu kelompok manusia yang
memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri- ciri fisiknya, bukan budayanya.
Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis). Menurut Hassan
Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan
rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras.
Namun suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang
Diferensiasi Klen (Clan)
Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau
keluarga besar. Klen merupakan kesatuan
keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen
adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral baik melalui garis ayah
Diferensiasi Agama
Diferensiasi agama merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya.
Komponen-komponen Agama:
・ Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur percaya.
・ Sistem keyakinan, terwujud dalam bentuk pikiran/gagasan manusia seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan
sebagainya.
・ Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, Dewa-dewa dan Roh Nenek Moyang.
Diferensiasi Agama (lanjutan)
Agama dan Masyarakat. Dalam perkembangannya
agama mempengaruhi masyarakat dan demikian juga masyarakat mempengaruhi agama atau terjadi interaksi yang dinamis. Di Indonesia, kita mengenal agama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Disamping itu
Diferensiasi Profesi (pekerjaan)
Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya.
Profesi biasanya berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi dosen memerlukan ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb. Berdasarkan perbedaan profesi kita mengenal kelompok
masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.
Perbedaan profesi biasanya juga akan berpengaruh pada perilaku sosialnya. Contohnya, perilaku seorang guru akan berbeda dengan seorang dokter ketika keduanya
Diferensiasi Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan kategori dalam
masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis).
Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari
struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya.
Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat
Diferensiasi Partai
Demi menampung aspirasi masyarakat untuk
turut serta mengatur negara/ berkuasa, maka bermunculan banyak sekali partai.
Diferensiasi partai adalah perbedaan
Industrialisasi
Industrialisasi yang terjadi saat ini telah membawa
pengaruh dan dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Industri memberi mata pencaharian kepada berjuta-juta rakyat dalam bidang-bidang yang berbeda. Industri membuka peluang bagi banyak orang untuk mengembangkan kemampuannya.
Industri mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak
Revolusi Industri dan Munculnya
Kapitalisme Industri
Revolusi Industri adalah perubahan teknologi,
sosioekonomi, dan budaya pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang terjadi dengan penggantian
ekonomi yang berdasarkan pekerja menjadi yang didominasi oleh industri dan diproduksi mesin.
Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan
mesin uap (dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar) dan ditenagai oleh mesin (terutama
dalam produksi tekstil).
Perkembangan peralatan mesin logam-keseluruhan
Revolusi Industri dan Munculnya
Kapitalisme Industri
Awal mulai Revolusi Industri tidak jelas tetapi
T.S. Ashton menulisnya kira-kira 1760-1830.
Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi
Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi
mendapatkan momentum dengan
perkembangan kapal tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut
Dampak Revolusi Industri
Efek budayanya menyebar ke seluruh Eropa Barat
dan Amerika Utara, kemudian mempengaruhi seluruh dunia. Efek dari perubahan ini di masyarakat sangat besar dan seringkali dibandingkan dengan revolusi kebudayaan pada masa Neolitikum ketika pertanian mulai dilakukan dan membentuk peradaban,
menggantikan kehidupan nomadik.
Istilah "Revolusi Industri" diperkenalkan oleh
ERA INDUSTRIALISASI DI
INDONESIA
Era Industrialisasi di Indonesia: Periode Pendudukan Belanda
Perkembangan industrialisasi di Indonesia, terbagi dalam empat
periode, mulai dari tanam paksa hingga berakhirnya Pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang hingga akhir Perang Dunia II, proklamasi hingga berakhirnya Orde Lama, serta masa Orde Baru hingga berakhirnya pembangunan Jangka Panjang I.
Era Industrialisasi di Indonesia: Periode Pendudukan Jepang
Kebijakan industri pada masa pendudukan Jepang beralih ke
keperluan perang. Dalam masa ini dikembangkan satu kebijakan yaitu kebijakan Ekonomi Wilayah Selatan yang meliputi 2 wilayah, yaitu Hindia Belanda, Malaya, Baruto dan Filipina yang termasuk wilayah pertama, dan Indochina, dan Muangthai termasuk wilayah dua.
Pada masa ini pula terjadi perubahan struktur industri, dimana
Era Industrialisasi di Indonesia: Periode 20 Tahun Indonesia Merdeka
Perkembangan industri di Indonesia, penggal waktu ketiga ditandai
dengan trial dan error dalam pengembangan industri. Hal ini karena bangsa Indonesia memang belum memiliki pengalaman sendiri dalam mengelola industri.
Pada penggal waktu ini ditandai dengan silih bergantinya
pemerintahan, sehingga industri tidak berkembang kemudian dibuat Rencana Pembangunan Lima Tahun, yang disahkan DPR pada tahun 1958 dan berlaku surut hingga 1 Januari 1956.
Tahun 1957 terjadi nasionalisasi pengusaha asing yang secara tidak
Era Industrialisasi di Indonesia: Periode Orde Baru
Repelita sebagai ganti dari PNSB dimulai dengan target
ambisius yaitu meningkatkan hingga 50% produksi dalam waktu 5 tahun. Repelita menekankan pada industri pertanian.
Masa ini terjadi dalam tahap stabilisasi dan reformasi,
Repelita ini dibagi dalam Pembanguan Lima Tahun I hingga ke V.
Pelita I ditandai dengan probahan proyek pembinaan industri kecil
kerajinan rakyat.
Pelita II ditandai dengan pemberian fasilitas kredit.
Pelita III ditandai dengan keterkaitan industri kecil pada perekonomian
nasional.
Pelita IV ditandai dengan program bapak angkat dalam pemberian bahan
baku.