”TEORITISASI DAN IMPLIKASI PERTUKARAN SOSIAL DALAM KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI”
Makalah ini diajukan untuk memenuhi nilai UTS mata kuliah Teori Komunikasi
Dosen Pembimbing :
Drs. A. M. Moefad, SH., M.Si
Disusun Oleh :
Danus Ardiansah (B06210003)
Kelas 2/G1
Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Dakwah
2O11
KATA PENGANTARPuji dan Syukur Penulis Panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang Teoritisasi dan Implikasi Pertukaran Sosial dalam Komunikasi Antar Pribadi.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Demikianlah sebagai pengantar kata, dengan iringan serta harapan semoga tulisan sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca. Atas semua ini penulis mengucapkan ribuan terima kasih yang tidak terhingga, semoga segala bantuan dari semua pihak mudah – mudahan mendapat amal baik yang diberikan oleh Allah SWT.
Surabaya, Juni 2011
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... I
Daftar Isi ... II
BAB I : PENDAHULUAN ………..………. .. 1
A. Latar Belakang ………...……… 1
B. Rumusan Masalah ……….. 2
BAB II : PEMBAHASAN ………...…...……... 3
A. Pengertian Teori Pertukaran Sosial ………. 3
B. Asumsi Teori Pertukaran Sosial ……….. 4
C. Konsep Teori ……… 6
D. Imlplikasi pada Komunikasi Antar Pribadi………..………. 7
BAB III : PENUTUP ……...……….………. 11
A. Kesimpulan ………...… 11
B. Saran ………..……... 12
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teori Pertukaran Sosial ini tidak lepas dari pemikiran para teoritikus Pertukaran Sosial (Social Exchange) yaitu John Thibaut dan Harold Kelley yang akan memprediksi bahwa hubungan itu akan mengalami masalah karena hubungan itu saat ini tampaknya membutuhkan lebih banyak pengorbanan daripada memberikan penghargaan. Teori Pertukaran Sosial didasarkan pada ide bahwa orang memandang hubungan mereka dalam konteks ekonomi dan mereka menghitung pengorbanan dan membandingkannya dengan penghargaan yang didapatkan dengan meneruskan hubungan itu. Pengorbanan (cost) adalah elemen dari sebuah hubungan yang memiliki nilai negative bagi seseorang. Penghargaan (rewards) adalah elemen-elemen dalam sebuah hubungan yang memiliki nilai positif.
Para Teoritikus Pertukaran Sosial berpendapat bahwa semua orang menilai hubungan mereka dengan melihat pengorbanan dan penghargaan. Semua hubungan membutuhkan waktu dan partisipasinya. Sudut Pandang Pertukaran Sosial berpendapat bahwa orang menghitung nilai keseluruhan dari sebuah hubungan dengan mengurangkan pengorbanannya dari penghargaan yang diterima (Monge & Contractor, 2003).
Sebagai contoh, Kita akan menyukai orang yang menyukai kita, kita akan menyenangi orang yang memuji kita, menurut teori pertukaran sosial, interaksi sosial adalah semacam transaksi dagang. Kita akan melanjutkan interaksi kita bila laba lebih banyak dari biaya. Sehingga, dalam berinteraksi antara satu individu dengan individu lain yang tercapai adalah suatu kepuasan dan kenikmatan tersendiri, yang mendatangkan keuntungan diantara kedua belah pihak. Maka
II
kebersamaan dan persamaan persepsi bisa tercapai sesuai apa yang menjadi tujuan bersama.
Dengan teori pertukaran sosial ini, maka akan dicoba suatu bentuk analisis yang lebih mendalam tentang komunikasi antar individu, sehingga membenarkan definisi dari komunikasi antar individu itu sendiri yang lebih mengarah kepada suatu bentuk interaksi sosial yang lebih menguntungkan diantara kedua belah pihak.
B. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan pembaca memahami isi makalah, penulis mencoba mempersempit uraian-uraian dalam makalah ini menjadi beberapa garis besar yang pada intinya membahas:
1. Pengertian Teori Pertukaran Sosial
2. Asumsi Teori Pertukaran Sosial
3. Konsep Teori
4. Implikasi pada Komunikasi Antar Pribadi
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori Pertukaran Sosial
Teori Pertukaran Sosial dari Thibault dan Kelley ini menganggap bahwa bentuk dasar dari hubungan sosial adalah sebagai suatu transaksi dagang, dimana orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.
Teori ini menelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan, di mana hubungan itu memengaruhi kontribusi orang lain. Thibaut dan Kelley, (Sendjaja, 2002: 2.43) pencetus teori ini, mengemukakan bahwa orang mengevaluasi hubungannya dengan orang lain dengan mempertimbangkan konsekuensinya, khususnya terhadap ganjaran yang diperoleh dan upaya yang telah dilakukan, orang akan memutuskan untuk tetap tinggal dalam hubungan tersebut atau pergi meninggalkannya.1
John Thibaut dan Harold Kelley menyatakan bahwa ”Setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal didalam suatu hubungan hanya selama hubungan itu cukup memuaskan dalam hal penghargaan dan pengorbanannya” (1959, hal. 37) . Sebagaimana diamati oleh Ronald Sabatelli dan Constance Shehan (1993), pendekatan Pertukaran Sosial memandang hubungan melalui metafora pasar, dimana setiap orang bertindak berdasarkan tujuan pribadi untuk mencari keuntungan.2
Yang menjadi ciri khas dalam teori menurut Thibaut dan Kelley ini adalah “Tingkat Perbandingan”. Maksudnya adalah penunjukan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lampau atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Ukuran bagi keseimbangan pertukaran antara untung dan rugi dalam hubungan dengan orang lain itu disebut comparison level, di mana apabila orang mendapatkan keuntungan dari hubungannya dengan orang lain, maka orang akan merasa puas dengan hubungan itu. Sebaliknya, apabila orang merasa rugi berhubungan dengan orang lain dalam
1 Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi-Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi
Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal. 265.
2 West, Richard dan Lynn H. Turner. 2009. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika. Hal. 217
konteks upaya dan ganjaran, maka orang cenderung menahan diri atau meninggalkan hubungan tersebut.
Hubungan yang ideal akan terjadi bilamana kedua belah pihak dapat saling memberikan cukup keuntungan sehingga hubungan tersebut menjadi sumber yang dapat diandalkan bagi kepuasan kedua belah pihak (Roloff, 1981, Sendjaja, 2002 : 2.43)
B. Asumsi Teori Pertukaran Sosial
Semua teori Pertukaran Sosial dibangun atas dasar beberapa asumsi mengenai sifat dasar manusia dan sifat dasar hubungan. Thibaut dan Kelley mendasarkan teori mereka pada dua konspetualisasi: satu berfokus pada sifat dasar dari individu-individu dan satu lagi mendeskripsikan hubungan antara dua orang. Oleh karenanya, asumsi-asumsi yang mereka buat juga masuk dalam kategori ini.3
1. Asumsi Teori Pertukaran Sosial mengenai sifat dasar manusia
Manusia mencari penghargaan dan menghindari hukuman
Pendekatan ini berasumsi bahwa perilaku orang dimotivasi oleh suatu mekanisme dorongan internal. Ketika orang merasakan dorongan ini, mereka termotivasi untuk menguranginya, dan proses pelaksanaannya merupakan hal yang menyenangkan.
Manusia adalah makhluk rasional
Teori ini didasarkan pada pemikiran bahwa di dalam batasan-batasan informasi yang tersedia untuknya, manusia akan menghitung pengorbanan dan penghargaan dari sebuah situasi tertentu dan ini akan menuntun perilakunya. Hal ini juga mencakup kemungkinan bahwa, bila dihadapkan pada pilihan yang tidak memberikan penghargaan, orang akan memilih pilihan yang paling sedikit membutuhkan pengorbanan.
Dengan berasumsi bahwa manusia adalah makhluk rasioanal, Teori Pertukaran Sosial menyatakan bahwa manusia menggunakan pemikiran rasional untuk membuat pilihan.
3 Ibid. Hal. 218
Standar yang digunakan manusia untuk mengevaluasi pengorbanan dan penghargaan bervariasi seiring berjalannya waktu dari satu orang ke orang lainnya
Bahwa teori ini harus mempertimbangkan adanya keanekaragaman. Tidak ada satu standar yang diterapkan pada semua orang untuk menentukan apa pengorbanan dan apa penghargaan itu. Teori Pertukaran Sosial adalah teori yang bersifat hukum, karen SET mengklaim walaupun individu-individu berbeda dalam hal definisi mengenai penghargaan, asumsi yang pertama masih tetap benar untuk semua orang : Kita termotivasi untuk memaksimalkan keutungan dan penghargaan kita sementara pada saat bersamaan meminimalkan kerugian dan pengorbanan (Molm, 2001).
2. Asumsi Teori mengenai sifat dasar dari suatu hubungan
Hubungan memiliki sifat saling ketergantungan
Dalam pendekatan mereka tentang hubungan, Thibaut dan Kelley lebih memilih untuk menamakan teori ini Teori Interpedensi dibandingkan Pertukaran Sosial atau Teori Permainan. Mereka memutuskan demikian karena mereka ingin menghindarkan pemikiran menang-kalah dalam teori permainan dan mereka ingin menekankan bahwa pertukaran sosial merupakan fungsi saling ketergantungan.
Kehidupan berhubungan adalah sebuah proses
Dengan menyatakan hal ini, para peneliti ini mengakui pentingnya waktu dan perubahan dalam kehidupan suatu hubungan. Secara khusus, waktu mempengaruhi pertukaran karena pengalaman-pengalaman masa lalu menuntun penilain mengenai penghargaan dan pengorbanan, dan penilaian ini mempengaruhi pertukaran-pertukaran selanjutnya.
3. Konsep Teori
hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”. Ganjaran, biaya, laba dan tingkat perbandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini.4
Adapun keempat konsep tersebut antara lain :
Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran berupa uang, penerimaan sosial atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain. Buat orang kaya mungkin penerimaan sosial lebih berharga daripada uang. Buat si miskin, hubungan interpersonal yang dapat mengatasi kesulitan ekonominya lebih memberikan ganjaran daripada hubungan yang menambah pengetahuan.
Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat di dalamnya.
Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba. Misalnya, Anda mempunyai kawan yang pelit dan bodoh. Anda banyak membantunya, tetapi hanya sekedar supaya persahabatan dengan dia tidak putus. Bantuan Anda (biaya) ternyata lebih besar daripada nilai persahabatan (ganjaran) yang Anda terima. Anda rugi. Menurut teori pertukaran sosial, hubungan anda dengan sahabat pelit itu mudah sekali retak dan digantikan dengan hubungan baru dengan orang lain.
4 Rakhmat, Jalaluddin. 1986. Psikologi Komunikasi. Bandung : CV Remadja Karya. Hal. 151. 6
Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan interpersonal yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun.
4. Implementasi dalam proposisi komunikasi antar pribadi
Pribadi adalah individu yang berbeda satu dengan yang lainnya, perbedaan tersebut menyebabkan orang menegebal individu secara khas dan membedakannya dengan individu lainnya. Kualitas individu menentukan kekhasannya dalam hubungannya dengan individu lain, dan kekhasan tersebut akan menentukan kualitas komunikasinya. 5
a. Memahami Hubungan Antarpribadi hubungan antar-pribadi
Di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, hubungan memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan masyarakat, terutama ketika hubungan antar pribadi itu mampu memberi dorongan kepada orang tertentu yang berhubungan dengan perasaan, pemahaman informasi, dukungan, dan berbagai bentuk komunikasi yang mempengaruhi citra diri orang serta membantu orang untuk memahami harapan-harapan orang lain.
b. Pertukaran sosial dalam proposisi komunikasi antar pribadi
5Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi-Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi
Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal. 260.
Para tokoh teoritisasi pertukaran sosial (exchange theory) terutama George C. Homans menujukkan bahwa terdapat lima bentuk dasar dan perilaku sosial yang dapat dirumuskan dalam bentuk proposisi sebagai berikut:6
Proposisi yang pertama yang disebut dengan proposisi sukses, itu mengungkapkan bahwa semakin sering suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang itu mendatangkan manfaat/ganjaran/tanggapan positif dari orang lain, maka semakin besar kemungkinan tindakan yang serupa akan dilakukan oleh orang yang serupa. Misalnya, Setiap kali seorang anak sekolah memperoleh peringkat yang memuaskan disekolahnya, adan atas prestasinya itu orang tuanya memberi hadiah yang istimewa pada anaknya tersebut, maka si anak cenderung akan berusaha mengulang suksesnya itu, yaitu berusaha memperoleh prestasi dan peringkat yang tinggi agar memperoleh hadiah dari orang tuanya lagi.
Proposisi yang kedua disebut preposisi rangsangan/stimulus. Proposisi ini berbunyi “Apabila pada masa lampau ada satu atau sejumlah rangsangan didalamnya tindakan seseorang mendapat ganjaran, maka semakin rangsangan yang ada menyerupai rangsangan masa lampau itu, maka semakin besar kemungkinan bahwa orang tersebut akan melakukan tindakan yang sama”. Maksudnya begini, misalnya saja anda memberi kesempatan kepada pengendara mobil yang lain untuk berjalan lebih dahulu dan anda mengalah untuk bergerak berikutnya. Orang yang anda beri kesempatan tersebut melambaikan tangannya sebagai tanda terima kasih. Atas lambaian tangan tersebut anda merasakan nikmat maka anda akan melakukan hal yang sama ketika anda menghadapi kejadian yang serupa dengan kejadian yang dulu pernah anda lakukan kepada orang.
Proposisi yang ketiga disebut nilai. Proposisi ini berbunyi “ Semakin tinggi nilai tindakan seseorang, maka semakin besar kemungkinan orang itu melakukan tindakan yang sama”. Bila hadiah yang diberikan masing-masing kepada orang lain amat bernilai, maka semakin besar kemungkinan aktor melakukan tindakan yang dinginkan ketimbang jika hadiahnya tak bernilai. Disini Homans memperkenalkan konsep hadiah dan hukuman. Hadiah adalah tindakan dengan nilai positif, makin tinggi nilai hadiah, makin besar kemungkinan
6 Sutaryo. 2005. Sosiologi-Komunikasi. Yogyakarta : Arti Bumi Intaran. Hal. 12.
8
mendatangkan perilaku yang diinginkan. Sedangakan hukuman adalah hal yang diperoleh karena tingkah laku yang negatif. Dalam pengamatannya, Homans memperhatikan bahwa hukuman bukanlah merupakan cara yang efektif untuk mengubah tingkah laku seseorang. Sebaliknya, orang akan terdorong untuk melakukan sesuatu jika ia mendapat ganjaran.
Proposisi yang keempat disebut proposisi deprivasi-satiasi. Proposisi ini berbunyi, ”Semakin sering seseorang menerima ganjaran yang istimewa bagi tindakan yang dilakukannya, maka semakin kurang bermakna ganjaran-ganjaran yang diterima berikutnya. Ambillah suatu misal, anda adalah seorang manajer dalam perusahaan. Suatu hari anda melihat ada seorang karyawan bawahananda yang sangat rajin. Anda memberi pujian kepadanya, karyawan anda itu pun merasa senang karena bukan hanya sekedar memperoleh perlakuan baik anda sebagai atasannya melainkn juga memperoleh pujian. Jadi harap anda ingat, semakin sering anda memberi pujian kepadanya, maka sebenarnya, pujian-pujian berikutnya itu sudah kurang bermakna.
Proposisi yang terakhir ini disebut sebagai proposisi persetujuan-perlawanan. Dalam bagian ini ada dua proposisi yang berbeda. Proposisi yang pertama berbunyi “ Bila tindakan seseorang tidak memperoleh ganjaran seperti yang diharapkannya atau mendapat hukuman yang tidak diharapkannya, maka semakin besar kemungkinana bahwa dia akan menjadi marah dan melakukan tindakan yang agresif, dan tindakan agresif itu menjadi bernilai baginya.” Homans memberikan contoh bahwa jika seseorang tidak mendapatkan nasihat yang dia harapkan dari orang lain dan orang lain itu tidak mendapat pujian yang dia harapkan maka keduanya akan menjadi marah. Proposisi yang kedua lebih bersifat positif “ Apabila seseorang mendapat ganjaran yang diharapkannya, khususnya ganjaran yang lebih besar dari pada yang diharapkannya, atau tidak mendapatkan hukuman yang diperhitungkannya maka ia akan menjadi senang, lebih besar ia akan melakukan hal-hal yang positif dan hasil dari tingkah laku yang demikian adalah lebih bernilai baginya”. Misalnya, apabila seseorang mendapatkan nasihat dari orang lain seperti yang diharapkannya dan orang lain itu mendapat pujian seperti yang diharapkannya maka keduanya akan menjadi senang dan besar 9
kemungkinan yang satu menerima nasihat dan yang lainnya memberikan nasihat yang lebih bermanfaat.
Demikianlah beberapa proposisi yang dirumuskan oleh George C. Homans untuk menjelaskan teori pertukaran social. Pada akhirnya Homans memiliki kesimpulan bahwa perilaku seseorang merupakan respon orang tersebut terhadap stimuli yang dihadapinya dengan melalui proses berfikir. Paradigma ini mempunyai asumsi bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk pengejar keuntungan.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Teori Pertukaran Sosial dari Thibault dan Kelley ini menganggap bahwa bentuk dasar dari hubungan sosial adalah sebagai suatu transaksi dagang, dimana orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.
John Thibaut dan Harold Kelley menyatakan bahwa ”Setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal didalam suatu hubungan hanya selama hubungan itu cukup memuaskan dalam hal penghargaan dan pengorbanannya”.
Thibaut dan Kelley mendasarkan teori mereka pada dua konspetualisasi: satu berfokus pada sifat dasar dari individu-individu dan satu lagi mendeskripsikan hubungan antara dua orang. Asumsi yang pertama adalah Asumsi Teori Pertukaran Sosial mengenai sifat dasar manusia
Manusia mencari penghargaan dan menghindari hukuman Manusia adalah makhluk rasional
Asumsi yang kedua dari teori ini adalah Asumsi Teori mengenai sifat dasar dari suatu hubungan
Hubungan memiliki sifat saling ketergantungan Kehidupan berhubungan adalah sebuah proses
Ada empat Konsep yang mendasari teori ini, keempat konsep tersebut adalah Ganjaran, Laba, Biaya, dan tingkat perbandingan. Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya.
Teori Pertukaran Sosial ini memiliki lima bentuk dasar dan perilaku sosial yang dapat dirumuskan dalam bentuk proposisi. Diantaranya adalah proposisi sukses, proposisi stimulus, proposisi nilai, proposisi deprivasi-satiasi, dan yang terakhir adalah proposisi persetujuan perlawanan.
B. SARAN
yang lebih mementingkan untung dan rugi. Kita juga dapat mempelajari asumsi-asumsi, konsep, dan proposisi yang mendasari teori ini.
Setelah mengerti dan memahami analisis Teori Pertukaran Sosial ini diharapkan kita semua mampu menerapkan dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dasar pemikiran teori ini, agar teori yang kita pelajari saat ini tidak sia-sia dan bermanfaat untuk kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi-Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Rakhmat, Jalaluddin. 1986. Psikologi Komunikasi. Bandung : CV Remadja Karya
Sutaryo. 2005. Sosiologi-Komunikasi. Yogyakarta : Arti Bumi Intaran.
West, Richard dan Lynn H. Turner. 2009. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika