1 | BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Desa Sumbersuko merupakan salah satu desa pada Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang yang memiliki potensi ternak untuk dikembangkan dalam pemanfaatan biogas (Survei Primer, 2014). Hal tersebut menjadi alasan yang mendasari terkait penelitian yang dilakukan, yaitu penyusunan rencana spasial dan rencana sektoral terkait pengembangan desa, dengan unsur tematik yaitu Desa Mandiri Energi.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil kegiatan survei primer dan kegiatan Participatory Rural Appraisial yang kemudian dilakukan analisa, terdapat berbagai permasalahan pada Desa Sumbersuko baik secara spasial maupun secara sektoral. Permasalahan secara spasial adalah kecenderungan warga untuk melakukan open dumping yang menyebabkan berbagai permasalahan khususnya terkait kesehatan, hingga kondisi jalan antar dusun yang buruk yang menyebabkan biaya angkut mahal, sedangkan permasalahan secara sektoral berupa kualitas produksi komoditas tebu yang merupakan komoditas utama cenderung rendah, hingga kurangnya partisipasi warga dalam kelembagaan informal desa. Adapun permasalahan terkait tematik yaitu perwujudan Desa Mandiri Energi adalah, sebagian besar limbah kotoran ternak masih belum terolah, kepemilikan biodigester yang tidak merata, belum meratanya ketersediaan kelompok ternak hingga tiap dusun, hingga ketersediaan kotoran ternak sebagai supply energi biogas belum memenuhi kriteria Desa Mandiri Energi. 1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dari kondisi Desa Sumbersuko, makal hal-hal yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana kondisi fisik dan nonfisik Desa Sumberusko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang ?
2. Bagaimana potensi dan masalah terkait pengembangan Desa Sumbersuko menjadi Desa Mandiri Energi yang terpadu ?
3. Bagaimana arahan rencana pengembangan sektoral dan spasial Desa Sumbersuko secara partisipatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan mewujudkan Desa Mandiri Energi yang terpadu ?
BAB II
DATA DAN ANALISA
Pembahasan data dan analisa mencangkup kajian kondisi Desa Sumbersuko terkait kependudukan, fisik dasar dan fisik binaan, sosial, ekonomi, kelembagaan hingga kajian terkait pemanfaatan biogas, akar masalah, akar tujuan dan penentuan Alternatif Proyek.
2.1 Kependudukan
Penghitungan proyeksi penduduk pada Desa Sumbersuko menggunakan metode eksponensial dengan rata-rata pertumbuhan penduduk 0,21%, sehingga jumlah penduduk diproyeksikan dari tahun 2014 sebanyak 6892 jiwa menjadi 7185 pada tahun 2034. Selain itu diketahui tren pertumbuhan penduduk Desa Sumbersuko yang bersifat dinamis dengan ditandai pertumbuhannya tidak tetap dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, proyeksi penduduk Desa Sumbersuko menggunakan metode eksponensial.
Berdasarkan data pertumbuhan penduduk pada tahun 2011 ke 2012 mengalami kenaikan penduduk yang cukup tinggi daripada tahun-tahun lain karena disebabkan di Desa Sumbersuko terdapat Perusahaan Susu yaitu PT. Greenfield yang berada di dusun Precet mengakibatkan banyaknya migrasi penduduk untuk bekerja dan sebagai peternak di sekitar dusun Precet sehingga dapat meningkat ekonomi penduduk.
2.2 Fisik Dasar dan Fisik Binaan
Pembahasan mengenai kondisi fisik pada Desa Sumbersuko mencangkup aspek fisik dasar dan fisik binaan.
2.2.1 Orbitasi Desa Sumberusko
2 | 2.2.2 Analisis Kemampuan dan Kesesuaian Lahan
Hasil dari analisis kemampaun lahan menghasilkan bahwa Desa Sumbersuko memiliki tiga fungsi kawasan yang berbeda, yaitu kawasan lindung, kawasan budidaya tanaman semusim hingga kawasan penyangga penentuan kemampuan lahan pada Desa Sumbersuko. Hasil dari penentuan kemampuan lahan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kesesuaian penggunaan lahan terhadap kemampuan lahannya. Terdapat penggunaan lahan untuk kawasan permukiman pada kawasan yang memiliki kemampuan lahan untuk kawasan lindung, yaitu pada Dusun Sumberpang Lor, Glagah Ombo dan Precet.
2.2.3 Pusat dan Sub Pusat
Penentuan pusat dan subpusat pada Desa Sumbersuko dilakukan berdasarkan jumlah KK tiap dusun, ketersediaan sarana dan tingkat aksesibilitas tiap dusun. Hasil analisis tersebut menghasilkan bahwa Dusun Kenongo sebagai pusat, Dusun Sumberpang Lor sebagai sub pusat dan keempat dusun lainnya sebagai sub pusat lingkungan.
2.2.4 Perumahan
Kondisi perumahan di Desa Sumbersuko terdiri dari 82,3% rumah permanen, 8,9% rumah semi permanen, dan 8,8% rumah non permanen. Diproyeksikan dari tahun 2014 untuk 6892 dengan jumlah unit rumah sebanyak 1378, maka hingga tahun 2034 menjadi 1437 unit rumah untuk 7185 KK.
2.2.5 Pola Permukiman
Bentukkan pola permukiman pada Desa Sumbersuko didominasi oleh pola perumahan linear mengikuti jalan untuk Dusun Kenongo, Sumberpang Lor, Ngemplak, Glagah Ombo hingga Precet. Adapun untuk pola memusat Pola Permukiman
2.2.6 Sarana
Seluruh jenis sarana terdapat di Desa Sumbersuko, kecuali Sarana Rekreasi dan Budaya. Total jumlah sarana di desa Sumbersuko yaitu 107 unit yang tersebar di keenam dusun desa Sumbersuko. Berdasarkan hasil analisis, diperlukan penambahan sarana keamanan untuk melayani Dusun Kenongo, sedangkan untuk jenis sarana lainnya sudah memenuhi.
2.2.7 Jalan
Kondisi prasarana jalan pada Desa Sumbersuko secara umum memiliki hierarki jalan lokal primer dan lingkungan primer yang memiliki permasalahan tersendiri. Pada hierarki lokal primer memiliki masalah rusaknya perkerasan jalan berupa aspal untuk wilayah jalan antara Dusun Kenongo dan Dusun Sumberpang, sehingga berakibat pada mahalnya biaya pengangkutan komoditas. Adapun pada hierarki jalan lingkungan primer memiliki permasalahan kondisi perkerasan berupa tanah yang dapat menghambat kendaraan yang melewatinya, terutama pada saat musim hujan.
2.2.8 Drainase
Jaringan drainase di Desa Sumbersuko yang mayoritas berhierarki collector secara keseluruhan sudah baik karena ketika hujan air tidak meluap dan tdak menggenang sehingga tidak terjadi banjir di Desa Sumbersuko walaupun ada beberapa segmen jalan yang tidak memiliki drainase. Beberapa titik saluran drainase masih terdapat sampah anorganik dan tanaman liar yang dapat menghambat aliran air. Berikut ini merupakan tabel ketersediaan saluran drainase di Desa Sumbersuko.
2.2.9 Air Bersih
Penggunaan air bersih pada Desa Sumbersuko secara umum hampir seluruh bangunan baik permukiman maupun sarana menggunakan sumber mata air dari tujuh mata air sebagai sistem penyediaan air bersih. Dua dari ketujuh mata air tersebut selain dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih rumah tangga juga digunakan untuk irigasi. Selain itu ketersediaan air bersih di Desa Sumbersuko hingga tahun 2034 dapat tercukupi sehingga untuk 20 tahun kedepan tidak perlu adanya penambahan produksi air bersih.
2.2.10 Persampahan
Kondisi persampahan pada Desa Sumbersuko secara umum masih buruk, hal tersebut dikarenakan warga melakukan pembakaran sampah secara opendumping untuk sampah anorganik yang berakibat pada faktor kesehatan khsususnya pada kesehatan ternak (Hasil PRA,2014), selain itu tidak ada TPS Sampah pada Desa Sumbersuko, sehingga tidak ada pelayanan pengumpulan sampah.
2.1.11 Sanitasi
3 | tangki septik masih terdapat beberapa rumah yang belum memiliki tangki
septik. Adapun pada Desa Sumbersuko terdapat satu unit MCK Umum pada Dusun Sumberpang Kidul yang digunakan sebagai cadangan pada saat musim kemarau.
2.2.12 Jaringan Listrik
Kebutuhan listrik warga Desa Sumbersuko secara keseluruhan bersumber dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan secara keseluruhan rumah penduduk sudah tersaluri listrik dengan daya listrik rata-rata 450 VA. 2.2.13 Jaringan Komunikasi
Ketersediaan jaringan komunikasi pada Desa Sumbersuko secara umum tidak terdapat BTS pada kawasan Desa Sumbersuko, akan tetapi beberapa jaringan provider telepon selular seperti provider Telkomsel masih dapat menjangkau area Desa Sumbersuko. Hal tersebut dikarenakan karena wilayah Desa Sumbersuko telah tercover pelayanan BTS yang terletak di wilayah luar desa. Adanya pelayanan jaringan komunikasi pada Desa Sumbersuko dapat memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya akan informasi atau perkembangan berita terkini, terutama kebutuhan akan akses internet maupun telepon untuk keperluan administratif dan pemerintahan desa.
2.2.14 Jaringan Irigasi
Ketersediaan irigasi pada Desa Sumbersuko digunakan untuk mengairi komoditas sayur-sayuran yang terletak pada Dusun Precet dan Dusun Kenongo. Penggunaan irigasi tersebut dalam operasionalnya memutuhkan biaya Rp 100.000 perpanen tiap 1 Ha dengan konstruksi nonteknis.
2.3 Sosial
Aspek sosial pada Desa Sumbersuko mencangkup hasil dari bagan kecenderungan, pada pembahasan aspek peternakan diketahui bahwa adanya PT.Greenfield yang berdiri sejak tahun 2007 mempengaruhi peningkatan jumlah ternak dan kemajuan pengolahan limbah ternak pada Desa Sumbersuko. Hal tersebut dikarenakan PT.Greenfield mengajak para warga sekitar industrinya, yaiut warga Dusun Precet untuk beternak dengan kemudahan modal, sehingga dalam pengajuan proposal pengadaan bantuan biodigester dapat dilakukan setelah para peternak sudah memiliki ternak tetap. 2.4 Ekonomi
4 |
Tabel 1 Arahan Pengembangan Komoditas Desa Sumbersuko
Komoditas
Aktvitas Kajian Gender
Kalender
Ayah berperan 100% pada penyiapan lahan, panen dan penjualan hasil panen.
Ibu berperan 50% dalam perawatan dan pemupukkan secara
Melakukan peningkatan teknik
penyiraman yang lebih efisien sehingga kuantitas rumput tidak menurun saat musim kemarau.
Terjaganya produksi rumput untuk pakan ternak dapat menjaga keberlanjutan usaha peternakan dan supply energi biogas untuk mewujudkan DME
Kegiatan operasional untuk pemanfaatan biodigesteryang direncanakan dapat dilakukan saat ayah dan ibu mengurus ternak. (memasukkan kotoran ke biodigester dan memanfaatkan bio slurry sebagai kompos).
Bio-slurry hasil pemrosesan biogas dapat digunakan sebagai pupuk alami
Tebu
Ayah berperan 100% dari penanaman, perawatan hingga panen.
Ibu berperan 40% untuk penjualan hasil panen
Melakukan peningkatan teknik
penyiraman yang lebih efisien sehingga kuantitas panen tebu tidak menurun saat musim kemarau.
Perbaikan akses jalan yang
menghubungkan Dusun Kenongo dengan Dusun Sumberpang Lor dan Sumberpang Kidul untuk menekan biaya
pengangkutan hasil panen.
Kegiatan operasional untuk pemanfaatan biodigesteryang direncanakan dapat dilakukan saat ayah dan ibu mengurus ternak. (memasukkan kotoran ke biodigester dan memanfaatkan bio slurry sebagai kompos).
5 |
Aktvitas Kajian Gender
Kalender
Ayah berperan 100% dalam penyiapan lahan
Ibu berpearan 100% dalam penanaman, perawatan, panen dan penjualan hasil panen.
Tanaman mawar rusak saat musim penghujan
-
Melakukan peningkatan usaha perkebunan mawar dengan memberi teduhan pada tanaman pada saat musim hujan supaya tidak rusak..
Kegiatan operasional untuk pemanfaatan biodigesteryang direncanakan dapat dilakukan saat ayah dan ibu mengurus ternak. (memasukkan kotoran ke biodigester dan memanfaatkan bio slurry sebagai kompos).
Bio-slurry hasil pemrosesan biogas dapat digunakan sebagai pupuk alami
Sapi Perah susu dan menjual hasil susu.
Ibu berperan 25% pada setiap kegiatan, kecuali dalam
Melakukan peningkatan kualitas produksi Rumput Odot sebagai pakan ternak untuk mengurangi ketergantungan pada pakan konsentrat yang harganya mahal dan tidak menentu.
Kegiatan operasional untuk pemanfaatan biodigesteryang direncanakan dapat dilakukan saat ayah dan ibu mengurus ternak. (memasukkan kotoran ke biodigester dan memanfaatkan bio slurry sebagai kompos).
6 | 2.5 Kelembagaan
Pembahasan kelembagaan pada Desa Sumberusko mencangkup hubungan kelembagaan yang berpengaruh pada Desa Sumbersuko yang dijelaskan pada diagram venn kelembagaan berikut analisisnya. Berikut merupakan gambaran dari diagram venn kelembagaan Desa Sumberusuko.
MASYARAKAT DESA SUMBERSUKO Pemerintah
Desa Karang
Taruna Bank Sampah
GAPOKTAN Kelompok
Peternak
LPMD BPD
PKK KOPWAN
POSYANDU
BIDAN
PAM LINMAS
PT. Greenfield
PT. Kebon Agung Dinas Peternakan Kabupaten Malang
Gambar 1 Diagram Venn Kelembagaan Desa Sumbersuko Sumber: Hasil Analisis, 2014
Berikut merupakan pembahasan terkait bentukkan dari diagram venn kelembangaan pada Desa Sumbersuko yang dijelaskan pada Tabel 2
Tabel 2 Analisis Diagram Venn Kelembagaan Desa Sumbersuko
Kelompok Besar Analisis
Pemerintah Desa, BPD, LPMD, Kelompok Peternak, GAPOKTAN, PAM, Karang Taruna dan
Bank Sampah.
Merupakan kelompok lembaga yang memiliki kaitan terhadap masyarakat desa sekaligus dengan pemerintah desa. Kelompok tersebut dalam kegiatannya banyak membutuhkan kerjasama dari pihak pemerintah desa. Sebagai contoh dalam pengajuan bantuan biodigester oleh Kelompok Ternak kepada pihak Dinas Peternakan Kabupaten Malang, membutuhkan persetujuan dan diketahui oleh Pemerintah Desa.
PKK, KOPWAN, Posyandu, Bidan.
Merupakan kelompok lembaga yang secara umum berorientasi untuk memberdayakan kaum perempuan Desa Sumbersuko. Kegiatan lembaga tersebut secara dominan membutuhkan kerjasama dari pihak PKK.
LINMAS
Merupakan kelompok lembaga yang seharusnya termaksuk dalam kelompok besar pemerintah desa. LINMAS membentuk kelompok tersendiri karena berdasarkan Hasil Survei Primer 2014 terkait kondisi kelembagaan pada Desa Sumbersuko, LINMAS saat ini sedang dalam masa vakuum atau tidak beroperasi, hal tersebut dikarenakan adanya transisi pergantian pemerintahan desa.
Kelompok Peternak, PT.Greenfield, Dinas Peternakan Kabupaten
Malang
Kelompok lembaga yang beriorientasi pada pengembangan sektor ternak, yaitu kerjasama antara PT.Greenfield dengan Kelompok Ternak terkait bantuan permodalan usaha sapi perah. Selain itu orientasi mengarah pada pengembangan pemanfaatan biodigester, yaitu kerjasama antara Kelompok Peternak dengan Dinas Peternakan Kabupaten Malang terkait proposal pengajuan bantuan pengadaan biodigester. Hubungan kelompok besar ini sangat berpengaruh dalam perwujudan Desa Mandiri Energi. Sumber: Hasil Analisis, 2014
2.6 Biogas
7 | supply dengan demand energi, kajian terkait pemanfaatan Bio-Slurry hingga
pembahasan aspek ketersediaan kandang pada Desa Sumbersuko. 2.6.1 Supply Energi
Penghitungan supply energi pada Desa Sumbersuko mengacu pada ketesediaan ternak sapi dan kambing. Asumsi yang digunakan adalah untuk 1 ekor sapi memproduksi 29 Kg/hari kotoran (SNMI 2011), sedangkan untuk 1 ekor kambing memproduksi 1,4 Kg/hari kotoran (Penelitian Kopi Kakao Indonesia, 2008), selain itu asumsi yang digunakan adalah jumlah ternak yang dihitung bersifat tetap atau tidak berkurang, serta pertambahan populasi ternak mencapai 5 ekor sapi dan 12 ekor kambing tiap tahunnya.
Berikut merupakan penghitungan supply energi eksisting yang dijelaskan pada Tabel 20 .
Tabel 3 Penghitungan Supply Energi Eksisting Konversi Energi
Ketentuan Konversi Energi (Wahyuni,
2008)
Hasil Konversi
Kotoran Ternak (kg) – Gas Methan yang
dihasilkan (m3)
1 kg kotoran ternak menghasilkan 0,036 m3
gas methan.
18.638 kg x 0,036 = 670.9 m3/hari , atau
244.903 m3 / tahun
Gas Methan (m3) –
Energi (Kwh)
1m3 gas methan setara
dengan 6 Kwh
670.9 m3 x 6 Kwh =
4025,76 Kwh/hari atau 1.469.404 Kwh/tahun Sumber: Hasil Analisis, 2014
Penghitungan supply energi dihitung tiap dusun yang mengacu kepada asumsi pertambahan ternak tiap tahunnya hingga 20 tahun mendatang. Adapun dusun yang paling banyak memiliki supply energi adalah Dusun Precet, sedangkan dusun dengan ketersediaan supply energi tersedikit adalah Dusun Ngemplak.
2.6.2 Demand Energi
Perhitungan demand energi pada Desa Sumbersuko mencangkup perhitungan kebutuhan demand energi bakar yaitu kebutuhan memasak tiap KK, serta kebutuhan energi listrik untuk kebutuhan penerangan rumah tiap KK, hingga kebutuhan listrik untuk sarana dan penerangan jalan umum. Demand Energi bakar diproyeksikan akan bertambah dari 6881 Kwh/Hari menjadi 7034 Kwh/hari pada tahun 2034 mendatang.
2.6.3 Kesesuaian Supply-Demand Energi
Perhitungan kesesuaian antara supply energi yang tersedia dengan kebutuhan demand energi dalam penghitugnannya dipriorotaskan untuk memenuhi kebutuhan energi bakar, setelah itu apabila terdapat sisa energi maka dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik.
Hasil perhitungan kesesuaian supply dengan demand energi bakar pada Desa Sumbersuko secara umum dapat terpenuhi seluruhnya, sehingga dalam arahan pemanfaatannya dapat diarahkan ke pemenuhan energi listrik. Dusun yang telah terpenuhi kebutuhan memasaknya secara keseluruhan adalah Dusun Precet sejak tahun eksisting (2014), Ngemplak pada tahun 2019 mendatang, Sumberpang Kidul pada tahun 2034 mendatang, dan Dusun Glagah Ombo pada tahun eksisting (2014).
Dusun yang telah terpenuhi kebutuhan energi bakarnya secara keseluruhan kemudian dapat dilakukan penghitungan kesesuaian supply-demand energi listrik.
2.6.4 Kajian Evaluasi Biodigester Eksisting
Pembahasan terkait evaluasi biodigester eksisting memuat bahasan aspek mengenai unit biodigester yang rusak hingga evaluasi pemanfaatan energinya. Diketahui dari 27 unit biodigester dengan kapasitas 6m3 bersifat
nonpermanen yang ada 17 diantaranya rusak, selain itu dari 4 unit biodigester dengan kapasitas 83 m3 3 diantaranya rusak. Oleh karena itu perlu arahan
rencana untuk perbaikan unit biodigester yang rusak. Adapun dari segi pemanfaatan energi biodigester eksisiting, masih terdapat 84,82% energi yang belum termanfaatkan.
2.6.5 Kajian Pemanfaatan Bio-Slurry
Bio-Slurry merupakan produk dari hasil pengolahan biogas berbahan kotoran ternak dan air melalui proses tanpa oksigen (anaerob) dalam digester biogas yang merupakan ruangan tertutup (BIRU, 2011). Bio-Slurry memiliki wujud padat atau cair tergantung dari campuran air dari lubang inlet digester, dan memiliki kemampuan untuk menyuburkan lahan, meningkatkan produksi tanaman budidaya, dengan ciri tidak berbau dan tidak mengundang serangga, sehingga cocok digunakan untuk pupuk organik cair maupun padat.
8 | Sumbersuko. Berdasarkan Yayasan Pendidikan Konservasi Alam (YAPEKA)
Tahun 2014, Bio-Slurry atau ampas biogas dapat dijadikan pupuk organik dan memiliki harga jual Rp 1.000/kg. Oleh karena itu dapat dilakukan perhitungan potensi Bio-Slurry dari kotoran ternak yang dihasilkan tiap harinya pada Desa Sumbersuko. Sehingga diketahui bahwa potensi Bio-Slurry perharinya dapat mencapai Rp 18.637.800/hari dari 18.637,8 Kg/hari kotoran ternak yang seandainya telah terporses oleh unit biodigetser seluruhnya.
2.6.6 Kajian Willingness To Pay
Hasil dari analisis willingness to pay pada Desa Sumbersuko diketahui bahwa secara umum Dusun yang telah terbentuk kelompok peternak yaitu Dusun Kenongo dan Dusun Precet memiliki tingkat WTP yang tinggi baik untuk responden peternak dan non peternak (> Rp 1.500.000), sedangkan dusun lainnya yang belum tetdapat kelompk peternak memiliki tingkatan WTP yang sedang hingga rendah.
2.6.7 Kajian Ketersediaan Kandang Ternak
Hasil dari kajian ketersediaan kandang ternak diketahui bagaimana kesesuaian kondisi kandang ternak pada Desa Sumbersuko terhadap Standar Penyediaan Kandang Ternak oleh BPPP Departemen Pertanian Indonesia Tahun 2007. Diketahui bahwa pada aspek perkerasan kandangm ketersediaan palungan dan ketersediaan saluran drainase sudah sesuai dengan standar. Adapun untuk aspek jarak kandang dari permukiman dan sistem pembuangan kotoran belum sesuai dengan standar.
2.7 Akar Masalah dan Akar Tujuan
9 | Gambar 2 Akar Masalah Desa Sumbersuko
10 | Gambar 3 Akar Tujuan Desa Sumbersuko
11 | 2.8 Penentuan Alternatif Proyek
Analisis alternatif adalah suatu usaha untuk melihat berbagai kemungkinan pilihan hubungan tindakan hasil (rangkaian tujuan) dari analisis sasaran yang mengarah pada suatu keadaan tertentu yang diinginkan. Penentuan urutan alternatif proyek dilakukan dengan cara memberikan nilai terlebih dahulu pada masing-masing alternatif proyek yang dianggap layak diterapkan. Kemudian nilai masing-masing proyek diurutkan mulai dari nilai yang terbesar dengan nilai yang paling terendah untuk nantinya diterapkan untuk proyek yang lebih didahulukan atau yang leih dibutuhkan oleh masyarakat.
Penentuan beberapa proyek sebagai alternatif adalah dengan melakukan berbagai analisis sebagai solusi pemecahan berbagai masalah yang terdapat di Desa Sumbersuko, sehingga ditemukan cara untuk menyelesaikan permasalahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Proyek yang dapat dijadikan sebagai alternatif diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Proyek Pengembangan dan pemanfaatan Biogas
Desa Sumbersuko merupakan desa yang memiliki potensi di bidang peternakan, sehingga akan lebih produktif lagi dalam memanfaatkan limbah ternak yang tidak terpakai menjadi suatu yang lebih berguna, salah satunya menjadi energy alternative yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga bahkan sebagai energi untuk keperluan sarana, maka dengan demikian dapat mewujudkan konsep desa mandiri energy. Adapun hasil ampas pemrosesan biodigester berupa Bio-Slurry diarahkan untuk dimanfaatkan maupun dijual dengan nilai ekonomis sebesar Rp 1.000/kg.
2. Proyek pengembangan hasil pertanian (Tebu, Sapi Perah serta Mawar)
Sektor perekonomian desa Sumbersuko didukung oleh bidang pertanian dengan komoditas utama terdiri dari Tebu, sapi perah serta Mawar. Salah satu masalah yang dihadapi desa Sumbersuko yaitu kualitas tebu terus mengalami penurun sehingga dalam rangka memaksimalkan komoditas utama pertanian dalam menyokong perekonomian desa Sumbersuko perlu dilakukannya pengolahan hasil pertanian menjadi sebuah produk bernilai ekonomis tinggi serta peningkatan kualitas tanam komoditas pertanian (tebu dan mawar) agar hasil pertanian memiliki kualitas yang tinggi melalui
sebuah pengembangan teknologi pertanian serta pemberian sosialisasi terkait pengembangan kualitas pertanian.
3. Proyek pengembangan dan pengelolaan sistem persampahan
Sebagian besar warga desa sumbersuko masih belum melakukan pengolahan sampah dengan benar, umumnya warga masih mengandalkan proses pembakaran sampah secara open dumping bahkan hingga membuang sampah menuju saluran drainase. Hal tersebut dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah secara benar dan tidak tersedianya sarana untuk melakukan pengelolaan sampah. Oleh karena itu rencana pengembangan system pengelolaan persampahan pada Desa Sumbersuko akan diarahkan untuk membentuk Kelompok Binaan Bank Sampah Malang secara merata tiap dusunnya, sehingga dapat menangani sampah anorganik. Adapun untuk menangani sampah organik dapat diarahkan dengan pengadaan tong komposter secara merata tiap dusunnya.
4. Proyek perbaikan jalan serta penambahan fasilitas umum jalan Masalah infrastuktur yang teradapat di desa Sumbersuko salah satunya berkenaan dengan kualitas jalan yang masih rendah. Sebagian perkerasan fisik jalan yang menghubungkan antar dusun masih berupa macadam hingga diperlukan sebuah pengembangan kualitas jalan yang dapat menunjng pergerakan masyarakat khususnya dalam melakukan kegiatan. Perbaikan kualitas perkerasan jalan menjadi aspal sehingga dapat dengan mudah diaskses oleh bermacam moda berpengaruh pula dalam meningkatkan kemajuan perkembangan perekonomian dalam hal pemasaran. Selain itu penyediaan fasilitas umum seperti penerangan jalan serta rambu-rambu jalan juga sangat penting dalam meningkakan keamanan jalan. 5. Proyek peningkatan SDM melalui pelatihan keterampilan
Malasah terkait mengenai terhambatnya tingkat perekonomian Desa Sumbersuko salah satunya yaitu masih tingginya tingkat pengangguran di desa Sumbersuko, hal tersebut salah satunya berkenaan dengan kualitas SDM yang belum memeiliki keterampilan khusus, sehingga dalam meminimalisisr angka pengangguran maka pemberdayaan masyarakat melalui pemberian pelatihan keterampilan merupakan startegi yang dianggap mampu mengahadapi masalah tersebut.
12 |
Tabel 4 Penentuan Alternatif Proyek Desa Sumbersuko Kriteria (Bobot) Pengembangan
Biodigester
Urutan prioritas prinsip pembangunan wilayah (10)
Nilai Skor 4
Sesuai dengan prinsip pembangunan RPJMD Kab. Malang Tahun 2010-2015 untuk pengentasan Desa Tertinggal
Nilai Skor 4
Proyek sesuai dengan prinsip kebijakan pembangunan pada RPJMD Kab. Malang Tahun 2010-2015 untuk pengentasan Desa Tertinggal
Nilai Skor 2
Proyek sedikit berkenaan dengan upaya untuk pengetasan desa tertinggal
Nilai Skor 4
Proyek sesuai dengan prinsip kebijakan pembangunan pada RPJMD Kab. Malang Tahun 2010-2015 untuk pengentasan Desa Tertinggal
Nilai Skor 3 Proyek cukup sesuai
dengan prinsip kebijakan pembangunan pada RPJMD Kab. Malang Tahun 2010-2015 untuk pengentasan Desa Tertinggal
Ketersediaan Sumber Daya Alam (10)
Nilai Skor 4
Sumberdaya alam yang digunakan sebanyak 4 macam (air, tanah, gas, dan limbah kotoran ternak)
Nilai Skor 4
Proyek menggunakan sumberdaya alam sebanyak 4 macam (tebu, susu perah, mawar, dan energi biogas.)
Nilai Skor 3
Proyek emnggunakan dua macan sumberdaya alam, yaitu sampah anorganik dan sampah organik
Nilai Skor 1
Tidak terdapat sumber daya alam yang digunakan dalam proyek
Nilai Skor 4
Proyek menggunakan sumberdaya alam sebanyak 4 macam (tebu, susu perah, mawar, dan energi biogas.)
Penerima manfaat maksimal (10)
Nilai Skor 5
Proyek bermanfaat pada sektor peternakan,
Proyek bermanfaat pada sektor ekonomi
masyarakat dan pertanian.
Nilai Skor 3
Proyek bermanfaat pada sektor ekonomi
masyarakt dan
lingkungan permukiman desa.
Nilai Skor 4
Proyek bermanfaat pada sektor pertanian, peternakan dan ekonomi masyarakat.
Nilai Skor 3
Proyek bermanfaat pada sektor ekonomi
Proyek berpeluang besar dalam meningkatkan desa melalui penjualan hasil diversifikasi produk tiga komoditas.
Nilai Skor 3
Proyek cukup
berpeluang untuk meningkatkan
pendapatan desa melalui hasil penyetoran sampah oleh nasabah bank dan hasil penjualan kompos.
Nilai Skor 3
Proyek cukup untuk berpeluang
meningkatkan
pendapatan desa melalui penghematan biaya pengangkutan hasil komoditas desa melalui penjualan hasil diversifikasi
meningkatan SDM >51
Nilai Skor 5 Proyek akan
meningkatan SDM >51
Nilai Skor 5 Proyek akan
meningkatan SDM >51
Nilai Skor 5 Proyek akan
meningkatan SDM >51
Nilai Skor 5 Proyek akan
13 | Kriteria (Bobot) Pengembangan
Biodigester
(10) penduduk desa yang
diarahkan akan memiliki biodigester
penduduk desa penduduk desa penduduk desa penduduk desa
Kesinambungan atau keterkaitan dengan program tahun sebelumnya (program yang sedang berjalan) (5)
Nilai Skor 4 Proyel memiliki
keterkitan besar dengan program sebelumnya, yaitu program
pembangunan desa pada muatan RPJMD Kabupaten Malang Tahun 2010-2015
Nilai Skor 4
Proyel memiliki keterkitan besar dengan program sebelumnya,
yaitu program
pembangunan desa pada
muatan RPJMD
Kabupaten Malang Tahun 2010-2015
Nilai Skor 2
Proyel memiliki keterkitan rendah dengan program sebelumnya,
yaitu program
pembangunan desa pada
muatan RPJMD
Kabupaten Malang Tahun 2010-2015
Nilai Skor 3
Proyel memiliki keterkitan cukup dengan program sebelumnya, yaitu program pembangunan desa pada muatan RPJMD Kabupaten Malang Tahun 2010-2015
Nilai Skor 3
Proyel memiliki keterkitan cukup dengan program sebelumnya,
yaitu program
pembangunan desa pada
muatan RPJMD
Kabupaten Malang Tahun 2010-2015 Proyek memiliki
sumbangan cukup strategis terhadap Proyek memiliki
sumbangan strategis terhadap program kecamatan wagir dalam memberdayakan masyarakat desa
Nilai Skor 2
Proyek memiliki sedikit sumbangan strategis terhadap program kecamatan wagir dalam memberdayakan masyarakat desa
Nilai Skor 4 Proyek memiliki
sumbangan strategis terhadap program kecamatan wagir dalam memberdayakan masyarakat desa
Nilai Skor 3 Proyek memiliki
sumbangan cukup
Proyem mungkin diulang di lebih dari empat tempat, yaitu pada tiap dusun Desa Sumbersuko (6).
Nilai Skor 2
Proyek mungkin diulang di suatu tempat,
Nilai Skor 2
Proyek mungkin diulang di suatu tempat
Nilai Skor 4 Proyek mungkin
diulang di tiga tempat lain.
Nilai Skor 2
Proyek mungkin diulang disuatu empat.
Duplikasi (5)
Nilai Skor 4
Tingkat duplikasi proyek rendah, karena adanya komitmen masyarakat untuk menjalankan proyek
Nilai Skor 3
Tingkat duplikasi proyek cukup, karena ada kemungkinan
ketersediaan sarana yang dibutuhkan masih kurang
Nilai Skor 3
Tingkat duplikasi proyek cukup, karena ada kemungkinan
ketersediaan sarana yang dibutuhkan masih kurang
Nilai Skor 3 Tingkat duplikasi
proyek cukup, karena ada kemungkinan adanya proyek perbaikan lagi di masa mendatang.
Nilai Skor 3
Tingkat duplikasi proyek cukup, karena ada kemungkinan
14 | Kriteria (Bobot) Pengembangan
Biodigester
Pengembangan Tiga Komoditas
Pengembangan Sistem Persampahan
Peningkatan Kualitas Jalan
Peningkatan SDM Melalui Keterampilan
Pertimbangan ekologi (10)
Nilai Skor 5
Proyek dapat meunjang keberlanjutan
lingkungan, yaitu dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai sumber energi
Nilai Skor 2
Proyek sedikit untuk menunjang aspek ramah lingkugan
Nilai Skor 5
Proyek dapat menunjang aspek ramah lingkugan
Nilai Skor 2
Proyek sedikit untuk menunjang aspek ramah lingkungan
Nilai Skor 2
Proyek sedikit untuk menunjang aspek ramah lingkugan
Hubungan alat dengan tujuan (5)
Nilai Skor 3
Proyek menyebabkan hubungan cukup eraat antara alat dengan tujuan.
Nilai Skor 3
Proyek menyebabkan hubungan cukup eraat antara alat dengan tujuan.
Nilai Skor 3
Proyek menyebabkan hubungan cukup eraat antara alat dengan tujuan.
Nilai Skor 3
Proyek menyebabkan hubungan cukup eraat antara alat dengan tujuan.
Nilai Skor 3
Proyek menyebabkan hubungan cukup eraat antara alat dengan tujuan.
Keterkaitan proyek antar desa (5)
Nilai Skor 3 Proyek dan hasilnya
memiliki keterkaitan dengan proyek desa lain
Nilai Skor 3 Proyek dan hasilnya
memiliki keterkaitan dengan proyek desa lain
Nilai Skor 3 Proyek dan hasilnya
memiliki keterkaitan dengan proyek desa lain
Nilai Skor 3 Proyek dan hasilnya
memiliki keterkaitan dengan proyek desa lain
Nilai Skor 3 Proyek dan hasilnya
memiliki keterkaitan dengan proyek desa lain
Jumlah Skor 345 335 315 305 295
15 | BAB III
RENCANA
Pembahasan rencana merupakan perwujudan terkait solusi dari hasil permasalahan yang termuat pada akar masalah, serta perwujudan terkait potensi dari hasil analisa aspek spasial dan sektoral pada Desa Sumbersuko. Pembahasan mencangkup rencana spasial desa, rencana proyek desa, hingga dampak proyek.
3.1 Rencana Spasial
Pembahasan rencana spasial desa mencangkup rencana tata ruang desa dan rencana ultilitas dan fasilitas desa pada Desa Sumbersuko.
3.1.1 Rencana Tata Ruang Desa
Kajian mengenai rencana tata ruang desa mencangkup rencana struktur tata ruang desa, rencana pola ruang desa hingga rencana sistem keterhubungan atau lingkage system.
A. Rencana Struktur Tata Ruang Desa
Beberapa pertimbangan yang mendasari perencanaan struktur ruang yakni berdasarkan daerah pusat dan sub pusat desa dengan didasarkan pada orientasi pada desa Sumbersuko.
1. Rencana pusat kegiatan desa
Dusun yang merupakan kawasan pusat kegiatan yang ada di Desa Sumbersuko yaitu dusun Kenongo. Perencanaan serta Kegiatan utama di wilayah Dusun Kenongo diarahkan untuk:
a. Pengolahan hasil panen
b. Pengembangan pemanfaatan biogas melalui peletakan biodigester c. Perbaikan dan peningkatan jalan
d. Pengembangan fasilitas keamanan.
e. Pengembangan Bank Sampah di setiap dusun, termasuk dusun Kenongo
2. Rencana Sub Pusat Kegiatan Desa
Sub-Pusat kegiatan desa Sumbersuko, yaitu dusun Sumberpanglor. Adapun Perencanaan serta Kegiatan utama di wilayah Desa Sumberpanglor diarahkan untuk:
a. Pengolahan hasil panen
b. Pengembangan pemanfaatan biogas c. Perbaikan dan peningkatan jalan
d. Pengembangan Bank Sampah di setiap dusun, termasuk dusun Sumberpanglor.
B. Rencana Pola Ruang Desa
Pembahasan rencana pola ruang desa mencangkup kawasan terbangun dan kawasan tidak terbangun.
1. Kawasan Terbangun
Permukiman di Desa Sumbersuko direncanakan dengan perbaikan kondisi fisik rumah yang kurang layak huni dan penambahan permukiman. Pembangunan permukiman dilakukan secara bertahap sesuai dengan pertambahan penduduk. Pada Desa Sumbersuko mempunyai pola linear, jadi dalam perencanaan unrunk mengembangkan biodigester pada Desa Sumbersuko adalah biodigester individu.
2. Kawasan Tak Terbangun
Desa Sumbersuko sebagian besar ditunjang oleh sektor pertanian yang berupa lahan pertanian, perkebunan dan hutan produksi. . Sektor peternakan juga menunjang perekonomian desa yaitu berupa hasil ternak seperti susu. Desa Sumbersuko memiliki kawasan penyangga dan kawasan budidaya semusim. Untuk Dusun Precet dan Dusun Sumberpang Kidul yang tergolong pada kawsan pennyangga akan terdapat rencana untuk tidak menambah bangunan dan menjadaikan kawasan tersebut ke kawsan penyangga. Melalui arahan tersebut akan menambah jumlah pertanian dan lahan perkebunan sehingga dapat meningkatkan produktifitas hasil komoditas dan meningkatkan perekonomian Desa Sumbersuko.
C. Rencana Sistem Hubungan
16 | pendistribusian serta pemasaran hasil produksi panen komoditas ke Pabrik
Gula Kebon Agung, Pasar Besar Kota Malang dan Pasar Gadang menjadi lancar dan diharapkan perekonomian warga Desa Sumbersuko meningkat.
Keterkaitan antara dusun di dalam Desa Sumbersuko akan mendorong pencapaian saran prasarana, interaksi atau hubungan setiap dusun menjadi lebih erat baik dalam aspek ekonomi, sosial dan budaya.
3.1.2 Rencana Ultilitas dan Fasilitas Desa
Pembahasan rencana ultilitas dan fasilitas Desa Sumbersuko mencangkup rencana perbaikan dan pengembangan fasilitas sarana dan rencana perbaikan dan pengembangan fasilitas prasarana pada Desa Sumberusko.
A. Rencana Perbaikan dan Pengembangan Sarana
Ketersediaan sarana pada Desa Sumbersuko secara umum sudah memenuhi untuk melayani kebutuhan akan sarana masyarakat Desa Sumbersuko hingga 20 tahun mendatang, yaitu sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana pelayanan umum, sarana peribadatan, sarana perdagangan dan jasa, sarana RTH dan Olahraga hingga sarana pemakaman. Khusus untuk sarana keamanan direncanakan untuk dilakukan penambahan berupa pos kamling pada Dusun Kenongo sebanyak 1 unit seperti pada Gambar 4, serta pengembangan kelompok binaan Bank Sampah Malang dengan membangun unit kantor bank sampah tiap dusun sebagai sarana pelayanan umum.
Gambar 4 Ilustrasi Rencana Penambahan Sarana Keamanan Sumber: Hasil Rencana, 2014
B. Rencana Perbaikan dan Pengembangan Prasarana
Pembahasan mengenai rencana perbaikan dan pengembangan prasarana mencangkup prasarana jalan, drainase, air bersih, hingga persampahan pada Desa Sumbersuko.
1. Jalan
Kondisi kualitas perkerasan jalan antara Dusun Kenongo dengan Dusun Sumberpang, serta antara Dusun Glagah Ombo dengan Dusun Ngemplak perlu untuk dilakukan perbaikan, karena merupakan jalur distribusi komoditas utama pada Desa Sumbersuko. Adapun penjelasan terkait rencana perbaikan jalan dijelaskan pada Tabel 5.
Tabel 5 Rencana Perbaikan Jalan Desa Sumbersuko
Jalan
Perhitungan
Komoditas Yang Dipengaruhi Panjang
Jalan (Meter)
Asumsi Biaya Perbaikan Perkerasan
(Per m)
Biaya Keseluruhan
Jalan penghubung
antara Dusun Kenongo –
Dusun Sumberpang
Lor
2413 100.000,00 Rp Rp 241.300.000,00
Tebu, Padi, Jagung, Sayur-sayuran
Jalan penghubung
antara Dusun Ngemplak –
Dusun Glaga Ombo
176 Rp
100.000,00 Rp 17.600.000,00
Cengkeh, Tebu, Kopi dan Jagung
Total Biaya Proyek Rp
17 | Sumber: Hasil Rencana, 2014
2. Drainase
Rencana terkait prasrana drainase berupa normalisasi saluran secara berkala untuk membersihkan sampah dan vegetasi liar, dan penambahan saluran drainase di jalan yang belum terdapat saluran drainase. Perbaikan saluran drainase yang rusak dapat dilakukan di beberapa titik di dusun Kenongo, Sumberpang Lor, Sumberpang Kidul, Ngemplak, Glagah Ombo dan Precet dan dapat juga dilakukan perkerasan. Untuk normalisasi saluran dapat dilakukan secara berkala dengan cara kerja bakti membersihkan saluran yang ada di Desa Sumbersuko. Penambahan saluran drainase tidak begitu diperlukan karena pengaliran airnya sudah baik. Namun pada beberapa tempat yang dirasa perlu untuk ditambah saluran drainase seperti rumah-rumah yang berada di gang kecil seperti di Dusun Kenongo
3. Air Bersih
Rencana terkait prasarana air bersih mengacu terhadap hasil analisis air bersih yang diketahui bahwa ketersediaan sumber air bersih pada Desa Sumbersuko yang bersumber dari ketujuh mata air dapat mencukupi kebutuhan air bersih warga Desa Sumbersuko hingga 20 tahun mendatang, serta seluruh rumah sudah menggunakan sistem meteranisasi. Berikut merupakan rencana terkait prasarana air bersih yang dijelaskan pada Tabel 8..
Tabel 6 Rencana Pengembangan Prasarana Air Bersih Standart
Kebutuhan Air (Kimpraswil,2003)
Kebutuhan Prasarana (liter/jiwa/hari)
Arahan Rencana
60 lt/hari lingkup desa kecil
Tahun 2014 413.520 liter/hari
Tahun 2019 417.840 liter/hari
Tahun 2024 422.220 liter/hari
Tahun 2029 426.660 liter/hari
Tahun 2034 431.100 liter/hari
Penambahan rumah Desa Sumbersuko selama 20 tahun kedepan sebanyak 73 rumah perlu penambahan jaringan pipa air bersih dan meterisasi sesuai dengan penambahan penduduk dan rumah.
Perlu perawatan dan pemeliharaan pipa tralon air bersih serta tandon agar mencegah adanya kebocoran.
Sumber: Hasil Rencana, 2014
4. Persampahan
Rencana pengembangan sistem persampahan pada Desa Sumberusko mencangkup proyek pengembangan sistem persampahan. Pengembangan tersebut berupa pembangunan unit kantor bank sampah yang merupakan kelompok binaan Bank Sampah Malang secara menyeluruh tiap dusun, yang dilengkapi tong komposter. Adanya unit bank sampah yang direncakanan bertujuan untuk mengatasi sampah anorganik, sedangkan tong komposter yang direncanakan bertujuan untuk mengatasi sampah organik.
3.2 Rencana Proyek
Rencana pengembangan Desa Sumbersuko berupa proyek-proyek yang dihasilkan berdasarkan hasil Analisis Alternatif Proyek (AAP), yaitu mencangkup Proyek Pengembangan Pemanfaatan Biogas, Proyek Pengembangan Hasil Tiga Komoditas (Tebu, Mawar dan Kerupuk Susu), Proyek Pengembangan Persampahan hingga Proyek Perbaikan Kualitas Jalan Desa Sumbersuko.
3.2.1 Rencana Pengembangan Pemanfaatan Biogas
Rencana pengembangan pemanfaatan biogas mencangkup rencana penambahan biodigester, rencana perbaikan biodigester hingga arahan rencana untuk pemanfaatan Bio-Slurry sebagai pupuk organik. Pembahasan mencangkup rencana proyek, matriks perencanaan proyek, organisasi proyek, hingga matriks kerjasama dengan pihak lain.
A. Rencana Proyek
Pada persiapan proyek, ditentukan berapa m3 biodigester yang
akan dibangun 20 tahun mendatang tiap tahunnya, berapa unit biodigester yang harus diperbaiki, hingga penyusunan organisasi proyek serta rapat koordinasi antar pihak yang berpengaruh dalam proyek. Perbaikan unit biodigester sebanyak 13 unit atau 354m3,
sedangkan besar biodigester (m3) yang dibangun tiap tahunnya
18 |
Tabel 7 Rencana Proyek Pembangunan Biodigester Desa Sumbersuko
Tahun
Biodigester yang Dibangun
(m3)
Supply Energi (Kwh)
Demand Energi (Kwh)
Pemenuhan
2014* 506* 398930,4* 8603283,6* 5%*
2015 280 619682,4 8622008,1 7%
2016 196,6 774681,84 8639484,3 9%
2017 196,6 929681,28 8656960,5 11%
2018 196,6 1084680,72 8675685 13%
2019 196,6 1239680,16 8693161,2 14%
2020 196,6 1394679,6 8711885,7 16%
2021 196,6 1549679,04 8729361,9 18%
2022 196,6 1704678,48 8748086,4 19%
2023 196,6 1859677,92 8766810,9 21%
2024 196,6 2014677,36 8784287,1 23%
2025 196,6 2169676,8 8803011,6 25%
2026 174,38 2307157,992 8821736,1 26%
2027 96,6 2383317,432 8839212,3 27%
2028 96,6 2459476,872 8857936,8 28%
2029 96,6 2535636,312 8876661,3 29%
2030 96,6 2611795,752 8895385,8 29%
2031 96,6 2687955,192 8914110,3 30%
2032 96,6 2764114,632 8931586,5 31%
2033 96,6 2840274,072 8950311 32%
2034 96,6 2916433,512 8969035,5 33%
2035 96,6 2992592,952 8987760 33%
* = Unit Biodigester Eksisting yang sudah tersedia. Sumber: Hasil Rencana, 2014
Berdasarkan Tabel 7, diketahui proyek pengembangan biodigester hingga 20 tahun mendatang hanya mampu mencukupi 33% demand energi Desa Sumbersuko, sehingga proyek yang dilakukan belum mampu untuk mewujudkan Desa Mandiri Energi pada Desa Sumbersuko.
B. Organisasi Proyek
Pembentukkan organisasi proyek yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proyek pengembangan biodigester pada Desa Sumberusko memiliki struktur seperti yang dijelaskan pada Gambar 5.
ORGANISASI PROYEK PENGEMBANGAN BIODIGESTER
PIMPINAN PROYEK
BENDAHARA PROYEK
SEKERTARIS PROYEK
BIDANG PERENCANAAN BIDANG LOGISTIK BIDANG HUMAS BIDANG PELAKSANAAN
MASYARAKAT DESA SUMBERSUKO (PETERNAK DAN NON PETERNAK) BADAN PENGAWASAN
GARIS KOORDINATIF
GARIS INSTRUKTIF
PANITIA PROYEK
PELAKSANA PROYEK PEMERINTAH
KECAMATAN / DESA
Gambar 5 Organisasi Proyek Pengembangan Biodigester Sumber : Hasil Rencana, 2014
19 | C. Matriks Perencanaan Proyek
Tabel 8 Matriks Perencanaan Proyek Pengembangan Biodigester Tujuan dan kegiatan proyek
(objectives and activities of the project)
INDIKATOR OBYEKTIF(Objectives Verifiable Indicators) Sumber pembuktian
Pemanfaatan limbah kotoran ternak sebagai energi biomassa yang terbaharukan untuk memenuhi demand
energi bakar dan listrik warga Desa Sumbersuko
•Unit Biodigester yang telah dibangun sebagai penyedia supply energi biogas
47% 73% 87% 100%
•Evaluasi proyek terkait
pemenuhan demand energi oleh supply
• Masyarakat memiliki antusias dalam pemanfaatan biogas
Maksud proyek (purpos)
•Memberdayakan masyarakat Desa Sumbersuko dalam aspek pengolahan limbah ternak sebagai energi biogas. •Menciptakan industri skala rumah
tangga yang memanfaatkan energi biogas dalam proses produksinya.
•Jumlah pengguna
biodigester 40% 70% 85% 100%
•Evaluasi proyek •Laporan
perkembangan proyek
• Partisipasi masyarakat Desa Sumbersuko tinggi untuk
memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai energi biogas
•Jumlah industri skala rumah tangga yang terbentuk berbasis biogas
0% 30% 60% 100%
Hasil proyek (output)
Meningkatkan pengolahan limbah kotoran ternak melalui pengolahan kotoran ternak dengan biodigester Meningkatkan perekonomian warga dengan menekan biaya untuk memasak dan penerangan.
•Pengolahan kotoran ternak sebagai sumber energi biogas melalui unit biodigester yang telah dibangun
0% 30% 80% 100%
•Evaluasi proyek •Laporan
perkembangan proyek
• Hasil pemanfaatan limbah kotoran ternak melalui unit
biodigester yang telah dibangun dapat menguntungkan masyarakat dari segi ekonomi dan ekologi •Perekonomian masyarakat
meningkat 0% 30% 70% 100%
Kegiatan proyek (Activities)
Tahap Persiapan
• Rapat koordinasi antara Pemerintahan Desa dengan Kelompok Peternak dan
Sumber dana proyek:
•Alokasi Anggaran Desa Tiap Tahun (90%) •APBN Tiap Tahun (10%)
•Evaluasi proyek •Laporan
perkembangan
20 | Tujuan dan kegiatan proyek
(objectives and activities of the project)
INDIKATOR OBYEKTIF(Objectives Verifiable Indicators) Sumber pembuktian
(means of verification)
Asumsi Penting (Important Asumptions)
Uraian
2014-2019
2020-2024
2025-2029
2030-2034 masyarakat Desa Sumbersuko untuk
menentukan distribusi supply energi yang kemudian disesuaikan dengan demand energi yang dapat dipenuhi hingga lokasi unit biodigester yang akan dibangun. Pembahasan yang dilakukan juga meliputi manfaat yang dapat diperoleh dengan proyek pengembangan biodigester pada Desa Sumbersuko
• Sosialisasi terkait manfaat akan proyek pengembangan biodigester kepada masyarakat Desa
Sumbersuko, terutama untuk dusun yang belum terbentuk kelompok ternaknya, seperti Dusun Ngemplak, Dusun Sumberpang Lor, Dusun Sumberpang Kidul dan Dusun Glagah Ombo.
Tahap Pelaksanaan
• Rapat koordinasi dengan Dinas Peternakan Kabupaten Malang bersamaan dengan Pemerintah Desa dan Kelompok Peternak terkait pembentukkan cluster unit biodigester yang akan dibangun
• Pembangunan unit biodigester yang mengacu kepada Standar Penyediaan Biogas Rumah (BIRU) Tahun 2011. Tahap Evaluasi dan Monitoring
proyek kepada Pemerintah Desa sebanyak Rp 550juta tiap tahun, sesuai dengan muatan UU.No 6 Tahun 2014 tentang Desa.
21 | D. Matriks Kerjasama dengan Pihak Lain
Tabel 9 Matriks Kerjasama dengan Pihak Lain
Unit-Unit dalam Proyek Unit di Luar Proyek Bidang Kerjasama/Kooordinasi Mekanisme Kerjasama/Koordinasi Badan Pengawas Proyek • Dinas Peternakan Kabupaten
Malang
• Mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan Proyek
• Berkoordinasi dalam pengendalian dan penyelesaian dalam serta keberhasilan proyek • Evaluasi hasil kerja
• Penyusunan laporan perkembangan proyek • Rapat koordinasi per enam bulan
• Pengawasan dan pengendalian kinerja hasil proyek
Pimpinan Proyek • Pemerintah Desa Sumbersuko • Pemerintah Kecamatan Wagir • Dinas Peternakan Kabupaten
Malang
• Konsultan atau Pihak Swasta Biogas Rumah Indonesia (BIRU)
• Menyusun rencana kegiatan operasional proyek
• Mengadakan pengawasan atau pemantauan kegiatan proyek
• Membuat laporan perkembangan proyek secara perodik
• Menentukan letak biodigester beserta cluster dan skala pelayanannya
• Mengadakan pengawasan dan pemeriksaan terhadap bendahara dan pelaksana utama proyek dalam masalah keuangan
• Bertanggung jawab dalam hal keberhasilan proyek
• Rapat koordinasi per enam bulan
• Penyusunan laporan perkembangan proyek
Sekretaris • Pemerintah Desa Sumbersuko • Dinas Peternakan Kabupaten
Malang
• Konsultan atau Pihak Swasta Biogas Rumah Indonesia (BIRU)
• Menyusun proposal kegiatan proyek • Mengurus surat menyurat dengan instansi
terkait
• Menyusun laporan perkembangan proyek • Menyusun laporan akhir kegiatan proyek • Bertanggungjawab atas dokumentasi dan hasil
kerja kepada pimpinan proyek
• Laporan perkembangan kegiatan proyek dalam rapat koordinasi per enam bulan
• Proposal penggalian dana ke instansi terkait
Bendahara • Pemerintah Desa Sumbersuko • Dinas Peternakan Kabupaten
Malang
• Konsultan atau Pihak Swasta Biogas Rumah Indonesia (BIRU)
• Menyusun administrasi keuangan sesuai dengan aturan yang ada
• Menyusun pembukuan tentang data keuangan proyek
• Bertanggungjawab atas keuangan kegiatan proyek kepada pimpinan proyek
• Laporan keuangan dalam rapat koordinasi per enam bulan
Bidang Perencanaan • Pemerintah Desa Sumbersuko • Dinas Peternakan Kabupaten
Malang
• Konsultan atau Pihak Swasta Biogas Rumah Indonesia (BIRU)
• Melaksanakan program penyuluhan terkait dengan pelaksanaan proyek
• Melakukan proses partisipasi dalam hal pelaksanaan proyek
• Mengindentifikasi masalah dalam proyek
• Rapat koordinasi per enam bulan • Bidang perencanaan bertanggung jawab
22 | Unit-Unit dalam Proyek Unit di Luar Proyek Bidang Kerjasama/Kooordinasi Mekanisme Kerjasama/Koordinasi
• Evaluasi hasil kerja Bidang Logistik • Pemerintah Desa Sumbersuko
• Dinas Peternakan Kabupaten Malang
• Konsultan atau Pihak Swasta Biogas Rumah Indonesia (BIRU)
• Menyediakan segala kebutuhan dan peralatan proyek
• Inventarisasi untuk peralatan proyek
• Pengadaan sarana dan prasarana
• Koordinasi penggunaan sarana dan prasarana • Pengadaan material, peralatan dan transportasi • Melakukan inventarisasi
Bidang Humas • Pemerintah Desa Sumbersuko • Dinas Peternakan Kabupaten
Malang
• Konsultan atau Pihak Swasta Biogas Rumah Indonesia (BIRU) • Masyarakat Desa Sumbersuko
• Membuat rencana kegiatan sosialisasi • Membuat jadwal kegiatan sosialisasi • Berkoordinasi dengan instansi terkait • Berkoordinasi aktif dengan sekertaris • Bantuan teknologi tepat guna
• Rapat koordinasi per enam bulan
Bidang Pelaksana • Pemerintah Desa Sumbersuko • Masyarakat Desa Sumbersuko
• Melaksanakan program penyuluhan sehubungan dengan pelaksanaan proyek • Menerapkan proses konsep Partsipasi yang
melibatkan semua subjek pembangunan agar proyek yang dilakukan dapat dicapai secara efektif
• Mengidentifikasi adanya kendala dan hambatan dalam proyek
• Evaluasi hasil kerja
• Rapat koordinasi per enam bulan
• Bidang pelaksana bertanggung jawab kepada Dinas Peternakan Kabupaten Malang dan pihak Konsultan atau Swasta BIRU.
Sumber: Hasil Rencana, 2014
3.2.2 Rencana Pengembangan Hasil Tiga Komoditas
Rencana terkait proyek untuk pengembangan hasil tiga komoditas mencangkup rencana pemanfaatan tebu sebagai industri rumah tangga sirup tebu, pengembangan penanaman mawar beserta pemanfaatannya sebagai selai mawar, hingga rencana pemanfaatan hasil susu perah sebagai industri rumah tangga kerupuk susu.
A. Rencana Proyek
Pelaksanaan rencana proyek diawali dengan pemberihan pelatihan terkait pemanfaatan tiap komoditas yang akan dilakukan pengolahan atau diversifikasi produk. Setelah itu baru dapat ditentukan unit rumah tangga mana saja yang akan diarahkan untuk pengembangan pengolahan ketiga komoditas tersebut. Khusus untuk komoditas
mawar dalam pengembangan sistem penanamannya akan diberikan pelatihan terkait mengatasi musim penghujan supaya tidak merusak tanaman mawar.
23 | B. Organisasi Proyek
Pembentukkan organisasi proyek yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proyek pengembangan hasil tiga komoditas pada Desa Sumberusko memiliki struktur seperti yang dijelaskan pada Gambar 7.
Gambar 7 Organisasi Proyek Pengembangan Tiga Komoditas Sumber: Hasil Rencana, 2014
24 | C. Matriks Perencanaan Proyek
Tabel 10 Matriks Perencanaan Proyek Pengembangan Tiga Komoditas
Tujuan dan kegoatan Proyek (Objectives and Activities of the Project)
Indikator Obyektif (Obyektives Veritable Indicators) Sumber Pembuktian (Means of Verification)
Asumsi Penting (Important Asumtions) Uraian 2015-2019 2020-2024 2025-2029 2030-2034
Sasaran (Good)
Meningkatkan kesejahteraan masyarakata dengan
meningkatkan perekonomian di Desa Sumbersuko melalui sektor pertanian dan
peternakan.
Meningkatkan perekonomian masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan yang baru.
15% 18% 21% 25% Hasil Rencana
Masyarakat berpartisipasi dla proyek pengembangan tiga komoditas.
Maksud proyek (Purpose)
Meningkatkan harga jual ketiga komoditas unggulan dan mengangkat produksi di Desa Sumbersuko.
Mengembangkan hasil ketiga
komoditas yang lebih inovatif agar
meningkatkan harga jual barang.
5% 10% 15% 20% Hasil Rencana
Harga hasil jual tiga komoditas lebih tinggi setelah menerapkan pengolahan hasil tiga
komoditas. Hasil
proyek (Output)
Mengangkat hasil tiga komoditas unggulan di Desa Sumbersuko dari komoditas yang lain.
Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Desa Sumbersuko.
7,5% 10% 12,5% 15% Hasil Rencana
Memperluas oemasaran dana meningkatkan permintaan pengolahan hasil tiga komoditas Kegiatan
proyek (Activities)
1. Melakukan diskusi kepada masyarakat tentang pentingnya pengadaan dan partisipasi masyarakat.
2. Pelaksanaan proyek: Persiapan kebutuhan
dan alat-alat proyek yang akan digunakan. Pelaksanaan kegiatan
proyek secara partisipatif.
3. Evaluasi dan monitoring proyek.
Diskusi dilakukan oleh pemerintah dan juga membentuk kelompok yang bertugas sebagai pengelola tiga komoditas utama pada setiap dusun serta persiapan alat-alat proyek.
20% 25% 30% 35% Hasil Rencana
Masyarakat merespon secara positif terhadap kegiatan proyek pengembangan tiga komoditas.
25 | D. Matriks Kerjasama dengan Pihak Lain
Tabel 11 Matriks Kerjasama dengan Pihak Lain Proyek Pengembangan Tiga Komoditas Unit-Unit
Dalam Proyek
Unit di Luar Proyek Bidang Kerjasama atau Koordinasi Mekanisme Kerjasama/Koodinasi
Badan Pengawasan
Pemerintah Desa Sumbersuko
Mengadakan pengawasan dan pemekrisaan terhadap pelaksanaan proyek pengembanagan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Evaluasi hasil kerja proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Rapat koordinasi
Pengawasan dan pengendalian kinerja hasil proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko. Penyusunan laporan perkembangan
hasil proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Pimpinan Proyek
Pemerintah Desa Sumbersuko Gabungan Kelompok Tani
(GAPOKTAN)
Gabungan Keompok Ternak Koperasi Wanita
Ibu-ibu PKK
Menyusun rencanaa operasional proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Menetapkan kebijakkan dan koodinasi agar proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko dapat berjalan dengan lancar.
Bertanggung jawan dalam hal keuangan, fisik maupun adaministrasi dalam proyek perekembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Membuat laporan hasil proyek secara periodik.
Penyusunan laporan perkembangan proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Sekertaris
Pemerintah Desa Sumbersuko Gabungan Kelompok Ternak Ibu-Ibu PKK
Menyusunn proposal operasional proyek pengembangan tigas hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Bertanggung jawan atas kegiatan surat-menyurat dengan intansi terkait.
Menyusun laporan kegiatan akhir proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Bertanggung jawab atas dokumentasi agenda dan hasil kerja.
Bertanggung jawab atas pmpinan proyek. Berkoordinasi aktif dengan bendahara.
Proposal mengenai penggalian dana terkait dnegan proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa
Sumbersuko.
Bendahara
Pemerintah Desa Sumbersuko Gabungan Kelompok Ternak
Desa Sumbersuko Koperasi Wnita Desa
Sumbersuko
Melakukan penyusunan terkait administrasi keuangan sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. Menyampaikan data keuangan kepada pimpinan proyek
pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko. Bertanggung jawab kepada pimpinan proyek.
Membantu atasam dalam menyusun surat menyurat
26 | Unit-Unit
Dalam Proyek
Unit di Luar Proyek Bidang Kerjasama atau Koordinasi Mekanisme Kerjasama/Koodinasi
terkait dengan masalah keuangan.
Bidang Perencana
Pemerintah Desa Sumbersuko Gabungan Kelompok Tani
(GAPOKTAN)
Gabungan Keompok Ternak Koperasi Wanita
Ibu-ibu PKK
Melaksanakan penyuluhan pelaksanaan proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko. Mengidentifikasi adanya kendalan dan hambatan dalam
pelaksannaan proyek penngembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Evaluasi hasil kerja.
Rapat koordinasi
Bidang Logistik
Pemerintah Desa Sumbersuko Gabungan Kelompok Tani
(GAPOKTAN)
Gabungan Keompok Ternak Koperasi Wanita
Ibu-ibu PKK
Menyiapkan semua yang dibutuhkan dalam pelaksanaan proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Investarisasi pelaksanaan proyek pengebangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Pengadaan sarana dan prasarana. Koordinasi pengguna sarana dan
prasaran.
Pengadaan materia, peralatan dan transportasi.
Rapat koordinasi.
Bidang Humas
Pemerintah Desa Sumbersuko Gabungan Kelompok Tani
(GAPOKTAN)
Gabungan Keompok Ternak
Membuat rencana pelaksanaan sosialisasi.
Membuat jadwal kegiatan pelaksanaan sosisalisasi. Rapat koordinassi.
Bidang Pelaksana
Pemerintah Desa Sumbersuko Gabungan Kelompok Tani
(GAPOKTAN)
Gabungan Keompok Ternak Koperasi Wanita
Ibu-ibu PKK
Melaksanakan program penyuluhan sehubungan dengan pelaksanaan proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Mengevaluasi hasil kerja.
Mengidentifikasi adanya kendala dan hambatan pada pelaksanaan proyek pengembangan tiga hasil komoditas Desa Sumbersuko.
Rapat koordinasi.
Sumber: Hasil Rencana, 2014
3.2.3 Rencana Pengembangan Sistem Persampahan
Pelaksanaan terkait rencana proyek pengembangan sistem persampahan pada Desa Sumbersuko mencangkup pengembangan kelompok binaan Bank Sampah Malang berupa pembangunan unit kantor bank sampah pada tiap dusun untuk mengolah sampah anorganik, hingga pengadaan tong komposter untuk mengolah sampah organik.
A. Rencana Proyek
27 | Berikut merupakan penghitungan potensi sampah pada Desa
Sumbersuko yang dijelaskan pada Tabel 12.
Tabel 12 Potensi Persampahan Desa Sumbersuko Perhari Komposisi
Sampah (kg/hari)
& Keuntungan
(Rp)
Sampah Eksisting (kg/hari)
Organik Plastik Kertas
Asumsi 1376 85,14% 12,57% 2,29%
Rp 1.220.229 Rp 937.221 172.963 Rp 47.266
Precet 182 154,95 22,88 4,17
Rp 153.099 Rp 123.960 Rp 22.877 Rp 6.252
Kenongo 591 503,18 74,29 13,53
Rp 497.590 Rp 402.544 Rp 74.289 Rp 20.301
Ngemplak 64 54,49 8,04 1,47
Rp 53.835 Rp 43.592 Rp 8.045 Rp 2.198
Glagah Ombo 103 87,69 12,95 2,36
Rp 86.837 Rp 70.152 Rp 12.947 Rp 3.538 Sumberpang
Lor
260 221,36 32,68 5,95
Rp 218.701 Rp 177.088 Rp 32.682 Rp 8.931 Sumberpang
Kidul
176 149,85 22,12 4,03
Rp 148.049 Rp 119.880 Rp 22.123 Rp 6.046 Sumber: Hasil Rencana, 2014
Setelah diketahui potensi persampahan pada Desa Sumbersuko tiap harinya, maka dilakukan pengitungan terkait berapa unit pengadaan tong komposter yang akan diadakan berdasarkan proyeksi jumlah sampah organik hingga 20 tahun mendatang, sehingga diketahui hingga tahun 2034 untuk mengatasi sampah organik dibutuhkan 34 unit tong komposter seperti pada Gambar 8. Adapun unit kantor bank sampah yang direncakanan untuk dibangun tiap dusun seperti pada Gambar 8 .
28 | B. Organisasi Proyek
Pembentukkan organisasi proyek yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proyek pengembangan sistem persampahan pada Desa Sumberusko memiliki struktur seperti yang dijelaskan pada Gambar 9.
ORGANISASI PROYEK PENGEMBANGAN PERSAMPAHAN DESA SUMBERSUKO
PIMPINAN PROYEK
BENDAHARA PROYEK
SEKERTARIS PROYEK
BIDANG PERENCANAAN BIDANG LOGISTIK BIDANG HUMAS BIDANG PELAKSANAAN
MASYARAKAT DESA SUMBERSUKO BADAN PENGAWASAN
GARIS KOORDINATIF
GARIS INSTRUKTIF
PANITIA PROYEK
PELAKSANA PROYEK PEMERINTAH
KECAMATAN / DESA
BANK SAMPAH MALANG
Gambar 9Organisasi Proyek Pengembangan Sistem Persampahan Sumber: Hasil Rencana, 2014
Pimpinan proyek terkait pengembangan sistem persampahan merupakan pihak Karang Taruna tiap dusun pada Desa Sumbersuko, karena memiliki potensial untuk dilatih terkait manajemen dan operasional bank sampah oleh Bank Sampah Malang. Adapun peran pemerintah desa dan kecamatan sebagai
29 | C. Matriks Perencanaan Proyek
Tabel 13 Matriks Perencanaan Proyek Pengembangan Sistem Persampahan Tujuan dan kegiatan proyek
(objectives and activities of the project)
INDIKATOR OBYEKTIF(Objectives Verifiable Indicators) Sumber pembuktian
Pemanfaatan potensi persampahan pada Desa Sumbersuko melalui kelompok binaan Bank Sampah Malang dan kegiatan komposting, sehingga dapat mengatasi kebiasaan masyarakat yang kerap melakukan open dumping. •
Unit kantor Bank Sampah tiap dusun yang telah dibangun beserta tong komposternya.
0% 100% 100% 100%
•Evaluasi proyek terkait jumlah timbulan sampah yang telah diolah •Laporan
perkembangan proyek berupa jumlah unit kantor Bank Sampah yang telah dibangun tiap dusunnya.
• Masyarakat memiliki antusias dalam pengolahan sampah dengan sistem Bank Sampah Malang dan komposting.
Maksud proyek (purpos)
•Memberdayakan masyarakat Desa Sumbersuko dalam aspek pengolahan sampah untuk dijual ke bank sampah malang dan digunakan sebagai kompos. •Menanggulangi kebiasaan masyarakat
Desa Sumbersuko yang kerap melakukan kegiatan open dumping.
•Jumlah nasabah bank sampah 0% 35% 65% 100% ••Evaluasi proyek Laporan perkembangan proyek
• Partisipasi masyarakat Desa Sumbersuko tinggi untuk mengolah sampah melalui bank sampah dan komposting •Pengurangan kebiasaan
masyarakat dalam mengolah sampah secara open dumping
0% 35% 65% 100%
Hasil proyek (output)
Sampah organik dan anorganik dapat diolah dengan komposting dan bank sampah
Menanggulangi kebiasan masyarakat Desa Sumbersuko dalam mengolah sampah secara open dumping.
Menghasilkan keuntungan ekonomis dan ekologis
•Jumlah timbulan sampah Desa Sumbersuko yang dibandingkan dengan jumlah sampah yang telah diolah melalui bank sampah dan komposting
0% 35% 65% 100%
•Evaluasi proyek •Laporan
perkembangan proyek
• Hasil pengolahan sampah melalui unit bank sampah dan komposter yang telah dibangun dapat menguntungkan masyarakat dari segi ekonomi dan ekologi •Perekonomian masyarakat
meningkat
30 | Tujuan dan kegiatan proyek
(objectives and activities of the project)
INDIKATOR OBYEKTIF(Objectives Verifiable Indicators) Sumber pembuktian
(means of verification)
Asumsi Penting (Important Asumptions)
Uraian
2014-2019
2020-2024
2025-2029
2030-2034 Kegiatan
proyek (Activities)
Tahap Persiapan
• Rapat koordinasi antara Pemerintahan Desa, Bank Sampah Malang dengan Karang Taruna tiap dusun beserta masyarakat Desa Sumbersuko terkait pembentukkan organisasi proyek dan pembahasan manfaat proyek
• Sosialisasi terkait manfaat akan proyek kepada masyarakat Desa Sumbersuko Tahap Pelaksanaan
• Pembangunan unti kantor bank sampah tiap dusun beserta tong komposter yang telah dihitung sebelumnya.
• Penyetoran sampah ke pusat Bank Sampah Malang apabila sampah telah mencapai 200 kg atau batas angkut maksimal mobil pikap.
Tahap Evaluasi dan Monitoring
Sumber dana proyek:
•Alokasi Anggaran Desa Tiap Tahun (90%) •APBN Tiap Tahun (10%)
•Evaluasi proyek •Laporan
perkembangan proyek
Alokasi dana tiap tahun yang diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Desa sebanyak Rp 550juta tiap tahun, sesuai dengan muatan UU.No 6 Tahun 2014 tentang Desa.