Didownload dari: http://www.muslim.or.id
Pandangan Tajam
Terhadap
Dzikir Berjama'ah
Ustadz Muhammad Arin Badri
Daftar Isi
Tentang Dokumen Ini 3
1 Muqaddimah 4
2 As-Sunnah 10
2.1 Denisi As Sunnah . . . 10
2.1.1 Permasalahan pertama . . . 10
2.1.2 Permasalahan kedua: . . . 13
2.2 Benarkah Ulama' Tasawuf Berpedoman Kepada Sunnah? . . . 19
3 Bid'ah 26 3.1 Denisi Bid'ah . . . 26
3.2 Klasikasi Bid'ah . . . 28
4 Zikir Berjama'ah 50 4.1 Ayat-ayat Al-Qur'an Yang Dianggap Mensyariatkan Zikir Berjamaah. . . 50
4.2 Hadits-hadits Nabi shollallahu'alaihiwasallam Yang Diduga Mensyari'atkan Zikir Berjama'ah. 55 4.3 Fatwa Ulama' Tentang Zikir Berjama'ah . . . 61
4.4 Konsekuensi Memvonis Bid'ah Kepada Amaliah Yang Sebenarnya Sunnah . . . 63
5 Beberapa Problematika Yang Berkaitan dengan Zikir Berjama'ah 65 5.1 Hukum Berzikir Dengan Suara Nyaring . . . 65
5.2 Hukum Berzikir Sambil Menangis . . . 70
5.2.1 Kritikan pertama: . . . 70
5.2.2 Kritikan kedua: . . . 71
5.2.3 Kritikan ketiga: . . . 76
5.3 Hukum mengusap wajah setelah berdo'a . . . 78
6 Khatimah 87
Tentang Dokumen Ini
Alhamdulillah, pada kesempatan ini saya dapat membuatkan dan menyusun dari apa yang saya dapatk-an berupa kumpuldapatk-an artikel-artikel dari Muslim.or.id http://www.muslim.or.id/ mengenai Zikir Berja-ma'ah.1 Tujuan dari pembuatan ini adalah agar dapat dikonversikan ke dalam berbagai format terutama
pdf dan plucker sehingga dapat mudah untuk dicetak2 dan dinikmati bagi pemakai PDA.
Saran serta tanggapan (seperti ada kata-kata asing yang tidak ada dalam index dan lain-lain). terhadap e-book ini sangat terbuka. Saya persilahkan anda untuk email saya.
Semoga usaha ini berpahala di sisi Allah.
31 Desember 2005 Adinda Praditya ([email protected])
1Saya ambil dari URL-URL berikut ini:
1. Pandangan Tajam Terhadap Zikir Berjama'ah http://muslim.or.id/?p=176 2. Pandangan Tajam Terhadap Zikir Berjama'ah (2) http://muslim.or.id/?p=184 3. Pandangan Tajam Terhadap Zikir Berjama'ah (3) http://muslim.or.id/?p=188 4. Pandangan Tajam Terhadap Zikir Berjama'ah (4) http://muslim.or.id/?p=200 5. Pandangan Tajam Terhadap Zikir Berjama'ah (5) http://muslim.or.id/?p=203 6. Pandangan Tajam Terhadap Zikir Berjama'ah (6) http://muslim.or.id/?p=204
2bukan untuk tujuan komersil.
1 Muqaddimah
Segala puji hanya milik Allah, yang telah melimpahkan kepada kita umat Islam berbagai kemurahan dan kenikmatan-Nya. Dan kenikmatan terbesar yang telah Ia limpahkan kepada umat ini ialah disempurna-kannya agama ini, sehingga tidak lagi membutuhkan tambahan, dan juga tidak perlu dikurangi, Allah berrman:
Artinya: "Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan atasmu kenikmatan-Ku, dan Aku ridho Islam menjadi agamamu." (QS Al Maaidah: 3). Ibnu Katsir menerangkan ayat ini dengan perkataannya:
"Disempurnakannya agama Islam merupakan kenikmatan Allah ta'ala yang paling besar atas umat ini, karena Ia telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka tidak memerlukan lagi agama lainnya, dan tidak pula perlu seorang nabi selain Nabi mereka sendiri. Oleh karena itu Allah Ta'ala menjadikannya sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada seluruh jin dan manusia.
Dengan demikian tidak ada suatu yang halal, melainkan yang beliau halalkan, tidak ada sesuatu yang haram, melainkan sesuatu yang beliau haramkan, dan tidak ada agama melainkan ajaran agama yang telah beliau syari'atkan. Setiap yang beliau kabarkan pasti benar lagi jujur, tidak mengandung kedustaan sedikit pun, dan tidak akan menyelisihi realita."1
Ayat ini, sebagaimana telah diketahui, diturunkan kepada Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam pada hari Arafah, pada Hajjatul Wada'. Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Thariq bin Syihab, ia mengisahkan: Orang-orang Yahudi berkata kepada Umar bin Khattab rodhiallahu'anhu:
Sesungguhnya kalian membaca satu ayat, seandainya ayat itu turun pada kami kaum Yahudi, niscaya (hari diturunkannya ayat itu) akan kami jadikan hari 'Ied (perayaan).
Maka Umar berkata:
"sungguh aku mengetahui kapan dan di mana ayat itu diturunkan, dan di mana Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam berada di saat ayat itu diturunkan, yaitu di padang arafah, dan kami juga sedang berada di padang arafah; yaitu rman Allah:
Artinya : "Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan atasmu kenikmatan-Ku, dan Aku ridho Islam menjadi agamamu."2
1Tafsirul Qur'an Al 'Adlim oleh Ibnu Katsir As Sya'i (2/12). 2Riwayat Al Bukhori, 4/1683, hadits no: 4330.
5 Muqaddimah
Pada riwayat ini, dapat kita ketahui bahwa kesempurnaan agama Islam ini bukan hanya diketahui dan disadari oleh kaum muslimin saja, bahkan orang-orang Yahudi pun mengetahuinya, bukan hanya sebatas itu, bahkan mereka berangan-angan seandainya ayat ini diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan merayakannya.
Sebagai bukti lain bahwa orang-orang non-Islam menyadari akan kesempurnaan agama Islam, ialah kisah berikut: Ada sebagian orang musyrikin berkata kepada sahabat Salman Al Farisi rodhiallahu'anhu: "Sungguh Nabi kalian telah mengajarkan kalian segala sesuatu, hingga tata cara buang hajat." Maka sahabat Salman Al Farisi menimpalinya dengan berkata:
"Benar, beliau sungguh telah melarang kami untuk menghadap ke arah kiblat di saat buang air besar atau buang air kecil, dan beristinja menggunakan tangan kanan, dan beristijmar (is-tinja dengan bebatuan) dengan kurang dari tiga batu, atau beristijmar menggunakan kotoran binatang atau tulang-belulang."3
Bila kesempurnaan agama Islam dalam segala aspek kehidupan telah diakui dan diketahui oleh orang-orang non-Islam, maka betapa sengsara dan bodohnya bila ada orang-orang Islam yang masih merasa perlu untuk mencari alternatif lain dalam beragama, yaitu dengan cara menambah, atau memodikasi, atau menggabungkan, atau dengan cara mengadopsi teori-teori dan ajaran-ajaran umat lain, baik yang berasal dari negeri India, atau Mesir, atau Yunani atau Barat.
Tidaklah ada kebaikan di dunia atau di akhirat, melainkan telah diajarkan dalam agama Islam, dan tidaklah ada kejelekan melainkan, Islam telah memperingatkan umat manusia darinya, Allah berrman:
Artinya: "Dan telah Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan se-gala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS An Nahl: 89).
Ibnu Mas'ud berkata: "Telah dijelaskan kepada kita dalam Al Quran ini seluruh ilmu dan segala sesuatu." Dan Mujahid berkata: "Seluruh halal dan haram telah dijelaskan." Setelah Ibnu Katsir menyebutkan dua pendapat ini, beliau berkata:
"Pendapat Ibnu Mas'ud lebih umum dan menyeluruh, karena sesungguhnya Al Quran men-cakup segala ilmu yang berguna, yaitu berupa kisah-kisah umat terdahulu, dan yang akan datang. Sebagaimana Al Quran juga mencakup segala ilmu tentang halal dan haram, dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, dalam urusan kehidupan dunia dan agama me-reka."4
Bila Nabi shollallahu'alaihiwasallam telah mengajarkan kepada umatnya tata cara buang air kecil dan besar, mustahil bila beliau shollallahu'alaihiwasallam tidak mengajarkan kepada umatnya tata cara ber-dakwah, penegakan syariat Islam di bumi, dan terlebih lebih tata cara beribadah kepada Allah. Sehingga tidak ada alasan bagi siapa pun untuk merekayasa suatu metode atau amalan dalam beribadah kepada Allah ta'ala.
3Shohih Muslim, 1/223, hadits no: 261.
6 Muqaddimah
Hanya kebodohan terhadap ajaran Nabi shollallahu'alaihiwasallam dan sunnah-sunnahnyalah yang men-jadikan sebagian orang merasa perlu untuk merekayasa berbagai metode dalam beribadah kepada Allah ta'ala, sehingga ada yang beribadah dengan dasar tradisi dan adat warisan nenek moyang, misalnya tradisi wayangan dalam berdakwah, dan ada pula yang mengadopsi tata cara peribadatan umat lain, misalnya beribadah dengan menyiksa diri, tidak makan, tidak minum, tidak berbicara, berdiri di terik matahari, atau bertapa dan nyepi.
"Ibnu 'Abbas berkata: Tatkala Nabi shollallahu'alaihiwasallam sedang berkhotbah, tiba-tiba beliau melihat seorang lelaki yang berdiri. Maka Nabi shollallahu'alaihiwasallam ber-tanya tentangnya, dan para sahabat menjawab: Dia adalah Abu Israil, ia bernazar untuk berdiri dan tidak duduk, tidak berteduh, tidak berbicara, dan berpuasa. Maka Nabi sho-llallahu'alaihiwasallam bersabda: "perintahkanlah ia untuk berbicara, berteduh, duduk, dan meneruskan puasanya."5
Di antara metode yang diadopsi dari umat lain ialah zikir berjama'ah dengan suara nyaring, dan diko-mandoi oleh satu orang. Oleh karenanya tatkala sahabat Abdulloh bin Mas'ud melihat sebagian orang yang bergerombol sambil membaca puji-pujian secara berjama'ah dan dipimpin oleh satu orang, beliau berkata:
"Sungguh demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya kalian ini berada di atas satu dari dua perkara: menjalankan ajaran yang lebih benar dibanding ajaran Nabi Muhammad, atau sedang membuka pintu kesesatan."6
Saya ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk mengadakan studi banding antara zikir ber-jama'ah dengan cara seperti ini dengan kegiatan orang-orang Nasrani yang bernyanyi-nyanyi di gereja dengan dipimpin oleh seorang pendeta. Adakah perbedaan antara keduanya selain perbedaan tempat dan bacaannya??
Zikir atau membaca puji-pujian adalah salah satu ibadah paling agung. Setelah mengingatkan kaum muslimin akan kenikmatan-Nya berupa diubahnya kiblat mereka dari Bait Al Maqdis dan diutusnya Nabi Muhammad shollallahu'alaihiwasallam, Allah ta'ala memerintahkan mereka agar berzikir kepada-Nya:
Artinya: "Karena itu, ingatlah Aku niscaya Aku akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari (kenikmatan)-Ku." (Al Baqoroh: 152).
Pada ayat ini terdapat suatu isyarat bahwa zikir adalah ibadah yang agung, karena zikir merupakan perwujudan nyata akan rasa syukur kepada Allah ta'ala atas kenikmatan besar ini, yaitu diubahnya kiblat kaum muslimin menjadi ke arah Ka'bah, dan diutusnya Nabi Muhammad shollallahu'alaihiwasallam. Dan dalam ayat lain, Allah berrman:
Artinya: "Dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS Al Ahzab: 35).
5Riwayat Bukhori, 6/2465, hadits no:6326.
7 Muqaddimah
Karena itulah, kita sebagai seorang muslim meyakini bahwa Nabi shollallahu'alaihiwasallam telah melak-sanakan tugas menjelaskan ibadah ini dengan sempurna. Dan mustahil ada kekurangan dalam penjelasan beliau tentang ibadah ini, baik kekurangan yang berkaitan dengan macam, waktu, atau metode pelaksa-naannya.
Oleh karena itu, kita dapatkan tidaklah ada suatu keadaan atau waktu yang kita dianjurkan untuk berzikir secara khusus padanya, melainkan beliau telah menjelaskan kepada umatnya. Beliau telah menje-laskan zikir tersebut lengkap dengan tata caranya. Dimulai dari zikir semenjak kita bangun tidur, hingga kita hendak tidur lagi. Bahkan tatkala kita terjaga di waktu malam, telah diajarkan zikir-zikir yang sesuai dengannya. Bila kita membuka-buka kitab-kitab kumpulan zikir Nabi shollallahu'alaihiwasallam yang ditulis oleh para ulama', niscaya kita dapatkan bahwa seluruh keadaan manusia dan perbuatannya, baik dalam sholat atau di luar sholat, telah diajarkan zikir yang sesuai dengan keadaan itu. Silakan para pembaca yang budiman membaca kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi As Sya'i.
Realita ini selain menjadi kenikmatan, juga menjadi tantangan bagi kita. Sejauh manakah pengamalan kita terhadap sunnah-sunnah beliau shollallahu'alaihiwasallam dalam berzikir kepada Allah?
Oleh karenanya, tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk merekayasa zikir yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam. Mari kita simak hadits berikut, dengan harapan agar kita mendapat pelajaran penting tentang tata cara berzikir:
"Dari sahabat Al Bara' bin 'Azib, bahwa Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam bersabda: "Bila engkau akan berbaring tidur, hendaknya engkau berwudhu' layaknya engkau berwudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu, lalu katakanlah:
"Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan wajahku kepada-Mu, dan menyerahk-an urusmenyerahk-anku kepada-Mu. Dengmenyerahk-an rasa mengharap (kerahmatmenyerahk-an-Mu) dmenyerahk-an takut (akmenyerahk-an siksa-Mu) aku menyandarkan punggungku kepada-Mu. Tiada tempat perlindung-an dperlindung-an penyelamatperlindung-an (dari siksa-Mu) melainkperlindung-an kepada-Mu. Aku berimperlindung-an kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus."
Dan jadikanlah bacaan (doa) ini sebagai akhir perkataanmu, karena bila engkau mati pada malam itu, niscaya engkau mati dalam keadaan menetapi trah (agama Islam)." Al Bara' bin 'Azib berkata: "Maka aku mengulang-ulang bacaan (doa) ini, untuk menghafalnya, dan mengatakan: Aku beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus." Nabi pun bersabda: "Katakan: Aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus."7
Al Bara' bin 'Azib salah mengucapkan doa ini di hadapan Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam. Yang seharusnya ia mengucapkan: "Aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus", ia ucapkan: "Aku beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus." Perbedaannya hanya kata "Nabi" dan kata "Ra-sul", padahal yang dimaksud dari keduanya sama, yaitu Nabi Muhammad shollallahu'alaihiwasallam. Walau demikian Nabi shollallahu'alaihiwasallam tidak membiarkan kesalahan ini terjadi, sehingga beliau shollallahu'alaihiwasallam menegur sahabat Al Bara' agar membenarkan ucapannya.
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa zikir kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah, dan setiap ibadah diatur oleh sebuah kaidah penting, yaitu:
8 Muqaddimah
"Hukum asal setiap ibadah ialah tauqif (harus ada tuntunannya dari Nabi shollallahu'alaihiwasallam)." Ibnu Taimiyyah berkata:
"Hukum asal setiap ibadah ialah tauqif (harus ada tuntunannya dari Nabi shollallahu'alaihiwasallam), sehingga tidak boleh dibuat ajaran melainkan yang telah diajarkan oleh Allah ta'ala. Kalau
tidak demikian niscaya kita akan termasuk ke dalam rman Allah :
Artinya: "Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan lain yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?!" (QS As Syura: 21).
Sedangkan hukum asal setiap adat istiadat ialah diperbolehkan, sehingga tidak boleh ada yang dilarang melainkan suatu hal yang telah diharamkan oleh Allah. Kalau tidak demikian niscaya kita akan termasuk ke dalam rman Allah :
Artinya: "Katakanlah: "terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) ha-lal." (QS Yunus: 59)8
Bila Nabi shollallahu'alaihiwasallam menegur kesalahan Al Bara' bin 'Azib mengucapkan satu kata dalam zikir yang beliau ajarkan, maka bagaimana halnya seandainya yang dilakukan oleh Bara' bin 'Azib ialah zikir hasil rekayasanya sendiri? Al Hadz Ibnu Hajar As Sya'i, berkata:
"Pendapat yang paling tepat tentang hikmahnya Nabi shollallahu'alaihiwasallam membe-narkan ucapan orang yang mengatakan "Rasul" sebagai ganti kata "Nabi" adalah: Bahwa bacaan-bacaan zikir adalah bersifat tauqiyyah (harus ada tuntunannya), dan bacaan-bacaan zikir itu memiliki keistimewaan dan rahasia-rahasia yang tidak dapat diketahui dengan cara qiyas, sehingga wajib kita memelihara lafadz (zikir) sebagaimana diriwayatkan."9
Demikianlah sepercik adab zikir kepada Allah, dan insya Allah di sela-sela tulisan saya ini, pembaca akan mendapatkan kelanjutan pembahasan tentang adab-adab berzikir yang diajarkan oleh Nabi sholla-llahu'alaihiwasallam dan para sahabatnya.
Adapun latar belakang ditulisnya buku ini, ialah tatkala bulan Ramadhan 1425 H, saya melihat salah seorang sahabat saya membawa buku yang berjudul "ZIKIR BERJAMA'AH SUNNAH ATAU BID'AH?", karya K.H. Drs Ahmad Dimyathi Badruzzaman, M.A. ketika melihatnya, saya tertarik untuk membaca dan mengetahui.
Setelah memiliki kesempatan untuk membuka-buka buku tulisan beliau ini, saya tercengang melihat beberapa kesalahan dan kerancuan yang ada di dalamnya. Dan semenjak itulah saya memberanikan diri untuk menuliskan kritikan-kritikan yang saya rasa perlu dan penting untuk disampaikan. Akan tetapi karena berbagai kesibukan yang berkaitan dengan studi saya, keinginan ini tidak segera terlaksana, hingga pertengahan bulan Muharram 1426 H. Saat itulah saya meluangkan waktu, untuk mewujudkan keinginan ini. Alhamdulillah keinginan saya itu telah terwujud.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya sendiri, dan juga bagi kaum muslimin di Indonesia, dan semoga mendapatkan tanggapan positif dari bapak K.H. Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman M.A.
9 Muqaddimah
Dan pada kesempatan ini, tak lupa saya ucapkan kepada seluruh rekan-rekan yang telah ikut andil dalam terwujudnya keinginan saya ini, baik dengan memberikan motivasi, saran, atau bantuan berupa meminjamkan bukunya kepada saya. Semoga Allah membalas amalan mereka semua dengan yang lebih baik.
2 As-Sunnah
2.1 Denisi As Sunnah
Setelah saya mengkaji ulang bab ini, saya merasa ada beberapa permasalahan yang perlu ditinjau kembali, berikut ini penjelasannya:
2.1.1 Permasalahan pertama
Penulis (yaitu K.H. Ahmad Dimyathi -ed) pada bab ini telah melakukan kerancuan dalam mendenisikan kata As Sunnah, sehingga mencampur adukkan antara denisi As sunnah ditinjau dari segi etimologi (bahasa) dengan makna As Sunnah ditinjau dari segi terminologi (istilah). Agar duduk permasalahannya menjadi jelas bagi kita semua, berikut akan saya sebutkan makna As Sunnah dengan ringkas:
Ditinjau dari segi etimologi, kata As Sunnah bermakna: At Thoriqoh, atau As Siroh, yang artinya: jalan/ metode atau sejarah hidup/ perilaku, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ar Razy dan lainnya. 1
Sedangkan bila ditinjau dari segi terminologi, maka kata As Sunnah memiliki tiga arti dan penggunaan.2
1. As Sunnah dengan makna: mandub, atau mustahab, yang artinya, sebagaimana yang disebutkan oleh penulis:
"Suatu pekerjaan yang pelakunya terpuji dan orang yang meninggalkannya tidak terce-la" atau "Sesuatu yang diperintahkan secara tidak tegas untuk dikerjakan."3
Dan yang biasa menggunakan kata As Sunnah dengan pengertian semacam ini ialah ulama' qih dan ushul qih, sehingga sering kita mendengar atau membaca ungkapan:
"hukum permasalahan ini ialah sunnah" atau
"permasalahan ini hukumnya sunnah."
2. As Sunnah dengan pengertian: segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad sholla-llahu'alaihiwasallam, baik ucapan, perbuatan, penetapan atau lainnya. Dengan pengertian ini, kata As Sunnah semakna dengan kata Al Hadits. Sebagai contoh penggunaan kata As Sunnah dengan makna ini, ucapan para ulama':
1Mukhtar Al Shihah, oleh Muhammad bin Abi Baker Al Razi hal: 133, Al Qamus Al Muhith, oleh Al Fairuz Abady,
2:1586.
2Lihat Irsyad Al Fuhul, oleh Muhammad bin Ali As Syaukany, 1/155-156, dan Mauqif Ahl As Sunnah Min Ahl Al
Ahwa' wa Al Bida', oleh DR. Ibrahim bin 'Amir Ar Ruhaily 1/33-35.
3Lihat: Al Mustasyfa oleh Al Ghozaly, 1/215, Raudhot An Nadlir, oleh Ibnu Qudamah 1/94, dan Nihayat As Sul,
oleh Al Isnawy, 1/77.
11 2.1 Denisi As Sunnah
Dalil haramnya khamer ialah: Al Kitab (Al Qur'an), As Sunnah, dan Ijma' (kesepakatan ulama').
3. As Sunnah dengan pengertian: lawan dari kata bid'ah, sehingga sering kita mendengar ucapan ula-ma': "amalan ini sesuai dengan As Sunnah", bahkan penulis sendiri telah menggunakan kata As Sunnah dengan pengertian semacam ini, yaitu tatkala ia memberikan judul bukunya: "ZIKIR BER-JAMA'AH, SUNNAH ATAU BID'AH." Sehingga kata As Sunnah dengan pengertian ini mencakup seluruh ajaran Nabi shollallahu'alaihiwasallam, atau dengan kata lain, As Sunnah ialah sinonim dari kata Islam. Penggunaan kata As Sunnah dengan pengertian semacam ini selaras dengan hadits berikut:
"Dari sahabat Anas bin Malik rodhiallahu'anhu, ia berkata: ada tiga orang yang me-nemui istri-istri Nabi shollallahu'alaihiwasallam, mereka bertanya tentang amalan ibadah Nabi shollallahu'alaihiwasallam. Dan tatkala mereka telah diberitahu, seakan-akan mereka menganggapnya sedikit, kemudian mereka balik berkata:
Siapakah kita bila dibanding dengan Nabi shollallahu'alaihiwasallam, Allah te-lah mengampuni dosa-dosa beliau, baik yang tete-lah lampau atau yang akan datang. Salah seorang dari mereka berkata: Kalau saya, maka saya akan sholat malam selama-lamanya. Yang lain berkata: Saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka (berhenti berpuasa). Yang lain lagi berkata: Saya akan meninggalkan wanita, dan tidak akan menikah selama-lamanya. Kemudian Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam datang, lantas bersabda:
Kaliankah yang berkata demikian-demikian? Ketahuilah, sungguh demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya diantara kalian, akan tetapi saya berpuasa dan juga berbuka, sholat (malam) dan juga tidur, dan saya juga menikahi wanita. Maka barang siapa yang membenci sunnahku (ajaranku), maka ia tidak termasuk golonganku."4
As Syathiby Al Maliki (w. 790 H) -rahimahullah- berkata:
"Dan kata As Sunnah juga digunakan sebagai lawan kata dari bid'ah, sehingga dika-takan: Orang itu beramal sesuai dengan As Sunnah, bila ia beramal sesuai dengan yang diamalkan oleh Nabi shollallahu'alaihiwasallam, baik amalan itu disebutkan dalam Al Qur'an atau tidak. Dan juga dikatakan: Orang itu mengamalkan bid'ah, bila ia melakuk-an sebaliknya."5
Ibnu Hazm -rahimahullah- (w. 456 H) berkata:
"Ahlus Sunnah yang akan kami sebutkan ialah Ahlul Haq (penganut kebenaran), se-dangkan selain mereka ialah Ahlul Bid'ah, karena mereka (Ahlus Sunnah) ialah para sa-habat -radliallahu 'anhum-, dan setiap orang yang menempuh metode mereka, dari para
12 2.1 Denisi As Sunnah
tabi'in, kemudian Ashabul Hadits (penganut hadits), dan setiap orang yang meneladani mereka dari kalangan ahli qih pada setiap zaman hingga hari ini, dan juga seluruh orang awam yang mencontoh mereka dibelahan bumi bagian timur dan barat, semoga Allah senantiasa merahmati mereka."6
Penggunaan kata As Sunnah dengan pengertian semacam ini ada semenjak bermunculan dan mene-barnya berbagai macam bid'ah, yaitu setelah berlalunya tiga genersi pertama dari umat Islam. Sebagai bukti bahwa Ustadz KH. Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman, M.A, telah mencampur adukkan antara pengertian As Sunnah ditinjau dari segi bahasa dan ditinjau dari segi istilah, adalah hal-hal berikut:
1. Pada halaman 5, setelah menyebutkan makna As Sunnah secara kebahasaan, yang berarti: perilaku seseorang, baik atau buruk, beliau mengatakan:
Dikalangan ulama ahli qih (fuqaha') ada suatu ungkapan yang populer dengan istilah: "ini hukumnya sunah/sunat" atau "ini hukumnya makruh." Tentu saja sunah/sunat dalam istilah mereka bukan berarti perilaku, akan tetapi sinonim (mutaradif) dengan istilah yang lain, yaitu mandub, mustahab dan tathawu'
Ini adalah kerancuan pemahaman, sebab kata As Sunnah dengan makna/denisi semacam ini, ialah salah satu dari denisi As Sunnah secara terminologi, bukan secara etimologi (bahasa), sehingga seharusnya beliau mencantumkan makna dan penggunaan semacam ini pada pembahasan As Sunnah ditinjau dari segi terminologi, agar tidak menimbulkan kerancuan pemahaman pada pembaca, dan kesan bahwa penggunaan kata As Sunnah semacam ini termasuk penggunaan secara bahasa.
2. Kemudian pada halaman yang sama7, beliau berkata:
Dan pada akhir-akhir ini muncul ungkapan "Sunnah" sebagai lawan dari "Syi'ah." Mi-salnya tentang adanya imbauan perlunya dialog Sunnah-Syi'ah. Bahkan ada sebuah buku yang diberi judul "Dialog Sunnah-Syi'ah.
Inipun kerancuan perkataan dari beliau tentang kata "As Sunnah", sebab yang dimaksudkan dari kata As Sunnah disini ialah makna ketiga, dengan demikian penggunaan semacam ini bukanlah hal baru, sebagaimana terkesan dalam ucapan beliau ini. Bahkan beliau sendiri pada kelanjutan perkataannya, yaitu pada hal: 6 mengakui -baik beliau sadari atau tidak- akan hal ini, yaitu pada ucapan beliau:
Kata "Sunnah" dalam ungkapan terakhir ini sebenarnya merupakan kependekan dari Ahlus Sunnah atau lengkapnya, Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Ibnu Katsir, seorang ahli tafsir dan sejarah dalam bukunya: Al Bidayah wan Nihayah, menye-butkan berbagai peperangan yang terjadi antara Ahlus Sunnah melawan Syi'ah. Sebagai contoh, peperangan yang terjadi pada tahun: 420, 421, 422, 425, 439 H. Bahkan jatuhnya ibu kota Khilafah
13 2.1 Denisi As Sunnah
Abbasiyah ke tangan orang-orang Tartar pada tahun 656 H, disebabkan pengkhianatan yang dila-kukan oleh orang Syi'ah, yang bernama: Muhammad bin Al 'Alqamy, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu Katsir dalam bukunya ini 13/213-215.
Bahkan pada halaman yang sama, beliau mengatakan bahwa Ahl as Sunnah wa al Jama'ah", adalah mazhab yang didirikan oleh Abu Hasan Al Asy'ari (w. 324) dan Abu Manshur Al Maturidi (w. 333), dengan demikian penggunaan kata As Sunnah sebagai lawan dari Syi'ah sudah ada semenjak dahulu kala, dan menurut beliau, ada semenjak abad ke-4 hijriah, yaitu semenjak didirikannya mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, karena kedua mazhab ini tentu tidak sama dengan mazhab Syi'ah. Hal ini membuktikan bahwa ucapan beliau: "Dan pada akhir-akhir ini muncul ungkapan "Sunnah" sebagai lawan dari "Syi'ah", salah atau tidak sesuai dengan realita.
2.1.2 Permasalahan kedua:
Kesalahan yang ada pada bab ini, yang saya rasa lebih fatal ialah penafsiran terhadap sebutan "Ahl as Sunnah wa al Jama'ah", dimana beliau pada hal: 6 berkata:
Ahl as Sunnah wa al Jama'ah, yaitu faham/ fatwa-fatwa yang diajarkan oleh Imam Abu Hasan al Asy'ari (w. 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (w. 333), dimana kedua tokoh ini dipandang sebagai pendiri Mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Kemudian beliau menukil perkataan Sayyid Murtadha al Zabidi al Yamani, yang menafsirkan Ahl as Sunnah wa al Jama'ah" dengan kedua golongan ini.
Ini adalah kesalahan besar dan fatal yang ada pada buku ini. Dan sebelum membuktikan kesalahan ini, saya ingin bertanya kepada bapak Kyai sebagai berikut:
Menurut hemat bapak Kyai, apakah Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam, para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang hidup sebelum kedua orang ini (al Asy'ari dan al Maturi-di), bermazhabkan dengan mazhab Ahl as Sunnah wa al Jama'ah, yang menurut penafsiran bapak ialah mazhab Asy'ari atau maturidi? Dengan kata lain, apakah Rasulullah shollalla-hu'alaihiwasallam dan sahabatnya ialah orang Asy'ari atau Maturidi?
Untuk membuktikan kesalahan ini, saya akan sebutkan beberapa hadits Nabi shollallahu'alaihiwasallam, yang menjelaskan realita perkembangan perjalanan umat Islam:
1. Hadits pertama:
Artinya: "Dari sahabat Abu Sa'id Al Khudri rodhiallahu'anhu, beliau berkata: Rasu-lullah shollallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Sunguh-sungguh kamu akan mengikuti/mencontoh tradisi orang-orang sebe-lum kalian, sejengkal sama sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandai-nya mereka masuk kedalam lubang dhob8 niscaya kamu akan meniru/mencontoh
mereka.
8
14 2.1 Denisi As Sunnah
Kamipun bertanya: Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab: Siapa lagi? (Muttafaqun 'Alaih)9.
2. Hadits kedua:
Artinya: "Dari sahabat Abdillah bin 'Amr rodhiallahu'anhu, ia berkata: Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam bersabda:
Niscaya umatku akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa Bani Israil, la-yaknya terompah dibanding dengan terompah (sama persis), hingga seandainya ada dari mereka orang yang menzinai ibunya dihadapan khalayak ramai, niscaya akan ada di umatku orang yang melakukannya. Dan sesungguhnya Bani Israil te-lah terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan. Seluruh golongan akan masuk neraka, kecuali satu golongan.
Para sahabatpun bertanya: Wahai Rasulullah. siapakah satu golongan itu? Beliau men-jawab: (golongan yang menjalankan) ajaran yang aku dan para sahabatku amalkan."10
Inilah karakteristik golongan selamat, yaitu golongan yang berpegang teguh dengan ajaran aga-ma Islam yang diajarkan, didakwahkan dan diaaga-malkan oleh Nabi shollallahu'alaihiwasallam beserta sahabatnya.
Tatkala Nabi shollallahu'alaihiwasallam ditanya tentang siapakah golongan yang selamat dari neraka, beliau menjawab dengan menyebutkan kriteria (sifat)nya, bukan dengan menyebutkan nama orang. Ini merupakan isyarat bahwa yang menjadi ukuran dan barometer dalam menilai suatu golongan ialah: dengan melihat karakteristik, dan perilakunya, yaitu, sejauh manakah golongan tersebut men-jalankan dan mencontoh ajaran dan amalan yang diterapkan oleh Nabi shollallahu'alaihiwasallam dan para sahabatnya, bukan dengan tokoh tertentu dari golongan itu, siapapun orangnya. Apala-gi bila orang tersebut hidup jauh dari masa kenabian, semacam Abu Hasan Al Asy'ari dan Abu Manshur Al Maturidi, yang keduanya hidup pada abad keempat hijriah.
As Syathiby Al Maliky berkata:
"Singkat kata, bahwa sahabat-sahabat beliau shollallahu'alaihiwasallam senantiasa me-neladaninya dan menjalankan petunjuknya, dan sungguh mereka telah mendapatkan san-jungan dalam Al Qur'an Al Karim, sebagaimana suritauladan mereka yaitu Nabi Mu-hammad shollallahu'alaihiwasallam telah mendapatkan sanjungan. Dan sesungguhnya perangai beliau shollallahu'alaihiwasallam ialah Al Qur'an,11 Allah Ta'ala berrman:
9
Muttafaqun 'Alaih adalah suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. -red. vbaitullah.
10Riwayat At Tirmizy, 5/26, hadits no: 2641, dan Al Hakim 1/218, hadits no: 444. 11Beliau mengisyaratkan kepada perkataan 'Aisyah -radliallahu 'Anha
15 2.1 Denisi As Sunnah
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti agung." (QS. Al Qalam 4).
Dengan demikian Al Qur'anlah yang sebenarnya menjadi pedoman, sedangkan As-Sunnah berfungsi menjabarkannya, sehingga orang yang menjalankan As Sunnah, berarti ia telah menjalankan Al Qur'an. Dan para sahabat ialah orang yang paling banyak menjalan-kannya, sehingga setiap orang yang meneladani mereka, niscaya ia tergolong ke dalam golongan selamat, yang akan masuk surga, -atas kemurahan Allah- inilah makna sabda Nabi shollallahu'alaihiwasallam:
"(golongan yang menjalankan) ajaran yang aku dan para sahabatku amalkan." Al Qur'an dan As Sunnah merupakan jalan lurus, sedangkan (dalil-dalil) yang lain berupa ijma' (kesepakatan ulama') dan lainnya adalah cabang dari keduanya. Inilah kriteria ajaran yang diamalkan oleh Nabi shollallahu'alaihiwasallam dan para sahabatnya, dan ini pulalah makna hadits ini dalam riwayat lain:
"Mereka itu ialah Al Jama'ah"
Dikarenakan tatkala Nabi shollallahu'alaihiwasallam menyabdakan hadits ini, (kabar ter-jadinya perpecahan umat Islam) Al Jama'ah memiliki kriteria ini."12
Oleh karenanya, agama Islam hanya memiliki dua sumber hukum, yaitu Al Qur'an dan As Sunnah. Sedangkan selain kedua sumber hukum ini, bila bertentangan dengannya ditinggalkan. Inilah se-babnya mengapa para ulama' dan imam senantiasa berwasiat kepada murid-murid dan pengikutnya agar senantiasa meninggal kan pendapatnya, bila dikemudian hari terbukti bertentangan dengan hadits, sebagai contoh:
Imam Malik bin Anas -pendiri mazhab maliki- berkata:
"Setiap manusia dapat diikuti perkataan (pendapat)nya, dan juga dapat ditinggalkan,
kecuali penghuni kuburan ini shollallahu'alaihiwasallam (yaitu Nabi shollallahu'alaihiwasallam)."13
Imam As Sya'i, berkata:
"Bila ada hadits yang shahih, maka campakkanlah pendapatku ke dinding/pagar."14
Inilah karakteristik utama golongan selamat, yang dalam hadits lain disebut dengan Al Jama'ah.
3. Hadits ketiga:
Artinya: "Dari sahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan rodhiallahu'anhu dari Nabi sholla-llahu'alaihiwasallam, beliau bersabda: "Dan (pemeluk) agama ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan akan masuk neraka, dan (hanya) satu golongan yang masuk surga, yaitu Al Jama'ah." 15
12Al I'itishom, oleh As Syathiby 2/443.
13Siyar A'alam An Nubala' oleh Az Zahaby 8/93. 14Ibid 10/35].
15HSR Ahmad 4/102, Abu Dawud 4/198, hadits no: 4597, Ibnu Abi 'Ashim 1/7, hadits no: 2, dan Al Hakim 1/218,
16 2.1 Denisi As Sunnah
Dan yang dimaksud dengan Al Jama'ah ialah, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Syamah As Sya'i (w. 665 H):
"Acapkali datang perintah untuk berpegang teguh dengan Al Jama'ah, maka yang di-maksudkan ialah: senantiasa berpegang teguh dengan kebenaran dan para pengikutnya, walaupun orang yang berpegang teguh dengan kebenaran sedikit jumlahnya, dan orang yang menyelisihinya berjumlah banyak. Hal ini karena kebenaran ialah ajaran yang dia-malkan oleh Al Jama'ah generasi pertama semenjak Nabi shollallahu'alaihiwasallam dan para sahabatnya -radliallahu 'anhum-, dan tidak dipertimbangkan banyaknya jumlah pe-nganut kebatilan yang ada setelah mereka."16
Pernyataan beliau ini selaras dengan apa yang dinyatakan oleh As Syathiby pada ucapannya yang telah saya sebutkan di atas.
Ibnu Abil 'Izzi Al Hana (w. 792 H) berkata:
"Dan Al Jama'ah ialah jama'ah kaum muslimin, dan mereka itu ialah para sahabat, dan seluruh orang yang meneladani mereka hingga hari qiyamat."17
Subhanallah! Tiga orang ulama' yang saling berjauhan, tidak pernah saling bertemu, dan berbeda mazhab18 sepakat dalam menafsirkan Al Jama'ah, bahwa mereka ialah para sahabat Nabi
shollalla-hu'alaihiwasallam dan seluruh orang yang meneladani mereka, terlepas dari perbedaan mazhab qih atau daerah, atau organisasi dan guru.
Al Jama'ah ini dikemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yang artinya para penganut as sunnah dan persatuan. Dikatakan Ahlus Sunnah karena mereka benar-benar menerapkan As Sunnah dengan pemahaman ketiga, yang mencakup seluruh ajaran agama Islam yang murni. Dan Ahlul Jama'ah, karena mereka senantiasa menjaga persatuan yang dibangun diatas kebenaran.
Setelah jelas bagi kita, bahwa yang dimaksud dengan Ahl As Sunnah wa Al Jama'ah ialah Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam, para sahabatnya dan seluruh orang yang meneladani mereka, maka menjadi jelaslah bahwa siapa saja yang menafsirkan Ahl As Sunnah wa Al Jama'ah dengan golongan tertentu atau mazhab tertentu, penafsirannya tidak sesuai dengan fakta dan bertentangan dengan dalil. Bagaimana tidak, Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam sendiri tatkala dikonrmasikan tentang maksud beliau dengan Al Jama'ah, beliau menjawab: (mereka ialah golongan yang menjalankan) ajaran yang aku dan para sahabatku amalkan."
16Al Ba'its 'Ala Ingkari Al Bida' wa Al Hawadits, oleh Abu Syamah As Sya'i, hal: 34. 17Syarah Al Aqidah At Thohawiyyah, oleh Ibnu Abil 'Izz Al Hana hal. 374.
18Abu Syamah bertempat tinggal di Baitul Maqdis Palestina, wafat pada thn: 665 H, dan bermazhabkan Sya'i, As
17 2.1 Denisi As Sunnah
Dengan demikian tidak ada alasan lagi bagi siapapun untuk menafsirkan Al Jama'ah dengan penafsiran yang lain, baik dengan mazhab Asy'ari dan Maturidi, sebagaimana yang dilakukan oleh Al Murtadha Az Zabidi, dan diikuti oleh Bapak KH. Drs. Ahmad Dinyathi Badruzzaman MA, atau dengan mazhab lain.
Agar menjadi lebih jelas kesalahan orang yang menafsirkan Ahl As Sunnah wa Al Jama'ah dengan mazhab Asy'ari dan Maturidi, saya akan menukilkan sebagian aqidah (idiologi) mazhab Asy'ari: Dalam aqidah Asy'ari, dinyatakan, bahwa Al Qur'an yang ada dihadapan kita ini, bukanlah kalamullah, akan tetapi berupa tulisan, dan huruf yang mengungkapkan akan makna kalamullah, tulisan dan huruf itu Allah ciptakan pada diri malaikat Jibril, atau Rasulull atau Al Lauhul Mahfuz, sedangkan kalamullah yang sebenarnya ialah suatu makna yang ada pada diri Allah.
Dan makna ini tidak berubah-ubah, dan tidak berbeda-beda, yang beda hanyalah obyek, waktu dan bahasanya, sehingga bila obyeknya ialah perbuatan buruk, maka ia dikatakan larangan, dan bila berupa perbuatan baik, maka ia disebut perintah, dan bila berupa kisah, ia disebut berita dan seterusnya. Se-hingga konsekwensinya seluruh Al Qur'an dari surat Al Fatihah s/d surat An Nas sama semua, arti atau maknanya tidak berbeda, yang beda hanyalah sisi pandang manusia, bila dikaitkan dengan perbuatan zina, maka ayat itu menjadi larangan dari perbuatan zina, dan bila dikaitkan dengan ibadah sholat, maka ayat itu pula menjadi perintah mendirikan sholat.
Dan bila diwaktu Nabi Musa 'alaihissalam dinamakan At Taurat, dan bila di zaman nabi 'Isa 'alai-hissalam dinamakan Injil, dan bila di zaman Nabi Muhammad shollallahu'alaihiwasallam dinamakan Al Qur'an, yang beda hanyalah waktu dan bahasanya.19
Tentu ini adalah aqidah yang membingungkan, menyesatkan, membodohi umat serta bertentangan dengan realita dan akal sehat. Contoh kedua dari aqidah Asy'ari: Akal manusia adalah sumber utama bagi syari'at Islam, sehingga setiap dalil, baik Al Qur'an atau Al hadits yang dianggap bertentangan dengan akal, harus diselaraskan dengan akal pikiran manusia, bila tidak mungkin, maka harus ditolak.20
Ibnu Al Qayyim Al Hambali (w. 751 H) setelah menyebutkan empat prinsip mazhab ahlul bid'ah yang diantaranya ialah mendahulukan akal dibanding dalil: "Inilah keempat taghut yang dijadikan oleh ahlul bid'ah sebagai prinsip bagi mazhab mereka, dan telah menjajah agama Islam. Inilah yang menghapuskan batasan-batasan agama Islam, menyirnakan rambu-rambunya, menumbangkan pondasinya, menggugurkan kehormatan dalil dari dalam kalbu, dan membukakan pintu bagi setiap orang munaq dan musyrik untuk melecehkannya. Sehingga tidaklah ada orang yang menghujatnya dengan dalil dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, melainkan ia akan segera berkilah dan berlindung dengan salah satu dari thoghut-thoghut ini, dan menjadikannya sebagai perisai guna merintangi jalan Allah." 21
Apakah setelah in semua, kita masih akan bersikukuh mengatakan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah relevan dengan mazhab Asy'ari dan Maturidi?
Mungkin ada dari pembaca yang bertanya:
Mengapa ulama' semacam Sayid Murtadha Az Zabidi, mengklaim bahwa yang dimaksud de-ngan Ahlus Sunnah ialah Al Asy'ariyah dan Al Maturidiyah?
19Lihat kitab: Al Musamarah bi Syarhil Musayarah, oleh Al Kamal Ibnu Abi Syarif Al Maqdisy (W 906 H), hal: 74-77.
Kitab ini ialah kitab yang menerangkan aqidah-aqidah mazhab Asy'ari, jadi nukilan ini ialah nukilan langsung dari kitab mereka, dan bukan melalui perantaraan orang lain.
20Ibid hal: 33.
21As Showa'iq Al Munazzalah 'Ala At Tho'ifah Al Jahmiyah Al Mu'atthilah, oleh Ibnu Al Qayyim Al jauziyah
18 2.1 Denisi As Sunnah
Untuk mengetahui jawabannya, mari kita simak dan renungkan bersama ucapan sahabat Abdullah bin Mas'ud berikut ini:
Artinya: "Hendaknya kamu menuntut ilmu sebelum ilmu itu diangkat, dan diangkatnya ilmu dengan matinya para ulama'. Hendaknya kamu menuntut ilmu, karena kamu tidak tahu kapan ia dibutuhkan, atau dibutuhkan pendapatnya. Sesungguhnya kalian akan menemui beberapa kaum yang mengaku-aku bahwa mereka menyeru kamu kepada kitab Allah (Al Qur'an) padahal ia telah mencampakkannya dibalik punggungnya. Maka hendaknya kamu menuntut ilmu, dan hati-hatilah kamu dari amalan bid'ah, berlebih-lebihan, dan sikap ekstrim, dan hendaknya pula kamu senantiasa mengikuti ajaran yama lama."22
Sayid Murtadha Az Zabidi ialah orang yang bermazhabkan Asy'ari, sehingga ia merasa perlu untuk mengklaim bahwa Ahlus Sunnah ialah kelompoknya atau golongannya saja. Hal ini menjadikannya lalai bahwa Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam, sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang hidup sebelum masa Abu Hasan Al Asy'ari tidak bermazhabkan dengan mazhab ini.
Fanatik golonganlah yang menjadikannya lalai atau menutup mata dari fakta sejarah ini, dan hal inipu-lalah -menurut hemat saya- yang menimpa bapak Kyai KH. Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari kesesatan setelah kita mendapat petunjuk, dan kehinaan setelah mendapat kemuliaan.
Sebagai bantahan terbesar terhadap klaim bapak Dimyathi, ialah ucapan Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari berikut ini:
"Bila ada yang berkata kepada saya: Engkau telah mengingkari keyakinan orang Mu'tazilah, Al Qadariyyah, Al Jahmiyyah, Al Haruriyyah (khowarij) Al Radhah (Syi'ah), Al Murji'ah, maka katakanlah kepada kami apa aqidah yang engkau anut dan keyakinan yang engkau yakini? Maka jawabannya ialah:
aqidah yang saya yakini ialah: senantiasa komitmen dengan kitab Tuhan-ku Azza wa Jalla, dan dengan sunnah Nabi Muhammad shollallahu'alaihiwasallam, dan yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi'in dan para imam ahlil hadits, dan saya dengan aqidah ini senantiasa berpegang teguh, dan dengan menganut setiap aqidah yang diyakini oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal -semoga Allah membahagiakannya, meninggikan derajatnya, dan membalas jasanya dengan yang lebih besar- dan menentang setiap yang menyelisihinya.
Karena beliau (Ahmad bin Hambal) ialah seorang imam yang agung, pemimpin yang sem-purna, yang dengannya Allah menjelaskan kebenaran, menyingkap kesesatan, menerangi jalan, dan memadamkan bid'ah setiap ahli bid'ah, penyelewengan setiap orang yang menyeleweng, dan keraguan setiap orang yang dilanda keraguan. Semoga Allah senantiasa merahmatinya, dialah seorang imam yang terkemuka, dan sahabat yang agung nan mulia."23
Inilah aqidah Abu Al Hasan Al Asy'ari yang beliau anut dan ajarkan pada akhir hayatnya, yaitu aqidah yang dianut oleh Imam Ahmad bin Hambal. Beliau memang pernah menganut aqidah Kullabiyah yang
22Riwayat Ad Darimi 1/66, no:143, As Sunnah oleh Muhammad bin Nasher Al Marwazy As Sya'i hal 29, no: 185, dan
Mujmal Ushul I'itiqad Ahlus Sunnah oleh Al Lalaka'i As Sya'i 1/87, no:108.
19 2.2 Benarkah Ulama' Tasawuf Berpedoman Kepada Sunnah?
lebih dikenal dengan sebutan Aqidah Asy'ariyyah. Namun setelah jelas bagi beliau sisi kesalahan aqidah ini, beliau pun meninggalkannya, dan kembali ke aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sebagaimanan yang beliau jelaskan dalam kitabnya Al Ibanah 'An Ushulid Diyanah dan Maqalaatul Islamiyyin.
2.2 Benarkah Ulama' Tasawuf Berpedoman Kepada Sunnah?
Pada pembahasan ini, hal: 16 bapak Kyai Dimyathi berkata:
"Sementara ini ada orang yang berkata bahwa ulama' qih dan ulama tasawuf itu dalam menetapkan suatu hukum dan ibadahnya hanyalah hasil ijtihad (rekayasa) mereka tanpa di-dasari sunnah Nabi shollallahu'alaihiwasallam. Perkataan semacam itu, menurut hemat kami, jelas tidak bisa dipertanggung jawabkan validitasnya."
Kalau yang bapak Kyai maksudkan ialah ulama' qih, maka saya mendukung ucapan bapak Kyai, akan tetapi bila yang bapak maksud ialah ulama' tasawuf juga, apalagi ulama' tasawuf mutaakhirin (su dengan pemahaman yang sekarang ada dimasyarakat), maka saya balik berkata: menurut keyakinan saya, jelas ucapan bapak Kyai ini tidak dapat dipertanggung jawabkan validitasnya, dan bahkan bertentangan dengan realita.
Pada pembahasan ini, bapak Kyai hanya menukilkan perkataan-perkataan para tokoh tasawuf yang ada pada masa dahulu, yang pemahaman tasawuf kala itu hanya sebatas zuhud dalam urusan dunia, dan tekun beribadah. Beliau hanya menyebutkan ucapan Al Junaid (w. 297 H), Dzun Nun (w. 245 H), Ibrahim bin Adham (w. 161 H) Abu Sa'id Al Kharraz (w. 277 H), Abu Yazid Al Busthomi (w. 261 H), Al Muhasibi (w. 243), Al Sirri Al Saqathi (w. 257 H).
Adapun tokoh-tokoh su pada zaman ini, -saya rasa bapak Kyai lebih banyak tahu dibanding saya tentang mereka- kebanyakannya ialah orang-orang kaya, rumahnya megah, kendaraannya bagus, hartanya melimpah dst.
Yang menjadi pertanyaan saya: apakah bapak Kyai tidak mengenal tokoh su kecuali mereka? atau, Apakah su tidak memiliki tokoh selain mereka? Ataukah ada batu di balik udang dari dilupakannya tokoh-tokoh su selain mereka?
Bukankah bapak kenal bahwa diantara tokoh su besar yang diagung-agungkan oleh banyak orang ialah : Ibnu Arabi, Al Hallaj, At Tijani? Mengapa bapak Kyai tidak berani menukil dari mereka? Apakah benar ada batu dibalik udang?
DR. Gholib Al Awaji -seorang pakar dalam ilmu roq (sekte-sekte) yang ada di umat Islam- setelah menyebutkan perbedaan ulama' dalam menentukan awal munculnya tasawuf, ia berkesimpulan:
"Dari perbedaan pendapat ini, saya berkesimpulan bahwa tasawuf pertama kali muncul setelah ditu-runkannya agama Islam dalam bentuk zuhud, semangat tinggi dalam berusaha meraih kehidupan akhirat, dan mengekang jiwa sedapat mungkin dari mencintai kehidupan dunia, dan berjalanlah segalanya sesuai dengan pemahaman ini.
20 2.2 Benarkah Ulama' Tasawuf Berpedoman Kepada Sunnah?
itu selaras dengan kebenaran atau sebaliknya malah menjauh darinya."24
Dari kesimpulan DR Gholib Al Awaji di atas kita mengetahui bahwa tasawuf yang ada pada zaman ini tidak lagi sejalan dengan tasawuf yang ada pada zaman dahulu awal kali muncul. Oleh karena itu kita dapatkan sebagian ulama' menyebut bahwa tasawuf yang ada pada zaman orang-orang yang dinukil perkataannya oleh bapak Kyai Dimyathi dengan sebutan suyah al haqo'iq.25
Walau demikian, ternyata didapatkan beberapa penyelewengan pada ucapan dan perilaku kebanyakan mereka, sebagai contoh:
Bisyr Al Ha berkata:
Artinya: "Tidak akan pernah berbahagia orang yang terbiasa dengan paha-paha wanita (istri-istrinya)."26
Bandingkanlah ucapan Bisyr ini dengan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik rodhia-llahu'anhu tentang kisah ketiga orang yang mendatangi rumah istri-istri Nabi shollallahu'alaihiwasallam, dan telah saya sebutkan pada bab I.
Malik bin Dinar berkata:
Artinya: "Seseorang tidak akan dapat mencapai kedudukan ash shiddiqin hingga ia mening-galkan istrinya, seakan-akan ia seorang janda, dan menyendiri ditempat-tempat persembunyian anjing."27
Bandingkan ucapan Malik bin Dinar ini dengan hadits berikut:
Artinya: "Dari sahabat Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam bersabda: "Dinar yang engkau nafkahkan dijalan Allah (untuk membiayai jihad), dinar yang engkau nafkahkan guna memerdekakan budak, dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, yang paling besar pahalanya ialah dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu."28
Abu Sulaiman Ad Daraani berkata:
"Apabila seseorang menuntut hadits (Nabi shollallahu'alaihiwasallam), atau bepergian guna mengais rezeki, atau menikah, berarti ia telah condong kepada kehidupan dunia."29
As Sya'rani mengkisahkan dari Al Junaid, bahwa ia berkata:
Artinya: Seorang murid yang benar-benar tulus, ia tidak butuh kepada ilmu para ulama', bila Allah menghendaki kebaikan padanya, niscaya ia akan dipertemukan dengan orang-oang su dan dijauhkan dari para qurra' (ahli qira'at yaitu para ulama').30
24Firoq Mu'ashiroh, oleh DR Gholib bin Ali Al 'Awaji 2/734. 25Lihat Majmu' Fawa, oleh Ibnu Taimiyyah 11/19.
26Siyar A'alam An Nubala' oleh Az Zahabi 10/472. 27Lihat Hilyah Al Ulama' oleh Abu Nu'aim 2/359. 28Riwayat Muslim 2/692, hadits no: 995.
29Talbis Iblis oleh Ibnu Jauzi 359.
30Thabaqat Al Kubra oleh As Sya'rani 1/84, dengan perantaraan kitab: Dirasaat Al Tasawwuf oleh DR. Ihsan Ilahi
21 2.2 Benarkah Ulama' Tasawuf Berpedoman Kepada Sunnah?
Inilah salah satu penyebab kenapa su zaman sekarang tersesat dari kebenaran dan menyeleweng dari syariat Nabi Muhammad shollallahu'alaihiwasallam, mereka menjauhi ilmu dan para ahlinya, bahkan menganggap belajar menuntut ilmu hadits sebagai perbuatan dosa, oleh karenanya dahulu Bisyr Al Ha merasa perlu untuk beristighfar kepada Allah, karena ia pernah melangkahkan kakinya dalam perjalanan menuntut hadits-hadits Nabi shollallahu'alaihiwasallam. 31
Adapun su yang ada setelah generasi suyatul haqa'iq berlalu, dan digantkan oleh su jenis baru, yaitu yang sekarang ada dimasyarakat, dan diantara tariqatnya telah diakui secara resmi oleh sebagian ormas Islam di Indonesia dan diberi julukan sebagai thariqah mu'tabarah, telah jauh menyimpang dari ajaran dan prinsip suytull haqa'iq. Tidak lagi seperti yang disebutkan dalam ucapan-ucapan para tokoh yang disebut namanya oleh bapak Kyai Dimyathi. Untuk sekedar membuktikan kepada para pembaca, saya akan menukilkan sebagian ucapan beberapa tokoh mereka:
Ibnu Arabi (seorang tokoh su sesat -ed) dalam bukunya Al Futuhat Al Makkiyah berkata: "Hamba adalah tuhan, dan tuhan adalah hamba
duhai gerangan, siapakah yang diberi tugas? Bila kau katakan hamba, maka ia adalah tuhan
atau kau katakan : tuhan, maka mana mungkin tuhan diberi tugas!?32
Di bukunya: Al Fushus, Ibnu Arabi berkata:
"Segala sesuatu yang kita temui, maka itulah keberadaan Al Haq (Allah) yang berwujud pada makhluq. Bila dilihat dari hakikatnya maka ia adalah perwujudan Allah, dan bila dilihat dari perbedaan bentuk, maka itu adalah perwujudan makhluq-makhluq, sebagaimana tidak akan berubah nama bayangan hanya karena perbedaan bentuk, demikian juga tidak akan sirna sebutan Al Haq (Allah) hanya karena keaneka ragaman bentuk alam semesta.
Bila dilihat dari keesaan bayangan, maka dia adalah Al Haq (Allah), karena Dia adalah Yang Maha Esa, dan bila dilihat dari segi perbedaan bentuk, maka itu adalah alam semesta, renungkanlah apa yang telah aku jelaskan kepadamu ini."33
Abu Hamid Al Ghazali, tokoh tasawuf kelas satu di mata pengikut tariqat masa kini berkata dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin:
"Bagian tauhid keempat ialah: bila ia tidak menyaksikan di alam semesta ini selain satu dzat yang esa, dan ini merupakan penyaksian para shiddiqin, dan diistilahkan oleh orang su dengan sebutan: Al Fana' Fit Tuhid (telah melebur dalam tauhid/pengesaan) .. Bila anda bertanya: bagaimana mungkin seseorang tidak melihat melainkan hanya satu saja, sedangkan ia melihat langit, bumi, dan segala benda yang ia rasakan, dan itu banyak sekali?, dan bagaimana suatu yang banyak menjadi hanya satu?
31Lihat Siyar A'alam An Nubala' oleh Az Zahabi 10/470, 472. 32Lihat Firoq Mu'ashiroh, oleh DR Gholib bin Ali Al 'Awaji 2/745.
33Fushus Al Hikam oleh Muhammad bin Ali bin Muhammad ibnu Arabi Al Andalusi, hal: 77-79, dengan perantaraan
22 2.2 Benarkah Ulama' Tasawuf Berpedoman Kepada Sunnah?
Ketahuilah bahwa ini adalah puncak ilmu mukasyafat, dan rahasia ilmu ini tidak boleh untuk dituliskan dalam suatu kitab, karena orang-orang yang telah sampai pada tingkatan ma'rifah berkata: membocorkan rahasia ketuhanan itu adalah kufur. Ditambah lagi ilmu ini tidak ada hubungannya dengan ilmu mu'amalah (interaksi). Benar, menyebutkan satu hal yang dapat mengusir rasa keherananmu boleh-boleh saja, yaitu: bahwa sesuatu dapat saja berjumlah banyak dengan satu pertimbangan, dan menjadi satu dengan pertimbangan lain.
Yang demikian ini sebagaimana manusia dikatakan banyak bila dilihat dari segi roh, jasad, kaki, tangan, urat-urat, tulang belulang, dan perutnya, dan pada saat yang sama dengan pertimbangan lain kita katakan: dia adalah satu manusia.
Demikilah halnya segala sesuatu yang ada di alam semesta, yang berupa Al Kholiq (Pencip-ta) dan Makhluq, memiliki pertimbangan dan sisi pandang yang beraneka ragam dan berbeda-beda. Dipandang dari satu sisi semuanya ialah satu / esa, dan dari sisi pandang lain berjumlah banyak. Penyaksian yang tidak nampak melainkan Yang Maha Esa dan Benar kadang kala bersifat kontinyu, dan kadang kala hanya sepintas, bak kilat yang menyambar, dan inilah yang sering terjadi, sedangkan yang bersifat kontinyu itu jarang didapatkan."34
Pada halaman lain, Al Ghozali membagi pandangan terhadap At Tauhid kepada dua bagian, dan ia berkata tentang bagian pertama:
"Pandangan terhadap tauhid jenis pertama, yaitu pandangan tauhid yang murni, dengan pandangan ini, anda pasti akan dikenalkan bahwa ialah yang bersyukur dan disyukuri, dan dialah yang mencintai dan dicintai, ini adalah pandangan orang yang meyakini bahwa tidaklah ada di alam semesta ini melainkan Ia (Allah)."35
Demikianlah data yang kita dapatkan dengan jelas dan gamblang pada karya-karya Al Ghazali, namun sebagian ulama' menyebutkan bahwa beliau pada akhir hayatnya menyatakan bertaubat dari segala pe-nyelewengan aqidah ini, sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Abdul Qadir As Sindy dalam kitabnya At Tasawwuf Fi Mizanil Bahts Wat Tahqiq 325-326.
Abu Yazid Al Busthami (tokoh su sesat -ed) berkata:
Artinya: "Aku telah menggulung amalan ibadah seluruh penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, kemudian aku masukkan ke dalam satu bantal, dan aku jadikan dibawah pipiku."36
Bukankah bapak Kyai Haji Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman yang terhormat mengakui dan menge-tahui bahwa kedua orang ini adalah tokoh tasawuf, dan bahkan suritauladan ahl al tariqot? Bukankah bapak Kyai memiliki kitab Ihya' Ulumuddin?! Silahkan baca sendiri, dan buktikan sendiri, agar bapak Kyai yakin dan tidak ragu lagi bahwa ucapan bapak Kyai di atas bertentangan dengan realita dan fakta. Apakah sekarang masih ada keraguan bahwa tasawuf ala mutakhirin, yaitu tasawuf yang ada pada zaman ini, adalah kelompok yang telah menyeleweng dari ajaran Al Qur'an dan As Sunnah, dan mengatakan
34[Ihya' Ulum Ad Dien, oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali As Sya'i, bab: Haqiqah Al Tauhid
Allazi Huwa Aslu Al tauhid, 4/241-242.
23 2.2 Benarkah Ulama' Tasawuf Berpedoman Kepada Sunnah?
bahwa manusia adalah Tuhan dan Tuhan adalah manusia?! Yang menurut bahasa jawa, sering disebut: manunggaling Gusti ing kawulo (menyatunya Tuhan dengan manusia).
Sebagai hasil dari keyakinan wihdatul wujud semacam ini, mari kita simak beberapa kisah berikut: Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
"Tatkala dikatakan kepada At Tilmisani: Sesungguhnya Al Qur'an bertentangan dengan kitab kalian Al Fushus. Ia menjawab: Seluruh isi Al Qur'an ialah kesyirikan, sesungguhnya tauhid hanya ada pada ucapan kami. Maka dikatakakan lagi kepadanya: Kalau kalian meng-atakan bahwa seluruh yang ada adalah hanya satu (esa), mengapa seorang istri halal untuk disetubuhi, sedangkan saudara wanita haram? Maka ia menjawab: Menurut kami semuanya halal (untuk disetubuhi), akan tetapi mereka orang-orang yang telah terhalangi dari penyak-sian keesaan seluruh alam, mengatakan: Saudara wanita itu haram, maka kamipun ikut-ikut mengatakan haram."37
Abu Yazid Al Busthami berkata:
Artinya: "Aku heran kepada orang yang telah mengenal Allah, mengapa ia tetap beribadah kepada-Nya?!."38
Salah seorang su besar, yaitu As Sya'roni, tatkala menyebutkan biogra Syamsuddin Al Hana, berkata: "Suatu saat ada seorang istri seorang pangeran yang masuk kerumah syeikh ini, maka ia mendapatkan syeikh sedang dipijit oleh beberapa wanita, maka istri pangeran inipun merasa keheranan, kemudian syeikh ini memandanginya dan berkata: Sekarang pandanglah! Maka Istri pangeran itupun memandang dan menyaksikan bahwa wanita-wanita tukang pijet itu ternyata wajahnya berupa tulang belulang, dari mulut mereka mengalir nanah, seakan-akan baru mayat hidup yang baru keluar dari kuburan.
Kemudian Syeikh Syamsuddin berkata: Sesungguhnya aku bila memandang wanita lain, ma-ka seperti inilah yang nampak olehku, kemudian ia melanjutma-kan perma-kataannya: Sesungguhnya pada tubuhmu ada tiga tanda (tompel/toh): satu di bawah ketiak, satu di pangkal pahamu, dan satu lagi di dadamu. Istri pangeran itupun menjawab: Benar, bahkan demi Allah suamiku saja hingga saat ini tidak mengetahui ketiga tanda ini."39
Menyimak kisah ini, saya menjadi teringat dengan skandal seks seorang tokoh su besar, dan seorang yang telah dinobatkan menjadi seorang wali oleh banyak kyai dan ahl thariqat di negri kita tercinta Indonesia, yaitu skandal Abdurrahman Wahid, atau yang lebih terkenal dengan sebutan Gus Dur. Bukankah umat Islam di seluruh indonesia telah membaca dan mendengar skandal ini? Akan tetapi apakah komentar sebagian kyai dan masyarakat tentangnya? Ada dari mereka yang mengatakan, bahwa Gus Dur ialah seorang wali, ada lagi yang mengatakan dia itu dijaga oleh malaikat, dst.40
37Majmu' Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah 13/186. 38Hilyah Al Auliya', oleh Abu Nu'aim 10/37].
39At Thobaqot Al Kubro, oleh Asy Sya'roni 2/85, dengan perantaraan kitab: Taqdis Al Asykhash FI Al Fikr Al
Su oleh Muhammad Ahmad Lauh 2/304.
40Baca berbagai komentar beberapa tokoh masyarakat tentang skandal ini, di buku: "Bila Kyai Dipertuhankan.." oleh
24 2.2 Benarkah Ulama' Tasawuf Berpedoman Kepada Sunnah?
Saya rasa bapak Kyai Dimyathi dan para pembaca yang budiman lebih tahu tentang insiden ini diban-ding saya, sehingga tidak perlu saya berpanjang lebar menuturkannya.
Dan di halaman lain As Sya'roni menuturkan kisah wali lain, yaitu Syeikh Ibrahim Al 'Uryan, bahwa orang ini bila naik mimbar dan berceramah ia senantiasa dalam keadaan telanjang bulat.41
Berhubungan dengan kisah ini, saya pernah mendengar penuturan salah seorang kawan saya sendiri, dan kisah ini ialah kisah yang ia alami secara langsung:
Kawan saya ini berasal dari salah satu pondok pesantren di kota Jombang Jawa Timur. Pada suatu hari ia diajak oleh bibiknya untuk berkunjung ke daerah Nganjuk-Jawa Timur), guna mengunjungi seorang wali. Setibanya di rumah wali itu, ia dipersilahkan masuk keruang tamu laki-laki, sedangkan bibinya dipersilakan masuk ke ruang tamu wanita.
Sepulang dari rumah wali itu, bibinya berkata: Wah, tadi di ruang wanita, saya menyaksikan beberapa wali, diantaranya: ada wali laki-laki yang keluar menemui kita dengan telanjang bulat dan tidak sehelai benangpun menempel di badannya. Setelah berada di tengah-tengah ruangan wali telanjang itu disodori sebatang rokok oleh sebagian pelayannya, maka iapun mulai mengisap rokok, dan baru beberapa isapan, rokoknya itu dicampakkan ke lantai. Melihat puntung rokok wali telanjang yang telah tergeletak di lantai itu, ibu-ibu yang sedang berada diruangan tumu itu berebut memungutnya, dan setelah seorang ibu berhasil mendapatkannya ia buru-buru memerintahkan anaknya yang masih ingusan, yang kala itu bersamanya untuk ganti mengisap puntung rokok itu, dengan alasan: agar mendapatkan keberkahan sang wali, dan menjadi anak yang pandai.
Tatkala kawan saya mendengar kisah ini langsung dari penuturan bibiknya, ia bertekad untuk tidak ikut-ikut lagi dalam acara-acara yang diadakan oleh orang-orang su. Dan semenjak itu pulalah ia mulai menyadari kesesatan tariqat su, dan Alhamdulillah yang telah mengaruniai sahabat saya ini hidayah, sehingga dapat dengan mudah mencampakkan belenggu tariqat su dari lehernya.
Dan pada halaman lain As Sya'roni mengkisahkan kisah Syeikh Ali Wuhaisy, bahwa oang ini bertempat tinggal di rumah bordil, dan setiap ada orang yang selesai berbuat zina, dan hendak meninggalkan lokasi itu, ia berkata kepadanya: Tunggu sejenak hingga aku selesai memberikan syafaat untukmu sebelum engkau meninggalkan tempat ini. Dan diantara yang ia kisahkan tentang orang su ini: bahwa setiap kali ada seorang pemuka agama setempat sedang menunggang keledai, ia memerintahkannya untuk segera turun, lalu berkata kepadanya: "Peganglah kepala keledaimu, agar aku dapat melampiaskan birahiku padanya."42
Kisah-kisah kotor dan menjijikkan, justru dianggap oleh As Sya'roni sebagai tanda kewalian, dan ke-banggaan seseorang. Kalau bukan karena terpaksa ingin membuktikan siapa sebenarnya orang-orang su, niscaya saya tidak sampai hati untuk mencantumkannya dalam tulisan ini, na'uzubillah minal khuzlan.
Dan diantara hasil idiologi wihdatul wujud yang dianut oleh kaum su (ahl tariqat) ialah terjalinnya keserasian dan obral akidah antar umat beragama, sehingga tidak ada lagi orang yang dijuluki kar dan muslim, semuanya adalah saudara, hasil najis ini sering disebut dengan kata "wihdatul adyan" (persatuan umat beragama).
Sebagai buktinya simaklah penuturan salah seorang dedengkot su, yaitu Ibnu Arabi:
Artinya: "Dan seorang yang telah berhasil mencapai kesempurnaan tingkatan ma'rifah,
25 2.2 Benarkah Ulama' Tasawuf Berpedoman Kepada Sunnah?
niscaya ia akan dapat melihat bahwa setiap yang disembah itu adalah tempat penampakan Al Haq (Allah) yang disanalah Ia disembah. Oleh karenanya mereka menyebutnya Tuhan (Ilah), bersama sebutannya yang khusus, yaitu: bebatuan, pepohonan, binatang, manusia, bintang atau malaikat."43
Oleh karena itu, janganlah heran bila orang-orang yang mengakui dan menganut at thariqah al mu'tabarah dengan ringan hati untuk masuk keluar gereja, dan mengadakan doa bersama, dan bahkan dibaptis oleh pastur.44
Setelah menyimak beberapi kisah yang dituliskan oleh As Sya'roni ini, apakah bapak Kyai masih ber-sikukuh mengatakan bahwa tokoh-tokoh su berpegang teguh dengan Al Qur'an dan As Sunnah?!
Apakah bapak Kyai juga mengatakan bahwa ucapan Ibnu Arabi, Al Ghozali, dan As Sya'roni tidak valid dan bernuansa su'uzhan kepada ulama yang mulia?
43Fushush Al Hikam Oleh Ibnu Arabi 195, melalui perantaraan kitab Taqdis Al Asykhash Fi Al Fikr Al Su, oleh
Muhammad Ahmad Lauh, 1/563.
44Bagi anda yang ingin membaca sebagian bukti hal ini, silahkan baca buku: Bila Kyai dipertuhankan, oleh bapak
3 Bid'ah
3.1 Denisi Bid'ah
Pada pembahasan ini, setelah bapak Kyai menyebutkan denisi bid'ah ditinjau dari segi etimologi beliau menyebutkan denisi bid'ah ditinjau dari segi terminologi, yaitu dengan menyebutkan dua denisi yang beliau anggap tepat, denisi pertama: denisi Sulthanul 'Ulama' Izzuddin bin Abd Al Salam (w. 660 H) dan denisi kedua adalah: denisi Abu Sa'id Al Khadimi.
Yang menjadi kritikan saya ialah:
1. Kritikan pertama:
Bapak Kyai nampaknya terburu-buru, baik dalam menukil atau menyimpulkan, karena bila bapak Kyai sedikit jeli dan sabar, niscaya beliau akan mendapatkan bahwa pada kedua denisi yang beliau sebutkan ada pertentangan. Yang demikian itu karena Izzuddin bin Abd Al Salam mendenisikan bid'ah dengan ucapannya:
"Bid'ah ialah suatu amalan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam".1
Kemudian Izzuddin bin Abd Al Salam membagi bid'ah menjadi lima, yaitu bid'ah wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram, dan memberikan contoh bagi masing-masing bagian. Dan diantara yang beliau contohkan bagi bid'ah yang makruh ialah bid'ah menghiasi masjid, melebarkan lengan baju, dan diantara bid'ah yang mubah ialah bersenang-senang dengan berbagai macam makanan, minuman, yang lezat pakaian dan rumah yang indah, dst. Sehingga menurut denisi Izzuddin ini, bid'ah bisa berupa urusan adat istiadat.
Sedangkan Abu Sa'id Al Khadimi mendenisikan bid'ah dengan perkataan nya:
"Bid'ah ialah tambahan atau pengurangan dalam amaliah agama yang keduanya terjadi sesudah masa sahabat Nabi shollallahu'alaihiwasallam, dengan tidak ada izin dari Syari' (Allah dan Rasul-Nya) tidak dengan perkataan, tidak juga dengan perbuatan, tidak juga dengan cara terus terang juga tidak dengan isyarat. Maka bid'ah itu sama sekali tidak mencakup urusan adat, akan tetapi hanya mencakup sebagian urusan akidah dan sebagian bentuk amalan ibadah".2
Demikian, jelaslah bentuk pertentangan antara kedua denisi ini.
Dan demikianlah kenyataannya, para ulama' memang berbeda pendapat, apakah bid'ah dapat ber-upa adat-istiadat, atau hanya dalam urusan aqidah dan ibadah saja.
1Qawa'id Al Ahkam Mashalih Al Anam, oleh Izzuddin bin Abd Al Salam, hal: 2/172.
2Sebagaimana yang dinukilkan oleh KH. Drs. Muhammad Dimyathi Badruzzaman dalam bukunya hal: 30.
27 3.1 Denisi Bid'ah
Dan menurut hemat saya pendapat yang paling moderat dalam hal ini, dan lebih tepat ialah pen-dapat yang disampaikan oleh As Syathibi Al Maliki, setelah memaparkan kedua penpen-dapat di atas beserta argumentasi masing-masing pendapat, beliau berkata:
"Telah tetap dalam prinsip-prinsip syari'at bahwa setiap urusan adat-istiadat pasti ada kaitannya dengan peribadatan, karena setiap hal yang tidak dipahami maknanya secara terperinci, baik hal yang diperintahkan atau yang dilarang, maka itulah yang dimaksud dengan sebutan ta'abbudi (peribadatan). Dan setiap yang dapat dipahami maknanya, diketahui kemaslahatan dan mafsadahnya, maka itulah yang dimaksud dengan sebutan adat-istiadat. Sehingga bersuci, sholat, puasa, dan haji, seluruhnya dikatakan ta'abbudi, dan transaksi jual, pernikahan, transaksi beli, perceraian, sewa menyewa, pidana, seluruh-nya disebut adat istiadat, karena hukum-hukumseluruh-nya dapat dipahamai maknaseluruh-nya, dan pasti ada kaitannya dengan peribadatan, karena semuanya dalam ajaran syari'at pasti dibatasi dengan beberapa hal, yang tidak ada pilihan (untuk meninggalkannya) bagi siapapun, baik berupa perintah, atau pilihan, dan pilihan dalam urusan peribadatan termasuk keharusan, sebagaimana halnya perintah, seperti yang telah dijelaskan dalam kitab Al Muwafaqat.
Dan bila demikian ini keadaannya, maka telah jelaslah bahwa kedua hal ini (peribadatan dan adat-istadat) sama-sama ada unsur ta'abbud (ibadah)nya. Sehingga bila bid'ah diada-adakan dari sisi pandang ini, maka dibenarkan bahwa bid'ah itu dapat mencakup urusan adat-istiadat, sebagaimna halnya dalam urusan peribadatan. Bila tidak dari sisi ini, maka bid'ah tidak mencakup urusan adat".3
Sehingga tatkala bapak Kyai menyimpulkan pada hal: 31 dengan berkata:
"Dari uraian di atas yang saling melengkapi itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dinamakan bid'ah. Namun bid'ah itu tidak ada korelasinya sama sekali dengan urusan adat istiadat (keduniaan), tetapi khusus hanya menyangkut urusan akidah dan ibadah", Saya menjadi tidak tahu dan bingung sambil bertanya: "Dari manakah kesimpulan ini bapak Kyai peroleh?" Menurut hemat saya ini adalah kesimpulan mentah dan tidak ilmiah, karena tidak didasari oleh fakta dari data ilmiah yang beliau tulis sendiri. Subhanallah!
2. Kritikan kedua:
Yang dilakukan oleh bapak Kyai Dimyathi pada bab ini, ialah manipulasi terjemahan yang beliau lakukan terhadap perkataan Izzuddin bin Abd Al Salam. Tatkala mendenisikan bid'ah Izzuddin berkata:
"Bid'ah ialah suatu amalan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam". Akan tetapi bapak Kyai menerjemahkannya (lihat buku beliau hal: 30) sebagai berikut:
"Bid'ah itu adalah suatu amaliah keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam".
28 3.2 Klasikasi Bid'ah
Saya tidak tahu, apakah tambahan kata (keagamaan) beliau sengaja atau tidak, akan tetapi yang jelas bagi saya bahwa ini adalah tambahan yang tidak sesuai dengan aslinya, bahkan bertentangan dengan maksud Izzuddin bin Abd As Salam, yaitu sebagaimana yang telah dijelaskan di atas- tidak adanya perbedaan antara amaliah ibadah dengan adat istiadat, bid'ah dapat mencakup keduanya. Semoga Allah merahmati "amanah ilmiah" (baca: obyektitas), yang telah dikuburkan dalam-dalam oleh banyak orang.
3.2 Klasikasi Bid'ah
Pada pembahasan ini, yaitu hal: 35, bapak Kyai menyebutkan bahwa banyak ulama' kenamaan yang telah membagi bid'ah itu ke dalam dua bagian, yakni bid'ah hasanah/mahmudah (baik/terpuji) dan bid'ah sayyi'ah/dhalalah/ madzmumah/qabihah (bid'ah buruk, sesat/tercela/jelek)", kemudian beliau menyebutkan beberapa ulama' yang seakan-akan mendukung pendapat beliau ini.
Sebelum saya meluruskan pemahaman terhadap perkataan ulama'-ulama' yang telah dinukilkan oleh ba-pak Kyai, saya akan awali dengan menyebutkan hadits-hadits yang mencela bid'ah, agar menjadi pedoman dan tolok ukur dalam menilai suatu pendapat:
1. Hadits pertama:
"Dari sahabat Jabir bin Abdillah rodhiallahu'anhu bahwasannya Rasulullah shollalla-hu'alaihiwasallam bersabda: "Amma ba'du: sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur'an) dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Nabi Muhammad sholla-llahu'alaihiwasallam, dan sejelek-jelek urusan ialah urusan yang diada-adakan, dan setiap bid'ah ialah sesat".4
2. Hadits kedua:
"Dari sahabat 'Irbadh bin As Sariyyah rodhiallahu'anhu ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang akan engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab:
Aku berpesan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan se-nantiasa setia mendengar dan taat ( pada pemimpin/penguasa , walaupun ia adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang sete-lah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa' Ar rasyidin yang telah mendapat petunjuk lagi bijak. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan
29 3.2 Klasikasi Bid'ah
gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid'ah, dan setiap bid'ah ialah sesat".5
Pada kedua hadits ini dan juga hadits-hadits lain yang serupa, ada dalil nyata dan jelas nan tegas bahwa setiap urusan yang diada-adakan ialah bid'ah, dan setiap bid'ah ialah sesat.
Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam dalam hadits ini bersabda: setiap bid'ah ialah sesat, dalam ilmu ushul qih, metode ungkapan ini dikatagorikan kedalam metode-metode yang menunjukkan akan keumum-an, bahkan sebagian ulama' menyatakan bahwa metode ini adalah metode paling kuat guna menunjukkan akan keumuman, dan tidak ada kata lain yang lebih kuat dalam menunjukkan akan keumuman dibanding kata ini.6
Dengan demikian dari kedua hadits ini, kita mendapatkan keyakinan bahwa setiap yang dinamak-an bid'ah adalah sesat, demikidinamak-anlah ydinamak-ang ditegaskdinamak-an ddinamak-an disabdakdinamak-an oleh Nabi Muhammad sholla-llahu'alaihiwasallam. Sehingga tidak ada alasan bagi siapapun di kemudian hari untuk mengatakan, bahwa ada bid'ah yang hasanah atau baik. Keumuman hadits ini didukung oleh sabda Nabi shollalla-hu'alaihiwasallam dalam hadits lain:
"Dari 'Aisyah, ia berkata: Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam bersabda: "Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, niscaya akan ditolak".7
Sebagai seorang muslim yang bernar-benar beriman bahwa Nabi Muhammad shollallahu'alaihiwasallam adalah utusan Allah, dia akan senantiasa bersikap sebagaimana yang Allah Ta'ala rmankan:
Artinya: "Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, untuk mengambil pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata". (Al Ahzab 36).
Ibnu Katsir berkata:
"Ayat ini bersifat umum, sehingga mencakup segala urusan, yaitu bila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu urusan dengan suatu keputusan, maka tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menyelisihinya atau memutuskan atau berpendapat atau berkata lain".8
Layak dan beradabkah setelah Nabi shollallahu'alaihiwasallam bersabda bahwa setiap bid'ah ialah sesat, kemudian kita, atau yang lain walaupun itu Imam Sya'i mengatakan, bahwa ada bid'ah yang hasanah?
Terlebih-lebih orang semacam Imam Sya'i, yang telah berkata:
5Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmidzy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15,
hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll.
6Baca Al Mustasyfa oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali 3/220, dan Irsyadul Fuhul oleh
Muham-mad Ali As Syaukani 1/430-432.