BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Wanita merupakan topik yang menarik untuk tidak habis-habisnya di telaah permasalahannya, baik dari segi peran, status, hak maupun kewajibannya. Dengan ikutnya wanita di pesisir dalam proses pembangunan bukanlah semata-mata hanya sebagai tindakan pri kemanusiaan yang adil belaka. Tindakan berupa mengajak, menyertakan wanita pesisir untuk berpartisipasi dalam pembangunan merupakan tindakan yang efesien. Bukanlah dengan ikutnya sertanya wanita pada umumnya dalam pembangunan berarti pula memanfaatkan suatu sumberdaya manusia dengan potensi yang tinggi.
Pembangunan dewasa ini ditandai oleh banyaknya perubahan yang terjadi, termasuk didalamnya perubahan aktivitas wanita, banyaknya wanita Indonesia turut aktif mencari nafkah. Hal ini memang diharapkan wanita Indonesia ikut serta dalam pembangunan nasional. Status dan peranan wanita tidak dapat diabaikan dalam kehidupan masyarakat, diantaranya sebagai penyokong kehidupan ekonomi rumah tangga.
Wanita merupakan satu komponen penting dalam kegiatan berbasis perikanan dan kelautan sebagai pengecer, pengumpul ikan, pedagang beras, buruh upah, maupun tenaga pengolah hasil perikanan. Keterbatasan ekonomi keluarga yang menuntut wanita pesisir termasuk anak-anak mereka bekerja. Wanita yang sudah berumah tangga, apalagi yang sudah memiliki anak, tidak jarang mengalami dilema dalam memenuhi tuntutan pekerjaan di luar rumahnya. Dilema ini terjadi karena kenyataannya dunia ini masih dikuasai oleh laki-laki, bukan saja di Indonesia, tetapi juga negara dan di berbagai kalangan pemerintahan.
Keadaan ini menyebabkan kalangan laki-laki merasa diuntungkan, sehingga tidak mengherankan apabila mereka mencoba mempertahankan status tersebut. Meskipun perempuan telah menunjukkan tanggung jawab, jam kerja dan tingkat pendidikan dalam jenis pekerjaan yang sama dengan laki-laki, tetapi tidak sedikit contoh-contoh yang ada menunjukkan bahwa pekerjaan wanita menerima upah dan penghargaan lebih rendah dari pekerjaan laki-laki. Penyebab lain dari kodrat tersebut adalah kodrat wanita itu sendiri
yang memiliki kondisi biologis, yaitu mengandung, melahirkan dan memiliki naluri merawat yang lebih tinggi dari suaminya.
Perubahan di bidang sosial dan ekonomi yang di alami Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir ini dengan sendirinya juga menyentuh peranan wanita dalam masyarakat. Dalam struktur pemerintahan terlihat timbulnya lembaga Menteri Pemberdayaan Wanita dan adanya wanita sebagai menteri. Statistik juga memperlihatkan kemajuan wanita di bidang pendidikan, kesehatan dan bidang lainnya.
Berlanjut ke penelitian yang kami lakukan terhadap peran ganda wanita yang dilakukan didesa Sawarna. Desa ini terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Bahwa Berbatasan Langsung dengan Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dari Jakarta menuju Sawarna dengan menggunakan mobil membutuhkan 7-8 jam perjalanan dengan jarak tempuh lebih dari 270 KM.
Akses menuju Pantai Sawarna lumayan memakan waktu yang lama karena kondisi infrastruktur jalan yang kurang baik bahkan bisa dibilang sangat memprihatinkan. Emuy (22). warga setempat menuturkan, kerusakan yang terjadi disepanjang jalan tersebut sudah sangat parah. Aspal jalan sudah tidak terlihat lagi, yang terlihat kondisi jalan sudah berlubang, sehingga pengguna jalan kesulitan saat menggunakan ruas jalan tersebut. “Jalan ini sudah lama rusak. Namun belum juga diperbaiki oleh pemerintah.
Desa Wisata Sawarna merupakan titik awal kita menjelajah alam yang elok hingga pengalaman berinteraksi dengan masyarakat tradisionalnya yang bersahaja. Pantai Sawarna terletak di wilayah Kampung Gendol, Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pantai indah ini jaraknya sekitar 150 km dari pusat kota Rangkasbitung. Berwisata di pantai ini sangat menyenangkan dan berkesan karena alamnya masih asli juga memiliki air laut yang jernih tidak tercemar.
Di sini menanti pantainya akan menawan mata dan hati. Apabila bagi yang hobi berselancar atau surfing akan dimanjakan dengan ombaknya yang spektakuler bahkan telah dicicipi peselancar dari Amerika, Australia, Jepang, dan Korea. Disini juga kita dapat merasakan snorkeling untuk menyapa beragam ikan hias dan terumbu karang. Temukan keindahannya di Pantai Ciantir, Pantai Tanjung Layar, Pantai Karang Bokor, Pantai Karang Seupang, Pantai Karang Taraje, dan Pantai Teluk Legon Pari.
Selain objek keindahan pantainya di Sawarna ada pula wisata gua. Beberapa gua yang berbeda ukuran dapat kita kunjungi seperti Goa Lalay, Goa Sikadir, Goa Cimaul, Goa
Singalong, dan Bukit Pasir Tangkil. Goa di Sawarna merupakan gua karst (batu gamping) yang terbentuk dari masa Miosen awal.
Selanjutnya, kita dapat berkeliling melanjutkan perjalanan ke Pantai Bayah di Banten selatan. Pantai ini memiliki ombak yang cukup besar dimana hempasan gelombangnya terdengar menderu dari jarak cukup jauh. Hal itu dikarenakan dasar laut Pantai Bayah adalah hamparan batu karang dan kerikil hitam. Di sini juga dapat kita temukan kehidupam tradisional masyarakat Banten selatan yang tinggal di Panggarangan, Sawarna, Malingping, dan Bayah.
Sebelum mencapai Pantai Bayah, kita dapat menemukan Tugu Romush a di pinggiran jalan poros Bayah-Sukabumi. Tugu Romusha ini untuk menghormati pekerja paksa pembuat jalur kereta Bayah-Labuan saat Pendudukan Jepang. Wilayah Bayah dahulu merupakan penghasil tambang batu bara. Sayangnya Tugu Romusha tersebut kurang terawat baik. Kunjungan sejumlah objek wisata pantai ada di desa ini seperti Tanjung Layar, Pantai Karang Bokor, Pantai Karang Seupang, Pantai Karang Taraje, dan Pasir Putih.
Setelah kami lakukan penelitian, diketahui bahwa dahulu wanita desa Sawarna bekerja sebagai petani. Tetapi baru-baru sekarang ini terlihat beberapa masyarakat berpindah profesi sebagai penyedia jasa. hal ini terjadi karena masyarakat disekitar desa Sawarna melihat peluang baru untuk memenuhi kebutuhan hidupnua. Menurut Hugo (1973) dan Breman (1980) menggambarkan sebagian angkatan kerja pedesaan tertarik ke kota dan banyak terkait dengan usaha-usaha sector informal. Sektor usaha ini menurut Hidayat (1985) memiliki cirri khas yaitu ia tumbuh di kota dan pedesaan atas dasar kehadiran peluang-peluang ekonomi, terutama oleh dorongan mereka yang terlibat dalam membentuk pekerjaan (usaha) bagi diri sendiri.
Dari pemaparan dinamika upaya pekerja yang bekerja dari lapisan bawah masyarakat dalam memanfaatkan peluang kerja sektor informal di pedesaan diduga bahwa hubungan (interaksi sosial) antar mansia dalam keluarga, hubungan antar tetangga, hubungan antar manusia di pedesaan, dan hubungan manusia pedesaan dengan manusia antar desa akan memengaruhi struktur pekerjaan masyarakat pedesaan. Secara otomatis akhirnya akan terdapat perubahan terhadap struktur sosial ekonomi masyarakat pedesaan tersebut.1
1 Dikutip dari Makalah Bambu Segara, S.Sos dengan judul : Lapisan Bawah Masyarakat dan Peluang Kerja Sektor Informal di Pedesaan
Dari pemaparan diatas terlihat wanita disekitar desa Sawarna yang dulunya berprofesi sebagai petani berpindah usaha ke sektor jasa dikarenakan adanya sebuah peluang baru dengan memanfaatkan pantai sawarna yang kini sudah menjadi tempat wisata menarik bagi orang luar untuk datang kesana. Maka wanita disekitar desa Sawarna lebih memilih berpindah usaha dari sektor agraria menjadi sektor service karena mereka yakin akan mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari pada menekuni pekerjaan mereka sebagai petani.
Banyak dari wanita-wanita di Sawarna menekuni sector informal. Menurut Squire (1979) sector informal adalah usaha-usaha dari mereka yang bekerja sendiri yang jika dibantu pekerjaan lain, paling banyak mempekerjakan lima orang. Pengertian yang sama diberikan Sethuraman (1981) yang menyebutkan bahwa sector informal adalah unit-unit usaha kecil dengan tujuan produksi dan distribusi barang dan jasa untuk mmbentuk peluang kerja bagi pihak-pihak terlibat.2
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang timbul yaitu: a. Bagaimana kesempatan kerja wanita sektor informal didesa sawarna? b. Apa saja pekerjaan yang ditekuni wanita sektor informal didesa sawarna? c. Apa alasan yang membuat wanita didesa sawarna berpindah pekerjaan?
d. Benarkah tejadi pergeseran pekerjaan dari sektor A (agriculture) ke S (service) ? e. Mengapa bisa terjadi disparitas pendapatan dari kedua sektor tersebut?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan yaitu sebagai berikut:
a. Menganalisis peran ganda wanita sektor informal didaerah sawarna dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga
2 Kamanto sunarto. Pengantar Sosiologi (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004), hlm. 114.
b. Menganalisis wanita pekerja sektor informal didaerah sawarna
c. Menganalisis terjadinya pergeseran pekerja dari sektor Agraria ke sektor Service d. Menganalisis terjadinya disparitas pendapatan dari kedua sektor tersebut
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan laporan ini adalah untuk memberikan wawasan terhadap pembaca agar mampu mengetahui kondisi sosial dan ekonomi di daerah Pantai Sawarna dan peran ganda wanita didesa sawarna.
BAB II
KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS
2.1 Konsep Gender
Konsep seks atau jenis kelamin mengacu pada perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki seperti pada perbedaan pada tubuh laki-laki dan perempuan. Sebagai mana dikemukakan Moore dan Sinclair (1995;117) “ sex refers to the biological differences between men and women, the result of differences in the choromosomes of the embrio”. Definisi konsep seks tersebut menekankan pada perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan kromosom pada janin. Dengan demikian, manakala kita berbicara mengenai perbedaan jenis kelamin maka kita akan membahas perbedaan biologis yang umunya dijumpai antara kaum laki-laki dengan perempuan, seperti perbedaan pada bentuk, tinggi serta berat badan, pada struktur organ reproduksi dan fungsinya, pada suara, pada bulu badan dan sebagainya. Sebagaimana dikemukakan oleh Kerstan (1995) jenis kelamin bersifat biologis dan dibawa sejak lahir sehinga tidak dapat diubah.
Istilah gender diketengahkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan mana perbedaan perempuan dan laki–laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan dan mana yang merupakan tuntutan budaya yang dikonstruksikan, dipelajari dan disosialisasikan. Pembedaan itu sangat penting, karena selama ini kita sering kali mencampuradukkan ciri manusia yang bersifat kodrati dan tidak berubah dengan ciri manusia yang bersifat non kodrat (gender) yang sebenarnya bisa berubah–ubah atau diubah.
Konsep gender menyangkut “the psychological, social and cultural differences between males and females”. Perbedaan psikologis, social dan budaya antara laki-laki dan perempuan. Macionis (1996:240) mendefinisikan gender sebagai “ the significant a society attaches to biological categories of female and male”. Arti penting yang diberikan masyarakat pada kategori biologis laki-laki dan perempuan. Sedangkan Laswell dan Laswell (1987 : 51) mendefinisikan gender sebagai “the knowledge and awareness, whether conscious or unconscious, that one belongs to one sex and not to the other”. – pada pengetahuan dan kesadaran, baik secara sadar ataupun tidak, bahwa diri seseorang tergolong dalam suatu jenis kelamin tertetu dan bukan dalam jenis kelamin lain.
Kalau Giddens menekankan pada perbedaan psikologis, sosial dan budaya antara laki-laki dan perempuan, maka ahli lain menekankan pada perbedaan yang dikonstruksikan secara sosial (Moore dan Sinclair, 1995), perbedaan budaya perilaku, kegiatan, sikap (Macionis, 1996), perbedaan perilaku (Horton dan Hunt, 1984 : 152) atau pada perbedaan pengetahuan dan kesadaran seseorang (Laswell dan Laswell). Dari berbagai rumusan tersebut kita dapat melihat bahwa konsep gender tidak mengacu pada perbedaan biologis
antara perempuan dan laki-laki, melainkan pada perbedaan psikologis, social dan budaya yang dikaitkan masyarakat antara laki-laki dan perempuan3.
Pembedaan peran gender ini sangat membantu kita untuk memikirkan kembali tentang pembagian peran yang selama ini dianggap telah melekat pada perempuan dan laki-laki. Perbedaan gender dikenal sebagai sesuatu yang tidak tetap, tidak permanen, memudahkan kita untuk membangun gambaran tentang realitas relasi perempuan dan laki – laki yang dinamis yang lebih tepat dan cocok dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat.
Di lain pihak, alat analisis sosial yang telah ada seperti analisis kelas, analisis diskursus (discourse analysis) dan analisis kebudayaan yang selama ini digunakan untuk memahami realitas sosial tidak dapat menangkap realitas adanya relasi kekuasaan yang didasarkan pada relasi gender dan sangat berpotensi menumbuhkan penindasan. Dengan begitu analisis gender sebenarnya menggenapi sekaligus mengkoreksi alat analisis sosial yang ada yang dapat digunakan untuk meneropong realitas relasi sosial lelaki dan perempuan serta akibat yang ditimbulkannya.
Jadi jelaslah mengapa gender perlu dipersoalkan. Perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki- laki dalam masyarakat. Secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat dimana manusia beraktifitas. Sedemikian rupanya perbedaan gender itu melekat pada cara pandang masyarakat, sehingga masyarakat sering lupa seakan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana permanen dan abadinya ciri biologis yang dimiliki oleh perempuan dan laki – laki.
3 Ibid.,hlm. 110
2.2 Pergeseran Sektor Agraria ke Sektor Service
Bagi masyarakat sawarna sebelum dikenalnya tempat wisata pantai disana, penguasaan atas tanah masih penting. Mereka melangsungkan hidup dengan bercocok tanam agar mampu menghidupi keluarganya. Dahulu tanah disekitar sawarna hanya ada sawah dan tanah kosong yang dipenuhi pohon-pohon besar. Tapi sekarang semua itu berubah karena mereka melihat peluang kerja yang lebih menjanjikan di sektor informal.
Menurut Squire (1979), sektor informal adalah usaha-usaha dari mereka yang bekerja sendiri, yang jika dibantu pekerjaan lain, paling banyak mempekerjakan lima orang. Pengertian senada diberikan Sethuraman (1981) yang menyebutkan bahwa sektor informal adalah unit-unit usaha kecil dengan tujuan produksi dan distribusi barang dan jasa untuk membentuk peluang kerja bagi pihak-pihak terlibat.
Berdasarkan pengalaman penelitian di Indonesia, Hidayat (1983) merumuskan bahwa sector informal sebagai unit-unit usaha yang tidak atau bahkan sedikit sekali menerima pengaturan ekonomi secara resmi dari pemerintah. Selain itu di sebutkan, bahwa menurut konsepsi itu sector informal hadir di wilayah kota maupun pedesaan.
Jenis pekerjaan sector informal di pedesaan mencakup berbagai bidang nafkah, dari yang “sah” sampai yang yang “tidak sah” dalam pekerjaan di sector A (pertanian), sector S (perdagangan, transportasi, keuangan, dan jasa).
Menurut Kusumosuwidho (1983) menguraikan contoh-contoh jenis pekerjaan “sah” dalam sector informal yang tumbuh di pedesaan. Jenis pekerjaan tersebut di sector A mencakup, misalnya kegiatan bidang nafkah pertanian yang di lakukan keluarga-keluarga tidak bertanah, di sector M pekerjaan buruh galian, pengrajin, pandai besi dan buruh bangunan, sedangkan di sector S misalnya adalah pedagang kelontong dan perantara, jasa guide, pengendara ojek, peminjaman uang non-bank, montir hingga pembantu rumah tangga. Dari contoh yang di ajukan terlihat sector informal memegang peranan penting dalam perekonomian rakyat.
konsep yang memberikan harapan dan disempurnakan lagi oleh ILO (International Labour Organization) yang mempelajari kesempatan kerja di Kenya dalam rangka program kesempatan kerja dunia.
Pembangunan telah membawa pergeseran dalam berbagai segi kehidupan, antara lain dalam perolehan pendapatan dan kesempatan kerja. Tampak ada kecenderungan pergeseran dari bidang pekerjaan yang berorientasi pertanian ke industri dan pasar. Hal ini dipengauhi berbegai faktor, seperti semakin terbatasnya lahan pertanian. Sistem pengolahan tanah dan hasil pertanian yang memanfaatkan teknologi baru membawa akibat semakin menciutnya tenaga kerja yang terserap di sektor ini.
Sementara itu, industri di pinggiran kota kian berkembang yang merupakan daya tarik terendiri bagi pencari kerja. Namun demikian, sektor indutri dan sektor formal lainnya belum dapat diandalkan guna menampung tenaga kerja yang ada.
Berlanjut ke penelitian yang kami lakukan di objek wisata Pantai Sawarna beberapa bulan yang lalu, kami temukan bahwa telah terjadi pergeseran dari sektor Agraris ke sektor Service. Wanita yang dulunya bekerja sebagai petani sekarang beralih profesi menjadi penyedia jasa seperti penyedia penginapan, pedagang, pemandu jalan, dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan karena masyarakat desa sawarna melihat kondisi pantai sawarna sebagai objek wisata yang ramai dikunjungi orang. Faktor itulah yang menjadi penyebab perubahan yang tadinya bekerja di sektor pertanian beralih ke sektor jasa.
2.3 Disparitas Pendapatan
Ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan merupakan sebuah realita yang ada di tengah-tengah masyarakat dunia ini baik di negara maju maupun negara berkembang, Perbedaannya terletak pada proporsi tingkat ketimpangan dan angka kemiskinan yang terjadi, serta tingkat kesulitan mengatasinya yang dipengaruhi oleh luas wilayah dan jumlah penduduk suatu negara.4
Distribusi pendapatan nasional yang tidak merata, tidak akan menciptakan kemakmuran bagi masyarakat secara umum. Sistem distribusi yang tidak pro poor hanya akan menciptakan kemakmuran bagi golongan tertentu saja, sehingga ini menjadi isu sangat penting dalam menyikapi angka kemiskinan hingga saat ini.
Disparitas pendapatan adalah menggambarkan distribusi pendapatan masyarakat di suatu daerah/wilayah pada waktu/kurun waktu tertentu. Beberapa ahli ekonomi mengatakan bahwa kesenjangan pendapatan antar daerah timbul karena adanya perbedaan dalam kepemilikan sumber daya dan faktor produksi. Daerah yang memiliki sumber daya dan faktor produksi, terutama yang memiliki barang modal (capital stock) akan memperoleh pendapatan yang lebih banyak dibandingkan dengan daerah yang memiliki sedikit sumber daya.
Menurut Kuznets disparitas dalam pembagian pendapatan cenderung bertambah besar selama tahap-tahap awal pembangunan, baru kemudian selama tahap-tahap lebih lanjut dari pembangunan berbalik manjadi lebih kecil, atau dengan kata lain bahwa proses pembangunan ekonomi pada tahap awal mengalami kemerosotan yang cukup besar dalam pembagian pendapatan, yang baru berbalik menuju suatu pemerataan yang lebih besar dalam pembagian pendapatan pada tahap pembangunan lebih lanjut.
Berlanjut Kuznets mengasumsikan bahwa kelompok pendapatan tinggi memberikan kontribusi modal dan tabungan yang besar sementara modal dari kelompok lainnya sangat kecil. Dengan kondisi-kondisi lain yang sama, perbedaan dalam kemampuan menabung akan mempengaruhi konsentrasi peningkatan proporsi pemasukan dalam kelompok pendapatan tinggi. Proses ini akan menimbulkan dampak akumulatif, yang lebih jauh akan
4 http://alfiyamaharani.wordpress.com/2012/07/10/pengaruh-ketimpangan-distribusi-pendapatan-
meningkatkan kemampuan dalam kelompok pendapatan tinggi, kemudian akan memperbesar kesenjangan pendapatan dalam suatu negara.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian
(Gambar Rute Desa Sawarna)
Berikut adalah lokasi dan Waktu Penelitian yang kami lakukan selama 3 hari di daerah sekitar pantai sawarna :
Informan 1
Hari/Tanggal : Selasa, 1 November 2013 Waktu : 09:30 – 12:00
Tempat: Pantai Pasir Putih Desa Sawarna
Pekerjaan : Pemilik Warung Makanan
Hari/Tanggal : Selasa, 1 November 2013 Waktu : 09:30 – 12:00
Hari/Tanggal : Selasa, 1 November 2013 Waktu : 09:30 – 12:00
Hari/Tanggal : Selasa, 1 November 2013 Waktu : 09:30 – 12:00
Hari/Tanggal : Selasa, 1 November 2013 Waktu : 09:30 – 12:00
Tempat: Pantai Pasir Putih Desa Sawarna
Nama : Ibu Ulisa
Pekerjaan : Pemilik Warung Makanan
Umur : 38 tahun Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Informan 6
Hari/Tanggal : Selasa, 1 November 2013 Waktu : 09:30 – 12:00
Hari/Tanggal : Selasa, 1 November 2013 Waktu : 09:30 – 12:00
Hari/Tanggal : Selasa, 1 November 2013 Waktu : 09:30 – 12:00
Alat-alat yang kami gunakan pada saat melakukan penelitian disekitar pantai sawarna adalah sebagai berikut:
3.3 Pendekatan yang dilakukan
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan Mix Method sebagai sebuah metodologi yang memberikan asumsi filosofis dalam menunjukkan arah atau memberi petunjuk cara pengumpulan data dan menganalisis data serta perpaduan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui beberapa fase proses penelitian. Dalam penelitian metode gabungan peneliti menggunakan strategi kualitatif pada satu tahapan dan strategi kuantatif pada tahapan lain, atau sebaliknya. Dimana seorang peneliti melakukan eksperimen (kuantitatif) dan setelah itu melakukan wawancara terhadap partisipan mengenai pandangan mereka terhadap eksperimen tersebut dan mencari tahu apakah mereka setuju dengan hasilnya. Dalam penelitian model gabungan peneliti memadukan strategi kuantitatif dan kualitatif dalam satu atau dua tahapan yang sama. Dimana seorang peneliti dapat melakukan sebuah survei dan menggunakan sebuah kuesioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan tertutup dengan jawaban berganda (kuantitatif) dan beberapa pertanyaan terbuka (kualitatif).
3.4 Data Informasi yang diperlukan
Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diambil langsung dari sumber-sumber data yaitu wanita pekerja sektor informal disekitar pantai sawarna.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data meliputi: 1. Teknik Observasi
Mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek yang diteliti. 2. Teknik Wawancara
Data dikumpulkan dengan melakukan tanya jawab dengan kuisoner secara langsung terhadap narasumber.
3. Teknik Pencatatan
BAB IV
ANALISIS PENELITIAN
4.1 Hasil Penghitungan Angket Penelitian
Dalam 53 kuisioner yang kami sebar terdapat 3 aspek untuk memperoleh data yang lengkap yaitu :
Aspek Latar Belakang Kehidupan
TABEL 1
No Pendidikan Terakhir f %
1 Tidak Tamat SD 5 9
2 SD 30 57
3 SMP 17 32
4 SMA 1 2
5 Diploma -
-6 Sarjana -
-Jumlah 53 100
Berdasarkan tabel diatas, pendidikan terakhir yang ditamatkan wanita pekerja sektor informal di pantai sawarna sebesar 57% tamat SD, 32% tamat SMP, 9% tidak tamat SD, dan 2% tamat SMA. Dari tabel ini dapat diberi kesimpulan bahwa wanita pekerja sektor informal didaerah sawarna masih kurang dalam hal pendidikan. Penyebab mereka kekurangan pendidikan dikarenakan pembangunan yang kurang dari pemerintah terhadap daerah disana.
TABEL 2
No Status Perkawinan f %
1 Belum Kawin -
-2 Kawin 40 75
3 Duda/Janda 13 25
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa wanita pekerja sektor informal dipantai sawarna 75% berstatus kawin dan 25% berstatus janda. Hal ini terjadi karena pendapatan mereka untuk memenuhi anaknya kurang mencukupi akibatnya terjadilah perkawinan-perkawinan agar tidak lagi menjadi beban orang tuanya.
TABEL 3
No Jumlah Anak f %
1 Tidak punya anak 2 3
2 Antara 1 - 2 anak 27 51
3 Antara 3 - 4 anak 22 41
4 Lebih dari 4 anak 3 5
Jumlah 53 100
Berdasarkan tabel diatas, anak yang menjadi tanggungan wanita pekerja sektor informal 51% antara 1 – 2 anak, 41% antara 3 - 4 anak, 5% lebih dari 4 anak, dan 3% tidak punya anak. Disini terlihat bahwa ternyata wanita pekerja sektor informal paling banyak mempunyai keturunan sekitar 1-2 anak.
TABEL 4
No Lama Bertempat Tinggal f %
1 1 – 5 tahun 21 40
2 6 – 10 tahun 4 7
3 11 – 15 tahun 3 6
4 Lebih dari 15 tahun 25 47
Jumlah 53 100
berpindah karena alam sudah menyediakan yang mereka harapkan untuk kelangsungan hidup.
TABEL 5
No Daerah Asal f %
1 Asal kelahiran desa ini 44 83
2 Dari desa lain dalam satu kecamatan 6 11
3 Dari desa lain dan kecamatan lain 1 2
4 Dari daerah lain 2 4
Jumlah 53 100
Berdasarkan tabel diatas, asal wanita pekerja sektor informal 83% asal kelahiran desa ini, 11% dari desa lain dan kecamatan lain, 4% dari daerah lain, dan 2% dari desa lain dan kecamatan lain. Pekerjaan yang mereka tekuni yaitu sebagai pedagang minuman dan makanan. Suami dari wanita pekerja sektor informal di pantai sawarna kebanyakan berprofesi sebagai petani, tukang ojek, dan PNS.
TABEL 6
No Kepemilikan Lahan f %
1 Sawah 25 47
2 Ladang/Tegalan -
-3 Pekarangan 11 21
4 Tidak memiliki lahan 17 32
Jumlah 53 100
ASPEK MOBILITAS KERJA DAN ALOKASI WAKTU
TABEL 7
No Pekerjaan Lain f %
1 Pernah menekuni pekerjaan lain 30 57
2 Tidak pernah menekuni pekerjaan lain 23 43
Jumlah 53 100
Berdasarkan tabel diatas, diketahui sebelum menekuni pekerjaan sekarang, 57% dari mereka pernah menekuni pekerjaan lain dan 43% dari mereka tidak pernah menekuni pekerjaan lain. Jenis pekerjaan lain yang mereka tekuni yaitu sebagai petani, kredit baju,tukang baso, kuliner dibandung, dan lain sebagainya.
TABEL 8
No Lama Menekuni Pekerjaan Lain f %
1 Kurang dari 1 tahun 7 23
2 Antara 1 - 3 tahun 5 17
3 Antara 3 – 5 tahun 12 40
4 Lebih dari 5 tahun 6 20
Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel diatas, sebesar 40% antara 3-5 tahun, 23% kurang dari 1 tahun tahun, 20% lebih dari 5 tahun, dan 17% antara 1-3 mereka menekuni pekerjaan yang lain. Rata-rata penghasilan mereka dari pekerjaan yang dulu sekitar Rp.350.000/bulan.
No Alasan Pindah Pekerjaan f %
1 Hasilnya tidak mencukupi 25 47
2 Jauh dari rumah 7 14
3 Tidak sesuai dengan pendidikan/keahlian 4 7
4 Tidak cocok 17 32
Jumlah 53 100
Berdasarkan tabel diatas, alasan mereka pindah dari pekerjaan yang dulu adalah karena 47% hasilnya tidak mencukupi, 32% tidak cocok, 14% jauh dari rumah, dan 7% tidak sesuai dengan pendidikan/keahlian. Disini terlihat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam pada wanita sektor informal dipantai sawarna, yang dengan sendirinya mencakup subsitem sosial budayanya, mungkin berasal dari dalam masyarakat itu sendiri atau berasal dari luar. Disini terlihat bahwa tingkat pendidikan yang mereka terima masih rendah sehingga berdampak pada pekerjaan yang mereka tekuni sekarang ini. Menurut Todaro (2000), Pengaruh antara ketimpangan distribusi pendapatan terhadap kemiskinan dipengaruhi oleh adanya peningkatan jumlah penduduk. Pertambahan jumlah penduduk cenderung berdampak negatif terhadap penduduk miskin, terutama bagi mereka yang sangat miskin. Sebagian besar keluarga miskin memiliki jumlah anggota keluarga yang banyak sehingga kondisi perekonomian mereka berada di garis kemiskinan semakin memburuk seiring dengan memburuknya ketimpangan pendapatan atau kesejahteraan.
TABEL 10
No Alasan Menekuni Pekerjaan Sekarang f %
1 Sesuai dengan pendidikan/keahlian 7 13
2 Pendapatan yag diterima cukup tinggi 15 28
3 Merasa cocok/betah 16 30
4 Tidak ada pekerjaan lain yang sesuai 5 10
5 Alasan lain 10 19
Jumlah 53 100
TABEL 11
No Pekerjaan Sampingan f %
1 Mempunyai pekerjaan sampingan 15 28
2 Tidak mempunyai pekerjaan sampingan 38 72
Jumlah 53 100
Berdasarkan tabel diatas, wanita pekerja sektor informal 28% tidak mempunyai pekerjaan sampingan dan 72% memiliki pekerjaan sampingan yaitu sebagai petani. Disini terlihat adanya peran ganda wanita yaitu selain bekerja disektor Service mereka juga masih menekuni pekerjaan di sektor Agraria.
TABEL 12
No Daerah Pekerjaan Pokok f %
1 Di desa sendiri 42 79
2 Di desa lain dalam satu kecamatan 6 11
3 Di desa lain dan diluar kecamatan 4 8
4 Di kota 1 2
Jumlah 53 100
Berdasarkan tabel diatas, pekerjaan pokok yang dilakukan wanita pekerja sektor informal 79% di desa sendiri, 11% di desa lain dalam satu kecamatan, 8% didesa lain dan diluar kecamatan, dan 2% dikota. Disini terlihat ternyata peluang usaha bukan hanya dilihat oleh masyarakat didekat pantai sawarna saja, tetapi peluang itu dilihat juga oleh masyarakat sekitar desa sawarna.
TABEL 13
No Jarak Tempuh f %
1 Dibawah 1 km 23 43
2 Antara 1-2 km 18 34
3 Antara 2-5 km 9 17
4 Lebih dari 5 km 3 6
Berdasarkan tabel diatas, diketahui jarak tempat kerja dari rumah yaitu 43% dibawah 1 km, 34% antara 1-2 km, ,dan 17% antara 2-5 km, dan 6% lebih dari 5 km. Jarak yang ditempuh bukanlah hal yang menjadi hambatan bagi wanita pekerja sektor informal dipantai sawarna. Terbukti masih ada wanita pekerja sektor informal yang rela melakukan perjalanan lebih dari 5 km untuk menekuni pekerjaanya.
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa untuk mereka ketempat kerja 79% dari mereka nglaju (pulang-balik) dan 21% tidak Nglaju.
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa mereka tinggal 45% dirumah sendiri, 9% ditempat yang lain seperti warung, 4% sewa kamar (kost), dan 2% ditempat family/saudara.
TABEL 16
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa untuk ketempat kerja wanita pekerja informal 43% menggunakan sepeda motor, 30% berjalan kaki, 24% menggunakan sepeda ontel, 1.5% menggunakan angkutan umum, dan 1.5% menggunakan mobil pribadi.
No Waktu Bekerja f %
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa wanita pekerja sektor informal bekerja dalam sehari 34% antara 8-10 jam, 30% lebih dari 8 jam, 21% antara 6-8 jam , dan 15% kurang dari 6 jam.
ASPEK JAMINAN MASA DEPAN
Riwayat singkat mereka menjadi pekerja disektor informal sebagian besar karena diajak teman/sodara. Selain itu ada faktor lain juga yaitu melihat peluang karena daerah pantai sawarna sudah bayak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai kota sebagai objek wisata. Walaupun dalam kenyataanya dalam pekerjaan pokok yang mereka jalani belum memenuhi kebutuhan
TABEL 18
Berdasarkan tabel diatas, selain untuk kebutuhan rumah tangga (keluarga), pengeluaran yang memerlukan biaya yaitu 62% untuk pendidikan, 19% untuk kesehatan, 9.5% untuk modal kerja/investasi, dan 9.5% untuk tabungan. Disini terlihat biaya yang dikeluarkan lebih cenderung kependidikan. Terlihat juga disini kesadaran untuk pendidikan yang tinggi. Mereka ingin men-sekolahkan anaknya agar bisa hidup yang lebih layak.
TABEL 19
No Usaha/Investasi f %
1 Mempunyai usaha/investasi lain 17 32
2 Tidak mempunyai usaha/investasi lain 36 68
Jumlah 53 100
bahwa wanita pekerja informal sudah berfikir maju. Yaitu dengan mempunyai investasi lain.
TABEL 20
No Uraian f %
1 Berkaitan 10 59
2 Tidak berkaitan 7 41
Jumlah 17 100
Berdasarkan tabel diatas, investasi yang dikelola 59% berkaitan dengan pekerjaan yang sekarang ditekuni dan 41% tidak berkaitan dengan pekerjaan yang sekarang ditekuni. Alasan mereka melakukan investasi adalah karena ingin men-sekolah kan anaknya agar bisa berpendidikan yang lebih tinggi.
5.1 Kesimpulan
Pembangunan dewasa ini ditandai oleh banyaknya perubahan yang terjadi, termasuk didalamnya perubahan aktivitas wanita, banyaknya wanita Indonesia turut aktif mencari nafkah. Hal ini memang diharapkan wanita Indonesia ikut serta dalam pembangunan nasional. Status dan peranan wanita tidak dapat diabaikan dalam kehidupan masyarakat, diantaranya sebagai penyokong kehidupan ekonomi rumah tangga. Desa Wisata Sawarna merupakan titik awal kita menjelajah alam yang elok hingga pengalaman berinteraksi dengan masyarakat tradisionalnya yang bersahaja. Pantai Sawarna terletak di wilayah Kampung Gendol, Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pantai indah ini jaraknya sekitar 150 km dari pusat kota Rangkasbitung. Berwisata di pantai ini sangat menyenangkan dan berkesan karena alamnya masih asli juga memiliki air laut yang jernih tidak tercemar. Disana terdapat warung-warung yang dihuni oleh perempuan-perempuan yang dulunya berprofesi sebagai petani. Disana telah terjadi pergeseran dari sektor Agraria ke sektor Service. Yaitu yang dulunya berprofesi sebagai petani sekarang berprofesi sebagai penyedia jasa. Keadaan ekonomi masyarakat yang kurang sekarang sudah tercukupi akibat dijadikannya tempat pariwisata disana.
5.2 Saran
Pantai Sawarna merupakan pantai yang indah dengan panorama alam yang memukai dan deburan ombak yang menenangkan hati. Bila dimalam hari, gugusan bintang terlihat elok bagaikan sekuntum bunga yang baru mekar. Tapi kenapa akses jalan disana terlalu sulit dijangkau. Hal itulah yang seharusnya menjadi peran pemerintah dalam pembangunan sektor pariwisata.
http://alfiyamaharani.wordpress.com/2012/07/10/pengaruh-ketimpangan-distribusi-pendapatan-terhadap-tingkat-kemiskinan/
Segara, Bambu.1994. Lapisan Bawah Masyarakat dan Peluang Kerja Sektor Informal di Pedesaan
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi Jakarta . Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Soekanto, Soerjono. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada
Wikipedia.com