Page | 1
PENDIDIKAN KARAKTER
Oleh
Page | 3 Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT tuhan yang
maha kuasa atas segalanya yang mengatur dunia ini tanpa pernah
istirahat walaupun hanya sekedipan mata. Atas berkat rahmatNya
buku ini dapat tersusun dengan rapi seperti yang terlihat sekarang,
tanpa seizinNya mustahil bagi kami mendapatkan gagasan ataupun
ide dalam menyusun buku ini.
Kedua kalinya, harus kita haturkan kepada seorang murobbi
kita yang membimbing kita menuju dinulhak yitu agama islam tidak
lain adalah nabi terakhir ummat ini yaitu Nabi Muhammad Saw. Atas
berkat kerja keras beliaulah kita dapat menikmati indahnya islam itu.
Pantas untuk kita selalu memanjatkan sholawat kepada beliau
dikarenakan jasa-jasa beliau yang sangat luar biasa.
Buku ini membahas tentang pendidikan karakter yang harus
ditanamkan pada setiap orang disemua kalangan yang ada. Yang
mana pendidikan karakter ini sangat penting bagi semua orang dalam
menjalani kehidupan sehari hari sehingga terwujudlah kehidupan
yang aman, nyaman dan tentram. Dimulai dari pembahasan tentang
pendidikan karakter secara umum, kemudian meruncing semakin
dalam yaitu ke pembahasan khusus yaitu bagaimana pendidikan
karakter itu ditanamkan dilingkungan sekolah khususnya pada
Page | 4 bagaimana seorang guru menanamkan pendidikan karakter pada
siswanya dan kiat apa saja yang dapat dilakukan oleh seorang giru
yaitu guru Sekolah Dasar sehingga siswa mampu menumbuhkan
karakter baik dalam kehidupannya.
Semoga buku ini bisa bermanfaat bagi kita semua,
khususnya kami sebagai penyusun dan semoga bisa membantu dalam
mengarungi samudra kehidupan yang kita jalani. Kami meminta
maaf jika terjadi kesalahan penulisan ataupun kesalahan yang lainnya
yang kami lakukan karena ketelodoran kami.
Mataram 19 November 2015
Page | 5
A. PENDIDIKAN KARAKTER
1. Definisi dan makna Pendidikan Karakter
Kata karakter berasal dari bahasa Yunani “to mark” yang berarti menandai dan memfokuskan bagaimana
mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau
tingkah laku. Kata pendidikan berasal dari bahasa Latin “Pedagogi”, yaitu dari kata “paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Jadi, istilah pedagogi dapat diartikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak. Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman
nilai- nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan
tindakan untuk melaksanakan nilai- nilai tersebut. Pendidikan
karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”.
Pengertian karakter menurut pusat bahasa Depdiknas
adalah bawaan, Hati, jiwa, kepribadian , budi pekerti,
perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak”
Adapun berkarakter adalah Berkepribadian, berperilaku,
Page | 6 Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter
mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku
(behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).
Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki
esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan
pendidikan akhlak yang bertujuan untuk membentuk pribadi
anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat,
dan warga negara yang baik.
Menurut Tadkiroatun Musfiroh ( UNY ,2008 ) karakter
mengacu kepada serangkaian sikap. Berdasarkan pembahasan
di atas, dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter
merupakan upaya- upaya yang dirancang dan dilaksanakan
secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami
nilai- nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan
Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan,
dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penamaan
nilai- nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan,
kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
Page | 7 sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan.
Pengembangan karakter bangsa dapat dilakukan melalui
perkembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi,
karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya
tertentu, maka perkembangan karakter individu seseorang
hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya
yang bersangkutan. Artinya, perkembangan budaya dan
karakter dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang
tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, budaya
masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan
budaya bangsa adalah Pancasila, jadi pendidikan budaya dan
karakter adalah mengembangkan nilai- nilai Pancasila pada
diri peseta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.
Pendidikan karakter atau pendidikan watak sejak
awal munculnya pendidikan oleh para ahli dianggap sebagai
suatu hal yang niscaya. John Sewey misalnya, pada tahun
1916 yang mengatakan bahwa sudah merupakan hal yang
lumrah dalam teori pendidikan bahwa pembentukan watak
merupakan tujuan umum pengajaran dan pendidikan budi
pekerti di sekolah. Kemudian pada tahun 1918 di Amerika
Serikat (AS), Komisi Pembaharuan Pendidikan Menengah
yang ditunjuk oleh Perhimpunan Pendidikan Nasioanal
Page | 8 tujuan-tujuan pendidikan umum. Lontaran itu dalam sejarah kemudian dikenal sebagai “Tujuh Prinsip Utama Pendidikan” , antara lain :
Kesehatan
Penguasaan proses-proses fundamental
Menjadi anggota keluarga yang berguna
Pekerjaan
Kewarganegaraan
Penggunaan waktu luang secara bermanfaat
Watak susila
Pendidikan ke arah terbentuknya karakter bangsa
para siswa merupakan tanggungjawab semua guru. Oleh
karena itu, pembinaannya pun harus oleh guru. Dengan
demikian, kurang tepat jika dikatakan bahwa mendidik para
siswa agar memiliki karakter bangsa hanya ditimpahkan pada
guru mata pelajaran tertentu, misalnya guru PKN atau guru
pendidikan agama. Walaupun dapat dipahami bahwa yang
dominan untuk mengajarkan pendidikan karakter bangsa
adalah para guru yang relevan dengan pendidikan
karakter bangsa.Tanpa terkecuali, semua guru harus
menjadikan dirinya sebagai sosok teladan yang berwibawa
Page | 9 bila seorang guru PKn mengajarkan menyelesaikan suatu
masalah yang bertentangan dengan cara demokrasi, sementara
guru lain dengan cara otoriter. Atau seorang guru pendidikan
agama dalam menjawab pertanyaan para siswanya dengan
cara yang nalar sementara guru lain hanya mengatakan
asal-asalan dalam menjawab.
Pendidikan merupakan bagian penting dari
kehidupan manusia yang tak pernah ditinggalkan. Sebagai
sebuah proses, ada dua hal asumsi yang berbeda mengenai
pendidikan dalam kehidupan manusia. Pertama, bisa
dianggap sebagai sebuah proses yang terjadi secara tidak
disengaja atau berjalan secara alamiah. Pendidikan bukanlah
proses yang diorganisasi secara teratur, terencana, dan
mengunakan metode- metode yang dipelajari serta
berdasarkan aturan-aturan yang telah disepakati mekanisme
penyelenggaraannya oleh suatu komunitas masyarakat
(Negara), melainkan lebih merupakan bagian dari kehiupan
yang memang telah berjalan sejak manusia itu ada. Pengertian
ini menunjuk bahwa pada dasarnya manusia secara alamiah
merupakan mahkluk yang belajar dari peristiwa alam dan
gejala- gejala kehidupan yang ada untuk
mengembangkan kehidupannya. Kedua, pendidikan dianggap
Page | 10 diorganisasi berdasarkan aturan yang berlaku, terutama
perundang-undangan yang dibuat atas dasar kesepakatan
masyarakat. Pendidikan sebagai sebuah kegiatan dan proses
aktivitas yang disengaja ini merupakan gejala masyarakat
ketika sudah mulai disadari pentingnya upaya untuk
membentuk, mengarahkan, dan mengatur manusia
sebagaimana dicita-citakan masyarakat terutama cita-cita
orang yang mendapatkan kekuasaan. Cara mengatur manusia
dalam pendidikan ini tentunya berkaitan dengan bagaimana
masyarakat akan diatur. Artinya, tujuan dan pengorganisasian
pendidikan mengikuti arah perkembangan sosio-ekonomi
yang berjalan. Jadi, ada aspek material yang menjelaskan
bagaimana arah pendidikan didesain berdasarkan siapa yang
paling berkuasa dalam masyarakat tersebut. Karakter
merupakan perpaduan antara moral, etika, dan akhlak. Moral
lebih menitikberatkan pada kualitas perbuatan, tindakan atau
perilaku manusia atau apakah perbuatan itu bisa dikatakan
baik atau buruk, atau benar atau salah. Sebaliknya, etika
memberikan penilaian tentang baik dan buruk, berdasarkan
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu,
sedangkan akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada
hakikatnya dalam diri manusia itu telah tertanam keyakinan
Page | 11 pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan
nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan
watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta
didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara
apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam
kehidupan sehari- hari dengan sepenuh hati.
2. Perbedaan Karakter dan Kepribadian
Kepribadian adalah hadiah dari Tuhan Sang Pencipta
saat manusia dilahirkan dan setiap orang yang
memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan
kelebihannya di aspek kehidupan sosial dan masing- masing
pribadi. Kepribadian manusia secara umum ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka
kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos
atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis,
happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali
dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis : tipe ini bercirikan suka bekerjasama,
menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak,
Page | 12 4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil,
menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi
yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi dan
memperbaiki kelemahannya, serta memunculkan kebiasaan
positif yang baru, inilah yang disebut dengan
Karakter. Misalnya, seorang dengan kepribadian Sanguin
yang sangat suka bercanda dan terkesan tidak serius, lalu
sadar dan belajar sehingga mampu membawa dirinya untuk
bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan
dan perhatian fokus, itulah Karakter. Pendidikan Karakter
adalah pemberian pandangan mengenai berbagai
jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian
dan lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing- masing
individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina,
sejak usia dini(idealnya).
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa
dibeli dan karakter tidak bias ditukar.
Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari
demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan.
Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak
Page | 13 karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka.
Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan
yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau
kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini.
Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus
menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter
Anda tidaklah demikian. Karakter yang kita miliki adalah
hasil pilihan kita sendiri. Ketahuilah bahwa kita mempunyai
potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter,
upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan
menjadikan kita seorang pribadi yang memiliki nilai tambah.
Karakter akan melindungi segala sesuatu yang kita hargai
dalam kehidupan ini. Setiap orang bertanggung jawab atas
karakternya dan memiliki kontrol penuh atas karakter yang
dimilikinya, sehinga tidak dapat seseorang menyalahkan
orang lain atas karakter buruk yang mereka miliki.
3. Membangun Karakter dan Kepribadian Bangsa
Membangun karakter bangsa adalah membangun
pandangan hidup, tujuan hidup, falsafah hidup, rahasia hidup
serta pegangan hidup suatu bangsa. Sebagai bangsa, bangsa
Indonesia telah memiliki pegangan hidup yang jelas. Dimulai
Page | 14 Indonesia dan dicetuskannya declaration of Independence
sebagai cetusan kemerdekaan dan dasar kemerdekaan,
sekaligus menghidupkan kepribadian bangsa Indonesia dalam
arti kata yang seluas- luasnya meliputi kepribadian politik,
kepribadian ekonomi, kepribadian sosial, kepribadian
kebudayaan dan kepribadian nasional. Membangun karakter
sangat diperlukan dalam memaknai kehidupan merdeka yang
telah dicapai oleh bangsa kita atas karunia Tuhan .
Pembentukan karakter adalah proses membangun dari bahan
mentah menjadi cetakan yang sesuai dengan bakat
masing-masing. Pendidikan adalah proses pembangunan karakter.
Pembangunan karakter merupakan proses membentuk
karakter, dari yang kurang baik menjadi lebih baik,
tergantung pada bekal masing- masing. Mau dibawa kemana
karakter tersebut dan mau dibentuk seperti apa nantinya,
tergantung pada potensinya dan juga tergantung pada
peluangnya.
Pembangunan dan pendidikan karakter sebenarnya
telah dibatasi (kontradiktif) dengan pendidikan mahal dan
komersil atau kapatalisme pendidikan. Bangsa adalah
kumpulan manusia individual, Karakter bangsa dicerminkan
oleh karakter manusia- manusia yang ada di dalam bangsa
Page | 15 lahir. Seorang bayi lahir dari perjuangan keras seorang ibu.
Pembangunan karakter bangsa juga demikian, dimana
pembangunan karakter bangsa berkaitan dengan sejarah
dimasa lalu yang memberikan syarat-syarat material yang
memunculkan persepsi masyarakat terhadap kondisinya
tersebut, dipengaruhi oleh kejadian konkret di masa kini.
Pembangunan karakter diperlukan untuk menumbuhkan
watak bangsa yang bisa dikenali secara jelas, yang
membedakan diri dengan bangsa lainnya, dan ini diperlukan
untuk menghadapi situasi zaman yang terus berkembang.
Pembangunan karakter menjadi penting karena situasi
kehidupan tertentu dan konteks keadaan tertentu
membutuhkan karakter yang sesuai untuk menjawab keadaan
yang ada tersebut. Misalnya, bangsa yang masih rendah
teknologinya memerlukan karakter yang produktif dan kreatif
dari generasi bangsanya, tempat berpikir ilmiah menjadi titik
tekan karena hal itulah yang sangat dibutuhkan untuk
menjawab tuntutan. Pembangunan karakter yang keras harus
dilakukan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
Jangan sampai titik tekan pembangunan karakter tersebut
justru menjadi tidak cocok dengan kebutuhan untuk
mengatasi masalah yang ada. Pembanguna karakter itulah
Page | 16 didalamnya proses sosial mengarahkan generasi yang
dilakukan.
Kepribadian manusia selalu berkembang sehingga
bisa dibentuk ulang dan diubah. Kepribadian adalah
hubungan antara materi tubuh dan jiwa seseorang yang
perkembangannya dibentuk oleh pengalaman dan kondisi
alam bawah sadar yang terbentuk sejak awal pertumbuhan
manusia, terutama akibat peristiwa-peristiwa psikologis yang
penting dalam pertumbuhan diri. Banyak yang beranggapan
bahwa tidak ada orang yang memiliki dua kepribadian,
kecuali orang yang sakit jiwa. Kepribadian orang digunakan
untuk merespons lingkungan disekitarnya. Bukan segala
tingkah laku orang dapat ditentukan kepribadiannya, akan
tetapi ada saat tertentu lingkungan luar dapat mengubah
kepribadian seseorang jika lingkungan tersebut memiliki
pengaruh yang sangat besar. Oleh karena itu, Kepribadian
dapat berubah apabila lingkungan tiba-tiba berubah.
4. Pendidikan Karakter Bangsa
Pendidikan karakter menjadi kunci terpenting
kebangkitan Bangsa Indonesia dari keterpurukan untuk
akhir-Page | 17 akhir ini menjadi isu yang sangat hangat sejak Pendidikan
Karakter dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) pada saat Peringatan Hari Pendidikan
Nasional, pada tanggal 2 mei 2010 lalu. Tekad Pemerintah
tersebut bertujuan untuk mengembangkan karakter dan
budaya bangsa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari
sistem pendidikan Nasional yang harus didukung secara
serius. Karakter bangsa dapat dibentuk dari program-program
pendidikan atau dalam proses pembelajaran yang ada di
dalam kelas. Akan tetapi, apabila pendidikan memang
bermaksud serius untuk membentuk suatu karakter generasi
bangsa, ada banyak hal yang harus dilakukan, dan dibutuhka n
penyadaran terhadap para pendidik dan juga terhadap
pelaksana kebijakan pendidikan. Jika kita pahami arti dari
Pendidikan secara luas, pendidikan sebagai proses
penyadaran, pencerdasan dan pembangunan mental atau
karakter, tentu bukan hanya identik denga n sekolah.
Akan tetapi, berkaitan dengan proses kebudayaan yang secara
umum sedang berjalan, dan juga memliki kemampuan untuk
mengarahkan kesadaran,membentuk cara pandang, dan juga
membangun karakter generasi muda. Artinya, karakter yang
menyangkut cara pandang dan kebiasaan siswa, remaja, dan
Page | 18 dalam ruang kelas atau sekolah, akan tetapi lebih banyak
dibentuk oleh proses sosial yang juga tak dapat dilepaskan
dari proses ideoogi dan tatanan material-ekonomi yang
sedang berjalan.
Mendidik budaya dan karakter bangsa adalah
mengembangkan nilai- nilai Pancasila pada diri peserta didik
melalui Pendidikan hati, otak, dan fisik. Pendidikan adalah
suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan
potensi peserta didik. Pendidikan adalah suatu usaha
masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi muda
bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang
lebih baik di masa depan. Keberlangsungan tersebut dapat
ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah
dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan
merupakan proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi
generasi muda dan juga proses pengembangan budaya
karakter bangsa untuk meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam proses
pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta
didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses
interalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian
dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan ke hidupan
Page | 19 kehidupan bangsa yang bermartabat. Berdasarkan pengertian
budaya, karakter bangsa, dan pendidikan yang telah
dikemukakan diatas maka pendidikan budaya dan karakter
bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan
nilai- nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik
sehingga memiliki nilai dan karakter sebagai karakter diri,
yang menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan
dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga Negara yang
religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Atas dasar
pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan
karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan
keunggulan bangsa di masa mendatang. Perkembangan
tersebut harus dilakukan melalui perencanaan ya ng baik,
pendekatan yang sesuai, dengan metode belajar serta
pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai,
pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama
sekolah oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh
semua guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata
pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
budaya sekolah.
Fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
adalah perkembangan potensi peserta didik agar menjadi
Page | 20 sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter
bangsa, untuk memperkuat pendidikan nasional untuk
bertanggung jawab dalam perkembangan potensi peserta
didik yang bermartabat, dan juga untuk menyaring budaya
bangsa sendiri dengan bangsa lain yang tidak sesuai dengan
nilai- nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.
5. Strategi-Strategi dalam Pendidikan Karakter
Strategi Pendidikan Karakter yang akan dibahas
adalah Strategi Pendidikan Karakter melalui Multiple Talent
Aproach (Multiple Intelligent). Strategi Pendidikan Karakter
ini memiliki tujuan yaitu untuk mengembangkan seluruh
potensi anak didik yang manifestasi pengembangan potensi
akan membangun Self Concept yang menunjang kesehatan
mental. Konsep ini menyediakan kesempatan bagi anak didik
untuk mengembangkan bakat emasnya sesuai dengan
kebutuhan dan minat yangdimilikinya. Ada banyak cara
untuk menjadi cerdas, dan cara ini biasanya ditandai dengan
prestasi akademik yang diperoleh disekolahnya dan anak
didik tersebut mengikuti tes intelengensia. Cara tersebut
misalnya melalui kata-kata, angka, musik, gambar, kegiatan
fisik atau kemamuan motorik atau lewat cara
Page | 21 Menurut Gardner (1999), manusia itu sedikitnya
memiliki 9 kecerdasan. Kecerdasan manusia, saat ini tak
hanya dapat diukur dari kepandaiannya menguasai
matematika atau menggunakan bahasa. Ada banyak
kecerdasan lain yang dapat diidentifikasi di dalam diri
manusia. Sedangkan menurut Howard Gardner (1999) yang
menjelaskan 9 kecerdasan ganda, apabila dipahami denga n
baik, akan membuat semua orang tua memandang potensi
anak lebih positif. Terlebih lagi, para orang tua (guru) dapat
menyiapkan sebuah lingkungan yang menyenangkan dan
memperdayakan di sekolah. Konsep Multiple Intelligence
mengajarkan kepada anak bahwa mereka bisa belajar apapun
yang mereka ingin ketahui. Bagi Orangtua atau guru , yang
dibutuhkan adalah kreativitas dan kepekaan untuk mengasah
anak tersebut. Baik guru atau Orang tua juga harus berpikir
terbuka, keluar dari paradigma tradisional.Kecerdasan
bukanlah sesuatu yang bersifat tetap.Keceradasan bagaikan
sekumpulan keterampilan yang dapat ditumbuhkan dan
dikembangkan. Kecerdasan adalah kemampuan untuk
memecahkan masalah, kemampuan untuk menciptakan
masalah baru untuk dipecahkan, kemampuan untuk
menciptakan sesuatu yang berharga dalam suatu kebudayaan
Page | 22 dapat mempelajari kekuatan atau kelemahan anak dan dapat
memberikan mereka peluang untuk belajar melalui kelebihan
mereka, tujuannya adalah agar anak memiliki kesempatan
untuk mengeksplorasi dunia.
6. Tujuan Pendidikan Karakter Bangsa
Perkembangan Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa, Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas)
merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang
harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan
di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan Nasional Berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peseta didik agar menjadi
manusia yag beriman, dan bertakwa kepaa Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan Pendidikan Nasional merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus
Page | 23 rumusan tujuan Pendidikan Nasional menjadi dasar dalam
pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan
budaya dan karakter bangsa perlu dikemukakan pengertian
istilah budaya, karakter bangsa, dan pendidikan. Tujuan
Pendidikan Pendidikan Karakter Bangsa diantaranya adalah
sebagai berikut :
Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai
manusia dan Warga Negara yang memiliki nilai-nilai
budaya dan karakter bangsa
Mengembangkan Kebiasaan dan perilaku peserta didik
yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal
dan tradisi budaya dan karakter bangsa
Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab
peserta didik sebagai generasi penerus bangsa
Mengembangkan kemampuan pesrta didik menjadi
manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan
kebangsaan dan
Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah
sebagai lingkungan belajar yang aman,jujur, penuh
kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa
Page | 24 Nilai-nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
merupakan Nilai- nilai yang dikembangkan dalam pendidikan
budaya dan karakter bangsa dan diidentifikasi dari
sumber-sumber Agama, karena masyarakat Indonesia adalah
masyarakat beragama, maka kehidupan individu, masyarakat,
dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan
kepercayaan.Secara politis, kehidupan kenegaraan didasari
pada nilai yang berasal dari agama.Dan sumber yang kedua
adalah Pancasila, Pancasila : Negara kesatuan Republik
Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan
kebangsaan dan kenegaraan yang disebut dengan
Pancasila.Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan
dijabarkan lebih lanjut lagi dalam pasal-pasal yang terdapat
dalam UUD 1945.Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan
politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya dan seni.
Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan
untuk mempersiapkan peserta didik menjadi Warga Negara
yang lebih baik, yaitu Warga Negara yang memiliki
kemampuan, kemauan,dan menerapkan nilai- nilai Pancasila
dalam kehidupan sebagai Warga Negara.Budaya sebagai
suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup
Page | 25 yang diakui masyarakattersebut.Nilai-nilai budaya tersebut
dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu
konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat
tersebut. Posisi budaya yang demikian penting dalam
pendidikan budaya dan karakter bangsa.
7. Dampak Pendidikan Karakter
Berdasarkan buletin Character Educator, yang
diterbitkan oleh Character Education Partnership, diuraikan
bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of
Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa
sekolah dalam meraih prestasi akademik pada
sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas
yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter
menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif
siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.
Begitu juga halnya dengan buku yang berjudul
Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins,
et.al, 2001). Buku ini mengkompilasikan berbagai hasil
penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak
terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada
Page | 26 sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan
terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa
percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul,
kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan
berkomunikasi.
Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman
tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80
persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20
persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Seorang siswa
yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan
mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat
mengontrol emosinya. Siswa yang bermasalah ini sudah dapat
dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan
terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang
berkarakter akan terhindar dari masalah- masalah umum yang
dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba,
miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.
Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan
karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika
Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di
Page | 27 karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif
pada pencapaian akademis.
8. Indikator Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter bangsa bisa dilakukan dengan
pembiasaan nilai moral luhur kepada siswa dan
membiasakan mereka dengan kebiasaan yang sesuai dengan
karakter kebangsaan. Berikut 18 indikator pendidikan karakter bangsa sebagai bahan untuk menerapkan pendidikan karakter pada siswa:
a) Religius, adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran
terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup
rukun dengan pemeluk agama lain.
b) Jujur, adalah perilaku yang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
c) Toleransi, adalah sikap dan tindakan yang menghargai
perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan
tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya
d) Disiplin, adalah tindakan yang menunjukkan perilaku
Page | 28 e) Kerja Keras, adalah perilaku yang menunjukkan upaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan
belajar, tugas dan menyelesaikan tugas dengan
sebaik-baiknya.
f) Kreatif, adalah berpikir dan melakukan sesuatu untuk
menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang
telah dimiliki.
g) Mandiri, adalah sikap dan prilaku ya ng tidak mudah
tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan
tugas-tugas.
h) Demokratis, adalah cara berpikir, bersikap, dan
bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban
dirinya dan orang lain.
i) Rasa ingin tahu, adalah sikap dan tindakan yang selalu
berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan
meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan
didengar.
j) Semangat kebangsaan, adalah cara berpikir, bertindak,
dan berwawasan yang menempatkan kepentingan
bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
k) Cinta tanah air, adalah cara berpikir, bersikap, dan
Page | 29 penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan
fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
l) Menghargai prestasi, adalah sikap dan tindaka n yang
mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, mengakui, dan menghormati
keberhasilan orang lain.
m) Bersahabat/komuniktif, adalah tindakan yang
memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan
bekerja sama dengan orang lain.
n) Cinta damai, adalah sikap, perkataan, dan tindakan
yang menyebabkan orang lain merasa senang dan
aman atas kehadiran dirinya
o) Gemar membaca, adalah kebiasaan menyediakan
waktu untuk membaca berbagai bacaan yang
memberikan kebajikan bagi dirinya.
p) Peduli lingkungan, adalah sikap dan tindakan yang
selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan
alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya- upaya
untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
q) Peduli sosial, adalah sikap dan tindakan yang selalu
ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat
Page | 30 r) Tanggung jawab, adalah sikap dan perilaku seseorang
untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang
seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan b udaya),
negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
9. Contoh Program Pendidikan karakter
1. Lingkungan Sekolah:
Training Guru
Terkait dengan program pendidikan
karakter disekolah, bagaimana menjalankan dan
melaksanakan pendidikan karakter disekolah, serta
bagaimana cara menyusun program dan
melaksanakannya, dari gagasan ke tindakan.
Program ini membekali dan memberikan
wawasan pada guru tentang psikologi anak, cara
mendidik anak dengan memahami mekanisme
pikiran anak dan 3 faktor kunci untuk menciptakan
anak sukses, serta kiat praktis dalam memahami dan
Page | 31
Program Bimbingan Mental
Program ini terbagi menjadi dua sesi
program :
Sesi Workshop Therapy, yang dirancang
khusus untuk siswa usia 12 -18 tahun. Workshop ini
bertujuan mengubah serta membimbing mental anak
usia remaja. Workshop ini bekerja sebagai “mesin perubahan instant” maksudnya setelah mengikuti program ini anak didik akan berubah seketika
menjadi anak yang lebih positif.
Sesi Seminar Khusus Orangtua Siswa,
membantu orangtua mengenali anaknya dan
memperlakukan anak dengan lebih baik, agar anak
lebih sukses dalam kehidupannya. Dalam seminar ini
orangtua akan mempelajari pengetahuan dasar yang
sangat bagus untuk mempelajari berbagai teori
psikologi anak dan keluarga. Memahami konsep
menangani anak di rumah dandi sekolah, serta lebih
mudah mengerti dan memahami jalan pikiran anak,
pasangan dan orang lain.
Page | 32
Membangun Karakter Anak Sejak Usia Dini
Karakter akan terbentuk sebagai hasil
pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap
manusia (triangle relationship), yaitu hubungan
dengan diri sendiri (intrapersonal),
dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam
sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME
(spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan
memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada
akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara
anak memahami bentuk hubungan tersebut akan
menentukan cara anak memperlakukan dunianya.
Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan
yang negatif dan pemahaman yang positif akan
memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk
itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak
sejak usia dini, salah satunya dengan cara
memberikan kepercayaan pada anak untuk
mengambil keputusan untuk dirinya sendiri,
membantu anak mengarahkan potensinya dengan
begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi
dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara
Page | 33 Biasakan anak bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungansekitar. Ingat pilihan
terhadap lingkungan sangat
menentukan pembentukan karakter anak. Seperti
kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi
akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan
ikut amis. Seperti itulah, lingkunganbaik dan sehat
akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu
pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan
adalah membangun hubungan spiritual dengan
Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan
Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan
penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada
kehidupan sosial.
B. PENDIDIKAN KARAKTER SISWA
1. Pengertian Pendidikan Karakter Sis wa
Menurut Ratna Megawangi (2007), pendidikan karakter
siswa adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing
the good, loving the good, dan acting the good. Yakni, suatu
proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, afektif,
dan psikomotorik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi
Page | 34 tepat jika menganggap pendidikan karakter hanya urusan
mata pelajaran agama atau PKN. Pendidikan karakter melekat
pada mata pelajaran apapun. Bahkan, rasanya tidak adil jika
pendidikan karakter hanya dibebankan dan menjadi tanggung
jawab institusi sekolah.
Pendidikan karakter siswa harus bermula dan
ditanamkan dari lingkungan keluarga, sebab keluarga adalah
fondasi utama pendidikan. Betapa pun baiknya pendidikan
formal di sekolah, betapa pun sudah didukung oleh perangkat
teknologi canggih, jika tidak didukung oleh lingkungan
keluarga yang baik, hasilnya tidak akan memuaskan.
Keluarga adalah basis terkecil dari kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan dalam keluarga harus ditopang juga oleh
lingkungan dan masyarakat yang sehat, serta didukung oleh
pemerintahan yang bersih. Meski terkadang pemerintahan
yang bersih masih menjadi utopia. Jika tidak begitu,
pendidikan karakter akan sulit untuk direalisasikan dan hanya
akan menjadi wacana saja, maka dari itu mari kita mulai
sedini mungkin tentang pendidikan karakter siswa.
Pendidikan Karakter Siswa yang baik, menurut John
Luther, lebih patut dipuji daripada bakat yang luar biasa.
Page | 35 tidak dianugerahkan kepada kita. Kita harus membangunnya
sedikit demi sedikit dengan pikiran, pilihan, keberanian, dan
usaha keras. Karakter memang laksana “otot” yang
memerlukan latihan demi latihan untuk menjaga dan
meningkatkan kualitas kesehatan dan kekuatannya. Oleh
karena itu, pendidikan karakter memerlukan proses
pemahaman, penanaman nilai, dan pembiasaan, sehingga
seorang anak didik dapat mencintai perbuata n baik
berdasarkan kesadaran yang timbul dari dirinya. Dalam kaitan
inilah kita melihat banyaknya kekeliruan dan kegagalan
dalam konsep dan kebijakan pendidikan nasional yang terlalu
mengarahkan anak didik untuk semata- mata terampil
menjawab soal. Anak dihargai tinggi jika mampu menjawab
soal-soal ujian. Mata pelajaran diarahkan untuk latihan
kognitif semata dengan menjejalkan informasi sebanyak
mungkin kepada para siswa.
Pendidikan karakter siswa bukanlah sebuah proses
menghafal materi soal ujian dan teknik-teknik menjawabnya.
Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan dan harus
berangkat dari kesadaran masing- masing individu. Sebab,
segala sesuatu yang berangkat dari kesadaran akan lebih
bertahan lama dibandingkan dengan motivasi yang berasal
Page | 36
2. Tujuan Pendidikan Karakter Sis wa
Tujuan pendidikan karakter siswa itu sendiri pada
hakikatnya tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga
secara seimbang harus menanamkan karakter positif terhadap
sikap, perilaku, dan tindakan seseorang. Tujuan pendid ikan
adalah untuk menghasilkan orang yang baik. Siapakah
manusia yang baik itu? Yaitu manusia yang mengenal
dirinya, lalu ia mengenal Tuhannya. Ia mengenal potensi
yang ada pada dirinya dan mampu mengembangkannya.
Pendidikan akan menghasilkan manusia parip urna yang dapat
memaknai hakikat dirinya sebagai hamba Tuhan dan makhluk
sosial. Hal ini dimaksudkan agar manusia yang berpendidikan
itu cerdas otaknya sekaligus waras perilakunya.
Pendidikan harus kembali kepada fungsi asalnya, yaitu
menanamkan karakter positif warga negara sesuai dengan
fungsi pendidikan yang tersurat dalam UU No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang
menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
Page | 37 negara harus ditopang oleh nilai- nilai moral, sehingga akan
tercipta kesalehan sosial.
3. Pendidikan Berkarakter Melalui Pendidikan Informal,
Formal dan Non-Formal
a) Pendidikan Informal
“Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.” UU No 20 / 2003, pasal 1 (13). Sebelum anak masuk sekolah,
pendidikan yang pertama kali diberikan kepada anak
yaitu pendidikan dalam keluarga. Setelah anak berusia
6 / 7 tahun barulah dimasukkan ke dalam PAUD.
Namun peran dalam keluarga sangat menetukan
karakter anak tersebut. Dalam hal ini, ibu merupakan
peran utama, Karena ibu yang melahirkan, sangat
dekat dengan anak, paling sayang dengan anak.Kasih
sayang merupakan peranan penting dalam
pembentukan karakter.
Karena orangtua yang bijak seharusnya
memperhatikan kebutuhan anak yang paling mereka
senangi. Anak yang belum masuk SD / PAUD
misalnya tetap sudah minta dibelikan buku, pena,
Page | 38 belajar sudah menunjukkan keinginan anak untuk
belajar. Dalam kontek seperti ini sebaiknya dipenuhi
keinginan anak, dampingi anak, latih anak memegang
pena atau pensil, sambil bermain dengan anak,
berdekatan dengan mencium dan memeluk anak.
Kedekatan orangtua terhadap anak sangat menentukan
pertumbuhan karakternya.
Beberapa kebiasaan yang perlu diberikan
kepada anak , yaitu :
Orangtua mengajak anak mengikuti pertemuan
dengan orang dewasa
Menyuruh melaksanakan tugas rumah, melatih
mandiri, menghargai waktu dan keuangan
Membiasakan mengucap salam
Menjenguk anak yang sakit
Memilih teman yang baik
Melatih berdagang
Menghadiri acara yang diisyaratkan
Kebiasaan-kebiasaan yang sejatinya di
berikan orangtua kepada anak-anaknya di rumah
Page | 39
Kebiasaan mengenal Tuhan dalam sebutan
sederhana dalam keseharian seperti Allah,
Allahu akbar
Kebiasaan sholat berjama’ah dengan orangtua
Kebiasaan sopan santun kepada orangtua
Kebiasaan meminta izin bila hendak keluar
rumah
Kebiasaan mencium tangan orangtua ketika
hendak bepergian
Kebiasaan menyayangi orangtua
Kebiasaan berjalan menunduk dihadapan
orangtua
Kebiasaan menyapa orang yang lebih tua
dengan sapaan yang menunjukkan rasa hormat
Kebiasaan mendidik anak supaya jujur
Kebiasaan mendidik anak supaya amanah
Kebiasaan membantu pekerjaan orangtua di
rumah
Kebiasaan mengajarkan kepada anak supaya
tidak iri hati
Pendidikan karakter adalah tanggung jawab
Page | 40 Mendidik anak dengan sebaik-baiknya karena
adanya naluri keturunan
Memberi contoh yang baik adalah wajib bagi
orangtua
Mendidik anak dengan cinta, kasih sayang yang
mendalam merupakan akar pembentukkan
karakter
Mengusahakan supaya anak betah di rumah,
tentram dan tenang
Mengusahakan agar anak tidak frustasi
Pendidikan agama yang merupakan landasan
kokoh bagi kelanjutan perkembangan anak
ditanamkan sejak kecil.
b) Pendidikan Formal
Pendidikan karakter sangat efektif diterapkan
pada jalur pendidikan formal. Pendidikan karakter di
sekolah tidak harus dengan menyusun kurikulum baru,
yaitu kurikulum pendidikan budi pekerti, pendidikan
karakter atau budi pekerti dapat dimasukkan dalam
Page | 41 Membangun budaya berperilaku di sekolah
dituangkan dalam tata tertib sekolah, peraturan di
sekolah, seperti :
Tata Tertib sekolah di bidang pengajaran
Cara Berpakaian
Kegiatan Siswa
Keuangan
Kegiatan 5K
Dalam proses pembelajaran di kelas, Peserta
didik mengungkap potensi-potensi dalam dirinya,
harus mengetahui bakat dan minatnya, harus
mengetahui keadaan jasmani dan rohaninya, dsb.
Misalnya, jika ada seorang siswa yang kurang
berprestasi dibandingkan dengan teman-teman yang
lain hendaknya tidak merasa putus asa, sebaliknya jika
mereka merasa dirinya lebih dari yang lain hendaklah
tidak merasa sombong ataupun tidak berusaha.
Peserta didik juga harus mampu
mengarahkan dirinya. Misalnya seorang siswa yang
telah memutuskan bahwa ia harus membuat jadwal
Page | 42 melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Yaitu
dengan melaksanakan jadwal tersebut.
Lalu peserta didik dituntut agar mampu
mewujudkan diri secara baik di tengah lingkungannya.
Sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan
karakteristik kepribadiannya. Hendaknya dilakukan
tanpa paksaan dan tanpa ketergantungan pada orang
lain.
Peranan guru sangat penting dalam proses
pembentukan karakter. Tugas dan tanggung jawab
utama guru adalah mendidik sekaligus mengajar, yaitu
membantu peserta didik dalam mencapai kedewasaan.
Dalam proses pembelajaran, guru juga sebagai
pembimbing. Maka, untuk dapat menjalankan tugas
ini secara efektif, guru hendaknya memahami semua
aspek pribadi peserta didik baik fisik maupun psikis.
Guru juga harus mampu :
Mengenal dan memahami setiap siswa baik
sebagai individu / kelompok
Memberikan berbagai informasi yang
Page | 43
Memberikan kesempatan yang memadai agar
setiap siswa dapat belajar sesuai dengan
karakteristik pribadinya
Membantu setiap siswa dalam mengatasi
masalah- masalahnya
Menilai keberhasilan siswa
Guru yang baik, professional, yang
bertanggungjawab, yang diteladani adalah guru yang
menghayati dan mengamalkan
kompetensi-kompetensi khusus, yaitu :
Memahami landasan- landasan pendidikan
Menguasai mata pelajaran
Mampu mengembangkan materi pelajaran
Menguasai kelas
Mampu memilih dan menggunakan metode
yang tepat
Mampu memilih dan menggunakan media
belajar yang tepat
Mampu menilai hasil belajar siswa / mahasiswa
Page | 44 Para Guru Indonesia yang melaksanakan
tugasnya berlandaskan pada Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945 harus berpedoman kepada kode
etik, sebagai berikut :
Guru berbakti membimbing anak didik
Guru memiliki kejujuran professional dalam
menerapkan kurikulum
Guru mengadakan komunikasi
Guru menciptakan suasana dan memelihara
hubungan dengan orangtua murid
Guru memelihara hubungan dengan masyarakat
sekitar sekolah
Berusaha meningkatkan mutu profesinya
Menciptakan dan memelihara hubungan antara
sesama guru
Memelihara, membina dan meningkatkan mutu
organisasi professional
Melaksanakan segala ketentuan
c) Pendidikan Non-Formal
“Pendidikan Non-Formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat
Page | 45 NO 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pasal 1 (12).
Pendidikan Non-Formal sejatinya diberikan
kepada masyarakat sebagai pengganti, penambah dan
atau pelengkap pendidikan formal. Mencakup
pendidikan Life skill, PAUD, Pendidikan
Kepemudaan, Pemberdayaan Perempuan, pendidikan
keterampilan dan pendidikan kesetaraan berupa
kursus-kursus, kelompok belajar, sanggar-sanggar, dll.
Strategi pendidikan karakter melalui pendidikan
non-formal, yaitu :
Keteladananaan
Pembiasaan
Latihan
Sosialisasi
4. Hubungan Sekolah Melalui Keteladanan Guru dan
Page | 46 Sekolah, pada hakikatnya bukanlah sekedar tempat
“transfer of knowledge” belaka. Seperti
dikemukakan Fraenkel (1977:1-2), sekolah tidaklah
semata-mata tempat di mana guru menyampaikan pengetahuan
melalui berbagai mata pelajaran. Sekolah juga adalah
lembaga yang mengusahakan usaha dan proses pembelajaran
yang berorientasi pada nilai (value-oriented enterprise). Lebih
lanjut, Fraenkel mengutip John Childs yang menyatakan,
bahwa organisasi sebuah sistem sekolah dalam dirinya sendiri
merupakan sebuah usaha moral (moral enterprise), karena ia
merupakan usaha sengaja masyarakat manusia untuk
mengontrol pola perkembangannya.
Pembentukan watak dan pendidikan karakter melalui
sekolah, dengan demikian, tidak bisa dilakukan semata- mata
melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi adalah melalui
penanaman atau pendidikan nilai-nilai. Apakah nilai-nilai
tersebut? Secara umum, kajian-kajian tentang nilai biasanya
mencakup dua bidang pokok, estetika, dan etika (atau akhlak,
moral, budi pekerti). Estetika mengacu kepada hal- hal tentang
dan justifikasi terhadap apa yang dipandang manusia sebagai “indah”, apa yang mereka senangi. Sedangkan etika mengacu kepada hal- hal tentang dan justifikasi terhadap tingkah laku
Page | 47 masyarakat, baik yang bersumber dari agama, adat istiadat,
konvensi, dan sebagainya. Dan standar-standar itu adalah
nilai- nilai moral atau akhlak tentang tindakan mana yang baik
dan mana yang buruk.
Guru sejatinya bukan sembarang pekerjaan, melainkan
profesi yang pelakunya memerlukan berbagai kelebihan, baik
terkait dengan kepribadian, akhlak, spiritual, pengetahuan dan
keterampilan. Peran guru bukan sekadar mentransfer
pelajaran kepada peserta didik. Tapi lebih dari itu guru
bertanggungjawab membentuk karakter peserta didik
sehingga menjadi generasi yang cerdas, saleh, dan terampil
dalam menjalani kehidupannya. Inilah tugas guru yang amat
strategis dan mulia.
Apalagi dewasa ini kehadiran guru sebagai pendidik
semakin nyata menggantikan sebagian besar peran orang tua
yang notabene adalah pengemban utama amanah Tuhan Yang
Maha Esa yang dikaruniakan kepadanya. Dengan berbagai
sebab dan alasan, orang tua telah menyerahkan bulat-bulat
tugas dan tanggung jawabnya kepada guru di sekolah dengan
berbagai keterbatasannya. Demikian p ula masyarakat yang
kontrol sosialnya semakin melemah dan pemerintah yang
Page | 48 fisik, semuanya ikut mengambil andil terhadap kegagalan
pembentukan karakter bangsa.
Menyadari hal ini, pemerintah mulai tahun ajaran
2011/2012 menjadikan pendidikan berbasis karakter sebagai
gerakan nasional mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) sampai Perguruan Tinggi termasuk pendidikan
nonformal dan informal. Menteri Pendidikan Nasional
Mohammad Nuh menyatakan, ”Pembentukan karakter siswa
tidak bisa lepas dari peran guru. Bagaimana manusia
Indonesia pada tahun 2045 mendatang (100 tahun Indonesia
merdeka), ditentukan bagaimana guru membentuk siswa saat ini” (www.kemdiknas.go.id). Karenanya, di pundak guru terletak salah satu beban untuk merestorasi karakter dan
kepribadian mulia bangsa Indonesia yang telah berada pada
titik nadir. Guru diharapkan bisa mengembalikan peradaban
bangsa yang tinggi, yang selama ini telah tergantikan dengan
julukan bangsa yang korup, tidak memiliki kepribadian,
bangsa yang kacau, jorok, bodoh, anarkis dan banyak atribut
jelek lainnya yang kini melekat pada bangsa tercinta ini.
Kegagalan membentuk karakter bangsa merupakan
kesalahan kolektif yang harus dibenahi bersama. Oleh karena
Page | 49 adalah dengan berkomitmen untuk melakukan perbaikan
secara kolektif pula. Masing- masing kita harus instrospeksi
diri dan berusaha keras untuk mencari solusi guna
memperbaiki dan mengembalikan serta meningkatkan
karakter positif bangsa. Lakukan yang terbaik yang kita bisa,
jangan sibuk mencari kesalahan orang lain. Tapi mari kita
mulai dari diri kita, orang terdekat kita dan tugas di bawah
tanggung jawab kita. Dan guru adalah salah satu pilar penentu
keberhasilan pendidikan karakter.
Dari berbagai asal dan dengan berbagai alasan banyak
orang memilih profesi guru. Apapun latar belakangnya,
apapun motivasinya, dan apapun alasannya, profesi guru
menuntut kompetensi sebagai guru. Guru berkompeten yang
diharapkan tentu saja guru yang tidak hanya mengetahui
tugas dan tanggung jawabnya, tapi juga harus mampu
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sebaik
mungkin.
Merujuk pada UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen, seorang guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu
kompetensi profesional, pedagogis, personal, dan sosial. Dari
keempat kompetensi tersebut, aspek yang paling mendasar
Page | 50 diteladani adalah aspek kepribadian (personalitas). Karena
aspek kepribadian inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya
komitmen diri, dedikasi, kepedulian, dan kemauan kuat untuk
terus berbuat yang terbaik dalam kiprahnya di dunia
pendidikan. Seorang guru harus memiliki kematangan, baik
intelektual maupun emosional. Kematangan ini terlihat dari
kemampuan bernalar dan bertutur, memberi contoh dan sikap
yang baik, mengerti perkembangan anak dengan segala
persoalannya, kreatif, inovatif, menguasai materi dan banyak
metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan,
situasi dan intelegensi peserta didik.
5. Prinsip Pendidikan Karakter
Berikut ini adalah 11 prinsip-prinsp pendidikan
karakter.
1) Komunitas sekolah mengembangkan dan meningkatkan
nilai-nilai inti etika dan kinerja sebagai landasan karakter yang
baik.
2) Sekolah berusaha mendefinisikan “karakter” secara
komprehensif, di dalamnya mencakup berpikir (thinking),
merasa (feeling), dan melakukan (doing).
3) Sekolah menggunakan pendekatan yang komprehensif,
Page | 51 4) Sekolah menciptakan sebuah komunitas yang memiliki
kepedulian tinggi.(caring)
5) Sekolah menyediakan kesempatan yang luas bagi para
siswanya untuk melakukan berbagai tindakan moral (moral
action).
6) Sekolah menyediakan kurikulum akademik yang bermakna
dan menantang, dapat menghargai dan menghormati seluruh
peserta didik, mengembangkan karakter mereka, dan
berusaha membantu mereka untuk meraih berbagai
kesuksesan.
7) Sekolah mendorong siswa untuk memiliki motivasi diri yang
kuat
8) Staf sekolah ( kepala sekolah, guru dan TU) adalah sebuah
komunitas belajar etis yang senantiasa berbagi tanggung
jawab dan mematuhi nilai- nilai inti yang telah disepakati.
Mereka menjadi sosok teladan bagi para siswa.
9) Sekolah mendorong kepemimpinan bersama yang
memberikan dukungan penuh terhadap gagasan pendidikan
karakter dalam jangka panjang.
10)Sekolah melibatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai
mitra dalam upaya pembangunan karakter
11)Secara teratur, sekolah melakukan asesmen terhadap budaya
Page | 52 karakter di sekolah, dan sejauh mana siswa dapat
mewujudkan karakter yang baik dalam kehidupan sehari- hari.
6. Pembelajaran Modelling di Sekolah
Menurut Rani Pardini yang dikutip oleh Adhi, R (2010),
ada tiga model guru berdasarkan tingkatan kualitasnya, yaitu
guru okupasional, guru profesional, dan guru vokasional.
Guru okupasional adalah sosok guru yang menjalani
profesi guru sekadarnya, tanpa kepedulian lebih
memerhatikan anak didiknya. Guru professional adalah guru
yang memiliki tanggung jawab lebih memenuhi kualifikasi
undang-undang dan syarat kompetensi guru sesuai dengan
regulasi yang berlaku. Sementara Guru vokasional adalah
guru yang menjalani profesinya sebagai sebuah panggilan
sehingga menjalani tugasnya dengan penuh antusias, sabar,
komitmen, dan terus mengembangkan diri serta profesinya.
Dalam mendidik karakter sangat dibutuhkan sosok yang
menjadi model. Model yang dapat ditemukan oleh peserta
didik di lingkungan sekitarnya. Semakin dekat model pada
peserta didik akan semakin mudah dan efektiflah pendidikan
karakter tersebut. Peserta didik butuh contoh nyata, bukan
hanya contoh yang tertulis dalam buku apalagi contoh
Page | 53 dikutip oleh Sit, M (2010), prilaku moral diperoleh dengan
cara yang sama dengan respon-respon lainnya, yaitu melalui
modeling dan penguatan.
Lewat pembelajaran modeling akan terjadi internalisasi
berbagai prilaku moral, pro sosial dan aturan-aturan lainnya
untuk tindakan yang baik. Demikian pula menurut Social
Learning Theory dalam Bandura yang dikutip oleh
Hadiwinarto, perilaku manusia diperoleh melalui cara
pengamatan model, dari mengamati orang lain, membentuk
ide dan perilaku-perilaku baru, dan akhirnya digunakan
sebagai arahan untuk beraksi. Sebab seseorang dapat belajar
dari contoh apa yang dikerjakan orang lain,
sekurang-kurangnya mendekati bentuk perilaku orang lain, dan
terhindar dari kesalahan yang dilakukan orang lain.
7. Cara menjadi Guru Teladan dalam Pendidikan
Berkarakter di Sekolah
Guru sebagai uswah atau teladan harus memiliki modal
dan sifat-sifat tertentu, diantaranya:
Pertama, Guru harus meneladani Rasulullah Saw
Page | 54 Kedua, guru harus benar-benar memahami
prinsip-prinsip keteladanan. Mulailah dari diri sendiri. Dengan
demikian guru tidak hanya pandai bicara dan mengkritik
tanpa pernah menilai dirinya sendiri. Bercermin pada filosofi ”gayung mandi”, dalam mendidik karakter guru jangan seperti gayung mandi. Gayung digunakan untuk mandi
bertujuan membersihkan, tapi ia sendiri tidak pernah mandi
atau membersihkan dirinya sendiri. Artinya guru harus
mempraktikkannya terlebih dahulu sebelum mengajarkan
karakter kepada peserta didiknya.
Ketiga, guru harus mengetahui tahapan mendidik
karakter. Sekurang-kurangnya melalui tiga tahapan
pembelajaran yang penulis istilahkan dengan 3P yaitu:
pemikiran, perasaan dan perbuatan.
1. Tahapan pertama pemikiran; merupakan tahap
memberikan pengetahuan tentang karakter. Pada
tahapan ini guru berusaha mengisi akal, rasio dan
logika siswa sehingga siswa mampu membedakan
karakter positif (baik) dengan karakter negatif (tidak
baik). Siswa mampu memahami secara logis dan
rasional pentingnya karakter positif dan bahaya yang
Page | 55 2. Tahap kedua dalam mendidik karakter ini diistilahkan
dengan perasaan; merupakan tahap mencintai dan
membutuhkan karakter positif. Pada tahapan ini guru
berusaha menyentuh hati dan jiwa siswa bukan lagi
akal, rasio dan logika. Diharapkan pada tahapan ini
akan muncul kesadaran dari hati yang paling dalam
akan pentingnya karakter positif, yang pada akhirnya
akan melahirkan dorongan/keinginan yang kuat dari
dalam diri untuk mempraktikkan karakter tersebut
dalam kesehariannya.
3. Tahap ketiga perbuatan berperan; pada tahapan ini
dorongan/keinginan yang kuat pada diri siswa untuk
mempraktikkan karakter positif diwujudkan dalam
kehidupannya sehari-hari. Siswa menjadi lebih santun,
ramah, penyayang, rajin, jujur, dan semakin
menyenangkan, menyejukkan pandangan serta hati
siapapun yang melihat dan berinteraksi dengannya.
4. Keempat, Guru harus mengetahui bagaimana
mengimplementasikan pendidikan karakter kepada
siswa. Tanamkan pengertian betapa pentingnya "cinta"
dalam melakukan sesuatu, tidak semata- mata karena
prinsip timbal balik. Ciptakan hubungan yang mesra,
harapan-Page | 56 harapan kita serta tumbuhkan rasa sayang terhadap
sesama.
5. Kelima, guru harus menyadari arti kehadirannya di
tengah siswa, mengajar dengan ikhlas, memiliki
kesadaran dan tanggungjawab sebagai pendidik untuk
menanamkan nilai- nilai kebenaran. Mengajar bukan
untuk sekadar melepaskan tugas, mengajar karena
panggilan jiwa, mengajar dengan cinta, merasa
bertanggung jawab terhadap keberhasilan siswa dunia
akhirat, dan mampu mengarahkan siswa tentang arti
Page | 57
C. PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR
1. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
Faktor kelurga sangat berperan dalam membentuk
karakter anak. Namun kematangan emosi social ini
selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah sejak
usia dini sampai usia remaja. Bahkan menurut Daniel
Goleman, banyaknya orang tua yang gagal dalam mendidik
anak-anak, kematangan, emosi sosial anak dapat dikoreksi
dengan memberikan latihan pendidikan karakter kepada
anak-anak di sekolah terutama sejak usia dini. Sekolah adalah
tempat yang strategis untuk pendidikan karakter karena
anak-anak dari semua lapisan akan mengenyam pendidikan di
sekolah. Selain itu anak-anak menghabiskan sebagian besar
waktunya di sekolah, sehingga apa yang didapatkannya di
sekolah akan mempengaruhi pembentukan karakternya.
Indonesia belum mempunyai pendidikan karakter yang efektif
untuk menjadikan bangsa Indonesia yang berkarakter
(tercermin dari tingkah lakunya). Padahal ada beberapa mata
pelajaran yangberisikan tentang pesan-pesan moral, misalnya
pelajaran agama, kewarganegaraan, dan pancasila. Namun
proses pembelajaran yang dilakukan adalah dengan
pendekatan penghafalan (kognitif). Para siswa diharapkan
Page | 58 dengan kemampuan anak menjawab soal ujian (terutama
dengan pilihan berganda). Karena orientasinya hanyalah
semata- mata hanya untuk memperoleh nilai bagus, maka
bagaimana mata pelajaran dapat berdampak kepada
perubahan perilaku, tidak pernah diperhatikan. Sehingga apa
yang terjadi adalah kesenjangan antara pengetahuan moral
(cognition) dan perilaku (action). Semua orang pasti
mengetahui bahwa berbohong dan korupsi itu salah dan
melanggar ketentuan agama, tetapi banyak sekali orang yang
tetap melakukannya. Tujuan akhir dari pendidikan karakter
adalah bagaimana manusia dapat berperilaku sesuai dengan
kaidah-kaidah moral. Menurut Berman, iklim sekolah yang
kondusif dan keterlibatan kepala sekolah dan para guru
adalah faktor penentu dari ukuran keberhasilan interfensi
pendidikan karakter di sekolah. Dukungan saran dan
prasarana sekolah, hubungan antar murid, serta tingkat
kesadaran kepala sekolah dan guru juga turut menyumbang
bagi keberhasilan pendidikan karakter ini, disamping
kemampuan diri sendiri (melalui motivasi, kreatifitas dan
kepemimpinannya) yang mampu menyampaikan konsep
karakter pada anak didiknya dengan baik.