TESIS MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER BAB

103  15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan karakter sudah menjadi kebutuhan dan cita-cita fundamental bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang religius dan beradab, yang mana setiap Agama mengajarkan karakter atau akhlak mulia kepada pemeluknya. Mengingat pentingnya pendidikan karakter ini, pemerintahpun mengaturnya dalam undang-undang sistem pendidikan nasional. Secara eksplisit dikatakan “pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. (Undang-Undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2010:6).

Kemendesakan pendidikan karakter tidak hanya didorong oleh cita-cita dan undang-undang di atas, melainkan didorong juga oleh situasi dan kondisi jaman sekarang yang sedang mengalami perubahan tata nilai. Terjadinya perilaku menyimpang dari norma-norma sosial dan nilai-nilai budaya, meningkatnya pola hidup konsumeristis dan hedonistis, gaya hidup serba instan, dan berfoya-foya menjadi indikator bergesernya nilai-nilai moral dan menurunnya kualitas karakter generasi muda.

(2)

bekerja keras untuk mendapatkan nilai yang bagus, sebab dengan menyontek saja nilai yang bagus itu akan bisa dicapai dan naik kelas. Koesoema (2015:15) menegaskan “tuntutan sosial dan keinginan mempertahankan harga diri di mata teman-teman sebaya telah mendorong kegiatan menyontek menjadi hal yang biasa dan wajib dilakukan. Nilai serba cepat telah menggantikan nilai kejujuran”. Tidak hanya menyontek, tetapi perilaku menyimpang lainnya seperti pergaulan bebas, merokok di sekolah, minum minuman keras dan narkoba (drugs), terlibat perkelahian, hamil di luar nikah, menonton film porno, serta perilaku lainnya yang mengancam rusaknya perkembangan dasar nilai, merupakan persoalan atau tantangan yang menghantui pergaulan remaja.

Tanggung jawab yang besar untuk membantu remaja menghadapi tantangan-tantangan di atas umumnya dilimpahkan kepada sekolah. “Sekolah diharapkan menjadi pusat perubahan masyarakat atau tempat berlangsungnya revolusi mental” (Johanis Ohoitimur, Lokakarya Pendidikan Yayasan Pendidikan Lokon SMP & SMA Lokon St. Nikolaus, 20-21 Juni 2016). Sekolah mengemban tugas dan tanggung jawab melanjutkan pendidikan dasar yang diberikan di dalam keluarga. Oleh karena pentingnya tanggung jawab ini, maka sekolah perlu ada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan karakter secara terpadu.

Salah satu sekolah yang berupaya untuk mengimplementasikanpendidikan karakter adalah SMA Kristen 2 Binsus Tomohon (kata Binsus adalah singkatan dari Binaan Khusus). Sekolah ini bernaung di bawah Yayasan GMIM Ds. A.Z.R. Wenas dan terletak di jalan Kampus, Talete Dua Kota Tomohon.

(3)

dimiliki oleh sekolah ini adalah penampilan para siswanya. Keseragaman diatur dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak hanya pakaian yang harus seragam, tetapi potongan rambut wanita harus sama pendek dan potongan rambut pria juga harus sama modelnya. Penampilan mereka terlihat sangat rapih dan elegan.

Idealisme pendidikan karakter belum sepenuhnya terlaksana. Berdasarkan observasi sekolah masih menghadapi beberapa masalah atau tantangan, di antaranya seperti berikut ini: (1) Masalah disiplin di dalam kelas. Guru masih menjumpai siswa yang menunjukkan sikap tidak menghargai guru pada saat proses kegiatan belajar berlangsung. (2) Masalah kepedulian siswa terhadap guru. Pada beberapa kejadian, siswa tidak menyampaikan salam selamat pagi/selamat siang kepada guru atau kakak kelas kepada adik kelas. (3) Guru terlambat masuk kelas untuk mengajar. (4) Guru dan pimpinan sekolah belum memiliki persamaan persepsi tentang pendidikan karakter. (5) Siswa belum semuanya menaati aturan atau tata tertib sekolah dan asrama.

Persoalan-persoalan di atas mendorong peneliti untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang manajemen pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon. Peneliti berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan pendidikan karakter di sekolah ini.

B. Fokus Penelitian dan Rumusan Masalah

(4)

Dari fokus penelitian tersebut, dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana perencanaan pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon?

2. Bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon?

3. Bagaimana evaluasi pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon? Apa saja faktor pendukung dan penghambat pendidikan karakter yang dihadapi oleh SMA Kristen 2 Binsus Tomohon?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang:

1. Perencanaan pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon.

2. Pelaksanaan pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon.

(5)

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoretis dan praktis.

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengembangkan keilmuan dalam bidang manajemen pendidikan dan mengembangkan model pendidikan karakter yang integral-holistik.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada:

- Pimpinan yayasan sebagai pemangku kebijakan pendidikan dalam merumuskan kebijakan pendidikan karakter.

- Pimpinan sekolah dan guru dalam merumuskan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan karakter.

(6)

BAB II

ACUAN TEORETIK

A. Deskripsi Teoretik 1. Manajemen Pendidikan 1.1. Konsep Dasar Manajemen a. Pengertian Manajemen

Kata manajemen secara etimologis berarti “tangan yang melakukan”. Hal ini dikemukakan oleh Husaini Usman (2011:5) sebagai berikut “kata manajemen berasal dari Bahasa Latin, yaitu dari asal kata manus yang berarti tangan dan

agere yang berarti melakukan. Kata-kata itu digabung menjadi kata kerja

managere yang berarti menangani”. Terjemahan dalam Bahasa Inggris adalah to manage dengan kata benda management. Selanjutnya, kata ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi manajemen.

Dalam perkembangannya, istilah manajemen mendapatkan pengertian yang lebih spesifik dan variatif dari para ahli. Harold Koontz dan Hein Weirich dalam Kambey (2006:2), mendefinisikan manajemen sebagai “proses mendisain dan memelihara lingkungan dimana orang-orang bekerja bersama dalam kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu secara efisien”. Sementara itu, Sanches dalam Kambey (2006:2), mendefinisikan manajemen sebagai “proses mengembangkan manusia”.

(7)

melalui tahapan-tahapan yang pasti, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Nickels dkk. dalam Sule dan Saefullah (2010:6). Mereka mengemukakan pengertian manajemen sebagai “the process used to accomplish organizational goals through planning, organizing, directing, and controlling people and other organizational

goals” (proses yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasi melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan orang dan tujuan organisasi lainnya).

Definisi dari kata manajemen ternyata banyak, tergantung pada persepsi masing-masing ahli. Namun, terdapat salah satu definisi klasik tentang manajemen yang dirumuskan oleh George Terry (dalam Indrajit dan Djokopranoto, 2011:315), yakni “management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling, performed to determine and

accomplish stated objectives by the use of human beings and other resources”. Dari kutipan ini ditegaskan manajemen sebagai suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengontrolan melalui orang atau sumber daya lain untuk mewujudkan tujuan. Proses yang dikemukakan Terry inilah yang secara populer dikenal dengan istilah POAC (planning, organizing, actuating, controlling).

Berdasarkan pengertian yang diberikan oleh para ahli di atas, maka manajemen dapat diartikan sebagai suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

(8)

Hasibuan (2005:37) menegaskan “pembagian fungsi-fungsi manajemen bertujuan agar sistematik urutan pembahasannya lebih teratur, analisis pembahasannya lebih mudah dan mendalam, dan sebagai pedoman bagi manajer dalam melaksanakan proses manajemen”. Adapun fungsi manajemen terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian/pengawasan. Pemahaman dari setiap fungsi dapat dideskripsikan sebagai berikut:

1) Perencanaan

Perencanaan merupakan suatu proses memikirkan dan menetapkan secara matang arah, tujuan dan tindakan sekaligus mengkaji berbagai sumber daya dan metode yang tepat. Gibson (dalam Sagala, 2010:56) mengemukakan pengertian perencanaan sebagai berikut “perencanaan mencakup kegiatan menentukan sasaran dan alat yang sesuai untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan”.

Sergiovanni (dalam Sagala, 2010:57) menegaskan: “plans are guides, approximation, goal post, and compass setting not irrevocable commitments or

dicision commandments”. Artinya perencanaan yang dibuat secara matang akan berfungsi sebagai kompas atau penunjuk arah untuk mencapai tujuan organisasi.

Lebih lanjut Mulyati dan Komariah (dalam Tim Dosen Universitas Pendidikan Indonesia, 2011:93-95) mengemukakan fungsi perencanaan sebagai berikut:

a. Menjelaskan dan merinci tujuan yang ingin dicapai.

b. Memberikan pegangan dan menetapkan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

(9)

d. Menjadi rujukan anggota organisasi dalam melaksanakan aktivitas yang konsisten prosedur dan tujuan.

e. Memberikan batas kewenangan dan tanggung jawab bagi seluruh pelaksana.

f. Memonitor dan mengukur berbagai keberhasilan secara intensif sehingga bisa menemukan dan memperbaiki penyimpangan secara dini. g. Memungkinkan untuk terpeliharanya persesuaian antara kegiatan

internal dengan situasi eksternal. h. Menghindari pemborosan.

Aktivitas perencanaan dimulai dengan meramalkan hasil yang akan dicapai hingga menetapkan prosedur. Selengkapnya Syafi’i (dalam Kompri, 2015:18) mengemukakan aktivitas perencanaan sebagai berikut:

a. Meramalkan proyeksi yang akan datang. b. Menetapkan sasaran serta mengkondisikannya. c. Menyusun program dengan urutan kegiatan. d. Menyusun kronologis jadwal kegiatan.

e. Menyusun anggaran dan alokasi sumber daya. f. Mengembangkan prosedur dalam standar.

g. Menetapkan dan menginterpretasi kebijaksanaan.

(10)

2) Pengorganisasian

Mengorganisasikan adalah proses mengatur, mengalokasikan dan mendistribusikan pekerjaan, wewenang, dan sumber daya di antara anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Stoner (dalam Tim Dosen UPI, 2011: 94) menyatakan bahwa mengorganisasikan adalah “proses mempekerjakan dua orang atau lebih untuk bekerjasama dalam cara terstruktur guna mencapai sasaran spesifik atau beberapa sasaran”. Hal serupa dikemukakan oleh Fattah (2006:71). Menurutnya, salah satu karakteristik sistem kerjasama dalam organisasi adalah “ada komunikasi di antara orang yang bekerjasama, individu mempunyai kemampuan untuk kerjasama, dan ditujukan untuk mencapai tujuan”. Dengan adanya komunikasi, maka kerjasama dapat dilaksanakan dan peluang untuk mencapai tujuan organisasi semakin besar.

(11)

3) Pelaksanaan

Pelaksanaan atau pengimplementasian merupakan proses implementasi program sebagaimana telah ditentukan dalam kegiatan perencanaan dan berkaitan erat dengan proses memotivasi. Ernie Tisnawati Sule dan Kurniawan Saefullah (2010:8) mengemukakan, “pengimplementasian atau directing adalah proses implementasi program agar bisa dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktivitas tinggi”.

Proses memotivasi dalam aktivitas pelaksanaan berarti upaya menggerakkan setiap anggota untuk mengimplementasikan apa yang sudah direncanakan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Hal ini ditegaskan oleh Terry (dalam Kambey 2006:70), “Actuating is setting all members of the group to want to achieve and to strike to achieve the objective willingly and keeping with

the managerial planning and organizing the efforts”. Dari kutipan ini pelaksanaan berarti upaya mengatur setiap anggota kelompok agar memiliki keinginan dan usaha untuk mencapai tujuan sebagaimana telah diatur dan diusahakan oleh organisasi.

(12)

4) Pengawasan

Pengawasan merupakan upaya untuk mengukur ketercapaian suatu kegiatan. Pengawasan berkaitan dengan proses menilai apakah kegiatan yang telah dilaksanakan sudah sesuai dengan rencana dan seberapa jauh tujuan organisasi telah dicapai. Kambey (2006:117) mengemukakan “pengawasan bertujuan untuk memperoleh masukan apakah pelaksanaan dan hasil yang sudah dicapai sudah sesuai dengan perencanaan”. Dengan kata lain melalui aktivitas pengawasan dapat diketahui apakah hasil yang dicapai itu berupa keberhasilan atau kegagalan dan apakah faktor pendorong atau faktor penghambatnya?

Sagala (2010:65) merangkum beberapa pengertian pengawasan dari beberapa pakar berikut:

(1) Oteng Sutisna menghubungkan fungsi pengawasan dengan tindakan administrasi. Baginya pengawasan dilihat sebagai proses administrasi melihat apakah apa yang terjadi itu sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi, jika tidak maka penyesuaian yang perlu dibuatnya. (2) Hadari Nawawi menegaskan bahwa pengawasan dalam administrasi berarti kegiatan mengukur tingkat efektivitas kerja personal dan tingkat efesiensi penggunaan metode dan alat tertentu dalam usaha mencapai tujuan. (3) Johnson mengemukakan pengawasan sebagai fungsi sistem yang melakukan penyesuaian terhadap rencana, mengusahakan agar penyimpangan-penyimpangan tujuan sistem hanya dalam batas-batas yang dapat ditoleransi.

(13)

1.2. Konsep Manajemen Pendidikan a. Pengertian Manajemen Pendidikan

Istilah manajemen dalam arti luas dipahami sebagai suatu proses kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu melalui kerjasama dengan orang lain. Dalam kaitannya dengan pendidikan, Engkoswara dan Komariah (2010:89) mengemukakan manajemen pendidikan sebagai “suatu upaya mencapai tujuan pendidikan melalui aktivitas perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, pembinaan, pengkoordinasian, pengkomunikasian, pemotivasian, penganggaran, pengendalian, pengawasan, penilaian, dan pelaporan secara sistematis”.

Usman (2011:13) menambahkan tujuan dan manfaat manajemen pendidikan, antara lain:

a. Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, menyenangkan dan bermakna;

b. Terciptanya siswa yang aktif mengembangkan potensi dirinya.

c. Terpenuhinya salah satu dari 5 kompetensi tenaga kependidikan, yaitu kompetensi manajerial.

d. Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

e. Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan.

f. Teratasinya masalah mutu pendidikan.

g. Terciptanya perencanaan pendidikan yang merata, bermutu, relevan, dan akuntabel.

h. Meningkatnya citra positif pendidikan.

(14)

pendidikan, tata lingkungan dan keamanan sekolah, dan hubungan dengan masyarakat.

b. Fungsi Manajemen Pendidikan

1) Perencanaan Pendidikan

Banghart dan Trull dalam Sagala (2010:56) mengemukakan: “Educational planning is first of all a rational process”. Artinya perencanaan pendidikan adalah langkah paling awal dari semua proses rasional. Dalam lingkup satuan pendidikan atau sekolah, perencanaan ini tertuang dalam RKAS (rencana kegiatan dan anggaran sekolah) yang dibuat oleh pimpinan sekolah secara kolaboratif, yakni melibatkan warga sekolah tentang program-program yang akan dilaksanakan baik dalam jangka waktu tertentu, seperti satu minggu, satu bulan, satu semester dan satu tahun, atau lebih dari itu.

Ruang lingkup perencanaan pendidikan menurut Sagala (2010:57) meliputi “administrasi sekolah dalam kurikulum, supervisi, kemuridan, keuangan, sarana dan prasarana, personal, layanan khusus, hubungan masyarakat, fasilitas proses belajar mengajar, dan ketatausahaan sekolah”. Dengan kata lain, melalui aktivitas perencanaan, sekolah menentukan sasaran melalui program-program yang jelas dan terukur.

2) Pengorganisasian Pendidikan

(15)

kerjasama satu sama lain agar proses pelaksanaan kegiatan nantinya dapat berjalan sukses.

Sagala (2010:60) menegaskan, “pengorganisasian sekolah adalah tingkat kemampuan kepala sekolah bersama guru, tenaga kependidikan dan personil lainnya melakukan semua proses manajerial”. Artinya, melalui aktivitas pengorganisasian kepala sekolah harus bisa menentukan struktur tugas, wewenang dan tanggung jawab (job description), serta menentukan fungsi-fungsi setiap personil secara seimbang sesuai tupoksi (tugas pokok dan fungsi).

Kompri (2015:101) mengungkapkan aktivitas pengorganisasian meliputi pembidangan dan pengunitan dengan manfaat sebagai berikut: “antara bidang yang satu dengan bidang yang lain dapat diketahui batas-batasnya, diketahui wewenang dan kewajibannya, serta hubungan vertikal dan horisontal dalam jalur struktural maupun jalur fungsional.”

Adapun prinsip yang harus dipenuhi agar tujuan pengorganisasian dapat tercapai menurut Kompri (2015:102) antara lain “memiliki tujuan yang jelas yang dipahami dan diterima oleh seluruh anggota, dan memiliki struktur organisasi yang menggambarkan adanya satu perintah, keseimbangan tugas, wewenang dan tanggung jawab”.

3) Pelaksanaan Pendidikan

(16)

sebelum seseorang memulai melaksanakan tugas, (2) memberikan petunjuk dan penjelasan mengenai pekerjaan yang akan dilakukan, (3) memberikan kesempatan untuk berpartisipasi berupa pemberian gagasan, usul atau saran, (4) mengikut sertakan guru dan pegawai, dan (5) memberikan nasehat dan motivasi.

Selanjutnya dalam fungsi pelaksanaan terdapat juga aktivitas pengkoordinasian. Menurut Sagala (2010:63) koordinasi dapat diwujudkan melalui:

(1) konferensi atau pertemuan lengkap yang mewakili unit kerja di sekolah, (2) pertemuan berkala untuk pejabat-pejabat tertentu, (3) pembentukan panitia gabungan, (4) pembentukan badan koordinasi staf untuk mengkoordinir sekolah, (5) mewawancarai personil sekolah berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya, (6) memorandum atau instruksi berantai, (7) ada dan tersedianya buku pedoman organisasi.

Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pendidikan berlangsung melalui aktivitas mengarahkan setiap komponen sekolah melalui pengkoordinasian atau komunikasi secara terus menerus untuk memastikan terlaksananya kegiatan sesuai dengan yang diharapkan.

4) Pengawasan Pendidikan

(17)

Pengawasan bisa berlangsung secara internal oleh kepala sekolah melalui kegiatan supervisi struktural ataupun klinis, dan eksternal oleh supervisor atau pengawas dari dinas pendidikan setempat. Di samping itu, dikenal juga model pengawasan akreditasi yang dilakukan oleh badan akreditasi yang menilai seluruh aktivitas sekolah berdasarkan kedelapan standar pendidikan (kompetensi lulusan, isi, proses, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan).

Mockler (dalam Kompri, 2015: 106) mengemukakan langkah-langkah dalam menyusun pengawasan sebagai berikut:

a. Memetakan standar dan metode mengukur prestasi kerja dimulai dari menetapkan tujuan atau sasaran secara spesifik dan mudah diukur. b. Pengukuran prestasi kerja secara berulang melalui pengamatan

langsung atau penggunaan instrumen survey yang berisi indikator efektivitas kerja.

c. Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar.

d. Mengambil tindakan korektif bila hasil pengukuran menunjukkan terjadi penyimpangan-penyimpangan.

Kompri (2015:106) menegaskan “pengawasan secara umum bertujuan untuk mengendalikan kegiatan agar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan”. Dengan kata lain, melalui pengawasan apa yang telah ditetapkan dalam rencana dan program, pembagian tugas dan tanggung jawab, dan pelaksanaannya senantiasa dipantau dan diarahkan sehingga tetap berada pada jalurnya demi tercapainya tujuan yang diharapkan.

(18)

2.1. Pengertian Pendidikan

Koesoema (2010:23) mengemukakan, “secara etimologis, kata pendidikan berasal dari dua kata kerja yang berbeda, yaitu dari kata educare dan educere. Kata educare memiliki konotasi ‘melatih’, ‘menjinakkan’, atau ‘menyuburkan”. Pendidikan dipahami sebagai sebuah proses membantu menumbuhkan, mengembangkan, dan mendewasakan, menata, menciptakan budaya dan keteraturan dalam diri siswa. Pengertian pendidikan seperti ini senada dengan pendapat kaum behavioris seperti Watson dan Skinner (dalam Mudyahardjo, 2001:7) yang menekankan pendidikan sebagai “proses perubahan tingkah laku”.

Di pihak lain, menurut John Dewey (dalam Muslich, 2011: 67) pendidikan adalah “proses pembentukan kecapakan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia. Sementara itu dalam konteks Indonesia, pengertian pendidikan secara sistematis tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 1 ditegaskan sebagai berikut:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

(19)

2.2. Pengertian Karakter

Secara etimologis istilah karakter berasal dari bahasa Yunani karasso, berarti ‘cetak biru’, ‘format dasar’, atau ‘sidik’ seperti dalam sidik jari. Wynne (dalam Mulyasa, 2011:3) mengemukakan bahwa “istilah karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti to mark ‘menandai’ dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari”.

Menurut Pusat Bahasa (dalam Kemendiknas, 2010:12) karakter diartikan sebagai “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak.” Berkarakter berarti berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan, dirinya, sesama dan lingkungannya dengan cara mengoptimalkan potensi dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya. Musfiroh (dalam Kemendiknas, 2010:12) menambahkan “karakter mengacu kepada serangkaian sikap, perilaku, motivasi dan keterampilan”.

(20)

Senada dengan pengertian karakter di atas, Ohoitimur (dalam Rataq dan Korompis, 2011:11), menegaskan bahwa “karakter personal terdiri dari dua unsur yakni karakter bawaan dan karakter binaan”. Karakter bawaan merupakan karakter yang secara hereditas (faktor keturunan) menjadi ciri khas kepribadiannya. Sedangkan karakter binaan merupakan karakter yang berkembang melalui pembinaan dan pendidikan secara sistematis. Dalam pengertian karakter binaan inilah, pendidikan karakter adalah sesuatu yang pasti bisa diwujudnyatakan.

2.3. Pengertian Pendidikan Karakter

Elkind dan Sweet (dalam Kemendiknas, 2010:13) mengemukakan pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical

values”. Pendidikan karakter adalah suatu usaha sengaja untuk membantu orang memahami, peduli dan bertindak menurut nilai-nilai etika. Sementara itu menurut Ramli (dalam Kemendiknas, 2010:13), “pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak”. Dengan kata lain, pendidikan karakter merupakan usaha untuk membentuk pribadi anak, supaya menjadi pribadi, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.

Koesoema (2010:42) mengemukakan bahwa “pendidikan karakter sebenarnya dicetuskan pertama kali oleh pedagog Jerman F.W. Foerster (1869-1966)”. Menurut Foerster terdapat empat ciri dasar pendidikan karakter. Pertama,

(21)

dapat mengakarkan diri teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Ketiga, otonomi atau kemampuan seseorang untuk menginternalisasikan aturan dari luar sehingga menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Keempat, keteguhan dan kesetiaan, yakni daya tahan seseorang untuk mengingini apa yang dipandang baik, sedangkan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Lickona (1991:51) menegaskan pendidikan karakter dimengerti sebagai “upaya habituasi atau pembiasaan untuk mengetahui/memikirkan yang baik (moral knowing), menghayati yang baik (moral feeling) dan melaksanakan yang baik (moral action)”. Dalam pengajaran kita kenal dengan ketiga ranah, kognitif, afektif dan psikomotorik.

Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan karakter. Namun sering muncul pertanyaan nilai-nilai apa yang harusnya diajarkan oleh sekolah? Lickona (1991:38) mengemukakan tentang nilai-nilai universal, “universal values-such as treating all people justly and respecting their lives, liberty, and

equality-bind all persons everywhere because they affirm our fundamental human

worth and dignity”. Artinya, nilai-nilai yang diajarkan haruslah nilai-nilai universal seperti memperlakukan orang lain secara adil, menghormati kehidupan, kebebasan, dan kesetaraan sebagai manusia. Nilai-nilai ini melekat dalam diri setiap orang di mana saja karena berkaitan dengan martabat manusia.

(22)

prestasi, bersahabat/komunikatif, gemar membaca, peduli lingkungan, dan peduli sosial, serta tanggung jawab”.

3. Manajemen Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter yang utuh dan menyeluruh akan terwujud jika dikelola dengan tepat. Pengelolaan yang dimaksudkan di sini terkait dengan fungsi-fungsi manajemen, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (actuating), dan evaluasi (evaluation) pendidikan karakter di sekolah.

3.1. Perencanaan Pendidikan Karakter

(23)

Perencanaan pendidikan karakter di sekolah dapat didesain dalam tiga basis, yakni kelas, kultur sekolah dan komunitas. Berikut intisari dari pemikiran Koesoema (2012:105-153).

a) Pendidikan karakter berbasis kelas

Desain kurikulum pendidikan karakter berbasis kelas terjadi melalui dua ranah yang berjalan seiring, yaitu instruksional dan non-instruksional. Pertama,

ranah instruksional yang dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu bersifat pengajaran tematis dan non-tematis. Pendidikan karakter berbasis kelas instruksional tematis adalah diberikannya materi pembelajaran tertentu tentang pendidikan karakter melalui proses belajar mengajar. Pendidik memilih satu tema tertentu untuk dibahas bersama. Sekolah mengalokasikan waktu khusus untuk pengembangan pembentukan karakter, baik melalui pengajaran tradisional, dialogis, diskusi kelompok, maupun pada pembuatan proyek bersama.

Selanjutnya, pendidikan karakter berbasis kelas instruksional non-tematis. Ini adalah sebuah model pendekatan pembelajaran bagi pembentukan karakter dengan mempergunakan momen-momen pembelajaran yang sifatnya terintegrasi dalam kurikulum, proses pembelajaran dan terkait secara inheren dalam materi pembelajaran. Sebagai contoh konkretnya, guru diminta membuat silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yang memuat kolom ‘karakter’.

Hal serupa dikemukakan juga oleh Ahmad Tafsir (2009:85). Menurutnya proses pengintegrasian pendidikan karakter dapat melalui beberapa cara berikut:

(24)

b. Pengintegrasian proses, yaitu guru menanamkan teladan kepada siswa dengan nilai-nilai karakter tersebut.

c. Pengintegrasian dalam memilih bahan ajar, yaitu guru-guru memilih materi yang memuat nilai-nilai.

d. Pengintegrasaian dalam memilih media pembelajaran, yaitu guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam memilih media pembelajaran.

Kedua, ranah non-instruksional bagi pendidikan karakter berbasis kelas tertuju pada penciptaan lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif bagi pembentukan atau pengembangan karakter siswa. Penciptaan lingkungan yang dimaksud meliputi manajemen kelas, pendampingan perwalian, dan membangun konsensus kelas.

b) Pendidikan karakter berbasis kultur sekolah

Dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah, berbagai macam momen dalam dunia pendidikan dapat menjadi titik temu. Momen pendidikan ini dapat bersifat struktural, polisional, dan eventual. Momen pendidikan yang struktural adalah peristiwa yang berkaitan erat dengan proses regulasi dan administrasi sekolah. Momen struktural ini di antaranya adalah proses pembentukan kesepakatan kerja, peraturan yayasan, peraturan sekolah, job description setiap jabatan dan kedudukan.

Momen pendidikan yang bersifat polisional adalah kebijakan pendidikan

(25)

tradisional adalah kebijakan rutin dalam rangka pengembangan pendidikan yang senantiasa berulang setiap tahun, seperti rapat-rapat kerja, pertemuan orangtua murid, penerimaan rapor, dan lain-lain.

Momen pendidikan yang bersifat eventual adalah peristiwa-peristiwa pendidikan yang terjadi secara khas dan muncul karena terjadinya peristiwa tertentu yang merupakan tanggapan nyata sekolah atas peristiwa di luar lembaga pendidikan, dan memengaruhi kinerja lembaga pendidikan. Momen pendidikan eventual ini tidak dapat diprediksi, namun membutuhkan keputusan dan tanggapan langsung dari pihak sekolah untuk menyikapinya.

Di samping itu, menumbuhkan kultur demokratis dalam lingkungan sekolah merupakan salah satu strategi pengembangan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Beberapa momen yang dapat menjadi praksis strategis pengembangan kultur demokratis di sekolah, di antaranya momen pengembangan diri seperti kelompok diskusi, jurnalistik, karya ilmiah, seni teater, menggambar, perayaan dan kekeluargaan, dies natalis sekolah, atau syukuran kelulusan, apresiasi dan pengakuan akan prestasi orang lain, masa orientasi sekolah, pemilihan para pengurus OSIS, dewan kelas, kebijakan pendidikan, kolegialitas antarguru, pengembangan professional guru dan merawat tradisi sekolah ataupun komite sekolah.

c) Pendidikan karakter berbasis komunitas

(26)

agar kehadiran lembaga pendidikan semakin bermakna dan bermutu, mampu menjawab aspirasi setiap anggota komunitas tentang harapan mereka, fungsi, dan peran lembaga pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Khan (2010:2) menambahkan perencanaan pendidikan karakter dapat didasarkan pada beberapa tipe konservasi atau pelestarian nilai berikut:

(1) Pendidikan karakter berbasis nilai religius yang bersumber pada kebenaran wahyu (konservasi moral). (2) Pendidikan karakter berbasis nilai budaya, antara lain berupa budi pekerti, pancasila, apresiasi sastra, keteladanan tokoh-tokoh sejarah dan para pemimpin bangsa (konservasi lingkungan). (3) Pendidikan karakter berbasis lingkungan (konservasi lingkungan). (4) Pendidikan karakter berbasis kompetensi diri, yaitu sikap pribadi dan pemberdayaan potensi diri (konservasi humanis).

Ciri khas pendidikan karakter dari setiap sekolah bisa saja berbeda, karena tipe konservasi yang dijadikan dasar nilai tidak sama.

3.2. Pelaksanaan Pendidikan Karakter

Kemendiknas (2011:23) mengemukakan implementasi pendidikan karakter harus memperhatikan beberapa prinsip berikut:

a. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter.

b. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku.

c. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif. d. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian.

e. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik.

f. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua siswa, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses.

g. Mengupayakan tumbuhnya motivasi diri pada para siswa.

h. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama.

(27)

j. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter.

k. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan siswa.

Prinsip-prinsip pendidikan karakter juga dikemukakan oleh Koesoema (2010:218-220) seperti di bawah ini:

a. Karaktermu ditentukan oleh apa yang kamu lakukan, bukan apa yang kamu katakan atau kamu yakini.

b. Setiap keputusan yang kamu ambil menentukan akan menjadi orang macam apa dirimu.

c. Karakter yang baik mengandaikan bahwa hal yang baik itu dilakukan dengan cara-cara yang baik, bahkan seandainya pun kamu harus membayarnya secara mahal, sebab mengandung risiko.

d. Jangan pernah mengambil perilaku buruk yang dilakukan oleh orang lain sebagai patokan bagi dirimu. Kamu dapat memilih patokan yang lebih baik dari mereka.

e. Apa yang kamu lakukan itu memiliki makna dan transformatif. Seorang individu bisa mengubah dunia.

f. Bayaran bagi mereka yang memiliki karakter baik adalah bahwa kamu menjadi pribadi yang lebih baik, dan ini akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk dihuni.

Di pihak lain Dasyim Budimasyah (dalam Gunawan, 2012: 36) berpendapat bahwa “program pendidikan karakter di sekolah perlu dikembangkan dengan berlandaskan pada prinsip kontinuitas (berkelanjutan), terintegrasi di dalam semua mata pelajaran dan berlangsung secara aktif dan menyenangkan (active learning)”.

Implementasi pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa metode yang dikemukakan oleh Koesoema (2010:212-217) dan secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut:

(28)

kurikulum. Cara lain adalah dengan mengundang pembicara tamu dalam sebuah seminar, diskusi, publikasi, dll, untuk secara khusus membahas nilai-nilai utama yang dipilih sekolah dalam kerangka pendidikan karakter bagi para siswa.

b. Keteladanan. Pendidikan karakter merupakan tuntutan terutama bagi para pendidik sendiri. Guru menjadi teladan dalam sikap dan perilaku yang benar, sehingga ada kesesuaian antara apa yang diajarkan dengan apa yang dilakukan.

c. Menentukan prioritas. Sekolah perlu menetapkan standar nilai dengan indikator-indikatornya yang jelas dan terukur. Penting untuk menentukan sejumlah perilaku standar yang diketahui dan dipahami oleh segenap komponen sekolah.

d. Praksis prioritas. Sekolah konsisten dengan verifikasi di lapangan tentang karakter yang ditetapkan. Verifikasi tidak lain adalah penetapan sanksi terhadap pelanggaran atas kebijakan sekolah.

e. Refleksi. Dengan refleksi dimaksudkan sekolah mengadakan semacam evaluasi untuk menilai capaian keberhasilan ataupun kegagalan dalam implementasi pendidikan karakter.

Di samping kelima unsur di atas, Koesoema pada bukunya yang lain (2012: 70-82) menambahkan berbagai metode berikut:

(29)

banyak pihak, (j) terintegrasi dalam kurikulum, (k) memberikan ruang bagi tindakan, (l) kepemimpinan pendidikan berkarakter, (m) sistem evaluasi berkesinambungan.

Metode pendidikan karakter juga dikemukakan oleh Mulyasa (2011: 165) sebagai berikut: “pembiasaan, keteladanan, pembinaan disiplin, hadiah dan hukuman, CTL (Contextual Teaching and Learning), bermain peran (Role Playing) dan pembelajaran partisipatif (Participative Instruction).”

Pada dasarnya terdapat banyak metode atau cara yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan pendidikan karakter. Metode yang paling tepat adalah metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.

3.3. Evaluasi Pendidikan Karakter

Evaluasi pendidikan karakter dilakukan untuk memantau, menilai, atau mengukur efektivitas program pendidikan karakter berdasarkan target yang hendak dicapai. Hasil evaluasi akan sangat berguna sebagai feedback atau umpan balik untuk menyempurnakan proses pelaksanaan program pendidikan karakter. Kemendiknas (2011:31-32) menegaskan tujuan evaluasi pendidikan karakter sebagai berikut:

a. Melakukan pengamatan dan pembimbingan secara langsung keterlaksanaan program pendidikan karakter di sekolah.

b. Memperoleh gambaran mutu pendidikan karakter di sekolah secara umum.

c. Melihat kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan program dan mengidentifikasi masalah yang ada, dan selanjutnya mencari solusi yang komprehensif agar program pendidikan karakter dapat tercapai.

(30)

e. Memberikan masukan kepada pihak yang memerlukan untuk bahan pembinaan dan peningkatan kualitas program pembentukan karakter. f. Mengetahui tingkat keberhasilan implementasi program pembinaan

pendidikan karakter di sekolah.

Koesoema (2012:200-207) mengemukakan, “sasaran evaluasi pendidikan karakter terdiri dari evaluasi program, evaluasi struktural, evaluasi individual, dan evaluasi komunitas”. Dengan kata lain, sasaran evaluasi adalah seluruh program yang telah dilaksanakan, struktural kelembagaan guna perbaikan sistem dan struktur yang membingkai cakupan tanggung jawab individu, siswa itu sendiri berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan dan relasi di antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, orangtua dengan guru, ataupun sekolah dengan masyarakat.

Evaluasi pendidikan karakter bisa juga mengacu pada panduan penilaian sikap yang dikemukakan oleh Kemendikbud (2015:7-13). Penilaian sikap dilakukan secara berkelanjutan oleh guru mata pelajaran, guru Bimbingan dan Konseling, wali kelas dengan menggunakan observasi dan informasi yang valid dan relevan dari berbagai sumber. Selain itu, dapat dilakukan penilaian diri (self assessment) dan penilaian antarteman (peer assessment) dalam rangka pembentukan karakter siswa yang hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu data untuk konfirmasi hasil penilaian sikap oleh guru. Teknik penilaian adalah observasi dengan instrumen jurnal atau lembaran pengamatan yang disertai indikator-indikator pada setiap butir nilai.

(31)

Data-data seperti kuantitas kehadiran, ketepatan menyerahkan tugas, menurunnya perilaku kekerasan, kerjasama dengan lembaga lain, prestasi akademis, dihargai kerja keras dan kejujuran, serta persoalan kedisplinan”. Dalam melaksanakan evaluasi ini diperlukan sikap yang terbuka, jujur, dan latihan terus menerus dari semua pihak yang terlibat. Metode yang ditawarkan antara lain observasi, penilaian diri, portofolio, refleksi pribadi, kuesioner, wawancara, jurnal, pembuatan indikator-indikator penilaian atau menggunakan standar kendali mutu yang telah dibuat oleh sekolah.

Evaluasi pendidikan karakter harus dilaksanakan secara objekftif artinya berdasarkan pada fakta dan data yang ditemukan dan diungkapkan secara jujur. Untuk itu diperlukan latihan terus menerus dari semua pihak yang terlibat agar terampil dalam menggunakan metode evaluasi yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.

B. Kajian Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian tentang manajemen pendidikan karakter sudah pernah dilakukan oleh beberapa pihak. Pertama, peneletian dengan judul “Manajemen Pendidikan Karakter Siswa Berasrama: Studi Kasus Pada SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon” oleh Riny Cintya Kumendong (2012:95-99). Penelitian ini menyoroti tentang bagaimana perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan karakter siswa berasrama. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil sebagai berikut:

(32)

konkret sesuai dengan waktu yang ditentukan. Di sekolah pendidikan karakter diintegrasikan dalam tiap-tiap mata pelajaran. Sedangkan di asrama pendidikan karakter dilaksanakan dalam bentuk pembinaan dan pendampingan personal maupun kelompok. (3) Evaluasi pendidikan karakter di SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, dilakukan dengan menggunakan catatan data-data yang secara valid dibuat berdasarkan observasi. Sementara itu, asrama menggunakan rapor yang dengan indikator-indikator yang didasarkan pada tiga nilai utama (motto sekolah dan asrama), veritas, virtus, fides (kebenaran, kebajikan, iman) Nilai pendidikan karakter dibuat dalam bentuk penilaian kualitatif, bukan kuantitatif.

Relevansinya dengan penelitian ini adalah terletak pada konsep dasar manajemen dan fungsi-fungsi manajemen, serta konsep pendidikan karakter yang akan digunakan, diterapkan dan dikembangkan pada lingkungan pendidikan formal seperti sekolah yang merupakan inti dari objek penelitian ini. Perbedaannya terletak pada objek dan lokasi penelitian.

(33)

pembudayaan dalam bentuk fisik, dan pembudayaan melalui pemberian reward

dan punishment. (3) Implementasi pendidikan karakter di SD Muhammadiyah Wirobrajan mengalami hambatan-hambatan seperti kurangnya komitmen guru dan karyawan dalam pelaksanaan pendidikan karakter, terkendalanya sarana dan prasarana berkaitan dengan pengembangan karakter dan kurangnya partisipasi orangtua dalam pendampingan anak.

Relevansi penelitian ini terletak pada optimalisasi fungsi manajemen dalam perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan pendidikan karakter. Sedangkan perbedaannya terletak pada salah satu rumusan masalah. Penelitian Nailasariy menyoroti semua fungsi manajemen dan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pendidikan karakter, sementara penelitian pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon lebih bertitik tolak pada ketiga fungsi manajemen, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Ketiga, penelitian yang dibuat oleh Arif Widiatmo dalam Tesisnya dengan judul “Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Semarang” (Semarang: IKIP PGRI, 2013). Dari penelitian ini ditemukan beberapa hal berikut: (1) Perencanaan pendidikan karakter di SMA Negeri 5 Semarang melibatkan semua guru. (2) Pengorganisasian pendidikan karakter di SMA Negeri 5 Semarang melibatkan semua komponen sekilah. (3) Pelaksanaan pendidikan karakter di SMA Negeri 5 Semarang terjalin baik karena komunikasi dalam bergaul berjalan baik. (4) Pengawasan terhadap pendidikan karakter di SMA Negeri Negeri 5 Semarang saling bekerjasama seluruh komponen yang ada.

(34)

pendidikan karakter, baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Sedangkan perbedaannya terletak pada objek penelitian.

(35)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yakni mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap suatu objek yang diteliti. Adapun pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, yakni penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) (Sugiyono, 2011:14). Alasan penggunaan metode dan pendekatan ini adalah peneliti bermaksud mendapatkan pemahaman secara lebih mendalam tentang manajemen pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon. Waktu penelitian dilaksanakan selama 6 (enam) bulan terhitung sejak penyusunan proposal penelitian hingga perbaikan tesis (Juni-November 2016).

C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder (Moleong, 2007:157).

- Sumber data primer diperoleh dari informan yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran dan guru Bimbingan dan Konseling serta perwakilan siswa.

(36)

D. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik pengumpulan data ini dikenal dengan istilah triangulasi, yakni “teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada” (Sugiyono, 2011:330). Melalui ketiga teknik pengumpulan data tersebut, peneliti mendapatkan informasi tentang perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan karakter pada SMA Kristen Binsus 2 Tomohon.

E. Teknik Analisis Data

(37)

Selanjutnya, model interaktif dalam analisis data yang digunakan adalah model yang dibuat oleh Miles dan Huberman berikut ini:

Gambar 3.1 Model interaktif dalam analisis

Pertama, peneliti melakukan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi), diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, menggunakan bahan referensi, dan member check (credibility atau derajat kepercayaan).

Kedua, peneliti mendeskripsikan secara rinci, jelas, dan sistematis temuan-temuan yang diperolah di lapangan ke dalam format yang telah disiapkan. (transferability atau keteralihan).

Ketiga, peneliti melakukan audit keseluruhan aktivitas yang telah dilakukan selama penelitian (dependability atau kebergantungan).

(38)

BAB IV

PAPARAN DATA, TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Paparan Data

1. Paparan Data tentang Gambaran Umum Sekolah

Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara dan studi dokumentasi, maka diperoleh beberapa informasi tentang gambaran umum SMA Kristen 2 Binsus Tomohon sebagai berikut:

1.1. Sejarah Singkat

SMA Kristen 2 Binsus Tomohon awalnya bernama SMU Kristen Model dan merupakan kelas Binaan Khusus (Binsus) dari SMU Kristen Tomohon (sekarang SMA Kristen 1 Tomohon), yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Sidang Badan Pekerja Sinode Lengkap (SBPSL) GMIM ke-71 di Tenga tanggal 30 Maret - 2 April 1993 tentang Program Umum dan ABP GMIM 1993-1994 Bab 1 butir c, nomor 6.1.1.

Pada permulaan Tahun pelajaran1993-1994, YPPK-GMIM (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Kristen-Gereja Masehi Injii di Minahasa) memberikan gedung bekas SMKK Kristen Tomohon yang terletak di samping barat lokasi SMU Kristen Tomohon. Kegiatan belajar mengajar dan administrasi SMU Kristen Model masih ditangani oleh SMU Kristen Tomohon.

(39)

SMA Kristen 2 Tomohon sebagai sekolah Binaan Khusus memberikan pendidikan yang memfokuskan program pendidikan khusus pada siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa yang mengacu pada pasal 32 UU No 20 Tahun 2003 yang menegaskan tentang pendidikan khusus. Sejalan dengan itu pula maka sebagai suatu satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Gereja Masehi Injili di Minahasa melalui Yayasan GMIM Ds. AZR Wenas, SMA Kristen 2 (Binsus) Tomohon merasa terpanggil untuk meneruskan misi pelayanan di bidang pendidikan sebagaimana sudah dirintis oleh Riedel dan Schwarz (penginjil asal Jerman yang menyebarkan Agama Kristen Protestan di Minahasa).

1.2. Identitas Sekolah

Identitas SMA Kristen 2 Binsus Tomohon adalah sebagai berikut: a. Nama sekolah : SMA Kristen 2 Binsus Tomohon

b. NSS : 302176202.002

c. NDS : Q. 02164601

d. NPSN : 40103173

e. Status : Terakreditasi “A”

f. Alamat sekolah

Provinsi : Sulawesi Utara

Kota : Tomohon

Kecamatan : Tomohon Tengah

Kelurahan : Talete II

Jalan : Kampus

Kode pos : 95441

(40)

E-mail : smakr2_binsus_tomohon@yahoo.com

Website : www.smakr2-tomohon-sch.id

1.3. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran SMA Kristen 2 Binsus Tomohon a. Visi

Cerdas, mandiri, disiplin, berdaya saing dan berkarakter kristiani. b. Misi

- Memberikan pelayanan prima kepada segenap warga sekolah dan

stakeholder terkait.

- Melaksanakan pembelajaran yang bermutu dan efektif.

- Melaksanakan kegiatan yang mampu merangsang warga sekolah untuk berprestasi secara akademik dan non akademik.

- Melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler yang mampu menumbuhkan kreatifitas siswa.

- Menampilkan perilaku yang menjunjung tinggi nilai kristiani. c. Tujuan

- Terbentuknya iklim sekolah dengan budaya yang berkarakter kristiani. - Terlaksananya pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan

menyenangkan.

- Tersedianya kurikulum yang bermakna bagi kehidupan dengan mengacu pada perkembangan IPTEK, berwawasan keunggulan dan berbasis kompetensi.

(41)

- Terikutsertanya siswa dalam berbagai lomba dengan hasil sebagai finalis. - Terbentuknya karakter siswa yang memiliki semangat dan cinta tanah air. - Terlaksananya manajemen berbasis sekolah dengan teknik manajemen

mutu terpadu yang efektif.

- Terlaksananya pembelajaran dan pengelolaan administrasi berbasis teknologi, informasi dan komunikasi.

- Terlaksananya pendidikan berbasis keunggulan lokasi ekowisata yang terintegrasi pada mata pelajaran muatan lokal dan keterampilan.

- Tersedianya sarana dan prasarana sesuai dengan tuntutan kurikulum. d. Sasaran (2015-2016)

- Terwujudnya iklim sekolah yang kondusif dan berwawasan kristiani melalui manajemen efektif yang demokratis, transparan, dan akuntabel. - Tersedianya kurikulum bermakna, dinamis, berwawasan keunggulan dan

berbasis kompetensi.

- Terlaksananya proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sehingga mampu menghasilkan tamatan yang berkualitas unggul dalam kecerdasan, kemandirian, dan disiplin dengan prestasi belajar rata-rata minimal 7.50.

- Meningkatnya kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. - Tersedianya fasilitas pendidikan sesuai dengan tuntutan kurikulum. - Bertumbuhnya minat, bakat dan prestasi akademik dan non akademik

siswa.

(42)

Bagan 4.1.

Struktur Organiasi SMA Kristen 2 Binsus Tomohon Tahun Pelajaran 2016-2017

Kepala Sekolah

Drs. Arnold Posumah, MM

Komite Sekolah

Kepala Administrasi

Dra. Sarah Wahani

Pelaksana Urusan

Wakasek Bidang Sarana-Prasarana

Agustina Aror, S.Pd

Wakasek Bidang Kesiswaan

Ir. Nilly Pasuhuk

Wakasek Bidang Akademik

Ferly J.W. Rau. S.Pd

Wakasek Bidang Hubmas

Emmor Sujadi, SS

Kelompok Guru

Penasehat Akademik Kelompok GuruEkstrakurikuler

Siswa Kelompok Guru

(43)

1.5. Kurikulum

SMA Kristen 2 Binsus Tomohon menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Struktur kurikulum mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) dengan memperhatikan minat siswa dan sarana belajar yang ada. Para siswa di kelas X belum dibagi dalam jurusan. Ketika di kelas XI barulah mereka diseleksi untuk jurusan IPA dan IPS. Jurusan IPA baik di kelas XI dan XII masing terdiri dari 3 kelas, dan jurusan IPS masing-masing 1 kelas.

Muatan kurikulum kelas X terdiri dari 16 mata pelajaran (Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Seni Budaya, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bahasa Jepang), muatan lokal (Prakarya dan Kewirausahaan), program pengembangan diri (Bimbingan dan Konseling juga Ekstrakurikuler).

Sementara itu untuk kelas XI dan XII terdiri dari 13 mata pelajaran (jika jurusan IPS, berarti tanpa mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi dan jika jurusan IPA, berarti tanpa mata pelajaran Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi), muatan lokal (Prakarya dan Kewirausahaan untuk kelas XI dan English For Tourism untuk kelas XII), dan program pengembangan diri (Bimbingan Konseling dan Ekstrakurikuler). Alokasi waktu 1 jam pelajaran untuk semua kelas adalah 45 menit dengan pengaturan waktu belajar Senin 0700-14.30 sudah termasuk Upacara Bendera, Selasa- Jumat 07.00 – 13.45, dan Sabtu adalah hari khusus untuk kegiatan pengembangan diri.

(44)

Biologi untuk kelas X. Sedangkan untuk kelas XI dan XII diberikan mata pelajaran sesuai jurusan sebagai persiapan ujian nasional. Khusus mata pelajaran Bahasa Indonesia hanya diberikan pada kelas XII semua jurusan.

1.6. Kegiatan Pengembangan Diri

Ruang lingkup pengembangan diri pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon meliputi pelayanan Bimbingan dan Konseling dan kegiatan ekstrakurikuler. Pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi pengembangan kehidupan pribadi, sosial, belajar, wawasan dan perencanaan karir. Strategi yang digunakan antara lain orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konsultasi, mediasi dan kunjungan rumah.

Selanjutnya, untuk pengembangan diri melalui kegiatan ekstrakurikuler meliputi kegiatan kepramukaan, karya ilmiah remaja, palang merah indonesia, seni (paduan suara, kolintang, group band, teater, dan maching band), olahraga (bulu tangkis, volly, tenis meja, basket, sepak bola/futsal, catur), keagamaan dan

study club (Kimia, Fisika, Biologi, Matematika, Ekonomi, ECC, TIK, Kebumian/Geografi, UUD 1945/ Ketetapan MPR).

(45)

Pengembangan diri juga berlangsung melalui keteladanan dalam hal berpakaian rapih, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan keberhasilan orang lain, dan datang tepat waktu. Selanjutnya terdapat kegiatan pengembangan diri terprogram, seperti penyelenggaran layanan dan kegiatan pendukung konseling, karya ilmiah, latihan/lomba keterbakatan/prestasi, seminar,

workshop/ bazaar dan kegiatan lapangan. Lebih lanjut ditambahkan metode pengembangan diri dengan cara pengkondisian. Maksudnya, sekolah mengondisikan suasana yang mendorong terbentuknya perilaku terpuji seperti memberi salam seusai pelaksanaan upacara bendera dan kegiatan lainnya.

1.7. Keadaan Guru, Pegawai, dan Siswa a. Keadaan Guru

Keadaan guru pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon cukup memenuhi kebutuhan mengajar untuk mata pelajaran yang berbeda. Idealnya, setiap guru dapat fokus pada mata pelajaran yang menjadi bidang keahliannya. Misalnya pada pelajaran Ekonomi dan Seni Budaya guru pengampuhnya adalah orang yang sama. Begitupula dengan pelajaran Kimia dan TIK. Pelajaran Matematika dan Fisika, Muatan Lokal dan Seni Budaya, Bahasa Inggris dan Seni Budaya.

Dari segi jenjang pendidikan, terdapat 6 guru S2, 16 guru S1, dan 1 guru SMA, sehingga semuanya berjumlah 23 guru. Untuk status kepegawaian, 7 guru PNS (Pegawai Negeri Sipil), 3 PTG (Pegawai Tetap Gereja), 5 GTY (Guru Tetap Yayasan), 7 GTT (Guru Tidak Tetap) dan 1 GTS (Guru Tetap Sekolah).

b. Keadaan Pegawai

(46)

tenaga perpustakaan/pelayanan istirahat, administrasi sarana-prasarana/tenaga perpustakaan, pengemudi/administrasi umum, penjaga sekolah, serta penata taman/kebun. Terdapat 4 pegawai yang memiliki jenjang pendidikan S1, dan sisanya SMA/SMP.

c. Keadaan Siswa dan Prestasinya

SMA Kristen 2 Binsus Tomohon membatasi jumlah penerimaan siswa, sehingga proses seleksi yang dilakukan sangat ketat. Siswa yang diterima adalah mereka yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) di atas rata-rata dan memiliki karakter yang baik, motivasi kuat, siap dididik dan dibina. Jumlah siswa disesuaikan dengan daya tampung asrama. Pada tahun pelajaran2016-2017 ini jumlah siswanya adalah sebagai berikut: kelas X, laki-laki 58 orang dan perempuan 59 orang. Kelas XI, laki-laki 43 orang dan perempuan 62 orang. Selanjuntya kelas XII, laki-laki 31 orang dan perempuan 69 orang. Jadi total siswa adalah 322 orang dan semuanya tinggal di asrama.

Sekolah ini memiliki siswa yang banyak mengukir prestasi. Hal ini tampak dari banyaknya piala yang dipajang di lemari dekat pintu masuk sekolah. Beberapa di antaranya prestasi di bidang sains, seni dan olahraga. Prestasi yang pastinya paling membanggakan sekolah adalah penghargaan “Sekolah Berintegritas” dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Penghargaan ini diberikan pada tanggal 30 Desember 2015.

1.8. Keadaan Sarana Prasarana Sekolah

(47)

2 ruang kelas X, 3 ruang kelas XI IPA, 1 ruang kelas XI IPS, 2 ruang kelas XII IPA, 1 ruang kelas XII IPS, 2 ruang UKS putra dan putri, 1 ruang BK, 1 ruang ibadah/aula, laboratorium Kimia, laboratorium Fisika, perpustakaan, laboratorium Komputer, koperasi sekolah, kantin, ruang penjaga sekolah, lapangan olahraga, ruang sirkulasi, gudang, ruang OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), serta jamban.

1.9. Hubungan Eksternal

Pendidikan adalah tanggung jawab orangtua, pemerintah, gereja, dan masyarakat. Untuk itu pihak sekolah berupaya untuk menjaga hubungan yang baik pertama-tama dengan orangtua melalui komunikasi intensif mengenai perkembangan siswa. Kedua, kerjasama dengan pemerintah melalui dinas pendidikan berkaitan dengan kebijakan pendidikan dan keterlibatan sekolah dalam setiap program pengembangan yang diselenggarakan oleh dinas. Ketiga, gereja dalam hal ini Sinode GMIM, karena sekolah ini berorientasi pada pendidikan Kristen (Yayasan GMIM Ds. A.Z.R. Wenas). Keempat, kerjasama dengan masyarakat, khususnya lembaga pendidikan tinggi atau universitas yang ada di Indonesia. Selain itu, pihak sekolah telah mengembangkan hubungan eksternal melalui website sekolah (http://www.smakr2-tomohon.sch.id) dan media sosial seperti Facebook.

2. Paparan Data Berdasarkan Rumusan Masalah

(48)

temuan penelitian yang diperoleh melalui pengamatan, wawancara dan studi dokumentasi. Temuan penelitian akan dipaparkan secara sistematis sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan.

2.1. Perencanaan Pendidikan Karakter Pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon

a. Paparan Data Berdasarkan Pengamatan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti pada Selasa, 12 September 2016 ditemukan suatu informasi tertulis berupa poster visi, misi dan tujuan sekolah yang terpampang rapih di ruang tamu. Hal ini menandakan bahwa pada dasarnya sekolah mulai merencanakan pendidikan karakter sejak perumusan visi, misi dan tujuan sekolah. Dari situ telah dipaparkan sejumlah nilai yang akan dicapai oleh siswa melalui program-program yang disusun. Sejumlah nilai yang dimaksud antara lain cerdas, mandiri, disiplin, berdaya saing dan berkarakter kristiani (selengkapnya lihat lampiran kode TO-1).

b. Paparan Data Berdasarkan Wawancara

Perencanaan adalah langkah awal untuk memulai suatu kegiatan. Untuk itu berkaitan dengan perencanaan pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon, kepala sekolah mengemukakan hal-hal sebagai berikut:

(49)

itu dilakukan review bersama dalam suatu pertemuan agar dapat dihasilkan suatu pedoman yang siap disosialisasikan kepada orangtua. Sangat diharapkan orangtua dapat memberikan dukungan positif, karena pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama. Beberapa kegiatan atau program yang menjadi wadah atau ruang bagi pengembangan karakter siswa, kami cantumkan dalam program kerja sekolah yang biasanya kami susun setiap awal tahun pelajaran baru (TW-1-AP).

Pernyataan berbeda dikemukakan oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang merangkap tugas sebagai pengasuh asrama. Ketika ditanya tentang perencanaan pendidikan karakter, beliau lebih memfokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya seperti berikut ini:

Perencanaan yang kami buat terdiri dari jadwal pembinaan pada apel pagi dan perencanaan program kegiatan kesiswaan. Pada apel pagi materi pembinaan sudah ditentukan, yaitu berkaitan dengan nilai-nilai karakter seperti beriman, disiplin, jujur, peduli sesama, saling menghargai, kebersihan, dan lain-lain. Pemberi pembinaan digilir dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru-guru. Sedangkan program kerja bagian kesiswaan erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab wakil kepala sekolah bidang kesiswaan sebagaimana diatur dalam surat tentang rincian tugas. Kami juga menyusun buku saku untuk tata tertib siswa di sekolah dan asrama (TW-2-NP).

Di pihak lain, wakil kepala sekolah bidang hubungan masyarakat (hubmas), mengemukakan perencanaan pendidikan karakter sebagai berikut:

(50)

Perspektif berbeda tentang perencanaan pendidikan karakter disampaikan oleh seorang guru Seni-budaya merangkap Bahasa Inggris, dan Muatan Lokal. Beliau mengatakan demikian:

Perencanaan pendidikan karakter displin, jujur, mandiri, bertanggung jawab dan seterusnya telah dilakukan sejak awal dicetuskannya program siswa binaan khusus. Program ini bermula dari kelas khusus pada SMA Kristen 1 Tomohon. Sekilas sejarah, pada bulan Juli 2003, program ini berkembang dan berdirilah SMA Kristen 2 Binsus. Latar belakang diberi nama binsus adalah keterpanggilan sekolah untuk mendidik dan membina siswa-siswi pilihan, yakni mereka yang memiliki kemampuan khusus akademik, kepribadian (awalnya) dan non-akademik (berkembang kemudian). Selain kekhususan dari pihak siswa, sekolah pun mengambil bagian dalam pemberian pelayanan khusus, dalam arti pelayanan berkualitas yang benar-benar melatih siswa untuk memiliki kemampuan akademik dan karakter yang unggul. Sebagai contoh dalam pembelajaran diberikan tugas-tugas presentasi untuk melatih kemampuan berkomunikasi ilmiah, kemandirian dan kerjasama, serta kreativitas. Hal-hal tersebut sudah direncanakan secara integratif di dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP (TW-4-CK). Pernyataan selengkapnya dikemukakan oleh seorang guru Pendidikan Agama Kristen sebagai berikut:

(51)

yang diharapkan dapat membudaya dalam keseharian mereka, baik di sekolah maupun di asrama (TW-9-DMP).

Selanjutnya, dipandang perlu untuk mendapatkan informasi dari guru Bimbingan dan Konseling, mengingat peranannya yang tergolong penting dalam pendidikan karakter. Tentang perencanaan pendidikan karakter beliau mengemukakan sebagai berikut:

Kami telah menyusun program kerja semester dan tahunan dan materi-materi yang diberikan didasarkan pada modul KTSP 2006 yang disusun oleh musyawarah guru pembimbing Jakarta. Ada 4 kategori layanan yang menjadi fokus kami, yaitu pribadi, sosial, belajar dan karier. Layanan BK lebih banyak dilakukan di asrama pada sore hari, karena waktu di sekolah sangat terbatas. Layanan konseling kami berikan secara klasikal, yaitu 1-2 ruang putra/putri setiap jumat dan sabtu sore (jika bukan jadwal pulang rumah). Topik-topik yang dibahas di dalam kelompok selain berdasar pada modul yang ada, juga mencakup masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa pada umumnya, seperti masalah hubungan kakak kelas – adik kelas, teman kamar, pacaran dan lain-lain. Selanjutnya terdapat juga layanan individual yang dalam perencanaan dibuat setiap senin – kamis (TW-5-SK).

Informasi-informasi di atas membuktikan bahwa pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon, benar-benar dilakukan secara terencana. Perencanaan dibuat pada awal semester atau awal tahun pelajaran dengan merumuskan nilai-nilai yang hendak dicapai, melibatkan segenap komponen sekolah, dan terintegrasi dalam setiap mata pelajaran serta budaya sekolah dan asrama.

c. Paparan Data Berdasarkan Studi Dokumentasi

(52)

1) Program Kerja Sekolah Tahun Pelajaran 2015-2016

Perencanaan pendidikan karakter dibuat secara integratif atau terpadu dengan perencanaan program kerja sekolah (lampiran TD-4). Program kerja sekolah disusun untuk mencapai visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah serta pemenuhan kualifikasi kedelapan standar nasional pendidikan (standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian).

Hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan pendidikan karakter tidak disebutkan secara eksplisit, melainkan secara implisit pada program sekolah. Beberapa program yang terkait erat dengan pendidikan karakter antara lain:

- Pemenuhan ruang asrama.

- Pemenuhan ruang konseling.

- Pemenuhan ruang olahraga.

- Peningkatan kemampuan guru BK dalam program layanan konseling.

- Pembentukan penasehat akademik.

- Penyusunan program pengembangan diri berupa layanan konseling dan pengembangan kreativitas siswa.

- Pembinaan prestasi unggulan siswa.

(53)

- Menyusun peraturan akademik.

- Merevisi tata tertib siswa, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

- Merevisi kode etik sekolah.

- Menyusun pedoman pembelajaran.

- Menyusun pedoman pemilihan mata pelajaran sesuai dengan potensi siswa.

- Membuat panduan untuk menjajaki potensi siswa, dan

- Membuat pedoman penilaian.

2) Rincian Tugas dan Tanggung Jawab

Perencanaan pendidikan karakter pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon dapat ditemukan dalam dokumen tentang rincian tugas kepala sekolah, wakil kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, dan tenaga lainnya (lampiran TD-1). Dari dokumen ini didapati bahwa semua pihak bertugas dan bertanggung jawab terhadap terlaksananya pendidikan karakter di sekolah ini. Ditegaskan dalam rincian tugas masing-masing untuk memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan.

(54)

kurikuler untuk siswa, (3) mengatur pelaksanaan Bimbingan dan Konseling, (4) melakukan pembinaan prestasi unggulan, (5) mengkoordinasikan dengan pembina akademik dalam pembinaan disiplin siswa, (6) mengawasi pelaksanaan tata tertib siswa bersama-sama pembina OSIS, pendidik dan tenaga kependidikan, (7) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan.

Kedua, Penasehat Akademik (PA). PA memberikan bantuan berupa nasehat akademik kepada siswa agar studinya selesai dengan baik. Beberapa tugasnya yang berkaitan dengan pendidikan karakter antara lain: (1) mendeteksi potensi siswa dari hasil psikotes dengan membuat album profil siswa serta menganalisis keunggulan dan kelemahan siswa, (2) mengonsultasikan dan memediasi masalah siswa dengan pihak terkait, (3) mengarahkan siswa untuk mengikuti kegiatan pengembangan diri, (4) membantu siswa mengembangkan kepribadian yang cerdas, mandiri, berdisiplin dan bermoral kristiani.

(55)

3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Sudah menjadi kewajiban guru untuk melakukan persiapan sebelum mengajar, melalui penyusunan RPP (lampiran TD-12). RPP memuat kompetensi dasar, tujuan, materi, proses pembelajaran, sumber, alat dan bahan, serta rencana penilaiannya. Berkaitan dengan perencanaan pendidikan karakter, indikatornya dapat dilihat jelas pada tujuan pembelajaran.

Di dalam RPP disebutkan secara eksplisit tujuan pembelajaran aspek afektif/pendidikan karakter. Sebagai contoh pada pembelajaran Kimia, tujuan pembelajaran aspek afektif/pendidikan karakter adalah sebagai berikut: “melalui kegiatan pembelajaran ini siswa diharapkan mampu mengembangkan nilai: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab”.

2.2. Pelaksanaan Pendidikan Karakter Pada SMA Kristen 2 Binsus Tomohon

a. Paparan Data Berdasarkan Pengamatan

Beberapa informasi tentang pelaksanaan pendidikan karakter yang diperoleh dari hasil pengamatan pada Selasa, 12 September dan Kamis 14 September 2016 adalah sebagai berikut (lampiran TO-1, TO-2):

Figur

Gambar 3.1 Model interaktif dalam analisis
Gambar 3 1 Model interaktif dalam analisis. View in document p.37
Tabel 4.1. Integrasi Kecakapan Hidup dalam Mata Pelajaran
Tabel 4 1 Integrasi Kecakapan Hidup dalam Mata Pelajaran. View in document p.64
Tabel 4.2. Rapor Akhlak Mulia dan Kepribadian
Tabel 4 2 Rapor Akhlak Mulia dan Kepribadian. View in document p.75

Referensi

Memperbarui...