Salim. H,S, Hukum Kontrak: Keseluruhan kaidah-kaidah hukum yang
mengatur hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.
Charles L Knapp dan Nathan M Crystal, Hukum Kontrak : Mekanisme
hukum dalam masyarakat untuk melindungi harapan-harapan yang timbul dalam pembuatan persetujuan demi perubahan masa yang akan datang yang bervariasi kinerja, seperti pengangkutan kekayaan (yang nyata maupun yang tidak nyata), kinerja pelayanan, dan
pembayaran dengan uang.
Lawrence M. Friedman, Hukum Kontrak: Perangkat hukum yang hanya
mengatur aspek tertentu dari pasar dan mengatur jenis perjanjian tertentu.
Michael D Bayles, Hukum kontrak: Aturan hukum yang berkaitan dengan
pelaksanaan perjanjian atau persetujuan.
Subjek Hukum adalah segala sesuatu yang dapat mempunyai hak
dan kewajiban untuk bertindak dalam hukum.
Subjek Hukum dibagi atas 2 bagian, yaitu :
1. Manusia (orang)
Adalah setiap orang yang mempunyai kedudukan yang sama selaku pendukung hak dan kewajiban. Pada prinsipnya orang sebagai subjek hukum dimulai sejak lahir hingga meninggal dunia.
(termasuk anak dalam kandungan (umur lebih dari 2 minggu dianggap telah lahir meskipun belum lahir, bilamana juga kepentingan si anak menghendaki). Contoh untuk kepentingan warisan.
2. Badan Hukum
Menurut Pasal 1653 KUHPerdata badan hokum adalah perhimpunan orang-orang yang diakui oleh undang-undang atau yang diadakan oleh kekuasaan umum dan yang didirikan untuk suatu maksud tertentu
yang tidak bertentangan dengan undang-undang atau kesusilaan”
1. Unsur Esensilia
Unsur esensiali merupakan unsur yang harus ada dalam suatu kontrak karena
tanpa adanya kesepakatan tentang unsur esensiali ini maka tidak ada kontrak. Sebagai contoh, dalam kontrak jual beli harus ada kesepakatan mengenai
barang dan harga dalam kontrak jual beli, kontrak tersebut batal demi hukum karena tidak ada hal tertentu yang diperjanjikan.
2. Unsur Naturalia
Unsur Naturalia merupakan unsur yang telah diatur dalam undang-undang
sehingga apabila tidak diatur oleh para pihak dalam kontrak, undang-undang yang mengaturnya. Dengan demikian, unsur naturalia ini merupakan unsur yang selalu dianggap ada dalam kontrak. Sebagai contoh, jika dalam kontrak tidak diperjanjikan tentang cacat tersembunyi, secara otomatis berlaku
ketentuan dalam BW bahwa penjual yang harus menanggung cacat tersembunyi.
3. Unsur Aksidentalia
Unsur aksidentalia merupakan unsur yang nanti ada satu mengikat para pihak
jika para pihak memperjanjikannya. Sebagai contoh, dalam kontrak jual beli dengan angsuran diperjanjikan bahwa apabila pihak debitur lalai membayar
selama tiga bulan berturut-turut, barang yang sudah dibeli dapat ditarik kembali oleh kreditor tanpa melalui pengadilan. Demikian pula oleh klausul-klausul
lainnya yang sering ditentukan dalam suatu kontrak, yang bukan merupakan unsure esensial dalam kontrak tersebut.
1. Asas Kebebasan Berkontrak
Ahmadi Miru kebebasan itu berupa :
-Bebas menentukan apakah ia akan melakukan perjanjian atau tidak; -Bebas menentukan dengan siapa ia akan melakukan perjanjian; -Bebas menentukan isi atau klausul perjanjian
-Bebas menentukan bentuk perjanjian; dan
-Kebebasan-kebebasan lainnya yang tidak bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan
Pasal 1338: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
Subekti, asas kebebasan berkontrak=>Asas otonomi karena para pihak membuat
undang-undang bagi mereka sendiri.
Asas Kebebasan Berkontrak=>Prinsip umum dan tertulis diakui sebagian besar
Negara di dunia =>Prinsip universal
Konsensual secara sederhana diartikan sebagai kesepakatan.
Dengan tercapainya kesepakatan antara para pihak lahirlah kontrak,
meskipun kontrak pada saat itu belum dilaksanakan.
Hal ini berarti juga bahwa dengan tercapinya kesepakatan oleh para
pihak melahirkan hak dan kewajiban bagi mereka yang
membuatnya=> Perjanjian itu bersifat obligatoir, yakni melahirkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi kontrak tersebut.
Asas konsensualisme tidak berlaku bagi semua jenis kontrak, hanya
berlaku bagi kontrak konsensual terhadap kontrak formal dan riel tidak berlaku.
Asas konsensual dapat dilihat pada Pasal 1320 ayat 1 KUH Perdata,
bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kesepakatan kedua belah pihak.
Disebut juga asas mengikatnya suatu
perjanjian/kontrak atau asas kepastian hukum
Asas ini bertujuan agar hakim atau pihak ketiga harus
menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para
pihak sebagai mana layaknya suatu undang-undang
Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap
substansi kontrak yang dibuat para pihak
Asas ini dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat 1
KUH Perdata: “Perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang.”
Pasal 1338 (3): “Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad
baik”.
Merupakan asas bahwa para pihak, yaitu kreditur dan debitur
harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan
kepercayaan atau keyakinan yang teguh atau kemauan baik
dari para pihak.
Dibagi 2:
Itikad baik nisbi=>orang memperhatikan sikap dan tingkah laku
yang nyata dari subjek.
Itikad baik mutlak=>penilainnya terletak pada akal sehat dan
keadilan dibuat ukuran yang objektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif.
Asas kepribadian merupakan asas yang
menentukan bahwa seseorang yang akan
melakukan dan atau membuat kontrak hanya
untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini
dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340
KUHPerdata.
Pengecualian ( Pasal 1317 dan 1318 KUHPerdata)
Disamping kelima asas itu,didalam lokakarya hukum perikatan yan
diselenggarakan oleh pembinaan hukum nasional, Departemen
Kehakiman dari tanggal 17 s/d tanggal 19 Desember 1985 telah berhasil dirumuskan delapan asas hukum perikatan nasional:
1. Asas kepercayaan
Bahwa setiap orang yang akan mengadakan perjanjian akan memenuhi setiap prestasi yang diadakan diantara mereka dibelakanghari.
2. Asas persamaan hukum
Bahwa subjek hukum yang mengadakan perjanjian mempunyai
kedudukan,hak,dan kewajiban yang sama dalam hukum.mereka tidak dibeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain,walaupun subjek hukum itu berbeda warna kulit,agama,dan ras.
3. Asas keseimbangan
Asas yang menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan
melaksanakan perjanjian. Kreditur mempunyai kekuatan untuk
menuntut prestasi dan jika diperlukan dapat menuntut pelunasan
prestasi melalui kekayaan debitur, namun debitur memikul pula
kewajiban untuk melaksanakan perjanjian itu denga itikad baik.
4. Asas kepastian hukum
Perjanjian sebagai fgur hukum harus mengandung kepastian
hukum.
Kepatian
ini terungkap dari kekuatan mengikatnya
perjanjia, yaitu sebagai
undang undang bagi yang membuaatnya.
5. Asas moral
Suatu perbuatan sukarela dari seseorang tidak dapat menuntut hak
baginya
untuk menggugat prestasi dari pihak debitur.
6. Asas kepatutan
Asas kepatutan tertuang dalam psl 1339 KUHperdata.asas ini
berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian.
7. Asas kebiasaan
Asas ini dipandang sebagai bagian dari perjanjian.suatu
perjanjian tidak
hanya mengikat untuk apa yang secara tegas
diatur,akan tetapi juga hal- hal yang menurut kebiasaan lazim
diikuti.
8. Asas perlindungan (protection)
Asas ini mengandung pengertian bahwa antara debitur dan
kreditur harus dilindungi oleh hukum. Namun yang perlu dapat
perlindungan itu adalah
pihak debitur, karena pihak debitur
berada pada pihak yang lemah.
Pasal 1320 KUH Perdata menentukan empat syarat sahnya perjanjian, seperti berikut ini.
a. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya
Kesepakatan yang dimaksud disini adalah adanya rasa iklas saling memberi dan menerima atau sukarela diantara pihak-pihak yang membuatnya dan perjanjian dibuat tanpa paksaan, penipuan atau kekhilafan.
b. Kecakapan untuk membuat perikatan
Para pihak yang melakukan perjanjian adalah orang yang cakap (Pasal 1329 KUH Perdata dan orang yang tidak cakap dalam Pasal 1330 KUH Perdata ) sebagai subjek hukum untuk bertindak dalam mel;akukan perbuatan hukum.
Pasal 1330 KUH Perdata, menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah :
1. Orang-orang yang belum dewasa, belum berusia 21 tahun dan belum menikah
2. Berusia 21 tahun tetapi di bawah pengampuan seperti gelap mata, dungu, sakit ingatan, atau pemboros dan;
3. Orang yang tidak berwenang.
c. Suatu pokok persoalan tertentu
Suatu pokok persoalan tertentu maksudnya adalah objek yang menjadi perjanjian
harus jelas dan pasti tidak boleh sama-samar atau tidak pasti.
Menurut KUH Perdata yang digolongkan objek perjanjian adalah : Pasal 1332
“Hanya barang-barang yang dapat diperdagangkan saja dapat menjadi pokok suatu perjanjian.”
Pasal 1333
“ suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit
ditentukan jenisnya. Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja jumlah itu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung.”
Pasal 1334 BW
d. Suatu sebab yang tidak terlarang
Suatu sebab yang tidak terlarang maksudnya adalah
apa yang menjadi objek perjanjian adalah bukan hal
yang terlarang atau dilarang oleh hukum atau
bertentangan dengan hukum.
Sebab terlarang terdapat pada Pasal 1337 KUH Perdata
“suatu sebab adalah terlarang, atau apabila dilarang
Pada dasarnya sumber hukum kontrak dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu:
Sumber Hukum Materiil.
Ialah tempat dari mana materi hukum itu diambil. Sumber hukum
materil ini merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum, misalnya hubungan sosial, kekuatan politik, stuasi sosial ekonomi, tradisi (pandangan keagamaan dan kesusilaan), hasil penelitian ilmiah, perkebangan
internasional, dan keadaan geografs.
Sumber Hukum Formiil.
Merupakan tempat memperoleh kekuatan hukum, ini berkaitan dengan
bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan hukum formal itu
berlaku. Yang diakui umum sebagai hukum formiil ialah Undang-undang,
perjanjian antar negara, yurisprudensi, dan kebiasaan. Keempat hukum formil ini juga merupakan sumber hukum kontrak .
Yang termasuk Sumber-sumber Hukum Formal adalah :
a. Undang-undang; b. Kebiasaan;
c. Traktat atau Perjanjian Internasional; d. Yurisprudensi;
e. Doktrin.
Algemene Bepalingen van Wetgeving (AB)
KUH Perdata (BW)
KUH Dagang
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Jasa
Konstruksi
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang
Arbitrase dan Alternatif Pilihan Penyelesaian Sengketa.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 Tentang
Perjanjian Internasional.
dll
Sumber Hukum Kontrak Yang
Berasal Dari Peraturan
2. Sumber hukum Kontrak Amerika (Common Law).
Dalam hukum kontrak Amerika (Common Law), sumber hukum dibagi
menjadi dua kategori, yaitu sumber hukum primer dan sekunder.
Sumber hukum primer merupakan sumber hukum yang utama, para
pengacara dan hakim menganggap bahwa sumber primer dianggap sebagai hukum itu sendiri. Sumber hukum primer meliputi Keputusan hakim (Judicial Opinion), Statuta, dan peraturan lainnya.
Sumber hukum Sekunder merupakan sumber hukum yang kedua, sumber
Sumber hukum sekunder ini terdiri dari :
Restatement =>merupakan hasil rumusan ulang
tentang hukum. Rumusan ini dilakukan karena
timbulnya ketidak pastian dan kurangnya keseragaman
dalam hukum dangang (Commercial Law). Menyerupai
uu , meliputi; black letter, pernyataan-pernyataan dari
“aturan umum”
Legal Commentary (Komentar Hukum) =>dianalogikan
dengan doktrin dalam hukum kontinental, karena
1. Kontrak Menurut Sumber Hukumnya (Sudikno Mertokusumo, 1987:
11)
Kontrak berdasarkan sumber hukumnya merupakan penggolongan
kontrak yang didasarkan pada tempat kontrak itu ditemukan. Sudikno Mertokusumo menggolongkan perjanjian (kontrak) dari sumber
hukumnya. la membagi jenis perjanjian (kontrak) menjadi lima macam, yaitu
perjanjian yang bersumber dari hukum keluarga, seperti halnya
perkawinan;
perjanjian yang bersumber dari kebendaan, yaitu yang berhubungan
dengan peralihan hukum benda, misalnya peralihan hak milik;
perjanjian obligatoir, yaitu perjanjian yang menimbulkan kewajiban; perjanjian yang bersumber dari hukum acara, yang disebut dengan
bewijsovereenkonist;
perjanjian yang bersumber dari hukum publik, yang disebut dengan
publieckrechtelijke overeenkomst.
Penggolongan ini didasarkan pada nama perjanjian yang
tercantum di dalam Pasal 1319 KUH Perdata dan Artikel 1355 NBW.
Di dalam Pasal 1319 KUH Perdata dan Artikel 1355 NBW hanya
disebutkan dua macam kontrak menurut namanya, yaitu kontrak
nominaat (bernama) dan kontrak innominaat (tidak bernama).
Kontrak nominaat adalah kontrak yang dikenal dalam KUH Perdata.
Yang termasuk dalam kontrak nominaat adalah jual beli,
tukar-menukar, sewa-menyewa, persekutuan perdata, hibah, penitipan
barang, pinjam pakai, pinjam-meminjam, pemberian kuasa,
penanggungan utang, perdamaian, dan lain-lain.
Sedangkan kontrak innominaat adalah kontrak yang timbul,
tumbuh, dan berkembang dalam masyarakat. Jenis kontrak ini
belum dikenal dalam KUH Perdata. Yang termasuk dalam kontrak
innominaat adalah leasing, beli sewa, franchise, kontrak rahim,
joint venture, kontrak karya, keagenan, production sharing, dan
lain-lain.
Di dalam KUH Perdata, tidak disebutkan secara sistematis tentang bentuk kontrak. Namun apabila kita menelaah berbagai ketentuan yang tercantum dalam KUH Perdata maka kontrak menurut
bentuknya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu kontrak lisan dan tertulis. Kontrak lisan adalah kontrak atau perjanjian yang dibuat oleh para pihak cukup dengan lisan atau kesepakatan para pihak (Pasal 1320 KUH Perdata). Dengan adanya konsensus maka
perjanjian itu telah terjadi. Termasuk dalam golongan ini adalah perjanjian konsensual dan riil.
Kontrak tertulis merupakan kontrak yang dibuat oleh para pihak dalam bentuk tulisan. Hal ini dapat kita lihat dalam perjanjian hibah yang harus dilakukan dengan akta notaris (Pasal 1682 KUH Perdata).