72
LAMPIRAN I
73
Reliabilitas Skala Skala Iklim Sekolah Uji Coba
Pengolahan 1
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.
75
Ket : Aitem yang ditebalkan berarti koefisien daya beda aitemnya dibawah 0.25 dan merupakan aitem yang gugur
76
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.
78
a38 57.42 131.333 .290 .876
a39 57.72 129.008 .371 .874
a42 57.74 128.933 .319 .876
a43 57.92 130.027 .410 .873
a44 57.62 128.542 .475 .872
Scale Statistics
Mean Variance
Std. Deviation
79
Reliabilitas Skala School Connectedness Uji Coba
Pengolahan 1
81
Ket : Aitem yang ditebalkan berarti koefisien daya beda aitemnya dibawah 0.25 dan merupakan aitem yang gugur
83
84
86
Ket : Aitem yang ditebalkan berarti koefisien daya beda aitemnya dibawah 0.25 dan merupakan aitem yang gugur
89
LAMPIRAN II
90
Uji Normalitas Iklim Sekolah (IS) dan
School
Connectedness (SC)
* This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction
91
Uji Linearitas Iklim Sekolah (IS) dan
School Connectedness
(SC)
Uji Hipotesis : Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap
School
Connectedness
a Predictors: (Constant), IS
ANOVA(b)
a Predictors: (Constant), IS b Dependent Variable: SC
Coefficients(a)
LAMPIRAN III
SKALA
PSIKOLOGI
Fakultas Psikologi
Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Saya adalah mahasiswa dari Fakultas Psikologi USU program S1 angkatan 2011 semester 8 yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan skripsi. Saya meminta partisipasi Anda sebagai responden penelitian dengan mengisi skala ini.
Pada setiap bagian akan tersedia petunjuk pengisian sehingga jawaban yang Anda berikan sesuai dengan apa yang diminta. Diharapkan Anda mengisi jawaban dengan sejujur-jujurnya karena tidak akan ada jawaban benar atau salah. Jawaban Anda akan dirahasiakan dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian saja.
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu kelancaran dalam penyebaran dan pengisian skala ini.
Medan, Februari 2015
Sebelum Anda mengisi skala, mohon melengkapi data diri di bawah ini :
DATA DIRI
Nama : Usia :
Jenis Kelamin : Kelas :
Berada di Yayasan Pendidikan Harapan sejak : TK SMP
SD SMA (lingkari jawaban anda)
PETUNJUK PENGISIAN SKALA 1 ( IKLIM SEKOLAH)
Bacalah setiap pernyataan dengan hati-hati, dan berikan tanda silang (X) pada salah satu kolom pilihan jawaban yang paling menggambarkan KEADAAN DAN SISWA-SISWA DI SEKOLAH ANDA, yaitu:
STS : Apabila pernyataan Sangat Tidak Sesuai dengan keadaan dan siswa di sekolah Anda.
TS : Apabila pernyataan Tidak Sesuai dengan kedaan dan siswa di sekolah Anda.
S : Apabila pernyataan Sesuai dengan keadaan dan siswa di sekolah Anda. SS : Apabila pernyataan Sangat Sesuai dengan keadaan dan siswa di sekolah Anda.
Contoh :
No Pernyataan STS TS S SS
1 Kebersihan sekolah saya baik X
Bila Anda merasa pernyataan tersebut sesuai dengan keadaan sekolah Anda maka berikan tanda X di kolom S. Bila Anda ingin mengganti jawaban, coret tanda silang sebelumnya dengan dua garis (=) dan berikan tanda silang (X) pada kolom yang lebih sesuai menggambarkan keadaan sekolah Anda. Contoh :
No Pernyataan STS TS S SS
No Pernyataan STS TS S SS 1 Siswa tidak mau mengaku bila sudah merusak
fasilitas sekolah.
2 Siswa berperilaku sopan dalam berhubungan dengan guru.
3 Siswa bersedia saling membantu satu sama lain. 4 Peraturan sekolah diberlakukan secara adil pada
setiap siswa.
5 Siswa di sekolah ini tidak nyaman dengan cara belajar yang berkelompok.
6 Siswa tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik di sekolah.
7 Gedung sekolah masih layak digunakan.
8 Peraturan di sekolah tidak ditegakkan secara tegas. 9 Sekolah merupakan tempat yang aman
10 Fasilitas di sekolah tidak lengkap. 11 Penjelasan guru dapat dipahami siswa
12 Guru tidak menjelaskan terlebih dahulu sebelum memberikan tugas.
13 Sekolah menyediakan fasilitas untuk mempermudah kegiatan siswa.
14 Saat guru menjelaskan materi pelajaran, siswa mengerjakan hal lain.
15 Staf sekolah tidak peduli dengan siswa di sekolah ini.
-SILAHKAN LANJUT KE SKALA 2 -
No Pernyataan STS TS S SS
18 Siswa mampu berdiskusi dengan efektif di dalam kelompok.
19 Peraturan di sekolah ini berubah-ubah.
20 Senior di sekolah ini menguasai fasilitas tertentu. 21 Bangku di kelas banyak yang rusak.
22 Guru tidak menanyakan kepada siswa apakah materi dapat dimengerti.
23 Siswa menyontek pekerjaan siswa lainnya.
24 Siswa akan bermain-main bila mengerjakan tugas di kelas tanpa pengawasan guru.
25 Cat gedung sekolah ini sudah tua.
26 Fasilitas - fasilitas sekolah dalam kondisi layak untuk digunakan.
27 Fasilitas sekolah digunakan oleh siswa
28 Sehabis menggunakan fasilitas sekolah, siswa membersihkannya kembali.
29 Siswa bekerja sama dalam menjaga kebersihan sekolah.
30 Siswa enggan bila membantu siswa dari kelas lain. 31 Siswa saling berebutan untuk menggunakan fasilitas
yang ada.
32 Meja di sekolah banyak terdapat coretan.
33 Siswa menggunakan fasilitas sekolah dengan hati-hati.
PETUNJUK PENGISIAN SKALA 2 (SCHOOL CONNECTEDNESS) Bacalah setiap pernyataan dengan hati-hati, dan berikan tanda silang (X) pada salah satu kolom pilihan jawaban yang paling menggambarkan DIRI ANDA, yaitu:
STS : Apabila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan diri Anda. TS : Apabila pernyataan tersebut Tidak Sesuai dengan diri Anda.
S : Apabila pernyataan tersebut Sesuai dengan diri Anda. SS : Apabila pernyataan tersebut Sangat Sesuai diri Anda .
Contoh :
No Pernyataan STS TS S SS
1 Saya senang berada di sekolah X
Bila Anda merasa pernyataan tersebut sesuai bagi diri Anda maka berikan tanda X di kolom S. Bila Anda ingin mengganti jawaban, coret tanda silang sebelumnya dengan dua garis (=) dan berikan tanda silang (X) pada kolom yang lebih sesuai menggambarkan diri Anda.
Contoh :
No Pernyataan STS TS S SS
No Pernyataan STS TS S SS 1 Guru di sekolah peduli dengan saya.
2 Saya memiliki kesempatan untuk berbicara secara personal dengan guru di sekolah.
3 Saya bangga menjadi murid di sekolah ini. 4 Saya merasa bosan di sekolah.
5 Saya berpakaian sesuai aturan agar tidak mencoreng nama baik sekolah.
6 Sekolah adalah tempat yang menyenangkan bagi saya 7 Saya mematuhi peraturan yang ada di sekolah.
8 Saya malu mengungkapkan pendapat saya.
9 Jika ada kesempatan, saya ingin pindah ke sekolah lain. 10 Saya menolak untuk terlibat dalam acara sekolah.
11 Bila ada orang lain menjelek-jelekkan sekolah saya, maka saya akan coba meluruskan nama baik sekolah.
12 Saya terbiasa tidak mengikuti peraturan sekolah. 13 Saya pergi ke sekolah tanpa rasa keberatan di hati. 14 Saya tidak menegur staf sekolah yang tidak saya kenal. 15 Saya takut salah bila menyampaikan pendapat kepada guru. 16 Bila ada diskusi di kelas, saya akan aktif menyampaikan
pendapat.
17 Saya merasa teman lain mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa dari guru.
18 Guru bersedia memberikan bantuan tanpa harus saya minta.
19 Staf di sekolah ini bersedia membantu saya
-
MOHON PERIKSA KEMBALI JAWABAN ANDA, JANGAN SAMPAI ADA YANG TERLEWATI, TERIMA KASIH -No Pernyataan STS TS S SS
21 Saya berani mengungkapkan apapun pendapat saya kepada guru.
22 Saya beruntung bisa masuk sekolah ini
23 Ketika memiliki masalah personal, saya bisa meminta pertolongan kepada guru.
24 Di sekolah ini, siswa tidak bisa mengungkapkan pendapat secara bebas
.
25 Bila ada masalah, lebih baik saya meminta solusi pada teman daripada dari guru.
26 Saat berada di sekolah, saya merasa ingin cepat pulang saja.
27 Saya merasa kesepian di sekolah.
28 Saat kegiatan olah raga, saya lebih memilih untuk tidak ikut berpartisipasi.
LAMPIRAN IV
i
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan dengan
sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:
PENGARUH IKLIM SEKOLAH TERHADAPSCHOOL CONNECTEDNESSPADA SISWA SMA HARAPAN I MEDAN
Adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari
hasil karya orang lain dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma,
kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi
ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, April 2015
Atika Mentari Nataya Nst
Pengaruh Iklim Sekolah TerhadapSchool ConnectednessSiswa SMA Harapan I Medan
Atika M Nataya Nst & Dian Ulfasari
ABSTRAK
Sekolah merupakan tempat para siswa mendapat pendidikan yang layak. Oleh karena itu, sekolah harus memberikan suasana dan proses belajar yang efektif agar siswa mampu meningkatkan dan mengembangkan dirinya baik secara akademik dan sebagai individu. Siswa yang merasa nyaman dan senang di sekolah memiliki kemungkinan besar untuk merasakan keterhubungan terhadap sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness siswa di SMA Harapan I Medan. Data penelitian dianalisis dengan regresi linear sederhana. Iklim sekolah mengacu pada suasana yang merupakan hasil dari interaksi timbal balik antara seluruh orang-orang yang ada di sekolah serta meliputi suasana lingkungan fisik sekolah. Selanjutnya, School connectedness mengacu pada kepercayaan siswa akan semua orang di sekolah mempedulikan mereka baik secara akademis maupun mereka sebagai individu. Populasi penelitian ini adalah semua siswa SMA Harapan I Medan. Sampel penelitian ini adalah 152 siswa SMA Harapan I Medan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala iklim kelas dan skala school connectedness. Skala iklim sekolah disusun berdasarkan 4 aspek yakni: keamanan, hubungan interpersonal,proses belajar mengajar, dan lingkungan institusional. Skala school connectedness disusun berdasarkan 3 aspek yakni: dukungan sosial, rasa memiliki, dan keterlibatan. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness siswa SMA Harapan I Medan sebesar 34,8% .
iii
The Impact of School Climate to School Connectedness on Harapan I High School Student.
Atika M Nataya Nst & Dian Ulfasari ABSTRACT
School is a place where student can get proper education. Therefore, school must give a situation and learning process which effective so that student can improve and develop their self as academically and as individually. Student who feels comfort and happy to be in school will likely to feel connected to school. The research aim is to know the impact of school climate to school connectedness on Harapan I high school students in Medan. Data were analyzed by using simple linear regression. School climate refers to the situation which result from all people interaction in school and including physical situation of that school. Then, school connectedness refers to the belief by students that all people in the school care about their learning as well as about them as individuals. The population of this research are Harapan I high school students in Medan. The sample are 152 Harapan I high school students. A measurement of this research use school climate scale and school connectedness scale that both scale are made by researcher. School climate scale is made based on 4 aspects: safety, relationship, teaching and learning, and institutional environment. School connectedness scale is made based on 3 aspects: social support, belonging, and engagement. The research result shows that there are 34,8% impact of school climate to school connectedness on Harapan I high school students in Medan.
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah swt akan berkat dan rahmat
melimpah yang telah diberikan. Terima kasih kepada orang tua peneliti Papi Andi
Utama Nasution, SE dan Mami Khairy Hanim Rangkuti, SE. Kemudian, untuk
kakak Almira Ulfa Utari Nst, S.Ked dan Adik Annisa Nabila Putri Nst. Terima
kasih atas semua doa, pengorbanan, dan dukungan sehingga akhirnya peneliti
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap
School Connectedness Siswa SMA Harapan I Medan.” Skripsi ini peneliti susun
untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas
Sumatera Utara.
Dalam penyusunan skripsi ini peneliti mendapat banyak bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, Psikolog, selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dian Ulfasari, M.Psi., Psikolog selaku dosen pembimbing seminar
dan skripsi yang memberikan banyak nasehat.
3. Ibu Filia Dina Anggaraeni, M.Pd, Ibu Fasti Rola, M.Psi., Psikolog dan
Ibu Etty Rahmawati, M.Si sebagai penguji saat sidang seminar dan
skripsi peneliti dan memberikan saran-saran yang membangun.
4. Ibu Ika Sari Dewi, S.Psi, psi selaku dosen pembimbing akademik
peneliti yang telah memberi saran akademik kepada peneliti.
5. Pihak sekolah dan siswa-siswa SMA Harapan I Medan yang sangat
v
lancar. Terima kasih juga kepada Tante Lisna yang telah
mempermudah saya meminta izin kepada SMA Harapan I Medan.
6. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Psikologi Universitas
Sumatera Utara, atas ilmu dan bantuannya.
7. Terima kasih kepada teman-teman seangkatan 2011 terutama
sahabat-sahabat: Nissa, Rina, Tia, Putri. Terima kasih atas waktu yang kita
lewati bersama selama masa perkuliahan. Selain itu untuk Rony,
Manda, Vilya, Zulfa, Haifa yang meluangkan waktu untuk membantu
saya dalam proses pembuatan skripsi.
8. Terima kasih juga kepada seseorang yang selalu memberikan semangat
dan dukungannya dari jauh sana, Settyo Utomo. Untuk Teuku Fajri
Maulana juga terima kasih yang selalu memberi dukungan. Untuk
teman-teman SMA: Fahmi, Hifdzul, Eka, Helve, Mar’ie yang memberi
semangat.
Akhir kata, saya berharap semoga Allah swt membalas segala kebaikan
saudara-saudara semua. Saya sangat menerima segala saran maupun kritik yang
dapat membantu saya agar dapat menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak orang.
Peneliti,
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERNYATAAN i
ABSTRAK ii
ABSTRACT iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR LAMPIRAN x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 12
C. Tujuan Penelitian 12
D. Manfaat Penelitian 12
E. Sistematika Penulisan 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.School Connectedness 15
1. DefinisiSchool Connectedness 15
2. AspekSchool Connectedness 16
3. FaktorSchool Connectedness 17
4. Strategi MeningkatkanSchool Connectedness 20
5. KategoriSchool Connectedness 21
B. Iklim Sekolah 22
vii
2. Dimensi Iklim Sekolah 23
3. Faktor Iklim Sekolah 24
4. Kategori Iklim Sekolah 26
C. Siswa Menengah Atas 27
D. SMA Harapan I Medan 28
E. Dinamika Iklim Sekolah denganSchool Connectedness 30
F. Hipotesis Penelitian 35
BAB III METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel Penelitian 36
B. Definisi Operasional Variabel 36
C. Populasi, Sampel, dan Metode Pengambilan Sampel 40
D. Alat Ukur 42
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 47
F. Hasil Uji Coba Alat Ukur 48
G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 55
H. Metode Analisis Data 56
BAB IV ANALISA DATA & PEMBAHASAN
A. Analisa Data 58
1. Gambaran Subjek Penelitian 58
2. Hasil Penelitian 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan 67
B. Saran 67
1. Saran Penelitian 68
2. Saran Praktis 68
ix
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1.Jumlah Populasi Penelitian 41 Tabel 2. Jumlah Subjek Penelitian Setiap Tingkatan Kelas 42 Tabel 3.Kategorisasi Norma NilaiSchool Connectedness 43 Tabel 4.BlueprintSkalaSchool Connectedness 44 Tabel 5.BlueprintSkala Iklim Sekolah 46 Tabel 6.Distribusi Aitem SkalaSchool ConnectednessSetelah Uji Coba 49 Tabel 7. Distribusi Aitem SkalaSchool Connectedness
yang Digunakan dalam Penelitian 50
Tabel 8.Distribusi Aitem Skala Iklim Sekolah Setelah Uji Coba 52 Tabel 9.Distribusi Aitem Skala Iklim Sekolah
yang Digunakan Dalam Penelitian 54
Tabel 10.Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin 59 Tabel 11. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia 59 Tabel 12.Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkatan Kelas 60
Tabel 13. Uji Normalitas 61
Tabel 14.Hasil Uji Linearitas 62
Tabel 15.Pengaruh Iklim Sekolah TerhadapSchool Connectedness 62 Tabel 16.Koefisien Determinan (R2) 63
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Uji Reliabilitas Skala Uji Coba 72
Lampiran 2. Uji Normalitas, Linearitas, Hipotesis 89
Lampiran 3. Alat Ukur Penelitian 92
1
BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian singkat tentang latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
A. LATAR BELAKANG
Sekolah adalah tempat para siswa mendapatkan pendidikan dari guru. Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu sistem yang harus diatur dengan baik dan benar agar siswa mendapatkan pendidikan yang layak. Menurut UU RI No 20 tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Hardianto, 2013).
2
School connectedness diartikan sebagai keyakinan yang dimiliki siswa bahwa orang-orang dewasa di sekolahnya peduli dengan pendidikan dan mereka sebagai seorang individu (Blum, 2002). Keyakinan atau belief merupakan kepercayaan dasar individu tentang suatu hal yang terbentuk tanpa disadari sebagai akibat dari interaksi berulang dengan suatu pengalaman tertentu (Matsumoto, 2004).
Menurut Blum (2002), hubungan yang terbentuk antara siswa dengan orang dewasa di sekolah merupakan jantung dari school connectedness. Orang-orang dewasa di sekolah tidak terbatas hanya dengan guru tetapi juga para staf administrasi yang termasuk di dalamnya para penjaga gedung, penjaga kantin, dan seluruh orang dewasa yang terlibat dalam dinamika proses pendidikan di sekolah. Ketika para siswa mempersepsikan bahwa guru mereka dan para staf sekolah peduli, membangun lingkungan belajar yang terstruktur, serta adil maka akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk merasa lebih terhubung kepada sekolah.
3
Selanjutnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Libbey (2004) ditemukan bahwa school connectedness memiliki cakupan konstruk yang lebih luas dibandingkan konsep lainnya. Pada konsep school attachment hanya fokus kepada sejauh mana siswa menilai orang-orang di lingkungan sekolah menyukainya. Lain halnya dengan school bonding yang mengukur kelekatan dan komitmen siswa. Akan tetapi, pada konsep school connectedness mencakup beberapa konstruk seperti kelekatan, komitmen, dukungan guru, hubungan teman sebaya , dan lainnya.
School connectedness berhubungan dengan hasil perilaku, emosional, dan akademik. Hal ini dapat dijadikan prediktor hasil yang baik dan buruk. Tingkat
school connectedness yang tinggi berhubungan dengan hasil-hasil yang baik, sedangkan tingkat yang rendah berhubungan dengan hasil-hasil yang buruk. Misalnya dalam hal perilaku, siswa yang lebih merasa terhubung kepada sekolah kemungkinan kecil untuk terlibat perilaku nakal dan kekerasan, minum alkohol, menggunakan obat-obatan, serta melakukan seks bebas (Monahan, 2010).
Penelitian lain juga menghubungkan variabel ini dengan kehadiran di sekolah. Ditemukan bahwa ada hubungan positif antara school connectedness
dengan kehadiran siswa di sekolah (Rosenfeld, LB et al 2000). Ditambahkan lagi penelitian yang dilakukan oleh Stracuzzi dan Meghan (2010) membuktikan bahwa
school connectedness memiliki hubungan positif yang kuat dengan prestasi akademik dan non akademik.
4
siswa. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Resnick dan Harris (1993) yang telah didapat bahwa variabel ini merupakan elemen kedua yang terpenting setelah
family connected sebagai faktor protektif untuk mencegah terjadinya perilaku maladaptif siswa seperti bunuh diri. Penelitian lain yang dilakukan Stracuzzi dan Meghan (2010) yang meneliti dampak school connectedness dengan perasaan depresi, ditemukan bahwa siswa yang memiliki tingkat keterhubungan pada sekolah yang rendah memiliki kemungkinan yang besar untuk mengalami depresi. Sebagai tambahan, penelitian ini menjelaskan bahwa ketika siswa merasakan terhubung kepada sekolah, mereka lebih mungkin untuk memiliki strategi koping dan sumber daya untuk menghadapi situasi yang stress dan masalah lebih efektif.
Menurut Blum (2002) seluruh sekolah memiliki potensi untuk membentuk
school connectedness yang tinggi pada setiap siswa. Berdasarkan penelitian Witt (2013) ukuran sekolah dan tingkat birokrasi mempengaruhi tinggi rendahnya
school connestedness. Di Kota Medan, salah satu sekolah yang memiliki ukuran sekolah yang besar dan memiliki tingkat birokrasi yang tinggi adalah SMA Harapan I Medan. SMA Harapan I Medan merupakan salah satu lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1969 di bawah naungan Yayasan Pendidikan Harapan Medan atau Yaspendhar.
5
prestasi. Mereka berhasil mengadakan acara pentas seni selama empat tahun terakhir sejak tahun 2011, yang disebut dengan United For One (UFO). Tahun 2013 lalu, UFO ke 3 sukses menyita perhatian para remaja yang diadakan di sebuah hotel berbintang di Medan dan mengundang musisi terkenal di Indonesia sebagai pengisi acara (Diputri, 2013) .
Visi yang diwujudkan SMA Harapan I Medan adalah terwujudnya insan yang beriman, berilmu dan beramal melalui lembaga pendidikan dan pengembangan pengetahuan yang unggul dalam IMTAQ dan IPTEK serta berwawasan kebangsaan. Dalam mewujudkan visi tersebut, ada beberapa misi yang diemban oleh Yaspendhar salah satunya adalah mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang mencerminkan insan yang beriman, berilmu dan beramal (Yayasan Pendidikan Harapan, 2013).
Berdasarkan penjelasan di atas, berikut hasil wawancara peneliti kepada siswa mengenai kepedulian para guru dan staf sekolah terhadap siswa:
“ Peduli kak. Tapi relatif juga kak .Guru-guru mau diajak diskusi tentang pelajaran…. Hem yg diajak curhat, gak semua guru bisa kak paling wali kelas aja. Curhat paling sama temen-temen aja kak. Kalau dengan staf sekolah kurang dekat ke siswa jadi jarang berinteraksi...”
6
Kemudian berikut hasil wawancara mengenai keterlibatan siswa dalam kegiatan sekolah baik di bidang akademik maupun non akademik:
“ Kita di kelas selalu diminta guru untuk selalu aktif kak. Emm.. tapi kalo aku sih gak semua mata pelajaran aktif kak. Paling sama mata pelajaran yang gurunya enak dan topiknya seru. Guru yg kejam agak serem juga kak, haha. Kalo untuk kegiatan non akademik paling sering yang terlibat ya anak osis kak.”
(Komunikasi Personal, 2014) Berdasarkan pengakuan siswa tersebut dapat dilihat bahwa siswa cukup terlibat dalam kegiatan di sekolah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa siswa tidak merasa yakin untuk selalu terlibat pada semua mata pelajaran di sekolah dikarenakan tergantung pada tipe-tipe guru di kelas.
7
Menurut Blum (2002) keterlibatan siswa menjadi bagian dari school connectedness. Mengembangkan keterlibatan siswa di sekolah dimulai dari lingkup kecil yakni manajemen kelas seperti rutinitas, perencaan belajar, serta konsekuensi-konsekuensi setiap perilaku. Ketika kelas diatur dengan baik maka hubungan antar siswa maupun dengan guru cenderung akan lebih positif, dan siswapun akan lebih mau terlibat dalam proses belajar dan persaingan dalam menyelesaikan tugas.
Blum (2002) menyatakan bahwa school connectedness merupakan isu yang paling penting dan perlu perhatian yang khusus bagi sekolah dan keluarga. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa school connectedness
melindungi generasi muda dari perilaku beresiko. Dijelaskan pula bahwa variabel ini harus dibentuk dan ditingkatkan karena merupakan elemen penting yang harus dimiliki oleh setiap siswa.
8
Iklim sekolah adalah apa yang dirasakan siswa, guru, serta para staf sekolah terhadap sekolah. Iklim sekolah merupakan interaksi dari antara orang dewasa dengan para siswa di sekolah, serta terlibat di dalamnya faktor lingkungan seperti sarana dan prasarana gedung, serta rasa aman dan percaya (Gruenert, 2008). Thapa (2012) menyatakan iklim sekolah adalah suasana yang dialami orang-orang yang ada di sekolah mengenai norma, tujuan, nilai-nilai, hubungan interpersonal, serta struktur organisasional. Blum (2002) menyatakan bahwa iklim sekolah termasuk di dalamnya bagaimana para orang dewasa dan siswa saling menghormati satu sama lain, dan seberapa besar kesempatan untuk mengemukakan pendapat serta berpartisipasi di kegiatan sekolah.
Menurut Pianta (dalam Reynold, 2003) iklim sekolah berperan penting untuk menentukan kualitas hubungan antara siswa dengan guru. Kedua hal ini memberikan peran timbal balik satu sama lain. Ketika hubungan siswa dengan guru positif maka iklim sekolah juga positif begitu juga sebaliknya. Preble dan Gordon (2011) mengungkapkan bahwa iklim sekolah merupakan “jiwa” sekolah. Tidak hanya untuk siswa tetapi juga untuk guru serta administrator yang ada di sekolah untuk bekerja secara efektif dan siap untuk memberi kontribusi untuk sekolah.
9
“ Senang kak berada di sekolah. Sekolah kami nyaman lah kak…. Kalo soal hubungan dengan guru, aman-aman aja kak, gak ada yang buruk . Tetapi ya memang gak bisa juga semua guru mau akrab sama kami”.
(Komunikasi Personal, 2014) Kemudian, hasil wawancara peneliti mengenai suasana di SMA Harapan I yang berada dalam satu kawasan dengan SMP dan SD Harapan adalah ternyata siswa merasakan ketidaknyamanan. Hal ini dikarenakan masing-masing sekolah memiliki gedung yang berbeda tetapi mereka berbagi fasilitas yang sama seperti lapangan bermain, klinik, serta kantin. Pada hari Jumat, mereka memiliki jadwal istirahat yang serentak dengan siswa SMP sehingga harus berebutan menggunakan fasilitas sekolah. Berikut pengakuan siswa tersebut:
“Iya kak, di hari Jumat kami semua istirahatnya semua sama. Sebenarnya agak terganggu sih kak karena gak dapet tempat duduk di kantin. Anak cowok juga kadang berebut untuk menggunakan lapangan walaupun gak sampe berantem sih kak”.
(Komunikasi Personal, 2014) Berdasarkan pengakuan tersebut dapat dilihat bahwa siswa cenderung menyukai iklim yang ada di SMA Harapan I akan tetapi siswa cenderung merasa tidak nyaman dengan sekolah yang harus bergabung dengan siswa SMP dan SD. Hasil wawancara di atas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wilson (2004) menunjukkan bahwa siswa yang mempersepsikan iklim sekolah yang positif maka besar kemungkinannya untuk tidak melakukan perilaku kekerasan dan terlibat aktif pada aktivitas sekolah yang baik.
10
tanggung jawab menjaga dan memperbaiki lingkungan sekolah adalah strategi yang ampuh untuk meningkatkan iklim sekolah.
Hasil wawancara yang didapat mengenai lingkungan fisik SMA Harapan I adalah siswa mengaku bahwa fasilitas digunakan dengan baik dan sangat membantu aktivitas sekolah. Namun, aturan tetap ditegakkan untuk tidak merusak fasilitas yang diberikan sekolah. Berikut kutipan wawancaranya :
“Bagus kak. Menurutku, semua fasilitas di sekolah ini sangat dimanfaatkan sama guru. Kami di sini juga ada klinik kak, jadi kalo sakit di sekolah bisa ditangani sama dokter, kalo di sekolah lain paling uks biasa aja…… Tapi kami juga harus ikuti aturan untuk menjaga fasilitas, kalo gak sanksinya bisa kena skors”.
(Komunikasi Personal, 2014) Berdasarkan penelitian dan hasil wawancara yang telah dipaparkan menunjukkan bahwa iklim sekolah mempengaruhi kehidupan siswa di sekolah. Sebagai tambahan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Kozina dkk (2008) ditemukan bahwa iklim sekolah memiliki hubungan yang kuat terhadap prestasi siswa. Dijelaskan lebih lanjut bahwa ketika siswa merasa senang berada di sekolah, maka besar kemungkinannya untuk siswa tersebut mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah dengan baik. Penelitian lain yang dilakukan Zullig dan Huebner (2011) menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara iklim sekolah dengan kepuasan siswa di sekolah.
11
perilakunya. Oleh karena itu, para siswa akan cenderung menghindari sekolah yang memiliki iklim sekolah yang negatif atau sekolah yang memberikan rasa janggal pada diri siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Osher (2009) bahwa iklim sekolah berhubungan dengan school connectedness. Tanpa adanya iklim sekolah yang positif, maka siswa tidak mungkin mengalami rasa keterhubungan pada sekolah. Berdasarkan Hasil penelitian McNeely, Nonemaker, dan Blum (2002) bahwa tingkat school connectedness yang rendah ditemukan pada iklim sekolah negatif seperti manajemen kelas yang buruk, tingkat disiplin rendah, serta ukuran sekolah yang besar. Berdasarkan penelitian di atas maka iklim sekolah merupakan salah satu faktor yang membangun school connectedness siswa. Akan tetapi, menurut hasil penelitian Whitlock (2003) bahwa siswa yang berumur lebih tua daripada siswa lainnya memiliki kecenderungan untuk menilai iklim sekolah secara negative dan memiliki rasa keterhubungan yang lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh siswa yang lebih tua memandang aturan, norma, maupun perhatian dari pihak sekolah sebagai penghalang kebebasan mereka.
Setelah melakukan wawancara dapat diketahui bahwa pihak sekolah SMA Harapan I Medan berusaha membangun iklim positif bagi siswa. Namun siswa tidak merasa seluruhnya sebagai iklim yang positif. Menurut Blum (2002) iklim sekolah yang suportif dan memiliki norma-norma positif cenderung memiliki
12
fenomena yang telah dipaparkan maka perlu diteliti untuk mengetahui pengaruh iklim sekolah terhadapschool connectednesspada siswa SMA Harapan I Medan.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, “Apakah ada pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness pada siswa SMA Harapan I Medan?”. Selan itu, “Berapa besar pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness pada siswa SMA Harapan I Medan?”.
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan ada atau tidak ada pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness
pada siswa SMA Harapan I Medan.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
13
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada siswa SMA Harapan I Medan bahwa iklim sekolah merupakan faktor penting dalam pembentukan school connectedness pada siswa. Sehingga pihak sekolah bisa melakukan evaluasi dan pengembangan terkait dengan peningkatanschool connectednesssiswa.
E. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah : a. Bab I Pendahuluan
Berisi uraian singkat tentang latar belakang permasalahan. Tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
b. Bab II Landasan Teori
Berisikan tentang teori-teori penyusunan variabel yang diteliti, hubungan antara variabel dan hipotesa.
c. Bab III Metode Penelitian
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai identifikasi variabel, definisi operasional dari masing-masing variabel, sampel penelitian, teknik pengambilan sampel, metode pengumpulan data, prosedur penelitian serta metode analisa data.
d. Bab IV Analisa Data dan Pembahasan
14
penelitian. Selanjutnya, hasil tersebut akan dibahas berdasarkan teori yang telah dipaparkan.
e. Bab V Kesimpulan dan Saran
15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi tentang teori-teori penyusunan variabel independen dan
variabel dependen yang diteliti. Tinjauan pustaka ini meliputi definsi, aspek-aspek
variabel, faktor-faktor yang mempengaruhi variabel, serta hubungan antara
variabel. Di bagian akhir bab ini akan dijelaskan hipotesa penelitian.
A. SCHOOL CONNECTEDNESS
School connectedness merupakan faktor protektif yang kuat bagi para siswa untuk tidak melakukan perilaku kenakalan remaja seperti menggunakan
obat-obatan, seks bebas, kekerasan, dan lain-lain. Para siswa cenderung lebih
melakukan perilaku positif dan sukses secara akademis ketika mereka memiliki
rasa keterhubungan pada sekolah (Resnick, 1993).
1. DefinisiSchool Connectedness
Blum (2002) mendefinisikan school connectedness sebagai keyakinan yang dimiliki siswa bahwa orang-orang dewasa di sekolahnya peduli dengan
pendidikan mereka serta mempedulikan mereka sebagai seorang individu.
Beberapa konsep serupa sudah sering diteliti dengan memberikan istilah sebagai
“school engagement” sementara yang lain menyebutnya sebagai “school attachment” dan yang lain menganalisisnya sebagai “school bonding”. Akan tetapi school connectednessmemiliki perbedaan di antara konsep-konsep tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Libbey (2004) ditemukan bahwa
16
konsep lainnya. Pada konsep school connectedness mencakup beberapa konstruk seperti kelekatan, komitmen, dukungan guru, hubungan teman sebaya , dan lainya.
Definisi lain dikemukakan oleh McNeely (2002) yang menyatakan bahwa
school connectedness mucul ketika siswa yakin bahwa mereka bagian dari sekolah dan adanya kelekatan antara siswa dengan orang dewasa di sekolahnya. School connectedness tidak hanya memandang rasa kelekatan tetapi rasa aman dan kenyamanan siswa di sekolah, komitmen sekolah, serta pencapaian akademik
siswa di sekolah. Centre for School Mental Health Anlysis and Action (CSMH) mendefinisikan school connectedness perasaan positif akan pendidikan, keterikatan pada sekolah, dan memiliki hubungan positif dengan orang dewasa
dan teman sebaya di sekolah.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan
bahwa school connectedness adalah kepercayaan siswa akan semua orang di sekolah mempedulikan mereka baik secara akademis maupun non akademis .
2. Aspek-aspekSchool Connectedness
Connell dan Wellborn (dalam Stracuzzi dan Mills, 2010) menyatakan
bahwaschool connectednessterdiri dari tiga dimensi utama, yaitu: a. Dukungan Sosial
Aspek ini berfokus pada dukungan guru dan staf lainnya yang berada di
sekolah terhadap seluruh siswa tanpa membedakan jenis kelamin, ras, maupun
etnis. Selain itu didasarkan pada sejauh mana siswa merasa dekat dan bernilai
oleh guru dan staf lainnya di sekolah. Biasanya diukur melalui laporan siswa
17
terhadap apa yang dinilai oleh guru, kenyamanan ketika berbicara dengan
guru, seberapa sering guru memuji mereka.
b. Rasa Memiliki
Didefinisikan sebagai rasa yang dimiliki oleh siswa mengenai dirinya sebagai
bagian dari sekolah. Mengukur belongingness ini sering meliputi tingkat di mana siswa merasa dihormati di sekolahnya, menjadi bagian dari sekolahnya,
merasa orang-orang yang ada di sekolah peduli dengannya, dan memiliki
teman di sekolah.
c. Keterlibatan
Aspek ini merefleksikan resiprokasi siswa atas rasa memiliki (belonging) dan dukungan yang didapat melalui kepedulian yang aktif dan keterlibatan dalam
bagiannya.
Monahan (2010) mengungkapkan bahwa pada umumnya school connectednessterdiri dari dua komponen utama yakni :
a. Kelekatan(attachment)
Aspek ini dikarakteristikkan dengan hubungan yang dekat antara siswa dengan
seluruh orang yang ada di sekolah.
b. Komitmen(commitment)
Aspek ini dikarakteristikkan dengan komitmen yang ditanamkan oleh siswa
terhadap sekolah serta berperilaku baik di sekolah.
3. Faktor-Faktor yang MempengaruhiSchool Connectedness
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Blum dan kolega (2002)
18
mereka mempersepsikan orang-orang disekitarnya peduli dan terlibat dalam
kehidupan mereka. Siswa yang merasa didukung oleh orang dewasa di
kehidupannya akan lebih merasa terikat dengan sekolah dan proses belajar. Siswa
membutuhkan orang-orang dewasa di sekolah peduli dengan mereka baik sebagai
individu maupun mengenai pencapaian akademik. Berikut faktor yang
mempengaruhischool connectedness: a. Dukungan Orang Dewasa
Kepercayaan siswa akan diri dan kemampuan mereka tebentuk oleh sebarapa
besar mereka mempersepsikan bahwa orang dewasa di kehidupannya
mempedulikan dan ikut terlibat dalam kehidupan mereka. Siswa yang merasa
didukung oleh orang dewasa kemungkinan akan lebih merasa terikat di
sekolah. Di sekolah, siswa yang merasa didukung dan dipedulikan ketika
mereka melihat para orang dewasa di sekolah mendedikasikan waktu, minat,
perhatian, dan dukungan emosional untuk mereka. Siswa juga butuh untuk
merasakan bahwa orang dewasa mempedulikan mereka baik secara akademik
maupun non akademik.
b. Kelompok Teman Sebaya yang Positif
Hasil akademik siswa juga dipengaruhi oleh karakteristik kelompok teman
sebaya, seperti seberapa jauh kelompok teman sebaya mendukung perilaku
prososial (misalnya belajar kelompok, membantu sama lain, ataupun terlibat
19
berbeda kelas sosialnya baik dari segi ras maupun gender. Sebaliknya, siswa
yang melaporkan school connectedness yang rendah mengaku lebih nyaman dengan teman di luar sekolah daripada yang ada di sekolah.
c. Komitmen Terhadap Pendidikan
Komitmen merupakan hal yang penting bagi siswa dan guru dalam proses
belajar dan terlibat dalam aktivitas sekolah. Siswa yang terlibat di sekolah dan
percaya bahwa pendidikan yang baik itu penting bagi masa depannya akan
lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah dan memiliki rasa
connectedness yang tinggi pada sekolah. Siswa yang merasa terikat dengan pendidikan akan menunjukkan trait behavioralseperti ketekunan, usaha yang keras, perhatian terhadap tugas, dan lebih suka terhadap tantangan.
d. Lingkungan Sekolah
Rasa keterhubungan siswa akan meningkat dengan lingkungan sekolah yang
aman dan iklim psikososial yang suportif. Lingkungan fisik yang bersih dan
menyenangkan meningkatkan keamanan serta hubungan yang saling
menghormati. Iklim psikososial sekolah dipengaruhi oleh
kebijakan-kebijakan, kesempatan siswa untuk berpartisipasi, dan manajemen kelas.
Penelitian membuktikan bahwa sekolah dengan disiplin yang sangat keras,
rasaconnectedneessiswa rendah. Ketika siswa mempersepsikan iklim sekolah sebagai iklim yang positif maka akan mempengaruhi rasa aman dan
20
4. Strategi MeningkatkanSchool Connectdness
Strategi meningkatkan school connectedness dapat dikembangkan berdasarkan aspek-aspek serta faktor-faktor yang mempengaruhi school connectedness(Blum, 2002). Ada 5 strategi-strategi, yakni:
a. Menciptakan proses pembuatan keputusan yang memfasilitasi murid untuk
terlibat. Misalnya membuat siswa mau mengungkapkan pendapat tanpa rasa
malu serta melibatkan siswa dalam kegiatan rapat.
b. Memberikan pendidikan dan kesempatan kepada keluarga untuk aktif terlibat
dalam kehidupan sekolah.
c. Menyediakan kebutuhan akademik, emosional, dan keterampilan sosial siswa
di sekolah. Misalnya setiap siswa diperlakukan setara, membuat siswa tidak
merasa tertekan di sekolah, serta membuat siswa merasa nyaman berada di
sekolah.
d. Menggunakan manajemen kelas yang efektif dan metode mengajar untuk
membangun lingkungan belajar yang positif. Misalnya siswa diberi
kesempatan untuk mengembangkan kreativitas serta dibantu dalam pencapaian
prestasi akademik maupun non akademik.
e. Menciptakan hubungan interpersonal yang saling percaya dan peduli diantara
seluruh orang-orang di sekolah. Misalnya guru dan staf menerima pendapat
siswa tanpa membeda-bedakan, guru dan staf memiliki hubungan yang akrab
dengan siswa, siswa bersedia mencari solusi permasalahan kepada guru
21
5. Kategori padaSchool Connectedness
Berdasarkan penelitian Karcher dan Lee (2002) bahwa school connectednessdikategorikan ke dalam 3 tingkatan yakni :
a. Dukungan Umum(General Support)
Kategori general support merupakan kategori yang paling rendah. Pada kategori ini, siswa memandang dukungan yang ia terima secara umum.
Artinya, siswa merasa tidak ada perbedaan dukungan dari guru, staf sekolah,
serta teman meskipun begitu siswa tetap merasa bahwa dirinya diterima di
sekolah.
b. Dukungan Spesifik(Specific Support)
Kategorispecific support merupakan kategori sedang. Pada kategori ini siswa mengganggap dukungan berasal dari sumber yang spesifik. Artinya, siswa
menyadari bahwa dukungan dari guru berbeda dengan dukungan dari teman
atau staf sekolah. Pada kategori ini, siswa memiliki rasa penerimaan dari
sekolah akan tetapi tindakan siswa tidak secara sukerala serta siswa tidak aktif
mencari dukungan.
c. Keterlibatan(Engagement)
Kategori engagement merupakan kategori tertinggi ini. Pada kategori ini, siswa menunjukkan upaya dalam tugas sekolah serta menunjukan kesenangan
dengan kehidupan sekolah dan terlibat aktif dalam kegiatan sekolah. Selain
itu, siswa menyadari dukungan secara spesifik, menghargai setiap hubungan,
22
B. IKLIM SEKOLAH
1. Definisi Iklim Sekolah
Menurut Thapa (2012) iklim sekolah didefinisikan sebagai suasana yang
dialami orang-orang yang ada di sekolah mengenai norma, tujuan, nilai-nilai,
hubungan interpersonal, serta struktur organisasional. Sedangkan Menurut Haynes
(dalam Reynolds, 2003) mengemukakan bahwa iklim sekolah adalah kualitas dan
konsistensi dari interaksi interpersonal di dalam komunitas sekolah yang
mempengaruhi perkembangan kognitif, sosial dan psikologis siswa. Iklim sekolah
merupakan interaksi dari antara orang dewasa dengan para siswa di sekolah, serta
terlibat di dalamnya faktor lingkungan seperti sarana dan prasarana gedung, serta
rasa aman dan percaya (Gruenert, 2008).
Iklim sekolah ini juga dapat diartikan persepsi orang-orang yang ada di
sekolah mengenai kehidupan sekolah (Freiberg, 2005). Mengukur persepsi
orang-orang di sekolah akan mendapatkan gambaran iklim sekolah yang tentu saja
mempengaruhi keberlangsungan kehidupan sekolah yakni salah satunya adalah
dengan mengukur persepsi siswa terhadap iklim sekolah (Thapa, 2012).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka peneliti menyimpulkan
iklim sekolah adalah persepsi akan suasana yang merupakan hasil dari interaksi
timbal balik antara seluruh orang-orang yang ada di sekolah serta meliputi suasana
23
2. Dimensi Iklim Sekolah
Thapa (2012) mengidentifikasi ada 5 elemen dari iklim sekolah yakni :
a. Keamanan
Sekolah memberikan rasa aman baik secara sosial, emosional, fisik, dan
intelektual. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang merasa aman di
sekolah akan cenderung menampilkan perilaku yang baik. Di dalam elemen
ini termasuk di dalamnya aturan, norma, serta kebijakan yang diterapkan di
sekolah. Ketika siswa mempersepsikan bahwa aturan, norma, maupun
kebijakan di sekolah tersebut adil dan memberikan dampak baik maka siswa
akan cenderung untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan.
b. Proses Belajar dan Mengajar
Proses belajar mengajar menunjukkan elemen penting dari iklim sekolah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim sekolah yang positif adalah iklim
yang mendukung agar siswa bisa belajar dengan baik. Iklim sekolah yang
positif adalah yang memberikan proses belajar mengajar yang suportif,
partisipatif, saling menghargai, serta kompak.
c. Hubungan Interpersonal
Proses belajar mengajar akan membentuk sebuah hubungan interpersonal.
Aspek paling penting dari dimensi hubungan ini adalah seberapa saling
berhubungan antara satu orang dengan orang lainnya. Hubungan interpersonal
ini berkaitan dengan keterlibatan siswa di sekolah. Bila siswa
24
mau terlibat dan berperilaku yang sesuai aturan. Pada dimensi ini termasuk di
dalamnya hubungan antar teman sebaya.
d. Lingkungan Institusional
Di dalam elemen ini termasuk di dalamnya keadaan fisik sekolah. Sekolah
yang menyediakan fasilitas yang mempermudah proses belajar siswa dianggap
sebagai iklim sekolah yang baik. Selain itu, pada elemen ini adanya
keterlibatan siswa pada sekolah juga merupakan hal yang penting. Penelitian
menunjukkan bahwa ukuran sekolah yang kecil memiliki kecenderung tingkat
keterlibatan siswa yang lebih tinggi.
3. Faktor yang Mempengaruhi Iklim Sekolah
Menurut Noonan (2011) ada 7 faktor penting yang mempengaruhi iklim
sekolah yakni :
a. Model
Setiap guru di sekolah memiliki cara yang berbeda dalam mengajar maupun
memperlakukan siswa. Akan tetapi, cara-cara yang dilakukan guru tersebut
memiliki dampak yang besar bagi siswa. Guru harus menjadi model yang baik
bagi para siswa, yang memberikan keseimbangan antara harapan yang jelas
bagi siswa untuk mencapai akedemik dengan mengulurkan tangan untuk
membantu siswa.
b. Konsistensi
Para staff sekolah harus waspada dalam menyampaikan pesan secara konsisten
25
bahwa hal yang penting yang harus dikejar para guru tidaklah hanya
keefektifan tetapi juga kualitas program yang harus siswa dapatkan.
c. Kedalaman
Seluruh visi dan misi sekolah serta ritual sekolah merupakan elemen penting
bagi iklim sekolah. Oleh karena itu, hal tersebut harus selalu tercerminkan
dalam program sekolah seperti lagu mars sekolah, manajemen kelas, maupun
buku-buku yang digunakan. Apabila elemen penting ini tidak diterapkan
secara mendalam maka hal tersebut akan menghilang begitu saja.
d. Demokrasi
Pembagian kekuasaan yang tradisional adalah struktur hirearki top-down. Struktur seperti ini susah dan menakutkan bagi siswa. Perlu diperhatikan
bahwa para siswa dituntut untuk menjadi pemimpin yang professional
sehingga para siswa membutuhkan praktik dan bimbingan dari guru.
e. Komunitas
Secara tradisional, sekolah menutup pintu satu harian sampai waktu pulang
siswa. Padahal, sekolah harus terbuka kepada komunitas lain seperti keluarga,
investor, maupun bisnis lain demi kesuksesan sekolah. Sekolah bertanggung
jawab untuk mengembangkan potensi yang dimiliki para siswa. Bekerja sama
dengan komunitas lain membuka kesempatan yang baik bagi para siswa untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki.
f. Keterlibatan
26
Melibatkan siswa dalam menyelesaikan masalah sama dengan mendorong
siswa untuk selalu bertanggung jawab.
g. Kepemimpinan
Keterlibatan guru, staf sekolah, komunitas, serta para siswa dalam kehidupan
sekolah membutuhkan seorang pemimpin yang suportif sebagai inti.
Pemimpin yang suportif berani ambil resiko serta memberikan ketegasan bagi
seluruh proses yang berlangsung di sekolah tanpa harus membatasi
keterlibatan guru, staf sekolah, komunitas, dan para siswa.
4. Kategori pada Iklim Sekolah
a. Iklim Sekolah Positif
Iklim sekolah positif ditandai dengan adanya komitmen untuk saling
menghormati satu sama lain sesama siswa, guru, dan staf sekolah baik di dalam
maupun di luar kelas, menghormati setiap perbedaan individu, dan proses
belajar mengajar yang efektif (Preble & Gordon, 2011). Selain itu, iklim
sekolah yang positif meliputi hubungan interpersonal yang hangat dan suportif,
memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sekolah dan
pengambilan keputusan, dan memiliki norma, aturan, dan tujuan yang jelas
(Battistich, 2001).
b. Iklim Sekolah Negatif
Thapa (2012) mengungkapkan bahwa iklim sekolah negatif memberikan rasa
tidak nyaman bagi seluruh orang di sekolah. Selain itu, iklim sekolah negatif
diwujudkan dengan sistem aturan yang tidak konsisten, kehadiran murid yang
27
C. SISWA MENENGAH ATAS (SMA)
Siswa yang duduk di sekolah menengah atas umumnya dimulai dari usia
15/16 tahun sampai 17/18 tahun. Usia ini termasuk di masa remaja. Menurut
Papalia (2009) masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa. Hurlock (1999) menyatakan bahwa masa remaja mengemban
beberapa tugas perkembangan beberapa di antaranya adalah mencapai perilaku
sosial yang bertanggung jawab dan mencapai kemandirian emosional dari orang
tua maupun orang dewasa lainnya. Oleh karena itu masa remaja disebut juga
masa krisis atau masa bermasalah yang membutuhkan perhatian yang penuh
karena pada masa ini remaja akan mengeksplor aspek kehidupan untuk mencari
jati diri mereka.
Papalia (2009) mengungkapkan bahwa pda masa remaja terjadi perubahan
penggunaan waktu dan hubungan. Pada masa ini, remaja akan lebih menjalin
hubungan dekat dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua. Selain itu
mereka akan lebih jarang menghabiskan waktu di rumah tetapi lebih sering di
sekolah maupun di luar sekolah. Oleh karena itu, sekolah merupakan tempat untuk
remaja mengembangkan potensi akademis serta pembentukan karakter dan sikap
yang positif. Menurut Blum (2012) bagaimana sekolah memperlakukan siswa
berpengaruh terhadap perilaku siswa. Oleh karena itu, sekolah bertangung jawab
memberikan rasa aman dan nyaman kepada siswa.
Menurut Piaget (dalam Papalia,2009), masa ini juga ditandai dengan
berkembangnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak dengan menggunakan
28
dimana pada tahap ini perkembangan mental yang cepat menimbulkan perlunya
remaja membentuk sikap, nilai dan minat yang baru. Selain itu, pada masa ini
remaja mempersiapkan dirinya dalam karier dan ekonomi. Dukungan dari
keluarga serta orang-orang di sekolah sangat dibutuhkan siswa dalam
pengembangan minat serta potensi siswa.
D. SMA HARAPAN I MEDAN
1. Sejarah Sekolah
Sejarah tak menampik bahwa pada saat merdeka hingga tahun 1966
Indonesia terus mengalami masa yang sangat sulit baik dari ekonomi , politik
hingga pendidikan yang pada saat itu masih mencari jati diri yang tepat bagi
bangsa dan negara Indonesia. Melihat kondisi negara yang masih sulit pada saat
itu, berkumpul beberapa tokoh masyarakat Sumatera Utara khususnya masyarakat
Medan yang memang sangat perduli pada anak-anak di Medan ini untuk
memikirkan bagaimana perkembangan pendidikan di Indonesia ini khususnya
kota Medan. Meskipun mereka mempunyai kesibukan dalam tugas
masing-masing namun masih tetap memikirkan bagaimana nasib anak bangsa ini jika
tidak mempunyai pendidikan.
Dari pertemuan para tokoh masyarakat tersebut lahirlah sebuah ide untuk
mendirikan suatu lembaga pendidikan, yang tujuan utamanya adalah untuk
membantu pemerintah menanggulangi pendidikan yang lebih baik bagi anak didik
29
mempunyai mutu pendidikan yang berkualitas, mengusahakan pembayaran
semurah-murah.
Berdasarkan ide tersebut maka pada tahun 1967 didirikanlah sekolah
dalam bentuk yayasan dan diberi nama Yayasan Pendidikan Harapan
(Yaspendhar) yang bertempat dan berkedudukan di Medan. Ide dari pada
pemikiran para tokoh tersebut dikembangkan menjadi lebih lengkap dan luas
sehingga maksud dan tujuan sebagai yang telah disepakati.
Yayasan Pendidikan Harapan merupakan salah satu manifestasi dari
kehendak masyarakat yang merasa tertinggal dalam bidang pendidikan baik
karena penjajahan maupun akibat kurangnya perhatian orde lama. Hasil rumusan
yang telah digodok oleh para tokoh tersebut menjadi penyemangat dibarengi
dengan usaha untuk mewujudkan pendirian,telah menunjukkan titik cerah dengan
diserahkannya izin pemakaian gedung/tanah Jl. Imam Bonjol No. 35 oleh
pemerintah. Gedung inilah yang dipergunakan oleh Yaspendhar dan seiring
dengan perjalanannya diadakan perbaikan dan pembangunan baru.
2. Visi dan Misi
Visi yang diemban oleh Yayasan Pendidikan Harapan adalah terwujudnya
insan yang beriman, berilmu dan beramal melalui lembaga pendidikan dan
pengembangan pengetahuan yang unggul dalam IMTAQ dan IPTEK serta
berwawasan kebangsaan. Sedangkan misi Yayasan Pendidikan Harapan Medan
sebagai berikut:
a. Mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang
30
b. Melaksanakan pelayanan pembelajaran secara efektif dan efisien.
c. Menyediakan sarana pembelajaran sesuai dengan tuntutan perkembangan
dunia pendidikan.
d. Berupaya secara berkualitas dan berkesinambungan dalam peningkatan
mutu dan pelayanan.
e. Melaksanakan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia sesuai dengan
perkembangan dunia pendidikan.
f. Selalu membangun sikap positif terhadap semua stake holder dalam upaya
peningkatan pendidikan dan layanan yang harmonis.
g. Merealisasikan pembelajaran yang berbasis Informasi dan Teknologi (IT)
di seluruh tingkatan satuan pendidikan.
E. DINAMIKA IKLIM SEKOLAH DENGAN SCHOOL
CONNECTEDNESS
School connectedness merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap siswa. Menurut Blum (2002) school connectedness adalah keyakinan yang dimiliki siswa bahwa orang-orang dewasa di sekolahnya peduli dengan
pendidikan mereka serta mempedulikan mereka sebagai seorang individu. Oleh
karena itu, sekolah harus menciptakan hal ini pada setiap siswa. Usaha
menciptakan school connectedness dapat dilakukan menggunakan berbagai strategi yang diimplementasikan melalui visi dan misi, kebijakan, ataupun norma
31
Pada SMA Harapan I Medan perwujudan menciptakan school connectednesstecerminkan pada visi dan misi yaitu tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik tetapi juga mencerminkan insan
yang beriman, berilmu dan beramal. Hal ini berarti bahwa pihak sekolah SMA
Harapan I Medan mempedulikan siswa-siswa dalam hal akademik dan juga
sebagai insan yang baik. Meskipun demikian, school connectedness bukan hanya sekedar keyakinan yang dimiliki siswa akan kepedulian orang dewasa saja tetapi
juga adanya bentuk konkrit akan kepedulian dari orang dewasa, rasa memiliki
terhadap sekolah, dan keterlibatan aktif siswa.
Kepedulian dari orang dewasa di sekolah tidak terbatas hanya berasal dari
guru tetapi juga berasal dari para staf sekolah. Guru dan staf memberi dukungan
secara akademik dengan berbagai bentuk seperti melakukan diskusi untuk
membahas pelajaran, membantu mencapai prestasi akademik, menerima pendapat
siswa tanpa membeda-bedakan. Selain itu dukungan non akademik seperti
bersedia mendengarkan masalah siswa serta membantu dalam mencari solusi,
mengembangkan bakat dan potensi siswa, serta membantu dalam mempersiapkan
rencana masa depan dan karir. Pada siswa SMA Harapan I Medan mereka
meyakini bahwa guru dan staf mendukung dan membantu dalam hal akademik
dan non akademik. Meskipun demikian, siswa mengaku bahwa untuk
menceritakan masalah personal, mereka lebih memilih untuk menceritakan kepada
teman-teman dibandingkan kepada guru.
Kemudian dengan adanya dukungan sosial dari para orang dewasa akan
32
sekolah. Siswa SMA Harapan I Medan mengakui bahwa mereka merasakan
kenyamanan dan senang berada di sekolah. Setelah itu, keterlibatan aktif siswa
terhadap aktivitas sekolah akan melengkapi school connectedness yang dimiliki siswa. Berbagai bentuk keterlibatan aktif dapat ditunjukkan misalnya
mengungkapkan pendapat kepada guru berdasarkan inisiatif sendiri, mematuhi
peraturan di sekolah, serta berpartisipasi dalam kegiatan sekolah tanpa paksaan.
Di SMA Harapan I Medan, siswa diminta untuk selalu aktif terlibat dalam
kegiatan sekolah akan tetapi siswa masih enggan dalam terlibat misalnya saja
dalam proses belajar mengajar, siswa masih merasa malu dan merasa takut salah
untuk menyampaikan pendapat.
Menurut hasil penelitian Karcher dan Lee (2002) bahwa memang school connectedness memiliki kategori yang berbeda mulai dari rendah (general support),sedang (specific support),dan tinggi (engagement).Pada setiap levelnya menunjukkan tingkat keyakinan dan keterlibatan aktif yang berbeda-beda.
Misalnya pada kategori general support, siswa menganggap bahwa tidak ada perbedaannya dukungan dari guru, staf, dan teman sebaya meskipun demikan
siswa menganggap bahwa ia bagian dari sekolah. Pada kategori specific support,
siswa menyadari bahwa adanya perbedaan dukungan dari guru, staf, dan teman
sebaya akan tetapi siswa masih enggan menunjukkan keterlibatan aktif di sekolah
serta masih tidak aktif untuk mencari dukungan. Pada kategori engagement, siswa meyakini bahwa dukungan dari guru dan staf serta berinisiatif untuk mencari
33
Menurut Battistich (2001) school connectedness dapat menjadi kunci utama bagi kesejahteraan siswa baik secara akademis maupun emosional.
Penelitian yang dilakukan Stracuzzi dan Meghan (2010) menunjukkan bahwa
school connectedness memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan sosial-emosional siswa.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Monahan (2010) bahwa siswa
dengan school connectedness tinggi akan menunjukkan hasil akademik maupun perilaku yang lebih positif. Oleh karena itu, school connectedness merupakan hal yang krusial bagi pihak sekolah untuk selalu ditingkatkan kepada siswa.
Meskipun demikian, usaha mewujudkan school connectedness pada siswa bukanlah hal yang mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat. Menurut
Blum (2002) membangun school connectedness memerlukan proses yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Dalam pembentukannya dibutuhkan
partisipasi seluruh pihak yang berada di sekolah. Selain itu, berbagai jenis
tantangan yang harus dihadapi dalam menumbuhkan rasa keterhubungan siswa
terhadap sekolah. Oleh karena itu, faktor-faktor pembentuk school connectedness
perlu diperhatikan.
Menurut Blum (2002) ada empat faktor yang mempengaruhi school connectednessyakni dukungan orang dewasa, kelompok teman sebaya, komitmen siswa terhadap pendidikan, serta lingkungan sekolah. Salah satu hal yang menjadi
sorotan utama di faktor lingkungan sekolah yakni iklim sekolah. Menurut Thapa
34
yang ada di sekolah mengenai norma, tujuan, nilai-nilai, hubungan interpersonal,
serta lingkungan organisasional.
Keamanan sekolah, hubungan interpersonal yang baik, proses belajar
mengajar, serta lingkungan fisik sekolah merupakan hal yang turut serta
membangun iklim sekolah. Keamanan sekolah meliputi secara fisik, verbal, dan
emosional.Selanjutnya hubungan interpersonal yang baik meliputi setiap orang di
sekolah menghormati dan menghargai satu sama lain, membangun hubungan yang
akrab. Siswa SMA Harapan I Medan mempersepsikan bahwa hubungan siswa
dengan guru baik meskipun demikian hubungan interpersonal dengan staf sekolah
tidak akrab.
Kemudian, proses belajar dan mengajar yang efektif bagi siswa misalnya
proses belajar yang kondusif ataupun cara mengajar guru yang dapat dipahami.
Setelah itu, iklim sekolah juga didukung dengan lingkungan fisik yang bersih,
gedung sekolah yang layak serta fasilitas sekolah yang memadai dan
mempermudah aktivitas sekolah. Di SMA Harapan I Medan memberikan
beberapa fasilitas untuk aktivitas siswa misalnya mulai dari laboratorium, aula,
lapangan bermain, jaringan internet, sampai dengan pendingin ruangan di setiap
kelas. Siswa mempersepsikan bahwa fasilitas tersebut berfungsi sebagaimana
mestinya akan tetapi ada beberapa fasilitas yang rusak.
Menurut Preble & Gordon (2011) iklim sekolah yang baik diwujudkan
dalam bentuk sistem, norma, serta kebijakan-kebijakan yang diterapkan di
sekolah. Iklim sekolah yang positif meliputi merasa terjamin keamanan, sekolah
35
membantu mengembangkan potensi diri, serta merupakan tempat yang
memberikan keuntungan di masa depan
Siswa akan cenderung menghindari sekolah ketika siswa mempersepsikan
iklim sekolah sebagai iklim yang negatif. Iklim sekolah negatif meliputi rasa tidak
aman di sekolah, merasa sekolah memberikan banyak tekanan bagi siswa serta
menganggap sekolah bukan menjadi tempat untuk mengembangkan potensi yang
dimiliki (Thapa, 2012).
Menyediakan iklim sekolah yang baik bagi siswa adalah kewajiban para
orang dewasa di sekolah sehingga sekolah harus berusaha dalam mewujudkan
iklim sekolah yang positif. Apabila siswa mempersepsikan iklim sekolah positif
maka level school connectedness tinggi sehingga siswa lebih mau untuk terlibat pada kegiatan di sekolah serta secara akademis maupun non akademis semakin
positif pula (Blum, 2002). Penelitian yang dilakukan oleh Osher (2009) bahwa
iklim sekolah berhubungan dengan school connectedness. Tanpa adanya iklim sekolah yang positif, maka siswa tidak mungkin mengalama rasa connectedness
pada sekolah.
F. HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini