• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap School Connectedness Siswa SMA Harapan I Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap School Connectedness Siswa SMA Harapan I Medan"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

72

LAMPIRAN I

(2)

73

Reliabilitas Skala Skala Iklim Sekolah Uji Coba

Pengolahan 1

a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

(3)
(4)

75

Ket : Aitem yang ditebalkan berarti koefisien daya beda aitemnya dibawah 0.25 dan merupakan aitem yang gugur

(5)

76

a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

(6)
(7)

78

a38 57.42 131.333 .290 .876

a39 57.72 129.008 .371 .874

a42 57.74 128.933 .319 .876

a43 57.92 130.027 .410 .873

a44 57.62 128.542 .475 .872

Scale Statistics

Mean Variance

Std. Deviation

(8)

79

Reliabilitas Skala School Connectedness Uji Coba

Pengolahan 1

(9)
(10)

81

Ket : Aitem yang ditebalkan berarti koefisien daya beda aitemnya dibawah 0.25 dan merupakan aitem yang gugur

(11)
(12)

83

(13)

84

(14)
(15)

86

Ket : Aitem yang ditebalkan berarti koefisien daya beda aitemnya dibawah 0.25 dan merupakan aitem yang gugur

(16)
(17)
(18)

89

LAMPIRAN II

(19)

90

Uji Normalitas Iklim Sekolah (IS) dan

School

Connectedness (SC)

* This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction

(20)

91

Uji Linearitas Iklim Sekolah (IS) dan

School Connectedness

(SC)

Uji Hipotesis : Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap

School

Connectedness

a Predictors: (Constant), IS

ANOVA(b)

a Predictors: (Constant), IS b Dependent Variable: SC

Coefficients(a)

(21)

LAMPIRAN III

(22)

SKALA

PSIKOLOGI

Fakultas Psikologi

Universitas Sumatera Utara

(23)

KATA PENGANTAR

Saya adalah mahasiswa dari Fakultas Psikologi USU program S1 angkatan 2011 semester 8 yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan skripsi. Saya meminta partisipasi Anda sebagai responden penelitian dengan mengisi skala ini.

Pada setiap bagian akan tersedia petunjuk pengisian sehingga jawaban yang Anda berikan sesuai dengan apa yang diminta. Diharapkan Anda mengisi jawaban dengan sejujur-jujurnya karena tidak akan ada jawaban benar atau salah. Jawaban Anda akan dirahasiakan dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian saja.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu kelancaran dalam penyebaran dan pengisian skala ini.

Medan, Februari 2015

(24)

Sebelum Anda mengisi skala, mohon melengkapi data diri di bawah ini :

DATA DIRI

Nama : Usia :

Jenis Kelamin : Kelas :

Berada di Yayasan Pendidikan Harapan sejak : TK SMP

SD SMA (lingkari jawaban anda)

(25)

PETUNJUK PENGISIAN SKALA 1 ( IKLIM SEKOLAH)

Bacalah setiap pernyataan dengan hati-hati, dan berikan tanda silang (X) pada salah satu kolom pilihan jawaban yang paling menggambarkan KEADAAN DAN SISWA-SISWA DI SEKOLAH ANDA, yaitu:

STS : Apabila pernyataan Sangat Tidak Sesuai dengan keadaan dan siswa di sekolah Anda.

TS : Apabila pernyataan Tidak Sesuai dengan kedaan dan siswa di sekolah Anda.

S : Apabila pernyataan Sesuai dengan keadaan dan siswa di sekolah Anda. SS : Apabila pernyataan Sangat Sesuai dengan keadaan dan siswa di sekolah Anda.

Contoh :

No Pernyataan STS TS S SS

1 Kebersihan sekolah saya baik X

Bila Anda merasa pernyataan tersebut sesuai dengan keadaan sekolah Anda maka berikan tanda X di kolom S. Bila Anda ingin mengganti jawaban, coret tanda silang sebelumnya dengan dua garis (=) dan berikan tanda silang (X) pada kolom yang lebih sesuai menggambarkan keadaan sekolah Anda. Contoh :

No Pernyataan STS TS S SS

(26)

No Pernyataan STS TS S SS 1 Siswa tidak mau mengaku bila sudah merusak

fasilitas sekolah.

2 Siswa berperilaku sopan dalam berhubungan dengan guru.

3 Siswa bersedia saling membantu satu sama lain. 4 Peraturan sekolah diberlakukan secara adil pada

setiap siswa.

5 Siswa di sekolah ini tidak nyaman dengan cara belajar yang berkelompok.

6 Siswa tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik di sekolah.

7 Gedung sekolah masih layak digunakan.

8 Peraturan di sekolah tidak ditegakkan secara tegas. 9 Sekolah merupakan tempat yang aman

10 Fasilitas di sekolah tidak lengkap. 11 Penjelasan guru dapat dipahami siswa

12 Guru tidak menjelaskan terlebih dahulu sebelum memberikan tugas.

13 Sekolah menyediakan fasilitas untuk mempermudah kegiatan siswa.

14 Saat guru menjelaskan materi pelajaran, siswa mengerjakan hal lain.

15 Staf sekolah tidak peduli dengan siswa di sekolah ini.

(27)

-SILAHKAN LANJUT KE SKALA 2 -

No Pernyataan STS TS S SS

18 Siswa mampu berdiskusi dengan efektif di dalam kelompok.

19 Peraturan di sekolah ini berubah-ubah.

20 Senior di sekolah ini menguasai fasilitas tertentu. 21 Bangku di kelas banyak yang rusak.

22 Guru tidak menanyakan kepada siswa apakah materi dapat dimengerti.

23 Siswa menyontek pekerjaan siswa lainnya.

24 Siswa akan bermain-main bila mengerjakan tugas di kelas tanpa pengawasan guru.

25 Cat gedung sekolah ini sudah tua.

26 Fasilitas - fasilitas sekolah dalam kondisi layak untuk digunakan.

27 Fasilitas sekolah digunakan oleh siswa

28 Sehabis menggunakan fasilitas sekolah, siswa membersihkannya kembali.

29 Siswa bekerja sama dalam menjaga kebersihan sekolah.

30 Siswa enggan bila membantu siswa dari kelas lain. 31 Siswa saling berebutan untuk menggunakan fasilitas

yang ada.

32 Meja di sekolah banyak terdapat coretan.

33 Siswa menggunakan fasilitas sekolah dengan hati-hati.

(28)

PETUNJUK PENGISIAN SKALA 2 (SCHOOL CONNECTEDNESS) Bacalah setiap pernyataan dengan hati-hati, dan berikan tanda silang (X) pada salah satu kolom pilihan jawaban yang paling menggambarkan DIRI ANDA, yaitu:

STS : Apabila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan diri Anda. TS : Apabila pernyataan tersebut Tidak Sesuai dengan diri Anda.

S : Apabila pernyataan tersebut Sesuai dengan diri Anda. SS : Apabila pernyataan tersebut Sangat Sesuai diri Anda .

Contoh :

No Pernyataan STS TS S SS

1 Saya senang berada di sekolah X

Bila Anda merasa pernyataan tersebut sesuai bagi diri Anda maka berikan tanda X di kolom S. Bila Anda ingin mengganti jawaban, coret tanda silang sebelumnya dengan dua garis (=) dan berikan tanda silang (X) pada kolom yang lebih sesuai menggambarkan diri Anda.

Contoh :

No Pernyataan STS TS S SS

(29)

No Pernyataan STS TS S SS 1 Guru di sekolah peduli dengan saya.

2 Saya memiliki kesempatan untuk berbicara secara personal dengan guru di sekolah.

3 Saya bangga menjadi murid di sekolah ini. 4 Saya merasa bosan di sekolah.

5 Saya berpakaian sesuai aturan agar tidak mencoreng nama baik sekolah.

6 Sekolah adalah tempat yang menyenangkan bagi saya 7 Saya mematuhi peraturan yang ada di sekolah.

8 Saya malu mengungkapkan pendapat saya.

9 Jika ada kesempatan, saya ingin pindah ke sekolah lain. 10 Saya menolak untuk terlibat dalam acara sekolah.

11 Bila ada orang lain menjelek-jelekkan sekolah saya, maka saya akan coba meluruskan nama baik sekolah.

12 Saya terbiasa tidak mengikuti peraturan sekolah. 13 Saya pergi ke sekolah tanpa rasa keberatan di hati. 14 Saya tidak menegur staf sekolah yang tidak saya kenal. 15 Saya takut salah bila menyampaikan pendapat kepada guru. 16 Bila ada diskusi di kelas, saya akan aktif menyampaikan

pendapat.

17 Saya merasa teman lain mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa dari guru.

18 Guru bersedia memberikan bantuan tanpa harus saya minta.

19 Staf di sekolah ini bersedia membantu saya

(30)

-

MOHON PERIKSA KEMBALI JAWABAN ANDA, JANGAN SAMPAI ADA YANG TERLEWATI, TERIMA KASIH 

-No Pernyataan STS TS S SS

21 Saya berani mengungkapkan apapun pendapat saya kepada guru.

22 Saya beruntung bisa masuk sekolah ini

23 Ketika memiliki masalah personal, saya bisa meminta pertolongan kepada guru.

24 Di sekolah ini, siswa tidak bisa mengungkapkan pendapat secara bebas

.

25 Bila ada masalah, lebih baik saya meminta solusi pada teman daripada dari guru.

26 Saat berada di sekolah, saya merasa ingin cepat pulang saja.

27 Saya merasa kesepian di sekolah.

28 Saat kegiatan olah raga, saya lebih memilih untuk tidak ikut berpartisipasi.

(31)

LAMPIRAN IV

(32)
(33)
(34)

i

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan dengan

sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:

PENGARUH IKLIM SEKOLAH TERHADAPSCHOOL CONNECTEDNESSPADA SISWA SMA HARAPAN I MEDAN

Adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar

kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari

hasil karya orang lain dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma,

kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi

ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera

Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, April 2015

Atika Mentari Nataya Nst

(35)

Pengaruh Iklim Sekolah TerhadapSchool ConnectednessSiswa SMA Harapan I Medan

Atika M Nataya Nst & Dian Ulfasari

ABSTRAK

Sekolah merupakan tempat para siswa mendapat pendidikan yang layak. Oleh karena itu, sekolah harus memberikan suasana dan proses belajar yang efektif agar siswa mampu meningkatkan dan mengembangkan dirinya baik secara akademik dan sebagai individu. Siswa yang merasa nyaman dan senang di sekolah memiliki kemungkinan besar untuk merasakan keterhubungan terhadap sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness siswa di SMA Harapan I Medan. Data penelitian dianalisis dengan regresi linear sederhana. Iklim sekolah mengacu pada suasana yang merupakan hasil dari interaksi timbal balik antara seluruh orang-orang yang ada di sekolah serta meliputi suasana lingkungan fisik sekolah. Selanjutnya, School connectedness mengacu pada kepercayaan siswa akan semua orang di sekolah mempedulikan mereka baik secara akademis maupun mereka sebagai individu. Populasi penelitian ini adalah semua siswa SMA Harapan I Medan. Sampel penelitian ini adalah 152 siswa SMA Harapan I Medan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala iklim kelas dan skala school connectedness. Skala iklim sekolah disusun berdasarkan 4 aspek yakni: keamanan, hubungan interpersonal,proses belajar mengajar, dan lingkungan institusional. Skala school connectedness disusun berdasarkan 3 aspek yakni: dukungan sosial, rasa memiliki, dan keterlibatan. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness siswa SMA Harapan I Medan sebesar 34,8% .

(36)

iii

The Impact of School Climate to School Connectedness on Harapan I High School Student.

Atika M Nataya Nst & Dian Ulfasari ABSTRACT

School is a place where student can get proper education. Therefore, school must give a situation and learning process which effective so that student can improve and develop their self as academically and as individually. Student who feels comfort and happy to be in school will likely to feel connected to school. The research aim is to know the impact of school climate to school connectedness on Harapan I high school students in Medan. Data were analyzed by using simple linear regression. School climate refers to the situation which result from all people interaction in school and including physical situation of that school. Then, school connectedness refers to the belief by students that all people in the school care about their learning as well as about them as individuals. The population of this research are Harapan I high school students in Medan. The sample are 152 Harapan I high school students. A measurement of this research use school climate scale and school connectedness scale that both scale are made by researcher. School climate scale is made based on 4 aspects: safety, relationship, teaching and learning, and institutional environment. School connectedness scale is made based on 3 aspects: social support, belonging, and engagement. The research result shows that there are 34,8% impact of school climate to school connectedness on Harapan I high school students in Medan.

(37)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah swt akan berkat dan rahmat

melimpah yang telah diberikan. Terima kasih kepada orang tua peneliti Papi Andi

Utama Nasution, SE dan Mami Khairy Hanim Rangkuti, SE. Kemudian, untuk

kakak Almira Ulfa Utari Nst, S.Ked dan Adik Annisa Nabila Putri Nst. Terima

kasih atas semua doa, pengorbanan, dan dukungan sehingga akhirnya peneliti

dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap

School Connectedness Siswa SMA Harapan I Medan.” Skripsi ini peneliti susun

untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas

Sumatera Utara.

Dalam penyusunan skripsi ini peneliti mendapat banyak bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, Psikolog, selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dian Ulfasari, M.Psi., Psikolog selaku dosen pembimbing seminar

dan skripsi yang memberikan banyak nasehat.

3. Ibu Filia Dina Anggaraeni, M.Pd, Ibu Fasti Rola, M.Psi., Psikolog dan

Ibu Etty Rahmawati, M.Si sebagai penguji saat sidang seminar dan

skripsi peneliti dan memberikan saran-saran yang membangun.

4. Ibu Ika Sari Dewi, S.Psi, psi selaku dosen pembimbing akademik

peneliti yang telah memberi saran akademik kepada peneliti.

5. Pihak sekolah dan siswa-siswa SMA Harapan I Medan yang sangat

(38)

v

lancar. Terima kasih juga kepada Tante Lisna yang telah

mempermudah saya meminta izin kepada SMA Harapan I Medan.

6. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Psikologi Universitas

Sumatera Utara, atas ilmu dan bantuannya.

7. Terima kasih kepada teman-teman seangkatan 2011 terutama

sahabat-sahabat: Nissa, Rina, Tia, Putri. Terima kasih atas waktu yang kita

lewati bersama selama masa perkuliahan. Selain itu untuk Rony,

Manda, Vilya, Zulfa, Haifa yang meluangkan waktu untuk membantu

saya dalam proses pembuatan skripsi.

8. Terima kasih juga kepada seseorang yang selalu memberikan semangat

dan dukungannya dari jauh sana, Settyo Utomo. Untuk Teuku Fajri

Maulana juga terima kasih yang selalu memberi dukungan. Untuk

teman-teman SMA: Fahmi, Hifdzul, Eka, Helve, Mar’ie yang memberi

semangat.

Akhir kata, saya berharap semoga Allah swt membalas segala kebaikan

saudara-saudara semua. Saya sangat menerima segala saran maupun kritik yang

dapat membantu saya agar dapat menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Peneliti,

(39)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERNYATAAN i

ABSTRAK ii

ABSTRACT iii

KATA PENGANTAR iv

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR LAMPIRAN x

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 12

C. Tujuan Penelitian 12

D. Manfaat Penelitian 12

E. Sistematika Penulisan 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.School Connectedness 15

1. DefinisiSchool Connectedness 15

2. AspekSchool Connectedness 16

3. FaktorSchool Connectedness 17

4. Strategi MeningkatkanSchool Connectedness 20

5. KategoriSchool Connectedness 21

B. Iklim Sekolah 22

(40)

vii

2. Dimensi Iklim Sekolah 23

3. Faktor Iklim Sekolah 24

4. Kategori Iklim Sekolah 26

C. Siswa Menengah Atas 27

D. SMA Harapan I Medan 28

E. Dinamika Iklim Sekolah denganSchool Connectedness 30

F. Hipotesis Penelitian 35

BAB III METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian 36

B. Definisi Operasional Variabel 36

C. Populasi, Sampel, dan Metode Pengambilan Sampel 40

D. Alat Ukur 42

E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 47

F. Hasil Uji Coba Alat Ukur 48

G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 55

H. Metode Analisis Data 56

BAB IV ANALISA DATA & PEMBAHASAN

A. Analisa Data 58

1. Gambaran Subjek Penelitian 58

2. Hasil Penelitian 60

(41)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 67

B. Saran 67

1. Saran Penelitian 68

2. Saran Praktis 68

(42)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1.Jumlah Populasi Penelitian 41 Tabel 2. Jumlah Subjek Penelitian Setiap Tingkatan Kelas 42 Tabel 3.Kategorisasi Norma NilaiSchool Connectedness 43 Tabel 4.BlueprintSkalaSchool Connectedness 44 Tabel 5.BlueprintSkala Iklim Sekolah 46 Tabel 6.Distribusi Aitem SkalaSchool ConnectednessSetelah Uji Coba 49 Tabel 7. Distribusi Aitem SkalaSchool Connectedness

yang Digunakan dalam Penelitian 50

Tabel 8.Distribusi Aitem Skala Iklim Sekolah Setelah Uji Coba 52 Tabel 9.Distribusi Aitem Skala Iklim Sekolah

yang Digunakan Dalam Penelitian 54

Tabel 10.Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin 59 Tabel 11. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia 59 Tabel 12.Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkatan Kelas 60

Tabel 13. Uji Normalitas 61

Tabel 14.Hasil Uji Linearitas 62

Tabel 15.Pengaruh Iklim Sekolah TerhadapSchool Connectedness 62 Tabel 16.Koefisien Determinan (R2) 63

(43)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Uji Reliabilitas Skala Uji Coba 72

Lampiran 2. Uji Normalitas, Linearitas, Hipotesis 89

Lampiran 3. Alat Ukur Penelitian 92

(44)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini berisi uraian singkat tentang latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

A. LATAR BELAKANG

Sekolah adalah tempat para siswa mendapatkan pendidikan dari guru. Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu sistem yang harus diatur dengan baik dan benar agar siswa mendapatkan pendidikan yang layak. Menurut UU RI No 20 tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Hardianto, 2013).

(45)

2

School connectedness diartikan sebagai keyakinan yang dimiliki siswa bahwa orang-orang dewasa di sekolahnya peduli dengan pendidikan dan mereka sebagai seorang individu (Blum, 2002). Keyakinan atau belief merupakan kepercayaan dasar individu tentang suatu hal yang terbentuk tanpa disadari sebagai akibat dari interaksi berulang dengan suatu pengalaman tertentu (Matsumoto, 2004).

Menurut Blum (2002), hubungan yang terbentuk antara siswa dengan orang dewasa di sekolah merupakan jantung dari school connectedness. Orang-orang dewasa di sekolah tidak terbatas hanya dengan guru tetapi juga para staf administrasi yang termasuk di dalamnya para penjaga gedung, penjaga kantin, dan seluruh orang dewasa yang terlibat dalam dinamika proses pendidikan di sekolah. Ketika para siswa mempersepsikan bahwa guru mereka dan para staf sekolah peduli, membangun lingkungan belajar yang terstruktur, serta adil maka akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk merasa lebih terhubung kepada sekolah.

(46)

3

Selanjutnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Libbey (2004) ditemukan bahwa school connectedness memiliki cakupan konstruk yang lebih luas dibandingkan konsep lainnya. Pada konsep school attachment hanya fokus kepada sejauh mana siswa menilai orang-orang di lingkungan sekolah menyukainya. Lain halnya dengan school bonding yang mengukur kelekatan dan komitmen siswa. Akan tetapi, pada konsep school connectedness mencakup beberapa konstruk seperti kelekatan, komitmen, dukungan guru, hubungan teman sebaya , dan lainnya.

School connectedness berhubungan dengan hasil perilaku, emosional, dan akademik. Hal ini dapat dijadikan prediktor hasil yang baik dan buruk. Tingkat

school connectedness yang tinggi berhubungan dengan hasil-hasil yang baik, sedangkan tingkat yang rendah berhubungan dengan hasil-hasil yang buruk. Misalnya dalam hal perilaku, siswa yang lebih merasa terhubung kepada sekolah kemungkinan kecil untuk terlibat perilaku nakal dan kekerasan, minum alkohol, menggunakan obat-obatan, serta melakukan seks bebas (Monahan, 2010).

Penelitian lain juga menghubungkan variabel ini dengan kehadiran di sekolah. Ditemukan bahwa ada hubungan positif antara school connectedness

dengan kehadiran siswa di sekolah (Rosenfeld, LB et al 2000). Ditambahkan lagi penelitian yang dilakukan oleh Stracuzzi dan Meghan (2010) membuktikan bahwa

school connectedness memiliki hubungan positif yang kuat dengan prestasi akademik dan non akademik.

(47)

4

siswa. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Resnick dan Harris (1993) yang telah didapat bahwa variabel ini merupakan elemen kedua yang terpenting setelah

family connected sebagai faktor protektif untuk mencegah terjadinya perilaku maladaptif siswa seperti bunuh diri. Penelitian lain yang dilakukan Stracuzzi dan Meghan (2010) yang meneliti dampak school connectedness dengan perasaan depresi, ditemukan bahwa siswa yang memiliki tingkat keterhubungan pada sekolah yang rendah memiliki kemungkinan yang besar untuk mengalami depresi. Sebagai tambahan, penelitian ini menjelaskan bahwa ketika siswa merasakan terhubung kepada sekolah, mereka lebih mungkin untuk memiliki strategi koping dan sumber daya untuk menghadapi situasi yang stress dan masalah lebih efektif.

Menurut Blum (2002) seluruh sekolah memiliki potensi untuk membentuk

school connectedness yang tinggi pada setiap siswa. Berdasarkan penelitian Witt (2013) ukuran sekolah dan tingkat birokrasi mempengaruhi tinggi rendahnya

school connestedness. Di Kota Medan, salah satu sekolah yang memiliki ukuran sekolah yang besar dan memiliki tingkat birokrasi yang tinggi adalah SMA Harapan I Medan. SMA Harapan I Medan merupakan salah satu lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1969 di bawah naungan Yayasan Pendidikan Harapan Medan atau Yaspendhar.

(48)

5

prestasi. Mereka berhasil mengadakan acara pentas seni selama empat tahun terakhir sejak tahun 2011, yang disebut dengan United For One (UFO). Tahun 2013 lalu, UFO ke 3 sukses menyita perhatian para remaja yang diadakan di sebuah hotel berbintang di Medan dan mengundang musisi terkenal di Indonesia sebagai pengisi acara (Diputri, 2013) .

Visi yang diwujudkan SMA Harapan I Medan adalah terwujudnya insan yang beriman, berilmu dan beramal melalui lembaga pendidikan dan pengembangan pengetahuan yang unggul dalam IMTAQ dan IPTEK serta berwawasan kebangsaan. Dalam mewujudkan visi tersebut, ada beberapa misi yang diemban oleh Yaspendhar salah satunya adalah mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang mencerminkan insan yang beriman, berilmu dan beramal (Yayasan Pendidikan Harapan, 2013).

Berdasarkan penjelasan di atas, berikut hasil wawancara peneliti kepada siswa mengenai kepedulian para guru dan staf sekolah terhadap siswa:

“ Peduli kak. Tapi relatif juga kak .Guru-guru mau diajak diskusi tentang pelajaran…. Hem yg diajak curhat, gak semua guru bisa kak paling wali kelas aja. Curhat paling sama temen-temen aja kak. Kalau dengan staf sekolah kurang dekat ke siswa jadi jarang berinteraksi...”

(49)

6

Kemudian berikut hasil wawancara mengenai keterlibatan siswa dalam kegiatan sekolah baik di bidang akademik maupun non akademik:

“ Kita di kelas selalu diminta guru untuk selalu aktif kak. Emm.. tapi kalo aku sih gak semua mata pelajaran aktif kak. Paling sama mata pelajaran yang gurunya enak dan topiknya seru. Guru yg kejam agak serem juga kak, haha. Kalo untuk kegiatan non akademik paling sering yang terlibat ya anak osis kak.”

(Komunikasi Personal, 2014) Berdasarkan pengakuan siswa tersebut dapat dilihat bahwa siswa cukup terlibat dalam kegiatan di sekolah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa siswa tidak merasa yakin untuk selalu terlibat pada semua mata pelajaran di sekolah dikarenakan tergantung pada tipe-tipe guru di kelas.

(50)

7

Menurut Blum (2002) keterlibatan siswa menjadi bagian dari school connectedness. Mengembangkan keterlibatan siswa di sekolah dimulai dari lingkup kecil yakni manajemen kelas seperti rutinitas, perencaan belajar, serta konsekuensi-konsekuensi setiap perilaku. Ketika kelas diatur dengan baik maka hubungan antar siswa maupun dengan guru cenderung akan lebih positif, dan siswapun akan lebih mau terlibat dalam proses belajar dan persaingan dalam menyelesaikan tugas.

Blum (2002) menyatakan bahwa school connectedness merupakan isu yang paling penting dan perlu perhatian yang khusus bagi sekolah dan keluarga. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa school connectedness

melindungi generasi muda dari perilaku beresiko. Dijelaskan pula bahwa variabel ini harus dibentuk dan ditingkatkan karena merupakan elemen penting yang harus dimiliki oleh setiap siswa.

(51)

8

Iklim sekolah adalah apa yang dirasakan siswa, guru, serta para staf sekolah terhadap sekolah. Iklim sekolah merupakan interaksi dari antara orang dewasa dengan para siswa di sekolah, serta terlibat di dalamnya faktor lingkungan seperti sarana dan prasarana gedung, serta rasa aman dan percaya (Gruenert, 2008). Thapa (2012) menyatakan iklim sekolah adalah suasana yang dialami orang-orang yang ada di sekolah mengenai norma, tujuan, nilai-nilai, hubungan interpersonal, serta struktur organisasional. Blum (2002) menyatakan bahwa iklim sekolah termasuk di dalamnya bagaimana para orang dewasa dan siswa saling menghormati satu sama lain, dan seberapa besar kesempatan untuk mengemukakan pendapat serta berpartisipasi di kegiatan sekolah.

Menurut Pianta (dalam Reynold, 2003) iklim sekolah berperan penting untuk menentukan kualitas hubungan antara siswa dengan guru. Kedua hal ini memberikan peran timbal balik satu sama lain. Ketika hubungan siswa dengan guru positif maka iklim sekolah juga positif begitu juga sebaliknya. Preble dan Gordon (2011) mengungkapkan bahwa iklim sekolah merupakan “jiwa” sekolah. Tidak hanya untuk siswa tetapi juga untuk guru serta administrator yang ada di sekolah untuk bekerja secara efektif dan siap untuk memberi kontribusi untuk sekolah.

(52)

9

“ Senang kak berada di sekolah. Sekolah kami nyaman lah kak…. Kalo soal hubungan dengan guru, aman-aman aja kak, gak ada yang buruk . Tetapi ya memang gak bisa juga semua guru mau akrab sama kami”.

(Komunikasi Personal, 2014) Kemudian, hasil wawancara peneliti mengenai suasana di SMA Harapan I yang berada dalam satu kawasan dengan SMP dan SD Harapan adalah ternyata siswa merasakan ketidaknyamanan. Hal ini dikarenakan masing-masing sekolah memiliki gedung yang berbeda tetapi mereka berbagi fasilitas yang sama seperti lapangan bermain, klinik, serta kantin. Pada hari Jumat, mereka memiliki jadwal istirahat yang serentak dengan siswa SMP sehingga harus berebutan menggunakan fasilitas sekolah. Berikut pengakuan siswa tersebut:

“Iya kak, di hari Jumat kami semua istirahatnya semua sama. Sebenarnya agak terganggu sih kak karena gak dapet tempat duduk di kantin. Anak cowok juga kadang berebut untuk menggunakan lapangan walaupun gak sampe berantem sih kak”.

(Komunikasi Personal, 2014) Berdasarkan pengakuan tersebut dapat dilihat bahwa siswa cenderung menyukai iklim yang ada di SMA Harapan I akan tetapi siswa cenderung merasa tidak nyaman dengan sekolah yang harus bergabung dengan siswa SMP dan SD. Hasil wawancara di atas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wilson (2004) menunjukkan bahwa siswa yang mempersepsikan iklim sekolah yang positif maka besar kemungkinannya untuk tidak melakukan perilaku kekerasan dan terlibat aktif pada aktivitas sekolah yang baik.

(53)

10

tanggung jawab menjaga dan memperbaiki lingkungan sekolah adalah strategi yang ampuh untuk meningkatkan iklim sekolah.

Hasil wawancara yang didapat mengenai lingkungan fisik SMA Harapan I adalah siswa mengaku bahwa fasilitas digunakan dengan baik dan sangat membantu aktivitas sekolah. Namun, aturan tetap ditegakkan untuk tidak merusak fasilitas yang diberikan sekolah. Berikut kutipan wawancaranya :

“Bagus kak. Menurutku, semua fasilitas di sekolah ini sangat dimanfaatkan sama guru. Kami di sini juga ada klinik kak, jadi kalo sakit di sekolah bisa ditangani sama dokter, kalo di sekolah lain paling uks biasa aja…… Tapi kami juga harus ikuti aturan untuk menjaga fasilitas, kalo gak sanksinya bisa kena skors”.

(Komunikasi Personal, 2014) Berdasarkan penelitian dan hasil wawancara yang telah dipaparkan menunjukkan bahwa iklim sekolah mempengaruhi kehidupan siswa di sekolah. Sebagai tambahan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Kozina dkk (2008) ditemukan bahwa iklim sekolah memiliki hubungan yang kuat terhadap prestasi siswa. Dijelaskan lebih lanjut bahwa ketika siswa merasa senang berada di sekolah, maka besar kemungkinannya untuk siswa tersebut mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah dengan baik. Penelitian lain yang dilakukan Zullig dan Huebner (2011) menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara iklim sekolah dengan kepuasan siswa di sekolah.

(54)

11

perilakunya. Oleh karena itu, para siswa akan cenderung menghindari sekolah yang memiliki iklim sekolah yang negatif atau sekolah yang memberikan rasa janggal pada diri siswa.

Penelitian yang dilakukan oleh Osher (2009) bahwa iklim sekolah berhubungan dengan school connectedness. Tanpa adanya iklim sekolah yang positif, maka siswa tidak mungkin mengalami rasa keterhubungan pada sekolah. Berdasarkan Hasil penelitian McNeely, Nonemaker, dan Blum (2002) bahwa tingkat school connectedness yang rendah ditemukan pada iklim sekolah negatif seperti manajemen kelas yang buruk, tingkat disiplin rendah, serta ukuran sekolah yang besar. Berdasarkan penelitian di atas maka iklim sekolah merupakan salah satu faktor yang membangun school connectedness siswa. Akan tetapi, menurut hasil penelitian Whitlock (2003) bahwa siswa yang berumur lebih tua daripada siswa lainnya memiliki kecenderungan untuk menilai iklim sekolah secara negative dan memiliki rasa keterhubungan yang lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh siswa yang lebih tua memandang aturan, norma, maupun perhatian dari pihak sekolah sebagai penghalang kebebasan mereka.

Setelah melakukan wawancara dapat diketahui bahwa pihak sekolah SMA Harapan I Medan berusaha membangun iklim positif bagi siswa. Namun siswa tidak merasa seluruhnya sebagai iklim yang positif. Menurut Blum (2002) iklim sekolah yang suportif dan memiliki norma-norma positif cenderung memiliki

(55)

12

fenomena yang telah dipaparkan maka perlu diteliti untuk mengetahui pengaruh iklim sekolah terhadapschool connectednesspada siswa SMA Harapan I Medan.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, “Apakah ada pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness pada siswa SMA Harapan I Medan?”. Selan itu, “Berapa besar pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness pada siswa SMA Harapan I Medan?”.

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan ada atau tidak ada pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh iklim sekolah terhadap school connectedness

pada siswa SMA Harapan I Medan.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

(56)

13

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada siswa SMA Harapan I Medan bahwa iklim sekolah merupakan faktor penting dalam pembentukan school connectedness pada siswa. Sehingga pihak sekolah bisa melakukan evaluasi dan pengembangan terkait dengan peningkatanschool connectednesssiswa.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah : a. Bab I Pendahuluan

Berisi uraian singkat tentang latar belakang permasalahan. Tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

b. Bab II Landasan Teori

Berisikan tentang teori-teori penyusunan variabel yang diteliti, hubungan antara variabel dan hipotesa.

c. Bab III Metode Penelitian

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai identifikasi variabel, definisi operasional dari masing-masing variabel, sampel penelitian, teknik pengambilan sampel, metode pengumpulan data, prosedur penelitian serta metode analisa data.

d. Bab IV Analisa Data dan Pembahasan

(57)

14

penelitian. Selanjutnya, hasil tersebut akan dibahas berdasarkan teori yang telah dipaparkan.

e. Bab V Kesimpulan dan Saran

(58)

15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi tentang teori-teori penyusunan variabel independen dan

variabel dependen yang diteliti. Tinjauan pustaka ini meliputi definsi, aspek-aspek

variabel, faktor-faktor yang mempengaruhi variabel, serta hubungan antara

variabel. Di bagian akhir bab ini akan dijelaskan hipotesa penelitian.

A. SCHOOL CONNECTEDNESS

School connectedness merupakan faktor protektif yang kuat bagi para siswa untuk tidak melakukan perilaku kenakalan remaja seperti menggunakan

obat-obatan, seks bebas, kekerasan, dan lain-lain. Para siswa cenderung lebih

melakukan perilaku positif dan sukses secara akademis ketika mereka memiliki

rasa keterhubungan pada sekolah (Resnick, 1993).

1. DefinisiSchool Connectedness

Blum (2002) mendefinisikan school connectedness sebagai keyakinan yang dimiliki siswa bahwa orang-orang dewasa di sekolahnya peduli dengan

pendidikan mereka serta mempedulikan mereka sebagai seorang individu.

Beberapa konsep serupa sudah sering diteliti dengan memberikan istilah sebagai

school engagement” sementara yang lain menyebutnya sebagai “school attachment” dan yang lain menganalisisnya sebagai “school bonding”. Akan tetapi school connectednessmemiliki perbedaan di antara konsep-konsep tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Libbey (2004) ditemukan bahwa

(59)

16

konsep lainnya. Pada konsep school connectedness mencakup beberapa konstruk seperti kelekatan, komitmen, dukungan guru, hubungan teman sebaya , dan lainya.

Definisi lain dikemukakan oleh McNeely (2002) yang menyatakan bahwa

school connectedness mucul ketika siswa yakin bahwa mereka bagian dari sekolah dan adanya kelekatan antara siswa dengan orang dewasa di sekolahnya. School connectedness tidak hanya memandang rasa kelekatan tetapi rasa aman dan kenyamanan siswa di sekolah, komitmen sekolah, serta pencapaian akademik

siswa di sekolah. Centre for School Mental Health Anlysis and Action (CSMH) mendefinisikan school connectedness perasaan positif akan pendidikan, keterikatan pada sekolah, dan memiliki hubungan positif dengan orang dewasa

dan teman sebaya di sekolah.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan

bahwa school connectedness adalah kepercayaan siswa akan semua orang di sekolah mempedulikan mereka baik secara akademis maupun non akademis .

2. Aspek-aspekSchool Connectedness

Connell dan Wellborn (dalam Stracuzzi dan Mills, 2010) menyatakan

bahwaschool connectednessterdiri dari tiga dimensi utama, yaitu: a. Dukungan Sosial

Aspek ini berfokus pada dukungan guru dan staf lainnya yang berada di

sekolah terhadap seluruh siswa tanpa membedakan jenis kelamin, ras, maupun

etnis. Selain itu didasarkan pada sejauh mana siswa merasa dekat dan bernilai

oleh guru dan staf lainnya di sekolah. Biasanya diukur melalui laporan siswa

(60)

17

terhadap apa yang dinilai oleh guru, kenyamanan ketika berbicara dengan

guru, seberapa sering guru memuji mereka.

b. Rasa Memiliki

Didefinisikan sebagai rasa yang dimiliki oleh siswa mengenai dirinya sebagai

bagian dari sekolah. Mengukur belongingness ini sering meliputi tingkat di mana siswa merasa dihormati di sekolahnya, menjadi bagian dari sekolahnya,

merasa orang-orang yang ada di sekolah peduli dengannya, dan memiliki

teman di sekolah.

c. Keterlibatan

Aspek ini merefleksikan resiprokasi siswa atas rasa memiliki (belonging) dan dukungan yang didapat melalui kepedulian yang aktif dan keterlibatan dalam

bagiannya.

Monahan (2010) mengungkapkan bahwa pada umumnya school connectednessterdiri dari dua komponen utama yakni :

a. Kelekatan(attachment)

Aspek ini dikarakteristikkan dengan hubungan yang dekat antara siswa dengan

seluruh orang yang ada di sekolah.

b. Komitmen(commitment)

Aspek ini dikarakteristikkan dengan komitmen yang ditanamkan oleh siswa

terhadap sekolah serta berperilaku baik di sekolah.

3. Faktor-Faktor yang MempengaruhiSchool Connectedness

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Blum dan kolega (2002)

(61)

18

mereka mempersepsikan orang-orang disekitarnya peduli dan terlibat dalam

kehidupan mereka. Siswa yang merasa didukung oleh orang dewasa di

kehidupannya akan lebih merasa terikat dengan sekolah dan proses belajar. Siswa

membutuhkan orang-orang dewasa di sekolah peduli dengan mereka baik sebagai

individu maupun mengenai pencapaian akademik. Berikut faktor yang

mempengaruhischool connectedness: a. Dukungan Orang Dewasa

Kepercayaan siswa akan diri dan kemampuan mereka tebentuk oleh sebarapa

besar mereka mempersepsikan bahwa orang dewasa di kehidupannya

mempedulikan dan ikut terlibat dalam kehidupan mereka. Siswa yang merasa

didukung oleh orang dewasa kemungkinan akan lebih merasa terikat di

sekolah. Di sekolah, siswa yang merasa didukung dan dipedulikan ketika

mereka melihat para orang dewasa di sekolah mendedikasikan waktu, minat,

perhatian, dan dukungan emosional untuk mereka. Siswa juga butuh untuk

merasakan bahwa orang dewasa mempedulikan mereka baik secara akademik

maupun non akademik.

b. Kelompok Teman Sebaya yang Positif

Hasil akademik siswa juga dipengaruhi oleh karakteristik kelompok teman

sebaya, seperti seberapa jauh kelompok teman sebaya mendukung perilaku

prososial (misalnya belajar kelompok, membantu sama lain, ataupun terlibat

(62)

19

berbeda kelas sosialnya baik dari segi ras maupun gender. Sebaliknya, siswa

yang melaporkan school connectedness yang rendah mengaku lebih nyaman dengan teman di luar sekolah daripada yang ada di sekolah.

c. Komitmen Terhadap Pendidikan

Komitmen merupakan hal yang penting bagi siswa dan guru dalam proses

belajar dan terlibat dalam aktivitas sekolah. Siswa yang terlibat di sekolah dan

percaya bahwa pendidikan yang baik itu penting bagi masa depannya akan

lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah dan memiliki rasa

connectedness yang tinggi pada sekolah. Siswa yang merasa terikat dengan pendidikan akan menunjukkan trait behavioralseperti ketekunan, usaha yang keras, perhatian terhadap tugas, dan lebih suka terhadap tantangan.

d. Lingkungan Sekolah

Rasa keterhubungan siswa akan meningkat dengan lingkungan sekolah yang

aman dan iklim psikososial yang suportif. Lingkungan fisik yang bersih dan

menyenangkan meningkatkan keamanan serta hubungan yang saling

menghormati. Iklim psikososial sekolah dipengaruhi oleh

kebijakan-kebijakan, kesempatan siswa untuk berpartisipasi, dan manajemen kelas.

Penelitian membuktikan bahwa sekolah dengan disiplin yang sangat keras,

rasaconnectedneessiswa rendah. Ketika siswa mempersepsikan iklim sekolah sebagai iklim yang positif maka akan mempengaruhi rasa aman dan

(63)

20

4. Strategi MeningkatkanSchool Connectdness

Strategi meningkatkan school connectedness dapat dikembangkan berdasarkan aspek-aspek serta faktor-faktor yang mempengaruhi school connectedness(Blum, 2002). Ada 5 strategi-strategi, yakni:

a. Menciptakan proses pembuatan keputusan yang memfasilitasi murid untuk

terlibat. Misalnya membuat siswa mau mengungkapkan pendapat tanpa rasa

malu serta melibatkan siswa dalam kegiatan rapat.

b. Memberikan pendidikan dan kesempatan kepada keluarga untuk aktif terlibat

dalam kehidupan sekolah.

c. Menyediakan kebutuhan akademik, emosional, dan keterampilan sosial siswa

di sekolah. Misalnya setiap siswa diperlakukan setara, membuat siswa tidak

merasa tertekan di sekolah, serta membuat siswa merasa nyaman berada di

sekolah.

d. Menggunakan manajemen kelas yang efektif dan metode mengajar untuk

membangun lingkungan belajar yang positif. Misalnya siswa diberi

kesempatan untuk mengembangkan kreativitas serta dibantu dalam pencapaian

prestasi akademik maupun non akademik.

e. Menciptakan hubungan interpersonal yang saling percaya dan peduli diantara

seluruh orang-orang di sekolah. Misalnya guru dan staf menerima pendapat

siswa tanpa membeda-bedakan, guru dan staf memiliki hubungan yang akrab

dengan siswa, siswa bersedia mencari solusi permasalahan kepada guru

(64)

21

5. Kategori padaSchool Connectedness

Berdasarkan penelitian Karcher dan Lee (2002) bahwa school connectednessdikategorikan ke dalam 3 tingkatan yakni :

a. Dukungan Umum(General Support)

Kategori general support merupakan kategori yang paling rendah. Pada kategori ini, siswa memandang dukungan yang ia terima secara umum.

Artinya, siswa merasa tidak ada perbedaan dukungan dari guru, staf sekolah,

serta teman meskipun begitu siswa tetap merasa bahwa dirinya diterima di

sekolah.

b. Dukungan Spesifik(Specific Support)

Kategorispecific support merupakan kategori sedang. Pada kategori ini siswa mengganggap dukungan berasal dari sumber yang spesifik. Artinya, siswa

menyadari bahwa dukungan dari guru berbeda dengan dukungan dari teman

atau staf sekolah. Pada kategori ini, siswa memiliki rasa penerimaan dari

sekolah akan tetapi tindakan siswa tidak secara sukerala serta siswa tidak aktif

mencari dukungan.

c. Keterlibatan(Engagement)

Kategori engagement merupakan kategori tertinggi ini. Pada kategori ini, siswa menunjukkan upaya dalam tugas sekolah serta menunjukan kesenangan

dengan kehidupan sekolah dan terlibat aktif dalam kegiatan sekolah. Selain

itu, siswa menyadari dukungan secara spesifik, menghargai setiap hubungan,

(65)

22

B. IKLIM SEKOLAH

1. Definisi Iklim Sekolah

Menurut Thapa (2012) iklim sekolah didefinisikan sebagai suasana yang

dialami orang-orang yang ada di sekolah mengenai norma, tujuan, nilai-nilai,

hubungan interpersonal, serta struktur organisasional. Sedangkan Menurut Haynes

(dalam Reynolds, 2003) mengemukakan bahwa iklim sekolah adalah kualitas dan

konsistensi dari interaksi interpersonal di dalam komunitas sekolah yang

mempengaruhi perkembangan kognitif, sosial dan psikologis siswa. Iklim sekolah

merupakan interaksi dari antara orang dewasa dengan para siswa di sekolah, serta

terlibat di dalamnya faktor lingkungan seperti sarana dan prasarana gedung, serta

rasa aman dan percaya (Gruenert, 2008).

Iklim sekolah ini juga dapat diartikan persepsi orang-orang yang ada di

sekolah mengenai kehidupan sekolah (Freiberg, 2005). Mengukur persepsi

orang-orang di sekolah akan mendapatkan gambaran iklim sekolah yang tentu saja

mempengaruhi keberlangsungan kehidupan sekolah yakni salah satunya adalah

dengan mengukur persepsi siswa terhadap iklim sekolah (Thapa, 2012).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka peneliti menyimpulkan

iklim sekolah adalah persepsi akan suasana yang merupakan hasil dari interaksi

timbal balik antara seluruh orang-orang yang ada di sekolah serta meliputi suasana

(66)

23

2. Dimensi Iklim Sekolah

Thapa (2012) mengidentifikasi ada 5 elemen dari iklim sekolah yakni :

a. Keamanan

Sekolah memberikan rasa aman baik secara sosial, emosional, fisik, dan

intelektual. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang merasa aman di

sekolah akan cenderung menampilkan perilaku yang baik. Di dalam elemen

ini termasuk di dalamnya aturan, norma, serta kebijakan yang diterapkan di

sekolah. Ketika siswa mempersepsikan bahwa aturan, norma, maupun

kebijakan di sekolah tersebut adil dan memberikan dampak baik maka siswa

akan cenderung untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan.

b. Proses Belajar dan Mengajar

Proses belajar mengajar menunjukkan elemen penting dari iklim sekolah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim sekolah yang positif adalah iklim

yang mendukung agar siswa bisa belajar dengan baik. Iklim sekolah yang

positif adalah yang memberikan proses belajar mengajar yang suportif,

partisipatif, saling menghargai, serta kompak.

c. Hubungan Interpersonal

Proses belajar mengajar akan membentuk sebuah hubungan interpersonal.

Aspek paling penting dari dimensi hubungan ini adalah seberapa saling

berhubungan antara satu orang dengan orang lainnya. Hubungan interpersonal

ini berkaitan dengan keterlibatan siswa di sekolah. Bila siswa

(67)

24

mau terlibat dan berperilaku yang sesuai aturan. Pada dimensi ini termasuk di

dalamnya hubungan antar teman sebaya.

d. Lingkungan Institusional

Di dalam elemen ini termasuk di dalamnya keadaan fisik sekolah. Sekolah

yang menyediakan fasilitas yang mempermudah proses belajar siswa dianggap

sebagai iklim sekolah yang baik. Selain itu, pada elemen ini adanya

keterlibatan siswa pada sekolah juga merupakan hal yang penting. Penelitian

menunjukkan bahwa ukuran sekolah yang kecil memiliki kecenderung tingkat

keterlibatan siswa yang lebih tinggi.

3. Faktor yang Mempengaruhi Iklim Sekolah

Menurut Noonan (2011) ada 7 faktor penting yang mempengaruhi iklim

sekolah yakni :

a. Model

Setiap guru di sekolah memiliki cara yang berbeda dalam mengajar maupun

memperlakukan siswa. Akan tetapi, cara-cara yang dilakukan guru tersebut

memiliki dampak yang besar bagi siswa. Guru harus menjadi model yang baik

bagi para siswa, yang memberikan keseimbangan antara harapan yang jelas

bagi siswa untuk mencapai akedemik dengan mengulurkan tangan untuk

membantu siswa.

b. Konsistensi

Para staff sekolah harus waspada dalam menyampaikan pesan secara konsisten

(68)

25

bahwa hal yang penting yang harus dikejar para guru tidaklah hanya

keefektifan tetapi juga kualitas program yang harus siswa dapatkan.

c. Kedalaman

Seluruh visi dan misi sekolah serta ritual sekolah merupakan elemen penting

bagi iklim sekolah. Oleh karena itu, hal tersebut harus selalu tercerminkan

dalam program sekolah seperti lagu mars sekolah, manajemen kelas, maupun

buku-buku yang digunakan. Apabila elemen penting ini tidak diterapkan

secara mendalam maka hal tersebut akan menghilang begitu saja.

d. Demokrasi

Pembagian kekuasaan yang tradisional adalah struktur hirearki top-down. Struktur seperti ini susah dan menakutkan bagi siswa. Perlu diperhatikan

bahwa para siswa dituntut untuk menjadi pemimpin yang professional

sehingga para siswa membutuhkan praktik dan bimbingan dari guru.

e. Komunitas

Secara tradisional, sekolah menutup pintu satu harian sampai waktu pulang

siswa. Padahal, sekolah harus terbuka kepada komunitas lain seperti keluarga,

investor, maupun bisnis lain demi kesuksesan sekolah. Sekolah bertanggung

jawab untuk mengembangkan potensi yang dimiliki para siswa. Bekerja sama

dengan komunitas lain membuka kesempatan yang baik bagi para siswa untuk

mengembangkan potensi yang dimiliki.

f. Keterlibatan

(69)

26

Melibatkan siswa dalam menyelesaikan masalah sama dengan mendorong

siswa untuk selalu bertanggung jawab.

g. Kepemimpinan

Keterlibatan guru, staf sekolah, komunitas, serta para siswa dalam kehidupan

sekolah membutuhkan seorang pemimpin yang suportif sebagai inti.

Pemimpin yang suportif berani ambil resiko serta memberikan ketegasan bagi

seluruh proses yang berlangsung di sekolah tanpa harus membatasi

keterlibatan guru, staf sekolah, komunitas, dan para siswa.

4. Kategori pada Iklim Sekolah

a. Iklim Sekolah Positif

Iklim sekolah positif ditandai dengan adanya komitmen untuk saling

menghormati satu sama lain sesama siswa, guru, dan staf sekolah baik di dalam

maupun di luar kelas, menghormati setiap perbedaan individu, dan proses

belajar mengajar yang efektif (Preble & Gordon, 2011). Selain itu, iklim

sekolah yang positif meliputi hubungan interpersonal yang hangat dan suportif,

memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sekolah dan

pengambilan keputusan, dan memiliki norma, aturan, dan tujuan yang jelas

(Battistich, 2001).

b. Iklim Sekolah Negatif

Thapa (2012) mengungkapkan bahwa iklim sekolah negatif memberikan rasa

tidak nyaman bagi seluruh orang di sekolah. Selain itu, iklim sekolah negatif

diwujudkan dengan sistem aturan yang tidak konsisten, kehadiran murid yang

(70)

27

C. SISWA MENENGAH ATAS (SMA)

Siswa yang duduk di sekolah menengah atas umumnya dimulai dari usia

15/16 tahun sampai 17/18 tahun. Usia ini termasuk di masa remaja. Menurut

Papalia (2009) masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke

masa dewasa. Hurlock (1999) menyatakan bahwa masa remaja mengemban

beberapa tugas perkembangan beberapa di antaranya adalah mencapai perilaku

sosial yang bertanggung jawab dan mencapai kemandirian emosional dari orang

tua maupun orang dewasa lainnya. Oleh karena itu masa remaja disebut juga

masa krisis atau masa bermasalah yang membutuhkan perhatian yang penuh

karena pada masa ini remaja akan mengeksplor aspek kehidupan untuk mencari

jati diri mereka.

Papalia (2009) mengungkapkan bahwa pda masa remaja terjadi perubahan

penggunaan waktu dan hubungan. Pada masa ini, remaja akan lebih menjalin

hubungan dekat dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua. Selain itu

mereka akan lebih jarang menghabiskan waktu di rumah tetapi lebih sering di

sekolah maupun di luar sekolah. Oleh karena itu, sekolah merupakan tempat untuk

remaja mengembangkan potensi akademis serta pembentukan karakter dan sikap

yang positif. Menurut Blum (2012) bagaimana sekolah memperlakukan siswa

berpengaruh terhadap perilaku siswa. Oleh karena itu, sekolah bertangung jawab

memberikan rasa aman dan nyaman kepada siswa.

Menurut Piaget (dalam Papalia,2009), masa ini juga ditandai dengan

berkembangnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak dengan menggunakan

(71)

28

dimana pada tahap ini perkembangan mental yang cepat menimbulkan perlunya

remaja membentuk sikap, nilai dan minat yang baru. Selain itu, pada masa ini

remaja mempersiapkan dirinya dalam karier dan ekonomi. Dukungan dari

keluarga serta orang-orang di sekolah sangat dibutuhkan siswa dalam

pengembangan minat serta potensi siswa.

D. SMA HARAPAN I MEDAN

1. Sejarah Sekolah

Sejarah tak menampik bahwa pada saat merdeka hingga tahun 1966

Indonesia terus mengalami masa yang sangat sulit baik dari ekonomi , politik

hingga pendidikan yang pada saat itu masih mencari jati diri yang tepat bagi

bangsa dan negara Indonesia. Melihat kondisi negara yang masih sulit pada saat

itu, berkumpul beberapa tokoh masyarakat Sumatera Utara khususnya masyarakat

Medan yang memang sangat perduli pada anak-anak di Medan ini untuk

memikirkan bagaimana perkembangan pendidikan di Indonesia ini khususnya

kota Medan. Meskipun mereka mempunyai kesibukan dalam tugas

masing-masing namun masih tetap memikirkan bagaimana nasib anak bangsa ini jika

tidak mempunyai pendidikan.

Dari pertemuan para tokoh masyarakat tersebut lahirlah sebuah ide untuk

mendirikan suatu lembaga pendidikan, yang tujuan utamanya adalah untuk

membantu pemerintah menanggulangi pendidikan yang lebih baik bagi anak didik

(72)

29

mempunyai mutu pendidikan yang berkualitas, mengusahakan pembayaran

semurah-murah.

Berdasarkan ide tersebut maka pada tahun 1967 didirikanlah sekolah

dalam bentuk yayasan dan diberi nama Yayasan Pendidikan Harapan

(Yaspendhar) yang bertempat dan berkedudukan di Medan. Ide dari pada

pemikiran para tokoh tersebut dikembangkan menjadi lebih lengkap dan luas

sehingga maksud dan tujuan sebagai yang telah disepakati.

Yayasan Pendidikan Harapan merupakan salah satu manifestasi dari

kehendak masyarakat yang merasa tertinggal dalam bidang pendidikan baik

karena penjajahan maupun akibat kurangnya perhatian orde lama. Hasil rumusan

yang telah digodok oleh para tokoh tersebut menjadi penyemangat dibarengi

dengan usaha untuk mewujudkan pendirian,telah menunjukkan titik cerah dengan

diserahkannya izin pemakaian gedung/tanah Jl. Imam Bonjol No. 35 oleh

pemerintah. Gedung inilah yang dipergunakan oleh Yaspendhar dan seiring

dengan perjalanannya diadakan perbaikan dan pembangunan baru.

2. Visi dan Misi

Visi yang diemban oleh Yayasan Pendidikan Harapan adalah terwujudnya

insan yang beriman, berilmu dan beramal melalui lembaga pendidikan dan

pengembangan pengetahuan yang unggul dalam IMTAQ dan IPTEK serta

berwawasan kebangsaan. Sedangkan misi Yayasan Pendidikan Harapan Medan

sebagai berikut:

a. Mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang

(73)

30

b. Melaksanakan pelayanan pembelajaran secara efektif dan efisien.

c. Menyediakan sarana pembelajaran sesuai dengan tuntutan perkembangan

dunia pendidikan.

d. Berupaya secara berkualitas dan berkesinambungan dalam peningkatan

mutu dan pelayanan.

e. Melaksanakan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia sesuai dengan

perkembangan dunia pendidikan.

f. Selalu membangun sikap positif terhadap semua stake holder dalam upaya

peningkatan pendidikan dan layanan yang harmonis.

g. Merealisasikan pembelajaran yang berbasis Informasi dan Teknologi (IT)

di seluruh tingkatan satuan pendidikan.

E. DINAMIKA IKLIM SEKOLAH DENGAN SCHOOL

CONNECTEDNESS

School connectedness merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap siswa. Menurut Blum (2002) school connectedness adalah keyakinan yang dimiliki siswa bahwa orang-orang dewasa di sekolahnya peduli dengan

pendidikan mereka serta mempedulikan mereka sebagai seorang individu. Oleh

karena itu, sekolah harus menciptakan hal ini pada setiap siswa. Usaha

menciptakan school connectedness dapat dilakukan menggunakan berbagai strategi yang diimplementasikan melalui visi dan misi, kebijakan, ataupun norma

(74)

31

Pada SMA Harapan I Medan perwujudan menciptakan school connectednesstecerminkan pada visi dan misi yaitu tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik tetapi juga mencerminkan insan

yang beriman, berilmu dan beramal. Hal ini berarti bahwa pihak sekolah SMA

Harapan I Medan mempedulikan siswa-siswa dalam hal akademik dan juga

sebagai insan yang baik. Meskipun demikian, school connectedness bukan hanya sekedar keyakinan yang dimiliki siswa akan kepedulian orang dewasa saja tetapi

juga adanya bentuk konkrit akan kepedulian dari orang dewasa, rasa memiliki

terhadap sekolah, dan keterlibatan aktif siswa.

Kepedulian dari orang dewasa di sekolah tidak terbatas hanya berasal dari

guru tetapi juga berasal dari para staf sekolah. Guru dan staf memberi dukungan

secara akademik dengan berbagai bentuk seperti melakukan diskusi untuk

membahas pelajaran, membantu mencapai prestasi akademik, menerima pendapat

siswa tanpa membeda-bedakan. Selain itu dukungan non akademik seperti

bersedia mendengarkan masalah siswa serta membantu dalam mencari solusi,

mengembangkan bakat dan potensi siswa, serta membantu dalam mempersiapkan

rencana masa depan dan karir. Pada siswa SMA Harapan I Medan mereka

meyakini bahwa guru dan staf mendukung dan membantu dalam hal akademik

dan non akademik. Meskipun demikian, siswa mengaku bahwa untuk

menceritakan masalah personal, mereka lebih memilih untuk menceritakan kepada

teman-teman dibandingkan kepada guru.

Kemudian dengan adanya dukungan sosial dari para orang dewasa akan

(75)

32

sekolah. Siswa SMA Harapan I Medan mengakui bahwa mereka merasakan

kenyamanan dan senang berada di sekolah. Setelah itu, keterlibatan aktif siswa

terhadap aktivitas sekolah akan melengkapi school connectedness yang dimiliki siswa. Berbagai bentuk keterlibatan aktif dapat ditunjukkan misalnya

mengungkapkan pendapat kepada guru berdasarkan inisiatif sendiri, mematuhi

peraturan di sekolah, serta berpartisipasi dalam kegiatan sekolah tanpa paksaan.

Di SMA Harapan I Medan, siswa diminta untuk selalu aktif terlibat dalam

kegiatan sekolah akan tetapi siswa masih enggan dalam terlibat misalnya saja

dalam proses belajar mengajar, siswa masih merasa malu dan merasa takut salah

untuk menyampaikan pendapat.

Menurut hasil penelitian Karcher dan Lee (2002) bahwa memang school connectedness memiliki kategori yang berbeda mulai dari rendah (general support),sedang (specific support),dan tinggi (engagement).Pada setiap levelnya menunjukkan tingkat keyakinan dan keterlibatan aktif yang berbeda-beda.

Misalnya pada kategori general support, siswa menganggap bahwa tidak ada perbedaannya dukungan dari guru, staf, dan teman sebaya meskipun demikan

siswa menganggap bahwa ia bagian dari sekolah. Pada kategori specific support,

siswa menyadari bahwa adanya perbedaan dukungan dari guru, staf, dan teman

sebaya akan tetapi siswa masih enggan menunjukkan keterlibatan aktif di sekolah

serta masih tidak aktif untuk mencari dukungan. Pada kategori engagement, siswa meyakini bahwa dukungan dari guru dan staf serta berinisiatif untuk mencari

(76)

33

Menurut Battistich (2001) school connectedness dapat menjadi kunci utama bagi kesejahteraan siswa baik secara akademis maupun emosional.

Penelitian yang dilakukan Stracuzzi dan Meghan (2010) menunjukkan bahwa

school connectedness memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan sosial-emosional siswa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Monahan (2010) bahwa siswa

dengan school connectedness tinggi akan menunjukkan hasil akademik maupun perilaku yang lebih positif. Oleh karena itu, school connectedness merupakan hal yang krusial bagi pihak sekolah untuk selalu ditingkatkan kepada siswa.

Meskipun demikian, usaha mewujudkan school connectedness pada siswa bukanlah hal yang mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat. Menurut

Blum (2002) membangun school connectedness memerlukan proses yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Dalam pembentukannya dibutuhkan

partisipasi seluruh pihak yang berada di sekolah. Selain itu, berbagai jenis

tantangan yang harus dihadapi dalam menumbuhkan rasa keterhubungan siswa

terhadap sekolah. Oleh karena itu, faktor-faktor pembentuk school connectedness

perlu diperhatikan.

Menurut Blum (2002) ada empat faktor yang mempengaruhi school connectednessyakni dukungan orang dewasa, kelompok teman sebaya, komitmen siswa terhadap pendidikan, serta lingkungan sekolah. Salah satu hal yang menjadi

sorotan utama di faktor lingkungan sekolah yakni iklim sekolah. Menurut Thapa

(77)

34

yang ada di sekolah mengenai norma, tujuan, nilai-nilai, hubungan interpersonal,

serta lingkungan organisasional.

Keamanan sekolah, hubungan interpersonal yang baik, proses belajar

mengajar, serta lingkungan fisik sekolah merupakan hal yang turut serta

membangun iklim sekolah. Keamanan sekolah meliputi secara fisik, verbal, dan

emosional.Selanjutnya hubungan interpersonal yang baik meliputi setiap orang di

sekolah menghormati dan menghargai satu sama lain, membangun hubungan yang

akrab. Siswa SMA Harapan I Medan mempersepsikan bahwa hubungan siswa

dengan guru baik meskipun demikian hubungan interpersonal dengan staf sekolah

tidak akrab.

Kemudian, proses belajar dan mengajar yang efektif bagi siswa misalnya

proses belajar yang kondusif ataupun cara mengajar guru yang dapat dipahami.

Setelah itu, iklim sekolah juga didukung dengan lingkungan fisik yang bersih,

gedung sekolah yang layak serta fasilitas sekolah yang memadai dan

mempermudah aktivitas sekolah. Di SMA Harapan I Medan memberikan

beberapa fasilitas untuk aktivitas siswa misalnya mulai dari laboratorium, aula,

lapangan bermain, jaringan internet, sampai dengan pendingin ruangan di setiap

kelas. Siswa mempersepsikan bahwa fasilitas tersebut berfungsi sebagaimana

mestinya akan tetapi ada beberapa fasilitas yang rusak.

Menurut Preble & Gordon (2011) iklim sekolah yang baik diwujudkan

dalam bentuk sistem, norma, serta kebijakan-kebijakan yang diterapkan di

sekolah. Iklim sekolah yang positif meliputi merasa terjamin keamanan, sekolah

(78)

35

membantu mengembangkan potensi diri, serta merupakan tempat yang

memberikan keuntungan di masa depan

Siswa akan cenderung menghindari sekolah ketika siswa mempersepsikan

iklim sekolah sebagai iklim yang negatif. Iklim sekolah negatif meliputi rasa tidak

aman di sekolah, merasa sekolah memberikan banyak tekanan bagi siswa serta

menganggap sekolah bukan menjadi tempat untuk mengembangkan potensi yang

dimiliki (Thapa, 2012).

Menyediakan iklim sekolah yang baik bagi siswa adalah kewajiban para

orang dewasa di sekolah sehingga sekolah harus berusaha dalam mewujudkan

iklim sekolah yang positif. Apabila siswa mempersepsikan iklim sekolah positif

maka level school connectedness tinggi sehingga siswa lebih mau untuk terlibat pada kegiatan di sekolah serta secara akademis maupun non akademis semakin

positif pula (Blum, 2002). Penelitian yang dilakukan oleh Osher (2009) bahwa

iklim sekolah berhubungan dengan school connectedness. Tanpa adanya iklim sekolah yang positif, maka siswa tidak mungkin mengalama rasa connectedness

pada sekolah.

F. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini

Gambar

Tabel 1. Jumlah Populasi Penelitian
Tabel 2. Jumlah Subjek Penelitian Setiap Tingkatan Kelas
Tabel 4. Blueprint Skala School Connectedness
Tabel 5. Blueprint Skala Iklim Sekolah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada bab ini disajikan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian tentang Hubungan dukungan Orang Tua dengan Kualitas Hidup anak yang menderita thalasemia di

TNAP yang ditetapkan menjadi KPHK masih menggunakan konstruksi.. kelembagaan TN dengan masih

Skema open access yang diwujudkan dalam bentuk power wheeling / pemanfaatan bersama jaringan transmisi (PBJT) / Sewa jaringan transmisi ini pada dasarnya dapat

Perhitungan biaya dan waktu pelaksanaan hanya pada pekerjaan yang meliputi Pekerjaan Lapis Pondasi, Perkerasan Berbutir, Perkerasan Aspal, dan Struktur Benton

[r]

Pengaruh Optimalisasi model Problem Based Learning dan biasa terhadap kemampuan penguasaan konsep ……… 127.. Pengujian statistik hasil tes kemampuan penguasaan

PERLINDUNGAN HAK-HAK PASIEN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT.. (Studi Kasus Rumah Sakit Umum Daerah Tarutung

Worksheet adalah lembar kerja Excelyang digunakan untuk mengolah data yang sering disebut juga sheet. Lembar kerja ini berupa kolom dan baris. Satu sheet terdiri dari 16384 kolom