Muwashofat yang ingin dicapai
•
Menyambung silaturrahim
•
Komitmen dengan adab Islam di rumah
•
Melaksanakan hak-hak anak
•
Bersemangat mendakwahi Istri,
I. TUJUAN UMUM
Menguatkan ikatan dengan sunnah Rasulullah
Saw, berdasarkan pada landasan fahm
(pemahaman), cinta, mengerti akan pikiran-pikiran
pokoknya, dan ikatan dengan
II. TUJUAN KHUSUS
1. membaca nash hadits dengan baik
2. menghafalkan hadits-hadits yang sudah ditentukan
3. menyebutkan perawi hadits, pentakhrijnya, dan derajatnya.
4. menyebutkan tema hadits
5. menjelaskan arti kosa kata hadits
6. membuktikan arti hadits dengan ayat-ayat al Qur`an sedapat mungkin
7. Menjelaskan tentang ajaran Islam yang memuliakan Keluarga
8. Menjelaskan tentang hak anak perempuan
9. Allah sangat menyayangi anak melebihi kasih sayang ibu terhadap anaknya
10. Meletakkan Anak dalam pelukan atau Pangkuan
11. Menerangkan urgensi kasih sayang kepada anak, terutama yang masih kecil,
yaitu dengan menciumnya, mengecupnya dan meletakkannya di pelukan atau
pangkuan
12. Menerangkan bahwa rizki itu ada di tangan Allah swt, dan bahwa tidak ada
anak yang dilahirkan kecuali ia membawa rizkinya
III. SASARAN AFEKTIF PSIKOMOTORIK
1.
berinteraksi dengan bagus terhadap hadits-hadits Rasulullah Saw
2.
tekun menghafal matan (isi) hadits
3.
komitmen dengan arti dan arahan hadits tersebut
4.
komitmen dengannya dalam kehidupan nyatanya
5.
punya kepedulian menyebarkannya dan menyeru orang lain kepadanya, dimulai
dari keluarga, kerabat dekatnya dan orang yang berhak mendapatkannya
6.
berusaha untuk teliti (selektif) dalam menyebarkannya pada orang lain
7.
menegaskan keshohihan hadits tersebut sebelum meriwayatkannya
8.
pintar mengambilnya sebagai dalil dalam kesempatan yang berbeda-beda
9.
saling mengasihi antara kita
11.
Bahwa Allah Swt sangat mengasihi hamba-hamba-Nya
12.
Kasih sayang terhadap manusia dan lemah lembut terhadap hewan
13.
Seorang mukmin mencintai saudaranya sebagaimana mencintai
dirinya sendiri
14.
Aktif untuk menyatukan orang-orang mukmin dan menyuruh untuk
menolong mereka
15.
Menghormati hak-hak kaum muslimin
16.
Menganjurkan untuk belajar sunnah
17.
Memperdalam pelajaran yang telah lalu melalui buku-buku hadits dan
syarahnya
18.
Studi analisa dan tematik untuk menyimpulkan sasaran hadits, baik
dilalah dakwah, tarbiyah, harokah ataupun fikroh
19.
Menambah hadits yang berhubungan dengan bab itu (pemahaman
dan hafalan)
20.
Bersikap lembut kepada anak laki-laki atau wanita
IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan dalam halaqah adalah:
1.
Kegiatan Pembuka
•
Mengkomunikasikan tema dan tujuan kajian Kewajiban Orang tua
terhadap anak
2. Kegiatan Inti:
•
Kajian tentang tema Kewajiban Orang tua terhadap anak
•
Berdikusi dan tanya jawab tema tersebut ( lihat tujuan Kognitif,
afektif dan psikomotor)
•
Penekanan dari Murobbi tentang nilai dan hikmah yang terkandung
dalam kajian tersebut
3.
Kegiatan Penutup:
•
Tugas mandiri (lihat kegiatan pendukung)
V. PILIHAN KEGIATAN PENDUKUNG.
1.
Menyiapkan acara televisi yang edukatif untuk
menerangkan urgensi menyayangi anak dan
cara yang cocok untuk mendidik anak
2.
Menulis cerita yang mengungkapkan bahwa
rizki ada di tangan Allah, dan anak itu
dilahirkan dengan membawa rizkinya.
3.
Menulis makalah yang membahas tentang
bahaya pembatasan keturunan dengan
VI. TUJUAN TARBIYAH DZATIYAH
1.
menerangkan luasnya rahmat Allah Swt
2.
menjelaskan maksud dari rahmat itu
3.
memberi bukti mengapa Nabi Saw memilih kuda, yang
melaluinya dapat menjelaskan betapa luasnya rahmat Allah Swt
4.
menyimpulkan hakikat-hakikat dan nilai-nilai tarbawi yang dituju
oleh hadits itu
5.
Menerangkan pentingnya seorang muslim memperhatikan halal
dan haram dalam urusannya
6.
Menjelaskan hubungan seorang muslim dengan kerabatnya
yang bukan muslim
7.
Menyimpulkan hakikat-hakikat dan nilai-nilai tarbawi yang dituju
oleh dua hadits mulia tersebut
VII. SARANA EVALUASI DAN MUTABA’AH.
1.
dialog dan diskusi
2.
pencatatan untuk menegaskan ketelitian membaca
nash hadits, memahami dan mempraktekkannya
3.
berbaur melalui kunjungan-kunjungan, rihlah dan
aktifitas yang berbeda-beda
4.
menyiapkan formulir untuk menegaskan tercapainya
sasaran
5.
wirid muhasabah pada bidang yang dituju oleh hadits
6.
memberi kesempatan untuk mengutarakan apa yang
VIII. Referensi
1.
Buku-buku hadits yang terpercaya
(mu`tamad) ( Shohih Bukhori – Shohih
Muslim-Riyadlus Sholihin)
2.
Buku-buku syarah hadits ( Fathul Bari – an
Nawawi dalam syarah Muslim – Dalilul Falihin
fi Syarhi Riyadis Sholihin )
3.
Taujihat Nabawiyah karya Dr. Sayyid Nuh.
4.
Riyadush Sholihin Karya Imam Nawawi
Islam turun sebagai agama
rahmatan lil ‘alamin,
sebagaimana yang
disebutkan Allah Taala kepada Rasulullah saw.
َنيِمَلاَعْلِل ًةَم ْح َر للِإ َكاَنْلَس ْرَأ اَم َو
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi semesta alam.” (Al-Anbiya: 107)
Dengan misi yang sangat mulia itulah, dapat dipahami bahwa syariat
Islam akan memberikan perhatian yang sangat tinggi terhadap segala hal
yang terkait dengan tindakan-tindakan yang akan membuahkan hasil
berupa
rahmatan lil ‘alamin
.
Sebagai salah satu dari implementasi misi
rahmatan lil ‘alamin
Islam
sangat memperhatikan pola hubungan antar manusia (
mu’amalah
insaniyah
) .
Dalam makalah yang ringkas ini, akan dibahas bagaimana Islam
memerintahkan umatnya untuk memuliakan keluarga sebagai bagian dari
upaya mewujudkan tata kehidupan sosial yang penuh dengan kedamaian
dan sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Perhatian terhadap keutuhan dan keharmonisan keluarga diingatkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an mengenai hakikat dan tujuan pembentukan keluarga itu sendiri. Perhatikan firman Allah Taala dalam Ar-Rum: 21
ْمُكَنْيَب َلَعَجَو اَهْيَلإإ اوُنُكْسَتإل اًجاَوْزَأ ْمُكإسُفْنَأ ْنإم ْمُكَل َقَلَخ ْنَأ إهإتاَياَء ْنإمَو
َنوُرّكَفَتَي ٍم ْوَقإل ٍتاَي َل َكإلَذ يإف ّنإإ ًةَمْحَرَو ًةّدَوَم
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Dengan demikian, sakinah, mawaddah dan rahmah merupakan suatu kondisi yang hendaknya diciptakan oleh pasangan suami isteri di dalam rumah tangganya.Dan ini memerlukan suatu upaya yang sistematis dan konstruktif dari kedua belah pihak. Tuntunan interaksi harmonis suami isteri dapat kita lihat dalam beberapa pesan Al-Qur’an dan Hadis:
ّنُهَل ٌساَبإل ْمُتْنَأَو ْمُكَل ٌساَبإل ّنُه
“… mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…” (Al-Baqarah: 187)
َلَع ْجَيَو اًئْيَش اوُهَرْكَت ْنَأ ىَسَعَف ّنُهوُمُتْهإرَك ْنإإَف إفوُرْعَمْلاإب ّنُهوُرإشاَعَو
اًريإثَك اًرْيَخ إهيإف ُ ّا
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. “ - (An Nisaa: 19)
ُ ّا َظإفَح اَمإب إبْيَغْلإل ٌتاَظإفاَح ٌتاَتإناَق ُتاَحإلاّصلاَف
“…Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka...” ( An-Nisaa: 34)اَهْيَلإإ َرَظَن اَذإإ ُةَحإلاّصلا ُةَأْرَمْلا ُءْرَمْلا ُزإنْكَي اَم إرْيَخإب َكُرإبْخُأ َلَأ
ُهْتَظإفَح اَهْنَع َباَغ اَذإإَو ُهْتَعاَطَأ اَهَررَمَأ اَذإإَو ُهْتّرَس
“Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dijadikan bekal seseorang? Wanita shalihah: jika dilihat (suami) menyenangkan dan jika (suami)meninggalkannya ia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Abu Dawud dan Nasa’i)
“ Janganlah seorang (suami) mukmin membenci seorang (istri) mu’minah. Jika ia tidak suka dengan salah satu perilakunya, ia dapat menerima perilakunya yang lain (Muslim)
“Takutlah kepada Allah dalam (memperlakukan) wanita karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah, dan engkau halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Dan kewajibanmu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik”
Memuliakan keluarga juga berarti meningkatkan kualitas hubungan antara
orang tua dan anak. Dalam hal ini, patokan paling utama adalah perintah
Allah Taala kepada orang-orang beriman untuk menjaga keselamatan
keluarganya dari api neraka
ٌةَكِئ َلَم اَهْيَلَع ُة َرا َجِحْلا َو ُسالنلا اَهُدوُق َو ا ًراَن ْمُكيِلْهَأ َو ْمُكَسُفْنَأ اوُق اوُنَمَآ َنيِذللا اَهّيَأ اَي
َنوُرَم ْؤُي اَم َنوُلَعْفَي َو ْمُه َرَمَأ اَم َ لا َنوُصْعَي َل ٌداَد ِش ٌظ َلِغ
“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
(At-Tahrim:
6) .
Sungguh menjadi kewajiban orang tua untuk menjadikan anak-anak
mereka orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Memuliakan anak
berarti memenuhi hak-hak mereka, bahkan sejak awal kehidupan mereka
dimulai .
a. Menerima kelahiran
Menerima kelahiran mereka dengan penuh sukacita, tidak boleh menolaknya. Sabda Nabi:
َنيإلّوَلا إسوُءُر ىَلَع ُهَحَضَفَو ُهْنإم ُ ّا َبَجَتْحا إهْيَلإإ ُرُظْنَي َوُهَو ُهَدَلَو َدَحَج ٍلُجَر اَمّيَأَو
َنيإرإخلاَو
Barang siapa yang mengingkari anaknya, sedang anak itu mengetahuinya maka Allah akan
menutup diri dari orang itu. dan keburukannya akan ditunjukkan di hadapan orang-orang terdahulu dan kemudian (Ad Darami) .
b. Melantunkan adzan di telinga kanan saat lahir ke
dunia.
Aku melihat Rasulullah saw azan di telinga Husein ketika dia baru saja dilahirkan oleh Fatimah ra. (Al-Hakim)
c. Tahnik,
Yaitu sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW berupa pemberian makanan manis dan lembut di saat-saat pertama kehidupan anak (bisa dengan kurma atau madu)
d. Menyusuinya dalam waktu yang cukup (2 tahun) .
َةَعاَضّرلا ّمإتُي ْنَأ َداَرَأ ْنَمإل إنْيَلإماَك إنْيَلْوَح ّنُهَد َلْوَأ َنْعإضْرُي ُتاَدإلاَوْلاَو
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” ( Al-Baqarah: 233)
e. Memberi nama yang baik.
Imam Ibnu Qayim mengatakan bahwa ada hubungan yang erat antara nama dengan kualitas anak. Pemberian nama yang baik akan mendorong yang punya nama untuk berbuat baik sesuai dengan makna yang terdapat di dalam namanya, karena nama yang diberikan orang tua mengandung do’a dan harapan. Sebaliknya seorang anak akan merasa malu dan rendah diri apabila nama yang disandangnya buruk, atau tiada makna.
f. Aqiqah:
Menyembelih hewan qurban untuk kelahiran mereka pada hari ketujuh. Rasulullah saw. bersabda,
“Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua ekor kambing yang memenuhi syarat dan bayi perempuan cukup dengan satu ekor kambing.” (Ad-Darami)
g. Cukur rambut:
Pada hari yang ketujuh pula dilakukan pencukuran rambut, dan menimbang rambut tersebut lalu dikonversi dalam satuan emas atau perak yang selanjutnya disedekahkan kepada faqir miskin.
إهإرْعَش إةَنإزإب يإقّدَصَتَو ُهَسْأَر يإقَلْحا َةَمإطاَف اَي
“Wahai Fatimah Timbanglah rambut al Husain dan sedekahkanlah perak seberat itu” (Al-Hakim)
h. Khitan:
Dari segi medis khitan jelas bermanfaat bagi kesehatan. Dengan khitan berarti sejak kecil ia sudah dipelihara harga diri, kehormatan dan kesehatannya.
Selanjutnya memuliakan anak berarti juga memberikan pendidikan yang baik kepada mereka. Al Qur’an secara monumental telah mengisyaratkan pentingnya pendidikan anak ini melalui kisah Lukman ketika sedang mendidik anaknya:
ٌميإظَع ٌمْلُظَل َك ْرّشلا ّنإإ إ ّلاإب ْكإرْشُت َل ّيَنُباَي ُهُظإعَي َوُهَو إهإنْب إل ُناَمْقُل َلاَق ْذإإَو
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” ( Luqman: 13)Dengan pendidikan yang benar menurut apa yang diajarkan Allah Taala, maka anak akan menjadi individu yang mature dewasa dan bertanggung jawab, serta mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi kemaslahatan umat.
Sedangkan bagaimana anak bersikap kepada orangtuanya,
juga sangat jelas diperintahkan Allah Taala:
ْلُقَت َلَف اَمُه َلِك ْوَأ اَمُهُد َحَأ َرَبِكْلا َكَدْنِع لنَغُلْبَي المِإ اًناَس ْحِإ ِنْيَدِلا َوْلاِب َو ُهاليِإ للِإ اوُدُبْعَت للَأ َكّبَر ىَضَق َو
اَمُهْم َح ْرا ّب َر ْلُق َو ِةَم ْحلرلا َنِم ّلّذلا َحاَن َج اَمُهَل ْضِف ْخا َو .اًمي ِرَك ًل ْوَق اَمُهَل ْلُق َو اَمُه ْرَهْنَت َل َو ّفُأ اَمُهَل
ا ًريِغَص يِناَيلب َر اَمَك
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia.Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara
keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka
keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu
kecil.”
( Al-Isra: 23-24)
Bahkan Allah selalu mensejajarkan perbuatan mengabdi
kepada-Nya dan bertauhid dengan berbuat baik kepada orang tua:
اًناَس ْحِإ ِنْيَدِلا َوْلاِب َو اًئْيَش ِهِب اوُك ِرْشُت َل َو َ لا اوُدُبْعا َو
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, ….”
(An
Nisa 36)
Ini menunjukkan bahwa memuliakan kedua orangtua bukan
perkara sepele. Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa memuliakan
kedua orangtua terus berlanjut meskipun keduanya telah tiada:
ْنِم ٌلُجَر ُهَءاَج ْذِإ َمّلَس َو ِهْيَلَع ُ ّا ىّلَص ِ ّا ِلوُسَر َدْنِع ُن ْحَن اَنْيَب َلاَق ّيِدِعاّسلا َةَعيِبَر ِنْب ِكِلاَم ٍدْيَسُأ يِبَأ ْنَع
اَمِهْيَلَع ُة َلّصلا ْمَعَن َلاَق اَمِهِت ْوَم َدْعَب ِهِب اَمُهّرَبَأ ٌء ْيَش ّي َوَبَأ ّرِب ْنِم َيِقَب ْلَه ِ ّا َلوُسَر اَي َلاَقَف َةَمَلَس يِنَب
اَمِهِقيِدَص ُماَرْكِإ َو اَمِهِب ّلِإ ُلَصوُت َل يِتّلا ِمِحّرلا ُةَل ِص َو اَمِهِدْعَب ْنِم اَمِهِدْهَع ُذاَفْنِإ َو اَمُهَل ُراَفْغِتْس ِلا َو
Abu Usaid (Malik) bin Rabi’ah Assa’diyah berkata: Ketika kami
duduk di sisi Rasulullah SAW mendadak datang seorang dari Bani Salimah
dan bertanya: Ya Rasulullah apakah masih ada jalan untuk berbakti
terhadap ayah bundaku sesudah mati keduanya? Jawab Nabi: Ya,
men-sholatkan atasnya, membacakan istighfar atas keduanya dan
melaksanakan janji (wasiat) nya, serta menghubungkan ikatan yang tidak
dapat dihubungkan melainkan karena keduanya, dan menghormati
1. Selalu menjaga silaturahim dengan cara mengunjungi mereka secara rutin (berkala) sesuai kemampuan. Bila jarak tempat tinggal jauh, dapat dilakukan melalui telpon atau surat.
Tanyailah keadaan kesehatan mereka, masalah-masalah mereka.
2. Memenuhi kebutuhan mereka, terutama tentu saja kebutuhan hidup sehari-hari berupa sandang, pangan dan papan.
3. Memelihara kesehatan mereka dengan cara memonitor kesehatan mereka, menganjurkan bahkan membantunya berobat ke dokter. Menganjurkan mereka untuk memperbaiki pola makan, pola kerja dan pola hidup agar menjadi sehat.
4. Memberi mereka hadiah sesuatu yang menyenangkan mereka, meskipun cuma sebuah bingkisan kecil. Janganlah lupa memberikan mereka buah tangan apabila kita pulang dari bepergian jauh.
5. Menganjurkan mereka meningkatkan ibadah, memperbanyak dzikir dan menghadiri atau mendengarkan ceramah atau majelis ta’lim yang baik buat mereka. Berikan pula buku atau majalah yang patut mereka baca.
6. Mendidik anak-anak untuk menghormati dan menggembirakan mereka (kakek-nenek) 7. Pamit kepada mereka ketika hendak bepergian jauh.
8. Bila memiliki rezeki yang cukup, patutlah kita memberangkatkan mereka ke tanah suci Mekkah untuk ibadah Haji.
9. Sesekali ajaklah mereka rihlah bersama ke suatu tempat yang baik.
Sungguh indah bagaimana Islam memberikan pedoman-pedoman yang jelas dan rinci bagaimana sebuah keluarga dibangun dengan cara-cara yang bersahaja dan penuh nilai-nilai luhur.
B. HAK-HAK ANAK ATAS ORANG TUA
1. Menyayangi Anak dan Menciuminya
ُهّمشو ُهَلّبَقَف ، ميهاربإ ـ ملسو هيلع ل ىلص ـ يٍبَنلا َذ َخََأ :لاق ـ هنع ل يضر ـ كلام نب سنأ نع
Dari Anas bin Malik –ra. Berkata: Rasulullah saw menggendong Ibrahim dan menciuminya. (Al-Bukhari) Ibnu Al Baththal berkata:
، ُةِر ْوَع ْنُكَي ْمَل َلاَم ، ِءامَلُعلا ُِرَثْكأ دنع ُريبكلا اذكو، ُهْنِم وّضَع ّلك يف ِريغصلا ِدَلَولا َليِبْقَت ُزوجَي
ِدَلَولا ةروع ُلِِبَقُت ف
Diperbolehkan mencium anak kecil, di semua anggota badannya. Demikian juga orang dewasa –menurut mayoritas ulama-, kecuali auratnya. Maka tidak boleh hukumnya mencium aurat anak.
أ
َمْيِهاَرْبِإ ـ َمّلَسَو ِهْيَلَع ُل ىّلَص ـ ّيِبّنلا َذ َخَ
Rasulullah mengambil anaknya –Ibrahim- dari ibunya Mariyah Al Qibthiyah,
ُ
هَلّبَقَف
Mencium dengan mulutnya,ُهّمَشَو
mencium dengan hidungnya, sepertinya ia adalah ُةَناحيإر
:
pengharumnya
Anak-anak itu diciumi serasa parfum – sepertinya. Rasulullah saw menerangkan dua cucunya Al Hasan dan Al Husain, dua putera Fatimah dengan kalimat:
اَيْنّدلا َنِم ّياَتَنا َحْيَر اَمُهKeduanya adalah keharumanku di dunia. HR Al Bukhari dari Ibnu Umar –ra. Kalimat,
ايندلررا نم ياتناحير
berarti bagian parfum duniawiku.نع
ُ ّل ىّلَص ِ ّل ُلوُسَر َلّبَق َلاَق ُهْنَع ُ ّل َيِضَر َةَرْيَرُه يبَأ
ّيِميِمّتلا ٍسِباَح ُنْب ُعَرْقَ ْلا ُهَدْنِعَو ّيِلَع َنْب َنَسَحْلا َمّلَسَو ِهْيَلَع
اًد َحَأ ْمُهْنِم ُتْلّبَق اَم ِدَلَوْلا ْنِم ًةَرَشَع يِل ّنِإ ُعَرْقَ ْلا َلاَقَف اًسِلاَج
ُمَحْرَي َل ْنَم َلاَق ّمُث َمّلَسَو ِهْيَلَع ُ ّل ىّلَص ِ ّل ُلوُسَر ِهْيَلِإ َرَظَنَف
ُم َح ْرُي َل
Dari Abu Hurairah ra- berkata: Rasulullah saw menciumi Al
Hasan bin Ali, di hadapan Al Aqra’ bin Habis At Tamimiy yang
sedang duduk. Lalu Al Aqra’ berkata: Sesungguhnya aku memiliki
sepuluh anak, dan aku belum pernah menciumi seorang pun. Lalu
Rasululahn saw memandanginya dan bersabda: “Barang siapa yang
tidak menyayangi maka tidak akan disayangi”
(Al Bukhari)
1. Masyru’iyyah
(disyariatkannya) mencium anak, dan
hal ini adalah sunnah Nabi yang mulia.
2. Orang yang tidak menyayangi sesama manusia dan
makhluk hidup lainnya akan terhalang dari rahmat
Allah, dan kasih sayang sesama manusia. Karena
balasan itu serupa dengan amalnya.
3. Orang yang menyayangi orang lain mendapatkan
keberuntungan rahmat Allah dan kasih sayang
sesama manusia yang akan menjadi penolong di
kala sempit dan pembela pada saat yang dibutuhkan.
Dan orang yang mendapatkan rahmat Allah, ia akan hidup dengan kehidupan yang
baik, mendapatkan nikmat lahir batin, dan akan berakhir dengan kebaikan (husnul
khatimah) .
ْمَلَف ُلَأْسَت اَهَل إناَتَنْبا اَهَعَم ٌةَأَرْما ْتَلَخَد ْتَلاَق اَهْنَع ُ ّا َيإضَر َةَشإئاَع ْنَع
ْلُكْأَت ْمَلَو اَهْيَتَنْبا َنْيَب اَهْتَمَسَقَف اَهاّيإإ اَهُتْيَطْعَأَف ٍةَرْمَت َرْيَغ اًئْيَش يإدْنإع ْدإجَت
ُهُت ْرَب ْخَأَف اَنْيَلَع َمّلَسَو إهْيَلَع ُ ّا ىّلَص ّيإبّنلا َلَخَدَف ْتَجَرَخَف ْتَماَق ّمُث اَهْنإم
إراّنلا ْنإم اًرْتإس ُهَل ّنُك ٍء ْيَشإب إتاَنَبْلا إهإذَه ْنإم َيإلُتْبا ْنَم َلاَقَف
Dari Aisyah –isteri Rasulullah saw- berkata: Telah datang padaku seorang wanita
bersama dengan dua orang anaknya meminta sesuatu kepadaku. Aku hanya
memiliki sebutir korma, lalu aku berikan padanya. ibu itu kemudian membaginya
untuk kedua anaknya, lalu pergi. Kemudian Rasulullah saw datang dan aku
ceritakan kepadanya. Nabi bersabda: barangsiapa yang dikaruniai anak-anak
perempuan lalu berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak itu akan menjadi
penghalangnya dari neraka
. (Al Bukhari, Muslim dan At Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan tentang hak anak perempuan. Karena pada umumnya mereka lemah dalam memenuhi kebutuhan pribadinya. Berbeda dengan laki-laki, yang secara fisik lebih kuat, lebih cair dalam berfikir, mampu memenuhi kebutuhannya, pada umumnya.