BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Perputaran Piutang
Menurut kasmir (2008:176) memberikan batasan bahwa “Perputaran Piutang merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode”.
Menurut Toto prihadi (2012: 251) mengatakan “ Perputaran Piutang adalah rasio untuk mengukur sampai seberapa cepat perusahaan dapat menagih piutangnya”.
Sedangkan Menurut Toto prihari (2010 : 122) mengatakan “Receivable Turnover ( perputaran piutang ) adalah kemampuan perusahaan dalam menangani penjualan kredit dan kebijakannya”.
Seperti diketahui kebanyakan perusahaan menjual secara kredit. Dengan penjualan kredit diharapkan total penjualan meningkat, laba meningkat dengan resiko yang meningkat pula. Resiko ini terjadi pada saat pembeli tidak mampu membayar atau menunda pembayaran. Semakin cepat perputaran berarti semakin sedikit dana yang diperlu ditanam dalam piutang usaha.
Dari beberapa teori diatas dapat diambil kesimpulan perputaran piutang (receivable Turnove) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur berapa lama
penagihan piutang selama satu periode atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode. Semakin tinggi rasio ini menunjukan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah ( bandingkan dengan rasio tahun sebelumnya ). Semakin cepat perputaran berarti semakin sedikit dana yang diperlu ditanam dalam piutang usaha. berikut rumus yang digunakan dalam rasio ini :
= Piutang Rata − Rata Piutang
2.1.1 Jenis Piutang
Perjualan produk perusahaan secara kredit dimana pihak pembeli tidak perlu membayar semua tagihan pada saat terjadi transaksi. Perusahaan yang melakukan yang melakukan penjulalan secara kredit akan menimbulkan piutang dalam perusahaannya.
Menurut Rudianto ( 2012 : 210) mengatakan “ Piutang adalah klaim perusahaan atas barang, atau jasa kepada pihak lain akibat transaksi dimasa lalu.
Menurut Donald E. Kieso, dkk (2007 : 346) mengatakan “ Piutang dalah klaim uang , barang atau jasa kepada pelanggan atau pihak – pihak lainnya”.
Sedangkan Menurut Carl S Warren, dkk ( 2015 : 448 ) mengatakan bahwa “ Piutang adalah penjualan secara kredit agar dapat menjual lebih banyak barang atau jasa”.
Piutang mencakup seluruh uang yang diklaim terhadap entitas lain, termasuk perorangan, perusahaan, dan organisasi lain. Piutang – piutang ini biasanya merupakan bagian yang signifikan dari total asset lancar. Penggolongan piutang sebagai berikut :
1. Piutang Usaha adalah penjualan barang atau jasa secara kredit. Piutang ini diharapkan dapat ditagih dalam waktu dekat misalnya 30 hari atau 60 hari. 2. Wesel tagih merupakan pernyataan sejumlah utang pelanggan dalam bentuk
tertulis yang formal. Wesel tagih diharapkan dapat ditagih dalam waktu satu tahun.
3. Piutang Lainnya adalah piutang piutang yang timbul bukan sebagian dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Piutang ini terdiri dari piutang bunga, piutang pajak, piutang karyawan.
Dari beberapa teori diatas dapat diambil kesimpulan piutang adalah klaim perusahaan atas barang, atau jasa kepada pihak lain akibat transaksi dimasa lalu. Piutang dapat ditagih dalam waktu 30 hari sampai 60 hari yang berasal dari perluasan kredit jangka pendek. Piutang – piutang ini biasanya merupakan bagian yang signifikan dari total asset lancar.
2.2. Profitabilitas
Salah satu tujuan didirikannya perusahaan adalah memperoleh laba ( Profit ). Oleh karena itu wajar apabila profitabiitas menjadi bahan utama untuk para investor dan analis. Tingkat profitabilitas yang konsisten akan menjadi tolak ukur bagaimana perusahaan mampu bertahan dalam bisnisnya. Seorang investor akan mengaitkan tingkat profitabilitas sebuah perusahaan dengan tingkat resiko yang timbul dari investasinya.
Menurut toto prihadi (2010:138) mengatakan “Profitabilitas adalah kemampuan menghasilkan laba.
Menurut kasmir (2015 : 196) “ Rasio Profitabilitas merupakan rasio untuk meniliai kemampuan perusahaan dalam memcari keuntungan”.
Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajeman suatu perusahaan. Hal ini ditunjukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara komponen yang ada laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi. Pengukuran dilakukan untuk beberapa periode operasi. Tujuannya adalah agar dapat terlihat perkembangan perusahaan dalam rentan waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tertentu.
Menurut Toto Prihadi (2012 : 258) mengatakan: “ Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba”.
Dalam analisis rasio ini, kemampuan perusahaan menghasilakan laba dapat diartikan dengan penjualan, aset atau modal. Pemilihan rasio tergantung dari mana kira akan melihat. Profitabilitas mendapatkan tempat tersendiri dalam penilaian perusahaan. Hal ini mudah dipahami karena secara sadar perusahaan didirikan memang untuk memperoleh laba.
Dari beberapa terori diatas dapat diambil kesimpulan profitabilitas rasio untuk meniliai kemampuan perusahaan dalam memcari keuntungan. Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara komponen yang ada laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi. Pengukuran dilakukan untuk beberapa periode operasi. Tujuannya adalah agar dapat terlihat perkembangan perusahaan dalam rentan waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tertentu..
2.2.1 Tujuan dan Manfaat Rasio Profitabilitas
Tujuan Penggunaan rasio Profitabilitas bagi perusahaan yaitu :
1. Untuk mengukur atau menghitung laba bagi perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
2. Untuk menilai perkembangan dari waktu ke waktu
3. Untuk menilai besarnya laba bersih seudah pajak dengan modal sendiri.
4. Untuk mengukur tingkat profitabilitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri.
5. Untuk mengukur produktifitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal itu sendiri.
2.2.2 Jenis Jenis Rasio Profitabilitas
Menurut kasmir (2008:176) menyimpulkan bahwa “Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, tedapat beberapa jenis – jenis rasio yang dapat digunakan. Masing – masing jenis rasio profitabilitas digunakan untuk menilai serta mengukur posisi keungan perusahaan dalam suatu periode tertentu atau untuk beberapa periode”
1. Profit Margin on Sales
Rasio ini digunakan untuk mencari laba penjualan. Cara pengukuran rasio ini adalah membandingkan laba bersih setelah pajak dengan penjualan. Rumus sebagai berikut :
Profit Margin On Sales = !"#$%&'&# (")*+,-.!! /&'"*
2. Return on Investment ( ROI )
Rasio ini menunjukan hasil ( return ) atas jumlah aktiva yang digunakan perusahaan. ROI juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelolah investasinya. Rumus ROI adalah berikut :
ROI = Earning after interest and tax Total Asset
3. Return On Equity ( ROE )
Rasio ini menunjukan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik. Artinya posisi perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya. Rumus ROE adalah berikut :
ROE = Earning after interest and tax Equity
4. Laba Perlembar Saham Biasa
Rasio per lembar sahan atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai suatu keuntungan bagi pemegang saham. Rasio ini rendah bearti manajemen belum berhasil memuaskan pemegang saham, sebaliknya rasio ini tinggi berarti manjemen kesejahteraan pemegang meningkat. Rumus Laba per lembar saham biasa adalah berikut :
laba Per lembar Saham biasa = Laba saham biasa saham biasa yang beredar
2.3 Konsep Dasar Perhitungan
Tehnik analisa yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah tehnik kuantitatif dengan uji statistik yaitu dengan menggunakan rumus korelasi product moment, yang digunakan untuk mengkaji hubungan atau pengaruh variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y).
Return On Equity (Roe) : Y
- Laba Bersih - Ekuitas Perputaran Piutang : X
- Piutang
Penggunaan tehnik korelasi seperti ini berdasarkan atas sumber data yang diperoleh penulis serta adanya interval data yang berguna untuk melihat apakah jawaban responden tergolong sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah.
2.3.1 Kolerasi
Menurut Sugiyono (2005:212) mengatakan “ Rumus koefisien korelasi person product moment adalah:
= ∑ => − ∑ = ∑ >
?@ (∑ =B) − (∑ =)BD@ (∑ >B) − (∑ >)BD
Keterangan:
R = angka indeks korelasi “r” person product moment n = populasi
∑xy = jum;ah perkaian antara skor x dan y ∑x = jumlah skor x
∑y = jumlah skor y
Untuk melihat hubungan kedua variabel tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Nilai r positif menunjukkan hubungan kedua variabel positif, artinya kenaikan nilai variabel yang satu diikuti nilai variabel yang lain. b. Nilai r negatif menunjukkan hubungan kedua variabel negatif artinya menurunnya nilai variabel yang satu diikuti dengan meningkatnya nilai
variabel yang lain.
c. Nilai r sama dengan nol menunjukkan kedua variabel tidak menunjukkan hubungan, artinya variabel yang satu tetap meskkipun variabel yang lain berubah.
Menurut Sambas Ali Muhidin,dkk (2011:105) menyimpulkan bahwa :
Kolerasi adalah saling Hubungan atau hubungan timbal balik. Dalam ilmu statistika istilah kolerasi sebagai hubungan antara dua variable atau lebih. Tujuan dilakukan analisa kolerasi antara lain : untuk mencari bukti terdapat hubungan, untuk melihat keeratan hubungan antara variable, dan untuk memperoleh kejelasan dan kepastian apakah hubungan tersebut berarti (meyakinkan / signifikan) atau tidak berati ( meyakinkan / tidak signifikan).
Untuk mengetahui adanya hubungan yang tinggi atau rendah antara kedua variabel berdasarkan nilai r (koedisien korelasi), digunakan penafsiran
interpretasi angka dengan menggunakan skala likert.
Dengan nilai r yang diperoleh dapat diketrahui apakan nilai r yang di peroleh berarti atau tidak dan bagaimana tingkat hubungannya melalui tabel korelasi. Tabel korelasi menentukan batas-batas r yang signifikan. Bila r tersebut signifikan, artinya hipotesis kerja atau hipotesis alternatif diterima.
2.3.2 Koefisien Determinan
Tehnik ini digunakan untuk mengetahui berapa persen besarnya
pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). D = (Rxy)2 x 100% Ketereangan:
D = koefisien determinan
2.3.3 Koefisien Regesi Sederhana
Regesi Sederhana bertujuan mempelajari hubungan antara dua varible. Model regesi sederhana adalah Y = a+bx, dimana y sebagai variable terikat dan X adalah varible bebas. a adalah penduga bagi intersap, b adalah penduga bagi koefisien regesi
Tabel 2.1
Tingkat Keeratan Hubungan Variable X dengan Variable Y
Nilai Kolerasi Keterangan
0,00 - < 0,20 Hubungan sangat lemah (diabaikan, dianggap tidak ada
≥ 0,20 - < 0.40 Hubungan Rendah
≥0,40 - < 0,70 Hubungan Sedang / Cukup ≥0.70 - < 0.90 Hubungan Kuat / Tinggi ≥0,90 - ≤ 1,00 Hubungan sangat Kuat / Tinggi