• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian Potensi Wilayah

Luas wilayah Kabupaten Cianjur adalah 350.148 km2, dengan jumlah penduduk pada tahun 2007 sebanyak 2.138.465 jiwa. Mata pencaharian utama penduduk di sektor pertanian (52%). Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42,8 persen.

Secara administratif Pemerintah Kabupaten Cianjur terbagi dalam 32 kecamatan, dengan batas-batas administratif sebagai berikut:

(1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta.

(2) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. (3) Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.

(4) Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut. Kabupaten Bogor secara geografis mempunyai luas sekitar 2.301,95 km2, terletak antara 6.190 LS dan 10601' -1070103' BT, dengan batas administratif:

(1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bekasi dan Kota Depok. (2) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak (Banten).

(3) Sebelah Barat Daya berbatasan dengan Kabupaten Tangerang (4) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi (5) Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang (6) Sebelah Timur Laut berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta (7) Sebelah Tenggara berbatasan dengan Kabupaten Cianjur (8) Sebelah Tengah berbatasan dengan Kota Bogor

Kabupaten Bogor memiliki 40 kecamatan, 427 desa/kelurahan, 3.516 RW dan 13.603 RT. Sebagian besar desa (234 desa) berada di ketinggian kurang dari 500 m dpl, 144 desa berlokasi di ketinggian 500 sampai 700 meter dpl, dan sisanya 49 desa berada di ketinggian lebih dari 500 meter dpl.

Potensi perikanan cukup besar di kedua kabupaten tersebut. Produksi ikan di Kabupaten Cianjur pada tahun 2008 sebesar 45.269,08 ton, yang dihasilkan dari

(2)

berbagai jenis usaha. Poduksi tahun 2008 meningkat sebesar 6,3 persen dari satu tahun sebelumnya. Peningkatan yang signifikan terjadi pada jenis usaha Kolam Air Tenang (KTA) dan mina padi (Tabel 27). Kenaikan produksi ikan konsumsi dari jenis usaha Kolam Air Deras (KAD), keramba, jaring apung tidak signifikan, disebabkan oleh berbagai kendala yang dihadapi pembudidaya ikan, diantaranya adalah cuaca (Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Cianjur 2008).

Tabel 27. Perkembangan Produksi Ikan Konsumsi Menurut Jenis Usaha di Kabupaten Cianjur Tahun 2008 dibanding Tahun 2007

No Jenis Usaha Produksi (ton) Perubahan (%)

Tahun 2007 Tahun 2008 1 KAT 9.601,42 10.614,99 10,83 2 KAD 78,74 79,59 1,08 3 Mina padi 13.641,88 14.544,00 6,61 4 Karamba 76,19 77,18 1,30 5 Jaring Terapung 18.531,49 19.278,68 4,03 6 Tambak 58,77 59,95 2,01 7 Perairan Umum 242,80 247,61 1,98 8 Laut 359,89 367,08 2,00 Jumlah 42.591,18 45.269,08 6,29

Sumber: Laporan Tahun 2008 Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan, Kabupaten Cianjur

Produksi benih ikan air tawar tahun 2008 sebesar 3.984.109.520 ekor, dengan jenis ikan mas, nila, lele, dan lainnya. Dibandingkan satu tahun sebelumnya produksi benih ini mengalami peningkatan sebesar 36,1 persen (Tabel 28).

Tabel 28. Perkembangan Produksi Benih Ikan Air Tawar di Kabupaten Cianjur Tahun 2008

No Jenis Ikan Produksi (ekor) Perubahan (%)

Tahun 2007 Tahun 2008 1 Mas 1.780.263.380 2.457.973.750 38,07 2 Nila 1.079.832.110 1.446.672.730 33,98 3 Lele 9.171.760 12.240.720 33,46 4 Lainnya 66.331.990 67.223.320 1,34 Jumlah 2.926.427.480 3.984.109.520 36,14

Sumber: Laporan Tahun 2008 Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan, Kab. Cianjur

Berbeda dengan Kabupaten Cianjur, potensi perikanan Kabupaten Bogor berupa budidaya air tawar tanpa perikanan laut, karena Kabupaten Bogor tidak memiliki wilayah laut. Produksi perikanan di Kabupaten Bogor mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 5,8 persen, dan pencapaian target produksi pada tahun 2008 sebesar 100,1 persen (Tabel 29). Pencapaian ini disebabkan

(3)

adanya peningkatan produksi dari usaha budidaya lele di kolam air tenang di tiga kecamatan, yaitu Parung, Ciseeng, dan Gunung Sindur (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor 2008).

Tabel 29. Perkembangan Produksi Perikanan di Kabupaten Bogor Tahun 2007-2008

No Jenis Usaha Jumlah Produksi Perubahan

(%) 2007 2008

A. Budidaya Perikanan Air Tawar (Ton)

1 Kolam Air Tenang (KAT) 15.570 17.418 11,86

2 Kolam Air Deras (KAD) 7.225 6.768 (6,32)

3 Perikanan Sawah 531 560 5.46

4 Jaring Apung 221 243 9,95

5 Karamba 31 32 3,22

B. Perikanan Tangkap Air Tawar

Perairan Umum (Ton) 125 66,29 (46,97)

JUMLAH A+B (Ikan Konsumsi) 23.703 25.087,29 5,84

C. Ikan Hias (ekor) 78.288 84.517 7,96

D. Pembenihan (ekor) 716.660 744.600 3,90

Sumber: Buku Data Perikanan Tahun 2008, Dinas Peternakan dan Perikanan Kab.Bogor

Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Cianjur dan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor bertugas melaksanakan urusan pemerintah daerah di bidang peternakan, perikanan, dan kelautan (untuk Kabupaten Bogor tanpa bidang kelautan), berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Fungsi dinas ini adalah: (1) perumusan kebijakan teknis dinas di bidang perencanaan, pelaksanaan, pembinaan, evaluasi dan lapoan penyelenggara sebagai urusan pemerintah di bidang perternakan perikanan dan kelautan sesuai dengan ketentuan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku; (2) penyelenggaraan urusan pemerintah dan pelayanan umum di bidang perternakan perikanan dan kelautan sesuai dengan ketentuan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku; (3) pembinaan dan pelaksanaan tugas dinas dalam menyelenggarakan sebagai urusan pemerintah di bidang peternakan perikanan dan kelautan sesuai dengan ketentuan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan (4) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsi Dinas.

Penyelenggaraan penyuluhan perikanan di kedua kabupaten tersebut berbeda lembaganya, yaitu di Kabupaten Cianjur dilakukan oleh Bidang Penyuluhan Perikanan dan Peternakan dalam struktur Dinas Peternakan, Perikanan

(4)

dan Kelautan, sedangkan di Kabupaten Bogor ditugaskan pada Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K). Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 mengamanatkan pembentukan Badan Penyuluhan di setiap kabupaten, namun hingga pertengahan tahun 2009 di Kabupaten Cianjur belum dibentuk BP4K, sehingga penyelenggaraan penyuluhan masih berada di bawah tanggungjawab masing-masing dinas teknis.

Bidang Penyuluhan Perikanan dan Peternakan, Dinas Perikanan, Peternakan dan Kelautan Kabupaten Cianjur membawahi: (1) Seksi Prasarana dan Sarana Penyuluhan Perikanan dan Peternakan, (2) Seksi Bina Penyuluhan dan Kelembagan Petani Perikanan dan Peternakan, dan (3) Seksi Pembinaan Mutu Tenaga Penyuluh Perikanan dan Peternakan. Berdasarkan Laporan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Tahun 2008, kegiatan penyuluhan yang telah dilaksanakan meliputi kegiatan: pembinaan, kunjungan, monitoring, peningkatan SDM, pelayanan terpadu, sosialisasi, dan pertemuan rutin dan rapat. Kegiatan pembinaan kelompok meliputi kegiatan pembinaan/anjangsana, kunjungan, monitoring, pelayanan terpadu, sosialisasi dan kegiatan-kegiatan pembinaan lainnya. Tercatat ada 227 kelompok tani ternak dan ikan, dengan jenis kelompok untuk bidang perikanan berupa: inmindi (intensifikasi mina padi), UPR (Unit Perikanan Rakyat), jaring apung, karamba, nelayan laut, ikan hias, dan pengolah ikan sebanyak 98 kelompok. Dari sejumlah kelompok bidang perikanan tersebut yang masih aktif melakukan kegiatan kelompok sekitar lima kelompok. Kelompok yang aktif ini umumnya dicirikan oleh adanya kegiatan kelompok.

Perilaku Usaha Pembudidaya Ikan

Perkembangan usaha budidaya ikan di wilayah sentra-sentra budidaya ikan, umumnya diawali oleh warga setempat yang mulai mencoba merintis usaha ikan. Seperti halnya di Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor masyarakat mulai mengenal usaha budidaya ikan gurame dari salah seorang warga setempat yang berhasil dalam usaha pembesaran gurame. Guna memenuhi kebutuhan benih gurame, warga tersebut mengajak para warga setempat untuk menjadi pembenih atau pendeder. Pada perkembangan selanjutnya, banyak warga yang beralih ke usaha pembenihan atau pendederan ikan dari sebelumnya bertani.

(5)

Nilai keuntungannya dirasakan lebih tinggi, masa panen lebih cepat (20-40 hari), dan ikan selalu habis terjual.

Perintisan usaha pembenihan atau pendederan di Desa Putat Nutug, Ciseeng, Kabupaten Bogor dimulai dari salah satu warga yang mencoba melakukan pembenihan lele, setelah sebelumnya berusaha di pembesaran. Ilmu diperoleh dari pelatihan pembenihan lele di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi. Pengalaman pelatihan ini selanjutnya dicoba diterapkan di desa, dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu. Pada akhirnya warga tersebut berhasil melakukan pembenihan sendiri dan selanjutnya diikuti oleh para tetangganya.

Sejarah perkembangan usaha perikanan air tawar di Kabupaten Cianjur relatif cukup lama. Diperkirakan usaha budidaya ikan telah ada sejak tahun 1930-an. Pada perkembangan selanjutnya, seiring dengan berkembangnya usaha pembesaran ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Cirata, banyak masyarakat desa yang sebelumnya bertani beralih ke usaha pembenihan ikan, untuk memenuhi permintaan benih ikan di KJA tersebut.

Usaha yang dilakukan oleh pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur secara umum bersifat tradisional, semi intensif, dan artisanal. Pengelolaan usaha yang tradisional dicirikan oleh kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat, sehingga umumnya ada keseragaman dalam pengelolaan usaha di satu wilayah, misalnya dalam pemilihan jenis ikan, pemberian pakan, pemupukan, pemanenan dan sebagainya. Semi intensif dicirikan oleh pemberian pakan dengan jenis pakan alami dan pelet. Menurut Edwards dan Demaine (1998) pada sistem budidaya semi-intensif, masih mengandalkan pakan alami, tetapi ada upaya untuk meningkatkan jumlahnya melalui pemupukan dan atau dengan pakan tambahan. Intensitas pemberian pakan ini akan mempengaruhi input yang lain, seperti benih, tenaga kerja, modal, dan manajemen. Usaha pembudidaya ikan umumnya bersifat artisanal, karena tujuan pembudidaya ikan menggeluti usaha ikan ini adalah memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, meskipun skala usahanya relatif kecil. Menurut Lazard et al. (Edwards dan Demaine 1998), ciri artisanal adalah tujuan produksi untuk dipasarkan, tetapi dengan skala yang kecil.

Jenis ikan yang diusahakan oleh pembudidaya ikan di kedua kabupaten umumnya terspesialisasi di suatu wilayah tertentu, di Kabupaten Bogor jenis ikan

(6)

gurame banyak diusahakan di Darmaga, Ciampea, Leuwiliang, dan Pamijahan, ikan lele di Parung, Ciseeng, dan Gunung Sindur. Jenis ikan yang diusahakan oleh sebagian besar pembudidaya ikan di Kabupaten Cianjur adalah nila, dan sebagian kecil mas, dan bawal. Sepuluh tahun terakhir terjadi peralihan jenis ikan di Cianjur, dari mas ke nila. Ikan nila ini memiliki daya tahan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan mas, dan harga jualnya cukup tinggi dan stabil.

Konstruksi kolam di Kabupaten Bogor dan Cianjur umumnya berupa kolam tanah. Luas kolam bervariasi berkisar 1.000 m2 – 2.000 m2. Persiapan kolam diawali dengan proses pengeringan kolam dan pembersihan pematang kolam, selanjutnya kolam diberi pupuk yang umumnya berupa pupuk kandang. Harga pupuk kandang jauh lebih murah dibandingkan dengan pupuk urea, dan mudah memperolehnya yakni dari kandang peternakan ayam yang ada di sekitar desa. Langkah berikutnya setelah tiga hari, kolam diisi air secara perlahan-lahan. Pada usaha pembenihan di Cianjur pengisian air sampai 10 hari, dan di hari kedua benih dimasukkan ke kolam, sedangkan di Bogor pengisian air selama 1-3 jam dengan kedalaman 60-80 cm. Penggunaan kapur sebagai bahan untuk meningkatkan pH air menuju pH normal jarang dilakukan oleh para pembudidaya ikan.

Sumber induk atau benih diperoleh dengan cara membeli atau dari hasil penyeleksian milik sendiri. Induk ikan pada jenis nila di Kabupaten Cianjur umumnya diperoleh dengan membeli secara paket. Setiap paket berisi 400 ekor (jantan dan betina), dengan harga per paket Rp 300 ribu. Satu paket digunakan untuk luas kolam 100 m2. Induk ikan bawal umumnya diperoleh dari hasil seleksi pembudidaya ikan itu sendiri dengan memilih ikan yang berkualitas baik. Proses pemijahan ikan dilakukan secara alami, yaitu dengan menyatukan induk jantan dan induk betina dalam satu kolam.

Induk ikan maupun benih ikan unggul yang diperoleh dari BBAT dan BBI, seperti sangkuriang pada lele, sangat jarang digunakan oleh pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor. Pembudidaya ikan sulit mendapatkan induk dan benih unggul, karena komoditi ini tidak tersedia di lokasi dan untuk mendapatkannya harus ke BBAT Sukabumi yang jaraknya cukup jauh. Umumnya pembudidaya ikan memperoleh induk dari hasil menyeleksi sendiri, yaitu benih ikan yang ukuran lebih besar, gerakan lincah, dan sehat. Benih umumnya dibeli dari pembenih lokal.

(7)

Saat musim hujan (Desember-Maret) induk ikan gurame dan patin tidak menghasilkan telur atau “kosong.” Pada saat ini umumnya pembudidaya tidak melakukan pemijahan dan mengisi kolamnya dengan jenis ikan lain, seperti mas, nila, dan mujair. Proses pemijahan ikan gurame dilakukan secara alami. Perbandingan induk jantan dan betina tidak dipertimbangkan. Secara teoritis perbandingan yang tepat adalah 5 kg betina dan 3 kg jantan (Efendi 2002). Pemijahan pada ikan lele selain dengan cara alami, beberapa pembudidaya ikan ada yang melakukannya dengan cara penyuntikan.

Pemberian pakan ikan dilakukan dua kali sehari pada pagi hari (sekitar pukul 09.00) dan sore hari (pukul 16.00). Cara pemberiannya dengan menaburkan pakan ke kolam, beberapa pembudidaya ikan menaburkannya dengan mengelilingi kolam, namun masih banyak yang melakukannya pada satu posisi. Menurut Efendi (2002), cara yang tepat adalah dengan mengelilingi kolam, agar pakan tersebar merata. Pakan yang diberikan oleh ditakar dengan menggunakan ember.

Jenis pakan yang digunakan pada usaha pembenihan ikan di Cianjur hampir sebagian besar berupa dedak. Dedak sebagai pengganti pakan pelet yang biasa digunakan sebelumnya, dikarenakan harga pelet semakin mahal dan tak mampu terbeli. Harga pelet yang mahal ini oleh pembudidaya ikan lele di Bogor disiasati dengan membeli pelet butiran dan digiling sendiri, agar dalam jumlah yang sedikit bisa lebih merata dimakan ikan. Harga pakan pelet yang semakin meningkat, juga menjadi alasan utama bagi pembudidaya ikan beralih dari usaha pembesaran ke pembenihan atau pendederan. Pelet sebagai komponen utama usaha pembesaran harganya terus meningkat hingga mencapai 220 persen, yaitu dari harga Rp 90 ribu menjadi Rp 200 ribu. Untuk skala usaha kecil, hasil penjualan tidak dapat menutup biaya produksi. Usaha pembenihan atau pendederan dirasa lebih menguntungkan jika dibandingkan usaha pembesaran. Sebagai gambaran, usaha pembesaran lele di Bogor membutuhkan modal kerja Rp 8,5 juta per kolam ukuran 200m2-300m2 dan akan menghasilkan penerimaan Rp 10,3 juta, sehingga nilai keuntungannya Rp 1,8 juta. Pada usaha pendederan dengan modal yang lebih kecil yaitu Rp 1 juta akan menghasilkan penerimaan Rp 2 juta (keuntungan 100 persen). Selain dedak dan pelet, daun sente juga menjadi pakan ikan, khususnya pada ikan gurame.

(8)

Pembenihan patin dan bawal menggunakan pakan artemia, cacing rambut, dan cacing darah.

Pakan tambahan, yang berupa vitamin diberikan oleh beberapa pembudidaya ikan di Cianjur, dengan alasan untuk meningkatkan nafsu makan ikan. Diberikan sehari sekali dimulai hari kelima dari benih ditebar selama 15 hari.

Jenis penyakit yang umumnya menyerang ikan adalah sejenis jamur yang dicirikan luka bernanah di tubuh ikan. Upaya yang dilakukan oleh pembudidaya ikan di Bogor untuk menanggulangi penyakit adalah dengan memberi obat kimia dan cara alami dengan menggunakan daun “aci-aci” yang ditempelkan ke tubuh ikan. Pembudidaya ikan di Cianjur lebih banyak yang menggunakan obat kimia dibandingkan obat alami, karena dirasakan lebih praktis dan mudah diperoleh di toko bahan kimia. Pengendalian serangan hama ikan dilakukan dengan cara mencegah hama seperti ular dan katak masuk ke kolam, dan memisahkan ikan sesuai ukuran guna mencegah kanibalisme.

Kegiatan produksi diakhiri dengan pemanenan. Pemanenan pada usaha pembenihan dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, ikan diambil setiap hari dimulai dari hari ke-20 (ukuran larva:1-3 cm), dilakukan pagi hingga siang hari, dengan cara menyerok mengelilingi kolam. Kedua, dengan membedah kolam, yaitu kolam disurutkan airnya, kemudian ikan diambil. Pada pemanenan ukuran larva, induk dibiarkan tetap di kolam dan kolam kembali dialiri air. Untuk ukuran 3-5 cm sampai ukuran konsumsi, ikan dipindahkan ke jaring di kolam lain dan didiamkan selama setengah hari sebelum siap dijual.

Jenis usaha perikanan budidaya air tawar di perairan darat yang khas di Kabupaten Cianjur selain di wahana kolam, adalah mina padi. Mina padi adalah salah satu sistem menanam ikan bersama-sama dengan padi di areal persawahan. Ikan dipelihara selama 30 hari dari mulai saat tanam bibit padi hingga penyiangan pertama. Jenis ikan yang umumnya dipelihara adalah ikan mas. Ikan mas yang dipanen pada masa tersebut berukuran 3-5 cm atau “putihan.”

Kebutuhan benih ikan untuk setiap 0,25 ha sawah sebanyak 1 liter. Harga per liternya Rp 50 ribu. Hasil panen dari setiap liter benih yang ditanam sebanyak 20-30 kg pada musim kemarau, dan 15-20 kg pada musim hujan. Selain benih,

(9)

input produksi yang digunakan dedak, meskipun tidak semua pembudidaya memberikan pakan dedak ini, dengan alasan tidak mampu membelinya.

Pembudidaya ikan di kedua kabupaten umumnya tidak menjual hasil panennya langsung ke konsumen akhir, melainkan melalui jalur-jalur lembaga-lembaga pemasaran atau yang disebut dengan rantai pemasaran. Panjang pendeknya rantai pemasaran dapat menunjukkan efisiensi pemasaran, semakin pendek rantai maka semakin efisien, sebaliknya semakin panjang rantai, maka pemasaran tidak efisien (Hanafiah dan Saefuddin 2006). Rantai pemasaran hasil produksi akuakultur di kedua lokasi studi tampak pada Gambar 13.

Gambar 13. Rantai Pemasaran Ikan di Lokasi Studi

Lembaga pada rantai pemasaran ikan adalah tengkulak desa atau “bandar,” kelompok, dan restoran/warung makan. Tengkulak membeli ikan langsung dari pembudidaya ikan untuk dijual kembali. Terdapat dua jenis tengkulak yang dibedakan atas jenis resiko yang ditanggungnya, yaitu tengkulak yang berlaku sebagai pembeli ikan yang nantinya dijual kembali, sehingga ada tanggungan resiko jika ikannya mati atau tidak laku; dan broker yang bertindak menjualkan ikan dari pembudidaya ikan, tidak menanggung resiko atas kerugian dari ikan milik pembudidaya ikan, dan keuntungannya diperoleh dari fee. Jenis kedua ini hanya dikenal pada pembenihan ikan patin.

“Bandar” pada dasarnya seperti tengkulak atau pedagang pengumpul desa, namun perannya tidak hanya sekedar menampung ikan melainkan juga sebagai penyedia modal. Seorang bandar memiliki beberapa orang “klien” yang diberi

Pembudidaya ikan

Tengkulak desa

Kelompok Pedagang ikan luar

kota

Restoran/warung makan Pedagang ikan luar

kota Restoran/warung makan Konsumen Konsumen Pedagang pengecer Pedagang pengecer

(10)

modal usaha berupa benih, dan hasilnya harus dijual ke bandar dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar. Pola ini banyak dilakukan pada usaha ikan patin.

Peran kelompok dalam memasarkan produk ikan dari para anggota umumnya sebagai koordinator pemasaran, bukan sebagai pembeli. Pembeli lebih mudah memesan ikan dari kelompok, karena kebutuhan yang banyak bisa dipenuhi dari kelompok, tidak perlu repot mencari ikan ke tiap individu pembudidaya ikan, dan sudah terjalin rasa percaya antar kedua pihak. Selain memasarkan, ada juga kelompok yang berperan mengkoordinir anggotanya mengelola usaha yang modalnya berasal dari investor perorangan, seperti yang terjadi di Kelompok Jumbo Lestari, Desa Babakan, Bogor.

Pedagang ikan yang berasal dari luar kota juga biasa langsung mencari ikan ke pembudidaya ikan. Para pedagang ini umumnya punya pembudidaya ikan langganan tetap. Pembudidaya ikan yang berskala besar, umumnya menjual ikannya langsung ke pedagang luar kota, dengan menanggung sendiri biaya transportasi.

Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran ikan pada usaha pembenihan, pendederan, dan pembesaran tidak berbeda secara nyata, yang berbeda hanya lembaga lanjutan, misalnya pada rantai pemasaran pembenihan ada pendeder, pada usaha pendeder ada pembesar, dan pada usaha pembesaran ada restoran atau warung makan.

Rantai pemasaran ikan di dua lokasi juga relatif sama, namun ada yang spesifik untuk kasus mina padi di Cianjur, yaitu produk ikan selain dijual untuk pembesaran juga untuk diolah menjadi “baby fish” (ikan yang dkonsumsi ukuran 5-7cm). Produk olahan ini dari waktu ke waktu mengalami peningkatan permintaan, sehingga berpengaruh pada peningkatan produk segarnya di tingkat pembudidaya ikan. Pembesaran di Cianjur umumnya dilakukan KJA di Waduk Cirata, sehingga produk benih dan deder yang dihasilkan sebagian besar dijual ke Cirata.

Informasi harga ikan cukup transparan pada beberapa tingkatan, mulai harga di tingkat pembudidaya ikan sampai ke konsumen. Harga ikan di tingkat pembudidaya ikan menurut jenis dan ukurannya dapat dilihat pada Tabel 30.

Harga jual ikan yang diterima oleh pembudidaya ikan umumnya mengalami fluktuasi, bergantung pada hukum pasar yang berlaku. Pada saat permintaan ikan

(11)

tinggi dan jumlah ikan sedikit, maka harga cenderung naik, sebaliknya, jika permintaan rendah dan suplai ikan tinggi, maka harga akan turun. Beberapa jenis ikan yang fluktuasi harganya relatif konstan, antara lain: mas, lele, gurame, dan nila, sedangkan bawal dan benih ikan patin mengalami fluktuasi harga yang relatif tinggi dibandingkan jenis ikan lain. Harga benih patin dipengaruhi permintaan benih dari Sumatera. dan bawal dipengaruhi jumlah tangkapan bawal laut di pasar Muara Angke.

Tabel 30. Harga Ikan Berdasarkan Jenis dan Ukuran di Tingkat Pembudidaya Ikan di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur Tahun 2009

Lokasi Jenis ikan Ukuran Satuan Harga (Rp)

Cianjur Nila 0-1 cm (larva) Liter 120.000-150.000

5 cm Kg 12.000-14.000 Size 4 Kg 8.000-10.000 Mas 5-7 cm Kg 14.000-17.000 Size 3 Kg 12.000-14.000 Baby fish Kg 10.000-14.000 Lele 5 cm Ekor 200 2-3 cm Gelas 12.000 Bawal 3-5 cm Ekor 70 Size 3 Kg 7.000-14.000

Bogor Patin ¾ inch Ekor 55-75

Gurame Larva Ekor 30

Kwaci Ekor 150-200 Kuku Ekor 300-350 Jempol Ekor 400-500 Silet Ekor 800-1.000 Korek Ekor 1.200-1.500 Jinggo Ekor 1.500-2.000 Super Ekor 2.000-3.000 8 ons Kg 23.000-25.000 Lele 5-6 cm Ekor 60-70 7-8 cm Ekor 90-110 9-10 cm Ekor 165-185 11-12 cm Ekor 180-200 13-14 cm Ekor 230-250 Size 7 (7 ekor/kg) Kg 11.000-12.000 Nila Size 4 Kg 8.000 Mas Size 3 Kg 15.000 Tawes Size 3 Kg 12.000-13.000 Karakteristik Kelompok

Kelompok pembudidaya ikan di sektor perikanan dikelompokkan berdasarkan komoditasnya, misalnya Kelompok Usaha Ikan Hias (KUIH), Kelompok Unit Pembenihan Rakyat (UPR) sesuai jenis ikan, misalnya UPR gurame, UPR lele dan sebagainya. Hal ini berbeda dengan kelompok tani pada

(12)

sektor pertanian, yang hanya disebut sebagai kelompok tani tanpa ada penambahan jenis komoditasnya.

Pertumbuhan kelompok pembudidaya ikan pada umumnya seiring dengan tumbuhnya usaha budidaya ikan di suatu wilayah. Awal pembentukannya berasal dari pemerintah melalui penyuluh, maupun dari warga masyarakat itu sendiri. Beberapa tipe proses pembentukannya sebagai berikut. Pertama, kelompok pembudidaya ikan yang sebelumnya berasal dari kelompok tani yang sudah ada. Kelompok ini dibentuk seiring dengan terpisahnya sektor perikanan dari sektor pertanian, dan sebagai binaan dari Dinas Perikanan. Kedua, kelompok yang terbentuk dari kelompok kemitraan antara pihak penyedia input dan pemasaran (sebagai inti) dan anggota-anggota mitranya sebagai plasma yang mendapatkan modal dari inti. Ketiga, kelompok baru yang dibentuk oleh Dinas Perikanan, sebelumnya para pembudidaya ikan belum tergabung dalam suatu kelompok.

Pembinaan pembudidaya ikan oleh instansi terkait (Dinas Perikanan atau BP4K) umumnya dilakukan melalui kelompok, baik berupa kegiatan yang bersifat rutin maupun pemberian bantuan yang bersifat hibah atau bergulir. Adanya bantuan melalui kelompok menjadi salah satu alasan pembudidaya ikan untuk membentuk kelompok. Pembinaan melalui kelompok juga memudahkan penyuluh menyelenggarakan kegiatan penyuluhan, karena dalam satu waktu jumlah pembudidaya yang terlibat lebih banyak, terjadi proses belajar antara sesama anggota, dan adanya tanggungjawab kelompok atas program bantuan yang diberikan.

Tingkat aktivitas kelompok masih banyak ditentukan oleh intensitas pembinaan dari penyuluh dan ada tidaknya program pemerintah yang diselenggarakan dalam kelompok. Semakin intensif penyuluh mengunjungi kelompok, maka semakin aktif kelompok, sebaliknya kelompok menjadi pasif bahkan mati jika tidak secara intensif dikunjungi penyuluh. Lomba kelompok juga menjadikan kelompok menjadi aktif, karena menjelang perlombaan secara intensif anggota kelompok berkumpul mempersiapkan diri untuk dinilai. Menurut Slamet (1990), lomba kelompok merupakan salah satu unsur dinamika kelompok yaitu berupa tekanan kelompok yang bersumber dari luar kelompok.

(13)

Tanggapan anggota kelompok terhadap penyelenggaraan lomba kelompok tidak selalu positif, karena harapannya dengan menjadi juara lomba kelompok akan mendatangkan manfaat kurang terpenuhi. Salah satu ketua kelompok di Bogor yang kelompoknya pernah menjadi Juara I UPR tingkat Jawa Barat, menyatakan menjadi juara hanya mendapat piala dan merepotkan karena sering kedatangan tamu. Hal yang sama juga dinyatakan oleh salah satu ketua kelompok di Cianjur, anggota kelompoknya sangat kecewa setelah janji untuk mendapatkan bantuan modal usaha apabila menjadi juara tidak terpenuhi, hanya diberikan sertifikat. Perubahan orientasi mendapat hadiah bantuan uang pada anggota kelompok perlu dirubah, sebaiknya yang perlu ditekankan adalah tujuan mengikuti lomba kelompok adalah sebagai momentum untuk memantapkan kelompok menjadi mandiri dan kuat di tengah-tengah lingkungan yang kompetitif.

Karakteristik Pembudidaya Ikan Karakteristik Internal

Kondisi karakteristik internal pembudidaya ikan di kedua kabupaten umumnya pada tingkat yang rendah, baik dalam hal pendidikan formal, pendidikan non formal, pengalaman usaha, jumlah tanggungan keluarga, pendapatan, maupun skala usahanya, sedangkan untuk umur pada tingkat madya (Tabel 31). Kondisi ini juga dapat menggambarkan bahwa tingkat sosial ekonomi masyarakat pembudidaya ikan juga rendah. Secara lebih terinci penjelasan masing-masing karakteristik internal tersebut diuraikan lebih lanjut.

Umur

Umur sebagian besar pembudidaya ikan (98%) berada pada umur produktif, hanya sebagian kecil (2%) yang berumur lebih dari 65 tahun, sedangkan umur di bawah 15 tahun atau usia anak-anak tidak ada. Umur produktif mengacu pada rentang umur 15 sampai 65 tahun (Rusli 1995).

Usaha budidaya ikan banyak diminati oleh kaum muda di kedua kabupaten, alasannya menguntungkan dan waktu panennya singkat, misalnya pada pembenihan lele, nila, dan gurami dapat panen setiap 20-40 hari. Hal ini berbeda dengan usaha di pertanian. Dinyatakan oleh kaum muda, usaha pertanian lebih melelahkan dan masa panennya lebih lima, sekitar empat hingga enam bulan.

(14)

Berdasarkan pengkategorian umur, baik di Kabupaten Bogor maupun Cianjur sebagian besar pembudidaya ikan berada pada kelas madya (35-51 tahun), dan rata-rata umur 40,6 tahun. Penelitian Kareem et al.(2008) di Nigeria juga memperlihatkan hal yang sama, rata-rata umur pembudidaya ikan berkisar pada usia 40-an (44 tahun), dan di Thailand umur rata-ratanya 45 tahun (Naksung 2003).

Umur berperan dalam meningkatkan kemampuan seseorang dalam menjalankan suatu usaha, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun keterampilan fisik. Dalam hal kemampuan kognitif seseorang, usia 15-45 tahun merupakan masa yang paling optimal untuk menyerap pengetahuan dari luar dirinya (Padmodihardjo 1994). Secara fisik umur yang lebih muda juga memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan umur yang lebih tua. Pada usaha akuakultur, fisik yang prima diperlukan untuk menjalankan usahanya, terutama pada aspek produksi, mulai dari persiapan kolam, pemeliharaan, hingga panen.

Tabel 31. Karakteristik Pembudidaya Ikan

Karakteristik Individu Kriteria Kabupaten (orang) Total

(orang) Bogor Cianjur

N % N % N %

Umur (th) Muda 51 32,3 29 24,2 80 28,8

Selang skor (18-68) Madya 86 54,4 69 57,5 155 55,8

Rataan=40,6 Lanjut 21 13,3 22 18,3 43 15,5

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Pendidikan formal (th) Rendah 93 58,9 63 52,5 156 56,1

Selang skor (3-16) Sedang 61 38,6 53 44,2 114 41,0

Rataan= 7,9 Tinggi 4 2,5 4 3,3 8 2,9

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Pendidikan non formal (kali)* Rendah 125 79,1 118 98,3 243 87,4

Selang skor (0-6) Sedang 28 17,7 1 0,8 29 10,4

Rataan= 2 Tinggi 5 3,2 1 0,8 6 22,0

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Pengalaman (th)* Rendah 101 63,9 74 61,7 175 62,9

Selang skor (1-42) Sedang 51 32,3 39 32,5 90 32,4

Rataan= 11,9 Tinggi 6 3,8 7 5,8 13 4,7

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Jumlah Tanggungan (orang) Rendah 104 65,8 76 63,3 180 64,7

Selang skor (1-14) Sedang 51 32,3 40 33,3 91 32,7

Rataan= 4 Tinggi 3 1,9 4 3,3 7 2,5

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Pendapatan (ribu Rp per bulan)* Rendah 137 86,7 86 71,7 223 80,2

Selang skor (250-8.500) Sedang 20 12,7 30 25,0 50 18,0

Rataan= 1.859 Tinggi 1 0,6 4 3,3 5 1,8

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Skala usaha m2 * Rendah 149 94,3 144 95,0 263 94,6

Selang skor (120-60.000) Sedang 6 3,8 5 4,2 11 4,0

Rataan= 4.321 Tinggi 3 1,9 1 0,8 4 1,4

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

(15)

Pendidikan Formal.

Tingkat pendidikan formal sebagian besar pembudidaya ikan (56,1%) di kedua kabupaten berada pada kategori rendah, dengan nilai rata-rata tujuh tahun. Hal yang sama terjadi di Thailand (Naksung 2003). Dikaitkan dengan program wajib belajar sembilan tahun, masih banyak pembudidaya ikan yang belum dapat memuntaskan program ini, terdapat 11,9 persen pembudidaya ikan tidak menamatkan Sekolah Dasar (enam tahun). Namun demikian, ada juga pembudidaya ikan yang bersekolah sampai jenjang perguruan tinggi (2,9%). Umumnya mereka yang bergelar sarjana ini memiliki pekerjaan lain, seperti guru ataupun pengusaha.

Pendidikan formal sangat penting bagi seseorang untuk mengembangkan kapasitas dirinya, karena dengan mengenyam pendidikan formal yang lebih tinggi pengalaman belajar dan wawasan pengetahuan yang diperoleh juga akan meningkat. Berbekal pengalaman dan pengetahuan ini dapat dikembangkan sikap yang positif dan keterampilan yang lebih baik. Bagi seorang pembudidaya ikan, pengetahuan yang tinggi, sikap yang positif, dan keterampilan yang tinggi akan menjadikan dirinya lebih adaptif terhadap perubahan, mengatasi masalah dengan baik, dan mampu merencanakan usaha dan mengevaluasinya secara lebih tepat. Hasil penelitian Kareem et al. (2008) di Nigeria menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pembudidaya ikan berimplikasi pada peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi baru. Mengacu pada laporan UNDP (1998), melalui pendidikan akan membebaskan diri seseorang dari segala penindasan, ketidakadilan, ketakutan, dan sebaliknya menjadikan seseorang berani mengembangkan pikiran, ide, berbicara dan memiliki impian.

Pendidikan Non Formal

Pendidikan non formal mayoritas pembudidaya ikan (87,4%) di Kabupaten Bogor dan Cianjur berada di kategori rendah. Secara nyata terdapat perbedaan tingkat pendidikan non formal di antara dua kabupaten tersebut, artinya pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor memiliki frekwensi mengikuti pelatihan atau penyuluhan yang lebih tinggi dibandingkan pembudidaya ikan di Kabupaten Cianjur.

(16)

Rendahnya tingkat pendidikan non formal terkait dengan penyelenggaraan penyuluhan yang tidak secara rutin dilakukan, atau adanya kecenderungan penunjukan peserta pelatihan orangnya itu-itu saja, seperti ketua kelompok atau pembudidaya ikan yang dinilai berhasil. Keaktifan pembudidaya ikan dalam kelompok juga berpengaruh terhadap intensitas mengikuti pelatihan, artinya pembudidaya ikan yang menjadi anggota kelompok berpeluang mengikuti pelatihan, karena informasi adanya pelatihan disampaikan melalui kelompok.

Seperti halnya pendidikan formal, pendidikan non formal juga sebagai sarana yang penting untuk meningkatkan pengetahuan, sikap positif dan keterampilan tinggi dalam menjalankan usaha. Menurut Tarigan (2009), melalui pendidikan non formal diperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan daya saing, serta siap menghadapi perubahan sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat. Umumnya pembudidaya ikan yang aktif mengikuti penyuluhan memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang konsep-konsep dasar perikanan, seperti konsep-konsep padat tebar, pH air, dan sampling.

Pengalaman Usaha

Rata-rata pembudidaya ikan telah menjalankan usahanya selama hampir 12 tahun, dengan variasi antara 1 hingga 42 tahun. Sebagian besar (62,9%) pembudidaya ikan memiliki pengalaman yang rendah (kurang dari 14 tahun). Secara nyata terdapat perbedaan pengalaman berusaha antara Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Cianjur. Pada umumnya pembudidaya ikan di Kabupaten Cianjur menggeluti usaha budidaya ikan lebih lama dibandingkan pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor. Hal ini terkait dengan sejarah pertumbuhan usaha budidaya ikan di kedua wilayah tersebut. Usaha budidaya ikan di Cianjur sudah digeluti oleh pembudidaya ikan sejak lama. Menurut salah seorang pembudidaya ikan (berumur 64 tahun), sejak kakek buyutnya sudah mengusahakan ikan di kolam miliknya sekarang.

Pembudidaya ikan di Bogor menggeluti usaha budidaya ikan relatif belum lama. Banyak pembudidaya ikan yang semula berusaha di sektor pertanian, baik pada tanaman pangan maupun tanaman palawija. Mereka tertarik beralih ke usaha ikan, karena dirasa lebih menguntungkan dan memperoleh hasil dalam jangka waktu lebih singkat. Sebagai gambaran, jika lahannya ditanami padi atau

(17)

palawija (singkong, jagung, kacang-kacangan), hasilnya baru diperoleh 6-12 bulan, sedangkan jika ditanam ikan dalam jangka waktu 40 hari (ukuran benih) hingga 3 bulan (ukuran konsumsi) hasil sudah dapat diperoleh.

Pengalaman usaha yang dimiliki oleh seorang pembudidaya ikan dapat berhubungan dengan kemampuan dalam menjalankan usahanya, karena selama masa menjalankan usaha orang tersebut akan mengalami proses belajar termasuk memperoleh pelajaran cara mengatasi permasalahan yang dihadapi. Havelock (1969) menyatakan, pengalaman masa seseorang mempengaruhi kecenderungannya untuk memerlukan dan siap menerima pengetahuan baru.

Jumlah Tanggungan Keluarga

Sebagian besar pembudidaya ikan (64,7%) memiliki jumlah tanggungan keluarga yang sedikit (kurang dari empat orang). Rata-rata dalam satu rumah tangga memiliki beban tanggungan sebanyak empat orang. Rata-rata jumlah tanggungan keluarga di kedua kabupaten ini tidak jauh berbeda dengan masyarakat di Nigeria yakni sebanyak 5 orang (Kareem et al. 2008).

Beban tanggungan keluarga dapat berhubungan dengan kondisi ekonomi suatu rumah tangga. Bagi rumah tangga yang berpenghasilan rendah akan lebih sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, jika jumlah anggota keluarga yang harus ditanggung hidupnya lebih banyak. Besarnya beban tanggungan keluarga juga akan mempengaruhi indeks kesejahteraan rumah tangga, karena salah satu kriteria indeks ini adalah pendapatan per kapita, artinya pendapatan yang diperoleh dari seseorang terbagi ke dalam jumlah anggota keluarga yang ditanggungnya. Semakin banyak orang yang ditanggung akan semakin sedikit pendapatan per kapitanya.

Pendapatan

Pendapatan rumah tangga pembudidaya ikan dihitung dari penghasilan yang diperoleh pembudidaya ikan, baik dari usaha budidaya ikan maupun dari usaha lain. Rata-rata pendapatan rumah tangga pembudidaya ikan per bulan sebesar Rp 1,86 juta. Berdasarkan kategori pendapatan, sebagian besar pembudidaya ikan (80,2%) memiliki pendapatan pada tingkat yang rendah.

Umumnya pembudidaya ikan yang memiliki pendapatan yang rendah adalah mereka yang memiliki kolam sempit dan modal usaha yang sangat

(18)

terbatas. Pembudidaya ikan yang memiliki pendapatan cukup tinggi, didominasi oleh pengusaha ikan skala besar yang bermodal kuat.

Pendapatan per kapita pada rumah tangga pembudidaya ikan Rp 15.500,00 per hari, yang dihitung dari pendapatan rata-rata per bulan yang sebesar Rp 1,8 juta dibagi jumlah tanggungan keluarga rata-rata pada rumah tangga pembudidaya ikan yang sebesar empat orang. Dikaitkan dengan ukuran kemiskinan Bank Dunia (2007) bahwa seseorang dikatakan miskin secara absolut jika pendapatan per harinya kurang dari US$ 1 (sekitar Rp 10 ribu), dan hidup dalam kemiskinan menengah jika pendapatan per harinya kurang dari US$ 2 (sekitar Rp 20 ribu), maka dapat dinyatakan pembudidaya ikan sudah hidup di atas kemiskinan absolut, tetapi masih di bawah kemiskinan menengah.

Skala Usaha

Skala usaha diukur dari luas kolam yang diusahakan oleh pembudidaya ikan. Mayoritas pembudidaya ikan memiliki skala usaha yang rendah (kurang dari 2 ribu m2) yakni sebesar 94,6 persen. Rata-rata luas lahan yang diusahakan oleh pembudidaya ikan sebesar 4.321 m2. Dibandingkan dengan luas kolam pembudidaya ikan di Nigeria yang sebesar 0,182 ha atau 1.820 m2 (Kareem et al. 2009), maka luas kolam yang diusahakan oleh pembudidaya ikan di Cianjur dan Bogor sedikit lebih tinggi dibandingkan di Nigeria.

Luas kolam bervariasi antara 120 m2 hingga 6 ha. Pembudidaya ikan yang memiliki kolam luas, umumnya memiliki kedudukan sosial yang tinggi di masyarakatnya, dan cenderung memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain. Seperti yang dinyatakan oleh Sajogjo (Tony 2000), pemilikan lahan sebagai sumber kekuasaan pada masyarakat pedesaan, dan umumnya mereka adalah golongan elit pedesaan. Beberapa pembudidaya ikan yang memiliki lahan luas antara lain ketua kelompok, pembudidaya ikan yang merangkap sebagai pedagang ikan, dan pengusaha ikan berskala besar.

Karakteristik Eksternal

Sama halnya dengan kondisi sosial ekonomi pembudidaya ikan, kondisi eksternal yang mendukung usaha pembudidaya ikan juga pada tingkat yang rendah, baik dari kelembagaan agribisnis, kinerja penyuluh, maupun kelompok

(19)

pembudidaya ikan. Secara lebih rinci penjelasan kondisi ini dijelaskan pada uraian lebih lanjut.

Terkait dengan pentingnya faktor eksternal dalam mendukung usaha pembudidaya ikan, Mosher (1981) menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian dapat tercapai bila didukung oleh setiap unsur yang terdapat di dalamnya, yaitu fasilitas dan layanan sebagai syarat pokok dan faktor pelancar pembangunan pertanian. Syarat pokok yang harus tersedia bagi petani agar pertanian menjadi maju, yaitu: (1) pasar hasil usahatani, (2) teknologi yang selalu berubah, (3) tersedianya sarana produksi dan peralatan secara lokal, (4) perangsang produksi bagi petani, dan (5) pengangkutan. Selain kelima syarat pokok tersebut, agar pertanian maju diperlukan lima faktor pelancar pembangunan pertanian, yaitu: (1) pendidikan pembangunan, (2) kredit produksi, (3) kerjasama kelompok tani, (4) memperbaiki dan memperluas lahan pertanian, dan (5) perencanaan pembangunan pertanian.

Dukungan Kelembagaan Agribisnis

Dukungan kelembagaan agribisnis kepada pembudidaya ikan tergolong rendah, baik dari aspek penyediaan modal usaha, input produksi, maupun informasi (Tabel 32). Di lain pihak, dukungan ini sangat penting bagi keberhasilan usaha pembudidaya ikan, karena agribisnis merupakan suatu sistem yang antara satu bagian dengan bagian lainnya saling terkait, sehingga kelemahan fungsi pada satu bagian akan mempengaruhi fungsi bagian yang lain. Artinya, jika dari sektor hulu yaitu lembaga penyedia input produksi, informasi, serta modal tidak berfungsi dengan baik, maka akan berakibat pada lemahnya fungsi di sektor tengah yang memperoduksi ikan oleh pembudidaya ikan tidak dapat maksimal. Akibat lanjutnya sektor hilir yang memasarkan produksi ikan juga tidak berjalan maksimal.

Lembaga Penyedia Modal

Dukungan lembaga penyedia modal pada usaha akuakultur di kedua kabupaten memperlihatkan tingkat yang rendah (Tabel 32). Rendahnya dukungan ini dikarenakan tidak banyak lembaga keuangan yang menyediakan kredit modal bagi pembudidaya ikan.

(20)

Mayoritas pembudidaya ikan mengandalkan modal dari dirinya sendiri (78,8%), tidak dari sektor perbankan, seperti yang terlihat pada Tabel 33. Kondisi yang sama terjadi pada pembudidaya ikan di Nigeria, sebanyak 92,9 persen pembudidaya ikan menggunakan modal sendiri (Kareem et al. 2008). Kondisi di Thailand berbeda, sebagian besar pembudidaya ikan (80%) memperoleh modal usaha dari agen penyedia pakan (feed agent), karena sebagian besar kebutuhan modal (70%) digunakan untuk membeli pakan yang disediakan oleh agen pakan tersebut.

Tabel 32. Tingkat Dukungan Lembaga Agribisnis

Dukungan Kriteria Kabupaten (orang) Total

(orang) Bogor Cianjur

N % N % N %

Modal Sangat Rendah 52 32,9 66 55,0 118 42,4

Rataan=24,3 Rendah 64 40,5 27 22,5 91 32,7

Sedang 34 21,5 22 18,3 56 20,1

Tinggi 6 3,8 5 4,2 11 4,0

Sangat Tinggi 2 1,3 0 0 2 0,7

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Input Produksi Sangat Rendah 0 0 0 0 0 0

Rataan= 62,1 Rendah 7 4,4 1 0,8 8 2,9

Sedang 98 62,0 84 70,0 182 65,5

Tinggi 52 32,9 34 28,3 86 30,9

Sangat Tinggi 1 0,6 1 0,8 2 0,7

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Pasar Sangat Rendah 0 0 0 0 0 0

Rataan= 73 Rendah 2 1,3 0 0,0 2 0,7

Sedang 41 25,9 13 10,8 54 19,4

Tinggi 70 44,3 48 40,0 118 42,4

Sangat Tinggi 45 28,5 59 49,2 104 37,4

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Informasi Sangat Rendah 6 3 18 15 24 8

Rataan= 40,7 Rendah 71 44 44 36 115 41

Sedang 72 45 47 39 119 42

Tinggi 9 5 11 9 20 7

Sangat Tinggi 0 0 0 0 0 0

Jumlah 158 100 120 100 278 100

Nilai skor, sangat rendah= 0-20, rendah=21-40, sedang=41-60, tinggi=61-80, sangat tinggi=81-100

Penggunaan modal sendiri, yang umumnya terbatas, pada dasarnya memiliki kelemahan, karena kurang leluasa untuk mengembangkan usaha. Oleh

(21)

sebagian pembudidaya ikan, keterbatasan modal yang terbatas ini disiasati dengan meminjam ke pemilik modal. Pemilik modal ini umumnya adalah tengkulak atau ”bandar” dari desa setempat. Peminjaman ke tengkulak ini cukup mudah, tersedia setiap saat dan tanpa agunan, namun ada ikatan tertentu yaitu ikan produksi pembudidaya ikan harus dijual ke tengkulak tersebut dan bunga pinjaman ditentukan oleh tengkulak tersebut. Pola ini banyak berkembang di Kabupaten Cianjur.

Tabel 33. Sumber Modal Usaha Pembudidaya Ikan

Sumber modal

Bogor Cianjur Total Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Sendiri 117 74,5 102 85,0 219 78,8

Investor/tengkulak 39 24,7 15 12,5 54 9,4

Bank 2 1,3 3 2,5 5 1,8

Jumlah total 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Pola yang berkembang di Bogor umumnya adalah bagi hasil. Pemilik modal atau investor memberikan modal kerja untuk membeli input produksi dan pembudidaya ikan mengelola usahanya. Nilai bagi hasilnya adalah 70:30 dari keuntungan bersih, yaitu 70 persen untuk investor dan 30 persen untuk pembudidaya ikan. Hubungan investor dengan pembudidaya ikan bersifat perorangan atau kelompok. Kasus di Desa Putat Nutug, investor berhubungan dengan ketua kelompok sebagai penanggungjawab kelompok, dan ketua kelompok ini berkewajiban melaporkan keuangan sekaligus menyerahkan keuntungan ke investor setiap bulannya

Lembaga perbankan tidak banyak diakses oleh pembudidaya ikan, dengan alasan utama kerepotan dalam mengurus peminjaman. Hal ini terkait dengan prosedur peminjaman kredit bank yang dirasakan oleh pembudidaya ikan berbelit-belit, dan mensyaratkan agunan yang sulit dipenuhi oleh pembudidaya ikan.

Menurut Yustika (2008), masyarakat pedesaan enggan mengakses lembaga keuangan formal (perbankan), dikarenakan adanya persyaratan peminjaman yang kompleks, syarat agunan, tidak fleksibel dan tidak adanya hubungan personal antara kreditor dan debitor sebagaimana lembaga keuangan informal. Lembaga perbankan sebagai penyalur skim kredit sulit diakses petani,

(22)

karena prinsip 5C, yaitu Character, Capacity, Capital, Condition, dan Collateral dalam menilai usaha pertanian.

Jumlah pembudidaya ikan yang mengakses bank sangat sedikit (1,8%), namun jika dilihat dari tingkat keinginan untuk meminjam kredit di bank sebagai modal usaha cukup tinggi. Tabel 34 memperlihatkan, lebih banyak pembudidaya ikan (56,8%) yang memiliki keinginan untuk meminjam kredit di bank. Alasan utamanya adalah untuk mengembangkan usaha. Pembudidaya ikan yang tidak ingin meminjam kredit beralasan, modal yang dimiliki sudah cukup atau ada ”bandar” atau tengkulak yang siap memberikan pinjaman kapan saja dan tidak merepotkan. Pembudidaya ikan yang berkeinginan meminjam kredit bank di Cianjur tidak sebanyak pembudidaya ikan di Bogor. Hal ini terkait dengan sistem kelembagaan penyediaan modal melalui ”bandar’ atau tengkulak di Cianjur lebih kuat.

Tabel 34. Keinginan Meminjam Modal Pembudida Ikan ke Lembaga Perbankan

Keinginan Meminjam

Bogor Cianjur Total

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Ya 104 65,8 54 45,0 158 56,8

Tidak 54 34,2 66 55,0 120 43,2

Jumlah total 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Program modal usaha dari pemerintah yang sudah diterapkan di desa studi antara lain: (a) program bantuan penguatan modal dan Bantuan Sosial Pengembangan Usaha Kecil Perikanan Budidaya (Bansos PUKPB); (b) program pengadaan dan penyaluran benih ikan kepada pembudidaya ikan kecil, yang berupa bantuan selisih harga benih ikan; dan (c) program Kredit Ketahanan Pangan untuk pembudidaya ikan kecil, dengan suku bunga lebih rendah dari kredit umum.

Sebagian kecil pembudidaya ikan yang memperoleh bantuan tersebut menganggap, nilai modal yang diberikan terlalu kecil untuk membiayai modal usaha. Pada kasus di salah satu kelompok di Kabupaten Bogor, bansos PUKPB yang berupa modal uang diterima oleh setiap anggota berkisar Rp 500 ribu. Nilai ini tidak cukup sebagai modal usaha, akibatnya uang tersebut digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya konsumtif. Bansos tersebut dapat lebih berdaya guna apabila dikelola dalam satu unit usaha kelompok, namun yang menjadi

(23)

kendalanya adalah dalam mengorganisir usaha secara berkelompok diperlukan kepemimpinan yang kuat sekaligus pendampingan dari penyuluh. Pada kenyataannya, ketua kelompok tidak bersedia mengelola uang bantuan karena dianggap “riskan” atau “beresiko.” Dari pihak pemerintah terkesan bantuan telah tersalurkan dan dibuat laporan penyerahan bantuan, tanpa tindakan pendampingan dalam mengelola bantuan tersebut.

Dukungan Lembaga Penyedia Input Produksi

Dukungan lembaga penyedia input produksi terhadap usaha pembudidaya ikan tergolong rendah, dengan nilai rata-rata 62,1 (Tabel 32). Nilai ini memperlihatkan, pembudidaya ikan masih mengalami kesulitan untuk memperoleh input produksi, sesuai dengan jumlah dan mutu yang diperlukan, tepat waktu, dan harganya relatif terjangkau.

Lembaga-lembaga penyedia input produksi berasal dari: (1) pemerintah, seperti Balai Besar Budidaya Air Tawar (BBAT) dan Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan atau yang sebelumnya dikenal sebagai Balai Benih Ikan (BBI) yang berfungsi menyediakan induk dan benih ikan; (2) swasta, seperti pedagang benih ikan, toko penjual pakan, pupuk, obat-obatan, dan peralatan produksi; dan (3) masyarakat pembudidaya benih ikan.

Input produksi yang didapatkan oleh pembudidaya ikan, sebagian besar berasal dari pembenihan rakyat. Jumlah pembudidaya ikan yang menggunakan induk atau benih ikan dari lembaga pemerintah yaitu BBAT dan BBI sangat sedikit, yaitu 1,3 persen di Bogor dan 3,3 persen di Cianjur. Sebenarnya di kedua kabupaten sudah ada BBI. Kabupaten Bogor memiliki dua BBI yang terletak di Desa Cibening, Kecamatan Pamijahan dan di Desa Cibitung, Kecamatan Tenjolaya. Kabupaten Cianjur juga terdapat dua BBI, yaitu satu BBI “milik” provinsi dan satu BBI kabupaten.

Tugas yang diemban BBI adalah pembenihan ikan yang bermutu sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), pelayanan dan penyebaran informasi teknis pembenihan ikan, pengkajian dan penerapan teknologi pembenihan ikan, serta pengujian mutu induk dan benih ikan, dan pembinaan kepada UPR (Unit Pembenihan Rakyat).

(24)

Peran BBI dalam menyediakan benih untuk pembudidaya ikan belum maksimal, antara lain disebabkan oleh terbatasnya produksi benih yang dihasilkan, kesulitan pembudidaya ikan mengakses benih ke BBI karena jaraknya yang relatif jauh, dan BBI tidak menghasilkan jenis benih ikan yang diinginkan oleh pembudidaya, misalnya BBI di Kabupaten Bogor tidak memproduksi benih gurame dan lele yang banyak diperlukan oleh pembudidaya ikan di wilayah ini.

Hasil kajian tentang fungsi BBI di beberapa kabupaten memperlihatkan, kurang berfungsinya BBI ikan air tawar disebabkan oleh minimnya sarana prasarana, dana operasional terbatas, sistem dan desain kolam dan panti benih (hatchery) yang tidak tepat atau rusak dan kurangnya tenaga operasional (http://indoorcommunity .wordpress.com/2007/08/07/optimasi-balai-benih-ikan-air-tawar/).

Kebutuhan induk atau benih ikan pada sebagian besar pembudidaya ikan (68,4%) diperoleh dari lembaga di luar pemerintah, seperti: sesama pembudidaya ikan, “bandar,” pedagang, dan pasar benih. Hal yang sama terjadi di Nigeria, mayoritas pembudidaya ikan (76,5%) memperoleh benih ikan dari pedagang (Kareem 2009). Induk atau benih ikan yang diperoleh dari usaha sendiri dinyatakan oleh hampir sepertiga pembudidaya ikan (29,5%). Mutu benih yang dihasilkan oleh pembenihan rakyat umumnya tidak tinggi, seperti yang ditunjukkan tingkat mortalitas ikan yang ditebar dalam ukuran benih mencapai 60 persen.

Kebutuhan pakan pada umumnya diperoleh dengan membeli langsung ke toko atau pasar, namun demikian ada pula yang memperolehnya dengan cara mengambil lebih dulu ke pemilik modal atau “bandar” yang nantinya akan diperhitungkan dari hasil penjualan ikan ke “bandar tersebut. Pakan daun sente yang banyak digunakan oleh pembudidaya ikan gurame diperoleh dari pematang kolam milik sendiri.

Pupuk yang digunakan oleh pembudidaya ikan berupa pupuk buatan (urea) dan pupuk organik berupa kotoran ayam. Pupuk urea diperoleh dari toko, pasar, dan kios KUD (Koperasi Unit Desa), sedangkan pupuk organik diperoleh dari peternakan ayam. Pupuk organik lebih banyak digunakan oleh pembudidaya ikan (60,2%), dengan alasan harganya lebih murah dibandingkan dengan pupuk urea.

(25)

Peralatan produksi yang digunakan oleh pembudidaya ikan antara lain cangkul, serok, waring, dan jaring atau hapa. Peralatan ini diperoleh dari membeli di toko atau pasar. Umumnya peralatan tersebut dapat digunakan sampai beberapa kali musim tanam. Berbeda dengan usaha ikan lain, pembenihan patin membutuhkan peralatan yang lebih banyak dengan harga yang lebih tinggi, seperti: akuarium, rak, blower, alat aerasi, dan mesin pompa.

Jenis obat-obatan yang digunakan oleh pembudidaya ikan berupa obat kimia dan obat alami. Obat kimia diperoleh dari toko kimia, pedagang obat-obatan yang mendatangi pembudidaya ikan, atau dari pemilik modal, sedangkan obat-obatan yang bersifat alami seperti daun aci-aci tidak perlu dibeli melainkan diambil dari kebun sendiri atau minta ke tetangga. Pedagang obat kimia yang mendatangi pembudidaya ikan perlu diwaspadai karena obat yang ditawarkannya ada yang tidak mencantumkan nomor registrasi dari pemerintah. Hal ini dapat merugikan usaha pembudidaya ikan, karena ikan yang dihasilkan bisa jadi membahayakan bagi kesehatan konsumen dan lingkungan perairan. Menurut Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan pasal 86 ayat 4 menyatakan “seseorang yang menggunakan obat-obatan dalam pembudidayaan ikan yang membahayakan sumberdaya ikan, kesehatan manusia dan lingkungan akan terkena sanksi enam tahun penjara atau denda Rp1.500.000.000,00.”

Harga input produksi yang utama, yaitu benih atau induk dinyatakan mahal oleh pembudidaya ikan di kedua kabupaten. Input produksi yang lain (pakan, pupuk, peralatan, dan obat-obatan) semuanya dinyatakan murah oleh pembudidaya ikan di Bogor, dan untuk di Cianjur, pakan dan obat-obatan dinyatakan murah (Tabel 35).

Harga pupuk oleh pembudidaya ikan di Bogor dinyatakan murah, karena umumnya pupuk yang digunakan adalah kotoran ayam yang harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pupuk urea. Harga peralatan produksi juga murah, karena peralatan yang digunakan sangat sederhana, berharga murah dan mudah didapatkan di sekitar desa.

Harga pakan dinyatakan murah, karena pakan yang digunakan umumnya dedak dan daun sente yang harganya lebih murah dibandingkan harga pelet. Harga obat-obatan dinyatakan murah, karena sebagian besar menggunakan obat

(26)

alami berupa daun aci-aci yang diperoleh secara gratis. Alasan yang sama dinyatakan oleh pembudidaya ikan di Cianjur terkait dengan pendapat harga yang murah untuk pakan dan obat-obatan.

Tabel 35. Tingkat Kemahalan Harga Input Produksi

Input

Bogor Cianjur Sangat

mahal Mahal Murah

Sangat murah

Sangat

mahal Mahal Murah

Sangat murah N % N % N % N % N % N % N % N % Induk/benih 6 3,8 98 62,0 48 30,4 6 3,8 9 7,5 57 47,6 52 43,3 2 1, 7 Pupuk 10 6,3 42 26,6 102 64,6 4 2,5 7 5,8 76 63,3 37 30,8 0 0,0 Pakan 40 25,3 12 7,6 104 65,8 2 1,3 10 8,3 44 36, 7 66 55,0 0 0,0 Peralatan 0 0,0 49 31,0 104 65,8 5 3,2 0 0,0 68 56, 7 51 42,5 1 0,8 Obat2an 16 10,1 23 14, 6 119 75,3 0 0,0 4 3, 3 41 34, 2 75 62,5 0 0,0

Dukungan Lembaga Pemasaran

Dukungan lembaga pemasaran terhadap usaha pembudidaya ikan tergolong tinggi, dengan nilai rata-rata 73 (Tabel 32). Hal ini antara lain diindikasikan dari mudahnya memasarkan hasil produksi dan cara pembayaran hasil penjualan yang sebagian besar dilakukan secara tunai.

Hasil produksi pembudidaya ikan mudah dipasarkan, sebanyak 91,4 persen pembudidaya ikan menyatakan, hasil produksinya selalu habis terjual (Tabel 36). Kemudahan menjual hasil produksi ini terkait dengan tingginya permintaan ikan baik dalam ukuran benih, maupun konsumsi. Tingginya permintaan ikan ini menjadi peluang untuk meningkatkan produksi ikan.

Tabel 36. Kemudahan Menjual Hasil Panen

Kemudahan Menjual Bogor Cianjur Total

N % N % N %

Selalu habis terjual 139 88,0 115 95,8 254 91,4

Kadang-kadang tidak habis 19 12,0 5 4,2 24 8,6

Sering tidak terjual 0 0,0 0 0,0 0 0,0

Jumlah 158 100,0 120 100,00 278 100,0

Cara pembayaran hasil panen oleh sebagian besar pembudidaya ikan (70,1%) dilakukan secara kontan (Tabel 37), yaitu uang langsung diterima oleh pembudidaya ikan saat serah terima barang(ikan). Cara pembayaran ini

(27)

menjadikan pembudidaya ikan dapat untuk segera memulai tanam ikan kembali setelah panen.

Tabel 37. Cara Pembayaran Hasil Panen

Cara Pembayaran

Bogor Cianjur Total

N % N % N %

Kontan 80 50,6 115 95,8 195 70,1

Tidak kontan 78 49,4 5 4,2 83 29,9

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Pemasaran hasil produksi umumnya dengan cara pembeli yang mendatangi pembudidaya ikan. Dengan demikian, biaya pemasaran, seperti plastik, oksigen, dan transportasi ditanggung oleh pembeli.

Sebagian besar pembudidaya ikan (78,8%) menjual produksinya secara langsung kepada pedagang pengumpul di tingkat desa (Tabel 38). Hal yang sama terjadi di Nigeria (Kareem et al. 2008).

Tabel 38. Pembeli Ikan dari Pembudidaya Ikan

Pembeli Bogor Cianjur Total

N % N % N %

Tengkulak/Broker 107 67,7 112 93,3 219 78,8

Pedagang luar kota 6 3,8 0 0,0 6 2,2

Pembudidaya ikan 33 20,9 6 5,0 39 14,0

Pasar 7 4,4 0 0,0 7 2,5

Kelompok 5 3,2 0 0,0 5 1,8

Catering/Restoran 0 0,0 2 1,7 2 0,7

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Lembaga pemerintah maupun koperasi tidak terlibat dalam memasarkan produksi pembudidaya ikan, baik di Cianjur maupun di Bogor. Pada masa mendatang koperasi yang beranggotakan pembudidaya ikan semakin penting untuk masyarakat pembudidaya ikan itu sendiri. Dalam hal ini fasilitasi dari pemerintah daerah dibutuhkan, karena melalui koperasi margin share yang selama ini lebih banyak dinikmati oleh pedagang pengumpul dapat dinikmati oleh anggota koperasi melalui penjualan langsung ke konsumen. Menurut Hendroyogi (2000), koperasi berpotensi untuk meningkatkan posisi tawar masyarakat petani yang umumnya lemah di hadapan pelaku ekonomi yang lain.

(28)

Dukungan Lembaga Informasi

Dukungan lembaga informasi di kedua kabupaten berada pada tingkatan rendah dengan nilai rata-rata 40,7 (Tabel 32). Di lain pihak, informasi sangat penting untuk pengembangan usaha akuakultur, baik yang terkait dengan informasi inovasi teknologi maupun informasi pasar. Dengan adanya informasi, maka pembudidaya ikan dapat mengambil keputusan usahanya dengan lebih tepat.

Akses informasi pembudidaya ikan ke peneliti, penyuluh, dan media massa lebih sulit didapatkan dibandingkan dengan akses ke sesama pembudidaya ikan, ketua kelompok, atau pembeli (Tabel 39). Hal ini terkait dengan frekwensi interaksi yang rendah antara pembudidaya ikan dengan peneliti atau penyuluh. Sumber informasi utama dari sesama pembudidaya ikan juga terjadi di Nigeria (Kareem et al. 2008).

Tabel 39. Tingkat Kemudahan Mengakses Sumber Informasi

Sumber Bogor Cianjur Sangat tidak mudah Tidak mudah Mudah Sangat mudah Sangat tidak mudah Tidak mudah Mudah Sangat mudah N % N % N % N % N % N % N % N % Penyuluh 35 22,25 53 33,5 60 38,0 10 6,3 48 40,0 23 19,2 26 21,7 21 17,5 Teman 1 0,6 9 5,7 105 66,5 43 27,2 3 2,5 6 5,0 31 25,8 78 65,0 Ketua kelp 1 0,6 17 10,7 76 48,1 28 17,7 37 30,8 16 13,3 23 19,2 42 35,0 Pembeli 1 0,6 36 22,8 109 67,0 6 3,8 29 24,2 12 10,0 45 37,5 32 26,7 Peneliti 1 0,6 76 48,1 19 12,0 2 1,3 69 57,5 34 28,3 12 10,0 3 2,5 Majalah 1 0,6 64 40,5 14 8,7 0 0,0 68 56,7 34 28,3 14 11,7 2 1,7 Koran 1 0,6 61 38,6 14 8,7 0 0,0 73 60,8 34 28,3 10 8,,3 1 0,8 Radio 1 0,6 64 40,5 14 8,7 0 0,0 73 60,8 32 26,7 11 9,2 0 0,0 Televisi 1 0,6 65 41,1 20 12,7 0 0,0 51 42,6 30 25,0 29 24,2 8 6,7

Berbagai sumber informasi dapat didayagunakan untuk mengembangkan usaha pembudidaya ikan, dengan konsep Agricultural Knowledge and Information System (AKIS) atau Sistem Pengetahuan dan Informasi Pertanian. van den Ban dan Hawkins (1999) mendefinisikan AKIS sebagai:

“Orang-orang, jaringan-jaringan kerja, dan lembaga-lembaga beserta penyatuan dan hubungan di antara mereka yang mengukutsertakan atau mengatur pembangkitan, transformasi, transmisi, penyimpanan, pemanggilam, integrasi, difusi, serta pemanfaatan pengetahuan dan informasi, dan yang secara potensial bekerja secara sinergis untuk meningkatkan

(29)

keserasian antara pengetahuan dan lingkungan, dan teknologi yang digunakan dalam pertanian.”

AKIS dilandasi dari gagasan bahwa pembudidaya ikan menggunakan sumber-sumber yang berbeda untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi diperlukan untuk mengelola usaha, dan pengetahuan baru dikembangkan tidak hanya oleh lembaga penelitian, tetapi juga oleh banyak pelaku yang berbeda.

Penyuluh sebagai sumber informasi lebih banyak dimanfaatkan oleh pembudidaya ikan di Bogor dibandingkan di Cianjur. Hal ini ada hubungannya dengan frekwensi pertemuan penyuluh dengan pembudidaya ikan. Penyuluh di Bogor lebih sering berinteraksi dengan pembudidaya ikan, karena selain tuntutan tugas juga ada keperluan pribadi penyuluh yang juga sebagai pembeli ikan untuk dijual ke luar desa.

Informasi tentang budidaya ikan tidak mudah didapatkan dari media massa, seperti majalah, koran, radio, dan televisi. Hal ini terkait dengan minimnya media massa yang menyampaikan informasi perikanan dan harganya yang relatif mahal. Selain itu, terkait dengan budaya membaca yang masih sangat rendah, dan membaca belum dianggap sebagai kebutuhan.

Pengetahuan pembudidaya ikan tentang informasi pasar di kedua kabupaten memperlihatkan adanya perbedaan (Tabel 40).

Tabel 40. Pengetahuan Pembudidaya Ikan tentang Informasi Pasar

Informasi Pasar

Bogor Cianjur

Ya Kadang2 Tidak Ya Kadang2 Tidak

N % N % N % N % N % N % Harga 9 5,7 78 49,4 71 44,9 27 22,5 27 22,5 66 55,0 Jumlah penawaran 42 26,6 90 57,0 26 16,5 89 74,2 13 10,8 18 15,0 Jumlah permintaan 30 19,0 91 57,6 37 23,4 77 64,2 17 14,2 26 21,7 Preferensi konsumen 16 10,1 84 53,2 58 36,7 17 14,2 20 16,7 83 69,2

Pembudidaya ikan di Bogor banyak yang menyatakan kadang-kadang saja mengetahui informasi pasar, sedangkan di Cianjur banyak yang tidak mengetahui harga ikan di pasaran dan preferensi konsumen, namun mengetahui jumlah penawaran dan permintaan ikan. Tingkat pengetahuan pembudidaya ikan

(30)

ini terkait dengan transparansi informasi pasar dari tengkulak (sebagai pembeli utama) dan keterjangkauan pembudidaya ikan ke pasar.

Dukungan Kelompok

Dukungan kelompok pembudidaya ikan kepada para anggotanya tergolong rendah, dengan nilai rata-rata 57,3 untuk aspek kedinamisan kelompok dan 57,2 untuk aspek kepemimpinan kelompok (Tabel 41). Rendahnya dukungan kelompok ini terkait dengan tingkat aktivitas kelompok yang rendah. Umumnya kelompok aktif berkegiatan pada momen-momen tertentu, misalnya menjelang lomba kelompok, kunjungan pejabat atau tamu lain, dan saat kegiatan penyuluhan. Kondisi ini tidak berbeda nyata di kedua kabupaten.

Tabel 41. Tingkat Dukungan Kelompok Pembudidaya Ikan

Komponen Kriteria Kabupaten Total

Bogor Cianjur

N % N % N %

Dinamika Kelompok Sangat Rendah 39 24,8 47 39,2 86 30,9

Rataan=57,3 Rendah 6 3,8 4 3,3 10 3,6

Sedang 92 58,2 46 38,3 138 49,6

Tinggi 15 9,5 13 10,8 28 10,1

Sangat Tinggi 6 3,8 10 8,3 16 5,8

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Kepemimpinan Kelompok Sangat Rendah 44 27,8 48 40,0 92 33,1

Rataan= 57,2 Rendah 0 0,0 3 2,5 3 1,1

Sedang 100 63,3 61 50,8 161 57,9

Tinggi 12 7,6 6 5,0 18 6,5

Sangat Tinggi 2 1,3 2 1,7 4 1,4

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Nilai skor, sangat rendah= 0-20, rendah=21-40, sedang=41-60, tinggi=61-80, sangat tinggi=81-100

Berdasarkan pembagian unsur dinamika kelompok, pada aspek fungsi tugas, tidak semua pengurus menjalankan tugasnya sesuai dengan yang seharusnya. Pada beberapa kelompok semua tugas dirangkap oleh ketua kelompok atau sekretaris kelompok. Pada aspek pengembangan kelompok, tidak semua kelompok memiliki aktivitas rutin sebagai bentuk mengembangkan kelompok itu sendiri. Umumnya kelompok menjadi aktif, jika ada agenda-agenda tertentu, misalnya persiapan lomba kelompok, kegiatan penyuluhan, atau kunjungan pejabat pemerintah.

(31)

Unsur kekompakan kelompok tergolong cukup baik. Umumnya jarang terjadi perselisihan antar anggota kelompok, dan tidak pernah terjadi konflik secara terbuka dalam kelompok, kalaupun ada hanya kesalah pahaman antar individu. Secara umum suasana kelompok cukup baik, antar sesama anggota saling menghargai dan bebas untuk mengemukakan pendapat.

Lomba kelompok merupakan sumber utama tekanan kelompok (sebagai unsur dinamika kelompok) yang bersumber dari luar kelompok. Pada saat persiapan lomba kelompok, biasanya intensitas pertemuan meningkat. Persiapan lomba yang dilakukan antara lain merapikan catatan administrasi kelompok, dan membersihkan kolam ikan. Menurut Slamet (1990), tekanan kelompok dari luar berpotensi cukup kuat mendorong kelompok menjadi dinamis.

Dinamika kelompok pada aspek keberhasilan kelompok ditunjukkan dari manfaat yang dirasakan oleh anggota dari kelompok yang diikutinya. Secara keseluruhan tingkat manfaat kelompok bagi anggotanya tergolong sedang (Tabel 42), namun dilihat dari per lokasi kabupaten, manfaat kelompok yang dirasakan pembudidaya ikan di Bogor tergolong tinggi, sedangkan di Cianjur tergolong rendah. Hal ini terkait dengan jenis manfaat berkelompok pada pembudidaya ikan di Bogor lebih banyak dibandingkan di Cianjur, seperti yang diperlihatkan pada Tabel 43.

Tabel 42. Tingkat Manfaat Kelompok Pembudidaya Ikan

Komponen Kriteria Kabupaten Total

Bogor Cianjur

N % N % N %

Manfaat Kelompok* Rendah 6 5,1 19 25,3 25 13,0

Selang skor (0-100) Sedang 54 45,8 38 50,7 92 47,7

Rataan=71,28 Tinggi 58 49,1 18 24,0 76 39,3

Jumlah 118 100,0 75 100,0 193 100,0

Keterangan: * terdapat perbedaan nyata dengan uji-t pada α=0,05

Manfaat utama berkelompok adalah mendapat informasi tentang usaha budidaya, baik di Bogor maupun di Cianjur (Tabel 43). Sumber informasi dalam kelompok berasal dari ketua kelompok, sesama anggota kelompok, maupun dari penyuluh yang mendatangi kelompok. Terkait dengan hal ini, pendekatan kelompok menjadi alternatif yang cukup efektif untuk penyebaran informasi pembangunan, khususnya pembangunan perikanan.

(32)

Kelompok sebagai sarana untuk mendapatkan bantuan modal tidak dirasakan oleh banyak pembudidaya ikan di kedua kabupaten, meskipun kelompok menjadi wadah bagi berbagai pihak untuk menyalurkan bantuan modal, seperti dari investor dengan sistem bagi hasil, atau bantuan kredit dari pemerintah. Keterbatasan modal bantuan ini menjadikan tidak semua anggota mendapat bagian.

Tabel 43. Manfaat Berkelompok

Manfaat

Bogor Cianjur

Tidak Ya Tidak Ya

N % N % N % N %

Mendapat informasi 43 27,2 115 72,8 60 50,0 60 50,0

Mendapat bantuan modal/kredit 118 74,7 40 25,3 96 80,0 24 20,0

Memudahkan pemasaran 59 37,3 99 62,7 79 65,8 41 34,2

Membantu input produksi 64 40,5 94 59,5 86 71,7 34 28,3

Manfaat kelompok dalam kelancaran pemasaran ikan dirasakan oleh sebagian besar pembudidaya ikan di Bogor, tetapi tidak untuk di Cianjur. Manfaat yang dirasakan oleh pembudidaya ikan di Bogor, misalnya apabila ada anggota kelompok yang mendapat pesanan ikan yang banyak akan terlebih dulu mengajak sesama anggota untuk memenuhinya, dan pemesanan pembeli seringkali melalui ketua kelompok untuk selanjutnya disampaikan ke seluruh anggotanya.

Manfaat berkelompok dalam hal membantu penyediaan input produksi dirasakan oleh sebagian besar pembudidaya ikan di Bogor, tetapi tidak di Cianjur. Bentuk manfaat ini antara lain: kemudahan mendapatkan pakan dari gudang kelompok, sehingga setiap waktu dibutuhkan tersedia, dan tidak perlu mengeluarkan ongkos transportasi, dapat meminjam alat produksi yang tidak dimiliki dari kelompok, dan jika membutuhkan obat-obatan biasanya membeli dari kelompok.

Manfaat berkelompok ini, menjadi faktor yang memotivasi pembudidaya ikan untuk menjadi anggota kelompok. Motivasi ini terkait dengan adanya kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi jika berkelompok. Beberapa teori motivasi, seperti teori hierarki kebutuhan Maslow, Teori ERG (Existence – Relatedness – Growth) Alderfer, dan teori kebutuhan dari McClelland (Asnawi 2002) memperlihatkan, terdapat keterkaitan yang sangat kuat antara motivasi

(33)

dengan kebutuhan, yaitu motivasi seseorang terbangun dari kebutuhan yang dirasakannya.

Dinamika kelompok di kedua kabupaten dipengaruhi oleh keaktifan ketua dalam memimpin kelompoknya, sebagai contoh pada kelompok yang berkelas utama atau menjadi juara lomba kelompok, umumnya ketua kelompoknya aktif dalam menggerakkan anggotanya terlibat dalam kegiatan kelompok. Sebaliknya, kelompok berubah menjadi pasif, ketika terjadi penggantian ketua kelompok yang tidak aktif menggerakkan kelompoknya.

Ketua kelompok umumnya memiliki karakteristik tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi di masyarakat, antara lain dicirikan oleh skala usahanya yang di atas rata-rata warga desa lainnya, pengalaman usahanya yang lebih lama, tingkat kekosmopolitan tinggi karena lebih sering bepergian ke luar desa, memiliki pengaruh yang kuat terhadap warga desa, mendapat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat, dan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan pihak luar desa, seperti penyuluh, pejabat pemerintah, pedagang ikan luar desa dan sebagainya.

Rogers (1983) menyatakan bahwa tokoh masyarakat atau opinion leader adalah orang yang memiliki karakteristik status sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan keterdedahan (exposure) media massa yang lebih tinggi, serta sebagai agen perubahan (social change).

Proses pemilihan ketua kelompok dilakukan secara aklamasi oleh anggota kelompok, dan biasanya yang dipilih dan bersedia menjadi ketua kelompok adalah orang yang memiliki kriteria di atas. Jabatan ketua kelompok ini bersifat sukarela, karena tidak memperoleh gaji atau jenis kompensasi material lainnya.

Gaya kepemimpinan kelompok cenderung mengarah pada gaya yang demokratis, partisipatif, consideration, dan berorientasi relasi (relation oriented), sebagai lawan dari gaya kepemimpinan yang otokratis, direktif, initiating, dan task oriented (Hersey et al. 1996). Hal ini terkait dengan sistem pada masyarakat pedesaan yang masih kuat memegang nilai-nilai kebersamaan, keharmonisan, dan kegotong royongan.

Kinerja Penyuluh

Kinerja penyuluh di kedua kabupaten pada tingkat yang rendah, baik dalam hal pengidentifikasian masalah dan penyusunan rencana program,

(34)

penyelenggaraan pembelajaran, pengembangan kelompok, maupun menjalin jaringan (Tabel 44).

Tabel 44. Tingkat Kinerja Penyuluh

Komponen Kriteria Kabupaten Total

Bogor Cianjur

N % N % N %

Identifikasi masalah Sangat Rendah 59 37,3 71 59,2 130 46,8

dan perencanaan Rendah 24 15,2 3 2,5 27 9,7

Rataan=33,5 Sedang 30 19,0 18 15,0 48 17,3

Tinggi 3 1,9 18 15,0 21 7,6

Sangat Tinggi 42 26,6 10 8,3 52 18,7

Jumlah 158 100,0 120 100,0 278 100,0

Proses pembelajaran Sangat Rendah 103 65,2 82 68,3 185 66,5

Rataan= 27,3 Rendah 10 6,3 5 4,2 15 5,4

Sedang 5 3,2 9 7,5 14 5,0

Tinggi 18 11 13 10 31 11

Sangat Tinggi 22 13 11 9 33 11

Jumlah 158 100 120 100 278 100

Pengembangan klpk Sangat Rendah 52 32,9 66 55,0 118 42,4

Rataan= 46,0 Rendah 3 1,9 1 0,8 4 1,4

Sedang 10 6,3 4 3,3 14 5,0

Tinggi 23 14,6 16 13,3 39 14,0

Sangat Tinggi 70 44 33 27 103 37

Jumlah 158 100 120 100 278 100

Menjalin jaringan Sangat Rendah 83 52,5 88 73,3 171 61,5

Rataan= 19,0 Rendah 43 27,2 16 13,3 59 21,2

Sedang 14 8,9 7 5,8 21 7,6

Tinggi 7 4 9 7 16 5

Sangat Tinggi 11 7 0 0 11 4

Jumlah 158 100 120 100 278 100

Nilai skor, sangat rendah= 0-20, rendah=21-40, sedang=41-60, tinggi=61-80, sangat tinggi=81-100

Rendahnya kinerja penyuluh terkait dengan kegiatan penyuluhan yang relatif jarang dilakukan, tidak terjadwal, dan frekwensi kunjungan penyuluh ke desa yang sangat rendah. Kondisi ini dikarenakan jumlah penyuluh bidang perikanan di kedua kabupaten yang sangat sedikit, tidak seimbang dengan jumlah pembudidaya ikan yang harus dilayaninya. Jumlah penyuluh di Kabupaten Bogor yang berlatar belakang perikanan sejumlah 13 orang, lima di antaranya penyuluh lapang dan sisanya ditempatkan di kantor BP4K. Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) atau pembudidaya ikan sebanyak 12.953 (Dinas Perikanan dan Peternakan Kab. Bogor 2007), sehingga rasionya adalah 1:996. Jumlah penyuluh di Kabupaten Cianjur sebanyak 10 orang harus melayani sekitar 39.346 RTP

Gambar

Tabel 27.  Perkembangan Produksi Ikan Konsumsi Menurut Jenis Usaha di                   Kabupaten Cianjur Tahun 2008 dibanding Tahun 2007
Tabel 29.  Perkembangan Produksi Perikanan di Kabupaten Bogor Tahun 2007-2008  No Jenis  Usaha  Jumlah Produksi  Perubahan
Gambar 13. Rantai Pemasaran Ikan di Lokasi Studi
Tabel 30.  Harga Ikan Berdasarkan Jenis dan Ukuran di Tingkat Pembudidaya Ikan  di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur  Tahun 2009
+7

Referensi

Dokumen terkait

Merupakan telekomunikasi yang digunakan didalam atau masih pada jangkauan satu bangunan, sistem ini biasa digunakan antar pengelola dan penghuni asrama. Misalnya

Tujuan Tugas Akhir dengan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) – dengan sistem tiga bandul ( STB ) ini adalah untuk melakukan studi

Upaya-upaya peningkatan kualitas dadih baik secara fisik, kimia, maupun mikrobiologis sangat diperlukan.Upaya pengembangan dadih dari makanan tradisional menjadi salah satu produk

Based on the vegetation index figure, it can be seen that the NDVI technique, RVI and DVI can be used to distinguish the pattern of growth for Membramo, IR64

Absensi Pegawai Negeri Sipil (PNS) diberikan kepada mereka yang dibawah garis kemiskinan untuk diberikan fasilitas ilmu pengetahuan dan teknologi yang khusus dalam

Banyak praktek-praktek budaya yang berpengaruh secara negatif terhadap perilaku kesehatan masyarakat, sehingga berisiko lebih besar untuk mengalami infeksi.Kondisi

Puji syukur penulis panjatkan ke kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Anugrahnya, serta bantuan dari berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

Valusi ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan adalah suatu instrumen yang menggunakan teknik valuasi untuk mengestimasi nilai moneter dari barang dan jasa yang diberikan