• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL BERAJA NITI ISSN : Volume 3 Nomor 2 (2014) Copyright 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL BERAJA NITI ISSN : Volume 3 Nomor 2 (2014) Copyright 2014"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL BERAJA NITI ISSN : 2337-4608 Volume 3 Nomor 2 (2014)

http://e-journal.fhunmul.ac.id/index.php/beraja © Copyright 2014

STUDI TENTANG WANPRESTASI PERJANJIAN BAKU JUAL BELI

TENAGA LISTRIK TERHADAP PERUSAKAN ATAU PERUBAHAN

PERALATAN LISTRIK MILIK PT. PLN (PERSERO) AREA

SAMARINDA OLEH PELANGGAN

Emi Herliani1 ([email protected]) Emilda Kuspraningrum2 ([email protected]) Erna Susanti3 ([email protected]) Abstrak

Setiap Perjanjian menimbulkan suatu akibat hukum yang berupa hak dan kewajiban diantara para pihak, dalam pemenuhan hak dan kewajiban tersebut tidak dapat dihindari terjadinya wanprestasi. Dalam hubungan hukum yang terjadi diantara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan juga memungkinkan terjadinya wanprestasi yang dapat mengakibatkan salah satu pihak menderita kerugian. Sebagai penunjang dalam melakukan penelitian, metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif, pendekatan penelitian empiris serta pendekatan masalah dengan pendekatan undang-undang dan pendekatan konseptual. Pengumpulan data dilakukan dengan penelitian lapangan yaitu melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang bersangkut paut dengan penelitian dan penelitian kepustakaan. Data-data yang terkumpul kemudian dianalisis dalam bentuk deskripsi kalimat yang teratur, sistematis dan logis. Dari hasil penelitian dan pembahasan diketahui bahwa kurangnya kesadaran pelanggan listrik untuk menaati perjanjian yang telah disepakatinya serta dalam prakteknya banyak pelanggan yang tidak beriktikad baik dalam melaksanakan klausula perjanjian khususnya pada Pasal 12 ayat (2) SPJBTL dan dalam penyelesaian perselisihan pendapat antara pelanggan dengan pihak PT. PLN (Persero) Area Samarinda lebih mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dan cara litigasi menjadi pilihan terakhir ketika tidak tercapainya mufakat dalam musyawarah.

Kata Kunci: PT. PLN (Persero) Area samarinda, Perjanjian Jual beli Tenaga

Listrik, Pelanggan, Wanprestasi.

1

Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman 2

(2)
(3)

STUDY OF BREACH OF CONTRACT ELECTRIC POWER TRADE

STANDARD AGREEMENT TOWARD ACT OF DAMAGING OR

CHANGE OF ELECTRIC DEVICE BELONGS TO STATE ELECTRICITY

ENTERPRISE CO. INC. LTD SAMARINDA REGION BY CUSTOMERS

Emi Herliani4 ([email protected]) Emilda Kuspraningrum5 ([email protected]) Erna Susanti6 ([email protected]) Abstract

Every agreement appear a law consequence like right and duty between each sides, in fulfillment of right and duty could not avoided from the occurs of breach of contract. In law connection that occurs between State Electricity Enterprise Co. Inc. Ltd Samarinda Region with the customers also enable occurs of breach of contract that could be make one side became loss. The purpose of this research are to know the implementation of electric power standard agreement between State Electricity Enterprise Co. Inc. Ltd Samarinda Region with the customer in case the occuring of violation in Article 12 verse (2) Letter of Electric Power Trade Standard Agreement which have been agreed and the resolution of breach of contract because of violation Article 12 verse (2) Letter of Electric Power Trade Standard Agreement which have been agreed between State Electricity Enterprise Co. Inc. Ltd Samarinda Region with the customers.

This research used descriptive analysis technique, empirical research approach and problem approach followed by law approach and concept approach, collecting data was to do with field research that is doing the interview to employee which has the connection with the research and literature research. The data which has been collected analyzed by the descriptive regular sentences systematic and logic.

Based on the findings was known that less of an awareness from the electric customers to obedient the agreement which has been agreed along with the practice, not all the violation which appears in Article 12 Letter of Electric Power Trade Standard Agreement in practice a lot of customers who has bad attitude bring about the agreement clause as especially in Article 12 verse (2) Letter of Electric Power Trade Standard Agreement and the resolution of the differences of opinions between the costumers with State Electricity Enterprise Co. Inc. Ltd side Samarinda region mostly used conference way and judicature way become the last choice when the consensus in conference was not reach.

Keywords: State Electricity Enterprise Co. Inc. Ltd, Electric Power Trade

Standard Agreement, Customer, Breach of contract.

4

Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman 5

(4)

Pendahuluan

Pembangunan sektor ketenagalistrikan bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa guna mewujudkan tujuan pembangunan nasional, yaitu menciptakan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Tenaga listrik, sebagai salah satu hasil pemanfaatan kekayaan alam, mempunyai peranan penting bagi negara

dalam mewujudkan pencapaian tujuan pembangunan nasional.7 Sebagai suatu

sumber energi yang dibutuhkan oleh masyarakat, maka pemanfaatan tenaga listrik perlu diatur oleh negara, hal ini dapat dilihat dalam Pasal 33 ayat (2), yang berbunyi cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai

hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.8

Mengingat peranan listrik sangat penting di dalam kehidupan masyarakat, maka dijalinlah suatu hubungan melalui suatu perjanjian jual beli antara PT. PLN (Persero) dengan pelanggan listrik, dalam hal tersebut calon pelanggan datang mengajukan permohonan dan telah bersedia membayar sejumlah uang kepada PT. PLN (Persero) untuk dicatat sebagai langganan PLN. Dengan demikian karena calon pelanggan telah menyetujui maka timbullah suatau keterikatan yang menghasilkan suatu kesepakatan, dan kesepakatan tersebut dituangkan dalam surat perjanjian jual beli tenaga listrik.

7

Penjelasan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan.

8

(5)

Setiap Perjanjian menimbulkan suatu akibat hukum yang berupa hak dan kewajiban diantara para pihak, dalam pemenuhan hak dan kewajiban tersebut tidak dapat dihindari terjadinya wanprestasi. Wanprestasi di dalam suatu perjanjian tidak selalu dilakukan oleh debitur, tetapi adakalanya dilakukan oleh kreditur yang disebabkan oleh adanya kelalaian atau kesalahan melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan. Dalam hubungan hukum yang terjadi diantara PT. PLN (Persero) dengan pelanggan juga memungkinkan terjadi adanya wanprestasi yang dapat mengakibatkan salah satu pihak menderita kerugian. Permasalahan-permasalahan yang hendak penulis kemukakan adalah bagaimana pelaksanaan perjanjian baku jual beli tenaga listrik antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan dalam hal terjadi pelanggaran Pasal 12 ayat (2) surat perjanjian jual beli tenaga listrik yang telah di sepakati bersama dan bagaimana upaya penyelesaian wanprestasi akibat pelanggaran Pasal 12 ayat (2) Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik yang telah disepakati antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan.

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian baku jual beli tenaga listrik antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan dalam hal terjadi pelanggaran Pasal 12 ayat (2) surat perjanjian jual beli tenaga listrik yang telah di sepakati bersama serta untuk mengetahui penyelesaian wanprestasi akibat pelanggaran Pasal 12 ayat (2) surat perjanjian jual beli tenaga listrik yang telah di sepakati antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan.

(6)

Metodologi merupakan suatu unsur di dalam penelitian yang digunakan dalam penelitian dimana dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian yang bersifat deskriptif yang merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian

pada saat sekarang berdasar fakta yang ada.9 Penulis menggunakan metode

pendekatan penelitian hukum empiris untuk meneliti dan menulis pembahasan skripsi ini mengenai Studi tentang Wanprestasi Perjanjian Baku Jual Beli Tenaga Listrik terhadap Perusakan atau Perubahan Peralatan Listrik Milik PT. PLN (Persero) Area Samarinda oleh Pelanggan.

Penulis menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan pendekatan

undang-undang (statute approach). Pendekatan undang-undang (statute

approach) dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang

bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.10 Pendekatan yang

kedua, yaitu pendekatan konseptual (conceptual approach). Dimana pendekatan

konseptual (conceptual approach) beranjak dari pandangan-pandangan dan

doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum.11 Dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian di PT. PLN (Persero) Area Samarinda yang beralamat di Jalan Gajahmada Nomor 23, Samarinda. penelitian ini dimanfaatkan selama masa tenggang berdasarkan Surat Persetujuan Judul dan Penunjukan Dosen Pembimbing Nomor 2672/ UN17.7/DT/2013 berlaku selama 6 (enam) bulan,

9

Soerjono dan Abdurahman, 2003, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, Halaman 23.

10 Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, Halaman 93.

(7)

terhitung sejak tanggal 30 Juli 2013 dan berakhir tanggal 30 Januari 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah pihak-pihak yang berkaitan erat dengan pelaksanaan perjanjian jual beli tenaga listrik yaitu PT. PLN (Persero) Area Samarinda dan Pelanggan listrik. Sedangkan teknik sampling yang dipergunakan untuk menentukan sampel dalam penelitian ini adalah secara purposive sampling atau penarikan sampel yang dilakukan dengan cara mengambil subyek yang didasarkan pada tujuan tertentu.

Data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini bersumber dari data

primer dan data sekunder. Data primer (primary law material) atau data dasar

(primary data/basic data) merupakan data yang langsung diperoleh dari lapangan

yaitu dengan melakukan wawancara terhadap karyawan PT. PLN (Persero). Data

Sekunder (secondary law material) atau data pendukung mencakup data-data

yang berasal dari dokumen-dokumen resmi, peraturan perundang-undangan, buku-buku, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan dan sebagainya. Data-data tersebut yaitu Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, KUH

Perdata, Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik. Data Tertier (tertiary law

material) atau data pendukung yang memberi penjelasan kepada bahan hukum

primer dan sekunder yang berupa Kamus Hukum, Ensiklopedia, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi penelitian lapangan dengan cara memperoleh data yang bersifat primer dalam hal ini akan diusahakan untuk memperoleh data-data dengan mengadakan tanya jawab atau wawancara serta penelitian kepustakaan untuk memperoleh data

(8)

sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier, yaitu bahan yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Analisis data yang penulis gunakan terhadap data-data yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah deskriptif kualitatif dimana data yang telah dikumpulkan baik melalui penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan serta data pendukung yang terkait akan dianalisis secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang dibahas. Analisis yang telah dikumpulkan dalam tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu pertama reduksi data, kedua penyajian data, dan ketiga penarikan kesimpulan (verifikasi).

Setelah analisis data selesai maka hasilnya akan disajikan secara deskriptif, yaitu dengan menuturkan dan menggambarkan apa adanya sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Dari hasil tersebut kemudian ditarik suatu kesimpulan yang merupakan jawaban atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.

Pembahasan

1. Pelaksanaan Perjanjian Baku Jual Beli Tenaga Listrik antara PT. PLN (Persero) dengan Pelanggan dalam Hal Terjadi Pelanggaran Pasal 12 Ayat (2) Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik

Pasal 1320 KUH Perdata menentukan bahwa untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat, yaitu sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu hal tertentu; dan suatu sebab yang halal. Berdasarkan syarat sah perjanjian yang ditentukan

(9)

dalam Pasal 1320 KUH Perdata ini, apabila dikaitkan dengan perjanjian jual beli tenaga listrik PT. PLN (Persero) Area Samarinda syarat pertama yaitu sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, hubungan hukum yang terjadi antara pelanggan dengan PT. PLN (Persero) Area Samarinda diawali dengan permintaan pelanggan sendiri untuk melakukan penyambungan tenaga listrik kepada PT. PLN (Persero) Area Samarinda kesepakatan yang dicapai dalam perjanjian jual beli tenaga listrik ini pun terjadi tanpa adanya unsur khilaf, paksaan atau penipuan tetapi berdasarkan kemauan para pihak. Seperti yang tertuang dalam Pasal 1321 yang berbunyi, tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan.

Apabila dilihat dari syarat kedua yaitu, kecakapan untuk membuat suatu perikatan baik PT. PLN (Persero) maupun pelanggan keduanya sama-sama cakap karena tidak bertentangan dengan Pasal 1330 KUH Perdata yang mengatakan bahwa orang-orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian ialah orang-orang yang belum dewasa, mereka yang ditaruh dibawah pengampuan dan orang-orang yang menurut undang-undang dilarang untuk membuat perjanjian. Apabila dilihat dari syarat sah perjanjian yang ketiga yaitu berdasarkan suatu hal tertentu, yang dimaksud dengan suatu hal tertentu disini ialah prestasi atau obyek dari suatu perjanjian seperti yang tertera diberbagai literatur yang menyebutkan bahwa yang menjadi objek perjanjian ialah prestasi atau pokok perjanjian baik menyerahkan sesuatu, melakukan sesuatu maupun tidak melakukan sesuatu

(10)

yang dalam perjanjian jual beli tenaga listrik antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan diatur dalam Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9 dan Pasal 10 SPJBTL. Sedangkan syarat sah perjanjian yang keempat yaitu adanya suatu sebab yang halal ialah isi dari perjanjian tersebut apakah dilarang oleh undang-undang, bertentangan dengan kesusilaan atau ketertiban umum. Karena apabila suatu perjanjian dibuat berdasarkan sebab yang terlarang maka perjanjian tersebut batal demi hukum atau dari semula dianggap tidak pernah ada perjanjian.

Perjanjian baku yang dibuat oleh PT. PLN (Persero) dan disepakati oleh pelanggan dalam persetujuan pemasangan listrik juga memiliki fungsi yang sama dengan undang-undang namun dalam hal ini hanya berlaku bagi para pihak yang menyepakatinya saja. Seperti yang tertuang dalam Pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata yaitu “setiap perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya” atau yang

biasanya disebut dengan asas pacta sunt servanda. Oleh karena itu

perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak harus dipatuhi dan dilaksanakan sesuai dengan isi perjanjian tersebut, sebagaimana yang tertuang dalam Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik antara PT. PLN (Persero) dengan Pelanggan telah mengatur mengenai hak dan kewajiban Pihak Pertama (PT. PLN (Persero) dan juga hak dan kewajiban pelanggan listrik atau Pihak Kedua yang diatur dalam Pasal 9 dan Pasal 10 Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik Akan tetapi berdasarkan hasil penelitian lapangan, perjanjian yang seharusnya ditaati oleh kedua belah pihak masih

(11)

saja dilanggar oleh pelanggan. Dari data laporan P2TL Triwulan IV PT. PLN (Persero) Area Samarinda Tahun 2013 tercatat masih banyak pelanggan yang melanggar ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, yakni sebanyak 658 kasus pelanggaran. Seperti yang tertuang dalam Tabel 2.

Dalam hal ini ketentuan dalam perjanjian yang tidak dipatuhi atau dilanggar oleh pelanggan ialah ketentuan mengenai larangan yang tertuang dalam Pasal 12 ayat (2) Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik yang berbunyi, “Pihak Kedua dilarang Merusak atau merubah peralatan listrik milik Pihak Pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) Perjanjian ini baik yang dilakukan oleh Pihak Kedua sendiri maupun pihak lain”. Tindakan merusak dan merubah peralatan listrik milik PT. PLN (Persero) termasuk dalam golongan pelanggaran pemakaian tenaga listrik golongan I (PI), golongan II (PII) dan golongan III (PIII), dimana pelanggaran golongan I

(PI) merupakan pelanggaran yang mempengaruhi batas daya12 dan juga

merupakan pelanggaran yang paling banyak dilakukan oleh Pelanggan yaitu dari 5.562 pemeriksaan terdapat 658 penyimpangan pemakaian dan 454 diantaranya merupakan penyimpangan pemakaian listrik atau pelanggaran (golongan PI). Pelanggaran golongan II (PII) dari 5.562 pemeriksaan terdapat 658 penyimpangan pemakaian dan ditemukan 25 pelanggaran golongan II (PII), yaitu apabila pada APP yang terpasang di pelanggan ditemukan satu atau lebih fakta yang dapat mempengaruhi pengukuran

12

Pasal 13 ayat (1) huruf (a) Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor: 1486.K/DIR/2011 tentang Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik.

(12)

energi. Pelanggaran golongan III (PIII), dari 5.562 pemeriksaan terdapat 658 penyimpangan pemakaian dan 42 diantaranya pelanggaran golongan III (PIII) apabila pada APP dan instalasi listrik yang terpasang di pelanggan ditemukan satu atau lebih fakta yang dapat mempengaruhi pengukuran batas daya dan energy. Berdasarkan data pada tabel 2 maka jumlah pelanggaran merusak dan atau merubah peralatan listrik milik PT.PLN (Persero) Area Samarinda merupakan pelanggaran yang paling banyak dilakukan oleh pelanggan PT. PLN (Persero) Area Samarinda dibanding

pelanggaran lainnya. Pada penulisan ini penulis mengkhususkan

pembahasan pada tindakan pelanggan yang melakukan perusakan atau perubahan peralatan listrik milik PT. PLN (Persero) baik yang dilakukannya sendiri maupun oleh pihak lain.

Berdasarkan hasil penelitian penulis, dalam pelaksanaan perjanjian baku jual beli tenaga listrik antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan tidak didasari dengan iktikad baik dari pelanggan hal ini dapat terlihat dari banyaknya pelanggan yang melakukan pelanggaran yang sampai dengan bulan September tercatat sebanyak 658 pelanggaran. Padahal dengan jelas diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik, iktikad baik yang dimaksud disini ialah kemauan atau maksud yang baik dari pelanggan untuk melaksanakan substansi atau isi dari perjanjian jual beli tenaga listrik yang telah disepakatinya, maka dengan dilanggarnya ketentuan Pasal 12 ayat (2) SPJBTL dapat dikatakan bahwa pelanggan tidak beriktikad baik dalam

(13)

melaksanakan perjanjian yang telah disepakatinya sendiri. Menurut Bapak Heryanto dan Ibu Halina, dalam hal ini selaku responden dari pelanggan PT. PLN (Persero) Area Samarinda yang melakukan penyambungan langsung tidak melewati Kwh Mcb milik PT. PLN (Persero) area samarinda. Beliau melakukan pelanggaran tersebut dikarenakan menginginkan daya listrik yang lebih besar dengan pembayaran tagihan yang tetap atau sama dengan pembayaran daya yang resmi tercatat di PT. PLN (Persero) Area Samarinda, beliau juga mengatakan tidak mengetahui akibat dari pelanggaran tersebut dikarenakan selama pelanggaran itu dilakukan tidak terjadi hal-hal yang membahayakan yang terjadi akibat pelanggaran tersebut dan responden juga menerangkan bahwa tidak adanya sosialisasi dari PT. PLN (Persero)

Area Samarinda secara langsung ke wilayah tempat tinggal responden.13

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Wayan selaku responden dalam penelitian ini, beliau menyatakan bahwa peralatan listrik yang berada di persil miliknya mengalami kerusakan bukan karena disengaja melainkan rusak dengan sendirinya akibat pengaruh eksternal, kerusakan tersebut terjadi pada komponen peralatan kWh meter milik PT. PLN

(Persero) yang berada di persil milik pelanggan. 14 Meskipun bukan

pelanggan yang melakukan perusakan, tetapi pelanggan tetap dikenai sanksi mengingat surat edaran direksi PLN tahun 2010 yang mengatakan bahwa jika terjadi perusakan peralatan listrik milik PLN yang berada di persil milik

13

Wawancara dengan Bapak Haryanto dan Ibu Halina tanggal 5 Januari 2014. 14 Wawancara dengan Bapak Wayan tanggal 5 Januari 2014.

(14)

pelanggan maka penghuni di persil tersebut dianggap bersalah meski tanpa pembuktian hukum. Berdasarkan uraian di atas maka dengan terjalinnya suatu hubungan hukum antara pihak PLN dengan pelanggan yang melahirkan hak dan kewajiban diantara keduanya, ketika pelanggan melakukan hal yang dilarang dalam Pasal 12 ayat (2) maka dapat dikatakan pelanggan lalai dalam memenuhi prestasinya sehingga kepadanya dapat dikatakan ingkar janji atau wanprestasi. Dalam hal ini bentuk prestasi yang dilanggar oleh pelanggan dalam perjanjian jual beli tenaga listrik antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan ialah berupa tidak berbuat sesuatu seperti yang tertuang dalam Pasal 1239 KUH Perdata yang berbunyi, “tiap-tiap perikatan untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu, apabila si berutang tidak memenuhi kewajibannya, mendapatkan penyelesaiannya dalam kewajiban memberikan penggantian biaya, rugi dan bunga”. Dimana cara menentukan kapan pelanggan melakukan wanprestasi adalah sejak saat pelanggan berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam perjanjian.

2. Upaya Penyelesaian Wanprestasi oleh Pihak PT. PLN (Persero) Akibat Pelanggaran Pasal 12 Ayat (2) Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik yang Dilakukan Pelanggan

Seperti yang diuraikan diatas, dengan tindakan pelanggan melakukan hal yang dilarang dalam perjanjian jual beli tenaga listrik dalam hal ini merusak dan merubah peralatan listrik milik PT. PLN (Persero) Area samarinda maka pelanggan telah melakukan wanprestasi terhadap

(15)

pelaksanaan perjanjian jual beli yang telah disepakatinya bersama PT. PLN (Persero) Area Samarinda. Pada Klausul Perjanjian tertulis bahwa pihak kedua dilarang merusak atau merubah peralatan listrik milik Pihak pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) SPJBTL baik yang dilakukan oleh pihak kedua sendiri maupun pihak lain. Upaya yang dilakukan oleh Pihak PT. PLN (Persero) untuk mengetahui tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh pelanggan yaitu dengan cara melakukan Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) yang dilakukan setiap hari dengan menugaskan petugas pelaksana lapangan P2TL untuk memeriksa peralatan listrik milik PLN yang berada dipersil milik pelanggan dan apabila pada saat pemeriksaan di persil pelanggan ditemukan pelanggaran dan atau kelainan pemakaian tenaga listrik maka apabila diperlukan maka petugas P2TL berwenang untuk melakukan pemutusan sementara atas STL dan/atau APP pada pelanggan yang harus dikenakan tindakan pemutusan sementara, melakukan pembongkaran rampung atas STL pada Pelanggan dan bukan pelanggan dan juga melakukan pengambilan barang bukti berupa APP atau peralatan lainnya.

Mengacu kepada Surat Perjanjian Jual beli tenaga listrik antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan dan juga Keputusan Direksi PT.PLN (Persero) Nomor: 1486.K/DIR/2011 tentang Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik maka pelanggan yang telah melakukan pelanggaran atau didapati kelainan pemakaian tenaga listrik dikenakan sanksi berupa sebagai berikut Pemutusan sementara, Pembongkaran

(16)

Rampung, Pembayaran Tagihan Susulan dan Pembayaran Biaya P2TL lainnya. Berdasarkan hasil penelitian penulis, apabila dilihat dari ketentuan Pasal 1238 KUH Perdata yang menyatakan bahwa: “Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatan sendiri, ialah jika ini menetapkan bahwa si berutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan” maka prosedur yang dilakukan PT. PLN (Persero) telah sesuai dengan Pasal 1238 KUH Perdata, dimana pengenaan sanksi dilakukan dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada pelanggan sebanyak 3 (tiga) kali sebelum mengambil tindakan tegas. Dimana teguran ini dapat diartikan sebagai pesan dari penyedia jasa dalam hal ini yaitu PT. PLN (Persero) Area

Samarinda kepada pengguna jasa atau pelanggan mengenai peringatanpada

saat pelanggan tidak memenuhi prestasinya sebagaimana yang tertera dalam isi perjanjian yang ditetapkan.

Tagihan susulan merupakan bentuk ganti rugi yang ditetapkan oleh PT. PLN (Persero) dalam Surat Keputusan Direktsi PT. PLN (Persero) atas kerugian yang dialaminya akibat tindakan pelanggaran atau wanprestasi yang dilakukan pelanggan yang bersifat khusus karena tidak seperti ganti rugi yang diatur secara umum dalam KUH Perdata Pasal 1365 yang berbunyi, “tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian tersebut”, yang memberikan beberapa jenis penuntutan ganti rugi, yaitu Ganti rugi atas kerugian dalam bentuk uang, Ganti rugi atas

(17)

kerugian dalam bentuk natura atau pengembalian pada keadaan semula, Pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah bersifat melawan hukum, Larangan untuk melakukan suatu perbuatan, Meniadakan sesuatu yang diadakan secara melawan hukum, dan Pengumuman daripada keputusan atau dari sesuatu yang telah diperbaiki.

Perbuatan merusak dan merubah peralatan listrik tersebut dapat digolongkan ke dalam perbuatan melawan hukum karena merugikan PT. PLN (Persero) sebagai pemasok tenaga listrik, selain itu juga merugikan pelanggan yang baik dan masyarakat setempat. Misalnya, tegangan menjadi turun dan mengakibatkan peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai sumber energinya akan cepat rusak karena tidak dapat berfungsi dengan baik. Ganti rugi berupa tagihan susulan yang di tetapkan oleh PT. PLN (Persero) dikatakan tidak seperti ganti rugi yang diatur secara umum

dalam KUH Perdata Pasal 1365 dikarenakan bersifat khusus atau lex specialis

yang diatur tersendiri dalam Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor: 1486.K/DIR/2011 sehingga mengenyampingkan ganti rugi yang diatur secara umum dalam KUH Perdata Pasal 1365. Perhitungan tagihan susulan dilakukan berdasarkan pada hasil pemeriksaan administrasi dan/atau laboratorium hasil temuan dan pembayaran tagihan susulan juga dapat dilakukan secara angsuran berdasarkan permintaan dari pelanggan atau pemakai listrik yaitu selambat-lambatnya selama 12 bulan. Apabila terhadap tagihan susulan yang di tetapkan oleh PT. PLN (Persero) pelanggan merasa tidak menyetujui atau keberatan maka penyelesaian masalah tersebut

(18)

dilakukan secara musyawarah untuk mencapai mufakat. Berdasarkan hasil wawancara dengan SUP Pengendalian Susut PT. PLN (Persero) Area Samarinda penyelesaian melalui jalur litigasi pernah dilakukan sebanyak 3

(tiga) kali bukan terhadap pelanggan tetapi terhadap tenaga outsourching

PT. PLN (Persero) Area Samarinda yang membantu pelanggan merusak atau merubah peralatan listrik.

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di dapat hasil bahwa setiap terjadinya perselisihan pendapat antara PT. PLN (Persero) dengan pemakai tenaga listrik atau pelanggan maka alternatif penyelesaian sengketa atau penyelesaian perselisihan yang digunakan ialah negosiasi yang merupakan proses tawar-menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dan Pelanggan listrik, dan dapat juga diartikan sebagai suatu cara penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak yang berperkara dengan musyawarah untuk mencapai mufakat atau lebih kepada jalur keperdataan melaui mekanisme denda yang berupa tagihan susulan dimana menurut penulis penyelesaian dengan jalur ini tidak memberikan efek jera pada pelanggan pelaku wanprestasi karena jumlah denda atau tagihan susulan yang dikenakan tidak sebanding atau tidak dapat menutupi kerugian yang dialami PT. PLN (Persero) Area Samarinda.

(19)

Penutup

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan dalam skripsi ini, maka pada Bab ini penulis memberikan kesimpulan dan bahwa dalam pelaksanaan perjanjian jual beli tenaga listrik antara PT. PLN (Persero) Area Samarinda dengan pelanggan atau pemakai tenaga listrik PT. PLN (Persero) Area Samarinda masih banyak yang tidak menaati perjanjian jual beli tenaga listrik yang telah disepakatinya, hal ini ditandai dengan besarnya jumlah pelanggan yang kedapatan melakukan pelanggaran atau larangan yang telah ditetapkan dalam perjanjian atau dengan kata lain disebut wanprestasi mengenai larangan merusak dan merubah peralatan listrik milik PT. PLN (Persero) Area Samarinda yaitu sebanyak 521 pelanggaran, sehingga dapat dikatakan pelanggan tersebut tidak beriktikad baik dalam melaksanakan klausula perjanjian yang telah disepakatinya. Namun dalam banyaknya kasus pelanggaran yang terjadi dalam hal pemakaian tenaga listrik khususnya mengenai milik PT. PLN (Persero) Area Samarinda, PLN juga turut berperan dikarenakan kurangnya sosialisasi secara langsung kepada masyarakat mengenai ketenagalistrikan khususnya mengenai bahaya dari perusakan atau perubahan peralatan listrik milik PT. PLN, dan bahwa upaya penyelesaian wanprestasi oleh pihak PT. PLN (Persero) akibat pelanggaran Pasal 12 ayat (2) Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPBJTL) yang dilakukan pelanggan adalah mengedepankan cara penyelesaian menggunakan alternatif penyelesaian sengketa yaitu negosiasi dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat atau lebih kepada jalur keperdataan melaui mekanisme denda yang berupa tagihan susulan, dimana dalam musyawarah ini tidak menutup

(20)

kemungkinan pelanggan yang melakukan pelanggaran akan mendapat keringanan sanksi misalnya cara pembayaran Tagihan Susulan yang dapat dilakukan dengan cara mengangsur. Tetapi tidak menutup kemungkinan pula perselisihan diselesaikan dengan cara litigasi atau dengan mengajukan sengketa ke pengadilan dalam hal ini Pengadilan Negeri Samarinda yang telah di tetapkan dalam Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) apabila tidak tercapainya mufakat dalam musyawarah kedua belah pihak.

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan dalam skripsi ini, maka penulis memberikan seharusnya para pihak baik PT. PLN (Persero) Area Samarinda maupun pelanggan menaati isi perjanjian yang telah di sepakati bersama dalam hal ini khusunya bagi pihak pelanggan guna menghindari terjadinya perselisihan diantara kedua belah pihak, dan seharusnya PT. PLN (Persero) Area Samarinda lebih meningkatkan pemantauan terhadap pemakaian arus listrik pelanggan yang tidak wajar serta menindak tegas para pelanggan PT. PLN (Persero) Area Samarinda yang melakukan perusakan dan/atau perubahan peralatan listrik maupun orang lain atau tenaga outsourching PT. PLN (Persero) Area Samarinda yang membantu melakukan perusakan dan atau perubahan peralatan listrik milik PT. PLN (Persero) Area Samarinda.

(21)

Daftar Pustaka Literatur

Soerjono dan Abdurahman, 2003, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta,

Jakarta.

Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group,

Jakarta.

Perundang-undangan

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052).

Dokumen Hukum

Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor: 1486.K/DIR/2011 tentang Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik.

Referensi

Dokumen terkait

undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu ditempat akta itu dibuat” Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan

Didalam Pasal 9 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan ayat (2) menyebutkan bahwa Dalam hal tanah yang diperlukan merupakan tanah hak

Adapun saran yang dapat penulis berikan berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV adalah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Samarinda dalam memutus

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Hanry Djhonson, selaku Kepala Seksi Pembinaan Umum di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Malinau, peranan Seksi

Bagi klien yang merasa dirugikan oleh advokat dalam memberikan bantuan hukum maka klien tersebut dapat melaporkan advokat tersebut ke Dewan Kehormatan dimana

Dalam SEMA tersebut tertulis “Dalam hal putusan Badan Arbitrase Syariah tidak dilaksanakan secara sukarela, maka putusan tersebut dilaksanakan berdasarkan perintah

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yang mana isinya meliputi penyelenggaraan Pendaftaran Tanah, mulai dari pengukuran, pemetaan,

Upaya penanggulangan terhadap tindakan pelaku usaha dalam penjualan daging sapi glonggongan di Pasar Pandan Sari jalan Pandan Barat Kelurahan Margasari Kecamatan