• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU PANDUAN HARI KESIAPSIAGAAN BENCANA 26 APRIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUKU PANDUAN HARI KESIAPSIAGAAN BENCANA 26 APRIL"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BUKU PANDUAN

(2)

BUKU PANDUAN

HARI KESIAPSIAGAAN BENCANA

26 APRIL 2017

(3)

DAFTAR ISI

Latar Belakang ... 2

Tujuan Kegiatan. ... 8

Tema Kegiatan… ... 10

Ruang Lingkup Kegiatan ... 10

Strategi Sosialissi Kegiatan. ... 13

Waktu Pelaksanaan kegiatan… ... 15

Tempat Pelaksanaan kegiatan… ... 15

Penanggung Jawab Pelaksanaan Kegiatan… ... 16

Sasaran Kegiatan… ... 16

(4)

I. Latar Belakang

bahwa Wilayah Negara Kesatuan Republik

faktor alam, faktor non-alam maupun faktor

pembangunan nasional. Namun demikian upaya terpadu untuk melakukan latihan kesiapsiagaan secara serentak se-Indonesia dalam menghadapi bencana masih rendah dan belum menjadi budaya sadar bencana. Hasil survey di Jepang, Great Hansin Earthquake 1995, korban yang dapat selamat dalam durasi “golden time” disebabkan oleh : (1) kesiapsiagaan diri sendiri sebesar 35 %, (2) dukungan anggota keluarga sebesar 31,9 %, (3) Berdasarkan Undang Undang No 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, disebutkan

Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh

manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat

(5)

dukungan teman/tetangga sebesar 28,1%, (4) dukungan orang disekitarnya sebesar 2,60%, (5) dukungan Tim SAR sebesar 1,70 % dan (6) lain-lain sebesar 0,90%.

Berdasarkan hasil kajian tersebut diatas, sangatlah jelas bahwa faktor yang paling menentukan adalah penguasaan pengetahuan oleh “diri sendiri” dengan mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan diri dari ancaman risiko bencana (35%). Kemudian diikuti oleh anggota keluarga (31,9%), dan adanya sarana pendukung di sekelilingnya (28,1%).

Berbagai kendala dan tantangan yang pada umumnya dihadapi pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan secara mandiri antara lain : (1) kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap karakteristik bencana dan risikonya, (2) kurangnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman yang ada di sekitarnya, dan (3) belum adanya pelatihan secara terpadu dan periodik

(6)

karena kewaspadaan dan kesiapsiagaan belum menjadi budaya.

Oleh karenanya, edukasi untuk meningkatkan pemahaman risiko bencana akan dikemas dalam kegiatan “Latihan Kesiapsiagaan Bencana” dengan tagline “Siap, untuk Selamat !” merupakan pesan utama bersama yang akan diusung dalam proses penyadaran (awareness) kampanye ke depan. Azas dan filosofi yang hendak dibangun dari Gerakan latihan kesiapsiagaan serentak ini adalah membangun partisipasi dan kemitraan publik serta melibatkan lembaga usaha dengan semangat gotong royong, kesetiakawanan dan kedermawanan.

Urgensi pentingnya meliputi (i) bersiap diri menghadapi kedaruratan bencana, (ii) meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, (iii) Menciptakan budaya aman, (iv) Mengurangi korban jiwa akibat bencana menjadi pertimbangan untuk mendorong kampanye. Di samping itu, atas “rationale” bahwa

(7)

Indonesia merupakan negara yang mempunyai daerah potensi ancaman bencana alam hidrometeorologi (banjir dan longsor, kebakaran hutan dan lahan) dan geophysical tektonik (Erupsi Gunung Api, Gempa Bumi dan Tsunami) yang relatif diantaranya mempunyai ancaman tertinggi di dunia.

Pencanangan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional dilaksanakan pada tanggal 26 April dengan pertimbangan bahwa pada tanggal tersebut Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana disahkan. Undang-Undang No 24 Tahun 2007 adalah perangkat hukum pertama yang merubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke preventif (pengelolaan risiko bencana).

Dalam rangka memperingati 10 tahun lahirnya Undang-Undang tersebut, maka BNPB bersama seluruh instansi berwenang Kementerian/Lembaga, pihak lembaga usaha, dan lembaga internasional/nasional terkait akan berfokus

(8)

melaksanakan kegiatan pendahuluan Latihan Kesiapsiagaan Bencana serentak dengan memastikan tersampaikannya edukasi pengetahuan secara garis besar kepada masyarakat tentang bagaimana merespon ancaman melalui latihan kesiapsigaan dengan melaksanakan evakuasi mandiri, uji sirene peringatan dini, dan uji shelter yang sesuai ancaman masing-masing di daerahnya.

Konteks Strategis

a. Kebijakan arus utama (mainstream) jangka menengah yang hendak didorong dan dikawal nantinya adalah Presiden Republik Indonesia menetapkan dan menyerukan Hari Kesiapsiagaan Nasional Bencana pada tanggal 26 April 2018 dengan menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan baik Pemerintah dan Masyarakat untuk melakukan latihan kesiapsiagaan bencana di seluruh daerah dalam rangka pengurangan risiko bencana

(9)

dengan memberikan awareness, perlindungan dan pada gilirannya berkontribusi atas penguatan ketahanan sosial dan budaya sadar bencana masyarakat.

b. Pada era manajemen bencana yang modern ini dan pengalaman beberapa negara yang mempunyai risiko tinggi bencana (seperti Jepang-Earthquake, Korea Selatan-Ancaman Nuklir Korut, Amerika Serikat-San Andreas Fault, Perancis-terrorist attack, dan lain lain) melakukan edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan kepada warganya sebelum terjadinya bencana (Disaster Preparedness). Bagaimana meningkatkan kesadaran dan pemahaman risiko serta mampu mengelola tantangan dan permasalahan ancaman bencana kepada masyarakat untuk seterusnya dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan bencana yang sekarang ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bersosial budaya dalam

(10)

kehidupan sehari-harinya dengan memperhatikan kearifan lokal.

II. Tujuan Kegiatan

Tujuan Umum

1. Memperingati 10 Tahun disahkannya Undang Undang Nomor 24, Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;

2. Mempromosikan kegiatan Latihan

Kesiapsiagaan Bencana pada tanggal 26 April untuk dijadikan sebagai titik tolak

Kesiapsiagaan Nasional yang dilaksanakan serentak se-Indonesia;

3. Meningkatkan kewaspadaan dan

kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.

(11)

Tujuan Khusus

1. Meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menghadapi risiko bencana berdasarkan

potensi bencana di daerahnya masing-masing;

2. Meningkatkan partisipasi, dan membangun budaya gotong royong, kerelawanan serta kedermawanan para pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah;

3. Mengetahui capaian (tolok ukur) tingkatan kesiapsiagaan masyarakat baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menghadapi ancaman bencana.

(12)

III. Tema Kegiatan

Tema kegiatan ini adalah : “Membangun Kesadaran,

Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Bencana”.

IV. Ruang Lingkup (Pilihan) Kegiatan

Kegiatan Utama

Kegiatan utama Pencanangan Hari Kesiapsiagaan Bencana yang akan dilaksanakan serentak se-Indonesia baik oleh para pemangku kepentingan di tingkat pusat maupun seluruh daerah sesuai dengan potensi ancaman bencananya masing-masing antara lain sebagai berikut :

1. Uji Sirine atau Tanda Peringatan Dini lainnya;

2. Uji Shelter / Tempat Evakuasi se Indonesia;

3. Uji Lapang Evakuasi Mandiri pada lingkungan : a. Sekolah/Madrasah Aman Bencana,

b. Pengelola Tempat Layanan Publik, c. Pengelola Gedung Bertingkat,

(13)

d. Pemukiman Masyarakat.

Para pemangku kepentingan dapat memilih jenis kegiatan utama yang akan dijalankan sesuai dengan kapasitas dan relevansinya dengan instansi /lembaga masing-masing.

Seluruh jenis kegiatan utama didorong untuk melibatkan partisipasi masyarakat, lembaga usaha/swasta, lembaga swadaya masyrakat, dan seluruh pemangku kepentingan bencana terkait.

Secara khusus, menjadi perhatian mengenai pelibatan kelompok rentan seperti anak-anak, kaum lansia dan gelandangan (homelessness), para penyandang disabilitas dan berkebutuhan khusus.

(14)

Kegiatan Pendukung

Sedangkan focus tematik kegiatan pendukung antara lain sebagai berikut :

1. Lomba film dokumenter kegiatan Simulasi Kesiapsiagaan Bencana;

2. Lomba foto dokumenter kegiatan Simulasi Kesiapsiagaan Bencana;

3. Lomba Jingle Kesiapsiagaan ;

4. Lomba design poster infografis kesiapsiagaan bencana;

5. Lomba design maskot;

6. Lomba menyusun materi/panduan kesiapsiagaan.

(15)

V. Strategi Sosialisasi Kegiatan

Persiapan pencanangan Hari Kesiapsiagaan Bencana di laksanakan melalui latihan kesiapsiagaan serentak secara nasional dilaksanakan melalui strategi partisipasi dan kemitraan Lembaga Usaha, Pemerintah Daerah dan Masyarakat

1. Dukungan legal formal dari Leading Sector :

• Dukungan Surat Edaran dari TNI, POLRI, BMKG, Kemendagri, Kemendikbud, Kemenkes, Kemensos, Kemenag,

Kemenpora, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan.

• Dukungan Surat Edaran dari BNPB ke seluruh Penggiat Kebencanaan (NGO, Dunia Usaha, Tokoh-tokoh Masyarakat dll) untuk ikut berpartisipasi dalam

pelaksanaan kegiatan utama dan kegiatan pendukung.

(16)

2. Kanal Diseminasi Pemerintah :

• Twitter resmi Kemkominfo, Bakohumas, Pranata Humas Indonesia, dan twitter pribadi Tenaga Humas Pemerintah dan Pranata Humas, Facebook resmi BNPB, HKBN, Kemkominfo.

• Web, media cetak, televisi, radio dan media luar ruang.

3. Jejaring Masyarakat Umum :

• Penyebaran pesan, animasi, dan materi sederhana yang terjadwal pada akun facebook, Instagram dan website resmi HKBN.

• Penyebaran info melalui grup WA, path dan Instagram, disaster channel, dll.

• Menyiapkan hashtag serentak untuk penyebaran informasi.

(17)

4. Penyelenggaraan Talkshow :

BNPB mengundang stakeholder terkait penanggulangan bencana pada minggu pertama bulan April 2017.

Dalam talkshow ini BNPB mengajak seluruh stakeholder terkait untuk berpartisipasi baik dalam menyebar luaskan informasi maupun dalam pelaksanakan Simulasi Nasional Kesiapsiagaan Bencana secara serentak.

VI. Waktu Pelaksanaan Kegiatan

Waktu pelaksanaan kegiatan ini ditetapkan pada tanggal 26 April 2017, dilaksanakan serentak se- Indonesia pada jam 10.00 – 12.00 waktu setempat.

VII. Tempat Pelaksanaan Kegiatan

Tempat pelaksanaan kegiatan ini disesuaikan dengan jenis kegiatan utama maupun kegiatan

(18)

pendukung yang dipilih oleh pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah.

VIII. Penanggung Jawab Pelaksana Kegiatan

Penanggung jawab pelaksana kegiatan terdiri dari :

1. Perwakilan Lembaga-Lembaga Internasional 2. Pemerintah Pusat

3. Pemerintah Daerah 4. Perguruan Tinggi 5. Lembaga Usaha

6. Lembaga Swadaya Masyarakat - Internasional 7. Lembaga Swadaya Masyarakat - Nasional 8. Asosiasi Profesi/Forum/Organisasi

Kemasyarakatan

9. Media Masa Cetak dan Elektronik

IX. Sasaran Kegiatan

Rincian Sasaran Kegiatan Utama sebagai berikut : A. Uji Sirine / Tanda Peringatan Dini lainnya :

(19)

1. BPBD Kabupaten yang memiliki sirine atau tanda peringatan peringatan dini

2. BPBD Kota yang memiliki sirine atau tanda peringatan dini lainnya

3. Pemanfaatan alat peringatan dini lainnya seperti kentungan di masyarkat, pengeras suara (toa) dan lonceng di tempat ibadah, dan lain lain.

B. Uji Shelter / Tempat Evakuasi se Indonesia untuk berbagai macam jenis ancaman bencana:

1. BPBD Provinsi 2. BPBD Kabupaten 3. BPBD Kota 4. SKPD Terkait

5. Tim Uji dari Lembaga Swadaya Masyarakat

(20)

C. Uji Lapang Evakuasi Mandiri pada lingkungan :

1. Sekolah/Madrasah Aman Bencana

a. Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan

b. Madrasah di lingkungan Kanwil Agama c. Program SMAB yang dikembangkan

BNPB

d. Program SMAB yang dikembangkan NGO :

• Plan International • Save The Children • PMI

• Wahana Visi Indonesia

2. Pengelola Perkantoran dan Gedung Bertingkat di Lingkungan :

a. Kantor Pemerintah Daerah b. Perhotelan

(21)

3. Pengelola Kawasan Mall/Supermarket/ Hypermarket

4. Pengelola Kawasan Obyek Vital a. PLN

b. Pertamina c. Telekomunikasi d. PDAM

e. Bandara

5. Pengelola Tempat Layanan Kesehatan Masyarakat

6. Permukiman Masyarakat : a. Apartemen

b. Kondominium c. Rusunawa

d. Perumahan yang dikelola pengembang e. Kawasan Permukiman Penduduk

(22)

X. Jadwal Kegiatan

Jadwal Rangkaian Kegiatan HKBN 2017 adalah sebagai berikut :

No Kegiatan Waktu Tempat

1 Direktif Januari 2017 BNPB

2 Rapat Persiapan Februari 2017 BNPB

3 Rapat Internalisasi & Sosialisasi Maret 2017 BNPB 4 Audiensi Maret 2017 BNPB

5 Diseminasi Maret 2017 Jakarta

6 Publikasi di

Media Maret 2017 Jakarta

7 Talkshow Minggu I April

2017 Jakarta 8 Lomba Kesiapsiagaan Minggu I April 2017 Pemerintah Daerah

(23)

9 Persiapan Akhir HKB Minggu III April 2017 Pemerintah Pusat 10 Seleksi & Penilaian Lomba Minggu III April 2017 Pemerintah Pusat

11 Pelaksanaan HKB 26 April 2017 Serentak Se-Indonesia

12 Rapat Evaluasi Kegiatan

Minggu I Mei

(24)
(25)

26 APRIL 2017

Referensi

Dokumen terkait

Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah sebanyak 3 (tiga) orang wartawan dengan mempertimbangkan data jenuh (saturated data) yang diperoleh

Sawokecik dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, namun umumnya pohon ini tumbuh baik pada tanah yang memiliki aerasi dan draenase yang baik serta tidak tergenang air

Skripsi yang berjudul “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT WAJIB PAJAK UNTUK MENGGUNAKAN E-FILING” Penulisan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi salah

Level 2, pada tahap ini perusahaan telah mempunyai Website tetapi hanya berupa static web (brochureware), yang hanya memuat nama perusahaan dan informasi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui rasio campuran fly ash , aspal dan polipropilen untuk menghasilkan genteng polimer dengan kualitas terbaik dan

Hasilnya dapat diaplikasikan untuk membentuk bagan kendali untuk pengendalian proses variabilitas data multivariate, selanjutnya sebagai studi kasus diterapkan untuk

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tidak ada perbedaan pengaruh pembelajaran model TGT menggunakan media permainan monopoli dan permainan ular tangga terhadap

Pria memiliki alasan yang berbeda-beda mengapa dia belum juga menikah, namun mayoritas alasan pria dewasa madya belum menikah adalah belum mendapatkan wanita yang diidealkan,