• Tidak ada hasil yang ditemukan

psikotik akut.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "psikotik akut.pdf"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

L

Lap

apo

orra

an K

n Ka

asus

sus

F.23 Gangguan Psikotik Akut dan Sementara

F.23 Gangguan Psikotik Akut dan Sementara

Oleh:

Oleh:

Fathullah

I1A009075

Fathullah

I1A009075

Sari

Sari Fitrianingsih

Fitrianingsih

I1A009003

I1A009003

Pembimbing

Pembimbing

Dr. H. Yulizar Darwis, Sp. KJ, MM

Dr. H. Yulizar Darwis, Sp. KJ, MM

UPF/LAB ILMU KEDOKTERAN JIWA

UPF/LAB ILMU KEDOKTERAN JIWA

FK UNLAM-RSUD ULIN

FK UNLAM-RSUD ULIN

BANJARMASIN

BANJARMASIN

November, 2013 November, 2013

(2)

LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRIK

I. IDENTITAS PASIEN

 Nama : Ny.

Usia : 39 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Jalan Sutoyo S Pendidikan : Tamat SMK

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Suku : Banjar

Bangsa : Bangsa Indonesia Status Perkawinan : Sudah menikah Berobat tanggal : 4 November 2013

II. RIWAYAT PSIKIATRIK

- Autoanamnesa pada tanggal 4 November 2013 dengan pasien. A. KELUHAN UTAMA

Dada berdebar

B. KELUHAN TAMBAHAN Sering cemas

(3)

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Autoanamnesa

Keluhan dirasakan pasien sudah sejak sepuluh tahun yang lalu,  pada awalnya pasien hanya sering mengalami nyeri kepala, kemudian ketika pasien memeriksakan diri ke dokter, pasien dikatakan dokter spesialis penyakit dalam memiliki tekanan darah tinggi. Sejak mengetahui dirinya memiliki hipertensi, pasien sudah sering cemas,  biasanya cemas muncul mendadak dan jika obat hipertensinya mau habis, kemudian pada suatu ketika karena cemas, pasien meminum obat hipertensi beberapa buah dan dicampur dengan obat-obatan penghilang nyeri lainnya sampai overdosis dan pasien dibawa ke RS Swasta. Sejak itu selain sering cemas, pasien mulai sering merasakan dadanya  berdebar-debar, sering mual, susah tidur karena gelisah, perasaan takut mati dan ketakutan meninggalkan anak-anaknya sendirian. Keluhan ini dirasakan tiap hari selama sepuluh tahun ini dan munculnya tidak tentu dalam sehari bisa beberapa kali dan tanpa sebab yang jelas. Pasien rutin minum obat sanmag, obat untuk hipertensi dan Xanax selama sepuluh tahun ini, tapi keluhan dirasakan pasien tidak terlalu banyak berkurang. Pasien merasa terganggu aktivitasnya karena menyebabkan pasien sering gelisah, tidak tenang dan cemas tak beralasan.

(4)

C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Pasien pernah dirawat di rumah sakit karena overdosis obat  penurun tekanan darah sepuluh tahun yang lalu. Penyakit lain disangkal  pasien.

D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI 1. Riwayat Prenatal dan Natal

Tidak didapatkan data yang mendukung. 2. 0-1,5 tahun,

trust vs mistrust 

Tidak didapatkan data yang mendukung. 3. 1,5-3 tahun,

autonomy vs shame, doubt 

Tidak didapatkan data yang mendukung. 4. 3-6 tahun,

initiative vs gui lt 

Tidak didapatkan data yang mendukung. 5. 6-12 tahun,

industry vs inferiority 

Tidak didapatkan data yang mendukung. 6. 12-17 tahun,

identity vs identity confusion

Tidak didapatkan data yang mendukung. 7. Riwayat Pendidikan

Tamat SMK.

8. Riwayat Pekerjaan

Begitu lulus sekolah, pasien menikah dan tidak bekerja. 9. Riwayat Perkawinan

(5)

E. RIWAYAT KELUARGA Genogram: Keterangan Laki-laki : Perempuan : Pasien :

Keluarga dengan keluhan serupa: Meninggal :

Pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ibu dan tante pasien memiliki keluhan yang serupa.

F. RIWAYAT SITUASI SEKARANG

Pasien sekarang tinggal bersama suami dan tiga anaknya di rumah sendiri. Suami bekerja sebagai pegawai negeri sipil di komite  pemilihan umum dan pasien merupakan ibu rumah tangga.

(6)

G. PERSEPSI TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA

Pasien merasa dadanya berdebar-debar dan cemas karena pasien sudah sepuluh tahun memiliki tekanan darah tinggi dan pasien takut tiba-tiba meninggal dan meninggalkan anak-anaknya sendirian. Keluhan dirasakan pasien muncul mendadak tanpa sebab yang jelas. Pasien tidak mendengar bisikan ataupun melihat bayangan, semua dalam batas normal.

III. STATUS MENTAL A. DESKRIPSI UMUM

1. Penampilan

Pasien datang dengan kedua tangan dan kaki diikat, pasien dibawa ke IGD RSJ Sambang Lihum oleh saudara iparnya. Pasien datang dengan mengenakan baju kaos polos berwarna biru tua dan celana kain berwarna hitam.

Pasien mengamuk saat di bawa ke ke rumah sakit sehingga  begitusampai di IGD RSJ Sambang lihum pasien langsung

dimasukkan ke ruang observasi dan difixir.

Saat pemeriksa mencoba bertanya pada pasien, pasien tidak mau menjawab dan hanya berteriak-teriak.

2. Kesadaran Jernih.

(7)

Hiperaktif. 4. Pembicaraan

Spontan, inkoheren dan irrelevan. 5. Sikap terhadap Pemeriksa

Tidak kooperatif.

B. KEADAAN AFEKTIF, PERASAAN EKSPRESI AFEKTIF KESERASIAN SERTA EMPATI

1. Afek (mood) : marah (hiperthym) 2. Ekspresi afektif : marah, labil.

3. Keserasian : appropriate

4. Empati : tidak dapat dirabarasakan

C. FUNGSI KOGNITIF

1. Kesadaran : kompos mentis 2. Orientasi - Waktu : sde - Tempat : sde - Orang : sde 3. Konsentrasi : sde 4. Daya Ingat

Jangka pendek : sde Jangka panjang : sde

(8)

Segera : sde

5. Intelegensi dan pengetahuan umum sde

D. GANGGUAN PERSEPSI

1. Halusinasi visual : disangkal Halusinasi auditorik : ada

Ilusi : tidak ada 2. Depersonalisasi : sde Derealisasi : sde E. PROSES PIKIR 1. Arus pikir a. Produktivitas : sde  b. Kontinuitas : sde

c. Hendaya berbahasa : sde 2. Isi Pikir

a. Gangguan pikiran :

Waham(sde), obsesi(sde), fobia(sde)

F. PENGENDALIAN IMPULS

(9)

G. DAYA NILAI

1. Daya nilai sosial : mengganggu lingkungan sekitar 2. Uji daya nilai : sde

3. Penilaian realita : terganggu H. PIKIRAN ABSTRAK

sde

I. TILIKAN sde

J. TARAF DAPAT DIPERCAYA Tidak dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PASIEN LEBIH LANJUT 1. STATUS INTERNUS

Keadaan umum : Tampak sakit berat

Tanda vital : TD: 130/80 mmHg, Nadi: 88x / menit, Kepala:

Mata : palpebra tidak edema, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, pupil isokor, refleks cahaya +/+.

Telinga : bentuk normal, sekret tidak ada, serumen minimal

(10)

Mulut : bentuk normal dan simetris, mukosa bibir tidak kering dan tidak pucat, pembengkakan gusi tidak ada dan tidak mudah berdarah, lidah tidak tremor.

Leher : Pulsasi vena jugularis tidak tampak, tekanan tidak meningkat, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.

Thoraks:

Inspeksi : bentuk dan gerak simetris Palpasi : fremitus raba simetris Perkusi :

- pulmo : sonor

- cor : batas jantung normal Auskultasi:

- pulmo : vesikuler, rh (-) wh (-) - cor : S1>S2 tunggal, bising (-) Abdomen :

Inspeksi : Simetris

Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar, lien dan massa tidak teraba Perkusi : timpani

Auskultasi: bising usus (+) normal

Ekstemitas : pergerakan bebas, tonus baik, tidak ada edema dan atropi, tremor (-)

(11)

2. STATUS NEUROLOGIKUS

 N I

 – 

XII : Tidak ada kelainan Gejala rangsang meningeal : Tidak ada

Gejala TIK meningkat : Tidak ada Refleks Fisiologis : Normal Refleks patologis : Tidak ada

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

- Pagi hari senin tanggal 20 Oktober 2013 pasien mengamuk dan melempari rumah pacarnya, diduga alasanny adalah karena diputuskan oleh pacarnya. - Setelah dibawa pulang ke rumah, pasien jadi sering terlihat bicara dan

gertawa sendiri tanpa sebba, juga sering terlihat mondar-mandir seperti orang kebingungan di dalam rumah.

- Sejak hari Jumat keanehan pada pasien semakin terlihat, pasien sering mengamuk dan selalu berkata ingin pergi dari rumah tetapi pasien tidak  pernah mengancam atau melukai orang disekitarnya dan pasien juga tidak  pernah menunjukkan keinginan untuk bunuh diri.

- Menurut pengakuan keluarga pasien, pasien tidak pernah mengkonsumsi minumankeras dan obat-obatan terlarang, pasien tidak pernah mengalami

(12)

keluhan serupa. Di kelurga pasien yang pernah mengalami keluhan serupa adalah ibu dan tante pasien.

VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL

1. AKSIS I : F.23 Gangguan psikotik polimorfik akut dengan gejala skizoprenia

2. AKSIS II : None 3. AKSIS III : None

4. AKSIS IV : masalah berkaitan dengan lingkungan sosial (diputuskan oleh pacar)

5. AKSIS V : GAF scale 60-51 gejala sedang (moderate ) disabilitas sedang

VII. DAFTAR MASALAH 1. ORGANOBIOLOGIK

Tidak bermasalah 2. PSIKOLOGIK

Pasien sering mengamuk, bicara dan tertawa sendiri, merusak barang- barang di rumah, memiliki kecenderungan untuk pergi dari rumah. 3. SOSIAL/KELUARGA

Tidak bermasalah. Pasien tidak pernah mengancam atau melukai anggota keluarga dirumah.

(13)

VIII. PROGNOSIS

Diagnosis penyakit : dubia ad bonam Perjalanan penyakit : dubia ad bonam Ciri kepribadian : bonam

Stressor psikosis : bonam

Riwayat herediter : dubia ad bonam Usia saat menderita : dubia ad bonam Pendidikan : dubia ad malam Ekonomi : dubia ad malam Lingkungan social : dubia ad malam Organobiologik : dubia ad bonam Pengobatan psikiatrik : dubia ad bonam Ketaatan berobat : dubia ad bonam Kesimpulan : dubia ad bonam

IX. RENCANA TERAPI Medika mentosa:

Injeksi lodomer 1 ampul IM (jika pasien mengamuk) Injeksi diazepam 1 ampul IV (jika pasien mengamuk) CPZ 3x100mg

HLP 3x5mg THP 3x2mg Elizac 20mg 1.1.0

(14)

Cek lab lengkap

X. DISKUSI

Gangguan Psikotik Akut-Sementara adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku kacau/aneh.

Pedoman Diagnosis :

1. Menggunakan urutan diagnosis yang mencerminkan urutan prioritas yang diberikan untuk ciri-ciri utama terpilih dari gangguan ini.

Urutan diagnose yang digunakan :

a. Onset yang akut (dalam masa 2 minggu atau kurang sama dengan  jangka waktu gejala-gejala psikotik menjadi nyata dan

mengganggu sedikitnya beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, tidak termasuk periode prodromal yang gejalanya sering tidak jelas) sebagai ciri khas yang menentukan seluruh kelompok.

 b. Adanya sindrom yang khas berupa polimorfik atau beraneka-ragam dan berubah cepat, atau schizophrenia-like´ atau gejala skizofrenik yang khas.

(15)

c. Adanya stres akut yang berkaitan, kesulitan atau problem yang  berkepanjangan tidak boleh dimasukkan sebagai sumber stres

dalam konteks ini

d. Tanpa diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung.

2. Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi kriteria episode manik (F30.-) atau Episode depresif (F32.-), walaupun perubahan emosional dan gejala-gejala afektif individual dapat menonjol dari waktu kewaktu.

3. Tidak ada penyebab organik, seperti trauma kapitis, delirium, atau demensia.Tidak merupakan intoksikasi akibat penggunaan alkhohol atau obat-obatan.

(16)

Beberapa Gangguan Jiwa Gangguan Psikosis Akut atau Sementara.

Gangguan Psikotik Polimorfik Akut tanpa Gejala Skizofrenia

1. Onset harus akut (dari suatu keadaan non psikotik sampai keadaan psikotik yang jelas dalam kurun waktu 2 minggu atau kurang)

2. Harus ada beberapa jenis halusinasi atau waham yang berubah dalam jenis dan intensitasnya dari hari ke hari atau dalam hari yang sama

3. Harus ada keadaan emosional yang beranekaragamnya. Walaupun gejala-gejalanya beraneka ragam, tidak satupun dari gejala itu ada secara cukup konsisten dapat memenuhi kriteria skizofrenia atau episode manik atau episode depresif.

Gangguan Psikotik Polimorfik Akut dengan Gejala Skizofrenia

Memenuhi kriteria yang khas untuk gangguan psikotik polimorfik akut. Disertai gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia yang harus sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak munculnya gambaran klinis  psikotik itu secara jelas. Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk lebih

dari 1 bulan maka diagnosis harus diubah menjadi skizofrenia (Gangguan Psikotik Lir

 – 

 Skizofrenia Akut). Suatu gangguan psikotik akut dengan gejala yang stabil dan memenuhi kriteria skizofrenia, tetapi hanya berlangsung kurang dari satu  bulan lamanya.

Cara Penanganan Gangguan Psikotik Akut dan Sementara. 1. Farmakoterapi

(17)

2. Psikoterapi

Psikoterapi individual, kelompok dan keluarga mengatasi stressor dan episode psikotik untuk mengembalikanharga diri dan kepercayaan.

Pasien dalam aksus ini dapat digolongkan kepada gangguan psikotik  polimorfik akut tanpa gejala skizofrenia. Pada pasien didapatkan gejala-gejala

yang memenuhi kriteria diagnosis gangguan psikotik yang bersifat akut dan sementara tanpa gejala skizofrenia yaitu berupa onset penyakit yang akut (kurang dari dua minggu) dimana berdasarkan penjelasan keluarga pasien, perubahan sikap pada pasien baru berlangsung selama seminggu. Pada pasien juga ada kemungkinan terjadi halusinasi audio dan atau visual, meskipun tidak bisa ditanyakan langsung pada pasien hal ini bsia dilihat dari sikap pasien yang sering  bicara dan tertawa sendiri tanpa sebab. Pada pasien juga ditemukan keadaan

emosional yang beraneka ragam dimana pasien sering tiba-tiba mengamuk dan merusak barang-barang yang ada di rumahnya tanpa adanya pemicu sebelumnya dan pasien yang selalu ingin pergi dari rumah. Stressor akut yang ditemukan pada  pasien adalah akibat dari diputus oleh pacarnya.

Pasien mendapatkan terapi haloperidol berupa injeksi (lodomer) 1 ampul  jika pasien gelisah dan peroral sebanyak 3x5mg. Haloperidol (HLP) adalah salah satu obat golongan anti-psikotik yang digunakan untuk penderita psikotik yang cenderung hiperaktif. HLP merupakan antagonis dopamin D1 dan D2 dimana obat ini akan menekan sistem aktivasi retikuler dan menghambat pelepasan hormon hipotalamik dan hipofiseal.

(18)

Penggunaan terapi antipsikosis dapat menyebabkan sindrom Parkinson. untuk mencegah terjadinya sindrom Parkinson digunakan terapi Triheksifenidil. Triheksifenidil merupakan senyawa piperidin yang bekerja dengan cara mengurangi aktivitas kolinergik di kaudatus dan puntamen yaitu dengan memblok reseptor asetilcolin. Triheksifenidil dapat menimbulkan kebutaan akibat komplikasi glaucoma sudut tertutup, terutama terjadi bila dosis harian melebihi 15-30 mg per hari. Dosis harian untuk triheksifenidil 2mg 2-3x sehari.

Pada pasien juga diberikan terapi elizac peroral sebanyak 20 mg yang diminum 2xsehari pagi dan siang. Elizac mengandung fluoexetin, yaitu obat golongan anti depresi, pada pasien ditemukan stressor yaitu diputuskan oleh  pacarnya. Anti depresi diberikan untuk mengurangi stressor yang ada dipikiran  penderita sehingga dia bisa lebih tenang.

Untuk golongan benzodiazepin, pada pasien diberikan injeksi diazepam 1 ampul jika pasien mulai gelisah dan mengamuk lagi. Diazepam akan memodulasi efek dari transmisi GABA-A dimana akan menyebabkan peningkatan inhibisi  presinaptik. Diazepam berkerja pada sistem limbik dihipotalamus dan talamus

(19)

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Rujukan Ringkasan dari PPDGJ

 – 

  III. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, 2002.

2. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi ketiga. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, 2007

3. Hawari D. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa : Skizofrenia. Jakarta : FKUI, 2001.

4. Maramis WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Jakarta University Press, 2004.

Referensi

Dokumen terkait

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan pencernaan dan

Pada umumnya perjalanan penyakit GNAPS ditandai dengan fase akut yang berlangsung 1-2 minggu, kemudian disusul dengan menghilangnya gejala laboratorik terutama

Skizofrenia merupakan serangkaian gejala psikotik dengan gangguan kepribadian distorsi khas pada proses pikir. Frekuensi skizofrenia di Indonesia adalah 1-3 orang

Kriteria diagnosis skizofrenia menurut PPDGJ-III atau ICD 10,Persyaratan normal untuk diagnosis skizofrenia adalah : dari gejala-gejala dibawah ini harus ada paling sedikit

Kriteria Diagnostik Gangguan Psikotik akibat Kondisi Medis Umum menurut DSM – IV – TR: Halusinasi dan waham yang lebih menonjol, adanya bukti yang jelas dari

 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitive adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif dama-sama menonjol

 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitive adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif dama-sama menonjol

Namun, apabila gejala memberat setelah lima hari, atau gejala persisten selama lebih dari sepuluh hari dan kurang dari dua belas minggu, dapat diklasifikasikan sebagai rinosinusitis