• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI 2.1. Pengaruh Pajak Terhadap Perusahaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI 2.1. Pengaruh Pajak Terhadap Perusahaan"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Pengaruh Pajak Terhadap Perusahaan

Pajak merupakan pungutan berdasarkan undang-undang oleh pemerintah. Secara administrative pungutan pajak dapat dikelompokkan menjadi pajak langsung (direct tax) dan pajak tidak langsung (indirect tax). Beban pajak langsung umumnya ditanggung oleh orang pribadi atau badan, sedangkan pajak tidak langsung ditanggung oleh masyarakat. Pajak yang diasumsikan sebagai biaya atau beban sangat mempengaruhi pihak manajemen perusahaan dalam meningkatkan laba (profit). Secara ekonomis pajak merupakan unsure pengurang laba yang tersedia bagi perusahaan untuk dibagi sebagai deviden maupun diinvestasikan kembali. Walaupun pajak ditetapkan melalui undang-undang yang mendapat persetujuan wakil-wakil rakyat, tidak semua wajib pajak rela membayar pajak. Tidak seorangpun senang membayar pajak (Achmad Tjahjono dan M. Fakri Husain, 2000 :475), asumsinya antara lain :

1. Wajib pajak berusaha membayar pajak yang terutang sekecil mungkin sepanjang hal tersebut dimungkinkan oleh Undang-undang. 2. Wajib pajak cenderung menyelundupkan pajak yakni usaha

penghindaran pajak yang terutang secara ilegal. Penghindaran pajak dilakukan sepanjang Wajib pajak tersebut mempunyai dasar yang meyakinkan bahwa kemungkinan besar mereka tidak akan ditangkap dan/atau yakin orang lainpun berbuat hal yang sama.

Prinsip efisiensi yang diterapkan pengusaha untuk mengurangi segala macam biaya juga berlaku untuk biaya pajak. Misalnya, pembayaran sanksi pajak yang tidak seharusnya terjadi merupakan pemborosan sumber daya perusahaan. Penghindaran pemborosan tersebut merupakan optimalisasi alokasi sumber daya perusahaan yang lebih produktif dan efisien sehingga minimalisasi pemborosan sumber daya tersebut dapat memaksimalkan kinerja dengan benar (doing things right), mengerjakan yang seharusnya (doing the right

(2)

things), bekerja dengan keras dan secara cermat. Karena pajak dianggap sama dengan biaya usaha lain, timbul upaya mencari jalan supaya pajak dapat dikurangi.

2.2. Perencanaan Pajak (Tax Planning)

Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam melakukan manajemen pajak, umumnya selalui dimulai dengan meyakinkan apakh suatu transaksi tersebut terkena pajak. Bila suatu transaksi tersebut terkena pajak, apakah dapat diupayakan untuk dikecualikan atau dikurangi jumlah pajaknya, selanjutnya apakah pembayaran pajak dimaksud dapat ditunda pembayarannya dan lain sebagainya. Upaya wajib pajak untuk mengurangi biaya pajak dapat dilakukan dengan tiga cara (Achmad Tjahjono dan M. Fakri Husain, 2000 :476) antara lain : a. Penghematan pajak (tax saving), yaitu upaya wajib pajak

mengelakkan utang pajak dengan jalan menahan diri untuk membeli produk yang ada PPN-nya, mengurangi jam kerja sehingga penghasilannya kecil dan terhindar dari pajak penghasilan yang besar. b. Penghindaran pajak (tax avoidance), yaitu upaya wajib pajak tidak melaksanakan perbuatan yang dikenakan pajak atau manipulasi penghasilan secara legal (memanfaatkan kelemahan Undang-undang).

c. Penyelundupan pajak (tax evasion), yaitu upaya wajib pajak dengan penghindaran pajak secara ilegal (melawan ketentuan Undang-undang) dengan cara menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Seperti yang telah diuraikan di atas, pembayaran pajak oleh wajib pajak kepada negara bukanlah semata iuran warga negara yang bersifat sukarela. Pembebanan pajak merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh wajib pajak yang mendasarkan legalitas dari pelaksanaannya atas dasar undang-undang, yang juga memuat sanksi yang dikenakan terhadap wajib pajak yang melalaikan pelaksanaan kewajibannya, baik sengaja maupun tidak.

(3)

Tujuan dari perncanaan pajak adalah membuat agar beban pajak serendah mungkin dengan tidak melanggar undang-undang atau peraturan perpajakn yang ada. Manfaat perencanaan pajak pada umumnya adalah:

• Penghematan kas keluar, dalam hal ini perncanaan pajak dapat mengurangi beban pajak yang merupakan biaya bagi perusahaan. • Mengatur aliran kas (cash flow), dalam hal ini perncanaan pajak

dapat mengestimasi kebutuhan kas untuk pajak dan menentukan saat pembayaran sehingga dapat perusahaan menyusun anggaran kas yang lebih akurat.

Pengertian perencanaan pajak menurut Erly Suandy:

“Perencanaan pajak adalah tahap awal dalam penghematan pajak. Strategi penghematan pajak disusun pada saat peencanaan, perencanaan pajak merupakan upaya legal yang bisa dilakukan oleh wajib pajak. Tindakan tersebut legal karena penghematan pajak hanya dilakukan dengan memanfaatkan hal-hal yang tidak diatur (loopholes)” (Suandy 2000:7)

2.3. Formula Umum Pajak Penghasilan

Untuk mendesain perencanaan pajak, digunakan formula umum yang dilaksanakan dengan mendasarkan pada perhitungan pajak penghasilan (PPh) terutang atas penghasilan kena pajak. Untuk dapat mengelola pajak penghasilan agar didapat pajak yang paling efisien, mutlak diperlukan pengetahuan yang cukup tentang bagaimana menghitung pajak penghasilan yang terutang. Formula umum penghitungan pajak (Mohammad Zain, 2003 : 79) tersebut adalah : TABEL 2.1

FORMULA UMUM PAJAK PENGHASILAN 1 Jumlah seluruh penghasilan

2 (-) Penghasilan bukan obyek pajak penghasilan 3 (=) Penghasilan bruto

(4)

Koreksi : biaya fiskal tidak boleh dikurangkan 5 (=) Penghasilan neto

6 (-) Kompensasi kerugian

7 (-) Penghasilan tidak kena pajak (WP Orang Pribadi) 8 (=) Penghasilan Kena Pajak

9 X Tarif

10 (=) Pajak penghasilan terutang 11 (-) Kredit pajak

12 (=) PPh kurang bayar/lebih bayar/nihil bayar Sumber : Mohammad Zain, Manajemen Pajak, 2003:79

Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang didasarkan pada formula umum diatas, dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Pengertian penghasilan diatur dalam pasal 4 ayat (1).

2. Penghasilan bukan obyek pajak penghasilan diatur dalam pasal 4 ayat (3).

3. Penghasilan biaya fiskal dapat dikurangkan diatur dalam pasal 5 ayat (2), pasal 6 ayat (1), pasal 11 dan pasal 11A sepanjang yang menyangkut penyusutan harta berwujud dan amortisasai harta tidak berwujud.

4. Koreksi fiskal diatur pasal 9 ayat (1) dan ayat (2). 5. Kompensasi kerugian diatur dalam pasal 6 ayat (2).

6. Penghasilan Tidak Kena Pajak diatur dalam pasal 6 ayat (3) dan pasal 7.

7. Tarif pajak diatur dalam pasal 17.

8. Kredit pajak diatur dalam pasal 21, 22, 23, 24 dan pasal 25. PPh kurang bayar atau lebih bayar atau nihil diatur dalam pasal 28, 28A dan pasal 29.

2.3.1 Memaksimalkan Penghasilan Yang Dikecualikan (UU PPh No 7 ps 4 ay 3)

Dalam melaksanakan perencanaan pajak wajib pajak berupaya untuk meminimalkan pajak, salah satunya adalah memaksimalkan penghasilan

(5)

yang dikecualikan. Sesuai aturan Undang-Undang perpajakan No. 17 Tahun 2000 pasal 4 ayat (3) penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak antara lain:

a. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan para penerima zakat yang berhak selain itu juga harta atau hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan; sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan

b. Warisan

c. Harta termasuk setoran tunai yang diterima dalam negeri, koperasi, Badan Usaha Milik Negara, atau Badan Usaha Milik Daerah, dari pernyertaan oleh badan sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal.

d. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura atau kenikmatan dari Wajib pajak atau pemerintah

e. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa f. Bunga yang berasal dari deposito atau tabungan baik yang

ditempatkan di dalam negeri maupun di luar negeri melalui bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia, termasuk jasa giro serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia

g. Penghasilan yang diterima sehubungan dengan usaha sebagai penyalur atau dealer atau agen produk pertamina dan premix yang telah dibayar atau dipungut PPh bersifat final

(6)

h. Penghasilan yang diterima dari hasil persewaan tanah dan atau bangunan berupa tanah, rumah susun, apartemen, kondominium, gedung perkantoran, rumah kantor, ruko, gudang, dan industri

i. Selisih penilaian kembali aktiva

j. Hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan melalui cara undian

Dengan adanya pengecualian ini diharapkan perusahaan dapat mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari berbagai pengecualian yang diperbolehkan Undang-Undang. Upaya-upaya tax planning dalam evaluasi Laporan Keuangan Fiskal:

• Mengubah sumber penghasilan

Untuk perusahaan dalam suatu group, penghasilan tersebut dibukukan dalam perusahaan dengan tarif pajak yang lebih rendah, dengan kata lain diharapkan dapat mendirikan perusahaan dalam satu jalur usaha, karena pada negara Indonesia berlaku bahwa pembagian dividen antar perusahaan (inter corporate devidend) tidak dikenakan pajak (Undang Undang Pajak No.17 Tahun 2000 pasal 4 ayat 3)

Cara lain yang dapat kita lakukan adalah melalui pemindahan transaksi yaitu transaksi yang dilakukan anatara perusahaan A dialihkan ke perusahaan B yang satu grup, hal ini dilakukan dalam kasus laba perusahaan A besar sedang perusahaan B labanya kecil sehingga untuk membagi pajak agar perusahaan A tidak terken tariff 30% terlalu besar maka sebagian penjualan dialihkan ke perusahaan B

• Merencanakan waktu penerimaan penghasilan di tahun pajak berikutnya

. Penghasilan yang diterima pada tahun ini di bulan-bulan akhir sebisa mungkin direncanakan untuk diterima di tahun berikutnya

(7)

Contoh: Laba th 2000 tinggi dan diperkirakan akan menurun th 2001. Maka sebagian penjualan bulan Desember 2000 ditunda sampai January 2001

• Mengambil keuntungan sebesar-besarnyadari berbagai pengecualian, potongan atau pengurangan atas Penghasilan Kena Pajak yang diperbolehkan oleh undang-undang.

Jika diketahui bahwa PKP perusahaan besar akan dikenakan tariff pajak tertinggi, maka sebaiknya membelanjakan sebagian laba perusahaan untuk hal-hal yang bermanfaat secara langsung bagi perusahaan, dengan syarat biaya yang dikeluarkanadalah biaya yang dapat dikurang dari PKP (deductable)

2.3.2 Memaksimalkan biaya-biaya fiscal (Pasal 6) dan Meminimalkan Biaya Yang tidak dapat dikurangkan (Pasal 9)

Semakin besar biaya yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto menyebabkan penghasilan sebelum pajak akan lebih besar dari yang sesungguhnya dan hal itu akan mengakibatkan pajak yang terutang akan lebih besar. Oleh karena itu perlu diketahui apa saja yang tidak dapat diakui sebagai biaya dalam perpajakan agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan perencanaan pajak. Biaya yang tidak dapat dikurangkan menurut Undang-Undang Tahun 2000 Pasal 9 ayat (1):

a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk deviden yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi

b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota

c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opasali, cadangan untuk usaha asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan., yang ketentuannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan

(8)

d. Premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna dan bea siswa, yang dibayarkan oleh Wajib pajak Orang Pribadi, kecuali dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib pajak yang bersangkutan

e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali persediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan f. Jumlah yang melebihi kewajaran dibayarkan kepada pemegang

saham atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan

g. Pajak penghasilan, kecuali PPh pasal 26 (tidak termasuk deviden) sepanjang PPh dimaksud ditambahkan sebagai dasar perhitungan untuk pemotongan PPh pasal 26

h. Biaya entertainment, representasi, jamuan tamu dan sejenisnya, kecuali Wajib pajak dapat membuktikan bahwa biaya tersebut telah benar-benar dikeluarkan (formal) dan berhubungan dengan kegiatan perusahaan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan perusahaan (material), dengan melampirkan pada SPT daftar nominatif yang berisi nama, tempat atau alamat, jenis dan jumlah entertainment yang telah diberikan nama, posisi, nama perusahaan, jenis usaha relasi yang m

i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib pajak atau orang yang menjadi tanggungannya j. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau

perseroan komanditer yang modalnya terbagi atas saham

k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan

(9)

l. Pajak masukan yang faktur pajaknya tidak memenuhi ketentuan dalam pasal 13 ayat (5) atau ayat (6) Undang Undang PPN dan PPN Masukan yang berkenaan dengan barang dan jasa

Dengan adanya pengecualian ini diharapkan perusahaan dapat mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari berbagai pengecualian yang diperbolehkan Undang-Undang. Upaya-upaya tax planning dalam evaluasi Laporan Keuangan Fiskal :

• Mengubah jenis biaya

Biaya menurut UU Perpajakan tidak dapat dikurangkan diubah menjadi biaya yang dapat dikurangkan tanpa melanggar UU Perpajakan.

Contoh: pemberian sumbangan kepada karyawan diubah menjadi pemberian tunjangan dalam bentuk uang tunai, natura, kenikmatan atau fasilitas kepada karyawan

• Mengubah waktu pengakuan biaya

Bila pada saat periode yang bersangkutan diestimasikan dan laba yang diterima perusahaan besar maka biaya pada tahun berikutnya dibebankan sekarang.

Contoh: menjelang akhir tahun diketahui bahwa jumlah pajak yang terutang cukup besar. Untuk mengurangi beban pajak, perusahaan dapat menambah biaya seperti biaya perbaikan kantor, biaya penjualan atau pelatihan karyawan atau dengan mengganti natura menjadi tunjangan-tunjangan.

Peluang melakukan efisiensi PPh Badan sangat banyak dapat dilakukan pada biaya-biaya yang terkait dengan kesejahteraan karyawan. Strategi efisiensi PPh Badan yang berkaitan dengan biaya kesejahteraan karyawan sangat tergantung dari kondisi perusahaan, seperti

• Pada perusahaan memperoleh PKP (tax income) yang telah dikenakan tariff tertinggi (diatas Rp 100.000.000) dan pengenaan PPh Badan tidak final, diupayakan seminimal mungkin memberikan kesejahteraan karyawan dalam bentuk natura dan

(10)

kenikmatan (fringe benefit) karena tidak dibebankan sebagai biaya

• Pada perusahaan yang PPh Badannya dikenakan pajak final, sebaiknya memberikan kesejahteraan karyawan dalam bentuk natura dan kenikmatan (fringe benefit) karena pemberian tersebut tidak termasuk obyek PPh pasal 21, sedangkan pengeluaran untuk pemberian natura dan kenikmatan tidak mempengaruhi besarnya PPh Badan karena dihitung dari prosentase atas penghasilan bruto sebelum dikurangi dengan biaya-biaya.

• Jika perusahaan rugi, pemberian natura dan kenikmatan akan menurunkan PPh 21 sementara PPh Badan tetap nihil. Pemberian natura merupakan salah satu pilihan untuk menghindari lapisan maksimum. Pemberian natura ini dapat menguntungkan jika ditujukan kepada pemilik perusahaan yang juga merupakan pekerja di perusahaan itu. Khusus karyawan sekaligus pemilik dengan gaji lebih dari Rp 200.000.000 pertahun (tariff 35%), lebuh hemat jika diberikan dalam bentuk kenikmatan atau natura. Meskipun tidak dianggap sebagai biaya oleh perusahaan (tariff PPh 30%) tetapi secara keseluruhan terjadi penghematan sebesar 5%.

Kesejahteraan karyawan yang dapat direkayasa sebagai berikut: 1. PPh Pasal 21 Karyawan

• PPh ditanggung karyawan yang bersangkutan

Jika PPh ditanggung karyawan yang bersangkutan maka karyawan membayar PPh 21 sejumlah yang tercantum pada SPT PPh pasal 21. SPT PPh pasal 21 adalah surat pemberitahuan yang diisi oleh pemebri kerja pada pemerintahmengenai pajak penghasilan pasal 21 yang dipungutnya. Dalam SPT PPh pasal 21 itu dirinci mengenai karyawan beserta gaji, tunjangan, bonus, PTKP, serta pajak penghasilan yang harus dibayarnya.

(11)

Tunjangan PPh yaitu tunjangan dalam bentuk uang diberikan oleh pemberi kerja untuk membantu karyawan dalam membayar pajak penghasilan. Jika karyawan mendapatkan tunjangan PPh maka bagi karyawan merupakan penghasilan kena pajak dan bagi perusahaan pemberian tunjangan PPh itu dapat dikurangkan dalam PKP perusahaan sebagai biaya tunjangan PPh.

• PPh ditanggung oleh perusahaan

Pajak penghasilan dapat juga ditanggung oleh perusahaan, dalam arti tidak perlu membayar pajak penghasilannya karena pajaknya dibayar oleh pemberi kerja. Karyawan akan menerima gaji tanpa dikurangi pajak. Jika PPh ditanggung oleh perusahaan maka perusahaan tidak dapat mengurangkannya dalam PKP dan bagi karyawan bukan merupakan penghasilan.

Dari ketiga alternative diatas, biasanya perusahaan memberikan tunjangan PPh pada karyawan dan ada juga yang menanggung PPh karyawannya. Pelaksanaan perncanaan pajaknya dapat dilakukan dengan cara memberikan tunjangan PPh pada karyawannya. Jika memberikan tunjangan pajak maka karyawan akan dikenai pajak atas tunjangan PPh tersebut. Ini akan menambah beban pajak penghasilan bagi karyawan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan tunjangan pajak sebesar tambahan beban pajak tersebut.

2. Pengobatan atau Kesehatan Karyawan

• Perusahaan mendirikan klinik sendiri atau bekerja sama dengan pihak rumah sakit tertentu

Jika pegawai perusahaan memperoleh fasilitas pengobatan yang tidak diterima dalam bentuk uang tunai maka bagi yang bersangkutan penerimaan kenikmatan ini bukan penghasilan. Dengan sendirinya pembayaran kenikmatan

(12)

oleh peruisahaan tidak dapat dikurangkan sebagai biaya, jika biaya pengobatan karyawan langsung dibayarkan kepada klinik, rumah sakit, dan dokter lain diluar perusahaan bagi pegawai merupakan kenikmatan yang tidak dikenakan pajak penghasilan. Dengan demikian biaya tersebut tidak boleh dikurangkan dalam menghitung PKP perusahaan.

• Karyawan diberi tunjangan kesehatan secara rutin baik sakit maupun tidak

Jika biaya pengobatan tersebut diberikan kepada karyawan dalam bentuk penggantian uang tunai, bagi pegawai penggantian ini merupakan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan. Dengan demikian, pembayaran uang tunai ini dapat dikurangkan sebagai biaya perusahaan. Pertambahan penghasilan sebagai akibat pemberian penggantian ini akan menambah beban pajak penghasilan pegawai yang bersangkutan

• Karyawan diikutsertakan asuransi kesehatan sehingga klaim jika sakit dilakukan ke perusahjaan asuransi.

Biaya asuransi yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat dikurangkan sebagai biaya, dan bagi pegawai pengeluaran ini diperhitungkan sebagai penghasilan. Apabila ternyata kemudian ada pembayaran santunan asuransi, penerimaan ini bukan penghasilan yang dikenakan pajak. Dengan demikian perusahaan asuransi yang membayar santunan asuransi tidak memotong pajak penghasilan tertanggung atau pegawai.

Dari ketiga alternative diatas yang paling baik adalah yang kedua dan ketiga. Alternative kesatu kurang baik dikarenakan pemberian fasilitas pengobatan yang tidak diterima dalam bentuk uang tidak dapat dikurangkan sebagai biaya dalam laporan keuangan. Perencanaan pajak yang dapat dilakukan supaya

(13)

perusahaan dapat mengurangkan pengeluaran tersebut sebagai biaya maka masing-masing pegawai harus diberikan tunjangan pengobatan sebesar jumlah biaya yang dipakai untuk keperluan pengobatan tersebut.

Untuk mengetahui jumlah klinik harus membuat catatan besarnya biaya pengobatan masing-masing pegawai setiap bulan. Perusahaan memotong tunjangan pengobatan dari penghasilan karyawan yang telah dikenakan pajak pada tiap akhir bulan. Hasil pemotongan itu dipergunakan untuk menyelenggarakan klinik. Tunjangan ini merupakan penghasilan karyawan bertambah sebagai akibat dari tunjangan pengobatan ini, karyawan dengan sendirinyaakan membayar pajak penghasilan yang lebih besar. Tambahan beban pajak penghasilan ini diringankan oleh perusahaan dengan jalan memberikan tunjangan pajak kepada karyawan yang bersangkutan sebesar tambahan beban pajak tersebut. Pembayaran tunjangan pajak ini bagi perusahaan juga merupakan pengeluaran yang dapat dikurangkan sebagai biaya.

2.4. Perencanaan Pajak Melalui Aktiva Tetap

Dari beberapa strategi untuk efisiensi beban pajak, salah satunya adalah dengan menerapkan penghematan pajak dengan penyesuaian penggolongan aktiva tetap melalui beban penyusutan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Penyusutan adalah proses alokasi sebagian harga perolehan aktiva menjadi biaya (cost allocation), sehingga biaya tersebut mengurangi laba usaha (Lumbantoruan, 1996: 248). Penyusutan dilakukan sebab masa manfaat dan potensi aktiva yang dimiliki semakin berkurang. Menurut pasal 9 ayat (2) UU PPh bahwa untuk mendapatkan manfaat, menagih dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak boleh dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan.

Menurut akuntansi ada empat faktor yang dipertimbangkan dalam penghitungan besarnya biaya penyusutan suatu aktiva, yaitu :

(14)

1. Nilai Perolehan, yaitu pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan sampai aktiva yang bersangkutan siap pakai.

2. Nilai Residu, yaitu nilai sisa suatu aktiva yang ditaksir pada akhir masa pemakaian aktiva di perusahaan. Dalam perpajakan nilai residu tidak dipertimbangkan.

3. Sifat Aktiva, sifat dan cara penggunaan aktiva dalam kegiatan usaha sangat berpengaruh pada penentuan besarnya biaya penyusutan. Misalnya : mesin atau kendaraan bermotor adalah aktiva yang sifatnya bergerak, oleh karena itu cara penyusutannya berbeda dengan penyusutan atas gedung yang bersifat statis.

4. Umur aktiva, yaitu masa pemakaian aktiva dalam usaha. Umur aktiva dapat dilihat dari umur teknis dan umur ekonomis. Umur teknis ialah umur aktiva sesuai dengan kriteria teknis aktiva, sedang umur ekonomis ialah jangka waktu pemanfaatannya secara ekonomis.

Tidak semua harta dapat disusutkan. Berdasarkan pasal 11 Undang-Undang No.17 Tahun 2000, harta yang dapat disusutkan adalah semua harta yang berwujud yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan atau dimiliki untuk memperoleh penghasilan, mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, kecuali tanah. Sehingga menurut pajak harta yang dapat disusutkan harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Harta berwujud yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan untuk memperoleh penghasilan .

2. Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Masa manfaat adalah periode suatu aktiva diharapkan digunakan oleh perusahaan, jumlah produksi atau unit yang diharapkan diperoleh dari aktiva oleh perusahaan.

Sedangkan untuk kriteria aktiva tetap menurut perpajakan adalah harta berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap atau dibangun senhdiri yang harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

(15)

1. Dimiliki dan digunakan dalam usaha atau dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan dengan suatu masa manfaat yang lebih dari setahun.

2. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal.

2.4.1. Metode dan Tarif Penyusutan

Dalam sistem penyusutan menurut UU PPh, semua aktiva tetap berwujud yang memenuhi syarat penyusutan fiskal harus dikelompokkan terlebih dahulu menjadi 2 golongan : harta berwujud kelompok bukan bangunan dan harta berwujud kelompok bangunan, metode penyusutan yang boleh digunakan menurut undang-undang pajak adalah metode garis lurus (straight line method) dan metode saldo menurun (declining balance method).

• Metode garis lurus. Penyusutan dengan metode ini dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tetap yang bersangkutan.

• Metode saldo menurun. Penyusutan harta tetap berwujud dengan metode saldo menurun dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas dasar nilai buku harta. Metode ini hanya boleh diterapkan untuk harta berwujud golongan bukan bangunan. Tarif penyusutan harta tetap juga berdasarkan pada masa manfaat harta yang bersangkutan. Untuk kepentingan perpajakan dalam hal penghitungan penyusutan atas aktiva tetap dipergunakan tarif penyusutan sesuai dengan pasal 11 ayat (6) Undang-Undang No. 17 Tahun 2000.

(16)

TABEL 2.2

TARIF PENYUSUTAN HARTA BERWUJUD

Tarif Penyusutan Kelompok Harta Berwujud Masa Manfaat Garis Lurus Saldo Menurun Bukan Bangunan • Kelompok 1 • Kelompok 2 • Kelompok 3 • Kelompok 4 III. Bangunan • Permanen • Tidak Permanen 4 Tahun 8 Tahun 16 Tahun 20 Tahun 20 Tahun 10 Tahun 25% 12,5% 6,25% 5% 5% 10% 50% 25% 12,5% 10%

-Sumber : Undang-undang No. 17 Tahun 2000

Dalam hal pengelompokkan harta berwujud pada harta berwujud bukan bangunan ditentukan dengan KMK No. 520/KMK.04/ 2000 tentang jenis-jenis harta termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan untuk keperluan penyusutan. Pada penelitian ini memakai tarif penyusutan untuk harta berwujud bukan bangunan karena mesin merupakan harta berwujud bukan bangunan.

2.5. Laporan Keuangan Fiskal dan Komersial

Dalam penyajian laporan keuangan, ada dua macam jenis laporan keuangan yaitu laporan keuangan fiskal dan laporan keuangan komersial. Laporan keuangan fiscal adalah laporan keuangan yang disusun khusus untuk kepentingan perpajakan dengan mengesampingkan

(17)

semua peraturan perpajakan. Hal-hal yang tercakup dalam laporan keuangan fiscal terdiri dari neraca fiscal, perhitungan rugi laba dan perubahan laba ditahan, penjelasan laporan keuangan fiscal, rekonsiliasi laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiscal, ikhtisar kewajiban pajak. (Sophar 1996: 68)

Sedangkan laporan keuangan komersial adalah laporan keuangan yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi, yaitu Standart Akuntansi Keuangan dan hal ini dimaksudkan untuk keperluan berbagai pihak yang sifatnya netral atau tidak memihak. Laporan keuangan komersial dapat juga diubah menjadi laporan keuangan fiscal dengan melakukan koreksi seperlunya atau melakukan penyesuaian dengan peraturan perpajakan.

Adanya perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya antara akuntansi komersial dan fiskal (pajak) dapat menimbulkan perbedaan dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak. Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan kepentingan antara akuntansi komersial yang mendasarkan laba pada konsep dasar akuntansi yaitu perbandingan antara pendapatan dengan biaya-biaya terkait, yang mana pengeluaran perusahaan yang tidak mempunyai manfaat untuk masa yang akan datang bukanlah merupakan aset sehingga harus dibebankan sebagai biaya. Sedangkan dari segi fiskal tujuan utamanya adalah penerimaan negara. Dalam penyusunan laporan keuangan fiskal Wajib pajak harus mengacu kepada peraturan perpajakan sehingga laporan keuangan komersial yang dibuat berdasarkan standar akuntansi keuangan harus disesuaikan terlebih dahulu sebelum menghitung besarnya penghasilan kena pajak.

Undang Undang perpajakan tidak mengatur secara khusus bentuk dari laporan keuangan tetapi hanya memberikan pembatasan untuk hal-hal tertentu baik dalam pengakuan penghasilan maupun biaya. Perusahaan dapat menyusun laporan keuangan akuntansi komersial dan laporan keuangan fiskal secara terpisah, atau melakukan koreksi fiskal terhadap laporan keuangan akuntansi komersial. Laporan keuangan

(18)

komersial yang direkonsiliasi dengan koreksi fiskal akan menghasilkan laporan keuangan fiskal.

Perbedaan antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu

1. Perbedaan waktu (timing differences) yang merupakan perbedaan bersifat sementara karena adanya ketidaksamaan waktu pada saat pengakuan penghasilan dan beban antara peraturan perpajakan dengan standar akuntansi keuangan. Perbedaan waktu dapat dibagi menjadi perbedaan waktu positif dan negatif. Perbedaan waktu positif terjadi apabila pengakuan beban untuk akuntansi lebih lambat dari pengakuan beban untuk pajak atau pengakuan penghasilan untuk tujuan pajak lebih lambat dari pengakuan penghasilan untuk tujuan akuntansi. Perbedaan waktu negatif terjadi jika ketentuan perpajakan mengakui beban lebih lambat dari pengakuan beban akuntansi komersial atau akuntansi mengakui penghasilan lebih lambat dari pengakuan penghasilan menurut ketentuan pajak

2. Perbedaan tetap (permanent differences) dimana perbedaan yang terjadi karena peraturan perpajakan dalam menghitung laba fiskal berbeda dengan perhitungan laba menurut standar akuntansi keuangan tanpa ada koreksi di kemudian hari. Perbedaan permanen dapat positif karena ada laba akuntansi yang tidak diakui oleh ketentuan perpajakan dan relief pajak, sedangkan perbedaan permanen negatif disebabkan adanya pengeluaran sebagai beban laba akuntansi yang tidak diakui oleh ketentuan fiskal.

Aspek-aspek penyusun laporan keuangan fiskal menurut Undang Undang Pajak No 17 Tahun 2000 terdiri atas:

1. Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk

(19)

konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk:

a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, grafikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini;

b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan;

c. Laba usaha;

d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk keuntungan karena peralihan harta kepada persero, persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal; keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya; keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha; keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, sumbangan kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, pendidikan, badan sosial, pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, pemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya;

f. Bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;

g. Royalti;

h. Sewa dan penghasilan lainnya sehubungan dengan penggunaan harta;

(20)

i. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;

j. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai jumlah tertentu yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

k. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing l. Selisih karena penilaian kembali aktiva

m. Premi asuransi

n. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak

2. Biaya, semakin besar biaya fiskal yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto menyebabkan semakin kecil laba bersih sebelum pajak dan otomatis mengurangi jumlah pajak yang terutang.. Biaya yang boleh dikurangkan menurut Undang-undang No. 17 Tahun 2000 pasal 6 ayat (1):

a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, premi asuransi, biaya administrasi, dan pajak kecuali Pajak Penghasilan

b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memeproleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun

c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan

d. Kerugian karena penjualan atau penagihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan

(21)

e. Kerugian dari selisih kurs mata uang asing

f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia

g. Biaya bea siswa, magang, dan pelatihan

h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, dengan syarat telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan rugi laba komersial

Referensi

Dokumen terkait

Faktor ini mengakibatkan arah kebijakan Pakistan bersifat konfrontatif terhadap India dan Afghanistan, serta memiliki hubungan persahabatan dengan negara yang

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemurnian terhadap isolasi senyawa murni dari ekstrak daun Soyogik serta pengujian aktivitas antioksidan ekstrak

Komponen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Surabaya tahun 2013 telah sesuai dengan PSAP No 1 paragraf 25 yang menjelaskan bahwa laporan keuangan pokok

Untuk pelaporan disusun format laporan yang dapat digunakan untuk menampilkan data baku mutu, data kualitas air dalam bentuk angka dan grafik serta data lokasi sumber limbah?.

Kepercayaan diri satriwati sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok kurang dalam berinteraksi, kurang dapat beradaptasi, kurang memiliki sikap tenang (cemas),

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemahiran menulis paragraf argumentasi pada siswa kelas X Sekolah Menengah Atas Katolik Santa Maria

lingkungan yang dihasilkan oleh sisa sisa pembakaran bahan bakar minyak. Baterai untuk menyimpan energi ini juga bisa diisi ulang dari sumber lain misalnya PLN maupun

Tujuan penelitian dan penciptaan seni ini adalah untuk menghasilkan motif batik khas Bali yang mempunyai bentuk unik dan karakteristik sehingga dapat mencerminkan