• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN '--/-- PENETAPAN BATAS DETEKSI BORON DAN KADMIUM DALAM TORIUM OKSmA SECARA SPEKTROGRAFI EMISI,.2.,. --

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN '--/-- PENETAPAN BATAS DETEKSI BORON DAN KADMIUM DALAM TORIUM OKSmA SECARA SPEKTROGRAFI EMISI,.2.,. --"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 0216 -3128

28 Sahat Simbolon

'--/--PENETAPAN

BATAS

DETEKSI

BORON DAN KADMIUM

DALAM

TORIUM

OKSmA

SECARA

SPEKTROGRAFI

EMISI

,.2 .,.

--Sabat Simbolon

Puslitbang Teknologi Maju Batan, Yogyakarta.

ABSTRAK

PENETAPAN BATAS DETEKS/ BORON don KADM/UM DALAMTOR/UM

OKS/DA SECARA SPEKTROGRAF/ EM/S/. Te/ah ditetapkan Batas Deteksi Minimum, Batas Garansi dan Batas Penentuan kandungan boron don kadmium di do/am torium oksida dengan don tanpa pengukuran b/angka me/a/ui metoda spektrografi emisi. Didapatkan Batas Deteksi Minimum B don Cd dengan metoda pengukuran b/angko masing-masing 0,04 ppm don 0,07 ppm sedangkan dengan metoda tanpa pengukuran b/angko masing-masing 0.12 ppm don 0.32 ppm. Batas Garansi dan Batas Penentuan B dan Cd dengan metoda pengukuran b/angka juga /ebih keci/ daripada tanpa pengukuran b/angka.

ABSTRACT

DETERMINATION OF DETECTION LIMIT OF BORON AND CADMIUM IN THORIUM OXIDE BY EMMISIN SPECTROGRAFI METHOD. The Minimum Detection Limit, Limit of Guarantee for purity and Limit of Determination of boron and cadmium in thorium oxide with and without blank measurement were determined by using emission spectrographic method. It was found that the Minimum Detection Limit of B and Cd with blank measurement were 0.04 and 0.07 ppm respectively, meanwhile the Minimum Detection Limit of B and Cd without blank measurement method were found to be O. 12 ppm and 0.32 ppm respectively. .It was also found that the Limit of Guarantee_and_Determination Limit with blank ~easurement were

smaller than that without blank measurement.

Guarantee for Purity) dan Batas 'Penentuan

(Determination Limit) untuk unsur boron dan

kadmium di dalam torium oksida dengan metoda

spektrografi

emisi.

PENDAHULUAN

T

orium oksida adalah salahsatu oksida logam yang dapat digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir. Torium oksida yang digunakan harus memiliki tingkat kemumian tertentu, terutama dari unsur-unsur yang mempunyai penampang lintang serapan neutron besar seperti boron dan kadmium.

Salah satu tara untuk menetapkan kadar unsur-unsur boron dan kadmium di dalam torium oksida adalah dengan metoda spektrografi emisi; metoda ini cukup sensitif dan tanpa melakukan isolasi unsur-unsur anal it dari matriksnya. Akan tetapi karena metoda ini tersusun atas beberapa langkah, maka boleh jadi pada setiap langkah terjadi kesalahan atau penambahan unsur-unsur anal it. Di samping itu, beberapa faktor mempen-garuhi hasil anal isis, yaitu variasi kondisi plasma yang tidak stabil, ketidakhomogenan cuplikan, ketidakstabilan densitometer dan kondisi lempeng film yang digunakan sebagai detektor (\). Sebagai akibatnya, intensitas sinyal emisi atomik unsur-unsur anal it di dalam suatu cuplikan menjadi tidak stabil pad a pengukuran perulangan. Oleh karena itu sangat menarik untuk menetapkan Batas Deteksi (Detection limit), Batas Garansi (Limit of

Batas Deteksi Minimum

Secara umum dapat didetinisikan bahwa Batas Deteksi Minimum adalah konsentrasi CI yang dihasilkan dari pengukuran konsentrasi terkecil XI, yang dapat dideteksi dengan aras kepercayaan dan suatu metoda tertentu. Nilai

intensitas Y I dapat dituliskan secara matematik, Y I = Y BL + k SBL; Y BL = purata intensitas nilai blangko; SBL = simpangan baku blangko dan k = nilai faktor yang dipilih sesuai dengan aras kepercayaan yang dipakai. Blangko didetinisikan sebagai cuplikan yang persis sarna dengan cuplikan se~ungguhnyadengan konsentrasi anal it adalah nolo .

Batas deteksi minimum muncul akibat dari ketidakpastian apakah intensitas hasil analisis unsur anal it, terutama pada konsentrasi rendah, itu berasal dari derau yang tak mungkin dihindari. Oleh karena instrumen kimia analisis selalu menghasilkan derau, maka boleh jadi hasil anal is is menyatakan bahwa ada unsur analit teranalisis padahal sebenarnya tidak ada di dalarn cuplikan, demikian pula sebaliknya. Pada prinsipnya ada dua

Prosldlng Pertemuan dan Presentasi IImlah Peneiitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nukllr P3TM-BATAN Yogyakarta, 7 -8 Agustus 2001

(2)

ISSN 0216-3128

Sabat Simbolon 29

dalarn cuplikan unsur analitnya tidak ada. Secara statistik hal ini berkaitan dengan galat jenis pertama (error of the first kind) atau a (alpha). Sebaliknya kalau intensitas unsur analit sarna dengan blangko, rnaka unsur analitnya di dalarn cuplikan sarna dengan blangko atau Dol, narnun di dalarn cuplikan ada unsur analit. Secara statistik hal ini berkaitan dengan galat jenis kedua ( error of the second kind) atau 13 (beta). UntUk rnelihat hubungan antara a daD 13 yang rnasing-rnasing berkaitan dengan Batas Deteksi daD Batas Garansi unsur anal it di dalarn cuplikan digarnbarkan rnelalui dua buah distribusi daD sebuah kurva kalibrasi yang linear, seperti terlihat pada garnbar 1 di bawah ini.

-Yi = intensitas pengukuran, Y = intensitas perhitungan, n = jumlah titik yang digunakan untuk membangun kurva kalibrasi. Jadi metoda ini tidak berkaitan sarna sekali dengan pengukuran blangko. Oleh karena itu metoda ini cukup sederhana clan praktis karena selisih hasil pengukuran daTi garis linear dianggap merupakan suatu galat (error), yang sebenamya hanyalah merupakan suatu penyimpangan daTi purata saja, di samping itu Sx/y sebenamya bukan simpangan baku dlstribusi sampling (3).

-Metoda yang ke dua adalah gabungan kurva kalibrasi dengan nilai tluktuasi pengukuran simpangan baku blangko. ldealnya blangko diukur sebanyak 20 kali agar didapatkan nilai simpangan baku yang representatif clan akan didapatkan derajat kebebasan yang tinggi. Akan tetapi karena alasan praktis clan waktu, jumlah pengukuran blangko kadang-kadang dilakukan hanya 5 (lima)

sampai 10 (sepuluh) kali saja. Dengan mengukur nilai tluktuasi intensitas blangko maka intensitas Batas Deteksi Minimum, mempunyai rum us Y = Y BL + 3 O"BL; Y BL adalah purata intensitas blangko, sedangkan O"BL adalah simpangan bakunya. Nilai k = 3 untuk yang mengikuti distribusi Gaussian akan menghasilkan aras kepercayaan sebesar 99,86 %. Nilai k seyogianya tidak kurang daTi 3, karena menu rut Ketidaksamaan Tschebyscheeff yang mempunyai rum us 100(1-1/k2), kalau nilai k=2 akan menghasilkan aras kepercayaan hanya 75 %, sedangkan kalau nilai k=3 akan menghasilkan aras kepercayaan 89 % (4).

Gambar 1. Distribusi blangko don cuplikon yang

konsentrasinya sedikit

di

alas

konsentrasi blangko, purata

masing-masing adalah YBL don YI: a =

galat jenis I don fJ = galat jenis II.

Distribusi yang pertama adalab distribusi daTi blangko sedangkan distribusi yang kedua adalab distribusi di atas blangko. Sementara itu persarnaan garis linear yang menggarnbarkan hubungan antara intensitas (V) dan konsentrasi (C) mempunyai dapat dituliskan sebagai V = a + b X, dengan ketentuan b = koefisien arab, dan a = tetapan. Purata intensitas masing-masing distribusi adalab V BL dan V I dengan simpangan bakunya aBL dan a,. Untuk memudabkan perhitungan dibuat

suatu anggapan babwa simpangan baku blangko dan cuplikan yang konsentrasinya di atas blangko adalab sarna, aBL = a.. lntensitas VI terletak antara

V BL dan V, dari distribusi blanko dan distribusi cuplikan di atas blangko yang membentuk luasan cx. dan J}; cx. = luasan sinyal dari blangko tetapi

dianggap sebagai luasan sinyal cuplikan konsentrasi di atas blangko; J} = luasan sinyal Batas Garansi daD Penentuan

Batas Deteksi di atas hanya didasarkan kepada perhitungan distribusi simpangan baku blangko saja, yang mempunyai pengertian bahwa sepanjang intensitas unsur analit lebih besar daripada intensitas purata blangko, maka unsur analitnya ada di dalam cuplikan, meskipun di

Prosldlng pertemuan dan Presentasl IImlah Penelltian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologl Nukllr P3TM-BATAN Yogyakarta, 7 -8 Agustus 2001

cara untuk menghitung Batas Deteksi Minimum

suatu unsur anal

it, secara statistik yang dihitung

hanya dari kurva kalibrasi, tanpa pengukuran

blangko(2).

Metoda ini lebih sederhana

dan cepat,

karena

SX/V, "simpangan baku taksiran"

(standard error of estimation) dianggap sebagai

simpangan baku dari pengukuran blangko.

Nilainya dihitung dari jumlah kuadrat selisih basil

eksperimen dengan garis linear atau garis kurva

kalibrasi basil perhitungan dengan

metoda Kuadrat

Terkecil. Secara matematik besarnya simpangan

(3)

30 ISSN 0216 -3128 Sabat SimbolOj cuplikan di atas blangko tetapi dianggap sebagai

luasan sinyal blangko.

Kalau luasan a sebesar 50 % lebih sedikit maka nilai intensitas Y I terletak di Y BL' maka dapat dipastikan bahwa Y \ bukan sebagai sinyal blangko dengan aras kepercayaan 99,86 %. Sehingga jarak qntara Y BL daD Y I merupakan Batas Deteksi yang

dapat digunakan untuk membedakan sinyal

blangko dengan sinyal cuplikan yang konsentrasinya sedikit di atas blangko. Sehingga rumus untuk Batas Deteksi dapat dituliskan sebagai Y I = Y BL + 3 O"BL' dengan anggapan bahwa O"BL = 0"1. Selanjutnya kalau luasan f3 sebesar 50 %, maka Y I akan terletak pada Y I akibatnya intensitas Y I = Y BL + 3 O"BL' tetapi hal ini hanya 50 % mampu membedakan antara sinyal blangKo dari sinyal anal it di atas blangko. Oleh karena itu untuk membedakan bahwa sinyal tersebut adalah sinyal anal it di atas blangko, makaBatas Deteksi berubah menjadi Batas Garansi dengan rumus, Y I = Y BL + 3 O"BL + 3 O"BL' dengan anggapan bahwa O"BL = 0"\. Intensitas yang lebih besar daripada intensitas Batas Garansi dinamakan sebagai intensitas Batas Penentuan, sebagai lawan dari Batas kualitatif, sebagai barns yang paling rendah untuk pengukuran kuantitatif yang' presisi. Besarnya Batas Penentuan bukan berdasarkan perhitungan statistik, akan tetapi berdasarkan usulan saja. Kemudian Batas Penentuan dibuat dengan nilai k = 10(2,5,6,7), secara matematik besamya Batas Penentuan dapat dituliskan sebagai Y = Y BL + 10'aBL.

Akan tetapi jarang sekali digunakan di dalam prateknya. Konsep statistik tentang galat jenis I daD II kalau digabungkan akan menghasilkan Batas Deteksi daD Batas Garansi, selanjutnya untuk

Batas Penentuan cukup dengan menggunakan

tambahan 10 O"BL pada Y BL seperti terlihat pada gambar 2 berikut ini.

Batas Garansi = Daerah yang mungkin untuk analisis kuantitatif.

Batas Penentuan = Daerah yang mungkin untuk analisis kuantitatif.

Y BL = Purata blangko; Y D= Batas Deteksi Minimum; Y G= Batas Garansi kemumian Y p= Batas Penentuan.

TATA KERJA

Sebagian data daD basil percobaan diambil dari (8)

Bahan

1. Satu seri Th02 standar terdiri dari tujuh konsentrasi unsur -unsur takmumian daD

blanko (NBL)

2. Pengemban AgCl, LiF, Ga2O3 (Spex Industries)

3. ElektrodagrafitAnoda :9161 208-15614

Katoda:L 4026 AGKSP

4. Lempeng fotografi Kodak SA No.1 9 x 24 cm.

Alat

I. SpektrografEmisi

Jarrell Ash type 3,4 meter

2. Digital

Comparator

Microphotometers

(Densitometer Optical)

Jarrel

Ash type

21-330 X

Cara Kerja

Penyediaan standar '.

Standar ThO2 yang terdiri dari 7 standar,

masing-masing ditambah pen

gem

ban sulingan

dengan

perbandingan

AgCI : LiF : Ga2O]

(95:4:1)

Penyediaan

cup/ikon

Ke dalam alikot Torium nitrat sebagai cuplikan ditambahkan asam oksalat tetes demi tetes. sampai terbentuk endapan

Th(C2O4h.

endapan

d!tapis

kemudian

dikalsinasikan selama I jam pada 700°C

sampai t~rbentuk Th02o

-Kondisi eksitasi

Tinggi Spektra

Lebar Celah

YBL

YD

YG

Yp

7mm

15mm

Prosldlng Pertemuan dan Preaentasilimiah Penelltlan Daaar IImu Pengetahuan dan Teknologl Nukllr P3TM-BATAN Yogyakarta, 7 -8 Agustua 2001

Intensitasnya = Y BL + 30"BL; Y BL +60"BL; Y BL + I 0 O"BL

Gambar 2. Hubungan antara Intensitas dengan

Botos Deteksi. Batas Garansi don

Batas Penentuan.

Batas Oeteksi Minimum = Oaerah yang tak mungkin terjadi deteksi.

(4)

Sahat Simbolon ISSN 0216 -3128

31

Sumber Eksitasi

Waktu eksitasi

"Pre burn"

Jarak antara anoda

Filter

Kadmium (Cd)

0

0,2

0,5

1

2

0,29

3,3

5,3

10,7

19,5

Dari Tabel 2 di atas dapat dibuat dua buah kurva kalibrasi untuk boron, persamaan garis linearnya Y = 48,10 X + 1,17 dan untuk kadmium persarnaan garis lineamya Y = 9,44 X + 0,83. Nilai konstanta positif yang ada pada kedua persarnaan garis linear di atas adalah akibat dari perhitungan dengan memakai metoda Kuadrat Terkecil. Idealnya garis linear basil perhitungan dengan metoda kuadrat terkecil melalui titik nolo Akan tetapi oleh karena semua basil pengukuran standar untuk membangun kurva kalibrasi harus dilibatkan, maka suatu konstanta positif selalu muncul di dalarn persarnaan kurva k&librasi. Nilai konstanta suatu kurva kalibrasi minimum nolo Kalau nilai konstanta suatu kurva kalibrasi negatif, berarti pada suatu konsentrasi tertentu akan didapatkan instensitas yang ~egatif. Di sarnping itu nilai purata intensitas blangko tidilk' akan pemah sarna dengan nol (7) , sehingga lebih sering didapatkan nilai konstanta positif yang dapat lebih besar atau lebih kecil daripada purata intensitas B atau Cd. Seandainya

suatu kurva kalibrasi melalui titik nol, untuk menghitung intensitas Batas -Deteksi Minimum pada blangko digunakan rumus Y BL + 3 O'BL, sedangkan untuk Batas Garansi dan Batas Penentuan masing-masing memakai rumus Y BL + 6 O'BL dan YBL + 10 O'BL, dengan ketentuan YBL = o. Secara sederhana nilai barns deteksi, garansi dan

penentuan dapat digarnbarkan seperti gambar 2

berikut ini.

Pencucian lempeng

film

1. Lempeng film diremdam di dalam developer

selama 3 menit

2. Dicuci dengan air 30 detik

3. Dimasukkan ke dalam fixer selama

5 menit

4. Dikeringkan.

5. Pengamatan

intensitas

spektra boron, kadmium

pada blangko daD satu seri standar ThO2 serta

pembuatan kurva kalibrasinya. Menghitung

Batas Deteksi Minimum, Batas Garansi daD

batas Penentuan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari basil percobaan(S)

dan pengukuran

intensitas B dan Cd di dalarn blangko Th02

sebanyak 7 (tujuh) kali yang diperlakukan seperti

standar, hasilnya dapat dilihat pada tabel 1 berikut

ini.

Tabell. Intensitas B don Cd di dalamblangko

ThO2

Hasil pengukuran intensitas B dan Cd pada blangko ThaI cukup variatif seperti pada label 1 di alas, nilai simpangan baku untuk boron aD = 0,73 sedangkan nilai puratanya Y D = 0,96, sementara itu simpangan baku untuk kadmium aCd = 0,22 dan puratanya Y Cd = 0,29. Oi lain pihak hasil pengukuran intensitas standar yang mengandung B dan Cd di dalam ThaI standar seperti pada Tabel 2 berikut ini. I N T I E I N S I T A S V-48,10X+1,17

Tabel 2. Hasi/ Pengukuran lntensitas B don Cd

di da/am ThO]

.Nama Unsur Konsentras. Intensitas i (ppm) 0

0,1

0,2

0,5

I I 0,96

4,5

11

28

48

Boron (B)

x p Konsertresi B (wn) 0 XD Xo

Gambar 2. Kurva kalibrasi boron dengan bolas

.deteksi, garansi don penenluan.

Prosldlng Pertemuan dan Presentasilimiah Penelltlan Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologl Nukllr P3TM-BATAN Yogyakarta, 7 -8 Agustus 2001

: DC Arc

: 45 detik

: 0 detik

dan katoda: 4 mm

(5)

31

ISSN 0216 -3128 Sabat Simbolon

sarna sehingga nilai fluktuasi intensitas B daD Cd

relatif kecil. Di samping itu sernakin besar nilai n

atau jurnlah pengukuran blangko yang dilakukan,

rnaka nilai sirnpangan bakunya sernakin kecil

sesuai

dengan

rurnus sirnpangan

baku di bawah ini

Dari Tabel 3 di atas jelas terlihat ada perbedaan

s = i~{~~ll

(n-l)

Metoda menghitung Batas Deteksi tanpa

mengu-kur intensitas

blangko secara

berulang-ulang

dapat

dilakukan dengan menghitung simpangan baku

taksiran. Hasil perhitungan dari Jabel 2 di atas

-didapatkan, nilai simpangan baku taksiran untuk

boron SB = 1,968 sedangkan

untuk kadmium SCd =

1,018. Nilai simpangan baku taksiran ja'lh lebih

besar daripada nilai simpangan baku basil

pengukuran, tentu saja hal ini akan membawa

konsekuensi pada perhitungan Batas Deteksi,

Garansi clan Penentuan pada metoda tanpa

mengukur fluktuasi blangko. Untuk melihat

perbedaan basil

perhitungan Batas Deteksi

Minimum, Batas Garansi dan Batas Penentuan

dari

metoda simpangan baku taksiran clan pengukuran

dapat dilihat tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Perbandingan Batas Deteksi Minimum,

Garansi don Penentuan hasil simpangan

baku pengukuran **(menggunakan

blangko) don simpangan baku taksiran

* (tanpa b/angko) unsur B don Cd di

do/am cup/ikon ThO2.

Nilai simpangan baku taksiran, SXN' sangat dipengaruhi oleh sebaran titik yang digunakan untuk membangun kurva kalibrasi, semakin tersebar titiknya semakin besar pula nilai simpangan baku taksirannya. Sebaliknya kalau jumlah selisihnya sangat kecil, maka akan dida-patkan nilai simpangan baku taksiran yang kecil pula. Hal ini membawa konsekuensi pada nilai Batas Deteksi, Garansi dan Penentuan yang kecil. Hasil perhitungan dengan persamaan (I) untuk unsur B dan Cd temyata nilainya lebih besar daripada simpangan baku pengukuran. Hal ini

dengan mudah dapat dipahami karena tluktuasi intensitas boron di dalam cuplikan Th02 mulai daTi konsentrasi 0 sampai dengan I ppm dan untuk kadmium di dalam cuplikan Th02 mulai daTi konsentrasi 0 sampai 2 ppm cukup besar, sehingga nilai simpangan baku taksirannya juga akan menjadi besar. Di lain pihak nilai tluktuasi intensitas B dan Cd pada blangko yang diukur berkali-kali yang mempunyai simpangan baku yang relatif kecil karena berasal dari cuplikan yang

yang relatif mencolok untuk unsur analit B dan Cd

dalam hal Batas Deteksi, Batas Garansi dan Batas

Penentuan antara metoda yang menggunakan

blangko dengan

yang tanpa blangko.

Menganalisis B di dalam cuplikan Th02

menggunakan

metoda yang tanpa blangko akan

mempunyai Batas Deteksi Minimum yang tinggi

yaitu 0,12 ppm. Metoda praktis dan cepat di atas

hanya mampu menganalisis B di dalam Th02

secara ktlalitatif kalau konsentrasinya sudah

berkisar antara 0,24 ppm -0,41 ppm. Unsur analit

B di dalam Th02 yang konsentrasi lebih rendah

daripada 0,24 tidak dapat dideteksi baik secara

kualitatif atau secara kuantitatif. Cuplikan

ThOi-yang menganduhg

B lebih banyak daripada 0,41

ppm baru dapat dideteksi secara.. kuantitatif.

Sebaliknya

metoda yang menggunakan

pengukuran

blangko Th02 dapat menganalisis unsur B secara

kuantitatif kalau konsentrasinya

sedikit lebih tinggi

di atas 0,15 ppm. Kalau konsentrasi B di dalam

Th02 berkisar di atara 0,09 ppm -0,15 hanya dapat

dianalisis secara kualitatif saja. Oleh karena itu

jelas terlihat bahwa metoda yang praktis, cepat dan

ekonomis tidak begitu baik kalau digunakan untuk

mengukur konsentrasi B di dalam Th02 pada

konsentrasi yang cukup rendah. Demikian pula

untuk unsur analit Cd di dalam Th02 dengan

metoda praktis membutuhkan konsentrasi

Cd yang

cukup tinggi agar dapat dianalisis secara

kuantitatif, yaitu harus lebih tinggi dari 1,02 ppm,

sedangkan untuk metoda yang menggunakan

blangko kandungan Cd di dalam Th02 dapat

dianalisis di atas konsentrasi 0,23 ppm. Oleh

Karena itu metoda yang lebih pr:aktis menjadi tidak

praktis kalau digunakan pada~konsentrasi yang

cukup

rendah, sebaliknya metoda yang

menggunakan

blangko daD membutuhkan banyak

bahan kimia menjadi lebih berguna kalau

digunakan untuk menganalisis B dan Cd pad!!

konsentrasi

yang rendah.

Seperti sudah disebutkan di atas bahwa untuk

perhitungan Batas Deteksi, Batas Garansi daD

Batas Penentuan dengan menggunakan blangko dibuat suatu asumsi bahwa O"OL = 0". agar

Prosldlng Pertemuan dan Presentasilimiah Penelitlan Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologl Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 7 -8 Agustus2001

(6)

Seperti sudah disebutkan di atas bahwa untuk perhitungan Batas Deteksi, Batas Garansi dan Batas Penentuan dengan menggunakan blangko dibuat suatu asumsi bahwa O"BL = 0". agar memudahkan perhitungan saja. Akan tetapi kalau seandainya dilakukan perhitungan dengan asumsi bahwa O"BL * 0"., maka Batas Deteksi, Batas Garansi dan Batas Penentuan masing-masing unsur di atas tidak sarna seperti pada tabel 3. Secara numerik memang O"BL < 0", akibatnya Batas Deteksi, Batas Garansi dan Batas Penentuan akan lebih besar daripada tabel 3 di atas, akan tetapi kalau dihitung dalarn persentasenya maka dapat menjadi sebaliknya. Karena koefisien variasi, yang mempunyai rumus CV = 0" / b; b = beret unsur analit, untuk konsentrasi rendah menghasilkan CV yang besar, sementara itu cuplikan yang mempunyai konsentrasi tinggi menghasilkan CV yang rendah(9), Sehingga secara persentase nilai Batas Deteksi, Batas garansi dan Batas Penentuannya akan menjadi lebih kecil daripada tabel 3- di atas kalau tidak digunakan- anggapan bahwa O"BL = 0",.

2. Miller,J.C and Miller,J.N ; Statistics for

Analytical Chemistry. First Published 1984.

Ellis Horwood Limited. Market Cross Street,

Chichester, West Sussex, P.O" 19 1EB,

England.

3. Samiyono, S K dan Soeyoeti, Z; Pengantar

Analisis Statistik Gadjah Mada University

Press,

P.O. Box 14 Bulaksumur, Yogyakarta.

English Edition: Introduction To Statistical

Analysis. Forth Edition by Dixon, W.J and

Massey,

F.J. Copyright (1979).

4. Long,Gary.L and Winefordner.J.D; Anal

Chern

No 7,55, (1983).

5. Kateman.G

and Pijpers.F.

W ; Quality Control

in Analytical Chemistry. John Wiley & Sons,

New York (1981).

6. Currie LIoyd.A; Anal Chern No 3, 40, (1968).

7. Hubaux A and Vos G ; Anal Chern No 8,42,

(1970).

8. Simbolon, S dan Aryadi; Metoda Analisis

Unsur-Unsur Pengotor di dalarn Torium

dengan Spektrograf Emisi. Seminar Sehari

Himpunan Kimia Indonesia tanggal 4 Maret

1992,

HKICabang Yogyakarta. '.

9. Horwitz, W.et al. J.Assoc.Off.Anal. Chern.

(1980).63,1344.

10. LITEANU.C AND RICA.I; STATISTICAL

THEORY AND

METHODOLOGY

OF

TRACE

ELEMENTS. Translation Editor

R.A. Chalmers.

JOHN WILEY & SONS. New

York (1980)

KESIMPULAN

TANYAJAWAB

Dwiretnani S.

-Batas deteksi disini apakah batas deteksi dari alat analisisnya, atau kemampuan deteksi dari metoda analisisnya.

-Dengan atau tanpa metoda blangko, basil analisis akhimya berbeda atau tidak ? Mana yang lebih baik jika untuk analisis unsur

pengotor.

). Nilai Batas Deteksi, Garansi dan Penentuan dengan metoda tanpa pengukuran blangko hanya tergantung pada linearitas ketujuh cuplikan standar untuk menghasilkan kurva kalibrasi yang linier. Semakin banyak dari ketujuh cuplikan standar tersebut letaknya jauh dari garis linier yang seharusnya, maka simpa-ngan baku taksiran Sx/y akan semakin besar pula, akhimya semakin besar pula nilai Batas Deteksi, Garansi dan Penentuannya.

2. Metoda pengukuran Batas Deteksi, Garansi dan Penentuan dengan pengukuran blangko, membutuhkan waktu yang cukup panjang dan bahan kimia cukup ban yak dibandingkan dengan metoda tanpa pengukuran blangko atau metoda simpangan baku taksiran, tetapi memiliki keunggulan karena sangat berguna untuk menentukan konsentrasi B dan Cd yang rendah di dalam Th02.

3. Metoda simpangan baku taksiran tidak dapat digunakan untuk menganalisis B dan Cd di dalam Th02 dalam konsentrasi cukup tinggi,

lebih tinggi daripada Batas Penentuannya.

Sabat Simbolon

-Batas detekri yang dimakrud ada/ah hatas detekri dari sernua faktor yang mempengaruhi ana/isis. Oleh karena itu kondisi operasi ana/is is untuk cup/ikan dun standar harus sarna.

DAFTARPUSTAKA

Bosch, F.M and Broekaert,J.A.C; Anal Chern No 1,47,(1975).

Proslding Pertemuan dan Presentasilimiah Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 7 -8 Agustus 2001

(7)

34

ISSN 0216 -3128 Sahal Simbolon

dapat sarna dan dapat pula berbeda. Kalau

blangko memang tersedia, sebaiknya dilakukan

pengukuran blangko,

kalau tidak punya

blangko maka dapat dilakukan secara statistik

saja.

Sabat Simbolon

Untuk melihat batas detekri, batas garansi dan penentuan hanya berlaku pada intensitas yang sangat rendah sehingga masih dianggap dalam daerah garis lurus atau linier, sedangkan ketidak linieran baru terjadi pada konsentrasi yang cukup tinggi.

Damunir

~-Penentuan

batas diteksi B daD Cd dalam Th02

dengan Se dilakukan selama pengukuran

sangat

sulit diketemukan

kurva linier. Sehingga

analisis

menggunakan batas lebar kesalahan sebagai

koreksi atas garis deteksi kurva linieritas.

Kenapa saudara tidak melihat lebar kesalahan

deteksi tersebut.

Prosldlng Pertemuan dan Presentasilimiah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi ~Iukllr P3TM-BA TAN Yogyakarta, 7 .8 Agustus 2001

Gambar

Gambar  2.  Hubungan antara  Intensitas dengan Botos  Deteksi. Batas  Garansi  don Batas Penentuan.
Tabel 2.  Hasi/ Pengukuran lntensitas B  don Cd di da/am ThO]
Tabel 3.  Perbandingan Batas Deteksi Minimum, Garansi don Penentuan hasil simpangan baku  pengukuran  **(menggunakan blangko) don  simpangan baku taksiran

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari pengujian output suara adalah ketika tombol Play Sounds di tekan maka program dapat mengeluarkan suara sesuai dengan input yang telah diberikan dengan

Dari penelitian ini dapat disarankan kepada pengrajin batik kulit untuk menggunakan rasio pigmen 1 bagian dan binder 2 bagian dalam proses pewarnaan kulit kelinci agar

Dengan alur proses tersebut, minat pembaca terhadap suatu aplikasi media publikasi komik digital sangat bergantung pada kualitas komik yang disediakan serta konsistensi dari

[r]

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan Karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh

Sedangkan Fitur Color Moment digunakan sebagai pelengkap detail informasi dari warna merah yang dominan dalam buah kelapa sawit, dimana buah kelapa sawit yang matang memiliki

Banyaknya larutan KMnO4 yang digunakan ini disebut dengan volume titrasi, dimana volume titrasi ini akan digunakan untuk perhitungan pemeriksaan zat organik yang

ABSTRAK.‘ Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengamh celebrity endorser, brand image dan harga terhadap minat beli konsumen pada Geprek Bensu Kawi Malang. Penelitian