• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Gambaran Umum Lokasi

Pulau Barrang Lompo adalah salah satu pulau di kawasan Kepulauan Spermonde, yang berada pada posisi 119o 19’ 48’’ BT dan 05o 02’ 48’’ LS dan merupakan salah satu Kelurahan yang ada dalam wilayah Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar (Pemkot Makassar 2004). Jumlah penduduknya cukup padat mencapai 4.442 jiwa bulan Maret tahun 2010, dengan tingkat kesejahteraan penduduk yang cukup baik. Jarak pulau tersebut dari Ibu Kota Propinsi (Makassar) yaitu 12 km, yang dapat ditempuh dalam waktu + 45 menit dengan menggunakan perahu motor. Pulau Barrang Lompo terletak di sebelah Barat kota Makassar.

Secara administrasi Kelurahan Barrang Lompo memiliki luas wilayah sekitar 22.798 Ha. Sistem administrasi pemerintahan Kelurahan Barrang Lompo dibagi menjadi 2 lingkungan, 4 Rukun Warga (RW) dan 21 Rukun Tetangga (RT). Adapun batas wilayah administrasi Kelurahan Barrang Lompo yaitu: sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Barrang Caddi (Pulau Barrang Caddi), sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Mattiro Deceng (Pulau Badi), sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Barrang Caddi (Pulau Bone Tambu), sebelah Timur berbatasan dengan Kota Makassar.

Keadaan topografi daratan pulau relatif rata dengan ketinggian dari permukaan laut ± 2 meter dan ± 80% daratan Pulau berpasir halus, sisanya

bertanah dan berlumpur dengan tingkat kesuburan tanah sedang. Khusus daerah bagian Barat dan sebagian daerah Selatan berpasir halus warna putih kecokelatan dan sebagian daerah Selatan, Timur dan Utara berpasir halus dan berwarna gelap, tidak terdapat batu-batuan yang besar. Ukuran butiran pasirnya relatif halus, hal ini menandakan bahwa ombak dan gelombang di depan pantai relatif tenang.

Sisi Timur Pulau dijadikan dermaga utama tempat bersandarnya kapal-kapal besar karena perairannya cenderung dalam meskipun keadaan surut. Sementara perairan sisi lainnya cenderung dangkal (sekitar 0,3 m saat surut), dengan reef top yang cukup jauh menjorok ke luar. Di daerah reef top tersebut didominasi oleh

(2)

pasir sekitar 51% dan lamun sekitar 28%. Di antara rimbunan lamun ditemukan juga alga sekitar 10%, spons sekitar 2%, dan karang-karang yang masih hidup maupun yang sudah mati. Karang hidup yang ditemukan hanya sekitar 1%. Selain itu, penutupan karang mati (dead coral) sekitar 1%, pecahan karang (rubble) sekitar 2%, sedangkan karang mati yang telah ditutupi alga (dead coral with alga) sekitar 5% (Pemkot Makassar 2004).

Pulau Barrang Lompo memiliki padang lamun yang cukup luas dengan hamparan lamun yang membentuk daratan. Sebelum mencapai tubir, di bagian Timur dan Utara terlihat relatif landai dengan kemiringan sekitar 15%, sebaliknya di bagian Barat dan Selatan lebih curam dengan kemiringan 20% atau lebih. Di beberapa tempat seperti di bagian Barat dan Selatan terdapat tubir, dimana kedalamannya menurun secara drastis. Padang lamun yang cukup luas berada di bagian Barat, Selatan/Tenggara, dan Utara Pulau. Sementara di bagian Timur tidak terdapat padang lamun.

Jenis lamun di Pulau Barrang Lompo meliputi 2 famili yakni Hydrocharitaceae dan Potamogetonaceae, dimana terbagi lagi atas 5 genera dan 8 jenis. Persentase penutupan lamun berturut-turut didominasi oleh Thalassia hemprchii, Enhalus acoroides, Halodule uninervis dan Halophila ovalis. Kerapatan tertinggi terdapat pada jenis lamun Thalassia hemprichii, menyusul Halodule uninervis, Enhalus acoroides dan Halophila minor (Pemkot Makassar 2004). Thallasia hemprichii memiliki kerapatan berkisar 200-700 tegakan/m2 (Supriadi 2002) dan berkisar 344-520 tegakan/m2 (Parada 2002).

4.2 Faktor Lingkungan

Parameter lingkungan yang diukur hanya sebatas faktor yang menjadi pembatas pertumbuhan dan distribusi lamun serta makrozoobentos. Parameter kolom air yang diukur meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut (DO), padatan tersuspensi (TSS), total bahan organik (BOT), nitrat, ortofosfat dan pH. Parameter kolom air yang diukur pada stasiun Tenggara dan Timur Laut digabung antara daerah lamun dan daerah tanpa lamun. Hal ini disebabkan oleh kolom air yang cenderung konstan. Parameter substrat yang diukur, yaitu pH, C-Organik, total bahan organik, nitrat, ortofosfat dan tekstur sedimen.

(3)

4.2.1 Fisika dan Kimia Kolom Air

Tabel 5 menyajikan hasil pengukuran parameter fisika dan kimia kolom air di Pulau Barrang Lompo. Suhu berperan dalam kecepatan laju metabolisme dan respirasi organisme air (Odum 1993). Berdasarkan hasil pengukuran suhu menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara stasiun Tenggara dan Timur Laut serta masih berada dalam kisaran yang normal untuk daerah tropis. Kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan lamun berkisar antara 28-30 oC (Zimmerman 1987), dan berkisar 35-40 oC merupakan suhu yang kritis bagi makrozoobentos karena dapat menyebabkan kematian (Hawkes 1978).

Tabel 5 Parameter fisika-kimia kolom air di lokasi penelitian Parameter Unit

Stasiun Tenggara Stasiun Timur Laut Kisaran Rerata Kisaran Rerata

Suhu oC 29-31 30 30-31 30,5 Salinitas o/oo 30-34 32 30-32 31 DO mg/l 3,25-4,21 3,7 2,42-3,87 3,1 TSS mg/l 33,0-45,1 39,2 11,0-44,7 27,9 BOT mg/l 36,7-79,6 57,7 46,1-111,2 78,7 Nitrat mg/l 0,03-0,22 0,1 0,03-0,32 0,2 Ortofosfat mg/l 0,44-1,11 0,6 0,26-0,90 0,6 pH 8,18-8,33 8,18-8,33 8,20-8,29 8,20-8,29

Salinitas stasiun Tenggara dan Timur Laut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kisaran tersebut berkisar 30-34 o/

oo dan masih layak untuk

kehidupan lamun dan biota yang ada didalamnya (makrozoobentos). Salinitas untuk lamun berkisar antara 24-35o/oo (Hillman et al.1989). Salinitas tidak berpengaruh terhadap faktor-faktor biotik lamun karena umumnya lamun dapat mentolerir salinitas secara luas.

Oksigen terlarut (DO) berperan dalam proses metabolisme makro dan mikroorganisme dengan memanfaatkan bahan organik yang berasal dari hasil fotosintesis. Berdasarkan hasil pengukuran, stasiun Tenggara memiliki kadar oksigen terlarut berkisar 2,42-3,87 mg/l dan Timur Laut berkisar 3,25-4,21 mg/l. Oksigen terlarut di stasiun Tenggara dan Timur Laut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Oksigen terlarut tersebut termasuk tinggi apabila dibandingkan dengan kadar oksigen terlarut yang ditetapkan oleh baku mutu air

(4)

laut untuk biota laut (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 51 Tahun 2004) yaitu berkisar >5 mg/l. Tingginya oksigen terlarut di stasiun Tenggara dan Timur Laut kemungkinan karena berada di daerah pasang surut.

Hasil pengukuran padatan tersuspensi (TSS), diperoleh stasiun Tenggara memiliki padatan tersuspensi berkisar 33,0-45,1 mg/l lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun Timur Laut yang berkisar 11,0-44,7 mg/l. Tingginya partikel tersuspensi di stasiun Tenggara disebabkan oleh proses pengadukan, dimana masih berada di zona pasang surut dan kedalaman perairannya lebih dangkal yakni sekitar 1-2 meter dibandingkan dengan stasiun Timur Laut yang memiliki kedalaman sekitar 3-4 meter. Sementara total bahan organik (BOT) di stasiun Tenggara lebih rendah yakni berkisar 36,7-79,6 mg/l dibandingkan dengan Timur Laut yang berkisar 46,1-111,2 mg/l. Total bahan organik lebih tinggi di stasiun Timur Laut diduga karena berdekatan dengan pemukiman.

Konsentrasi nitrat dan ortofosfat tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara stasiun Tenggara dan Timur Laut. Nitrat dan ortofosfat di stasiun Tenggara berkisar 0,03-0,22 dan 0,03-0,32 mg/l, sementara Timur Laut berkisar 0,44-1,11 dan 0,26-0,90 mg/l. Berdasarkan baku mutu (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 51 Tahun 2004), nilai nitrat dan ortofosfat yang diperoleh termasuk diatas nilai nitrat dan ortofosfat baku mutu yang telah ditetapkan, dimana nilai nitrat dan ortofosfat baku mutu untuk biota laut sekitar 0,015 mg/l dan 0,008 mg/l.

Nilai pH yang terukur berkisar 8,18-8,33. Nilai ini merupakan kisaran yang normal bagi pH air laut Indonesia, dimana menurut Nontji (2002) bahwa kisaran yang normal untuk perairan Indonesia berkisar 6,0-8,5. Berdasarkan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 51 Tahun 2004, nilai pH di lokasi penelitian masih layak untuk kehidupan biota laut, dimana pH baku mutu untuk biota laut sekitar 7-8,5. Perubahan pH perairan laut biasanya sangat kecil. Hal ini disebabkan oleh adanya turbulensi massa air yang selalu menstabilkan kondisi perairan.

(5)

Beberapa parameter yang diukur di kolom air stasiun Tenggara dan Timur Laut menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan, seperti suhu, salinitas,nitrat, ortofosfat dan pH. Sementara parameter yang menunjukkan perbedaan yang signifikan, yaitu TSS dan BOT.

4.2.2 Fisika dan Kimia Substrat

Parameter fisika dan kimia substrat yang diukur di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan pengukuran pH, di stasiun Tenggara berkisar 7,58-7,77 dan stasiun Timur Laut berkisar 7,63-7,7. pH antara stasiun Tenggara dan Timur Laut baik di daerah lamun maupun daerah tanpa lamun, menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan.

Tabel 6 Parameter kimia substrat di lokasi penelitian Parameter

Unit

Stasiun Tenggara Stasiun Timur Laut Lamun Tanpa Lamun Lamun Tanpa Lamun pH 7,58-7,77 7,47-7,65 7,63-7,7 7,58-7,67 C Organik % 0,15-0,39 0,12-0,12 0,23-0,41 0,1-0,12 Rerata 0,3 0,12 0,3 0,11 BOT % 1,75-7,33 0,94-1,14 2,67-5,98 0,59-0,96 Rerata 4,5 1,04 4,3 0,8 Nitrat mg/kg 0,13-0,16 0,05-0,08 0,12-0,14 0,03-0,04 Rerata 0,1 0,07 0,13 0,04 Ortofosfat mg/kg 13,1-13,5 7,05-10,3 12,5-13,5 6,0-8,1 Rerata 13,3 8,68 13 7,05 Pasir % 65-75 70-72 65-81 73-79 Rerata 70 71 73 76 Debu % 8-15 10-11 10-18 11-13 Rerata 10 10,5 14 12 Liat % 13- 27 17-20 5-19 10-14 Rerata 20 18,5 12 12

Kandungan C-organik substrat menunjukkan banyaknya kandungan bahan organik hasil dekomposisi maupun bahan organik yang terbawa oleh arus air dan mengendap ke substrat. Berdasarkan hasil pengukuran, diperoleh kandungan C-organik di stasiun Tenggara dan Timur Laut menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. Namun, ada perbedaan yang signifikan antara daerah lamun dan daerah tanpa lamun. Daerah tanpa lamun memiliki C-organik yang lebih rendah yaitu 0,12%, sementara daerah yang ada lamun berkisar 0,15-0,39% (Tenggara)

(6)

dan 0,23-0,41% (Timur Laut). Hal ini disebabkan oleh lamun yang menghasilkan karbohidrat non struktural labil yang dapat dirombak oleh bakteri menjadi karbon. Ditambah pula, dilamun banyak bahan organik dan bakteri yang merupakan sumber karbon (Jones et al. 2003).

Kandungan total bahan organik (BOT) di daerah lamun stasiun Tenggara dan Timur Laut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Stasiun Tenggara berkisar 1,75-7,33% sedangkan Timur Laut berkisar 2,67-5,98%. Begitu pula dengan kandungan nitrat dan ortofosfatnya menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan, dimana stasiun Tenggara memiliki nitrat dan ortofosfat berkisar 0,13-0,16 mg/kg dan 13,1-13,5 mg/kg sedangkan Timur Laut berkisar 0,12-0,14 mg/kg dan 12,3 mg/kg. Daerah tanpa lamun memiliki total bahan organik, nitrat dan ortofosfat yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah lamun. Total bahan organik daerah tanpa lamun berkisar 0,59-1,14%, nitrat dan ortofosfat berkisar 0,03-0,08 mg/kg dan 6,0-10,3 mg/kg. Nitrat dan ortofosfatnya menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan antara stasiun Tenggara dan Timur Laut.

Tipe substrat ditentukan oleh perbandingan kandungan pasir, liat, dan debu. Dilihat dari kedua stasiun, kandungan pasir dalam substrat lebih dominan dibanding debu dan liat. Stasiun Tenggara daerah lamun maupun daerah tanpa lamun mempunyai persen liat lebih tinggi dibanding Timur Laut. Sementara stasiun Timur Laut memiliki persen pasir dan debu yang lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun Tenggara. Hal ini disebabkan oleh ombak dan gelombang di stasiun Tenggara dan Timur Laut relatif tenang, sehingga masih memungkinkan partikel berukuran kecil seperti debu dan liat mengendap ke dasar perairan. Berdasarkan hasil pengukuran kecepatan arus di Tenggara dan Timur Laut berkisar 0,26-0,33 m/dtk dan 0,058-0,062 m/dtk. Kecepatan arus berpengaruh terhadap ukuran partikel yang mengendap. Sebagaimana pendapat van Duin et al. (2001) bahwa partikel pasir dapat mengendap pada kecepatan <0,2 m/dtk dan partikel-partikel yang berukuran lebih kecil dibanding pasir dapat mengendap pada kecepatan arus yang sangat rendah. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kecepatan arus di stasiun Tenggara dan Timur Laut.

(7)

Parameter fisika dan kimia substrat yang menunjukkan perbedaan yang signifikan antara stasiun Tenggara dan Timur Laut yaitu tekstur sedimen. Stasiun Tenggara memiliki persen liat yang tinggi sedangkan Timur Laut terdapat pasir dan debu yang tinggi.

4.3 Lamun

4.3.1 Persentase Komposisi Jenis Lamun

Berdasarkan hasil penelitian di perairan Pulau Barrang Lompo, didapatkan 5 jenis lamun yang berasal dari 2 famili, yaitu famili Potamogetonaceae, yang terdiri dari spesies Cymodocea serullata, Syringodium isoetifolium dan famili Hidrocaritaceae yang terdiri dari, Halophila minor, Halodule uninervis, dan Thalassia hemprichii. Hasil penelitian Kamri (2004) menemukan sekitar 6 spesies lamun di Selatan, 5 spesies di Barat dan 3 spesies di Utara. Ini menunjukkan bahwa lamun di Pulau Barrang Lompo termasuk tipe campuran. Banyaknya spesies lamun di pulau ini berbeda dengan survei yang telah dilakukan Erftemeijer dan Middelburg (1993) di Kepulauan Spermonde yang menemukan 11 spesies lamun. Campuran beberapa spesies lamun dalam suatu lokasi sering didapatkan di padang lamun Indonesia. Jenis-jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Jenis-jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian

No Jenis Stasiun

Tenggara Timur Laut

1 Thalassia hemprichii √ √

2 Syringodium isoetifolium √ √

3 Cymodocea serullata √ √

4 Halodule uninervis √ √

5 Halophila minor - √

Lamun stasiun Tenggara dan Timur Laut tumbuh baik dan saling berasosiasi, sehingga membentuk suatu padang lamun. Hal ini diduga karena kedua daerah tersebut berdekatan dengan ekosistem terumbu karang, sehingga padang lamun dapat terlindung dari hempasan ombak yang kuat, dan juga adanya suplai nutrien dari ekosistem terumbu karang di depannya.

(8)

Persentase komposisi jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 7. Stasiun Tenggara, jenis lamun yang memiliki komposisi terbesar adalah Thalassia hemprichii sebesar 42%, Syringodium isoetifolium sebesar 33% dan Cymodocea serullata sebesar 24%. Sementara Halodule uninervis memiliki persentase komposisi jenis yang rendah yakni 1%. Stasiun Timur Laut, jenis Sringodium isoetifolium dan Cymodocea serullata yang memiliki persentase komposisi jenis yang terbesar yakni sebesar 57% dan 32%. Jenis Thalassia hemprichii, Halophila minor dan Halodule uninervis memiliki persentase komposisi yang kecil yakni sebesar 6%, 5% dan 0%.

Lamun St Tenggara Lamun St Timur Laut

Gambar 7 Persentase komposisi jenis lamun di lokasi penelitian

Sringodium isoetifolium, Thalassia hemprichii dan Cymodocea serullata merupakan jenis lamun yang paling sering ditemukan di stasiun Tenggara dan Timur Laut. Hal ini disebabkan oleh ketiga jenis lamun tersebut memiliki daya tahan yang kuat terhadap berbagai gangguan seperti padatan tersuspensi. Sementara Halophila minor memiliki persentase jenis yang rendah dan tidak ditemukan di stasiun Tenggara. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh bentuk morfologinya yang sangat kecil dibandingkan dengan jenis yang lain, sehingga sulit diamati apalagi dalam kondisi padatan tersuspensi yang tinggi dalam perairan.

4.3.2 Kerapatan Jenis Lamun

Berdasarkan kisaran kerapatan lamun, stasiun Tenggara terdapat 3 jenis lamun yang memiliki kerapatan lamun yang tinggi yakni, jenis daun bertipe bulat

(9)

seperti lidi (Syringodium isoetifolium) berkisar 260-368 tegakan/m2, tipe daun berbentuk pita ukuran sedang (Cymodocea serrulata) berkisar 40-292 tegakan/m2 dan tipe daun berbentuk daun normal (Thalassia hemprichii) berkisar 36-580 tegakan/m2. Sementara kerapatan terendah adalah bertipe daun pita kecil (Halodule uninervis) berkisar 24 tegakan/m2. Stasiun Timur Laut ditemukan hanya 3 jenis lamun yang memiliki kerapatan jenis yang tinggi, yakni Syringodium isoetifolium berkisar 112-616 tegakan/m2 dan Cymodocea serrulata berkisar 112-280 tegakan/m2. Kerapatan terendah adalah Halodule uninervis sekitar 8 tegakan/m2. Jenis lamun bertipe daun bulat kecil (Halophila minor) hanya ditemukan di Timur Laut berkisar 200 tegakan/m2. Kerapatan jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian dapat dilihat Tabel 8.

Tabel 8 Kerapatan jenis lamun (tegakan/m2) di lokasi penelitian

Jenis Lamun

Stasiun Tenggara Stasiun Timur Laut Lamun

Tanpa

lamun Lamun

Tanpa lamun Kisaran Rerata Kisaran Rerata

Thalassia hemprichii 36-580 158 - 72-136 104 -

Syringodium isoetifolium 260-368 314 - 112-616 364 -

Cymodocea serullata 40-292 166 - 112-280 196 -

Halodule uninervis 24 24 - 8 8 -

Halophila minor - - - 200 200 -

Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa setiap jenis lamun memiliki kerapatan jenis yang berbeda-beda. Kerapatan jenis lamun per satuan luas sangat bervariasi tergantung kepada jenis lamun. Hal ini disebabkan oleh masing-masing spesies lamun memiliki tipe morfologi daun yang berbeda. Selain itu, disebabkan pula oleh tipe substrat yang berbeda. Stasiun Tenggara mempunyai tipe substrat pasir liat debu sementara Timur Laut memiliki tipe substrat pasir debu liat. Tipe substrat berperan dalam mengelolah nutrien dan kestabilan lamun di perairan. Sebagaimana menurut Kiswara (1997) bahwa kerapatan lamun juga dipengaruhi oleh kedalaman, kecerahan, dan tipe substrat.

(10)

4.3.3 Persentase Penutupan Lamun

Persen penutupan menggambarkan tingkat penutupan/penaungan ruang oleh lamun. Informasi mengenai penutupan sangat penting untuk mengetahui kondisi ekosistem secara keseluruhan serta sejauh mana lamun mampu memanfaatkan luasan yang ada. Nilai kerapatan saja belum tentu dapat menggambarkan tingkat penutupan suatu spesies karena nilai penutupan selain dipengaruhi oleh kerapatan juga sangat erat kaitannya dengan tipe morfologi spesiesnya. Persentase penutupan lamun yang ditemukan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9 Persen penutupan lamun (%) untuk seluruh jenis di lokasi penelitian

Jenis lamun

Stasiun Tenggara Stasiun Timur laut Lamun

Tanpa

lamun Lamun

Tanpa lamun Kisaran Rerata Kisaran Rerata

Thalassia hemprichii 1-75 38 - 4-17 10,5 -

Syringodium isoetifolium 8-29 18,5 - 2-60 31 -

Cymodocea serullata 3-17 10 - 11-69 40 -

Halodule uninervis 1 1 - 0,3 0,3 -

Halophila minor - - - 6 6 -

Persen penutupan di stasiun Tenggara, Thalassia hemprichii memiliki persen penutupan tertinggi yakni berkisar 1-75% dan penutupan terendah adalah Halodule uninervis yang berkisar 1%. Sementara di stasiun Timur Laut, Cymodocea serullata memiliki persen penutupan tertinggi yakni berkisar 11-69%, disusul Syringodium isoetifolium berkisar 2-60%, Thalassia hemprichii berkisar 4-17%. Persentase penutupan terendah adalah Halodule uninervis sebesar 0,3%. Persen penutupan yang diperoleh ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil yang diperoleh Kamri (2004), yang menemukan Thalassia hemprichii dengan persentase penutupan sekitar 70%, Cymodocea serullata sekitar 21,45%, Halodule uninervis sekitar 1,45%, dan Syringodium isoetifolium sekitar 0,06%. Hal ini disebabkan oleh perbedaan lokasi pengukuran.

Secara garis besar Tabel 9 menunjukkan bahwa persen penutupan di Tenggara lebih rendah dibandingkan dengan Timur Laut. Hal ini disebabkan

oleh partikel tersuspensinya (TSS) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Timur Laut. Padatan tersuspensi yang tinggi dapat menghalangi fotosintesis.

(11)

Sebagaimana pendapat Gruber (2010) bahwa cahaya dapat membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan lamun. Material tersuspensi yang melayang-layang dalam kolom air akan melekat pada helaian daun lamun, sehingga dapat menghalangi cahaya matahari yang digunakan untuk fotosintesis. Apabila proses fotosintesis terganggu dapat mengakibatkan pertumbuhan lamun menjadi terganggu. Hal ini didukung pula oleh tingginya liat yang ditemukan di Tenggara. 4.4 Laju Pemerangkap Partikel Tersuspensi

Laju pemerangkap partikel tersuspensi yang tertinggi dalam sediment trap terdapat di daerah lamun stasiun Tenggara yakni berkisar 2,37-4,57 mg/cm2/hari. Begitu pula dengan ortofosfatnya lebih tinggi di lamun stasiun Tenggara yakni berkisar 13,5-17,4 mg/l. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh persen liat di stasiun Tenggara lebih tinggi dibandingkan dengan Timur Laut, sehingga diduga terperangkap ke dalam sediment trap. Dari hasil pengukuran TSS diperoleh di stasiun Tenggara lebih tinggi (Tabel 5). Partikel tersuspensi yang terperangkap pada sediment trap di lokasi penelitian dapat dilihat di Tabel 10. Tabel 10 Partikel tersuspensi yang terperangkap pada sediment trap di lokasi

penelitian Parameter

Unit

Stasiun Tenggara Stasiun Timur Laut Lamun Tanpa

lamun

Lamun Tanpa lamun Partikel tersuspensi mg/cm2/hari 2,37-4,57 2,28-2,32 1,87-2,32 2,13-2,21

Rerata 3,5 2,3 2,10 2,2

Nitrat mg/kg 0,3-0,5 0,3-0,4 0,4-0,7 0,4-0,4

Rerata 0,4 0,4 0,55 0,4

Ortofosfat mg/kg 13,5-17,4 12,4-13,6 13,3-14,9 12,9-13,1

Rerata 15,5 13,0 14,10 13,0

Tingginya partikel tersuspensi yang terperangkap dalam sediment trap di lamun stasiun Tenggara, selain disebabkan oleh liatnya yang tinggi, juga didukung oleh bentuk topografinya yang membentuk cekungan, sehingga dengan tipe pasang surut Pulau Barrang Lompo yang semi diurnal (Lampiran 10), maka partikel-partikel tersuspensi lebih banyak mengendap. Sementara daerah tanpa lamun, partikel tersuspensi yang terperangkap dalam sediment trap tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara stasiun Tenggara dan Timur Laut.

(12)

Tabel 10 menunjukkan pula bahwa nitrat dan ortofosfat yang terperangkap di sediment trap memiliki perbedaan yang tidak signifikan antara daerah lamun dan tanpa lamun. Namun terdapat perbedaan yang signifikan antara nitrat dan ortofosfat di kolom air dan di substrat baik di stasiun Tenggara maupun Timur Laut (daerah lamun dan tanpa lamun). Nitrat dan ortofosfat yang terperangkap dalam sediment trap lebih tinggi dibandingkan dengan yang berada di kolom air dan di substrat. Nitrat dan ortofosfat yang berada di substrat dapat dilihat pada Tabel 6 dan yang berada di kolom air di Tabel 5. Hal ini diduga karena nitrat dan ortofosfat yang terperangkap di sediment trap belum banyak dimanfaatkan oleh organisme karena terlindung oleh tabung pemerangkap. Sementara yang berada di kolom air dan substrat telah banyak dimanfaatkan oleh organisme.

Jadi laju partikel tersuspensi yang terperangkap dalam sediment trap di Pulau Barrang Lompo bagian Tenggara dan Timur Laut berkisar 1,87-4,57 mg/cm2/hari. Jumlah ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan data pengukuran tahun 2004 yang memperoleh laju partikel tersuspensi sekitar 0,5-3,0 mg/cm2/hari. Ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan laju pemerangkap partikel tersuspensi di Pulau Barrang Lompo.

4.5 Struktur Komunitas Makrozoobentos

4.5.1 Persentase Komposisi dan Kelimpahan Makrozoobentos

Hasil identifikasi jenis makrozoobentos yang ditemukan di Pulau Barrang Lompo berjumlah 70 genera yang terdiri atas 53 famili, 7 kelas dan 4 filum. Dari ke-70 genera tersebut, 46 genera berasal dari kelas Gastropoda, 2 genera dari kelas Skaphopoda, 16 genera dari kelas Bivalvia, 1 genera dari kelas Polikhaeta, 2 genera dari kelas Asteroidea, 2 genera dari kelas Ekhinoidea serta 1 genera dari kelas Malakostraka.

Berdasarkan Gambar 8 terlihat bahwa di daerah lamun komposisi kelas Gastropoda paling sering ditemukan baik di stasiun Tenggara dan Timur Laut yakni sebesar 68% dan 74 %. Disusul kelas Bivalvia sebesar 17% dan 19%, kelas Skaphopoda sebesar 6% dan 7%. Kelas makrozoobentos yang paling jarang ditemukan adalah kelas Asteroidea dan Polikhaeta untuk stasiun Tenggara sedangkan Timur Laut adalah kelas Ekhinoidea, Asteroidea dan Krustasea.

(13)

Banyaknya kelas Gastropoda yang ditemukan di daerah lamun disebabkan oleh daerah lamun banyak memiliki bahan organik. Bahan organik berupa detritus berasal dari plankton dan tumbuhan lamun yang mati, bakteri, dan bahan organik lain yang terakumulasi dalam sedimen atau terkubur/terjebak di sela-sela butiran pasir dan lumpur. Detritus tersebut dimanfaatkan oleh organisme detritus feeder sebagai bahan makanan utama. Gastropoda umumnya pemakan detritus/deposit (detritivores/deposit feeder).

Bahan organik di daerah lamun lebih tinggi dibandingkan dengan daerah tanpa lamun. Bahan organik yang ditemukan di lamun (stasiun Tenggara dan Timur Laut) sekitar 4,3-4,5%. Tingginya Gastropoda di daerah lamun ditemukan pula oleh Klumpp et al. (1992). Ia menemukan sekitar 20-60% biomassa epifit di padang lamun Filipina dimanfaatkan oleh komunitas epifauna yang didominasi oleh Gastropoda.

Lamun (Stasiun Tenggara)

Tanpa Lamun (Stasiun Tenggara)

Lamun (Stasiun Timur Laut)

Tanpa Lamun (Stasiun Timur Laut)

(14)

Selain itu, di daerah lamun guguran daun-daunnya tidak seluruhnya menjadi detritus, tetapi ada juga yang menjadi bahan organik terlarut, yang kemudian dimanfaatkan oleh fitoplankton. Fitoplankton dimakan oleh zooplankton sebagai konsumen tingkat pertama, yang selanjutnya dimakan oleh ikan sedang, dan pada akhirnya transpor energi dan materi akan masuk ke dalam rantai makanan detritus.

Daerah tanpa lamun banyak ditemukan kelas Bivalvia baik di stasiun Tenggara maupun Timur Laut yakni berkisar 35% dan 69%. Hal ini disebabkan oleh bahan organik yang ditemukan di daerah lamun sangat rendah. Bahan organik di daerah tanpa lamun berkisar 0,8-1,04%. Bahan organik di daerah tanpa lamun hanya berasal dari partikel tersuspensi di kolom air yang terbawa oleh arus atau ombak. Bivalvia termasuk filter feeder, yaitu menyaring makanan di kolom air.

Komposisi terkecil makrozoobenthos adalah dari kelas Krustasea. Hal ini disebabkan oleh organisme dari kelas Krustasea yang mobile, menyebabkan organisme dari kelas ini berpindah-pindah untuk mencari makan, mengingat organisme dari kelas ini merupakan kelompok organisme pemakan bahan-bahan suspensi yang berasal dari plankton dan bahan organik lainnya yang terbawa oleh arus dan gelombang, sehingga membutuhkan pergerakan aktif dalam mencari makanan (Nybakken 1992).

Di daerah lamun dan daerah tanpa lamun ada beberapa spesies yang ditemukan paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan spesies lainnya. Spesies kelas Gastropoda yang paling banyak ditemukan di lamun stasiun Tenggara ada 5 spesies yaitu Viriola sp berjumlah 145 individu, Mitra pelliserpentis-pelliserpentis dan Turbo coomansis masing-masing berjumlah 102 individu, Siphonaria javanica berjumlah 94 individu, Atys cylindricus berjumlah 77 individu. Sementara yang berasal dari kelas Bivalvia ada 3 spesies yakni Placemen calophylum berjumlah 85 individu, Condakia tigerina dan Tellina radiata masing-masing berjumlah 60 individu. Kelas Skaphopoda ada 1 spesies yaitu Dentalium longitosum berjumlah 119 individu. Kelas Asteroidea ada 1 spesies yakni Linckia laevigata berjumlah 26 individu. Kelas Ekhinoidea ada 1 spesies yaitu Diadema sitosum berjumlah 68 individu.

(15)

Daerah lamun stasiun Timur Laut, kelas Gastropoda yang paling banyak ditemukan ada 3 spesies yaitu Cerithium balteatum berjumlah 77 individu, Nerita insculpta dan Atys cylindricus masing-masing berjumlah 60 individu. Kelas Bivalvia ada 2 spesies yakni Condakia tigerina berjumlah 70 individu, Condakia punctata berjumlah 60 individu. Kelas Skaphopoda ada 1 spesies yaitu Dentalium logitosum berjumlah 85 individu. Kelas Asteroidea tidak ditemukan. Kelas Ekhinoidea ada 1 spesies yaitu Diadema sitosum sebanyak 9 individu. Kelimpahan kelas makrozoobentos yang ditemukan di lokasi penelitian dapat dilihat Tabel 11.

Tabel 11 Kelimpahan berdasarkan kelas makrozoobentos (ind/m2) di lokasi penelitian

Parameter Stasiun Tenggara Stasiun Timur Laut Lamun Tanpa Lamun Lamun Tanpa Lamun

Gastropoda 239-604 34-68 230-451 17-43 Rerata 422 51 341 30 Skaphopoda 26-51 - 17-51 - Rerata 39 34 Bivalvia 43-204 34 26-119 68 Rerata 124 34 73 68 Polikhaeta 9-34 - 9-17 - Rerata 22 13 Asteroidae 9-17 - - - Rerata 13 Ekhinoidae 9-43 9 9 - Rerata 26 9 9 Krustasea 9-26 - - - Rerata 18

Daerah tanpa lamun stasiun Tenggara, kelas Gastropoda yang paling banyak ditemukan ada 1 spesies yaitu Conus (Asprella) sulcatus berjumlah 17 individu. Kelas Bivalvia ada 2 spesies yaitu Condakia punctata sebanyak 26 individu dan Dosinia fibula sebanyak 17 individu. Kelas Skaphopoda tidak ditemukan. Kelas Polikhaeta ada 1 spesies yaitu Nereis diversicolor berjumlah 51 individu. Kelas Asteroidea ada 2 spesies yaitu Linckia Laevigata dan Asterias astrubs masing-masing berjumlah 9 individu. Kelas Ekhinoidea ada 1 spesies yaitu Diadema sitosum berjumlah 17 individu.

(16)

Kelas Gastropoda di daerah tanpa lamun stasiun Timur Laut, tidak ditemukan spesies yang lebih banyak. Masing-masing spesies berjumlah hampir sama yakni sekitar 9 individu. Kelas Bivalvia yang paling banyak ditemukan ada 1 spesies yakni Tellina radiata berjumlah 26 individu. Kelas Polikhaeta ada 1 spesies yakni Nereis diversicolor berjumlah 45 individu. Kelas Polikhaeta dan Ekhinoidea tidak ditemukan.

4.5.2 Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, Dominansi dan Pola Sebaran Indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi spesies merupakan kajian indeks yang sering digunakan untuk menduga kondisi suatu perairan berdasarkan komposisi biologi. Keanekaragaman merupakan sifat komunitas yang ditentukan oleh banyaknya jenis serta kemerataan kelimpahan individu tiap jenis yang diperoleh (Odum 1993). Tabel 12 menunjukkan indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dominansi (C) dan pola sebaran (Id) makrozoobentos yang ditemukan di lokasi penelitian.

Tabel 12 Nilai indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dominasi (C) dan pola sebaran (Id) di lokasi penelitian

Parameter Tenggara Timur Laut

Lamun Tidak ada

lamun Lamun Tidak ada lamun Keanekaragaman (H’) 3,44-3,74 2,27-2,46 3,28-3,86 2,16-2,35 Rerata 3,59 2,37 3,57 2,26 Keseragaman (E) 0,95-0,98 0,99-0,99 0,96-0,99 0,98-0,99 Rerata 0,97 0,99 0,98 0,99 Dominansi (C) 0,03-0,04 0,09-0,11 0,02-0,04 0,10-0,12 Rerata 0,04 0,1 0,03 0,11

Pola sebaran (Id) 0,03-0,06 0,04-0,05 0,01-0,07 0,07-0,08

Rerata 0,05 0,05 0,04 0,08

Tabel 12 dapat dilihat bahwa indeks keanekaragaman di daerah lamun lebih tinggi dibandingkan dengan daerah tanpa lamun. Hal ini disebabkan oleh jumlah spesies yang ditemukan di daerah lamun lebih banyak dibandingkan dengan daerah tanpa lamun. Daerah lamun jumlah spesies yang ditemukan sekitar 111

(17)

spesies sementara daerah tanpa lamun sekitar 31 spesies. Tingginya jumlah spesies di daerah lamun disebabkan oleh banyaknya bahan organik dan ortofosfat yang ditemukan dalam substrat. Di daerah lamun (stasiun Tenggara dan Timur Laut) total bahan organik yang ditemukan sekitar 4,3-4,5% dan ortofosfat sekitar 12,5-13,5 mg/kg. Sementara daerah tanpa lamun total bahan organiknya hanya sekitar 0,8-1,04% dan ortofosfat sekitar 6,0-10,3 mg/kg.

Indeks keseragaman makrozoobentos di daerah lamun maupun daerah tanpa lamun menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan. Indeks keseragamannya cenderung mendekati nilai 1. Ini menunjukkan bahwa di daerah lamun maupun daerah tanpa lamun memiliki kemerataan jumlah individu untuk setiap jenis yang ditemukan.

Indeks dominansi makrozoobentos daerah lamun maupun tanpa lamun menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan. Nilai indeks dominansinya termasuk rendah, dimana nilai indeks dominansinya cenderung mendekati nilai 0, berarti tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya. Sementara berdasarkan perhitungan indeks penyebaran makrozoobentos menunjukkan nilai yang kurang dari 1. Ini menunjukkan bahwa pola penyebarannya merata/seragam. Seragam disini dapat diartikan sebagai seragam dengan pola sebaran acak, yakni didalam sebaran jenis yang acak terdapat jenis-jenis yang seragam sebarannya.

Jadi yang membedakan daerah lamun dan tanpa lamun (stasiun Tenggara dan Timur Laut) yaitu keanekaragaman dan kelimpahan makrozoobentos, dimana daerah lamun memiliki keanekaragaman dan kelimpahan yang tinggi sedangkan daerah tanpa lamun memiliki keanekaragaman dan kelimpahan yang rendah. Sementara indeks keseragaman dan dominansi serta pola penyebarannya cenderung sama antara daerah lamun dan daerah tanpa lamun.

4.6 Keterkaitan Faktor Lingkungan dengan Lamun dan Makrozoobentos Berdasarkan analisis deskriptif antar stasiun (stasiun Tenggara dan Timur Laut) daerah lamun dan tanpa lamun diperoleh bahwa kelimpahan makrozoobentos lebih tinggi di daerah lamun dibandingkan dengan daerah tanpa lamun. Begitupula total bahan organiknya lebih tinggi ditemukan di daerah lamun

(18)

dibandingkan dengan daerah tanpa lamun. Sementara untuk melihat keterkaitan antara kerapatan lamun, total bahan organik dan kelimpahan makrozoobentos dalam substasiun (stasiun Tenggara dan Timur Laut) digunakan analisis PCA. Stasiun Tenggara dan Timur Laut terdiri atas daerah lamun dan daerah tanpa lamun. Daerah lamun (stasiun Tenggara) terdiri atas lima substasiun yaitu A1, A2, A3, A4 dan A5, sedangkan daerah tanpa lamun terdiri atas C1 dan C2. Daerah lamun (stasiun Timur Laut) terdiri atas substasiun B1, B2, B3, B4 dan B5, sedangkan daerah tanpa lamun terdiri atas substasiun D1 dan D2.

Parameter yang digunakan dalam analisis PCA adalah kelimpahan makrozoobentos (KM), kerapatan lamun (KL), persen penutupan (PP), total bahan organik (BO), C-organik (CO), nitrat (NI), ortofosfat (OF), pasir (PA), Liat (LI), debu (DE), dan pH (pH). Parameter-parameter tersebut diintegrasikan, sehingga akan diperoleh nilai matriks hubungan antar parameter, akar cirri, dan nilai kumulatif ragam. Berdasarkan hasil PCA, diperoleh total informasi yang diberikan sebesar 75,15%. Komponen utama pertama (F1) dengan nilai akar ciri (eigenvalue) sebesar 6,098 dapat menjelaskan informasi yang ada sebesar 55,435%. Komponen utama kedua (F2) sebesar 2,169 dapat menjelaskan informasi yang ada sebesar 19,716%. Komponen utama pertama (F1) terdiri atas kelimpahan makrozoobentos, kerapatan lamun, persen penutupan, total bahan organik, C-organik, nitrat, ortofosfat. Komponen utama kedua (F2) terdiri atas pasir dan liat.

Analisis komponen utama korelasi antara lamun, makrozoobentos dan sedimen (Gambar 9) bila ditampilkan dengan sebaran substasiun (Gambar 10) maka diperoleh 4 bagian, yang menjelaskan kedekatan/penciri antar substasiun. Bagian pertama terdiri atas substasiun A1, A2, B1 dan B3 yang memiliki penciri kerapatan lamun yang tinggi, kelimpahan makrozoobentos yang tinggi, total bahan organik yang tinggi dan C-organik yang tinggi. Bagian kedua terdiri atas substasiun B2, B4 dan B5 yang dicirikan oleh pasir yang tinggi dan liat yang rendah. Bagian ketiga terdiri atas substasiun A3, A4 dan A5 yang dicirikan oleh debu yang rendah dan kerapatan lamun yang rendah. Bagian ketiga terdiri substasiun C1, C2, D1 dan D2 yang dicirikan oleh kelimpahan makrozoobentos yang rendah, total bahan organik yang rendah, C-organik yang rendah, nitrat dan

(19)

ortofosfat yang rendah. Grafik Analisis Komponen Utama (PCA) korelasi antara lamun, makrozoobentos dan sedimen dapat dilihat pada Gambar 9 sedangkan sebaran substasiun di sumbu 1 dan sumbu 2 (F1 dan F2) dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 9 Grafik Analisis Komponen Utama (PCA) korelasi antara lamun, makrozoobentos dan sedimen

Gambar 10 Sebaran substasiun di sumbu 1 dan sumbu 2 (F1xF2)

Hasil analisis korelasi PCA menunjukkan bahwa variabel kerapatan lamun mempunyai korelasi positif yang kuat dengan total bahan organik sebesar 0,88. Hal ini menunjukkan bahwa kerapatan lamun yang tinggi dapat mempengaruhi tingginya total bahan organik dan sebaliknya. Ini ditunjukkan oleh substasiun A1,

A1 A2 A3 A4 A5 C1 C2 B1 B2 B3 B4 B5 D1 D2 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 F2 (19,72 %) F1 (55,43 %)

(20)

B3, B1 dan A2 yang memiliki kerapatan lamun yang tinggi ternyata memiliki kandungan organik yang tinggi pula. Substasiun A1 (964 tegakan/m2) memiliki kandungan bahan organik sebesar 7,33%, B3 (844 tegakan/m2) dengan bahan organik sebesar 5,25%, B1 (756 tegakan/m2) dengan bahan organik sebesar 5,98%, dan A2 (496 tegakan/m2) dengan bahan organik sebesar 4,50%. Sementara lamun yang memiliki kerapatan yang rendah di substasiun A3, A4 dan A5 memiliki kandungan bahan organik yang rendah. Substasiun A3 (128 tegakan/m2) dengan bahan organik sebesar 2,83%, A4 (292 tegakan/m2) dengan bahan organik sebesar 2,25%, dan A5 (36 tegakan/m2) mempunyai bahan organik sebesar 1,75%. Pengaruh kerapatan lamun dengan bahan organik dapat pula dilihat pada Gambar 11a. Dalam gambar tersebut terlihat bahwa beberapa substasiun yang memiliki kerapatan lamun yang tinggi terdapat total bahan organik yang tinggi. Sementara substasiun tanpa lamun terjadi penurunan drastis total bahan organik. Total bahan organik daerah tanpa lamun yakni substasiun C1 memiliki kandungan bahan organik sebesar 1,14 %, C2 sebesar 0,94%, D1 sebesar 0,96 dan D2 sebesar 0,59%.

Variabel kerapatan lamun mempengaruhi keberadaan bahan organik di substrat. Hal ini disebabkan oleh lamun yang memiliki kerapatan yang tinggi mempunyai biomassa dan produktivitas daun yang tinggi. Sebagaimana pendapat (vonk Arie et al. 2008) bahwa semakin tinggi kerapatan tunas maka semakin tinggi pula biomassa dan produktivitas daunnya dibandingkan dengan kerapatan tunas yang rendah (jarang). Selain itu, lamun yang memiliki kerapatan yang tinggi dapat membuat perairan menjadi tenang, sehingga partikel tersuspensi di kolom air dapat mengendap ke dasar. Lamun yang memiliki kerapatan yang tinggi dapat pula mengurangi resuspensi di perairan. Akar dan rhizoma lamun dapat mencengkeram sedimen di dasar perairan, sehingga meminimalkan sedimen tersebut naik ke kolom air. Sebagaimana pendapat Gacia dan Duarte (2001) bahwa lamun dapat mengurangi resuspensi sekitar 85-95% di perairan. Hubungan kerapatan lamun, total bahan organik dan kelimpahan makrozoobentos dapat dilihat di Gambar 11a, 11b, dan 11c.

(21)

Gambar 11 (a) Hubungan kerapatan lamun dan total bahan organik

(b) Hubungan kerapatan lamun dan kelimpahan makrozoobentos (c) Hubungan total bahan organik dan kelimpahan makrozoobentos

0 2 4 6 8 0 500 1000 1500 A1 A2 A3 A4 A5 C1 C2 B1 B2 B3 B4 B5 D1 D2 T otal bah an o rg an ik ( % ) Ker ap atan lam un (teg ak an /m 2) Substasiun

Kerapatan Lamun Bahan Organik

0 500 1000 0 500 1000 1500 A1 A2 A3 A4 A5 C1 C2 B1 B2 B3 B4 B5 D1 D2 Keli m pah an m ak ro zo ob en to s( in d/m 2) Ker ap atan lam un (teg ak an /m 2) Substasiun

Kerapatan Lamun Kelimpahan Makrozoobentos

0 500 1000 0 2 4 6 8 A1 A2 A3 A4 A5 C1 C2 B1 B2 B3 B4 B5 D1 D2 Kelim pah an m ak ro zo ob en to s (in d/m 2) T ota l B ah an O rg an ik (% ) Substasiun

(22)

Lamun yang memiliki kerapatan yang tinggi terdiri atas Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium dan Cymodocea serullata. Sementara lamun yang memiliki kerapatan rendah terdiri atas Halodule uninervis. Thalassia hemprichii dan Cymodocea serullata memiliki daun yang panjang dan lebar sementara Syringodium isoetifolium memiliki bentuk daun bulat seperti lidi dan daunnya tumbuh sangat rapat. Kerapatan lamun per satuan luas sangat bervariasi tergantung jenisnya. Karena masing-masing jenis lamun memiliki tipe morfologi daun yang berbeda.

Berdasarkan analisis PCA, diperoleh variabel kerapatan lamun memiliki korelasi positif yang kuat dengan kelimpahan makrozoobentos sebesar 0,72. Dalam bentuk gambar grafik hubungan kerapatan lamun dengan kelimpahan makrozoobentos dapat dilihat pada Gambar 11b. Substasiun A1, B1, B3 dan A2 yang memiliki kerapatan yang tinggi ternyata memiliki makrozoobentos yang memiliki kelimpahan yang tinggi. Sebaliknya, substasiun yang memiliki kerapatan yang rendah di substasiun A3, A4 dan A5 terdapat makrozoobentos yang memiliki kelimpahan yang rendah. Bahkan terjadi penurunan yang drastis terhadap kelimpahan makrozoobentos pada substasiun tanpa lamun (C1, C2, D1 dan D2). Ini menunjukkan bahwa kerapatan lamun mempengaruhi kelimpahan makrozoobentos di substrat. Hal ini disebabkan oleh lamun menjadi habitat hidup, tempat berlindung dan mencari makan makrozoobentos. Apabila kerapatan lamunnya tinggi, makrozoobentos dapat terlindung dari pemangsaan organisme lain, dari panas matahari, dan dari arus serta ombak yang kuat. Sementara lamun yang memiliki kerapatan rendah atau tanpa lamun, kurang melindungi makrozoobentos dari pemangsaan serta kemampuan untuk mengurangi gerakan air sangat rendah, sehingga dapat menghanyutkan makrozoobentos.

Total bahan organik yang tinggi di substrat dapat menaikkan kelimpahan makrozoobentos. Total bahan organik mempunyai korelasi yang kuat positif dengan kelimpahan makrozoobentos sebesar 0,84. Gambar grafik hubungan total bahan organik dengan kelimpahan makrozoobentos dapat dilihat pada Gambar 11c. Ternyata substasiun yang memiliki total bahan organik yang tinggi, ditemukan makrozoobentos yang melimpah seperti di substasiun A1, B3, B1 dan A2. Substasiun A1, A3, B1 dan A2 ini memiliki pula kerapatan yang tinggi. Jadi

(23)

kerapatan yang tinggi tak lepas dari tingginya kandungan total bahan organik yang dimiliki. Dengan tingginya kerapatan lamun dan bahan organik dapat memicu tingginya kelimpahan makrozoobentos di substrat. Jadi ada keterkaitan positif yang erat antara kerapatan lamun, bahan organik dan kelimpahan makrozoobentos.

Gambar

Tabel 5 menyajikan hasil pengukuran parameter fisika dan kimia kolom air  di  Pulau Barrang  Lompo
Tabel 6  Parameter kimia substrat di lokasi penelitian  Parameter
Gambar 7  Persentase komposisi jenis lamun di lokasi penelitian
Tabel 9  Persen penutupan lamun  (%)  untuk seluruh jenis di lokasi penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

SP2D,upload data kas harian, dan grafik keuangan. Didalam tambah topik survei terdapat textfield untuk menunjukkan nama file yang akan di upload. Dan disebelahnya terdapat

Berdasarkan hasil temuan menggunakan analisis isi dan hasil perhitungan frequensi didapatkan kesimpulan bahwa republika .co.id sebagai media online yang juga representasi

Besarnya nilai Adjusted R 2 adalah 0.632 yang berarti variasi variabel kepuasan masyarakat di Kelurahan Gedawang Kecamatan Banyumanik Kota Semarang dapat

Laporan akhir ini berjudul “Rancang Bangun Pendeteksi Kelayakan Air Minum dan Pengisian Ke Dalam Gelas Secara Otomatis Pada Dispenser”.. Tujuannya adalah untuk

Menurut Hurlock (2005), pengetahuan yang kurang baik terhadap menstruasi yang selalu kuat pada remaja putri akan terus berlangsung sepanjang hidup, akibatnya,

Definisi lain mengenai citra merupakan manifestasi dari pengalaman dan harapan sehingga ia mampu memengaruhi kepuasan konsumen akan suatu barang atau jasa

Dengan menggunakan ODE, pengguna dapat memasukkan parameter-parameter seperti massa, titik berat, posisi, orientasi, tensor inersia, friksi, join, dan sebagainya untuk

I-2 : Citra CP Prima yang sedang menurun memang membutuhkan proses atau waktu yang tidak singkat untuk mengembalikannya seperti sebelumnya tetapi saya sangat yakin bahwa