• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian bank mengalami perubahan dari satu periode ke periode

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian bank mengalami perubahan dari satu periode ke periode"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Bank

Pengertian bank mengalami perubahan dari satu periode ke periode berikutnya, karena adanya perubahan fungsi bank. Pada awalnya, bank diartikan sebagai lembaga yang usaha pokoknya memberikan kredit jasa dalam lalu lintas pembayaran serta dalam peredaran uang (Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967). Dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang dikutip oleh Malayu S.P. Hasibuan (2008:1), bank diartikan sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.

Menurut Kasmir (2000:2) menyatakan bahwa bank adalah lembaga keuangan yang memberikan jasa keuangan yang paling lengkap. Usaha keuangan yang dilakukan di samping menyalurkan dana atau memberikan pinjaman (kredit) juga melakukan usaha menghimpun dana dari masyarakat luas dalam bentuk simpanan.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bank adalah badan usaha yang memberikan jasa keuangan yang paling lengkap yaitu menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.

(2)

2.1.2 Fungsi Bank

Lembaga keuangan sebagai badan yang bergerak dalam bidang keuangan mempunyai beberapa fungsi bank. Menurut Kasmir (2000:25) menyebutkan fungsi bank di antaranya adalah:

1) Sebagai lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat seperti:

(1) Tabungan (saving) adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu.

(2) Deposito (time deposit) adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu menurut perjanjian antara pihak ketiga dengan pihak bank.

(3) Giro adalah simpanan pihak ketiga dari bank yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, surat perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahan buku.

2) Sebagai lembaga yang menyalurkan dana dari masyarakat dalam bentuk kredit atau sebagai lembaga pemberi kredit, dalam fungsi ini bank akan memanfaatkan dana yang terkumpul tersebut dengan menyalurkan kepada pihak lain yang membutuhkan kredit atau membeli surat-surat berharga yang menghasilkan tingkat bunga.

3) Sebagai perantara dalam lalu lintas pembayaran bank bertindak sebagai penghubung atau perantara antara nasabah yang satu dengan yang lainnya.

Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Perbankan pasal 1 yang dikutip oleh Malayu S.P. Hasibuan (2008:4); Bank adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya adalah memberikan kredit dan jasa-jasa

(3)

lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Dari Undang-Undang tersebut disimpulkan bahwa usaha pokok bank adalah:

1) Sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana dari pihak ketiga dalam hal ini adalah masyarakat.

2) Sebagai lembaga perantara untuk menyalurkan penawaran dan permintaan kredit.

3) Sebagai lembaga yang melancarkan transaksi perdagangan dan pembayaran uang atau memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran.

Jadi bank mempunyai tiga (3) fungsi pokok yang amat berkaitan dengan kegiatan uang dan kesemuanya itu digunakan untuk melancarkan seluruh aktivitas keuangan masyarakat.

2.1.3 Jenis-jenis Bank

Menurut Kasmir (2005:32) jenis perbankan dewasa ini dapat ditinjau dari berbagai segi antara lain:

1) Dilihat dari Segi Fungsinya

Menurut Undang-undang Pokok Perbankan Nomor 14 Tahun 1967 jenis perbankan menurut fungsinya terdiri dari:

(1) Bank Umum

(2) Bank Pembangunan (3) Bank Tabungan (4) Bank Pasar (5) Bank Desa

(4)

(6) Lumbung Desa

(7) Bank Pegawai dan bank lainnya.

Namun setelah keluar UU Pokok Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 dan ditegaskan lagi dengan keluarnya Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 1998 maka jenis perbankan terdiri dari:

(1) Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

(2) Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

2) Dilihat dari Segi kepemilikannya

Jenis bank dilihat dari segi kepemilikannya adalah: (1) Bank milik pemerintah

Dimana baik akta pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank ini dimiliki oleh pemerintah pula. Contoh bank milik pemerintah antara lain:

a) Bank Negara Indonesia 46 (BNI) b) Bank Rakyat Indonesia (BRI) c) Bank Tabungan Negara (BTN)

Sedangkan bank milik Pemerintah Daerah (Pemda) terdapat di daerah tingkat I dan tingkat II masing-masing provinsi. Sebagai contoh: BPD Bali.

(5)

a) Bank milik swasta nasional

Bank jenis ini seluruh atau sebagian besarnya dimiliki oleh swasta nasional serta akte pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya untuk keuntungan swasta pula.

Contoh bank milik swasta nasional antara lain: (a) Bank Muamalat

(b) Bank Central Asia (c) Bank Niaga (d) Bank Lippo b) Bank milik koperasi

Kepemilikan saham-saham bank ini dimiliki oleh perusahaan yang berbadan hukum koperasi. Sebagai contoh adalah Bank Umum Koperasi Indonesia.

c) Bank milik asing

Bank jenis ini merupakan cabang dari bank-bank yang ada di luar negeri, bank milik swasta asing atau pemerintah asing. Jenis kepemilikannya pun dimiliki oleh pihak luar negeri. Contoh bank asing antara lain :

(a) ABN AMRO Bank (b) City Bank

d) Bank milik campuran

Kepemilikan saham bank campuran dimiliki oleh pihak asing dan pihak swasta nasional. Kepemilikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh warga negara Indonesia. Contoh bank campuran antara lain :

(6)

(a) Bank Finconesia

(b) Bank Sakura Swadarma 3) Dilihat dari Segi Status

Dilihat dari segi kemampuannya dalam melayani masyarakat maka bank umum dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. Pembagian jenis ini disebut juga pembagian berdasarkan kedudukan atau status bank tersebut.

Status bank yang dimaksud adalah: (1) Bank devisa

Merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, misalnya transfer keluar negeri, inkaso keluar negeri.

(2) Bank non devisa

Merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi seperti halnya bank devisa. Jadi bank devisa dapat melakukan transaksi dalam batas-batas negara.

4) Dilihat dari Segi Cara Menentukan Harga

Jenis bank jika dilihat dari segi atau caranya dalam menentukan harga baik harga jual maupun harga beli terbagi dua kelompok yaitu:

(1) Bank yang berdasarkan prinsip konvensional

Mayoritas bank yang berkembang dewasa ini adalah bank yang berorientasi pada prinsip konvensional. Dalam mencari keuntungan dan

(7)

menentukan harga kepada nasabahnya, bank yang berdasarkan prinsip konvensional menggunakan dua metode yaitu:

a) Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan seperti giro, tabungan maupun deposito. Demikian pula harga untuk produk pinjamannya juga ditentukan berdasarkan tingkat suku bunga tertentu. b) Untuk jasa-jasa bank lainnya pihak perbankan dapat menggunakan

atau menerapkan berbagai biaya-biaya dalam nominal atau prosentase tertentu.

(2) Bank yang berdasarkan prinsip syariah

Bank berdasarkan prinsip syariah belum lama berkembang di Indonesia. Namun di luar negeri terutama di negara-negara Timur Tengah bank yang berdasarkan prinsip syariah sudah berkembang pesat sejak lama.

2.1.4 Pengertian Laporan Keuangan

Menurut Keiso dan Weygant (2002:6), laporan keuangan merupakan sarana utama melalui informasi keuangan dikomunikasikan kepada pihak di luar perusahaan. Laporan ini memberikan suatu sejarah yang berkesinambungan yang dikuantifikasikan dalam satuan uang berkenaan dengan sumber daya ekonomi dan aktivitas ekonomi serta kewajiban dari suatu perusahaan bisnis yang mengubah sumber daya dan kewajiban. Selain Kieso dan Weygant, Harahap (2007:201) mengatakan bahwa Laporan Keuangan merupakan output dan hasil akhir dari proses akuntansi yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam pengambilan keputusan.

(8)

Dari pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan perusahaan sangat diperlukan bagi para pemakai laporan keuangan baik pihak intern maupun pihak ekstern yang berkepentingan terhadap informasi perusahaan. Untuk itu informasi yang disajikan dalam laporan keuangan perusahaan harus benar-benar dapat dimengerti dan membantu para pemakai laporan. Laporan keuangan yang baik harus memenuhi karakteristik kualitatif dari laporan keuangan.

2.1.5 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Ikatan Akuntan Indonesia dalam kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Paragraf 24-42 (2004) menyatakan bahwa karakteristik kualitatif laporan keuangan berguna bagi pemakai. Terdapat empat karakteristik kualitatif pokok, yaitu:

1) Dapat Dipahami

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai. Untuk maksud ini, pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dipahami oleh pemakai tertentu.

(9)

2) Relevan

Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi kualitas ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan atau mengkoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Relevansi informasi dipengaruhi oleh hakekat dan materialitasnya. Informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan keuangan.

3) Keandalan

Agar bermanfaat, informasi juga harus handal (reliable). Informasi memiliki kualitas handal jika bebas dari pengertian menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakaiannya sebagai penyaji yang tulus atau jujur (faithful representation) dari seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka peristiwa tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya untuk hukumnya. Hal lain yang harus terkandung dalam keandalan laporan keuangan adalah menyangkut netralitas, pertimbangan, sehat, dan kelengkapan.

(10)

4) Dapat dibandingkan

Pemakaian harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. Implikasi penting dan karakteristik kuantitatif dapat diperbandingkan adalah bahwa pemakai harus mendapat informasi tentang kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan perubahan kebijakan serta pengaruh kebijakan tersebut. Berhubung pemakai ingin membandingkan posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan antar periode, maka perusahaan perlu menyajikan informasi periode sebelumnya dalam laporan keuangan.

2.1.6 Tujuan Laporan Keuangan

Ikatan Akuntan Indonesia dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (2001:II.1) menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, perubahan ekuitas, arus kas, dan informasi lainnya yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas pengguna sumber daya yang dipercaya kepada mereka. Sedangkan Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Paragraf 12 (2004:4) menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

(11)

2.1.7 Pemakai Laporan Keuangan

Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan, Kerangka Dasar Penyusun dan Penyajian Laporan Keuangan, Paragraf 09 (2004:2) menyatakan bahwa pemakai laporan keuangan adalah:

1) Investor dan Calon Investor

Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut.

2) Karyawan

Karyawan membutuhkan informasi mengenai stabilitas dan profitabilitasnya perusahaan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat, pensiunan, dan kesempatan kerja.

3) Pemberian Pinjaman

Pemberi pinjaman memerlukan informasi untuk menilai kemampuan perusahaan mengembalikan utang dan bunga pada saat jatuh tempo.

4) Pemasok dan Kreditur Usaha lainnya

Pemasok dan kreditur usaha lainnya tertarik dengan informasi mengenai mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar pada saat jatuh tempo.

5) Pelanggan

Pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan terutama jika mereka terlibat perjanjian jangka panjang dengan perusahaan atau tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.

(12)

6) Pemerintah

Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumber-sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.

7) Masyarakat

Masyarakat berkepentingan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menyerap tenaga kerja, menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemampuan perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.

Ikatan Akuntan Indonesia dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (2001) menyatakan Laporan Keuangan Perbankan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang rasional. Oleh karena itu, informasinya harus dapat dipahami oleh pelaku bisnis dan ekonomi serta pihak-pihak lain yang berkepentingan meliputi deposan, kreditur, pemegang saham, otoritas pengawas, Bank Indonesia, pemerintah, lembaga penjamin simpanan, dan masyarakat.

2.1.8 Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan adalah salah satu cara pemrosesan dan penginterpretasian informasi akuntansi yang dinyatakan dalam artian relatif atau absolute untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan

(13)

angka yang lain dari suatu laporan keuangan. Seperti halnya laporan keuangan pada perusahaan industri, analisis laporan keuangan perusahaan perbankan juga berguna sebagai sistem peringatan awal (early warning system) terhadap kemunduran maupun kemajuan (pertumbuhan) kondisi keuangan suatu perusahaan.

Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lainnya, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar (Munawir, 2000:64). Rasio keuangan adalah ukuran tingkat atau perbandingan antara dua atau lebih variabel keuangan. Menurut Bambang Riyanto (2001:329), rasio keuangan adalah alat yang dinyatakan dalam arimathical term yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan dua data, bila dihubungkan dengan masalah keuangan maka data tersebut adalah hubungan matematik antara pos keuangan dengan pos yang lainnya atau jumlah di neraca dengan jumlah-jumlah di laporan laba rugi atau sebaliknya, maka yang timbul adalah rasio keuangan.

Perbankan merupakan bisnis jasa yang tergolong dalam industri “kepercayaan” dan mempunyai rasio-rasio keuangan yang khas. Analisis rasio keuangan banyak digunakan oleh calon investor. Sebenarnya analisis ini didasarkan pada hubungan antar pos dalam laporan keuangan perusahaan yang akan mencerminkan keadaan keuangan serta hasil dari operasional perusahaan.

(14)

Analisa rasio keuangan maka dapat digunakan untuk membandingkan rasio saat ini dengan rasio masa lalu dan akan datang dalam perusahaan yang sama. Jika rasio keuangan diurutkan dalam beberapa periode tahun analisis dapat mempelajari komposisi perubahan dan menentukan apakah terdapat perbaikan atau penurunan dalam kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Rasio-rasio keuangan perbankan yang berhubungan dengan kinerja perusahaan perbankan adalah rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio rentabilitas dan rasio aktivitas.

Rasio solvabilitas sangat diperlukan karena modal merupakan salah satu faktor yang penting bagi bank dalam rangka mengembangkan usahanya dan menopang risiko kerugian yang timbul dari penanaman dana dalam aktiva-aktiva produktif yang mengandung risiko serta untuk membiayai penanaman dalam aktiva lainnya.

Rasio likuiditas menggambarkan likuiditas bank yang bersangkutan yaitu kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban utang-utangnya, membayar kembali semua depositonya, serta memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan. Penilaian likuiditas bank didasarkan pada dua macam rasio, yaitu (1) Rasio jumlah kewajiban bersih call money terhadap aktivitas lancar, (2) Rasio antara kredit terhadap dana yang diterima oleh bank.

Rasio rentabilitas bertujuan untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba selama periode tertentu, juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam menjalankan operasional perusahaan. Penilaian dalam unsur ini didasarkan pada dua macam, yaitu: (1) Rasio laba terhadap total assets (ROA), (2) Rasio beban operasional terhadap pendapatan

(15)

Rasio aktivitas merupakan rasio yang mengukur efektivitas perusahaan dalam mengoperasikan dana (Jumingan, 2008:122). Penilaian dalam unsur ini didasarkan pada tiga macam, yaitu: (1) total assets turnover, (2) inventory turnover (3) averagec collection.

Martono (2004:65) menyatakan untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perusahaan, analisis keuangan memerlukan beberapa tolok ukur. Tolok ukur yang sering dipakai adalah rasio atau indeks yang menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya. Analisis Rasio Keuangan dapat meliputi dua jenis perbandingan yaitu: (1) Analisis dapat memperhitungkan rasio sekarang dengan yang lalu dan yang akan datang untuk perusahaan yang sama (perbandingan internal), (2) Perbandingan rasio perusahaan dengan perusahaan yang lainnya yang sejenis atau dengan rata-rata industri pada satu titik yang sama (perbandingan eksternal).

2.1.9 Capital Adequacy Ratio (CAR)

Martono (2004:83) menyatakan bahwa Analisis Kecukupan Modal (CAR) atau sering disebut analisis solvabilitas digunakan untuk mengetahui:

1) Ukuran kemampuan bank tersebut untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan.

2) Sumber dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan usahanya sampai batas tertentu, karena sumber-sumber dana dapat juga berasal dari hutang penjualan asset yang tidak dipakai dan lain-lain.

3) Alat pengukuran besar kecilnya kekayaan bank tersebut yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya.

(16)

4) Dengan modal yang mencukupi, memungkinkan manajemen bank yang bersangkutan untuk bekerja dengan efisiensi yang tinggi, seperti yang dikehendaki oleh para pemilik modal pada bank tersebut.

Capital adequacy ratio (CAR) digunakan untuk mengukur kemampuan permodalan yang ada untuk menutup kemungkinan kerugian di dalam kegiatan perkreditan dan perdagangan surat-surat berharga.

Rumus menghitung CAR adalah : % 100 x ATMR Modal Jumlah CAR  ... (1)

Aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR) merupakan penjumlahan aktiva lancar dengan aktiva administratif. ATMR neraca dan ATMR aktiva produktif diperoleh dari nilai nominal aktiva dikali dengan bobot resiko.

Merkusiwati (2007:102) menyatakan modal merupakan faktor penting dalam rangka pengembangan usaha dan untuk menampung risiko kerugiannya. Modal berfungsi untuk membiayai operasi, sebagai instrument untuk mengantisipasi rasio dan sebagai alat untuk ekspansi usaha. Penelitian aspek permodalan suatu bank lebih dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana atau berapa modal bank tersebut telah memadai untuk menunjang kebutuhannya.

Menurut Sudirman (2000:93) menyatakan modal bank yang cukup atau banyak menjadi sangat penting karena modal bank dapat berfungsi untuk keperluan operasional bank, memenuhi aturan yang ditetapkan serta melindungi dan menyerap kerugian. Selain itu Sudirman (2000:116) menyatakan jumlah modal yang ada dalam suatu bank yang mencerminkan kemampuan menutup risiko kerugian bank menjadi suatu persyaratan yang penting bahkan wajib untuk

(17)

meningkatkan pertumbuhan bank. Jika perubahan rasio keuangan capital adequacy ratio meningkat maka modal sendiri yang dimiliki bank juga meningkat, sehingga beban bunga yang harus dibayar bank juga akan berkurang sehingga dapat meningkatkan laba perusahaan. Meningkatnya profitabilitas mengindikasikan pertumbuhan laba pada suatu bank juga akan meningkat. Begitupun sebaliknya menurunnya rasio keuangan capital adequacy ratio dapat menurunkan modal sendiri yang dimiliki bank, sehingga modal lebih banyak berasal dari pihak eksternal yang mengharuskan bank membayar beban bunga yang lebih besar sehingga hal ini dapat menurunkan laba. Menurutnya profitabilitas perusahaan juga akan berpengaruh pada menurunnya pertumbuhan laba perusahaan pada suatu periode tertentu.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan modal merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan kemajuan bank dan juga modal dapat digunakan untuk menjaga kemungkinan timbulnya kerugian akibat dari pergerakan aktiva bank yang pada dasarnya berasal dari sebagian besar dana pihak ketiga, sehingga dalam hal ini bank harus menyediakan modal minimum yang cukup menjamin kepentingan pihak ketiga.

2.1.10 Loan To Deposit Ratio (LDR)

Merkusiwati (2007:103) menyatakan analisa likuiditas dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar kemampuan bank tersebut mampu membayar hutang-hutangnya dan membayar kembali kepada deposannya serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan. Sedangkan menurut

(18)

Kasmir (2006:272) menyatakan loan to deposit ratio merupakan rasio untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan.

Martono (2004:82) menyatakan rasio ini untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dananya dengan kredit-kredit yang telah diberikan kepada para debiturnya., sedangkan menurut Muljono (2002:86) menyatakan bahwa loan to deposit ratio adalah perbandingan antara besarnya kredit yang diberikan dengan jumlah dana yang dikumpulkan dari pihak ketiga ditambah jumlah modal sendiri. Semakin tinggi rasionya semakin rendah tingkat likuiditasnya. Rumus untuk menghitung LDR adalah sebagai berikut :

% 100 x Sendiri Modal DPK diberikan yang Kredit LDR   ... (2) Keterangan :

DPK (Dana Pihak Ketiga) : giro/rekening koran, tabungan dan deposito LDR adalah rasio keuangan perusahaan perbankan yang berhubungan dengan aspek likuiditas. LDR adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito berjangka, giro, tabungan, dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan pinjaman (loan requests) nasabahnya. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas. Rasio yang tinggi menunjukkan bahwa suatu bank meminjamkan seluruh dananya (loan-up) atau relatif tidak likuid (illiquid).

(19)

kredit. Penyaluran kredit merupakan kegiatan utama bank, oleh karena itu sumber pendapatan utama bank berasal dari kegiatan ini. Semakin besarnya penyaluran dana dalam bentuk kredit dibandingkan dengan deposit atau simpanan masyarakat pada suatu bank membawa konsekuensi semakin besarnya risiko yang harus ditanggung oleh bank yang bersangkutan. Rasio ini menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR suatu bank adalah sekitar 85 persen. Namun batas toleransi berkisar antara 85-100 persen atau menurut Kasmir (2006:272), batas aman untuk LDR menurut peraturan pemerintah adalah maksimum 110 persen. Tujuan penting dari perhitungan LDR adalah untuk mengetahui serta menilai sampai berapa jauh bank memiliki kondisi sehat dalam menjalankan operasi atau kegiatan usahanya. Dengan kata lain LDR digunakan sebagai suatu indikator untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu bank.

2.1.11 Total Assets Turnover

Menurut Dwi Prastowo (2005:94), total assets turnover merupakan rasio aktivitas yang digunakan untuk mengukur efisiensi dan efektivitas pemanfaatan aktiva dalam rangka memperoleh penghasilan. Menurut Bambang Riyanto (2001:334), total assets turnover adalah kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu atau kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan revenue. Total assets turnover dapat dihitung dengan rumus, sebagi berikut:

(20)

% 100 x Aktiva Total neto Penjualan Turnover Assets Total  ... (3)

Menurut Teguh Pudjo Muljono (2002:210) yang dimaksud penjualan dalam industri perbankan adalah total pendapatan bunga.

Aktiva sebuah bank merupakan jumlah seluruh pos-pos neraca bank disebelah kiri atau didebet pada neraca bank. Total aktiva dan pos-pos neraca tersebut merupakan bentuk atau wujud penggunaan, penanaman dan penempatan dana bank. Pengelolaan aktiva sebuah bank sering dihubungkan dengan hasil yang didapat dari aktiva tersebut, terutama hasil bunga yang diperoleh oleh bank dan digunakan untuk menutup penjualan rendah sehingga penghasilan menurun dan menyebabkan profitabilitas juga menurun (Sudirman, 2000:23). Menurut Jurnal Akuntansi dan Teknologi Informasi (2005:96), total assets turnover ini digunakan untuk menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar pada suatu periode tertentu untuk menghasilkan laba.

Hubungan antara total assets turnover dengan profitabilitas yaitu apabila aktivitas rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya kelebihan dana yang tertanam pada aktiva-aktivanya tersebut. Kelebihan dana akan semakin baik jika ditanamkan ada aktiva lain yang lebih produktif. Semakin tinggi total assets turnover menunjukkan semakin tinggi penjualan yang dihasilkan oleh perusahaan sehingga memungkinkan untuk meningkatkan profitabilitas, atau sebaliknya jika total assets turnover turun menunjukkan penjualan rendah sehingga penghasilan menurun yang menyebabkan menurunnya profitabilitas.

(21)

2.1.12 Pengertian Kredit (Loan) Bank

Berdasarkan Undang-Undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998 yang dikutip oleh Malayu S.P. Hasibuan (2008:87) bahwa kredit adalah penyediaan sejumlah uang bank atau bentuk lain yang disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan pinjam-meminjam antar bank dengan pihak debitur dan mewajibkan pihak debitur melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga yang disepakati. Menurut Malayu S.P. Hasibuan (2008:87) menyatakan bahwa kredit adalah semua jenis pinjaman yang harus dibayar kembali bersama bunganya oleh peminjam sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.

2.1.13 Pertumbuhan jumlah Nasabah

Perspektif pelanggan/nasabah memungkinkan perusahaan menyelaraskan berbagai ukuran pelanggan, pentingnya kepuasan, loyalitas, retensi, akuisisi dan profitabilitas dengan pelanggan dan segmen pasar sasaran (Kaplan dan Norton, 2000:55).

Kelompok pengukuran bagi tercapainya perspektif pelanggan terdiri dari: 1) Pangsa Pasar

Menggambarkan proporsi bisnis yang dijual oleh sebuah bisnis pada pasar tertentu (dalam bentuk jumlah pelanggan, jumlah rupiah yang dibelanjakan, atau volume unit yang telah terjual).

2) Akuisisi Pelanggan

Perusahaan dapat mengukur jumlah pelanggan baru dan jumlah penjualan yang dihasilkan dari pelanggan baru. Selain itu perusahaan dapat mengukur biaya yang dikeluarkan untuk tiap pelanggan baru dan rasio pendapatan dari pelanggan baru untuk setiap penjualan.

(22)

3) Potensi Pelanggan

Dalam hal ini perusahaan mengukur seberapa banyak perusahaan berhasil mempertahankan pelanggan-pelanggan lama. Perusahaan mengetahui identitas pelanggannya seperti misalnya perusahaan yang bergerak dalam bisnis kartu kredit, telepon seluler, TV kabel, perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Selain mempertahankan pelanggan, banyak perusahaan menginginkan dapat mengukur loyalitas pelanggan melalui prosentase pertumbuhan bisnis dengan pelanggan yang ada saat ini.

4) Kepuasan Pelanggan

Kunci utama bagi perusahaan untuk memenangkan persaingan adalah memberikan nilai dari kepuasan konsumen atau pelanggan melalui penyampaian barang dan jasa yang berkualitas dengan harga bersaing. Kepuasan pelanggan merupakan syarat penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam memasarkan produknya.

5) Profitabilitas Pelanggan

Dengan menentukan profitabilitas pelanggan perusahaan mengukur seberapa besar keuangan yang berhasil diperoleh oleh perusahaan dari penjualan produk atau jasa pada pelanggan. Walaupun perusahaan menunjukkan hasil yang baik dalam ukuran pangsa pasar, retensi, akuisisi, dan kepuasaan pelanggan, tetapi tidak menjamin bahwa perusahaan tersebut memiliki pelanggan yang menggunakan.

Adapun Analisis Kinerja Perskeptif pelanggan/nasabah yang digunakan adalah sebagai berikut:

(23)

Menggunakan tolok ukur pertumbuhan pelanggan/nasabah PT. Bank Panin selama periode 2005– 2009, menurut Wilson dan Cambel (1997:84) yaitu :

Pertumbuhan Nasabah = x100% Lalu Periode Nasabah Jumlah u PeriodeLal Sekarang Periode Nasabah Jumlah Nasabah Jumlah  ... (4)

2.1.14 Profitabilitas diproksikan dengan Return On Asset (ROA)

Return on assets (ROA) mengukur kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aktivanya untuk memperoleh laba (Dwi Prastowo, 2005:91). Rasio ini mengukur tingkat pengembalian investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan seluruh dana (aktiva) yang dimilikinya. Rumus untuk menghitung ROA adalah sebagai berikut:

% 100 x Asset Total Berjalan Tahun Laba ROA  ... (5)

Sedangkan menurut Merkusiwati (2007:103) menyatakan bahwa analisis rentabilitas dimaksudkan untuk mengukur produktivitas asset yaitu kemampuan bank dalam menghasilkan laba dengan menggunakan aktiva yang dimilikinya dan juga mengukur efisiensi penggunaan modal.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan return on asset (ROA) menggambarkan mengenai kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dimiliki perusahaan. Efektivitas perusahaan dalam mengelola aktiva yang dimiliki untuk mampu menghasilkan laba tercermin dari rasio keuangan return on asset (ROA). Meningkatkan rasio keuangan ROA berarti bahwa efektivitas perusahaan dalam mengelola aktiva yang dimiliki semakin baik. Aktiva yang

(24)

dimiliki mampu dikelola untuk menghasilkan laba yang meningkat setiap periode. Semakin efektif perusahaan mengelola kekayaan yang dimiliki berarti pertumbuhan laba pada suatu perusahaan juga akan meningkat. Begitupun sebaliknya, menurunnya ROA berarti Efektivitas bank untuk menghasilkan laba juga akan menurun. Hal ini dapat berpengaruh terhadap menurunnya pertumbuhan laba pada perusahaan perbankan pada suatu periode tertentu.

Munawir (2001:33) menyatakan bahwa profitabilitas atau rentabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu atau rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut, sedangkan Simorangkir (2000:152) mendefinisikan profitabilitas (profitability) atau rentabilitas adalah kemampuan dalam memperoleh laba.

Jadi berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat dikatakan bahwa rentabilitas atau profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan selama periode tertentu dengan aktiva atau modal yang digunakan.

2.1.15 Arti Penting Profitabilitas

Profitabilitas merupakan perbandingan antara laba yang diperoleh dengan modal yang dipakai untuk menghasilkan laba tersebut, maka dengan demikian tingkat profitabilitas yang tinggi dapat pula mencerminkan efisiensi yang tinggi. Simorangkir (2004:152) menyebutkan laba merupakan tujuan dengan alasan sebagai berikut:

(25)

1) Dengan laba yang cukup dapat dibagi keuntungan kepada pemegang saham dan atas persetujuan pemegang saham sebagian dari laba disisihkan sebagai cadangan. Bertambahnya cadangan akan menaikkan kredibilitas (tingkat kepercayaan) bak tersebut dimata masyarakat.

2) Laba merupakan penilaian keterampilan pimpinan. Pimpinan bank yang cakap dan terampil umumnya dapat mendatangkan keuntungan yang lebih besar daripada pimpinan yang kurang cakap.

3) Meningkatkan daya tarik bagi pemilik modal (investor) untuk menanamkan modalnya dengan membeli saham yang dikeluarkan oleh bank. Pada gilirannya bank akan mempunyai kekuatan modal untuk memperluas penawaran produk dan jasanya kepada masyarakat.

Profitabilitas bank tidak hanya penting bagi pemiliknya, tetapi juga bagi pihak-pihak lain dimasyarakat. Bila bank berhasil memperbesar modal maka akan memperoleh kesempatan memberi kredit lebih luas sehingga bisa meningkatkan kredibilitas.

2.1.16 Cara-cara pengukuran Profitabilitas

Menurut Sartono (2001:122), ada 4 (empat) cara untuk mengukur profitabilitas suatu perusahaan, yaitu:

1) Net Profit Margin adalah rasio yang digunakan untuk menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu.

(26)

2) Operating Profit Margin adalah rasio yang menunjukkan laba operasi sebelum bunga dan pajak yang dihasilkan oleh setiap rupiah penjualan. 3) Return on Equity (ROE) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur

kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan modal sendiri yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan.

4) Return on Total Assets (ROA) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan seluruh aktiva yang digunakan.

2.2 Kajian Penelitian Sebelumnya

Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Arif Ginanjar (2007) yang berjudul “Pengaruh Tingkat Kecukupan Modal (capital adequacy ratio) Terhadap Profitabilitas Bank (Penelitian Pada Bank-Bank Go Public) yang terdapat di Bursa Efek Jakarta”. Yang diteliti dari penelitian ini adalah apakah ada hubungan nyata antara capital adequacy ratio terhadap profitabilitas bank dan adakah pengaruh yang signifikan dari capital adequacy ratio terhadap profitabilitas bank. Hasil penelitiannya ini menunjukkan bahwa kenaikan dan penurunan CAR sangat dipengaruhi oleh total modal inti dan pelengkap serta Jumlah Aktiva Tertimbang Menurut Rasio (ATMR) sedangkan untuk kenaikan dan penurunan profitabilitas dipengaruhi oleh perubahan pendapatan bunga bersih dan rata-rata aktiva produktif. Sedangkan capital adequacy ratio mempunyai hubungan yang moderat (sedang) terhadap tingkat profitabilitas bank.

(27)

Penelitian juga dilakukan oleh Dwiputra Wirawan, I KD (2008) yang berjudul “Pengaruh Total Assets Turnover, Loan To Deposit Ratio (LDR) dan Spread Mangement Terhadap Profitabilitas Pada Industri Perbankan yang Go Public di Bursa Efek Indonesia Periode 2003-2007 ”. Yang diteliti dari penelitian ini adalah apakah ada pengaruh secara simultan (serempak) dan secara parsial (individu) antara total assets turnover, loan to deposit ratio (LDR) dan spread mangement Terhadap Profitabilitas. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa total assets turnover, loan lo deposit ratio (LDR) dan spread mangement secara bersama-sama (serempak) berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas pada industri perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007. Koefisien determinasi (Adjusted R²) adalah 46.3 persen yang berarti bahwa 46.3 persen profitabilitas (Y) dipengaruhi oleh total assets turnover (X1), loan to deposit ratio (LDR) (X2) dan spread mangement (X3) sedangkan sisanya sebesar 53.7 persen dipengaruhi oleh factor-faktor lain yang tidak dijelaskan dalam model regresi ini. Secara parsial bahwa ketiga variabel bebas yaitu: total assets turnover (X1) , loan to deposit ratio (LDR) (X2) dan spread mangement (X3) berpengaruh terhadap profitabilitas pada Industri Perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007.

Penelitian sebelumnya juga dilakukan oleh Arie Mahayuni, Ida Ayu (2009) yang berjudul “Pengaruh Tingkat Perputaran Kas, loan to deposit ratio (LDR) dan capital adequacy ratio (CAR) Terhadap Profitabilitas Pada Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Pekraman Metra Periode 2006-2008 ”. Yang diteliti dari penelitian ini adalah apakah ada pengaruh secara simultan (serempak) dan

(28)

secara parsial (individu) perubahan Tingkat Perputaran Kas, LDR dan CAR terhadap Profitabilitas. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perubahan Tingkat Perputaran Kas, perubahan loan to deposit ratio (LDR) dan capital adequacy ratio (CAR), secara bersama-sama (serempak) berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas. Namun perubahan capital adequacy ratio (CAR) dan perubahan loan to deposit ratio (LDR) secara parsial tidak memiliki pengaruh terhadap Profitabilitas, sedangkan Tingkat Perputaran Kas secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Profitabilitas.

Berbeda dengan penelitian di atas, penelitian ini berjudul “Analisis Pengaruh Rasio Keuangan dan Rasio Non Keuangan Terhadap Profitabilitas Pada PT. Bank Panin Tbk Cabang Kuta periode 2005-2009”. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2010 dengan menggunakan data laporan keuangan tahun 2005-2009. Variabel bebas yang diteliti terdiri dari capital adequacy ratio (CAR), loan to deposit ratio (LDR), total assets turnover dan pertumbuhan jumlah nasabah, sedangkan variabel terikat yang diteliti adalah profitabilitas yang diproksikan dengan return on assets.

2.3 Rumusan Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, kajian pustaka dan penelitian sebelumnya, maka rumusan hipotesis yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

(29)

H1 : Terdapat pengaruh secara serempak antara rasio keuangan dan rasio non keuangan terhadap profitabilitas pada PT. Bank Panin Tbk Cabang Kuta periode 2005-2009.

H2 : Terdapat pengaruh secara parsial (individu) antara rasio keuangan dan rasio non keuangan terhadap profitabilitas pada PT. Bank Panin Tbk Cabang Kuta periode 2005-2009.

Referensi

Dokumen terkait

Sistem jaringan drainase merupakan bagian dari infrastruktur pada suatu kawasan, drainase masuk pada kelompok infrastruktur air pada pengelompokan infrastruktur

Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung terhadap hasil percobaan, di mana data didapatkan dari hasil pengukuran dengan menggunakan aplikasi

BBRI berhasil breakout Resistance 4.720, akan melanjutkan penguatan dengan mencoba next Resistance 4.790

Model pengolahan padi mencakup proses panen untuk menghasilkan gabah kering panen (GKP) yang bermutu baik, pengeringan yang dapat menghasilkan gabah kering giling

Klaster C merupakan kabupaten/kota yang menjadi prioritas penanganan dalam rangka pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Cipta Karya, yaitu kabupaten/kota

Gowa dari hari ke hari menjadi bertambah komplek. Kebijakan, Program Dan Kegiatan Pengelolaan Persampahan Dalam Rencana Kabupaten / Kota.. Sejalan dengan adanya

⻬ A mobile browser: To make the Internet work on mobile phones, wireless carriers created and installed made-for-mobile Web site browsers in all mobile phones2. We don’t get

cences mostly terminal, with occasional axilliary inflorescences, prophyll absent on terminal inflorescences but found on axillary inflorescences, 3 to 6. The last group is