• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMITMEN GURU HONOR SD NEGERI TERHADAP KINERJA GURU DI KOTA SEKAYU (PENDEKATAN AFEKTIF, KONTINU DAN NORMATIF)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOMITMEN GURU HONOR SD NEGERI TERHADAP KINERJA GURU DI KOTA SEKAYU (PENDEKATAN AFEKTIF, KONTINU DAN NORMATIF)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

132

KOMITMEN GURU HONOR SD NEGERI TERHADAP KINERJA GURU DI KOTA SEKAYU (PENDEKATAN AFEKTIF, KONTINU DAN NORMATIF)

Avissa Calista

Dosen Program Studi Manajemen STIE Rahmaniyah Sekayu E-mail : avissa.stier @gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan menjawab rumusan masalah, yaitu mengetahui dan menganalisis :

Pertama, Pengaruh Komitmen Guru Honor SD Negeri secara bersama-sama Terhadap Kinerja

Guru di Kota Sekayu (Pendekatan Afektif, Kontinu dan Normatif). Kedua, Pengaruh Komitmen Guru Honor SD Negeri secara parsial Terhadap Kinerja Guru di Kota Sekayu (Pendekatan Afektif, Kontinu dan Normatif). Ruang lingkup pembahasan, yaitu komitmen para guru honor dengan pendekatan afektif, kontinu dan normatif terhadap kinerja guru di SD Negeri Kota Sekayu. Populasi penelitian ini guru SD Negeri Sekayu yang berjumlah 264 guru honor (aktif mengajar). Sampel berjumlah 73 responden yang didasari oleh Teori Slovin. Untuk menganalisis dari jawaban responden, skor yang di gunakan untuk mengukur indikator di atas dengan munggunakan skala likert melalui hasil/skor (dengan pembobotan1,2,3,4,5) dari jawaban responden. Penelitian ini menyimpulkan pertama, Komitmen Afektif, Kontinu, Normatif, signifikan positif secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja Guru. Kedua, Komitmen Afektif, Kontinu, Normatif, signifikan positif secara parsial berpengaruh terhadap Kinerja Guru. Ketiga, Kontribusi terbesar di mulai dari komitmen afektif, normative dan yang terendah kontinu pengaruhnya terhadap kinerja guru.

Kata Kunci : Komitmen Afektif, Kontinu, Normatif dan Kinerja Guru 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu aspek yang penting dalam proses pengembangan guru adalah komitmen organisasional. Karena

dengan adanya komitmen

organisasional yang kuat, sekolah akan memiliki guru yang loyal dan mau untuk bekerja dengan sepenuh hati. Walaupun terdapat kesempatan bagi guru untuk berpindah sekolah, tetapi dengan adanya komitmen yang kuat, maka guru akan tetap bertugas di sekolahnya.

Komitmen merupakan kondisi

psikologis yang menendakan hubungan antara karyawan dengan organisasi serta

memiliki implikasi bagi keputusan

individu untuk tetap berada atau

meninggalkan organisasi (Tobing, 2009).

Komitmen organisasi (organizational

commitment) merupakan salah satu

tingkah laku dalam organisasi yang

banyak dibicarakan dan diteliti.

Meningkatnya popularitas konsep

komitmen kerja didasarkan pada

keyakinan bahwa komitmen kerja

memiliki implikasi, bukan saja pada pegawai dan organisasi, namun juga kepada masyarakat secara keseluruhan. Menurut Greenberg dan Baron (1993),

karyawan yang memiliki komitmen

organisasi yang tinggi adalah karyawan yang lebih stabil dan lebih produktif

(2)

133 sehingga pada akhirnya juga lebih menguntungkan bagi organisasi.

Menurut Mohamed (2012) dalam (Arta & Surya, 2017) mengatakan bahwa komitmen organisasional melihat kepada kesiapan karyawan untuk bekerja keras, menerima dan mewujudkan tujuan organisasi, standar organisasi, prinsip organisasi, etika organisasi dan nilai-nilai organisasi untuk tetap bertahan pada organisasi dalam segala bentuk situasi dan kondisi organisasi. Berdasarkan uraian di atas, ada berbagai faktor yang

dapat mempengaruhi

komitmenorganisasional seorang

karyawan. Faktor-faktor tersebut antara

lain adalah motivasi karyawan,

kepemimpinan dan kompensasi. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi beberapa tipe komitmen secara bersamaan, baik itu komitmen afektif,

komitmen kontinyu, dan komitmen

normatif.

Komitmen Afektif, yaitu keterikatan emosional, identifikasi dan keterlibatan dalam suatu organisasi. Dalam hal ini individu menetap dalam suatu organisasi karena keinginannya sendiri. Karyawan dengan komitmen afektif yang kuat tetap

berada dalam organisasi karena

menginginkannya (want to). Hasil

penelitian Hidayat (2010) menemukan bahwa komitmen afektif mempunyai hubungan positif yang signifikan dengan kinerja layanan karyawan. Hasil ini mendukung argumen yang disajikan dalam studi dalam Allen dan Meyer (1990) serta Caruana et al. (1997).

Karyawan yang menghargai dan

mengidentifikasi tujuan organisasi

cenderung mempunyai performa (kinerja) yang baik. Karyawan yang merasa emosional melekat pada organisasi dan

yang berkomitmen afektif terhadap

organisasi akan bersedia untuk

mengerahkan upaya yang lebih besar atas nama organisasi daripada mereka yang tidak Hidayat (2010).

Komitmen Kontinyu, yaitu

komitmen individu yang didasarkan pada pertimbangan tentang apa yang harus dikorbankan bila akan meninggalkan organisasi. Dalam hal ini individu

memutuskan menetap pada suatu

organisasi karena menganggapnya sebagai suatu pemenuhan kebutuhan. Karyawan dengan komitmen kontinyu yang kuat tetap berada dalam organisasi karena membutuhkannya (need to) (Tobing 2009). Hasil penelitian Hidayat (2010)

menunjukkan bahwa melanjutkan

pekerjaan dalam organisasi adalah

masalah kebutuhan bagi karyawan yang memiliki komitmen keberlanjutan tinggi.

Sifat hubungan antara komitmen

keberlanjutan dengan kinerja cenderung tergantung pada implikasi perilaku untuk pekerjaan. Oleh karena itu, jika seorang karyawan percaya bahwa mereka akan dapat terus bekerja, maka karyawan bersedia mengerahkan banyak upaya atas nama organisasi dibandingkan dengan situasi di mana pekerjaan lebih atau kurang terjamin.

Komitmen Normatif, yaitu

keyakinan individu tentang tanggung jawab terhadap organisasi. Individu tetap tinggal pada suatu organisasi karena merasa wajib untuk loyal pada organisasi

tersebut. Karyawan yang memiliki

komitmen normatif kuat tetap berada dalam organisasi karena mereka harus melakukan (ought to).

Peran guru menjadi salah satu komponen yang penting dan strategis melalui kinerjanya. Kinerja guru sangat

penting dalam mewujudkan tujuan

pendidikan nasional dan menentukan tinggi rendahnya mutu pendidikan, akan tetapi kinerja guru ini banyak dipengaruhi

(3)

134 oleh berbagai faktor baik dari dalam

maupun dari luar individu yang

bersangkutan. Kinerja guru dipengaruhi oleh Afektif, Kontinu dan Normatif yang merupakan Komitmen Organisasi yang berpengaruhnya Terhadap Kinerja Guru.

Suatu sekolah tidak akan berjalan dengan baik, jika para guru tidak memiliki komitmen organisasi. Seorang guru yang

baik mempunyai rencana ataupun

program serta loyalitas yang tinggi untuk kemajuan sekolah. Kinerja guru sangat penting dalam mewujudkan kesiapan

peserta didik dalam menigkatkan

kompetensi diri untuk terjun di dunia usaha dan dunia industri nanti. Akan tetapi kinerja guru ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam

maupun dari luar individu yang

bersangkutan.

Komitmen afektif organisasi pada

guru dipengaruhi beberapa faktor.

Berdasarkan observasi awal melalui hasil wawancara terhadap 20 guru honor SD Negeri di Sekayu di dapat bahwa salah

satu yang mempengaruhi tinggi

rendahnya komitmen afektif guru honor SD Negeri di Kota Sekayu adalah faktor di dalam kelas yang salah satunya minat belajar siswa. Bahwa siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi akan membuat guru senang untuk memberikan yang terbaik bagi para siswanya. Sementara apabila para siswa memiliki minat belajar yang rendah akan membuat guru kurang bersemangat untuk mengajar. Perilaku individu salah satunya dipengaruhi oleh variabel psikologis, dimana persepsi masuk didalamnya. Sikap, perasaan, dan

motivasi individu dalam bekerja

dipengaruhi oleh persepsi terhadap

kondisi dan lingkungan kerja. Dalam dunia pekerjaan guru, kondisi dan lingkungan kerja yang dimaksud bisa berupa kondisi kelas, rekan kerja, minat

belajar siswa, dan kondisi fisik bangunan sekolah. Maka dari itu, jika guru memiliki persepsi positif terhadap minat belajar siswa, maka guru akan berusaha optimal mewujudkan visi dan misi sekolah.

Hasil observasi awal dengan

mewawancarai 20 guru honor sebagai responden yang tersebar dari SD Negeri yang berada di Kota Sekayu. Fenomena yang terjadi, kinerja guru, hanya berselisih sedikit antara responden yang menjawab setuju dengan tidak setuju. Indikator Loyalitas, dengan pernyataan Guru loyal terhadap pimipinannya dalam menjalankan aktivitasnya, berselisih hanya 14%. Sedangkan item pernyataan Keputusan yang dibuat pimpinan akan dijalankan oleh para guru, dengan selisih 32,6%. Indikator Tanggung Jawab dengan

pernyataan Tanggung Jawab Pekerjaan

yang diberikan diselesaikan secara tuntas dengan berselisih 35%. Sedangkan item pernyataan Guru bertanggung jawab

terhadap pekerjaan yang sudah

dilaksanakan, berselisih 27,6%. Indikator Keterampilan, dengan item pernyataan Pimpinan cekatan dalam menyelesaikan berbagai konflik di sekolah, dengan selisih 25%. Pernyataan Pimpinan trampil melakukan evaluasi terhadap guru dan administrasi sekolah, dengan selisih 15,2%.

Berdasarkan uraian di atas peneliti mencoba untuk melakukan penelitian dengan judul “Komitmen Guru Honor

SD Negeri Terhadap Kinerja Guru di Kota Sekayu (Pendekatan Afektif, Kontinu dan Normatif)“.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat di rumuskan masalah dalam penelitian ini adalah :

a. Adakah Pengaruh Komitmen Guru Honor SD Negeri secara bersama-sama

(4)

135 Terhadap Kinerja Guru di Kota Sekayu (Pendekatan Afektif, Kontinu dan Normatif)?

b. Adakah Pengaruh Komitmen Guru Honor SD Negeri secara parsial Terhadap Kinerja Guru di Kota Sekayu (Pendekatan Afektif, Kontinu dan Normatif)?

1.3 Ruang Lingkup pembahasan

Peneliti menemukan beberapa

permasalahan yang dihadapi guru honor terhadap kinerja guru di Sekayu. Lingkup pembahasan yang akan dibahas, yaitu pendekatan melalui Afektif, Kontinu dan

Normatif. Faktor-faktor yang

mempengaruhi komitmen guru dalam memilih tempatnya mengajar.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa :

a. Pengaruh Komitmen Guru Honor SD Negeri secara bersama-sama Terhadap

Kinerja Guru di Kota Sekayu

(Pendekatan Afektif, Kontinu dan Normatif)

b. Pengaruh Komitmen Guru Honor SD Negeri secara parsial Terhadap Kinerja Guru di Kota Sekayu (Pendekatan Afektif, Kontinu dan Normatif)

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Kinerja

Kinerja merupakan suatu hasil yang dicapai oleh pekerja dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku

untuk suatu pekerjaan (Robbins,

2012:198). Menurut Sedarmayanti

(2010:23), kinerja adalah status

kemampuan yang diukur berdasarkan pelaksanaan tugas yang sesuai uraian tugasnya. Menurut Irianto (2010: 88), kinerja adalah hasil/prestasi kerja yang dihasilkan oleh pegawai atau perilaku

nyata yang ditampilkan sesuai perannya dalam organisasi.

1) Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja

a) Faktor-faktor Pribadi

Faktor pribadi, yaitu terdiri dari kemampuan individu, kepuasan kerja, motivasi dan komitmen.

b) Faktor-faktor Kepemimpinan

Faktor kepemimpinan yaitu terdiri dari kualitas dorongan, bimbingan, dan

dukungan yang disediakan oleh

pimpinan dan pemimpin lain. c) Faktor-faktor Tim

Faktor tim, yaitu terdiri dari kualitas dukungan yang disediakan oleh rekan kerja.

d) Faktor-faktor Sistem

Faktor sistem, yaitu terdiri dari sistem kerja dan fasilitas yang disediakan oleh organisasi.

e) Faktor-faktor Situasional

Faktor situasi, yaitu terdiri dari tekanan lingkungan internal dan eksternal serta

perubahan-perubahan (Wibowo,

2011:134). 2) Indikator Kinerja

Indikator-indikator kinerja, diantaranya adalah sebagai berikut:

a) Loyalitas : kesetiaan pegawai terhadap organisasi dan semangat berkorban demi tercapainya tujuan organisasi. b) Tanggung Jawab : rasa memiliki

organisasi dan kecintaan terhadap pekerjaan yang dilakukan dan ditekuni

serta berani menghadapi segala

konsekuensi dan resiko dari pekerjaan tersebut.

c) Ketrampilan : kemampuan pegawai

untuk melaksanakan tugas serta

menyelesaikan masalah yang

berhubungan dengan pekerjaan

(Mangkunegara , 2012: 70).

d) Kemampuan kerja : merupakan

(5)

136

pekerjaannya serta mampu

menyelesaikan permasalahan pekerjaan dengan baik.

e) Kerajinan : merupakan ketekunan atau kerajinan seseorang pegawai dalam melakukan pekerjaan.

f) Kepatuhan kerja : merupakan

kepatuhan seorang pegawai terhadap prosedur dalam melakukan pekerjaan.

g) Kualitas pekerjaan : merupakan

kesempurnaan hasil pekerjaan,

kerapihan, kebenaran prosedur kerja, keletihan dan kecepatan kerja.

h) Hubungan kerjasama: merupakan mutu hasil pekerjaan yang memerlukan kerjasama serta kemampuan dalam bekerjasama.

i) Kepemimpinan: merupakan

kemampuan dalam merencanakan,

melaksanakan dan mengendalikan

tugasnya serta mampu atau sanggup membimbing, mendorong, dan menjadi teladan bawahannya.

j) Prakarsa atau inisiatif: merupakan kemampuan menggabungkan pikiran dan usaha, serta berusaha memulai pekerjaan tanpa diminta.

k) Tanggung jawab: berusaha

menyelesaikan pekerjaan dengan hasil

baik, tepat waktu dan dapat

bekerjasama dengan selaras serta jujur dalam melaksanakan tugas (Robbins, 2012:217).

2.2 Komitmen Organisasi.

a. Pengertian Komitmen Organisasi

Murty dan Hudiwinarsih,

(2012:215), Secara umum, kinerja

karyawan dipengaruhi oleh komitmen dari karyawan itu sendiri dan Murty dan

Hudiwinarsih (2012:216). Tingkat

komitmen baik komitmen perusahaan

terhadap karyawan, maupun antara

karyawan terhadap perusahaan sangat diperlukan karena melalui

komitmen-komitmen tersebut akan tercipta iklim kerja yang profesional dan menghasilkan peningkatan kinerja karena karyawan bekerja secara sepenuh hati dan merasa bahwa karyawan tersebut merupakan bagian penting dari suatu organisasi.

Keinginan, tanggung jawab dan

rasamemiliki yang tinggi dalam sebuah komitmen organisasi tersebutlah yang

dapat meningkatkan kinerja dan

produktifitas karyawan yang tinggi. Menurut Mathis dan Jacson (2001: 12) memberikan definisi bahwa komitmen organisasi “Organizational Commitment is the degree to which empolyees belive in and accept organizational goalsand desire to remain with the organization”. Komitmen organisasi adalah derajat yang mana karyawan percaya dan menerima tujuan-tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasi”.

b. Faktor keterlibatan individu dalam komitmen Oragnisasi

Porter, dkk dalam Triyono,(2008: 19) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai kekuatan yang bersifat relative dari individu dalam mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke dalam bagian organisasi. Hal ini dapat ditandai dalam tiga hal, yaitu :

1) Penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.

2) Kesiapan dan kesediaan untuk

berusaha dengan sungguh-sungguh atas nama organisasi.

3) Keinginan untuk mempertahankan keanggotaan di dalam organisasi.

Komitmen merupakan bagian dari fungsi manajemen sumber daya manusia yaitu fungsi pemeliharaan. Komitmen sangat diperlukan oleh organisasi karena melalui komitmen-komitmen tersebut, diharapkan akan

(6)

137 terciptanya iklim kerja yang profesional. Kualitas kerja yang sehat merupakan wujud dari komitmen organisasi terhadap karyawan, akan mendorong peningkatan motivasi kerja dan komitmen dari karyawan terhadap organisasi.Konsep komitmen organisasi didefinisikan sebagai sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan di mana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan (Luthans, 2011: 249). Komitmen organisasi merupakan suatu konstruk psikologis yang merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan memiliki implikasi terhadap keputusan

individu untuk melanjutkan

keanggotaannya dalam berorganisasi

(Allen and Meyer, 1990:143).

Komitmen organisasi didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana seorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut (Robbins and Judge, 2013:100). Komitmen organisasi sebagai tingkat sampai di mana karyawan yakin dan menerima tujuan organisasional, serta berkeinginan untuk tinggal bersama organisasi

(Mathis and Jackson,

2013:122).Keputusan untuk tinggal bersama atau meninggalkan perusahaan pada akhirnya tercermin dalam ketidakhadiran dan angka perputaran karyawan.Karyawan yang tidak berkomitmen terhadap organisasi memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk meninggalkan organisasi, mungkin lewat ketidakhadiran atau

perputaran secara permanen (Mathis and Jackson, 2013:122).

Terdapat tiga dimensi terpisah komitmen organisasional, yaitu antara lain (Allen and Meyer, 1990: 5). Mengukur komitmen organisasi dengan 3 indikator yaitu :

a) Affective commitment, adalah

keterlibatan emosional seseorang pada organisasinya berupa perasaan cinta pada organisasi.

b) Continuance commitment, adalah

persepsi seseorang atas biaya dan resiko dengan meninggalkan organisasi saat ini.

c) Normative commitment, adalah sebuah dimensi moral yang didasarkan pada perasaan wajib dan tanggungjawab

pada organisasi yang

mempekerjakannya

2.3 Komitmen Afektif

a. Pengertian komitmen afektif (Affective commitment)

Menurut Busro (2020: 78),

komitmen afektif (affective commitment) berkaitan dengan adanya keinginan untuk terikat pada organisasi atau keterikatan emosional karyawa. Komitmen afektif

berhubungan dengan perasaan

emosional untuk organisasi dan

keyakinan dalam nilai–nilainya.

Affective commitment muncul karena keinginan artinya komitmen dipandang sebagai suatu sikap yaitu suatu

usaha individu untuk

mengidentifikasikan dirinya pada organisasi beserta tujuannya. Proses

pembentukan affective commitment

dikembangkan berdasarkan kondisi exchange principle berupa pelaksanaan sistem reward dan punishment, sebagai bentuk timbal balik untuk setiap konstribusi keterlibatan karyawan terhadap perusahaan. Pemberian hadiah

(7)

138 atau hukuman sesuai dengan tingkat keberhasilan atau kegagalan serta bagaimana kondisi perusahaan.

Menurut Luthans (2011:249)

komitmen afektif (Affective commitment), adalah keterikatan emosional karyawan, identifikasi dan keterlibatan dalam

organisasi. Menurut Darmawan

(2013:169) Komitmen Afektif, yaitu keterikatan emosional terhadap organisasi dan kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi, yang meliputi Keinginan berkarir di organisasi, Rasa percaya terhadap organisasi dan Pengabdian kepada organisasi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan komitmen afektif adalah adanya keinginan sesorang atau individu untuk terikat secara emosional dalam suatu organisasi.

b. Indikator komitmen afektif

Indikator komitmen afektif

meliputi yaitu:

1) Emosional Komitmen afektif

menyatakan bahwa organisasi akan

membuat karyawan memiliki

keyakinan yang kuat untuk

mengikuti segala nilai-nilai

organisasi, dan berusaha unutk mewujudkan tujuan organisasi sebagai prioritas utama.

2) Identifikasi Komitmen afektif muncul karena kebutuhan, dan memandang

bahwa komitmen terjadi karena

adanya ketergantungan terhadap

aktivitas-aktivitas yang telah

dilakukan dalam organisasi pada masa

lalu dan hal ini tidak dapat

ditinggalkan karena akan merugikan.

3) Keterlibatan karyawan dalam

organisasional

Menurut Busro (2020: 86) indikator komitmen afektif yaitu:

a) Identifikasi dengan organisasi

b) Keterlibatan anggota dengan kegiatan di organisasi.

Allen dan Meyer (1997) membagi 8 (delapan) item pertanyaan

untuk komitmen afektif (Affective

Commitment), yaitu :

a) Senang menghabiskan sisa karir di organisasi ini

b) Senang membicarakan organisasi

dengan teman-teman di luar

c) Merasa masalah organisasi ini bagian dari masalah diri

d) Dapat dengan mudah berpindah pada perusahaan lain

e) Tidak merasa seperti menjadi bagian keluarga di organisasi ini

f) Tidak merasa terikat secara

emosional dengan organisasi ini g) Organisasi ini memiliki banyak arti

secara pribadi

h) Tidak merasakan “rasa memiliki” yang kuat terhadap organisasi ini

2.4 Komitmen Keberlanjuta (continuance commitment)

a. Pengertian komitmen keberlanjutan (continuance commitment)

Komitmen berkelanjutan

berhubungan dengan nilai ekonomi yang dirasa dari bertahan dalam suatu organisasi bila dibandingkan dengan meninggalkan organisasi tersebut. Continuance Commitment muncul karena kebutuhan dan memandang bahwa komitmen sebagai suatu perilaku yaitu terjadi karena adanya suatu ketergantungan terhadap aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan didalam organisasi pada masa lalu dan hal ini tidak

dapat ditinggalkan karena akan

merugikan.

Menurut Luthans (2011:249)

komitmen berkelanjutan (continuance

(8)

139 berdasarkan kerugian yang berhubungan

dengan keluarnya karyawan dari

organisasi. Hal ini mungkin karena kehilangan senioritas atas promosi atau benefit.

Menurut Allen and Meyer, (1997)

Komitmen Kontinuan/berkelanjutan

yaitu berhubungan dengan nilai ekonomi yang dirasa dari bertahan dalam suatu organisasi bila dibandingkan dengan meninggalkan organisasi tersebut. Continuance Commitment muncul karena kebutuhan dan memandang bahwa komitmen sebagai suatu perilaku yaitu terjadi karena adanya suatu ketergantungan terhadap aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan didalam organisasi pada masa lalu dan hal ini tidak dapat ditinggalkan karena akan merugikan.

Menurut Kaswan (2012: 294) “

Komitmen kelanjutan merupakan

komitmen yang didasari atas

kekhawatiran seseorang terhadap

kehilangan sesuatu yang telah diperoleh selama ini dalam organisasi, seperti gaji, fasilitas, dan yang lainnya.” Hal-hal yang

menyebabkan adanya komitmen

kelanjutan antara lain adalah umur, jabatan, dan berbagai fasilitas serta

berbagai tunjangan yang diperoleh.

Komitmen ini akan menurun jika terjadi pengurangan terhadap berbagai fasilitas

dan kesejahteraan yang diperoleh

karyawan.

Menurut Darmawan (2013:170)

Komitmen Berkelanjutan (continuance commitment) yaitu keinginan yang tinggi akan bertahan di organisasi, bukan karena alasan emosional, tetapi karena adanya kesadaran dalam individu tersebut akan

kerugiaan yang akan dialami jika

meninggalkan organisasi. Keinginan ini

meliputi Kecintaan pegawai kepada

organisasi, Keinginan bertahan dengan

pekerjaannya, Bersedia mengorbankan kepentingan pribadi, Keterikatan pegawai kepada pekerjaan dan Tidak nyaman meninggalkan pekerjaan saat ini.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan komitmen keberlanjutan adalah kesadaran anggota organisasi akan mengalami kerugian jika meninggalkan organisasi tersebut.

b. Indikator komitmen berkelanjutan (continuance commitment)

Indikator komitmen kontinu yaitu:

1) Kerugian bila meninggalkan

organisasi Komitmen berkelanjutan

merujuk pada kekuatan

kecenderungan seseorang untuk tetap bekerja di suatu organisasi karena tidak ada alternatif lain. Komitmen berkelanjutan yang tinggi meliputi waktu dan usaha yang dilakukan dalam mendapatkan keterampilan yang tidak dapat ditransfer dan hilangnya manfaat yang menarik atau hak-hak istimewa sebagai senior.

2) Karyawan membutuhkan organisasi Karyawan yang tetap bekerja dalam

organisasi karena karyawan

mengakumulasikan manfaat yang

lebih yang akan mencegah karyawan mencari pekerjaan lain.

Menurut Busro (2020: 83) Indikator komitmen kontinu terdiri dari yaitu: Keuntungan bila seseorang tetap tinggal sebagai anggota organisasi. Kerugian bila seseorang meninggalkan sebagai anggota organisasi.

Allen dan Meyer (1997) membagi 8 (delapan) item pertanyaan

untuk komitmen keberlanjutan

(continuance Commitment), yaitu :

1) Tidak takut berhenti bekerja tanpa memiliki pekerjaan lagi (R)

(9)

140 3) Keputusan keluar dari perusahaan ini,

akan banyak urusan yang akan terganggu.

4) Tidak terlalu mahal jika

meninggalkan organisasi ini sekarang (R)

5) Bertahan di perusahaan ini karena masalah kebutuhan dan keinginan 6) Tidak memiliki pilihan kecuali tetap

bekerja di organisasi ini

7) Konsekuensi meninggalkan

organisasi ini adalah sulitnya mencari alternatif pekerjaan lain

8) Alasan utama tetap bekerja di perusahaan ini adalah butuh biaya yang besar jika memulai bekerja di tempat lain.

2.5 Komitmen Normatif

a. Pengertian komitmen normatif

(Normative Commitment)

Komitmen ini berhubungan dengan

kewajiban untuk bertahan dalam

organisasi untuk alasan – alasan moral atau etis. Normative commitment berkembang berdasar prinsip pertukaran atau biasa disebut norm of resiprocity. Reward secara tidak langsung akan menciptakan kondisi kewajiban moral sehingga pada akhirnya akan membentuk keterikatan yang besar terhadap tempat

kerja. Menurut Luthans (2011:250)

komitmen normatif (normative

commitment), adalah perasaan wajib untuk tetap berada dalam organisasi, karena memang harus begitu, tindakan tersebut merupakan hal benar yang harus dilakukan.

Menurut Allen and Meyer, (1997), Komitmen Normatif yaitu berhubungan dengan kewajiban untuk bertahan dalam organisasi untuk alasan –alasan moral atau etis. Normative commitment berkembang berdasar prinsip pertukaran atau biasa disebut norm of

resiprocity. Reward secara tidak langsung akan menciptakan kondisi kewajiban moral sehingga pada akhirnya akan membentuk keterikatan yang besar terhadap tempat kerja.

Menurut Kaswan (2012: 294) “

Komitmen normatif menunjukkan

tanggung jawab moral karyawan untuk tetap tinggal dalam organisasi.” Penyebab timbulnya komitmen ini adalah tuntutan sosial yang merupakan hasil pengalaman seseorang dalam berinteraksi dengan sesama atau munculnya kepatuhan yang permanen terhadap seorang panutan atau pemilik organisasi dikarenakan balas jasa, respek sosial, budaya atau agama.

Menurut Darmawan (2013:170)

Komitmen Normatif (normative

commitment) merupakan suatu keharusan untuk tetap menjadi anggota organisasi karena alasan moral atau alasan etika.

Meliputi yaitu, Kesetiaan terhadap

organisasi, Kebahagiaan dalam bekerja dan Kebanggaan bekerja pada organis

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan komitmen

normatif adalah perasaan seseorang

merasa mempunyai keterikatan yang terus menerus untuk berada di organisasi tersebut.

b. Indikator komitmen normatif

(Normative Commitment)

Indikator komitmen normatif yaitu: 1) Social reward

Berupa dukungan rekan kerja dan supervisor serta suasana kondusif dalam hubungan internasional.

2) Organizational reward

Berupa legitimasi jabatan, keamanan dan kenyamanan kerja, sistem gaji

yang sesuai harapan.Novelia dkk

(2016).

Menurut Busro (2020: 86) Indikator komitmen normatif terdiri dari yaitu:

(10)

141 1) Kemauan bekerja sebagai anggota

organisasi.

2) Tanggung jawab memajukan

organisasi

2.2. Kerangka Pemikiran

Kerangka berpikir menjelaskan secara paradigma alur pikir sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian Berdasarkan gambar di atas, maka

dapat di artikan bahwa faktor-faktor mempengaruhi kinerja guru yaitu dalam komitmen afektif, kontinu dan normative. Sehingga dapat di gambarkan pada kerangka pemikiran yang telah penulis buat di atas.

3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Design / Rancangan Penelitian

Rancangan dalam penelitian ini menggunakan kajian deskriptif, dengan kata lain bahwa kajian yang penulis terapkan menggunakan teori-teori yang

dikemukakan para ahli. Selanjutnya

dilakukan analisis dengan berdasarkan teori-teori yang telah dipelajari dalam studi pustaka untuk diterapkan pada penelitian ini.

3.2 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam

penelitian ini, yaitu metode kualitatif,

dengan menggunkan data penelitian

sebagai berikut. Menurut Husein Umar (2002:130), sumber data terdiri dari : 1. Data Primer

Data primer adalah data yang di peroleh / dapat secara langsung dari

objek penelitian. Data primer

penelitian ini adalah data yang berupa hasil jawaban responden terhadap kuesioner yang di sebarkan tentang

faktor-faktor yang mempengaruhi

kinerja guru Honor SD Negeri di Sekayu.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah berupa data yang diperoleh dari objek penelitian, data tersebut berupa data tertulis atau sudah berbentuk laporan. Data sekunder dalam penelitian ini, seperti materi pengajaran dan jumlah siswa serta sarana proses belajar mengajar.

(11)

142 3.3 Populasi dan Penentuan Sampel.

Populasi penelitian ini adalah Guru Honor SD Negeri di Kota Sekayu yang berjumlah 264 guru. Untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini, penulisan berpedoman pada Teori Slovin. Menurut Slovin (Husin Umar, 2005:164) bahwa untuk menentukan jumlah sampel maka digunakan rumus :

n = _N___ 1+ (N e2 )

di mana :

n = sampel

N = total populasi

e = tingkat kesalahan (persentase

kelonggaran karena adanya

kesalahan pengambilan sample) Maka jumlah sampel yang diambil, jika tingkat kesalahan sampling sebesar 10%, adalah

n = _264____= 73 pembulatan 1 + (264.0,012 )

Maka jumlah sampel yang diambil, jika tingkat kesalahan sampling sebesar 10%, adalah 73 guru/responden.

3.4 Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan Variabel operasional penelitian sebagai berikut

Tabel 3.1 Operasional Variabel Penelitian

ariabel Definisi Variabel Indikator

Kinerja Guru (Y).

hasil kerja yang dicapai seorang guru, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan dalam mencapai tujuan di SD Negeri di Kota Sekayu Palembang a.Loyalitas. b.Tanggung Jawab c.Terampil Afektif (X1)

adanya keinginan seorang guru untuk terikat secara emosional

di SD Negeri Kota Sekayu

a.Identifikasi b.Keterlibatan

Kontinu (X2)

kesadaran seorang guru akan mengalami kerugian jika meninggalkan SD Negeri di Kota Sekayu

a.Keuntungan tetap tinggal sebagai anggota organisasi b.Kerugian meninggalkan organisasi

Normatif (X3)

perasaan seorang guru merasa mempunyai keterikatan yang terus menerus untuk berada di SD Negeri Kota Sekayu

a. kemauan bekerja

b.tanggung jawab memajukan sekolah

Sumber: Pemikiran peneliti yang didasari Teori-teori, 2020

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian, yaitu dengan menggunakan skala likert.

3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri yang ada di kota Sekayu. Waktu

penelitian ini di lakukan selama 3 (tiga) bulan, terhitung dari bulan Oktober 2020 sampai dengan Desember 2020.

3.7 Prosedur Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan, dokumentasi dan teknik

(12)

143 observasi, menurut Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar (2001:54):

1. Daftar pertanyaan

Metode pengumpulan data dengan

menggunakan daftar pertanyaan

(kuesioner) yang di sebarkan kepada responden yang terpilih dari penelitian ini.

2. Dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah

pengumpulan data yang dilakukan

melalui dokumen-dokumen yang

berkaitan dengan masalah dalam

penelitian dari kegiatan operasional seorang guru.

3. Observasi

Peneliti melakukan pengamatan

langsung, pencatatan dan

penganalisaan terhadap objek yang ada

hubungannya dengan penulisan

penelitian ini yang ada di SD Negeri Kota Sekayu.

3.8 Teknik Analisis Data

Untuk menganalisa guna

memecahkan masalah di dalam penelitian

ini, penulis menggunakan beberapa

analisis yaitu sebagai berikut : 1. Analisis Kualitatif

Analisi kualitatif yaitu teknik analisis dengan cara membandingkan antara teori dengan data di lapangan. Hasil wawancara dengan responden dan pengisian quisioner dijadikan sebagai analisis kuantitatif

2. Analisis Kuantitatif

Teknik analisis kuantitatif yang di ambil adalah teknik analisis kuantitatif deskriptif, menyatakan bahwa analisis kuantitatif Deskriptif adalah analisis data angka di mana jawaban responden tersebut di olah, dianalisis dengan

menggunakan interval rata-rata.

Dengan menggunakan perhitungan

statistik regresi linear berganda.

Untuk menganalisis dari jawaban responden, skor yang di gunakan untuk

mengukur indikator setiap variabel

dengan munggunakan skala likert dengan jawaban responden sebagai berikut :

Pilihan skor

Sangat setuju (SS) = 5

Setuju (S) = 4

Netral (N) = 3

Tidak setuju (TS) = 2

Sangat tidak setuju (STS) = 1

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Responden

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa populasi dalam penelitian ini adalah guru SD Negeri berstatus honor di Kota Sekayu. Guru honor ini sudah mengajar di atas 3 (tiga) tahun di sekolah tersebut.

4.1.2 Uji Regresi.

Analisis regresi linier berganda digunakan dalam penelitian ini dengan tujuan untuk membuktikan hipotesis mengenai pengaruh Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2) dan Normatif (X3) Terhadap Kinerja Guru (Y). Perhitungan statistik dalam analisis regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS For Windows Relase 15.00. Hasil pengolahan datanya

(13)

144

Tabel 4.1. Hasil Koefisien Regresi Berganda

Coefficientsa -1.967 1.062 -1.852 .068 .525 .233 .254 2.250 .028 .353 .154 .249 2.287 .025 .420 .183 .249 2.303 .024 (Constant) Afektif Kontinu Normatif Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.

Dependent Variable: Kinerja Guru a.

Sumber : Hasil olah data primer, 2020.

Berdasarkan tabel di atas maka didapat persamaan regresi sederhana berikut ini:

Intepretasi dari persamaan regresi berganda mengenai pengaruh Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), terhadap Variabel Terikat yaitu Kinerja Guru (Y) dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Nilai konstanta sebesar -1,967

menunjukkan bahwa jika Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), dianggap tidak ada (nol) maka Variabel Kinerja Guru (Y) sebesar - 1,967.

b) Koefisien regresi Variabel Afektif (X1), sebesar 0,525 berslope positif, hal ini menyatakan bahwa jika Afektif (X1), mengalami kenaikan sebesar 1 satuan, maka Kinerja Guru (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,525 atau dapat juga dikatakan bahwa semakin tinggi Afektif (X1), seorang

pegawai maka akan mampu

meningkatkan Kinerja Guru (Y). c) Koefisien regresi Variabel Kontinu

(X2) sebesar 0,353 berslope positif, hal ini menyatakan bahwa jika Kontinu (X2) mengalami kenaikan sebesar 1 satuan, maka Kinerja Guru (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,353 atau dapat juga dikatakan bahwa

semakin baik Kontinu (X2) maka akan mampu meningkatkan Kinerja Guru. d) Koefisien regresi Variabel Normatif

(X3) sebesar 0,420 berslope positif, hal ini menyatakan bahwa jika Normatif (X3) mengalami kenaikan sebesar 1 satuan, maka Kinerja Guru (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,420 atau dapat juga dikatakan bahwa semakin baik Normatif (X3) maka akan mampu meningkatkan Kinerja Guru. e) Ketiga koefisien variabel bebas

berslope positif, hal ini menunjukkan hubungan linier positif (searah) antara Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), terhadap Variabel Terikat yaitu Kinerja Guru (Y) artinya Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), yang semakin baik, maka semakin baik pula Kinerja Guru (Y).

4.1.3 Uji Korelasi dan Koefisien Determinasi.

a. Uji Korelasi (R).

Analisis korelasi adalah salah satu teknik statistik yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih yang sifatnya kuantitatif. Fungsi utama dari analisis korelasi adalah

(14)

145

untuk menentukan seberapa erat

hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Analisis Korelasi bertujuan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel, analisis

korelasi tidak membedakan antara

variabel dependen dengan independen. Dari hasil estimasi data rekap jawaban responden, maka hasil koefisien korelasi dapat dijelaskan melalui tabel berikut ini :

Tabel 4.2 Hasil Uji Korelasi

Model Summary .505a .255 .222 1.377191 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Es timate Predictors : (Constant), Normatif, Kontinu, Afektif

a.

Sumber : Hasil olah data primer

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,505.

Dari hasil yang didapat dengan

mengkaitkan hasil koefisien korelasi dengan tingkat keeratan antara variabel

sebesar 0,505 yang berada pada

interpretasi nilai korelasi (0,40-0,599) artinya bahwa hubungan kedua variabel

signifikan dan tingkat keeratannya

Sedang. Dimana data interprestasi kolerasinya sebagai berikut :

Tabel 4.3

Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Kolerasi Interval koefisien Tingkat hubungan

0,01-0,199 Sangat Rendah

0,20-0,399 Rendah

0,40-0,599 Sedang

0,60-0,799 Kuat

0,80-0,999 Sangat Kuat

Koefisien Determinasi digunakan dalam kaitannya dengan penggunaan analisis kolerasi untuk melihat besar kecilnya besaran kontribusi atas variabel bebas menjelaskan variabel terikat.

Koefisien determinasi disebut juga

koefisien penentu, karena varian yang terjadi pada variabel dependen dapat dijelaskan melalui variabel independen.

Hasil perhitungan dengan

penggunaan program SPSS For Windows diperoleh bahwa nilai R2 = 0,255 yang berarti bahwa Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3) mampu

menjelaskan Variabel Kinerja Guru

sebesar 0,255 atau 25,5%, sedangkan sisanya sebesar 74,5% dijelaskan oleh

faktor lain yang tidak diteliti.

Dikarenakan berdasarkan tabel 4.20, nilai

(15)

146 koefisien determinasi yang dinilai sedang yaitu sebesar 74,5%, maka dalam hal ini peneliti memberikan rekomendasi kepada peneliti yang lain untuk dapan melakukan penelitian serupa guna menyempurnakan penelitian ini dengan variabel lainnya diluar variabel yang sedang peneliti gunakan saat ini.

4.1.4 Uji Hipotesis. a. Uji t (t-test).

Uji t digunakan untuk menguji apakah terdapat pengaruh signifikasn antara Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), terhadap Variabel Terikat yaitu Kinerja Guru (Y). Untuk

menentukan apakah hipotesis yang

diajukan signifikan atau tidak, maka perlu dilihat dari estimasi t-hitung yang ditunjukan oleh tabel berikut ini :

Tabel 4.4 Hasil Uji t (parsial)

Coefficientsa -1.967 1.062 -1.852 .068 .525 .233 .254 2.250 .028 .353 .154 .249 2.287 .025 .420 .183 .249 2.303 .024 (Constant) Afektif Kontinu Normatif Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.

Dependent Variable: Kinerja Guru a.

Berdasarkan tabel 4.4 dapat

diketahui bahwa nilai thitung untuk Variabel Afektif (X1) adalah sebesar 2,250, Variabel Kontinu (X2) adalah sebesar 2,287, Variabel Normatif (X3) adalah sebesar 2,303, jika dibandingkan dengan ttabel = 1,99444. Hasil estimasi tersebut menyatakan bahwa nilai thitung ketiga variabel bebas atas variabel terikat lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel), maka kreteria Ha diterima dan Ho ditolak, hal ini berarti ketiga variabel bebas dapat

dikatakan berpengaruh signifikan

terhadap variabel terikat. Disisi lain, jika dibandingkan antara nilai koefisien Sig. dengan nilai P-value (α) sebesar 0,05, maka dapat diketahui bahwa koefisien Sig. variabel X1 sebesar 0,028, koefisien Sig. variabel X2 sebesar 0,025, koefisien Sig. variabel X3 sebesar 0,24, ketiga variabel bebas tersebut memiliki nilai

koefisien Sig. yang masih di bawah nilai P-value (α), hal ini berarti Ha diterima dan H0 ditolak, artinya bahwa ada hubungan secara signifikan antara Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3) terhadap Variabel Terikat yaitu Kinerja Guru (Y).

b. Uji F (simultan/bersama-sama).

Hasil analisis data dengan

menggunakan program SPSS For

Windows Relase 15.00 dapat disajikan dalam tabel berikut:

(16)

147

Tabel 4.5 Hasil Uji F (simultan)

ANOV Ab 44.749 3 14.916 7.865 .000a 130.869 69 1.897 175.618 72 Regres sion Residual Total Model 1 Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predic tors : (Const ant), Normat if, K ontinu, A fek tif a.

Dependent Variable: K inerja Guru b.

Sumber : olah data primer.

Dari tabel di atas, diketahui nilai Fhitung sebesar 7,865 > nilai Ftabel sebesar 2,73 dan dikuatkan dengan nilai koefisien sig. Fhitung sebesar 0,000 < P-value (α) sebesar 0,05. Berdasarkan kriteria pengujiannya adalah jika nilai koefisien sig. F < P-value (α) sebesar 0,05 berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa bahwa ada

hubungan secara signifikan antara

Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), terhadap Variabel Terikat yaitu Kinerja Guru (Y).

4.2. Pembahasan

Hasil penelitian dengan perhitungan statistik menyatakan :

a. Hasil uji F menyatakan bahwa Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), berpengaruh signifikan secara

bersama-sama terhadap Variabel

Terikat yaitu Kinerja Guru (Y).

b. Hasil uji t menyatakan bahwa Variabel Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Variabel Terikat yaitu Kinerja Guru (Y).

Penelitian ini sesuai dengan teori Murty dan Hudiwinarsih, (2012:215),

Secara umum, kinerja karyawan

dipengaruhi oleh komitmen dari karyawan itu sendiri dan Murty dan Hudiwinarsih

(2012:216). Tingkat komitmen baik

komitmen perusahaan terhadap karyawan,

maupun antara karyawan terhadap

perusahaan sangat diperlukan karena

melalui komitmen-komitmen tersebut

akan tercipta iklim kerja yang profesional dan menghasilkan peningkatan kinerja

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nurrofi. (2013) dan Nurbiyati

dan Kunto Wibisono. (2014).

Penelitiannya menyimpulkan semua

hipotesis diterima, yang artinya bahwa komitmen yang terdiri afektif, kontinyu dan normatif secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Penelitian ini juga membuktikan bahwa komitmen yang terdiri afektif, kontinyu dan normatif secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap disiplin kerja, disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja serta pengaruh tidak langsung komitmen organisasi yang terdiri dari komitmen afektif, komitmen kontinyu dan komitmen normatif terhadap kinerja karyawan melalui disiplin lebih besar dari pada pengaruh komitmen organisasi yang terdiri dari komitmen afektif, komitmen kontinyu dan komitmen normatif terhadap kinerja karyawan.

(17)

148 5. SIMPULAN

5. 1 Kesimpulan

Dari hasil analisis data, maka dapat disimpulkan :

a. Komitmen Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), signifikan positif

secara bersama-sama berpengaruh

terhadap Variabel Terikat yaitu Kinerja Guru (Y).

b. Komitmen Afektif (X1), Kontinu (X2), Normatif (X3), signifikan positif secara parsial berpengaruh terhadap Variabel Terikat yaitu Kinerja Guru (Y).

c. Kontribusi terbesar di mulai dari komitmen afektif, normative dan yang

terendah kontinu pengaruhnya

terhadap kinerja guru.

5.2 Saran

Berdasarkan uraian kesimpulan di atas, maka penulis mencoba memberikan

saran-saran yang mungkin akan

bermanfaat bagi Sekolah Dasar Negeri dan instansi terkait untuk meningkatkan kinerja guru di Sekayu, sebagai berikut : a. Komitmen afektif perlu dipertahankan,

dengan cara terus melibatkan para guru dalam pembuatan keputusan sekolah., b. Komitmen normative sudah baik,

namun perlu ditingkatkan. Pimpinan

memberikan kepercayaan dan

tanggungjawab kepada para guru. c. Komitmen kontinu harus ditingkatkan,

agar kinerja guru juga meningkat. Hal ini perlu dilakukan dengan cara pimpinan memberikan reward kepada

para guru yang berprestasi dan

sebaliknya secara persuasif memotivasi

guru yang ,asih lamban dalam

berkinerja.

d. Kepala sekolah selaku Pimpinan dapat

memberikan rekomendasi

pengangkatan guru honor ini kepada Bupati Musi Banyuasin.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Nurrofi. 2013. Analisis Pengaruh

Dimensi Komitmen Organisasi

(Affective, Continuance, Normative) Terhadap Kinerja Karyawan STIE Totalwin Semarang. Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan (JIMAT) Volume 4 Nomor 1, Mei 2013.

Allen, N. J. & J. P. Meyer. (1997), Commitment in The Workplace Theory Research and Application. Califotnia: Sage Publications. Allen, N.J., and Meyer J.P. 1997. The

Measurement and Antecendents of

Affective, Continuance and

Normative Commitment to The

Organization, Journal of

Occupational Psychology. Vol.63. No.1. pp. 1-18.

Bloom, Matt. And., George T, Milkovich. (1998), “Relationship Among risk Incentive Pay, And Organizational

Performance”, Academic of

Management Journal,Vol.41, p.283-297.

Busro Muhammad. 2020. Teori-teori Manajemen Sumberdaya Manusia. Edisi Pertama, Cetakan Ke 2 Penerbit Prenada Media Group. Jakarta.

Fauzi, Fitriya., Dencik, A.Basyith., dan Asiati, D. I. 2019. Metodologi Penelitian Untuk Manajemen dan Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat. Ghozali, Imam. 2012. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 20”. Semarang : UNDIP.

(18)

149 Kaswan dan Ade Sadikin Akhyadi. 2015.

Pengembangan Sumber Daya

Manusia Dari Konsepsi, Paradigma,

dan Fungsi Sampai Aplikasi.

Bandung: Alfabeta.

Martinis Yamin, Maisah 2010.

Standarisasi Kinerja Guru. Edisi Revisi. Penerbit Gunung Persada. Jakarta.

Malthis, Nawawi, 2011. Manajemen

Sumber Daya Manusia.

Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Maysaroh, 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Meyer, John P. dan Catherina A. Smith,

(2000), “HRM Practices and Organizational Commitment: Test of a Mediation Model”, Canadian Journal of Administrative Science, 17, (4)

Mulyasa, 2014. Telaah Kinerja

Organisasi Publik. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Nazir, M. 2008. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana Prasarana

Pidarta, Made, 2008. Pemikiran Tentang Iklim Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara

Priyantno, D. 2008. Mandiri Belajar SPSS Untuk Analisi dan Uji Statistik. Jakarta, Indonesia : Gramedia Pustaka Utama

Priyono. 2016. Metode Penelitian

Kuantitatif. Surabaya: Zifatama Publishing.

Purwanto, 2009. Telaah Kurikulum

Sekolah Menengah. Jakarta : PT. Gramedia

Rahardjo, Budi. 2003. Manajemen

Pendidikan. Jakarta : Depdiknas Rivai dan Bisri, 2005. Total Quality

Management (TQM). Jakarta : Bumi Aksara

Ridwan, 2005, Skala Pengukuran

Variabel-Variabel Penelitian, Bandung, CV. Alfabeta.

Robbins, 2006, SDM Berkualitas:

Mengubah Visi menjadi Realitas, Jakarta : Gramedia.

Sandu, S. & Ali, S. 2015. Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Literasi Media Publishing.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian

Pendidikan (Pendekatan

Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D). Bandung: Alfabeta.

Sujana, Nana, 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Grafindo Supriyanto, 2008, Perkembangan Ilmu

Pengetahuan dan Teknologi di Era Globalisasi. Bandung : PT. Remaja Rosda

Suyanto, 2005. Tantang Dunia

Pendidikan di Era Globalisasi. Bandung : CV. Alfabeta

Titik Nurbiyati dan Kunto Wibisono. 2014. Analisis Pengaruh Komitmen

(19)

150 Afektif, Kontinyu dan Normatif Terhadap Kinerja dengan Disiplin Kerja Sebagai Variabel Intervening

Fakultas Ekonomi UII, Jurnal

Kajian Bisnis Vol. 22, No. 1, 2014, 21 – 37.

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah

Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Teknologi Informasi

Uno, Hamzah B, 2011. Pendidikan di Era Digitalisasi. Jakarta : PT. Gramedia

Usman, 2010. Filosofi Pendidikan.

Yogyakarta : Andi Offset

Waridin, 2006. Manajemen Personalia. Bandung : Remaja Rosda Karya Warsita, 2008. Pemanfaatan Teknologi

Informasi. Jakarta : PT. Gramedia Wijaya, H.A.W.,2004, Otonomi Daerah

dan Daerah Otonomi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Yuliana, 2012, Strategi Organisasi, Yogyakarta: Amara Books.

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian
Tabel 3.1 Operasional Variabel Penelitian
Tabel 4.1. Hasil Koefisien Regresi Berganda
Tabel 4.2 Hasil Uji Korelasi
+3

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik

Program atau aplikasi yang akan dibangun akan mengubah atau lebih tepatnya melakukan konversi format text DOS ke dalam bentuk ANSI dalam sistem operasi windows, sehingga dapat

lindungan-Nya.. Analisis Kemampuan Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Persamaan Kuadrat Ditinjau dari Adversity Quotient pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2

Akan tetapi secara parsial dari keempat faktor tersebut hanya satu yang mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata), yaitu faktor keamanan, sedangkan 3 (tiga) faktor lainnya yaitu

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray terhadap

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tim volly putra SMP Negeri 3 Teluk Kuantan terdapat beberapa kendala khususnya pada teknik dasar smash yang sering

Untuk mengetahui potensi aktivitas ekonomi yang merupakan basis dan bukan basis dapat digunakan dengan metode Location Quotient (LQ), yang merupakan perbandingan relatif

Agar dalam penelitian laporan akhir ini tidak menyimpang dari permasalahan yang ada, penulis membatasi ruang lingkup pembahasan yaitu BUMN yang terdaftar di BEI