• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang beragam, sehingga Indonesia dijuluki negara megabiodiversity (Aristoteles, Martinus, & Widangga, 2018). Menurut Sutra, Dahelmi, & Salmah (2012) salah satu keanekaragaman hayati di indonesia yaitu dari kelompok kupu-kupu. Septianella, Peggie, & Sasaerila (2015) mengungkapkan bahwa kupu-kupu (Subordo: Rhopalochera) yang terdapat di Indonesia ada 2.200 jenis. 624 spesies diantaranya terdapat di Pulau Jawa (Peggie, 2014). Hingga saat ini data tentang jumlah spesies kupu-kupu (Subordo: Rhopalochera) belum diperbaharui dan belum lengkap. Noor & Zen (2015) berpendapat bahwa data mengenai keanekaragaman kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) belum lengkap. Banyaknya jenis kupu-kupu ini juga turut berperan penting bagi lingkungan.

Kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) berperan penting bagi ekosistem sebagai bioindikator lingkungan. Bioindikator ini ditunjukkan dengan perbanyakan tumbuhan secara alamiah akibat dari penyerbukan tumbuhan berbunga oleh kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) (Lamatoa, Koneri, Siahaan, & Maabuat, 2013). Secara ekologis hal ini turut memberi andil dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem dan memperkaya keanekaragaman hayati (Oqtafiana, Priyono, & Rahayuningsih, 2013). Kupu-kupu (Subordo: Rhopalochera) sendiri mempunyai nilai penting seperti nilai endemisme, konservasi, pendidikan, budaya, estetika, ekologi, dan ekonomi (Rahayuningsih, Oqtafiana, & Priyono, 2012). Kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) memiliki corak dan warna yang menarik, sayangnya dapat menyebabkan perburuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Warikar, Ramandey, & Maury (2019) mengungkapkan bahwa kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) memiliki harga jual cukup tinggi sehingga mengakibatkan perburuan intensif yang berdampak pada keanekaragaman populasi kupu-kupu(Subordo: Rhopalochera). Berdasarkan pernyataan diatas populasi kupu-kupu (Subordo: Rhopalochera) harus dijaga kelestarian dan keanekaragamannya dari habitat.

(2)

2

Populasi kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) yang berada disuatu habitat sangat bergantung pada kondisi sekitar. Menurut Koneri & Maabuat, (2016) keberadaan populasi kupu- kupu (Subordo: Rhopalocera) disuatu habitat bergantung pada tumbuhan sebagai ketersediaan pakan, sehingga memberi korelasi positif antara keanekaragaman dengan kondisi habitat. Selain itu, keanekaragaman kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di habitat erat kaitannya dengan faktor lingkungan (Lestari, Putri, Ridwan, & Purwaningsih, 2015). Irni et al., (2016) menyebutkan bahwa habitat kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) yang ideal dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya ketersediaan tumbuhan pakan, suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya yang cukup. Mengingat hal tersebut, sangat disayangkan apabila kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) akan hilang dari habitat apabila faktor-faktor tersebut berbeda seperti aslinya. Lestari et al., (2015) menegaskan bahwa perbedaan faktor lingkungan inilah yang menyebabkan keanekaragaman kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) disetiap habitat berbeda dikarenakan kemampuan distribusi dan adaptasi tiap spesies berbeda. Kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) dapat ditemui pada habitat hutan, perkebunan, maupun aliran sungai (Subahar & Yuliana, 2010). Salah satu habitat dengan karakteristik yang sesuai dengan pernyataan tersebut adalah daerah Lereng Gunung Kawi.

Lereng Gunung Kawi terletak pada ketinggian 900 m dpl (Ponimin, Wardhana, Taufiq, & Sari, 2020). Kawasan Lereng Gunung Kawi memiliki beberapa habitat berbeda seperti habitat Perkebunan jeruk, Hutan, dan Bumi Perkemahan Bedengan (Ponimin et al., 2020). Sungai kecil juga terdapat didaerah tersebut yang mengalir membatasi Hutan Pinus. Berdekatan dengan Bumi Perkemahan Bedengan, juga terdapat kebun jeruk yang membentang di kanan dan kiri jalan (Ashar & Prasetya, 2018). Menurut Nino (2019) lingkungan perkebunan ataupun sekitar hutan akan mudah sekali menemukan kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) dengan berbagai jenis dan corak. Tipe habitat aliran sungai akan banyak sekali menemukan jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) karena kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) membutuhkan air untuk minum (Yusuf, Rasnovi, Fithri, & Rizki, 2018). Informasi data mengenai keanekaragaman kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di Daerah Lereng Gunung Kawi belum banyak dilakukan sebelumnya, selain itu pada daerah tersebut sayangnya sudah terdapat banyak aktivitas manusia dari kegiatan wisata yang mana dikhawatirkan akan mempengaruhi habitat sekitar. (Noor & Zen (2015); Ashar & Prasetya (2018) menjelaskan bahwa habitat perkebunan dan Bumi Perkemahan Bedengan telah dijadikan tempat wisata padahal keberadaan kupu-kupu bergantung pada habitatnya. Nuraini, Widhiono, & Riwidiharso, (2020) menambahkan, kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) akan

(3)

3

hilang dari suatu habitat apabila habitat tersebut tidak sejuk dan bersih, banyak asap dan bau yang tidak sedap. Berdasarkan informasi tersebut perlu dilakukan penelitian terkait keanekaragaman jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di daerah Lereng Timur Gunung Kawi.

Beberapa penelitian terdahulu mengenai keanekaragaman kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) sudah pernah dilakukan, diantaranya penelitian yang dilakukan Noor & Zen (2015) dikategorikan rendah. Penelitian lainnya dilakukan oleh Fauziah et al., (2017) dan Sari et al., (2019) menunjukkan keanekaragaman sedang. Penelitian sebelumnya tersebut kurang dijabarkan lebih lanjut mengenai korelasi antara keanekaragaman dengan faktor lainnya seperti faktor fisika, biologi maupun habitat ditempat penelitian. Pengkajian mengenai faktor tersebut perlu dilakukan karena keberadaan kupu-kupu dihabitat sangat peka terhadap adanya faktor tersebut. Apabila faktor tersebut berubah maka kupu-kupu akan berkurang sehingga akan mengetahui korelasi tingkat keanekaragaman populasi pada suatu habitat yang akan memberikan keterbaruan dari penelitian terdahulu mengenai keanekaragaman kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera). Sependapat dengan Koneri & Maabuat (2016) yang menyebutkan terdapat korelasi positif antara keanekaragam kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) dengan kondisi habitat. Lebih lanjut, pada penelitan tersebut juga tidak dijabarkan mengenai pemanfaatannya sebagai sumber belajar Biologi. Berdasarkan pernyataan tersebut penting adanya pemanfaataan hasil penelitian digunakan sebagai sumber belajar Biologi guna memberikan variasi dalam proses pembelajaran.

Sumber belajar banyak tersedia di alam, lingkungan sekolah, maupun lingkungan sekitar tempat tinggal peserta didik, namun tidak semua objek dapat dijadikan sebagai sumber belajar Biologi. Susilo (2018) mengungkapkan bahwa tidak setiap objek pada lingkungan sekitar adalah ruang lingkup kajian Biologi. Suhardi (2012) menjelaskan bahwa objek yang dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar biologi memiliki syarat antara lain: 1) mempunyai kejelasan potensi ketersediaan objek, 2) kesesuaian tujuan pembelajaran, 3) kejelasan sasaran materi, 4) kejelasan materi yang diungkap, 5) kejelasan pedoman eksplorasi, dan 6) kejelasan perolehan yang diharapkan. Sumber belajar sendiri bisa dikembangkan melalui potensi lingkungan seperti keanekaragaman hayati. Potensi yang terdapat didalamnya dapat digunakan sebagai sumber gagasan yang dapat dikembangkan untuk mendukung proses pembelajaran (Febrita, Yustina, & Dahmania, 2014). Penelitian keanekaragaman jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di daerah Lereng Gunung Kawi perlu dilakukan karena proses pembelajaran karakteristik hewan, khususnya sub pokok

(4)

4

bahasan insekta yang dilaksanakan pada kelas hanya terbatas oleh sumber tertulis dari buku saja. Berdasarkan pernyataan diatas perlu adanya interaksi antara siswa dengan objek yang dipelajari secara langsung.

Pembelajaran Biologi sendiri menekankan adanya interaksi antara siswa dengan objek yang dipelajari. Adanya interaksi tersebut akan dapat melihat keunikan tiap individu dalam berinteraksi dengan dunia luar melalui pengalaman belajar guna menunjang proses perkembangan peserta didik secara optimal (Ardian & Munadi, 2015). Pemanfaatan penelitiaan keanekaragaman kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) sebagai sumber belajar perlu dilakukan karena suatu kondisi habitat akan mempengaruhi kondisi makhluk hidup didalamnya. Kenyataannya pembelajaran Biologi yang dilaksanakan disekolah saat ini terbatas hanya ada interaksi antara guru dan peserta didik saja. Sejalan dengan Retnaningsih, Maasawet, & Boleng (2017) bahwa proses pembelajaran disekolah masih menggunakan metode ceramah dan penugasan, dimana hanya ada interaksi antara guru dan peserta didik saja. Penting adanya pembelajaran dengan mengamati objek secara langsung untuk dilakukan agar menanamkan konsep pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati, dengan demikian melalui pengamatan langsung, peserta didik dapat mengetahui pentingnya menjaga kelestarian lingkungan (Noor & Zen, 2015). Penelitian keanekaragaman jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di daerah Lereng Timur Gunung Kawi akan menghasilkan produk berupa data penelitian, koleksi dan foto spesimen. Koleksi spesimen dapat dimanfaatkan sebagai insectarium, sedangkan data penelitian dan foto spesimen dapat mendukung LKPD. Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan penelitian dengan judul : “Keanekaragaman jenis kupu-kupu (sub-ordo: Rhopalocera) di daerah Lereng Gunung Kawi sebagai sumber belajar Biologi”

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana kondisi habitat kupu-kupu di daerah Lereng Gunung Kawi?

1.2.2 Apa saja jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di habitat Lereng Gunung Kawi? 1.2.3 Bagaimana keanekaragaman jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di habitat

Lereng Gunung Kawi?

1.2.4 Bagaimana pemanfaatan hasil penelitian keanekaragaman jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di daerah Lereng Gunung Kawi sebagai sumber belajar?

1.3. Tujuan Penelitian

(5)

5

1.3.1 Menganalisis kondisi habitat kupu-kupu di daerah Lereng Gunung Kawi.

1.3.2 Mengetahui jenis-jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di habitat Lereng Gunung Kawi.

1.3.3 Menganalisis keanekaragaman jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di habitat Lereng Gunung Kawi.

1.3.4 Menganalisis hasil penelitian keanekaragaman jenis kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) di daerah Lereng Gunung Kawi sebagai sumber belajar.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1 Secara Teoritis

1.4.1.1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai referensi ilmiah bagi peneliti lainnya atau menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya yang berkenaan untuk melakukan penelitian tentang jenis kupu-kupu.

1.4.2 Secara Praktis

1.4.2.1 Manfaat bagi pendidikan adalah memberikan variasi sumber belajar dalam pembelajaran Biologi di sekolah, dari hasil penelitian ini akan dimanfaatkan sebagai variasi sumber belajar berupa LKPD dan insectarium.

1.4.2.2 Memberikan informasi untuk mengembangkan penelitian selanjutnya terutama penelitian yang berkaitan dengan keanekaragaman jenis kupu-kupu.

1.4.2.3 Memberikan informasi kepada masyarakat khususnya yang bertempat tinggal di sekitar Lereng Gunung Kawi bahwa pemanfaatan habitat tidak hanya sebagai tempat wisata namun juga sebagai tempat edukasi sumber pembelajaran dan konservasi fauna lokal khususnya serangga yang memiliki banyak peranan penting yang belum diketahui masyarakat pada umumnya.

1.5. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1.5.1 Objek Penelitian ini adalah kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) pada Daerah Lereng Timur Gunung Kawi Desa Selorejo Dau Kabupaten Malang.

1.5.2 Pengambilan sampel dilakukan di daerah Huta Pinus, Hutan Pinus di area Bumi Perkemahan Bedengan, dan Perkebunan jeruk Desa Selorejo Dau Kabupaten Malang.

(6)

6

1.5.3 Sampel kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) diambil 1 setiap spesiesnya dan kupu-Kupu (Subordo: Rhopalocera) lain yang tertangkap akan dilepaskan kembali.

1.5.4 Keanekaragaman jenis kupu-lupu (Subordo: Rhopalocera) dihitung menggunakan rumus indeks Shannon and Weaner, kekayaan jenis Margaleff, Kemerataan Jenis Shannon Evenness, Dominansi Jenis Simpson.

1.5.5 Hasil penelitian akan dimanfaatkan sebagai kajian analisis sumber belajar.

1.5.6 Faktor fisika yang digunakan meliputi suhu udara, kelembaban udara, dan intensitas cahaya. Faktor biologi yang digunakan yaitu jenis tumbuhan dan habitat.

1.6. Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

1.6.1 Keanekaragaman merupakan gambaran suatu sifat komunitas yang memperlihatkan tingkat keanekaragaman jenis suatu organisme yang berada di suatu tempat (Sutoyo, 2010).

1.6.2 Kupu-kupu adalah salah satu jenis serangga dari Subordo: Rhopalocera yang memiliki ciri corak warna yang variatif sehingga banyak diminati oleh masyarakat (Rodianti, Yolanda, & Mubarrak, 2015).

1.6.3 Tumbuhan pakan (food plant) merupakan tumbuhan yang digunakan kupu-kupu (Subordo: Rhopalocera) untuk mencari makan berupa nektar pada tumbuhan berbunga. 1.6.4 Sumber belajar ialah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan serta situasi yang

dirancang dengan sengaja dan dibuat untuk memungkinkan peserta didik belajar secara indivdu (Prastowo, 2018).

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Permainan ini juga diberikan alat bantu untuk mempermudah penyelesaian dengan mencantumkan angka pada pojok kiri gambar atau video yang sedang diacak. Dengan permainan ini kita

0290/LS-BJ/2015 Pembayaran Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Yang Dijamin Pemerintah Kabupaten Bojonegoro Bagian Bulan Desember 2014 (Obat Formularium Nasional) Untuk RSUD

Negara damai atau sangga harus dipertahankan, karena syari'ah (dalam bentuk hukum agama/fiqh atau etika masyarakat) masih dilaksanakan oleh kaum muslimin di dalamnya, walaupun

Disisi lain tingkat partisipasi masyarakat nelayan umum dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan daerah Karang Jeruk sebagian besar termasuk dalam kategori

Peubah laten tak bebas produktivitas yaitu semakin lama bekerja di kawasan Agropolitan Pacet maka semakin banyak pengalaman, cluster perilaku kerja sesuai target

Dengan adanya permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk validasi batas administrasi desa di Kecamatan Lumajang dengan metode kartometrik menggunakan

(4) Berdasarkan hasil analisis persentase bahwa dari ke empat sumber Pendapatan Asli Daerah, Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Salah yang mempunyai kontribusi yang cukup besar