• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pencemaran logam berat sangat berbahaya bagi lingkungan. Banyak laporan yang memberikan fakta betapa berbahayanya pencemaran lingkungan terutama oleh logam berat pada kawasan perairan, baik akibat penggunaan airnya untuk konsumsi sehari-hari maupun ketika mengkonsumsi biota air tawar yang hidup di perairan tercemar tersebut (USDA NRCS, 2000).

Kasus yang dilaporkan pertama kali di Jepang pada tahun 1953 yaitu timbulnya penyakit minamata yang menyebabkan para nelayan dan keluarganya terkena keracunan kronis akibat logam berat Metyl-Merkuri yang mencemari teluk Minamata dan mengakibatkan kematian. Biro lingkungan hidup Jepang mencatat terdapat 987 korban meninggal dan 2.900 penderita penyakit Minamata yang masih hidup. Sebagai konsekuensinya pemerintah Jepang memerlukan waktu 15 tahun untuk membersihkan dan mereklamasi perairan dari logam berat tersebut (Takizawa, 2001).

Sejak kasus Minamata yang secara intensif dilaporkan, isu pencemaran logam berat meningkat sejalan dengan pengembangan berbagai penelitian yang mulai diarahkan pada berbagai aplikasi teknologi untuk menangani pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran air yang disebabkan oleh logam berat. Setidaknya terdapat lebih dari 185 publikasi internasional yang diterbitkan antara tahun 1988 hingga 2010 yang mempelajari metode yang digunakan untuk mengatasi pencemaran logam berat pada limbah cair. Beberapa metode yang telah dikembangkan tersebut antara lain metode presipitasi kimia, adsorpsi, filtrasi membran, koagulasi-flokulasi, flotasi dan elektro kimia (Fengliang dan Wang, 2011).

Salah satu metode yang efektif untuk mengatasi masalah pencemaran air oleh logam berat yang sudah sejak lama dikenal secara luas yaitu adsorpsi. Metode adsorpsi bergantung pada kemampuan permukaan adsorben untuk menarik

(2)

molekul-molekul gas, uap atau cairan. Oleh karena itu, secara prinsip metode adsorpsi dapat digunakan untuk mengatasi pencemaran air oleh logam berat (Moreno dkk., 2010).

Berbagai jenis adsorben karbon aktif telah berhasil dikembangkan dan terbukti mampu mengadsorpsi ion logam berat antara lain zeolit dan karbon aktif hanya saja masih tergolong mahal dan sulit untuk diproduksi (Dhermendra dan Tiwari, 2008). Untuk itu, selama sepuluh tahun terakhir penelitian secara ekstensif diarahkan untuk mencari jenis adsorben yang relatif lebih murah dan mudah didapatkan.

Peneliti di bidang lingkungan khususnya untuk menanggulangi pencemaran logam berat menaruh perhatian besar pada adsorben berbasis nanopartikel. Adsorben berbasis nanopartikel adalah adsorben yang memiliki partikel yang ukurannya lebih kecil dari 1 mikron dan berpotensi sekecil atom dengan panjang molekul sekitar 0,2 nm. Adsorben nanopartikel dapat berbentuk amorfus atau berbentuk kristal dan permukaannya dapat bertindak sebagai pembawa tetesan cairan atau gas (Buzeal dkk., 2007).

Adsorben berbasis nanopartikel memiliki fungsionalisasi permukaan yang besar, yang mampu mengikat, menyerap dan membawa senyawa lain seperti obat, probe, protein dan senyawa lainnya. Reaktivitas permukaan berasal dari fenomena kuantum yang dapat menjadikan nanopartikel tidak terduga. Selain itu, permukaan adsorben berbasis nanopartikel dapat diubah tergantung pada kehadiran reaktan dan senyawa yang terserap (Abhilash, 2010).

Salah satu adsorben nanopartikel yang menjadi fokus dalam menangani masalah pencemaran air oleh logam berat adalah nanopartikel magnetik Fe3O4

(magnetit). Magnetit dipilih karena memiliki sifat magnetik yang kuat sehingga proses pemisahan sedimen hasil adsorpsi dengan menggunakan adsorben nanopartikel magnetit lebih mudah dilakukan.

Sifat magnetik adsorben Fe3O4 sebagian besar dipengaruhi oleh morfologi,

ukuran dan karakteristik fisika dari partikel tunggal, dan interaksi antarmuka. Untuk partikel dengan ukuran kurang dari 30 nm, Fe3O4 menunjukkan sifat-sifat

(3)

superparamagnetik. Selain itu luas permukaan partikel yang besar juga menjadi salah satu keunggulan nanopartikel Fe3O4 sehingga memiliki kapasitas besar untuk

mengadsorpsi ion logam berat (Carlos dkk., 2013).

Fe3O4 juga memiliki beberapa kelemahan diantaranya sangat mudah teroksidasi

dengan adanya oksigen bebas, mudah beragregasi, dan tidak stabil terhadap termal maupun asam. Hal ini juga mengakibatkan berkurangnya sifat kemagnetan yang dimiliki magnetit. Karena itu material perlu dimodifikasi dengan pelapisan agar substansi menjadi biokampatible, meningkatkan stabilitas termal, mekanik dan kimia, memperpanjang waktu pakai (lifetime), menghambat korosi serta dapat mengubah keseluruhan sifat fisiokimia dan biologis dari magnetit (Carlos dkk., 2013).

Material yang sering digunakan untuk pelapisan Fe3O4, salah satunya adalah

silika (Larraza dkk., 2012). Silika yang melapisi permukaan magnetit dapat mengurangi tarikan dipolar antar magnetit dan melindungi magnetit dari leaching atau pelarutan dalam kondisi asam (Deng dkk., 2005). Selain itu magnetit yang telah dilapisi dengan silika memiliki sifat ferromagnetik yang lebih tinggi serta memiliki

magnetic anisotropy yang lebih rendah (Lu dkk., 2007).

Metode dalam sintesis nanopartikel Fe3O4 diantaranya adalah hidrolisis,

mikroemulsi dan kopresipitasi. Metode ini merupakan salah satu metode sintesis senyawa anorganik yang didasarkan pada pengendapan lebih dari satu substansi secara bersama-sama ketika melewati titik jenuhnya.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kopresipitasi karena metode kopresipitasi menggunakan suhu kamar dan mudah mengontrol ukuran partikel sehingga waktu yang dibutuhkan relatif lebih singkat (Fernandez, 2011). Sedangkan untuk karakterisasi nanopartikel magnetit menggunakan

Transmission Electron Microscopy (TEM), X-Ray Diffraction (XRD), Fourier Transform Infra Red (FTIR) dan Vibrating Sample Magnetometer (VSM).

Beberapa logam berat yang telah banyak diteliti antara lain logam Cr, Hg, As, Sb, Se, dan V dan sebagian besar fokus pada mekanisme (interaksi oksidasi-reduksi)

(4)

pada permukaan Fe3O4 (Wang dkk., 2011). Sedangkan logam yang umum lainnya

seperti Cu, Mn dan Ni sangat sedikit diteliti sehingga sangat sulit ditemukan diberbagai literatur.

Logam Cu(II), Mn(II) dan Ni(II) termasuk logam trace essensial yang ditemukan mencemari lingkungan khususnya air akibat penggunaan pestisida atau dari limbah industri besi dan baja. Ketiganya merupakan jenis logam yang pada jumlah tertentu dibutuhkan oleh tubuh namun pada jumlah yang berlebihan logam-logam tersebut bersifat sangat toksik. Sifat toksik mungkin disebabkan dalam bentuk ion logam bebas Cu+2, Mn+2, dan Ni+2 membentuk senyawa kompleks dengan ligan pada permukaan membran sel makhluk hidup (Moreno dkk., 2010).

Pada penelitian ini dilakukan studi adsorpsi logam Cu(II), Mn(II), dan Ni(II) menggunakan adsorben nanopartikel magnetit untuk melihat efektifitas penggunaan nanopartikel magnetit dalam mengadsorpsi ion logam tersebut dibawah pengaruh variasi suhu selama proses adsorpsi, konsentrasi adsorben magnetit, ukuran partikel adsorben magnetit, readsorpsi, reuse (penggunaan kembali adsorben) dan pengaruh pelapisan adsorben magnetit dengan silika (konsentrasi 50%).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah efektifitas penggunaan adsorben nanopartikel Fe3O4 dalam

mengadsorpsi logam Cu(II), Mn(II), dan Ni(II) dalam artificial limbah cair? 2. Bagaimanakah pengaruh variasi suhu, konsentrasi, ukuran partikel,

readsorpsi, reuse dan pelapisan adsorben dengan silika (konsentrasi 50%) terhadap penurunan kadar logam Cu(II), Mn(II), dan Ni(II) dalam artificial limbah cair?

3. Bagaimanakah tingkat efektifitas penurunan kadar logam berat dalam limbah cair dengan metode adsorpsi?

(5)

1.3 Batasan Masalah

Pembahasan dalam penelitian ini dibatasi hanya pada pengkajian penurunan kadar logam Cu(II), Mn(II), dan Ni(II) dalam artificial limbah cair di bawah pengaruh variasi suhu, konsentrasi adsorben, ukuran partikel, readsorpsi, reuse dan pelapisan adsorben dengan silika (konsentrasi 50%).

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini ialah :

1. Menghitung penurunan kadar logam Cu(II), Mn(II), dan Ni(II) dalam

artificial limbah cair yang diadsorpsi dengan menggunakan adsorben

nanopartikel Fe3O4.

2. Mempelajari pengaruh variasi suhu adsorpsi, konsentrasi adsorben, ukuran partikel adsorben, readsorpsi, reuse dan pelapisan adsorben dengan silika (konsentrasi 50%) terhadap penurunan kadar logam Cu(II), Mn(II), dan Ni(II) dalam artificial limbah cair.

3. Mengukur tingkat efektifitas penurunan kadar logam berat dengan metode adsorpsi.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait kemampuan nanopartikel Fe3O4 sebagai adsorben dalam menyerap dan menurunkan kadar logam

Cu(II), Mn(II), dan Ni(II) yang terlarut dalam limbah cair. Sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai salah satu solusi alternatif untuk menanggulangi pencemaran limbah cair oleh logam berat dan dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya dalam mengembangkan nanopartikel Fe3O4 sebagai adsorben magnetik

untuk mengadsorpsi jenis ion logam berat lainnya yang belum pernah diteliti sebelumnya.

(6)

1.6 Sistematika Penulisan

Tesis ini ditulis dengan sistematika sebagai berikut :

1. Bab I menjelaskan latar belakang dilakukannya penelitian mengenai penggunaan nanopartikel magnetik Fe3O4 sebagai adsorben untuk menyerap logam Cu(II),

Mn(II), dan Ni(II), rumusan masalah, batasan masalah, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

2. Bab II berisikan tinjauan pustaka yang menjelaskan berbagai penelitian terdahulu mengenai metode adsorpsi, Fe3O4 dan aplikasinya sebagai adsorben dalam

mengatasi permasalahan pencemaran air oleh logam berat.

3. Bab III menjelaskan teori dasar mengenai terminologi magnetik, jenis-jenis magnetik, domain magnetik, metode kopresipitasi, nanopartikel magnetik Fe3O4,

teknik karakterisasi nanopartikel magnetik Fe3O4 dengan XRD, TEM, FTIR dan

VSM, adsorben magnetik, pelapisan Fe3O4 dengan silika, metode adsorpsi, logam

berat, logam tembaga, logam mangan dan logam nikel serta perhitungan prosentase penurunan kadar logam dalam limbah cair.

4. Bab IV menjelaskan alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian, prosedur penelitian, dan teknik pengolahan data.

5. Bab V memuat pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan.

6. Bab VI menunjukkan kesimpulan dari hasil eksperimen dan saran untuk penelitian dimasa mendatang.

Daftar pustaka mencantumkan seluruh pustaka yang diacu dan lampiran berisi data data yang diperoleh dalam penelitian, dokumentasi dan publikasi yang disajikan dalam jurnal nasional maupun jurnal internasional.

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat metode yang dapat dilakukan pada molase, yaitu menggunakan metode isoterm adsorpsi menggunakan bahan penyerap atau adsorben yaitu karbon aktif biji kelor,

Karbon aktif adalah salah satu jenis adsorben yang paling efektif digunakan untuk adsorpsi logam berat pada perairan dan polusi gas dikarenakan memiliki kapasitas adsorpsi yang

Memberikan informasi mengenai alternatif lain dalam menghilangkan ion logam berat Mn dengan memanfaatkan bubuk buah ketapang ( T.catappa) yang mempunyai nilai

MOF memiliki luas permukaan dan volume pori yang besar, ukuran pori seragam dan kandungan logam yang berpotensi sebagai situs aktif untuk adsorpsi gas tetapi

Rohmatullaili., 2015 Asam Humat Tinja Kusa sebagai Green Adsorben pada Adsorpsi Logam Pb(II) dan Ni(II), Tesis, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu

Pada penelitian ini dilakukan adsorpsi ion logam Cd 2+ menggunakan adsorben kitosan-p-t-butilkaliks[4]arena yang dibandingkan dengan kitosan, serta mempelajari kinetika

Penelitian itu antara lain : Analisis Cemaran Logam Berat Pb, Cu, dan Cd pada Ikan Air tawar dengan Metode Spektrofotometri Nyala Serapan Atom (SSA), Analisis Logam Pb, Cd, Cu dan

Bagaimana kapasitas adsorpsi bioadsorben berbasis silk fibroin dan limbah biji sirsak terhadap degradasi zat pewarna kristal violet dan adsorpsi logam berat Cu II pada berbagai variasi