Laporan Kegiatan Tahun 2014 - Buku II BPK Palembang 126 Program : Penelitian dan Pengembangan Produktivitas
Hutan
Judul RPI : Agroforestry
Koordinator : Ir. Budiman Achmad, M.For.Sc.
Judul Kegiatan : Paket Analisis Sosial, Ekonomi, Finansial, dan Kebijakan Pembangunan Hutan
Sub Judul Kegiatan : Analisis Sosial dan Kebijakan Pembangunan Hutan Tanaman Pola Agroforestry Jenis Bambang Lanang
Pelaksana Kegiatan : Bondan Winarno, S.Hut., MT., MMG. Edwin Martin, S.Hut., M.Si.
Ari Nurlia, S. Hut.
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan data dan informasi berkaitan dengan adopsi difusi inovasi bambang lanang oleh masyarakat pada daerah pengembangan. Sasaran penelitian yang akan dicapai adalah: (1) menguraikan dan menganalisis bentuk penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat dan dinamikanya ; (2) menganalisis proses adopsi difusi bambang lanang secara agroforestry oleh masyarakat;.Penelitian dilakukan pada 2 desa di wilayah Semendo, Kabupaten Muara Enim. Pendekatan metode survey, wawancara mendalam dan diskusi kelompok fokus digunakan dalam penelitian ini. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan terhadap data yang diperoleh. Sawah dan kebun kopi menjadi bentuk penggunaan lahan yng memiliki nilai historis dan budaya yang panjang bagi masyarakat Semendo. Sawah merupakan penciri budaya tunggu tubang dan kebun kopi merupakan sumber pendapatan utama sebagian besar masyarakat. Agroforestri kopi menjadi bentuk penggunaan lahan yang dominan di Semendo sampai dengan saat ini. Inovasi penggunaan padi pendek dan kopi stek mulai diimpementasikan masyarakat untuk memperbaiki produktifitas lahan. Kebun karet dan areal pertanian hortikultura merupkan bentuk penggunaan yang relatif baru dan cenderung membutuhkan input sumberdaya yang tinggi. Sebagian kecil masyarakat telah mengadopsi budidaya bambang lanang secara swadaya 6-8 tahun lalu di lokasi penelitian. Namun masyarakat yang lain tidak tertarik untuk mengikutinya karena: (1) masih melimpahnya sumberdaya kayu; (2) minim akses informasi dan akses mendapatakan bibit; (3) tanaman penghasil kayu bukan prioritas. Program KBR dalam 2-3 tahun terakhirmempercepat adopsi bambang lanang dengan kewenangan yang dimiliki pemerintah. Keberadaan tanaman bambang lanang swadaya menjadi proses knowledge dan persuasion dalam tahapan proses keputusan inovasi. Hal ini memudahkan program KBR untuk diimplemetasikan dan menunjukkan bahwa demplot diperlukan sebelum suatu program diimplementasikan kepada masyarakat umum. Kritik teradap program KBR yang masih bersifat seragam untuk seluruh daerah dan kurang memperhatikan kondisi penutupan lokal dan kebutuhan jumlah dan jenis tanaman bagi masyarakat yang memiliki manfaat sosial ekonomi.
Laporan Kegiatan Tahun 2014 - Buku II BPK Palembang 127 Kata kunci: agroforestri, bambang lanang, program pemerintah, penggunaan lahan, adopsi inovasi
A. Latar Belakang
Saat ini, bambang lanang (Michellia champaca) merupakan tanaman kayu yang prospektif dan banyak dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat di Sumatera bagian selatan. Walaupun produk kayu dari tanaman ini baru bisa dipanen pada umur 15 tahun namun masyarakat tetap berminat untuk membudidayakannya. Budidaya tanaman ini terus berkembang di masyarakat diiringi dengan permintaan bibit yang terus meningkat. Martin et al. (2010) memproyeksikan bahwa lebih dari 3 juta bibit tanaman ini telah ditanam di Sumatera Selatan.
Tanaman bambang seperti halnya tanaman kayu lainnya bukanlah tanaman pilihan utama masyarakat untuk dibudidayakan. Martin et al. (2010) menyatakakan bahwa tanaman bambang merupakan komoditas cadangan yang ditempatkan sebagai investasi. Oleh karena itu tanaman tersebut sebagian besar dibudidayakan dengan pola agroforestry. Pengamatan aspek sosial kebijakan merupakan aspek yang belum banyak diamati dalam penelitian agroforestry yang dilakukan oleh masyarakat secara swadaya (Sood, 2009), termasuk halnya agroforestry bambang lanang. Studi mengenai aspek sosial budaya dan kebijakan budidaya tanaman penghasil kayu secara agroforestry di Indonesia juga masih jarang dilakukan (Filius, 1997; Nibbering, 1999; Sabastian et al., 2012).
Adopsi budidaya bambang lanang pada daerah-daerah pengembangannya menunjukkan dinamika masyarakat dalam merespon jenis tanaman baru yang belum dikenal sebelumnya. Penelitian agroforestry hendaknya menyikapi kondisi tersebut secara fleksibel dengan mencoba memahami tidak hanya aspek teknis budidaya tapi juga mengenai kondisi sosial pedesaan (Sabarnurdin, 2011). Studi aspek sosial budaya dan kebijakan dalam agroforestry bambang lanang menjadi hal penting sebagai pembelajaran dalam memahami adopsi jenis tanaman kayu di berbagai daerah oleh masyarakat.
B. Tujuan dan Sasaran
Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan data dan informasi berkaitan dengan adopsi difusi inovasi bambang lanang oleh masyarakat pada daerah pengembangan. Sasaran penelitian yang akan dicapai adalah: (1) menguraikan dan menganalisis bentuk penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat dan dinamikanya ; (2) menganalisis proses adopsi difusi bambang lanang secara agroforestry oleh masyarakat;
C. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah Semendo yang merupakan daerah dataran tinggi di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Fokus desa kajian
Laporan Kegiatan Tahun 2014 - Buku II BPK Palembang 128 dilakukan pada dua desa yaitu Desa Tanah Abang, Kecamatan Semende Darat Laut dan Desa Tanjung Agung, Kecamatan Semende Darat Ulu. Metode survei dilakukan pada pengumpulan data tahap awal yang dilanjutkan dengan wawancara mendalam terhadap informan kunci dan focus group discussion (FGD) sebagai pendekatan untuk memahami aspek sosial budaya dan kebijakan dalam pengembangan agroforestri bambang lanang. Analisis data secara deskriptif kualitatif dilakukan untuk mengetahui berbagai hal terkait penggunaan lahan dan aspek sosial kebijakan dalam pengembangan agroforestri.
D. Hasil yang Dicapai
1. Karakteristik Lokasi Penelitian dan Responden
Penelitian dilaksanakan di wilayah dataran tinggi Kabupaten Muara Enim yang dikenal dengan nama wilayah Semendo. Wilayah ini memiliki topografi yang bergelombang dan berbukit dengan variasi ketinggian dari sekitar 500 mdpl – 1.500 mdpl. Akses menuju lokasi penelitian dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat dengan kondisi infrastruktur jalan beraspal yang relatif cukup baik. Jarak wilayah ini ke ibukota kabupaten, Muara Enim, sekitar 70 km dan angkutan umum pedesaan merupakan sarana transportasi yang biasanya digunakan masyarakat Semendo.
Masyarakat Semendo merupakan masyarakat yang memiliki budaya tunggu tubang dimana anak perempuan paling tua merupakan penerus waris dari orang tua atas pengelolaan rumah dan sawah. Oleh karena itu kegiatan pertanian menjadi sumber pendapatan dan penerimaan rumah tangga yang penting bagi masyarakat Semendo. Sawah dan kebun kopi menjadi aset penting bagi kehidupan masyarakat Semendo. Kondisi umum responde penelitian dapat diamati pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Karakteristik responden penelitian
Karakteristik Desa/Kelurahan
Tanah Abang Tanjung Agung
Jumlah responden (KK) 100 69 Umur (tahun/%) - 20 – 29 - 30 – 39 - 40 – 49 - 50 – 59 - > 60 2 30 36 28 4 7,25 24,64 46,38 14,48 7,25 Pendidikan (%) - Tidak sekolah - SD - SMP - SMA - PerguruanTinggi 1 31 40 18 10 0 56,52 18,84 23,19 1,45
Jumlah tanggungan rata-rata per KK (jiwa) 3 4
Luas lahan rata-rata per KK (ha) 1,75 1,41
Jumlah bidang lahan 1 1
Laporan Kegiatan Tahun 2014 - Buku II BPK Palembang 129
Pengeluaran rata-rata per bulan (Rp) 932.625 1.323.188
Komoditas penting sumber pendapatan Kopi, padi, karet Karet
Responden dalam penelitian ini adalah rumah tangga yang direpresentasikan dengan kepala keluarga (KK) yang berjumlah pelaku budidaya bambang lanang yang berjumlah 169 KK. Kondisi responden sebagian besar berada pada umur produktif sehingga berpotensi untuk melakukan kegiatan pengolahan lahan yang lebih aktif. Aktifitas agraris menjadi menjadi ciri khas kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan yang memiliki ketergantungan terhadap lahan sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga.
2. Penggunaan Lahan oleh Masyarakat
Aktifitas agraris menjadi penciri penting dalam masyarakat Semendo. Kegiatan bersawah dan berkebun menjadi kegiatan dominan masyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Berikut diuraikan penggunaan lahan oleh masyarakat, yaitu:
a.Sawah
Sawah memiliki nilai budaya yang penting bagi masyarakat yang dimiliki secara komunal dalam satu keluarga besar sebagai salah satu aset penanda tunggu tubang. Sawah menjadi jaminan keamanan pangan rumah tangga sehingga keberadaaannya memiliki nilai yang tinggi bagi masyarakat. Masyarakat Tanjung Agung masih menggunakan padi panjang (padi tradisional Semendo) sebagai sumber bibit dan belum beralih padi pendek yang mampu panen 2 kali setahun. Penggunaan bibit padi varietas pendek merupakan hal baru dan menjadi penting bagi masyarakat di Tanah Abang untuk jaminan pasokan kebutuhan bahan pangan pokok dan memiliki nilai sosial ekonomi yang mampu menopang kebutuhan ekonomi rumah tangga.Pengenalan padi pendek telah berlangsung sekitar 15 tahun di Tanah Abang.
2. Kebun kopi
Kebun kopi merupakan sumber pendapatan utama rumah tangga walaupun panen kopi sebagian besar masih dilaksanakan atu musim dalam satu tahun. Kopi menjadi penciri utama masyarakat Semendo karena di berbagai daerah Sumatera Bagian Selatan masyarakat Semendo dikenal sebagai pekebun kopi yang handal dan berani. Kopi memiliki nilai historis yang panjang dalam perjalanan masyarakat Semendo. Kebun kopi menjadi aktifitas utama penggunaan lahan oleh masyarakat. Fluktuatif harga komoditas kopi tidak menyurutkan masyarakat untuk mempertahankan kebun kopi yang ada.
3. Kebun karet
Karet menjadi komoditas yang telah lama dikenal dan mulai dibudidayakan kembali. Kegiatan pembangunan kebun karet mulai marak dilakukan oleh masyarakat di Tanah Abang karena kondisi ketinggian tempat yang sesuai untuk produksi getah karet dan orientasi komersial dari kegiatan perkebunan yang dilakukan masyarakat. Budidaya karet cenderung monokultur karena harapan
Laporan Kegiatan Tahun 2014 - Buku II BPK Palembang 130 produksi yang tinggi dan keuntungan finansial yang cukup besar. Budidaya karet juga cenderung padat modal karena memerlukan penanganan budidaya yang cermat untuk dapat menghasilkan produksi sesuai harapan.
4. Areal hortikultura
Budidaya tanaman hortikultura berkembang dalam 5 tahun terakhir dan masyarakat Semendo menyebutnya mbandungan. Istilah tersebut diberikan karena orang-orang yang berasal dari Bandung menjadi perintis usaha tersebut. Budidaya ini memerlukan kemampuan teknis yang cukup baik dan ketekunan. Budidaya hortikultura mulai banyak dibudidayakan masyarakat karena keuntungan yang besar dalam waktu relatif singkat. Namun risiko kerugian usaha ini juga cukup tinggi. Kalangan yang memiliki jiwa wirausaha yang handa dan memiliki kemampuan modal yang mapan merupakan pelaku usaha hortikultura. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah dampak negatif budidaya hortikutora terhadap kondisi tanah dan kualitas air karena input sumberdaya kimia yang cukup intensif.
Dinamika penggunaan lahan menunjukkan bahwa penggunaan lahan untuk perkebunan kopi masih menjadi hal dominan disamping berkembangnya kebun karet dan areal budidaya tanaman hortikultura. Keberadaan sawah di kedua desa menunjukkan penurunan luas karena keberadaan debit air yang kecil karena rusaknya daerah hulu air, saluran irigasi tradisonal yang mengalai kerusakan dan ketidakamanan lokasi sawah karena jauh dari desa. Sawah-sawah tersebut terbengkalai dan sebagian telah berubah menjadi kebun kopi. Komersialisasi komoditas tertentu mulai nampak dengan dibangunnya kebun karet dengan pola monokultur dengan input sumberdaya yang tinggi. Kopi stek merupakan sisi lain yang dilakukan masyarakat untuk memperbaiki produktifitas kopi dan menjadi inovasi penting bagi petani. Agroforestri kopi masih dominan dalam penggunaan lahan karena mampu memberikan manfaat yang terus berlanjut bagi masyarakat secara sosial ekonomi dan lingkungan.
3. Adopsi Bambang Lanang oleh Masyarakat di Semendo
Bambang lanang merupakan jenis tanaman yang baru bagi masyarakat di Semendo. Penanaman jenis penghasil kayu bukan hal baru bagi masyarakat karena sebagian masyarakat telah menanam rimau (Toona sinensi) di kebun kopi yang dikelolanya untuk kebutuhan kayu di masa depan. Kayu bambang lanang merupakan jenis tanaman yang berasal dari luar wilayah Semendo yang memiliki umur panen yang lebih cepat dari rimau. Kayu bambang dapat ditebang dan digunakan kayunya mulai umur 10 tahun sedangkan rimau lebih dari 25 tahun. Bambang mulai dikenal masyarakat di Tanah Abang sekitar 6-7 tahun yang lalu sedangkan di Tanjung Agung sekitar 8 tahun yang lalu. Penanam bambang pada awalnya adalah pedagang dan pegawai yang pernah melihat kayu ini di daerah lain dan kemudian secara swadaya membeli bibitnya untuk ditanam di kebun. Masa awal penanaman bambang lanang dilakukan dalam jumlah yang relatif sedikit (rata-rata kurang dari 30 batang) dan ditanaman secara campuran di sela tnaman kopi atau di pinggir kebun kopi.
Laporan Kegiatan Tahun 2014 - Buku II BPK Palembang 131 Penanaman awal bambang lanang ternyata tidak direspon masyarakat lainnya untuk mengikuti menanam bambang lanang. Walaupun memiliki keunggulan umur panen kayu yang cepat dan pertumbuhan batangnya tegak lurus dengan percabangan yang minim, namun masyarakat belum banyak yang tertarik untuk menanamnya. Hal ini terjadi karena beberapa penyebab, antara lain: (1) ketersediaan bahan baku kayu untuk berbagai penggunaan masih mudah diperoleh oleh masyarakat dari sekitar desa; (2) akses informasi minim mengenai cara memperoleh bibitnya; (3) tanaman penghasil kayu bukan tanaman prioritas di kebun sehingga masyarakat fokus pada tanaman pertanian dan perkebunan seperti kopi, karet dan coklat. Kondisi yang telah disebutkan berkontribusi terhadap lambatnya perkembangan bambang lanang di Semendo. Selain itu, masyarakat juga memiliki perhitungan risiko dengan melihat dulu perkembangan bambang lanang yang telah ditanam. Bila pertumbuhannya baik, ada kemungkinan mereka memiliki keinginan untuk menanamnya dan sebaliknya bila pertumbuhannya kurang maka masyarakat tidak memiliki keinginan untuk mengadopsinya. Hal ini sesuai dengan makna dari peribahasa di Semendo yang berbunyi: “Dulu dindak ngapa nyamugh, kedian dindak bebentalan”.
Adopsi bambang lanang oleh masyarakat mulai berkembang ketika program kehutanan berkaitan dengan penyediaan bibit bambang lanang secara gratis digulirkan. Hal ini juga didukung dengan kondisi faktual di lapangan tentang bambang lanang yang ditanam secara swadaya tumbuh dengan baik. Jeda waktu antara tanaman swadaya masyarakat dan pelaksanaan program pada kedua desa pengamatan sekitar 5 tahun telah memberikan waktu yang cukup bagi masyarakat untuk mengamati pertumbuhan bambang lanang hasil swadaya. Tanaman bambng lanang yang ada sebelum program diimplementasikan menjadi bahan bagi masyarakat dalam tahapan knowledge dan persuasion (Rodgers, 2003). Minat untuk mengadopsi bambang lanang mulai muncul pada sebagian besar masyarakat. Program Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang digulirkan di Desa Tanah Abang pada tahun 2011 dan di Desa Tanjung Agung pada tahun 2013 memberikan peluang kepada masyarakat umum untuk memperoleh bibit secara gratis. Masyarakat cukup berminat untuk memperoleh bibit bambang lanang dan bibit tanaman kehutanan lainnya untuk ditanam pada kebunnya. Penanaman dilakukan di sela-sela kebun kopi dan di pinggir kebun sebagai tanaman batas.
Adopsi bambang lanang yang diinisiasi pemerintah merupakan upaya mempercepat tingkat adopsi oleh masyarakat melalui kewenangan yang dimiliki pemerintah. Hambatan-hambatan yang dihadapi masyarakat dalam memperoleh bibit dapat dihilangkan melalui penyediaan bibit bambang lanang yang dibantu pemerintah. Introduksi bambang lanang melalui bantuan pemerintah di semua lokasi penelitian memiliki dampak positif dalam upaya menyebarluaskan budidaya tanaman penghasil kayu. Peran staf kehutanan di lapangan sebagai agen penyebar luas informasi menjadi penting dalam implementasi program.
Laporan Kegiatan Tahun 2014 - Buku II BPK Palembang 132 Penanaman bambang lanang oleh masyarakat ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan sendiri. Kayu masih menjadi material utama untuk konstruksi bangunan sehingga kebutuhan kayu terus meningkat. Di sisi lain, ketersediaan kayu berkualitas untuk konstruksi terus berkurang karena frekuensi penebangan yang tinggi. Responden mulai membeli kayu untuk memenuhi kebutuhan konstruksi bangunan.
E. Kesimpulan
Agroforestri pada masyarakat Semendo merupakan bentuk penggunaan lahan dengan beragam jenis tanaman sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi biofisik lahan dan kebutuhan sosial ekonomi rumah tangga. Pola agroforestri kopi sampai dengan saat ini merupakan bentuk penggunaan lahan yang dominan di Semendo. Hal ini telah lama dilakukan oleh masyarakat untuk memperoleh manfaat yang beragam dalam kurun waktu yang berbeda. Pola ini telah menjadi sumber pendapatan, sumber alternatif pangan dan sumber energi bagi rumah tangga yang mampu bertahan dalam menghadapi kondisi krisis. Pola agroforestri ini berpotensi untuk terus dikembangkan pada areal tidak produktif, termasuk lahan bekas sawah yang terlantar dengan beragam jenis tanaman pertanian, perkebunan dan kehutanan, termasuk tanaman penghasil kayu jenis bambang lanang. Pola tanam agroforestri juga diterapkan masyarakat dalam mengadopsi bambang lanang.
Adopsi bambang lanang oleh masyarakat melalui proses-proses tertentu yang melibatkan pelaku perintis penanaman dan program KBR yang diinisiasi pemerintah. Penanam awal bambang lanang merupakan perintis yang telah lebih dulu melakukan aksi karena memiliki akses informasi dan pengetahuan serta kemampuan sumberdaya. Penanam awal ini menjadi sumber informasi bagi masyarakat lainnya dan tanaman bambang lanang yang ditanamnya menjadi bukti nyata dari aksi yang dilakukan. Aksi nyata ini menjadikan program KBR dapat direspon positif oleh masyarakat. Kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah mealui program KBR dapat mempercepat adopsi bambang lanang.
Program KBR yang diimplementasikan memerlukan koreksi untuk memperbaiki program serupa di masa depan. Kondisi penutupan lahan pada daerah penerima program perlu diperhatikan sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan jumlah dan jenis tanaman yang akan diberikan. Peran penyuluh kehutanan dan staf pelaksana teknis terkait perlu lebih aktif dalam memberikan bimbingan dan pembinaan mengenai pertimbangan jenis tanaman yang akan diberikan dalam program yang sesuai dengan kondisi biofisik lahan, kebutuhan jenis tanaman untuk masyarakat, dan seleksi penerima program. Peran demplot diperlukan sebelum suatu program diimplementasikan secara luas.
Laporan Kegiatan Tahun 2014 - Buku II BPK Palembang 133 Foto Kegiatan
Gambar 1.
Tanaman bambang lanang berumur lebih kurang 2 tahun yang ditanam di sela-sela kopi di Desa Tanah Abang
Gambar 2.
Observasi dan diskusi di lapangan dengan tokoh masyarakat dan petani mengenai penggunaan lahan di Desa Tanah Abang
Gambar 3.
Kebun campuran bambang lanang dan kopi di Dusun Perencul, Desa Tanjung Agung
Gambar 4.
Suasana diskusi dengan salah satu warga Tanjung Agung dan Kepala UPTD Kehutanan Semendo