Terbentuknya
Bhikkhunī Sāsana
Kemunculannya kembali di era modern
Pariyatti Sāsana Yunior 2
Sejarah Kemunculan
Cūḷavagga Vinaya (V2:253ff)
merekam kronologi kemunculan
bhikkhunī:
Di Nigrodhārāma -Kapilavatthu,
Mahāpajāpatī sedih menerima
3 kali penolakan dari Buddha
atas keinginannya untuk
menjadi bhikkhunī.
Dia dengan mengenakan jubah
dan mencukur rambutnya
‘mengejar’ Buddha sampai di
Vesālī bersama dengan
Sejarah Kemunculan
YM. Ānanda bertanya kepada Gotamī kenapa berdiri di
luar gerbang dengan kaki bengkak, tubuh kotor dan
berurai air mata.
Setelah menolak permintaan Ānanda 3 kali dan atas
pertanyaan YM. Ānanda, Buddha menegaskan bahwa
wanita yang telah meninggalkan kehidupan duniawi dan
berlatih sesuai Dhamma-dan-Vinaya dapat mencapai
sotāpattiphala sd arahattaphala.
Ānanda menyampaikan bahwa Gotamī telah melakukan
banyak kebajikan: dia adalah bibi, ibu-tiri, perawat,
Sejarah Kemunculan
“Ānanda, apabila Mahāpajāpatī Gotamī menerima
aṭṭhagarudhamma (delapan peraturan yang harus
dihormati), maka hal tersebut menjadi penahbisan dia.”
Aṭṭhagarudhamma (catatan: garu bisa berarti ‘berat’
atau ‘yg dihormati’) yg harus dihormati dan tidak
dilanggar seumur hidup:
1. Bhikkhunī yg sudah ditahbis bahkan selama 100
tahun harus menyapa dg penuh hormat, bangkit dari
tempat duduk, beranjali dan melakukan
penghormatan yang pantas kepada bhikkhu yang
bahkan baru ditahbis hari itu juga.
Sejarah Kemunculan
Aṭṭhagarudhamma yg harus dihormati dan tidak dilanggar
seumur hidup:
2.Seorang bhikkhunī tidak diperbolehkan menjalankan
vassa tanpa bhikkhu.
3.Setiap 2 minggu, seorang bhikkhunī harus meminta 2
hal dari bhikkhu saṅgha: menanyakan hari uposatha dan
nasehat (ovāda).
4.Setelah vassa, seorang bhikkhunī harus mengundang
(pavāraṇā) 3 hal ini didepan dua saṅgha mengenai: apa
yang telah dilihat, apa yang telah didengar, dan apa
Sejarah Kemunculan
Aṭṭhagarudhamma yg harus dihormati dan tidak dilanggar seumur
hidup:
5.Seorang bhikkhunī yang melanggar peraturan yang berat
(garudhamma merujuk pada pelanggaran saṅghādisesa, V 2:255) harus menjalani hukuman (mānatta) dihadapan dua saṅgha untuk setengah bulan.
6.Ketika ia sebagai calon bhikkhunī telah berlatih 6 peraturan selama 2 tahun, dia hendaknya meminta penahbisan didepan 2 saṅgha
(ubhatosaṅgha).
7.Seorang bhikkhu hendaknya tidak dilecehkan dan dimaki dengan alasan apapun oleh seorang bhikkhunī.
8.Mulai hari ini, peringatan untuk bhikkhu oleh bhikkhunī dilarang, peringatan untuk bhikkhunī oleh bhikkhu tidak dilarang.
Kontroversi Interpretasi
Aṭṭhagarudhamma No. 6
6.Ketika ia sebagai calon bhikkhunī telah berlatih 6 peraturan selama 2 tahun, dia hendaknya meminta penahbisan didepan 2 saṅgha
(ubhatosaṅgha).
Pasang-surut Bhikkhunī Saṅgha •Bhikkhunī saṅgha berkembang di India sd abad 8.
•Raja Sri Lanka yg baru saja mengenal Buddhism memohon bhikkhu Mahinda (misionaris yang dikirim raja Asoka) untuk menahbiskan istrinya, ratu Anulā (Dip 15.76)
•Bhikkhu Mahinda, “Akappiyā mahārāja itthipabbajjā bhikkhuno (Maharaja,
tidaklah pantas untuk seorang bhikkhu memberikan pabbajjā kepada seorang wanita).” Beliau kemudian menjelaskan perlunya mengundang bhikkhunī dari India. (Catatan: Di VN tidak ada larangan buat seorang bhikkhu memberikan
pabbajjā pada wanita. Akan tetapi Samantapāsādikā [kitab komentar VN] menyatakan berbeda)
Pasang-surut Bhikkhunī Saṅgha
Bhikkhunī Saṅghamittā dkk membentuk saṅgha
bhikkhunī Sri Lanka, yang berkembang sd abad 11
(musnah karena situasi politik yg tidak menentu).
Pada abad ke-5 bhikkhunī saṅgha Sri Lanka
‘menanamkan benih’ silsilah penahbisan di China (ref:
Taishō [CBETA] L 939c) yang kemudian diikuti dengan
penerjemahan Vinaya Theravāda walaupun belakangan
hilang dikarenakan ketidakstabilan situasi politik saat itu.
Awal abad ke-8, bhikkhu dan bhikkhunī di China
mengikuti vinaya Dharmaguptaka atas perintah
penguasa setempat (Taishō L 793c).
Pasang-surut Bhikkhunī Saṅgha
Bhikkhunī saṅgha Theravāda dianggap telah punah dari
abad ke-11.
Pada tahun 1998, silsilah penahbisan bhikkhunī Theravāda
di Sri Lanka kembali dihidupkan oleh bhikkhunī dari Taiwan
dan Barat (Mahāyāna) bersama dengan bhikkhu dari
berbagai tradisi melalui upacara penahbisan-ganda di
Bodhgayā.
Vinaya Dharmaguptaka berasal dari tradisi Vibhajyavāda,
yg juga asal dari Theravāda.
Setelah menerima penahbisan di Bodhgayā, bhikkhunī
baru SL tsb kemudian menerima penahbisan ulang di
depan para bhikkhu Theravāda (SL) di Sarnath.
Kemunculan Kembali Bhikkhunī Saṅgha:
Pro dan Kontra
•Kontra: dengan punahnya saṅgha bhikkhunī di Sri
Lanka pada abad ke-11, maka garudhamma no.6
sudah tidak bisa dilaksanakan lagi, dengan demikian
penahbisan bhikkhunī yang membutuhkan 2 saṅgha
tidak bisa dilaksanakan lagi.
•Pro: Penahbisan di depan 2 saṅgha bisa dilakukan
dengan menahbiskan calon bhikkhunī di depan
saṅgha bhikkhunī dengan tradisi Dharmaguptaka
(Taiwan) terlebih dahulu baru kemudian di depan
saṅgha bhikkhu Theravāda.
•Keinginan Buddha untuk membentuk Catuparisā
(empat perkumpulan).
Kajian Garudhamma No.6
Arti ‘garudhamma’ (1): ‘peraturan berat’ yang merujuk kepada
peraturan saṅghādisesa.
Seorang bhikkhunī yang telah melanggar garudhamma harus
menjalani hukuman (mānatta) selama setengah bulan di
hadapan 2 saṅgha (V 2:255). Kemudian ia harus menjalani
proses rehabilitasi (abbhāna).
Arti ‘garudhamma’ (2): ‘peraturan yang harus dihormati’.
8 peraturan bukan termasuk dalam pelanggaran saṅghādisesa.
GD 2 = pācittiya 56 di Bhikkhunīvibhaṅga (V 4:313)
; GD 3 =
pācittiya 59 (V 4:315);
GD 4 = pācittiya 57 (V 4:314);
GD 7 =
pācittiya 52 (V 4:309) ==> bukan pelanggaran saṅghādisesa
(berat)
Apakah 8 Garudhamma
merupakan peraturan disiplin?
Peraturan pācittiya ditetapkan sebagai jawaban atas pelanggaran yang dilakukan oleh bhikkhunī (Bhikkhunīvibhaṅga). Dengan demikian maka peraturan pācittiya muncul setelah 8 garudhamma (yg dibuat sebelum ada bahkan 1 bhikkhunī pun).
Ciri dari vinaya, untuk pelanggaran pācittiya maka pelanggar pertama (ādikammika) tidak dianggap melakukan pelanggaran apapun. Dg kata lain pelanggar garudhamma 2,3,4 dan 7 tidak melakukan pelanggaran apapun.
Kesimpulan: kecuali GD 5, 8 garudhamma bukan peraturan disiplin yg memberikan hukuman buat mereka yg melanggar.
8 garudhamma adalah anjuran untuk dipuja (sakkatvā), dihormati (garukatvā), dijunjung tinggi (mānetvā) dan dihormati dengan penuh
bhakti (pūjetvā). Dengan demikian garudhamma berarti ‘peraturan untuk dihormati.’
Bagaimana dengan Garudhamma No. 6?
Seorang calon bhikkhunī harus telah melatih 6 peraturan
selama 2 tahun tercantum dalam pācittiya 63
bhikkhunīvibhaṅga (V 4:319); sementara keharusan untuk
ditahbiskan dihadapan 2 saṅgha tidak ditemukan
padanannya di peraturan pātimokkha.
Saṅgha bhikkhunī dengan tradisi Dharmaguptaka:
Silsilah yg tidak terputus sejak abad ke-5 yg dibawa
oleh bhikkhunī dari Sri Lanka, walaupun kemudian
mereka mengikuti vinaya Dharmaguptaka yg membuat
mereka menjadi
nānasaṃvāsa
(komunitas yg berbeda
[dengan Theravāda]).
Nānasaṃvāsa dan Samānasaṃvāsa
Pada saat perselisihan paham ttg peraturan vinaya bisa diselesaikan maka mereka menjadi samānasaṃvāsa (bagian dari komunitas).
Mahāvagga Vinaya mengajukan cara untuk menjadi samānasaṃvāsa (V 1:340) / bhikkhunī Theravāda:
•‘Atas inisiatif sendiri, seseorang membuat dirinya menjadi bagian dari komunitas yang sama’ (Attanā vā attānaṃ
samāsanasaṃvāsakaṃ karoti.): ketika seseorang menyadari
kekeliruannya dan bersedia mematuhi pandangan / peraturan dari komunitas yang berbeda.
•Hal ini terjadi pada saat bhikkhunī yang baru saja ditahbis di Bodhgayā kemudian meminta penahbisan di depan saṅgha
bhikkhu Theravāda SL di Sarnath.
Penahbisan Tunggal
oleh Saṅgha Bhikkhu
Setelah ditahbiskan menjadi bhikkhunī, Mahāpajāpatī Gotamī
bertanya kepada Buddha, “Bhante, bagaimana saya menjalaninya kaitannya dengan wanita2 Sākya itu?”
“Para bhikkhu, Aku ijinkan penahbisan bhikkhunī oleh
bhikkhu” [anujānāmi, bhikkhave, bhikkhūhi bhikkhuniyo upasampādetun”ti]. (V 2:257)
Perintah ini diberikan setelah 8 garudhamma.
Bisa diartikan apabila tidak terdapat saṅgha bhikkhunī maka penahbisan bhikkhunī oleh bhikkhu sah.
Perintah ini tidak pernah dihapus oleh Buddha.
“Para bhikkhu, sejak hari ini Aku menghapus penahbisan dengan tiga perlindungan yang pernah Aku tetapkan; para bhikkhu, Aku menetapkan penahbisan dengan ñatticatuttha kamma.” (V 1:56)
Kesimpulan
Penahbisan bhikkhunī di Bodhgayā sah sesuai dengan
vinaya Theravāda.
Apabila penahbisan oleh saṅgha bhikkhunī dari tradisi
Dharmaguptaka dianggap tidak sah maka alternatif untuk
menjadikannya sah:
1. Atas inisiatif sendiri, seseorang membuat dirinya
menjadi bagian dari komunitas yang sama
(samānasaṃvāsa): menghadap saṅgha bhikkhu
Theravāda.
2. “Para bhikkhu, Aku ijinkan penahbisan bhikkhunī oleh
bhikkhu” [
anujānāmi, bhikkhave, bhikkhūhi
bhikkhuniyo upasampādetun”ti
]. (V 2:257)
Bungkus Vs Isi
Bungkus:
Jubah merah muda
membangkitkan nafsu.
Sayalay adalah bentuk penindasan
terhadap kaum perempuan.
Isi:
Memberikan ruang buat kaum perempuan, bhikkhunī, sayalay,
sāmaṇeri untuk mempelajari
Tipiṭaka dan kitab komentar.
Memberikan kesempatan kepada mereka untuk melatih sīla
•Attanomatito ācariyavādo balavataro… ācariyavādato hi suttānulomaṃ balavataraṃ (ajaran guru di masa lalu [kitab komentar] lebih kuat daripada ajaran pribadi…suttānuloma [kanon] lebih kuat daripada ajaran para guru) ….[VA 1:231]
•Attanomati: penarikan kesimpulan atau ajaran individu yang tidak sesuai dengan sutta, suttānuloma dan ācariyavāda.
•Suttānuloma: cattāro mahāpaddesa (empat otoritas besar) •Ācariyavāda: kitab-kitab komentar Pāḷi.
•Vinayo nāma buddhassa sāsanassa āyu. Vinaye ṭhite sāsanaṃ ṭhitaṃ hoti
(Vinaya adalah ‘jantung kehidupan’ Buddha sāsana. Sāsana berdiri tegak selama vinaya juga berdiri tegak) [VA. 1:13]
•Appaññattaṃ na paññapessanti, paññattaṃ na samucchindissanti “tidak membuat peraturan atas apa yg tidak ditetapkan, tidak menghancurkan apa yang sudah ditetapkan.” (D 2:77)
Pariyatti dan paṭipatti
adalah “dua sayap seekor burung rajawali”
Bhikkhunī dan sāmaṇeri SAGIN yang belajar di Sri Lanka
Sumber materi:
• Digital Pali Reader
• Book of the Discipline Part V