RARE ANGON
SKRIP KARYA SENI
OLEH :
I KADEK ARI IRAWAN NIM. 200902015
PROGRAM STUDU S-1 SENI KARAWITAN
FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
INSTITUT SENI INDONESIA (ISI)
DENPASAR
2013
2
SKRIP KARYA SENI
RARE ANGON
Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan
memenuhi syarat mencapai
gelar Sarjana Seni (S1)
OLEH :
I KADEK ARI IRAWAN
NIM. 200902015
PROGRAM STUDI S-1 SENI KARAWITAN
JURUSAN SENI KARAWITAN
FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
INSTITUT SENI INDONESIA
DENPASAR
2013
3
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
SKRIP KARYA SENI
RARE ANGON
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Seni (S1)
MENYETUJUI :
PEMBIMBING I PEMBIMBING II
Hendra Santosa, SSKar.,M.Hum I Gede Mawan, S.Sn., M.Si
4
Skrip karya ini telah diuji dan dinyatakan sah oleh panitia Ujian Akhir Sarjana (S1) Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar, pada :
Hari, tanggal : Senin, 27 Mei 2013
Ketua : I Ketut Garwa, S.Sn.,M.Sn (……….) NIP. 19681231 199603 1 007
Sekretaris : I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum (……….)
NIP. 19641231 199002 1 040
Dosen Penguji :
1. Drs. Rinto Widiarto, M.Si (………....) NIP. 196604251992031015
2. Hendra Santosa, SSKar.,M.Hum (………)
NIP. 19671031 1992203 1 001
3. Ni Ketut Yuliasih, SST.,M.Hum (………)
NIP. 195407101979032001
Disahkan pada tanggal : 30 Mei 2013
Mengesahkan : Mengetahui :
Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Seni Karawitan
Institut Seni Indonesia Denpasar Ketua, Dekan,
I Ketut Garwa, S.Sn.,M.Sn I Wayan Suharta, SSKar, M.Si NIP. 19681231 199603 1 007 NIP. 19630730 199002 1 001
5
MOTTO
“SEMANGAT MEMBARA
6 SINOPSIS
Rare Angon adalah seorang anak desa yang kesehariannya sebagai pengembala sapi. Fenomena ini menginspirasikan penata untuk mewujudkan sebuah komposisi tabuk kreasi baru. Sebuah ekspresi musikal hasil dari pengalaman pribadi dimana penata merasakan bagaimana suka dan dukanya sebagai pengembala sapi pada saat masih duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP) sampai pada akhirnya sapi-sapi yang dipeliharanya bisa untuk dijual.
i
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penata panjatkan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Asung Kerta Wara Nugraha-Nya penata dapat menyelesaikan Skrip Karya Seni ini tepat pada waktunya. Penata sungguh merasa memiliki suatu keberuntungan tersendiri karena dalam kesempatan yang baik ini penata diberikan peluang untuk mendeskripsikan suatu karya yang penata garap.
Penata menyadari, tanpa adanya bantuan serta dorongan semangat dari dosen pembimbing dan kerjasama dari semua pihak yang terkait, kegiatan ini tidak akan berjalan sebagaiman yang diinginkan. Maka dari itu, dalam tulisan ini penata tidak lupa menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar.,M.Si, Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, yang telah memberikan fasilitas yang memadai dalam proses pembelajaran.
2. I Ketut Garwa, SSn.,M.Sn Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar.
3. I Wayan Suharta, SSKar.,M.Si Ketua Jurusan Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, yang selalu memberikan dorongan dan motivasi dalam menempuh tugas akhir ini.
4. Hendra Santosa, SSKar.,M.Hum dan I Gede Mawan, S.Sn.,M.Si, selaku pembimbing karya tulis dan karya seni yang telah banyak meluangkan
ii
waktu dalam memberikan bimbingan dan petunjuk selama proses penggarapan berlangsung.
5. Sekaa Gong Citra Gopta Petang selaku pendukung utama dalam mewujudkan karya karawitan ini.
6. Kedua orang tua serta seluruh keluarga tercinta yang selalu memberikan doa serta kesabarannya memberikan dorongan moril dan materiil selama perkuliahan serta terselesainya tugas akhir ini.
7. Segenap pihak pendukung dan rekan-rekan yang tidak bisa penata sebutkan satu-persatu yang dengan tulus membantu dan mendukung kelancaran karya seni karawitan yang penata garap.
Skrip ini masih jauh dari kesempurnaan, penata menyadari banyak keterbatasan dan kekurangan yang penata miliki, oleh karena itu dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati penata mohon kepada pembimbing, agar sudi kiranya memberikan saran-saran atau kritik yang bersifat membangun demi penyempurnaan penulisan selanjutnya. Semoga apa yang dipersembahakan dapat mermanfaat bagi kita semua.
Denpasar, Mei 2013
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Garapan ... 1
1.2 Ide Garapan ... 3
1.3 Rumusan Konsep Garapan ... 4
1.4 Tujuan Garapan ... 7
1.5 Manfaat Garapan ... 8
1.6 Ruang Lingkup ... 8
BAB II KAJIAN SUMBER ... 11
BAB III PROSES KREATIFITAS ... 15
3.1 Tahapan Penjajakan (Eksplorasi) ... 15
3.2 Tahap Percobaan (Improvisasi) ... 16
3.3 Tahap Pembentukan (forming) ... 17
BAB IV WUJUD GARAPAN ... 29
4.1 Struktur Garapan ... 31
4.2 Instrumentasi ... 40
4.3 Tempat Pementasan ... 54
iv BAB V PENUTUP ... 57 5.1 Kesimpulan ... 57 5.2 Saran-saran ... 58 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR DICOGRAFI LAMPIRAN
v
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Pelaksanaan Kegiatan Latihan ... 25 Tabel 2 Penganggening Aksara Bali ... 44 Tabel 3 Lambang dan Peniruan Bunyi Instrumen ... 45
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Foto pementasan ... 61 Lampiran 2 Nama Para Pendukung ... 64 Lampiran 3 Susunan Staf Produksi ... 65
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Garapan
Seni karawitan merupakan sebuah warisan kebudayaan yang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Seni karawitan ini sangat erat kaitannya dengan masyarakat Bali terutamannya masyarakat Hindu. Seni karawitan banyak dipergunakan sebagai sarana dalam upacara yadnya yang di lakukan masyarakat. Namun seni karawitan tidak hanya dipergunakan sebagai sarana yadnya tetapi berkembang menjadi suatu hiburan sehingga karya seni karawitan terus berkembang dan banyak terdapat kreasi-kreasi baru. Karena hal tersebut penata merasa tertarik untuk membuat suatu tabuh kreasi baru yang bertemakan pengembala sapi dengan judul Rare Angon. Kreasi Rare Angon ini terinspirasi dari cerita-cerita rakyat dan pengalaman penata sendiri sebagai pengembala sapi.
I Rare Angon adalah seorang anak desa yang jujur dan lugu yang setiap harinya bekerja sebagai pengembala kerbau, namun mempunyai kemampuan yang lebih dalam hal melukis.
Suatu hari sambil mengembalakan ternaknya, Rare Angon membuat lukisan di tanah berupa seorang gadis yang cantik bernama Ni Lubang Kuri. Kemudian datanglah raja Silangjana berjalan-jalan untuk menikmati keindahan alam (rekreasi), dilihatlah ada lukisan di tanah seorang gadis cantik. Sang raja sangat terpesona oleh kecantikan gadis dalam lukisan itu, kontan raja memerintahkan Rare Angon untuk mendapatkannya. Pada akhirnya usaha Rare Angon berhasil mendapatkan Ni Lubang Kuri, namun raja tidak puas dengan hal itu. Maka berbagai hal diperintahkan raja, yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang gembala dengan maksud untuk membunuh Rare Angon. Berkat kejujuran, keberanian dan rasa tanggung jawab
2 yang tinggi Rare Angon dapat mengalahkan sifat keangkaramurkaan raja Silangjana. (Tunjung, 2005: 1)
Dari pengamatan cerita-cerita tersebut, maka penata hanya mengambil cerita disaat Rare Angon sebagai pengembala kerbau. Penata ingin berbagi pengalaman dengan cara mengaplikasikannya ke dalam bahasa musikal berbentuk sebuah garapan kreasi baru yang berjudul Rare Angon.
Seperti cerita di atas, penata mempunyai sepenggal pengalaman mengenai kehidupan penata sehari-hari. Hari-hari yang dilalui oleh penata begitu riang dan gembira. Berikut penjabaran mengenai pengalaman-pengalaman yang pernah dilakukan oleh penata.
Di sebuah desa ada seorang anak sekolah yang kesehariannya sebagai pengembala sapi. Setiap pagi ia pergi ke sekolah untuk belajar dengan rajin demi menambah ilmu pengetahuannya untuk mencapai cita-cita dikemudian hari. Sepulang sekolah ia merapikan pakaian dan merapikan buku-buku pelajarannya. Kemudian tibalah waktunya bagi si anak ini pergi ke ladang untuk melakukan aktivitasnya sebagai pengembala sapi. Sabit, topi, dan keranjang yang terbuat dari anyaman bambu selalu menjadi alat bantu untuk mencari rumput yang akan dijadikan sebagai pakan sapi-sapinya. Pekerjaan yang sangat melelahkan maupun panas terik sinar matahari tidak mengurangi semangat dan niatnya untuk mencari sekeranjang rumput segar. Tidak berselang lama keranjangnya pun penuh dan padat terisi rumput yang telah disabitnya.
Dengan gigihnya ia memangkul keranjang yang berisi penuh dengan rumput-rumput hijau. Rumput yang tadi disabitnya langsung dituangkan ke dalam tempat pakan sapi yang terbuat dari kayu atau papan yang sudah dibentuk
3 sedemikian rupa supaya sapi-sapinya tersebut nyaman untuk memakan rumput yang sudah disediakan. Kemudian sesekali dengan semangat si anak ini membersihkan kandang sapinya agar kelihatan bersih dan nyaman. Setelah ia memberikan makan dan membersihkan kandang sapinya, maka si anak pengembala ini berteduh di bawah pohon yang rimbun untuk beristirahat sejenak. Si anak mengipas-ngipaskan topi yang dipakainya sambil merasakan sejuknya angin berhembus di badannya yang penuh dengan keringat.
Melihat fenomena tersebut maka penata terinspirasi untuk mengangkat sebuah karya komposisi karawitan dengan menggunakan gamelan Gong Kebyar sebagai media ungkap yaitu penggambaran sebuah kehidupan pengembala sapi (Rare angon).
Ada pun alasan penata untuk memilih gamelan Gong Kebyar sebagai media ungkapan, yaitu hanya gamelan Gong Kebyar yang penata dapatkan di desa penata khususnya di desa Petang dan gamelan Gong Kebyar pula memberi kemungkinan untuk digarap karena rasa musikalnya yang bisa menampilkan suasana gembira dalam melakukan aktivitas mengembala sapi dan karena seringnya penata memainkan gamelan Gong Kebyar.
1.2 Ide Garapan
Penciptaan karya seni memerlukan ide dasar yang kuat dan jelas, sehingga proses pelaksanaan untuk mewujudkannya ke dalam sebuah bentuk karya seni akan terasa lebih mudah. Penemuan sebuah ide dapat berlangsung dalam waktu
4 yang cukup lama dan dapat juga berlangsung dalam waktu yang singkat. Demikian pula dengan karya musik Rare Angon ini.
Aktivitas seorang anak sebagai pengembala sapi merupakan ide yang penata gunakan dalam menggarap sebuah komposisi tabuh kreasi. Inspirasi garapan ini merupakan sebuah ekspresi musikal hasil dari pengalaman pribadi dimana penata merasakan bagaimana suka dan dukanya sebagai pengembala sapi, pada saat masih bersekolah di tingkat sekolah menengah pertama sampai pada akhirnya sapi-sapi yang dipeliharanya dapat dijual. Melihat venomena tersebut penata sangat tertarik untuk menjadikannya sebuah komposisi karawitan tabuh kreasi yang berjudul Rare Angon.
1.3 Rumusan Konsep Garapan
Garapan komposisi Rare Angon ini merupakan tabuh kreasi dengan menggunakan gamelan Gong Kebyar sebagai media ungkap yang terdiri dari empat bagian antara lain:
1. Bagian pertama adalah awal mulainya suatu garapan karawitan. Pada bagian ini akan menceritakan sosok seorang anak dimana yang kesehariannya menjadi seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP).
2. Bagian ke dua adalah kelanjutan dari bagian pertama setelah adanya transisi dari bagian pertama. Pada bagian ini akan menggambarkan seorang anak menuju perkebunan atau ladang yang akan melakukan aktivitasnya sebagai seorang pengembala sapi.
5 3. Setelah adanya transisi dari bagian ke dua, maka dalam bagian ke tiga ini akan menceritakan tentang seorang anak pengembala sapi beristirahat sejenak di bawah pohon untuk melepas lelah sehabis mencari rumput untuk sapi-sapinya.
4. Bagian ke empat merupakan bagian akhir dari garapan ini. Disini akan diceritakan seorang anak yang menuju pulang ke rumah dengan raut wajah yang gembira setelah memenuhi kewajibannya sebagai pengembala sapi yang baik.
Komposisi karawitan ini merupakan sebuah garapan komposisi yang masih berpedoman pada pola-pola tradisi, namun tetap akan diberi sentuhan dengan unsur-unsur musikal seperti melodi, ritme, tempo, dan dinamika.
Garapan komposisi karawitan kreasi ini akan menggunakan Gong Kebyar sebagai media ungkap. Adapun gamelan Gong Kebyar yang akan di pergunakan sebagai media ungkap antara lain :
a. Sepasang kendang gupekan( lanang dan wadon) b. Satu tungguh ceng-ceng ricik ( kecil)
c. Satu buah kajar d. Empat tungguh pemade e. Empat tungguh kantilan f. Satu tungguh ugal g. Dua tungguh jublag h. Dua tungguh penyacah i. Dua tungguh jegoggan j. Satu tungguh reong
6
k. Satu gong (wadon) l. Satu tungguh kempur m. Delapan buah suling
Garapan ini menggunakan gamelan Gong Kebyar sebagai media ungkap serta menggunakan pendukung sebanyak 31 orang. Para pendukung ini berasal dari skaa dan sanggar yang ada di Desa Petang Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Pola-pola yang dikembangkan baik dari teknik permainan maupun motif-motif gendingnya, dengan penataan atau pengolahan unsur-unsur musikal seperti ritme, melodi, dinamika, dan timbre (warna suara). Garapan ini diharapkan menampilkan kesan pembaharuan dengan mengembangkan pola-pola inovatif kedalam bentuk komposisi tabuh kreasi.
Dalam proses penggarapannya, penata juga melakukan penataan dan penyajian agar musik yang disajikan tidak membosankan untuk dinikmati. Sifat-sifat estetika juga digunakan oleh penata dalam garapan ini seperti unity (keutuhan atau keselarasan), dominance (penonjolan atau penekanan), balance (keseimbangan) (Djelantik, 1990:.32). Hal ini di lakukan agar garapan ini enak untuk dinikmati serta memilih bobot yang lebih tinggi.
Gong Kebyar pada dewasa ini menduduki tempat yang dominan di antara gamelan-gamelan yang terbesar di seluruh Bali. Mungkin karena praktisnya, ia bisa mentranspornir lagu-lagu yang berlaras pelog sistem 5 nada. Hal ini menyebabkan ia kaya akan lagu. Gong kebyar juga dapat dipakai untuk memainkan gending-gending batel (pengarjan, bebarongan, palegongan, wayang) (Aryasa dkk, 1984: 54). Menurut McPhee yang dikutip oleh Prof Dibia dalam
7 ”Gong Kebyar adalah ensambel karawitan Bali yang muncul pada 1915 di Bali Utara“ yang menyatakan bahwa Gong Kebyar adalah ensambel karawitan bali yang muncul pada 1915 di Bali utara yang berlaras pelog dikembangkan dari gamelan Gong Gede yang merupakan produk musik Bali modern (Dibia:, Gong
Kebyar adalah ensambel karawitan Bali yang muncul pada 1915 di Bali Utara,Denpasar.
Hal: 328).
1.4 Tujuan garapan
Pada dasarnya melakukan suatu pekerjaan sudah tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai, begitu juga dalam melakukan penggarapan karya seni.
Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah :
a. Meningkatkan dan mengembangkan kreativitas berkarya di dalam seni khususnya dalam bidang seni karawitan yang mengangkat ide dari aktivitas seorang anak remaja kesehariannya sebagai pengembala sapi.
b. Menghasilkan garapan yang mampu mendukung tema secara penuh dalam karya seni.
c. Membiasakan diri dalam menggarap sebuah karya seni dan menambah pengalaman di dalam menangani langsung penggarapan suatu karya seni.
d. Dengan garapan Rare Angon ini penata ingin mengajak seluruh anak-anak untuk membantu orang tua dan melakukan aktivitas yang positif dan berguna.
8 1.5 Manfaat Garapan
Setelah terwujudnya garapan ini, nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat yang positif bagi diri sendiri maupun orang lain.
a. Garapan komposisi karawitan ini dapat dijadikan cermin untuk melangkah menuju hasil karya seni yang inovatif pada garapan berikutnya.
b. Menambah kekhasan seni pertunjukan karawitan Bali khususnya garapan tabuh kreasi.
c. Dapat melatih diri dalam menerapkan pengalaman khususnya dibidang seni karawitan, baik itu di masyarakat maupun pada orang yang membutuhkan.
1.6 Ruang Lingkup Garapan
Agar memperjelas serta tidak adanya kesalahan tafsir terhadap sebuah konsep garapan, maka di dalam bagian ruang lingkup ini penata menjelaskan tentang batasan-batasan karya sebagai berikut:
a. Pada konsep garapan ini terbentuk dalam golongan musik tabuh kreasi yang menonjolkan melodi, ritme, tempo, dan dinamika sebagai unsur utama dalam garapan komposisi ini.
b. Adapun kesan yang berjudul Rare Angon ini adalah agar penonton dapat merasakan kembali betapa gembira, sedih, marah, dan rasa ingin tahu pada waktu masa anak-anak dahulu.
c. Media ungkap dalam konsep garapan ini adalah satu barungan gamelan Gong Kebyar menggunakan satu ugal dan satu gong wadon.
9 d. Pendukung merupakan media yang utama sebagai pengantar jalannya sebuah karya seni. Dalam konsep garapan ini penata menggunakan 31 (tiga puluh satu) pendukung/pemain.
e. Di lihat pada cerita Rare Angon secara umum, penata hanya mengambil cerita pada saat Rare Angon sebagai pengembala kerbau. f. Durasi waktu berperan penting dalam penyajian karya seni agar tidak
menimbulkan sifat kejenuhan pada kalangan penikmat. Dalam garapan komposisi karawitan kreasi yang berjudul Rare Angon, ini akan menggunakan durasi waktu kurang lebih 12 menit.
Adapun gambaran dalam penyajian garapan ini yaitu sebagai berikut:
1. Bagian pertama adalah awal mulainya suatu garapan karawitan. Pada bagian ini akan menceritakan sosok seorang anak dimana yang kesehariannya menjadi murid atau siswa sekolah menengah pertama (SMP).
2. Bagian kedua adalah lanjutan dari bagian pertama setelah adanya transisi dari bagian pertama. Dalam bagian ini akan menggambarkan seorang anak menuju perkebunan atau ladang yang akan melakukan akativitasnya sebagai seorang anak pengembala sapi.
3. Bagian ke tiga adalah bagian yang setelah adanya transisi dari bagian ke dua. Maka dalam bagian ini akan menceritakan tentang seorang anak pengembala sapi tersebut beristirahat sejenak di bawah pohon untuk melepas lelah sehabis mencari rumput untuk sapi-sapinya.
10 4. Bagian ke empat adalah ending atau bagian akhir dari suatu suatu gending. Disini akan diceritakan seorang anak yang menuju pulang ke rumah dengan raut wajah yang gembira setelah memenuhi kewajibanya sebagai pengembala sapi yang baik.
11 BAB II
KAJIAN SUMBER
Perwujudan karya seni tidak lepas dari tinjauan sumber yang melandasi, baik sumber buku maupun discografi. Sumber tersebut dikaji secara seksama dan mendalam guna dapat memberikan data yang akurat sebagai acuan karya yang diwujudkan. Adapun tinjauan sumber dan sumber discografi yang dipakai dalam garapan ini adalah:
Kaset tabuh kreasi, Delod Brawah, festival Gong Kebyar PKB 2004 Kabupaten Badung, Produksi Bali Record pada tahun 2005, no kaset B 1134. karya I Wayan Widia,S.Skar, menginspirasikan penata untuk mencari pola melodi yang dinamis.
Mp3 tabuh kreasi, Lekesan, festival Gong Kebyar PKB 2004 kota Denpasar karya I Nyoman Windha.SSkar.MA juga menginspirasikan penata untuk mengolah melodi-melodi, sebab kreasi Lekesan tersebut banyak memakai melodi-melodi yang sangat manis dan dinamis untuk didengar.
Video ujian akhir Kualit karya I Gusti Ngurah Alit Supariawan S.Sn yang menginspirasikan penata untuk mengolah motif-motif yang menurut penata cocok untuk dituangkan ke dalam karya komposisi karawitan tabuh kreasi Rare Angon ini.
12 Parade Angklung Kebyar dalam ajang Pesta Kesenian Bali tahun 2010 dengan tabuh kreasi “Jangkrik Ngibing” karya I Made Mindrawan, dan tabuh keklentangan “Giri Asri” karya I Ketut Suarta Jaya SSKar, sebagai Duta Kabupaten Badung, yang dibawakan oleh Sekaa Angklung Guna Karya, Br. Adat Pangsan, Desa Pangsan, Kec. Petang, Kab. Badung. Pada garapan ini memberi inspirasi bagi penata untuk mewujudkan sebuah komposisi karawitan kreasi baru dengan berbagai olahan melodi, tempo dan pengembangan dari pola-pola tradisi karawitan Bali.
Rekaman MP3 Festival Gong Kebyar tahun 2008, tabuh kreasi “Murba” dan tabuh dua lelambatan “Toh Jiwa” tahun 2006 Duta Kabupaten Badung. Garapan ini bagi penata sangat menarik akan jenis kotekannya yang begitu padat dan menjadi jalinan utuh. Dari komposisi ini juga diperoleh pengetahuan pemanfaatan media yang tidak mungkin menjadi mungkin digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan kesan yang ingin disampaikan.
Daftar sumber
Daftar sumber suatu komposisi karawitan, tidak terlepas dari sumber dan informasi. Untuk menghasilkan karya seni yang di dalamnya mengandung nilai filsafat, etika dan sistematika, maka komposisi ini didukung dengan beberapa kajian sumber. Sumber- sumber tersebut diantaranya :
Pengetahuan Karawitan Bali. I WM Aryasa. 1983. Buku ini berisikan beberapa jenis gamelan Bali dan instrumentasi serta nama-nama gendingnya.
13 Dalam buku ini terdapat informasi tentang fungsi dan instrumentasi dari gamelan Gong Kebyar.
Ubit-Ubitan Sebuah Teknik Permainan Gamelan Bali. 1987. I Made Bandem. Dalam buku ini disebutkan ada beberapa jenis ubit-ubitan yang ada dalam permainan gamelan Bali. Melalui buku ini penata mendapat masukan mengenai penggunaan beberapa jenis teknik ubit-ubitan yang ditranspormasikan lewat karya.
Estetika Sebuah Pengantar. 1999. A.A M. Djelantik. Referensi ini mengulas tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan seni, baik estetika itu sendiri, penyajian bobot, dan lain sebagainya dibahas dalam buku ini dan bagaimana meninjau kesenian dan keindahan secara ilmiah. Dengan adanya sumber ini penata mendapat masukan tentang segala sesuatu yang digarap dalam karya seni.
Prakempa sebuah karawitan Bali, I Made Bandem, Akademi Seni Tari Indonesia, Denpasar (1986). Buku ini adalah sebuah hasil penelitian lontar tentang gamelan yang membuat empat unsur pokok antara lain filsafat, etika, estetika dan gegebug. Manfaat yang di dapat dari buku ini adalah sebagai panduan di dalam membangun konsep dan pengembangan inspirasi dalam beraktifitas.
Ensiklopedi Mini Karawitan Bali. 1998. Pande Made Sukerta. Bandung : MSPI. Dalam buku ini dijelaskan beberapa istilah yang terdapat pada Karawitan Bali. Dengan membaca referensi ini, memberikan masukan bagi penata tentang gamelan Gong Kebyar yang akan digunakan sebagai media ungkap.
14 Pedoman Tugas Akhir (TA) Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar 2013. Pedoman ini sangat berguna bagai penata untuk mengetahui aturan-aturan untuk pembuatan proposal maupun skripsi tugas akhir untuk Program Studi S-1 Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta 2008, Kamus Bahasa Indonesia/tim penyusun Kamus Pusat Bahasa Jakarta: Pusat Bahasa, 2008XNI, 1826 hlm; 21,5 cm ISBN 978-979-689-779-1. Untuk memudahkan penata dalam menyusun kalimat yang benar.
Dibia:, Gong Kebyar adalah ensambel karawitan Bali yang muncul pada 1915 di Bali Utara,Denpasar ;STSI, 1966. hal 328. Untuk lebih mengetahui bagaimana sejarah tentang Gong Kebyar
15 BAB III
PROSES KREATIVITAS
Proses kreativitas adalah suatu langkah yang sangat menentukan dalam mewujudkan suatu karya seni. Dalam hal ini seorang penata harus memiliki keterampilan, pengalaman, pengetahuan dan daya kreativitas yang cukup di samping faktor penunjang baik internal maupun eksternal. Faktor internal adalah kesiapan mental dan fisik penata. (Windha dkk, 1985: 12). Sedangkan eksternal adalah kesiapan pendukung atau saran-saran lain seperti tempat-tempat, media ungkap untuk menggarap. Apabila semua faktor tersebut terpenuhi secara baik, niscaya akan terwujud seni yang bermutu.
Menggarap suatu karya seni melalui suatu proses yang merupakan tahapan-tahapan penting untuk mewujudkan garapan tersebut. Dalam proses kreativitas penggarapan komposisi ini, penata berpedoman pada tiga tahapan yang di kemukakan oleh Alma Hawkins yang ditulis oleh Soedarsono dalam bukunya yang berjudul Pengantar Komposisi Tari. Tiga pedoman dalam berkarya yaitu penjajakan, percobaan, dan pembentukan.
3.1 Tahap Penjajakan
Tahap penjajakan merupakan langkah awal dalam melakukan proses penggarapan karya seni. Pada tahapan ini yang dilakukan adalah pencarian ide atau bahan yang akan diangkat untuk dijadikan sebuah karya seni (Soedarsono, 1978). Upaya untuk mendapatkan ide garapan dilakukan melalui
pengamatan-16 pengamatan dari suatu kejadian sosial di masyarakat, membaca buku, mendengarkan kaset-kaset, pengalaman pribadi serta masukan-masukan seni yang mengarah pada suatu garapan karya seni, dimana pokok-pokok pikirannya akan dijadikan sebagai sebuah garapan karya seni. Pokok pikiran tersebut juga merupakan suatu tantangan untuk dapat melahirkan karya seni yang lebih inovatif. Maka dalam tahap penjajakan ini penata menemukan ide yaitu inggin mengangkat pengalaman pribada yaitu pengalaman sebagai seorang pengembala sapi pada saat bersekolah di sekolah menengah pertama (SMP).
Kemudian penata pencari judul supaya cocok untuk konsep yang sudah disiapkan. Disini penata pernah membaca buku cerita I Rare Angon maka judul yang cocok untuk garapan ini yaitu Rare Angon. Kemudian menentukan istrumen sebagai media ungkap dalam penggarapan supaya instrument yang dipilih bisa menggambarkan tentang seorang anak sebagi pengembala sapi.
3.2 Tahap Percobaan
Tahap percobaan merupakan proses penciptaan suatu karya seni. Pada tahap ini penata melakukan percobaan mencari melodi-melodi untuk pembuatan awalan dalam pembentukan tabuh kreasi agar awalan yang dibuat dapat menggambarkan konsep yang sudah dirancang oleh penata, yaiti bagimana caranya agar tahap percobaan ini bisa menggambarkan tentang seorang anak yang keseharianya sebagi pengembala sapi. Kemudia penata mencoba untuk membuat gending dengan dua orang pendukung mencari motif ubit-ubitan supaya cocok dengan melodi yang sudah disiapkan kemudian bisa dituangkan kepada
17 pendukung yang lebih banyak pada saat latihan di mulai. Kemudian mencari pola yang cocok untuk di masukan ke dalam bahan yang sudah di tuangkan kepada pendukung. Adapun maksud dan tujuan proses ini adalah untuk mencoba mencari kemungkinan lebih baik dari segi melodi, teknik permainan maupun harmonisasi dari materi yang telah dikumpulkan. Melalui proses ini penata akan lebih mudah menuangkan kepada para pendukung nantinya.
3.3 Tahap Pembentukan
Tahap ini merupakan tahap akhir dari keseluruhan tahap yang di lakukan dalam proses kreativitas untuk mewujudkan sebuah garapan karya seni tabuh kreasi. Pada tahap ini mengarah pada bagian ketika mulai menerapkan atau melaksanakan ide dan konsep yang telah disiapkan yang diikuti dengan mengaplikasikan segala bentuk cobaan atau eksperimen yang telah dilakukan sebelumnya untuk dapat diwujudkan menjadi karya seni. Pada tahap ini mulai di bentuk garapan berdasarkan konsep dan aturan-aturan yang telah disiapkan, aturan atau ketentuan itu harus dilakukan oleh setiap pemain sebagai bentuk pernyataan musik yang diinginkan berdasarkan perasaan musikal penata.
Sebagai umat Hindu, sebelum mulai penuangan penggarapan karya ini penata terlebih dahulu mencari duasa ayu nuasen (hari baik untuk memulai latihan). Hari baik yang penata pilih untuk nuasen adalah hari Rabu tanggal 20 Maret 2013 pukul 18.00 wita. Nuasen diawali dengan persembahyangan bersama dengan beberapa pendukung. Tujuannya untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar dalam proses penggarapan tidak mengalami hambatan dan
18 dapat terwujud seperti yang diharapkan. Setelah mengadakan persembahyangan, penata mencoba menuangkan sedikit materi yaitu sedikit melodi dan motif ubit-ubitan yang cocok dengn melodi yang sudah di siapkan oleh penta kepada pendukung sebagai simbolis pelaksanaan nuasen. Selanjutnya dilakukan penyusunan jadwal latihan agar tidak terbentur oleh kegiatan-kegiatan lainnya mengingat kesibukan masing-masing pendukung.
Untuk menuangkan materi selanjutnya berturut-turut selama 3 (tiga) hari dari awal nuasen dari hari Rabu, Kamis dan Jumat tanggal 20, 21, sampai 22 Maret 2013 pada pukul 18.00 wita. Sebelum penuangan dimulai, penata menjelaskan secara menyeluruh bentuk karya yang akan digarap, dengan harapan para pendukung dapat mengerti maksud dan tujuan yang akan dicapai. Penuangan dimulai dari bagian satu dengan cara penuangan langsung pada gamelan, namun kadang-kadang materi tersebut bisa berhasil dengan baik dan kadang kalanya perlu dirubah atau diganti.
Hal ini terjadi karena ketidak puasan dari tafsiran penata sendiri dan dalam penuangan materi yang telah ditulis dalam bentuk notasi, memang belum menjamin terlaksana sesuai dengan yang dihapkan. Hal ini dapat pula menimbulkan kejenuhan dalam menuangkan materi. Dalam keadaan tersebut ternyata diperlukan keluwesan dan kesabaran dalam mempertimbangkan materi dengan pendukung untuk mencari pemecahannya. Sehingga sering tanpa disadari muncul secara sepontanitas materi-materi baru yang perlu ditambahkan dalam penggarapan tersebut. Mengingat pada bulan maret terbentur dengan hari raya Galungan maka latihan di tunda beberapa hari agar pendukung tetap bisa santai
19 pada saat hari raya tersebut, dengan demikian latihan selanjutnya dilakukan setelah hari raya galungan tepatnya pada saat pahing galungan.
Latihan selanjutnya dilakukan pada hari Jumat tanggal 29 Maret 2013. Pada tanggal 29 Maret latihan dilakukan pada pukul 18.00 wita. Pada latihan ini, penata mencoba memantapkan materi sebelumnya. Pada hari Sabtu tanggal 30-31 Maret sampai hari Kamis tanggal 5 April 2013 latihan masih dilakukan pada pukul 18.00 wita. Penata mencoba menambah materi dan membentuk konsep sampai bagian II walaupun sedikit terbentuk secara kasar kemudian direkam untuk dapat didengarkan kembali agar penata dapat menyambungkannya kembali dengan penambahan bahan yang masih kurang. Latihan selanjutnya akan di tunda beberapa hari karena dibulan April terbentur dengan hari raya Kuningan dan jadwal untuk latihan selanjutnya akan dilakukan setelah hari raya Kuningan.
Pada hari Senin tanggal 8 April 2013 pukul 18.00 wita, penata kembali mengadakan latihan untuk mengingat dan memantapkan gending dari bagian I dan II sampai selesai. Latihan dilanjutkan keesokan harinya tanggal 9 April 2013 hari Selasa pada jam yang sama, dalam latihan ini penata hanya memperbaiki bagian-bagian yang belum dikuasai oleh pendukung sampai bagian-bagian I dan II dikuasai dengan baik. Tanggal 10 April hari Rabu 2013 pukul 18.00 wita, penata mencoba merekam bagian I dan II sebagai bahan untuk didengarkan oleh teman atau senior yang sudah lebih berpengalaman untuk dimintai pertimbangan dan, kritik dan saran agar penata mengetahui di bagian mana yang perlu dikoreksi atau diperbaiki agar mendapatkan hasil yang cukup bagus.
20 Setelah itu penata kembali melakukan latihan keesokan harinya pada hari Kamis tanggal 11 April 2013 pada jam yang sama. Karena ujian karya seni yang sudah sangat dekat, penata melakukan latihan setiap hari kecuali ada kesibukan yang tidak bisa di tunda terutama waktu bagi pedukung. Dihari Kamis ini penata mencoba menuangkan bagian ke III dengan bahan yang sedikit melodi dan ubit-ubitan untuk dijadikan bayangan terlebih dahulu, sebelum penata menambahakan bagian ke III penata mencoba bagian I dan II yang sudah terbentuk secara kasar. Namun penuangan bagian ke III tidak dapat berjalan dengan lancer karena kehadiran pendukung yang tidak lengkap, dengan demikian penata melakukan latihan secara sektoral yaitu mencari mutif ubut-ubitan dengan instrumen gangsa pemade untuk penuangan bagian ke III. Akhirnya penata tidak bisa sepenuhnya melanjutkan pada bagian yang ke III, karena terbatasnya waktu dan kehadiran pendukung yang tidak lengkap.
Latihan selanjutnya pada hari Jumat dan Sabtu tanggal 12 dan 13 April 2013 pada jam yang sama. Pada latihan ini penata memfokuskan penuangan pada bagian ke III. Dalam latihan ini dengan pendukung yang masih kurang penata tetap menuangkan sedikit motif ubit-ubitan untuk bagian ke III walaupun secara kasar tetapi tetap bisa di pakai bayangan oleh pendukung yang hadir, agar dapat diingat-ingat kembali untuk melakukan latihan selanjutnya dengan harapan pendukung bisa hadir sepenuhnya. Harapan ini terutama bagi pendukung yang memegang instrument reong karena kebanyakan berasal dari luar desa Petang dengan jarak yang jauh sehingga jarang dapat mengikuti latihan.
21 Latihan berikutnya pada hari Minggu tanggal 14 April 2013 dengan waktu yang sama yaitu pada jam 18.00 wita penata melanjutkan latihan bagian ke III karena pada hari ini pendukung cukup banyak yang bisa hadir maka penuangan bagian tiga cukup berjalan dengan lancar walupun masih dalam tahap kasar tetapi ada bayangan untuk melanjutkan ke motif berikutnyan sampai selesai latihan dilakukan. Kemudian utuk melanjutkan latihan ke esokan harinya dengan jam yang sama latihan tidak bisa berjalan dengan lancar untuk mengingat-ngingat yang kemarin yang sudah dituangkan oleh penata, latihan kurang lancar dikarenakan cuaca yang kurang mendukung yaitu hujan deras, maka kedatangan teman-teman pendukung sedikit yang bisa hadir terutama yang rumahnya jauh dari tempat latihan maka latihan pada hari ini dibatalkan untuk sementara waktu.
Di hari Selasa ini tepanya tanggal 16 April 2013 latihan dilanjutkan kembali dengan pendukung yang hadir cukup banyak, maka bagian III bisa diselsaikan secara kasar. Dengan selesainya bagian ketiga maka penata mencari sambungan untuk disambungkan kebagian II karena pada saat latihan sektoral di hari yang kemaren penata belum membuat sambungan untuk disambungkan bagian III, kemudian karena waktu yang sudah malam maka latihan dihentikan pada pukul 22.00 wita. Untuk latihan keesokan harinya latihan diliburkan sehari karena teman-teman pendukung ada kesibukan ngayah di Pura Puseh kangin tepatnya di Desa Carangsari Petang. Utuk lalihan keesokan harinya latihan kembali menghadapi hambatan karena cuaca yang hujan deras maka kebanyakan teman-teman pendukung berhalangan hadir dengan alasan hujan deras, maka penata memaklumi dengan keadaan yang tidak memunginkan untuk latihan.
22 Latihan selanjutnya dilakukan keesokan harinya pada tanggal 19 April 2013 di jam yang sama maka penata meminta pendukung untuk melakukan latihan dari bagian I, II, dan III. Melihat bagian tersebut sudah cukup maka penuangan bagian berikutnya yaitu bagian IV sedikit demi sedikit penata mencoba menuangkan motif ubit-ubitan dan melodi yang cocok-cocok untuk dijadikan bagian empat dengan kondisi pendukung yang cukup banyak. Dengan menuangkan bagian IV walaupun masih kasar maka bagian ini sudah hampir selesai untuk bagian IV ini, dengan hari yang semakin larut malam maka latihan dihentikan agar semua pendukung dapat beristirahat. Keesokan harinya latihan ditiadakan sehari karena semua pendukung diminta hadir di sanggar Guntur Madu untuk menyambut kedatangan Pembina dari Kabupaten Badung yang melakukan kunjungan karena sanggar ini ditunjuk oleh Kabupaten Badung untuk mengisi acara di PKB pada saat acara PKB berlangsung di tahun 2013 ini. Hal yang menjadi hambatan utama dari latihan yang telah dilakukan adalah kehadiran pendukung yang memegang instrumen reong sangat jarang hadir karena kesibukan pribadi pendukung tersebut yang sudah berkeluarga sehingga memperlambat jalannya latihan.
Kemudian latihan dilanjutkan pada tanggal 22 April 2013 tepatnya hari Minggu. Pada latihan ini penata ingin melanjutkan materi bagian IV tetapi dengan minimnya pendukung yang datang maka latihan tidak dapat berjalan dengan lancar. Hal ini mengingat adanya ujian nasional tingkat SMP dimana sebagian besar pendukung mengikuti ujian tersebut. Latihan minggu-minggu ini sangatlah sulit karena masing-masing pendukung mempunyai kesibukan masing yang tidak
23 bisa ditunda. Maka bagian IV (empat) ini masih belum bisa di lanjutkan sampai akhir.
Latihan selanjutnya dilanjutkan pada tanggal 25 April karena latihan ditunda sementara mengingat Ujian Nasional dari adik SMP berlangsung maka pada hari ini penata melanjutkan pada bagian empat sampai selesai, kemudian penata mencoba untuk mengulang dari awal sampai akhir untuk didengarkan kembali, dikoreksi dan sampai pada akhirnya garapan ini dapat direkam sebab rekaman ini akan di berikan pada dosen pembimbing untuk di bimbing atau dikoreksi lebih lanjut. Maka di hari ini garapan kreasi Rare Agon ini bisa diselesaikan, kemudian dilanjutkan keesokan harinya dan seterusnya untuk persiapan gladi bersih pada tanggal 13 April 2013.
24 Jadwal Pelaksanaan
NO TAHAP KEGIATAN
RENTANG WAKTU YANG TELAH DITENTUKAN
February Maret April Mei 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Eksplorasi (penjajagan) 2 Improvisasi (percobaan) 3 Forming (pembentukan) 4 Pementasan 5 Pertanggungjawaban (Konferenship)
KETERANGAN: : Kerja Ringan
: Kerja agak berat : Kerja lebih berat : Pementasan
25 Tabel 1
Tabel Pelaksanaan Kegiatan Latihan
No Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan
1 Rabu
20 Maret 2013
Nuasen persembahyangan bersama beberapa pendukung.
Tujuannya untuk memohon kepada ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar dalam proses pengarapan tidak mengalami hambatan dan dapat terwujud seperti yang penata harapkan.
Dilaksanakan dengan beberapa pendukung
2 Rabu, Kamis
dan jumat pada tangal 20, 21, dan 22 Maret 2013
Menjelaskan secara menyeluruh bentuk karya yang akan digarap, dengan harapan para pendukung dapat mengerti maksud dan tujuan yang akan dicapai dengan penuangan bagian pertama.
-
3 Jumat 29 Maret 2013
Memantapkan materi sebelumnya Dengan
beberapa pendukung yang bisa hadir
26
No Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan
4 Sabtu dan Minggu, Tanggal 30- 31 Maret sampai Kamis 5 April 2013.
Penata mencoba menambah materi dan menco menuangkan motif ubit-ubitan untuk bagian keII sediket namun sudah terbentuk secara kasar kemudian di rekam untuk di ingatkan
Karena libur panjang terbentur hari raya Kuningan 5 Senin 8 April 2013
Latihan untuk mengingat dan
memantapkan bagian I (satu) dan II (dua) sampai selesai
Dengan beberapa pendukung 6 Sekasa 9 April
2013
Memperbaiki bagian-bagian yang
belum dikuasai oleh pendukung sampai bagian I dan II
Karena belum dikuasai dengan baik oleh pendukung 7 Rabu 10 April 2013
Pada hari ini dilakukan rekam dari bagian I dan II Sebagai bahan untuk di dengarkan oleh teman yang sudah berpengalama dalam menggarap 8 Kamis 11 April 2013
Mencoba untuk menuangkan melodi supaya cocok di jadikan bagian III (tiga) Latihan dengan beberapa pendukung yang bisa hadir
27
9 Jumat dan
Sabtu 12 dan 13 April 2013
Masih memantapkan bagian ke III Dengan
beberapa pendukung
10 Minggu 14 April 2013
Masih memantapkan bagian III Karena
Pendukung cukup banya yang hadir 11 Senin 15 April
2013
Dengan mengingat-ngingat latihan yang sebelumnya Karena hujan tidak bisa lancer karena kehadiran pendukung yang sediki 12 Selasa 16 April 2013
Latihan untuk menyelesaikan bagian III Dengan kehadiran pendukung yang cukup banyak 13 Rabu 17 April 2013
Latihan di liburkan karena ada acra ngayaah di pura puseh kangin Desa Carangsari Petang Semus pendukung ngayah 14 Kamis 18 April 2013
Latihan kembali mengalami hambatan karena cuaca yang hujan
Pendukung berhalangan hadir
15 Jumat 19 April 2013
Melakukan latihan dari bagian I II dan III dan menuangkan sedikit melodi dan mencari motif ubit-ubitan yang cocok untuk melodi yang sudah di siapakan untuk dijadikan bagian IV
Pendukung yang cukup banyak
28 16 Sabtu 20 April
2013
Latihan di liburkan sekali karena
semua pndukung menyambut
kedataangan Pembina dari Kabupaten Badung untuk mengusi acra pada PKB yang akan datang
Pertemuan di sanggar Guntur madu Petang 17 Minggu 21 April 2013
Melanjutkan materi bagian IV Dengan
pendukung yang sedikit Karena terbentur dengan ujian SMP 18 Kamis 25 April 2013
Melanjutkan bagian IV sampai selesai dan mencoba mengingat dari bagian I II, III dan IV
Dengan pendukung yang cukup banyak 19 Jumat 26 april 2013
Latian dilanjutkan dan seterusnya untuk persiapan gladi bersih tanggal 12 Mei 2013 Dengan pendukung yang gak menentu 20 Senin 13 Mei 2013
Gladi bersih di gedung Natya Mandala ISI Denpasar
Dengan semua pendukung
29 BAB IV
WUJUD GARAPAN
Garapan komposisi Rare Angon merupakan komposisi karawitan baru dengan menggunakan instrumen Gong Kebyar sebagai media ungkap yang terdiri dari beberapa bagian seperti bagian I,II, III, dan IV. Pola-pola yang dikembangkan baik dari struktur, teknik permainan maupun motif-motif gendingnya dengan penataan atau pengolahan unsur-unsur musikal seperti ritme, melodi, dinamika dan timbre (warna suara). Garapan ini diharapkan menampilkan kesan pembaharuan dengan menggembangkan pola-pola tradisi tersebut ke dalam bentuk garapan komposisi yang baru.
Dalam proses penggarapannya, penata juga melakukan penataan dalam penyajiannya agar musik yang disajikan tidak membosankan untuk dinikmati. Sifat-sifat estetika juga dipergunakan oleh penggarap dalam garapan ini seperti unity (keutuhan atau keselarasan), dominace (penjolan atau penekanan), balance (keseimbangn) (Dejelantik, 1990: 32). Hal ini penata lakukan agar garapan ini enak untuk dinikmati serta memiliki bobot yang lebih tinggi.
1. Keutuhan atau Keselarasan (unity)
Keutuhan yang dimaksud dalam garapan ini adalah bahwa dari awal sampai akhir garapan Rare Angon ini ada hubungannya antara bagian satu dengan bagian lainnya. Keutuhan disini juga bermaksud untuk penyajiannya dari awal sampai akhir tanpa ada suatu halangan atau hambatan.
30 2. Penojolan atau Penekanan ( dominance )
Penonjolan dalam garapan ini lebih banyak pada ritme dan melodi memainkan instrumen secara satu persatu dengan cara bergantian. Di dalam suatu karya seni, penonjolan pada masing-masing instrumen dilakukan agar garapan ini memiliki kekuatan dan identitas. Pada garapan komposisi Rare Angon ini kebanyakan menonjolkan instrumen suling karena hampir semua bagian dalam garapan ini menonjolkan instrumen suling. Dan sewaktu-waktu menonjolkan beberapa instrumen seperti menonjolkan instrument reong kantil gangsa pemade dan semu instrumen. Hampir semua bagian berisi penonjolan seperti yang disebutkan tadi.
3. Keseimbangan (Balance)
Apa yang dirasakan seimbang biasanya sama kuat yang dimaksud adalah adanya penekanan yang sama dari masing-masing instrumen. Adanya durasi waktu dari masing-masing bagian dalam garapan ini juga termasuk dalam unsur keseimbangan. Keseimbangan dalam garapan ini dilakukan dengan memberikan proporsi panjang pendeknya penonjolan yang dilakukan oleh masing-masing instrumen baik berupa melodi, ritme, tempo, dinamika, dan patet sehingga tidak ada kesan mengubur dari masing-masing unsur dalam garapan ini. Maka dari itu hampir semua bagian dari garapan Rare Angon ini berisi keseimbangan seperti yang disebutkan di atas.
31 4.1 Struktur Garapan
Musikalitas garapan Rare Angon tersusun berdasarkan komposisi atau struktur garapan yang terdiri dari empat bagian pokok yang disebut sebagai bagian I, II, III, dan IV, masing-masing mempunyai karakteristik berbeda dari unsur-unsur musik yang ada.
Struktur garapan Rare Angon ini adalah sebagai berikut :
Bagian I (Pertama)
Bagian pertama dalam garapan Rare Angon ini yaitu diawali dengan pukulan jegogan setelah itu diikuti dengan pukulan kantil setelah itu kembali masuk pukulan jegogan kemudian berbarengan dengan instrumen yang lain. Setelah itu kembali dengan pukulan jublag sebagai melodi tetapi dengan pukulan ngepat, kemudian diikuti dengan pukulan kantil dengan motif pukulan seperti curing angklung, kemudian melodi jublag terus berjalan kemudian masuk instrumen suling sebagai pemanis melodi dengan mengikuti melodi jublag dan penyacah, setelah itu masuk pukulan insterumen kendang, setelah permainan kendang diikuti oleh pukulan semua instrumen sampai habis bagian pertama. Untuk lebih jelasnya, adapun notasi dari bagian pertama yaitu sebagai berikut:
32
. . 1 . 3 4 5 7 . 5 . 4 4 5 . 7 1 3 5 1 . 3 51
3 4 5 7 1. 5 7 4 . 5 7 4 . 5 . 5 . 1 7
. . . 7 1 4 5 3 . 4 . 5 . 3 4 .
. 5 7 (1)
7 4 5 1 7 4 5 4 3 1 3 5 3 (1)
Bagian I
[. 5 . 4 . 3 . (1) . 5 . 4 . 3 . (1)
Kendang:
DT DT D TDT PPK PTD TD KP K P KP • CCC CKP CCCC K PKP KP • KP KP KP • • TT TT TT TD TD TD • KPT DT • • T DT DPKT DPKTD (•)7 1 3 4 5 3 5 1 7 5 4 3 1 3 5 3
1 3 5 5 7 5 4 1 1 7 1 3 4 5 7 1
7 5 4 3 5 3 5 1 5 3 5 (1)
33
Suling:
. . . 3 . . . 4 . . 5 6 5 4 5 6
5 4 5 6 5 4 5 . . . . 1 . . .5
. 3 1 . 4 3 1 . . . 7 6 . 3 1 3
Sundaren
. . 1 6 . 3 1 3 . 6 . 7 3 1 7 1
Selisir
Kebyar :
. 1 . 1 7 1 3 7 1 7 1 3 7 1 7 5 7 1 . 545 5 7 5 5
4 5 7 5 . 5 4 5 4 3 1 5 4 5 4 3 1 . 1 . . 1 .
. 3 . (7)
Reong:
3131 3131 7317 1717
1715. 71715 71717171
3131 3451 7314. 31.(7)
Kotekan:
34
. 1 . 3 . 4 . 5 . 5 . 5 . 4 . 7
. 7 . 5 . 4 . 3 . 4 . 5 . 7 . 3
. 4 . 5 . 7 . 7 . 7 . 3 . 3 7 5
7 5 7. (5)
Melodi:
[ .7 1 5 . 3 . 5 . 3 4 . 3 7 1 . 5 . 7 . 4 (5)]
4 5 7 . 5 . 4 3 4 5 7 . 5 . 3 4
3 1 7 . 1 . 3 4 3 1 7 . 1 . 4 3
4 5 7 . 5 . 4 3 4 5 7 . 5 . 3 4
3 1 7 . 1 . 3 4 3 1 7 . 1 . 4 3
Transisi bagian II
. 7 5 1 7 5 1 7 5 1 7 5 4 7 5 1 7 4 5 4 3
7 5 1 7 4 5 7 1 3 4 5 (7)
35
Bagian II
Untuk bagian ini diawali dengan pukulan jublag dan jegogan setelah itu masuk instrumen reong setelah itu masuk pukulan gangsa dan diikuti dengan pukulan reong dan masuk semua instrumen. Bagian kedua ini yaitu diulang dua kali supaya memperjelas bagian ini, setelah bagian kedua ini diulang duakali yaitu masuklah bagian transisi untuk peralihan kebagian tiga. Untuk lebih memperjelas paparan ini adapun notasinya sebagai berikut:
Bagian: II
|| 1757 45.7 .151754 57571 7537 1343
4534313 5745751 75431 75437
54577 54577 5434 571571(7)|| 2x
.53.53 .53.1(7) .53.53 .53.5(1)
|| 14.54 7.1.7 .5.5. (3)53.531|| 2x
.3.3..(1)
43143 13.1345 7345 7345
734(1) . . . . . . .1 3131
317(5) 7 1 . 1 7 5 4 3 4.71
7 . 7 (7)
36
Bagian:II
17 57 45.5 .151754 5757175 371343
4534313 5745751 75431 75437
5 4 5 7 7 5 4 5 7 7 5 4 3 4 571571(7)
. 53.53 . 53.1(7) .53.53 .53.5(1)
3 4 5 7 5 4 3(1) 3 4 5 7 5 4 3 (1)
. 3 .3 . .(1)
4 3 1 43 13.1345 7345 7345
7 3 4(1). . . . . . . 1 3 1 3 1
3 1 7(5) 71.1 7 5 4 3 4 . 7 1
7 . 7 (7)
Bagian III
Dibagian ketiga ini yaitu diawali dengan melodi pukulan jublag, penyacah dan jegogan diikuti dengan instrumen suling kemudian di bagian ini ada sedikit motif gending bebarongan untuk mengisi celah yang kosong walaupun hanya sedikit tetapi sangat masuk untuk menyambung ke motif-motif yang lain, setelah
37 itu masuk semua instumen dengan kotekan supaya memperjelas semua instrumen setelah itu bagian ini diakhiri dengan melodi suling, jublag dan jegogan. Untuk lebih jelasnya lagi adapun notasi bagian ke tiga ini:
Bagian III
|[ 135(7) 135(7) 135(7) 135(7)]|
57.4.5.3 .5.7.54.3(1)
4141 41.7 3737 . . .(7)
3131 3543 5431 3131
3131 5715 7171 5717
7171 .4.1 .4.1 .4431
.4431 5173 1435 4747
51. .
|[ .175 .35(5) .175 .35(1) ]| 5x
|[ .175 751(7) .7.7 457(1) ]| 4x
|[ .175 .35(1) .175 .35(1) ]| 4x
.351 .1.(1) .351 .1. (1)
.357 575(1) .351 .1. (1)
.357 575(7) 575(1)
38
7774 4447 7774 4454
3355 557(5)
Suling
. . .5 . . . 4 3 . 1 1 . .. 2
1 7 5 3 5 . 7
. 7 7 7 4 4 7 5 3 5 3 3 5 3 3 5 3
. . . 5 . . .7 5 7 5 7 . 7 . 5
Kebyar
. 7 . 7 5 7 4 5 7 5 7 4 5 7 5 4 5 7 4 . 5 3 .
5 4 3 5 4 5 3 4 7 4 7 4 5 .5 . 7
. 7 . 5 . 5 . 7 . 1 1 3.4 .1 . 3
. 4 13 .4 . 1 . 3 . 4 1 3 . 4 . 1 . 4
Bagian IVDi bagian ini diawali dengan dengan kebyar kemudian diikuti oleh pukulan penyacah, jublag dan jegogan, setelah itu masuk dengan pukulan reong dengan diulang dua kali setelah itu semua instrumen dimainkan dihiasi dengan
39 pukulan kantil sebagai melodi dan pemanis untuk bagian ini. Setelah itu masuk instrument suling kecil setelah instrument suling kecil diisi dengan pukulan kendang gupekan kemudian semua instrumen dimainkan kembali, untuk mengisi penundaan diisilah dengan tepuk tangan yang sudah di susun sedemikian rupa untuk bisa mengulang dua kali bagian ke empat ini sebelum peralihan ke akhir bagian empat ini. Adapun notasinya sebagai berikut:
Bagian IV
|[5 3 4 5 1(7)
1 5 3 7 1 5 3 4 1 5 3 4 1 3 4 5
1 7 5(4)
5 4 3 1 3 1 3(4) 5 4 3 1 3 1 3(4)
3 5 3 5 1 4 3 1 3 5 3 5 1 4 3(1)
3 1 3 1 5 4 5 7 1 7 5 4 . 7 1 5 4(3)
1 5 1 5 5 7 1(3) 1 5 1 5 5 7 1(3)
1 5 1 5 5 7 1(3) 3 1 3 4 . 1 3 4
5 4 3 1 4 3 7(7)
1 7 1 7 1 7 3 4 . 5 . . 1 7 1(3)
4 3 4 3 4 3 13 4 .5 35 43 1 . . 13 4
. 71 34 (3)
40
. . 13 4 .535431 . . 13 4 .71 34(3)
. . 13 4 .535431 . . 13 4 .71 34(3)
4 7 4 7 4 7 4 5 4 3 . .
.K PD TD .K PD TD . TT TT TT .D TD.
.PK PK PD TD TD TD TD . DT D.
3 4 5 3 4 5 . 7 5 4 7 4 . 1 . 1
. . 4 7 . 4 5 1 . . . . . . . .]|
4.2 Instrumentasi 4.2.1 Fungsi InstrumenFungsi dari masing-masing instrumen Gong Kebyar dalam garapan ini tidak jauh menyimpang dari fungsi sebelumnya (tradisi), hanya saja ada beberapa insrtumen yang dikembangkan fungsinya, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan musikalitas untuk mendukung ide dari garapan ini.
Adapun fungsi instrumen dalam garapan ini adalah sebagai berikut: a. Ugal
- Membawa melodi gending
- Menghubungkan ruas-ruas gending b. Pemade dan Kantilan
41 - Membuat jalinan-jalinan tertentu
- Memberi hiasan terhadap nada pokok berupa ubit-ubitan c. Penyacah
- Menentukan jatuhnya pukulan jublag - Sebagai melodi pokok
d. Jublag
- Menentukan jatuhnya pukulan jegogan
- Memperjelas tekanan-tekanan dari melodi penyacah e. Jegogan
- Memperjelas tekanan-tekanan gending pada setiap akhir kalimat lagu. - Dalam garapan ini fungsi dari instrumen jegogan juga dikembangkan
sebagai pembawa melodi. f. Reong
- Memberikan angsel-angsel (ritme) - Membuat jalinan motif-motif tertentu
- Memberi hiasan pada nada pokok berupa ubit-ubitan
- Membuat jalinan melodi tertentu dengan permainan tunggal g. Kendang
- Sebagai pemurba irama
- Sebagai penghubung ruas-ruas gending - Memberi angsel-angsel.
h. Gong
42 - Memberikan tekanan-tekanan sesuai dengan tujuan lagu itu sendiri
- Tapi dalam garapan ini jatuhnya pukulan Gong tidak memakai hitungan artinya jatuhnya pukulan gong pada lagu yang tepat
i. Kempur
- Sebagai pendorong jatuhnya pukulan gong - Pematok ruas gending
j. Klentong
- Dimainkan secara bergantian dengan kempur dalam satu gong k. Kajar
- Sebagai pemegang tempo l. Ceng-ceng ricik
- Sebagai pengisi irama
- Membuat angsel-angsel, variasi-variasi tertentu bersama dengan kendang.
m. Suling
- Memperindah bagian-bagian gending yang lirih - Membuat suasana tertentu
- Menjalankan melodi
43 4.2.2 Sistem Notasi
Sistem notasi yang dipergunakan dalam garapan ini adalah sistem notasi karawitan Bali yang disebut dengan notasi Ding-Dong yang simbulnya adalah lambang atau simbul yang berasal dari penganggening aksara Bali, yang berupa (4)tedong, ( 5 ) taleng ,( 7 ) suku ,( 1 ) carik, (3) ulu, ( 6 ) suku ilut dan ( 2 ) pepet. Penulisan notasi ini dicatat dalam bentuk notasi preskriftif yang artinya notasi yang dibuat secara detail. Notasi ini harus dimainkan seperti apa yang tercatat dalam notasi itu sendiri.
Penganggening aksara Bali ini bila dibaca dalam karawitan Bali maka aksara tersebut akan berbunyi ( 4 ) dong, ( 5 ) deng, ( 6 ) deung, ( 7 ) dung, ( 1 ) dang, ( 3 ) ding, ( 2 ) daing. Bunyi seperti ini terdapat pada laras pelog 7 nada. Untuk lebih jelasnya simbul-simbul tersebut dapat dilihat dalam table berikut ini:
44 Tabel II
Penganggening aksara Bali
Dibaca dalam laras pelog sapta nada
No
Simbol
Nama Aksara
Dibaca
1 2 3 4 5 6 73
4
5
6
7
1
2
Ulu Tedong Taleng Suku ilut Suku Carik Pepet Ding Dong Deng Deung Dung Dang Daing45 Dalam ilmu pengetahuan karawitan Bali disamping penggunaan simbol-simbol nada, juga di lengkapi dengan nada-nada yang umumnya dipakai dalam sistem notasi karawitan Bali. Symbol-simbol tersebut adalah:
a. Garis nilai
. . .
: Menunjukkan nilai tersebut dalam satu ketukan. b. Garis miring-- 3
--
: menunjukan apabila ada nada yang
berisi tanda ini artinya nada tersebut tertutup pada waktu memukulnya.
c. Tanda ulang || …. …. || : Menunjukan pengulangan lagu.
Tabel III
Lambang dan Peniruan Bunyi Instrumen
No Instrumentasi Lambang Peniruan Bunyi
1 Kempur +
2 Gong ( . )
3 Kendang lanang ( T ) Tut ( pukulan pada bagian muka kiri kendang ditutup dengan jari)
4 Kendang wadon ( D ) De ( pukulan pada bagian muka kendang)
5 Kendang lanang dan wadon ( C ) Cung ( dipukul bagian tengah muka kanan kendang dengan jari)
46 Notasi:
. . 1 . 3 4 5 7 . 5 . 4 4 5 . 7 1 3 5 1 . 3 51
3 4 5 7 1. 5 7 4 . 5 7 4 . 5 . 5 . 1 7
. . . 7 1 4 5 3 . 4 . 5 . 3 4 .
. 5 7 (1)
7 4 5 1 7 4 5 4 3 1 3 5 3 (1)
Bagian 1
[. 5 . 4 . 3 . (1) . 5 . 4 . 3 . (1)
Kendang
DT DT D TDT PPK PTD TD KP K P KP
• CCC CKP
ccccc
K PKP KP • KP
KP KP • • TT TT TT TD TD TD • KPT DT •
• T DT DPKT DPKTD (•)
7 1 3 4 5 3 5 1 7 5 4 3 1 3 5 3
1 3 5 5 7 5 4 1 1 7 1 3 4 5 7 1
7 5 4 3 5 3 5 1 5 3 5 (1)
47
Suling
. . . 3 . . . 4 . . 5 6 5 4 5 6
5 4 5 6 5 4 5 . . . . 1 . . .5
. 3 1 . 4 3 1 . . . 7 6 . 3 1 3
Sundaren
. . 1 6 . 3 1 3 . 6 . 7 3 1 7 1
Selisier
Kebyar
. 1 . 1 7 1 3 7 1 7 1 3 7 1 7 5 7 1 . 545 5 7 4 5
4 5 7 5 . 5 4 5 4 3 1 5 4 5 4 3 1 . 1 . . 1 .
. 3 . (7)
Reong
3131 3131 7317 1717
1715. 71715 71717171
3131 3451 7314. 31.(7)
48
Kotekan
. 1 . 3 . 4 . 5 . 5 . 5 . 4 . 7
. 7 . 5 . 4 . 3 . 4 . 5 . 7 . 3
. 4 . 5 . 7 . 7 . 7 . 3 . 3 7 5
7 5 7. (5)
Melodi
[ .7 1 5 . 3 . 5 . 3 4 . 3 7 1 . 5 . 7 . 4 (5)]
4 5 7 . 5 . 4 3 4 5 7 . 5 . 3 4
3 1 7 . 1 . 3 4 3 1 7 . 1 . 4 3
4 5 7 . 5 . 4 3 4 5 7 . 5 . 3 4
3 1 7 . 1 . 3 4 3 1 7 . 1 . 4 3
Transisi bagian II
. 7 5 1 7 5 1 7 5 1 7 5 4 7 5 1 7 4 5 4 3
7 5 1 7 4 5 7 1 3 4 5 (7)
49
Bagian II
|| 1757 45.7 .151754 57571 7537 1343
4534313 5745751 75431 75437
54577 54577 5434 571571(7)|| 2x
.53.53 .53.1(7) .53.53 .53.5(1)
|| 14.54 7.1.7 .5.5. (3)53.531|| 2x
.3.3..(1)
43143 13.1345 7345 7345
734(1) . . . . . . .1 3131
317(5) 7 1 . 1 7 5 4 3 4.71
7 . 7 (7)
Bagian II
17 57 45.5 .151754 5757175 371343
4534313 5745751 75431 75437
5 4 5 7 7 5 4 5 7 7 5 4 3 4 571571(7)
. 53.53 . 53.1(7) .53.53 .53.5(1)
3 4 5 7 5 4 3(1) 3 4 5 7 5 4 3 (1)
. 3 .3 . .(1)
50
4 3 1 43 13.1345 7345 7345
7 3 4(1). . . . . . . 1 3 1 3 1
3 1 7(5) 71.1 7 5 4 3 4 . 7 1
7 . 7 (7)
Bagian III
|[ 135(7) 135(7) 135(7) 135(7)]|
57.4.5.3 .5.7.54.3(1)
4141 41.7 3737 . . .(7)
3131 3543 5431 3131
3131 5715 7171 5717
7171 .4.1 .4.1 .4431
.4431 5173 1435 4747
51. .
51
|[ .175 .35(5) .175 .35(1) ]| 5x
|[ .175 751(7) .7.7 457(1) ]| 4x
|[ .175 .35(1) .175 .35(1) ]| 4x
.351 .1.(1) .351 .1. (1)
.357 575(1) .351 .1. (1)
.357 575(7) 575(1)
7774 4447 7774 4454
3355 557(5)
Suling
. . .5 . . . 4 3 . 1 1 . .. 2
1 7 5 3 5 . 7
. 7 7 7 4 4 7 5 3 5 3 3 5 3 3 5 3
. . . 5 . . .7 5 7 5 7 . 7 . 5
Kebyar
. 7 . 7 5 7 4 5 7 5 7 4 5 7 5 4 5 7 4 . 5 3 .
5 4 3 5 4 5 3 4 7 4 7 4 5 .5 . 7
. 7 . 5 . 5 . 7 . 1 1 3.4 .1 . 3
52
. 4 13 .4 . 1 . 3 . 4 1 3 . 4 . 1 . 4
Bagian III
|[5 3 4 5 1(7)
1 5 3 7 1 5 3 4 1 5 3 4 1 3 4 5
1 7 5(4)
5 4 3 1 3 1 3(4) 5 4 3 1 3 1 3(4)
3 5 3 5 1 4 3 1 3 5 3 5 1 4 3(1)
3 1 3 1 5 4 5 7 1 7 5 4 . 7 1 5 4(3)
1 5 1 5 5 7 1(3) 1 5 1 5 5 7 1(3)
1 5 1 5 5 7 1(3) 3 1 3 4 . 1 3 4
5 4 3 1 4 3 7(7)
1 7 1 7 1 7 3 4 . 5 . . 1 7 1(3)
4 3 4 3 4 3 13 4 .5 35 43 1 . . 13 4
. 71 34 (3)
. . 13 4 .535431 . . 13 4 .71 34(3)
. . 13 4 .535431 . . 13 4 .71 34(3)
53
4 7 4 7 4 7 4 5 4 3 . .
.K PD TD .K PD TD . TT TT TT .D TD. .PK PK PD TD TD TD TD . DT D.3 4 5 3 4 5 . 7 5 4 7 4 . 1 . 1
. . 4 7 . 4 5 1 . . . . . . . .]|
54 4.3 Tempat Pementasan dan Setting Instrumen
Garapan komposisi karawitan Rare Angon ini dipentaskan di Stage Natya Mandala ISI Denpasar yang berbentuk proscenium, yaitu sebuah stage yang posisi penonton dari arah depan. Masing- masing instrument dalam garapan ini disusun sedemikian rupa supayagarapan ini tidak hanya enak didengar, tetapi juga enak dipandang.
Adapun penempatan masing-masing alat musik (setting instrument) dalam garapan ini dapat dilihat seperti berikut:
Setting instrumen 12 13 14 11 10 9 10 9 4 4 4 4 2 2 6 3 2 2 5 8 8 7 7 1 7 7 2 2 1
55 Keterangan : Instrumen kendang 1. Instrumen suling 2. Instrumen ugal 3. Instrumen gangsa 4. Instrumen ceng-ceng ricik 5. Instrumen kajar 6. Instrumen kantil 7. Instrumen penyacah 8. Instrumen jublag 9. Instrumen jegog 10. Instrumen reong 11. Instrumen gong 12. Instrumen kempur 13. Instrumen kemong Trap :
5 buah trap besar 3 buah trap kecil
56 3 buah trap medim
4.5 Kostum
Dalam penyajian karya komposisi karawitan ini penata menggunakan kostum adat Bali, namun tidak menggunakan baju, yang digunakan adalah ikat kepala (udeng) menggunakan ikat kepala lembaran dengan motif batik tulis berwarna coklat, kain (kamen) warna coklat dengan motif batik tulis, sesaputan dan selendang dililitkan di leher. Digunakannya kostum tersebut di dalam busana penata ialah untuk menyesuaikan konsep penampilan yang telah dirancang oleh penata. kostum dari pendukung sedikit dibedakan dengan kostum dari penata yaitu pada pemakaian warna ikat kepala (udeng), kamen, sesaputan dan selendang pendukung menggunakan warna coklat yang agak berbeda, dimaksudkan untuk memperjelas perbedaan penata dengan pendukung garapan.
57
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas yang telah dijabarkan dari Bab I sampai Bab IV akhirnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Komposisi karawitan Rare Angon ini merupakan komposisi yang diwujudkan sesuai dengan ide-ide yang dikaitkan dengan suasana mengembala sapi ke dalam bentuk sebuah komposisi karawitan kreasi.
2. Melalui garapan ini penggarap ingin berkomposisi dengan memaksimalkan serta mengangkat potensi elemen yang ada sebagai media ungkap dalam berkomposisi.
3. Dalam garapan ini penggarap menyurahkan pengalamannya ke dalam bentuk garapan komposisi untuk dijadikan sebuah tabuh kreasi baru yang berjudul Rare Angon.
4. Komposisi garapan Rare Angon ini adalah komposisi yang bersifat programatik yang terdiri dari empat bagian yaitu bagian pertama, bagian dua, bagian tiga dan bagian empat, dengan beberapa peralihan yang menghubungkan bagian-bagian tersebut, dimana masing-masing bagian mempunyai karakter musical yang berbeda.
58 5.2 Saran-saran
Tradisi budaya, termasuk kesenian terus-menerus mengalami perubahan, dimana proses perubahan merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan tradisi, oleh karenanya melalui tulisan ini penggarapan menyarankan kepada seniman-seniman khususnya para mahasiswa di lingkungan ISI Denpasar agar:
1. Dalam memanfaatkan proses perubahan tersebut sebagai tantangan dalam berkreativitas tanpa membuang dan meninggalkan tradisi yang ada.
2. Mewujudkan sebuah karya seni bukanlah suatu hal yang mudah, olehkarena itu diperlukan kesiapan yang cukup matang, baik kesiapan mental maupun yang lainnya.
3. Sebelum melangkah keproses garapan penentuan konsep dan ide yang matang jauh sebelumnya merupakan kunci untuk meraih keberhasilan di dalam berkarya.
4. Diharapkan agar para seniman akan semakin tergugah untuk menciptakan karya seni dengan menggunakan instrument gamelan Gong Kebyar.
5. Untuk ujian akhir di tahun yang akan datang diharpakan mikofun harus d perlengkap, karena pada saat pementasan banyak kekurangan dalam suara.
59 DAFTAR PUSTAKA
Aryasa, IWM, DKK.1984/1985. Pengetahuan Karawitan Bali. Denpasar,10 Desember 1984.P.54
Bandem I Made. Prakempa Sebuah Karawitan Bali, Akademi Seni Tari Indonesia, Denpasar (1986).
________. 1991 Ubit-ubitan Sebuah Tehnik Permainan Gamelan Bali. STSI. Denpasar no.: 080/23/1991.
Djelantik. AAM. 1990. Pengantar Dasar Ilmu Estetika jilid 1. Denpasar : Sekolah Tinggi Seni Indonesia.
Dibia:, Gong Kebyar adalah ensambel karawitan Bali yang muncul pada 1915 di Bali Utara,Denpasar ;STSI, 1966. hal 328.
I Gusti Ngurah Alit Supariawan. 2010, Kualit, Skrip karya Karawitan guna menempuh ujian Sarjana Seni Program Srata 1 (S1) pada Institut Seni Indonesia Denpasar (tidak diterbitkan).
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta 2008, Kamus Bahasa Indonesia/tim penyusun Kamus Pusat Bahasa Jakarta: Pusat Bahasa Indonesia, 2008XNI, 1826 hal:21,5cm ISBN 978-979-689-779-1.
Novianta, I Made. 2010. Lingging Carik, Skrip Karawitan, Syarat guna menempuh ujian Sarjana Seni Program Srata 1 (S1) pada Institut Seni Indonesia Denpasar.
Pedoman Tugas Akhir (TA) Fakultas Seni Pertunjukan Istitut Seni Indonesia Denpasar 2013.
Soedarsono. 1978. Diklat Pengantar dan Komposisi Teori. Yogyakarta : ASTI Yogyakarta.