KINERJA PEMBERDAYAAN PETANI LAHAN KERING DI
LOMBOK TIMUR (STUDI KASUS PROGRAM
PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI
MELALUI INOVASI –P4MI)
(Performence of Farmer Empowerment in Dryland in East Lombok)
SUMANTO1, E. EKO ANANTO2, E. GUNAWAN2 dan SUBAGYO3
1Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002 2Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
3Bappeda Lombok Timur
ABSTRACT
The goal of Poor Farmers’ Income Improvement through Innovation Program (PFI3P) is to reduce poverty level of farmers in the marginal dryland areas. The project activities were started in 2003 in five districts and in East Lombok-District it covers up to 106 villages in 2007. The participatory and bottom-up planning approach was implemented by involving farmers or farmer’s group in identification of problems and their solutions, planning, executing, and utilization and maintenance of results of these activities to increase farmers’ income. The main focus of farmers empowerment is village investment activities where the farmers themselves involve in planning and implementation (from farmer – by farmer and for farmer). Farmer empowerment activities include institutional development, farmers participation, operational and maintenance of village investment results, and utilization of information and innovation in developing commercial farming system. Village Project Investment Committe (VPIC) was established in each villages to take responsibility in implementation of the village investment activities. Performance of 106 VPICs was evaluated by using seven indicators of farmer empowerment. All activities were conducted for two months. Results showed that performance of 35 VPICs (33.0%) are categorized as poor and 71 VPICs (67.0%) are categorized as good. The poor performance is generally due to different factors, among others: a) sluggish activities of farmer group; b) VPIC is still existing, but no significant activities carried out, c). village investment was unable to increase agricultural production up to about 25%; d).VPIC was still not optimally used for farmer empowerment including utilization of information and technology innovation. From maping result of performance VPIC in East Lombok, it is hoped that all activities in the future can be more easily handled. Key Words: Empowerment, Village Investment Committe, Farmers
ABSTRAK
Program Peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi (P4MI) dimaksudkan untuk mengentaskan kemiskinan di wilayah lahan kering. P4MI dimulai tahun 2003 yang targetnya mencakup di lima kabupaten, termasuk 106 desa sampai dengan tahun 2007 di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Salah satu komponen P4MI adalah pemberdayaan petani. Pendekatan P4MI adalah partisipatif dan bottom-up planning, dengan .mengikutsertakan petani dan kelompok tani dalam mengidentifikasi masalah dan cara pemecahannya, merencanakan, melaksanakan, memanfaatkan dan memelihara hasil kegiatan guna meningkatkan pendapatan petani. Kegiatan pemberdayaan petani yang utama berupa kegiatan investasi desa yang merupakan kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh petani (dari petani oleh petani dan untuk petani). Upaya pemberdayaan petani yakni penguatan kelembagaan, partisipasi (swadaya) petani, operasional dan pemeliharaan investasi desa serta pemanfaatan informasi dan inovasi dalam pengembangan usaha pertanian komersial. Pelaksanaan investasi desa dilakukan melalui kelembagaan yang dibentuk oleh petani yaitu KID (Komisi Investasi Desa). Untuk melihat kinerja 106 desa KID (tahun 2003 – 2007) telah dilakukan evaluasi dengan melihat tujuh indikator kinerja pemberdayaan petani. Informasi tersebut diperoleh dari laporan – laporan tertulis serta masukan-masukan dari: Petugas PIU Lotim; Konsultan P4MI; pengurus KID; pejabat desa dan kecamatan; Petugas LSM/ SLK dan pertemuan keproyekan baik di kabupaten maupun dilapangan. Pengumpulan informasi tesebut dilakukan dalam bulan Juli dan Agustus 2008. Hasil kinerja menunjukkan bahwa sebanyak 35 desa KID (33,0%) dalam kelompok masih belum baik (9 desa kurang baik, 8 desa
mendekati kurang baik dan 18 desa mendekati baik) dan sebanyak 71 desa KID (67,0%) sudah mempunyai kinerja pemberdayaan petani dengan baik atau diatas baik. Beberapa indikator yang menjadi penyebab masih adanya kinerja pemberdayaan petani yang kurang baik, karena: a). Kinerja kapasitas kelompok tani masih pasif; b). Kelembagaan KID masih ada, tetapi tidak seperti yang seharusnya; c). Dengan adanya Investasi desa belum dapat meningkatkan secara nyata ( < 25%) terhadap produksi pertanian dibandingkan dengan produksi sebelum adanya investasi desa, dan d). Desa KID belum digunakan secara optimal dalam pemberdayaan petani, pemanfaatan informasi dan inovasi teknologi pertanian dalam rangka usaha pertanian. Dengan diketahuinya peta desa KID tersebut di Kabupaten Lotim, diharapkan akan mempermudah pihak pengguna lainnya untuk dimanfaatkan sebagai acuan dalam memilih desa-desa yang dianggap baik dan kurang baik guna kegiatan untuk memajukan desa-desa KID tersebut dimasa yang akan datang, misalnya adanya Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) – Deptan atau yang lainnya.
Kata Kunci: Pemberdayaan, Komite Investasi Desa (KID), Petani
PENDAHULUAN
Sektor pertanian masih menjadi tumpuan hidup sebagian besar penduduk Indonesia saat ini dan menjadi penompang kebutuhan pangan bagi lebih 200 juta jiwa. Untuk itu sektor pertanian menjadi prioritas utama dalam penempatan pembangunan di era otonomi daerah. Namun demikian pembangunan pertanian secara umum masih juga dihadapkan banyak kendala yaitu semakin sempitnya luas garapan dan keterlibatan SDM generasi muda yang lebih tertarik pada pekerjaan bidang industri manufaktur atau lainnya yang kelihatannya banyak memberi harapan pendapatan masa depan, misalnya pekerjaan sebagai tenaga kerja pria atau wanita di luar negeri. Kondisi dilahan kering tampaknya mempunyai kendala yang semakin parah yang akan memberi pengaruh negatif pada upaya pencapaian tujuan pembangunan pertanian. Potensi mutu SDM yang rendah, yang dicirikan dengan rendahnya pendidikan dan keterampilan serta pendapatan mereka akan berdampak juga terhadap rendahnya tingkat penyerapan teknologi dan terbatasnya kemampuan mangerial petani. Karakteristik lain yang berperan sebagai kendala adalah: kondisi infrastruktur yang jelek, kelembagaan kelompok tani yang lemah, struktur industri pengolahan yang lepas dari akar kegiatan budidaya petani lahan sempit, sulitnya ketersediaan sarana produksi, resiko ketidakpastian yang tinggi dari investasi pertanian dan lemahnya petani terhadap informasi pasar.
Dalam rangka untuk mengurangi kendala-kendala di atas, usaha Badan Litbang Pertanian melalui P4MI telah melaksanakan kegiatan
kabupaten, diantaranya adalah di Kabupaten Lombok Timur yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan petani dengan meningkatkan pemberdayaan petani, peran teknologi dan informasi pasar. Kegiatan pemberdayaan petani di Lotim telah dilakukan sejak tahun 2003 – 2007 yang dilaksanakan secara bertahap terhadap sejumlah 106 desa. Kegiatan pemberdayaan petani yang utama berupa kegiatan investasi desa yang merupakan kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh petani (dari petani oleh petani dan untuk petani). Usaha peningkatan pendapatan petani pada kegiatan P4MI di Kabupaten Lotim dilaksanakan melalui upaya pemberdayaan petani yakni penguatan kelembagaan, partisipasi (swadaya) petani, operasional dan pemeliharaan investasi desa serta pemanfaatan informasi dan inovasi dalam pengembangan usaha pertanian komersial. Upaya pemberdayaan petani tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian lebih dari 25% dari sebelumnya sehingga tujuan mengurangi tingkat kemiskinan dapat terwujud. Pelaksanaan investasi desa dilakukan melalui kelembagaan yang dibentuk oleh petani yaitu KID (Komisi Investasi Desa) serta memperoleh pendampingan dari tenaga-tenaga LSM di lapangan yaitu SLK (staff LSM Kecamatan) dan FD (Fasilitator Desa) disamping pembinaan/bimbingan dari Dinas/ BPTP setempat/instansi terkait dalam kerangka organisasi pelaksanaan P4MI.
Untuk melihat hasil yang telah dicapai dalam melakukan upaya pemberdayaan petani, PIU kabupaten Lotim telah melakukan koordinasi baik dengan pihak LSM, KID, PPL, kelompok tani maupun pihak terkait lainnya
Disamping hal tersebut di atas, data kinerja pemberdayaan petani diperoleh dari hasil monitoring secara langsung di tingkat lapangan.
MATERI DAN METODE
Untuk melihat kinerja pemberdayaan petani dilakukan dengan metoda yang praktis dan sederhana. Pokok-pokok penilaian adalah: 1) Desa-desa yang dinilai kinerjanya adalah desa P4MI T.A. 2003 – 2007 dengan jumlah 106 desa dan 2) Indikator yang ditetapkan dalam penilaian kinerja pemberdayaan petani di setiap desa ialah: a). Peningkatan kapasitas petani/kelompok tani (nilai bobot = 20); b). Pengembangan kelembagaan (nilai bobot 20); c). Kontribusi masyarakat. (nilai bobot 10); d). Operasional dan pemeliharaan (nilai bobot 10); e) Peningkatan produksi (nilai bobot 10); f). Petani penerima manfaat.(nilai bobot 10); dan g).Keberlanjutan usaha.(nilai bobot 20). Penilaian untuk setiap indikator kinerja (TIM KONSULTAN P4MI, 2008a) adalah sebagai berikut:
Peningkatan kapasitas petani/kelompok tani
Sangat baik (SB) skor 3, apabila kelompok tani telah berkembang dengan telah berbentuk usaha bersama (koperasi) dan/atau kemitraan.
Baik (B) skor 2, apabila kelompok tani sedang berada dalam proses perencanaan membentuk usaha bersama.
Kurang baik (KB) skor 1, bila kelompok taninya pasif.
Pengembangan kelembagaan desa
Sangat Baik (SB) skor 3, apabila KID telah menjadi lembaga desa yang diakui masyarakat dan berkembang melebihi perannya semula, misalnya menjadi lembaga perencana kegiatan masyarakat di tingkat desa, memprakarsai pembentukkan koperasi atau badan usaha yang berbadan hukum, serta pembinaan selanjutnya, dan sebagiannya.
Baik (B) skor 2, bila KID telah menjadi lembaga desa yang diakui masyarakat dan masih berperan seperti semula.
Kurang Baik (KB) skor 1, apabila KID masih ada tetapi tidak berperan seperti seharusnya.
Kontribusi masyarakat dalam investasi desa
• Sangat Baik (SB) skor 3, apabila kontribusi masyarakat > 30% dari jumlah biaya pembangunan investasi desa
• Baik (B) skor 2, bila kontribusi masyarakat lebih kecil ≥ 20 – 30% dari biaya pembangunan investasi desa.
• Kurang Baik (KB), bila kontribusi masyarakat < 20% dari biaya pembangunan investasi desa.
Operasi dan pemeliharaan
• Sangat baik (SB) skor 3, bila pengaturan operasi dan pemeliharaan (OM) telah disusun berdasarkan kesepakatan dan sudah diimplementasikan.
• Baik (B) skor 2, bila pengaturan O & M telah disusun tapi belum diimplementasikan. • Kurang Baik (KB) skor 1, bila pengaturan O
& M tidak ada.
Peningkatan produksi pertanian
• Sangat baik (SB) skor 3, apabila setelah memanfaatkan investasi desa, produksi pertanian meningkat > 25% dan/atau biaya produksi turun.
• Baik (B) skor 2, apabila setelah memanfaatkan investasi desa produksi pertanian meningkat 10 – 25%.
• Kurang Baik (KB) skor 1, apabila setelah memanfaatkan investasi desa produksi pertanian meningkat lebih kecil dari 10%.
Cakupan petani penerima manfaat
• Sangat baik (SB) skor 3, apabila lebih dari 50% penerima manfaat adalah petani miskin • Baik (B) skor 2, apabila sebanyak 25 – 50%
penerima manfaat adalah petani miskin. • Kurang Baik (KB) skor 1, apabila kurang dari
Pengembangan usaha pertanian komersial
• Sangat Baik (SB) skor 3, apabila pemberdayaan petani, ketersediaan informasi dan inovasi telah dimanfaatkan untuk pengembangan usaha pertanian komersial. • Baik (B) skor 2, apabila pemberdayaan
petani, ketersedian informasi dan inovasi telah dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi pertanian.
• Kurang Baik (KB) skor 1, apabila pemberdayaan petani, ketersediaan informasi dan inovasi belum dimanfaatkan untuk usaha pertanian.
Untuk dapat menggambarkan hasil akhir penilaian kinerja investasi di setiap desa secara menyeluruh atas dasar penilaian ketujuh indikator (diberikan nilai skor dan pembobotan) tersebut di atas dilakukan pengolahan berikutnya, yaitu:
1. Nilai masing-masing indikator (Ni) = Nilai skor masing-masing indikator tersebut dikalikan dengan bobotnya
2. Nilai Total per desa (NT) = Jumlah hasil nilai masing-masing indikator dari poin a). 3. Hasil kinerja pemberdayaan petani per desa
adalah:
• Dikelompokan Sangat Baik (SB), apabila 250 < NT ≤ 300.
• Dikelompokan mendekati Sangat Baik (Msb), apabila 220 < NT ≤ 250
• Dikelompokan Baik (B), apabila 190 < NT ≤ 220
• Dikelompokan mendekati baik (Mb) 170 < NT ≤ 190
• Dikelompokan mendekati Kurang Baik (Mkb), apabila 150 < NT ≤ 170
• Dikelompokan Kurang Baik (KB), apabila NT ≤ 150.
Informasi penilaian untuk masing-masing indikator (7 indikator) per desa investasi dilakukan dengan menggunakan bahan berupa data/informasi yang diperoleh dari laporan-laporan tertulis serta masukan-masukan dari: Petugas PIU Lotim; Konsultan P4MI; pengurus KID; pejabat desa; pejabat tingkat. Kecamatan; Petugas LSM/SLK; rapat-rapat: keproyekan baik ditingkat Kabupaten maupun dilapangan, dan Hasil pengamatan dalam kunjungan-kunjungan ke lapangan. Pengumpulan
informasi tesebut dilakukan dalam bulan Juli dan Agustus 2008.
HASIL KINERJA PEMBERDAYAAN PETANI
Variasi jenis kegiatan investasi desa
Jumlah dan jenis kegiatan investasi desa di Kabupaten Lotim dari tahun 2003 sampai 2007 adalah berupa jalan desa (97 unit), irigasi sederhana (88 unit), diseminasi teknologi (97 unit), pelatihan (113 unit), dan pasar desa (4 unit). Dengan demikian total keseluruhan kegiatan investasi desanya dari tahun 2003-2007 mencapai 399 unit.
Hasil kinerja pemberdayaan petani atas dasar masing-masing indikator
Peningkatan kapasitas petani/kelompoktani
Tampilan aktivitas kelompok tani di 106 desa dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Aktivitas kelompok tani
Jumlah desa atas dasar kinerja peningkatan kapasitas
petani/kelompok tani Tahun Jumlah desa
Kurang
baik Baik Sangat baik 2003 10 - 9 1 2004 33 7 26 - 2005 22 7 15 - 2006 17 2 14 1 2007 24 6 17 1 Jumlah 106 22 81 3 Persentase (%) 20,8 76,4 2,8 Sumber: SUBAGYO, BAPPEDA LOTIM (2008) (data
diolah)
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kapasitas kelompok tani yang pasif masih sebanyak 22 desa (20,8%), sebanyak 81 desa (76,4%) dimana kelompok tani dalam proses membentuk usaha bersama dan 3 desa (2,8%) kelompok taninya telah berbentuk usaha bersama dan atau telah melakukan dengan bisnis kemitraan.
Pengembangan kelembagaan
Tampilan pengembangan kelembagaan desa/KID dapat dilihat pada Tabel 2. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa sebanyak 16 KID (15,1%) masih ada, tetapi tidak berfungsi seperti seharusnya, sebanyak 87 KID (82,1%) telah menjadi lembaga desa yang diakui masyarakat dan masih berfungsi, serta 3 KID (2,8%) telah menjadi lembaga desa yang diakui masyarakat dan berkembang melebihi perannya semula, misalnya menjadi lembaga perencana kegiatan masyarakat di tingkat desa, memprakarsai pembentukkan koperasi atau badan usaha yang berbadan hukum, serta pembinaan selanjutnya.
Tabel 2. Pengembangan kelembagaan
Jumlah desa atas dasar pengembangan kelembagaan KID Tahun Jumlah desa
Kurang
baik Baik Sangat baik 2003 10 - 9 1 2004 33 5 28 - 2005 22 7 15 - 2006 17 1 15 1 2007 24 3 20 1 Jumlah 106 16 87 3 Persentase (%) 15,1 82,1 2,8 Sumber: SUBAGYO, BAPPEDA LOTIM (2008) (data
diolah)
Kontribusi masyarakat dalam investasi desa
Kegiatan Investasi Desa untuk 106 desa di Kabupaten Lotim sejak 2003 – 2007 telah menyerap dana sebanyak Rp. 43.556.837.205, terdiri dari sumber dana Loan ADB 1909 sebesar Rp. 24.277.515.747 (55,74%) dan kontribusi masyarakat sebesar Rp. 19.279.321. 458 (44,26%).
Tampilan kinerja kontribusi masyarakat terhadap pelaksanaan investasi desa di Lotim disajikan pada Tabel 3. Dari Tabel 3 di bawah dapat ditunjukkan bahwa sebanyak 4 desa (3,8%) kontribusi masyarakat < 20% dari biaya pembangunan investasi desa, sebanyak 28 desa (26,4%) kontribusi masyarakat lebih kecil ≥ 20 – 30% dari biaya pembangunan investasi desa
dan sebanyak 74 desa (69.8%) kontribusi masyarakat > 30% dari jumlah biaya pembangunan investasi desa.
Tabel 3. Kontribusi masyarakat
Jumlah desa atas dasar kontribusi masyarakat Tahun Jumlah desa Kur
ang baik Baik Sangat baik 2003 10 - 5 5 2004 33 - 8 25 2005 22 3 8 11 2006 17 - 1 16 2007 24 1 6 17 Jumlah 106 4 28 74 Persentase (%) 3,8 26,4 69,8 Sumber: SUBAGYO, BAPPEDA LOTIM (2008) (data
diolah)
Operasional dan pemeliharaan
Tampilan terhadap pelaksanaan operasional dan pemeliharaan investasi desa oleh KID di Lotim disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Operasional dan pemeliharaan (O & M) Jumlah kinerja desa atas
dasar operasional dan pemeliharaan Tahun Jumlah desa
Kurang baik Baik Sangat baik 2003 10 - 4 6 2004 33 1 9 23 2005 22 - 6 16 2006 17 - - 17 2007 24 - - 24 Jumlah 106 1 19 86 Persentase (%) 1 17,9 81,1 Sumber: SUBAGYO, BAPPEDA LOTIM (2008) (data
diolah)
Dari Tabel 4 dapat diperlihatkan bahwa hanya 1 desa (1,0%) yang tidak ada pengaturan O & M, sebanyak 19 desa (17,9%) pengaturan O & M telah disusun tapi belum
diimplementasikan, dan sebanyak 86 desa (81,1%) pengaturan operasional dan pemeliharaan (O & M) telah disusun berdasarkan kesepakatan dan sudah diimplementasikan.
Peningkatan produksi pertanian
Tampilan terhadap peningkatan produksi pertanian akibat adanya investasi desa di Lotim dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Peningkatan produksi pertanian Jumlah kinerja desa atas dasar peningkatan produksi
pertanian Tahun Jumlah desa
Kurang baik Baik Sangat baik 2003 10 - 10 - 2004 33 8 25 - 2005 22 18 4 - 2006 17 6 11 - 2007 24 8 16 - Jumlah 106 40 66 - Persentase (%) 37,7 62,3 - Sumber: SUBAGYO, BAPPEDA LOTIM (2008) (data
diolah)
Dari Tabel 5 dapat diperlihatkan bahwa sebanyak 40 desa (37,7%) dimana manfaat investasi desa dapat meningkatkan sebanyak kurang dari 10% dari hasil produksi pertanian dibandingkan sebelum adanya perbaikan investasi desa dan sebanyak 66 desa (62,3%) dimana manfaat investasi desa dapat meningkatkan sebanyak 10 – 25% dari hasil produksi pertanian dibandingkan sebelum adanya perbaikan investasi desa.
Cakupan petani penerima manfaat
Tampilan terhadap cakupan petani penerima manfaat setelah adanya investasi desa di Lotim dapat dilihat pada Tabel 6.
Dilihat pada Tabel 6 memperlihatkan bahwa sebanyak 106 desa (100%) telah menunjukkan lebih dari 50% penerima manfaat adalah diperuntukan petani miskin.
Tabel 6. Cakupan petani penerima manfaat Jumlah kinerja desa atas
dasar cakupan petani penerima manfaat Tahun Jumlah desa
Kurang baik Baik Sangat baik 2003 10 - - 10 2004 33 - - 33 2005 22 - - 22 2006 17 - - 17 2007 24 - - 24 Jumlah 106 - - 106 Persentase (%) - - 100 Sumber: SUBAGYO, BAPPEDA LOTIM (2008) (data
diolah)
Pengembangan usaha pertanian komersial
Tampilan terhadap pengembangan usaha pertanian komersial setelah adanya investasi desa di Lotim dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Pengembangan usaha pertanian komersial Jumlah kinerja desa atas dasar pengembangan usaha
pertanian komersial Tahun Jumlah desa
Kurang
baik Baik Sangat baik 2003 10 8 1 1 2004 33 13 20 - 2005 22 16 6 - 2006 17 4 12 1 2007 24 15 8 1 Jumlah 106 56 47 3 Persentase (%) 52,8 44,4 2,8 Sumber: SUBAGYO, BAPPEDA LOTIM (2008) (data
diolah)
Dilihat pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebanyak 56 desa KID (52,6%) belum digunakan untuk pemberdayaan petani, pemanfaatan ketersediaan informasi dan inovasi teknologi dalam rangka usaha pertanian, sebanyak 47 desa KID (44,4%) sudah menggunakan untuk pemberdayaan petani, pemanfaatan ketersediaan informasi
pertanian, dan hanya 3 desa KID (2,8%) sudah menggunakan untuk pemberdayaan petani, pemanfaatan ketersediaan informasi dan inovasi teknologi dalam rangka pengembangan usaha pertanian komersial.
Rekapitulasi penilaian kinerja
pemberdayaan petani P4MI di Lombok Timur tahun 2003 – 2007
Rekapitulasi hasil kinerja pemberdayaan petani/kelompok tani dicerminkan oleh nilai total keseluruhan atas dasar tujuh indikator seperti hasil yang diperoleh sebelumnya. Tampilan total kinerja pemberdayaan petani/ kelompok tani tersebut untuk masing-masing desa KID di Kabupaten Lotim dapat dilihat pada Tabel 8.
Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa sebanyak 35 desa KID (33.0%) mempunyai kinerja pemberdayaan petani masih belum baik (9 desa kurang baik, 8 desa mendekati kurang baik dan 18 desa mendekati baik) dan sebanyak 71 desa KID (67.0%) sudah mempunyai kinerja pemberdayaan petani dengan baik (43 desa), mendekati sangat baik (25 desa), dan bahkan 3 desa tergolong sangat baik.
Analisis hasil penilaian kinerja pemberdayaan petani
Pengaruh faktor indikator terhadap hasil kinerja pemberdayaan petani
Hasil kinerja pemberdayaan petani di Kabupaten Lotim tercatat 35 desa KID (33,0%) belum melaksanakan dengan baik, bahkan
tercatat ada 9 desa KID yang tergolong kurang baik pelaksanaannya. Beberapa indikator yang menjadi penyebab masih rendahnya kinerja pemberdayaan petani tersebut adalah a). Kinerja kapasitas kelompok tani masih pasif; b). Kelembagaan KID masih ada, tetapi tidak seperti yang seharusnya; c). Dengan adanya Investasi desa belum dapat meningkatkan secara nyata (< 25%) terhadap produksi pertanian dibandingkan dengan produksi sebelum adanya investasi desa , dan d). Desa KID belum digunakan secara optimal dalam pemberdayaan petani, pemanfaatan informasi dan inovasi teknologi pertanian dalam rangka usaha pertanian.
Beberapa contoh keberhasilan P4MI
Beberapa contoh keberhasilan awal yang telah dilaksanakan oleh P4MI selama 2003 – 2007 dapat diuraikan sebagai berikut (TIM KONSULTAN P4MI, 2008b):
• Jumlah kontribusi petani dalam pembiayaan investasi desa, rata-rata 28 %, melebihi ketentuan yang ada dalam dokumen P4MI seperti Project Administration Memorandum (PAM) ialah 20%, dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
• Aset petani dalam bentuk lahan dan pohon-pohon produktif di lokasi yang akan digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana umum desa diberikan secara cuma-cuma, dan dikukuhkan dalam bentuk pernyataan tertulis yang dilampirkan pada usulan/proposal investasi desa.
Tabel 8. Hasil rekapitulasi kinerja pemberdayaan petani/kelompok tani di Lotim
Jumlah desa KID berdasarkan kinerja pemberdayaan petani Tahun Jumlah desa KID
Kb Mkb Mb B Msb Sb Ket 2003 10 - - 2 6 1 1 - 2004 33 3 2 6 10 12 - 2004/2005 2005 22 5 5 4 6 2 - 2006 17 - - 2 8 6 1 2007 24 1 - 4 13 5 1 Jumlah 106 9 8 18 43 25 3 Persentase (%) 8,5 7,5 17,0 40,6 23,6 2,8
Kb = Kurang baik; Mkb = Mendekati kurang baik; Mb = Mendekati baik ; B = baik ; Msb = Mendekati sangat baik ; Sb = sangat baik
• Pelaksanaan kegiatan investasi desa dilakukan secara gotong royong, tidak saja oleh para petani pria, tetapi diikuti juga oleh wanita dan remaja tani.
• Untuk menjamin keberlanjutan hasil kegiatan investasi desa telah disusun mekanisme operasi pemanfaatan dan pemeliharaannya, meski masih beragam, tergantung pada kondisi sosial budaya petani setempat. Beberapa Komite Investasi Desa (KID) telah merumuskan mekanisme tersebut secara tegas dalam bentuk peraturan adat (awig-awig) atau peraturan desa (Perdes), dan melaksanakan ketentuan-ketentuannya, sedangkan beberapa desa sudah pula merumuskan aturannya tetapi belum sempat melaksanakannya, beberapa KID lainnya baru mencapai tahap kesepakatan yang akan dituangkan pula dalam peraturan. • Dengan pemberdayaan yang dilakukan
pada berbagai kegiatan telah terjadi kebangkitan petani yang selanjutnya membawa perubahan dalam kegiatan usahataninya. Usahatani mereka tidak lagi berorientasi untuk mencukupi kebutuhan keluarga tetapi menjadi petani yang
berwawasan komersial. Dengan kata lain bahwa kegiatan P4MI telah menumbuhkan petani yang berwawasan agribisnis. • Jalan usahatani di desa Masbagik Utara
dan Teros kabupaten Lombok Timur masing-masing sepanjang 481 m dan 1325 mtelah diaspal oleh Dinas Pekerjaan Umum.
• Setelah jalan usahatani diselesaikan di desa Sembalun Lawang, maka transportasi untuk membawa sarana produksi dan hasil panen menjadi lebih mudah; dan hal ini fimanfaatkan oleh PT. Indofood untuk bekerjasama dengan Kelompok Tani Horsela untuk penanaman kentang olahan varietas Atlantik.
Implikasi dari Hasil Kinerja Pemberdayaan Petani
Dari hasil kinerja pemberdayaan petani ini, dapat dimanfaatkan untuk melihat :
1. Peta kinerja pemberdayaan petani di 106 desa KID. Desa mana yang termasuk pelaksanaannya kurang baik sampai yang sangat baik. Secara matrik peta desa KID dapat tersebut dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Peta Matrik desa KID terhadap kinerja pelaksanaan pemberdayaan petani Kinerja pelaksanaan
pemberdayaan petani Nama desa KID
Kurang baik (9 desa) Sepit, Santong,Bgk Payung, Pengkelak Mas, Pijot, Pringga Jurang, MT. Baan, Jurit, Semaya
Mendekati kurang baik (8 desa) Jerowaru, Gelanggang, Kabar, Setanggor, Kesik, Kotraja, Tebanan, Jantuk
Mendekati baik (18 desa) Sambelia, Selebung Ketangga, Keselet, Sukaraja, Kmb Kuning, Belanting, Sajang, Bt. Nampar, Greneng, Krg. Baru, Suela, Bebidas, Sukarara, Sekarteja, Majidi, Terara, Rempung,
Baik (43 desa) Korleko, Mamben Laug, MT Betok, Pringgasela, Dasan Lekong, Suangi, Rensing, Gn Rajak, Sukamulya, Kb. Sari,Surabaya, Danger,Wanasaba, Pringgabaya, Perigi, Rumbuk, Lepak, Suradadi,Kalijaga, Lenek, Pohgading, Bgk. Papan, Kelayu Selatan, Mas Timur, Lenek Lauq, Sukadana, MT. Tangi, Selaparang, Ketangga, Batuyang, Ijobalit, Sikur, Jenggik, Kilang,Bunmgtiang, Obel-Obel, Sapit, Kerumut, Lbh Lombok, Memben DY, TMBG Putik, Sakra Mendekati sangat baik (25
desa) Anjani, Padamara, Lbh. Haji, Ldg Nangka, Jenggik Utara, Rangsel, Tetebatu, Aikmel Utara, Lenek Daya, Suralaga, Pengadangan,Apitaik, Suntalangu, Kelayu Jorong, Penede Gandor, Teros, Suryawangi, Mas Utara, Kaluaga Sel, Rarang, Paok MTG, Aikmel, Kalijaga, Sembalun Bumbung
2. Dengan melihat desa-desa KID yang belum baik kinerja pelaksanaan pemberdayaan petani, maka dapat pula diteliti usaha-usaha apa yang kurang dalam proses pemberdayaan tersebut, mulai dari cara pembentukan kelompok tani, pendampingan dalam perencaaan dan pelaksanaan investasi desa oleh LSM atau instansi terkait lainnya, dan penggunaan informasi dan inovasi oleh petani yang masih belum tepat, sehingga langkah kedepan dalam penangganan kegiatan yang hampir mirip dapat dijadikan sebagai acuan.
3. Dengan diketahuinya peta desa KID tersebut di Kabupaten Lotim, diharapkan akan mempermudah pihak pengguna lainnya untuk dimanfaatkan sebagai acuan untuk memilih desa-desa yang dianggap baik dan kurang baik dalam rangka kegiatan untuk memajukan desa-desa KID tersebut dimasa yang akan datang, misalnya Program PUAP-Deptan atau yang lainnya.
KESIMPULAN
1. Kinerja pemberdayaan petani menunjukkan bahwa sebanyak 35 desa KID (33.0%) mempunyai kinerja pemberdayaan petani masih belum baik (9 desa kurang baik, 8 desa mendekati kurang baik dan 18 desa mendekati baik) dan sebanyak 71 desa KID (67,0%) sudah mempunyai kinerja pemberdayaan petani dengan baik atau diatas baik, dengan rincian adalah keadaan baik (43 desa), mendekati sangat baik (25 desa), dan bahkan 3 desa tergolong sangat baik.
2. Beberapa indikator yang menjadi penyebab masih adanya kinerja pemberdayaan petani
yang kurang baik, karena: a). Kinerja kapasitas kelompok tani masih pasif; b). Kelembagaan KID masih ada, tetapi tidak seperti yang seharusnya; c). Dengan adanya Investasi desa belum dapat meningkatkan secara nyata (< 25%) terhadap produksi pertanian dibandingkan dengan produksi sebelum adanya investasi desa, dan d). Desa KID belum digunakan secara optimal dalam pemberdayaan petani, pemanfaatan informasi dan inovasi teknologi pertanian dalam rangka usaha pertanian.
3. Dengan diketahuinya peta desa KID tersebut di Kabupaten Lotim, diharapkan akan mempermudah pihak pengguna lainnya untuk dimanfaatkan sebagai acuan dalam memilih desa-desa yang dianggap baik dan kurang baik guna kegiatan untuk memajukan desa-desa KID tersebut dimasa yang akan datang, misalnya adanya Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan PUAP - Deptan atau yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
SUBAGYO. 2008. Nilai Kinerja Pemberdayaan Petani/Kelompok Tani Tahun 2003-2007 di Kabupaten Lombok Timur. Bappeda Lotim. Paper disampaikan pada pertemuan dalam rangka penyusunan exit strategy program P4MI. Badan Litbang Pertanian.
TIM KONSULTAN P4MI. 2008a. Indikator Penilaian Kinerja Pemberdayaan Petani/Kelompok Tani P4MI. Badan Litbang Pertanian. Belum dipublikasikan.
TIM KONSULTAN P4MI. 2008b. Kegiatan Pasca Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi. Paper disampaikan pada pertemuan dalam rangka penyusunan exit strategy program P4MI (belum dipublikasikan).