• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1. Latar Belakang

Anemia adalah suatu kondisi dimana jumlah dan ukuran sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dibawah nilai batas normal, akibatnya dapat mengganggu kapasitas darah untuk mengangkut oksigen kesekitar tubuh. Anemia merupakan indikator untuk gizi buruk dan kesehatan yang buruk. (WHO, 2014). Anemia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang banyak terjadi dan tersebar di seluruh dunia terutama di negara berkembang dan negara miskin. Kejadian anemia banyak terjadi terutama pada usia remaja baik kelompok pria maupun wanita (Wibowo, 2013).

Anemia mempengaruhi setengah miliar wanita usia reproduksi di seluruh dunia. Pada tahun 2011, 29% (496 juta) dari wanita yang tidak hamil dan 38% (32.400.000) dari ibu hamil yang berusia 15-49 tahun yang menderita anemia. Prevalensi anemia tertinggi di Asia selatan dan tengah dan Afrika barat. Sedangkan penyebab anemia diperkirakan separuh dari kasus disebabkan oleh kurang zat besi. (WHO, 2014).

Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling sering di jumpai, terutama di negara tropis. Diperkirakan penderita anemia defisiensi besi di seluruh dunia berjumlah lebih kurang sebanyak 500 juta orang. Anemia defisiensi besi mengenai semua usia dan golongan ekonomi, walaupun jumlah terbanyak terdapat pada anak dalam masa pertumbuhan, terutama di negara berkembang. Di Indonesia, ada perbedaan yang nyata antara desa dan kota. Berdasarkan hasil penelitian di desa-desa pada provinsi Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Bali, 50% penduduk yang menderita anemia disebabkan oleh defisiensi besi dan 40% anemia defisiensi besi disertai dengan investasi cacing tambang. Di Amerika Serikat, prevalensi anemia defisiensi besi

(2)

ditemukan sebesar 0,2% pada laki-laki, 2,6% pada wanita yang belum menopouse, dan 1,9% pada wanita yang sudah menopouse. (Handayani et al., 2008).

Prevalensi anemia di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yaitu pada anak balita sebesar 28,1%, anak 5 - 12 tahun 29%, ibu hamil 37,1% , remaja putri 13 - 18 tahun dan wanita usia subur 15 - 49 tahun masing - masing sebesar 22,7% (Riskesdas, 2013). Hasil penelitian Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan Fakultas Kedokteran UGM tahun 2012 menunjukkan bahwa 34% dari 280 remaja putri/siswi SMA mengalami anemia. (Setiawan, 2013). Hal ini disebabkan banyak terjadi kesalahpahaman mengenai diet di kalangan remaja (Pemerintah Kota Jogja, 2013). Sebagaimana pada data terbaru menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 diatas, prevalensi anemia gizi besi secara nasional pada remaja usia 13-18 tahun sebesar 22,7%. Data-data tersebut mengindikasikan bahwa anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Pada tahun 2010, pemerintah telah mencanangkan target penurunan angka prevalensi anemia pada remaja hingga 20%. Tidak dapat dipungkiri, anemia gizi memang merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang cukup sulit ditanggulangi. (Kajian Profil Penduduk Remaja. Jakarta: BKKBN 2011 dikutip oleh Wahyuni, 2014).

Hasil rekapitulasi status anemia pada remaja di sekolah menengah oleh dinas kesehatan kota Banjarmasin, didapatkan pada tahun 2011 diambil sampel sebanyak 1600 sampel dari 40 sekolah menengah dengan masing-masing sampel diambil 40 sampel. Dari 1.600 remaja sekolah menengah sebanyak 50,13% atau 802 remaja menderita anemia. Pada tahun 2012 sampel yang diambil sebanyak 1.200 remaja sekolah menengah, 58,42% atau 701 remaja menderita anemia. Pada tahun 2014 jumlah penderita anemia pada remaja sekolah menengah mengalami penurunan yakni dari 1.600 sampel, 39,01% atau 614 remaja menderita anemia. Sedangkan pada hasil rekapitulasi terakhir

(3)

pada tahun 2015 jumlah sampel yang diambil berjumlah 1.590 remaja sekolah menengah kembali mengalami peningkatan penderita anemia yakni 48,43% atau 770 remaja menderita anemia, artinya mengalami peningkatan sebesar 9,42% dari tahun sebelumnya. Dan diantara 40 sekolah, terdapat 2 sekolah dengan kejadian anemia terbanyak yaitu SMAN 11 yakni 37 siswa mengalami anemia dari 40 siswa, dan SMA PGRI 4 yakni 37 siswa mengalami anemia dari 40 siswa pada tahun 2015. Dari hasil laporan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja atau disingkat (PKPR) pada tahun 2016 didapatkan penderita anemia pada remaja terbanyak berjenis kelamin perempuan yakni berjumlah 1.236 orang Sedangkan laki-laki berjumlah hanya 476 orang. (Dinkes Kota Banjarmasin, 2016).

Remaja putri lebih beresiko terserang anemia gizi daripada remaja putra dikarenakan oleh kebutuhan besi meningkat pada prematuritas anak dalam masa pertumbuhan (Handayani & Haribowo, 2008), dan akibat dari kehilangan zat besi selama masa menstruasi. Hal ini mengakibatkan remaja putri lebih rawan terhadap anemia dibandingkan laki-laki. (Mitayanti, 2013) Sebanyak 75,5% remaja di Bekasi sudah menarche dan 81,7% diantaranya mengalami anemia. Remaja umur 13-15 tahun berisiko anemia 2,73 kali lebih besar dibandingkan remaja umur 10-12 tahun karena sudah mengalami menstruasi. Menarche dapat dipengaruhi oleh hormon dalam tubuh dan status gizi. (Briawan et al., 2011 dikutip oleh Nisa et al., 2014).

Remaja putri umumnya membutuhkan zat besi 2x lebih banyak dari pada remaja putra. Kebutuhan akan kecukupan gizi pada remaja didapatkan dari kesesuaian antara jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi, dengan kebutuhan fungsi tubuh sehingga bermanfaat bagi terpeliharanya fungsi tubuh secara optimal. Kekurangan dalam mengkonsumsi makanan baik jumlah maupun mutunya dapat menyebabkan kekurangan gizi seperti kurang energi kronik (KEK), anemia, kurang vitamin A, dan gangguan akibat kurang yodium. (Proverawati & Asfuah, 2009).

(4)

Remaja yang memiliki kebiasaaan pola makan yang tidak teratur, dan mengkonsumsi makanan yang kurang bergizi mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan remaja yang sedang dalam masa growth spurt (pertumbuhan yang cepat), baik tinggi maupun berat badannya (Erna et al., 2005). Hal tersebut mempengaruhi juga terhadap status gizi remaja, yang salah satunya dapat ditentukan dengan pengukuran antropometri dengan menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT). (Adisty, 2012 dikutip oleh Abidin et al., 2012).

Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi, apakah seseorang mengalami kekurangan gizi, cukup gizi atau kelebihan gizi, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Nilai IMT dibawah normal (underweight) disebabkan oleh rendahnya asupan nutrisi yang dikonsumsi sebagai energi lebih rendah dari kebutuhan yang mengakibatkan sebagian cadangan energi tubuh dalam bentuk lemak akan digunakan. IMT dibawah normal mengakibatkan mudah letih, resiko tinggi terhadap penyakit infeksi, depresi, anemia dan diare (Depkes, 2011). Sejalan dengan penelitian oleh (Keikhaei et al., 2012) menunjukan IMT yang tidak normal menjadi faktor resiko terhadap kejadian anemia pada remaja.

Indexs Massa Tubuh dengan anemia secara tidak langsung sangat berhubungan karena seseorang memilki diet makan yang buruk, baik karena jumlahnya yang kurang dari kebutuhan kalori harian atau karena jenis makanan yang kurang zat gizi yang mana makanan tersebut berfungsi sebagai sumber energi dan kekuatan, cadangan makanan, metabolisme, pertumbuhan dan mempertahankan fungsi tubuh, maka hal tersebut dapat mengakibatkan seseorang kehilangan berat badannya (kurus). Sehingga indeks massa tubuh yang kurang dari normal (kurus) sering menderita kekurangan gizi yang parah. Contohnya kerapuhan tulang akibat dari kekurangan kalsium, rakhitis

(5)

akibat kekurangan vitamin D dan anemia akibat dari kekurangan produksi sel darah merah serta hemoglobin oleh sumsum tulang, hati, dan limpa yang disebabkan oleh kekurangan vitamin C, vitamin B12, asam polat, protein, dan zat besi (Ardianto, 2016). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Pal et al., 2014) menunjukkan bahwa subyek dengan IMT yang rendah akan memiliki risiko lebih tinggi menderita anemia dibandingkan dengan subyek yang normal atau kelebihan berat badan. Hal ini berkaitan dengan cara diet dan pola makan yang buruk. (Pal et al., 2014).

Data dari The Demographic and Health Surveys (TDHS) mengungkapkan perbedaan dalam tingkat anemia dikalangan perempuan sesuai dengan karakteristik gizi. Prevalensi anemia sedang - berat lebih tinggi pada wanita dengan Body Mass Index (BMI) di bawah 18,5 dibandingkan pada wanita dengan BMI yang lebih tinggi. (INACG, 1989; The Demographic and Health Surveys (TDHS), 2003).

The Demographic and Health Surveys (TDHS) melakukan survei kesehatan yang dilakukan di Negara Turkmenistan terdapat perbedaan dalam tingkat anemia dengan karakteristik gizi dan kesehatan reproduksi. Hasil studi data prevalensi anemia sedang sampai berat lebih tinggi pada wanita dengan indeks massa tubuh (BMI) kurang dari 18,5 (11 persen) dibandingkan pada wanita dengan BMI yang lebih tinggi 18,5 (9 persen). (Gurbansoltan Eje Clinical Research Center for Maternal and Child Health [GECRCMCH], 2000).

Persentase wanita yang menderita anemia pada umur 15-49 tahun yang dilihat dari status nutrisi berdasarkan hasil survei TDHS 2005-2012 yang dilakukan diberbagai Negara. Pada Sub Saharan Africa di Negara Burkina Faso didapatkan hasil pravalensi anemia ringan hingga berat lebih tinggi pada wanita dengan (BMI) kurang dari 18,5 (kurus) sebesar (52,9%), dibandingkan pada wanita dengan BMI normal yakni (47,2%), dan wanita dengan BMI >25

(6)

yakni hanya (41,7%). Begitu pula pada Negara Senegal, Bangladesh, dan Negara bagian Amerika Latin seperti di Haiti didapatkan pravalensi anemia ringan hingga berat lebih banyak pada (BMI) kurus daripada (BMI) normal dan lebih. (Kothari et al., 2014).

Prevalensi IMT dibawah normal atau kurus pada remaja umur 16-18 tahun secara nasional sebesar 9,4 persen (1,9% sangat kurus dan 7,5% kurus). Sebanyak 11 provinsi dengan prevalensi kurus diatas nasional, yaitu Aceh, Riau, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Banten, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara Timur. Kecenderungan prevalensi remaja kurus relatif sama tahun 2007 dan 2013, dan prevalensi sangat kurus naik 0,4 persen. (Riskesdas, 2013).

Berdasarkan hasil Penelitian yang dilakukan oleh Abidin dkk (2012) yakni 55 responden remaja putri, sebanyak 31 responden (56.4%) tergolong kedalam kategori IMT kurus dimana 17 responden (30.9%) mengalami anemia ringan. Untuk hasil uji Chi-Square hubungan IMT dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMA Kifayatul Achyar, menyimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara IMT dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMA Kifayatul Achyar. Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Martini di Kelas XI MAN 1 Metro Lampung Timur dan oleh Naristasari di tiga SMA kota Yogyakarta tahun 2015, penelitian tentang apakah ada hubungan antara status nutrisi dengan kejadian anemia pada siswi SMA. Hasil dari penelitian Martini (2015) dan Naristasari (2015) diatas menyimpulkan adanya hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Remaja dengan status gizi dalam kategori kurus mempunyai risiko 3 kali mengalami anemia dibandingkan dengan remaja yang status gizinya dalam kategori normal. ( Abidin et al., 2012; Martini, 2015; Naristasari, 2015).

(7)

Studi morbiditas pada Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 mengumpulkan data mengenai faktor- faktor risiko yang mencakup kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kebiasaan sarapan pagi, penggunaan waktu untuk aktivitas fisik sebagai faktor risiko anemia. (SKRT, 2001 dalam Permaesih & Herman, 2005).

Aktivitas fisik yang dilakukan akan memengaruhi tingkat kesehatan seseorang. Kebutuhan energi yang tinggi sebagian besar diperlukan untuk maintenen dan aktivitas fisik dibandingkan dengan yang diperlukan untuk pertumbuhan. Kebutuhan energi tergantung aktivitas fisik, remaja yang kurang aktif dapat menjadi kelebihan berat badan atau mungkin obesitas, walaupun asupan energi lebih rendah dari kebutuhan energi yang direkomendasikan. Sebaliknya pada remaja yang sangat aktif akan membutuhkan energi yang lebih banyak dari kebutuhan energi yang direkomendasikan. Peningkatan aktivitas fisik juga membutuhkan vitamin dan mineral yang lebih tinggi, ini bisa tercapai dengan mengkonsumsi diet gizi seimbang. Suplemen vitamin dan mineral tidak diperlukan kecuali suplemen zat besi pada beberapa atlit (Soetjiningsih, 2007 dalam Wijayanti, 2011).

Proporsi aktivitas fisik tergolong kurang aktif secara umum adalah 26,1 persen. Terdapat 22 provinsi dengan penduduk aktivitas fisik tergolong kurang aktif berada diatas rata-rata Indonesia. Lima tertinggi adalah provinsi penduduk DKI Jakarta (44,2%), Papua (38,9%), Papua Barat (37,8%), Sulawesi Tenggara dan Aceh (masing-masing 37,2%). Sedangkan di Kalimantan Selatan tergolong aktif yaitu 80,2 persen dan yang kurang aktif hanya sebesar 19,8 persen.

Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Khairunnisa Ch (2016), dengan judul Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Gizi Besi Pada Remaja Putri Di Desa Wonoyoso Kecamatan Buaran Kabupaten

(8)

Pekalongan. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan antara pengetahuan dan aktivitas fisik dengan kejadian anemia gizi besi pada remaja putri di Desa Wonoyoso Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. (Khairunnisa, 2016).

Berdasarkan pembahasan diatas, peneliti melakukan studi pendahuluan di SMA PGRI 4 dimana diantara SMA yang paling banyak siswanya mengalami anemia menurut data rekapitulasi depkes kota Banjarmasin tahun 2016 yaitu dengan melakukan pengkajian fisik berupa pengukuran tinggi badan, berat badan, serta cek hb darah dan anamnesa tentang tanda gejala anemia beserta kebiasaan konsumsi nutrisi setiap harinya yang sekaligus mempengaruhi IMT remaja putri. Maka, dari hasil studi pendahuluan tersebut di dapatkan data dari 24 orang remaja putri, 7 orang mengalami anemia baik pada uji hb darah dan gejala, 5 diantaranya yang anemia memiliki Indeks Massa Tubuh kurang (kurus) dan 3 orang yang memiliki IMT kurang namun tidak anemia, serta rata-rata mereka yang anemia memiliki Aktivitas Fisik yang cukup aktif. Dengan hasil studi pendahuluan tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berhubungan Indeks Massa Tubuh dan Aktivitas Fisik dengan kejadian anemia pada remaja putri, sehingga peneliti akan mengambil judul penelitian “Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin Tahun 2017.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang peneliti kemukakan pada skripsi ini adalah apakah ada hubungan Indeks Massa Tubuh dan Aktivitas Fisik dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin.

(9)

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan Indeks Massa Tubuh dan Aktivitas Fisik dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin.

1.3.2 Tujuan Khusus

Berdasarkan tujuan umum diatas, maka tujuan khusus penelitian ini adalah:

1.3.2.1 Mengidentifikasi Indeks Massa Tubuh pada remaja putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin.

1.3.2.2 Mengidentifikasi Aktivitas Fisik pada remaja putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin.

1.3.2.3 Mengidentifikasi status anemia pada remaja putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin.

1.3.2.4 Mengidentifikasi hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin.

1.3.2.5 Mengidentifikasi hubungan Aktivitas Fisik dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah: 1.4.1 Bagi Akademis

Sebagai bahan masukan dalam menambah khasanah Ilmu Keperawatan serta dapat dijadikan landasan pengetahuan praktik ketika dilapangan.

1.4.2 Bagi Remaja

Hasil penelitian ini sebagai bahan masukan, pelajaran bagi remaja putri untuk mengetahui Indeks Massa Tubuh sebagai pengukuran

(10)

status gizi dan aktivitas fisik yang memiliki informasi mengenai keterkaitannya dengan anemia.

1.4.3 Bagi Peneliti

Sebagai sarana pembelajaran melakukan penelitian ilmiah sekaligus mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat selama perkuliahan dan semoga penelitian ini bermanfaat bagi penelitian selanjutnya.

1.4.4 Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran status kesehatan pada institusi pendindikan, sehingga pihak institusi pendidikan mengerti bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin adalah aktivitas fisik dan status gizi yang diketahui dari pengukuran IMT.

1.5. Keaslian penelitian

Sepanjang pengetahuan penulis, penelitian tentang Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Aktivitas Fisik dengan Anemia pada Remaja Putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin belum pernah diteliti oleh peneliti lain. Adapun penelitian yang serupa yang pernah dilakukan sebelumnya yakni:

1.5.1 Penelitian yang dilakukan oleh Latifa (2013) dengan judul Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Di Lima SLTA Kabupaten Karawang 2013. Desain studi yang digunakan adalah studi cross sectional analytic. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa remaja putri yang memiliki status gizi kurus memiliki resiko 1,31 kali lebih besar menderita anemia dibandingkan yang memiliki status gizi normal atau status gizi kurus meningkat resiko sebanyak 31% untuk menderita anemia pada remaja dibandingkan status gizi normal.

(11)

Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian tersebut adalah variabel, tempat penelitian, dan tahun penelitian.Variabel bebas pada penelitian tersebut adalah status gizi, sedangkan variabel bebas pada penelitian penulis adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Aktivitas Fisik. Penelitian tersebut dilakukan di lima SLTA di karawang dan penelitiannya dilakukan pada tahun 2013, sedangkan penelitian penulis dilakukan di SMA PGRI 4 Banjarmasin dan penelitian dilakukan pada tahun 2017.

1.5.2 Penelitian yang dilakukan oleh Naristasari (2015) dengan judul Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Anemia pada Siswi Kelas XI di Tiga SMA kota Yogyakarta tahun 2015. Desain studi yang digunakan adalah studi cross sectional analytic. Hasil uji Chi Square menunjukan nilai p-value 0,004 (α< 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima berarti ada hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia pada siswi kelas XI di tiga SMA kota Yogyakarta tahun 2015. Resiko status gizi dengan kejadian anemia jika status gizi tidak normal mempunyai resiko terjadi anemia 2,91 kali lebih besar dibandingkan dengan status gizi yang normal.

Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian tersebut adalah variabel, tempat penelitian, tahun penelitian dan uji statistik yang digunakan.Variabel bebas pada penelitian tersebut adalah status gizi, sedangkan variabel bebas pada penelitian penulis adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Aktivitas Fisik. Penelitian tersebut dilakukan di tiga SMA kota Yogyakarta dan penelitiannya dilakukan pada tahun 2015 serta menggunakan uji statistik Chi Square, sedangkan penelitian penulis dilakukan di SMA PGRI 4 Banjarmasin dan penelitian dilakukan pada tahun 2017 serta menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan signifikan α 0,05.

(12)

1.5.3 Penelitian yang dilakukan oleh Khairunnisa (2016) dengan judul Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Gizi Besi Pada Remaja Putri Di Desa Wonoyoso Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Desain studi yang digunakan adalah studi cross sectional analytic. Hasil penelitian menyimpulkan adanya hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian anemia gizi besi pada remaja putri di Desa Wonoyoso Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan (p <0,0001).

Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian tersebut adalah variabel, tempat penelitian, dan tahun penelitian.Variabel bebas pada penelitian tersebut adalah judul faktor-faktor yang berhubungan, sedangkan variabel bebas pada penelitian penulis adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Aktivitas Fisik. Penelitian tersebut dilakukan di Di Desa Wonoyoso Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan dan penelitiannya dilakukan pada tahun 2016, sedangkan penelitian penulis dilakukan di SMA PGRI 4 Banjarmasin dan penelitian dilakukan pada tahun 2017.

1.5.4 Penelitian yang dilakukan oleh Nicky Greyti dien, Mulyadi dan Rina M. Kundre (2014) dengan judul Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Poliklinik Hipertensi dan Nefrologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2014. Desain studi yang digunakan adalah studi cross sectional analytic. Hasil uji korelasi Spearman menunjukan ada hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Poliklinik Hipertensi dan Nefrologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

(13)

Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian tersebut adalah variabel, tempat penelitian, dan tahun penelitian.Variabel terikat pada penelitian tersebut adalah Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi, sedangkan variabel Terikat pada penelitian penulis adalah Anemia serta penelitian penulis ditambah dengan variabel bebas yaitu Aktivitas Fisik. Penelitian tersebut dilakukan di Poliklinik Hipertensi dan Nefrologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dan penelitiannya dilakukan pada tahun 2014, sedangkan penelitian penulis dilakukan di SMA PGRI 4 Banjarmasin dan penelitian dilakukan pada tahun 2017.

Referensi

Dokumen terkait

Pencatatan dan Pelaporan merupakan kegiatan yang harus diperhatikan oleh tenaga kesehatan (khususnya Epidemiolog) dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk

Penelitian Rahman dan Rochmanika (2012) yang berjudul Pengaruh Pembiayaan Jual Beli, Pembiayaan Bagi Hasil, dan Rasio Non Performing Financing terhadap

Tinea pedis adalah infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari kaki dan telapak kaki, dengan lesi terdiri dari beberapa tipe, bervariasi dari ringan, kronis

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK &amp; MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Kerja sama sister city yang pertama kali dilakukan oleh Kota Bandung mulai pada tahun 1960 ini diawali karena adanya perguruan tinggi khusus keguruan dan teknik