• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM KERJA PERKUMPULAN WALLACEA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROGRAM KERJA PERKUMPULAN WALLACEA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM KERJA PERKUMPULAN WALLACEA

NO PROGRAM YANG TELAH

DILAKUKAN CAPAIAN PROGRAM KONDISI DAN PERMASALAHAN

USULAN PROGRAM LANJUTAN 01 KOTA PALOPO 1. Diskusi Reguler tentang Kebijakan Kehutanan; 2. Lokakarya Perencanaan Bersama Komunitas Antar Kampung 3. Penelitian Sistem Tenurial Masyarakat Adat Latuppa; 4. Pemetaan wilayah adat Battang diKelurahan Battang Barat, Padang Lambed an Battang 5. Advocasi Kasus Masyarakat Vs BKSDA, Pertambangan dan Kawasan Hutan 6. Temu Rakyat

Dataran Tinggi Kota Palopo

Dan Pendidikan Hukum Kritis Bagi Pendamping Hukum Rakyat 7. Riset Aksi 1. Terbentuk Forum Masyarakat dataran Tinggi [FORMAT] Kota Palopo 2. Mediasi Konflik Masyarakat Vs BKSDA dan

terbentuk TIM Para Pihak utk

Peninjauan ulang Tata Batas Kawasan Hutan dan

Konservasi 3. Peta Wilayah adat

Battan (Kel. Battan Barat, Battan dan Padang lambe) 4. Terbitan buku hasil

Penelitian sitem tenurial masy. Adat Latuppa

5. Pencabutan dan pembatalan Izin Pertambangan

 Kawasan Hutan Konservasi TWA Nanggala III sebelumnya merupakan Kawsan Hutan Lindung berdasarkan (TGHK). Kawasan ini menjadi Kawasan Hutan Konservasi Taman Wisata Alam berdasarkan Surat Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan Nomor: 101/Kwss-6/1/1990 tanggal 18 Januari 1990 dan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam melalui Surat Nomor: 2435/DJ-VI/TN/90 tanggal 24 Nopember 1990 yang ditujukan kepada Menteri Kehutanan.

 Pada Tahun 1992 Mentri Kehutanan menunjuk sebahagian Kawasan Hutan Nanggala III seluas  500 Ha untuk diubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam dengan keputusan Menteri Nomor : 663/Kpts-II/92 yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 1 Juli 1992 dengan status Hukum

Penunjukan. Tentang Perubahan Fungsi dan Penunjukan

sebagian kawasan hutan lindung Nanggala III yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Luwu, Propinsi Sul Sel menjadi Taman Wisata Alam Nanggala III.

 Selanjutnya pada tahun 2004 dilakukan Tata Batas Fungsi Kawasan Hutan TWA Nanggala III oleh Tim Terpadu yang dibentuk oleh Pemerintah Kota Palopo sesuai SK Walikota Palopo Nomor: 294/VIII/2004 tanggal 31 Agustus 2004 tentang Panitia Tata Batas Kota Palopo. Setelah dilakukan Tata Batas ini Luas Kawasan Hutan Konservasi TWA Nanggala III menjadi  968.82 dengan panjang batas 16.001,08 meter.

 Wilayah ini merupakan Lokasi budidaya rotan masyarakat yg pada tahun 1982 dengan proyek penghijauan dilakukan penataan kawasan yang dilakukan secara sepihak oleh pemerintah. Saat ini wilayah tersebut menjadi areal

1. Penguatan Forum Masyarakat guna membangun Kesadaran kolektivitas. 2. Penguatan Masyarakat dgn Pendampingan dan Pendidikan Hukum Rakyat 3. Pemetaan Wilayah dan Penataan Ruang Kelola Masyarakat dalam pemanfaatan ruang secara

partisipatif agar lebih pro terhadap

kepentingan rakyat, yang menjadi acuan bagi pemerintah dalam menetapkan tata ruang wilayah. 4. Mendorong lahirnya

kebijakan ttng pengakuan hak-hak masyarakat

(2)

[sementara berjalan] 8. Inisiatif Pengembangan Desa Model di Battan Barat

konsesi berdasarkan IPK oleh PT. Indorattan.

 Struktur Penguasan Lahan dimana 2/3 dari Luas Lahan yang ada di Kelurahan Battang Barat dan Battang dikuasai oleh Mantan Pejabat dan Pejabat .... ( Data tentang Pemilik dan Luas tanah masing – masing sementara dalam pendataan)

 Penetapan Wilayah Kelola masyarakat sebagai Kawasan Catsmen Area bagi PDAM Kota Palopo yang diklaim secara sepihak oleh pemerintah (Dokument Penetapan Kawasan Catsmen tersebut sementara di upayakan) serta

penetapan TGHK. Sementara oleh pejabat mengkapling tanah bahkan Walikota sendiri telah mendirikan Villa diwilayah tersebut.

 Pertambangan Emas Rakyat di Gunung Siguntu yg dikelola oleh PT. MAS KAMBO atas dukungan dari Pemerintah dalam hal ini Dinas SDA Kota Palopo. Eksplorasi Tambang Emas oleh Perusahaan AVOCET MINING PLC yang berkedudukan di London Inggris atas dasar SIPP No. 22/540/SDA & PM/I/2005 dari Walikota Palopo. yang dilakukan di wilayah hulu DAS Latuppa yg juga merupakan Lokasi / lahan perkebunan dan pemukiman masyarakat dimana status kawasan tersebut diklaim oleh pemerintah sebagai Kawasan Hutan Lindung di areal pemukiman dan lahan masyarakat.

 Kriminalisasi thdp masyarakat atas dasar menduduki atau penyerobotan kawasan

pengelolaan SDA-nya 5. Pengawalan TIM

Peninjauan ulang Tata Batas Kawasan Hutan dan Konservasi. 02 KABUPATEN LUWU 1. Diskusi Kampung ttng implikasi kebijakan Kehutanan 2. Pemetaan Partisipatif di wilayah Kec. Lamasi 3. Legal Drafting

Training bagi

1. Lahirnya Perda DAS Lamasi

2. Terbentuk Forum DAS WalMas yang keanggotaanya [Forum Warga] yg terdiri dari 25 desa

 Diwilayah Catsmen Area Hulu DAS Lamasi telah dikeluarkan izin Eksplorasi oleh PT. ANTAM yang areal konsesinya meliputi 4 Kota/Kabupaten yakni : Tana Toraja, Luwu, Luwu Utara dan Kota Palopo. Dimana Lokasi

tersebut oleh pemerintah diklaim sebagai kawasan Hutan Lindung sementara oleh masyarakat diklaim sebagai Wilayah Adat yang sejak turun temurun dan sampai

1. Penguatan Forum DAS WALMAS dan Forum Warga Desa 2. Pengawalan dan

Penguatan Komite DAS Lamasi [KDL] 3. Penguatan

(3)

masyarakat di wilayah DAS Lamasi

4. Advocasi Daerah Aliran Sungai [DAS] 5. Pengembangan Areal

Model Pengelolaan dan Pelestarian DAS dgn Penanaman 3 lapis [Bambu, Aren, Kayu/Rotan dan Buah-Buahan] di Bantaran Sungai 6. Pengembangan Ekonomi Strategis dalam bentuk Pengelolaan Gula Aren disepanjang Bantaran sungai lamasi dari Hulu sampai Hilir di 2 kecamatan yaitu Walenrang dan Lamasi 3. Terbentuk Komite Das Lamasi [KDL] sebagai bagian dan aplikasi dari Perda DAS lamasi 4. Kelompok Usaha

Petani Gula Aren

sekarang masih dihuni oleh Masyarakat Adat.

 Perusahaan Pertambangan oleh PT ANTAM sejak tahun 90 – an sampai sekarang masih status eksplorasi. Kehadiran perusahaan ini memicu komplik antar masyarakat adat Ranteballa dan Salu suso

Masyarakat dgn Pendampingan dan Pendidikan Hukum Rakyat 4. Pengembangan Produk serta penguatan akses permodalan dan pemasaran hasil pengelolaan gula aren

03 KABUPATEN LUWU UTARA 1. Pendampingan dan Penguatan Hak-Hak Masyarakat Adat/Lokal 2. Pemetaan Partisipatif wilayah-wilayah Masyarakat Adat/Lokal 3. Pendidikan Hukum Kritis bagi Masyarakat 4. Legal Drafting

Training Masyarakat Seko

5. Advocasi dan

reclaiming areal HGU Perkebunan Sawit 1. Perda ttng Pengakuan Hak Masyarakat adat dan Pengelolaan Sumber daya Alamnya 2. Peta Wilayah Adat/local 3. Penguasaan Areal Pembangunan Pemukiman di lokasi HGU PTPN XIV. 4. Document hasil Perencanaan dan Penataan Ruang /

 Penunjukan kawasan secara sepihak ;

- sebagai contoh kasus Hutan Lindung di Maros yg sekarang dijadikan sebagai wilayah

pertambangan ditukar guling dengan Hutan Adat masyarakat rampi tanpa ada pemberitahuan ataupun persetujuan dari Masy. Rampi.  Konflik Klaim kawasan dan izin HGU Perkebunan dan

Pertambangan dengan wilayah Kelola Masyarakat Adat/Lokal

 Produk Kebijakan Nasional dan Daerah yang mengabaikan hak-hak masyarakat dn Hukum – Hukum Adat/Lokal  Rencana Pegembangan arel Pertambangan berdasarkan

arahan RTRW Kabupaten dan Nasional (MP3EI) di wilayah

1. Penguatan Masyarakat dgn Pendampingan dan Pendidikan Hukum Rakyat 2. Mediasi Penyelesaian Konflik 3. Upaya Mitigasi Perubahan Iklim dengan Penyelamatan dan Perlindungan Ekologi Dataran Tinggi To’kalekaju 4. Pemetaan dan Perencanaan Tata

(4)

6. Perencanaan dan Penataan Ruang/ Produksi secara Partisipatif

7. Reflikasi Forum DAS 8. Pengembangan Ekonomi Strategis dalam bentuk Pengelolaan Madu Hutan 9. Penguatan Masyarakat Adat Melalui Pendidikan Hukum Rakyat Dan Pemetaan Menuju Otonomi Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Di Kecamatan Rampi [sementara berjalan] Produksi Masyarakat 5. Pengembangan Pusat Informasi Kampung dan Simpul Lingkar Belajar Rakyat [SLBR] 6. Terbentuk Forum DAS Rongkong [AMP-DAS] Rongkong 7. Terbentuk Kelompok Usaha Pengelola Madu Hutan

dataran tinggi To’Kalekalu yang meliputi 3 Kecamatan yaitu; Rongkong, Seko dan Rampi, sementara wilayah tersebut berdasarkan Kepres Moratorium Hutan merupakan Hutan Alam yang sekaligus rencana wilayah Pengembangan REDD

 Masih lemahnya kelembagaan adat serta terdegredasinya nilai-nilai adat istiadat.

Ruang/Produksi guna memperluas dan Perlindungan terhadap wilayah-wilayah kelola dan ruang hidup rakyat 6. Mendorong Pelaksanaan inplementasi kebijakan ttng pengakuan hak-hak masyarakat Adat/Lokal dan pengelolaan SDA-nya 5. Penguatan system Tenurial Masyarakat Adat/Lokal 6. Menciptakan Model-Model Ekonomi Strategis serta Pengembangan Produk seperti; - SAGU sbg Tanaman Pangan UTAMA - Industry Rumah Tangga pengelolaan Rotan dan Bambu serta Buah-Buahan 04 KABUPATEN LUWU TIMUR

1. Advocasi Kasus Perkebunan sawit 2. Advocasi Kasus

1. Data Based Konflik Perkebunan dan Pertambangan

1. Penguatan Masyarakat dgn Pendampingan dan

(5)

Pertambangan 3. Pemetaan partisipatif wilayah masyarakat Adat/Lokal 2. Peta Wilayah Adat/Lokal 3. Pendidikan Hukum Rakyat 2. Mediasi Penyelesaian Konflik 3. Memperluas layanan pemetaan 4. Penataan dan Perencanaan ruang 05 LINTAS SULAWESI SELATAN

1. Pendidikan Hukum Kritis dan Pendamping Hukum Rakyat di 10 wilayah Kabupaten 2. Kursus Pembaharuan Agraria yg terdiri dari 10 wilayah Kabupaten yang berkonflik. 3. Pengembangan

Simpul Lingkar Belajar Rakyat [SLBR]

1. Insiatif dan gagasan Sekolah

Pendamping Hukum Rakyat [SPHRI]

2. Terbentuk sekolah rakyat dan Simpul Informasi kampung 1. Mendorong terbentuknya Forum Rakyat Sulawesi 2. Pendidikandan Pelatihan yang regular untuk PHR 3. Konsolidasi dan Workshop Rancangan dan rencana Tindak SPHRI dgn Aliansi OMS di Sulsel 4. Pengembangan dan Perluasan Simpul Lingkar Belajar Rakyat [SLBR] sebagai wadah sekaligus kelompok sasaran SPHRI

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Penelitian didapatkan 3 buah koloni bakteri yaitu bakteri Proteus mirabilis, Escherichia coli dan Salmonella paratyphi B , hasil uji Bioassay bakteri Proteus mirabilis

Dukungan juga diterima informan dari petugas pelayanan kesehatan yang lebih banyak memberikan konseling, edukasi dan informasi tentang penyakit MDR-TB, penularan,

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi teori belajar konstruktivisme dengan menggunakan model

PROMOSI K I KESEHA ESEHAT TAN AN TERHA TERHADAP DAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTEK PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTEK. CUCI TANGAN PAKAI SABUN DI SDN CUCI TANGAN PAKAI SABUN

Arı ve Demir (2013) tarafından yapılan araştırmada da öğrencilere kitap okuma alışkanlığı kazandıracak ilköğretim bölümü öğrencilerinin yalnızca %18,3'ünün yılda 12

Dilihat dari bentuk pendistribusian di atas, ternyata Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan masih menganut sistem penyaluran ZIS bersifat konsumtif, yaitu pemberian sejumlah

Butir pertanyaan “Setiap tugas yang diberikan kepada saya, dapat diselesaikan dengan baik dan merasa puas” terdapat 3 orang responden menjawab sangat setuju, 48

Memperhatikan kondisi calon HTI yang tidak subur, tentu saja akan mempunyai masalah dalam pertumbuhan tanaman tersebut, karena tanaman cepat tumbuh dan mempunyai riap