Oleh : dr Annisa Zahra Mufida, SpPD
1. Chronic Kidney Disease (CKD)
2. Hipertensi
3. DHF
4. Leptospirosis
5. Sarkopenia
@annisazahra_sppd Slide >>>Fisiologi Ginjal
1. Fungsi Filtrasi
2. Fungsi Sekresi
3. Fungsi Reabsorbsi
4. Fungsi Ekskresi
5. Fungsi Endokrin
–
EritropoieMn dan renin
–
Metabolisme vitamin D
–
Metabolisme glukosa
§
Keseimbangan cairan
§
Keseimbangan asam basa
§
Keseimbangan elektrolit
§
Mengeluarkan Toksin
§
Mengontrol Tekanan Darah
Proses Filtrasi Ginjal
Metabolisme Vitamin D
@annisazahra_sppd Slide >>>
Chronic
Kidney
Disease
KDIGO 2012 Clinical PracMce Guideline for EvaluaMon and Management of Chronic Kidney Disease
Definisi:
Kelainan Struktural or Fungsional Ginjal
Selama >3 bulan
Kriteria:
Markers of kidney
damage (one or more) § Albuminuria(≥3 mg/mmol) (AER ≥ 30mg/24 hours; ACR ≥ 30mg/g
§ Urine sediment abnormaliUes
§ Electrolyte and other abnormaliUes due to tubular
disorders
§ Abnormal detected by histology
§ Structural abnormaliUes detected by imaging
§ History of kidney transplantaUon
Patologi Gangguan Ginjal
1. Penyebab
2. Lokasi patologi anatomi
Ø Primer Ginjal
Ø Penyakit Sistemik yang mempengaruhi ginjal Ø Glomerulus
Ø Tubulus-‐intersMMal Ø Vaskular
Ø Penyakit kista dan kongenital
@annisazahra_sppd Slide >>> Glomerulus Tubulus-‐ IntersUUal Vaskular Penyakit Kista Kongetnital
@annisazahra_sppd Slide >>>
KDIGO 2012 Clinical PracMce Guideline for EvaluaMon and Management of Chronic Kidney Disease
@annisazahra_sppd Slide >>>
Klasifikasi
CKD
KDIGO 2012 Clinical PracMce Guideline for EvaluaMon and Management of Chronic Kidney Disease
1. Albumin merupakan
komponen utama proteinuria
pada sebagian besar penyakit ginjal
2. Secara epidemiologi :
didapatkan hubungan kuat banyaknya albuminuria
dengan kerusakan ginjal dan
risiko kardiovaskular
3. Petanda yang paling dini pada penyakit glomerular
7 Masalah Utama pada CKD
Keseimbangan
Natrium-‐air Keseimbangan kalium Sampah nitrogen Eliminasi EritropoieUn Keseimbangan Asam basa Gangguan Vitamin D Eliminasi fosfat terganggu
Hipertensi Peningkatan Volume intravaskular Hperkalemia Peningkatan BUN/SK Gagal jantung Anemia koagulopaM perdarahan Asidosis Skeletal buffering Hipokalsemia HiperparaMroid EDEMA PerikardiMs Gangguan
imunitas Uremic Skin GastrointesUnal Gangguan Kesadaran Gangguan Disfungsi seksual
Osteodistofi Renal
@annisazahra_sppd Slide >>>
Mineral Bone Disease in CKD
DefiniUon CKD-‐MBD:
A systemic disorders of mineral and bone metabolism due to CKD manifested by either one or combinaMon of the following :
• AbnormaliMes of calcium, phosphorus, or vitamin D metabolism
• AbnormaliMes in bone turnover, mineralizaUon, volume, linear growth or strength • Vascular or other soa-‐Ussue calcificaUon
DefiniUon of RENAL OSTEODYSTROPHY:
• Renal osteodystrophy is an alteraMon of bone morphology in paMent with CKD • It is one measure of the skeletal component of systemic disorder of CKD-‐MBD that
is quanMfiable by histomorphometry
Vascular CalcificaUon
CVD
Fractures
Mortality
@annisazahra_sppd Slide >>>
Mineral Bone Disease in CKD
PTH Calcium Phosphates Phosphatase ALK
2nd
Hyperparathyroidism é ê é é
Bone abnormaliUes – Renal osteodystrophy
High turn over – OsteiUs Fibrosa CysUca
Clinically :
o Bone Fracture
o Bone pain and discomfort
o MetastaUc calcificaUon
o DeposiUon of calcium in vascular, arUcular, extra-‐arUcular
soa Ussue
@annisazahra_sppd Slide >>>
Mineral Bone Disease in CKD
@annisazahra_sppd Slide >>>
§
Penyebab utama gagal ginjal
stadium akhir yang
membutuhkan terapi pengganM
ginjal
§
Terjadi pada sekitar
40%
pasien DM Mpe 1 dan DM Mpe 2
§
Meningkatkan
kemaUan
@annisazahra_sppd Slide >>>
1. Diabetes mellitus
2. ReUnopaU diabeUk (funduskopi)
3. Proteinuria posiUf tanpa penyebab yang lain atau
proteinuria posiUf selama 2x pemeriksaan dg interval 2
minggu apabila penyebab lain (misal infeksi) sudah
teratasi
@annisazahra_sppd Slide >>>
•
Gula darah Mdak terkontrol
•
Predisposisi geneMk
•
Tekanan darah Mnggi
•
Dislipidemia
@annisazahra_sppd Slide >>>
Tahun ke 5 setelah diagnosis pertama
Semua pasien diabetes saat kunjungan
pertama. Dievaluasi seUap tahun
kemudian jika didapatkan proteinuria
Bila didapatkan tanda nefropaM diabetes, harus dievaluasi adanya reMnopaM dan komorbid penyakit makrovaskular
@annisazahra_sppd Slide >>>
KDIGO clinical pracMce guideline on diabetes management in CKD, 2019
@annisazahra_sppd Slide >>>
Nephron ProtecMon in DiabeMc Kidney Disease NEJM 375;21. 2016.
@annisazahra_sppd Slide >>>
@annisazahra_sppd Slide >>>
@annisazahra_sppd Slide >>>
1. Intervensi pola hidup
2. Perubahan pola makan
3. Penurunan BB
4. Olah raga teratur
5. BerhenM merokok
@annisazahra_sppd Slide >>>
1. Inisiasi pengobatan : kombinasi dua obat, bila memungkinkan dalam
bentuk SPC (single pil combina/on)
2. Kombinasi dua obat : RAS blocker (ACEi atau ARB) dengan CCB atau
diureMk
3. Kombinasi β-‐blocker + diureMk atau golongan lain pada keadaan angina,
post IMA, gagal jantung, kontrol denyut jantung
4. Monoterapi pada : HT derajat 1 risiko rendah, pasien dg TD normal-‐
Mnggi dan berisiko sangat Mnggi, usia lanjut >80th atau ringkih
5. Kombinasi 3 obat : RAS blocker (ACEi atau ARB), CCB, dan diureMk jika TD
Mdak terontrol dg kombinasi 2obat.
6. Penambahan spironolacton untuk HT resisten
7. Kombinasi ACEi dan ARB Mdak direkomendasikan.
DEMAM BERDARAH
Diagnosis Esesnsial :
§
Demam akut suhu Mnggi dan
konMnyu, selama 2-‐7 hari disertai
nyeri kepala, nyeri retro orbital,
myalgia, nyeri sendi, ruam,
manifestasi perdarahan
§
Leukopenia, trombositopenia,
peningkatan hematokrit, manifestasi
kebocoran plasma
§
Hasil posiMf serologi
Gambar: cdc.gov
@annisazahra_sppd Slide >>>
AsimptomaMk SimptomaMk
Viral
Syndrome Demam Dengue Demam Berdarah Dengue
Expanded Dengue Syndrome/ Isolated organopathy/ Unusual manifestaUon Tanpa Perdarahan Dengan Perdarahan Tak lazim DBD
Non syok DBD dg syok/ DSS
Berdasarkan WHO 2011
Peningkatan Hct 5-‐10%
Peningkatan Hct 20%
Demam Dengue
Demam Berdarah Dengue
Tanda Bahaya (Warning Sign)
Klinis :
§ Demam turun tapi keadaan memburuk § Nyeri tekan abdomen
§ Muntah menetap § Letargi, gelisah § Perdarahan mukosa § Akmulasi cairan § oligouria Laboratorium :
§ Peningkatan kadar Hct bersamaan dg penurunan cepat PLT
§
Peningkatan kadar hematokrit sesuai usia dan jenis kelamin, dibandingkan
dg kadar rujukan atau lebih baik lagi dg data awal pasien
§
Penurunan kadar hematokrit 20% setelah mendapat pengganMan cairan
§
Idealnya menggunakan kadar data awal pasien, tetapi jika Mdak
memungkinkan dapat melihat dari perbaikan Hct setelah rehidrasi
Contoh 1. Tn. B/ 30th. Datang demam hari ke3. Hb 16 Hct 64% L 3.24O PLT 89.000
Hct awal Hct Setelah rehidrasi Selisih Diagnosis
64% 43% 64-‐43 = 21% Demam berdarah
dengue
Contoh 2. Tn. M/28th. Datang demam hari ke4 dan gusi berdarah. Hb 13 Hct 40% L 2000 PLT 93.000. Sebelum sakit pasien cek lab, diketahui Hct 32%.
Hct sebelum sakit Hct saat sakit Selisih Diagnosis
32% 40% 40-‐32 = 8% Demam dengue, dg
manifestasi perdarahan
Tes Laboratorium pada Dengue
•
Tes Hematologi
– Darah lengkap – Hematokrit – BUN/SK – SGOT/SGPT– Faal koagulasi à pd kasus perdarahan akMf
– BGA, Laktat, kalsium serum à pd kasus syok refrakter
•
Rapid diagnosMc test (RDT)
– Ig M : terdeteksi mulai hari ke 3-‐5, meningkat sampai minggu ke 3
– Ig G : pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-‐14, pada infeksi
sekunder IgG mulai terdeteksi hari ke 2.
•
Tes AnUgen NS1 : Muncul pertama pada onset demam dan menurun
sampai Mdak terdeteksi dalam waktu 5-‐6 hari.
•
Syok berat
•
Perdarahan
•
Kebocoran plasma
–
Klinis pasien : Sesak nafas Mba2, disertai ronkhi (+)
–
Terjadi gagal jantung, edema paru akut, efusi pleura
•
Pemberian cairan berlebihan
–
Gangguan elektrolit : hiponatremia, hipokalemia
–
Hipoglikemia
@annisazahra_sppd Slide >>>
@annisazahra_sppd Slide >>>
JAMA NETWORK.COM
q
Leptospirosis : penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Leptospira
interogans
q
Masuk ke tubuh melalui kulit/ selaput lendir, memasuki aliran darah dan
berkembang. Lalu menyebar luas ke jaringan tubuh.
§ Kontak dengan air yang terkontaminasi kuman leptospira atau urin Mkust saat terjadi banjir
§ Kontak dengan sungai atau danau dalam akMvitas mandi § Kontak dengan persawahan atau perkebunan
§ Kontak erat dengan binatang seperM babi, sapi kambing, anjing yang dinyatakan terinfeksi leptospira.
@annisazahra_sppd Slide >>>
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam PAPDI Edisi VI
Leptospira menyebar secara luas ke jaringan tubuh
“Leptospiremia “ selama 4-‐7 hari
Respon imun
Selular dan Humoral Sebagian dapat bertahan pada convolted tubulus ginjal
Bertahan di ginjal dan dapat pula ditemukan di okuler
Leptospira dapat dikeluarkan melalui urin “Leptospiruria” selama
1-‐4minggu
Pd fase Leptospiremia à melepaskan toksin yg merusak
lapisan endotel kapiler Lesi histologis dapat ditemukan di
ginjal dan haM. Menyebakan disfungsi hepatoseluler dan retensi
@annisazahra_sppd Slide >>>
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam PAPDI Edisi VI
Fase Leptospiremia
Fase Imun
§ Leptospira di dalam darah dan cairan
serebrospinal
§ Gejala awal: nyeri kepala daerah frontal
§ Nyeri otot (beMs, paha, pinggang) § Demam Mnggi
§ Mual muntah diare
§ Penurunan kesadaran (25%) § KonjungMfa Suffusion, fotofobia § Rash
§ Hepato-‐spelomegali § LimfadenopaM
§ Ditandai peningkatan Mter anMbodi § Demam hingga 40oC
§ NefropaM/uremia § Ikterus
§ Penurunan kesadaran § Tanda meningiMs (50%)
@annisazahra_sppd Slide >>>
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam PAPDI Edisi VI
•
Klinis
Probable Leptospira
• Trombositopenia < 100.000 sel/mm • Leukositosis dengan neutrophila > 80%
• Kenaikan kadar bilirubin total > 2 hr% atau peningkatan SGPT, amilase, lipase, serum kreaMn
• Penggunaan rapid diagnosMc test untuk mendeteksi IgM anM leptospira
•
Kultur.
Jarang dilakukan. sampel dari darah/CSF pada awal gejala, sampel dari urin setelah 2-‐4minggu setelah Mmbul gejala•
Serologi
– Microscopic Agglu3na3on Test (MAT) : lepto dipsMk, leptotek lateral flow, uji
agluMnasi lateks
– Macroscopic slide Agglu/na/on Test (MSAT) : ELISA, PSAT, SEL, CIE
– PCR
•
5-‐10 % leptopirosis menjadi keadaan berat yang disebut dg
Weil’s Disease (Leptospira Icterohemoragica)
•
Patofisiologi : kerusakan mikrovaskular, trombosis, dan proses
imunologi à menyebabkan disfungsi ginjal, liver, SSP.
•
Gejala :
–
Demam Unggi
–
Ikterus
–
Azotemia
–
Gangguan kesadaran
@annisazahra_sppd Slide >>>@annisazahra_sppd Slide >>>
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam PAPDI Edisi VI
Indikasi Regimen Dosis
Leptospirosis ringan Doksisiklin Ampisilin Amoksilin 2x100 mg 4x500-‐750 mg 4x500 mg Leptospirosis sedang/
berat Penicilin G Ampicillin Amoksilin
1.5 juta unit/g jam (iv)
1gram/6jam (iv) 1gram/6jam (iv) Kemoprofilaskis Doksisiklin 200mg / minggu
Kriteria
Diagnosis
1. Penurunan Kekuatan Otot 2. Penurunan Massa Otot
3. Performa Fisik Rendah
Kriteria no 1 saja = probable Kriteria no 1+2 = sarkopenia Kriteria no 1+2+3 = sarkopenia berat
FRAILITY NUTRISI EXERCISE
Meningkatkan risiko jatuh dan fraktur
Menurun fungsi akMfitas harian
Diet Mnggi protein 1-‐1,5 gram/
1. Seorang perempuan berusia 60 tahun dengan DM Mpe 2 sejak 10 tahun yang lalu, hipertensi sejak 5 tahun yang lalu, dan gagal ginjal kronis dikonsulkan karena hasil laboratorium menunjukkan ureum dan creaMnine yang semakin meningkat dalam 3 bulan terakhir. Saat ini ureum 56 mg/dl, creaMnine 1.9 mg/dl, eGFR menurut CKD-‐EPI
33,1 mL/menit/1.73 m2.
Anjuran diet apakah yang sebaiknya diberikan pada pasien ini ?
a. Asupan protein 0,3 – 0,5 g/kg/hari dan tambahan asupan calcium b. Asupan protein 0,6 – 0,8 g/kg/hari dan tambahan asupan calcium c. Asupan protein 1,0 – 1,2 g/kg/hari dan pembatasan asupan fosfat
d. Asupan protein 0,6 – 0,8 g/kg/hari dan pembatasan asupan fosfat
e. Asupan protein 0,3 – 0,5 g/kg/hari dan pembatasan asupan fosfat
2. Seorang perempuan berusia 50 tahun dengan hipertensi sejak 25 tahun yang lalu kontrol ke poli penyakit dalam, dengan keluhan lemas kurang napsu makan, mual, dan BAK menurun jumlahnya. Didapatkan hasil tekanan darah 140/90 mmHg, kreaMnin serum 2,0 mg/dL (eGFR-‐ CKD EPI 28,4 mL/menit/1,73 m2), ureum 44 mg/dL.
Albuminuria +3. Apakah yang mendasari patofisologi terjadinya gagal ginjal kronis ? a. Peningkatan massa ginjal
b. Penurunan ekspresi growth mediator
c. Kompensasai hiperfiltras dan hipertrofi
d. Vadodilatasi pembuluh darah ginjal e. Hipofiltrasi ginjal
3. Pada pasien dengan gagal ginjal kronik (CKD), apa yang menjadi penyebab
utama osteodistrofi renal?
a. Hipokalsemia
b. Gangguan produksi 1,25(OH)2D3
c. Hipoposfatemia
d. Hilangnya vitamin D dan kalsium melaui dialysis
e. Penggunaan kalsitriol
4. Seorang pria 60 tahun datang ke UGD RS dengan keluhan sesak nafas yang memberat sejak 1 minggu. Tidak terdapat nyeri dada, batuk, dan demam. Pasien ini telah menderita hipertensi sejak 20 tahun, jarang kontrol dan minum obat. Pasien berobat ke dokter terakhir 1 tahun lalu dan dikatakan tekanan darah 170/100. Pasien sempat minum obat anMhipertensi tetapi Mdak minum obat lagi. Baru-‐baru ini, pasien mengatakan produksi air kencing berkurang. Tidak ada riwayat anyang-‐anyangan, kencing berpasir maupun kencing berdarah. Riwayat sakit DM, jantung, stroke, liver, asma dan paru disangkal. Pasien merupakan perokok berat sejak 35 tahun terakhir. BB pasien 70 kg dengan TB 165 cm. Pada pemeriksaan fisik, pasien sadar penuh dengan tekanan darah 170/100 mmHg, konjunMva pucat, JVP 5+ 3 cmH2O. Ditemukan ronkhi halus basal pada kedua paru, bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur / gallop Mdak ada, dan pada akral ditemukan pisng edema bilateral simetris. Rontgen thorax terdapat gambaran awal edema paru. EKG didapatkan hipertrofi ventrikel kiri. Laboratorium Hb 8.5, Ur/Cr 210/11,5 eGFR 4.4. kalium. Hasil urinalisa menunjukkan proteinuria +2.
Diagnosis CKD pada pasien ini dapat ditegakkan dengan pemeriksaan : a. Albuminuria urin 24 jam
b. Albumin
c. Urinalisa ulang untuk menilai sedimen urin
d. USG ginjal untuk menilai kelainan struktur
e. Ureum/ creaMnine serial 3 hari
5. Laki-‐laki usia 26 tahun dibawa ke IGD karena kecelakaan sepeda motor. Penderita mengalami luka parah di daerah pelvis dan tungkai. Pada saat datang penderita somnolen, tekanan darah 80 per palpasi dengan denyut jantung 128 kali per menit. Lab pada saat datang: Hb 8.0 gr/dL, Ht 27%, ureum 28, kreaMnin 1.0, elektrolit dan urinalisis dalam batas normal. Penderita mendapatkan transfusi PRC sebanyak 4 unit dan dilakukan resusitasi cairan. Dari rontgen didapatkan mulMpel fraktur di pelvis dan kedua Mbia. Penderita kemudian dilakukan operasi oleh Bedah Orthopedi. Pada hari kedua perawatan di ruang ntensif, diuresis berkurang. Hasil lab didapatkan kreaMnin 3.1 dan kalium 7.3. Dari urinalisis didapatkan berat jenis 1.010, pH 5.5, blood 4+, protein -‐, eritrosit 8-‐10, terdapat granular cast. Dari EKG didapatkan gambaran QRS yang melebar. Pasien kemudian dikonsulkan ke penyakit dalam.
Pemeriksaan penunjang awal apa yang diusulkan untuk menentukan eMologi dari gagal ginjal pada pasien ini?
a. BNO
b. Urin tampung 24 jam c. CT scan ginjal
d. Mioglobin
e. urinalisa
6. Seorang laki-‐laki 58 tahun di bangsal bedah dengan luka bakar 50%, setelah Mga hari perawatan dikonsultasikan kepada bagian penyakit dalam karena kencing sedikit
hanya 300 cc dalam 24 jam (BB pasien 50 kg), dengan kenaikkan serum kreaMnin
menjadi 3,1 mg/dl dari sebelumnya 0,9 mg/dl. BUN menjadi 80 mg/dl dari sebelumnya 30 mg/dl. Kalium menjadi 5,7 meq/L dari sebelumnya 4,5 meq/L.
Diagnosis yang tepat untuk pasien tersebut diatas adalah a. Chronic Kidney Disease stage IV
b. Acute Kidney Injury stage I (KDIGO) c. Acute Kidney Injury stage II (KDIGO)
d. Acute Kidney Injury stage III (KDIGO)
e. Acute Kidney Injury stage IV (KDIGO)
7. Seorang wanita usia 62 tahun dirawat di HCU dengan diagnosa syok sepMk
dan infeksi saluran kemih. Dari anamnesis Mdak didapatkan riwayat gangguan
ginjal sebelumnya. Pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran somnolen, TD
90/60 mmHg on vascon 0,1 mcg/KgBB/menit, frekuensi pernapasan 22x/
menit, suhu 38
oC, SpO2 98 % on nasal kanul 4 lpm. Pemeriksaan
laboratorium kreaMnin serum awal saat masuk UGD adalah 0,9 mg/dl (80
µmol/L). Dua hari kemudian kreaMnin serum meningkat menjadi 2,1 mg/dl
(186 µmol/L). Urine output dalam 24 jam terakhir sebanyak 1700 ml.
Berdasarkan KDIGO, staging Acute Kidney Injury (AKI) pada pasien ini adalah...
a. Stage 1
b. Stage 2
c. Stage 3
d. Stage 4
e. Stage 5
@annisazahra_sppd Slide >>>8. Pada proses hemodialysis, disebut apakah proses pembersihan urea dari
darah dengan cara perpindahaan solvent dari larutan tekanan Mnggi ke
tekanan rendah melalui dialiser?
a. Difusi
b. Konveksi
c. Ultrafiltrasi
d. Hemofiltrasi
e. Hemodiafiltrasi
@annisazahra_sppd Slide >>>9. Wanita 58 th, datang dengan keluhan nyeri dada berulang, seperM diMndih benda berat, yang muncul saat pasien berakMvitas, membaik dengan isMrahat.Pasien selama ini Mdak pernah berobat ke dokter dan belum pernah periksa tekanan darah. Saat di poli, diketahui tekanan darah 165/85 mmHg, N 94x/m/, FP 20x/m. Tatalaksana
hipertensi lini pertama yang paling tepat pada pasien ini adalah : a. Captopril 2x25mg dan furosemid 1x40 mg
b. Amlodipin 1x10mg dan captopril 2x12,5mg c. Bisoprolol 1x5mg dan ramipril 1x5mg
d. Bisoprolol 1x2,5mg dan amlodipin 1x10mg
e. Ramipril 1x5 mg dan amlodipin 1x5 mg
10. Seorang perempuam, 25 tahun dengan keluhan demam 2 hari, terus
menerus sepanjaing hari. Nyeri kepala (+), nyeri ulu haM (+), mual (+),
muntah (+). Pemeriksaan NS1 (+). Epistaksis (-‐). Trombosit : 140.000 ; Hb
13.0 ; Ht = 39 %. Diagnosa pasien adalah ...
a. Demam Dengue
b. Demam berdarah dengue
c. Chikungnya
d. Demam kuning
e. Demam Thypoid
11. Pasien wanita usia 22 tahun datang dengan keluhan utama demam Mnggi, dan bab hitam. Keluhan sudah dirsakan selama 4 hari disertai sakit kepala, nyeri sendi. Pada pemeriksaan didapatkan pasien tampak lemas akral dingin, nadi teraba lemah dan cepat, tensi 70/50 dan uji torniquet posiMf. Pemeriksaan laboratorium Hb 8,7 g % ,leukosit 2900, hematokrit 41%, trombosit 45000. Diagnosis pasien adalah :
a. DSS
b. Demam dengue
c. Demam berdarah dengue derajat I d. Demam berdarah dengue derajat II e. Demam berdarah dengue derajat III
12. Seorang pasien laki-‐laki usia 58 tahun dengan gagal ginjal terminal sudah
diacarakan untuk hemodialisis regular 2x seminggu namun belum terpasang
AV shunt. Hemodialisis terakhir 2 hari lalu. Saat ini pasien mengeluh nyeri
dada dan berdebar-‐debar sejak kemarin. Dari pemeriksaan fisik didapatkan
tensi 140/80 mmHg, nadi 108x/menit, frekuensi nafas 20x/menit, suhu aksila
38,4°C, didapatkan kulit sekitar tempat insersi double lumen kemerahan dan
nyeri pada perabaan. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk
menegakkan diagnosis kemungkinan infeksi pada pasien tersebut dengan:
a.Kultur ujung Up double lumen
b.Kultur darah dari vena perifer
c.Pemeriksaan CRP
d.Pemeriksaan prokalsitonin
e.Kultur darah 3x selang 1 jam
13. Yang bukan merupakan Mndakan pencegahan kejadian ven/lator
associated pneumonia pada pasien dengan venMlator, adalah:
a.Memposisikan pasien semi recumbent 30-‐45 derajat
b.Pemasangan NGT
c.Handwashing before and aGer Mndakan
d.Memberikan anUbioUk sesuai kultur
e.Dekontaminasi orofaring
14. Yang bukan merupakan faktor resiko modifable ven/lator associated
pneumonia pada pasien dengan venMlator, adalah:
a. Supine posiMon
b. Gastric distenMon
c. ContaminaMon of venMlator tubing
d. Frequent transfer of pasMent
e. ReintubaUon
15.Manifestasi leptospira pada susunan saraf pusat adalah:
a. MeningiMs bacterial
b. MeningiUs asepUk
c. MeningoencefaliMs asepMk
d. VaskuliMs Serebri
e. Brain edema
16. Terapi anMbioMk pilihan untuk leptospirosis berat / weil’s disease adalah
a. Penisilin G 1,5 juta unit / 12 jam
b. Doksisiklin 2 x 100 mg
c. Ampisilin 1 gram / 24 jam
d. Amoksisillin 1 gram / 12 jam
e. Penisillin G 1,5 juta unit / 6 jam
17. Seorang Laki-‐laki, 58 tahun, datang ke poli dengan keluhan demam 5 hari disertai menggigil, sakit kepala, mialgia, dan mual. Dari anamnesis rumah pasien terkena banjir 2 minggu lalu setelah hujan deras di kota Jakarta. Dari pemeriksaan fisik didapatkan GCS 456, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Temperatur axila 38.60C, ditemukan conjunc/val suffusion, ikterus, hepatomegali. Dari pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb 11 g/dl, leukosit 13.000/µl, trombosit 80.000/µl, ureum 108 mg/dl, creaMnin 3.6 mg/dl. Titer MAT menunjukkan 400. Pernyataan di bawah ini adalah benar mengenai Leptospirosis, KECUALI:
a. Hewan sapi termasuk reservoar dari Leptospira yang menginfeksi manusia. b. Ekspos genangan air yang terkontaminasi terhadap kulit utuh bisa menularkan
Leptospira.
c. Leptospira biflexa merupakan saprofit yang bersifat non patogen terhadap manusia.
d. Leptospirosis terdiri dari fase leptosoiremia dan fase imun
e. Leptospira interrogans merupakan saprofit yang bersifat non patogen terhadap manusia.
18. Seorang Laki-‐laki, 58 tahun, datang ke poli dengan keluhan demam 5 hari
disertai menggigil, sakit kepala, mialgia, nyeri beMs dan mual. Dari anamnesis
rumah pasien terkena banjir 2 minggu lalu setelah hujan deras di kota
Jakarta. Dari pemeriksaan fisik didapatkan GCS 456, tekanan darah 110/70
mmHg, nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Temperatur axila 38.6
0C, ditemukan
conjunc3val suffusion, ikterus, hepatomegali penurunan jumlah urin <300 cc/
24 jam. Dari pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb 11 g/dl, leukosit
13.000/µl, trombosit 80.000/µl, ureum 108 mg/dl, creaMnin 3.6 mg/dl.
Diagnosa apa yang tepat untuk kasus ini?
a. Kasus suspek Leptospirosis
b. Kasus probable Leptospirosis
c. Kasus conform Leptospirosis
d. Leptospirosis fasa II
e. Leptosprisoris fasa III
19. Seorang laki-‐laki, 51 tahun, datang dengan keluhan kuning yang Mmbul mendadak sejak 1 hari SMRS. Pada satu minggu SMRS, pasien demam Mnggi kemudian Mdak
demam hingga saat masuk SMRS. Badan pasien terasa pegal terutama di daerah punggung dan panggul. Pasien sempat batuk darah, tanpa disertai dahak, kencing tampak kemerahan dan menjadi lebih sedikit daripada biasanya. Saat dilakukan pemeriksaan laboratorium, didapatkan kadar hemoglobin 9,4, leukosit 16.334,
trombosit 44.000, bilirubin total mencapai 19, bilirubin direk mencapai 15, sementara kadar alkali fosfatase dan GGT dalam batas normal. Pada sekitar 2 minggu SMRS,
pasien sempat membersihkan saluran air yang mampat setelah banjir.
Dari pemeriksaan USG abdomen Mdak didapatkan pelebaran duktus bilier dan gambaran parenkim ginjal kesan dalam batas normal. Riwayat sakit kuning sebelumnya disangkal.
Proses yang mendasari Mmbulnya gejala akhir yang dialami pasien adalah:
a. Kegagalan tubuh dalam memproduksi sitokin untuk melawan mikroorganisme b. Proses reversal pada klirens mikrobiologi
c. Penghancuran eritrosit progresif
d. Timbulnya IgM di dalam serum yang menyebabkan Umbulnya proses imun
e. Penyebaran mikrobiologi ke seluruh tubuh
20. Seorang laki-‐laki datang ke rumah sakit dengan keluhan terlihat kuning sejak 2 hari, disertai demam yang turun dengan obat parasetamol. Pasien juga mengeluh buang air kecil lebih sedikit dari biasanya. Muncul kemerahan di kulit yang Mdak gatal, sakit kepala, mual, muntah. Empat hari sebelum berobat paien baru bepergian ke luar kota sebagai supir bis trans Sumatera. Pasien Mnggal di Jakarta dan merupakan daerah banjir dan 2 minggu sebelumnya kebanjiran. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
konjungMva hiperemis, sklera ikterik, nyeri tekan epigastrium, hepar teraba 2 jari bawah arkus costa, tepi tumpul, nyeri pada perabaan, terdaapat petekie pada ekstremitas atas dan bawah. Pemeriksaan laboratorium yang paling tepat dan kegunaannya adalah
a. Biopsi hepar untuk menemukan spesies leptospira
b. Serologi malaria untuk mengetahui jumlah parasit malaria c. Urinalisa untuk menentukan spesies leptospira
d. Rapid diagnosMc test malaria untuk mengetahui jumlah parasit pada malaria
e. Uji Serologi MAT leptospira untuk menentukan spesies leptospira
21. Seorang laki-‐laki, 47 tahun datang ke IGD dengan keluhan demam 4 hari,
sakit kepala, disertai kuning pada seluruh tubuh. Pasien lemas dan Mdak nafsu
makan. Rumah pasien baru terkena banjir beberapa minggu lalu. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan compos menMs, suhu 39oC, sklera ikterik dan
nyeri tekan pada gastrocnemius. Pemeriksaan penunjang didapatkan IgM
leptospira (+), dengan kriteria Faine 27.
Tatalaksana yang paling tepat diberikan pada pasien adalah :
a. Levofloxacin 1x500 mg
b. Doxycycline 2x 200 mg
c. Ciprofloxcacin 2x 500 mg
d. Ampicillin 4x1 gr
e. Cotrimoxazol 2x 960 mg
@annisazahra_sppd Slide >>>22. Parameter yang termasuk dalam qSOFA score untuk menegakkan sepsis
antara lain , kecuali …
A. Perubahan Status Kesadaran
B.Tachypnea
C. hypotension
D. hypertension
E. RR>=22
23.Seorang Laki-‐laki,usia 76 tahun mempunyai keluhan kelemahan
ekstemitas yang sudah dialaminya sejak 2 minggu yang lalu,dan juga dijumpai
penurunan massa otot. Pasien juga mengeluh penurunan nafsu makan sejak 1
minggu ini, Pasien sudah Mdak bekerja lagi sejak 10 tahun ini, hanya berdiam
dirumah. Pada pemeriksaan fisik BB 60 TB 170, tekanan darah 112/70 mmHg,
nadi 90 kali/menit, respirasi 16 kali/menit, suhu aksilla 36.8
OC, pemeriksaan
fisik lain dalam batas normal. Pewmeriksaan penunjang laboratorium Hb 13.2
g/dL, Leukosit 7600 /uL, thrombosit 257.000 /uL, derajat sarkopenia pada px
ini adalah:
a. Age-‐related sarcopenia
b. Disease-‐related sarcopenia
c. Presarcopenia
d. Sarcopenia berat
e. Sarcopenia
24.Seorang Laki-‐laki,usia 76 tahun mempunyai keluhan kelemahan
ekstemitas yang sudah dialaminya sejak 2 minggu yang lalu,dan juga dijumpai
penurunan massa otot. Pasien juga mengeluh penurunan nafsu makan sejak 1
minggu ini, Pasien sudah Mdak bekerja lagi sejak 10 tahun ini, hanya berdiam
dirumah. Pada pemeriksaan fisik BB 60 TB 170, tekanan darah 112/70 mmHg,
nadi 90 kali/menit, respirasi 16 kali/menit, suhu aksilla 36.8
OC, pemeriksaan
fisik lain dalam batas normal. Pewmeriksaan penunjang laboratorium Hb 13.2
g/dL, Leukosit 7600 /uL, thrombosit 257.000 /uL, teknik pengukuran massa
otot yang paling akurat karena dapat mengenali infiltrasi lemak adalah:
a. Knee flexion/ekstension dan antoprometri
b. AbsorpMmetri
c. Handgrip
d. MRI
e. DXA
25.Seorang Laki-‐laki,usia 76 tahun mempunyai keluhan kelemahan ekstemitas yang sudah dialaminya sejak 2 minggu yang lalu,dan juga dijumpai penurunan massa otot. Pasien juga mengeluh penurunan nafsu makan sejak 1 minggu ini, Pasien sudah Mdak bekerja lagi sejak 10 tahun ini, hanya berdiam dirumah. Pada pemeriksaan fisik BB 60 TB 170, tekanan darah 112/70 mmHg, nadi 90 kali/menit, respirasi 16 kali/menit, suhu aksilla 36.8OC, pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Pewmeriksaan penunjang laboratorium Hb 13.2 g/dL, Leukosit 7600 /uL, thrombosit 257.000 /uL, pilihan
Tatalaksana sarkopenia adalah sebgaai berikut kecuali a. Ace inhibitor, inhibitor sitokin
b. laMhan akMvitas fisik dan diet Mnggi protein c. KreaMn, HMB dan Vitamin D
d. Terapiu hormonal, miostaMn
e. Fisioterapi, diet Unggi kalori
dr. Annisa Zahra Mufida, Sp.PD Dokter Spesialis Penyakit Dalam Email : [email protected] IG @annisazahra_sppd