PENETAPAN TUJUAN ORGANISASI BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri, namun dalam kehidupannya harus berkelompok atau bermasyarakat. Manusia tidak dapat berdiri sendiri namun tergantung pada orang lain. Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan mati. Dalam hubungannya dengan manusia lain manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan orang lain, karena manusia mempunyai naluri untuk selalu hidup dengan orang lain. Manusia menurut kodratnya itu dilahirkan untuk menjadi bagian dari suatu kebulatan masyarakat. Dengan demikian manusia itu merupakan bagian dari suatu organisasi sosial. Perhatikanlah kehidupan sehari-hari. Hampir semua kegiatan manusia dilakukan dalam kaitannya dengan orang lain dan dalam kehidupan bersama dengan manusia lainnya
Reaksi tersebut menyebabkan tindakan seseorang menjadi bertambah luas. Manusia sejak dilahirkan sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu; 1) Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya yaitu masyarakat dan 2) Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan organisasi sosial?
2. Apa sajakah unsur-unsur dalam organisasi sosial sebagai suatu asosiasi?
3. Apa sajakah jenis-jenis organisasi sosial sebagai suatu asosiasi?
1.3.Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan adalah :
1.Untuk mengetahui pengertian organisasi sosial
2.Untuk mengetahui unsur-unsur organisasi sosial sebagai suatu asosiasi
3.Untuk mengetahui jenis-jenis organisasi sosial sebagai suatu asosiasi
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Penetapan Tujuan Organisasi
Secara garis besar pengertian organisasi sosial dikelompokkan ke dalam 2 pendekatan disiplin ilmu, antara lain :
2.1.1 Pendekatan Antropologi Sosial, diantaranya dikemukakan oleh :
1. WHR Rivers dalam Harsojo, 1977: 243) mengemukakan bahwa organisasi social adalah suatu proses yang menyebabkan individu disosialisasikan dalam kelompok. Ruang lingkup penyelidikan tentang organisasi soSial meliputi struktur dan fungsi dari suatu kelompok sosial.
2. Raymond Firth dalam Harsojo, 244) dalam bukunya Element of Social Organization menyatakan bahwa yang dimaksud organisasi adalah suatu proses social dan pengaturan aksi berturut-turut menyesuaikan diri dengan tujuan yang dipilih. Organisasi sosial adalah penyusunan dari hubungan/interaksi sosial yang dilakukan dengan jalan pemilihan dan penetapan.
1. Alvin L. Bertrand 1980: 25) mengemukakan pengertian organisasi social dalam arti luas adalah tingkah laku manusia yang berpola kompleks serta luas ruang lingkupnya di dalam setiap masyarakat. Organisasi social dalam arti khusus adalah tingkah laku dari para pelaku di dalam sub-sub unit masyarakat misalnya keluarga, bisnis dan sekolah.
2. Soerjono Soekanto 1988: 107-108) mengemukakan organisasi social adalah kesatuan-kesatuan hidup atas dasar kepentingan yang sama dengan organisasi yang tetap sebagai sebuah asosiasi. Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa organisasi sosial berdasarkan pendekatan sosiologi adalah organisasi sosial sebagai sebuah asosiasi, yaitu sekelompok manusia yang mempunyai tujuan, kepentingan, kegemaran, minat yang sama dan membentuk sebuah organisasi yang tetap. Suatu aspek yang menarik dari kelompok sosial tersebut adalah bagaimana caranya mengendalikan anggota-anggotanya.
Hal ini yang agaknya penting adalah bahwa kelompok tersebut merupakan tempat kekuatan-kekuatan sosial berhubungan, berkembang, mengalami disorganisasi, memegang peranan, dan selanjutnya. Manusia mempunyai naluri untuk senantiasa berhubungan dengan sesamanya. Hubungan yang berkesinambungan tersebut menghasilkan pola pergaulan yang dinamakan pola interaksi sosial.
mempunyai sikap tertentu terhadap pekerjaan tertentu. Maka dia akan memperhatikan pekerjaan yang menghasilkan materi yang banyak dan kurang memperhatikan kepuasan batiniah dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.
Sikap tersebut lazimnya membentuk perilaku tertentu, yang kemudian menjadikan pola perilaku berkesinambungan. Sikap materialistik, umpamanya, akan membentuk perilaku yang cenderung materialistik pula. Kalau pola perilaku tertentu sudah melembaga dan membudaya, gejala itu menjadi patokan perilaku yang pantas. Patokan perilaku yang pantas tersebut biasanya disebut norma atau kaidah.
2.2 Tipe-Tipe Kelompok Organisasi Sosial
Contoh : Negara, persekutuan agama, perkumpulan ekonomi, persatuan buruh, organisasi massa, dsb
a) Persahabatan, misalnya
club Club Jantung Sehat Indonesia), kelompok sahabat/ikatan persaudaraan IPHI)
b) Ekonomis, misalnya
perseroan Perseroan Terbatas),
firma CV), perkumpulan pengusaha Ikadin, HIPMI), serikat sekerja SPSI, SBSI)
c) Teknologi dan ilmu pengetahuan, misalnya badan ilmiah Batan, LIPI),
d) Agama, misalnya
mahsab Thariqot Naqsaandiyah,Wahidiyah, NU, Muhammadiyah, LDII, Hizbuth Thahrir), jamaah PGI, Walubi, MUI, Hindu Dharma) e) Kesenian, misalnya
orkes atau grup band Soneta,Peterpen, ST 12, Ada Band, Nashid, Qosidah) penari/penyanyi, ikatan seniman, artis Parsi, Parfi)
f) Pendidikan, misalnya
sekolah TK/RA, SD/MI, SMP/Mts,SMA/MA), Universitas/Sekolah Tinggi,
IkatanPelajar/alumni, yayasan pendidikan, dsb g) Olah raga, misalnya
berbagai perkumpulan olah raga ISSi, PBSI, PBVSI, PABSI, PASI, IMI),dsb
h) Politik, misalnya
partai politik PKB, PAN, Golkar, PD, PDI Perjuangan, dsb) i) Kesenangan/hobi, misalnya
perkumpulan penggemar perangko filateli) j) Amal, misalnya
perkumpulan penyokong fakir miskin BAZIS, Pundi Amal SCTV), perhimpunan penyokongorang tua/panti jompo,
perhimpunan penyokong yatimpiatu/PAY, dsb k) Profesi, misalnya
PGRI, IDI, IDAI, PGTKI, Ikadin, dsb l) Pemerintahan,
ASEAN, MEE
n) Organisasi internasional, misalnya
PBB beserta lembaga/badan-badan di bawahnya) o) Organisasi militer/pakta pertahanan, misalnya NATO, ANZUS, SEATO, Pakta Warsawa, dsb
2.3 Manajemen Organisas Sosial Masyarakat
Tipe-tipe Oragnisasi atau kelompok sosial dapat diklasifikasikan dari beberapa, sudut atau atas dasar berbagai kriteria atau ukuran. Ukuran lain yang diambil adalah atas dasar derajat interaksi sosial dalam kelompok sosial seperti keluarga, rukun tetangga dan desa, dengan kelompok-kelompok sosial seperti kota, dan negara, dimana anggotanya tidak mempunyai hubungan erat. Berlangsungnya suatu kepentingan merupakan ukuran lain bagi klasifikasi tipe-tipe sosial.
Suatu kerumunan misalnya, merupakan kelompok yang hidupnya sebentar saja karena kepentingannya pun tidak berlangsung lama. Lain halnya dengan kelas atau komuniti yang kepentingan secara relatif bersifat tetap atau permanen. Dasar yang akan diambil sebagai salah satu alternatif untuk mengadakan klasifika sitipe-tipe kelompok sosial adalah ukuran jumlah atau derajat interaksi sosial atau kepentingan kelompok atau organisasi.
penting untuk mencegah terjadinya pendapat yang menyatakan bahwa bentuk kelompok sosial merupakan ancaman terhadap kesejahteraan individu. Bahwa bentuk kelompok sosial merupakan ancaman terhadap kesejahteraan individu.
Harus dihindari prasangkah bahwa kelompok-kelompok sosial semata-mata ditimbulkan oleh naluri manusia untuk selalu hidup sesama. Kelompok sosial ini merupakan bentuk kehidupan nyata. Prilaku kelompok sosial harus dilihat dari sudut pandang sebagai prilaku individu.
Faktor-faktor yang membedakan kelompok-kelompok adalah : 1.Kesadaran akan jenis yang sama.
2.Adanya hubungan sosial
3.Orientasi pada tujuan yang sudah ditentukan.
Di dalam pembahasan tipe-tipe kelompok sosial dapat dikategorikan dalam struktur sosial seperti :
1) kelompok sosial dipandang dari sudut individu, 2) in-group dan out-group,
3) kelompok primer primary group) dan kelompok skunder 4) Paguyuban dan patembayan,
5) formal group dan informal group,
untuk jangka waktu tertentu. alamiah manusia sebagai makhluk sosial-psychisitu menyebabkan timbulnya bentuk-bentuk dari organisasi dan relasi antara manusia, yang terdiri dari dua landasan yaitu ;
1. Organisasi symbiotik yang terdiri semata-mata atas tingkah laku fisik yang bersifat otomatis.
2. Organisasi sosial yang berdiri atas komunikasi dengan menggunakan
sistem lambang.
Kontak dengan menggunakan sistem lambang menimbulkan interaksi sosial yang berlaku pada dataran pancaindera, emosi dan intelektual. Apabila kita berbicara tentang organisasi sosial, maka yang dimaksud ialah, bahwa untuk mencapai tujuannya timbul kelompok sosial dari usaha tersebut. Dengan perkataan lain, organisasi sosial mempunyai aspek fungsi dan aspek struktur.
Dalam aspek fungsionalnya organisasi sosial itu memperhatikan manifestasinya dalam aktivitas kolektif dari manusia untuk mencapai tujuannya, yaitu dari memelihara, mendidik sampai kepada melakukan peperangan. Dan dari akivitas kolektif itu timbul kelompok-kelompok yang menjalankan aktivitas seperti keluarga, negara dan organisis sosial lainnya.
implikasi strukturalnya meliputi struktur dari kelompok sosial, pola umum baru kebudayaan manusia pada setiap waktu dan tempat dan seluruh frame work dari pada pranata-pranata sosial. Selanjutnya apabila kita pelajari kehidupan sosial manusia, maka tampak adanya kenyataan yang tidak dapat diingkari.
a. Bahwa manusia individu atau kelompok berusaha sekeras-kerasnya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mendapatkan jaminan keamanan dan jika mungkin mencapai satu tingkat kemakmuran yang diingingkan.
b. Bahwa untuk mendapatkan kondisi yang esensial bagi kelangsungan hidup dan keamanan, diperlukan adanya ketertiban sosial dalam derajat yang tinggi.
c. Bahwa untuk mencapai derajat ketertiban sosial yang tinggi itu diperlukan adanya satu tata pengaturan sosial kultur serta mekanisme yang dapat digunakan bagi pelaksanaan pengaturan itu.
Adapun pengaturan dari pada tata-hubungan jika ada dua orang atau lebih yang hendak mengadakan hidup bersama memerlukan beberapa syarat yaitu;
1) Harus ada ukuran yang tetap dalam tata hubungan sosial yang dapat diterima oleh anggota-anggota kelompok,
2) Harus ada kekuasaan atau otoritas yang mempunyai kekuasaan memaksa dalam melaksanakan tata-hubungan sosial,
4) Anggota-anggota yang hidup dalam berbagai bidang, dapat hidup dalam suasana harmoni, yang saling memberi kekuasaan,
5) Adanya tingkah laku yang merupakan standardan telah disalurkan atau dipaksakan dengan mekanisme tekanan-tekanan sosial, yang menjadi satu pola yang merupakan pedoman bagi tingkah laku manusia.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Oleh karena manusia memiliki kebutuhan yang beranekaragam, dan cara-cara yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan itu pun bermacam-macam pula, maka manusia menentukan bentuk kehidupan sosial tertentu ditempat ia hidup dengan sebaik-baiknya. Organisasi sosial manusia mewujudkan diri dalam bentuk kelompok sosial.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Wahyu Ariani, Dorothea. Manajemen Kualitas Pendekatan Sisi Kualitatif. Ghalian Indonesia : Jakarta, 2003.
P.Robbins, Stephen dan Mary Coulter. Management, Sixth Edition Indonesia. Prenhallindo : Jakarta, 1999.