• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIREKTORAT JENDERAL KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DIREKTORAT JENDERAL KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

AKUNTABILITAS

KINERJA 2016

DIREKTORAT JENDERAL KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

2017

(2)
(3)

ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Daftar isi ... ii

Daftar Tabel ... iii

Daftar Gambar ... iv

Daftar Lampiran ... vi

Ikhtisar Eksekutif ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Maksud dan Tujuan ... 3

C. Penjelasan Umum Organisasi ... 3

D. Sistematika ... 4

BAB II PERENCANAAN KINERJA ... 6

A. Perencanaan Kinerja ... 6

B. Perjanjian Kinerja Tahun 2016 ... 9

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 11

A. Capaian Kinerja Organisasi ... 11

B. Realisasi Anggaran... 27

C. Sumber Daya ... 28

(4)

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Sasaran, Indikator Kinerja, Target, Realisasi dan Persentase Realisasi

Direktorat Pelayanan Kefarmasian pada Tahun 2016 ... viii

Tabel 2. Alokasi dan Realisasi Anggaran dalam DIPA Direktorat Pelayanan

Kefarmasian beserta Perubahannya pada Tahun 2016 ... ix

Tabel 3. Sasaran Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kefarmasian ... 7

Tabel 4. Indikator Kinerja, Definisi Operasional dan Target Kegiatan

Peningkatan Pelayanan Kefarmasian Tahun 2015-2019 ... 8

Tabel 5. Cara Perhitungan Indikator Kinerja Kegiatan Peningkatan Pelayanan

Kefarmasian ... 8

Tabel 6. Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian ... 9

Tabel 7. Capaian Indikator Persentase Puskesmas yang melakukan

Pelayanan Kefarmasian sesuai Standar pada Tahun 2016 ... 14

Tabel 8. Capaian Indikator Persentase Penggunaan Obat Rasional di

(5)

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Sistem Manajemen ISO 9001:2015... ix

Gambar 2. Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat

(GeMa CerMat) bekerjasama dengan Komunitas Pengguna KRL ... x

Gambar 3. Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat

(Gema Cermat) pada saat Car Free Day dalam rangka

Hari Kesehatan Nasional ke-52 ... xi

Gambar 4. Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat yang

melibatkan Anggota Komisi IX DPR-RI di Kabupaten Banggai

Sulawesi Tengah ... xi

Gambar 5. Tampilan aplikasi e-Fornas pada laman

www.efornas.binfar.kemkes.go.id ... xii

Gambar 6. Struktur Organisasi Direktorat Pelayanan Kefarmasian Tahun 2016 ... 4

Gambar 7. Dokumen Pernyataan Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan

Kefarmasian Tahun 2016 ... 10

Gambar 8. Lampiran Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian

pada Tahun 2016 ... 10

Gambar 9. Grafik Capaian Indikator Persentase Puskesmas yang melaksanakan

pelayanan kefarmasian sesuai standar pada Tahun 2016 ... 14

Gambar 10. Pedoman Teknis Analisis Farmakoekonomi di Fasilitas Kesehatan .... 17

Gambar 11. Grafik Capaian Indikator Persentase Penggunaan Obat Rasional di

Puskesmas pada Tahun 2016 ... 20

Gambar 12. Pembukaan Kegiatan Workshop Penggunaan Antimikroba Bijak

untuk RS Rujukan Regional ... 22

Gambar 13. Informasi POR dalam Bentuk Media Cetak ... 24

Gambar 14. Buku Formularium Obat dan Perbekalan Kesehatan pada Pelayanan

(6)

v

Gambar 15. Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut

Jabatan... 29

Gambar 16. Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut

Golongan ... 29

Gambar 17. Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut

Pendidikan ... 30

Gambar 18. Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut

Jenis Kelamin ... 30

Gambar 19. Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut

(7)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Dukung Capaian Indikator Persentase Puskesmas yang

melaksanakan Pelayanan Kefarmasian sesuai standar

Tahun 2015 ... 33

Lampiran 2. Data Dukung Capaian Indikator Persentase Puskesmas yang

melaksanakan Pelayanan Kefarmasian sesuai standar

Tahun 2016 ... 34

Lampiran 3. Data Dukung Capaian Indikator Persentase Penggunaan Obat

Rasional di Puskesmas Tahun 2015 ... 35

Lampiran 4. Data Dukung Capaian Indikator Persentase Penggunaan Obat

Rasional di Puskesmas Tahun 2016 ... 37

(8)

vii

IKHTISAR EKSEKUTIF

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) merupakan

laporan yang mengintegrasikan aktivitas terkait sistem perencanaan, sistem

penganggaran dan sistem pelaporan kinerja, yang selaras dengan pelaksanaan

sistem akuntabilitas keuangan. Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia

Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

(SAKIP) mengamanatkan bahwa akuntabilitas kinerja merupakan perwujudan

kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan

atau kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan yang diamanatkan para

pemangku kepentingan dalam rangka mencapai misi organisasi secara terukur

dengan sasaran atau target kinerja yang telah ditetapkan melalui laporan kinerja

instansi pemerintah yang disusun secara periodik.

Direktorat Pelayanan Kefarmasian menyusun laporan kinerja sebagai bentuk

pertanggungjawaban dalam melaksanakan tugas dan fungsi dalam rangka mencapai

tujuan atau sasaran strategis dan sekaligus sebagai alat kendali atas pelaksanaan

kegiatan selama tahun 2016 yang merupakan tahun kedua pelaksanaan Rencana

Strategis Kementerian Kesehatan periode 2015 - 2019. Selanjutnya dapat dilihat

keselarasan pencapaian kinerja dua tahun pertama tersebut untuk pencapaian target

di akhir periode Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015 – 2019 yakni pada

tahun 2019.

BerdasarkanKeputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015

tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, sasaran hasil

(outcome) Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan adalah meningkatkan akses,

kemandirian dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan. Kemudian dalam rangka

mencapai hal tersebut terdapat beberapa strategi terkait yang didukung dengan

pelaksanaan kegiatan peningkatan pelayanan kefarmasian sebagaimana diuraikan

sebagai berikut:

a. memperkuat tata laksana HTA dan pelaksanaannya dalam seleksi obat dan alat

kesehatan untuk program pemerintah maupun manfaat paket JKN. Beberapa

kegiatan terkait antara lain melalui pemberlakuan Daftar Obat Esensial Nasional

(DOEN), Formularium Obat Haji dan Formularium Nasional (FORNAS);

b. meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional

melalui penguatan manajerial. Kegiatan yang mendukung strategi ini termasuk

yang ditujukan untuk meningkatkan penggunaan obat rasional di masyarakat dan

(9)

viii

Menggunakan Obat, sosialisasi penerapan penggunaan antimikroba/antibiotika

yang bijak, penyusunan NSPK di bidang pelayanan kefarmasian dan POR;

c. menjadikan tenaga kefarmasian sebagai tenaga kesehatan strategis. Salah

satunya mendukung program Nusantara Sehat melalui kerjasama dengan Badan

PPSDM Kesehatan dalam penyusunan kurikulum/modul pembekalan tenaga

kesehatan berbasis tim tersebut.

Output merupakan keluaran berupa barang atau jasa yang dihasilkan oleh

kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian outcome

program dan/atau outcome fokus prioritas. Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) atau

indikator output kegiatan merupakan alat untuk mengukur pencapaian output/kinerja

yang secara akuntabilitas berkaitan dengan unit organisasi K/L setingkat Eselon 2,

dalam laporan kinerja ini dibahas dalam ruang lingkup kegiatan pada Direktorat

Pelayanan Kefarmasian. Output kegiatan dievaluasi berdasarkan periode waktu

tertentu.

Hasil capaian kinerja tahun 2016 menunjukkan bahwa secara umum Direktorat

Pelayanan Kefarmasian telah memenuhi target yang telah ditetapkan. Pencapaian

tersebut diukurdengan menggunakan Indikator Kinerja Kegiatan yang tertuang di

dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 sebagaimana

ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 1. Sasaran, Indikator Kinerja, Target, Realisasi dan Persentase Realisasi Direktorat Pelayanan Kefarmasian pada Tahun 2016

Sasaran No Indikator Kinerja

Tahun 2016

Target Realisasi Persentase Realisasi

Meningkatkan pelayanan kefarmasian dan Penggunaan Obat Rasional (POR) di Fasilitas

Pelayanan Kesehatan

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, Direktorat Pelayanan

Kefarmasian didukung oleh anggaran yang dituangkan dalam Daftar Isian

Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2016 dengan alokasi sebesar

Rp.27.320.638.000,- (Dua puluh tujuh milyar tiga ratus dua puluh juta enam ratus

tiga puluh delapan ribu Rupiah). Selama pelaksanaan kegiatan tahun 2016,

anggaran Direktorat Pelayanan Kefarmasian mengalami beberapa kali perubahan,

(10)

ix

efisiensi/penghematan. Kemudian dalam pelaksanaan anggaran tahun 2016,

anggaran Direktorat Pelayanan Kefarmasian mengalami 2 (dua) kali

efisiensi/penghematan.

Tabel 2. Alokasi dan Realisasi Anggaran dalam DIPA Direktorat Pelayanan Kefarmasian beserta Perubahannya pada Tahun 2016

No. Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Persentase Realisasi

1 DIPA Awal 27.320.638.000

23.912.279.096

87,52%

2 Inpres No.4 Tahun 2016 24.644.506.000 97,03%

3 Refocusing 25.844.112.000 92,53%

4 Inpres No.8 Tahun 2016 25.662.612.000 93,18%

Direktorat Pelayanan Kefarmasian juga memiliki upaya terobosan dan prestasi dalam

hal peningkatan pelayanan kefarmasian dan penggerakan obat rasional dengan

melibatkan berbagai stakeholder yang telah dicapai pada tahun 2016 sebagai berikut:

1. Direktorat Pelayanan Kefarmasian memperoleh Sertifikat Sistem Manajemen ISO

9001:2015 melalui penerapan sistem manajemen sesuai dengan standar untuk

ruang lingkup Jasa Pelayanan Penyusunan Formularium Nasional. Pelaksanaan

surveilans audit sertifikasi ISO 9001: 2015 diawali dengan pelatihan, audit

internal, rapat tinjauan manajemen dan audit eksternal yang dilaksanakan dalam

2 (dua) tahapan.

(11)

x

2. Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) di

Jabodetabek, yang dilaksanakan pada tanggal 6 November 2016 di Stasiun

Tangerang, Stasiun Kranji, Stasiun Bogor dan Stasiun Kebayoran kerjasama

antara Direktorat Pelayanan Kefarmasian dengan Komunitas Pengguna KRL.

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan lomba foto bersama mock up GeMa

CerMat dan peserta dapat melakukan upload langsung via sosial media.

Gambar 2. Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) bekerjasama dengan Komunitas Pengguna KRL

3. Dukungan Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam Program Indonesia

Sehat dilakukan salah satunya melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

(Germas) sebagai bentuk upaya promotif dan preventif. Dalam rangka

memeriahkan HKN ke-52, Minggu 13 Nopember 2016, Direktorat Pelayanan

Kefarmasian atas nama Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan

bersama Badan POM, Ikatan Keluarga Alumni (IKA ISMAFARSI), ISMAFARSI

dan Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia DKI Jakarta mengadakan Aksi

Sehat untuk Indonesia di area Car Free Day Bundaran HI Jakarta. Aksi ini diikuti

oleh sekian ribu orang yang terdiri dari unsur mahasiswa farmasi, apoteker dan

(12)

xi

Gambar 3. Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) pada saat Car Free Day dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke-52

4. Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat)

dengan melibatkan stakeholder pada tanggal 17 Oktober 2016 di Kabupaten

Banggai, Sulawesi Tengah dihadiri oleh Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan,

Anggota Komisi IX DPR RI (dr. Verna Gladies Merry Inkiriwang), Gubernur

Provinsi Sulawesi Tengah, Bupati Kabupaten Banggai, beserta para Pejabat

Daerah.

(13)

xii

5. Pengembanganintegrasi e-Fornas 2016 bertujuan sebagai penyempurnaan dari

aplikasi e-fornas sebelumnya yang dapat meningkatkan kualitas Proses

Penyusunan Formularium Nasional yang akuntabel, transparan dan profesional

serta memberikan informasi yang akurat terkait proses pemilihan obat dalam

Fornas. Tampilan awal pada aplikasi tersebut sebagai berikut:

Gambar 5. Tampilan aplikasi e-Fornas pada laman www.e-fornas.binfar.kemkes.go.id

Pada tahun ini dilakukan penambahan fitur pada e-fornas sebagai bentuk

perbaikan dari sistem penyimpanan data, perbaikan Standar Operasional

Prosedur (SOP) pengusulan obat, penambahan menu dari aplikasi online yaitu

daftar obat WHO, daftar obat DOEN dan obat kombinasi DOEN. Selain itu pada

pengembangan tahun ini telah dibuat Aplikasi Desktop Pembahasan yang akan

berfungsi sebagai Aplikasi pengolah data usulan yang masuk melalui aplikasi

online sehingga data yang tersedia dapat dengan mudah disajikan baik sebagai

bahan pembahasan FORNAS maupun sebagai Laporan FORNAS ke stakeholder

terkait termasukke masyarakat, untuk dapat memberikan kemudahan akses

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan nasional 2015 –

2019 merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang

bidang Kesehatan (RPJPK) 2005 – 2025, yang bertujuan meningkatkan

kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar

peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat

terwujud, melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia

yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam

lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan

kesehatan yang bermutu, secara adil dan merata, serta memiliki derajat

kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Dalam RPJMN 2015-2019, sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatkan

derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan

pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial

dan pemeratan pelayanan kesehatan.

Arah kebijakan dan strategi Kementerian Kesehatan didasarkan pada

arah kebijakan dan strategi nasional sebagaimana tercantum di dalam

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Untuk menjamin dan mendukung pelaksanaan berbagai upaya kesehatan

yang efektif dan efisien maka yang dianggap prioritas dan mempunyai daya

ungkit besar di dalam pencapaian hasil pembangunan kesehatan, dilakukan

upaya secara terintegrasi dalam fokus dan lokus dan fokus kegiatan,

kesehatan, pembangunan kesehatan. Kementerian Kesehatan menetapkan

dua belas sasaran strategis yang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1) Kelompok sasaran strategis pada aspek input (organisasi, sumber daya

manusia, dan manajemen);

2) Kelompok sasaran strategis pada aspek penguatan kelembagaan; dan

3) Kelompok sasaran strategic pada aspek upaya strategic.

Untuk mencapai tujuan Kementerian Kesehatan, terlebih dahulu akan

diwujudkan 5 (lima) sasaran strategis yang saling berkaitan sebagai hasil

(15)

2

1) Meningkatnya Kesehatan Masyarakat (SS1);

2) Meningkatkan Pengendalian Penyakit (SS2);

3) Meningkatnya Akses dan Mutu Fasilitas Kesehatan (SS3);

4) Meningkatnya Jumlah, Jenis, Kualitas, dan Pemerataan Tenaga Kesehatan (SS4); dan

5) Meningkatnya Akses, Kemandirian, serta Mutu Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan (SS5).

Laporan kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian merupakan

laporan kinerja tahunan yang berisi pertanggungjawaban kinerja Direktorat

Pelayanan Kefarmasian dalam mencapai tujuan atau sasaran strategis yang

telah tercantum didalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian

Kesehatan Tahun 2015 - 2019. Penyusunan laporan kinerja ini mengacu

pada Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem

Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri

Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun

2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan

Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Hal ini selaras

dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2416/Menkes/Per/XII/2011

tentang Petunjuk Pelaksanaan/Petunjuk Teknis/Pedoman Penyelenggaraan

Sistem Akuntabilitas Kinerja di Lingkungan Kementerian Kesehatan.

Laporan kinerja menggambarkan ikhtisar pencapaian sasaran

sebagaimana yang ditetapkan dalam dokumen perjanjian kinerja dan

dokumen perencanaan kinerja. Ikhtisar pencapaian sasaran tersebut

menyajikan informasi tentang pencapaian tujuan dan sasaran organisasi,

realisasi pencapaian indicator kinerja kegiatan organisasi, penjelasan atas

pencapaian kinerja melalui kegiatan yang telah dilaksanakan dan

perbandingan capaian indikator kinerja dengan tahun berjalan terhadap

target kinerja yang telah direncanakan serta dipantau selama periode lima

tahunan yakni tahun 2015 - 2019.

Laporan kinerja ini juga sebagai salah satu wujud akuntabilitas

pelaksanaan tugas dan fungsi Direktorat Pelayanan Kefarmasian dalam

rangka mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance),

transparansi dan akuntabilitas sekaligus sebagai alat kendali dan pemacu

(16)

3

B.

Maksud dan Tujuan

Pada dasarnya laporan akuntabilitas kinerja Direktorat Pelayanan

Kefarmasian Tahun 2016 menjelaskan pencapaian kinerja Direktorat

Pelayanan Kefarmasian selama tahun 2016 sebagai tolak ukur keberhasilan

organisasi. Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian

disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut:

1. Bahan evaluasi akuntabilitas kinerja bagi pihak yang membutuhkan.

2. Penyempurnaan dokumen perencanaan periode yang akan datang.

3. Penyempurnaan pelaksanaan program dan kegiatan yang akan datang.

4. Penyempurnaan berbagai kebijakan yang diperlukan.

C.

Penjelasan Umum Organisasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia, Direktorat Pelayanan Kefarmasian mempunyai tugas

melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan

penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian

bimbingan teknis dan evaluasi di 4 (empat) bidang pelayanan kefarmasian

antara lain:

1. bidang manajemen dan klinikal farmasi;

2. bidang analisis farmakoekonomi;

3. bidang seleksi obat dan alat kesehatan; dan

4. bidang penggunaan obat rasional;

Dalam rangka melaksanakan tugas tersebut Direktorat Pelayanan

Kefarmasian menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang manajemen dan klinikal

farmasi, analisis farmakoekonomi, seleksi obat dan alat kesehatan, dan

penggunaan obat rasional;

2. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang manajemen dan klinikal

farmasi, analisis farmakoekonomi, seleksi obat dan alat kesehatan, dan

penggunaan obat rasional;

3. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang

manajemen dan klinikal farmasi, analisis farmakoekonomi, seleksi obat

dan alat kesehatan, dan penggunaan obat rasional;

4. Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang

manajemen dan klinikal farmasi, analisis farmakoekonomi, seleksi obat

(17)

4

5. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang manajemen dan klinikal

farmasi, analisis farmakoekonomi, seleksi obat dan alat kesehatan, dan

penggunaan obat rasional; dan

6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

Susunan Struktur Organisasi Direktorat Pelayanan Kefarmasian

berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64

Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia dapat dilihat pada Gambar dibawah ini:

Gambar 6. Struktur Organisasi Direktorat Pelayanan Kefarmasian Tahun 2016

D.

Sistematika

Sistematika penyajian Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat

Pelayanan Kefarmasian adalah sebagai berikut :

Ikhtisar Eksekutif

Bab I Pendahuluan

Pada bab ini disajikan penjelasan umum organisasi, dengan

penekanan kepada sasaran program dan aspek strategis organisasi

(18)

5

Bab II Perencanaan Kinerja

Pada bab ini diuraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja tahun yang

bersangkutan.

Bab III Akuntabilitas Kinerja

A. Capaian Kinerja Organisasi

Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap

pernyataan kinerja sasaran strategis organisasi sesuai dengan

hasil pengukuran kinerja organisasi. Untuk setiap pernyataan

kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan analisis capaian

kinerja.

B. Realisasi Anggaran

Pada sub bab ini diuraikan realisasi anggaran kantor pusat dan

dana dekonsentrasi yang digunakan dan yang telah digunakan

untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen

Perjanjian Kinerja.

C. Sumber Daya Manusia

Pada sub bab ini disajikan gambaran sumber daya manusia yang

mendukung pelaksanaan tujuan organisasi.

Bab IV Penutup

Pada bab ini diuraikan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi

serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi

untuk meningkatkan kinerjanya.

(19)

6

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A.

Perencanaan Kinerja

Perencanaan kinerja merupakan proses penetapan kegiatan tahunan

dan indikator kinerja berdasarkan program, kebijakan dan sasaran yang telah

ditetapkan dalam sasaran strategis. Perencanaan kinerja disusun sebagai

pedoman bagi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi secara sistematis, terarah

dan terpadu. Kementerian Kesehatan telah menetapkan 12 Sasaran Strategi

Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 yang dikelompokkan sebagai

berikut:

1) Kelompok Sasaran Strategis pada aspek input (organisasi, sumber daya

manusia dan manajemen);

2) Kelompok Sasaran Strategis pada aspek penguatan kelembagaan; dan

3) Kelompok Sasaran Strategis pada aspek upaya Strategic.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

HK.02.02/Menkes/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan

Tahun 2015 - 2019 merupakan dokumen negara yang berisi upaya-upaya

pembangunan kesehatan yang dijabarkan dalam bentuk program/kegiatan,

indikator, target, sampai dengan kerangka pendanaan dan kerangka

regulasinya. Selanjutnya Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2019

dijabarkan dalam bentuk Rencana Aksi Program (RAP) di tingkat Eselon I dan

Rencana Aksi Kegiatan (RAK) di tingkat Eselon II. Renstra Kementerian

Kesehatan sebagai dasar penyelenggaraan pembangunan kesehatan

mengamanatkan Sasaran Strategis kepada Program Kefarmasian dan Alat

Kesehatan untuk meningkatkan akses, kemandirian dan mutu sediaan farmasi

dan alat kesehatan. Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran dimaksud

disusun sebelas strategi yang perlu dilakukan antara lain:

a. Regulasi perusahaan farmasi memproduksi bahan baku dan obat

tradisional dan menggunakannya dalam produksi obat dan obat tradisonal

dalam negeri, serta bentuk insentif bagi percepatan kemandirian nasional;

b. Regulasi penguatan kelembagaan dan sistem pengawasan pre dan post

market alat kesehatan;

c. Pokja ABGC dalam pengembangan dan produksi bahan baku obat, obat

(20)

7

d. Regulasi penguatan penggunaan dan pembinaan industri alat kesehatan

dalam negeri;

e. Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dan tenaga

kesehatan tentang pentingnya kemandirian bahan baku obat, obat

tradisional dan alat kesehatan dalam negeri yang berkualitas dan

terjangkau;

f. Mewujudkan Instalasi Farmasi Nasional sebagai center of excellence

manajemen pengelolaan obat, vaksin dan perbekkes di sektor publik;

g. Memperkuat tata laksana HTA dan pelaksanaannya dalam seleksi obat

dan alat kesehatan untuk program pemerintah maupun manfaat paket

JKN;

h. Percepatan tersedianya produk generik bagi obat-obat yang baru habis

masa patennya;

i. Membangun sistem informasi dan jaringan informasi terintegrasi di bidang

kefarmasian dan alat kesehatan;

j. Menjadikan tenaga kefarmasian sebagai tenaga kesehatan strategis,

termasuk menyelenggarakan program PTT untuk mendorong pemerataan

distribusinya;

k. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional

melalui penguatan manajerial, regulasi, edukasi serta sistem monitoring

dan evaluasi.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian

Kesehatan Tahun 2015-2019, sasaran kinerja kegiatan pada Direktorat

Pelayanan Kefarmasian adalah meningkatnya pelayanan kefarmasian dan

penggunaan obat rasional di fasilitas kesehatan.

Tabel 3. Sasaran Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kefarmasian

Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kefarmasian

Sasaran Meningkatnya pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat

rasional di fasilitas kesehatan

Sesuai amanah dalam pembangunan kesehatan tersebut, Direktorat

Pelayanan Kefarmasianmenyusun Rencana Aksi Kegiatan yang memuat

kebijakan, program dan kegiatan. Dalam rencana strategis tersebut disebutkan

bahwa tujuan Direktorat Pelayanan Kefarmasian adalah dengan memperkuat

(21)

8

untuk program pemerintah maupun manfaat paket JKN, menjadikan tenaga

kefarmasian sebagai tenaga strategis untuk mendorong pemerataan distribusi

tenaga kefarmasian dan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dan

penggunaan obat rasional melalui penguatan manajerial, regulasi, edukasi dan

sistem monitoring serta evaluasi.

Tercapainya sasaran tersebut direpresentasikan dengan Indikator

Kinerja Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kefarmasian beserta target yang

harus dicapai sebagaimana dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4. Indikator Kinerja, Definisi Operasional dan Target Kegiatan Peningkatan Pelayanan

Kefarmasian Tahun 2015-2019

Indikator Kinerja Definisi Operasional

Target Informasi Obat dan Konseling yang terdokumentasi obat secara rasional melalui penilaian terhadap

penatalaksanaan kasus ISPA non pneumonia, diare non spesifik, penggunaan injeksi pada kasus myalgia, dan rerata item obat per lembar resep

62% 64% 66% 68% 70%

Cara perhitungan Indikator Kinerja Kegiatan Peningkatan Pelayanan

Kefarmasian sebagaimana dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5. Cara Perhitungan Indikator Kinerja Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kefarmasian

Indikator

Kinerja Cara Perhitungan

Persentase Jumlah Puskesmas yang melaksanakan pelayanan kefarmasian

Jumlah Puskesmas yang disampling × 100%

(22)

9

B.

Perjanjian Kinerja Tahun 2016

Perjanjian Kinerja merupakan lembar/dokumen yang berisikan

penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi

yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai

dengan indikator kinerja. Melalui perjanjian kinerja, terwujudlah komitmen

penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah

atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi, dan wewenang serta

sumber daya yang tersedia.

Perjanjian kinerja berisi tekad dalam rencana kinerja tahunan yang

dicapai antara pimpinan instansi pemerintah/unit kerja yang menerima

amanah/tanggungjawab/kinerja dengan pihak yang memberikannya.Perjanjian

kinerja ini merupakan suatu janji kinerja yang diwujudkan oleh seorang pejabat

penerima amanah kepada atasan langsungnya.

Di dalam perencanaan kinerja ditetapkan target kinerja tahun 2016

untuk seluruh indikator kinerja yang ada pada tingkat luaran dan kegiatan.

Pernyataan Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian tahun 2016

sebagaimana diuraikan pada tabel dibawah ini, menjadi komitmen bagi

Direktorat Pelayanan Kefarmasian untuk mencapainya pada tahun 2016.

Tabel 6. Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian

No Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Target

1 Meningkatkan

Pelayanan Kefarmasian

dan Penggunaan Obat

Rasional di Fasilitas

Pelayanan Kesehatan

1. Persentase Puskesmas yang

melaksanakan pelayanan

kefarmasian sesuai standar

2. Persentase Penggunaan Obat

Rasional di Puskesmas

45%

64%

Kegiatan: Peningkatan Pelayanan Kefarmasian

Anggaran: Rp. 27.320.638.000,- (Dua puluh tujuh milyar tiga ratus dua

puluh juta enam ratus tiga puluh delapan ribu rupiah)

Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian Tahun 2016

ditandatangani oleh Direktur Pelayanan Kefarmasian sebagai Pihak Pertama

dan Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan sebagai Pihak Kedua.

(23)

10

Gambar 7. Dokumen Pernyataan Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian Tahun

2016

(24)

11

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A.

Capaian Kinerja Organisasi

1. Pengukuran Kinerja

Pengukuran kinerja memberikan gambaran kepada pihak-pihak

internal dan eksternal tentang pelaksanaan misi organisasi dalam rangka

mewujudkan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen

Renstra ataupun dokumen Penetapan Kinerja, ini merupakan proses

sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan

kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, kebijakan,

sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi, misi dan

strategi instansi pemerintah.

Indikator merupakan dokumen perencanaan kinerja yang diukur

dalam pengukuran kinerja yaitu dengan membandingkan tingkat kinerja

yang dicapai dengan standar, rencana, atau target yang telah ditetapkan.

Pengukuran kinerja ini diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana

realisasi atau capaian kinerja yang berhasil dilakukan oleh Direktorat

Pelayanan Kefarmasian.

Manfaat dari pengukuran kinerja adalah memberikan gambaran

kepada pihak-pihak internal dan eksternal tentang pelaksanaan misi

organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran yang telah

ditetapkan dalam dokumen Renstra atau pun Perjanjian Kinerja.Dalam

rangka menunjang program peningkatan pelayanan kefarmasian, maka

Direktorat Pelayanan Kefarmasian melakukan berbagai kegiatan. Berikut

ini akan diuraikan kinerja dari Direktorat Pelayanan Kefarmasian

berdasarkan indikator kinerja kegiatan sebagai berikut:

a. Persentase Puskesmas yang melaksanakan pelayanan

kefarmasian sesuai standar

Tujuan

Mengetahui jumlah puskesmas yang telah melaksanakan pelayanan

kefarmasian sesuai standar yaitu puskemas yang telah melaksanakan

(25)

12

Manfaat

1) Bagi Tenaga Kefarmasian

- Meningkatkan citra tenaga kefarmasian dalam pemberian

pelayanan kesehatan di puskesmas.

- Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap tenaga

kefarmasian di puskesmas.

2) Bagi Puskesmas

- Meningkatkan citra puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat

pertama

- Meningkatkan daya saing dalam komitmen peningkatan pelayanan

kesehatan

3) Bagi Dinas Kesehatan Kab/Kota/Provinsi

- Turut berkontribusi dalam mendukung program kefarmasian dan

alat kesehatan.

- Meningkatkan jaminan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat

Kab/Kota/Provinsi.

- Meningkatnya jumlah puskesmas yang telah melaksanakan

pelayanan kefarmasian dapat menjadi indikator keberhasilan

pembinaan pelayanan kefarmasian di wilayah setempat.

Perhitungan

= Jumlah Puskesmas yang melaksanakan Pelayanan KefarmasianJumlah Puskesmas seluruhnya 𝒙 100%

b. Persentase Penggunaan Obat Rasional di Puskesmas

Tujuan

Mengingat setiap pemberian obat harus didasarkan pada indikasi

penggunaan dan diagnosis, serta mempertimbangkan segi ilmiah

kemanfaatannya, maka dokter bertanggung jawab sepenuhnya

terhadap mutu penggunaan obat yang diberikan. Jika prosedur medik

yang diterima adalah pedoman pengobatan di pusat pelayanan

setempat, maka pemantauan penggunaan obat yang rasional bertujuan

untuk menilai apakah praktek penggunaan obat yang dilakukan telah

sesuai dengan pedoman pengobatan yang berlaku.

Manfaat

1) Bagi dokter/pelaku pengobatan

Pemantauan penggunaan obat dapat digunakan untuk melihat

mutu pelayanan pengobatan dan mutu keprofesian. Dengan

(26)

13

penggunaan yang berlebih (over prescribing), kurang (under

prescribing), boros (extravagant prescribing) maupun tidak tepat

(incorrect prescribing).

2) Bagi perencana obat

Pemantauan penggunaan obat secara teratur dapat digunakan

untuk membuat perencanaan obat dan perkiraan kebutuhan obat

secara lebih rasional. Upaya tersebut tidak dapat berdiri sendiri.

Perencanaan yang didasarkan pada data morbiditas dan pola

konsumsi yang akurat memberikan jaminan kecukupan ketersediaan

obat.

3) Bagi Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Pemantauan obat tidak saja bermanfaat terhadap mutu pelayanan

dan upaya intervensi, tetapi juga sebagai sarana pembinaan bagi

kinerja tenaga kesehatan setempat.

Perhitungan

Indikator Peresepan terdiri dari:

1) Penggunaan antibiotika pada ISPA non pneumonia maksimal 20 %

Persentase penggunaan antibiotik pada ISPA non pneumonia

=Jumlah penggunaan antibiotik pada ISPA non PneumoniaJumlah kasus ISPA non Pneumonia × 100%

Jika a ≤20%, maka persentase capaian indikator kinerja POR adalah 100%

2) Penggunaan antibiotika pada Diare non Spesifik maksimal 8%

Persentase penggunaan Antibiotik pada Diare non Spesifik

=Jumlah Penggunaan Antibiotik pada Diare Non SpesifikJumlah kasus Diare non Spesifik × 100%

Jika b ≤ 8%, maka persentase capaian indikator kinerja POR adalah100%

3) Penggunaan injeksi pada Myalgia maksimal 1%

Persentasepenggunaan Injeksi pada Myalgia

=Jumlah penggunaan injeksi pada Myalgia Jumlah kasus Myalgia × 100%

Jika c ≤ 1%, maka persentase capaian indikator kinerja POR adalah 100% 4) Rerata item obat yang diresepkan (untuk 3 penyakit tersebut di atas) adalah

maksimal 2,6

Rerata item obat (d)= Jumlah item obat

(27)

14 Jika d ≤ 2,6 item, maka persentase capaian indikator kinerja POR adalah100%

Jika d ≥ 4 item, maka persentase capaian indikator kinerja POR adalah 0%

2. Analisis Akuntabilitas Kinerja

a. Persentase Puskesmas yang melaksanakan pelayanan

kefarmasian sesuai standar

Gambar 9. Grafik Capaian Indikator Persentase Puskesmas yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standarpada Tahun 2016

Tabel 7. Capaian Indikator Persentase Puskesmas yang melakukan Pelayanan Kefarmasian sesuai Standar pada Tahun 2016

Capaian Indikator Tahun 2015 - 2019

2015 2016 2017 2018 2019

Target 40% 45% 50% 55% 60%

Realisasi 40,01% 45,39% - - -

Persentase

Capaian 100,02% 100,86% - - -

Kondisi yang dicapai:

Capaian indikator tahun 2016 adalah sebesar 45,39% dengan

target sebesar 45%, dimana pada tahun sebelumnya capaian

indikatornya adalah 40,01% dengan target sebesar 40%. Dari data

diatas tampak bahwa target indikator Persentase Puskesmas yang

melaksanakan Pelayanan Kefarmasian sesuai standar pada tahun 2015

dan 2016 telah tercapai dengan analisa sebagai berikut:

1) Persentase Puskesmas yang melaksanakan pelayanan kefarmasian

sesuai standar mengalami kenaikan 5,39% dari tahun 2015 dengan

2015 2016 2017 2018 2019

Target 40,00% 45,00% 50,00% 55,00% 60,00%

Realisasi 40,01% 45,39% 0,00% 0,00% 0,00%

% Capaian 100,02% 100,86% 0,00% 0,00% 0,00%

(28)

15

capaian 100,86% dan diharapkan tahun 2017 bisa mencapai target

50%;

2) Peningkatan realisasi indikator ini pada tahun kedua Renstra 2015 – 2019 menunjukkan hal yang positif dan diharapkan dapat mencapai

target indikator akhir di tahun 2019 yakni sebesar 60%.

Permasalahan:

1) Dari hasil Monev dan Bimtek ke Puskesmas, pada umumnya Tenaga

Farmasi di puskesmas sudah melakukan Pelayanan Kefarmasian,

namun tidak mencatat dan melaporkan Pelayanan Kefarmasian yang

telah dilakukan dalam keseharian;

2) Pengelola obat di puskesmas bukan apoteker atau TTK;

3) Keterbatasan cakupan pembinaan dari Kemenkes sehingga masih

banyak puskesmas yang belum pernah tersosialisasikan tentang

standar pelayanan kefarmasian di puskesmas.

Pemecahan Masalah:

1) Mengedukasi Dinas kesehatan Provinsi agar mengirimkan Rekapan

laporan Pelayanan Kefarmasian Provinsi ke Kemenkes

2) Mensosialisasikan Standar Pelayanan Kefarmasian di puskesmas ke

Dinas Kesehatan Provinsi dan diharapkan Dinas Kesehatan Provinsi

dapat mensosialisasikan hal tersebut ke dinas kesehatan kabupaten

sehingga dinas kesehatan kabupaten dapat memberikan pembinaan

ke puskesmas diwilayahnya.

3) Melaksanakan Monev terpadu dilingkup Direktorat Pelayanan

Kefarmasian

4) Memasukan Pelaporan Yanfar kedalam SP2TP

Kegiatan Pendukung Indikator:

1) Pengembangan Implementasi Farmakoekonomi di Fasilitas

Kesehatan

Dalam penerapan Jaminan Kesehatan Nasional yang dimulai

pada tahun 2014, maka aspek pengendalian mutu sekaligus biaya

obat dan alat kesehatan menjadi salah satu hal penting yang

mendapatkan perhatian. Farmakoekonomi sebagai bidang studi yang

melakukan evaluasi perilaku atau kesejahteraan individu, perusahaan

dan pasar, yang relevan dengan penggunaan produk farmasi,

pelayanan, dan program. Fokusnya terutama pada biaya (input) dan

(29)

16

biayanya lebih tinggi mungkin saja dipilih jika hasil pencapaian tujuan

pengobatan juga tinggi, sehingga biaya per satuan outcomenya lebih

rendah atau disebut cost-effective, terutama sebagai bukti pendukung

dalam pengambilan keputusan obat apa saja yang akan digunakan

dalam jaminan, dimasukkan dalam formularium/daftar obat esensial

atau untuk persetujuan obat baru. Dengan demikian,

Farmakoekonomi menjadi sangat penting dalam upaya pengendalian

mutu dan biaya obat, terutama dalam sistem jaminan kesehatan,

serta dalam proses pemilihan dan penggunaan obat di fasilitas

kesehatan.

Kegiatan kajian farmakoekonomi dalam pelayanan kesehatan

dilaksanakan melalui kerjasama dengan pihak ketiga. Kegiatan yang

dilaksanakan adalah persiapan Tim Kajian yang lebih dulu diberikan

pelatihan oleh pakar yang kompeten di bidang farmakoekonomi dan

HTA, dilanjutkan dengan pelaksanaan kajian farmakoekonomi oleh

Tim yang telah dibentuk di rumah sakit terpilih untuk jenis obat

tertentu yang telah disepakati oleh Tim.

Permasalahan yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman

tenaga kesehatan (medis, apoteker, rekam medik) tentang

pengambilan data untuk keperluan analisis. Dengan demikian

diperlukan Apoteker yang telah memiliki pengetahuan mendalam

tentang obat, selayaknya memiliki pengetahuan tentang

prinsip-prinsip farmakoekonomi, dan akan lebih optimal lagi jika memiliki

kemampuan mengevaluasi hasil studi farmakoekonomi. Sehingga

diharapkan penerapan Pharmaceutical Care dan Farmakoekonomi

dapat membantu meningkatkan pencapaian outcome terapi yang

maksimal dengan biaya yang seminimal mungkin.

2) Analisis Farmakoekonomi Obat dan Alat Kesehatan di Fasilitas

Kesehatan

Pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), rumah sakit

dituntut untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan termasuk

pelayanan kefarmasian secara efektif dan efisien. Hal ini tentunya

menjadi tanggungjawab dari Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)

sebagai satu-satunya pengelola pelayanan kefarmasian di RS untuk

memastikan bahwa pelaksanaan pelayanan kefarmasian di RS

(30)

17

Berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi dalam pelayanan

kesehatan, obat berbiaya tinggi perlu pertimbangan tersendiri.

Mengingat adanya potensi risiko finansial yang tinggi dalam

penggunaan obat berbiaya tinggi tersebut. Hal ini terutama dalam

sistem pembayaran dengan INA-CBGs yang saat ini berlaku.

Dibutuhkan adanya semacam studi untuk memastikan

efektivitas penggunaan obat berbiaya tinggi terutama dalam aspek

value for money. Dirasakan perlu untuk membandingkan harga dan

efek kesehatan dari sebuah pengobatan untuk mengetahui sampai

dimana obat tersebut memberikan value for money. Dengan demikian

didapatkan informasi yang memberikan pandangan tentang

pengalokasian sumberdaya berkaitan dengan obat biaya tinggi.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui cost efektivitas dari

obat berbiaya tinggi, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan

untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengobatan serta dapat

menjadi bahan pertimbangan untuk dimasukkan dalam Formularium

Nasional.

Sasaran dari kegiatan Analisis cost efektivitas obat biaya tinggi

dalam JKN adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit dan manajemen

rumah sakit secara umum.Tujuan kegiatan adalah tersedianya data

hasil analisis cost efektivitas obat biaya tinggi yang digunakan dalam

JKN.Hasil dari kegiatan ini dibukukan dalam bentuk Pedoman Teknis

Analisis Farmakoekonomi di Fasilitas Kesehatan sebagai berikut:

(31)

18

3) Bimbingan Teknis Pelayanan Kefarmasian di Fasilitas Kesehatan

Bimbingan teknis pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan

diselenggarakan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu

pelayanan kefarmasian yang dilakukan baik di puskesmas dan rumah

sakit.

Bimbingan teknis ini dilakukan dengan melaksanakan

pertemuan dengan tenaga kefarmasian di faskes dan menyampaikan

hal terkait kebijakan, pengelolaan serta pelayanan kefarmasian klinik

serta membahas masalah yang ditemukan dalam pelaksanaan tugas

sehari hari.

Bimbingan teknis pelayanan kefarmasian di rumah sakit

dilaksanakan dengan melaksanakan pertemuan di rumah sakit dan

mendatangkan narasumber yang berasal dari Kementerian

Kesehatan, Praktisi dan memberikan materi teknis diikuti dengan

praktek pelayanan farmasi klinik.

Terdapat 7 rumah sakit yang dilaksanakan bimbingan teknis,

dan diutamakan bagi rumah sakit yang akan sedang mempersiapkan

akreditasi rumah sakit. Terlihat banyak perbaikan dari berbagai

masalah yang ditemukan sehari-hari diantaranya masalah dalam

pengelolaan obat, termasuk penyimpanan, penerimaan obat,

pengkajian resep, maupun pemantauan terapi.

Tahapan kegiatan adalah sebagai berikut: a) Perkenalan

kepada manajemen dan penyampaian mengenai maksud dan tujuan

Bimtek terkait dengan kebijakan pelayanan kefarmasian; b)

Penyampaian kondisi umum fasilitas kesehatan terkait pelayanan

kefarmasian; c) Penyampaian materi pengendalian sediaan farmasi

sesuai standar; d) Penyampaian materi terkait pelayanan farmasi

klinik terutama pemantauan terapi; e) Simulasi dan diskusi

Pelaksanaan Bimbingan teknis diselenggarakan dengan baik,

adapun masalah yang ada tidak terlalu bermakna dan terkait dengan

seleksi terhadap fasiltias kesehatan yang akan dilakukan bimtek agar

mencapai hasil optimal. Untuk mencapai hasil optimal, perlu

dilakukan seleksi bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang akan

diberikan bimbingan teknis, sehingga pemberian bimtek akan

meningkatkan pengetahuan maupun kemampuan fasilitas kesehatan

dalam meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian sesuai standar

(32)

19

4) Pembekalan Tenaga Kefarmasian di Puskesmas dalam Rangka

Akreditasi Puskesmas

Pembekalan tenaga kefarmasian merupakan bagian upaya

peningkatan pelayanan kefarmasian sesuai standar melalui

peningkatan kapasitas SDM yang bertugas di ruang farmasi

puskesmas. Pembekalan telah dilaksanakan pada 3 (tiga) propinsi

terpilih yaitu propinsi Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan

Kalimantan Barat. Adapun total tenaga kefarmasian yang telah

diberikan pembekalan sejumlah 170 orang.

Tenaga kefarmasian tersebut diberikan pembekalan baik berupa

pengelolaan sediaan farmasi maupun pelayanan farmasi klinik agar

mampu melakukan seluruh pelayanan merujuk kepada standar

pelayanan kefarmasian di puskesmas.

Permasalahan dalam pelaksanaan pembekalan tenaga

kesehatan di puskesmas tidak terlalu bermakna, lebih kepada

ketepatan pemilihan puskesmas yang akan diintervensi serta

pendekatan kepada dinas kesehatan kabupaten atau kota untuk terus

mengawal SDM yang telah dilatih agar dapat mengimplementasikan

hasil pembekalan dalam pekerjaan sehari hari.Pemecahan masalah

lebih kepada pendekatan yang baik kepada dinas kesehatan kab/kota

agar menyeleksi tenaga kesehatan di puskesmas yang memiliki

keinginan untuk komit terhadap pelayanan kefarmasian sesuai

standar serta melakukan pemantauan implementasi pelaksanaan

pelayanan kefarmasian sesuai standar di puskesmas masing masing.

b. Persentase Penggunaan Obat Rasional di Puskesmas

Perhitungan capaian Indikator Penggunaan Obat Rasional dilakukan

berdasarkan rekapitulasi data capaian Penggunaan Obat Rasional secara

berjenjang mulai dari Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan

Dinas Kesehatan Provinsi yang kemudian dilaporkan ke Kementerian

(33)

20

Gambar 11. Grafik Capaian Indikator Persentase Penggunaan Obat Rasional di Puskesmas pada Tahun 2016

Tabel 8. Capaian Indikator Persentase Penggunaan Obat Rasional di Puskesmas pada Tahun 2016

Capaian Indikator Tahun 2015 - 2019

2015 2016 2017 2018 2019

Target 62% 64% 66% 68% 70%

Realisasi 70,64% 71,05% - - -

Persentase

Capaian 113,94% 111,01% - - -

Kondisi yang dicapai:

Capaian indikator tahun 2016 adalah sebesar 71,05% dengan

target sebesar 64%, dimana pada tahun sebelumnya capaian

indikatornya adalah 70,64% dengan target sebesar 62%. Dari data

grafik dan tabel capaian indikator tampak bahwa target indikator

Persentase Penggunaan Obat Rasional di Sarana Kesehatan Dasar

Pemerintah pada tahun 2015 dan 2016 telah tercapai dengan analisa

sebagai berikut:

1) Persentase Penggunaan Obat Rasional di Puskesmas mengalami

kenaikan dari tahun 2015 dengan persentase capaian 111,01%;

2) Peningkatan realisasi indikator ini pada tahun kedua Renstra 2015 –

2019 menunjukkan hal yang positif dan selanjutnya terdapat

perubahan Indikator Penggunaan Obat Rasional untuk tahun 2017 –

2019 yaitu menjadi Persentase Kabupaten/Kota yang menerapkan

2015 2016 2017 2018 2019

Target 62,00% 64,00% 66,00% 68,00% 70,00%

Realisasi 70,64% 71,05% 0,00% 0,00% 0,00%

% Capaian 113,94% 111,01% 0,00% 0,00% 0,00%

(34)

21

penggunaan obat rasional di Puskesmas. Kabupaten/Kota yang

menerapkan Penggunaan Obat Rasional di Puskesmas adalah

Kabupaten/Kota yang 20% Puskesmasnya memiliki nilai rerata

Penggunaan Obat Rasional minimal 60%. Target indikator

Penggunaan Obat Rasional tahun 2017 – 2019 secara berurutan adalah 30%, 35%, dan 40%.

Permasalahan:

1) Terbatasnya dukungan dari Pemerintah Daerah dalam penganggaran

program yang terkait dengan peningkatan POR, sehingga Dinkes

Propinsi maupun Kabupaten/Kota belum dapat menindaklanjuti

program peningkatan POR dan pemberdayaan masyarakat di tingkat

daerah secara optimal.

2) Kurangnya koordinasi baik di tingkat pusat maupun daerah sehingga

pelaksanaan Peningkatan Penggunaan Obat Rasional dan

pemberdayaan masyarakat belum optimal.

3) Terbatasnya sebaran media promosi kepada masyarakat sehingga

sasaran masyarakat yang menerima informasi tentang Penggunaan

Obat Rasional masih terbatas.

4) Kurangnya koordinasi dengan lintas sektor dan unit kerja lain yang

terkait dalam pelaksanaan program POR sehingga program POR

belum terintegrasi dengan program di unit kerja yang lain.

5) Kurangnya pelatihan dan bimbingan teknis kepada tenaga kesehatan

di puskesmas dalam pengumpulan data indikator sehingga

menghambat terlaksananya pemantauan dan evaluasi POR.

6) Belum adanya kebijakan khusus dan sanksi yang tegas tentang

penggunaan antibiotika, sehingga penggunaan antibiotika secara

tidak rasional oleh tenaga kesehatan masih tinggi, serta pembelian

antibiotika secara bebas oleh masyarakat banyak terjadi.

7) Masih kurangnya pedoman penggunaan obat yang rasional,

sehingga penggunaan obat yang tidak rasional oleh tenaga

kesehatan masih banyak terjadi.

Pemecahan Masalah:

1) Perlu dorongan kepada Dinas Kesehatan untuk melakukan advokasi

secara intensif kepada Pemerintah Daerah agar dapat mendukung

(35)

22

Penggunaan Obat Rasional dan pemberdayaan masyarakat di tingkat

daerah.

2) Perlu dilakukan koordinasi baik di tingkat pusat maupun daerah

secara kontinu agar pelaksanaan Peningkatan Penggunaan Obat

Rasional dan pemberdayaan masyarakat dapat optimal.

3) Perlu peningkatan sebaran media promosi kepada wilayah yang lebih

luas sehingga sasaran masyarakat yang menerima informasi tentang

Penggunaan Obat Rasional dapat ditingkatkan.

4) Perlu dilakukan koordinasi dengan lintas sektor dan unit kerja lain

yang terkait dengan program Penggunaan Obat Rasional sehingga

dapat terintegrasi dengan program di unit kerja yang lain.

5) Perlu dilaksanakan pelatihan dan bimbingan teknis kepada tenaga

kesehatan di puskesmas dalam pengumpulan data indikator

peresepan sehingga memperlancar terlaksananya pemantauan dan

evaluasi Penggunaan Obat Rasional.

6) Penyusunan kebijakan khusus dan sanksi yang tegas tentang

penggunaan antibiotika, sehingga penggunaan antibiotika secara

tidak rasional oleh tenaga kesehatan, serta pembelian antibiotika

secara bebas oleh masyarakat dapat diturunkan.

7) Perlu disusun pedoman penggunaan obat yang rasional, sehingga

penggunaan obat yang tidak rasional berkurang.

Kegiatan Pendukung Indikator:

1) Workshop Penggunaan Antimikroba Bijak untuk RS Rujukan Regional

(36)

23

Kegiatan ini dilaksanakan di Batam dan Mataram dengan Rumah

Sakit Rujukan Regional, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan

Kab/Kota sebagai sasaran kegiatan.Kegiatan ini bertujuan untuk

meningkatkan kapasitas tenaga kefarmasian di RS dalam Program

Pengendalian Resistensi Antimikroba, terutama dalam pemberian

antimikroba secara bijak kepada pasien, teridentifikasinya masalah

penggunaan antimikroba yang terjadi di RS dan sumber daya yang

tersedia, serta tersusunnya Rencana Aksi dan Rekomendasi dalam

pelaksanaan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba untuk

rumah sakit, Dinas Kesehatan, dan Kementerian Kesehatan. Beberapa

hasil rekomendasi pemecahan masalah dan perbaikan ke depan antara

lain:

 Perlu dilakukan review dan revisi Pedoman Penggunaan Antibiotika

 Perlu disusun dan implementasi kebijakan yang secara tegas

mengatur penggunaan antimikroba secara bijak.

 Perlu dilakukan optimalisasi Tim PPRA di Rumah Sakit Rujukan

Regional.

 Perlu peningkatan kesadaran dari tenaga kesehatan tentang

resistensi antimikroba

 Perlu peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan tentang

pengendalian resistensi antimikroba, terutama penggunaan

antibiotika secara bijak dengan melaksanakan pertemuan

ilmiah/workshop secara berkesinambungan.

 Perlu dilakukan evaluasi dan monitoring penggunaan antimikroba di

rumah sakit rujukan regional secara berkala.

 Perlu ketersediaan dana yang cukup sehingga dapat melibatkan

seluruh RS Rujukan Regional di Indonesiadalam Workshop

Penggunaan Antimikroba Bijak.

2) Penyusunan Informasi POR melalui Media Cetak

Hasil yang dicapai dari pelaksanaan kegiatan ini adalah

tersusunnya materi dan desain untuk materi promosi (buku saku, poster,

roll banner, brosur / leaflet, goody bag). Meskipun demikian, ke depan

perlu dilakukan perluasan cakupan penyebaran media promosi

sehingga sasaran masyarakat yang menerima informasi tentang

(37)

24

Gambar 13. Informasi POR dalam Bentuk Media Cetak

3) Penyusunan Informasi POR melalui Media Elektronik

Hasil yang dicapai dari pelaksanaan kegiatan ini

adalahTerbentuknya SK Tim Penyebaran Informasi POR melalui Media

Elektronik, tersusunnya artikel dan cerita pendek tentang Penggunaan

Obat Rasional dan Gema Cermat untuk dipublikasi di website dan

media sosial, jadwal publikasi artikel di website dan media sosial dan

materi promosi dalam bentuk Audiovisual.Usulan perbaikan di masa

yang akan datang antara lain:

 Perlu ditunjuk admin khusus pengelola facebook, pengelola twitter

dan pengelola website gema cermat.

 Ada jadwal moderasi dan admin yang bertugas.

 Ada pelatihan untuk admin agar mampu menyusun informasi atau

berita yang terkini, dibutuhkan masyarakat dan dalam bahasa popular

atau mudah dipahami oleh masyarakat awam.

 Ada pelatihan untuk admin agar mampu dalam handlings complain

management untuk merespon isu strategis atau isu negatif.

4) Sosialisasi Formularium Nasional

Sosialisasi Formularium Nasional dilakukan dalam dua regional,

regional pertama mengundang provinsi yang berada di wilayah barat

dan regional kedua mengundang provinsi yang berada di wilayah timur.

Sosialisasi Formularium Nasional diberikan kepada stakeholder di

Provinsi, Rumah Sakit Vertikal dan Provinsi, Organisasi Profesi,serta

pemegang program terkait di lingkungan Kementerian Kesehatan agar

(38)

25

Kesehatan Nasional (JKN) untuk meningkatkan mutu pelayanan

kesehatan.

5) Bimbingan Teknis Penggunaan Obat Rasional

Kegiatan pemberian bimbingan teknis penggunaan obat rasional

ini dilaksanakan di tingkat Puskesmas pada kabupaten/kota dengan

cara sebagai berikut:

 Review perhitungan indikator Penggunaan Obat Rasional (POR)

mulai dari cara memperoleh data persen penggunaan antibiotika

pada penyakit ISPA Non Pneumonia dan Diare Non Spesifik,

penggunaan injeksi pada Myalgia serta rerata item obat. Dan juga

review terhadap cara pengolahan data sampai diperoleh persentase

capaian POR.

 Untuk mendapatkan masukan (permasalahan dan masukan) terkait

pelaporan indikator penggunaan obat rasional di Puskesmas, Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi.

 Memperoleh data profil penggunaan obat rasional di Puskesmas

Kegiatan Bimbingan Teknis Penggunaan Obat Rasional (POR)

dilaksanakan di provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bangka Belitung,

Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi

Selatan, Kalimantan Selatan, Riau, Nanggroe Aceh Darussalam,

Sulawesi Tenggara, Jawa Barat dan Yogyakarta. Hasil Bimbingan

Teknis Penggunaan Obat Rasional sebagai berikut:

 Cara memperoleh data dasar POR dan cara perhitungan Indikator di

puskesmas beragam dan beberapa belum sesuai dengan cara

perhitungan yang ada di petunjuk teknis.

 Puskesmas memiliki beban laporan yang cukup banyak sehingga

penyusunan laporan POR sering mengalami keterlambatan.

 Keterbatasan sumberdaya manusia baik kuantitas maupun kualitas

khususnya tenaga farmasi di Puskesmas.

 Belum sepenuhnya kolaborasi antar tenaga kesehatan di puskesmas

dalam menunjang pelaksanaan POR.

Usulan perbaikan di masa yang akan datang antara lain:

 Pembinaan berjenjang dan berkala oleh Dinas

Kabupaten/Kota/Provinsi kepada Puskesmas di wilayah masing

masing terkait pedoman penggunaan obat rasional (POR).

 Advokasi kepada kepala Puskesmas tentang prinsip dan

(39)

26

 Advokasi kepada pemerintah daerah untuk khususnya terkait

pemenuhan kebutuhan tenaga farmasi di Puskesmas.

 Intervensi terhadap Puskesmas dengan pelatihan peningkatan

kapasitas SDM dalam rangka Akreditasi Puskesmas (Integrasi POR

dalam penilaian akreditasi).

6) Penyusunan Formularium Haji 2016

Kegiatan berupa pertemuan dengan melibatkan asosiasi profesi

dokter spesialistik terkait, Tim Ahli baik dari Rumah Sakit maupun dari

Universitas, pengelola program di Kementerian Kesehatan yaitu Subdit

Haji dan Direktorat P2PL. Tujuan kegiatan ini adalah

tersusunnyaFormularium Obat dan Perbekalan Kesehatan pada

Pelayanan Kesehatan Haji sebagai acuan nasional bagi penggunaan

obat yang rasional bagi Jemaah Haji Indonesia. Hasil penyusunan buku

tersebut dapat dilihat pada Gambar berikut ini:

Gambar 14. Buku Formularium Obat dan Perbekalan Kesehatan pada Pelayanan

Kesehatan Haji

Permasalahan yang dihadapi dalam penyusunan Formularium

Obat dan Perbekalan Kesehatan pada Pelayanan Kesehatan Haji ini

antara lain:

 Sedikitnya usulan yang masuk ke Tim Sekretariat.

 Masih kurangnya data pendukung bukti ilmiah pada usulan obat baru

(40)

27  Penyesuaian jadwal kegiatan dengan Tim Ahli, kadang jadwal yang

telah direncanakan berubah sehingga mempengaruhi jadwal kegiatan

lain.

 Dengan adanya kondisi penyakit yang bermacam-macam pada

jemaah haji, maka memerlukan penambahan beberapa obat baru

dalam Formularium Haji.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka disusun usulan

pemecahan masalah sebagai berikut:

 Tim sekretariat menghubungi kembali ke seluruh fasilitas kesehatan

yang menanggani kesehatan jemaah haji untuk dapat mengirimkan

usulannya ke tim sekretariat.

 Diperlukan data pendukung Bukti Ilmiah pada usulan penambahan

obat yang berdasarkan evidence base medicine.

 Diperlukan rencana kegiatan termasuk jadwal, penetapan anggota

Tim Ahli serta konfirmasi sedini mungkin agar tidak terjadi perubahan

secara mendadak.

 Diperlukan evaluasi / kajian menyesuaikan dengan perkembangan

ilmu pengetahuan & teknologi baik di bidang obat, alat kesehatan dan

kedokteran serta kebutuhan medis Jemaah haji.

B.

Realisasi Anggaran

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, Direktorat Pelayanan

Kefarmasian didukung oleh anggaran yang dituangkan dalam Daftar Isian

Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2016 dengan alokasi sebesar

Rp.27.320.638.000,- (Dua puluh tujuh milyar tiga ratus dua puluh juta enam

ratus tiga puluh delapan ribu Rupiah). Selama pelaksanaan kegiatan tahun

2016, anggaran Direktorat Pelayanan Kefarmasian mengalami beberapa kali

perubahan, baik perubahan akibat perpindahan anggaran antar Satuan Kerja

maupun akibat efisiensi/penghematan. Kemudian dalam pelaksanaan

anggaran tahun 2016, anggaran Direktorat Pelayanan Kefarmasian mengalami

2 (dua) kali efisiensi/penghematan. Efisiensi/penghematan yang pertama

melalui Instruksi Presiden No.4 Tahun 2016, yang kemudian ditindaklanjuti

melalui Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI selaku mitra kerja

Kementerian Kesehatan dengan menyetujui pelaksanaan

efisiensi/penghematan sebesar Rp.2.676.132.000,- sehingga alokasi menjadi

Rp.24.644.506.000,- kemudian dilanjutkan dengan penambahan alokasi

melalui refocusing kegiatansebesar Rp.1.199.606.000,- sehingga alokasi

(41)

Rp.25.844.112.000,-28

(Dua puluh lima milyar delapan ratus empat puluh empat juta seratus dua

belas ribu Rupiah).

Sesuai dengan Instruksi Presiden No.8 Tahun 2016 tentang

Langkah-langkah Penghematan Belanja Kementerian/Lembaga dalam rangka

Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan

(APBN-P) Tahun Anggaran 2016, anggaran Kementerian Kesehatan dilakukan

efisiensi/penghematan kembali. Direktorat Pelayanan Kefarmasian

memperoleh penghematan anggaran sebesar Rp.181.500.000,-. Efisiensi

tahap 2 ini dilakukan melalui mekanisme blokir mandiri (Self blocking) pada

DIPA Direktorat Pelayanan Kefarmasian sehingga tidak mempengaruhi jumlah

anggaran secara umum. Alokasi terakhir anggaran Direktorat Pelayanan

Kefarmasian menjadi sebesar Rp.25.662.612.000,- (Dua puluh lima milyar

enam ratus enam puluh dua juta enam ratus dua belas ribu Rupiah). Adapun

realisasi anggaran tahun 2016 adalah sebesar Rp.23.912.279.096,- (Dua

puluh tiga milyarsembilan ratus dua belas juta dua ratus tujuh puluh sembilan

ribu sembilan puluh enam Rupiah)sehingga diperoleh persentase realisasi

sebesar 92,53%. Namun apabila dibandingkan dengan alokasi anggaran

tanpa selfblocking sebesar Rp.25.844.112.000,-(Dua puluh lima milyar

delapan ratus empat puluh empat juta seratus dua belas ribu Rupiah), maka

persentase realisasi sebesar 93,18%.

C.

Sumber Daya

1. Sumber Daya Manusia

Untuk mencapai kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian diperlukan

dukungan sumber daya manusia. Keadaan pegawai negeri sipil di

lingkungan Direktorat Pelayanan Kefarmasian pada tahun 2016 berjumlah

39 orang PNS dan 11 Orang tenaga non PNS dengan rincian

sebagaimana yang diuraikan pada tabel berikut ini:

Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut jabatan

Menurut jabatan : Jumlah

a. Jabatan Struktural = 14 orang

b. Jabatan Fungsional = - orang

c. Adminkes = 18 orang

d. Bendaharawan = 1 orang

e. Perencana = 2 orang

f. Sekretaris = 1 orang

g. Pengolah data = 2 orang

(42)

29

i. Tenaga pramubakti = 11 orang

Gambar 15. Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut Jabatan

Menurut golongan : Jumlah

a. Golongan II = 2 orang

b. Golongan III = 25 orang

c. Golongan IV = 22 orang

Gambar 16. Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut Golongan

Menurut pendidikan : Jumlah

a. S2 = 33 orang

b. S1 = 3 orang

c. D3 = 2 orang

d. SMA = 1 orang

Gol II

Gol III

Gol IV 5,13 %

64,10 % 56,41 %

28,57

(43)

30

Gambar 17. Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut Pendidikan

Tenaga Non PNS : Jumah

a. Apoteker = 4 orang

b. Sarjana Komputer = 1 orang

c. D3 keuangan = 2 orang

d. SMA = 3 orang

Menurut Jenis Kelamin: Jumlah

a. Pria = 17 orang

b. Wanita = 32 orang

Gambar 18. Jumlah Pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut Jenis Kelamin

Menurut rentang umur: Jumlah

a. < 30 tahun = 5 orang

b. 31-40 tahun = 22 orang

c. 41-50 tahun = 6 orang

d. 51-58 tahun = 16 orang

s2

s1

d3

sma 84,62%

2,56 % 5,13

% 7,69 %

Pria

Wanita 34,69%

(44)

31

Gambar 19. Jumlah pegawai Direktorat Pelayanan Kefarmasian menurut Umur

2. Sarana dan Prasarana

Laporan perkembangan Barang Milik Negara Tahun Anggaran 2016

sebagai berikut :

a. BMN Intrakomptable

 Posisi akhir (01 Januari 2016) : Rp. 3.062.622.922,-

 Penambahan : Rp. 4.167.927.208,-

 Pengurangan : Rp. 1.916.702.686,-

 Posisi akhir (31 Desember 2016) : Rp. 6.060.744.818,-

 Akumulasi penyusutan : Rp. 2.835.868.963,-

 Nilai netto : Rp. 3.224.875.855,-

b. BMN Ekstrakomptable

 Posisi awal (1 Januari 2016) : Rp. 1.640.000,-

 Penambahan : Rp. -

 Pengurangan : Rp. -

 Posisi akhir (31 Desember 2016) : Rp. 1.640.000,-

 Akumulasi penyusutan : Rp. 1.640.000,-

c. BMN Gabungan Intra dan Ekstra

 Posisi awal (1 Januari 2015) : Rp. 4.223.575.108,-

 Penambahan : Rp. 1.093.536.576,-

 Pengurangan : Rp. 719.281.667,-

<30 tahun

31-40 tahun

41-50 tahun

51-58 tahun

44,89 % 10,20

% 32,65

%

Gambar

Tabel 2. Alokasi dan Realisasi Anggaran dalam DIPA Direktorat Pelayanan Kefarmasian beserta Perubahannya pada Tahun 2016
Gambar 2. Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) bekerjasama dengan Komunitas Pengguna KRL
Gambar 4. Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat yang melibatkan Anggota Komisi IX DPR-RI di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah
Gambar 5. Tampilan aplikasi e-Fornas pada laman www.e-fornas.binfar.kemkes.go.id
+7

Referensi

Dokumen terkait

KESEHATAN mutu Peningkatan pelayanan kefarmasian di Puskesmas Peningkatan promosi penggunaan obat dan teknologi rasional. Peningkatan pengawasan post-market

Data yang diambil meliputi pelayanan kefarmasian di puskesmas dengan indikator kepatuhan prosedur tetap (protap), waktu penyiapan obat, waktu penyerahan obat,

Data yang diambil meliputi pelayanan kefarmasian di puskesmas dengan indikator kepatuhan prosedur tetap (protap), waktu penyiapan obat, waktu penyerahan obat,

Mutu pelayanan kefarmasian diukur dari tujuh indikator, yaitu rata-rata waktu penyiapan obat, rata-rata waktu penyerahan obat, persentase jumlah obat yang

Barang Milik Negara pada Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan yang mencakup 40 (empat puluh) satker (terdiri dari 6 satker pusat dan 34 satker

Laporan Kinerja Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2020 menyajikan gambaran atau memberikan informasi mengenai berbagai capaian kinerja sesuai dengan sasaran

Analisis data secara deskriptif dilakukan untuk mengetahui persentasi indikator peresepan rasional menurut WHO (rata rata jumlah item obat, persentase obat generik,

Pada awal tahun 2020, pemantauan capaian kinerja Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan kesehatan Rumah Tangga dilakukan melalui pengukuran indikator