• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA PENGASUHAN ANAK DI MASYARAKAT KUMUH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "POLA PENGASUHAN ANAK DI MASYARAKAT KUMUH"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

POLA PENGASUHAN ANAK DI MASYARAKAT KUMUH PERKOTAAN

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1.1 Lokasi dan Keadaan Daerah

Lokasi penelitian ini bertempat di RT 03/RW 09 (biasa disebut daerah Sayuran), Kelurahan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung. Daerah ini terletak di ujung kecamatan Bandung Kulon yang berbatasan langsung dengan kota Cimahi.

Daerah Sayuran merupakan salah satu daerah kumuh yang ada di kelurahan Cijerah. Luas daerah ini kurang lebih 1,5 km persegi. Sayuran termasuk daerah kumuh yang padat penduduknya. Susunan rumah di daerah ini tidak beraturan, jarak satu rumah ke rumah yang lainnya tidak jelas.

1.2 Penduduk

Jumlah penduduk yang tinggal di RT 03/RW 09 (Sayuran) sampai saat ini adalah 117 orang, yang terdiri dari 21 kepala keluarga. Penduduk yang tinggal di daerah Sayuran rata-rata merupakan pendatang dari daerah luar Bandung, penduduk asli daerah setempat diperkirakan hanya separuh dari jumlah penduduk. Penduduk pendatangnya ada yang berasal dari Garut, Tasik, Ciamis, Jawa, dan lain-lain.

1.3 Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi penduduk di daerah Sayuran adalah menengah ke bawah. Sebagian besar kehidupan ekonomi penduduknya bisa dikatakan lemah. Mata pencaharian mereka beraneka ragam; ada yang berdagang, bekerja di pabrik (buruh), tukang becak, bahkan ada yang mencari nafkah sebagai pemulung.

1.4 Pendidikan

(2)

2. Pola Pengasuhan Anak dalam Keluarga

Keluarga yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah sebuah keluarga muda. Ayah bernama Yono (25), ibu bernama Erna (22), dan sang anak bernama Aditya (6). Aditya sekarang sekolah di SD Cijerah sebagai murid kelas 1. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan yang berukuran 3x4 m. kamar, ruang keluarga, dan dapur menjadi satu (hanya di ruangan itu). Malam hari rumah mereka berfungsi sebagai kamar, sedangkan siang harinya berubah menjadi ruang keluarga atau dapur. Untungnya dalam memasak nasi mereka menggunakan Magic jar , dan untuk memasak yang lainnya mereka menggunakan kompor gas gratis yang dibagikan pemerintah.

Perabotan rumah tangga yang dimiliki oleh keluarga ini antara lain; satu lemari pakaian, satu buah TV 14 inci, satu buah kasur, satu buah kompor gas kecil, satu buah magic jar, satu buah strika, dan beberapa alat untuk memasak.

Ayah Aditya (Yono) bekerja sebagai montir di sebuah bengkel. Sedangkan Ibunya tidak bekerja, beliau bertugas di rumah untuk menyiapkan kebutuhan keluarga. Penghasilan Yono sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka.

2.1 Pola Interakasi

2.1.1 Interaksi Ayah, Ibu, dan Anak

Interaksi dalam keluarga ini berjalan dengan baik, karena setiap ada masalah selalu dibicarakan bersama. Orang tua sangat memperhatikan kebutuhan anaknya. Setiap ada masalah yang dihadapi oleh anak (Aditya), orangtuanya selalu membantu untuk memecahkan masalah tersebut.

2.1.2 Interaksi antara Anak dengan Orang Lain (Lingkungan)

(3)

Di lingkungan sekolah, Aditya juga termasuk anak yang aktif. Ia selalu ikut kegiatan pramuka dan bebrapa kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Di kelasnya, Aditya selalu aktif bertanya. Aditya disukai banyak temannya karena dalam bergaul tidak pernah merugikan orang lain dan ia selalu ceria.

2.2 Perawatan dan Pengasuhan Anak

Orang tua Aditya (Yono dan Erna) merupakan orangtua yang sangat perhatian dan mengerti akan kebutuhan anaknya. Walaupun mereka tergolong pasangan muda, tapi mereka sangat mengerti bagaimana cara yang baik untuk merawat dan mengasuh anak. Mereka sangat mengutamakan pendidikan, sehingga apapun yang dibutuhkan Aditya dalam pendidikan mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya.

Dalam urusan pendidikan agama, mereka juga sangat perhatian. Selain mengajarkan tata cara sholat serta membimbing untuk selalu sholat lima waktu, mereka juga mengajar ngaji (baca-tulis al-Qur’an) setiap selesai sholat maghrib di rumah mereka. Mereka juga menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini.

2.3 Disiplin

2.3.1 Makan dan Minum

Dalam sehari, biasanya Aditya dan keluarganya makan tiga kali sehari. Mereka sarapan sebelum Aditya berangkat sekolah dan ayahnya berangkat kerja. Untuk makan siang Aditya biasanya makan setelah pulang sekolah dan hanya berdua dengan ibunya, karena ayahnya masih kerja. Barulah di waktu makan malam mereka berkumpul lagi untuk makan bersama-sama. Ayah Aditya pulang dari kerja biasanya pukul 5 sore.

2.3.2 Disiplin dalam Beribadah

(4)

rumahnya dengan bimbingan kedua orangtuanya. Biasanya Aditya mengaji sampai waktu sholat isya tiba, kemudian dilanjutkan dengan sholat isya berjama’ah.

2.3.3 Disiplin Belajar

Dalam hal Belajar, Aditya termasuk anak yang rajin. Prestasi di sekolahnya cukup bagus, ia termasuk ranking 4 besar di kelasnya. Orang tua Aditya sangat memperhatikan kedisiplinan dalam belajar. Aditya mempunyai jadwal rutin untuk belajar di rumah, yaitu sehabis sholat isya sampai kira-kira jam 9. Waktu tersebut digunakan untuk mengerjakan PR atau mebaca pelajaran untuk hari besoknya.

2.3.4 Disiplin Bermain

Dalam hal bermain, Aditya termasuk anak yang agak jarang keluar rumah. Padahal orang tuanya tidak melarang dia untuk bermain dengan teman-temannya di sekitar rumanya. Ia lebih suka main game (nintendo) di rumahnya. Kadang-kadang ia mengajak teman untuk main di rumahnya. Waktu untuk bermain adalah dari jam 4 sore sampai waktu magrib. Aditya dibelikan Nintendo oleh Ayahnya agar ia tidak ikut-ikutan menghabiskan uang untuk bermain PS di rumah tetangganya.

2.3.5 Disiplin Tidur dan Istirahat

Waktu untuk istirahat dan tidur Aditya sangat teratur. Untuk malam hari, ia tidur jam 9 setelah selesai belajar, kemudian bangun jam 5 subuh. Istirahat di siang hari juga ada waktunya, yaitu setelah makan siang kira-kira jam 2 sampai jam 4 sore.

2.3.6 Disiplin Kebersihan Diri

(5)

ANALISA

Dalam proses sosialisasi, seorang individu akan dibimbing dan diarahkan untuk membentuk diri menjadi seorang anggota masyarakat yang mampu berpikir dan bertindak sesuai norma dan nilai sosial budaya yang berlaku pada masyarakat tempat ia hidup. Salah satu bagian dari proses sosialisasi adalah cara pengasuhan anak yang berlaku pada setiap masyarakat.. Menurut Dananjaya (1980 : 68), “Pola pengasuhan anak pada setiap masyarakat tidak bisa terlepas dari fungsinya yaitu menyiapkan seorang anak untuk menjadi warga masyarakat yang merupakan upaya agar masyarakat dan kebudayaan dapat terpelihara terus, ide-ide yang ditanamkan kepada warga baru ini harus sesuai dengan yang berlaku pada masyarakat dan kebudayaannya”. Proses pewarisan kebudayaan ini akan dimulai pertama kali di dalam lingkungan keluarga, yang merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat.

Dengan mengacu kepada konsep dasar tumbuh kembang maka secara konseptual pengasuhan adalah upaya dari lingkungan agar kebutuhan-kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang (’asuh, asih, dan asuh’) terpenuhi dengan baik dan benar, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Namun praktiknya tidaklah sesederhana itu karena praktik ini berjalan secara informal, sering dibumbui dengan hal-hal yang tanpa disadari dan tanpa disengaja dan lebih diwujudkan oleh suasana emosi rumah tangga sehari-hari yang terjadi interaksi antara orang-tua dan anaknya serta anggota keluarga lainnya. Dengan demikian hubungan inter dan intra personal orang-orang di sekitar anak tersebut dan anak itu sendiri sangat memberi warna pada praktik pengasuhan anak.

Komunikasi sebagai sebuah konsep dan perkembangan komunikasi antara anak dan orang tua telah menjadi sangat penting dalam penelitian empiris tentang bayi dan anak kecil selama 25 tahun terakhir ini. Sejumlah peneliti telah menggambarkan komunikasi awal ibu-anak dalam bentuk saling bersuara, saling meniru suara atau gerakan, di mana ibu dan anak berpartisipasi dengan cara yang bervariasi. Juga kemampuan bayi untuk berkomunikasi dan meniru ekspresi perasaan digambarkan secara rinci (Bateson 1975; Newson 1979).

(6)

perkembangan anak sebagai seorang makhluk sosial merupakan fondasi bagi semua perkembangan mental (Bruner 1975, 1990; Vygotsky 1978). Jerome Bruner menggambarkan bahwa pada diri anak terjadi “transactional self” dengan akses yang intuitif dan bebas terhadap kesadaran subjektif orang lain. Ini merupakan pencarian alami atas kesamaan konsepsi yang dia sebut “the biology of meaning”, yang merupakan prasyarat untuk mengembangkan sebuah lingkungan yang memiliki kesamaan pengertian dan tindakan.

Sudah lebih dari tiga puluh tahun para ahli psikologi berpendapat bahwa sikap dan pandangan tentang nilai-nilai dari orang-tua mempengaruhi kreativitas anak-anaknya. Beberapa hal penting tentang bagaimana secara langsung dapat merangsang kreativitas anaknya adalah:

1. Kebebasan – orang-tua yang memberikan kebebasan yang cukup luas cenderung mempunyai anak-anak yang kreatif. Orang-tua yang memberi kebebasan tidak selalu mengontrol anaknya, tidak bersifat restriktif terhadap kegiatan anaknya.

2. Hormat – orang-tua cenderung menghormati anaknya sebagai individu, mereka yakin akan kemampuan dan percaya akan keunikan anaknya, dengan demikian akan meningkatkan rasa percaya diri anaknya dalam menjalani hal-hal yang berisiko serta menjadi bersifat original. Kami ini istimewa, saya senang kamu karena kamu adalah kamu.

3. Kedekatan emosi namun tetap tenggang rasa – Pada keluarga dengan anak-anak yang kreatif secara relatif antara orang-tua dan anak tidak didapatkan hubungan emosi yang terlalu dekat. Kuncinya adalah tenggang rasa: anak-anak janganlah terlalu tergantung pada orang, namun anak-anaknya merasakan bahwa mereka disayangi dan diterima oleh orang-tua mereka.

(7)

sendiri dan memberi dorongan kepada anaknya untuk menetapkan perilaku yang mencontohkan nilai tersebut. Orang-tua mengharapkan anaknya bertindak mandiri namun penuh tanggung-jawab.

5. Perolehan, bukan angka/rangking – orang-tua yang kreatif sangat menghargai perolehan/keberhasilan anaknya. Mereka mendorong anaknya untuk berbuat yang terbaik untuk memperoleh hal-hal yang bagus. Menganggap imajinasi dan kejujuran jauh lebih penting daripada angka yang tinggi maupun IQ tinggi. Sangat menarik adalah bahwa kebanyakan orang-tua pada keluarga dengan anak-anak yang kreatif merasakan hanya sedikit saja masalah disiplin pada anak-anaknya.

6. Orang-tua yang aktif dan mandiri – sebagai orang-tua sikap tentang diri sendiri sangat penting karena orang-tua menjadi model utama bagi anak-anaknya. Orang-tua dari anak yang kreatif cenderung merasa yakin akan dirinya sendiri, tidak mempedulikan status sosial, tidak terikat dan relatif kebal terhadap tuntutan sosial. Mereka sangat kompeten dan mempunyai perhatian yang beraneka di dalam maupun di luar rumah.

7. Apresiasi terhadap kreativitas – anak-anak yang kreatif merasakan adanya dorongan yang kuat dari orang-tuanya untuk berbuat kreatif dan orang-tua mereka menyatakan kegembiraannya melihat anak-anaknya mempertunjukkan kreativitas. Orang-tua mereka memupuk pengembangan kreativitas anak mereka dengan penyediaan sarana, pelajaran, dan pengalaman yang merangsang.

8. Visi – orang-tua yang kreatif mempunyai visi yang jelas tentang anaknya sebagai individu yang terpisah dan bebas, pantas dihargai dan dikasihi, yang dapat diharapkan bertindak dengan moral dan tanggung-jawab pada situasi apapun.

(8)

(misalnya dari komik) dan mempunyai kosa kata yang hanya dapat dimengerti oleh mereka sendiri.

Dalam hal mengasuh dan mengajarkan kebudayaan Indonesia serta memasukkan nilai-nilai budaya yang ada pada anak, orang tua harus menyamakan persepsi terlebih dahulu sehingga nantinya dapat meminimalisir kebingungan pada anak dalam mempelajari kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Selain itu, orang tua juga harus menggunakan metode pengasuhan yang bersifat universal, yaitu tidak memihak pada salah satu kebudayaan tertentu, dan mengutamakan kebaikan yang bersifat universal. Hal lainnya yang penting juga dilakukan oleh orang tua adalah menutupi kekurangan yang ada pada satu kebudayaan, dan lebih mengutamakan hal-hal positif yang ada pada kebudayaan tersebut serta mengajarkan atau setidaknya memperkenalkan pada anak seluruh kesenian yang ada pada kebudayaan orang tuanya.

(9)

juga akan tumbuh menjadi anak yang menolak (anti-social) dan seringkali diikuti oleh perilaku destruktif.

Sebaliknya anak-anak manusia yang diasuh dengan kasih sayang juga akan memiliki ikatan kasih sayang yang kuat dengan ibunya (emotional bonding) dan cenderung menjadi anak yang patuh (obedience) dibandingkan anak yang lemah ikatan emosionalnya. Oleh sebab itu apa yang terjadi pada anak Jepang yang diasuh ibu dan jarang dipisahkan dari ibunya memiliki ikatan emosional yang lebih tinggi dibandingkan anak barat (western society) pada umumnya, dan ternyata anak-anak Jepang tersebut tumbuh menjadi anak-anak yang patuh dan hormat kepada orangtuanya serta memiliki prestasi akademik lebih baik dibandingkan anak-anak barat (Schikendanz, 1986). .

Keharmonisan dalam keluarga sebagaimana dipercaya oleh para environmentalism juga mempunyai kontribusi terhadap bagaimana perilaku anak manusia. Hal ini telah dibuktikan oleh para ahli selanjutnya, seperti diungkapkan Fagan (1995) bahwa anak-anak yang melakukan kenakalan dan pelanggaran hukum dan norma adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis, orangtua tunggal atau orangtua yang menikah kembali (step parent family). Anak yang dibesarkan dari keluarga seperti itu juga cenderung memiliki pengalaman pahit dan buruk dalam masa kecilnya, mereka seringkali disiksa (physically or sexually abused), dan mengalami perceraian beberapa kali dalam masa kanak-kanaknya, sehingga anak-anak tersebut belajar kekerasan dan kekejaman dari orangtuanya dan tumbuh menjadi manusia yang keras dan kejam pula.

(10)

meski tanpa sebab adanya kesalahan (no vault divorce). Dampaknya adalah pada menurunnya nilai komitmen dan pengorbanan yang selayaknya ada pada sebuah keluarga. Hal ini secara tak langsung dapat menggerus bukan saja nilai keluarga tetapi juga nilai pribadi saat berhubungan dengan tanggungjawab sosial (civic responsibility). Kebanyakan orang saat ini terlalu memperhitungkan untung dan rugi ketika berhubungan dengan orang lain, termasuk dalam sebuah pernikahan.

(11)

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan di atas, khususnya hasil analisa data maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Pendidikan orang tua mempengaruhi pola asuh dan perkembangan anak. 2. Nilai-nilai agama dan kebudayaan sangat dibutuhkan untuk membentuk

kepribadian dan karakter anak.

3. Kehidupan ekonomi keluarga dan pekerjaan orang tua berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

4. Walaupun tinggal di daerah kumuh, apabila orang tua mengetahui dan mengerti betapa pentingnya hidup bersih, insya Allah anak akan terhindar dari berbagai macam penyakit.

5. Kedisiplinan yang ditanamkan sejak usia dini akan sangat bermanfaat bagi si anak dalam menghadapi masa depannya.

6. Lingkungan juga mempengaruhi perkembangan anak.

7. Interaksi atau komunikasi yang intensif sangat dibutuhkan di antara orang tua dan anaknya.

Dengan memperhatikan beberapa kasimpulan di atas, maka penulis ingin memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Orang tua harus berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada anaknya, tentunya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

2. Selain sekolah dan Lembaga pendidikan keagamaan, setiap orang tua juga harus menanamkan nilai-nilai agama kepada anak sejak usia dini dan juga harus melestarikan kebudayaan agar tidak terkikis di telan zaman.

3. Masyarakat harus memperhatikan kebersihan lingkungan demi menjaga kesehatan.

4. Orang tua harus menanamkan sikap disiplin kepada anak sejak usia dini. 5. Orang tua harus bisa membangun komunikasi dan interaksi yang baik dengan

(12)

DAFTAR PUSTAKA

1. Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Antropologi. Jakarta. Rineka cipta.

2. Koentjaraningrat. 1977. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta. P.T. Dian Rakyat.

3. Sarwono, S.W. 1997. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta. Balai Pustaka..

4. Bateson, M.C.. 1975. Mother – Infant Exchanges: The epigenesist of conversational Interaction. Annals of New York Academy of Science.

5. Stern, D..1985. The Interpersonal World of the Infant: A view from psychoanalysis and developmental psychology. New York, Basic Books. 6. Bruner, J.. 1975. From Communication to language. London, Harvard

University Press.

Referensi

Dokumen terkait

POLA PENGASUHAN ANAK PADA KELUARGA ETNIK JAWA DI DESA MARGAHAYU SELATAN KECAMATAN MARGAHAYU KABUPATEN BANDUNG.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Pola Pengasuhan Orang Tua Kepada Anak yang Mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini di PGK AL Muslimun Desa Sayang,

Dengan metode ini akan dapat mendeskripsikan secara lebih teliti mengenai pola pengasuhan anak pada keluarga pemilik warteg di Kecamatan Margadana Kota Tegal, siapa saja

Penelitian pustaka untuk mengembangkan model pola pengasuhan berbasis keluarga dalam meningkatkan kreativitas anak terlantar.

diterapkan oleh orangtua terhadap anak pada keluarga karir ganda adalah jenis pola pengasuhan authoritative; orangtua yang keduanya bekerja masih berperan sesuai dengan

Sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah apa yang melatar belakangi tindakan sosial seorang pengasuh menekuni aktivitas pengasuhan anak

Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan pola pengasuhan yang diterapkan oleh ibu yang bekerja dalam menstimulasi perkembangan anak usia dini dan

Dampak pengasuhan oleh orang tua yang melakukan pernikahan dini terhadap perkembangan anak Keluarga adalah suatu pranata sosial yang sangat penting fungsinya dalam setiap