Citizen Inclusion
Citizen Inclusion
Governance
Menarik Pelajaran dari Kebijakan Pendidikan Kota Surakarta
Drs.
Laila Kholid Alfirdaus,
Dibiayai dari Sumber
JURUSAN ILM
FAKULTAS ILMU SOSIA
UNIVERSI
Inclusiondalam Prakt ik Governance Sehari-hari
Inclusion dalam Praktik
Governance Sehari-hari
Menarik Pelajaran dari Kebijakan Pendidikan Kota Surakarta
Oleh:
Drs. Priyatno Harsasto, MA
Laila Kholid Alfirdaus, S.IP, MPP
ari Sumber Dana DIPA FISIP UNDI
Tahun Anggaran 2010
JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2010
dalam Praktik
Menarik Pelajaran dari Kebijakan Pendidikan Kota Surakarta
A FISIP UNDIP
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
E. 1. Keterlibatan Warga: Menggeser Pendulum Negara ke Masyarakat-11-E.2. Bentuk-bentuk Citizen Inclusion dalam Governing Process -14-E.3. Desentralisasi dan Good Governance
-15-E.4. Penguatan Governance di Daerah: Pemberdayaan Pemerintah & Warga-16-F. Definisi
Konsep-20-BAB II SOSIAL, EKONOMI DAN POLITIK KOTA SURAKARTA -23-A. Kondisi
Geografis-23-B. Sumber Daya Manusia -24-C. Ketenagakerjaan -26-D. Perekonomian-27-E.
Pemerintahan-29-BAB
III
CITIZEN INCLUSION DALAM PRAKTIK GOVERNANCE: PENELUSURAN DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN KOTA SURAKARTAA. Bentuk Kebijakan Pendidikan -30-B. Awal Mula
Kebijakan-31-C.Pelibatan Warga dalam Pemerintahan: Upaya Mewujudkan Harapan Masyarakat dan Demokratisasi Pengambilan Keputusan
-33-C. 1. Demokratisasi Sistem Perwakilan
Masyarakat-33-C. 2. Pengembangan Jaringan dan Penciptaan Saling Ketergantungan-35-C. 3. Posisi Kelompok Sektoral dalam Proses Inklusi
-40-Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
Daftar Tabel
Tabel II.1 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Rasio Jenis Kelamin dan Tingkat Kepadatan Tiap Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2007
-26-Tabel II.2 Tingkat Kelulusan Pendidikan Kota Surakarta
-27-Tabel II.3 Banyaknya Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kota
-29-Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
Kata Pengantar
Puji syukur penelitian mengenai inklusi warga dalam praktik governance dengan
fokus pada kebijakan pendidikan di Kota Surakarta telah terlaksanakan. Penelitian ini
berangkat dari maraknya inovasi pelayanan di berbagai daerah, seperti pendidikan,
kesehatan, transportasi, dan sebagainya. Penelitian ini bermaksud menelisik keterlibatan
warga dalam berbagai inovasi tersebut dengan mengambil contoh kebijakan pendidikan
di Kota Surakarta sebagai fokus penelitian. Penelitian ini bermaksud mengelaborasi
inklusi warga dengan pertanyaan utama: sejauh mana warga dilibatkan, dan apa
hambatan untuk inklusi warga dalam inovasi kebijakan tersebit? Bagaimanapun, inovasi
pelayanan adalah untuk warga, bukan untuk popularitas politik semata. Di samping
warga, warga adalah esensi penting dalam governance, disamping pemerintah dan
sektor swasta di daerah.
Dalam penelitiaan ditemukan bahwa inklusi warga dalam kebijakan dan
pelayanan di Kota Surakarta telah berjalan. Inklusi ini berjalan melalui tiga aras, yaitu
Musrenbang, public hearing dan inisiasi NGO. Proses ini melibatkan warga sebagai
komunitas, bukan sebagai individu, media, dan NGO. Di sisi lain, proses inklusi ini
didukung oleh kesediaan pemerintah, terutama walikota, untuk terbuka dan
mendengarkan aspirasi dan suara warga. Namun demikian, inklusi ini masih dikritik
terbatas pada kalangan elite, didominasi warga yang memiliki afiliasi partai, masih
minim pada bidang-bidang sektoral, dan belu didukung komunikasi politik yang efektif,
seperti acara interaktif warga dan walikota atau wakil walikota di radio dan TV yang
intensif. Dalam beberapa hal, warga mengaku masih terbatas informasinya.
Ucapan terimakasih tidak lupa penulis ucapkan pada pihak fakultas (FISIP) yang
telah memberikan dukungan dana bagi terlaksananya penelitian ini. Terimakasih juga
pada Ketua dan Sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan atas dukungan moril dan materiil
penelitian ini. Terimakasih kepada Christian von Luebke dan Laila Alfirdaus, untuk
data penelitian di Kota Surakarta, Kompip untuk laporan kajian sektor informal Kota
Surakarta, dan para informan penelitian.
Bagaimanapun juga penelitian ini tidak lepas dari kekuraangan. Input dari
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari Abstrak
Inklusi merupakan syarat praktik governance yang tertuang dalam kebijakan dan pelayanan publik dapat berjalan. Inklusi memastikan suara dan aspirasi warga terserap, juga memastikan peran warga diperhitungkan dalam kebijakan publik. Inklusi mensyaratkan warga yang aktif sekaligus pemerintahan yang terbuka. Dengan inklusi, kebijakan pemerintah yang inovatif dan berbasis pada kebutuhan warga dapat disusun.
Dalam konteks inilah penelitian ini dilakukan. Penelitian bermaksud mengelaborasi lebih dalam eterlibatan warga dalam berbagai inovasi kebijakan pemerintah. Penelitian mengambil kasus kebijakan pendidikan di Kota Surakarta, terutama yang dituangkan dalam Bantuan Pendidikan untuk Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) untuk melihat sejauh mana inklusi warga dan hambatan apa yang ditemukan.
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Demokrasi tak bermakna tanpa inklusi karena akan terus dipertanyakan
kualitasnya dan manfaatnya bagi masyarakat (Dryzek, 1995: 475). Sepertinya frasa ini
dapat dijadikan penjelas atas keroposnya praktik demokrasi di Indonesia. Masyarakat
berbondong-bondong dalam pemilu, bahkan sederet pemilu, tetapi terjadi keterputusan
hubungan antara mereka yang dipilih dalam pemilu dan mereka yang memilih ketika
ritual pemilu selesai dan yang dipilih telah masuk dalam mesin governing process atau
lebih tepatnya proses-proses legislasi (Edi, 2009). Lemahnya inklusi menyebabkan
demokrasi terjebak dalam pengertian-pengertian prosedural, sebagaimana Schumpeter
ketika menggarisbawahi makna demokrasi (Gaffar, 1999), tetapi lemah sebagai nilai
dan ruh dalam praktik menjalankan tata kelola pemerintahan sehari-hari (governance,
governing process).
Problem ini secara baik direfleksikan oleh Michel Pimbert dan Tom Wakeford
(2001) ketika mengkritisi praktik demokrasi keterwakilan. Menurut Pimbert dan
Wakeford (2001: 23), demokrasi keterwakilan yang menekankan peran dan fungsi wakil
rakyat sebagai penyambung lidah rakyat, masih tidak cukup mewadari suara (voice)
masyarakat. Seringkali, di negara-negara yang telah mempraktikkan demokrasi
keterwakilan, inisiatif untuk menciptakan ruang baru muncul untuk memastikan bahwa
masyarakat dapat memberikan pengaruh secara langsung dan signifikan terhadap proses
pembuatan keputusan (pp. 23). Tentu ini tidak untuk meremehkan pentingnya prosedur
atau ritual demokrasi, sebagaimana terwadahi dalam konsep demokrasi keterwakilan.
Tetapi, menjadi jelas bahwa demokrasi keterwakilan, dengan demikian diperlukan
sekadar sebagai mekanisme perekrutan para penentu dalam policy making. Tetapi,
dalam praktik-praktik pemerintahan sehari-hari perspektif, voice, dan aspirasi
masyarakat tetap memerlukan ruang untuk diakomodasi.
Dalam konteks inilah, konsep partisipasi, inklusi, engagement, dan deliberasi
muncul. Sederet konsep ini merujuk pada terlibatnya masyarakat dalam praktik-praktik
pemerintahan sehari-hari di dalam policy making atau decision making. Masyarakat
hadir, memberi warna, sekaligus turut menentukan policy atau decision yang seperti apa
yang sekiranya dapat menjawab kebutuhan mereka. Masyarakat juga secara aktif
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
sebagai players. Masyarakat juga melakukan assessment terhadap berjalannya sebuah
kebijakan dalam proses-proses monitoring dan evaluasi.
Dalam governing process masyarakat tidak sekedar hadir sebagai pemilih dalam
pemilu (voters) tetapi juga sebagai warga negara (citizen) yang berhak memperoleh
pelayanan (service recipients). Oleh karena itu, kehadiran sekaligus keterlibatan
masyarakat tidak berhenti sebatas pada memilih mereka yang tercakup dalam policy
makers, baik dalam lingkaran eksekutif maupun legislatif, sebagaimana dalam
praktik-praktik pemilu di Indonesia. Masyarakat bukan sekedar obyek politik, tetapi juga
players.
Tidak juga sekedar hanya dilibatkan dalam planning, yaitu menelurkan dan
mengaspirasikan ide-ide mengenai apa saja yang mesti direspon oleh kebijakan
sekaligus bagaimana seharusnya sebuah kebijakan, sebagaimana musrenbang
(Musyawarah Perencanaan Pembangunan). Tetapi secara menyeluruh masyarakat
terlibat dalam praktik pengelolaan pemerintahan dan kebijakan publik sehari-hari.
Governance yang menekankan sinergi antar aktor, baik aktor politik, sosial, dan
ekonomi, jelas sekali mempersyaratkan keterlibatan (inklusi) bagi efektivitas interelasi
antar aktor dalam upaya pemenuhan hak dasar warga negara. Bahkan jika kita merujuk
pada Dryzek (2000a), ketika menjelaskan deliberative democracy, keterlibatan warga
negara dalam praktik-praktik governance pada dasarnya tidak sekedar penting bagi
proses pembuatan kebijakan, tetapi, secara substantif penting bagi pembelajaran sosial
dan politik dalam rangka mendukung perubahan kebijakan bagi kesejahteraan bersama.
Dalam era desentralisasi, dimana penyediaan layanan publik semakin dekat
kepada warga negara (Mawardi, 2002 dan Toyamah, 2002), inklusi menjadi syarat yang
tidak terhindarkan dan memperkuat pencapaian tata pemerintahan yang baik (good
governance). Tetapi, kenyataannya, desentralisasi belum sepenuhnya mampu
mendukung good governance sehingga belum membawa kemudahan yang lebih berarti
bagi pelayanan publik. Catatan the World Bank (2009), misalnya, menyebutkan bahwa
ketidak-sinkronan visi dan prioritasi berbagai bidang menyebabkan desentralisasi
seperti kehilangan arah. Desentralisasi berjalan tanpa roadmap. Di pusat, terdapat
tumpang tindih antar kementerian dalam hal pelaksanaan wewenang, dan terlebih jika
dikaitkan dengan kebijakan desentralisasi. Beberapa kementerian terlihat masih belum
mendukung berjalannya desentralisasi, sementara beberapa yang lain kehilangan arah
dalam mendesentralisasikan kebijakan. Kerumitan di pusat ini kemudian menurun
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
bahkan termasuk kecenderungan munculnya ego-ego sektoral. Koordinasi antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat kurang. Batas otoritas pusat dan daerah
kabur, ditambah dengan inkonsistensi dalam pelaksanaan kebijakan di tingkat nasional,
peraturan yang berubah-ubah, serta instruksi yang saling bertabrakan menyebabkan
kebingungan di daerah.
Dalam hal pelayanan publik, wewenang yang mestinya didesentralisasikan
tereduksi oleh berbagai aturan dari pusat, ditambah dengan petunjuk teknis pelaksanaan
yang terlalu, tetapi tanpa disertai dengan pertimbangan kekhasan daerah yang
berbeda-beda, menyebabkan kegagalan pelayanan publik menjawab problem dan isu masyarakat
sesuai konteks masing-masing. Kerumitan ini justru mengesankan kebijakan pusat yang
belum sepenuhnya percaya pada kemampuan pengelolaan daerah, sekaligus tidak
sensitif pada partikularitas daerah. Area dimana pemerintah daerah mestinya memiliki
otoritas yang determining menjadi sekedar sebatas pelaksana. Pemerintah daerah tidak
lebih sebagai service provider daripada the real policy makers di hadapan pemerintah
pusat. Di sisi lain, daerah tidak berani berimprovisasi sehingga inovasi menjadi lemah.
Sebaliknya, daerah juga terkadang terlalu sering membuat berbagai peraturan yang
justru bertentangan (kontraproduktif) dengan peraturan nasional sehingga menumpuk
dan memperumit masalah.
Kerumitan di ranah pemerintah ini berimplikasi secara serius salah satunya pada
kebuntuan-kebuntuan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Respon terhadap
tuntutan dan aspirasi ala kadarnya, bahkan seringnya tidak digubris. Ketidakpuasan
masyarakat sering dijawab dengan alasan peraturan dari atas berbunyi seperti ini,
seolah-olah tidak bisa diutak-atik, pemerintah daerah hanya menjalankan, dan akhirnya
masyarakat juga harus menerima apa adanya. Protes masyarakat diremehkan dan
didengar sambil lalu saja. Inklusi pun menjadi lemah.
Kota Surakarta dipilih sebagai obyek studi untuk membidik fokus kajian
mengingat setidaknya dua hal. Pertama, Kota Solo dikenal memiliki karakter asosiasi
sosial yang kuat berupa tradisi paguyuban yang mengakar di masyarakat (sebagaimana
hasil penelitian LSM KOMPIP, Surakarta). Di Solo terdapat berbagai paguyuban yang
menggambarkan interest dari masyarakat, seperti paguyuban pedagang pasar, tukang
becak, dan sebagainya. Paguyuban ini bukan sekedar wadah profesi tetapi juga wadah
berdemokrasi, deliberasi, dan penyalur aspirasi di pembuatan kebijakan. Paguyuban
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
Kedua, Kota Solo dikenal sebagai kota yang memiliki akar civil society yang
kuat, dimana eksistensi LSM masif dan intensif dalam advokasi kebijakan. Pattiro dan
Kompip, misalnya, adalah sedikit dari berbagai NGO yang aktif dalam advokasi
pelayanan publik di Surakarta (sebagaimana hasil penelitian Alfirdaus dan von Luebke,
2010). Akar civil society disebut kuat bukan sekedar karena jumlah mereka banyak,
tetapi secara kualitas keberadaan mereka juga diperhitungkan dalam interaksi
governmental sehari-hari. NGO dan asosiasi masyarakat di Kota Solo sedikit banyak
telah menjadi bagian dari governing process dan praktik-praktik governance
(sebagaimana temuan Alfirdaus dan von Luebke, dalam wawancara dengan aktivis
LSM Kompip, Surakarta, 2010).
B. RUMUSAN MASALAH
Penelitian tentang “citizen inclusion dalam praktik governance sehari-hari ini”
membidik fokus pada “sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam governing process?”,
yang secara spesifik merujuk pada proses-proses policy making di daerah, yang
mencakup penyediaan layanan publik, program pemberdayaan masyarakat, pengelolaan
konflik, penanganan protes dan tuntutan, dan sebagainya. Masyarakat dalam pengertian
ini adalah masyarakat sipil dan masyarakat ekonomi di luar pemerintah (government).
Lebih jauh, implikasi dari pertanyaan penelitian di atas adalah pada perlunya
penggalian data tentang penjelas keterlibatan masyarakat, menjawab secara kritis
pertanyaan “mengapa”. Cakupan data penjelas itu antara lain adalah constraning factors
maupun driving factors baik di dalam pemerintah maupun di dalam masyarakat,
termasuk di dalam peran-peran yang dimainkan oleh NGO dalam advokasi kebijakan.
Di dalam pemerintah, akan dilihat aspek willingness dan kompabilitas sistem yang
disiapkan dalam institusi pemerintahan bagi keterlibatan warga. Di dalam warga negara
sendiri akan dilihat sejauhmana pengetahuan dan kesadaran warga, serta aspek-aspek
teknis yang mendukung maupun menghambat. Secara tidak langsung, analisis dalam
penelitian akan menekankan kaitan antara constraining dan driving factors ini dengan
karakter sosial budaya dan antropologi masyarakat di kedua kota untuk memastikan
kontekstualitas data.
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan fokus penelitian di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
a. Tujuan Teoritis
1) Untuk melihat kedalaman keterlibatan warga negara (Citizen inclusion) di
daerah yang pola-pola struktur sosialnya hampir sama tetapi sedikit berbeda
dalam karakter politiknya.
2) Untuk memetakan berbagai penjelas kedalaman keterlibatan tersebut, baik
dari aktor pemerintah maupun non-pemerintah (citizen).
b. Tujuan Praktis
1) Penelitian ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang praktek
partisipasi masyarakat dalam pengembangan potensi lokal.
2) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah
maupun masyarakat tentang partisipasi masyarakat lokal dalam rangka
mewujudkan good governance.
D. KONTRIBUSI PENELITIAN
Meski sangat kental nuansa akademiknya, terlacak dalam perdebatan-perdebatan
wacana tentang governance dan kebijakan publik, penelitian dapat dikategorikan
sebagai evaluation research, yaitu penelitian yang ditujukan untuk menelaah kegagalan
maupun kesuksesan sebuah kebijakan, kemudian memetakan sebab-sebab penjelas
kesuksesan dan kegagalan tersebut. Oleh karena itu, secara praktis, penelitian ini juga
berkontribusi sebagai policy learning yang bermanfaat tidak saja bagi kedua daerah
obyek penelitian, tetapi juga daerah lain dalam hal pelibatan warga negara dan
pengelolaan pemerintahan (governing process).
E. TINJAUAN PUSTAKA
E. 1. Keterlibatan Warga: Menggeser Pendulum Negara ke Masyarakat
Pimbert dan Wakeford (2001) mengidentifikasi inclusion sebagai sebuah
tindakan untuk melibatkan orang lain. Dalam konteks proses pembuatan keputusan,
yang disebut sebagai inclusionary decision-making process adalah yang didasarkan
pada keterlibatan aktif aktor-aktor sosial, dengan memberikan tekanan yagn kuat pada
keterlibatan warga negara yang sebelumnya dan biasanya dipinggirkan (excluded
citizens). Dari pengertian inclusion Pimbert dan Wakeford, dapat disimpulkan bahwa
dorongan pelibatan warga negara dalam pengambilan keputusan jelas sekali berasal dari
berbagai problem ketersumbatan saluran-saluran aspirasi. Inclusion dengan demikian
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
Sementara itu, Witcher (2003), mengkontraskan istilah inclusion dengan
exclusion. Dalam pandangan Witcher, kondisi miskin dan termiskinkan warga negara
salah satunya dapat dijelaskan dengan konsep social exclusion. Konsep ini merujuk
pada ketidakmampuan warga negara untuk mengakses berbagai fasilitas dan
sumberdaya yang dapat dijadikan sebagai kapital dalam memberdayakan potensi
mereka. Konsep inclusion diperkenalkan dengan memberikan tekanan pada pembukaan
ruang-ruang sosial sehingga warga negara miskin bisa dengan leluasa masuk dan
bertransaksi didalamnya. Hanya saja, sebagaimana Witcher transaksi itu tidak mesti
dilakukan dengan currency yang berupa uang. Dalam relasi sosial, human atau social
capital dapat juga menjadi modal dalam bertransaksi secara sosial.
Logika yang dibangun Witcher dapat juga kita gunakan untuk menjelaskan
inclusion maupun exclusion dalam konteks politik. Dalam interaksi yang bernama governance transaksi terjadi antar elit politik, antar konstituen dengan pendukungnya,
antar anggota legislatif dengan para pemilihnya, antara pengusaha dengan policy
makers, dan sebagainya. Currency yang dimiliki antar aktor bisa berupa investasi
ekonomi sebagaimana yang dimiliki masyarakat ekonomi, mandat pemilih sebagaimana
yang dimiliki oleh masyarakat politik, juga hak politik warga negara sebagaimana yang
dimiliki oleh masyarakat sipil (Dyson, Cummings, dan Millward, 2003: 49). Akan
tetapi, sebagaimana Witcher, meskipun tiap manusia secara jelas telah memiliki
currency, seringkali mereka terhalang ataupun juga dihalangi untuk turut terlibat dalam
transaksi tersebut. Ketidakterlibatan tiap elemen masyarakat itulah yang disebut sebagai
exclusion.
Dalam ranah politik, halangan untuk turut serta dalam aktivitas-aktivitas
transaksional policy making bisa terbagi dalam setidaknya empat hal. Pertama, fasilitas
infrastruktur yang memang tidak tersedia, seperti sarana transportasi dan komunikasi,
sebagaimana sering dialami oleh masyarakat di daerah-daerah terpencil. Kedua, terkait
dengan relasi kekuasaan, dimana terdapat pihak-pihak yang enggan membagi ruang
transaksinya dengan warga negara (Witcher: 2003: 1). Ketiga, masyarakat yang
memang belum mengerti makna inklusi. Keempat, policy makers yang memang tidak
siap dengan piranti-piranti inklusif (The World Bank: 2009).
Terkait exclusion, ada yang bersifat aktif, ada juga yang bersifat pasif.
Sebagaimana Sen (2000), eksklusi aktif merujuk pada warga negara yang secara sengaja
membatasi keterlibatannya dalam interaksi sosial dan politik, dengan alasan apapun.
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
dihalangi oleh pihak lain untuk turut serta dalam bertransaksi. Eksklusi itu pulalah, yang
jika dalam analisis sosial ekonomi disebut sebagai salah satu penjelas kemiskinan
masyarakat, dalam ranah politik yang menyebabkan keterpinggiran politik warga,
membawa mereka pada kemiskinan politik, miskin akses terhadap pembuatan
keputusan, suara yang tidak pernah didengar, dan aspirasi yang diabaikan.
Akan tetapi, karena inklusi dalam ranah politik adalah perihal hak yang sangat
mendasar, desakan untuk membuka inklusi warga pun menjadi semakin tidak
terhindarkan, terlebih lagi ketika sebagian besar negara di dunia ini memutuskan untuk
mengadopsi demokrasi sebagai sistem maupun semangat untuk menjalankan kehidupan
politik dan pemerintahan mereka.
Dalam ranah politik, inklusi tidak sekedar hadir, misal dalam pemilu ataupun
musyarawarah-musyawarah pengambilan keputusan. Tetapi, inklusi juga berarti terlibat
untuk memberikan ide-ide dan mengajukan perspektif sehingga dapat memperdalam
substansi maupun metode atau desain sebuah kebijakan. Kebutuhan melibatkan warga
dalam praktik governance sehari-sehari menjadi penting karena di sanalah justru
kebutuhan riil masyarakat memerlukan respon kebijakan publik. Dengan demikian
inklusi lebih dari sekedar partisipasi yang umumnya diukur secara kuantitatif dalam
bentuk kehadiran.
Citizen inclusion menjadi tawaran untuk menyudahi dominasi negara ketika
dominasi itu tidak lagi mampu menjawab persoalan dan kebutuhan warga negara.
Sebelumnya, perspektif state-centric menempatkan negara sebagai jawaban bagi
permasalahan warga negara, dan negara mengemban amanah warganya.1Permasalahan
masyarakat diidentifikasi oleh pemerintah dan diselesaikan melalui otoritas penuh
pemerintah. Tetapi, ketika praktik memerintah oleh negara pada kenyataannya lebih
sering diwarnai oleh represi, otoritarianisme, dan rente birokrasi, kepercayaan
penyerahan mandat secara bulat itu mulai luntur. Di samping itu, terlalu banyak segmen
masyarakat yang marjinal yang tidak terakomodasi dalam kebijakan pemerintah2,
sehingga menjadi terlalu musykil jika upaya penyelesaian masalah sepenuhnya
bertumpu pada pundak pemerintah.
Oleh karena itu, perspektif state-centric ini digeser kepada perspektif
society-centric, dimana policy making dan governing process bertumpu pada masyarakat. State
1
Hal ini dijelaskan oleh Sutoro Eko, dalam “Pembangunan Politik, Pemberdayaan Politik, dan Politik Transformasi”, disadur dari www.ireyogya,or.id, pada tanggal 1 Maret 2010.
2
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
yang direpresentasikan oleh pemerintah hanya berfungsi sebagai fasilitator dan
penyedia layanan, dan inklusi adalah mekanisme untuk meletakkan tumpuan governing
process itu pada masyarakat. Partisipasi, dengan demikian menjadi basis bagi
bekerjanya governance menggantikan perspektif pembangunan yang terpusat pada
negara (Takeshi, 2006: 138). Dalam konteks transformasi politik negara-negara
berkembang, inklusi warga negara ini menguat seiring dengan tumbangnya rezim
otoritarian, yang merupakan penanda paradigma state-centric, mengisi proses reformasi
politik dan demokratisasi (Rosser, Roesad, dan Edwin: 2004: 1).
E.2. Bentuk-bentuk Citizen Inclusion dalam Deliberative Governing Process
Wakeford (2001: 29-31) melalui surveinya mencatat berbagai bentuk
keterlibatan warga negara dalam governing process, antara lain:
a. Focus Groups
Focus groups adalah diskusi yang dipimpin oleh seorang moderator, dimana
berbagai pandangan masyarakat yang disampaikan dalam forum diskusi
tersebut dianalisa oleh sebuah badan komisi. Tetapi, bentuk diskusi dalam
focus groups mencakup sejumlah kecil warga negara yang diperbolehkan
untuk mengekspresikan dan mengeksplorasi pandangan mereka.
Interest adalah kata kunci dalam Focus Groups sehingga penguasaan terhadap
masalah tertentu menjadi penting untuk menentukan dibolehkan/tidaknya
anggota masyarakat untuk bergabung dalam diskusi kecil ini. Meski dapat
secara cepat menjaring perspektif masyarakat, tetapi Focus Groups dinilai
terlalu membatasi kemungkinan variasi perspektif yang mungkin muncul.
b. Deliberative Focus Groups
Deliebrative Focus Groups hampir sama dengan Focus Gorup, hanya saja, ia
memungkinkan menjaring informasi tertulis dan non-tertulis selama proses
diskusi berlangsung maupun sebelum diskusi dilaksanakan. Tetapi, potensi
informasi yang bias menjadi kritik bagi metode ini.
c. Consensus Conference/Panel
Di sini, warga diperkenankan mendengarkan berbagai data dan informasi
yang telah diseleksi relevansinya sebelumnya, lalu menyimpulkannya
berdasarkan konsensus. Data dan informasi ini berasal dari stakeholders
terkait dengan kebijakan yang bersentuhan dengan kepentingan warga.
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
capaian yang diharapkan adalah berupa konsensus atas rekomendasi
kebijakan, agenda pemerintah dan tenggat waktu pelaksanaan.
d. Citizens’ Jury/Panel
Hampir sama dengan Focus Groups, tetapi metode ini dipakai untuk menilai
sebuah kebijakan. Jury diambil secara random dari masyarakat.
e. Scenario Workshop/Citizen Foresight
Fokus pada berbagai pilihan dan skenario bagi pembangunan kebijakan.isu
yang didiskusikan dikerangkai oleh warga, sehingga merupakan proses
perencanaan yang partisipatoris.
E.3. Desentralisasi dan Good Governance
Bekerjanya mesin governance mensyaratkan negara atau pemerintah yang
secara geografis dan politis dekat dengan warga negaranya. Dekat secara geografis
dalam arti warga tidak memiliki hambatan yang berarti untuk menjangkau pemerintah
terkait dengan jarak dan fasilitas infrastruktur. Dekat secara politis dalam arti
pemerintah cukup tanggap terhadap kebutuhan dan permasalahan ditunjukkan melalui
respon yang cepat dalam kebijakan publik. Sistem politik dengan demikian bekerja
secara baik mengolah input dari warga negara, baik berupa aspirasi, tuntutan, atau
protes.
Terkait dengan ini, desentralisasi menjadi salah satu pilihan rasional bagi upaya
pendekatan negara kepada masyarakatnya. Bukan saja desentralisasi bertujuan untuk
membagi kewenangan dan kekuasaan pusat kepada daerah, tetapi desentralisasi juga
untuk mempermudah pendistribusian pelayanan publik kepada masyarakat serta
mendukung penjaringan aspirasi masyarakat dalam hal penyediaan pelayanan publik
dan pembuatan keputusan. Sebagaimana Mawardi, dkk (2002: 1), secara teoritis
desentralisasi dan otonomi daerah dapat mendekatkan pelayanan publik melalui
pemotongan jalur birokrasi pelayanan, sehingga masyarakat tidak perlu melalui
prosedur yang rumit untuk mengakses pelayanan. Desentralisasi dengan demikian
mestinya mendukung engagement (rasa keterikatan) antara pemerintah dan pihak-pihak
di luar pemerintah melalui interaksi yang semakin dekat dan intensif. Kedekatan negara
dengan masyarakatnya ini tidak hanya menguntungkan masyarakat dalam hal
pelayanan, tetapi juga mempermudah negara dalam mengidentifikasi problem
masyarakat untuk dicerna dalam agenda setting dan proses-proses kebijakan yang lain.
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
karena kedekatan jarak geografis dan politis menghemat waktu dan energi yang
diperlukan untuk mengelola problem dan merespon kebutuhan warga.
Terkait hubungan desentralisasi dan good governance, Takeshi (2006: 138)
dengan jelas menegaskan bahwasannya desentralisasi dapat mendorong pemerintahan
yang akuntabel, transparan dan responsif. Kedekatan dengan para waraga negara yang
juga adalah klien pemerintah dalam kerangka desentralisasi itulah yang menjadi pemicu
bagi pemerintah daerah untuk lebih tanggap terhadap problem di daerahnya. Di sini
letak krusialnya desentralisasi bagi penguatan good governance di aras lokal. Apalagi,
akuntabilitas, transparansi, dan responsivitas pemerintah tidak sekedar menjadi
tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga tidak dapat dilepaskan dari
penyelenggaraan pemerintahan di daerah (138). Dan untuk kepentingan ini, sangat tidak
mungkin pemerintah bekerja sendiri. Ia harus melibatkan masyarakat. Takeshi (2006:
138) menambahkan, dalam hal ini partisipasi masyarakat menjadi prasyarat efektifnya
kinerja governance karena mendorong keterlibatan yang lebih luas, memungkinkan
preferensi kebijakan yang lebih kaya, sehingga meningkatkan akuntabilitas,
transparansi, dan responsivitas pemerintah, baik di tingkat nasional maupun
sub-nasional.
E.4. Penguatan Governance di Daerah: Pemberdayaan Pemerintah dan Warga
Desentralisasi menggeser hampir sebagian besar urusan yang sebelumnya secara
dominan ditangani oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Urusan paling
banyak yang didesentralisasikan adalah urusan pelayanan publik. Catatan The World
Bank (2009) menyebutkan, sejak kebijakan desentralisasi diterapkan, setidaknya
pemerintah daerah dibebani tanggung jawab atas sepertiga belanja negara dan setengah
dari anggaran pembangunan. Di samping itu, pengeluaran dalam bidang pendidikan,
kesehatan dan penyediaan infrastruktur juga merupakan tanggung jawab pemerintah
daerah. Bahkan tiga perempat dari pegawai negeri bekerja untuk pemerintah daerah.
Dengan demikian, fungsi pemeRrintahan dapat dikatakan sebagian besar tergantung
pada bagaimana pemerintahan di daerah dilaksanakan.
Oleh karena itu, langkah krusial dalam rangka mengefektifkan fungsi
desentralisasi sebagai bagian dari upaya penguatan governance di daerah adalah
mereformasi pelayanan publik. Jika tidak, sebagaimana The World Bank (2009), maka
berbagai penyediaan layanan publik, seperti kesehatan dan pendidikan, akan mengalami
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
bahkan stabilitas makroekonomi dapat terancam. The World Bank menunjuk contoh
pengalaman di Filipina dan Kolumbia untuk memperlihatkan bagaimana lemahnya
kerangka desentralisasi yang dibangun dapat menyebabkan penurunan dalam
penyediaan layanan publik. Berbagai permasalahan makroekonomi di Argentina dan
Brasil, sebagian besar juga dapat dikaitkan dengan buruknya pelaksanaan desentralisasi.
Dalam rangka mereformasi pelayanan publik di aerah itu setidaknya terdapat
dua langkah fundamental. Pertama, memberdayakan pemerintah daerah. Kedua
memberdayakan warga negara. Pemberdayaan dua aras ini krusial karena pola dan
bentuk interaksi keduanya mempengaruhi kualitas bekerjanya governing process dalam
praktik-praktik governance sehari-hari.
Pemberdayaan Pemerintah Daerah
Citizen inclusion sangat dipengaruhi oleh dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Pertama, willingness pemerintah. Hal ini terkait dengan keterbukaan pemerintah
terhadap partisipasi warga dalam praktik-praktik pemerintahan sehari-hari. Kedua,
sistem yang dipersiapkan dalam institusi pemerintahan agar secara kompatibel memiliki
kemampuan mewadahi dan merespon keterlibatan warga. Sistem ini terkait dengan
regulasi, resources, alokasi dana, dan fasilitas yang tersedia guna mendukung citizen
inclusion.
Dalam konteks tertentu, terkadang terdapat willingness pemerintah, dan sistem
yang dipersiapkan cukup kompatibel, tetapi warga belum maksimal memanfaatkan
ruang-ruang inklusi. Hal ini bisa saja terjadi karena misal kesadaran warga yang masih
rendah atau ada problem trust atau legitimasi terhadap pemerintah sehingga rakyat
apatis. Bisa juga pemerintah memang tidak memiliki willingness, karena tertutup, dan
melihat keterlibatan warga kontraproduktif bagi berjalannya pemerintahan, serta sama
sekali belum mempersiapkan sistem yang kompatibel untuk inklusi warga. Warga
ditempatkan secara vis a vis negara. Dalam hal lain, mungkin saja pemerintah telah
mempunyai willingness tetapi sistem belum cukup siap, atau pada dasarnya pemerintah
memiliki kemampuan untuk mempersiapkan sistem yang kompatibel bagi citizen
inclusion tetapi memang tidak ingin warga terlibat.
Tetapi, willingness dan kesiapan sistem ini juga tergantung pada banyak hal.
Lemahnya desain desentralisasi jelas akan mempengaruhi kesediaan dan kesiapan
pemerintah untuk terbuka terhadap warganya. Dalam hal ini, pemberdayaan pemerintah
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
World Bank (2009) menekankan setidaknya ada lima tindakan yang diperlukan.
Tindakan tersebut antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut.
Satu, menyusun roadmap. Tindakan menyusun roadmap tidak lain ditujukan
untuk menyusun rencana yang jelas dan menyeluruh mengenai prioritasi agenda
desentralisasi. Penyusunan roadmap akan memberikan kejelasan dan membantu tahap
pelaksanaan, guna menemukan keseimbangan antara kepentingan nasional dan
kepentingan daerah, serta menyeimbangkan kebutuhan akan efisiensi dan pemerataan.
Penyusunan roadmap jelas bukan wilayah eksklusif pemerintah. Melainkan, mesti
didasarkan pada konsultasi antara pemerintah daerah, DPD, masyarakat sipil dan pihak
terkait lainnya.
Kedua, menunjuk pihak yang bertanggungjawab. Agar desentralisasi dapat
secara efektif mendukung bekerjanya governance di daerah, koordinasi antar
pemerintah pusat dan daerah, serta antar pemerintah dan masyarakat mesti diperkuat.
Pengalaman tumpang tindihnya kewenangan serta saling lempar tanggung jawab ketika
terjadi permasalahan, mengindikasikan betapa lemahnya koordinasi antar sektor dan
instansi didalam lembaga pemerintah.
Di pusat, beberapa kementerian masih belum dapat mengakomodasi proses
desentralisasi, sementara kementerian lain seakan-akan kehilangan arah, dan sebagian
lain bahkan memperlihatkan tendensi tidak mendukung berjalannya desentralisasi. Hal
ini menyebabkan inkonsistensi dalam pelaksanaan kebijakan di tingkat nasional serta
munculnya kebingungan di tingkat daerah. Oleh karena itu, formulasi kebijakan
desentralisasi harus dapat memperjelas batas tanggung jawab antar pihak, dan jika
memang sebuah isu mesti ditangani secara koordinatif, koordinasi itu mesti diperjelas
ruang kerjanya.
Ketiga, memperjelas kewenangan, yaitu menegaskan tugas dan kewenangan
sektoral yang menjadi bagian dari otoritas daerah. Pengalaman kebijakan desentralisasi
selama ini, UU No. 22 tahun 2004 memang sudah menegaskan kewenangan sektoral
dan otoritas daerah, termasuk fungsi-fungsi daerah tingkat dua. Tetapi penjelasan UU
kurang terperinci sehingga menimbulkan keruwetan koordinasi, yang berimplikasi pada
permasalahan perencanaan dan pembiayaan.
Problem ini tentu dapat mempengaruhi kualitas pelayanan publik, serta upaya
pencapaian perbaikan indikator sosial, seperti kesehatan anak, prestasi pendidikan
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
perempuan, penataan pedagang, dan sebagainya. Hal ini memperjelas kepada kita
kebutuhan membuat garis wewenang yang lebih detil.
Tekanan pembuatan standar pelayanan minimum sebagaimana diamanatkan UU
No. 22 tahun 2004 memang dapat membantu masyarakat memperoleh informasi tentang
apa saja yang dapat mereka harapkan dari pemerintah mereka. Tetapi, hal ini tentu
mempersyaratkan persiapan sumber daya manusia dan keuangan yang cukup kepada
pemerintah daerah.
Keempat, penyaluran dana secara lebih merata. Basis kekayaan sumberdaya
alam dan kontribusi pada pendapatan negara yang selama ini digunakan sebagai dasar
menentukan dana penyelenggaraan pemerintahan di daerah memperlebar jarak
ketimpangan antara daerah kaya dan daerah miskin. Akibatnya, masyarakat miskin di
daerah miskin semakin jauh dari akses pelayanan publik yang layak. Pemerataan
penyaluran dana ini misalnya dapat dilakukan dengan memperbaiki penentuan besar
DAU (Dana Alokasi Umum). 3 Kedua, dengan meningkatkan pemberian DAK (Dana
Alokasi Khusus). DAK mestinya dapat menopang kebutuhan penyelenggaraan
pemerintahan dan penyediaan pelayanan yang tidak tercukupi oleh DAU. Melalui DAK,
daerah-daerah miskin diharapkan tetap dapat memberikan pelayanan publik.
Kelima, meningkatkan akuntabilitas lokal. Akuntabilitas pemerintah daerah
mesti kuat pada dua aras: terhadap pemerintah pusat dan terhadap masyarakat sebagai
klien. Akuntabilitas mempersyaratkan informasi dan sistem informasi yang memadai,
sistem pengawasan dan evaluasi yang baik, tersedianya basis pajak lokal yang lebih
besar.
Pemberdayaan Warga Negara untuk Mendorong Inklusi
Sementara itu, pemberdayaan warga dilakukan dengan memperluas inklusi
dalam ruang-ruang kebijakan, sejak dari perencanaan, implementasi, sampai evaluasi.
Sejauh ini, skema yang disediakan bagi pelibatan warga adalah Musrenbang.
Sayangnya, belum lagi kritik terhadap efektivitas Musrenbang terjawab, absennya ruang
keterlibatan warga dalam implementasi dan evaluasi juga menjadi masalah tersendiri.
Konsep citizen’s juries sebagai bagian dari mekanisme evalusai kebijakan masih belum
dapat dilakukan. Pemberdayaan warga memerlukan ruang deliberasi yang lebih. Upaya
3
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
pelibatan warga dalam budgeting policy juga masih absen, sebagaimana temuan Sunaji
dan Anwar ketika melakukan advokasi “Participatory Budgeting and Expenditure
Tracking” (2008).
Pemberdayaan terhadap warga dalam proses-proses deliberatif adalah untuk
tujuan sebagai berikut. Pertama, menumbuhkan kesadaran bahwa mereka adalah bagian
penting dalam policy making. Kedua, untuk menginformasikan saluran-saluran apa yang
dapat mereka masuki untuk mempengaruhi kebijakan dan memperbaiki penyediaan
pelayanan. Ketiga, untuk memberikan preferensi kepada policy makers terkait dengan
opsi-opsi dan prioritas untuk direspon dalam kebijakan dan pelayanan publik. Keempat,
untuk memastikan bahwa penyediaan pelayanan telah memenuhi standar kepuasan
warga, diselenggarakan secara akuntabel, transparan, dan berpihak pada kaum yang
lemah. Pemberdayaan warga untuk memperkuat inklusi juga untuk memastikan bahwa
negara responsif terhadap kebutuhan warga yang memerlukan perhatian spesifik, seperti
kaum cacat, petani miskin, perempuan, dan sebagainya (Suharto, 2008: 1-8).
Dalam konteks pemberdayaan warga, peran NGO jelas tidak dapat
dikesampingkan. NGO menjadi lembaga intermediari antara warga dan negara,
sekaligus sebagai advokat kepentingan komunitas yang didampinginya. Miller mereujuk
pada Covey (dalam Covey dan Miller, 2005: 380) menekankan peran penting NGO
dalam kebijakan antara lain: mendidik warga dalam mengidentifikasi isu-isu sipil;
mendidik warga tentang cara-cara mengakses sistem; membangun basis kelembagaan
masyarakat sipil yang kuat; dan menyajikan mekanisme-mekanisme untuk partisipasi
dan perubahan kebijakan.
Mempertimbangkan berbagai faktor di atas, citizen inclusion dapat dipetakan
menjadi tiga, yaitu:
1. Inclusion yang diinisiasi pemerintah, dimana ruang pelibatan ini disebut juga
invited space, sebagaimana Gaventa (2006: 26)
2. Inclusion atas inisiatif masyarakat.
3. Inclusion yang didorong oleh LSM.
F. Definisi Konsep
Penelitian ini memanfaatkan dua konsep kunci, yaitu citizen inclusion dan
praktik-praktik governance sehari-hari yang terdiri dari dari policy making, pelanan
masyarakat sipil, pemberdayaan, dan sebagainya. Fokus utama studi ini adalah untuk
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
governance sehari-hari. Inclusion dalam konteks ini adalah keterlibatan masyarakat
dalam proses-proses kebijakan, yang meliputi agenda setting, formulasi, implementasi,
dan evaluasi.
G. METODE PENELITIAN
G.1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yang
didefinisikan sebagai "metodologi kualitatif' merupakan prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan
perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2000: 3). Pandangan
dari Kirk dan Miller (Moleong, 2000: 3) bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi
tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada
pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan
orang-orang tersebut dalam bahasanya/pengistilahannya.
G.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif, yakni mempelajari
masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat
serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan, sikap-sikap,
pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan
pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Demikian pula yang dinyatakan (Neuman 2000:
21-23) bahwa penelitian deskriptif itu berupaya menampilkan gambaran situasi, seting
sosial, atau hubungan yang lebih rinci.
G.3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Surakarta.
G. 4. Teknik Pemilihan Sumber Informasi
Sumber informasi untuk diwawancara dipilih berdasarkan kompetensi dan
relevansinya. Pertama, sumber wawancara berasal dari pemerintah, yaitu mereka yang
termasuk dalam lingkaran policy makers. Kedua, warga negara, khususnya yang
termasuk dalam asosiasi sosial, mempertimbangkan representasi interes warga. Ketiga,
NGO yang aktif dalam pendampingan inklusi warga negara. Sumber informasi
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
arsip pemerintah, maupun berita-berita media. Sember informasi observatif berasal dari
perilaku warga berinklusi, perilaku pemerintah ketika merespon inklusi warga, serta
aktivitas NGO dalam pendampingan inklusi warga dalam proses kebijakan.
G. 5. Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan para informan
sebagai data primer dan tulisan atau dokumen-dokumen yang mendukung pemyataan
informan sebagaimana Lofland dan Lofland (dalam Moleong 2000: 112). Data
tambahan lain adalah dokumen. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan
dalam penelitian ini adalah:
a. Wawancara terstruktur, yaitu wawancara dengan informan secara individual
dengan tetap mengacu pada panduan wawancara yang disusun secara terbuka.
b. Observasi (pemantauan) yaitu mengamati aktivitas, kejadian, dan interaksi
kehidupan masyarakat, terutama dalam menjalankan kegiatan yang terkait
dengan program partisipasi masyarakat.
c. Kajian Dokumentasi, hal ini merupakan upaya untuk mendapatkan data
sekunder yang berasal dari buku panduan organisasi atau program, laporan
kegiatan, evaluasi program, maupun jenis dokumentasi lainnya.
G.6. Teknik Analisa Data
Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui tahapan
sebagai berikut: (1) Melakukan telaah data, yaitu berupa penyajian hasil data secara
menyeluruh, baik dari hasil wawancara maupun dokumentasi, (2) Reduksi data, (3)
Penyusunan ke dalam satuan-satuan, (4) Kategorisasi, (5) Pemeriksaan keabsahan data,
yaitu upaya menentukan data yang masuk memenuhi syarat penelitian atau belum,
sehingga kalau belum maka dapat disempurnakannya, dan (6) analisa dan penafsiran
data berdasar teori dan konsep yang digunakan.
Dalam penelitian ini data-data tentang partisipasi masyarakat yang telah
didapatkan, baik melalui wawancara atau dokumentasi disajikan secara menyeluruh,
kemudian dipilih data yang diperlukan dan dikelompokkan kepada kelompok infomasi
yang telah disusun. Apabila didapatkan data yang kurang maka dilakukan
penyempurnaan data dengan mencari kembali baik melalui wawncara atau dokumen
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
BAB II
SOSIAL, EKONOMI DAN POLITIK KOTA SURAKARTA
A. Kondisi Geografis
Kota Surakarta Hadiningrat lebih dikenal dengan nama Kota Solo, terletak
antara 110o45'15" - 110o45'35" Bujur Timur dan antara 7°36'00" - 7°56'00" Lintang
Selatan, dengan luas daerah kurang lebih 4.404,0593 Ha. Secara geografis wilayah Kota
Surakarta terletak pada cekungan di antara dua gunung berapi yaitu Lawu di sebelah
timur dan gunung Merapi di sebelah barat sehingga topografisnya relatif rendah dengan
ketinggian 92 m di atas permukaan laut dan berada pada pertemuan sungai Pepe, Jenes
dan Bengawan Solo. Topografi seperti ini membuat Kota Surakarta mempunyai suhu
udara rata-rata 21,9°C - 32,5°C, dengan kelembaban udara 71% dan 135 hari hujan
dengan curah hujan mencapai 2,231mm.
Secara administratif Kota Surakarta memiliki batas-batas sebagai berikut :
sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali,
sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar, sebelah
selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan di sebelah barat berbatasan dengan
Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar. Sedangkan wilayah administrasi Kota
Surakarta terdiri dari 5 wilayah kecamatan, yaitu kecamatan Laweyan, Serengan, Pasar
Kliwon, Jebres dan Banjarsari serta terdiri dari 51 kelurahan yang mencakup 595 RW,
2.669 RT dan 130.440 KK.
Secara administratif, Kota Surakarta mengalami beberapa periode perubahan
sebutan, yaitu :
1. Periode Pemerintahan Daerah Kota Surakarta, dimulai pada tanggal 16 Juni
1946 sampai dengan berlakunya Undang-undang Nomor 16 Tahun 1947 pada
tangal 5 Juni 1947.
2. Periode Pemerintahan Daerah Komite Kota Surakarta, dimulai dengan adanya
Undang-undang Nomor 16 tahun 1947 tanggal 5 Juni 1947 dengan berlakunya
Undang-undang Nomor 22 tahun 1948 tanggal 20 Juli 1948.
3. Periode Pemerintahan Kota Besar Surakarta, dimulai dengan adanya
Undang-undang Nomor 22 tahun 1948 tanggal 20 Juli 19488 sampai dengan berlakunya
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
4. Periode Pemerintahan Daerah Kotapraja Surakarta, dimulai dengan adanya
Undang-undang Nomor 1 tahun 1957 pada tanggal 19 Januari 1957 sampai
dengan berlakunya Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 pada tanggal 1
September 1965.
5. Periode Pemerintahan Kotamadya Surakarta, dimulai dengan berlakunya
Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 pada tanggal 1 September 1965 sampai
dengan berlakunya Undang-undang Nomor 5 tahun 1974.
6. Periode Pemerintahan Kotamadya Dati II Surakarta, dimulai dengan adanya
undang Nomor 5 tahun 1974 sampai dengan berlakunya
Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 pada tanggal 4 Mei 1999.
7. Periode Pemerintahan Kota Surakarta, dimulai dengan berlakunya
Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah sampai dengan sekarang.
Wilayah administratif kota Surakarta tidak luas, hanya 4.404,06 ha, sebagian
besar telah menjadi lahan permukiman/perumahan yaitu seluas 2.731,02 ha dan sisanya
berturut-turut untuk jasa 427,13 ha, ekonomi industri dan perdagangan 388,90 ha, ruang
terbuka 222,98 ha, pertanian (sawah/ladang) 234,59 ha dan lain-lain (prasarana
lingkungan dan fasilitas umum) 399,44 ha.
Kota Surakarta merupakan daerah perkotaan, lahan pertanian semakin lama
semakin menyempit karena beralih fungsi menjadi permukiman, perdagangan maupun
industri, sehingga berdampak pada semakin menurunnya peran dan kontribusi sektor
pertanian dalam mendukung produksi daerah, bahkan untuk kepentingan penyediaan
hasil bumi berupa tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan peternakan. Kota
Surakarta mengandalkan dari daerah sekitarnya. Demikian pula bahan tambang, hampir
tidak ada kecuali air bawah tanah dan bahan galian C ini meskipun relatif kecil.
Posisi Kota Surakarta juga berada pada jalur strategis lalu lintas ekonomi
perdagangan maupun kepariwisataan di antara Yogyakarta – Solo – Semarang (Joglo
Semar) – Surabaya – Bali. Akses ke pelabuhan bebas terdekat adalah pelabuhan
Tanjung Emas Semarang, sedangkan akses ke pelabuhan udara dapat dilayani dua
Bandara Internasional, Adi Sucipto di Yogyakarta dan Adi Sumarmo di Surakarta
sendiri.
B.Sumber Daya Manusia
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
Kualitas pembangunan dan keberlangsungan otonomi daerah sangat ditentukan
oleh faktor sumber daya manusia (SDM) potensial dan dinamis yang mampu mengolah
sumber daya alam dan sumber daya buatan agar lebih berdaya guna dan berhasil guna
yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Berdasarkan hasil
Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2007, jumlah penduduk Kota
Surakarta mencapai 515.372 jiwa dengan rasio jenis kelamin sebesar 91,42, yang
artinya bahwa pada setiap 100 penduduk perempuan terdapat sebanyak 92 penduduk
laki-laki. Tingkat kepadatan penduduk Kota Surakarta pada tahun 2007 mencapai
12.827 jiwa/km2. Tahun 2007 tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di
Kecamatan Serengan yang mencapai angka 19.884, kemudian disusul Kecamatan Pasar
Kliwon dengan angka 18.155, Kecamatan Laweyan 12.667, Kecamatan Jebres 11.390,
dan yang terakhir Kecamatan Banjarsari 10.888. Dengan tingkat kepadatan penduduk
yang tinggi ini akan berdampak pada masalah-masalah sosial seperti perumahan,
kesehatan dan juga tingkat kriminalitas.
Jumlah penduduk yang bekerja di Kota Surakarta pada tahun 2007 mencapai
261.143, atau sebesar 50,67% dari seluruh penduduk Kota Surakarta. Penduduk wanita
yang bekerja mencapai angka sebesar 42,81% dari penduduk yang bekerja. Ini
menunjukkan bahwa peran perempuan di Kota Surakarta cukup tinggi dalam
peningkatan kesejahteraan keluarga. Gambaran lengkap mengenai luas wilayah beserta
kepadatan penduduk di Kota Surakarta dapat dilihat pada tabel II.1 berikut ini.
Tabel II.1
Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Rasio Jenis Kelamin dan Tingkat
Kepadatan Tiap Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2007
KECAMATAN LUAS Pasar Kliwon 4,82 42.896 44.612 87.508 96,15 18.155 Jebres 12,58 70.659 72.630 143.289 97,29 11.390 Banjarsari 14,81 79.809 81.438 161.247 98,00 10.888
Sumber : Monografi Kelurahan Kota Surakarta.
B.2.Pendidikan
Walikota Surakarta beranggapan bahwa sarana dalam meningkatkan sumber
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
ketersediaan fasilitas pendidikan baik sarana dan prasarana akan sangat menunjang
dalam meningkatkan pendidikan. Menurut hasil SUSENAS 2007 ada sebanyak 3,7%
penduduk usia 7-15 tahun yang putus sekolah. Sementara itu, yang belum pernah
sekolah mencapai 0,53% dari jumlah penduduk usia 7-15 tahun.
Tabel II.2
Tingkat Kelulusan Pendidikan Kota Surakarta
Tahun SD SLTP SMU SMK
2007 6.567 11.023 7.774 7.444
2005/2006 10.140 9.347 6.583 6.590
2004/2005 10.394 9.694 2.538 6.574
Sumber: Bappeda Kota Surakarta 2007
Kalau dilihat dari tingkat pendidikan penduduknya, pada tahun 2007 sebanyak
6.567 orang lulus SD. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan kelulusan pada tahun
2004/2005 sebanyak 10.394 orang dan tahun 2005/2006 sebanyak 10.140 orang. Untuk
tingkat SLTP, tahun 2007 sebanyak 11.023 orang lulus. Jumlah ini meningkat dari
tahun 2004/2005 sebanyak 9.694 orang dan tahun 2005/2006 sebanyak 9.347 orang.
Sementara itu untuk tingkat SMA, tahun 2007 sebanyak 7.774 orang lulus. Jumlah yang
juga meningkat dibandingkan tahun 2004/2005 sebanyak 2.538 orang dan tahun
2005/2006 sebanyak 6.583 orang. Untuk tingkat SMK, tahun 2007 sebanyak 7.444
orang lulus. Jumlah yang juga meningkat apabila dibandingakan tahun sebelumnya
yaitu tahun 2004/2005 sebanyak 6.574 orang dan tahun 2005/2006 sebanyak 6.590.
C.Ketenagakerjaan
Jumlah penduduk bekerja di Kota Surakarta pada tahun 2007 mencapai 261.143
atau sebesar 50,67% dari seluruh penduduk kota Surakarta. Penduduk wanita yang
bekerja mencapai angka sebesar 42,81% dari penduduk yang bekerja. Ini menunjukkan
bahwa peran perempuan di Kota Surakarta cukup tinggi dalam peningkatan
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
pekerjaan sebagai buruh industri menjadi tingkat mayoritas mata pencaharian penduduk
di Kota Surakarta sampai saat ini.
Tabel II.3
Banyaknya Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kota Surakarta
TAHUN
Sejak terjadinya krisis ekonomi tahun 1997-1998 kondisi ekonomi Kota
Surakarta berangsur-angsur meningkat meskipun belum sebaik pada saat sebelum krisis.
Hal ini ditandai dengan dengan laju pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional
Bruto) tahun 1999 sebesar 1,44% dari tahun sebelumnya sebesar -13,93% kemudian
pada tahun 2000 melonjak menjadi 4,15% dan sedikit melambat pada tahun 2001
sebesar 3,93%. Peningkatan pertumbuhan secara signifikan kembali terjadi pada tahun
2002 dan 2003, masing masing mencapai 5,32% dan 6,46%.
Apabila dilihat dari kontribusi sektoral terhadap PDRB total, ternyata
pertumbuhan ekonomi kota Surakarta selama lima tahun (1999-2003) didominasi oleh
sektor industri, perdagangan dan jasa. Sektor industri memberi kontribusi sebesar 29,14
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
Hotel dan Rumah makan memberi kontribusi sebesar 23,07% menurut harga berlaku
atau 22,14% menurut harga konstan, disusul kemudian sektor jasa-jasa dengan
kontribusi sebesar 11,83% menurut harga berlaku atau 14,97% menurut harga konstan.
Sementara itu, PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kota Surakarta pada 4
tahun berikutnya yaitu tahun 2007, atas dasar harga berlaku sebesar 6.909.094,57 juta
rupiah dan atas dasar harga konstan 2000 sebesar 4.304.287,37 juta rupiah. Sehingga
pada tahun 2007 besaran PDRB Kota Surakarta atas dasar harga berlaku menjadi 2,07
kali dari tahun 2000 dan PDRB atas dasar harga konstan menjadi 1,36 kali. Pada tahun
2007 sektor Perdagangan, Hotel dan restoran merupakan sektor yang menjadi andalan
terbesar di Kota Surakarta. Hal ini ditandai dengan sumbangannya terhadap total PDRB
Kota Surakarta yaitu berkisar di atas kontribusi terbesar dibanding dengan sektor lain.
Sumbangan berikutnya adalah sektor Industri Pengolahan dan sektor Bangunan
masing-masing sebesar 24,34% dan 12,28%. Sementara itu Pertanian dan Penggalian
merupakan sektor yang memberikan sumbangan terkecil yaitu 0,06% dan 0,04%.
Dengan kata lain, perekonomian Kota Surakarta menunjukkan kinerja yang
membaik dari tahun ke tahun dengan rata-rata pertumbuhan dari tahun 2000-2005
sebesar 5,05. Pertumbuhan ekonomi ini menjadi 5,54 % pada tahun 2006 dan naik
sebesar 0,41% pada tahun 2007, menjadi 5,93%. Kemajuan perekonomian ini juga
didukung dengan terkendalinya perkembangan harga (inflasi), dimana mulai tahun 2000
sampai dengan tahun 2007 rata-rata perkembangan inflasi adalah 7 % per tahun, dengan
tingkat investasi tumbuh rata-rata 18% (BKPMD, 2007), pebisnis dan investor
local/asing banyak melakukan kunjungan rata-rata 10/20 kali/orang/tahun (PHRI,
APINDO, Surakarta,2007). Pendapatan asli daerah (PAD) selama lima tahun terakhir
meningkat tajam sampai dua kali lipat. Dari tahun ke tahun APBD Kota Surakarta
mengalami peningkatan; 2001 (Rp. 206,3M); 2002 (Rp. 206,7 M); 2003 (Rp. 347,5 M);
2004 (Rp. 358.2 M); 2005 (366.0 M); 2006 (Rp. 496.1M); 2007 (Rp.590.1 M).
Sedangkan data terakhir tahun 2008 tercatat APBD Kota Surakarta sebesar Rp. 686. 9
Milliar.
Tabel II.4
Pertumbuhan PAD Kota Surakarta
Tahun Pendapatan Asli Daerah
1 2004 59.78 Milliar
2 2005 66.08 Milliar
3 2006 78.63 Milliar
4 2007 88.00 Milliar
5 2008 100.08 Milliar
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
E. Pemerintahan
Sejak pemerintahan Suharto memegang tampuk pemerintahan tahun 1965,
sistem politik yang sangat tersentralisasi dikukuhkan atas nama integrasi nasional,
stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. Kekuasaan terpusat ini didukung dengan
undang-undang pemerintahan daerah, UU No.5 tahun 1974, yang menganut sistem
sentralisasi pemerintahan. Pemerintah lokal diperlakukan sebagai kekuatan subordinatif
yang tidak memiliki ruang untuk menata rumah tangganya sendiri. Untuk melancarkan
sistem sentralisasi ini, strukur pemerintahan militer dibentuk sejajar dengan struktur
pemerintahan sipil. Pada level provinsi, gubernur menjalankan pemerintahan regional
dibawah bayang-bayang Panglima Daerah Militer (Pangdam), pada level
kabupaten/kota pemerintah kabupaten/kota dibayangi komandan distrik Militer
(Dandim), level kecamatan seorang camat harus bekerja sama dengan Danramil, dan
pada level terbawah (tingkat desa) kepala desa bekerja dalam pengawasan Babinsa.
Struktur pemerintahan sipil sendiri meletakkan kekuasaan pemerintahan di
tangan penguasa sipil yang memiliki kekuasaan tak tersaingi oleh lembaga lain
(penguasa tunggal): mulai gubernur sampai walikota/bupati. Meskipun badan
perwakilan rakyat secara formal menjadi partner mereka, pada kenyataannya lebih
berperan sebagai sleeping partner daripada lembaga yang memperjuangkan aspirasi
rakyat. Kepala daerah di daerah-daerah strategis biasanya diisi oleh personel militer,
termasuk di kota Surakarta.
Reformasi politik tahun 1999 yang menumbangkan Rejim Suharto memutar
jarum jam ke awal tahun 1950an ketika pemerintah sipil memiliki kedaulatan penuh
untuk menentukan jalannya pemerintahan. Pemilihan umum tahun 1999 menghasilkan
komposisi kekuatan politik yang sama sekali berbeda dengan komposisi zaman
pemerintahan Suharto. PDIP menggantikan Golkar sebagai kekuatan mayoritas di
parlemen. Pemilihan umum untuk anggota legislatif daerah juga dimenangkan PDIP di
kota Surakarta. UU No.32/Th 2004 mengamanatkan pemilihan kepala daerah secara
langsung. Untuk pertamakalinya sejak Orde Baru Surakarta memiliki walikota dari
kalangan sipil, Slamet Suryanto. Pada tahun 2004 pemilihan walikota dilakukan secara
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
BAB III
CITIZEN INCLUSION DALAM PRAKTIK GOVERNANCE: PENELUSURAN
DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN KOTA SURAKARTA
Desentralisasi dan otonomi daerah menekankan perlunya penguatan kerjasama
antara aktor publik dan aktor privat maupun aktor publik bersama aktor masyarakat
(CSO). Pembangunan daerah yang mengikutsertakan masyarakat dilaksanakan berdasar
pada inisiatif lokal yang membuat pemerintah daerah memiliki legitimasi yang kuat
dalam menjalankan program-program pembangunannya. Citizen inclusion memiliki
keunggulan karena aktor yang terlibat dalan tidak perlu lagi membuat semua kegiatan
dari tahap awal. Melalui hubungan yang terjalin, variasi sumber daya aktor yang terlibat
dapat dikombinasikan untuk menciptakan solusi atas isu atau masalah yang dihadapi
bersama di tingkat perencanaan maupun pelaksanaan program. Proses pengambilan
keputusan yang dilakukan secara tradisional (dari sisi partisipasi dan kualitas hasil
keputusan) kurang dapat dipertanggungjawabkan akuntabilitas dan realibilitasnya. Pada
bagian ini akan dibahas bentuk kebijakan pendidikan dan inklusi warga dalam
kebijakan pendidikan di Surakarta sebagai bagian dari desain besar kebijakan sosial
pemerintah Kota Surakarta.
A. Bentuk Kebijakan Pendidikan
Ada beberapa program yang dibuat oleh pemerintah Kota Surakarta di bidang
pendidikan. Tetapi, program yang saat ini krusial adalah Bantuan Pendidikan
Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS). BPMKS merupakan bantuan pendidikan yang
diperuntukan bagi:
a. Siswa Warga Kota Surakarta dari Keluarga Mampu yang bersekolah di Kota
Surakarta pada Jenjang SD/MI, SMP/MTs Negeri.
b. Siswa Warga Kota Surakarta dari Keluarga Mampu yang bersekolah di Kota
Surakarta pada Jenjang SDLB, SMPLB dan SMALB.
c. Siswa warga Kota Surakarta dari keluarga tidak mampu yang bersekolah di
Kota Surakarta jenjang SD/MI/SDLB Negeri/Swasta, SMP/MTs/SMPLB
Negeri/swasta, SMA/MA/SMK/SMALB Negeri/Swasta.
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
pada sekolah PLUS jenjang SD, SMP dan SMK Kota Surakarta.
e. Siswa warga Kota Surakarta yang yang tidak bersekolah, tetapi masih dalam
usia sekolah jenjang SD, SMP dan SMK.
BPMKS dibagi menjadi 3 jenis kartu kategori yaitu silver, gold dan platinum.
Masing-masing kategori itu adalah sebagai berikut:
1. Kartu BPMKS Silver
Kriteria Siswa yang dapat menerima adalah:
a. Siswa Warga Surakarta dari warga mampu yang bersekolah di kota Surakarta
pada jenjang SD/MI Negeri, SMP/MTs Negeri.
b. Siswa Warga Surakarta dari keluarga mampu yang bersekolah di kota Surakarta
jenjang SDLB, SMPLB dan SMALB Negeri/Swasta.
2. Kartu BPMKS Gold
Kriteria yang dapat menerima adalah:
a. Siswa warga kota Surakarta dari keluarga tidak mampu yang bersekolah di kota
Surakarta jenjang SD/MI/SDLB Negeri/Swasta, SMP/MTs/SMPLB
Negeri/Swasta, SMA/MA/SMALB Negeri/Swasta.
3. Kartu BPMKS Platinum
Kriteri Siswa yang dapat menerima :
a. Siswa Warga kota Surakarta dari keluarga yang tidak mampu yang bersekolah
pada sekolah PLUS jenjang SD, SMP dan SMK kota Surakarta.
b. Siswa Warga kota Surakarta yang tidak bersekolah, tetapi masih dalam usia
sekolah jenjang SD, SMP dan SMK serta yang akan melanjutkan ke Sekolah
Plus.
B. Awal Mula Kebijakan
Kebijakan ini diluncurkan pada periode kedua pemerintahan Jokowi. Dalam
kampanyenya, jelang Pilwako periode 2010-2015 di awal tahun, secara jelas Jokowi
menegaskan fokus pemerintah pada peningkatan pelayanan publik, utamanya
pendidikan, melengkapi program pelayanan kesehatan (PKMS, Pelayanan Kesehatan
Masyarakat Surakarta). Kedua fokus ini bersinergi dengan fokus pemerintahan Jokowi
di bidang ekonomi, yang ditujukan untuk meningkatkan investasi besar di Kota
Surakata, maupun mendorong unit usaha kecil dan menengah yang telah digalakkan
sejak periode pertama pemerintahan.
Citizen Inclusiondalam Praktik Governance Sehari-hari
murah dikritik sebagai sarana untuk menaikkan popularitas Jokowi semata. Menelisik
ke belakang, persetujuan program pendidikan murah ini memang ditandatangani pada 3
Maret 2010, waktu yang mendekati Pilwako. Program ini disebut Layanan Pendidikan
Masyarakat Surakarta (LPMS). LPMS berisi konsep program pendidikan yang
ditargetkan untuk membantu masyarakat miskin. Konsep yang diajukan SKPD teknis
ini dibagi menjadi 3 kategori. Pertama, Platinum untuk siswa di lima SD plus, 2 SMP
plus dan SMK plus. Kedua, gold bakal dimiliki siswa SD, SMP negeri maupun swasta
yang masuk kategori tidak mampu dan tidak diwajibkan membayar beaya operasional.
Selain itu siswa SD dan SMP negeri yang mampu tetap dapat subsidi beasiswa silver.
Tetapi, konsep LPMS ini kemudian dikembangkan melalui BPMKS (Bantuan
Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta), sebagaimana dijelaskan di atas. BPMKS
secara lebih jelas mengikutsertakan semua anak usia sekolah sebagai penerima bantuan,
termasuk mereka yang tidak mengenyam pendidikan di sekolah. Bukan saja bagi
sekolah negeri, bantuan ini juga diperuntukkan bagi anak yang mengenyam pendidikan
di lembaga pendidikan swasta. Kategorisasi penerima dalam program mengindikasikan
rasionalisasi pengeluaran bantuan pendidikan pemerintah, dimana warga yang paling
membutuhkan-lah yang menerima bantuan paling besar, sementara warga yang mampu,
menerima bantuan sebagian, mengingat pendidikan bagaimanapun adalah investasi
jangka panjang. Program ini tidak didesain dengan semata-mata menggratiskan seluruh
biaya pendidikan dasar bagi semua warga, sehingga bersifat sangat populis tetapi
memberatkan APBD, namun bantuan ini didesain targeted, ditujukan untuk menyasar
penerima bantuan yang tepat, dan skema pengeluaran yang efektif dan efisien. Dana 23
Milyar yang dikeluarkan pemerintah ini disambut baik oleh warga.
Dengan demikian, menurut Jokowi dan FX. Rudy, dalam pemberitaan Antara,
18 April 2010, program ini jelas semata-mata tidak ditujukan untuk mendongkrak
popularitas politik, mengingat sekedar peluncurannya dilakukan menjelang pemilihan
walikota periode kedua. Program ini merupakan tindak lanjut dari Perda Pendidikan
dan merupakan penyempurnaan dari program-program pendidikan sebelumnya, tambah
FX. Rudy. Target utama program ini adalah rakyat kecil, dengan tidak menutup
kesempatan warga Surakarta pada umumnya untuk memperoleh bantuan serupa. Oleh
karena itu, di dalam program ini diberlakukan kategorisasi, untuk menjamin bahwa
uang dikeluarkan pemerintah kota tepat sasaran dan tepat guna.
Sebagai tindak lanjut dari upaya pengembangan pendidikan, pemerintah kota