• Tidak ada hasil yang ditemukan

349515294 keperawatan transkultural adat sumatera

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "349515294 keperawatan transkultural adat sumatera"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL KLIEN DENGAN MASALAH KEPERAWATAN KETIDAKPATUHAN PENGOBATAN

PADA BUDAYA SUMATERA

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PRAKTIKUM

Oleh Kelompok 4

Kelas F

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER

(2)

ASUHAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL KLIEN DENGAN MASALAH KEPERAWATAN KETIDAKPATUHAN PENGOBATAN

PADA BUDAYA SUMATERA

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PRAKTIKUM

disusun guna menyelesaikan tugas matakuliah Keperawatan Transkultural dengan dosen pengampu Ns. Kushariyadi, M. Kep.

Oleh

Inka Mawardi Putri NIM 152310101059 Nuri Sinta Wirawati NIM 152310101069 Tria Mega Holivia NIM 152310101141 Arga Rifqi Adinda NIM 152310101143 Ana Septianadi Fahulpa NIM 152310101153 Mifta Irma Mei L NIM 152310101162

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

DAFTAR ISI... ii

BAB 1. PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar belakang... 1

1.2 Masalah... 2

1.3 Tujuan... 2

1.3.1 Tujuan Umum ... 2

1.3.2 Tujuan Khusus ... 2

1.4 Manfaat ... 2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA... 3

2.1 Konsep Dasar Masalah Keperawatan... 3

2.2 Konsep Dasar Transcultural Nursing... 4

BAB 3. APLIKASI TEORI... 15

3.1 Gambaran Kasus... 15

3.2 Pengkajian... 16

3.2.1 Faktor Teknologi... 16

3.2.2 Faktor Agama dan Filosofi... 16

3.2.3 Faktor Kekeluargaan dan Sosial... 16

3.2.4 Nilai-Nilai Budaya, Kepercayaan, dan Gaya Hidup... 17

3.2.5 Faktor Kebijakan dan Peraturan... 17

3.2.6 Faktor Ekonomi... 17

3.2.7 Faktor Pendidikan... 17

3.3 Diagnosa Keperawatan... 18

3.4 Rencana Keperawatan... 18

3.5 Implementasi Keperawatan... 19

3.6 Evaluasi... 19

BAB 4. PEMBAHASAN... 20

BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN... 25

5.1 Simpulan... 25

5.2 Saran... 25 DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan di Indonesia relatif rendah, banyaknya masyarakat yang belum mendapat pendidikan secara layak. Pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan berkeluarga karena mereka yang berpendidikan tinggi dapat mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan yang memiliki pendidikan rendah. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek. Pengetahuan dapat mempengaruhi tingkah laku dan berhubungan dengan masalah kesehatan yang dapat memicu terjadinya gangguan kesehatan pada kelompok tertentu. Pengetahuan yang rendah bila dikaitkan dengan masalah kesehatan dapat menyebabkan ketidakpatuhan seseorang dalam menjalani pengobatannya.

Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara, obat dan pengobatan yang mengacu kepada pengalaman, keterampilan turun temurun, dan pendidikan atau pelatihan, dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Pelayanan kesehatan tradisional cukup populer di masyarakat Indonesia adalah pengobatan fraktur, atau sering disebut masyarakat sebagai dukun patah tulang. Tidak sedikit pasien fraktur yang datang ke pengobatan tradisional terlebih dahulu. Sehingga pada saat datang ke rumah sakit sudah mengalami komplikasi akibat penanganan pertamanya yang tidak baik atau tidak sesuai prinsip yang benar (Notoadmodjo, 2010).

Pengobatan tradisional masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat bukan hanya disebabkan oleh ketidakpatuhan seseorang dalam melaksanakan pengobatan yang didukung oleh faktor kebudayaan. Pengetahuan dapat mempengaruhi tingkah laku dan berhubungan dengan masalah kesehatan yang dapat memicu terjadinya gangguan kesehatan pada kelompok tertentu. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin mudah dalam menerima informasi. Kurangnya pengetahuan di Indonesia, khususnya di pedesaan banyak dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi dan kebudayaan.

(5)

1.2 Masalah

Budaya yang melekat pada masyarakat dapat mempengaruhi ketidakpatuhan klien dalam mencari pengobatan. Perawat mempunyai peranan penting untuk membantu klien dalam memberikan informasi dan pengetahuan yang tepat tentang tempat pengobatan yang tepat untuk menyelesaiakn masalah kesehatanya.

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Menjelaskan tentang cara mengatasi masalah defisit pengetahuan tentang pentingnya memberikan pengobatan medis pada klien patah tulang atau fraktur.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Menjelaskan pentingnya pelayanan medis pada klien patah tulang. 2. Menjelaskan manfaat dari pengobatan di pelayanan medis

3. Menjelaskan permasalahan yang dapat timbul dari pemberian pengobatan tradisional 1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat untuk Masyarakat

Manfaat bagi masyarakat yaitu dapat meningkatkan tingkat pengetahuan pengobatan yang tepat sehingga dapat mencapai derajat kesehatan yang lebih baik.

1.4.2 Manfaat untuk Penulis atau Mahasiswa

(6)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Masalah Keperawatan 2.1.1 Ketidakpatuhan

Pengertian dari ketidakpatuhan yaitu perilaku individu dan atau pemberi asuahan yang tidak sesuai dengan rencana promosi kesehatan atau terapeutik yang ditetapkan oleh individu serta profesional pelayanan kesehatan. Perilaku pemberi asuhan atau individu yang tidak mematuhi ketetapan, rencana promosi kesehatan atau terapeutik secara keseluruhan atau sebagian dapat menyebabkan hasil akhir yang tidak efektif atau sebagian tidak efektif secara klinis (NANDA,2015).

Ada beberapa faktor individu yang berhubungan dengan ketidakpatuhan yaitu harapan seseorang tidak sesuai dengan fase perkembangan, keyakinan kesehatan tidak sesuai dengan rencana, kurang dukungan sosial, kurang pengetahuan tentang pengobatan, nilai spritual yang tidak sesuai dengan rencana, dan pengaruh kebudayaan. Faktor luar yang mungkin mempengaruhi ketidakpatuhan yaitu kurang keterlibatan anggota dalam rencana kesehatan, nilai sosial rendah mengenai perencanaan, dan persepsi bahwa kepercayaan orang terdekat berbeda dengan renacna. Salah satu ketidakpatuhan seperti masyarakat yang tidak mau menerima keberadaan layanan kesehatan sebagai tempat pengobatan yang tepat dan mempercayai bahwa dukun dalam kebudayaannya sudah dianggap benar. Salah satu contoh seperti kebiasaan di Sumatera apabila mengalami sakit, mereka menganggap dukun merupakan orang yang tepat dalam mengobati penyakitnya, mereka tidak mempercayai adanya tenaga kesehatan. Melihat kondisi tersebut perlu adanya pendekatan khusus untuk meluruskan pandangan mereka mengenai pelayanan kesehatan.

2.1.2 Gangguan Akibat Pemijatan Tradisional

Metode pengobatan alternatif seperti pijat patah tulang yang dilakukan kebanyakan masyarakat Indonesia, bila dikaitkan dengan ilmu kedokteran modern bisa menyebabkan berbagai komplikasi, seperti :

1. Kompartemen Sindrome

(7)

di otot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan berikutnya menyebabakan kerusakan pada otot. Gejalanya mencakup rasa sakit karena terdapat ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang terlibat. Jika dibiarkan, jaringan menjadi nekrosis atau mati. Kalau dalam waktu lama masalah itu tidak ditangani, ujung-ujungnya adalah amputasi. Belum lagi, saat di sangkal putung, ada pemberian ramuan yang dampaknya belum diketahui. Bisa-bisa infeksi. Malah berbahaya karena ada risiko kerusakan saraf dan cedera pembuluh darah. Beberapa kali waktu saya buka sudah busuk.

2. Sindrom Emboli Lemak

Sindrom emboli lemak merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung-gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak. Gelembung lemak ini akan melewati sirkulasi dan dapat menyebabkan oklusi pada pembuluh darah-pembuluh darah pulmonari yang menyebabkan sukar bernafas. Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dypsnea, perubahan dalam status mental (gaduh-gelisah, marah, bingung, stupor), tacypnea, tachycardia, demam dan ruam kulit ptechie.

2.2 Konsep Dasar Transkultural Nurshing 2.2.1 Sejarah Transcultural Nurshing

Dr. Madeline Leininger, seorang perawat yang ahli antropologi, mempunyai andil besar dalam meningkatkan riset dalam perawatan trans-kultural dan dalam merangsang program-program studi yang erat kaitannya. Ia adalah pelopor keperawatan transkultural dan seorang pemimpin dalam mengembangkan keperawatan transkultural serta teori asuhan keperawatan yang berfokus pada manusia. Leininger juga adalah seorang perawat professional pertama yang meraih pendidikan doctor dalam ilmu antropologi social dan budaya.

(8)

Omaha. Tahun 1954 Leininger meraih gelar M.S.N. dalam keperawatan psikiatrik dari ”Chatolic University of America” di Washington, D. C. Ia kemudian bekerja pada ”College of Health” di Univercity of Cincinnati, dimana ia menjadi lulusan pertama (M. S. N ) pada program spesialis keperawatan psikiatrik anak . Ia juga memimpin suatu program pendidikan keperawatan psikiatri di universitas tersebut dan juga sebagai pimpinan dalam pusat terapi perawatan psikiatri di rumah sakit milik universitas tersebut.

Leininger bersama C. Hofling pada tahun 1960 menulis sebuah buku yang diberi judul ”Basic Psiciatric Nursing Consept” yang dipublikasikan ke dalam sebelas bahasa dan digunakan secara luas di seluruh dunia. Selama bekerja pada unit perawatan anak di Cincinnati, Leininger menemukan bahwa banyak staff yang kurang memahami mengenai faktor-faktor budaya yang mempengaruhi perilaku anak-anak. Dimana diantara anak-anak ini memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Ia mengobservasi perbedaan- perbedaan yang terdapat dalam asuhan dan penanganan psikiatri pada anak-anak tersebut. Terapi psikoanalisa dan terapi strategi lainnya sepertinya tidak menyentuh anak-anak yang memiliki perbedaan latar belakang budaya dan kebutuhan. Leininger melihat bahwa para perawat lain juga tidak menampilkan suatu asuhan yang benar-benar adequat dalam menolong anak tersebut, dan ia dihadapkan pada berbagai pertanyaan mengenai perbedaan budaya diantara anak-anak tersebut dan hasil terapi yang didapatkan. Ia juga menemukan hanya sedikit staff yang memiliki perhatian dan pengetahuan mengenai faktor-faktor budaya dalam mendiagnosa dan manangani klien.

(9)

Dari studinya yang dalam dan pengalaman pertama dengan masyarakat Gadsup, ia terus mengembangkan teori perawatan kulturalnya dan metode ethno nursing. Teori dan penelitiannya telah membantu mahasiswa keperawatan untuk memahami perbedaan budaya dalam perawatan, manusia, kesehatan dan penyakit. Dia telah menjadi pemimpin utama perawat yang mendorong banyak mahasiswa dan fakultas untuk melanjutkan studi dalam bidang anthropologi dan menghubungkan pengetahuan ini kedalam praktik dan pendidikan keperawatan transkultural. Antusiasme dan perhatiannya yang mendalam terhadap pengembangan bidang perawatan transkultural dengan fokus perawatan pada manusia telah menyokong dirinya selama 4 dekade.

Tahun 1950-an sampai 1960-an, Leininger mengidentifikasi beberapa area umum dari pengetahuan dan penelitian antara perawatan dan anthropologi: formulasi konsep keperawatan transkultural, praktek dan prinsip teori. Bukunya yang berjudul Nursing and anthropology : Two Words to Blend : yang merupakan buku pertama dalam keperawatan transkultural, menjadi dasar untuk pengembangan bidang keperawatan transkultural, dan kebudayaan yang mendasari perawatan kesehatan. Buku yang berikutnya, ”Transcultural Nursing : Concepts, theories, research, and practise (1978)”, mengidentifikasi konsep mayor, ide-ide teoritis, praktek dalam keperawatan transkultural, bukti ini merupakan publikasi definitif pertama dalam praktek perawatan treanskultural. Dalam tulisannya, dia menunjukkan bahwa perawatan treanskultural dan anthropologi bersifat saling melengkapi satu sama lain, menkipun berbeda. Teori dan kerangka konsepnya mengenai Cultural care diversity and universality dijelaskan dalam buku ini.

(10)

Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew and Boyle, 1995).

1. Manusia

Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).

2. Sehat

Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Andrew and Boyle, 1995).

3. Lingkungan

Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.

(11)

Asuhan keperawatan adalah proses kegiatan sistimatis pada praktik keperawatan agar pasien mampu mandiri sesuai latar belakang budayanya. Strategi yang digunakan adalah mempertahankan, mengakomodasi, mentransformasi budaya pasien menuju sehat paripurna (Leininger, 1991 dan Lindbert, J. Hunter, M. & Kruszweski, 1983). Beberapa strategi yang ditempuh meliputi:

Strategi 1: Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Tindakan keperawatan diberikan sesuai dengan nilai yang relevan sehingga pasien dapat mengoptimalkan status kesehatannya, misalnya budaya berolah raga.

Strategi 2: Negosiasi budaya, yaitu intervensi keperawatan untuk membantu pasien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya. Perawat membantunya agar dapat memilih budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya yang tidak terbiasa makan ikan karena berbau amis dapat diganti sumber protein hewani lain.

Strategi 3: Restrukturisasi budaya, dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatannya. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup pasien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Tindakan keperawatan dirancang sesuai latar belakang budaya sehingga budaya tetap dipandang sebagai rencana hidup yang lebih baik setiap saat. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai keyakinan yang dianut.

2.2.3 Konsep dalam Transcultural Nursing

1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.

2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.

3. Perbedaan Budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal daei pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).

(12)

5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.

6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal manusia

7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya. 8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku

pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.

9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.

10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.

(13)

2.2.3 Proses keperawatan Transcultural Nursing

(14)

profesional dan sistem perawatan kesehatan secara umum. Anak panah berarti mempengaruhi tetapi tidak menjadi penyebab atau garis hubungan. Garis putus-putus pada model ini mengindikasikan sistem terbuka. Model ini menggambarkan bahwa tubuh manusia tidak terpisahkan/ tidak dapat dipisahkan dari budaya mereka.

Suatu hal yang perlu diketahui bahwa masalah dan intervensi keperawatan tidak tampak pada teori dan model ini. Tujuan yang hendak dikemukakan oleh Leininger adalah agar seluruh terminologi tersebut dapat diasosiasikan oleh perawatan profesional lainya. Intervensi keperawatan ini dipilih tanpa menilai cara hidup klien atau nilai-nilai yang akan dipersepsikan sebagai suatu gangguan, demikian juga masalah keperawatan tidak selalu sesuai dengan apa yang menjadi pandangan klien. Model ini merupakan suatu alat yang produktif untuk memberikan panduan dalam pengkajian dan perawatan yang sejalan dengan kebudayan serta penelitian ilmiah. Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

A. Pengkajian

Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada ”Sunrise Model” yaitu :

a. Faktor teknologi (tecnological factors)

Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.

b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)

(15)

c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)

Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, tatus, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga. d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)

Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah : posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.

e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)

Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.

f. Faktor ekonomi (economical factors)

Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga.

g. Faktor pendidikan (educational factors)

Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti- bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

(16)

Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur, gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.

C. Perencanaan dan Pelaksanaan

Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan. 1. Cultural care preservation/maintenance

a. Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan

b. Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien c. Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat 2. Cultural careaccomodation/negotiation

a. Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien b. Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan

c. Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik

3. Cultual care repartening/reconstruction

a. Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya.

b. Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok c. Gunakan pihak ketiga bila perlu

d. Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua

(17)

Perawat dan klien harus mncoba untuk memahami budaya masing-masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.

D. Evaluasi

(18)

BAB 3. APLIKASI TEORI

3.1 Gambaran Kasus

Tn. F (43 Tahun) dan Ny. N (35 Tahun) serta ke 2 anaknya yaitu An. M dan An. L. Mereka merupakan sebuah keluarga dari sekian banyak suku minang di Sumatera yang tinggal di desa pedalaman yang kental akan tradisinya. Dalam kesehariannya Tn. F bekerja sebagai kuli bangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sedangkan Ny. N sebagai pedagang kaki 5 yang kesehariannya menjual dagangannya dengan mengelilingi kampungnya. Mereka hidup dengan beberapa kelompok suku yang ada didaerahnya. Dimana didalam suku tersebut terdapat dukun pijat yang sangat di percayai oleh semua anggota suku, sehingga setiap apa yang dukun itu lakukan merupakan suatu hal yang mereka percayai. Padalah semua suku di pedalam tersebut tidak menempuh pendidikan sama sekali. Masyarakat di daerah tersebut tidak memiliki agama dan kepercayaan mereka hanya pada dukun pjijat.

(19)

diberikan obat pereda sakit. Perawat menanyakan kenapa Tn. F kenapa bisa terjadi hal tersebut dan apakah pernah diobati. Keluarga tersebut menceritakan hal yang terjadi dan memberitahukan bahwa pernah dibawa kedukun pijat yang ada di desanya hal itu karena sudah menjadi kebiasaan ketika seseorang mengalami patah tulang dibawa ke tempat dukun pijat tersebut. Namun, keluarga mereka tidak menetahui bahaya dari pijat tersebut. Dan pada akhirya kelurga mereka diberikan penyuluhan oleh perawat bahaya pijat dan bagaimana merawat ketika terjadi dislokasi pada kakinya.

3.2 Pengkajian

3.2.1 Faktor Teknologi

Pemanfaatan teknologi kesehatan dipengaruhi oleh sikap tenaga kesehatan, kebutuhan, serta permintaan masyarakat. Minat masyarakat menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan upaya pengobatan. Seperti halnya keluarga Tn.F mereka tinggal di masyarakat pedalaman di Sumatera. Kebiasaan mereka lebih mempercayai pengobatan tradisional seperti praktuik dukun. Seperti halnya ketika ia mengalami dislokasi ia lebih memilih pengobatan dengan praktik dukun dari pada pelayanan kesehatan. Hal yang perlu dikaji :

1. Bagaimana penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatannya

2. Bagaimana kebiasaan berobat untuk mengatasi masalah kesehatan 3.2.2 Faktor Agama dan Filosofi

Masyarakat suku minang yang tinggal pedalaman Sumatera mereka tidak memiliki kepercayaan tentang agama. Pandangan mereka saat mengalami sakit yaitu bahwa penyakit yang mereka derita disebabkan oleh kejadian faktor alam yang tidak mendukung. Mereka tidak percaya adanya Tuhan mereka mempercayai bahwa dukun merupakan seseorang yang diberi anugerah oleh dewa yang diberi kepercayaan untuk menyembuhkan orang sakit. Hal yang perlu dikaji :

1. Bagaiman pandangan tentang penyakit yang mereka alami 2. Kepercayaan apa yang mereka anut

3.2.3 Faktor Kekeluargaan dan sosial

Keluarga merupakan faktor pendukung seseorang dalam menentukan perilaku kesehatnnya. Keadaan masyarakat sekitar juga mennetukan bagaiman keluarga tersebut mendapatkan derajat kesehatan yang baik. Keluarga Tn. F termasuk keluarga inti, dimana keluarga tinggal satu rumah yang terdiri dari suami, istri, dan kedua anaknya. Pengambilan keputusan dalam menangani masalah diambil oleh kepala keluarga yaitu Tn.F. Hal yang perlu dikaji:

(20)

Faktor ini dapat dikaji berdasarkan nilai budaya dan kepercayaannya yang diyakini oleh keluarga Tn. F. Nilai budaya dan keyakinan diperoleh adari nilai atau norma yang dianut pada masyarakat mereka. Masyarakat di pedalaman sumatera memiliki nilai serta keyakinan yang kuat akan kepercayaan mistik serta dukun. Mereka mendatangi dukun yang akan menyembuhkan penyakit tyang mereka alami. Mereka percaya akan mantra yang di ucapkan oleh dukun pijat dapat menyembuhkan penyakitnya. Hal yang perlu dikaji:

1. Bahasa apa yang mereka gunakan setiap hari

2. Bagaiamana persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari 3.2.5 Faktor Kebijakan dan Peraturan

Faktor ini dapat dikaji berdasarakan kebiasaan yang dilakukan dilingkungan masyarakatnya. Kebiasaan masyarakat serta peraturan dalam masyarakat dapat mempengaruhi mereka dalam menjalani pengobatan. Masyarakat pedalaman di Sumatera ketika mengalami penyakit atau cedera yang dialaminya mereka datang kedukun yang mereka percayai. Faktor ini tidak berpengaruh terhadap perilakunya dalam pengobatan.

3.2.6 Faktor Ekonomi

Keadaan ekonomi seseorang dapat mempengaruhi bagaiman seseorang memperoleh pengobatannya. Keluarga Tn. F yang tergolong cukup dikarenakan Tn. F bekerja sebagai kuli bangunan yang untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sedangkan Ny. N sebagai pedagang kaki 5 yang juga membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Hal yang perlu dikaji:

1. Apa pekerjaan keluarga klien

2. Berapa pendapatan keluarga per bulannya 3.2.7 Faktor Pendidikan

Pendidikan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan seseorang. Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin orang tersebut memiliki kesadaran akan kesehatannya. Masyarakat pedalam di daerah sumatera mereka hidup dalam suatu kelompok dipedalaman yang mana disana tidak ada yang menempuh pendidikan. Seperti halnya keluarga Tn.F mereka tidak menempuh pendidikan sama sekali. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perilaku ketidakpatuhan dalam pengobatan keluarga Tn. F terkait kesehatan yang berhubungan dengan adat istiadat yang dimiliki oleh keluarga Tn. F. Hal yang perlu dikaj:

1. Bagaimana pendidikan keluarga klien

(21)

1. Ketidakpatuhan dalam pengobatan

berhubungan dengan sistem yang diyakini atau tradisi yang dianut

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 jam kesehatan sesuai dengan kebutuhan dengan sistem yang diyakini dan tradisi yang dianut

Restrukturisasi Budaya:

1. Memberikan kesempatan klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya

2. Menentukan tingkat perbedaan pasien dalam melihat dirinya dari budaya kelompok.

3. Menggunakan pihak ketiga

(22)

bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien

3.6 Evaluasi Keperawatan

No Diagnosa Evaluasi

1. Ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem yang diyakini dan tradisi yang dianut

S: keluarga menyatakan bahwa mereka paham terhadap cidera dislokasi dan mengetahui pemilihan pengobatan yang diambil

O: pasien dibantu oleh keluarga untuk minu obat yang diberikan oleh perawat

A: masalah defisiensi pengetahuan teratasi P: hentikan intervensi

BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Pengkajian

4.1.1 Identitas Umum Keluarga

a. Identitas Kepala Keluarga

Nama : Tn.F

Umur : 43 Tahun

Agama :

-Suku : Minang

Pendidikan :

(23)

Alamat : Daerah suku pedalaman Sumatera Utara

4.1.2 Pengkajian berdasarkan data di Role play

Berdasarkan role play yang telah ditampilkan, Setelah dilakukan pengkajian data yang muncul adalah Keluarga Tn.F merupakan sebuah keluarga dari sekian banyak suku Minang di Sumatera yang tinggal di desa pedalaman. Masyarakat disana jauh akan akses teknologi sehingga masyarakat disana masih kental akan tradisinya Tn. F dalam kesehariannya bekerja sebagai kuli bangunan. Sedangkan Ny. N hanya bekerja sebagai pedagang kaki lima. Seluruh anggota keluarga Tn.F tidak ada yang menempuh pendidikan termasuk kedua anaknya, mereka hanya membantu Ny.N dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam menangani masalah keluarga, keputusan diambil oleh Tn.F selaku kepala keluarga.

(24)

paling berperan dalam masyarakat tersebut. Seperti halnya yang yang dijalani Keluarga Tn.F ketika Tn.F mengalami kecelakaan ditempat kerjanyaa dan kakinya mengalami dislokasi, mereka pergi. Tn. F ke dukun. Dukun tersebut memijat oleh dukun tersebut dan diolesi oleh minyak dan mebacakan mantra serta meludahi di kaki Tn. F .

4.2 Diagnosa

Ketidakpatuhan merupakan suatu sikap dimana seseorang tidak disiplin atau tidak maksimal dalam melaksanakan pengobatan yang mereka jalani yang dipengaruhi oleh pengetahuan. Dengan adanya pengetahuan yang luas dapat dijadikan dasar memilih atau mengambil keputusan mana yang baik dan mana yang tidak. Dalam pengambil keputusan tidak hanya dengan bermodal dengan perasaan atau feeling saja namun juga sangat dibutuhkan rasional dari keputusan tersebut. Sehingga dibutuhkan sebuah pengetahuan atau ilmu yang dapat merasionalkan dari keputusan tersebut.

Ditinjau dari tingkat pendidikan keluraga Tn.F, semua anggota keluarga tidak ada yang bersekolah, jadi semua keputusan berdasarkan atas nilai yang diyakini oleh mereka sejak dulu. Faktor sosial dari masyarakat setempat yang memperkuat adanya keyakinan bahwa dukun lah orang yang bisa menyemabuhkan segala penyakit yang mereka alami. Mereka mengganggap dukun adalah seseorang yang diberi kekuatan dari dewa untuk menyembuhkan penyakit mereka dan mereka percaya bahwa penyakit yang mereka alami adalah teguran dari dewa tersebut dan hanya dengan perantara dukunlah penyakit tersebut bisa hilang. Pada kasus dislokasi yang dialami Tn.F mereka percaya bahawa dukun mampu meyembuhkan kakinya tetapi setelah dilakukan pemijatan dan bacaan mantra malah menimbulkan adanya komplikasi tulang pada area dislokasi tersebut yaitu adanya komplikasi tulang yang menyebabkan kaki bengkak dan perubahan posisi tulang.

(25)

makalah ini mengangkat diagnosa ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem yang diyakini atau tradisi yang dianut

4.3 Rencana Keperawatan

Rencana keperawatan yang tepat dalam menagani masalah keperawatan dengan kasus dislokasi yaitu dengan merestrukturisasi budaya pengobatan tradisional dukun pijat karena dislokasi merupakan salah satu trauma tulang yang perlu penanganan khusus dan dukun pijat bukan pilihan yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Rencana keperawatan yang dapat dilakukan yaitu

(26)

No Diagnosa Keperawatan Implementasi 1. Ketidakpatuhan dalam

pengobatan berhubungan dengan sistem yang diyakini dan tradisi yang dianut

Restrukturisasi Budaya:

1. Memberikan kesempatan klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya

2. Menentukan tingkat perbedaan pasien dalam melihat dirinya dari budaya kelompok.

3. Menggunakan pihak ketiga

4. Memberikan pengetahuan tentang terminologi gejala klien kedalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien

Pelaksanaaan dalam menyelesaikan masalah keperawatan tersebut perlu adanya pendekatan yang tepat dengan melakukan menjalin hubungan baik dengan masyarakat setempat serta melakukan pendekatan pribadi kepada orang yang berperan dalam masyarakat tersebut. Terjalinnya hubungan yang baik antara petugas kesehatan dengan masyarakat serta pengaruh dari seseorang yang berperan dalam masyarakat tersebut rencana keperawatan dapat dijalan dengan baik tanpa ada konflik serta diharapkan maslah keperawatan dapat terselesaikan.

4.5 Evaluasi

(27)

BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Permasalahan ketidakpatuhan dalam memilih pelayanan pengobatan merupakan hal yang sudah banyak terjadi dikalangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari pengetahuan, keyakinan serta faktor ekonomi. Seperti halnya permasalahan yang muncul pada masyarakat Sumatera yaitu kepercayaan mereka terhadap dukun yang bisa menyembuhkan segala penyakit yang mereka alami salah satunya dukun pijat patah tulang. Padahal pada kenyataanya pengobatan tradisional patah tulang dengan dukun dapat menyebabkan komplikasi pada tulang seperti kompartemen sindrome yang biasanya ditandai dengan adanya bengkak. Ketidakpatuhan seseorang dalam memilih pengobatannya dapat diatasi dengan menggunakan cara pemberian informasi dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat serta solusi yang tepat. Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan serta solusi pemilihan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan faktor ekonomi suatu keluarga.

5.2 Saran

a. Sebagai seorang perawat seharusnya perawat dapat memahami budaya di setiap daerah sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan dengan mudah.

b. Perawat perlu meningkatkan kreativitas dalam memodifikasi cara meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Farldan M&Leininger M. 2002. Transkultural Nursing, Concept, Theories, Research &Practice. Mc. Grow-Hill Companies

Khan I, Saeed M, Inam M, Arif M. Traditional bone setters; preference and patronage. Professional Med J 2015;22(9):1181-1185. DOI: 10.17957/ TPMJ/15.2944

Leininger M. Madeline. Kultural Care Diversity dan Universality : A Theory Of Nursing. 1991. New York : National league for nursing press.

Lindbert, J. Hunter, M. & Kruszweski, A. (1983). Introduction to Person – Centered Nursing. Philadelphia : J.B.Lippincott Company.

NANDA.(2015). Diagnosis Keperawatan. Jakarta. EGC Penerbit Buku Kedokteran.

(29)

LAMPIRAN

SUMBER TEORITIS MEDELINE LEININGER

Leininger teori devired dari disiplin ilmu antropologi dan keperwatan (Leininger, 1991b, 1995c; & McFarland 2002b, 2005). Dia telah mendefinisikan keperawatan transkultural sebagai daerah utama keperawatan yang difokuskan pada studi banding dan analisis beragam budaya dan subkultur di dunia sehubungan dengan adanya nilai-nilai kepedulian, ekspresi, dan helath keyakinan penyakit dan pola perilaku.

(30)

kepada orang-orang dari cultuere berbeda atau sama untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali mereka baik makhluk, kesehatan, atau menghadapi kematian dengan cara telah sesuai budaya (Leininger, 1985b, 1988b, 1988c, 1988d; dikutip tahun 1991b)

Tujuan dari teori ini adalah untuk meningkatkan dan memberikan perawatan cullturally kongruen dengan orang taht yang bermanfaat, akan cocok dengan, dan akan berguna untuk klien, keluarga, atau kelompok budaya lifeways sehat (Leininger, 1991b).

Keperawatan transkultural melampaui keadaan kesadaran untuk yang menggunakan pengetahuan perawatan budaya keperawatan untuk praktek perawatan budaya kongruen dan bertanggung jawab (Leininger, 1991b, 1995c). Leininger telah menyatakan bahwa dalam waktu, akan ada jenis baru praktik keperawatan yang mencerminkan praktik keperawatan berbeda yang didefinisikan secara kultural, membumi, dan spesifik untuk memandu perawatan untuk individu, keluarga, kelompok, dan institusi. Dia berpendapat bahwa karena budaya dan peduli pengetahuan yang luas dan paling holistik berarti untuk konsep dan memahami orang, mereka adalah pusat untuk dan penting untuk pendidikan keperawatan dan praktek (Leininger, 1991b, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a, 2005). Selain itu, dia menyatakan bahwa keperawatan transkultural telah menjadi salah satu daerah yang paling penting, relevan, dan sangat menjanjikan dari studi formal, penelitian, dan praktek karena orang-orang hidup di dunia multikultural (Leininger, 1984a, 1988a, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a, 2005). Leininger memprediksi bahwa untuk keperawatanmenjadi bermakna dan relevan dengan klien dan perawat lain di dunia, pengetahuan keperawatan transkultural dan kompetensi akan penting untuk memandu semua keputusan keperawatan dan tindakan untuk hasil yang efektif dan sukses (Leininger, 1991b, 1996a, 1996b; Leininger & McFarland, 2002a, 2005).

(31)

namun transkultural keperawatan berfokus pada beberapa budaya dengan teori dan praktek dasar perbandingan (Leininger, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a).

Leininger menjelaskan perawat generalis transkultural sebagai perawat disiapkan di tingkat sarjana muda yang mampu menerapkan konsep transkultural keperawatan, prinsip, dan praktek-praktek yang dihasilkan oleh perawat spesialis transkultural (Leininger, 1989a, 1989b, 1991c, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a). spesialis perawat trancultural disiapkan dalam program pascasarjana menerima di persiapan mendalam dan bimbingan dalam pengetahuan keperawatan transkultural dan praktek. spesialis ini telah memperoleh keterampilan kompetensi melalui pendidikan postbaccalaureate. "Spesialis ini telah mempelajari budaya dipilih dalam kedalaman yang cukup (nilai, keyakinan, dan cara hidup) dan sangat berpengetahuan dan secara teoritis berdasarkan tentang perawatan, kesehatan, dan faktor lingkungan yang berhubungan dengan prerspectives keperawatan transkultural (Leininger, 1984b, p. 252). Spesialis perawat transkultural berfungsi sebagai praktisi bidang ahli, guru, reserarcher, dan konsultan sehubungan dengan memilih budaya. individual ini juga menghargai dan menggunakan teori keperawatan untuk mengembangkan dan pengetahuan advace dalam disiplin keperawatan trancultural, yang Leininger (1995c, 2001) bidang memprediksi harus menjadi fokus dari semua pendidikan keperawatan dan praktek.

(32)

Leininger (1991b) mengembangkan theory nya culture care diversity dan universality, yang didasarkan pada keyakinan bahwa manusia dari budaya yang berbeda dapat menginformasikan dan mampu membimbing para ahli untuk menerima jenis perawatan yang mereka inginkan atau butuhkan dari orang lain. Budaya dicontoh dan dinilai kebiasaan manusia yang mempengaruhi keputusan dan tindakan mereka; karena itu teori diarahkan pada perawat untuk menemukan dan mendokumentasikan dunia klien dan menggunakan sudut pandang emic, pengetahuan dan praktik yang sesuai dengan etik (pengetahuan professional), sebagai dasar untuk membuat keputusan tindakan keperawatan professional yang kongruen dengan budaya (Leininger,1991b, 1995c). Sesungguhnya, keperawatan budaya adalah teori keperawatan holistik yang luas, karena memperhitungkan totalitas dan perspektif kehidupan manusia secara holistik dan eksistensi dari waktu ke waktu, termasuk faktor-faktor struktur sosial, pandangan dunia, sejarah dan nilai-nilai budaya, konteks lingkungan (Leininger 1981), ekspresi bahasa, dan masyarakat (umum) dan pola professional. Ini adalah beberapa dasar kritis dan penting untuk penemuan pengetahuan keperawatan bahwa esensi dari keperawatan yang daapat mengarah pada kesehatan dan kesejahteraan klien dan memandu praktik terapi keperawatan. Teori keperawatan budaya dapat induktif dan deduktif, berasal dari emic (insider) dan etik (luar)pengetahuan. Namun leininger mendorong dan memperoleh pengetahuan emic didasarkan dari orang-orang atau budaya karena pengetahuan tersebut adalah yang paling kredibel (1991b)

Kisaran teori ini tidak menengah maupun teori makro, tetapi harus dilihat secara holsitik dengan domain tertentu yang menarik. Leininger percaya istilah kisaran menengah dan makro yang usang dalam pengembangan dan penggunaan teori (1991b, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a, 2005).

Fitur Unik Dari Teori

(33)

budaya leluhur dan konteks lingkungan. Teori memiliki dimensi abstrak dan praktek yang dapat diperiksa secara sistematis untuk sampai pada hasil perawatan kongruen budaya. Itu adalah satu-satunya teori keperawatan secara eksplisit berfokus pada budaya dan perawatan budaya, dengan tiga modalita spraktek teoritis untuk sampai pada keputusan perawatan kongruen budaya dan tindakan untuk mendukung kesejahteraan, kesehatan, dan gaya hidup memuaskan bagi orang-orang. Teori ini dirancang untuk akhirnya menemukan perawatan-apa yang beragam dan apa yang universal terkait untuk peduli kesehatan dan memiliki focus komparatif untuk mengidentifikasi praktik asuhan keperawatan transkultural yang berbeda atau kontras dengan konstruksi perawatan khusus. Teori dengan metode ethnonursing (metode penelitian keperawatan pertama yang dirancang untuk cocok dengan teori) telah memungkinkan dirancang untuk mencari data informantemic, dan memungkinkan dapat digunakan untuk ketetapan kasus kesehatan budaya. Teori dapat menghasilkan pengetahuan baru dalam keperawatan dan pelayanan kesehatan untuk sampai pada perawatan budaya kongruen, aman, dan bertanggungjawab.

KONSEP UTAMA DAN DEFINISI

Leininger telah mengembangkan banyak hal yang relevan dengan teori. Yang utama didefinisikan di sini pembaca dapat mempelajari teori lengkapnya dari karya definitif nya (Leininger, 1991b, 1995c; Leininger dan McFarland, 2002a, 2005).

KEPERAWATAN MANUSIA DAN KEPEDULIAN

Konsep keperawatan manusia dan kepedulian mengacu pada fenomena abstrak dan nyata dengan ekspresi bantu, mendukung, memungkinkan, dan memfasilitasi cara untuk membantu diri sendiri atau orang lain dengan jelas atau kebutuhan diantisipasi untuk meningkatkan kesehatan, kondisi manusia, atau kehidupan, atau untuk cacat wajah atau sekarat.

BUDAYA

Budaya mengacu pada kehidupan bermotif, nilai-nilai, keyakinan, norma, simbol, dan praktek individu, kelompok, atau lembaga yang dipelajari, bersama, dan biasanya ditularkan dari satu generasi ke generasi lain.

(34)

Budaya keperawatan mengacu pada bantuan sintesis dan bentukan budaya, mendukung, memungkinkan, atau tindakan peduli fasilitatif terhadap diri atau orang lain berfokus pada kebutuhan nyata atau diantisipasi untuk kesehatan klien atau kesejahteraan, atau menghadapi cacat, kematian, atau kondisi manusia lainnya.

BUDAYA KERAGAMAN KEPERAWATAN

keanekaragaman perawatan budaya mengacu pada variabilitas budaya atau perbedaan keyakinan perawatan, makna, pola, nilai-nilai, simbol, dan lifeways dalam dan di antara budaya dan manusia.

KESATUAN BUDAYA KEPEDULIAN

Kesatuan budaya kepedulian mengacu pada kesamaan atau makna perawatan berbasis budaya yang sama ("kebenaran"), pola, nilai-nilai, simbol, dan kehidupan mencerminkan hati-hati karena kemanusiaan universal.

PANDANGAN DUNIA

Pandangan dunia mengacu pada cara pandang kelompok individu dalam memahami dunia tentang mereka sebagai nilai, sikap, gambar, atau perspektif tentang kehidupan dan dunia.

DIMENSI STRUKTUR BUDAYA DAN SOSIAL

Budaya dan sosial dimensi struktur merujuk pada pola dinamis, holistik, dan saling fitur terstruktur dari budaya (atau subkultur), termasuk agama (atau spiritualitas), kekerabatan (sosial), karakteristik politik (hukum), ekonomi, pendidikan, teknologi, nilai-nilai budaya, filsafat, sejarah, dan bahasa.

KONTEKS LINGKUNGAN

(35)

ETNOHISTORI

Etnohistori mengacu pada urutan fakta, peristiwa, atau perkembangan dari waktu ke waktu sebagaimana diketahui, menyaksikan, atau didokumentasikan tentang orang yang ditunjuk untuk budaya.

EMIK

Emik mengacu pada atau pandangan lokal, adat, insider dan nilai-nilai tentang fenomena.

ETIK

Etik mengacu pada luar atau lebih pandangan universal dan nilai-nilai tentang fenomena.

KESEHATAN

Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan negara yang meliputi budaya, didefinisikan, dihargai, dan dipraktekkan oleh individu atau kelompok yang memungkinkan mereka untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari mereka.

KEPERAWATAN TRANSKULTURAL

Keperawatan transkultural mengacu area formal pengetahuan dan praktek difokuskan pada perawatan budaya holistik (peduli) fenomena dan kompetensi untuk membantu individu atau kelompok untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali kesehatan mereka (atau kesejahteraan) dan untuk menangani cacat, mati humanistik dan ilmiah, atau kondisi manusia lainnya dengan cara budaya kongruen dan bermanfaat.

BUDAYA KEPERAWATAN PELESTARIAN ATAU PEMELIHARAAN

Pelestarian keperawatan budaya atau pemeliharaan adalah mereka membantu, mendukung, memberi fasilitas, atau memungkinkan tindakan profesional dan keputusan yang membantu orang dari budaya tertentu untuk mempertahankan atau mempertahankan nilai-nilai perawatan berarti dan lifeways untuk kesejahteraan mereka, untuk pulih dari penyakit, atau berurusan dengan cacat atau kematian.

AKOMODASI BUDAYA KEPERAWATAN ATAU NEGOSIASI

(36)

budaya yang ditunjuk (atau subkultur) untuk beradaptasi dengan atau Negosiatif dengan orang lain untuk hasil kesehatan yang berarti, menguntungkan, dan kongruen.

BUDAYA KEPERAWATAN MEMPERBARUI ATAU RESTRUKTURISASI

Budaya perawatan Repatterning atau restrukturisasi mengacu untuk membantu, mendukung fasilitatif, atau memungkinkan tindakan profesional dan keputusan yang membantu klien menyusun ulang, mengubah, atau memodifikasi kehidupan mereka untuk hasil kesehatan baru, berbeda, dan benficial.

KOMPETENSI BUDAYA KEPERAWATAN

Budaya asuhan keperawatan yang kompeten mengacu pada penggunaan eksplisit perawatan berbasis budaya dan pengetahuan kesehatan yang sensitif, kreatif, dan bermakna sesuai dengan kehidupan umum dan kebutuhan individu atau kelompok untuk kesehatan yang bermanfaat dan bermakna dan kesejahteraan untuk menghadapi penyakit, cacat, atau kematian.

PENGGUNAAN BUKTI EMPIRIS

(37)

lingkungan (Leininger, 1991b, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a, 2005). Meskipun keperawatan telah menggunakan kata-kata peduli dan merawat lebih dari satu abad, definisi dan penggunaan telah kabur dan digunakan sebagai klise, tanpa makna khusus untuk budaya klien atau perawat (Leininger, 1981, 1984a). "Memang, konsep tentang kepedulian telah beberapa yang paling sedikit dipahami dan dipelajari dari semua bidang pengetahuan dan penelitian manusia di dalam dan di luar keperawatan" (Leininger, 1978, p.33). Dengan teori transkultural perawatan dan metode ethnonursing berdasarkan emic (tampilan insider) keyakinan, seseorang akan dekat dengan penemuan perawatan berbasis masyarakat, karena data datang langsung dari orang-orang dan tidak berasal dari etik (vviews luar) keyakinan dan praktek peneliti. Sebuah tujuan penting dari teori ini adalah untuk mendokumentasikan, tahu, memprediksi, dan menjelaskan secara sistematis melalui data lapangan apa yang beragam dan universal tentang perawatan generik dan profesional budaya yang dipelajari (Leininger, 1991b).

(38)

digenggam sepenuhnya, kesejahteraan atau kesehatan individu, keluarga, dan kelompok cn diprediksi dan perawatan kongruen budaya dapat disediakan (Leininger, 1991b). Leininger (1991b) views peduli sebagai salah satu konstruk paling kuat dan fenomena sentral keperawatan. Namun, membangun seperti perawatan dan pola harus sepenuhnya didokumentasikan, dipahami, dan digunakan untuk memastikan bahwa perawatan berbasis budaya menjadi panduan utama untuk terapi keperawatan transkultural dan digunakan untuk menjelaskan atau memprediksi praktik keperawatan (Leininger, 1991b).

Sampai saat ini, leininger telah mempelajari beberapa budaya di kedalaman dan telah belajar banyak budaya bawah-sarjana dan mahasiswa pascasarjana dan fakultas kami menggunakan metode kualitatif. Dia secara eksetensif telah menguaraikan konstruksi perawatan seluruh budaya di mana setiap budaya banyak memiliki arti yang berbeda, pengalaman budaya, dan digunakan oleh orang-orang dari budaya yang beragam dan serupa (Leininger, 1991b, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a, 2005) Pengetahuan baru antar budaya terus ditemukan oleh perawat dalam perkembangan praktik perawatan antar budaya dengan budaya yang beragam dan sejenisnya. Dalam waktu, leininger (1991b) percaya fitur yang beragam dan universal perawatan dan kesehatan akan didokumentasikan sebagai inti dari Keperawatan pengetahuan dan praktek.

(39)

Leininger telah menemukan bahwa kebutaan budaya, shock, pengenaan, dan etnosentrisme oleh perawat kini terus mengurangi kualitas pelayanan kepada klien dari budaya yang berbeda (Leininger, 1991a, 1994,1995c; Leininger & McFarland, 2002a, 2005).Selain itu, diagnosa keperawatan dan diagnosa medis yang tidak berbasis budaya dan dikenal menciptakan masalah serius bagi budaya yang menyebabkan hasil tidak menguntungkan dan kadang-kadang serius(Leiningger 1990c).Budaya perawatan kongruen adalah apa yang membuat klien puas bahwa mereka telah menerima perawatan yang baik;itu adalah kekuatan penyembuhan yang kuat untuk perawatan kesehatan yang berkualitas.Perawatan berkualitas adalah apa yang paling klien cari ketika mereka datang untuk mendapat layanan dari perawat, itu bisa terwujud hanya jika berasal dari perawat menyadari hanya ketika perawatan budaya berasal dikenal dan digunakan.

ASUMSI UTAMA

Asumsi utama untuk mendukung Teori Perawatan Budaya Leininger untuk Keanekaragaman dan mengikuti Universalitas .Definisi berasal dari karya Leininger ini menentukan pada teori (Leininger ini, 1991b, Leininger & McFarland, 2002a, 2005).

1. Care adalah esensi dari keperawatan dan fokus yang berbeda, dominan, pusat, dan pemersatu.

2. Perawatan budaya berdasarkan (peduli) sangat penting untuk kesejahteraan, kesehatan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup, dan menghadapi cacat atau kematian.

3. Perawatan budaya berdasarkan pada cara yang paling komprehensif dan holistik untuk mengetahui, menjelaskan, menafsirkan, dan memprediksi fenomena asuhan keperawatan dan untuk memandu keputusan dan tindakan keperawatan.

4. Keperawatan Transcultural adalah disiplin perawatan humanistik dan ilmiah dan profesi dengan tujuan utama untuk melayani individu, kelompok, komunitas, masyarakat, dan lembaga.

(40)

6. Budaya perawatan konsep, makna, ekspresi, pola, proses, dan bentuk-bentuk struktural perawatan bervariasi transculturally dengan keragaman (perbedaan) dan beberapa universalities (kesamaan).

7. Setiap kebudayaan manusia memiliki generik(Lay, folk, atau adat) pengetahuan perawatan dan praktek-praktek dan basanya pengetahuan perawatan profesional yang bervariasi transculturally dan individual.

8. Perawatan berdasarkan nilai-nilai budaya, kepercayaan, dan dipengaruhi oleh praktek dan cenderung tertanam didalam pandangan dunia, bahasa, filosofi, agama (dan spiritual), kekerabatan, sosial, politik, hukum, pendidikan, dan konteks lingkungan budaya.

9. Menguntungkan, sehat, dan memuaskan dalam perawatan berbasis budaya mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dalam konteks lingkungan mereka.

10. Budaya perawatan kongruen dan menguntungkan dapat terjadi hanya ketika nilai-nilai pelayanan, ekspresi, atau pola dikenal dan digunakan secara eksplisit untuk perawatan yang tepat, aman, dan bermakna.

11. Perbedaan perawatan budaya dan kesamaan yang ada antara perawatan generik profesional dan klien dalam budaya manusia di seluruh dunia.

12. Konflik budaya, praktik pemaksaan budaya, tekanan budaya, dan penyakit budaya mencerminkan kurangnya pengetahuan perawatan budaya dalam memberikan kongruen budaya, bertanggung jawab, aman, dan perawatan yang sensitif.

13. Metode penelitian kualitatif nilai budaya keperawatan memberikan sarana penting untuk menemukan dan menafsirkan emic dan etik tertanam, kompleks, dan beragam data budaya perawatan secara akurat. (Leininger, 1991b, pp. 44-45)

Universalitas perawatan mengungkapkan sifat umum manusia dan kemanusiaan, sedangkan keragaman perawatan mengungkapkan variabilitas dan dipilih, sifat unik dari manusia.

LANDASAN TEORITIS

(41)

1. Ekspresi perawatan budaya, makna, pola, dan praktik-praktik yang beragam, serta masih belum ada persamaan asuhan dari beberapa atribut-atribut universal

2. Pandangan dunia terdiri dari beberapa faktor struktur sosial, seperti agama, ekonomi, nilai-nilai budaya, etnohistori, konteks lingkungan, bahasa, dan perawatan generik yang profesional, yang berpengaruh penting terhadap pola asuh perawatan budaya untuk memprediksi kesehatan, kesejahteraan, penyakit, penyembuhan, dan cara-cara orang dalam menghadapi cacat dan kematian.

3. Etika perawatan secara umum dan profesional dalam konteks lingkungan yang berbeda sangat mempengaruhi hasil sehat dan sakit.

4. Dari analisis sebelumnya terdapat tiga tindakan utama yang dapat digunakan untuk memberikan intervensi perawatan budaya yang aman, kongruen dan bermakna terhadap kesehatan perawatan budaya. Tiga tindakan tersebut adalah: (1) Preservasi atau pemeliharaan perawatan budaya, (2) akomodasi atau negosiasi perawatan budaya, dan (3) Restrukturisasi budaya atau perbaikan perawatan budaya. Cara tindakan perawatan budaya tersebut diprediksikan sebagai faktor kunci untuk memperolehtindakan perawatan yang kongruen, aman dan bermakna.

Dalam teori konseptualisasi, pertama utama dan pusat teoritis prinsip itu, "keanekaragaman perawatan (perbedaan) dan universal (kesamaan) ada di antara dan antar budaya di dunia" (Leininger, 2002, hal.78). Namun, Leininger menegaskan bahwa makna perawatan budaya dan penggunaan harus ditemukan untuk membangun pengetahuan lintas budaya. Sebuah prinsip teoritis utama kedua adalah "(bahwa) pandangan dunia, faktor struktur sosial seperti agama, ekonomi, pendidikan, teknologi, politik, kekerabatan (sosial), etnohistori, lingkungan, bahasa, dan faktor perawatan generik dan profesional akan sangat mempengaruhi makna perawatan budaya, ekspresi, dan pola dalam budaya yang berbeda (Leininger, 2002, hal.78)

(42)

perawatan untuk klien yang mengarah pada kesehatan dan kesejahteraan mereka" (Leininger, 2002).

Keempat prinsip teoritis utama adalah konseptualisasi dari "tiga tindakan utama perawatan dan keputusan, untuk sampai pada perawatan kongruen budaya untuk kesehatan umum dan kesejahteraan klien, atau untuk membantu mereka menghadapi kematian atau cacat" (Leininger, 2002c, p. 78). Mode ini adalah perawatan pelestarian budaya atau pemeliharaan budaya; perawatan budaya akomodasi, negosiasi; dan Repatterning perawatan budaya atau restrukturisasi. peneliti mengacu pada penemuan dari struktur sosial, praktek umum dan profesional, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi sambil belajar perawatan berdasarkan budaya bagi individu, keluarga, dan kelompok. Faktor-faktor ini perlu dipelajari, dikaji dan ditanggapi dalam hubungan perawat klien yang dinamis dan partisipatif (Leininger 1991a, 1991b, 2002b; Leininger & McFarland, 2002a)

BENTUK LOGIS

Teori Leininger ( 1995c) berasal dari antropologi dan keperawatan tetapi dirumuskan untuk menjadi keperawatan transkultural dengan perspektif perawatan manusia. Dia mengembangkan metode penelitian ethnonursing dan telah menekankan pentingnya mempelajari orang-orang dari pengetahuan etnik atau lokal mereka dan pengalaman yang sesuai dengan etik (luar) keyakinan dan praktik mereka. Bukunya, Metode Penelitian Kualitatif dalam Keperawatan ( Leininger 1985a) dan publikasi (Leininger, 1990b, 1995c , 2002c) terkait memberikan pengetahuan substantif tentang metode kualitatif dalam keperawatan.

Dalam kata-katanya sendiri, Leininger terampil dalam menggunakan ethnonursing, etnografi, sejarah kehidupan, cerita kehidupan, fotografi, dan metode fenomenologis yang memberikan pendekatan holistik untuk mempelajari perilaku budaya dalam konteks lingkungan yang beragam. Dengan metode kualitatif, peneliti bergerak dengan orang-orang dalam kegiatan sehari-hari mereka untuk memahami kata-kata mereka.

(43)

pekerjaan mereka. dari awal, ethnonursing telah didasarkan terutama dalam data dari budaya yang diteliti, yang berbeda dari teori didasarkan dari Glasser dan Strauss (1967).

Meskipun metode lain penelitian seperti pengujian hipotesis dan metode kuantitatif eksperimental dapat digunakan perawatan transkultural, metode pilihan tergantung pada tujuan peneliti, tujuan penelitian, dan fenomena yang akan diteliti. kreativitas dan kemauan peneliti perawat menggunakan metode penelitian yang berbeda untuk menemukan pengetahuan keperawatan didorong. Namun, Leininger menyatakan bahwa metode kualitatif yang penting untuk membangun makna dan pengetahuan budaya akurat, metode kuantitatif secara umum telah nilai terbatas untuk mempelajari budaya dan peduli. menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif cenderung mengaburkan temuan dan merupakan penyalahgunaan dari kedua paradigma (Leininger, 1991b, 1995c)

Leininger mengembangkan sunrise enabler (gambar 22-1) pada 1970-an untuk menggambarkan komponen penting dari teori. dia telah disempurnakan matahari terbit hingga saat ini dan dengan demikian enabler berevolusi lebih definitif dan berharga untuk mempelajari secara akurat elemen beragam atau komponen teori dan membuat penilaian klinis kongruen budaya. enabler ini dan teori lengkap keanekaragaman perawatan budaya dan universalitas tidak sepenuhnya dibahas di sini. hanya ide sected ditawarkan untuk memperkenalkan pembaca untuk leiningerr karya perintis dan kreatif berkembang teori dari waktu ke waktu. matahari terbit enabler symbolixer terbitnya matahari (care) (Lininger, 199 1b, 1995c; Leininger Dan, Mcfarland, 2002a, 2005) bagian atas lingkaran menggambarkan komponen strukture sosial dan faktor wordview yang mempengaruhi perawatan dan kesehatan troung bahasa, etnihistory, Dan konteks evironmental. faktor-faktor ini juga mempengaruhi rakyat, profesional, dan sistem keperawatan (s), yang bersama-sama dari sinar matahari penuh, yang repreciate perawatan manusia dan kesehatan (Leininger, 1991b, 1995c, Leininger dan keperawatan bertindak sebagai jembatan antara flok (generik) dan . syestem profesional ada jenis perawatan dan keputusan dan tindakan yang diprediksi dalam teori: perawatan budaya presenvation Arakh atau pemeliharaan, accomodasianaccomodation perawatan budaya atau negosiasi, restrukturisasi perawatan budaya d reppattening ar (Lininger, 199 1b, 1995c; Leininger dan, Mcfarland , 2002a, 2005)

(44)

McFarland, 2002a, 2005).Jenis kelamin, ras, usia, dan kelas yang tertanam dalam faktor struktur sosial dan dipelajari.Biologis, emosional, dan lainnya dimensi yang dipelajari dari pandangan holistik dan tidak terpecah-pecah atau terpisah.Teori generasi dari model ini dapat terjadi pada berbagai tingkat dari berbagai mikro (individu tertentu skala kecil) atau untuk belajar kelompok, keluarga, masyarakat, atau fenomena skala besar (beberapa budaya).Leininger juga telah mengembangkan beberapa kemungkinan untuk memudahkan mempelajari fenomena menggunakan empat tahapan analisis data kualitatif.Yang paling penting, kriteria kualitatif digunakan untuk menganalisis data; kredibilitas mereka , konfirmabilitas, makna dalam konteks, saturasi, pengulangan, dan pengalihan (Leininger, 1995c, 2002c).kriteria kuantitatif tidak boleh digunakan dengan metode kualitatif, karena bekas memiliki kriteria khusus untuk mengukur hasil.

(45)

BUDAYA PERAWATAN Pandangan Dunia Budaya & Sosial Dimensi Struktur

Sosial & keluarga

Nilai budaya dan gaya hidup

Kebijakan dan peraturan

Agama & filosofi

Faktor ekonomi

Pengaruh

Perasaan peduli , Pola & Praktek

Faktor teknologi

Kesehatan holistik (kesejahteraan) Faktor pendidikan

Fokus: Individu, Keluarga, kelompok, komunitas, & Lembaga Dalam konteks kesehatan Beragam

Perawatan umum

Praktek perawatan Perawatan penyembuhan

keputusan perawatan dan peilaku

Budaya Perawatan Pelestarian/ pemeliharaa Budaya Perawatan Akomodasi / negosiasi Budaya Perawatan Repatterning / restrukturisasi

Budaya Perawatan kongruen Kesehatan & Kesejahteraan

(46)

Dukungan peserta observasi refleksi digunakan untuk memudahkan peneliti dalam memasuki dan tinggal dengan informan dalam penelitian yang mereka kenal. Penelitian secara bertahap bergerak dari peran mengamati dan mendengar, transisi dari peserta dan reflektor dengan informan. Dengan bergerak perlahan dan sopan dengan izin, Peneliti tidak mengganggu karena itu mampu mengamati apa yang terjadi secara alami di lingkungan atau dengan masyarakat.

Orang asing lebih mudah percaya kepada teman,penelitian oleh perawat menyangkut pengkajian mengenai diri sendiri dan masyarakat dan budaya yang dipelajari. Tujuan dari panduan ini adalah untuk menjadi teman terpercaya sebagai salah satu tindakan dari orang asing yang tidak dipercaya ke teman terpercaya dan sikap yang berbeda, perilaku, dan harapan dapat diidentifikasi. Proses ini sangat penting bagi peneliti untuk mudah dipercaya sehingga data yang didapat bedasarkan kejujuran, kredibel, dan mendalam dapat ditemukan dari informan.

Inti dari penyelidikan dapat digunakan oleh para perawat pada setiap studi dengan jelas yang berkembang pada area fokus yang diteliti. Domain penyelidikan adalah "tailor membuat pernyataan singkat terfokus langsung dan khusus pada perawatan budaya dan fenomena kesehatan" (Leininger, 2002c, p. 92), menyatakan pertanyaan atau ide yang berhubungan dengan fokus penelitian, tujuan, dan sasaran.

Penilaian kesehatan akulturasi enabler panduan penting lain yang digunakan dengan metode ini. Hal ini penting ketika mempelajari budaya untuk menilai sejauh mana acculturasi informan 'apakah mereka lebih "tradisional atau non-tradisional berorientasi pada nilai-nilai mereka, kepercayaan, dan jalan hidup yang ditempuh" (92 Leininger, 2002c, p.). enabler ini digunakan untuk kedua penilaian budaya dan studi penelitian ethnonursing.

PENERIMAAN DALAM BIDANG KEPERAWATAN

(47)

dan kebiasaan atau sebagai latar belakang pengetahuan untuk memahami fenomena keperawatan atau masalah keperawatan. Kedua, walaupun masyarakat memiliki budaya yang melekat, banyak klien yang enggan untuk menambah kesehatan personal untuk menemukan bagaimana kebutuhan budaya mereka dan sosial (Leininger, 1970, 1978, 1995c; Leininger & Mc Farland, 2002a). Ketiga, sampai diputuskan, artikel tentang keperawatan transkultural diusulkan untuk dipublikasikan editor sering menolak karena editor tidak tau nilai, atau memahami hubungan antara pengetahuan kebudayaan dengan keperawatan transkultural atau keuntungannya bagi keperawatan. Keempat, konsep perawatan hanya manarik sedikit minat dari perawat hingga akhir tahun 1970, ketika Leininger memulai mempromosikan pentingnya pelajaran keperawatan, memperoleh latar belakang pendidikan antropologi, dan memperoleh persiapan dalam keperawatan transkultural, penelitian, dan praktek. Kelima, Leininger berpendapat bahwa keperawatan cenderung tetap mempertahankan etnosentrisme dan jauh terlibat dalam arah pengobatan medis. Keenam, keperawatan terlalu lambat untuk membuat kemajuan yang substantif yang mengarah pada perkembangan yang membawa perubahan dalam pengetahuan. Karena banyak perawat yang meneliti untuk mendapatkan hasil kuantitatif daripada kualitatif. Penerimaan baru-baru ini dan menggunakan metode penelitian kualitatif di keperawatan akan menyediakan wawasan baru dan pengetahuan yang berhubungan dengan keperawatan dan keperawatan transkultural.

Perawat sekarang menyadari pentingnya keperawatan transkultural, perawatan manusia, dan metode kualitatif. Leininger (personal communication, April 2002) telah menyatakan :

(48)

Dunia menjadi lebih berkultur atas perbedaan, perawat akan menemukan kebutuhan yang penting untuk persiapan yang menyediakan perawatan bagus yang berkultur. Beberapa perawat sedang mengalami budaya shock, konflik, dan perselisihan ketika mereka berpindah sari satu area ke area yang lain dan dari pedesaan ke komunitas perkotaan tanpa persiapan perawatan transkultural. Sebagai konflik kultur yang muncul, keluarga kurang puas dengan perawatan dan pelayanan medis. (Leniger, 1991b). Perawat2 yang travel dan mencari pekerjaan ditanah asing sedang mengalami ketegangan kultur. Transkultural pendidikan perawatan telah menjadi bagian utama untuk semua perawat dunia. Sertifikasi transkultural perawat oleh masyarakat perawatan transkultural telah menyiapkan pelajaran pokok untuk melewati perlindungan publik dari ketidakamanan dan secara kultur tidak kompeten pelatihan perawatan. (Leniger, 199a,2001). Menurut, lebih dari beberapa perawat sedang mecari pendidikan transkultural untuk melindungi diri mereka sendiri dam juga pelanggan. Jurnal dari Perawatan Transkultural juga telah menyediakan penelitian dan secara pandangan teori lebih dari 100 budaya dunia untuk membimbing perawat transkultural didalam prakteknya.

Referensi

Dokumen terkait