• Tidak ada hasil yang ditemukan

Objek Ilmu dalam Perpektif Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Objek Ilmu dalam Perpektif Islam"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

OBJEK ILMU

DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Makalah untuk Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu

Oleh :

Aniq Darajat

FAKULTAS PASCASARCANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM

UNIVERSITAS IBNU KHALDUN BOGOR

(2)

Pendahuluan

Konsep ilmu dalam Islam sangatlah khas, menunujukkan bahwa tradisi ilmu dalam Islam sudah berkembang sejak awal turunnya Islam itu sendiri. Tradisi ilmu dalam Islam tidaklah mengekor peradaban sebelumnya (Yunani, Romawi atau Persia) dan tidak pula hasil sintesis dengan peradaban yang berkembang setelahnya.

Salah satu bukti yang menunjukkan kekhasan konsep Ilmu dalam Islam adalah pembahasan tentang objek ilmu. Dari pembahasan ini kita dapati bahwa terdapat perbedaan mendasar antara objek ilmu dalam Islam dengan konsep tentang objek ilmu dalam perspektif Barat.

Objek Ilmu dalam pandangan Ulama Islam

Untuk mengetahui perspektif Islam tentang objek ilmu, kita perlu merujuk kepada pandangan para ulama Islam tentang objek ilmu tersebut. Pemahaman tentang objek ilmu menurut para ulama Islam, dapat didekati dari penjelasan para ulama tersebut tentang hakikat ilmu dan sumber-sumbernya. Penjelasan mengenai hal ini umumnya terdapat dalam kitab-kitab ushul, para ulama menyebutnya dalam beberapa istilah: ushuluddin, ‘aqaid, ushulul fiqh.

Pembahasan tentang objek ilmu didahului tentang pandangan tentang realitas. Apa yang disebut realitas? Apakah realitas itu dapat diketahui atau tidak? Pertanyaan-pertanyaan telah dijawab dalam kitab-kitan klasik karya Ulama Islam

Pandangan Ulama Islam tentang Realitas Realitas dalam Pandangan Imam An Nasafy

(3)

Berkata Imam An Nasafy1:

“Para Ahlul Haq berkata: Hakikat dari segala sesuatu adalah pasti, dan ilmu tentangnya adalah benar ada, berbeda dengan pendapat Sufasthaiyyah (kaum Sophist)2.

Dan sebab-sebab ilmu bagi makhluk ada tiga: Indera yang sehat, Khabar Shadiq, dan Akal. Indra ada lima: pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba. Dengan setiap indera mengenali (objek) yang terkait dengannya seperti pendengaran (untuk mengenali suara), penciuman (untuk mengenali bau).

Khabar Shadiq terdiri dari dua jenis: pertama, khabar muatawatir, yakni khabar yang telah pasti pada lisan kaum yang tidak mungkin bagi mereka bersepakat atas kedustaan. Khabar ini berkonsekuensi adanya ilmu dharury3, seperti ilmu tentang kerajaan-kerajaan di masa lampau dan negeri-negeri yang ada. Kedua, khabar dari Rasul yang diperkuat dengan mu’jizat, dan ini menyebabkan adanya ilmu istidlaly, dan ilmu yang ditetapkan dengan hal ini menyerupai ilmu dharury dalam keyakinan dan kepastian.

Adapun akal, maka dia menjadi sebab ilmu pula. Dan apa yang ditetapkan olehnya maka bersifat dharury seperti ilmu bahwa segala sesuatu lebih besar ukurannya dari bagian-bagiannya, sedangkan hal-hal yang ditetapkan oleh akal berdasarkan istidlal, maka dia bersifat iktisaby

Realitas dalam Pandangan Syed Muhammad Naquib Al Attas

Muhammad Naquib Al Attas membagi keberadaan (eksistensi) objek, ke dalam beberapa tingkatan. Al Attas menyebutkan :

1 Belau adalah Imam Abu Hafsh Umar bin Muhammad An Nasafy Al Hanafi, wafat tahun 537 H. Lihat Sa’duddin At Taftazzany (722-791 H), Syarh al ‘Aqaid an Nasafiyah tahqiq Dr. Ahmad Hijazy (Cairo, Maktabah Kulliyyah Al Azhariyyah, 1408 H)

2 Di antara mereka ada yang mengingkari hakikat segala sesuatu, dan menyatakan bahwa itu semua adalah waham dan khayalan batil. Golongan ini disebut ‘inadiyah. Ada pula golongan yang mengingkari kepastian tentang keberadaan sesuatu, dan semua itu hanyalah mengkikuti keyakinan/persepsi semata, golongan ini disebut ‘indiyyah. Golongan ketiga mengingkari ilmu tentang hakikat sesuatu tapi tidak mengingkari hakikat tersebut. Mereka menganggap semua itu sebagai keraguan (syak). Golongan ini disebut laa adriyyah. Lihat Sa’duddin At Taftazzany (722-791 H), Syarh al ‘Aqaid an Nasafiyah tahqiq Dr. Ahmad Hijazy (Cairo, Maktabah Kulliyyah Al Azhariyyah, 1408 H)

3 Ilmu Dharury adalah ilmu yang didapat secara langsung, tanpa perlu melalui penalaran ataupun pendalilan. Sedangkan Ilmu yang hanya bisa didapatkan setelah melalui penalaran dan pendalilan disebut

(4)

“Eksistensi manusia dapat dipertimbangkan memiliki perbedaan tingkatan yang berhubungan dengan pelbagai lingkungan operasi dari indera eksternal dan internal. Hal tersebut merupakan:

1. Eksistensi Sejati (haqīqī), yang merupakan eksistensi pada tingkatan realitas objektif seperti dunia eksternal;

2. Eksistensi Inderawi (hissi), yang terkurung pada fakultas indera dan pengalaman inderawi termasuk mimpi, visi, ilusi;

3. Eksistensi Imajiner (khayāli), yang merupakan eksistensi objek-objek eksistensi inderawi dalam imajinasi ketika mereka absen dari persepsi manusia;

4. Eksistensi Intelektual (‘aqlī), yang terdiri dari konsep abstrak dalam pikiran manusia;

5. Eksistensi Analogis (shibhī), yang disusun oleh hal-hal yang tidak ada dalam tingkatan manapun seperti di atas, tetapi yang ada sebagai sesuatu yang lain menyerupai hal tersebut pada sisi tertentu, atau analogis dengan mereka. Tingkatan ini dapat juga dipertimbangkan berhubungan dengan lingkungan operasi dari fakultas diskursif dan kogitatif (fikri) dari jiwa. Pada setiap tingkatan tersebut persepsi manusia akan objek persepsinya tidaklah sama.

6. Dalam tambahan pada tingkatan tersebut kita mengafirmasi eksistensi tingkatan lain daripada kebenaran rasional; sebuah tingkatan eksistensi suprarasional atau transendental yang dialami oleh para nabi dan wali Tuhan dan orang-orang berpandangan tajam yang secara mendalam berakar dalam pengetahuan. Level yang terakhir ini merupakan tingkatan eksistensi suci, dimana hal-hal ditangkap sebagaimana adanya.

(5)

pada kondisi logis; dan haqq menunjuk sebuah putusan atau hukm yang menyesuaikan dengan realitas atau situasi sesungguhnya.”4

Dari beberapa pandangan ulama tentang realitas tersebut, kita dapati perbedaan yang sangat mencolok dengan konsep realitas dalam pandangan ilmuwan Barat setidaknya dalam dua hal pokok: Pertama, menurut para ulama seperti tersebut di atas bahwa realitas itu tetap adanya, tidak berubah, sehingga dapat diketahui oleh manusia. Singkatnya, manusia dapat menjangkau realitas. Sementara menurut pandangan Barat yang diwakili oleh kaum sophist realitas itu tidak dapat dijangkau oleh manusia, sehingga manusia tidak mungkin mencapai hakikat kebenaran.

Kedua menurut konsep Barat, realitas terbatas pada sesuatu yang dapat dijangkau oleh indera (empiris) atau terjangkau oleh akal (rasional). Di luar itu maka bukan realitas. Pendapat ini dibantah dengan pernyataan Al Attas di atas bahwa realitas meliputi segala yang terjaangkau dengan indera, akal, intusisi, maupun yang tidak terjangkau oleh ketiganya, yang hanya dapat dijangkau melalui khabar shadiq.

Objek ilmu dalam Al Qur’an dan Hadits

Untuk menelusuri lebih jauh pandangan Islam tentang objek ilmu, kita dapat menelusuri ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mengisyaratkan tentang hal tersebut, disertai penjelasan para ulama tentang makna ayat atau hadits tersebut yang dapat kita telususri dalam kitab-kitab tafsir dan syuruh hadits.

Klasifikasi tentang objek ilmu dalam Al Qur’an dan Hadits berdasarkan penjelasan Imam An Nasafy tentang sumber atau sebab-sebab ilmu yaitu:

A. Objek Ilmu yang terjangkau dengan khabar shadiq B. Objek Ilmu yang terjangkau melalui akal

C. Objek Ilmu yang terjangkau melalui indera

4 Al Attas, Syed Muhammad Naquib. Prolegomena to The Metaphysics of Science. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Kulalumpur 2001 M/1422 H. terjemahan e book di situs

(6)

A. Ilmu yang Hanya Didapatkan Melalui Khabar Shadiq

Beberapa objek ilmu yang hanya bisa diperoleh melalui khabar shadiq antara lain : 1. Allah

Allah tidak terjangkau oleh indra (penglihatan)5, sebagimana firman Allah dalam surah Al An’am ayat 103 :

   

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.

tetapi kita diperintahkan untuk mengilmui bahwa “Tidak ada Ilah kecuali Dia”

            

Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Ilmu harus ditetapkan dengan iqrar dan pengetahuan qalbu, dalam arti mengetahui apa yang dituntut untuk diketahui. Hal ini akan sempurna dengan mengamalkan konsekuensinya. Ilmu yang Allah perintahkan ini adalah Ilmu Tauhid yang

5 Para ulama ahlus sunnah sepakat, bahwa Allah tidak dapat dilihat oleh mata di dunia ini. Di akhirat, orang-orang mu’min akan melihat-Nya di jannah. Meski demikian, penglihatan (ru’yah) ini tidak dapat mencapai hakikat Allah (al idrak). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy menjelaskan dalam Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan : “Tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, karena keagungan-Nya,

kebesaran-Nya, dan kesempurnaan-Nya, artinya tidak terliputi oleh mata meskipun mata itu melihat-Nya, dan berbahagia karena dapat melihat wajah-Nya yang mulia (di jannah –pen). Dalam al idrak

(pencapaian) tidak menafikan adanya ru’yah (penglihatan). Ayat ini menafikan adanya idrak, yang merupakan sifat ru’yah yang paling khusus, menunjukkan bahwa ru’yah itu tetap adanya.

(7)

merupakan fardhu ‘ain bagi setiap manusia, tidak gugur (kewajiban itu) dari seorang pun, bagaimana pun keadaannya. Bahkan, setiap manusia harus mengilmuinya.6

2. Al Ghaib

     

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib7, yang mendirikan shalat, dan

menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: “Adapun Al ghaib, yang dimaksud di sini, maka telah terjadi perbedaan ungkapan para salaf tentangnya, dan semuanya benar kembali kepada semua yang menjadi maksudnya. Berkata Abu Ja’far Ar Razy, dari Rubai’ bin Anas dari Abul ‘Aliyah, tentang firman Allah “yu’minuna bil ghaib” dia berkata: “Beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, surga-Nya, neraka-Nya, perjumpaan dengan-Nya, beriman kepada kehidupan setelah kematian, kebangkitan, dan ini semuanya hal yang ghaib. Begitu pula inilah perkataan Qatadan bin Di’amah.

Berkata As Sudy dari Abu Malik dari Abu Shalih dari Ibnu ‘Abbas, dan dari Murrah al Hamdani dari Ibnu Mas’ud, dan dari sebagian sahabat Nabi , “Adapun yang ghaib adalah apa yang todak terlihat oleh hamba seperti surga, neraka, dan apa-apa yang disebutkan dalam Al Qur’an. Berkata Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Abu Muhammad dari Ikrimah atau Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, “beriman kepada yang ghaib artinya beriman kepada apa yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala”8

3. Berita tentang masa lalu dan masa depan

Dalam Surah Hud ayat 49, setelah menyampaikan kisah tentang Nuh, Allah berfirman:

6 As Sa’dy, Abdurrahman ibn Nashir. Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan dalam Mausu’ah Tafsiril Qur’anil Karim. www.islamspirit.com.

7 Dalam penjelasan Al Qur’an terjemahan DEPAG disebutkan : Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. percaya kepada yang ghaib yaitu, mengi'tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.

(8)

                 

Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Allah ta’ala berkata kepada nabi-Nya : kisah ini dan yang serupa dengannya adalah ‘termasuk berita-berita ghaib yang telah lalu yang Kami wahyukan kepadamu sebagaimana dia terjadi, seakan engkau menyaksikannya. ‘Kami wahyukan’ artinya kami ajarkan kepadamu dengan wahyu dari Kami kepadamu. Tidak ada ilmu tentang hal itu pada dirimu atau pada seorangpun dari kaummu. Bahkan orang-orang yang mendustakanmu berkata “Sesungguhnya engkau mempelajari itu darinya”. Tetapi Allah berikan khabar sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya, seperti yang disaksikan oleh kitab-kitab para Nabi sebelummu. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir)

4. Sebagian pengetahuan tentang ruh manusia Allah berfirman dalam Surah Al Isra’ ayat 85

        

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

(9)

tentangnya, dan Allah tidak tampakkan kepada kalian, sebagimana Allah tidak tampakkan kecuali sedikit saja dari ilmu-Nya.

Kemudian Imam Ibnu Katsir menyebutkan khilaf para ulama tentang apakah ruh itu sama dengan jiwa atau hal yang berbeda?9 Lalu beliau menyebutkan pengertian yang baik tentang ruh adalah bahwa ruh itu asal dari jiwa dan bahan penyusunnya. Dan jiwa tersusun dari ruh dan dari pertemuan ruh dengan badan.

5. Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’

Terlepas dari kandungan isinya yang juga memuat hal-hal yang telah disebutkan di atas, secara umum Al Qur’an dan As Sunnah juga merupakan objek ilmu. Sebagaimana disebutkn oleh Imam Asy Syafi’i : “Ahlus sunnah sepakat bahwa dalil yang mu’tabar (diakui validitasnya) secara syar’I ada empat: yaitu Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Berkata Imam Asy Syafi’I “dan Ilmu Khabar itu ada dalam Al Kitab, atau As Sunnah, atau Ijma’, atau Qiyas”

“Mereka bersepakat pula bahwa keempat dalil ini merujuk kepada satu dasar yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, karena keduanya merupakan kunci agama dan sendi-sendi Islam.”10

Allah subhananhu wa ta’ala menjelaskan kedudukan Al Qur’an dan As Sunnah, antara lain dalam ayat-ayat berikut:

























(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan

9 Meski para ulama berbeda pendapat perihal ruh dan jiwa (nafs), mereka menetapkan bahwa ruh itu dzat yang halus seperti udara, yang mengalir di badan seperti air mengalir di pembuluh pepohonan. Mereka juga menetapkan bahwa ruh yang ditiupkan oleh malaikat di janin adalah jiwa (nafs) dengan syarat dia bertemu dengan badan. Lalu dengan usahanya dia akan mendapatkan pujian atau celaan, apakah termasuk nafs muthmainnah atau nafs ammarah bis suu’. Lihat Abul Fida’ Ismail ibn Umar ibn Katsir (w. 773 H). Tafsir al Qur’an al ‘Azhim. Jum’iyyah Ihyaut Turats Al Islamy. Kuwait. Cet. 1421 H/2001 M

10 Al Jizany, Muhammad ibn Husain ibn Hasan. Ma’alim Ushulul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah.

Risalah doktoral di Universitas Islam Madinah 1427 H . dalam Mausu’ah Ushulul Fiqh.

(10)

penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).



























Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.



































Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Ijma’

Setelah Al Qur’an dan As Sunnah, Ijma’ juga menjadi dasar pengambilan hukum hal itu berarti ijma’ juga berfungsi sebagai ilmu yang tetap kebenarannya. Dasar hukum keabsahan ijma’ antara lain diebutkan dalam firman Allah taala:











































(11)

Sisi pendalilan dari ayat ini adalah bahwa Allah memberikan ancaman kepada orang yang mengikuti jalan selain jalan kaum mukminin, ini menunjukkan bahwa hal tersebut haram. Maka mengikuti jalan kaum mukminin adalah wajib, karena tidak ada jalan ketiga selain jalan kaum mukminin dan jalan selain kaum mukminin.11

Keabsahan ijma’ juga ditetapkan dengan hadits Rasulullah, di antaranya sabda beliau :

ةللض ىلع عمتجت ل يتمأ نإ

Sesungguhnya ummatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan

(H.R. Ibnu Majah dan ini adalah lafazh dari beliau, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Dalil-dalil di atas menunjukkan keabsahan ijma’ yang dibangun di atas dua pokok: 1. Wajibnya mengikuti jama’ah dan menetapinya serta haramnya memisahkan diri

dan menyelisihi jamaah

2. Terpeliharaanya umat ini dari (bersepakat) di atas kesalahan dan kesesatan. Dua pokok ini saling terkait satu sama lain, yaitu bahwa perkataan suatu ummat yang berijma’ tidak akan berkonsekuensi selain kebenaran. Dan terpeliharanya ummat dari kesesatan adalah terjadi pada perkataan seluruh umat (ijma’nya) bukan dari perkataan sebagian mereka.12

Ketika kita mendapati penukilan bahwa telah terjadi ijma’ tentang suatu perkara, maka perkara tersebut menjadi objek ilmu bagi kita.

B. Objek yang terjangkau oleh Akal

Dalam Al Qur’an, banyak sekali ayat yang menunjukkan objek-objek ilmu yang perlu dijangkau oleh akal manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

11 As Syafi’I, Muhammad ibn Idris. Ahkamul Qur’an dalam Al Jizany, Muhammad ibn Husain ibn Hasan.

Ma’alim Ushulul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Risalah doktoral di Universitas Islam Madinah 1427 H . dalam Mausu’ah Ushulul Fiqh. www.islamspirit.com

12 Al Jizany, Muhammad ibn Husain ibn Hasan. Ma’alim Ushulul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah.

(12)



































Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

































Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan tanda kebesaran-Nya berupa buah kurma dan anggur yang dapat diproduksi menjadi minuman yang memabukkan dan rizki yang baik. Maka akal manusia berperan untuk memikirkan tanda-tanda ini untuk memperoleh suatu ilmu. Ilmu yang dimaksud antara lain berupa keyakinan akan kebesaran Allah, kesempurnaan takdir dan rahmat-Nya. “Sungguh pada hal itu terdapat tanda bagi orang yang berakal (berfikir) tentang kesempurnaan takdir Allah, dimana Dia mengeluarkan buah-buah itu dari pohon yang serupa dengan kayu bakar, menjadi buah yang lezat, buah yang baik, dan dari kesempurnaan rahmatnya, Dia berikan semua itu secara umum kepada seluruh hamba-Nya, dan memudahkan bagi mereka. Sungguh Dia-lah yang Ilah yang disembah semata-mata, dan Dialah satu-satunya yang berhak untuk itu”.13

Objek-objek lain yang terjangkau oleh akal, namun tidak terjangkau oleh indera misalnya adalah konsep-konsep yang bersifat abstrak dalam imu matematika, fisika, atau kimia, atau bahkan ilmu sosial. Konsep ini didapatkan setelah melalui penelitian, observasi, pemikiran yang secara intens melibatkan akal manusia di dalamnya.

C. Objek yang terjangkau oleh Indera

(13)

Adapun objek ilmu yang terjangkau oleh indera, maka dapat diketahui dengan mudah, meliputi apa-apa yang dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, tercium oleh penciuman, dirasakan oleh lidah, dan disentuh oleh indera peraba.

Pengetahuan terkait dengan realitas yang terjangkau oleh indera ini ada juga yang bersifat dharury, dapat diketahui secara langsung, tanpa perlu pemikiran, seperti ilmu bahwa suku cadang sepeda pasti lebih kecil dari sepeda, dan seterusnya. Ada pula yang bersifat nazhary/iktisaby/istdidlaly, misalnya buah jeruk dengan bentuk dan warna yang sama, ada yang rasanya manis, ada yang agak manis, atau masam, dan sebagainya

Contoh realitas yang terjangkau oleh indera yang disebutkan dalam Al Qur’an antara lain:

a. Bumi yang gersang lalu diturunkan hujan menjadi subur dan bergerak (karena adanya tumbuhan)















































Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau Lihat bumi kering dan gersang, Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surah Fushshilat : 39)

b. Ada tanda-tanda kebesaran Allah yang terlihat di ufuq dan di dalam diri manusia









































(14)

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Surah Fushshilat : 53)

Epilog

Demikianlah sekelumit penjelasan tentang objek ilmu dalam perspektif Islam. Dari satu sisi ini saja kita telah dapati perbedaan mendasar antara konsep ilmu dalam pandangan Barat dengan konsep ilmu Islam. Belum lagi dari sisi lain seperti definisi ilmu, sumber ilmu, cara memperoleh ilmu, hirarki dan klasifikasi ilmu, bahkan motivasi (niat) dan adab dalam menuntut ilmu.

Tentu menjadi tidak wajar, melihat perbedaan yang sedemikian mendasar, umat Islam mengekor atau membiarkan dirinya terjajah oleh konsep ilmu Barat. Umat Islam harus menggali sendiri konsep ilmunya yang telah dijelaskan secara luas dalam khazanah karya tulis ulama terdahulu. Dari konsep ilmu yang jelas dan gamblang tersebut, umat Islam dapat membangun peradabannya secara merdeka, bebas dari rasa minder atau terjajah oleh konsep yang diusung oleh peradaban Barat.

Referensi

Dokumen terkait

bangunan--bangunan hidraulik (termasuk bangunan hidraulik (termasuk bangunan di sungai), sedemikian hingga bangunan di sungai), sedemikian hingga kerusakan yang dapat

Guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik melalui pembelajaran PKn yang dibuktikan dengan

Hasil obVHUYDVL \DQJ GLODNXNDQ ROHK SHQHOLWL SDGD KDUL MXP¶DW WDQJJDO agustus 2016 pada pukul 22:00 sampai 01:00 di salah satu rumah warga bernama BH, peneliti melihat remaja

Berikut ini adalah latihan yang dapat Anda lakukan untuk me­ ningkatkan kemampuan mata dan meningkatkan kekuatan ingat­ an saat membaca.. Dalam kotak persegi panjang

However, Bitcoin the currency deserves a chance. Satoshi Nakamoto, whoever that is, created something that is sheer genius. And in turn, those who continue to build on

Telah berhasil dibuat sistem pendukung keputusan untuk penentuan daerah pencemaran limbah berbasis SIG yang mampu berjalan dengan baik dan dapat membantu dalam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ko-kemoterapi fraksi etil asetat akar pasak bumi dan Doxorubicin terhadap aktivitas proliferasi sel dengan metode

Adapun jenis PLA yang umum digunakan adalah poly (L-Lactic acid) (PLLA) sebagai bahan biodegradable yang mempunyai sifat mekanik yang bagus dan sifat biokompatibiliti yang