• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KELUARGA dan id. ppt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN KELUARGA dan id. ppt"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

III. Hukum Kekeluargaan

 Hukum yg mengatur tentang hubungan-2

hukum yg timbul dari hubungan

kekeluargaan,yaitu perkawinan beserta

hubungan dalam lapangan hukum kekayaan antara suami istri, hubungan orang tua dan anak, perwalian, dan curatele

 Keluarga, merupakan satuan masyarakat

(2)

3.1. Hubungan

Kekeluargaan

 Karena hubungan perkawinan ( Hubungan

Semenda )

 Hubungan pertalian darah ( Ketunggalan

Leluhur )

1. Hubungan darah garis lurus ke atas ( Leluhur ) 2. Hubungan darah garis lurus ke bawah

(Keturunan )

(3)

Arti Pentingnya Hubungan

Darah

Berkaitan dengan perkawinan

Berkaitan dengan pewarisan

(4)

Sistem Garis Keturunan

Sistem Patrilineal;

Sistem Matrilineal

Sistem Bilateral / Parental

(5)

Sistem Patrilineal

Garis keturunan mengikuti garis laki-laki atau ayah

 Dalam perkawinan ayah lebih berperan  Kekuasaan orang tua lebih diutamakan

pada ayah dari pada ibu

 Dalam pewarisan bagi laki-laki selalu

lebih besar

 Dalam perwalian garis laki-laki lebih

diutamakan.

(6)

Sistem Matrilineal

 Keturunan mengikuti garis keturunan ibu / wanita  Suami mengikuti garis keturunan istri

 Kekuasaan orang tua,saudara laki-laki istri

mempunyai kekuasaan utama terhadap anak-anak

 Dalam pewarisan , saudara laki-laki istri berperan sebagai mamak kepala waris

 Dalam perwalian,saudara laki-laki istri lebih berperan sebagai wali terhadap anak

kemenakannya

(7)

Sistem Bilateral / Parental

 Garis keturunan mengikuti garis ayah dan ibu

 Kedudukan suami istri seimbang

 Kekuasaan orang tua dilakukan secara

bersama-sama

 Dalam warisan ada kecenderungan sama

 Suami / istri dapat menjadi wali dari

(8)

Sistem Bilineal atau Dubbel-Unilateral

Dalam sistem ini adalah dengan

memperhitungkan hubungan

kekerabatan melalui garis pria saja

untuk sejumlah hak dan kewajiban

tertentu,demikian pula melalui

(9)

Sistem UUP No 1 / 1974 menganut

Sistem Bilateral

 Dalam perkawinan, dalam hal anak belum berusia 21

tahun akan melangsungkan perkawinan harus mendapat ijin dari kedua orang tuanya ( Pasal 6 ayat 2 UUP )

 Kekuasaan orang Tua, kedua orang tua wajib untuk

mendidik dan memelihara anak-2 dengan baik ( Pasal 45 ayat 1 UUP )

 Kekuasaan dalam harta, adanya harta bersama

selama perkawinan dikuasai bersama ( Pasal 35 ayat 1 )

 Perwalian, sedapat mungkin diambil dari keluarga

(10)
(11)

Pasal 251

Sahnya anak yang dilahirkan sebelum hari ke 180 dari perkawinan, dapat diingkari oleh suami, kecuali:

1°. bila sebelum perkawinan suami telah mengetahui kehamilan itu;

2°. bila pada pembuatan akta kelahiran dia hadir, dan akta ini ditandatangani olehnya, atau memuat suatu keterangan darinya yang berisi bahwa dia tidak dapat menandatanganinya;

(12)

Pasal 252

 Suami tidak dapat mengingkari

keabsahan anak, hanya bila dia dapat membuktikan bahwa sejak hari ke 300 dan ke 180 hari sebelum lahirnya anak itu, dia telah berada dalam keadaan

tidak mungkin untuk mengadakan

hubungan jasmaniah dengan isterinya, baik karena keadaan terpisah maupun karena sesuatu yang kebetulan saja.

(13)

Pasal 253

Suami tidak dapat mengingkari

keabsahan anak atas dasar

perzinaan, kecuali bila kelahiran

anak telah dirahasiakan

terhadapnya, dalam hal itu, dia

(14)

Pasal 254

• Dia dapat mengingkari keabsahan seorang anak, yang dilahirkan 300 hari setelah

putusan pisah meja dan ranjang memperoleh kekuatan hukum yang pasti, tanpa

mengurangi hak isterinya untuk

mengemukakan peristiwa-peristiwa yang

cocok kiranya untuk menjadikan bukti bahwa suaminya adalah bapak anak itu.

• Bila pengingkaran itu telah dinyatakan sah, perdamaian antara suami isteri itu tidak

(15)

Pasal 255

 Anak yang dilahirkan 300 hari setelah

bubarnya perkawinan adalah tidak sah. Bila kedua orangtua seorang anak yang dilahirkan tiga ratus hari setelah

putusnya perkawinan kawin kembali satu sama lain, si anak tidak dapat

memperoleh kedudukan anak sah selain dengan cara yang sesuai dengan

(16)

Pasal 256

Dalam hal-hal yang diatur dalam Pasal-pasal 251,252,253, dan 254, pengingkaran keabsahan anak harus dilakukan suami dalam waktu satu bulan, bila dia berada di tempat kelahiran anak itu, atau di sekitar itu; dalam waktu dua bulan setelah dia kembali, bila dia telah tidak berada di situ; dalam waktu dua bulan setelah diketahuinya

penipuan, bila kelahiran anak itu telah disembunyikan

terhadapnya. Semua akta yang dibuat di luar Pengadilan, yang berisi pengingkaran suami, tidak mempunyai

kekuatan hukum, bila dalam dua bulan tidak diikuti oleh suatu tuntutan di muka Hakim. Bila suami, setelah

melakukan pengingkaran dengan akta dibuat di luar Pengadilan, meninggal dunia dalam jangka waktu

(17)

Pasal 256

 Pengingkaran keabsahan anak harus

dilakukan suami dalam waktu satu bulan, bila dia berada

di tempat kelahiran anak itu, atau di sekitar itu;

dalam waktu dua bulan setelah dia kembali, bila dia telah tidak berada di situ;

dalam waktu dua bulan setelah diketahuinya penipuan, bila kelahiran anak itu telah

(18)

Lanjutan Pasal 256

Semua akta yang dibuat di luar Pengadilan, yang berisi pengingkaran suami, tidak

mempunyai kekuatan hukum, bila dalam dua bulan tidak diikuti oleh suatu tuntutan di muka Hakim. Bila suami, setelah

melakukan pengingkaran dengan akta

dibuat di luar Pengadilan, meninggal dunia dalam jangka waktu tersebut di atas, maka bagi para ahli warisnya terbuka jangka

(19)

Pasal 257

Tuntutan hukum yang

diajukan oleh suami itu gugur

bila para ahli waris tidak

(20)

Pasal 260

Semua gugatan untuk

mengingkari keabsahan seorang

anak harus ditujukan kepada

wali yang secara khusus

diperbantukan kepada anak itu,

dan ibunya harus dipanggil

(21)

Pasal 261

Asal keturunan anak-anak sah

dibuktikan dengan akta-akta

kelahiran yang didaftarkan

dalam daftar-daftar Catatan Sipil.

Bila tidak ada akta demikian,

cukuplah bila seorang anak telah

mempunyai kedudukan tak

(22)

Pasal 263

Tiada seorang pun dapat

menyandarkan diri pada kedudukan

yang bertentangan dengan

kedudukan yang nyata dinikmatinya

dan sesuai dengan akta kelahirannya,

dan sebaliknya tiada seorang pun

(23)

Pasal 272

 Anak di luar kawin, kecuali yang

dilahirkan dari perzinaan atau penodaan darah, disahkan oleh perkawinan yang menyusul dari bapak dan ibu mereka, bila sebelum melakukan perkawinan mereka telah melakukan pengakuan

secara sah terhadap anak itu, atau bila pengakuan itu terjadi dalam akta

(24)

Pasal 274

 Bila orangtua, sebelum atau pada waktu

melakukan perkawinan telah lalai untuk

 mengakui anak di luar kawin, kelalaian

mereka ini dapat diperbaiki dengan

 surat pengesahan dari Presiden, yang

diberikan setelah mendengar nasihat

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa semua sampel minyak dalam keadaan cair pada suhu ruang (±27ºC) namun ketika pada suhu rendah (±5ºC) terjadi perubahan fase pada beberapa

Tampilan aplikasi dummy tps dengan pesan dari server Dari uji coba pada gambar 5.9 dapat dilihat bahwa pengiriman data dengan memanfaatkan sessionID yang telah

Dengan menggunakan metode dekomposisi nilai singular (tereduksi), da- pat dibuat taksiran terhadap matriks tersebut, sehingga matriks yang dihasilkan da- pat merepresentasikan

Pada pertandingan sebelumnya team bola voley Putra Plipiran kecamatan Bruno menempati posisi ke 3 setelah menang WO atas team bola voley Yon Infanteri mekanik 412

Dalam penelitian ini, data yang akan dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi mengenai tim kreatif dari program Wayang 975 di Motion Radio,

Hasil perhitungan analisis B/C Ratio (B/CR) yang dilakukan terhadap pengusahaan kayu bulat HPHTI menunjukkan bahwa dengan menggunakan tingkat bunga efektif sebesar 5,19%,

6) Ibu Rice Novita, S.Kom, M.Kom dan Ibu Zarnelly S.Kom, M.Sc selaku pembimbing akademik dan seluruh dosen beserta karyawan Fakultas Sains dan Teknologi, khususnya Program

bahwa berdasarkan hal tersebut di atas, PARA PIHAK sepakat untuk mengikatkan diri dalam Kesepakatan Bersama tentang Kerja Sama Pengawasan Obat dan Makanan, dengan ketentuan