Ditulis oleh :
Peran Strategis Pemerintah Dalam Menggaet Investor Asing guna Mempercepat Pembangunan Program Tol Laut”
… Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya.., bangsa pelaut dalam arti yang seluas-luasnya. Bukan sekedar menjadi jongos-jongos di kapal, Bukan! Tetapi bangsa laut dalam arti cakrawati samudera. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.” – Soekarno, 1953
“Kalau suatu negara seperti Amerika mau menguasai samudera dan dunia, dia mesti rebut Indonesia terlebih dahulu untuk sendi kekuasaan”. – Tan Malaka
Diatas adalah kutipan perkataan dari para tokoh-tokoh Indonesia terdahulu, dari hal tersebut dapat diketahui betapa pentingnya arti laut bagi bangsa Indonesia. Didukung dengan fakta-fakta tentang laut di Indonesia sebagai berikut:
1. 90% ekspor-impor Indonesia melalui jalur laut. 2. 75% cadangan migas Indonesia berada di laut.
3. Panjang garis laut Indonesia adalah 95.181 km atau hampir 25% dari total panjang garis laut dunia dan luas laut 5,8 juta km2 atau sekitar 2/3 dari luas wilayah
Indonesia.
4. Wilayah perairan Indonesia terdiri dari Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) 2,7 juta km2
dan wilayah laut teritorial 3,1 juta km2.
5. Demikian luasnya laut Indonesia, ternyata mampu menyerap sekitar 44% dari seluruh jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfer.
6. Potensi sumberdaya perikanan tangkap 6,4 juta ton per tahun.
Sementara pertanyaannya adalah sudahkah pemerintah kita membangun sarana dan fasilitas yang mumpuni untuk dapat memanfaatkan potensi kemaritiman yang ada dalam rangka mencapai tujuan rakyat yang makmur dan sejahtera?
Dalam pemerintahan yang dipimpin Jokowi-JK pada periode 2014-2019 ini telah kita ketahui bahwa yang menjadi prioritas adalah bidang kemaritimannya dan salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan dibangunnya program “tol laut”.
Tol laut sendiri adalah konsep pengangkutan logistik kelautan yang dicetuskan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Program ini bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di nusantara. Dengan adanya hubungan antara pelabuhan-pelabuhan laut ini, maka dapat diciptakan kelancaran distribusi barang hingga ke daerah pelosok.
Untuk mewujudkan hal itu tentunya dibutuhkan 2 komponen penting yaitu kapal sebagai alat transpotasi yang mengangkut dan mendistribusikan barang-barang logistik dan pelabuhan sebagai tempat berlabuhnya kapal kapal tersebut.
1. Kapal
Dalam hal ini kapal merupakan salah satu bagian yang cukup penting. Jika barang diangkut dengan kapal antar pulau yang bobotnya 1000 ton, biayanya akan menjadi beberapa kali lipat lebih mahal, jika dibandingkan dengan diangkut kapal yang bobotnya 50.000 DWT yang mampu mengangkut lebih dari 3.000-4.000 kontainer sekaligus.
Maka diperlukan kapal-kapal besar untuk menekan biaya pendistribusian barang-barang logistik ke seluruh pelosok negeri ini. Untuk pelayaran luar negeri, Indonesia juga masih mengandalkan kapal asing untuk angkutan barang jarak jauh hingga ke Eropa. Guna mengarungi samudera untuk mengangkut barang dalam jumlah yang sangat besar, dibutuhkan kapal dengan bobot mati minimal 100.000 DWT. Sedangkan kemampuan Indonesia, baru memproduksi dan memiliki kapal-kapal dengan bobot tak lebih dari 50.000 DWT. Kapal berbobot 50.000 DWT pun baru dalam tahap produksi oleh PT PAL.
yang cukup dangkal sehingga kapal-kapal besar tidak mampu merapat untuk melakukan bongkar muat karena semakin besar kapal maka semakin besar sarat kapal itu.
2. Pelabuhan
Dengan infrastruktur pelabuhan dan penyeberangan yang memadai dan terkelola dengan manjemen yang efisien, maka nantinya arus barang dan jasa, akan lebih baik. Langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mewujudkan gagasan tersebut mulai disampaikan dan publik mulai terbuka pemahamannya.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas telah mendesain konsep tol laut yang dicetuskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan 24 pelabuhan. Pelabuhan sebanyak itu terbagi atas pelabuhan yang menjadi hubungan internasional, pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul.
Sebanyak 24 pelabuhan itu, antara lain, Pelabuhan Banda Aceh, Belawan, Kuala Tanjung, Dumai, Batam, Padang, Panjang dan Pangkal Pinang.
Selanjutnya, Pelabuhan Tanjung Priok, Cilacap, Tanjung Perak, Lombok, Kupang, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Maloy, Makassar, Bitung, Halmahera, Ambon, Sorong, Merauke, dan Jayapura. Dalam hal ini hanya Pelabuhan Kuala Tanjung, Bitung, dan Sorong yang baru akan dibangun. Sedangkan sisanya hanya perluasan atau pengembangan.
Dari 24 pelabuhan itu terbagi dua hubungan internasional, yaitu Kuala Tanjung dan Bitung yang akan menjadi ruang tamu bagi kapal-kapal asing dari berbagai negara. Selanjutnya pemerintah menyiapkan 6 pelabuhan utama yang dapat dilalui kapal-kapal besar berbobot 3.000 hingga 10.000 TeUS. Enam pelabuhan itu adalah Pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, dan Sorong.
Nantinya, pelabuhan utama akan menjadi jalur utama atau tol laut. Sedangkan 24 pelabuhan dari Belawan sampai Jayapura disebut pelabuhan pengumpul. Sebanyak 24 pelabuhan tersebut merupakan bagian dari 110 pelabuhan milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) yang dikelola oleh Satuan Kerja Perhubungan, Provinsi dan lainnya.. Sementara total pelabuhan di tanah air sekitar 1.230 pelabuhan.
Dalam RPJMN 2015-2019 pembangunan proyek tol laut dan segala prasarananya ini membutuhkan dana hingga 900 T. Adapun rincian alokasi dananya adalah sebagai berikut: APBN Rp 498 triliun, BUMN Rp 238,2 triliun dan swasta sebesar Rp 163,8 triliun yang didalamnya sudah termasuk pengadaan kapal untuk tol laut tersebut sektar Rp 100 triliun sampai Rp 150 triliun
Sumber : http://bem.its.ac.id/sebuah-sudut-pandang-apa-kabar-tol-laut/
Publik masih menanti implementasi dari rencana-rencana itu karena diakui atau tidak belum banyak yang bisa diperbuat pemerintah saat ini mengingat baru sekitar setahun bekerja. Apalagi untuk mengimplementasikan sebuah gagasan atau program, harus dihadapkan pada koordinasi antar-kementerian dan pemahaman, komitmen serta konsistensi para pemegang kebijakan. Di sisi lain, anggaran merupakan salah satu komponen terpenting dalam pembangunan infrasruktur.
tol laut semakin mudah. Pemerintah seharusnya memperhatikan beberapa hal untuk mendorong minat investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia seperti:
1. Meningkatkan Infrastuktur
Telah kita ketahui bersama bahwa infrastuktur di Indonesia sangatlah buruk. Kita ambil contoh Jakarta sebagai jantung bisnis Indonesia yang masih akrab dengan kemacetan dan banjir serta beberapa masalah lainnya, hal ini akan menyebabkan para investor asing untuk berpikir dua kali karena hal-hal tersebut akan menyebabkan terganggunya mobilitas mereka dan kurang efisiennya kerja mereka. Hal ini pula yang menyebabkan daya saing dan daya tarik investasi di Indonesia masih rendah. Disamping itu masih ada masalah moda trasnportasi di Indonesia yang belum cukup memadai, seperti halnya sulitnya akses untuk mencapai daerah pelosok di Indonesia. Semakin meratanya pembangunan infrastuktur di Indonesia maka semakin merata pula peluang penanaman modal oleh investor asing di berbagai daerah di Indonesia.
2. Pemberdayaan masyarakat lokal
Apresiasi pemerintah terhadap hasil/karya masyarakat masih memang masih jauh dari kata pantas. Dengan cara meberdayakan masyarakat dengan industri komoditi dibidang pertanian dan perkebunan dengan cara penyuluhan cara bertanam yang baik untuk memperoleh bibit unggul dibidang-bidang tersebut, kemudian negara menghargai masyrakat tadi dengan pemberian insentif ataupun upah terhadap pekerjaannnya. Hal ini akan menyebabkan penanam modal yaitu pihak investor asing akan berlomba-lomba menanamkan modalnya terhadap hasil pertanian, perkebunan dan perdagangan di Indonesia karena terdapat iklim bisnis positif di masyarakat Indonesia.
3. Membangun kebijakan investasi yang lebih ramah
Pemerintah Indonesia telah terkenal dengan kebijakan administrasi yang membuat orang asing sulit berinvestasi di Indonesia. Seperti beberapa tahun kemarin pemerintah mengularkan peraturan daftar investasi negative, yaitu sebuah peraturan yang menjelaskan apa yang bisa dan tidak bisa dimiliki orang asing di Indonesia. Didalam peraturan itu pemerintah melarang orang asing untuk berinvestasi dalam toko retail yang menjual elektronik, sepatu, tekstil, mainan, dan makanan. Hal ini akan menyulitkan perusahaan asing seperti IKEA yang berencana melakukan ekspansi di Indonesia.