PILIHAN HUKUM 1. Istilah-istilah Pilihan Hukum
Pilihan Hukum merupakan salah satu ajaran tersendiri di bidang teori umum HPI.pilihan hukum ini juga merupakan suatu ajaran yang penting,karena menyinggung salah satu pokok persoalan utama dari seluruh hukum perdata,yaitu arti dari pada kehendak manusia untuk bidang hukum.jadi,persoalan pilihan hukum dalam HPI memperlihatkan unsur-unsur falsafah hukum,di samping itu mengandung segi-segi teori hukum,praktek hukum dan politik hukum.
2. Hubungan Pilihan Hukum dengan Ketertiban Umum
Pilihan Hukum mempunyai hubungan erat dengan masalah ketertiban umum serta persoalan yang termasuk di bidang teori-teori umum HPI dengan penyelundupan hukum,renvoi,kwalifikasi.
Ketertiban Umum merupakan suatu yang dapat menghentikan diberlakukannya hukum asing.ketertiban umum ini juga merupakan pemakaian otonomi para pihak secara terlampau leluasa.ketertiban umum menjaga bahwa hukum yang telah di pilih oleh para pihak adalah tidak bertentangan dengan sendi-sendi asasi dalam hukum dan masyarakat lainnya.
3. Hubungan Pilihan Hukum dengan Penyelundupan Hukum
Ada hubungan yang jelas antara pennyelundupan hukum dengan pilihan hukum. Pada penyelundupan hukum,individu mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah dibuat olehnya sendiri. Pada pilihan hukum tidak diadakan pilihan antara : “Mengikuti Undang-Undang atau mengikuti jurusan yang telah dibuatnya sendiri “.
Pada Pilihan hukum jalan yang di tempuh ialah memilih di antara stelsel-stelsel hukum yang berlaku bagi Negara-negara yang bersangkutan.pada Penyelundupan hukum ada satu proses yang dinamakan “unechte Rechtswahl”(pilihan hukum yang tidak
sebenarnya).
sedangkan pilihan hukum dinamakan “echte Rechtswahl”(Titik-titik pertalian bersifat obyektif).titik-titik pertalian bersifat obyektif,seperti : kewarganegaraan (lex
partriae),domisili(lex domicilie),tempat letaknya benda (lex rei sitae),tempat kontrak dilangsungkan (lex loci contractus) dan sebagainya.
Pilihan hukum harus dilakukan secara bonafide(tidak ada khusus memilih suatu tempat tertentu untuk maksud menyelundupkan peraturan-peraturan lain).
4. Renvoi dan Pilihan Hukum
Jika telah dipilih suatu sistem hukum tertentu,maka ini berarti bahwa yang dipilih ada hukum intern dari Negara itu. Misalnya,memilih hukum intern Jerman,dan bukan HPI Jerman yang dimaksudkan oleh pihak ini. (hal.168-173)
Ada 4 macam pilihan hukum yang dikenal dalam pembacaan HPI,yakni :
(1) Pilihan Hukum secara tegas atau dengan sedemikian banyak perkataan (uitdrukkelijk met zovele woorden );
(2) Pilihan Hukum secara diam-diam (stilzwijgend ); (3) Pilihan Hukum secara dianggap (vermoedelijk );
(4) Pilihan Hukum secara hipotetis (hypothetische Partijwil ).
1) Pilihan Hukum Secara Tegas
Dalam hubungan ini,kita teringat pada keberatan-keberatan dari pada kalangan pedagang-pedagang Jerman terhadap Konvensi Jual Beli Internasional yang seperti diketahui mereka mengedepankan prinsip pilihan hukum ini. Menurut pedagang Jerman masalah hukum ini,terutama berkenaan dengan perdagangan dengan Negara-negara berkembang. Menurut pengalaman pedagang-pedagang jerman secara statistic terbukti bahwa hanya 2% dari pada kontrak-kontrak Internasional telah menjelma menjadi sengketa. Dalam 98% kontrak-kontrak ternyata sama sekali tidak sampai orang menjadi berperkara.
Oleh karena itu,maka untuk tidak terjadinya pembatalan kontrak mereka menggunakan praktek pilihan hukum.timbulnya perselisihan diantara pedagang tersebut.maka persoalan mereka akan diadili secara arbitrase menurut ketentuan-ketentuan dari International Chamber of Commerce (I.C.C.) di Paris. Dengan demikian secara dengan sendirinya sudah tertarik persoalan ini dari Hakim Nasional Negara berkembang dan juga hukum yang akan di pakai oleh badan arbitrase.ini merupakan hukum dari Negara-negara nasional itu.
2) Pilihan Hukum Secara Diam-Diam
Dalam hal ini, para pihak mengenai hukum yang mereka kehendaki adalah dari sikap mereka dan isi dari bentuk perjanjian.antara lain,misalnya : jika para pihak memilih domisili di kantor Pengadilan Negeri tempat di Negara X,maka dapat ditarik kesimpulan dari hal ini bahwa yang di kehendaki oleh para pihak secara diam-diam adalah supaya hukum dari Negara X itulah yang berlaku. Dari contoh-contoh HATAH intern Indonesia dalam HAG di Indonesia kita melihat bahwa pilihan hukum secara diam-diam seringkali terjadi.
Contoh-contoh yurisprudensi ini sudah kita singgung waktu membicarakan masalah titik taut primer dan titik taut sekunder pada HAG.misalnya Landraad Padang tahun 1930.telah
menentukan bahwa untuk kontrak jual beli,sewa mobil antara perusahaan Eropa dan seorang Indonesia golongan pribumi(Godok gelar Datoek Radja Manteri),harus dipakai hukum Eropa karena semua syarat-syarat (bedingen) yang tercantum dalam kontrak bersangkutan didasarkan atas hukum Eropa. (hal.173-179)
Dalam HATAH Intern Indonesia,dikenal lembaga penundukan hukum secara dianggap ini. Berkenaan dengan lembaga penundukan sukarela kepada hukum perdata Eropa (Regeling op de vrijwilige onderwerping,S.1917,no.12). menurut peraturan tersebut ada 4 macam penundukan sukarela :
(I) Seluruhnya (algeheel)
(II) Untuk sebagian (gedeeltelijk)
(III) Untuk perbuatan tertentu (voor een bapaalde rechtshandeling),dan (IV) Penundukan secara dianggap (veronderstelde onderwerping).
4) Pilihan Hukum secara hypothetisch
Pilihan hukum secara hypothetisch ini dikenal terutama di Jerman. Sebenarnya disini tidak ada satu kemauan dari pihak untuk memilih.hakim lah yang melakukan pilihan hukum ini secara hypothetisch.
Pilihan hukum dapat dibagi menjadi 2,yaitu :
Pilihan Hukum Alternatip
Para pihak dapat menentukan bahwa dua atau lebih system hukum secara alternatip berlaku untuk perjanjian.misalnya menentukan bahwa hukum domisili dari pihak kesatu atau pihak lainnya yang berlaku hingga tergugat dapat mempergunakan hukum tempat domisilinya.
Pilihan Hukum Selektip
Dalam hal ini hukum yang harus diperlakukan ditentukan oleh keadaan-keadaan HATAH intern dari Negara yang system hukumnya telah dipilih. Persoalan-persoalan HPI yang menyangkut sistem hukum dari negara yang beristim complex harus diselesaikan dengan mempergunakan kaidah-kaidah HATAH intern dari negara yang bersangkutan.
Hal 209
Konsep the proper law of contract ini sebenarnya bertitik tolak dari anggapan dasar bahwa setiap aspek dari sebuah kontrak dari sebuah kontrak pasti terbentuk berdasarkan sistem hukum walaupun tidak tertutup kemungkinan bahwa aspek dari suatu kontrak diatur oleh sistem hukum yang berbeda.
Asas-asas tentang penentuan “The proper law of contract”
Titik taut sekunder menjadi indikator untuk menentuka the proper law of contract a) Asas lex loci contractus
Berdasarkan asas ini “the proper of contract” adalah hukum dari tempat pembuatan kontrak. Tempat dimana dilaksanakannya tindakan terakhir yang dibutuhkan untuk terbentuknya kesepakatan.
b) Asas lex loci solutionis
Asas lex loci solutionis adalah hukum dari tempat pelaksanaan perjanjian. Asas ini mengangap bahwa” the proper law of contract” adalah lex loci solutionis ini sebenarnya merupakan variasi dari penerapan locus regid actum. Dalam perkembangannya ternyata asa lex loci sulotionis tidak selalu memberikan jalan keluar yang memuaskan. Karena itu dalam praktek, tidak ditutup kemungkinan untuk menundukan bagian-bagian kontrak pada sistem hukum yang berbeda, tetapi hal semacam itu tampaknya akan menyulitkan pengadilan untuk menyelesaikan perkara.
c) Asas kebebasan para pihak