• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK BUDIDAYA IKAN LELE DI KABUPATEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROSPEK BUDIDAYA IKAN LELE DI KABUPATEN"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Vol. 1, No. 2, 2013 ISSN 2338-7165

Jurnal Agribisnis dan Penyuluhan

DEWAN REDAKSI

Ketua

Nurul Huda Anggota Pepi Rospina

Sri Harijati Ida Malati Sajadi

Diarsi Eka Yani Jan Hotman

Mulyadi Zairulsyah

Alamat

Pusat Keilmuan - LPPM Universitas Terbuka, Jalan Cabe Raya, Ciputat, Tangerang, 15418, Indonesia

(3)

Vol. 1, No. 2, 2013 ISSN 2338-7165

Jurnal Agribisnis dan Penyuluhan

PENGARUH FAKTOR SOSIAL TERHADAP USAHATANI BUNGA MELATI (JASMINUM SAMBAC) DI KELURAHAN AIR PUTIH, KECAMATAN SAMARINDA ULU, KOTA SAMARINDA

186 - 194

YUSNITA TOURISIA

PERTUMBUHAN UDANG PUTIH(LITOPENAEUS VANNAMEI) DAN PARAMETER KUALITAS AIR PENDUKUNG

194 - 213 ZIHAN ADI SAPUTRA

PROSPEK BUDIDAYA IKAN LELE DI KABUPATEN BANGKA MELALUI MEDIA BUDIDAYA WARING DAN KOLAM TERPAL

213 - 223 MUHAMMAD YUSUF

PENGARUH PELATIHAN DINAMIKA

KELOMPOK TERHADAP PENINGKATAN KERJA SAMA KELOMPOK TANI DALAM

MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KARET (HAVEA BRASILIENSIS) DI DESA PERDAMAIAN KECAMATAN SINGKUT KABUPATEN

SAROLANGUN

223 - 244

S A R A N A

PENGARUH SOSIAL EKONOMI PETANI

TERHADAP PEMAKAIAN PUPUK BUATAN PADA TANAMAN JERUK KEPROK (CITRUS NOBILUS)

244 - 256 YULMAIDA

STUDI DIVERSIFIKASI USAHA TERNAK SAPI POTONG DENGAN TANAMAN KARET DI DESA TELUK KETAPANG KECAMATAN PEMAYUNG KABUPATEN BATANGHARI

256 - 272

(4)

PENGARUH FAKTOR SOSIAL TERHADAP USAHATANI BUNGA MELATI (Jasminum sambac)

DI KELURAHAN AIR PUTIH, KECAMATAN SAMARINDA ULU,

KOTA SAMARINDA

OLEH : YUSNITA TOURISIA NIM : 015617617

EMAIL : [email protected]

ABSTRAK

Pengembangan usahatani melati mempunyai prospek yang cerah mengingat permintaannya yang selalu meningkat. Kenyataan tersebut tidak ditunjang dengan produksi melati yang memadai. Selain itu adanya fluktuasi harga yang tidak menentu membuat petani melati enggan untuk melaksanakan usahatani melati secara intensif. Sampai saat ini usahatani melati masih dikerjakan secara tradisional tanpa adanya introduksi teknologi apapun, sehingga adanya peluang tersebut belum tertangani dengan memadai.

Dengan alasan tersebut maka dilakukan pengkajian sisten usahatani melati di Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda. Tujuan pengkajian ini adalah memperoleh informasi tentang pengaruh social pada usahatani melati di Kelurahan Air Putih.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi bunga melati di Kelurahan Air Putih sebanyak 350 takar/ha/bulan. Tingkat R/C ratio yang dicapai sebesar 0,55, dan keuntungan yang diperoleh petani melati adalah sebesar Rp.1.175.000,- per bulan .

(5)

I. PENDAHULUAN

Dalam usaha pembangunan ekonomi nasional, sektor pertanian mendapat prioritas utama karena sektor ini ditinjau dari berbagai segi memang merupakan sektor dominan dalam perekonomian nasional, misalnya kontribusinya dalam pendapatan nasional, peranannya dalam pemberian lapangan kerja pada penduduk yang bertambah dengan cepat dan kontibusi dalam penghasilan devisa Negara (Mubyarto, 1994).Orientasi pembangunan pertanian di negara kita menurut Satraatmadja (1985), sudah bukan saatnya lagi diarahkan pada satu macam komoditi tertentu saja, tetapi juga pada komoditi lainnya, misalnya tanaman sayur-sayuran, buah-buahan dan tanaman bunga-bungaan yang termasuk sebagai tanaman hortikultura.

Tanaman hias dan hasilnya berupa bunga termasuk kelompok komoditas hortikultura yang mempunyai prospek cerah bila dikembangkan secara intensif dan komersil. Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis flora, salah satunya adalah bunga melati. Melati adalah jenis bunga berwarna putih yang berukuran relatif kecil dan mengeluarkan bau wangi yang khas. Kegunaan melati sangat beragam antara lain sebagai bahan rangkaian bunga, untuk tanaman hias, sebagai minyak atsiri yang digunakan dalam industri kosmetik, minuman, minyak wangi, minyak rambut dan sebagai obat (Radi,1997).

(6)

air putih terletak di Kecamatan Samarinda Ulu dengan luas wilayah 200,15 ha dengan jumlah penduduk sebesar 19.215 jiwa dengan 5.115 KK dan merupakan salah satu sentra produksi melati yang masih aktif dan terbesar khususnya di Kelurahan Air Putih Samarinda Ulu.

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : menambah pengetahuan bagi peneliti tentang manfaat dan budidaya bunga melati yang memiliki banyak kegunaan dalam kehidupan sehari hari dan memberi informasi tentang usahatani melati agar dinas terkait dapat mengambil kebijakan tepat guna peningkatan dan perbaikan taraf hidup petani.

.

II. METODOLOGI PENELITIAN

1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan yaitu bulan April 2013 dengan lokasi penelitian di Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu.

2. Metode Pengumpulan Data dan sampel

Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder, yaitu :.

a. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan langsung ke lokasi penelitian dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun sesuai dengan tujuan dari penelitian ini.

b. Data sekunder diperoleh dari petugas Penyuluh Lapangan (PPL) setempat, instansi terkait seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur, dan Badan Pusat Statistik Kota Samarinda serta perpustakaan dalam penelusuran kepustakaan yang menunjang penelitian ini

(7)

melati. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif untuk memberikan gambaran nyata pengaruh sosial terhadap usahatani melati.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Dampak Sosial Budidaya Melati

Kegiatan usahatani bunga melati di Kelurahan Air Putih dilakukan secara turun temurun, dimana lingkungan tempat tinggal responden merupakan lingkungan orang orang yang berprofesi sebagai petani bunga melati yang dalam kesehariannya mereka langsung membantu orang tua bekerja menjalankan usahataninya

Rata-rata usia responden dari laki-laki berumur 40 tahun dan dari wanita berumur 25-35 tahun. Tingkat pendidikan petani responden rata rata lulusan SD dan SLTP. Status pengerjaan lahan adalah lahan milik sendiri dan dikelola berdasarkan management keluarga, sehingga seluruh tenaga kerja yang mengelola perkebunan melati di Kelurahan Air Putih adalah anggota keluarga (terutama wanita dan anak-anak), Jarak rumah dari tempat usahatani melati relatif dekat berada dipekarangan rumah.

Rata rata produksi per petani melati antara 1 2 kg per hari. Tujuan penjualan petani semuanya kepada para pengepul setempat dan ke tradisional di Kota Samarinda, yaitu : pasar pagi, pasar segiri. Jarak dari sentra tanaman melati di Kelurahan Air Putih dengan pasar sekitar 3 4 km.

Produksi bunga melati sangat dipengaruhi oleh musim, pada musim kemarau produksi bunga akan menurun. Hal ini karena pembungaan sangat dipengaruhi oleh kelembaban yang tinggi dan tersediaanya air untuk menstimulir pertumbuhan tunas vegetative, karena bunga melati muncul pada setiap pucuk tunas yang tumbuh. Sehingga pertumbuhan tunas baru berkorelasi positif dengan pembentukan bakal bunga. Sedangkan pada musim penghujan produksi bunga melati sangat meningkat dibandingkan dengan musim penghujan.

Permintaan bunga melati di pasaran sangat dipengaruhi oleh tingkat permintaan pasar dan kebutuhan pesanan personal, seperti penghias pengantin atau acara-acara tertentu. Demikian juga pada permintaan lainnya akan mengalami peningkatan pada kondisi tertentu, seperti pada bulan Maulid, hari raya besar keagamaan .Dengan demikian, pada musim pengantin dan hari besar agama harga bunga melati akan meningkat.

(8)

untuk bunga melati yang sudah mekar, sedangkan bunga melati yang masih kuncup harganya Rp.7.500 / takar. Takaran yang digunakan adalah bekas tempat sabun colek kecil.

Kendala dalam usahatani melati sendiri yaitu masih sulitnya penanganan serangan hama ulat,oleh karena itu perlu adanya penyuluhan teknologi pertanian terbaru dari instansi terkait untuk pemecahan masalah ini. Kegiatan usahatani melati sendiri sangat membantu dalam perekonomian keluarga petani karena tanaman melati bisa dipanen setiap saat sehingga dapat menghasilkan uang tunai setiap hari

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pengaruh faktor-faktor sosial terhadap usahatani melati dikelurahan Air Putih Kota Samarinda sangat signifikan dalam menentukan besar kecilnya hasil pendapatan petani dari usahatani tersebut.

B. Analisis Usahatani Melati

Komponen untuk perhitungan analisis pendapatan usahatani melati di Kelurahan Air Putih ditampilkan pada Tabel 1. Pada analisa biaya dan pendapatan usahatani melati mempunyai nilai R/C ration kurang dari 1, yaitu 0.55. Artinya pada satu satuan biaya yang dikeluarkan maka belum dapat diperoleh keuntungan, bahkan tercermin kerugian dari nilai R/C yang lebih kecil dari 1.

Tabel 1. Analisis Pendapatan Usahatani Melati (dikonversikan per hektar) di Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda

N o Uraian Jumlah Harga (RP)

1 Pupuk Urea 100 kg 350.000

2 Pupuk SP-36 100 kg 350.000

3 Pestisida 3 botol 150.000

4 Penyiraman 5 HOH 500.000

5 Penyemprotan 2 HOK 100.000

6 Panen 5 HOK 250.000

7 Total biaya Produksi 1.450.000

8 Produksi 350 takar/bln

9 Penerimaan 2.625.000 1.175.000

(9)

Analisis biaya dan pendapatan tersebut dilakukan setelah pengkajian dimana harga melati pada saat tersebut berada pada posisi yang tinggi Rp 7.500,-. Pada penghitungan analisis usahatani dengan patokan harga tersebut di atas petani mengalami keuntungan pada usahatani melati. Usahatani melati di Kelurahan Air Putih pada luasan tersebut di atas tetap menuai keuntungan, sehingga petani pengusahaan tanaman melati tetap diteruskan. Semua petani melati memiliki pekerjaan sampingan lainnya seperti tukang kayu, pedagang kelontongan, dan lain-lain. Sehingga usahataninya tetap dilakukan oleh petani. Mereka tidak pernah memperhitungkan harga tenaga yang selama ini dicurahkan untuk usahatani melati.

Dengan harga jual bunga melati Rp.7.500 tersebut pada perhitungan analisis usahatani diatas, maka diperoleh perkiraan nilai R/C adalah 13,09. Sebuah nilai R/C yang mengindikasikan keuntungan yang berlipat ganda. Hal tersebut membuktikan bahwa usahatani melati mempunyai prospek yang cerah untuk ditangani secara serius.

Harga bunga melati segar yang sangat fluktuatif tersebut dapat digunakan untuk menentukan strategi pengembangan usahatani melati. Penerapan teknologi anjuran akan sangat menguntungkan apabila aplikasinya dilakukan dengan memperhitungkan bulan dimana permintaan melati mempunyai harga tertinggi. Pada saat permintaan pasar menurun, usahatani lebih ditekankan untuk pemeliharaan tanaman menggunakan rakitan teknologi petani. Mengacu pada hasil pengkajian, penerapan rakitan teknologi anjuran paling tidak dilakukan 4 bulan sebelum bulan dengan harga tinggi. Misal bulan Syawal diperhitungkan akan banyak permintaan melati, penerapan rakitan teknologi anjuran dapat dilakukan mulai 4 bulan sebelum bulan Syawal. Begitu juga halnya dengan bulan-bulan dengan harga tinggi lainnya.

(10)

IV. KESIMPULAN

A. Kesimpulan

1. Pengaruh faktor sosial terhadap usahatani bunga melati sangat berpengaruh dalam hasil produksi.

2. Keadaan usahatani melati dikelurahan air Putih dapat menopang perekonomian petani melati di Kelurahan tersebut sehingga mempunyai prospek untuk dikembangkan baik dengan ekstensifikasi maupun intensifikasi.

3. Kegiatan agribisnis melati sangat potensial untuk pengembangan sumberdaya wanita baik dalam budidaya,panen,pemasaran hingga kegiatan merangkai bunga untaian cukup besar.

B. Saran

(11)

1. Budidaya tanaman melati perlu ditunjang oleh teknologi maju untuk meningkatkan mutu bunga agar bernilai jual tinggi dipasaran.

2. Perlu adanya Promosi untuk menanam melati baik dipekarangan rumah ataupun dalam pot mengingat bunga melati sebagai puspa bangsa,bunga unggulan nasional. 3. Dinas terkait perlu membantu petani dalam kemitraan agar lebih mudah dalam

pemasaran hasil.

DAFTAR PUSTAKA

Adriano, T. T., dan I. Novo. 2004.pedoman praktis budidaya tanaman hias

berbunga indah.Yogyakarta : Absolut.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Kota Samarinda.2012.Statistik usahatani melati Kota Samarinda 2012.Samarinda.

Rukmana, R. 1997.usahatani melati.Yogyakarta : Kanisius.

(12)
(13)

KARYA ILMIAH

PERTUMBUHAN UDANG PUTIH(litopenaeus

vannamei) DAN PARAMETER KUALITAS AIR

PENDUKUNG

Oleh :

NAMA : ZIHAN ADI SAPUTRA NIM : 017369148

Program Studi : 77/ PKP-Perikanan Email : [email protected]

(14)

BANDAR LAMPUNG

20 13

ABSTRAK

Metode PengamataMetode pengamatan menggunakan studi kasus melakukan pengumplan data sejumlah unit atau satuan individu dalam waktu yang bersamaan dan merata sehingga menghasilkan gambaran umum dari contoh yang diamati(Muhamad, 1991). Kasus yang diamati yaitu pertumuhan udang putih(litopenaeus vannamei) terhadap parameter pendukungnya.analisi data menggunakan statistik deskriftif. Statistik deskriftif adalah statistik yang tingkat pengerjaannya mencakup cara-cara pengumpulan, menyusun atau mengatur, mengelolah, menyajikan dan menganalisa data angka agar dapat yang memberikan gambaran yang teratur,ringkas dan jelas mengenai keadaan peristiwa atau gejala tertentu sehingga dapat ditarik pengertiaan atau makna teretentu(wirawan,2001).

Tingkat pertumbuhan L. vannamei dipengaruhi oleh 2 faktor :

1. Frekuensi Molting

2. Kenaikan angka pertumbuhan (angka pertumbuhan per kali molting).

(15)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penysun panjatkan atas kehadirat Alla SWT, karena dengan hidayah dan rahamt-Nya jualah penyusun dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.

Karaya ilmiah ini diuat berdasarkan syarat kelulusan bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan. Dalam karya ilmiah ini , kami akan mencoba menyampaikan uraian kegiatan yang dilakukan, hasil dari kegiatan dan permasalahan yang ditemukan dan juga saran yang mungkin dapat kami sampaikan dalam karaya ilmiah ini.

Dalam penyusunan karya ilmiah ini dibantu oleh para petani tambak plasma Blok 04 Jalur 86-87 PT. Wachyuni Mandira dan Aquaculture Division wilyah 04 Bravo khususnya Mudul 44 PT. Wachyuni Mandira dan pihak-pihak lain yang banyak membantu yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Maka dari itu, Penyusun ucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah ini.

(16)

melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua dan semoga karay ilmiah ini dapat bermanfaat. A min

Penyusun

Zihan Adi Saputra BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Marked demand (permintaan pasar) terhadap komoditas perikanan, khususnya udang semakin meningkat baik dipasar domestic maupun internasiaonal (Amri. 2003). Hal ini terbukti dengan adanya produksi udang dibeberapa Negara melalui budidaya secara intensif. Pada tahun 2000 produksi udang mencapai angka 249.000 ton dan terus mengalami peningkatan 2001,2002, dan 2003 yaitu sebanyak 325.000 ton, 379.000 ton, dan 531.000 ton (global shrimp outlook, 2003 dalam haliman dan dian adi jaya,2005). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan suatu usaha budidaya secara intensif dengan berbagai macam teknologi dan manajemen pakan agar tetap menghasilkan pertumbuhan udang yang normal.

1.2.Tinjauan Pustaka

1.2.1. Biologi Udang Putih(litopenaeus vannamei)

(17)

Adijaya, 2005) :

Kingdom : Animalia

Subkingdom : Metazoa

Filum : Arthropoda

Subfilum : Crustacea

Kelas : Malacostraca

Subkelas : Eumalacostraca

Superordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Subordo : Dendrobrachiata

Famili : Penaeidae

Genus : Litopenaeus

Spesies : Litopenaeus Vannamei

1.2.2. Standar Kualitas Air Untuk Pertubuhan Udnag Putih( litopenaeus vannamei)

no Parameter Pagi standar siang

1 pH 7,5-8,0 8,0-8,5

2 DO ≥4ppm ≥ 6ppm

3 Suhu 28-300

c

4 Kecerahan 30-60cm

5 TAN <2,0ppm

6 NH3 < 0,01

7 TVC < 2,2 x 103 CFU/ml

8 Alkalinitas ≥ 80 ppm

(18)

10 Plankton Chlorophyta, diatom : 50-90% Dinoflagelata,BGA :< 5% Zooplankton : < 10%

1.3. Deskripsi Lokasi dan Waktu Praktik Kerja Lapangan

Pengamatan karya ilmiah ini dilaksanakan di wilayah Plasma Pond Blok 4 B module 44 jalur 86 dan 87 PT. Wachyuni Mandira, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Lokasi Pengamatan karya ilmiah tersebut merupakan tempat usaha pembesaran udang putih (

Litopenaeus vannamei) dengan sistim module base, yaitu sistim budidaya udang secara terpadu

dengan penerapan biosecurity dalam sebuah module. Pengamatan karya ilmiah dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan, dimulai dari tanggal 27 februari 2013 sampai dengan 24 april 2013.

1.4.Tujuan Pengamatan

Tujuan dilaksanakannya Penulisan Karya ilmiah bagi mahasiswa adalah:

1. Untuk lebih mengetahui, memahami serta dapat menggunakan alat-alat dan perlengkapan dalam budidaya udang.

2. Untuk lebih mengetahui dan memahami laju pertumbuhan udang, khususnya udang putih (Litopenaeus vannamei Bone).

3. Untuk lebih memahami dan mengetahui faktor pendukung pertumbuhan udang.

(19)

BAB II METODE

2.1. Metode Pengamatan

(20)

2.1.1. Prosedur sampling udang putih(litopenaeus vannamei)

Prosedur sampling :

Menyiapkan alat-alat sampling a.

Mencuci jala dan alat sampling yang lain dengan larutan desinfektan. b.

Menyediakan air tambak dalam ember untuk penampungan udang. c.

Melakukan penjalaan hingga mendapatkan udang sebanyak minimal 100 ekor. (Bila untuk d.

memenuhi jumlah tersebut penjalaan harus dilakukan lebih dari satu kali, maka lakukan penjalaan di tempat yang berbeda).

Udang dilepaskan dari jala dab dimasukkan ke ember penampung. e.

Memasukkan udang ke kantong strimin. f.

Menimbang udang bersama kantongnya. g.

Menghitung jumlah udang sambil mengamati kondisi ketidaknormalan udang (terutama tail h.

rot, white spot, molting) kemudian kembalikan udang ke tambak.

Melakukan pencatatan kondisi abnormal udang yang paling menonjol. i.

Menimbang kantong strimin. j.

Menghitung ABW udang dengan rumus: k.

Menghitung ADG dengan rumus : a.

ADG =

ABWt

1

-ABWt

2

t

2

t

1

Keterangan:

− t1 : DOC pada saat sampling.

− t2: DOC sampling seblumnya.

(21)

− Pakan per hari didapat dari data satu hari sebelumnya.

− Asumsi semua dalam kondisi normal.

2.1.2. Prosedur Sampel Parameter Kualits Air Prosedur pengambilan sample air :

a. Siapkan botol 5 ml

b. Siapkan tongkat pengambilan sample

c. Ikat botol sample pada tongkat sample ambil air pada kedalaman 20cm d. Siapkan pH meter

(22)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Pengamatan

3.1.1. Data Utama Data hasil sampling

No Alamat tambak

ABW ADG

Tanggal sampling 2013

27/2 6/3 13/3 20/3 27/3 3/4 10/4 17/4 24/4 1/5 Doc

28

Doc 35

Doc 42

Doc 49

Doc 56

Doc 63

Doc 70

Doc 77

Doc 84

(23)

1 04.86.01 2.60 4.00 5.56 5.63 7.00 8.39 11.18 11.74 14.19 16.13 0.17 2 04.86.02 2.50 3.85 5.00 6.10 8.00 10.00 11.52 13.23 15.09 17.24 0.18 3 04.86.03 2.50 3.93 4.80 5.33 8.26 10.40 12.29 13.50 15.94 17.50 0.19 4 04.86.04 2.50 3.93 5.00 5.11 7.20 9.09 11.11 13.09 13.57 15.15 0.16 5 04.86.06 2.50 3.93 4.62 5.60 7.20 8.82 10.80 11.43 13.70 14.55 0.16 6 04.86.07 2.69 4.23 5.26 6.57 8.42 10.00 11.39 13.00 15.38 16.39 0.18 7 04.86.08 2.65 3.82 4.76 6.33 8.38 10.00 11.48 13.14 14.71 17.24 0.18 8 04.86.09 2.73 4.32 5.56 6.80 8.86 10.87 12.14 13.37 15.38 17.54 0.18 9 04.86.10 2.61 3.91 5.36 6.40 8.40 10.29 12.60 13.17 14.71 16.67 0.18 10 04.86.11 2.78 3.89 4.55 6.67 8.50 10.00 12.20 13.44 15.63 17.24 0.19 11 04.86.12 2.73 4.00 5.56 6.90 8.81 10.50 12.40 14.29 16.51 17.86 0.20 12 04.86.13 2.50 3.89 5.00 6.45 8.11 10.00 11.67 13.33 14.93 16.39 0.18 13 04.86.14 2.61 3.94 5.19 6.64 8.33 10.33 12.00 13.78 15.63 16.39 0.19 14 04.86.15 2.63 4.00 5.45 6.52 8.47 10.33 11.36 14.07 16.95 0.20 15 04.86.17 2.61 3.91 5.26 6.92 8.93 11.11 12.99 14.29 16.13 0.19 16 04.86.18 2.61 3.96 5.56 6.95 7.35 9.26 11.69 13.51 15.15 0.18 17 04.86.23 2.50 4.00 5.36 5.40 8.93 9.41 11.20 13.00 14.18 16.57 0.17 18 04.86.26 2.63 4.14 5.45 5.50 7.86 10.00 12.00 13.02 15.47 0.18 19 04.87.01 2.63 4.07 5.00 6.17 7.60 10.00 11.30 13.16 14.46 16.13 0.17 20 04.87.02 2.61 3.97 5.10 6.67 8.40 10.00 11.76 13.49 15.00 17.24 0.18 21 04.87.03 2.78 4.19 4.72 6.40 8.27 10.00 11.72 13.08 14.74 16.17 0.18 22 04.87.04 2.78 4.17 4.44 6.60 8.50 10.00 11.11 13.59 14.52 16.02 0.17 23 04.87.05 2.50 4.00 5.00 6.80 8.75 10.96 12.00 14.09 16.15 17.07 0.19 24 04.87.06 2.50 4.00 4.80 6.90 8.61 10.90 12.00 14.06 15.21 16.97 0.18 25 04.87.07 2.50 3.93 4.00 6.00 8.20 9.82 12.10 13.06 14.29 16.19 0.17 26 04.87.12 2.67 4.07 4.44 6.50 8.04 9.71 12.22 13.33 15.09 16.13 0.18 27 04.87.13 2.63 4.00 4.62 6.33 8.37 10.40 11.95 13.40 15.15 0.18 28 04.87.16 2.78 4.19 5.00 6.50 9.11 11.46 13.08 14.93 16.20 0.19 29 04.87.18 2.73 4.14 4.44 6.20 8.39 10.42 12.13 14.29 16.13 17.86 0.19 30 04.87.19 3.13 4.52 5.00 6.40 8.93 11.20 12.67 14.29 16.22 0.19

* dalam gram(gr)

3.1.2. Data Penunjang

3.2. Pembahasan

3.2.1. Pertumbuhan Udang Putih(Litopenaeus Vannamei)

Tingkat pertumbuhan L. vannamei dipengaruhi oleh 2 faktor :

1. Frekuensi Molting

(24)

Karakteristik Pertumbuhan L. vannamei :

Tumbuh sgt cepat mencapai MBW 20 gr, naik 3 gr/minggu pd. kepadatan tinggi (100 ekor/m2).

Udang betina tumbuh lebih cepat dari udang jantan.

Setelah 20 gr pertumbuhannya lambat, hanya naik 1 gr/minggu.

Tahan terhadap kisaran salinitas yang luas (2 - 40 ppt), tetapi pertumbuhan akan lebih cepat pada salinitas rendah.

Rasa udang dapat dipengaruhi oleh salinitas. Udang yang tumbuh pada salinitas tinggi mempunyai kandungan asam amino bebas lebih tinggi dalam dagingnya yang memungkinkan rasanya lebih manis.

Suhu yang optimum adalah 2330 0C

3.2.2. Parameter Kualitas Air Pendukung Untuk Pertumbuhan Udang

a. Transparansi dan Warna Air

Parameter kualitas air ini merupakan pencerminan dari jenis dan kepadatan plankton yang ada. Kepadatan plankton dapat diperkirakan dengan mengukur kecerahan air. Kecerahan yang optimum dalam budidaya udang adalah 40-60 cm (Boyd, 1989). Inti dari pengelolaan parameter ini adalah agar tiap perubahannya dapat diikuti dan diantisipasi agar tidak terjadi stres pada udang yang dibudidayakan, sebagai akibat dari terjadinya blooming plankton dan atau didominansi oleh jenis-jenis plankton yang merugikan seperti; Blue Green

Algae dan Dinoflagelata. Blooming plankton menandakan bahwa perairan tersebut didominansi

(25)

b. pH (Potential Hydrogen/Derajat Keasaman)

Dalam budiaya udang, kita menginginkan agar nilai pH perairan tambak adalah sama atau mendekati sama dengan nilai pH tubuh udang. Hal ini ditujukan agar udang tidak mengalami stres dalam menyesuaikan pH tubuh dengan lingkungannya. Kita harus menjaga kisaran pH perairan tambak berkisar antara 7,5 8,5 (Suyanto dan Mujiman, 1999). Jika nilai pH perairan tambak berada di bawah kisaran yang distandarkan, maka kita harus menaikkan nilai pH tersebut dengan cara pemberian kapur, demikian sebaliknya jika pH perairan tinggi, kita turunkan misalnya dengan cara pemberian saponin aktif. Pengukuran pH dilakukan setiap 5 hari sekali, pagi dan siang. Jika pH air diluar standar yang ditentukan, akan berdampak pada metabolisme udang, nafsu makan turun, bahkan sampai dengan kematian.

c. DO (Disolved Oxygen / Oksigen Terlarut)

Mengelola DO menjadi sangat penting karena DO merupakan salah satu faktor kunci dalam budidaya udang. Kandungan DO pagi hari dalam budidaya udang distandarkan harus di atas 4 ppm, dan siang hari di atas 6 ppm (PT. WM, 2008). Mengelola kandungan DO dalam perairan tambak sangat erat hubungannya dengan jumlah dan jenis phytoplankton, jumlah dan kondisi

aerator yang ada, biomass udang, banyak sedikitnya bahan organik dalam tambak, aktivitas

(26)

menjadi terhambat. Resiko terbesar dalam kegagalan mengelola parameter ini adalah udang mati massal karena haemocyanin udang tidak bisa membawa oksigen yang cukup untuk diedarkan ke seluruh tubuh.

d. Salinitas (Kadar Garam).

Salinitas lingkungan yang optimal (15-30 ppt) dibutuhkan udang untuk menjaga kandungan air dalam tubuhnya (terutama sel tubuh) agar dapat melangsungkan proses metabolisme dengan baik. Dinding sel bersifat semipermeable. Jika kadar garam dalam sel lebih tinggi dari lingkungannya, maka air dari lingkungan akan masuk ke dalam sel. Demikian sebaliknya jika kadar garam lingkungannya lebih besar dari sel tubuh, maka cairan dalam sel akan tertarik keluar sehinggan udang akan mengeluarkan banyak energi untuk mempertahankan cairan dalam tubuhnya. Untuk itu perlu menjaga kadar garam perairan tambak, terutama jika terlalu tinggi. Kadar garam yang optimal bagi pertumbuhan udang vannamei adalah berkisar antara 15 25 ppt (Boyd, 1989). Hal yang dapat kita lakukan jika kadar garam perairan tambak terlalu tinggi adalah dengan lebih sering mengganti air.

Selain seperti yang telah dijelaskan dalam diskripsi di atas, nilai salinitas yang tinggi akan membuat frekuensi molting udang menjadi lebih panjang, yang berakibat pertumbuhan udang menjadi lambat.

e. Suhu (Temperatur)

(27)

Pengukuran suhu dilakukan tiap 5 hari sekali, pagi dan siang. Jika suhu perairan rendah (< 28 0 C), maka nafsu makan udang melambat karena proses metabolismenya terhambat.

f. Total Ammonia Nitrogen (TAN)

Pengukuran TAN bertujuan untuk mengetahui kandungan ammoniak dalam tambak sebagai sisa hasil metabolisme udang, plankton mati, input bahan organik serta sisa pakan yang tidak terurai. Kadar TAN maksimal dalam tambak adalah 2 ppm. Jika nilai TAN tinggi, berarti sisa bahan organik dalam tambak tidak terurai dengan baik dan tambak harus segera disiphon. Pengukuran TAN dilakukan setiap 5 hari sekali, pagi hari. Sifat udang yang ammonothelic, mengharuskan untuk meminimalkan kandungan TAN dan NH3 dalam perairan. Dengan kandungan TAN dan NH3 yang tinggi, ditambah dengan nilai pH dan suhu yang tinggi, maka daya racun amoniak akan menjadi berlipat. Resiko terbesarnya adalah udang keracunan amoniak sehingga berenang tidak tentu arah dan akhirnya mati.

g. Amoniak Bebas (NH3)

Amoniak bebas ini terbentuk karena proses penguraian bahan organik tidak berjalan dengan baik. Seperti diketahui bahwa dalam budidaya udang, pakan yang diberikan mengandung kadar protein yang tinggi. Sedangkan udang yang dibudidayakan mempunyai sistim pencernaan yang sangat sederhana, sehingga kotoran udang masih mengandung kadar protein yang tinggi. Sisa pakan yang tidak terkonsumsi dan kotoran udang akan menumpuk menjadi bahan organik dengan kadar protein tinggi. Jika protein tersebut tidak terurai dengan baik, maka kandungan amoniak dalam perairan tambak akan tinggi. Kadar amoniak bebas dalam perairan tambak udang yang distandarkan adalah maksimal 0,01 ppm. Jika lebih dari itu, dasar tambak harus disiphon. Pengukuran kadar amoniak bebas dilakukan tiap 5 hari sekali, bisa bergabung dengan pengukuran TAN atau diukur tersendiri menggunakan Ammonia Test Kit.

(28)

Alkalinitas adalah jumlah basa yang terdapat dalam air. Basa yang dimaksud adalah karbonat (CO3

2-), bikarbonat (HCO3

-) dan hidroksida (OH

(29)
(30)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Setelah diadakan praktik kerja lapangan mahasiswa telah memahami serta dapat 1.

menggunakan alat-alat dan perlengkapan budidaya dengan baik dan benar.

Mahasiswa telah memahami laju pertumbuhan udang, khususnya udang putih (Litopenaeus 2.

vannamei).

Mahasiswa telah memahami faktor pendukung pertumbuhan udang. 3.

Mahasiswa telah memahami dinamika sosial petambak dan sekitarnya. 4.

4.2. Saran

Untuk mendapatkan tingkat laju (ADG) udang yang optimal, sebaiknya jangan mengabaikan 1.

para meter kualitas air, khususnya pada prosedur sampling.

Sampling merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mengetahui laju pertumbuhan 2.

udang.

DAFTAR PUSTAKA

(31)

Budidaya Pantai, Departemen Pertanian. Jakarta.

Boyd, C.E. 1989. Water Quality in Pond for Aquaculture. Alabama Agricultural Experiment Station. Auburn University. Alabama.

Mujiman, A. Dan SR. Suyanto. 2001. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta.

PT. Wachyuni Mandira. 2010. Standar Operasional dan Prosedur. Tidak Dipublikasikan. Sumatera Selatan.

(32)

PROSPEK BUDIDAYA IKAN LELE DI KABUPATEN BANGKA MELALUI MEDIA BUDIDAYA WARING DAN KOLAM TERPAL

Muhammad Yusuf

Program Studi Agribisnis, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Terbuka

[email protected]

Abstrak

Provinsi Bangka Belitung merupakan kawasan pertambangan timah, hal ini berdampak dengan banyak sekali peninggalan kolong atau genangan air yang relatif banyak dan luas sebagai dampak dari sisa-sisa pertambangan yang sudah tidak produktif lagi. Dikabupaten Bangka sudah mulai banyak petani ikan yang bermunculan sebagai imbas dari dampak tersebut. Salah satunya adalah budidaya ikan lele dengan media waring (Karamba Jaring Apung). Provinsi Bangka Belitung juga merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang daerahnya merupakan daerah kepulauan. Sehingga diperlukan suatu metode budidaya ikan yang efektif dikembangkan di daerah dengan keterbatasan lahan. Salah satu metode budidaya yang bisa diterapkan adalah metode budidaya dengan kolam terpal. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan tentang prospek budidaya ikan lele di Kabupaten Bangka melalui media budidaya waring dan kolam terpal. Salah satu keunggulan budidaya lele dengan media waring adalah dalam hal pemanenan yang lebih mudah dilakukan. Sedangkan keunggulan budidaya ikan lele menggunakan media kolam terpal antara lain dapat diterapkan pada lahan yang sempit.

Kata Kunci: Ikan Lele, Waring, Kolam Terpal

(33)

Indonesia memiliki sumberdaya perikanan yang sangat potensial untuk dikembangkan, baik di wilayah perairan tawar (darat), payau maupun perairan laut. Hal ini didukung oleh potensi perairan umum yang begitu luas dan belum dimanfaatkan untuk usaha perikanan secara optimal.

Ikan lele merupakan salah satu komoditas air tawar yang memiliki daya serap pasar yang tinggi, bila potensi tersebut dimanfaatkan secara optimal dan benar, maka akan dapat meningkatkan pendapatan petani ikan, membuka lapangan kerja, memanfaatkan daerah potensial, meningkatkan produktifitas perikanan, meningkatkan devisa negara, serta membatu menjaga kelestarian sumberdaya hayati. Ikan lele mempunyai kelebihan dan keunggulan yang khas, bila dibandingkan dengan ikan air tawar yang lainnya, yaitu pemeliharaan yang murah, mudah, serta dapat hidup di air yang kurang baik, cepat besar dalam waktu yang relatif singkat, kandungan gizi yang tinggi dalam setiap ekornya, juga memiliki rasa daging yang khas dan lezat yang tidak terdapat pada ikan lainnya (Anonim, 2012).

Konsumsi ikan lele pada beberapa tahun terakhir ini semakin meningkat. Kalau dahulu ikan lele dipandang sebagi ikan murahan dan pada umumnya hanya dikonsumsi oleh keluarga petani saja, sekarang ternyata konsumennya makin meluas. Rasa dagingnya yang khas dan cara memasak dan menghidangkannya yang secara tradisional itu ternyata sekarang menjadi kegemaran masyarakat luas. Bahkan banyak pula restoran besar yang menghidangkannya. Oleh karena itu harga ikan lele meningkat. Hal itu telah menjadi perangsang bagi petani ikan untuk membudidayakan ikan lele secara intensif.

Semula pemeliharaan ikan lele hanyalah sebagai kegiatan sambilan saja, dipelihara di dalam kolam-kolam pekarangan menampung air limbah rumah tangga karena ikan lele bersifat tahan hidup di dalam lingkungan yang kotor dan kekurangan oksigen akibat proses pembusukan yang terjadi. Sekarang para petani terdorong untuk memproduksikan lele lebih banyak, maka teknik pemeliharaannya pun ditingkatkan. Kolam yang dipergunakan lebih luas, walaupun masih berupa kolam pekarangan. Airnya diusahakan dari air irigasi yang memungkinkan adanya pergantian air, sehingga kondisinya lebih segar. Dalam suasana air yang segar, pertumbuhan ikan lele menjadi lebih cepat.

(34)

sekali untuk dapat dipraktekkan (Anonim, 2012).

Selain itu sehubungan dengan hal tersebut diatas banyak sekali metode atau teknik budidaya ikan lele yang saat ini dijalankan oleh para pembudidaya ikan lele. Di Kabupaten Bangka sendiri juga banyak metode budidaya yang sekarang ini dijalankan oleh pembudidaya ikan, diantaranya adalah budidaya ikan lele dengan media kolam semen, budidaya ikan lele dengan media kolam terpal, budidaya ikan lele dengan kolam tanah, budidaya ikan lele dengan media waring, dan lain sebagainya.

Tulisan ini lebih lanjut akan membahas bagaimana prospek budidaya ikan lele di Kabupaten Bangka, khususnya yang menggunakan metode budidaya kolam terpal dan metode budidaya menggunakan waring, bagaimana langkah-langkah yang digunakan petani ikan lele di kabupaten Bangka, dan bagaimana kendala, hambatan dan solusi yang selama ini digunakan para pembudidayaikan lele di Kabupaten Bangka.

Kelebihan Budidaya Ikan Lele

Budidaya ikan lele, baik lele lokal maupun lele dumbo, sudah lama dikenal dan digeluti masyarakat Indonesia. Dibandingkan dengan budi daya ikan air tawar lainnya, minat masyarakat untuk membudidayakan ikan tidak bersisik ini memang lebih tinggi dan lebih merata di berbagai daerah (Thalib, 2011). Hal ini karena banyak keuntungan yang dapat diperolah seseorang dengan membudidayakan lele. Dengan kata lain, prospek bisnis budi daya lele cukup menjanjikan. Keuntungan membudidayakan lele antara lain karena lele termasuk ikan yang terkenal "tahan banting, waktu pemeliharaan lebih singkat, dan teknik budidaya yang sederhana.

Untuk dapat bertahan hidup, lele tidak memerlukan kondisi atau persyaratan air khusus seperti halnya ikan air tawar Iainnya (ikan bersisik). Ikan air tawar Iain memerlukan oksigen terlarut dalam air yang cukup, sedangkan lele tidak terlalu membutuhkannya. Lele bahkan bisa menghirup oksigen di udara dengan cara menyembul ke permukaan air, karena lele memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut labirin atau arborescent. Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh ikan bersisik. Kemampuan Ikan lele seperti disebut di atas membuat ikan ini dapat dibudidayakan hampir di setiap daerah dan di sembarang tempat (Jonathan, 2011). Hal ini cocok dengan kondisi kualitas air yang ada dikabupaten Bangka yang relatif kurang baik, karena cenderung bersifat asam (pH rendah), sehingga hal itu menjadikan salah satu alasan pemilihan ikan lele sebagai salah satu jenis ikan yang dibudidayakan.

(35)

pembesaran lele yang dilakukan secara intensif hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi, tergantung padat penebarannya. Kondisi di atas berbeda dengan ikan air tawar lainnya yang memerlukan waktu pemeliharaan relatif lebih lama. Ikan nila misalnya, memerlukan waktu sekitar 5 - 6 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi. Sementara itu, gurami membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk panen ukuran konsumsi (Jonathan, 2011).

Dengan masa pemeliharaan yang singkat secara otomatis pemanenan ikan akan lebih cepat dilakukan dan pemenuhan kebutuhan konsumsi ikan lele cepat terpenuhi. Hal ini juga kemungkinan yang menjadi alasan petani ikan di Kabupaten Bangka memilih ikan lele sebagai ikan budidaya karena kebutuhan pasar yang cenderung semakin meningkat. Seperti yang diungkapkan oleh Lembaga Pengembangan Bisnis dan Investasi Daerah bahwa kebutuhan lele dumbo di Bangka diperkirakan akan meningkat karena cuaca buruk, sehingga banyak nelayan tidak bisa melaut. Selain itu, rusaknya ekosistem laut karena aktivitas penambangan bijih timah menjadikan wilayah tangkap ikan semakin jauh.

Dibandingkan dengan budi daya ikan bersisik, teknik yang digunakan pada pemeliharaan lele cukup sederhana. Peralatan dan bahan yang dipakai pun terbilang mudah ditemukan di sekitar kita. Dalam hal pergantian air pun, tak harus sesering seperti membudidayakan ikan bersisik. Bahkan pada tahap pembesaran selama 10 hari pertama sejak penebaran, dianjurkan untuk tidak mengganti air sama sekali. Pembesaran lele tidak memerlukan sistem air deras seperti yang dilakukan pada pembesaran ikan mas. Kemungkinan hal ini juga yang menjadi alasan petani ikan di Kabupaten Bangka memilih ikan lele, karena sebagian petani di Kabupaten Bangka merupakan petani yang memulai bisnis secara otodidak, dan juga sebagian lagi merupakan petani ikan sambilan yang hanya memiliki waktu sedikit, sehingga dengan sifat pemeliharaan yang mudah dan sederhana akan mampu diterapkan oleh semua orang.

Budidaya Ikan Lele melalui Media Waring

(36)

sederhana, teknis budidaya pembesaran, teknis sortir, teknis panen, dan analisis usaha.

Teknis Pembuatan Waring

Kerangka waring sederhana ini terbuat dari balok kayu dan bambu. Berbeda dengan waring pada umumnya yang memakai drum atau jerigen sebagai pelampungnya. waring sederhana ini memakai balok kayu sebagai bahan tiangnya, sedangkan bambu besar sebagai pelampung dan bambu sedang sebagai pegangan bibir keramba bagian atas. Perakitan kerangka waring dilakukan di dalam kolam sehingga bentuk dan daya apungnya langsung terlihat saat perakitan. Pengikatan kayu dan bambu tersebut dilakukan dengan cara dipaku dan juga dibantu dengan tali-temali agar lebih kuat.

Setelah kerangka waring selesai, waring sebelumnya sudah disiapkan dapat dipasang. Waring yang sudah siap pakai bisa dibeli di pedagang jaring/waring yang memang mengerjakan pembuatan waring. Setelah proses ini, yang harus diperhatikan adalah proses perendaman jaring. Waring yang sudah jadi jangan langsung ditebar bibit, karena mulut lele akan luka akibat kebiasaannya sendiri yang suka menghisap pinggiran kolam untuk mencari makan. Dalam hal ini jaring yang baru masih bersifat tajam, sehingga harus direndam sekitar satu bulan agar dinding jaring terlapisi oleh lumut.

Teknis Budidaya Pembesaran

Setelah proses pembuatan waring selesai, maka penebaran bibit dapat dilakukan. Bibit yang baru datang sebaiknya dilakukan peng-adaptasi-an dengan suhu air kolam yang akan dihuni dengan cara mengapung-apungkan bibit yang masih berada di dalam kantong oksigen selama beberapa saat. Proses ini bertujuan agar bibit tidak "kaget" saat dimasukkan ke kolam yang kemungkinan mempunyai perbedaan kualitas dari kolam asal, baik suhu, maupun PH-nya. Pemberian pakan pertama sebaiknya dilakukan minimal 12 jam pasca tebar bibit, atau setelah bibit tersebut beradaptasi dengan hunian barunya.

(37)

menimbulkan sifat kanibalisme lele. Lele yang besar dan kuat akan memangsa yang kecil atau lemah sehingga tanpa kita sadari populasi kolam lama- kelamaan akan berkurang dan berdampak pada rendahnya hasil panen.

Teknis Sortir

Dalam budidaya pembesaran lele, penyortiran bisa dikatakan "wajib". Sedikit saja kita lalai menyortir, maka dampak yang akan terjadi adalah hilangnya sebagian populasi kolam karena kanibalisme. Penyortiran pertama dilakukan saat bibit berumur 2-3 minggu setelah tebar. Disini akan terlihat ada beberapa lele yang pertumbuhannya "bongsor", berbeda dari mayoritas populasi. Pada tahap ini, si "bongsor" harus segera disingkirkan dari kolam untuk meminimalisir kanibalisme. Penyortiran kedua bisa dilakukan 2 minggu setelah sortir pertama atau bila terlihat ketidakseragaman populasi kolam. Hal ini bisa dilihat pada saat pemberian pakan. Hal yang harus diperhatikan benar adalah jangan sampai menyepelekan sortir pertama dan langsung melakukan sortir kedua. Jika lalai menyortir pada fase pertama, hampir setengah populasi hilang, sementara akan dijumpai beberapa ekor lele "raksasa", yang menjadi penyebab hilangnya setengah populasi kolam. Proses sortir dalam budidaya pembesaran lele dengan waring sangat mudah, yaitu dengan menggulung jaring dengan batang bambu ke salah satu sisi. Lele akan terkumpul dan proses sortir dapat segera dilakukan dengan bak sortir ataupun manual.

Teknis Panen

Dengan media waring, proses panen menjadi lebih mudah dan cepat karena tidak perlu lagi menguras air kolam, cukup dengan menggulung jaring seperti pada proses sortir. Bedanya kalau proses sortir, lele yang diambil dilakukan pemilahan, sedangkan pada saat panen, lele yang diambil langsung ditimbang dan diantar ke pengepul atau agen.

Analisa Usaha

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu petani ikan lele yang menggunakan metode waring, berikut ini adalah analisa usaha budidaya ikan lele dengan metode waring.

a. Biaya investasi

Merapikan Kolong Ukuran 10m x20m (Sewa Ekskapator/ PC)

(38)

Pembelian Waring / Jaring Ukuran 2m x4m x 1m (10 Unit) @ Rp. 300.000

Rp. 3.000.000 Biaya Merangkai Waring (KJA) Rp. 600.000

JUMLAH Rp. 4.600.000

b. Biaya Variabel

Benih 3000 ekor/ Waring x 10 unit Rp. 9.000.000 Pakan Ikan Rucah 6000 Kg x Rp. 2000 Rp. 12.000.000 Pelet 5 karung @ Rp. 250.000 Rp. 1.250.000

JUMLAH Rp. 12.250.000

c. Panen

3000 Kg x Rp. 20.000 Rp. 60.000.000

Budidaya Ikan Lele melalui Media Kolam Terpal

Di Kabupaten Bangka khususnya, telah banyak petani ikan lele yang menggunakan metode budidaya media kolam terpal. Hal ini dilakukan selain karena keterbatasan lahan juga disebabkan karena kondisi tanah di Kabupaten Bangka yang cenderung bertekstur pasir. Dengan demikian budidaya dengan media kolam terpal adalah salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Berikut ini adalah langkah-langkah budidaya ikan dengan media budidaya kolam terpal.

Teknis Persiapan Kolam Terpal

Kolam atau bak beton berlapis terpal bisa berupa kolam yang dibangun di atas permukaan tanah atau kolam yang dibangun di bawah permukaan tanah. Kolam yang akan dilapisi terpal dibersihkan dari benda-benda yang mengganggu, kemudian pastikan dasar kolam tidak mengandung air, sehingga terpal tidak akan menggelembung. Apabila kolam sangat luas, terpal dapat disambung dengan cara dipres. Kemudian terpal dipasang hingga rapat ke tepid an dilipat bagian sudutnya agar terlihat rapi. Bagian atas terpal dijepit dengan kayu atau ditindih dengan batako. Terakhir pipa paralon atau PVC ditempatkan pada tempat yang ditentukan. Apabila semua proses tersebut telah dilakukan, kolam siap diisi air. Persiapan kolam untuk budidaya lele dikolam terpal meliputi pembersihan dasar dan pinggir kolam, desinfeksi, pengisian air serta pemupukan.

TeknisPenebaran Benih

(39)

umumnya perbedaan nilai suhu air pada permukaan dan dasar kolam tidak terlalu besar. Jika perbedaan suhu air wadah benih dan air kolam tebar cukup signifikan, maka perlu dilakukan upaya penyamaan suhu air wadah benih secara bertahap terlebih dahulu agar benih tidak stress saat ditebarkan.

TeknisPemberian Pakan

Dalam budidaya ikan dengan kolam terpal dapat digunakan pakan berupa pakan buatan seperti pellet atau bisa juga digunakan pakan dengan menggunakan ikan rucah. Di Kabupaten Bangka banyak ikan rucah sisa dari limbah usaha perikanan.

TeknisPanen

Pemanenan ikan dikolam terpal bisanya dilakukan dengan cara panen sortir atau dengan panen sekaligus. Panen sortir adalah dengan memilih ikan yang sudah layak untuk dikonsumsi atau sudah sesuai dengan keinginan pasar, kemudian ukuran yang kecil dipelihara kembali. Sedangkan panen sekaligus biasanya dengan menambah umur ikan agar ikan dapat dipanen semua dengan ukuran yang sesuai keinginan pasar. Ikan lele yang sudah dipanen kemudian dikemas dalam plastik untuk di jual.

Analisa Usaha

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu petani ikan lele yang menggunakan metode kolam terpal, berikut ini adalah analisa usaha budidaya ikan lele dengan metode kolam terpal.

a. Biaya investasi

Pembuatan Bak terpal 4m x 6mx 1m Rp. 1.660.000 Pembuatan Bak terpal 2m x 4mx 1m (2

unit)

Rp. 2.650.000

JUMLAH Rp. 4.310.000

b. Biaya Variabel

Benih 4000 ekor (uk. 5-7 cm) @Rp. 300 Rp. 1.200.000

Pakan Ikan Rp. 3.897.000

Tenaga Kerja 3 Bulan Rp. 1.500.000

JUMLAH Rp. 6.597.000

c. Panen

(40)

Hambatan dan Solusi Budidaya Ikan Lele

Pada umunya kendala-kendala yang dihadapi oleh para petani ikan lele adalah masalah serangan penyakit. Berikut ini beberapa penyakit yang sering menyerang lele.

Penyakit Kuning

Penyebabpenyalit ini kurang begitu pasti, ada yang berpendapat karena kerusakan hati, stress, dan lain-lain. Gejalanya sangat jelas yaitu tubuh lele kuning dan gerakannya lambat. Bila didiamkan saja lama-kelamaan lele semakin lemah dan kemudian mati karena dimangsa oleh teman-temannya. Selain itu juga bisa menulari lele lain yang berada dalam kolam tersebut. Solusi yang diambil bila terjadi lele kuning biasanya adalah dengan segera mengambilnya dan mengkarantina di kolam lain yg kualitas airnya bagus, 3-5 hari kemudian lele tersebut akan normal kembali dan sehat. Ada pendapat lain yaitu dengan mencelupkannya ke dalam kobakan lumpur selama beberapa hari maka lele kuning akan pulih dari sakitnya.

Penyakit Kembung

Beberapa pendapat menyatakan bahwa lele kembung disebabkan karena stress terhadap perubahan suhu air yang drastis & naiknya amoniak dari dasar kolam. Lele kembung merupakan penyakit yang bisa menimbulkan kematian masal dalam budidaya lele. Dari pengalaman petani, terapi yang bisa diberikan bila terjadi lele kembung adalah dengan memberikan obat yang dicampur kedalam pakan. Hal ini berlaku untuk lele yang sudah agak besar. Jika lele masih berupa bibit, maka lebih baik obat tersebut di taburkan ke dalam air kolam. Sebaiknya jika memungkinkan sebelum pengobatan dilakukan penggantian air baru. Ada beberapa obat yang bisa dipakai dalam kasus ini, misalnya: Supertetra, Inrofloxs dari boster, dan masih banyak lagi di pasaran.

Lele menggantung berdiri di permukaaan kolam

Penyakit ini disebabkan turunnya kualitas air kolam. Keadaan ini bisa disebabkan karena penumpukan kotoran dan sisa pakan atau bisa disebabkan karena air baku yang kurang baik, misalnya kandungan logamnya terlalu tinggi, sehingga kualitas air hanya bertahan beberapa hari saja. Biasanya keadaan ini sudah bisa teratasi dengan melakukan penggantian air secara total.

Sirip luka-luka merah dan mulut putih

(41)

untuk membasmi bakteri-bakteri penyabab penyakit tersebut.

Kesimpulan dan Saran

Di Kabupaten Bangka sudah mulai banyak orang yang bertani ikan sebagai imbas dari dampak penambangan timah. Salah satunya adalah pembudidaya ikan lele dengan media waring. Selain itu banyak juga petani yang menggunakan metode budidaya media kolam terpal. Hal ini dilakukan selain karena keterbatasan lahan juga disebabkan karena kondisi tanah di Kabupaten Bangka yang cenderung bertekstur pasir. Sehingga budidaya dengan media kolam terpal adalah salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Budidaya lele memiliki beberapa kelebihan, antara lain lele merupakan ikan yang kuat dan tidak terlalu rentan penyakit, teknik pmeliharaannya cukup singkat, dan sederhana. Namun demikian, beberapa penyakit dapat saja terjangkit pada lele, seperti penyakit kuning, kembung, badan menggantung dan luka pada sirip dan mulut.

Untuk ke depan, dianjurkan bahwa sebelum memulai usaha budidaya ikan lele sebaiknya tetapkan dulu tujuan budidaya yang akan dilakukan, yaitu budidaya untuk pembibitan atau untuk konsumsi. Seiring banyaknya peminat bisnis ternak lele dan potensi pasar yang meningkat maka makin besar pula permintaan bibit maupun lele konsumsi untuk untuk dikembangbiakkan. Oleh sebab itu, prospek pembibitan dan budidaya pembesaran ikan lele juga menjadi salah satu peluang bisnis yang cukup baik.

Daftar Pustaka

Anonim. 2012. Teknik pemijahan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) secara

induced breeding di Balai Benih Ikan (BBI) Kabupaten Sekadau.

http://munirperikanan.blogspot.com/2012/12/pemijahan-lele-dumbo.html.

Diakses tanggal 6 Mei 2013.

Jonathan, B. 2011. Keuntungan memilih usaha budidaya ikan. h t t p : / / p e r t e n a k a n i k a n .

blogspot.com/2011/11/keuntungan-memilih-usaha-budidaya-ikan.html.

Diakses tanggal 6 Mei 2013.

(42)

PENGARUH PELATIHAN DINAMIKA KELOMPOK TERHADAP

PENINGKATAN KERJA SAMA KELOMPOK TANI DALAM

MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KARET (HAVEA BRAS

ILIENSIS) DI DESA PERDAMAIAN KECAMATAN SINGKUT

KABUPATEN SAROLANGUN

S A R A N A

NIM : 013141988

Abstract

Pelatihan dinamika kelompok tani ini sejalan dengan upaya peningkatkan produktivitas karet di tingkat petani yang dibutuhkan upaya pembinaan petani melalui wadah kelompok tani. Pelatihan dinamika kelompok bertujuan untuk meningkatkan kerja sama anggota dalam kelompok dengan mengenali kemampuan yang dimiliki sendiri dan anggota lainnya

Tujuan dari penelitaian ini adalah untuk mengetahui (1) sejauh mana Pelatihan Dinamika Kelompok meningkatkan kerjasama kelompok tani karet di Desa Perdamaian Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun, (2) pengaruh peningkatan kerjasama terhadap peningkatan mutu dan jumlah getah karet yang diproduksi (3) pengaruh peningkatan kerjasama terhadap biaya produksi getah karet.

Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan keterampilan (skill) (Thomas 2008, danSlamet 2010). Adapun metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan melakukan survey. Adapun proses pengumpulan data yaitu dengan mengumpulkan data primer (kuesionerdaninterview ) dengan purposive sampling.

(43)

kembangkan kerjasama (kekompakan) yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap peningkatan effektifitas dan effisiensi produsi getah karet (Havea Brasiliensis). Empat, menunjukan bahwa hipotesis Meningkatnya kerjasama kelompok tani akan meningkatkan produktivitas getah karet dapat diterima.

Keywords : Pelatihan Dinamika Kelompok, Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan, Produktivias Karet

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sarolangun dari tahun ke tahun menunjukan adanya peningkatan yang cukup signifikan terutama dari sektor non migas yang ditunjukan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) lima tahun terakhir yang terus mengalami peningkatan. Produksi non migas hampir secara keseluruhan didominasi oleh komoditas perkebunan yaitu produksi tanaman sawit dan karet. Seiring dengan hal tersebut Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Dinas Perkebunan dan Kehutanan bersama Badan Penyuluhan Pertanian terus berkomitmen untuk mempertahankan dan terus berupaya meningkatkan dua komoditas andalan tersebut melalui upaya pembinaan yang simultan terhadap para petani sawit dan karet.

Upaya pembinaan yang dilaksanakan mengarah pada peningkatan kapasitas dan kapabilitas petani terutama petani karet untuk terus secara dinamis meningkatkan produktivitasnya. Komoditas karet merupakan salah satu produk unggulan perkebunan di Kabupaten Sarolangun yang menunjang perekonomian masyarakat di tingkat pedesaan.Hal ini memicu masyarakat untuk memperluas areal perkebunan rakyat dengan kegiatan pembukaan kebun karet baru yang ternyata tidak hanya berdampak pada pola kegiatan perekonomian masyarakat saja tetapi juga berimbas pada aktivitas konversi lahan yang dulunya hutan.

(44)

Pelatihan dinamika kelompok tani ini sejalan dengan upaya peningkatkan produktivitas karet di tingkat petani yang dibutuhkan upaya pembinaan petani melalui wadah kelompok tani. Pelatihan dinamika kelompok bertujuan untuk meningkatkan kerja sama anggota dalam kelompok dengan mengenali kemampuan yang dimiliki sendiri dan anggota lainnya. Hal ini erat kaitannya dalam upaya peningkatan kinerja petani dalam meningkatakan produktivitas hasil panen karet baik kuantitas maupun kualitas nya.

1.2. Perumusan Masalah

Menurut Suhardiyono (1992), dinamika kelompok tani adalah gerakan bersama yang dilakukan oleh anggota kelompok tani secara serentak dan bersama-sama dalam melaksanakan seluruh kegiatan kelompok tani dalam mencapai tujuannya yaitu peningkatan hasil produksi dan mutunya yang gilirannya nanti akan meningkatkan pendapatan mereka.

Dalam pelaksanaan pelatihan dinamika kelompok, beberapa literatur mengemukakan unsur-unsur dinamika kelompok yang menjadi kekuatan-kekuatan atau penggerak dalam kelompok ditinjau dari psikologi sosial berfungsi sebagai sumber energi bagi kelompok yang bersangkutan. Adanya keyakinan yang sama akan menghasilkan kelompok yang dinamis. Namun demikian untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pelatihan dinamika kelompok terhadap peningkatan kerjasama kelompok terutama bagi petani karet belum teruji secara empiris melalui hasil studi atau penelitian.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gambaran Umum

(45)

Dari beberapa literature hasil penelitian tentang produktivitas karet pada umumnya banyak melakukan penelitian dari segi teknik budidaya seperti kualitas benih atau bibit, pola tanam, teknologi pemanenan dan penanganan pasca panen, sedangkan penelitian yang berkaitan dengan sistem kelembagaan terutama kelompok tani belum banyak dilakukan.

Banyak usaha telah dilakukan pemerintah dalam pembangunan dan pengembangan perkebunan karet-rakyat, seperti melalui SRDP1, TCSDP2, dan PRPTE3, dsb. Tapi strategi pembangunan (proyek) perkebunan yang ditempuh saat itu bertujuan untuk meningkatkan devisa negara melaui ekspor yang dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi melalui berbagai langkah modernisasi dengan mengadopsi dan menggunakan teknologi diberbagai bidang pertanian (seperti pemakian bibit unggul, pupuk kimia, pengendalian hama/penyakit, dll, sampai ke teknik-teknik pengolahan).

Menyadari kekeliruan tersebut, untuk mengimbangi peningkatan kemampuan teknologi juga dilakukan upaya pembinaan kelompok tani melalui berbagai pelatihan ataupun

trainning sebagai penguatan kelembagaandalam upaya menunjang kinerja kelompok tani

dalam meningkatkan produktivitas petani karet. Salah satunya pelatihan dinamika kelompok tani yang merupakan project Direktorat Jendral Perkebunan Kementrian Pertanian.

2.2. Dinamika Kelompok

Paradigma pembinaan kelompok tani dari waktu ke waktu terus mengalami pergeseran tidak hanya sebatas pembentukan kelompok yang berorientasi kebutuhan project tetapi bagaimana membangun kelompok mandiri atau kelompok sejati. Kelompok tani sebagai wadah dari individu petani terus bergerak dinamis, beberapa definisi kelompok dapat disajikan pada Tabel 1.sebagai berikut :

Tabel 1. Definisi Kelompok

No Pengertian

1 Menurut pendapat Mayor Polak (1979), kelompok didefinisikan adalah sejumlah orang yang ada diantara hubungan satu sama lain dan antar hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur.

(46)

3 Menurut Horton dan Hunt (1999) adalah sejumlah orang yang memiliki pola interaksi yang terorganisasi dan terjadi secara berulang-ulang.

4 Definisi lain diungkapkan oleh Kartono (2001) yakni kelompok adalah kumpulan dua atau lebih individu yang kehadirannya masing-masing individu memiliki arti dan nilai bagi individu lainnya satu sama lain.

5 Sedangkan Page dan Mac. Iver (Soekanto, 2006) menjelaskan kelompok sebagai himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama, memiliki hubungan timbal balik, dan memiliki kesadaran untuk saling tolong-menolong.

6 Definisi kelompok menurut Slamet (2010) adalah dua atau lebih orang yang berhimpun atas dasar adanya kesamaan (tujuan, kebutuhan, minat, jenis) yang saling berinteraksi melalui pola/struktur tertentu guna mencapai tujuan bersama, dalam kurun waktu yang relatif panjang.

2.3. Unsur-unsurpentingdinamikakelompok

Slamet (2010) mengemukakan unsur-unsur dinamika kelompok yang menjadi kekuatan-kekuatan atau penggerak dalam kelompok ditinjau dari psikologi sosial berfungsi sebagai sumber energi bagi kelompok yang bersangkutan. Adanya keyakinan yang sama akan menghasilkan kelompok yang dinamis. Adapun unsur-unsur tersebut terdiri dari ; (1) Tujuan Kelompok, (2) Struktur Kelompok, (3) Fungsi Tugas, (4) Pembinaan dan Pengembangan Kelompok, (5) Kekompakan Kelompok, (6) Suasana Kelompok, (7) Ketegangan Kelompok, (8) Keefektifan Kelompok, dan (9) Maksud Tersembunyi.

2.4 Tujuan Dinamika Kelompok

Untuk membangun kelembagaan kelompok, meningkatkan kebersamaan, dan kerjasama kelompok melalui pelatihan dinamika kelompok menjadi tujuan utama pelatihan tersebut. Hal inisen ada dengan pendapat yang disampaikan oleh Thomas (2008)bahwa tujuan dinamika kelompok adalah :

1. Meningkatkan proses interaksi antara anggota kelompok sehingga menyebabkan terjalinnya hubungan psikologi yang nyata di antara anggota kelompok, seperti rasa solidaritas kelompok, rasa memiliki kelompok, rasa saling tergantung diantara anggota kelompok, dan sebagainya.

2. Meningkatkan produktivitas kelompok melalui peningkatan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan (PKS) anggota kelompok.

(47)

4. Meningkatkan kesejahteraan hidup anggota kelompok.

Berdasarkan hal tersebut di atas jelas bahwa pelatihan dinamika kelompok erat kaitannya dengan peningkatan kapasitas individu baik secara internal (perbaikan pola perilaku, sikap, dan pengetahuan) dan external yaitu perbaikan sistem, teknologi yang digunakan, sarana dan prasarana serta dukungan kebijakan atau program baik melalui pemerintah dan non pemerintah.

Menurut United Nation Development Program (UNDP 1998) mendefinisikan

"capacity asthe ability of individuals, institutions and societies to perform functions, solveproblems, and set and achieve objectives in a sustainable manner.Hal ini dengan jelas

menyatakan bahwa kapasitas adalah kemampuan individu, lembaga atau masyarakat dalam menjalankan fungsi-fungsinya, memecahkan masalah, dan dalam menyusun dan mencapai tujuan secaraber kesinambungan.

Pengembangan kemampuan (kapasitas) melalui penguatan kelembagaan tetap mengacu padatigaranah yang mendasarinya, yaituranahpengetahuan, sikap dan keterampilan atau tindakan(konatif). Menurut Kenneth dan Stanley (McKenzie 1991),pengetahuan (knowladge) merujuk pada konteks segala sesuatu yang diketahui, dengan demikian cakupannya sangat luas terhadap segala sesuatu yang diketahui manusia.

Thurstone, Likert, dan Osgood (Azwar 1997) menyatakan bahwa sikap diartikan sebagai bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap juga diartikan sebagai kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, seperti yang dinyatakan oleh Chave, Borgadus, La Piere, Mead, Allport (Azwar 1997). Pengertian sikap yang lain adalah sikap sebagai konstelasi komponen-konponen kognitif, afektif, dankonatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek, seperti yang dinyatakan oleh Secord & Backman (Azwar 1997).

Spencer dan Spencer (1993) mendefinisikan keterampilan sebagai kemampuan untuk mengerjakan tugas secara fisik dan mental. Adapun kategori keterampilan oleh Yukl (1998) dibagi menjadi tiga jenis, yaitu keterampilan teknis, keterampilan antar pribadi, dan keterampilan konseptual. Kapasitas yang dimiliki oleh seseorang tidak serta merta diperoleh dengan sendirinya, melainkan berkembang sesuai dengan perkembangan dirinya sebagai manusia yang meliputi perkembangan biologi, psikologi, dan tingkah laku.

(48)

3.1. Gambaran Umum Lokasi

Desa Perdamaian terletak sebelah timur dari kota Kecamatan Singkut dengan jarak 5

km dari kota kecamatan dan 27 km dari ibu kota Kabupaten Sarolangun. Desa Perdamaian

secara administrasi termasuk dalam Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun dengan luas

wilayah 3.500 ha dengan jumlah penduduk 3.282 jiwa yang mempunyai luas tanaman karet

rakyat 1.500 ha dan telah menghasilkan dengan produksi rata-rata 700 kg/ha/tahun.

Adapunbatas-batasdengandesalainadalahsebagaiberikut:

Sebelah utara berbatasan langsung dengan Desa Sungai Benteng

Sebelah timur berbatasan langsung dengan Desa Sungai Gedang

SebelahselatanberbatasanlangsungdenganKecamatanSurulangunKabupatenMusiRawas Provinsi Sumatera Selatan

Sebelah barat berbatasan langsung dengan Desa Bukit Murau

Adapun lokasi penelitian secara jelas dapat dilihat pada Gambar 2 sebagai berikut :

Gambar 2.Peta Lokasi Desa Perdamaian, Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun

(49)

3.2.1. Mata Pencaharian

Pada umumnya penduduk Desa Perdamaian 50 % memiliki mata pencaharian sebagai petani, dan sisanya terdiri dari pegawai swasta, pegawai negeri, buruh, pedagang, dan usaha lainnya (Monografi Desa, 2011). Lebih dari 60 % jumlah petani di Desa Perdamaian menjadikan karet sebagai penggerak roda perekonomian keluarganya, sebagaimana terlampir pada Tabel3.

Tabel 3 : Klasifikasi Penduduk Mata Pencaharian di Desa Perdamaian Kecamatan Singkut Tahun 2011

No Jenis Pekerjaan Jumlah (Org) Persentase (%) 1

Sumber Data : Monografi Desa Perdamaian Tahun 2011

Jumlah penduduk Desa Perdamaian sebanyak 3.282 orang yang terdiri dari 1.683

orang laki-laki dan 1.599 orang perempuan, untuk lebih jelas klasifikasi penduduk

berdasarkan umur, dapat dilihat pada Tabel4sebagaiberikut :

Tabel 4 : Klasifikasi Penduduk berdasarkan Umur di Desa Perdamaian Kecamatan Singkut Tahun 2011

No Klasifikasi Umur (Tahun) Jumlah Penduduk (Orang)

Laki-laki Perempuan Jumlah

Jumlah 1.683 1.599 3.282

Sumber Data : Monografi Desa Perdamaian Tahun 2011

3.2.2. Pendidikan

(50)

Tabel 5 : Klasifikasi Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Perdamaian Kecamatan Singkut Tahun 2011

No Tingkat Pendidikan Jumlah (Org) Persentase 1

Sumber Data : Monografi Desa Perdamaian Tahun 2011

3.2.3. Kelembagaan Desa

Kelembagaan desayang terbentuk selain dari pemerintahan desa terdiri dari lembaga desa yang formal dan informal. Adapun maksud dari lembaga desa yang formal adalah lembaga yang dibentuk berdasarkan undang-undang tentang pemerintahan desa seperti Badan Perwakilan Desa (BPD), Lembaga Perwakilan Tokoh Masyarakat (LPM), dan Lembaga Adat Desa. Sedangkan lembaga informal adalah lembaga-lembaga atau kelompok yang dibentuk oleh masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat desa seperti kelompok tani.

IV. METODE PENELITIAN

4.1. WaktudanLokasiPenelitian

Penelitian dilakukan selama 2 minggu yaitu mulai tanggal 18 Maret 2013 sampai dengan 1 April 2013, dengan lokasi penelitian di Desa Perdamaian Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun.

4.2. MetodePelaksanaanPenelitian

(51)

(data statistik, laporan instansi pemerintah, artikel, dan studi literatur).

4.3. Pengumpulan Data Sekunder

Data sekunder yang dikumpulkan adalah berupa laporan instansi pemerintah yang berkaitan langsung dengan tujuan penelitian yaitu Dinas Perkebunan dan Kehutan Kabupaten Sarolangun dan Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Sarolangun, serta data pendukung tentang kondisi umum lokasi penelitian dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sarolangun.

4.4. Pengumpulan Data Primer

Untuk pengambilan data primer berupa kuesioner dan interview dilakukan terhadap 4 kelompok tani karet yang telah mengikuti pelatihan dinamika kelompok yaitu (1) Kelompok Tani Al-Hikmah, (2) Kelompok Tani Sido Mulyo, (3) Kelompok Tani Karya Mukti, (4) Kelompok Tani Karya Damai dan (5) Kelompok Tani Maju Bersama, yang masing-masing kelompok tani diambil 6 orang sebagai responden, sehingga jumlah responden keseluruhan dari kelompok tani adalah 30 responden. Selain itu sebagai cross

check (triangulasi) data juga dilakukan kuesioner dan interview terhadap dinas atau instansi

terkait yaitu Dinas Perkebunan dan Kehutanan 1 responden, Balai Penyuluh Pertanian 2 respondendan Pemerintah Desa 2 orang sehingga jumlah keseluruhan sampel adalah 35 responden.

4.5. Unit Analisis, Variabel dan Indikator

Unit analisis penelitian ini terdiri dari kelompok tani, instansi terkait, dan pemerintah desa. Adapun untuk variabel dan indikator penelitian telah dirancang seperti dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Variabel dan Indikator Pertanyaan

Penelitian

(52)

Tujuan Penelitian:

1. Mengetahui sejauh mana Pelatihan Dinamika Kelompok meningkatkan kerjasama kelompok tani karet di Desa Perdamaian Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun

2. Mengetahui pengaruh peningkatan kerjasama terhadap peningkatan mutu dan jumlah getah karet yang diproduksi

3. Mengetahui pengaruh peningkatan kerjasama terhadap biaya produksi getah karet

Produktivitas Biaya Produksi

Pengurus dan Angota Kelompok

Sumber : Penulis, 2013

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Gambaran Umum

(53)

pengetahuan, perubahan perilaku, dan peningkatan keterampilan.

5.2. Pelatihan Dinamika Kelompok Meningkatkan Kerjasama Kelompok Tani Dalam Budidaya Karet

Dalam penelitian ini telah dilakukan survey melalui beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh pelatihan dinamika kelompok terhadap peningkatan kerjasama kelompok tani dengan indikator pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan keterampilan (skill) (Thomas, 2008, dan Slamet, 2010).

5.2.1 Peningkatkan pengetahuan anggota kelompok dan kerjasama kelompok.

Dari hasil quesioner yang dilakukan terhadapa anggota kelompok tani seperti yang terlihat pada Tabel 6 ; pertama, 20 dari 30 respondent menyatakan setuju bahwa pelatihan dinamika kelompok meningkatkan pengetahuan anggota kelompok dan kedua, 19 dari 30 respondent setuju bahwa dengan meningkatnya pengetahuan anggota kelompok akan meningkatkan kerjasama dalam kelompok.

Tabel 6. Hasil quesioner Peningkatkan pengetahuan anggota kelompok dan kerjasama kelompok (Respondent : Anggota Kelompok Tani)

No Pertanyaan Jawaban Frekuensi

1 Apakah dengan pelatihan dinamika kelompok meningkatkan pengetahuan anggota kelompok ?

Ya 20/30

Tidak 3/30

Tidak Tahu 7/30 2 Jika Ya, apakah dengan meningkatnya

pengetahuan anggota kelompok

Keterangan : Total respondent 30 orang

Dari pernyataan anggota kelompok juga didukung oleh keterangan dari berbagai dinas atau instansi terkait seperti dapat dilihat pada Tabel 7, bahwa 3 dari 5 respondent menyatakan pelatihan dinamika kelompok meningkatkan pengetahuan anggota kelompok, dan 4 dari 5 respondent menyatakan setuju bahwa dengan meningkatnya pengetahuan anggota kelompok telah meningkatkan kerjasama dalam kelompok.

Tabel 7. Hasil quesioner Peningkatkan pengetahuan anggota kelompok dan kerjasama kelompok (Respondent : Instansi terkait).

(54)

1 Apakah dengan pelatihan dinamika 2 Jika Ya, apakah dengan meningkatnya

pengetahuan anggota kelompok

Keterangan : Total respondent 5 orang

5.2.2Perubahan sikap dan peningkatan kerjasama kelompok

15 dari 30 respondent menyatakan bahwa pelatihan dinamika kelompok merubah sikap anggota kelompok ke arah yang lebih baik, 8 dari 30 respondent menyatakan tidak berpengaruh dan 7 dari 30 menyatakan tidak tahu.

Tabel 7. Hasil quesioner Perubahan sikap dan peningkatan kerjasama kelompok (Respondent : Anggota Kelompok Tani)

No Pertanyaan Jawaban Frekuensi

1 Apakah dengan pelatihan dinamika kelompok merubah sikap anggota kelompok ke arah yang lebih baik ?

Ya 15/30

Tidak 8/30

Tidak Tahu 7/30 2 Jika Ya, apakah dengan perubahan sikap

tersebut meningkatkan kerjasama dalam kelompok ?

Ya 20/30

Tidak 5/30

Tidak Tahu 5/30

Keterangan : Total respondent 30 orang

Mayoritas perwakilan dari instansi terkait menyatakan pernyataan yang sama dengan perwakilan kelompok bahwa pelatihan dinamika kelompok merubah sikap kelompok yang mengarah pada peningkatan kerjasama antara anggota kelompok seperti dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil quesioner Perubahan sikap dan peningkatan kerjasama kelompok (Respondent : Instansi terkait)

No Pertanyaan Jawaban Frekuensi

1 Apakah dengan pelatihan dinamika kelompok merubah sikap anggota kelompok ke arah yang lebih baik ?

Ya 4/5

Tidak 1/5

Tidak Tahu 0/5 2 Jika Ya, apakah dengan perubahan sikap

tersebut meningkatkan kerjasama dalam kelompok ?

Ya 3/5

Tidak 2/5

Tidak Tahu 0/5 Keterangan : Total respondent 5 orang

(55)

Muncul beberapa pendapat dari respondent kaitannya dengan peningkatan keterampilan anggota kaitannya dengan kerjasama kelompok. 15 dari 30 respondent menyatakan peningkatan keterampilan anggota kelompok sangat berpengaruh terhadap peningkatan kerjasama kelompok. Selain itu hampir setengah nya (lihat Tabel 9) dari total respondent juga berpendapat lain, justru dengan adanya peningkatan keterampilan menyebabkan kurang kompaknya anggota dalam pemahaman kegiatan atau program kerja kelompok tani.

Tabel 9. Hasil quesioner Peningkatan keterampilan kelompok dan kerjasama anggota kelompok (Respondent : Anggota Kelompok Tani)

No Pertanyaan Jawaban Frekuensi

1 Apakah pelatihan dinamika kelompok meningkatkan keterampilan anggota kelompok ?

Ya 15/30

Tidak 14/30

Tidak Tahu 1/30 2 Jika Ya, apakah dengan meningkatnya

keterampilan anggota kelompok meningkatkan kerjasama antar anggota kelompok ?

Ya 20/30

Tidak 5/30

Tidak Tahu 5/30

Keterangan : Total respondent 30 orang

Kontra pendapat juga disampaikan oleh respondent dari instansi terkait yang menyatakan bahwa peningkatan keterampilan anggota mendukung peningkatan kerjasama angota kelompok, hanya satu respondent yang menyatakan bahwa peningkatan keterampilan anggota kelompok mengarah pada peningkatan kerjasama kelompok (lihat Tabel 10).

Tabel 10. Hasil quesioner Peningkatan keterampilan kelompok dan kerjasama anggota kelompok (Respondent : Instansi terkait)

No Pertanyaan Jawaban Frekuensi

1 Apakah pelatihan dinamika kelompok meningkatkan keterampilan anggota kelompok ?

Ya 2/5

Tidak 2/5

Tidak Tahu 1/5 2 Jika Ya, apakah dengan meningkatnya

keterampilan anggota kelompok meningkatkan kerjasama antar anggota kelompok ?

Ya 1/5

Tidak 3/5

Tidak Tahu 1/5

Keterangan : Total respondent 5 orang

5.3. Apakah Peningkatan Kerjasama Kelompok Tani Berpengaruh Langsung Terhadap Mutu dan Jumlah Getah Karet

Gambar

Tabel 1. Definisi Kelompok
Gambar 2.Peta Lokasi Desa Perdamaian, Kecamatan Singkut KabupatenSarolangun3.2.  Kondisi Sosial Ekonomi
Tabel 3 : Klasifikasi Penduduk Mata Pencaharian di Desa PerdamaianKecamatan Singkut Tahun 2011Jenis PekerjaanJumlah (Org)Persentase (%)
Tabel 5 : Klasifikasi Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan di DesaPerdamaian Kecamatan Singkut Tahun 2011
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui karakteristik demografi, sosial, dan ekonomi pengusaha ikan lele di Kecamatan Baki, (2) mengidentifikasi faktor yang

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan keterampilan proses sains guru IPA dan aspek keterampilan

seorang pedagang ikan gurame di pasar Arjawinangun sejauh ini pasokan ikan gurame di beberapa pasar di Kabupaten Cirebon masih mendatangkan dari Purwakarta.

Klasifikasi atau penggolongan jenis industri cukup beraneka ragam, banyak hal serta aspek yang digunakan dalam menentukan klasifikasi industri tergantung

Data primer yang dikumpulkan diperoleh dengan cara mengikuti seluruh kegiatan budidaya ikan lele dumbo ( Clarias gariepinus ) yang dilakukan di “Kampung Lele”, baik berupa

Evaluasi pelatihan Kegiatan Adopsi teknik pembenihan Indikator alih teknologi pembenihan 1.Maturasi gonad Kelompok pembenih antusias dalam menerima teknik baru untuk

Data primer yang dikumpulkan diperoleh dengan cara mengikuti seluruh kegiatan budidaya ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang dilakukan di “Kampung Lele”, baik berupa

Hal ini menunjukkan kegiatan pelatihan dan pendampingan diversifikasi produk berbahan baku ikan lele yang dilakukan oleh tim memiliki dampak peningkatan pengetahuan dan keterampilan